Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 10

Ibuku Cintaku dan Dukaku 10

ÔÇ£WwwiiiuuuunnnggggÔǪ WiiiuuuunngggÔǪ WiiuuungggÔǪÔÇØ Bel pertanda masuk kelas sudah dibunyikan. Sebenarnya suara itu lebih pantas disebut sirine daripada bel. Bunyinya mirip sekali dengan sirine mobil ambulan yang sedang ingin ÔÇÿmenyingkirkanÔÇÖ kendaraan penghalang jalan di depannya. Hal itu sering kulihat di jalanan kota dan di TV.

Teman-teman sekelasku masih sibuk bercerita dan mengobrol sebelum Bu Dina hadir di sini. Mereka asyik tertawa-tawa. Ada pula yang sibuk memegangi bola sepaknya. Siapa lagi kalau bukan Andri. Di sebelahnya, Suryo juga sibuk memperagakan cara seorang pemain bola menendang yang baik dan benar. Semua tampak asyik dengan ÔÇÿkesibukannyaÔÇÖ.

Sementara aku hanya terdiam melamun di kursiku. Meneruskan terawanganku yang kemarin. Rama yang melihatku dari pagi tadi tak banyak bicara, berinisiatif untuk berjalan mondar-mandir dan bertegur sapa ke semua teman sekelas kami. Mencoba menemukan sedikit proses komunikasi sebelum pelajaran dimulai. Aku yang iseng melihatnya dari sini merasa lucu juga akan tingkahnya itu.

Ketika Bu Dina sudah muncul, semuanya sontak terdiam. Andri dan Suryo yang sedari tadi memainkan bolanya di dalam kelas, buru-buru menyembunyikan bolanya ke kolong meja dan kembali ke kursi mereka dengan membabi buta bagaikan orang yang sedang kebakaran jenggot. Kurasa aku tahu apa yang mereka takutkan.

ÔÇ£Sekali lagi Ibu liat kalian main bola dalam kelas, Ibu tahan bolanya!ÔÇØ Seru Bu Dina berang dari depan kelas. Andri dan Suryo terdiam seperti patung. Melipat kedua tangan mereka di atas meja bagaikan murid yang baik budi.

Ya! Itulah yang mereka takutkan. Bu Dina memang sangat mengerikan jika dia melihat, mendengar, ataupun mencium adanya hal yang tak sesuai dengan keinginan dan peraturannya. Dia bahkan tak segan-segan memukul dan menampar muridnya. Tapi ketika dia menampar tidaklah begitu keras. Mungkin dia memang bermaksud mendidik dan tidak untuk menyakiti seperti kata Ibuku. Namun jika hal itu terjadi di kota-kota besar di luar sana, pasti walaupun hanya dicubit gurunya saja mereka bakal melapor ke polisi.

Selama Bu Dina mengajar di sekolah ini, hanya sekali aku melihatnya pernah menampar muridnya. Dan orang yang ÔÇÿberuntungÔÇÖ itu adalah Suryo. Waktu itu Suryo berkelahi dengan anak dari kelas lain karena perkara sepak bola. Setahuku karena masalah pelanggaran waktu bermain. Suryo berkata anak itu curang, namun anak itu berkata bahwa dia tidak ada melakukan pelanggaran. Alhasil mereka berdua berkelahi dan membuat anak itu menangis.

Ketika bel sudah berbunyi dan waktu istirahat sudah selesai, Suryo ternyata masih memendam emosi sampai ke dalam kelas. Dia bersumpah serapah sendiri. Andri yang berada di dekatnya sudah menyuruhnya untuk tenang, tapi sebuah kata kotor tanpa sengaja keluar cukup lantang dari mulutnya. Sialnya ketika itu Suryo tampaknya tak sadar bahwa Bu Dina sudah masuk ke dalam kelas. Aku masih ingat dengan peristiwa ÔÇÿmengharukanÔÇÖ itu.

ÔÇ£Kamu bilang apa tadi hah!?ÔÇØ Bu Dina mendatangi Suryo ke tempat duduknya.

Wajah Suryo langsung pucat dan ketakutan melihat Bu Dina yang begitu marah sudah berada di dekatnya. Sialnya juga Suryo dan Andri bertukar tempat duduk saat itu. Suryo di pinggir, sementara Andri di sudut. Hal itu semakin memudahkan Bu Dina mengintrogasinya.

Eh, ngg Nggak ada kok Bu Jawab Suryo dengan gugup.

ÔÇ£Plaaakkk!ÔÇØ sebuah tamparan mendarat di pipi kirinya.

Aduhhh Suryo nggak bilang apa-apa kok Bu Suaranya bergetar dan mengecil. Air matanya mulai mengalir.

ÔÇ£Jangan bohong kamu ya! Kamu pikir Ibu nggak dengar yang kamu bilang barusan!?ÔÇØ

Suryo menangis sambil mengelusi pipinya yang sakit. Aku tak menyangka, ternyata Suryo yang berpenampilan urakan seperti itu bisa menangis juga. Kupikir mentalnya cukup kuat untuk menghadapi hal seperti itu. Sangat tak sesuai dibandingkan ketika dia menyebutkan dengan berani dan fasih kata ÔÇ£KontolÔÇØ yang cukup menggegerkan kelas kami. Waktu itu dia bahkan lebih menyedihkan daripada anak kucing yang baru saja dipukul majikannya. Terdiam dan tertunduk menangis.

Peristiwa-peristiwa semacam itu tak akan pernah kami lupakan sebagai muridnya. Bu Dina adalah guru kelas kami, bukan guru bidang studi tertentu saja. Jadi setiap hari kami pasti bertemu dengannya. Dan kami semua akan selalu waspada setiap hari agar tidak menyulut emosinya.

Hari ini kebetulan ada pelajaran olahraga. Setelah aku melalui berbagai macam mata pelajaran dari Bu Dina dengan konsentrasi yang tak penuh, tibalah saatnya untuk menempuh pelajaran olahraga oleh Pak Sugeng. Mata pelajaran yang satu ini sengaja dibuat di jam-jam terakhir agar para siswa-siswi tidak merasa kelelahan waktu belajar. Kebanyakan pelajaran ini dilakukan di lapangan dengan praktik langsung. Setelah melakukan praktik-praktik yang diajarkan oleh Pak Sugeng, biasanya para siswa-siswi dibebaskan melakukan olahraga permainan apa saja. Kami para lelaki biasanya memanfaatkan itu dengan bermain sepak bola. Sementara anak-anak perempuan lebih memilih duduk-duduk di dalam kelas sambil bergosip.

Kami bersiap-siap menuju ke lapangan. Kami diharuskan mengganti pakaian kami dengan pakaian olahraga. Tapi kami para lelaki biasanya tak pernah membawa celana ganti dari rumah, hanya bajunya saja. Dan kami menggunakan celana seragam sekolah kami saja. Sementara untuk perempuan yang memakai rok diwajibkan untuk mengganti dengan celana olahraga. Otomatis mereka pergi ke kamar mandi untuk bergiliran berganti pakaian. Tinggallah kami para lelaki muda di dalam kelas.

ÔÇ£To! Cepetan lu ganti baju. Ntar kalo telat disuruh lari keliling lapangan mau lu? Dari tadi lu kok ngelamun aja sih?ÔÇØ Tegur Rama yang sudah memakai baju olahraganya. Sementara aku masih duduk di atas meja dan baju olahragaku masih tersampir di pundakku.

ÔÇ£Aku duluan deh kalo gitu!ÔÇØ Rama dan semua laki-laki di kelasku kulihat sudah bergegas ke lapangan. Para perempuan juga sudah berkumpul semua di sana.

ÔÇ£Dasar sekumpulan orang bego!ÔÇØ pikirku.

ÔÇ£Buat apa cepat-cepat ke sana? Toh Pak Sugeng aja belum hadir kok. Kantor guru kan keliatan dari sini. jadi kalo Pak Sugeng udah keliatan, baru deh ganti baju.ÔÇØ Aku senyum-senyum sendiri menatap mereka dari jendela nako kelas kami. Hanya karena pikiranku kemarin, aku sudah berubah menjadi anak malas yang kini suka menunda-nunda waktu.

Tapi beberapa saat kemudian tiba-tiba kulihat mereka sudah membentuk barisan. Apa yang terjadi? Ternyata Pak Sugeng sudah berada di lapangan lengkap dengan baju dan celana training. Dia berjalan di lapangan sambil membawa buku absensi kelas yang khusus diperuntukkan bagi guru bidang studi seperti dirinya. Tapi sejak kapan dia di situ?

Kelihatannya dia bukan dari kantor guru, melainkan dia sudah menunggu kami di lapangan dari tadi ketika ganti baju. Posisi kelas kami yang terletak di ujung koridor di bagian belakang sekolah, membuatku hanya bisa melihat setengah bagian lapangan saja dan tak melihat bahwa Pak Sugeng sudah ada di sudut lapangan yang lain. Aku yang tadinya duduk-duduk tenang, tersentak turun dari meja dan segera membuka kancing-kancing bajuku.

ÔÇ£Mampus gue! Mampus! Bakalan disuruh keliling lapangan nih!ÔÇØ Aku bersumpah serapah sambil melihat perkembangan di lapangan sana. Tampak Rama menengok kemari untuk memastikan aku sudah keluar kelas atau belum. Jendela nako kelas kami yang berwarna gelap membuat Rama hanya melihat saja ke sini tanpa tahu statusku di dalam sini. Sementara aku bisa melihat jelas keluar karena keadaan di luar lebih terang.

Segera kupakai kaos olahragaku dan meletakkan baju seragamku asal-asalan di atas mejaku. Aku berlari keluar kelas dengan tergesa-gesa sampai tak melihat di depan pintu ternyata sudah ada Bu Dina. Aku menabraknya dengan telak dan kami berdua terjatuh.

ÔÇ£Aduhh!ÔÇØ seru kami berdua serentak.

Kami berdua terjerembab ke lantai. Aku menimpa guruku yang cantik ini. Aku bisa merasakan gundukan buah dadanya yang kutindih dengan dadaku. Kami bertatap muka sangat dekat. Aku bahkan dapat merasakan bau parfumnya yang lembut. Aku sempat melihatnya tersenyum sebelum aku tersadar dan bangkit berdiri.

Eh, Bu! Maaf Bu! Anu Tito buru-buru mau ke lapangan nih. Takut dihukum sama Pak Sugeng. Aku meminta maaf padanya dalam keadaan gugup dan panik yang bercampur jadi satu.

Mataku melihat ke tempat kami jatuh barusan dan melihat ke koridor sebelah kananku. Pintu kelas yang sedang terbuka setengah ini sepertinya menutupi lokasi kami jatuh tadi, jadi sepertinya aman dari penglihatan orang lain. Bu Dina perlahan duduk bersimpuh. Di wajahnya masih kulihat senyum tipisnya yang belum hilang.

Bantuin Ibu berdiri dong Masa Ibu nggak ditolongin. Katanya sembari mengulurkan kedua tangannya padaku. Senyumnya yang disertai lesung pipi itu membuatku terlena.

Kugenggam kedua tangannya dan mencoba menariknya untuk berdiri. Ketika dia berusaha bangkit dan menjejakkan kaki kanannya sebagai dorongan untuk membantunya berdiri, tanpa sengaja aku melihat celana dalamnya yang berwarna putih dari kolong rok seragam PNS-nya. Aku melihatnya cukup jelas karena kedua kakinya bergerak berlawanan. Yang kiri masih bersimpuh, sementara yang kanan sudah tertekuk dan menapak ke lantai. Pemandangan itu sukses membuat gelombang penggerak pada kemaluanku. Celanaku mulai mencuat.

Tangan Bu Dina yang halus seperti tangan Ibuku seakan mendukung keadaan ini. Wajahku pun mulai memanas dan jantungku mulai terpacu kencang. Tiba-tiba entah karena tenagaku yang berlebihan atau posisi kakiku yang salah ketika menariknya, aku terhuyung ke belakang dan kedua kakiku dengan bodohnya saling tersandung pula. Aku yang jatuh telentang otomatis diikuti Bu Dina yang terjerembab ke depan karena kedua tangannya masih kugenggam. Kali ini dialah yang menimpaku.

Lagi-lagi kami saling bertatap muka. Bukannya marah, Bu Dina anehnya malah tersenyum lagi. Kali ini senyumnya berbeda dari yang tadi. Kali ini lebih terkesan nakal. Mirip seperti senyum Ibuku ketika membantuku onani di kamar mandi waktu itu.

Ihhh, Tito nakal ya Masa peluk-peluk Ibu? ucapnya yang kemudian menggigit sedikit bibir bagian bawahnya. Ternyata aku tak menyadari, bahwa ketika terjatuh tadi aku secara refleks memeluknya untuk menampung tubuhnya.

Eh, mmmaaf Bu. Nggak sengaja. Kulepaskan kedua tanganku dari punggungnya ke lantai.

Tapi yang terjadi kemudian Bu Dina malah terus menimpaku. Dia membiarkan seluruh tubuh bagian depannya melekat ke tubuhku tanpa mencoba menopang dengan tangannya untuk membatasi jarak. Kedua tangannya malah memegangi kedua tanganku di lantai. Celanaku yang sudah menggembung di bawah sana bergerak-gerak tak terkontrol. Benda itu pasti sudah menyundul-nyundul roknya dan kemungkinan besar dia bisa merasakannya.

ÔÇ£Aduh! Mampus dah! Pasti Bu Dina bisa ngerasain nih burungku lagi tegang. Aduhh! Gimana nih!? Malu banget rasanya! Mana senyumnya Bu Dina makin nakal lagi! BuÔǪ Tolongin Tito! Ibu!ÔÇØ Aku berteriak-teriak dalam hati. Bahkan aku mengharapkan Ibuku hadir di sini untuk menolongku dari suasana ÔÇÿterjepitÔÇÖ nan memalukan ini.

Entah karena angin apa, beberapa detik kemudian Bu Dina seperti tersadar dan segera bangkit dari atas tubuhku. Aku yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan pun bangkit berdiri segera dan meminta maaf untuk kesekian kalinya.

Tito minta maaf ya Bu, udah bikin Ibu jatuh lagi. Titonggak sengaja Kalo gitu Tito mau ke lapangan dulu ya Bu Permisi Bu! Aku bicara sambil tertunduk dan tak berani menatap wajahnya saking gugupnya. Setelah permisi padanya aku mengambil ancang-ancang untuk keluar kelas. Tapi tangannya malah menangkapku. Itu membuatku sedikit terkejut.

ÔÇ£Eh! Jangan keluar dulu!ÔÇØ perintahnya.

Ngg Kenapa Bu? tanyaku gugup.

ÔÇ£Kamu ke lapangannya sama Ibu, biar kamu nggak dihukum sama Pak Sugeng.ÔÇØ Ujarnya.

ÔÇ£Tapi tunggu sebentar ya, Ibu mau ambil pulpen Ibu yang kayaknya tadi jatuh di bawah meja.ÔÇØ Sambungnya lagi. Aku cuma mengangguk lemah dan membiarkannya menuju mejanya. Sekarang aku cukup lega untuk urusan Pak Sugeng.

Tampak Bu Dina cukup kepayahan di sana. Padahal dari sini aku bisa melihat pulpen merah yang mengintip dari balik kaki kursinya. Tadinya aku ingin membantu. Tapi setelah melihat posisinya yang menungging untuk melihat ke bawah meja dan pantatnya yang mencetak jelas tepian celana dalamnya, aku jadi terdiam seribu bahasa. Aku hanya menelan ludah berkali-kali.

Sebenarnya Bu Dina bisa lebih santai dengan duduk di kursinya atau jongkok sambil mencari, tapi kenapa dia menyiksaku dengan menyorotkan pantatnya ke arahku? Itu membuat celanaku semakin sempit saja rasanya. Tanpa sepengetahuannya aku membetulkan posisi kemaluanku dari luar celana agar tak terlalu tampak benjolannya.

ÔÇ£Dimana ya? Kok nggak ada?ÔÇØ keluh Bu Dina yang tak kunjung menemukan pulpennya. Dia malah sibuk menarik laci mejanya yang setahuku sangat sulit terbuka.

Setelah menarik nafas panjang, akhirnya kuputuskan untuk membantunya. Aku berjalan perlahan ke tempatnya sambil sesekali melirik-lirik ke pantatnya untuk yang terakhir kali. Langsung kuambil pulpen yang tersembunyi di balik kursinya itu.

Ini Bu Kataku seraya menyerahkan pulpen merahnya.

ÔÇ£Lho? Tito dapet dimana?ÔÇØ tanya Bu Dina keheranan.

ÔÇ£Di sini Bu. Di bawah kursi Ibu nyelipnya.ÔÇØ Kutunjuk lokasi pulpen tadi.

Oh, di situ ya Makasih ya katanya dengan tersenyum manis. Aku cuma tersenyum dan mengangguk lemah karena nafsuku yang masih belum benar-benar reda.

Emm Ngomong-ngomong Tito udah belajar buat ujian nasional nanti? tanya Bu Dina mengganti topik yang membuat nafsuku turun drastis.

Oh, udah kok Bu. Setiap hari kan Tito belajar di rumah Bu Jawabku dengan senyum mengembang.

ÔÇ£Wah, bagus dong kalo gitu.ÔÇØ Bu Dina mengacungkan dua jempolnya padaku yang membuatku tersipu malu sekaligus berbangga hati.

ÔÇ£Tito mau Ibu kasih modul ÔÇÿTry OutÔÇÖ nggak?ÔÇØ tawarnya.

ÔÇ£Apaan tuh Bu?ÔÇØ

ÔÇ£Itu lho, naskah soal-soal latihan buat dipelajari sebelum ujian nasional nanti.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, gitu ya Bu. Tito mau banget tuh Bu!ÔÇØ seruku antusias.

Hehe Beres Tapi Ibu cari dulu di rumah ya. Soalnya kayaknya numpuk tuh di lemari. Soal tahun lalu sih, tapi kayaknya untuk tahun ini nggak terlalu banyak berubah.

ÔÇ£Iya, nggak apa-apa Bu.ÔÇØ

Emm Tito mau Ibu datang ke rumah Tito nggak? Mana tau nanti Tito ada yang mau ditanyain tentang soalnya.

ÔÇ£Oh, nggak usah Bu! Tito belajar sendiri aja nggak apa-apa kok. Nanti ngerepotin Ibu jauh-jauh ke rumah Tito.ÔÇØ Tolakku dengan halus.

Udah, nggak apa-apa Biar Tito makin semangat belajar. Cuma tinggal sepuluh hari lagi lho waktu belajarnya Sayang kan kalo nggak dimaksimalkan. Lagian Ibu liat dari tadi Tito nggak semangat belajarnya. Kenapa Nak? Dia mendekatiku dan memperhatikan wajahku seolah ingin meneliti apa yang sedang kupikirkan.

Ngg Nggak ada apa-apa kok Bu. Tito serius kok belajarnya. Aku mencoba membuatnya tak terbebani. Namun dalam hati aku tersanjung juga karena Bu Dina ternyata sangat memperhatikanku.

Ah, Ibu nggak percaya. Tadi aja Tito banyak ngelamun tuh Ibu liat. Jujur aja sama Ibu Nak Tito ada masalah ya? Dia mengelus kepalaku dengan lembut. Sentuhan lembut tangannya itu akhirnya membuatku luluh dan mengangguk pelan.

ÔÇ£Masalah apa? Sama Ibunya Tito di rumah?ÔÇØ diperhatikannya ekspresi wajahku lamat-lamat. Aku melirik ke arahnya dan mengangguk perlahan lagi.

Oh Gitu ya Dia menatap wajahku dengan prihatin.

Emm Gimana kalo Tito belajarnya di rumah Ibu aja? Nanti Tito bisa cerita-cerita sama Ibu abis kita belajar. Mau? tawarnya lagi.

ÔÇ£Di rumah Ibu? Tito kan nggak tau rumah Ibu di mana.ÔÇØ Kataku polos. Dia lalu tersenyum manis melihat kepolosanku.

ÔÇ£Ya bareng sama Ibu dong, pulang ke rumah Ibu dari sini.ÔÇØ

ÔÇ£Hah? Hari ini Bu? Tito belum minta izin sama Ibunya Tito Bu. Lagian hari ini kan olahraga Bu, takut capek belajarnya ntar.ÔÇØ Aku menjelaskan dengan wajah lesu.

Emm Besok aja gimana? usulnya lagi.

ÔÇ£Kalo besok Tito mesti bantuin Ibunya Tito jualan Bu.ÔÇØ

ÔÇ£Hah? Jualan? Oh, yang kata si Andri sama Ibu-ibu tukang rujak itu ya?ÔÇØ Bu Dina nyengir. Aku tersenyum padanya sambil mengangguk.

ÔÇ£Tito bantuin Ibunya Tito jualan apa Nak?ÔÇØ dia sepertinya sangat tertarik dengan hal itu. Matanya terlihat berbinar-binar.

Jualan gorengan Bu Jawabku sambil nyengir kuda.

Waaahhh Bu Dina bersorak dengan suara pelan sambil bertepuk tangan. Aku tak mengerti di bagian mana dari ceritaku yang membuatnya begitu senang.

ÔÇ£Jadi sambil belajar tiap hari, Tito juga bantuin Ibunya Tito jualan gorengan?ÔÇØ tanya Bu Dina seolah memastikan.

I Iya Bu. Kenapa Bu? Aku sedikit heran.

ÔÇ£Ibu benar-benar bangga sama murid Ibu yang satu ini. Udah ganteng, pintar, rajin, ketua kelas, berbakti lagi sama Ibunya. Hebat! Ibu kasih dua jempol lagi deh!ÔÇØ diacungkannya lagi dua jempolnya padaku.

Aku sungguh-sungguh merasa bangga sekaligus malu dengan pujiannya yang setinggi langit itu. Benar sekali apa kata Rama kemarin. Jika ditanya perihal diriku pada Bu Dina, guruku ini pasti menjawab seperti itu tentangku. Karena dia memang menganggapku murid kesayangannya.

Ah, Ibu bisa aja Hehe Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

Hehe Memang hebat kok murid Ibu yang satu ini. Nggak ada tandingannya. Kembali dielusinya rambutku. Aku tak bisa menahan senyumanku, terasa lepas begitu saja. Aku hanya bisa menyembunyikannya dengan menunduk.

Hmm Ya udah kalo gitu. Sabtu aja gimana? Tito bisa hari Sabtu? dia kembali memastikan.

ÔÇ£Kalo Sabtu Tito bisa Bu!ÔÇØ Jawabku tegas.

ÔÇ£Ya udah, Sabtu ya. Sekarang kita ke keluar yuk, biar Ibu temani ke lapangan.ÔÇØ Tandasnya. Digenggamnya tangan kananku sambil berjalan keluar kelas. Aku sangat malu jika diperlakukan seperti ini, tapi aku tak kuasa menolaknya.

Baru selangkah kami keluar kelas, aku melihat Rama sedang berlari ke arah kami. Begitu menghampiri kami, Rama berkata bahwa namaku sudah dipanggil Pak Sugeng dari tadi dan Pak Sugeng menyuruh Rama untuk menjemputku ke kelas. Kemudian Bu Dina menyuruh Rama untuk kembali ke lapangan dan mengatakan bahwa masalah Tito agar Bu Dina saja yang mengurusnya. Rama mengiyakan saja. Anak itu sempat tersenyum saat dilihatnya Bu Dina memegang tanganku sambil berjalan.

ÔÇ£Dasar bekicot! Pasti dia senang banget tuh liat aku dituntun kayak anak kecil gini. Kayaknya dia puas banget deh, kejadian waktu dia dituntun sama Ibu dua hari yang lalu terbalaskan sekarang. Sialan!ÔÇØ makiku dalam hati.

Sesampainya di lapangan Bu Dina mengatakan pada Pak Sugeng kalau dia tadi menyuruhku untuk membukakan laci mejanya yang macet itu. Katanya daftar absensi kelas tidak ada di tasnya dan dia curiga kalau daftar absensi kelas kami ada di dalam laci mejanya itu. Dia beralasan bahwa ketika lacinya terbuka, daftar absensi kelas itu ternyata tak ada di dalamnya, dan kemungkinan dia akan mencarinya di tasnya yang mungkin terselip.

Bu Dina pintar juga ya ngarang cerita. Hihi Aku tertawa dalam hati.

Pak Sugeng batal memberikan hukuman padaku dan menyuruhku langsung masuk ke barisan. Bu Dina kemudian kembali ke kantor guru. Dia sempat melemparkan senyum jahil padaku sebelumnya dan kubalas dengan senyum juga. Selanjutnya kulalui hariku di sekolah dengan cukup melelahkan.

***

ÔÇ£Lu disuruh apa tadi sama Bu Dina To?ÔÇØ Tanya Rama ketika kami pulang berdua. Kami sudah lama keluar dari sekolah.

Dengan cepat aku mengarang cerita seperti yang dilakukan Bu Dina tadi. ÔÇ£Cuma bantuin dia ngebuka laci mejanya yang macet itu, lu tau kan?ÔÇØ

ÔÇ£Oh, laci meja guru itu ya? Dia nyimpan apa di dalam situ?ÔÇØ

Ngg nggak tau tuh, waktu dibuka lacinya kosong kok. Katanya sih mau nyari daftar absensi. Karangku lagi. Rama mengangguk saja.

Aku sempat berpikir untuk mengajak Rama ikut ke rumah Bu Dina hari Sabtu nanti. Tapi kuurungkan niatku itu. Lagipula dari sikap Rama yang kuketahui selama ini, dia tidak pernah berminat untuk belajar sekeras itu. Dia hanya bertanya apabila pelajaran atau soal-soal itu terasa rumit baginya. Selebihnya, dia lebih memilih bersantai dan bermain game komputer di rumahnya.

ÔÇ£Gue duluan ya To!ÔÇØ Ucapnya ketika dia sudah berbelok ke dalam gang rumahnya.

ÔÇ£Oke!ÔÇØ sahutku. Aku masih harus berjalan sedikit lagi.

Belum sampai aku ke rumahku, aku melihat Ibu keluar dari rumah Bu Halimah. Mereka berdua sempat mengobrol di pintu sekejap sebelum Ibu memohon pamit. Ibu yang melihatku kebetulan sedang lewat langsung mendatangiku.

ÔÇ£Tito udah pulang Nak?ÔÇØ sapanya. Penampilannya kulihat seperti biasa, memakai daster batik warna coklat tua. Namun setidaknya dia pasti sekarang memakai pakaian dalamnya. Tak seperti waktu itu.

ÔÇ£Iya Bu. Ibu ngapain ke rumahnya Bu Halimah?ÔÇØ tanyaku penasaran akan urusannya.

Oh, itu Katanya Bu Halimah sama Pak Imron besok mau pindah. Katanya sih pindahnya ke kampung sebelah. Alasannya dari rumah sewanya yang baru itu nanti Bu Halimah sama Pak Imron bisa lebih dekat ke sawahnya, nggak mesti muter kayak masih nyewa di sini. Paparnya.

Oh, gitu ya Bu aku mengangguk tanda mengerti.

Emm Tito mau nggak bantuin Ibu?

ÔÇ£Hmm? Bantuin apa Bu?ÔÇØ

ÔÇ£Besok Tito jualan gorengan sendiri lagi bisa nggak? Bahannya udah Ibu beli tadi pagi.ÔÇØ

ÔÇ£Hah? Tito jualan sendirian lagi? Emang Ibu mau kemana lagi?ÔÇØ aku bertanya dengan wajah lesu.

Ibu mau bantuin Pak Imron sama Bu Halimah pindahan Nak. Sekalian beres-beresin rumah itu kalau udah selesai. Tito mau ya Nak Kasian tuh Pak Imron sama Bu Halimah. Kan dia tetangga kita juga, walaupun posisi rumahnya agak jauh. Hehe Mohon Ibuku.

Hmm Ya udah deh. Tapi kayak kemarin ya Bu. Bantuin Tito dulu.

ÔÇ£Iya, beres. Nanti Ibu juga datang ke pasar kok kalo udah selesai.ÔÇØ Diacungkannya jempolnya untuk menyemangatiku.

ÔÇ£Makin lama tingkahnya Ibu makin mirip sama Bu Dina nih…ÔÇØ Batinku.

ÔÇ£Tito lapar nih Bu. Ibu udah masak belum?ÔÇØ keluhku sambil memegangi perut yang sudah keroncongan.

Udah tuh! Yuk pulang Digenggamnya erat tanganku dan segera berjalan pulang ke rumah. Saat itu aku tidak malu. Malah aku sangat bahagia ketika tangan halusnya menggandengku hingga ke rumah.

Di balik kebahagiaan ini, aku juga merasakan hal lain ketika Ibu menggenggam erat tanganku ini. Aku merasa kalau dia sedang memendam sesuatu. Dia memang tak pernah mengatakannya. Bahkan wajahnya pun tidak terlihat mengisyaratkan akan hal itu. Tapi aku yakin, kalau dia benar-benar sangat kesepian. Aku merasa itulah yang menyebabkannya mencari segala macam kesibukan untuk meredam apa yang sekarang sedang bergejolak di hatinya.

Aku berpikir cukup panjang akan semuanya. Bahkan melebihi kapasitas umurku saat ini. Sejak peristiwa di pasar kemarin, beberapa keraguan muncul di hatiku. Apakah rasa cinta dan sayangku ini akan cukup untuk mengobati rasa kesepiannya hingga ia tua nanti? Akankah ia mencari yang lain untuk melengkapi hidupnya?

***

Di JumÔÇÖat pagi yang cerah ini, aku sudah bersiap untuk pergi ke sekolah seperti biasa. Di teras rumahku, kucium punggung tangan Ibuku sebagai tanda berpamitan. Dia selalu melepaskanku pergi ke sekolah dengan senyum manisnya. Membuatku bersemangat menghadapi hari yang mungkin akan melelahkan seperti kemarin-kemarin. Baru beberapa langkah dari pintu, aku teringat rencanaku dengan Bu Dina kemarin yang belum kuutarakan padanya.

ÔÇ£Oh iya!ÔÇØ Aku berbalik badan dan kembali ke teras. Ibu masih di situ menyandarkan bahu kirinya pada kusen pintu.

ÔÇ£Kenapa Nak? Ada yang lupa?ÔÇØ dia menegakkan badannya dari sandaran.

Iya nih Bu. Kemarin Bu Dina bilang kalo dia mau kasih naskah soal-soal latihan buat Ujian Nasional nanti. Sebenarnya Bu Dina mau datang ke sini, tapi Tito tolak karena takut ngerepotin. Jadi Tito sama Bu Dina sepakat buat belajar di rumahnya Bu Dina. Gitu Bu Jelasku panjang lebar.

Ooo Ya udah! Bagus dong kalo gitu. Tapi Tito mau pergi sendiri ke rumah Bu Dina? Tito tau alamatnya di mana?

ÔÇ£Nah, itu dia Bu. Kemarin kata Bu Dina berangkatnya dari sekolah aja bareng sama Bu Dina. Jadi Tito nggak pake pulang dulu.ÔÇØ Tandasku.

ÔÇ£Oh, gitu. Terus, Jam berapa Tito pulangnya Nak?ÔÇØ

ÔÇ£Nggak tau sih Bu. Kayaknya sih jam empat sore gitu. Hari Sabtu kan pelajarannya dikit, jadi ke rumah Bu Dina bisa lebih cepat.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, gitu ya. Ya udah, pokoknya pulangnya jangan kemalaman ya. Udah tuh, cepetan pergi sekolahnya. Ntar telat!ÔÇØ

Eh, iya Bu! Hehe Jadi lupa nih! Tito pergi dulu ya Bu! Aku mencium tangannya sekali lagi, berbalik badan dan mulai bergegas berlari.

ÔÇ£Iya. Hati-hati!ÔÇØ

ÔÇ£Iya Bu!ÔÇØ balasku setengah berteriak.

Tak lama aku pun sampai di depan gang rumahnya Rama. Ternyata dia sudah menunggu di depan gang seperti biasa. Lagi-lagi rencanaku untuk ÔÇÿcuci mataÔÇÖ di pagi hari gagal lagi seperti kemarin. Semenjak hari Rabu ketika aku masuk sekolah pertama kali setelah sakit itu, aku jadi ingin mengulangi kejadian yang sama saat Bu Aini begitu memanjakanku di rumahnya. Wajah cantiknya yang sangat segar di pagi hari, ditambah suaranya yang sangat lembut seperti Ibuku, membuatku jadi agak terobsesi. Aku merasa bagaikan mempunyai dua Ibu.

Tapi si bekicot ini tampaknya tak ingin mengulangi kejadian yang sama. Dia sudah menunggu sambil cengar-cengir melihatku yang sedang berlari tergopoh-gopoh. Sungguh menjengkelkan. Kujahili dia dengan berlari begitu saja melewatinya.

ÔÇ£Woi To! Kok lari-lari sih! Woi! Tungguin!ÔÇØ Dia yang tak menyangka aku lewat begitu saja, malah jadi ikut-ikutan lari mengejarku.

ÔÇ£Oke Ram. Kali ini lu menang. Tapi besok gue bakal datang lebih cepat lagi! Biar gue bisa ketemu Ibu lu yang cantik itu!ÔÇØ seruku bertekad dalam hati.

Lumayan jauh juga kami berlari. Rama dari tadi tampak sudah menyerah. Dia cukup jauh tertinggal di belakang sana. Aku yang sudah letih berhenti sejenak untuk menunggunya sekalian mengatur nafasku. Kulihat Rama hanya berjalan santai. Mungkin tenaganya sudah hampir habis. Begitu dia sampai di posisiku, dia langsung merepet tak karuan.

Lu ngapain sih pake lari-lari!? Kayak kurang kerjaan aja! Capek nih gue! Hoshh Hoshh Seletuk Rama dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Dia juga memegangi perutnya dengan kedua tangannya.

Hahaha Itung-itung olahraga. Aku tertawa lepas. Aku juga masih mengatur nafasku.

ÔÇ£Olahraga pala lu peyang! Mules nih perut gue baru sarapan langsung lari-lari!ÔÇØ semprotnya.

Hahaha Aku tertawa terbahak-bahak.

ÔÇ£Senang banget lu liat gue menderita ya? Dasar ganteng lu! Ya udah yuk, jalan.ÔÇØ Dia memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan. Namun langkahnya masih agak tertatih sambil memegangi perutnya. Aku masih saja tertawa-tawa dan mengikutinya berjalan di sebelahnya.

***

Di sekolah kami berdua banyak bercerita. Salah satunya adalah mengenai angan-angan kami yang akan sekolah di SMP mana nantinya setelah lulus dari sini. Kami berdua sempat gamang dan seperti kehabisan ide. Padahal ujian nasional dan kelulusan sudah tak lama lagi, tapi kami berdua masih belum bisa menentukan akan bersekolah di mana nantinya.

ÔÇ£To, abis dari sini lu nanti mau sekolah di mana?ÔÇØ tanya Rama.

Oh iya ya Gue masih belum tau tuh. Lu sendiri? tanyaku balik.

Sama Gue juga masih belum tau.

ÔÇ£Eh, gimana kalo kita sekolah di SMP yang ada di kota? Dengar-dengar katanya sekolahnya bagus tuh.ÔÇØ Kataku memberi ide.

ÔÇ£Oh iya, aku juga pernah dengar tuh. Ya udah, kita nanti sekolah di sana aja ya. Oke!ÔÇØ Ucapnya sembari mengajakku bersalaman.

Oke! Kita berdua kan emang nggak boleh pisah. Hehe Aku menyambut tangannya dan bersalaman.

ÔÇ£Jangan lu remes!ÔÇØ dia memperingatkanku segera.

Hahaha Tenang aja. Takut banget lu Kujabat tangannya secara wajar.

Eh, To. Ngomong-ngomong Bunda gue titip salam tuh sama lu. Rama mengganti topik pembicaraan sembari melepas jabatan tangannya.

ÔÇ£Hah? Bunda lu titip salam sama gue?ÔÇØ Ucapku yang merasa tak percaya.

ÔÇ£Iya. Capek gue dengernya. Dari kemarin yang diomonginnya cuma lu melulu. ÔÇÿTito gimana kabarnya Ram? Tito sehat-sehat aja kan? Tito masih bareng sama kamu kan? Rama nggak lagi berantem sama Tito kan? Tito begini kan? Tito begitu kan?ÔÇÖ Cape deehhÔǪÔÇØ Cerocosnya dengan menirukan irama bicara Bundanya sendiri dengan gaya yang sangat lucu.

Aku nyengir dan agak melongo dengan mata yang kurasa sudah berbinar-binar. Di samping aku memang lucu melihat gayanya Rama menirukan Bu Aini, aku juga sangat girang karena Bu Aini ternyata memberi perhatian yang sedalam itu padaku. Jika memang benar apa yang diceritakan oleh Rama sekarang ini, berarti Bu Aini memang sudah memasuki tahap ÔÇÿanehÔÇÖ.

Ceritanya jelas mengisyaratkan, bahwa Bu Aini memang punya perasaan sendiri terhadapku. Aku tak tahu apa penyebabnya. Yang jelas hatiku sekarang sangat berbunga-bunga. Aku tak tahu apakah ini sekadar cinta monyet, ataukah hal yang lain. Aku tak peduli. Yang penting aku bahagia.

ÔÇ£Woi!ÔÇØ Rama menyadarkanku dari alam khayal.

Eh! Hehe Aku cukup tersentak dibuatnya.

ÔÇ£Senang banget lu kayaknya? Ngelamunin Bunda gue lu ya? Awas ya kalo lu sampe apa-apain Bunda gue!ÔÇØ ancamnya.

ÔÇ£Hah? ÔÇÿApa-apainÔÇÖ Bunda lu? Maksud lu apaan Ram?ÔÇØ tanyaku yang tak mengerti dengan kalimatnya.

Ya Pokoknya itu Lu jangan goda-godain Bunda gue! omelnya. Wajahnya terlihat agak bingung memilah-milah kata.

ÔÇ£Ngegodain Bunda lu? Emangnya gue ada ngegodain Bunda lu?ÔÇØ tanyaku yang semakin tak mengerti.

Bukan gitu lho Maksudnya Kalo lu udah tau Bunda gue kayak gitu, jangan malah lu goda-godain besok-besok. Katanya agak memelankan suaranya. Sepertinya dia malu.

Hahaha Lu ada-ada aja deh Ram. Masa gue ngegodain Ibu-ibu? Kurang ajar banget gue. Kilahku. Padahal di dalam hatiku sudah terukir indah nama tiga tokoh wanita pujaanku. Dan salah satunya adalah Ibunya.

Oh, iya ya. Hahaha Tawanya terdengar canggung. Dia terlihat salah tingkah.

Wuuiinnggg Wuuiiiinggg Wuuiingg Bel tanda waktu istirahat usai sudah berbunyi. Para siswa dan siswi bergegas masuk ke ruangan kelas mereka masing-masing.

Eh! Bel udah bunyi tuh! Yuk masuk Ajakku menepuk pundaknya. Rama pun bangkit dari tong besi yang terbaring di samping kelas kami tempat kami biasa duduk-duduk sambil bercerita hilir-mudik pada jam istirahat. Tempat itu merupakan tempat favorit kami berdua.

Setelah jam-jam terakhir pelajaran kami lalui, bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa dan siswi dari segala tingkatan kelas pun berhamburan keluar. Aku dan Rama pun hendak melakukan hal yang sama. Tapi ketika masih di mulut pintu kelas, aku dipanggil oleh Bu Dina.

ÔÇ£Tirto!ÔÇØ panggil Bu Dina.

Aku pun berbalik badan. ÔÇ£Iya Bu!ÔÇØ

Bu Dina yang sudah membereskan mejanya mendatangiku. ÔÇ£Besok jangan lupa bawa semua buku pelajaran yang perlu ya.ÔÇØ

Oh, iya Bu. Eh, anu Bu Besok sampe jam berapa belajarnya Bu? Soalnya kata Ibunya Tito jangan sampe kemalaman.

ÔÇ£Oh, nggak sampe malam kok. Nggak mungkin lah. Bisa kecapean dong kalo sampe malam. Paling lama juga sampe sore, jam tiga atau jam empat gitu lah.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, gitu ya Bu.ÔÇØ Benar seperti dugaanku.

ÔÇ£Ya udah, sampe besok ya.ÔÇØ Pungkas Bu Dina sambil berlalu meninggalkanku.

Iya Bu

Rama yang sedari tadi hanya berdiri di dekat tiang koridor, langsung heboh mendekat padaku untuk mengetahui apa yang barusan kubicarakan dengan Bu Dina. Dengan tingkah khasnya, nyengir kuda dan alis mata yang dinaik-naikkan. Sikunya juga menyenggol-nyenggol lenganku bermaksud mengorek keterangan.

ÔÇ£Apa!?ÔÇØ ketusku.

ÔÇ£Lu sama Bu Dina mau ngapain besok? Pacaran ya?ÔÇØ goda Rama dengan senyum semakin lebar.

ÔÇ£Pacaran pala lu peyang! Udah gila lu ya!?ÔÇØ semprotku.

Hahaha Halaahh Jujur aja kenapa? Toh kemarin aku udah liat kalian pegang-pegangan tangan.

ÔÇ£Maksud lu?ÔÇØ aku cukup panik juga dengan kata-katanya. Jangan-jangan dia tahu kalau aku kemarin sempat ÔÇÿberjatuh-jatuhanÔÇÖ dengan Bu Dina.

ÔÇ£Tuh, yang kemarin Bu Dina pegangin tangan lu keluar kelas, apa coba?ÔÇØ

ÔÇ£Ikhh! Lu kayak nggak tau Bu Dina aja sih!? Dia itu kan guru. orang tua kedua kita. Wajarlah kalo dia cuma mau pegangin tangan muridnya.ÔÇØ Balasku. Dalam hati aku bersyukur juga. Ternyata Rama memang hanya mengetahui ÔÇÿadeganÔÇÖ yang itu saja.

Hehe Iya iya, aku tau kok. Jawabnya. Kami berdua mulai berjalan dan terus diselingi dengan obrolan.

ÔÇ£Menurut lu Bu Dina itu cantik nggak To?ÔÇØ Rama menanyakan pendapatku yang kubalas dengan anggukan.

Iya ya Menurut gue juga gitu. Tapi sayang, dia galak banget. Keluhnya menyayangkan keadaan itu.

Eh, tapi kalo gue jadi lu To, pasti gue bahagia banget tiap hari dilembutin sama Bu Dina. Hihi Enak banget lu ya, jadi murid kesayangan. Katanya yang kemudian memukul lenganku.

ÔÇ£Aduh! Apaan sih? Kurang kasih sayang orang tua lu ya?ÔÇØ omelku sambil tersenyum.

Emang iya! Bunda gue aja ngomongin lu melulu. Nggak asik Repetnya.

ÔÇ£Eh, jadi sebenarnya besok lu ada apa sih To sama Bu Dina?ÔÇØ Rama menyambung pertanyaannya yang tadi.

Katanya Bu Dina mau kasih naskah soal-soal latihan Ujian Nasional, sekalian dipelajari di rumahnya. Dia nyuruh gue bawa seluruh buku pelajaran yang kira-kira perlu untuk besok. Gitu lho ceritanya

Ooo Eh! Ngg Lu jam berapa pulangnya?

ÔÇ£Ya nggak tau. Katanya sih jam tiga atau jam empat sore gitu. Lu kok malah nanyain jam berapa gue pulang sih?ÔÇØ tanyaku yang merasa ganjil dengan pertanyaannya.

Ya Nggak apa-apa. Ajarin gue dong abis lu dari sana. Kan lu udah enak diajarin Bu Dina, masa lu nggak ngajarin gue sih?

ÔÇ£Oh, gitu. Kalo masalah itu lu sih tenang aja. Kalo lu ada pertanyaan tentang pelajaran yang lu belum tau, tanyain aja ke gue. Ntar gue kasih tau deh apa yang gue pelajari di sana.ÔÇØ Kataku ramah.

Hehe Okelah. Mmmmmakasih ya To Ucap Rama gagap.

Hah!? Hahahaha Lu bilang makasih sama gue? Hahaha Aku tertawa terpingkal-pingkal.

ÔÇ£Kenapa?ÔÇØ tanya Rama yang juga tersenyum melihatku tertawa.

Seumur hidup baru kali ini lu bilang makasih sama gue! Lucu! Hahaha Aku masih saja tertawa.

Daripada lu Nggak pernah bilang makasih sama gue sekalipun Sindirnya.

Haha Ngapain juga sih mesti bilang-bilang makasih Ram? Kita ini udah kayak saudara. Nggak perlu lah pake acara makasih-makasih segala. Bikin risih gue aja lu Ucapku serius tapi santai.

Hehe Oke deh kalo gitu. Rama agak tersipu.

ÔÇ£Eh, ngomong-ngomong lu hati-hati To di rumahnya Bu Dina. Ntar kalo lu kurang ajar, bisa-bisa lu kena tampar, kayak si Suryo.ÔÇØ Rama mulai menakut-nakutiku.

Ah, nggak mungkin deh kayaknya. Bu Dina baik kok sama gue Malah Bunda lu juga perhatian banget tuh sama gue. Hihihi Candaku.

ÔÇ£Eh! Lu kok jadi ngebahas Bunda gue?ÔÇØ Rama sepertinya terpancing.

Iya, gue kan emang mau ngegodain Bunda lu besok-besok. Hihihi Aku membalas menakut-nakutinya. Rama tersenyum karena dia tahu kalau aku sedang bercanda. Namun tetap saja dia tersulut.

ÔÇ£Ah, percaya diri banget lu. Emang lu berani godain Bunda gue?ÔÇØ tantangnya untuk menutupi rasa kalutnya.

Gampang kok, dua hari yang lalu kan Bunda lu cium kepala gue. Besok-besok tak cium deh pipinya. Mmmuuaahhh Hihi Aku menakut-nakutinya dengan penuh penghayatan. Rama akhirnya tak tahan juga.

ÔÇ£Sialan! Berani banget lu mau cium Bunda gue!? Sini lu!ÔÇØ Rama bersiap hendak melemparkan kerikil yang dipungutnya di tengah jalan. Aku memang sudah sukses membuatnya terbakar api cemburu.

Aku berlari sambil tetap tertawa-tawa. Dia masih berusaha mengenaiku dengan batu-batu itu, tapi tak kunjung kena. Hingga dia berhenti sendiri karena kelelahan. Aku pun menyudahi acara konyol itu dan mengajaknya berdamai, lalu berjalan pulang dengan ÔÇÿnormalÔÇÖ.

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*