Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 47

Wild Love 47

Pagi menjelang aku terbangun dari lelap tidurku. Jam berdetak menunjukan pukul 08:00, aneh baru kali ini tidak dibangunkan ibu. Mungkin ibu tahu jika tubuh ini terlalu lelah, ku langkahkan kakiku menuju ke lantai bawah tak ada satupun orang disana. Segera ku mencuci mukaku dan menggosok gigiku sekaligus buang air kecil, ugh mantabz! Sekeluarnya aku dari kamar mandi kudapati ibu sedang berjalan masuk dari lorong rumahku.

ÔÇ£Sudah bangun sayang? Ibu dari mengantar ayahmu keluar dari rumahÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£baru saja, kok ibu ndak bangunkan arya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£karena kamu kelihatan terlalu nyenyak dan ibu tahu kamu sedang capek jadi ya ibu tidak bangunkan kamu sayangÔÇØ ucap ibu yang berjalan kearahku kemudianmendaratkan ciuman dan pelukan

ÔÇ£maÔÇÖem ya?ÔÇØ ucap ibu aku mengangguk, kemudian mengikuti ibu dari belakang menuju dapur

Makan pagi bersama ibu di depan televisi, menontoon acara anak-anak yang membuat kami terpingkal-pingkal. Kalau dilihat sebenarnya ini film dewasa karena di komik keluaran pertama masih berbau hal-hal yang sedikit porno, tapi setelahnya di komik kedua menjurus ke anak-anak tapi masih sedikit dewasa. Film Shan-cin ini memang membuat aku terpingkal-pingkal bersama ibu padahal biasanya film ini diputar dihari minggu tapi tidak tahu kenapa dihari sabtu ini ada film kartun ini.

ÔÇ£eh bu, kalau dikomiknya dulu arya pernah baca sedikit agak parno lho bu?ÔÇØ ucapku kepada ibu

ÔÇ£masa?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£benera, ada beberapa adegan yang dikomik yang menggambarkan hal-hal dewasa. Waktu itu kalau ndak salah ayah sama ibunya lagi gituan pas malam hari eh si shan-cin bangun terus lihat, bilang mama-papa aku ikutan gulat, kalau ndak salah begitu dialognyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi kalau ibu lihat juga ndak terlalu parnoÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£kalau di komik volume keduanya sudah lebih mendingan, yang ditayangkan ditelevisi kan dipilih-pilih yang sesuai anak-anak buÔÇØ ucapku

ÔÇ£ouh… tapi ibu suuka sayang,lucu banget hi hi hiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ngomong-ngomong kamu ndak jalan-jalan atau tongkrong sama koplak atau teman kuliah kamu sayangÔÇØ lanjut ibu

ÔÇ£ah ndak malas, koplak ada acara sendiri sama pacarnya. Kalau teman kuliah paling masih sibuk masalah skripsiÔÇØ balasku

ÔÇ£lha skripsi kamu bagaimana?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£belum tahu kelanjutannya, ibu tahu sendiri kejadian kemarin. Kalaupun harus mengulang dari awal dengan dosen yang berbeda, arya sudah siapÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hmmm… tapi sayangkan, penelitan kamu kan sudah selesai?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ndak papa bu,daripada menambah persoalan. Lebih baik seperti ini dulu, menyelesaikan satu masalah lagi, lagi pula arya juga belum menemukan jawaban dari sms yang kemarin. Kalau saja arya tahu siapa pengirimnya pasti arya sudah bisa menemukan jawabannyaÔÇØ ucap ku

ÔÇ£benar juga ya, hmmm… apa perlu nanti kalau ayahmu pulang ibu buka sematpon ayah kamu?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ndak usah bu, terlalu beresikoÔÇØ balasku

ÔÇ£kamu tenang ya sayang, jangan gegabah lagi. Jalani dengan perlahan, semua pasti ada jawabannyaÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£iya bu… eh bu, ibu sudah dengar cerita aku tentang rahman belum?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£rahman? anaknya karima itu ya? bagaimana kabarnya?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£punya enam calon bu, tapi yang satu ndak bakal bisa diresmikanÔÇØ ucapku

ÔÇ£kok bisa?ÔÇØ tanya ibu

ÔÇ£yang lima itu teman kos ajeng, sedangkan yang satu ya tante ima sendiri. Yang lima sudah tahu mengenai hubungan rahman dan tante imaÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau ibu disuruh menjalani seperti itu ibu ndak bisa, kenapa ima bisa ya? kalau kamu sayang?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£tergantung ibu, tapi mungkin itu akan sulit bu… kalau tante ima itu semua dikarenakan om nicoÔÇØ ucap ku

ÔÇ£memang akan sulit, maka dari itu jika nanti telah datang waktunya kita benar-benar harus bisa menjadi seharusnya ya sayang. Kita harus bisa saling mendukungÔÇØ balas ibu

ÔÇ£jika ibu bisa, arya bisaÔÇØ jawabku

ÔÇ£Siiiipz!ÔÇØ balas ibu

ÔÇ£Kamu tadi sudah mandi apa belum?ÔÇØ tanya ibu tiba-tiba

ÔÇ£belum, tadi Cuma cuci muka sama gosok gigi kok buÔÇØ balasku

ÔÇ£iiiih jorok! Mandi dulu sana, bau tahuÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£bau-bau gini ibu juga suka weeeeek….ÔÇØ balasku

ÔÇ£MANDI!ÔÇØ perintah ibu

ÔÇ£iya, iya bu….ÔÇØ balasku yang kemudian berdiri dan melangkah ke belakang rumah mengambil handuk

Aku lanjutkan langkahku menuju ke kamar mandi dan segera untuk mandi daripada mendapatkan celoteh dari ibu. ah, segar… benar-benar segar berada didalam kamar mandi. Suasana dingin karena bak mandi yang dipenuhi air, aku langsung jongkok di sebuah lubang pembuangan. Sekilas pertanyaan dalam kepalaku mulai berputar lagi meminta jawaban dariku. Entah apa sebenarnya maksud dari notifikasi di sematpon ayah, apakah akan ada kejadian lain lagi setelah notifikasi itu? Entahlah… semua jawaban hanya ada didalam sematpon ayahku, tapi jika harus menunggu ayah kembali pulang kayaknya tidak mungkin sekali. Ini malam minggu, malam dimana besoknya adalah hari libur. Ayah tidak mungkin pulang kerumah dengan sangat cepat, kemungkinan besar dia sedang bermain-main di luar sana. Bagaiamana kabar tante wardani ya? apakah dia masih dijadikan budak oleh mereka berdua? Apakah dia akan terus dimainkan diluar seperti yang aku lihat waktu itu?

Dok dok dok….

ÔÇ£Eh… mandi kok lama sekali, ngapain hayo? Kalau mau dikeluarkan sini ibu keluarkan!ÔÇØ teriak ibu dari luar kamar mandi

ÔÇ£lagi BAB ibuuuuuuuuuuuuuu, kalau arya pengen keluarkan pasti jug aminta tolong sama ibuÔÇØ balasku dari dalam kamar mandi

ÔÇ£oh ya sudah, kalau dikamar mandi pikirannya jangan kemana-mana. Fokus sama mandinya, kalau pengen lihat punya perempuan diluar sini tinggal dibuka hi hi hiÔÇØ goda ibu

ÔÇ£Ibuuuu…. arya lagi B-A-B, ya wajar dong kalau pikirannya kemana-mana. Yang ndak boleh itu kalau sedang B-A-B diajak bicara buÔÇØ balasku

ÔÇ£hi hi hi… iya, iya… lekas mandinya, ntar teh tarik panasnya jadi dingin tuh. Ibu sudah buatkan untuk kamu. ibu mau keluar dulu ke toko depan ya, kalau nanti mau keluar tunggu ibu pulang duluÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£oke bu…ÔÇØ balasku

ÔÇ£ibu, pergi duluÔÇØ teriak ibu

ÔÇ£ya…ÔÇØ balaskku

Terdengar suara langkah ibu menjauhi kamar mandi, terdengan sedikit ketika ibu membuka pintu depan rumah sebagai tanda ibu sudah tidak berada dirumah. Dalam posisi jongkok, pikiranku kembali melayang ke notifikasi sematpon ayah. Pengen darah dan kata sisa, hmmm… sebuah pernyataan yang aneh bukan. Darah dan sisa, ah masa bodoh ah, segera aku bangkit dari lubang pembuangan dan kemudian mandi. Setelahnya aku ke kamar berganti pakaian yang lebih bersih. Namun ketika hendak pergi keluar dari kamar langkah terhenti ketika melihat sebuah kalung monel berliontin cincin monel itu. Ku pandang dengan sinis kalung itu dan segera aku tinggalkan.

Aku kembali ke depan TV dengan mneyeruput teh tarik, ku pindah-pindah chanel televisi untuk menemukan acara yang lebih bermutu lagi. Dengan sebatang dunhill dan segelas teh tarik aku menikmati acara kartun disiang hari, doreamon, walau sebenarnya sudah sering diputar. Selang beberapa saat kemudian ibu datang dan duduk disampingku.

ÔÇ£beli apa bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tadi bayar hutang, kemarin setelah bantu-bantu tetangga ibu beli gula ditoko depan lupa bawa uang. Ini hari apa sih? Kok acaranya banyak acara anak-anak?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£hari sabtu bu, biasa mungkin karena momen liburan sekolah. Kan acara TV ndak pernah terpengaruh libur kuliahÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya jelas dong, emang anak kuliahan pada suka acara kartun kaya gini kecuali kamu sayang hi hi hiÔÇØ balas ibu

ÔÇ£ah ibu, ibu juga suka owk sama pilem kartunÔÇØ balasku

ÔÇ£iya sih, buat hiburan hi hi ihiÔÇØ ucap ibu

Aku rebahkan kepalaku dipangkuan ibu, sambil menonton acara TV. tak terasa wwaktu melewati tengah hari, aku dan ibu masih berada di depan TV. hingga tepat jam 1 siang.

TING… TONG….

TING… TONG….

TING… TONG….

ÔÇ£Ar, tamu itu, sana bukakan pintu?ÔÇØ perintah ibu

ÔÇ£hoaaam ngantuk buÔÇØ balasku dengan berbagai alasan

ÔÇ£kamu itu sayang hemmm…. awas ibu bukakan pintu dulu tamunyaÔÇØ ucap ibu

Aku angkat kepalaku dari pangkuan ibu, ibu kemudian berjalan meninggalkan aku menuju pintu depan. Selang beberapa saat…

ÔÇ£Arya…ÔÇØ teriak ibu dari depan

ÔÇ£Iya bu!ÔÇØ balasku

ÔÇ£ah apalagi sihÔÇØ bathinku, ketika hendak bangkit dari posisi PW-ku

ÔÇ£Oh… ndak jadi, dah kamu disitu saja. Ini sudah kokÔÇØ teriak ibu

ÔÇ£Yaelah ibu, Arya tiduran lagiÔÇØ balasku kembali merebahkan tubuhku di sofa……

……
……
……

Nguuuuuuuuuuuueeeeeeenggggg…….

Aku pacu REVIA dengan kecepatan penuh menuju tempat dimana aku merasakan cinta. Dimana pertama kali aku mendapatkan kecupan yang membuatku terngiang hingga saat ini, mungkin aku selalu menolak perasaan ini tapi sebenarnya hatiku tak bisa menolaknya. Karena hati ini sudah mengucapkan janji yang tidak mungkin aku ingkari sendiri. Ku pacu motorku dnegan laju yang sangat cepat, tak aku pedulikan bahaya yang aku dapatkan ataupun bahaya yang aku timbulkan. Kenapa? kenapa aku selalu menyalahkan diriku sendiri? Padahal orang yang menginginkanku tidak pernah melihat kesalahan-kesalahanku, kenapa aku begitu egois.

Ciiiiiiiit…. sebuah deretan mobil panjang menghambat perjalananku…

ÔÇ£Ah sial, kenapa haru spada saat seperti ini?ÔÇØ bathinku kesal

ÔÇ£Pak ada apa to?ÔÇØ tanyaku kepada seorang pengendara motor disebelahku

ÔÇ£katanya sih ada truk yang muatanya ambrol mas, karena kelebihan muatan. Sudah hampir setengah jam belum selesai-selesai masÔÇØ jawab bapaknya

ÔÇ£oh, ya pakÔÇØ balasku

ÔÇ£aku harus menunggu, aku tidak bisa memutar balik dan mengambil jalan alternatif. Aku sudah terjepit ditengah deretan mobil iniÔÇØ bathinku, aku teringat akan apa yang terjadi dirumah barusan, telepon dari tante asih

0000000000000000000000000000000

Kejadian sebelumnya….

Setelah ibu memanggilku dan ternyata tidak jadi tadi, aku kembali merebahkan tubuhku disofa. Aku masih berada di sofa dengan gaya seorang raja, dengan tangan kananku memegang remot TV menyuruh TV mengganti acara sesuai keinginanku. Lama aku menonton acara-acara yang kadang sedikit bermutu kadang acara yang tidak bermutu aku tonton. Kurang lebih setengah jam lamanya aku berada di depan televisi, ibu datang dengan wajah tersenyum kepadaku. Entah itu adalah senyum kebahagiaan atau apa, tapi yang jelas ada sedikit rasa gelisah di wajah ibu.

ÔÇ£ada apa bu? Ibu senyum tapi kok suram begituÔÇØ ucapku kemudian duduk

ÔÇ£ibu bahagia sayangÔÇØ balas ibu yang kemudian duduk disampingku

Kriiiing…. Kriiiing…. Kriiiing…. Kriiiing….

ÔÇ£sudah sekarang biar arya yang mengangkatÔÇØ ucapku yang kemudian berdiri dan mengangkat telepon rumah

ÔÇ£Halo, dengan arya mahesa wicaksono bisa dibantu tu tu tuÔÇØ

ÔÇ£Biasa saja ar, ini tante asihÔÇØ

ÔÇ£eh tanteku, ada apa tan?ÔÇØ

ÔÇ£tante cuma mau ngomong saja ar, mungkin bisa jadi nasehat kamu jugaÔÇØ

ÔÇ£apa tante?ÔÇØ

ÔÇ£kamu masih ingat waktu kamu bawa ibu rani ke rumah sakit?ÔÇØ

ÔÇ£iya tanÔÇØ (kulihat ibu tersenyum, kini wajahnya bertambah sumringah entah apa yang terjadi dengan ibu)

ÔÇ£kamu ingatkan, kalau Dian malam-malam pernah kerumah sakitÔÇØ

ÔÇ£Ah dia lagi, arya ndak mau dengarÔÇØ

ÔÇ£eh eh eh kalau berani nutup telepon ini, tante ndak akan bantu kamu lagi, biar semua keluarga kita mati!ÔÇØ

ÔÇ£eh ndak tan, iya arya dengarÔÇØ

ÔÇ£oke, tante waktu itu ceritanya belum selesaiÔÇØ

ÔÇ£eh… maksud tanteÔÇØ (kucoba mengingat cerita tante tentang dian)

ÔÇ£sebenarnya ketika tante bilang pada dian, kalau tante tidak mengerti apa maksud dari kerusakan yang parah, tante hanya menbak-nebak. Mungkin mesin yang dia maksud adalah kamuÔÇØ

ÔÇ£terus apa hubungannya mesin dengan aryaÔÇØ

ÔÇ£kamu dengarkan dulu ya arya keponakan tante tersayang, setelah dia berterima kasih dan meninggalkan tante, tante kemudian memanggilnya, dia berhenti dan…ÔÇØ

ÔÇ£iya dan apa tanteÔÇØ (tante kemudian melanjutkan cerita dirumah sakit yang ternyata belum usai)

——-

(cerita lanjutan yang tante asih potong, ketika dirumah sakit ketika mengantar ibu rani)

ÔÇ£terima kasihÔÇØ ucapnya sembari membungkukan badan dan meninggalkanku

ÔÇ£Hei….ÔÇØ ucapku memanggilnya….

ÔÇ£Eh… iya mbakÔÇØ ucap dian

ÔÇ£apakah kamu benar-benar mencintainya?ÔÇØ tanyaku kepada dian yang berbalik menghadap kearahku, aku mulai mengetahui kemana sebenarnya arah pembicaraan dian

ÔÇ£Sangat, sangat mencintainya… tapi aku tidak tahu harus bagaimana?ÔÇØ balas dian

ÔÇ£aku tidak tahu kerusakan mengenai lelaki itu, yang jelas aku tahu lelaki itu. Jika memang dia benar-benar mengalami kerusakan parah, yang menjadi pertanyaa adalah apakah kamu yakin dan mampu menerima dia serta yakin akan bisa memperbaikinya? Sekalipun kerusakannya sangat parah?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£eh…ÔÇØ dian hanya menunduk tanpa bisa berkata-kata

ÔÇ£kenapa diam? Kamu bilang kamu mencintainya, kenapa tidak menjawab?ÔÇØ tanyaku kembali dan dia masih tertunduk dan diam

ÔÇ£yan, mungkin selama ini aku selalu mengandaikan semuanya dengan mesin. Tapi ingat yang, mesin tidak memiliki perasaan, itu hanya ibarat saja. Dia manusia dan dia lelaki, mungkin dia bisa menundukan semua lelaki agar takut kepadanya, menundukan semua perempuan dihadapannya. Tapi dia manusia, dan laki-laki, dia juga butuh seorang perempuan yang benar-benar mencintainyaÔÇØ lanjutku

ÔÇ£aku mencintainya sangat mencintainya… benar-benar mencintainya, aku ingin bersama dia mbak, apapun itu…ÔÇØ ucapnya kemudian dia menjatuhkan diri hingga duduk bersimpuh. Aku melangkah mendekatinya

ÔÇ£jika kamu benar-benar mencintainya, kamu juga harus yakin bisa memperbaikinya separah apapun kerusakannya. Dia manusia, punya perasaan, separah apapun itu pasti bisa diperbaikinya. Jadi wanita jangan cengeng, judes itu juga perlu diar tidak dianggap remeh oleh lelaki. Sekarang aku tanya kepadamu, apa kamu yakin bisa memperbaikinya?ÔÇØ tanyaku kembali sambil memeluknya

ÔÇ£heÔÇÖem… hiks.ÔÇØ ucap dian yang lepas dari pelukanku dan memandang tajam kearahku

ÔÇ£aku tidak mendengaryaÔÇØ balasku

ÔÇ£aku yakin mbak hiksÔÇØ ucap dian sedikit keras

ÔÇ£aku tidak mendengarnya yan, apa kamu yakin mencintainya dan bisa memperbaikinya?ÔÇØ tanyaku sekali lagi

ÔÇ£AKU CINTA ARYAAAA DAN AKU PASTI BISA MENJAGANYA, MENJADIKANNYA MILIKKU HANYA UNTUKKU SELAMANYA! AKU PASTI BISA MERUBAHNYA MENJADI LEBIH BAIK LAGI, AKU PASTI BISA!ÔÇØ Teriaknya sangat keras aku tersenyum dan kupeluk dian yang tersengal-sengal karena menangis

ÔÇ£hei diam!ÔÇØ ucap seorag perawat anak buahku

ÔÇ£Sudah kamu pergi! Ini urusan saya!ÔÇØ bentakku menoleh ke arah lelaki dibelakangku

ÔÇ£eh… iya bu, maaf tidak tahu kalau itu bu asih, permisi buÔÇØ ucapnya aku hanya mengangguk, aku kembali menatap dian

ÔÇ£Sekarang, mulailah untuk bisa mengembalikan dia kepadamu… Arya itu orangnya mudah-mudah gampang, namanya juga lelaki. Lihatkan sehebat apapun arya dan teman-temannya, dia takut sama aku kan yan. Jadi kamu harus bisa memegang perasaannya dan logikanya, okayÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem mbak doakan akuÔÇØ ucapnya, kami berdua kemudian berdiri

ÔÇ£pastiÔÇØ balasku, dian kemudian memelukku erat dan setelahnya dia meninggalkanku yang tersenyum bahagia

(Selesai)
——

ÔÇ£Eh….ÔÇØ

ÔÇ£dian tadi telepon tante, makanya tante telepon kamu, supaya kamu itu jangan terlalu keras sama cewek! Dan satu hal lagi, tane tidak tahu kerusakan macam apa yang terjadi pada dirimu tapi berilah kesempatan pada perasaanmu agar kamu bisa memandang masa depanmuÔÇØ

ÔÇ£iya tante, akan arya cobaÔÇØ

ÔÇ£semoga kamu bisa membuka hatimu kembali, agar kamu bisa merasakan yang namanya CINTAÔÇØ

ÔÇ£iya tanteÔÇØ

ÔÇ£dah arya keponakan tante tersayang, muachÔÇØ

ÔÇ£apaan sih tanteÔÇØ

ÔÇ£Dah yaÔÇØ

ÔÇ£iya tanteÔÇØ
000000000000000000000000000000000

Akhirnya setelah menunggu antrian karena muatan yang ambrol atau lebih tepatnya tumpah, aku bisa melewati jalan macet ini. aku lihat truk tersebut menumpahkan muatannya sangat banyak sekali, ya memang sangat jelas butuh waktu berjam-jam agar muatan tersebut bisa disingkirkan. Aku kembali menarik gasku dengan cepat. Sial, hampir satu setengah jam aku antri karena muatan yang tumpah tersebut dan matahari sudah mulai lelah menemaniku. Tante asih, ya dia yang telah membuatku sadar akan kebutuhan hatiku yang sebenarnya. Akhirnya aku sampai di perumahan ELITE, kuberhentikan REVIA disamping pos satpam.

ÔÇ£pak, saya mau ke…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dah jalan saja mas, langsung saja ndak usah ninggal KTP, dah sering lihat masnyaÔÇØ ucap pak satpam

ÔÇ£makasih pakÔÇØ ucapku kembali menarik gas REVIA

Akhirnya aku sampai di depan rumah bu dian, kulepas helm tanpa menarik kunci motorku. aku turun dan langsung berlari kearah pintu gerbang rumah bu dian. Mobil bu dian tampak terparkir di sampig rumahnya sama persis ketika aku dikejar-kejar oleh bodyguard ayahku.

Teng… teng… teng… ku ketuk-ketuk pintu gerbang rumah bu dian

ÔÇ£BU DIAN… BU DIAN… AKU TAHU BU DIAN DI DALAM… BUKAKAN PINTU BU… AKU INGIN BICARAÔÇØ teriakku tapi tak ada jawaban

Tanpa pikir panjang aku langsung menaiki pagar rumah bu dian dan langsung menuju pintu rumahnya.

ÔÇ£Bu Dian… Bu Dian… ini Arya bu, aku tahu bu dian didalam tolong bukakan pintu bu, maafkan aku bu… aku mohon bu, bukakan pintu…ÔÇØ teriakku sambil mengetuk-ngetuk pintu ribuan kali tapi hasilnya nihil

Aku lihat kedalam rumahnya dari kaca rumahnya, tampak sangat sepi. Aku jadi putus asa, kemana perginya dia? Aku duduk di kursi teras rumah bu dian, sambil berpikir kemana perginya aku sulut sebantang dunhill. Kulihat matahari yang mulai condong ke barat. Berbentuk bulat dan menyilaukan.

ÔÇ£eh bulan… aku tahu dimana kamuÔÇØ bathinku, segera aku bangkit dan melompat pagar rumah bu dian

Ku naiki REVIA dan kutarik gas kembali, melewati pos satpam hanya dengan membunyikan klakson…

000000000000000000000000000

Kejadian sebelumnya…..

Setelah aku menerima telepon dari tante asih, aku melihat ibu tersenyum sumringah entah apa yang telah terjadi padanya. Tapi ada sedikit rasa gelisah dan takut didalam senyuman itu. aku letakan gagang telepon di tempatnya.

ÔÇ£The time has comeÔÇØ ucap ibu, aku terperangah ketika mendengar kata-kata itu

ÔÇ£Eh… What do you mean mom?ÔÇØ ucapku, sambil melangkah dan kemudian berlutut tepat dihadapan ibu yang duduk disofa

ÔÇ£tadi bukan tetangga tapi dianÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£eh… dianÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya, dianÔÇØ ucap ibu, kemudian menceritakan apa yang terjadi sebenarnya…

———-
(Cerita ketika ibu arya (Diah) membukakan pintu karena ada bel)

Hari ini setelah aku membayar hutang di toko depan aku kembali kerumah. Kupangku kepala arya dipangkuanku, karena dia lelaki yang selama ini selalu melindungiku. Hingga ada suara bel, aku suruh arya membukakan pintu tapi dasar karena mungkin dia sedang banyak masalah dia hanya bermalas-malasan saja. Aku kemudian melangkah kedepan dan membukakan pintu, betapa terkejutnya aku ketika melihat wanita yang selama ini sering aku singgung ketika ngobrol bersama anak semata wayangku. Dia dian.

ÔÇ£DianÔÇØ ucapku, dia hanya mengangguk kulihat matanya sembab mungkin karena menangis

ÔÇ£Arya…ÔÇØ teriakku dari depan

ÔÇ£Iya bu!ÔÇØ balas anakku, tiba-tiba dian memegang pergelangan tanganku dan menggelengkan kepala

ÔÇ£Oh… ndak jadi, dah kamu disitu saja. Ini sudah kokÔÇØ teriakku

ÔÇ£Yaelah ibu, Arya tiduran lagiÔÇØ balas anakku dari dalam

ÔÇ£Come ini?ÔÇØ ucapku, dia hanya menggeleng kepala

Aku kemudian duduk bersamanya dikursi depan rumah dan menutup pintu rumah.

ÔÇ£Ada apa?ÔÇØ ucapku memandangnya, dia menunduk dengan nafas sedikit tersengal. Dia hanya diam.

Aku seorang wanita, begitupula dian. ketika aku melihatnya aku merasakan rasa sakit yang dia rasakan, rasa ingin memiliki namun tak bisa. Seketika itu aku merasa sangat bersalah kepadanya, melihatnya saja aku sebenarnya tak sanggup. Apalagi dia sudah mengetahui hubunganku dengan anakku sendiri. Jantungku berdebar, apakah dia akan marah kepadaku? Tapi tidak, dari cara dia datang, lukisan diwajahnya aku menagkap dia ingin menyampaikan sesuatu kepadaku.

ÔÇ£Can I…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£HeÔÇÖemÔÇØ jawabku mencoba untuk tenang

ÔÇ£Can I…ÔÇØ ucapnya terpotong lagi

ÔÇ£HeÔÇÖem, iya…ÔÇØ jawabku tak mampu aku memaksanya untuk berbicara, aku bisa melihatnya sedang mengumpulkan keberanian

ÔÇ£Can I Replace your place?ÔÇØ ucapnya, dan membuatku sedikit gugup

ÔÇ£As his lover?ÔÇØ lanjutnya sambil memandangku dengan aliran air mata dipipinya, seketika itu pula hatiku luluh melihat keberanian dia menerima anakku yang telah melakukan hubungan yang salah

ÔÇ£Saya tahu, tante adalah Ibu yang cantik dan baik untuk arya, dan aku sudah tahu hubungan ibu dengan arya lebih dari hubungan ibu dan anak. Tapi bisakah ibu memberiku kesempatan kepadaku, hiks hiks…ÔÇØ ucapnya terpotong, kutahan air mataku mendengar keberaniannya

ÔÇ£untuk menjadi kekasihnya, saya sangat mencintai anak ibu, saya mohon berikanlah satu tempat itu untukku. Aku juga ingin menjadi anakmu, aku ingin menjaga anakmu, merubahnya menjadi seperti seharusnya. Aku tidak akan merebutnya hanya ingin bersamanya, mencintainya dan mengembalikannya kepada tante sebagaimana mestinya sebagai seorang anak. Biarkan dia menjadi milikku, saya mohon hiks hiks hiks… saya benar-benar mencintainya, sangat mencintainya sebagai seorang lelaki yang selama ini selalu dalam benak dan hatiku… saya memang pernah menjalin hubungan dengan orang lain tapi anak ibu, arya selalu berada dalam hatiku tak bisa tergantikanÔÇØ

ÔÇ£Saya mohon dengan amat sangat, berikanlah hiks hiks satu tempat itu kepadaku… tempat sebagai kekasihnya, tempat sebagai pasangan hidupnya hiks hiskÔÇØ ucapnya, aku berdiri dan berlutut dihadapannya, kupeluk erat dian, dangat erat. ingin rasanya aku menangis, tapi aku menahannya.

ÔÇ£Yes, you can… Maafkan tante karena telah mengambil tempatmu, maafkan tante sayang… tante akan mencoba mengakhirinya, tante sudah menunggu lama sekali kehadiranmu sayang… maafkan tante setelah ini dia pasti akan menjadi milikmu selamanya, dan menjadi anak tante, kita saling berusaha untuk bisa mengakhiri ini ya sayangÔÇØ ucapku di telingan kananya, kutarik wajahku dan memandangnya. Dian mengangguk dan kuhapus air matanya

ÔÇ£Tante akan berusaha menyampaikannya kepada arya, dan tante harap kamu jug abisa bersabar ya sayang… pasti bisa, semua kegilaan antara tante dan arya pasti bisa diakhiri, karena kuncinya adalah kamu, terima kasih telah datang sayang…ÔÇØ ucapku, dian hanya mengangguk dan memelukku dengan erat

ÔÇ£apakah kamu ingin menemuinya?ÔÇØ tawarku kepada dian, dia hanya menggeleng

ÔÇ£baiklah, biar tante yang bicara kepada aryaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dian sayang tante hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya sambil memelukku erat, sangat erat sekali. Dari dulu hingga sekarang aku memang sangat merindukan seorang anak perempuan

ÔÇ£tante juga sayang dengan dianÔÇØ ucapku

Setelah itu aku antar dian pergi dari rumahku, dian kemudian naik taksi langganan arya. setelah taksi itu menghilang, aku masuk kedalam rumah dan mendapati arya dengan gaya sok rajanya diatas sofa. setelahnya ada sebuah telepon, entah dari siapa tapi ketika arya mengankat dan berbicara, aku tahu dia asih.
————

ÔÇ£Waktu itu telah tiba sayang, kita harus mengakhirinyaÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£tapi bu…ÔÇØ balasku

ÔÇ£kita pasti bisa, kita sudah berjanji diawal kan sayangÔÇØ ucap ibu sambil menitikan air mata

ÔÇ£tapi arya tidak bisa meninggalkan ibu sendirianÔÇØ ucapku

ÔÇ£bisa, pasti bisa, karena kita tetap akan bersama sebagai seorang ibu dan anakÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Sekarang kejarlah dia, kamu pasti dimana dia beradaÔÇØ ucap ibu,

Aku hanya mengangguk dan berlari kearah kamar berganti pakaian dan menambil apa yang seharnya aku ambil. Dengan sedikit tergesa-gesa aku turun dari tangga, ketika hendak keluar rumah ibu memelukku dari belakang.

ÔÇ£Maafkan ibu, tapi sebelum ayahmu benar-benar hilang dari kehidupan ibu. ibu tidak akan melepaskanmu, ibu masih butuh kamu sebagai anak dan juga kekasih ibu. setelah semuanya berakhir, ibu pasti akan melepaskanmu. Jangan kamu katakan kepada dian, tentang ini semua. Ibu tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi. Apakah kamu bisa sayang?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Bu, arya sudah berjanji kepada ibu. setelah semuanya berakhir, arya akan menjadi anak ibu dan ibu akan menjadi ibu arya kembali. Ya, setelah ayah hilang dari kehidupan kitaÔÇØ balasku

ÔÇ£terima kasih nak, sekarang kejarlah diaÔÇØ ucap ibu, aku berbalik dan memeluk ibu, ku daratkan bibirku di bibirnya tapi dihalanginya oleh kedua jari kanan

ÔÇ£sedikit demi sedikit kita bisa menguranginya sayangÔÇØ ucap ibu tersenyum

ÔÇ£okay, momÔÇØ jawabku, ditariknya kepalaku dan dikecupnya keningku

ÔÇ£Ayo sana cepat, kejar cintamu!ÔÇØ perintah ibu, dan aku mengangguk dan berlari menyusuri lorong rumahku

ÔÇ£SEMANGAT SAYANG!ÔÇØ Teriak ibu

ÔÇ£PASTI BUÔÇØ teriakku sambil mengangkat tangan kananku
0000000000000000000000

Matahari sudah mulai tertidur dalam lelapnya malam. Tapi aku menarik gas REVIA dengan sangat dalam hingga membuat semua orang yang aku salip memaki-makiku. Tak kupedulikan apa yang mereka katakan. Beberapa saat kemudian tiba-tiba dua buah motor racing menghadangku didepan, membuat aku mengerem mendadak.

Ciiiiiiiit….

ÔÇ£BAJINGAN KALAU NAIK MOTOR HATI-HATI DASAR BANGSAT!ÔÇØ teriak seorang dari mereka, mereka berjumlah empat orang

ÔÇ£HAJAR SAJA!ÔÇØ teriak seorang lagi

ÔÇ£Ah, sial kenapa pada saat seperti ini ada saja gangguanÔÇØ bathinku

ÔÇ£WOI, KAMU BERANI SENTUH DIA, MATI KAMU CACING!ÔÇØ teriak seorang yang aku kenal

ÔÇ£Bos Dewo sama bod karyo, mati kitaÔÇØ ucap seseorang dari mereka, aku menengok kebelakang

ÔÇ£Kamu tahu siapa dia?!ÔÇØ bentak karyo

ÔÇ£Ini Arya, dasar kalian goblok! Ketua koplak tahu!ÔÇØ ucap dewo sambil membuka kaca helmku, sial kapan aku jadi ketua koplak, bukannya koplak tidak pernah ada ketuanya

ÔÇ£Eh… maaf bos, ndak tahu…ÔÇØ ucap seseorang dari mereka yang langsung tertunduk dan berjalan membungkuk meraih tanganku tapi aku menolak

ÔÇ£Ah, sudah… sudah… aku lagi terburu-buru wo, kar…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalian singkirkan motor kalian, atau aku bakar disiniÔÇØ teriak karyo, langsung mereka singkirkan motor mereka

ÔÇ£Aku tinggal dulu, kar, wo ada urusan pentingÔÇØ ucapku

ÔÇ£Cinta ya? semangat!ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£Asyik gak jomblo lagi ha ha haÔÇØ canda karyo

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku menoleh ke arah mereka

ÔÇ£Sudah, ndak perlu aku ceritakan, sana cari bidadarimu itu!ÔÇØ teriak dewo

Tanpa meminta cerita dari dewo dan karyo, aku langsung menandap gas melewati keempat orang yang hendak menghajarku. Kulihat mereka menunduk dan ketika aku meleati mereka. dalam perjalanan menuju tempat itu, pikiranku berputar. Apakah dian juga bertemu dengan koplak sebelumnya? Masa bodoh mau bertemu atau tidak yang terpenting, aku sudah menemukan jawabannya. Kupacu lebih dalam lagi, tapi tetap seperti itulah REVIA. Tampak sekali REVIA mengejan menahan sakit karena setiap lubang jalanan dan jalan tidak rata aku tabrak begitu saja. Akhirnya aku sampai di tempat ini, tempat dimana aku selalu bertemu dengannya. Malam menghiasi, bulan purnama bersinar terang. Kuparkir REVIA dengan sangat tergesa-gesa. Kulepas helmku, kutaruh dikaca spion sebelah kanan tanpa mematikan mesinya.

ÔÇ£Kamu disini jangan kemana-mana ya?ÔÇØ ucapku pada REVIA, aku berbalik dan berlari tiba-tiba aku mendengar seru mesin REVIA berhenti, aku menoleh dan tersenyum ke arah REVIA seakan dia tahu bahwa aku pasti akan kembali lagi padanya.

Aku berlari…

Mendekati…

Ku dengar alunan lagu, dan semakin dekat semakin jelas…

Lagu dari sebuah sematpon yang mulai berganti…

Semakin dekat….

Dan kurang dari 5 meter aku berdiri disamping bangku, kulihat seorang wanita duduk dengan wajah bersinar cahaya rembulan. Wajahnya sembab, air matanya masih mengalir. Aku berjalan mendekatinya, selangkah demi selangkah. Aku tahu dia mengetahui kehadiranku…

ÔÇ£I Found youÔÇØ ucapku tapi wanita itu tidak menoleh sedikitpun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*