Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 46

Wild Love 46

Pagi menjelang, tepat jam 04.30 aku terbangun dari tidurku. Seluruh tubuhku terasa sangat pegal dan jam dinding di dinding seakan menertawakanku dengan detak detiknya. Kuelus keras leherku yang terasa sangat pegal, tak lama kemudian aku bangkit dan turun kebawah kulihat ibu sudah berada didapur sedangkan dengkuran masih terdengar dari ayahku. Ibu menoleh kearahku dan tersenyum kepadaku sambil menggenggam gelas air putih.

ÔÇ£pagi ibuku sayang… hoaaaam….ÔÇØ ucapku sembari memeluk ibu dari belakang

ÔÇ£iiih pagi-pagi kok sudah main peluk, ibu mau minum duluÔÇØ ucapnya, melihat ibu kemudian menenggak pil kedalam mulutnya

ÔÇ£pagi-pagi sudah minum obat to buÔÇØ ucapku

ÔÇ£ini jamu, biar kamu ndak jadi bapak dari adikmu sayang…ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£heh… fyuuuuh… ÔÇ£ aku terkejut kemudian lega

ÔÇ£hi hi hi kalau mau jadi bapak ya ndak papa, nanti sehabis kamu kenthu ibu, ibu ndak minum ini lagiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£iiiiibuuuuuuuu…ÔÇØ ucapku manja

ÔÇ£iya… iya… ibu kan sudah bilang kalau rajin minum jamu biar tambah singset dan menggairahkan buat kamyuuh sayanghhh mmmmm cuuuuup…ÔÇØ ucap ibu yang berbalik kemudian mencium bibirku

ÔÇ£bu hari ini acara ibu apa?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£hmm… paling ya apa ya, Cuma main ke tetangga sebelah karena tetangga ada yang hajatanÔÇØ ucapnya dengan memandang ke atas sambil satu jarinya mengetuk-ngetuk dagunya

ÔÇ£tapi jangan pakai pakaian ini lho buÔÇØ ucapku dengan nada cemburu, ibu pagi ini memakai kaos lengan panjang hanya saja bahunya dan sebagian dadanya terlihat. Kaosnya sangat ketat pada bagian tubuhnya sehingga payudaranya sangat menonjol apalagi putingnya kelihatan banget kalau ibu ndak pakai BH. Tapi pada bagian lengannya begitu longgar, huft ditambah ibu memakai celana yang bisa dikatakan celana dalam. So sexy!

ÔÇ£hi hihi cemburu nih yeee…. hi hi hi ya enggaklah, ibu pakai pakaian kaya gini juga kalau ada kamu saja, ntar kalau dia bangun, ibu juga langsung ganti pakaian yang lain. Malas banget ibu makai pakaian seksi kaya gini tapi dia yang lihat rugi, ibu kan beli online Cuma buat kamu sayang hi hi hiÔÇØ ucap ibu menggodaku

ÔÇ£hmm… berarti boleh arya buka dong…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£berani? Sudah pagi lho ntar ndak selesai-selesai kalau ibu mau-mau saja…ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ntar saja lah… oh ya bu, itu manusia kok ngorok mulu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya iyalah ngorok, dikasih obat mau tadi malam kamu teriakpun juga ndak masalah dia ndak bakalan bangun. Mungkin dia akan bangun nanti siang hi hi hiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£arya mau mandi dulu buÔÇØ ucapku

ÔÇ£mandi sendiri atau dimandiin sayang?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£butuh jawaban bu?ÔÇØ ucapku tersenyum dan mengecup bibirnya

Jadilah pagi ini aku dimandikan ibu, punggungku digosoknya dengan payudara yang besar ini. Bahkan dedek arya mendapat servis tangan dari ibu. begitupula sebaliknya, aku juga memberika servis pada ibu tapi semuanya masih dalam batasan memandikan tidak sampai salah satu dari kami mengalami orgasme. Setelahnya, aku dan ibu keluar dari kamar mandi tepat ketika kami berada didepan pintu ayah terbangun dengan sangat berat dan mungkin bisa dikatakan belum sadar sepenuhnya. Ibu langsung jalan dengan santai menuju kamar tamu, sedangkan aku kembali ke kamarku. Entah kenapa ibu masuk ke kamar tamu.

Hari menunjukan pagi hari, aku turun bersiap-siap untuk sarapan dan main dihari ini. ibu sudah siap menyambutku di meja makan sedangkan ayah?

ÔÇ£dia tidur lagi tadi sayang, mungkin mimpi kalah judi hi hi hiÔÇØ ucap ibu santai

ÔÇ£ouh… lha ibu kok tadi masuk ke kamar tamu? Ndak ke kamar ibu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiih kamu, ibu kan nyimpen pakaian khusus kamu di kamar tamu bukan di kamar ibu, bisa-bisa nanti ibu disuruh melayani dia! Ndak mau… kontol punya dia ndak pantes masuk ke tempik ibu hi hi hiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£tapi punya arya pantes ndak bu?ÔÇØ godaku sambil mengelus paha ibu

ÔÇ£ndak… ndak pantes kalau ndak sering hi hi hiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£berarti harus sering-sering ya bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem hi hi hiÔÇØ ucap ibu

Kami kemudian bercanda hingga matahari sudah mulai memanas, tepat pukul jam 08.30 aku keluar rumah begitu pula dengan ibu yang kemudian main kerumah tetangga. Jujur saja payudara besar ibu tampak sangat apa ya? Kecil atau datar? Ketika aku tanyakan kepada ibu, ibu memakai korset agar tidak mengundang nafsu. Ah… pintar sekali wanitaku ini dalam mejaga miliku he he he…

Diatas bebek berwarna merah dengan sedikit hitam di bodinya aku melaju dengan kecepatan penuh. Penuh? Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Aku mencari suasana baru karena ibu sedang sibuk dengan tetangga sebelah rumah. Daripada cokli dikamar karena nunggu ibu mending hang out sajalah. Ku putar-putar motorku disekitar kampus, entah kenapa hatiku walau terasa sedikit sakit karena hal kemarin tetap saja aku ingin melihatnya. Mulut bohonng tapi hati tidak, tubuhku mengikuti kata hatiku. Hingga akhirnya aku berada di kampus, sudah mulai sedikit ramai jika di bandingkan kemarin. Ya karena mungkin ini mendekati akhir dari liburan, jadi banyak yang sudah mulai berdatangan dan sok pintar sehingga main ke kampus.

ÔÇ£Woi bro… lama tak jumpa!ÔÇØ teriak seorang dengan tangan melambai, Rahman.

ÔÇ£woi kang, dari mana saja? Baru kelihatan?ÔÇØ teriakku kepada rahman yang disampingnya ada dua cewek. Kayaknya aku kenal dengan mereka.

ÔÇ£he he he biasa bro… nih lihatÔÇØ ucapnya sembari memeluk dan bola matanya bergoyang ke kanan dan kekiri

ÔÇ£Hai ar, lama ya ndak jumpa?ÔÇØ ucap cewek disamping kanan rahman

ÔÇ£pasti lupa tuhÔÇØ ucap seorang lagi yang disamping kiri rahman

ÔÇ£bentar-bentar… aku benar-benar lupa… maaf yaÔÇØ ucapku

ÔÇ£yaelah… bro… bro… sama cewek cantik dan seksi kaya gini kok lupa, ana sama lestar bro…ÔÇØ ucap rahman

ÔÇ£ana? Lestari? Bentar…ÔÇØ ucapku sambil mengingat

ÔÇ£temen kos ajeng ar, kamu sih ndak pernah main ke kos jadinya lupaÔÇØ ucap ana

ÔÇ£iya sombong mentang-mentang dah mau lulusÔÇØ ucap lestari

ÔÇ£oh iya iya lupa lest, an maklum ndak pernah ketemu sama kalian berdua, tapi kok… hmmm…ÔÇØ ucapku sambil mengelus-elus daguku dan langsung aku tarik si rahman menjauhi mereka

ÔÇ£kang, itu kenapa dua cewek sama kamu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£yaelah, itu baru dua brother, belum yang dirumah baru ane… si Dwi sama septian terus ina mereka berlima akur kok kalau dirumah ane. Ditambah lagi mama ane, jadi tambah hot dirumah baru aneÔÇØ ucap rahman

ÔÇ£maksudmu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya gimana ya ar, kalau Cuma mama ane ndak bisa ar menuhin kebutuhan kokon ane, eh ane ingat mereka berlima ane ajak aja kerumah baru ane dan ane suruh tinggal disitu mereka mau. Ssstt.. mereka selain butuh uang sudah tergila-gila sama kokon ane ar. Tapi saat itu… ÔÇ£ ucap rahman

ÔÇ£tapi apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi mereka akhirnya tahu mengenai hubungan ane dan mama. Awalnya mereka terkejut but you know! Aku punya enam istri broooooo… ha ha ha ha entar yang ane resmikan lima yang satu ndak bisa he he he heÔÇØ ucap rahman santai

ÔÇ£kamu benar-benar …. mantabz dah!ÔÇØ ucapku tak bisa menyalahkannya, aku juga pernah merasakan tubuh ibunya

Aku dan rahman kemudian berjalan-jalan ke kampus bersama lestari dan ana. Mereka tampak mesra sekali, yang membuatku sedikit heran adalah kedua perempuan itu tampak akrab dan akur sekali. Rahman sudah tidak memikirkan mengenai skripsinya lagi, dia sangat beruntung dosbingnya perempuan dan tergila-gila dengan kokon-nya. Bagaimana dengan aku? Masa bodohlah. Rahman seperti halnya guide yang memperkenalkan kampusnya kepada ana dan lestari sedangkan aku disini adalah obat nyamuk, benar-benar obat nyamuk apalagi setipa kepulan asapku berada disekitar mereka. kami kemudian duduk-duduk ditaman fakultas di bawah pohon yang rindang. Rahman menjauhiku karena… dasar ndak tahu tempat! Walau Cuma kissing sih. Aku duduk di bawah pohon yang sangat rindang dengan suasana menjadi semakin membuatku merasakan ngantuk dengan hembusan-hembusan angin yang sepoi-sepoi.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucap seorang yang tiba-tiba duduk di sampingku, membuatku terkejut hingga rokokku jatuh

ÔÇ£eh…ÔÇØ ucapku sedikit terkejut, aku menoleh kearahnya sembari mengambil rokokku yang masih setengah batang

ÔÇ£Owh… bu dian, bagaimana kabar ibu? baik-baik kah?ÔÇØ ucapku kembali duduk

ÔÇ£baik, bagaimana kabar kamu?ÔÇØ balasnya

ÔÇ£baik tapi sedikit ngantuk sajaÔÇØ ucapku

Hening…

ÔÇ£Ar, ayo makan…ÔÇØ teriak dari sudut taman

ÔÇ£yoÔÇÖa bro!ÔÇØ ucapku melambaikan tangan ke arahnya sembari berdiri

ÔÇ£saya mau makan dulu buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Rahmaaaan… arya ditinggal saja, sedang bimbinganÔÇØ teriak kecil bu dian

ÔÇ£iya bu dian yang cantiiiiiiiiiiiik….ÔÇØ teriak rahman dengan acungan jempol

ÔÇ£makasiiiiiiiiiiiiih…ÔÇØ balas bu dian,

ÔÇ£dasar sok imutÔÇØ bathinu

ÔÇ£siapa yang mau bimbingan bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu…ÔÇØ balasnya, sambil menarik tanganku hingga aku terduduk. Ku matikan rokokku dan kunyalakan lagi sebatang.

Kami hanya diam… tak ada sepatah kata dari kami terucap. Perlahan lingkungan taman fakultas mulai sepi.

ÔÇ£Ada yang nyari buÔÇØ ucapku sambil menunjuk ke arah seorang lelaki yang tersenyum dan berjalan ke arah kami berdua

ÔÇ£Yan… ayo makan, dah ditunggu sama teman-temanÔÇØ ucap anda yang kian dekat langkahnya menuju kearah kami

ÔÇ£kalian dulu saja ndak papa, ntar aku susulÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£makan dulu saja bu, kasihan lambungnya nanti mag lhoÔÇØ ucapku kemudian berdiri

ÔÇ£diajak makan saja mas kasihan bu dian tadi bilang belum makanÔÇØ lanjutku

ÔÇ£iya ini, dosen kamu itu paling susah kalau disuruh makanÔÇØ ucap Anda

ÔÇ£nanti saja aku susul ndaÔÇØ ucap bu dian mengelak

ÔÇ£lha ibu mau sama siapa disini kan bimbingannya sudah selesai?ÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£eh..ÔÇØ bu dian memandangku dengan wajah kecewa

Bu dian kemudian berdiri…

ÔÇ£ayo makan, lagian ngapain disini juga lama-lamaÔÇØ ucapnya judes mungkin karena ada sesuatu yang mengecewakan disini

ÔÇ£nah… gitu, ayo…ÔÇØ ucap anda dengan mengulurkan satu tangannya dan digapainya oleh bu dian

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucap anda tepat didepanku dan bu dian

ÔÇ£ya masÔÇØ balasku

ÔÇ£tolong….ÔÇØ ucapnya penuh dengan maksud dan tujuan, dapat aku lihat dari matanya yang memandangku tajam

ÔÇ£jangan buat dian bersedih… aku tidak tahu apa hubunganmu dengan dian tapi yang jelas jangan buat dia bersedih. Setiap ada kamu, riangnya selalu berubah menjadi kesedihan, aku tidak ingin menjadi sedih. Jadi aku mohon…ÔÇØ ucap anda membuatku tertegun

ÔÇ£anda apa-apaan sih kamu? sudah ayo makanÔÇØ ucap bu dian yang mulai melangkahkan kakiku

ÔÇ£tunggu yan, biar semuanya jelasÔÇØ ucap anda, membuat langkah bu dian terhenti

ÔÇ£biarkan aku membahagiakannya dengan apa yang aku bisa ar… dan aku mohon keluarlah dari kehidupan dian, agar dia bisa kembali bahagiaÔÇØ ucap anda menyadarkan akan semua kesalahan yang aku buat kepada bu dian

ÔÇ£Nda, sudah hentikan, kamu tidak perlu membicarakan hal itu didepan aryaÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Aku sudah lelah yan dengan kamu yang selalu bersedih, benar-benar lelah. Cobalah dalam satu hari saja kamu tersenyum bahagia dan jalan satu-satunya adalah arya menghiang dari kehidupanmuÔÇØ ucap anda, aku masih tertunduk dan tersenyum

ÔÇ£Eh..ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Ar, aku mencintai dian dan menyayanginya… aku mohon dengan sangat, biarkan aku membahagiakannya…ÔÇØ ucap anda tenang dengan pandangan datar kearahku, senyumku menjadi kosong.

Aku melangkah mendekati mereka, tak perlu berlangkah-langkah hanya cukup satu langkah. Satu langkah saja aku sudah berada disamping Anda dengan posisi menghadap kebelakangnya. Satu tanganku menepuk pundaknya dan menggenggam lembut pundak laki-laki ini.

ÔÇ£Maaf…ÔÇØ ucapku pelan membuat pertengkaran mereka terhenti

ÔÇ£bukan maksudku merusak hubungan kalian… maaf… aku hanya seorang mahasiswa yang menuntut ilmu dan kelak bisa mencari pekerjaan seperti kalian berduaÔÇØ ucapku

ÔÇ£ar… sudah kamu jangan…ÔÇØ ucap bu dian terpotong

ÔÇ£Setelah semuanya selesai aku pasti akan pergi, dan akan aku doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Kalian tahu, kalian adalah pasangan yang sangat cocok, mungkin dulu ketika aku masih kecil aku pernah menyukai seorang perempuan yang selalu aku harapkan untuk hadir dalam mimpiku. Tapi karena kebodohanku mungkin perempuan itu sudah enggan datang lagi kedalam mimpiku, mungkin itu adalah jawaban yang terbaik untuk harapankuÔÇØ ucapku, Aku melangkahkan kakiku ke arah bu dian, dan kini aku tepat dihadapan bu dian. kedua tanganku masuk dalam saku celana jeansku, tubuhku sedikit membungkuk

ÔÇ£Bu, Maafkan saya, arya mahesa wicaksono… yang selama ini selalu membuat hati bu dian sakit. Bukannya aku terlalu gede rasa jika disukai oleh dosen secantik bu dian, tapi selama ini akulah yang lebih sering menyakiti bu dian. bukan bu dian yang menyakitiku. Setelah semua yang telah terjadi, saya sadar tentang diri saya. Saya bukan apa-apa disini, dan bukan siapa-siapa. Bu dian dengan Anda adalah pasangan yang serasi, sama-sama seorang pekerja keras dan berdedikasi untuk pendidikan. Akhirnya setelah semua pertanyaan berdiskusi di otak saya, saya telah menemukan jawabannya. Ibu butuh kebahagiaan dan kebahagiaan itu adalah Anda. Ingatlah bu, saya bukan orang yang bersih, Anda lebih bersihÔÇØ

ÔÇ£Lupakan bocah itu, anggap bocah itu sudah mati. Ibu memiliki masa depan yang lebih cerah bersama dengan lelaki yang memang pantas untuk ibu. kembalilah tersenyum kepada semua orang seperti halnya ketika ibu mulai mengajar, mungkin saat itu semua menganggap ibu menakutkan tapi mereka suka cara ibu mengajar dan selalu paham atas apa yang ibu ajarkan. Percayalah bu, Anda adalah masa depan ibu yang cerah, jangan berhenti melangkah karena masa lalu ibu. Bocah itu akan menjalani kehidupannya sendiri begitu pula dengan ibu, walaupun ibu dan bocah itu memiliki kenangan. Tapi, lilhatlah, ibu tidak bisa dan bocah itu juga tidak bisa… Bocah itu sudah memiliki kehidupan sendiri yang tidak ada satu orang pun menghentikannya… berbahagialahÔÇØ Lanjutku

ÔÇ£Mas, tolong jaga bu dian… agar mas anda lebih tenang, beberapa bulan lagi aku akan mengajukan cuti sekaligus pindah universitas agar kalian bisa lebih tenang dalam menjalani hubungan kalian. Mohon maaf jika selama ini membuat kalian berdua selalu bertengkarÔÇØ ucapku memandangnya tertunduk, aku kemudian berbalik dan melangkah

ÔÇ£terima kasih ar… aku akan selalu mengingatmu…ÔÇØ ucap anda, kau menoleh sebentar dan tersenyum kepada Anda

Aku berjalan menjauhi mereka namun tiba-tiba, bu dian berjalan mendahuluiku dan berdiri di depanku.

ÔÇ£mulai sekarang dan seterusnya… aku akan membencimu ar, pasti aku akan membencimuÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£memang sepantasnya ibu membenci sayaÔÇØ ucapku dengan tersenyum

Ibu dian kemudian berbalik dan berjalan cepat menjauhiku, aku tak tahu apa yang dilakukan anda dibelakang sana. Aku berbelok mengambil jalan yang tidak dilalui bu dian, agar aku semakin bisa menjauh. Dalam langkahku aku, gumpalan daging lunak didalam kepalaku terus berputar. Ya, mungkin ini yang terbaik. Tak perlu mengharap jika itu tidak mungkin, tak perlu bersedih akan perempuan, tak perlu memikirkan senyumannya lagi, tak perlu memikirkan janji bodohku di masa lalu.

Aku adalah aku yang sekarang, tak perlu merubah sesuatu dari diriku yang sekarang. Jika memang aku harus jatuh tersungkur dan hancur karena hidup yang aku pilih itu adalah resiko dari kehidupanku. Jika aku harus menangis karena pilihan jalanku dan terperosok jauh dalam lubang jal yang aku pilih itu adalah sesuatu yang harus aku rasakan. Jika suatu saat setelah semua urusanku selesai dan ibu memutuskan untuk menghentikan semua, aku akan menerimanya. Jika mbak erlina yang selalu menyayangiku sebagai adiknya juga ikut pergi mungkin itu adalah jawaban dari kebodohanku. Aku adalah aku yang sekarang , yang telah memilih jalan yang salah. Entah kapan aku akan berjalan dijalan yang benar, entah kapan aku akan memperbaiki semua. Jika aku harus hidup sendiri karena kebodohanku di masa ini yang telah aku beli, ya karena itu adlah hal yang seharusnya aku bayar. Tak akan pernah menyesali dan akan terus aku jalani walau pedih dan sedih, walau gerah menjadi amarah, walau indah menjadi gundah, aku akan menjalaninya.

Aku Arya Mahesa Wicaksono akan mengakhiri kisah sedih yang telah dibuat oleh Ayahku. Harus segera aku akhiri agar cerita tentang kehidupanku segera menemukan jawaban yang pasti. Jawaban tentang apa yang akan aku lakukan setelah ini semua selesai. Aku akan memperbaiki hidupku tapi entah kapan tapi yang jelas bukan denganmu, itu yang aku tahu. Aku akan menertawakan kebodohanku entah kapan yang jelas itu juga bukan denganmu, itu yang aku tahu. Hanya itu yang aku tahu sampai saat ini, entah…

Langkahku akhirnya sampai di sebuah warung makan langgananku, disana ada bos besar dengan dua calon istrinya, Rahman.

ÔÇ£Mak, nasi rames pakai telur sama ayam goreng ditaruh dipiring kasih sendok sama garpu plus sambalnya. Minumnya es teh manis, harus manis pakai ditaruh di gelas plus sendok buat ngadukÔÇØ ucapku kepada si mbok warung

ÔÇ£Ediyan! Makan ya pakai piring, minum ya pakai gelas, gitu juga disebutin to mas-masÔÇØ ucap mbok warung

ÔÇ£Yeeee simbok protes mulu, namanya juga langgananÔÇØ ucapku, sambil duduk di kursi makan

ÔÇ£biasa mbok lagi stress mungkin ha ha ha haÔÇØ balas rahman yang duduuk didepanku

ÔÇ£dasar PK! Diem aja kamu kangÔÇØ ucapku dengan wajah nyengir

ÔÇ£ha ha ha ha… makanya kecebong dikeluarin, kalau terlalu lama jadi kodok tuh ha ha ha haÔÇØ canda rahman

ÔÇ£maksud kamu?ÔÇØ tanyaku yang tidak mengerti

ÔÇ£emang kamu mau, pas malam pertama yang keluar bukan cebong tapi kodok? Bisa-bisa istri kamu histeris ha ha haÔÇØ ucap rahman yang akhirnya aku mengerti

ÔÇ£Sialan kamu kangÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sudah ndak usah ditiru si item ini! kamu jalani hidup kamu sesuai jalannyaÔÇØ ucap simbok warung sambil meletekan makanan yang aku pesan

ÔÇ£Terima kasih simbok yang cantik yang telah membelakuÔÇØ ucapku dengawajah terpukau

ÔÇ£Halah…ÔÇØ ucap si mbok meninggalkan aku

ÔÇ£makanya ar cari pacar, jangan jomblo terus yahÔÇØ ucap ana

ÔÇ£heÔÇÖem, ndak enak lho… kalau sudah punya pacar kan ada yang elus-elus hi hi hiÔÇØ ucap lestari

ÔÇ£bodoh… aku makan duluÔÇØ ucapku

Kami terlibat obrolan-obrolan berat, hingga waktu menjelang gelap. Tak ada bosannyaami bercerita satu sama lain, apalagi yang diceritakan rahman adalah mengenai seks, seks dan seks. Dia tidak risih ketika bercerita mengenai hal itu, ditambah lagi ana dan lestari malah semakin menghangatkan suasana. Aku sendiri sampai menjadi bingung dan lebih banyak diamnya ketika mereka bercerita mengenai trisum, bahkan sampai orgy gila bener. Dan yang jelas tanpa penguatpun rahman bisa meladeni mereka berenam seklaigus. Geleng-geleng kepala mendengar itu semua, bahkan cerita ketika lima orang cewek rahman mengetahui persetubuhan rahman dengan ibunya diceritakan semua. Awalnya mereka tidak bisa menerima tapi karena sudah terlanjur cinta (katanya) akhirnya mereka menerima juga.

ÔÇ£dah ah kang, kamu cerita semuanya berbau kecebong terus, aku mau cabut dulu dah soreÔÇØ ucapku

ÔÇ£oke, besok kapan-kapan main ke rumah aneÔÇØ ucap rahman

ÔÇ£ngapain? Ngrekam kalian?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ntar kamu diiket terus nyaksiin kita main hi hi hiÔÇØ ucap ana

ÔÇ£heÔÇÖem.. hi hi hiÔÇØ ucap lestari

ÔÇ£ediyan… kamu mau buat aku kena prostat apa?ÔÇØ ucapku sedikit judes

ÔÇ£ha ha ha haÔÇØ tawa mereka bertiga

Akhirnya kami berpisah, seperti hari-hari sebelumnya. Rahman, lelaki yang selama ini aku kenal dan sekarang malah lebih bagus nasibnya ketimbang aku. Punya enam istri lagi, yah walau satu istri tidak bisa diresmikan. Setelah pikiranku membandingkan aku dengan rahman, otakku kembali kosong tanpa pikiran sama sekali. Hingga aku sampai dirumah dan kembali menjadi seorang anak bagi ayah dan ibuku. Didalam ibu menemani ayah yang sedang nonton televisi, aku hampiri mereka berdua mencium tangan mereka.

Aku membersikan diriku dan kemudian membuat teh, kubawa ke pekarangan rumah dan duduk dibawah pohon. Ibu kemudian datang menghampiriku dan duduk disampingku. Senyumnya memang meluluh lantakan ketegangan dalam diriku. Dengan lembut ibu menarik kepalaku dan dirrebahkannya di dadanya.

ÔÇ£Ada apa?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£biasa…ÔÇØ ucapku yang kuteruskan cerita mengenai bu dian

ÔÇ£Sudah… ibu sudah tidak akan memaksamu untuk bersama dian, kamu jalani hidup kamu. jika memang ada yang bisa menghentikan ini semua ibu akan berhenti jika belum ada, entah kapan semua ini akan berakhir. Yang jelas, ibu tidak akan meninggalkanmu dalam kesendirianÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£terima kasih bu…ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£sayang… kamu lagi kepengen ya?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£eh… ndak jugaÔÇØ ucapku

ÔÇ£oh… masalahnya ibu lagi dapet hi hi hi nanti kalau tiba-tiba kepengen pakai ini saja yahÔÇØ ucap ibu sambil mengangkat kepalaku dan menunjukan belahan dadanya

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ayah bagaimana?ÔÇØ lanjutku bertanya

ÔÇ£tidak ada yang istimewa, kerjanya hari ini hanya tidur dan tidur saja. Ibu saja dianggap sebagai pembantu saja untuk menyiapkan makan, minum dan lain-lain, kerjanya hanya tidur makan saja hari iniÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£kalau ada informasi arya diberitahu ya bu, arya peen banget semuanya selesaiÔÇØ ucapku

ÔÇ£ibu juga sama…ÔÇØ balas ibu

Ibu kemudian mengelus-elus kepalaku kembali yang rebah di dadanya….

ÔÇ£oh iya nak, ibu lupa… tadi pagi waktu kamu sudah berangkat. Ibu kan ke tetangga terus ada yang ketinggalan ibu balik lagi, nah pas balik itu pas ada pesan masuk di sematpon ayahmu. Pas bunyi gitu ibu ambil dan ibu buka lok-skrin-nya, diatasnya itu ada notifikasi kan naik terus. Ibu baca itu mengenai pertemuan bulan kedua besokÔÇØ ucap ibu, aku terperanjat

ÔÇ£apa itu bu?ÔÇØ ucapku mendesak ibu

ÔÇ£itu.. coba ibu ingat…

Hesa, kayanya untuk bulan kedua
Aku ambil dulu milikku
Nanti sisanya kalian berdua
Sudah pengen ngrasain darah ni he he he he

Begitu bunyinya sayangÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Eh… bentar bu, itu dari siapa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ibu ndak ingat sayang, pas notifikasinya mulai terlihat ibu Cuma baca isinya saja, ndak jelas siapa yang ngirim, ndak fokus sayang… adakah yang berbahaya sayang?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£aku juga masih bingung bu, nanti arya pikirkan lagiÔÇØ ucapkku sambil merebahkan kepalaku di dada ibu dan menerima elusan kembali

ÔÇ£besok, ibu yang ngantar kamu saja ya. ibu sudah bilang sama ayah kamuÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ balasku

Dalam hening pikiranku terus berputar mengenai siapa pengirim pesan itu dan apa maksdu dari pesan itu. Kenapa ketika dia menyebut darah diakhir pesan haru ada kata tertawa selengekan? Apakah pembunuhan? Tapi kenapa jika pembunuhan harus ada kata ÔÇ£sisaÔÇØ? akh… aku jadi pusing memikirkan apa yang sebenarnya maksud dari pesan itu. Lama aku bersama ibu kemudian terdengar panggilan ayah, ibu segera masuk begitupula dengan aku. Aku langsung menuju kamarku sembari melihat ibu masuk kedalam kamar bersama ayah. Aku rebahkan tubuhku diatas kasur empuk ini.

Satu masalahku tentnag wanita sudah selesai. Dan sekarang masalahku hanya satu… Ayahku, Romoku… sebentar lagi aku akan mengakhiri perjalananmu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*