Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 44

Wild Love 44

Pagi menjelang kudapati beberapa panggilan di sematponku. Hanya ku lihat dan kuabaikan, segera ku mandi dan kupersiapkan diriku untuk nanti malam. Setelah semuanya siap dan sudah sarapan mie instan pagi ini, aku persiapkan barang yang perlu aku bawa. Tapi sebelumnya biasa megang sematpon dan juga teh tarik di depan TV. kubrowsing sebuah website ternama semprot.com dan kulihat foto-foto di forum IGO yang buat refreshing mata karena beberapa hari ini tidak dapat jatah.

Do mikado eska eskado eskado bea beo. Ringtone hp. Mbak ara.

ÔÇ£Halo mbakÔÇØ

ÔÇ£ar, ayahku sudah memastikan kalau ayah akan dijemput oleh empat orang dalam satu mobil. Dan sebenarnya itu adalah permintaan ayahÔÇØ

ÔÇ£Hm… mbak, apakah mbak menceritakan aku kepada ayah mbak?ÔÇØ

ÔÇ£eh… maaf ar, iya karena aku benar-benar butuh pertolonganmuÔÇØ

ÔÇ£ndak papa kok mbak santai saja, okay kalau begitu pastikan ayah mbak hanya satu mobil tidak lebihÔÇØ (aku tersenyum manis, karena ini sesuai dengan rencana)

ÔÇ£tapi kalau seandainya yang datang lebih dari satu mobil ar, bagaimana?ÔÇØ

ÔÇ£tenang… mbak, everything will be fineÔÇØ

ÔÇ£eh… terima kasih arÔÇØ

ÔÇ£oia, apa alasan ayah mbak meminta satu mobilÔÇØ

ÔÇ£ayahku mengatakan kalau itu hanya untuk keamanan saja agar tidak dicurigai, ayahku juga mengatakan kepada mereka kalau dirinya sedang dimata-matai, ayahku mengatakan itu agar mereka percaya dan mauÔÇØ

ÔÇ£bagus, good reason, mbak tenang saja okayÔÇØ

ÔÇ£iya ar, terima kasihÔÇØ

ÔÇ£sama-sama, dah dulu ya mbak, aku mau berangkatÔÇØ

ÔÇ£heÔÇÖemÔÇØ tuuuut

Segera setelah telepon dari mbak ara aku langsung menuju ke garasi dan kukeluarkan REVIA. Pelan tapi pasti akhirnya aku sampai di tempat wongso, sudah ada beberapa sahabatku yang berada disana. Sambil menunggu waktu malam tiba, satu persatu dari koplak akhirnya berkumpul. Setelah semua berkumpul aku kemudian menceritakan mengenai telepon dari mbak ara, yups senyum indah melekat di bibir kami. tepat pukul 17:00, mbak ara memberi kabar mengenai waktu ketika ayahnya akan dijemput. Dan setelah kabar dari mbak ara, kami langsung beranjak dari tempat kami dan mulai bersiap-siap.

ÔÇ£pokoknya hati-hatiÔÇØ begitu ucapan ibunya wongso yang kami balas dengan anggukan

18:30
Kami semua berangkat ke pos masing-masing. Kami terbagi dalam dua kelompok, satu kelompok menggunakan sepeda motor bebek hitam, pinjaman dari anton yaitu aku, wongso, dewo dan anton. Aku sebagai rider dan wongso memboncengku, di motor satunya lagi dewo rider dan anton yang membonceng. Sedangkan sisanya berada di mobil pick up hitam. Menyamar? Pastilah!

19:00
Kami berangkat menuju lokasi yang akan menjadi tempat perkara. Mbak ara kemudian mengirimkan sms yang memberitahukan kepada kami ciri-ciri mobil dan plat nomor yang menjemput ayahnya. Sebuah mobi sedan berwarna merah dengan plat nomor YES 1234 OH.

20:00
Kami sudah dipos masing-masing, aku bersama ketiga rekanku berada di semak-semak jalan masuk bukit orang utan.

20:30
Sebuah mobil dengan ciri-ciri yang sama melintas didepan kami.

ÔÇ£roger danuarta, mobil sudah lewatÔÇØ ucap anton dalam mikropon yang ditujukan kepada mobil pickup

ÔÇ£diterima!ÔÇØ balas karyo

Setelah sedan itu melaju dan jarak terlihat jauh, kami kemudian keluar dari persembunyian kami dan mengikuti dari jarak kejauhan agar tidak dicurigai. Setelah beberapa saat, dari jauh mata memandang mobil yang ditunggangi oleh ayah mbak ara berhenti sejenak, karena mobil pick up sudah berada di depan dan berjalan lambat menunggu kedatangan mereka. Dari kejauhan aku melihat dua buah kepala keluar dari pintu depan mobil dan tidak marah. Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi di mobil bak terbuka itu, jujur saja tidak begitu terlihat jelas tapi yang jelas masih masuk dalam rencana. Perlahan tapi pasti aku kemudian mendekat ke arah mobil sedan tersebut, kini aku berada sedikit lebih dekat dengan mobil sedan yang menjadi target kami. Dan yang jelas rencana tetaplah rencana karena kelakuan koplak yang berada di atas mobil pick up benar-benar diluar ekspektasi kami berempat.

Posisi sekarang, pick-up, mobil sedan dengan jarak kurang lebih 1-2 meter dan dibelakang mobil sedan ada 2 motor bebek dengan jarak kurang lebih 3 meter dari mobil sedan. Aku, wongso, anton, dewo hanya bisa tepuk jidat didalam hati melihat tingkah laku mereka yang di pick-up. Pantas saja dua orang body guard tidak marah, setelah aku mendekat dan mobil pick-up diterangi oleh lampu jalan.

ÔÇ£Aseeeek goyang yo a… e…. a… e…. a… e…. a… e…. a… e….ÔÇØ teriak parjo sambil mengangkat botol minuman keras, tapi aku tahu dia tidak mabuk

Terlihat dira sedang bergoyang dengan lincah dan bahagia, menari berjoged ditengah-tengah kerumunan koplak yang lain. Laju mobil bak terbuka (pick up) pun bergoyang ke kanan kekiri seakan-akan memperlihatkan pengemudi yang mabuk. Sudira, SUka menjadI waRriA, sedang menari dengan celana hot-pants serta atasan berupa pakaian yang ketat seperti bra spot yang memperlihatkan separo payudara sintetisnya. Kedua orang body guard yang berada di jok depan mobil sedan bukannya marah, tapi mengeluarkan kepala sambil menggoda Sudira.

ÔÇ£Buka dong mbaaaaaaaaaaaaaaakÔÇØ teriak pengemudi sedan

ÔÇ£yang bawah juga donng, aseeeeeeeeeeeek goyang terusÔÇØ teriak laki-laki di pintu depan sebelah kiri sedan

ÔÇ£Goyang teruuuuuuuuuuuus!ÔÇØ teriak udin dan hermawan sambil duduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya

ÔÇ£edan, kalianÔÇØ ucap anton di mikropon yang terdenganr samar dan kalah dengan suara dangdut dari tape recorder tua yang memutar lagu

ÔÇ£tenang saja bro… lebih edan lebih koplak brother ha ha haÔÇØ balas karyo pengemudi mobil pick up

Kini mobil pick up terus berjalan zig zag, tak ada protes dari mobil sedan dibelakangnya. Mobil pick up yang berjalan zig-zag membuat mobil sedan setidaknya terpengaruh dan ikut membuntuti pergerakan mobil pick-up. Kini mobil sedan tersebut berjalan tepat ditengah jalan dan 2 motor bebek hitam berada tepat dibelakang mobil sedan. Tak diperkirakan, kedua orang yang berada dijok belakang ikut keluar bahkan membuka pintu kaca mobil belakang dan duduk di pintu mobil. Satu tangan dari masing-masing orang yang duduk di jok belakang berada diatap mobil sedan dan satu tangan dari masing-masing mereka menari-nari diatas udara mengikuti goyangan dira. Dari sinar lampu merah pick-up dan juga sinar lampu depan sedan yang terpantul dan menerobos ke dalam sedan dapat terlihat ada satu orang yang berada di jok belakang.

ÔÇ£Ternyata lebih mudahÔÇØ ucap anton dari mikrophone

ÔÇ£Yo, nton… kamu kiri apa kanan?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£kiri saja nton, lebih enak kayaknyaÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£kita kanan catÔÇØ balas wongso, padahal di kanan kami adalah jurang

ÔÇ£oye…ÔÇØ ucapku

Dengan tarian dari Sudira yang semakin menggila, bahkan kadang menarik-narik BH bagian bawah. Mencoba memperlihatkan payudaraya kepada pengemudi sedan dan temannya. Membuat semua body guar teralihkan fokusnya. Aku bergerak ke kanan, dewo bergerak ke kiri.

ÔÇ£di alonke sithik bro mobilmu (dipelankan sedikit bro mobilmu)ÔÇØ ucap dewo kepada karyo

ÔÇ£diterimaÔÇØ balas karyo

Mobil pick up, kemudian melambat tanpa disadari mobil sedan itupun mengikuti.

ÔÇ£Sekarang!ÔÇØ teriak anton di mikrophone

Dua motor bebek melaju dengan kecepatan penuh.

BUGH… BUGH…

ÔÇ£HEI APA YANG KALIAN… BUGH…. BUGHÔÇØ teriak pengemudi yang sempat akan menengok kebelakang menyadari apa yang kami lakukan

Ciiiittttt….. Brak! BRAKKK! Ciiiiiiiiiiiit….

ÔÇ£WASYU! (ANJING!)ÔÇØ teriakku dan wongso bersamaan

Mobil sedan yang dikendarai oleh bodyguard ayahku, dengan keempat orang bodyguard memperlihatkan kepala mereka. motor bebek bergerak dengan cepat kesamping kanan kiri mobil sedan tersebut, anton dan wongso yang sudah mempersiapkan pemukul memukul kepala dua orang yang dibelakang hingga tubuh bagian atas mereka rebah di atap mobil sedan. Dua orang yang didepan menyadari kedua temannya terjatuh, tapi terlambat ketika mereka hendak memasukan kepala mereka sudah terlebih dulu terkena pukulan dari anton dan wongso. Mobil sedan kehilangan kendali dan menabrak motor bebek yang aku kendarai sejurus kemudian mobil pick-up berhenti dan sehingga setelah menabrak motor bebekku, mobil sedan tersebut menabrak pick-up. Aku sempat kehilangan kendali akan motorku dan dengan sigap aku rem tepat didepanku pagar pembatas antara jalan dan jurang.

ÔÇ£hampir saja… hufthhhÔÇØ ucapku

ÔÇ£duh gusti duh gusti… aku rung metengi asmi, ojo nyemplung sek (ya tuhan ya tuhan, aku belum menghamili asmi jangan jatuh dulu)ÔÇØ ucap wongso yang memelukku denga erta

ÔÇ£HA HA HA HA HA HAÔÇØ teriak koplak di atas pick-up melihatku dan wongso berpelukan

ÔÇ£Dasar pasangan homoÔÇØ ucap karyo

ÔÇ£AH MATAMU SU (NJING)ÔÇØ teriakku

ÔÇ£BAJINGAN, KANCANE MEH MATI MALAH DIGUYU! (Temannya mau mati malah ditertawakan)ÔÇØ teriak wongso

Jalanan tampak sepi, tak ada seorang yang berani malam-malam melewati bukit orang utan. Dengan langkah cepat tanpa menunggu, kami semua kemudian mendekati mobil sedan tersebut. Tampak seseoran keluar dari pintu belakang sedan, sehingga satu orang bodyguard terjatuh ke jalan. Orang setengah baya yang aku selalu ingat akan wajahnya kini berdiri, didepannya tergeletak tubuh body guard yang tidak sadarkan diri.

ÔÇ£terima kasih ar…ÔÇØ ucap lelaki setengah baya tersebut atau lebih dikenal sebagai si buku

Aku hanya tersenyum dan berjalan ke arahnya menepuk bahunya. Aku bersama koplak kemudian memasukan kembali tubuh yang kehilangan kesadaran itu ke dalam sedan. Anton kemudian menyupir sedan tersebut, dan si buku ikut ke rombongan pick-up. Tak ada lagi lagu dangdut yang menyertai perjalanan kami.

ÔÇ£tanyakan sama bapaknya, kemana tujuannya?ÔÇØ ucap anton,

ÔÇ£hutan setelah pemukiman wargaÔÇØ balas karyo

Mobil melaju dengan cepat dan sampailah kami semua ditanah lapang, kecuali dewo yang malah terlihat membalas pesan masuk ke sematponnya sehingga dia terlambat dibelakang. Setelah ditempat itu, kami semua turun begitu pula dengan si buku. Sibuku hanya diam, ketika kami semua berdiri didepan mobil sedan yang masih menyala lampu depannya.

ÔÇ£bagaima dengan mereka, bisa saja kita ketahuan kalau misi mereka gagalÔÇØ ucap aris

ÔÇ£aku sudah pikirkan itu semua, tenang saja tapi memang ada kemungkinan mereka akan tahu kalau sibuku masih hidupÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Asal identitas kita tidak diketahui oleh mereka itu bagusÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£kita habisi mereka disini sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak terlalu beresikoÔÇØ ucap udin, dan membuat kami semua melongo

ÔÇ£Tumben bisa ngomong din?ÔÇØ ucap parjo yang menggenggam botol minuman keras

ÔÇ£Ah, MATAMU!ÔÇØ balas udin

ÔÇ£benar kata udin, terlalu beresiko jika kita menghabii mereka disini dan ini akan memperlihatkan bahwa bapaknya memang benar-benar berhubungan dengan pihak lain. Mereka akan berpikir kalau rencana mereka bocor karena bapaknya, itu membahayakan keluarga dari si bapakÔÇØ ucap anton membuat kami manggut-manggut

Ciiiiiiit…. Dewo datang, langsung berjalan ke arah parjo

ÔÇ£Njaluk wedange, aku ngelak (minta minumnya, aku haus)ÔÇØ ucap dewo yang langsung menyerobot botol tersebut dan berjalan ke arah mobil sedan

ÔÇ£Wo… jangan aduh…ÔÇØ ucap parjo menepuk jidatnya, ketika melihat dewo menenggak sebotol minuman keras.

Glek glek glek glek glek glek glek glek glek… dewo meminum habis sebotol minuman tersebut dan bersandar disamping pintu depan mobil dengan kaca terbuka tersebut

ÔÇ£Aduh…ÔÇØ hanya itu ucap parjo

ÔÇ£kenapa jo?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£itu minuman belum tak ganti isinya, masih cong yang (minuman keras)ÔÇØ ucap parjo

ÔÇ£HAH! WADUH!ÔÇØ teriak kami bersamaan dan menepuk jidat bersama-sama

ÔÇ£hyuk… hyuk… oh bulan… datanglah padaku huoooo… ooooo… ÔÇ£ dewo meracau mabuk

ÔÇ£waduh, ngurusi orang gila iniÔÇØ ucap karyo

Kriiiiiiiiiing…. kriiiiiiiiing… suara ringtone telepon masuk dari dalam mobil

ÔÇ£Eh… yayang telepon, mana teleponnyaÔÇØ ucap dewo yang sudah mabuk tersebut memasukan setengah badannya ke dalam mobil

ÔÇ£CELENG (BABI HUTAN) dewo ditarik broÔÇØ ucap anton

Terlambat… sekalipun kami sudah menarik dewo keluar tapi telepon sudah diangkat oleh dewo. Mau bagaimana lagi, akhirnya aku dan anton mendekatkan kuping ketelepon yang diangkat dewo. Dewo dengan santai membalas setiap pembicaraan dari dalam telepon.

ÔÇ£Haliyoooooo… sayangku….ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£Sayang-sayang gundulmu! Kalian sedang apa! Sudah beres atau belum?ÔÇØ teriak seseorang dari dalam telepon

ÔÇ£beres? Sebentar ya sayang, tak tanyakan duyu.. hyuk… sudah beres belum hei… sudah ya? Oh iya sudah ya? hyuk… beres ketes ketesÔÇØ ucap dewo yang sempat bertanya kepada kami semua dan kami hanya mengangguk

ÔÇ£Kamu mabuk?ÔÇØ ucap seorang dari dalam telepon

ÔÇ£mabuk hyuk… ndak mabuk Cuma sedikit mimi hyuk… biar enyaaaaaaaaaaaaaaaaaaak… biar ndak stlessssss… hyuk… mimik cucu he he he heÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£Argh! Cepat kembali!ÔÇØ ucap seseorang dari dalam telepon yang sedikit kesal

ÔÇ£kembali kepadamu? Oh cintaku… hyuk cintaku…. hyuk…ÔÇØ ucap dewo yang mulai tak sadarkan diri

ÔÇ£ARGH! Dasar bodoh! Cepat kembali!ÔÇØ teriak seseorang dari dalam telepon

ÔÇ£bodoh? Kamu yang bodoh hyuk… aku mah pintar SMA aku ranking satu hyuk dari belakang bodoh hyuk…ÔÇØ balas dewo

ÔÇ£AKAN AKU HUKUM KALIAN, CEPAT KEMBALI!ÔÇØ teriak seseorang kemudian menutup telepon

Dewo kemudian hampir terjatuh dan aku tangkap tubuhnya. Aku dan anton serta wongso kemudian saling berpandangan. Koplak yang lainpun tahu kalau ada rencana busuku didalamnya. Kami segera angkut dewo dan kami tidurkan di bak terbuka mobil. Anton kemudian memutarkan mobil tersebut dan berjalan ke arah pulang, aku dan wongso serta karyo membuntuti dengan kedua motor bebek. Setelah sudah agak jauh dari tempat kami berkumpul tadi anton, kemudian keluar dengan pintu mobil masih terbuka. Anton tampak masih mengotak-atik sesuatu karena tubuhya sebagian berada didalam mobil. Tiba-tiba mobil berjalan anton langsung menarik tubuhnya dan….

Ngeeeng….

Braaaaaak…..

Nguuuuuuuuuuuung…

Braaaaaak…..

Braaaaaak…..

DHUAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR!

Aku dan tiga orang temanku kemudian berdiri di atas jurang melihat kebawah jurang dimana sebuah mobil terbakar. Pemandangan yang lumayan indah untuk malam yang dingin ini. Aku dan mereka bertiga kembali ketempat kami berkumpul tadi.

ÔÇ£Gimana?ÔÇØ ucap parjo sambil mengipas-ngipas wajah dewo

ÔÇ£Sip!ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£untung sajaÔÇØ ucap aris dan tugiyo

ÔÇ£iya, kalau bukan karena dewa mabuk ini mungkin kita bakal buntuÔÇØ ucap udin

ÔÇ£TUMBEN BISA NGOMONG YANG LAIN!ÔÇØ teriak kami meneriaki udin

ÔÇ£Celeng (babi hutan)ÔÇØ umpat udin

ÔÇ£Terima kasih… terima kasih… hiks hiks hiks…ÔÇØ teriak seseorang yang berlutut di belakangku, kami semua kemudian berbalik dan melihat kearahnya.

Aku hanya mendekatinya dan mengangkat tubuhnya serta menahannya agar tidak kembali berlutut dihadapan kami. Laki-laki ini, laki-laki yang dulu pernah hampir memperkosa ibuku kini sedang menangis dihadapanku. Kupandangi lelaki setengah baya dengan wajah yang masih dihujani air mata ini.

Dimalam dingin dan sunyi hanya bertemankan koplak, dan seorang lelaki yang sedang berusaha menghentikan air matanya. Dan satu orang dari kami menghiasi malam ini dengan dengkuran keras setelah menenggak minuman yang mengandung ethanol langsung satu botol tanpa jeda. Aku masih disini didepan lelaki setengah baya yang memberiku memori kebencian namun memori itu kini hilang entah kemana setelah aku melihat wajah penuh denan penyesalan ini. Beberapa sahabatku dibelakangku ada yang duduk di bak mobil pick-up ada juga yang duduk di motor.

ÔÇ£Sudahlah pak, tenang…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£jujur bapak tidak habis pikir ar, kamu adalah anak yang dulu hiks hiks maafkan saya…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£itu adalah masa lalu dimana bapak masih terperangkap didalamnya, dan aku yakin dulu itu juga tidak masuk dalam rencana bapak. Sudah pak tenang, berterima kasihlah pada mbak ara karena dia, aku jadi tersadar bahwa semua orang pernah berbuat kesalahan dan akan memperbaikinyaÔÇØ ucapku, walau dalam bathinku masih bertentangan dengan apa yang aku ucapkan

ÔÇ£terima kasih… terima kasih… jika tidak ada kalian mungkin aku sudah menjadi tubuh tak bernyawaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Rokok pak?ÔÇØ ucapku menawarkan sebungkus dunhill mild kepadanya

ÔÇ£bapak ndak merokokÔÇØ ucapnya sambil mengusap air matanya

ÔÇ£iiih bapak, sini… sini dira peluk biar ndak nangis lagiÔÇØ ucap dira mendekat

ÔÇ£Hati-hati pak itu cowok yang berubah lho pak tapi batangnya sudah hilang ha ha haÔÇØ ucap karyo yang diikuti gelak tawa kami

ÔÇ£Eh… beneran?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya pakÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiih buka kartu deh, padahal mau dira rokok si bapaknya… ketahuan dulu hi hi hiÔÇØ ucap dira

ÔÇ£edan kamu dirÔÇØ ucap udin

ÔÇ£eh… udah berapa kali udin mengucap dengan bahasa manusiaÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£matamu wongÔÇØ ucap udin sewot dan kami hanya bisa tertawa terbahak-bahak

ÔÇ£Ar, sekali lagi aku minta maaf atas kejadian waktu ituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Sudah pak, lupakan saja asal ndak mengulang kan beres pakÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah, acara keluarganya sudah selesai kah?ÔÇØ ucap anton, aku dan bapaknya mbak ara melihat kearah anton dan mengangguk

ÔÇ£Maaf mengganggu, bapak adalah media pertama, benar kan? Saya anton anggota INÔÇØ ucap anton sambil menyodorkan KTA-nya, membuat bapak mbak ara sedikit terkejut

ÔÇ£iya, aku adalah salah satu dari lima orang termasuk ayah dari si arya, namun beberapa tahun terakhir aku sudah tidak dilibatkan dalam aksi mereka karena aku dicurigai berkhianat. Bapak tidak menyangka akan bertemu dengan kalian semua ditambah lagi anggota INÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Ya, inilah kami. em… maaf… apakah bapak punya informasi penting lainnya pak?ÔÇØ ucap anton tanpa memberi jeda kepada pak Media. Satu persatu teman kami mulai menyulut sebatang dunhill dan meminum kopi instan 98 degrees sambil memperhatikan dan mendengarkan anton yang mulai mengintrogasi.

ÔÇ£Yang bapak tahu, mereka akan mengadakan pertemuan dengan bandar-bandar besar di bulan kedua. Tapi sebelumnya ada pertemuan kecil di danau perumahan ELITE, bapak mendengar mereka diintai. Mereka kemudian menuduhku mengintai mereka tapi bapak membantahnya, dan mulai dari saat itu mereka mulai memandangku dengan sangat sinis, dan dimalam ini aku sudah mengira aku akan disingkirkan olehnya. Bapak sebenarnya bisa saja lari, namun jika bapak lari keluarga bapak akan menjadi sasaran merekaÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Ada yang mengintai?ÔÇØucap anton dan semua sahabatku melihat kearahku

ÔÇ£Iya… aku yang disanaÔÇØ ucapku sambil mengangkat tanganku

ÔÇ£Eh… jadi kamu orangnya? Bagaimana kamu bisa tahu keberadaan mereka?ÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£aku memiliki email dan sematpon KS yang mati dibunuh karena ingin bersaksi. Maka dari itu aku tahu apa rencana merekaÔÇØ ucapku santai

Bugh… plak… bugh… plak… bugh… plak… bugh… plak… bugh…

ÔÇ£Ampuuuun bro… ampuuuun iya aku salah ndak ngajak kalian tapi itu berbahaya, aku hanya butuh informasi pertemuan besar mereka ampun brotherÔÇØ ucapku sambil mringkuk mendapat pukulan ringan dari koplak

ÔÇ£Anjing kamu, nanti kalau kamu ditembak bagaimana? Kalau kamu ketangkap bagaimana?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£mikir to ar mikiiiiiiiiiiir! Kamu ndak bisa menyelesaikan dengan sendirian bodoh! Goblok! Asu! BajinganÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£wajah ganteng tapi gegabahan, asu tenan kamu ar!ÔÇØ bentak aris dan begitu pula yang lainnya menganiayaku satu persatu

ÔÇ£ya, betul…ÔÇØ ucap udin

ÔÇ£bahasa alien lagiÔÇØ ucap hermawan

ÔÇ£asu kabeh (anjing semua), sakit tahuÔÇØ ucapku sambil memegang pinggulku

ÔÇ£makanya kalau mau beraksi ajak-ajak, kalau K.O kan bisa bareng-bareng!ÔÇØ bentak tugiyo

ÔÇ£iya iya, besok aku beraksi bareng lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£Jadi benar kamu ar, bapak sudah menduga. Karena memang ara pernah bercerita semua tentang kamu. dan apakah benar yang menghancurkan tukang adalah….ÔÇØ ucap pak Media terhenti

ÔÇ£ouh… itu kami Cuma mainan kembang api pakÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£tapi ndak mau naik keatas kembang apinyaÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£nungsep kemarin kalau ndak salah kembang apinyaÔÇØ ucap aris

ÔÇ£Haaaaaaaassssh… akhirnya mereka berkurang juga, sekarang mereka Cuma bertigaÔÇØ ucap pak Media menghela nafas panjang sambil kepalanya menengadah ke atas

ÔÇ£Apakah bapak bisa menceritakan kepada kami, tentang pertemuan besar itu? Dan tentunya dimana lokasinyaÔÇØ ucap anton yang tiba-tiba menyela

ÔÇ£Pak, kalau mau cerita sama anton buat perjanjian dulu! Awas kalau dia main game sendiriÔÇØ ucap parjo yang masih mengipasi dewo

ÔÇ£eh… maksudnya?ÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Maksudnya, saya tidak boleh beraksi sendirian dengan IN, dan harus melibatkan nyawa mereka. karena kami koplak tidak pernah menjadi kedua, harus yang pertamaÔÇØ jelas anton

Kemudian secara bertahap, pak media mulai menceritakan semuanya dari awal. Tak perlu pindah tempat kemana atau dimana cukup disini, dibukit orang utan. Tentang pertemuan besar dengan bandar-bandar, dan juga lokasi tempat pertemuan diceritakan semua oleh pak Media.

ÔÇ£Hm… okay, sip pak… mungkin kami harus menungguÔÇØ ucap anton

ÔÇ£ya, sekaligus melihat respon mereka mengenai anak buah mereka yang jatuh ke jurangÔÇØ ucapku

ÔÇ£sekarang terserah pada kalian, bapak akan selalu mendukung kalian…ÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Dan satu hal lagi… tapi aku ingin berbicara dengan arya saja, boleh?ÔÇØ ucap pak Media, dan semua rekanku mengangguk

Aku dan pak Media kemudian berjalan ke tempat yang agak jauh dari koplak

ÔÇ£Ar, bapak ingin bercerita, mungkin kamu sudah tahu rencana pertemuan besar mereka. tapi apakah kamu tahu kalau keluargamu menjadi sasaran mereka?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku sudah tahu, mereka membicarakannya ketika di danauÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ada sebuah alasan besar kenapa ayahmu ingin menghancurkan keluargamuÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Alasan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya, ini semua karena wanitaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Maksud bapak?ÔÇØ ucapku
ÔÇ£Dulu ayahmu menyukai seorang wanita dan juga nicolas sahabat ayahmu. Tapi cinta itu ternyata tidak berbalas sama sekali, kedua wanita itu memilih menjadi istri-istri dari adik nenekmu. Selain lebih mapan, adik nenekmu lebih perhatian dan juga baik hati tidak seperti mahesa dan nico yang sejak kuliah sudah terlihat sangat kasarÔÇØ ucapnya

ÔÇ£adik nenek? Yang mana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu lupa ya? Dulu kamu sering diajak jalan-jalan ke pantai waktu kamu masih SD. Mungkin kamu sudah lupa, tapi bapak tidak pernah melupakan itu. Dia begitu baik kepadamu padahal dia bukan saudara kandung dari nenekmu melainkan adik angkat ibumu, namanya Tian Tharno. Kakekmu itu masih sangat muda waktu itu jika dibandingkan ayahmu mungkin terpaut 2-3 tahun lebih tua kakekmuÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Eh… kakek Tian, iya aku ingat pak. Dia yang membelikan aku motor kesayanganku, REVIA, tapi aku tidak pernah tahu keberadaan kakek sekarang. Setiap kali aku bertanya mengenai kakek tian ke Ibu dan keluarga mereka selalu menjawab kakek sekarang berada diluar kota bersama kedua nenekkuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Jelas kamu tidak tahu karena sebenarnya, dia sudah meninggal duniaÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Eh… tidak mungkin pak, beberapa tahun lalu aku baru saja bertemuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Memang benar tapi setelahnya dia mati dibunuh oleh… kamu tahu sendiri siapaÔÇØ ucap

ÔÇ£Eh… Ayah.. HAH!ÔÇØ teriakku keras

ÔÇ£Kakekmu tahu semua tentang mahesa, ketika ayahmu datang bersama pak wicak dan bu mahesa. Pak tian, kakekmu itu sebenarnya sudah tahu niat busuk dari ayahmu. Pak tian kemudian mencari tahu mengenai lamaran dan perjodohan itu, hasilnya hanyalah rekayasa saja. Kakek tian memberitahukan kepada pak warno (kakek arya/ ayah dari diah) tapi semuanya sudah terlambat apalagi ibumu sudah mengandungmu karena dipaksa memuaskan nafsu ayahmu. Setelah kejadian itu, pak warno menyuruh pak tian untuk pergi dari daerah ini bersama kedua istrinya, ya karena kakekmu tahu mengenai perjalanan asmara adik iparnya itu. Hanya sekali saat itu, dia pulang dan mengajakmu bermain bersama om-tante (anak dari pak tian) kamu yang hampir seumuran dengan kamu. hingga akhirnya beberapa tahun lalu dia kembali ke daerah ini, pak tian membangun sebuah perumahan yang diberi nama perumahan ELITE. Selama pembangunan perumahan, semua berjalan biasa-biasa saja karena pak tian mengira semuanya sudah berakhir dan ayahmu melupakan kejadian mengenai percintaan masa lalunya. Tapi ternyata tidak, mahesa mendekati pak tian dengan embel-embel bisnis. Pak tian sebenarnya tahu itu hanya tipu muslihat mahesa tapi malang, ketika pak tian sudah mulai bergerak untuk menjatuhkan mahesa dia terbunuh terlebih dahuluÔÇØ cerita pak Media

ÔÇ£Setelah terbunuh, dia dibuang entah kemana. Aku tidak berada di sana saat itu. Dan sebagai gantinya Kaiman dijadikan kambing hitam, dan membuat dia dijadi budak ayahmu dan komplotannya. Tentnag kedua nenekmu atau istri dari adik nenekmu, menghilang dan aku tidak tahu dimana mereka. Bahkan anak-anak dari pak tian tidak ada yang tahu keberadaanya. Sebenarnya pak warno sudah tahu mengetahui semua itu namun tak kuasa melawan karena beberapa hal yang membahayakan keluarganya.ÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£dan alasan kenapa ayahmu mengadakan pertemuan di perumahan elite adalah daerah itu dulu adalah tempat kenang-kenangan bagi ayahmu dan nico sebelum akhirnya dibangun perumahan. Sekarang perumahan itu berpindah tangan ke nenekmu, itu juga karena usaha keras dari nenekmu merebut kembali milik adiknya yang hampir saja jatuh ketangan ayahmuÔÇØ ucap pak MEdia

ÔÇ£HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! BAJINGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!ÔÇØ teriakku sekerasnya, hingga aku tertunduk lesu. Menjatuhkan kedua tanganku ke tanah dan memukul-mukul bumi tempatku berpijak. Hingga akhirnya aku duduk bersimpuh dan memandang ke langit

Semua koplak melihat kearahku, mengerti akan kesedihanku. Mereka tahu akan posisiku saat ini, mungkin ada sesuatu yang sangat mengganjal dihatiku dan mereka bisa memahaminya. Ditambah lagi semua kegilaan ini dikarenakan oleh Ayahku. Dengan tubuh yang lesu aku berdiri dan bergerak kearah mereka, bersama dengan pak Media yang menemani langkahku.

ÔÇ£Keep Smile Cat! We always by your sideÔÇØ ucap udin

ÔÇ£Weidian, alien berbicara bahasa inggris broÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£tumben-tumbenan bisa ngomong ha ha haÔÇØ ucap anton

ÔÇ£MATAMU SU!ÔÇØ umpat udin

Aku tak bisa menahan gelak tawa akibat percakapan mereka. mereka selalu ada ketika aku bersedih, selalu ada ketika aku kesulitan. Well, they are my best friend, forever. Tak henti mereka membuat aku tertawa terbahak-bahak, membuat aku melupakan sejenak permasalahanku. Setelah tawa bersama dan kegilaan bersama.

ÔÇ£Oia, pak Media, sebaiknya anda bersama kami untuk sementara sampai semua permasalahan menjadi redaÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Bapak terserah kalian, tapi tolong beritahukan kepada anak bapak kalau bapak diselamatkan oleh kalianÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Siiipz! Pak… tenang sajaÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Arya, bapak ucapkan terima kasih banyak, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya…ÔÇØ ucap pak Media

ÔÇ£Semuanya pasti akan baik-baik saja pak, pastiÔÇØ ucapku

ÔÇ£yoi pasti pakÔÇØ ucap parjo

ÔÇ£selalu baik-baik sajaÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Pasti baikÔÇØ ucap aris

ÔÇ£Tidak pernah akan kata selain, baikÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£SetujuÔÇØ ucap hermawan, udin, karyo, anton, sudira,

ÔÇ£Mimi cucu hyuk….ÔÇØ tiba-tiba dewo berucap

ÔÇ£HA HA HA HA HA HAÔÇØ tawa kami bersama

Setelah malam ini, aku kembali ke khidupan semula. Pak Media, ayah dari mbak ara disembunyikan oleh anton dan IN. Aku kembali dirumahku yang sepi tanpa ada sesuatu didalamnya. Sesampainya di kamar, dadaku masih terasa sekali sesak karena takut jika ayahku mencurigai yang telah terjadi. Apakah dia akan menaruh kecurigaan kepadaku? Atau dia akan menganggap yang terjadi adalah karena kesalahan anak buahnya yang mabuk setelah menjalankan misi? Semoga saja, dan aku berharap kalau Ayah beserta komplotannya mengira itu adalah murni kecelakaan karena kecerobohan dari anak buahnya sendiri. Kurebahkan tubuhku malam ini di kamarku, hingga mata terlelap. Pikiranku melayang mengingat kejadian pagi tadi, mungkin aku memang harus segera mengambil tindakan agar aku bisa fokus pada satu masalah. Dengan rasa sedikit malas, aku membuka beberapa SMS yang masuk kedalam sematponku, ku sentuh lama dan kupilih pilihan hapus semua tanpa melihat isinya. Selang beberapa menit, mataku tertutup dan tenggelam dalam lautan lelah dengan kadar garam kantuk yang sangat pekat.

Pagi hari…

ÔÇ£ARGH! Sial aku kesianganÔÇØ ucapku melihat jam di dinding menertawakanku karena aku bangun tepat jarum pendek diangka 10 dan jarum panjang diangka 12

Segeraaku melompat menyambut pagi yang telah terlewati. Cepat, itulah kata-kata yang tepat untuk pagi hari ini. Mandi, membuat mie instan, membuat teh hangat dengan keadaan hanya bercelana dalam yang aku kenakan sedari tadi setelah mandi. Masa bodoh, tak ada orang dirumah! Aku terus beraktifitas, hingga akhirnya aku berlari menaiki tangga dengan dunhill berada ditangan kananku. Dengan masih bercelana dalam, aku membuka website dari kampusku, ku unduh sebuah format dokumen yang aku butuhkan. Segera aku mengetik dan segera mencetaknya sesuai dengan format yang aku unduh. Dengan cepat pula aku memakai pakaianku sembari menunggu cetakan pada printerku.

ÔÇ£Sial, sudah jam 11, argh! Harus lebih cepat lagi!ÔÇØ ucapku kepada diriku sendiri

Segera ku sambar cetakan yang telah selesai, dan kuraih tas punggung yang selalu menemani kuliahku. Dengan sangat tergesa-gea aku mengeluarkan REVIA dan segera menutup pintu garasi. Ku kunci dan ngeeeeeeeeeeng! Secepat kilat motorku melayang, tak pernah ku menghentikannya, motorku melaju dengan kecepatan penuh.

ÔÇ£Fyuh… akhirnya sampai jugaÔÇØ ucapku lirih sambil melihat jam pada sematponku menunjukan pukul 12.15 WIB

Semoga saja masih ada orangnya dan belum pulang, karena hari ini adalah hari yang sebenarnya jika dikatakan aktif juga belum aktif tapi pegawai dan karyawan tetap masuk. Biasanya kalau pulang mereka lebih awal, jadi kali ini aku berharap mereka semua belum pulang. Aku melewati tempat parkir pegawai dan karyawan, untungnya saja masih penuh jadi bisa aku pastikan masih ada orang di gedung jurusan. Segera aku berlari ke gedung jurusan dimana aku biasa mengurus keperluan kuliahku. Sesampainya di dalam gedung jurusan aku kemudian melanjutkan langkahku menuju tempat tujuanku.

Tok… tok… tok… tok… tok…

ÔÇ£iya masuk sajaÔÇØ ucap seorang wanita dari dalam

Kleeeek…

ÔÇ£selamat siang buÔÇØ ucapku kepada wanita tersebut yang tak lain adalah bu dian

ÔÇ£Eh… kamu ar, silahkan duduk…ÔÇØ ucap bu dian sedikit gugup

ÔÇ£Maaf bu, mengganggu waktunya saya kesini untuk menyerahkan iniÔÇØ ucapku sambil menyerahkan ketikan yang tadi pagi aku cetak dan kumasukan dalam stofmap

ÔÇ£Apa ini?ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Hanya untuk mewujudkan keinginan bu dian sajaÔÇØ ucapku sedikit santai, yang sebenarnya dalam hati aku sudah benar-benar muak dengan keadaan antara aku dan dia. Perlahan dia memutar stofmap yang aku berikan. Dengan bersandar pada kursinya, dibukanya dan dibacanya dengan sedikit menunduk sehingga aku sudah tidak dapat melihat matanya.

ÔÇ£Sial, lama amat sih wanita ini baca, bukanya formatnya juga sudah sama dan isinyap pun sedikit kok lama sekaliÔÇØ bathinku

Kleeeeeeek… pintu terbuka, aku menoleh ke arah pintu tersebut dan bu erna masuk

ÔÇ£hiks… jahat kamu masÔÇØ ucap bu dian tiba-tiba membuatku terkejut, aku menoleh ke arah bu dian tampak air mata menetes di pipinya. Aku terkejut atas responnya. Kenapa malah seperti ini? bukannya dia menginginkan aku untuk pergi kemarin?

ÔÇ£lho, yan ada apa?ÔÇØ ucap bu erna mendekat tepat disebelah bu dian, aku seperti orang ling-lung. Kulihat bu dian menyeka air matanya

ÔÇ£Apa ini?!ÔÇØ ucap keras bu erna, diambilnya kertas itu dan…

Kreeek kreeek kreeek srsrsrk srsrsrsk… kertas itu disobek dan kemudian di remas-remas, dilemparkannya ke mukaku

ÔÇ£Dasar mahasiswa tidak tahu diri! Sudah dibantu kesana-sini malah mengecewakan dosbing kamu!ÔÇØ ucap bu erna dan aku masih terpaku dengan wajah bu dian yang menangis

ÔÇ£Eh… aku… saya… Cuma…ÔÇØ ucapku gugup

ÔÇ£Keluar kamu!ÔÇØ bentak bu erna

ÔÇ£ta.. ta…. tapi bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£keluar ya keluar!ÔÇØ bentak bu erna kembali

Tanpa bisa membantah aku keluar dari ruang dosen tersebut. Aku tampak bingung dengan ekspresi wajah bu dian yang menjatuhkan air matanya. Aku jadi bersalah ketika otakku mengingat hal yang baru saja terjadi. Aku sangat ingat bagaimana dia marah kepadaku ditelepon waktu itu, dan membuatku menutup teleponnya. Jelas saja, aku tidak ingin mendengar kata-kata bentakan dari dia lagi. Ingatanku kembali memutar sejalan dengan kaki melangkah menjauhi gedung jurusanku. Dengan tenang aku mulai mengingat setiap kejadian yang terjadi padaku adakah yang salah denganku. Dimulai dari bagaimana dia merawatku setelah dikejar-kejar oleh body guard ayah, hingga telepon kemarin pagi. Dari telepon itu jelas dia sangat tidak menginginkanku tapi jujur saja semua yang terjadi di pagi hari bertolak belakang dengan kejadian malam itu. Tapi kenapa dia harus marah-marah kepadaku? Apa salahku? Haruskah aku mencari setiap kesalahanku kepadanya? Wanita-wanita kamu memang benar-benar sungguh membingungkan!

Dalam perjalanan pulang ku tengok sematponku berkali-kali mungkin ada sms yang masuk. BBM? Jelas tidak mungkin aku sudah menghapus kontaknya. Sms? Jelas saja aku juga tidak pernah hapal nomor HP bu dian, bahkan semua sms di inboxku sudah aku hapus. Daripada bingung mikir cewek coba-coba lihat bokep sajalah di internet sudah lama aku tidak melihat film biru semenjak aku sudah tidak pernah bertemu dengan Rahman. sial, dia pasti sedang indehoi disana.

Sesampainya di warung internet, aku mendapatkan bilik yang berada dipojok sendiri dengan tulisan smoking area. Membuka-buka website-website yang yuhuuuuu enak dipandang mata. Maklumlah namanya juga warnet mau pakai internet positif? Kagak bakalan laku dah warnet kalau pakai blokir-blokiran, biasa pengalaman he he he. Lama aku memilah dan memilih film favoritku dari jepang, banyak sekali yang aku download. Ku download tiga film berukuran 500 MB perfilmnya. Lumayan lama aku menunggu, sambil menunggu aku pesan ke operator warnet untuk memesan minuman hangat dan sebungkus rokok dunhill mild. Selang beberapa menit setelah aku kembali ke bilik warnet, operator warnet datang memberikan aku minuman hangat dan sebungkus rokok. Sambil menguap, aku menunggu film yang ingin aku simpan dikomputer rumahku. Dan…

ÔÇ£Ya halo bos, ada apa bos telepon siang?ÔÇØ ucap seorang lelaki disamping bilikku

ÔÇ£Oh, tenang bos, setelah aku selidiki kemarin ke tempat kecelakaan dan bertanya kepada polisi, kecelakaan murni kelalaian pengemudi bos karena ditemukan botol minuman keras di sekitar mobil yang terbakarÔÇØ lanjutnya, aku mendengarkan dengan seksama

ÔÇ£benar bos, tidak ada kemungkinan kalau itu kecelakaan disebabkan oleh seseorangÔÇØucapnya

ÔÇ£oke, oke bos, segera aku menuju ke tempat tujuanÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£Eh… apakah orang ini ada kaitannya dengan ayah?ÔÇØ bathinku, aku menunggu sebentar menunggu momen yang tepat untuk mengintip laki-laki yang baru saja menelruma telepon

Ting tung… (bunyi billing yang ditutup)

Aku langsung berdiri secukupnya, kulihat seorang lelaki dengan postur tubuh yang lumayan tinggi. Berbaju hitam, kacamata hitam dan kesemuanya penampilan laki-laki ini sangat misterius. Tak berlama-lama aku mengintip dan langsung kembali ke posisiku semula. Berarti benar, dan dapat dipastikan ayah menganggap kematian anak buahnya sebagai kelalaian mereka sehingga terjadi kecelakaan. Tanpa mempedulikan download filmku, beberapa saat kemudian kira-kira 5 menit setelahnya, aku langsung keluar dari bilik dan membayar tapi sial, orang itu sudah keburu hilang dari penglihatanku. Seperti monyet yang kehilangan pisang aku menoleh ke kanan dan kekiri di luar warnet tapi yang aku cari sudah tidak ada. Aku turunkan pantatku tapi tak kuletakan di tanah, dengan posisi jongkok aku masih mencoba mencari orang itu mungkin saja bisa menemukannya. Tiba-tiba sebuah mobil hitam yang aku kenal berhenti di seberang jalan, sedan berwarna hitam yang sudah tak asinng lagi bagiku. Dari mobil itu keluar seorang laki-laki berbaju serba hitam dari pintu dengan sebelah kanan mobil dengan tangan kirinya memegang telepon genggam, pastinya sedang menelepon seseorang. Aku masih dalam posisi jongkok dengan tidak melihat secara langsung orang yang berada di mobil tersebut. Lelaki disamping mobil kemudian melambaikan tangannya ke arahku, merasa lambaian itu mengarah kepadaku reflek tanganku hendak membalas lambaiannya tapi untunglah aku cepat sadar lambaian itu bukan untukku.
ÔÇ£Woi…ÔÇØ suara seorang lelakidari belakangku yang pernah aku dengar, aku menoleh kearah kebelakang. Ya, dia lelaki yang menelepon dari samping bilikku tadi.

ÔÇ£Sori bro, dari kamar mandiÔÇØ ucap lelaki tersebut dengan langkah cepatnya

Sejurus kemudian lelaki tersebut mendatangi temannya yang berada disamping mobil. Tak lama kemudian mobil tersebut menghilang dari pandanganku. Dan tepat dugaanku, orang itu adalah orang suruhan Ayah dan komplotannya. Karena mobil sedan hitam itu adalah mobil milik om nico. Aku berdiri meninggalkan tempat ÔÇ£BABÔÇØ yang nyaman tadi dan berjalan ke arah REVIA yang menungguku disana. Segera aku pulang menuju kerumah dan ingin segera sampai dirumah, dalam perjalananku aku merasa lega dengan identifikasi dari lelaki tadi. Dan yang pasti, mereka mengira itu adalah murni kecelakaan bukan rekayasa.

ÔÇ£Yaelah lampu merah, 90 detik hufth…ÔÇØ bathinku ketika melihat lampu menyala merah dari lampu lalu lintas dari kejauhan. Kuhentikan REVIA tepat di samping kanan sebuah mobil, selang beberapa saat setelah REVIA berhenti aku menyulut dunhill kembali. Tepat setelah aku memasukan korek api kedalam saku jaketku, pintu kaca mobil itu terbuka. Aku menoleh ke arah mobil tersebut…

ÔÇ£Bu DianÔÇØ bathinku dengan dunhill nangkring di bibirku

Aku dan dia saling bertatapan, matanya sendu berwarna sedikit merah.

ÔÇ£Jahat!ÔÇØ ucapnya sedikit membentak dan hanya aku yang mampu mendengarnya dan langsung menutup kaca pintu mobilnya

ÔÇ£Bu Dian… bu dian… ÔÇ£ ucapku sambil mengetuk-ngetuk kaca mobilnya, semua orang melihat kearahku tapi aku tidak mempedulikannya. Tapi pintu kaca mobil itu tidak terbuka

Detik-detik berjalan… aku melirik ke arah detik lampu lalu lintas… 10 detik, kaca pintu terbuka

ÔÇ£yes…ÔÇØ bathinku

ÔÇ£Hati-hatiÔÇØ ucapnya dan langsung menutup pintu kaca mobilnya dan pergi meninggalkan aku

ÔÇ£Woi mas, cepet maju!ÔÇØ teriak seseorang, aku baru tersadar kalau lampu sudah berubah menjadi hijau

Segera aku memacu REVIA dan mengejar mobil bu dian. kenapa aku tidak sadar jika mobil yang berada disampingku adalah mobil milik bu dian. Aku terus mengejarnya posisiku masih di belakang bu dian. Tujuanku hanya satu, untuk mengetahui apa alasannya hingga dia bisa meneteskan air mata ketika aku menyodorkan kertas pegantian dosbing. Kulihat lampu belakang mobil bu dian menyala, sangat merah pertanda dia akan berhenti. Segera aku menghentikan laju motorku tepat di samping kanan mobil bu dian.

ÔÇ£Bu Dian… bu dian… tolong dibuka sebentar buÔÇØ ucapku sambil mengetuk kaca pintu mobil tapi tak dibukannya. Kulihat samar bu dian hanya menoleh ke arahku sebentar kemudian membuang muka.

Lama aku mengetuk pintu dan beberapa kali aku mendapatkan suara klakson dari beberapa pengemudi kendaraan bermotor. Dan akhirnya kaca pintu mobil terbuka tapi bu dian tidak menoleh ke arahku. Dia memperlihatkan seorang lelaki yang hendak masuk ke mobilnya dan masiih berada diluar mobil terlihat lelaki itu sedang menenteng seseuatu di tangan kanannya, dan dia adalah Anda. Tiba-tiba amarah menguasai diriku. Ketika laki-laki itu membuka pintu mobil bu dian dan belum masuk ke dalam mobil.

ÔÇ£Sini nda, masuk sini, panas kalau diluarÔÇØ ucap bu dian yang terlihat memanjakan laki-laki itu dan dikeraskan seakan-akan dia ingin menunjukan kepadaku

ÔÇ£Dasar suka pamer!ÔÇØ ucapku sedikit keras dan dia langsung menoleh ke arahku

Tanpa menunggu momen anjing, momen sialan, momen kampret momen apalah! Yang akan terjadi selanjutnya. Aku langsung menarik gas REVIA dengan sangat dalam. Setiap motor yang aku dahului tepat disampingnya selalu aku tarik gas REVIA dalam dengan sedikit aku injak perseneleng motorku sehingga akan terdengar bunyi mesin motorku yang menderu-nderu. Aku sudah tak menghiraukan apa yang akan terjadi setelahnya, aku tancap gas tanpa melihat spion dibelakangku. Hingga ketika aku berada disebuah jalan menuju rumahku sebuah motor bertuliskan NINJA dengan dua orang diatasnya menghadangku didepan dan aku berhenti.

ÔÇ£BAJINGAN! MAU SOK JAGO KAMU!ÔÇØ teriak seorang lelaki yang turun dari NINJA beserta seorang lagi, aku diam. Ketika dua orang itu semakin dekat, aku turun dari REVIA.

Langsung aku tendang perut lelaki tersebut dan aku beri dia lututku. Seorang lagi yang berada dibelakang mencoba menyerangku dengan pukulan tangan kanan, segera aku hindari dan langsung aku beri upper cut tepat pada dagunya. Dua orang tersungkur, kulepas helmku ketika satu orang yang aku tendang tadi berdiri langsung aku beri ayunan helm SNI-ku. Dan seorang lagi aku beri telapak kakiku. Kulihat dua orang cecunguk ini kesakitan, aku tersenyum kemudian kembali ke REVIA. Kujalankan REVIA perlahan dan tepat disamping mereka.

ÔÇ£terima kasih untuk hiburannya, kalau mau cari aku, Arya Mahesa Wicaksono, si koplakÔÇØ ucapku dan kedua orang itu yang kesakitan sedikit terkejut ketika mendengar namaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*