Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 43

Wild Love 43

Pagi menjelang, aku kembali pada rutinitasku tanpa Ayah dan Ibuku. Mandi, membuat mie instant dan kemudian bermalas-malasan. Menonton televisi dan yah hanya berlagak seperti seorang raja dirumah sendiri. Tapi raja yang selalu menyiapkan keperluannya sendiri. Setiap asap yang keluar selalu berbarengan dengan berjuta pertanyaan.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Kemana aku harus pergi?

Berbagai petunjuk sudah aku dapatkan tapi tetap saja aku tidak bisa beraksi. Haruskan aku bertanya pada blue seperti dalam serial anak blueÔÇÖs clues? Ataukah aku harus menunggu lampu kelelawar menyala dilangit malam seperti manusia kelelawar? Atau haruskah aku menunggu teriakan minta tolong dan kemudian berayun dengan jaring laba-labaku? Argh, posisiku saat ini sangat membingungkan sekali tak ada yang bisa aku lakukan sekarang.

Aduh buyung mengapa lupa padaku, selama engkau dirantau kutunggu-tunggu dirimu. Ringtone HP. Ibu.

ÔÇ£Halo buÔÇØ

ÔÇ£sayang maaf ya, kelihatannya ibu tidak bisa pulang dalam beberapa hari iniÔÇØ

ÔÇ£kenapa bu?ÔÇØ

ÔÇ£Kakek dan nenek main kerumah tante ratna, nginep disini, kan kasihan tante ratna kalau mengurus keperluan kakek nenek sendirian, tidak apa-apa ya sayang?ÔÇØ

ÔÇ£iya bu, ndak papa, tapi bu…ÔÇØ

ÔÇ£iya…ÔÇØ

ÔÇ£Ibu sudah dapat kabar dari Dia, dimana atau sedang apa gitu bu?ÔÇØ (Dia disini adalah mahesa wicaksono)

ÔÇ£oia, setelah kamu telepon, ibu coba hubungi Dia, dari suaranya kelihatannya dia sedang dalam kegelisahanÔÇØ

ÔÇ£maksud ibuÔÇØ

ÔÇ£Sewaktu ibu telepon, suaranya seperti orang ketakutan, ibu tanya ke dia kapan pulang, tapi dia malah menjawab kalau tidak akan pulang dalam beberapa hari ini. Ibu juga sudah tawarkan mengenai liburan bersama keluarga besar kakek tapi dianya nolak. Bagus kan?ÔÇØ

ÔÇ£Okay bu, bisa arya jadikan informasi tambahan, ibu disana baik-baik yaÔÇØ

ÔÇ£iya sayang, kamu juga harus hati-hati, ibu ndak mau ada apa-apa sama kamu, okay?ÔÇØ

ÔÇ£Okay momÔÇØ

ÔÇ£lebih hati-hati lagi dan jangan sampai ketahuan, ibu sebenarnya marah sama kamu nak, coba kalau kamu ketembak atau ketangkap bagaimana? Untung ada dianÔÇØ

ÔÇ£iya bu iya… arya akan hati-hati lagiÔÇØ

ÔÇ£ibu kok jadi kangen dian ya sayang?ÔÇØ

ÔÇ£ah ibu, sudah dongÔÇØ

ÔÇ£iya… iya sudah, jangan lupa maem dan jangan sering begadangÔÇØ

ÔÇ£oke buÔÇØ tuuuut

Dian lagi, dian lagi… apa ndak ada yang lain? Adakan cewek selain dian yang bisa ibu kangenin? Cewek lain? Emang siapa? Aku sendiri saja bingung. Ya memang cuma dia yang selama ini ibu kenal dekat ya walaupun jarang sekali bertemu. Sedang apa ya dia? Hei! Kenapa malah mikirin dia? Bodoh ah!

Selama 4 hari setelah tahun baru, kegiatanku benar-benar seperti pengacara rumahan. Bisa dibilang aku adalah pengangguran banyak acara, tapi Cuma dirumah saja. Ketika aku menghubungi koplak pun mereka sedang asyik dengan pacar mereka sendiri, ada yang berlibur ke puncak dan ngecamp disana. Ada yang ngajak pacaya indehoi di daerah wisata, dan masih banyak lagi. Aku? Pemelihara jomblo tapi selalu mndapat servis ha ha ha servis? Sudah ndak ada sekarang, terakhir mbakku tapi dia sekarang juga lagi sama pacarnya. Sama siapa coba?

Dihari keempat setelah aku bertemu dengan mbak erlina, aku menaiki si montok REVIA. Susah juga nyalanya, mau bagaimana lagi? 4 hari tanpa berpergian dan hanya bertapa digarasi. Mesin tidak pernah aku panaskan, sekali di nyalakan langsung mati mesinnya. Maklumlah mesin tua, keluaran di tahun milenium tapi belum injeksi. Selang beberapa menit setelah berjuang sekuat tenaga, akhirnya bisa juga nyala si REVIA montok ini. Lama aku panaskan mesin motor REVIA hingga sebatang dunhill habis menjadi asap dan tertinggal filternya. Setelah aku yakin panas dalam mesin sudah merambat keseluruh tubuh REVIA, aku menaikinya dan greeeeeeeeng.

Diatas dua roda yang berputar kini aku mencoba mencari suasana baru dalam kehidupanku. Menyetrika aspal jalanan didaerahku dengan kedua roda yang sudah lumayan halus ini. Kecepatan REVIA sama dengan kecepatan kursi terbalik dengan angka nol dibelakangnya. Kulihat kanan kiriku disetiap langkah revia mengantarkan aku. Beberapa orang sedang bercengkrama satu sama lain dipinggir jalan, saling melempar senyum kepada orang-orang yang mereka kenal. Adapula yang sedang menawar harga buah yang didagangkan dipinggir jalan. Berbagai ragam asal mereka tak menyurutkan mereka untuk saling bertegur sapa. Aku tahu mereka bukan dari daerahku, dan aku tahu bahasa ibu mereka tidak sama dengan bahasa didaerahku. Dari bentuk wajah, warna kulit , bahasa bahkan keyakinan mereka semuanya berbeda tapi mereka tetap satu. Tak kulihat pertengkaran ketika mereka sedang saling menawar harga. Tak kulihat bentak-bentakan ketika mereka sedang berbicara satu sama lain. Itulah negaraku, negara dimana selalu menghormati perbedaan, BHINEKA TUNGGAL IKA, walau beda kita tetap satu!

Kuputari semua jalan-jalan yang pernah aku telusuri, terkadang aku teringat akan masa-masa indah bersama wanita itu. Tapi segera aku lupakan tentangnya daripada aku memendam kemudian aku ungkapkan tapi kenyataanya dia tidak mau. Mau ditaruh dimana mukaku? Bokong? Tiba-tiba didepanku terlihat seorang kakek sedang memboncengkan kayu-kayu bakar yang diikat di belakang kursi kecil sepeda kerbaunya (istilah sepedha onthel didaerah ini). kakek itu kehilangan keseimbangan sehingga kayu-kayu itu jatuh dan berserakan. Segera aku hentikan laju motorku dan ku berlari membantu kakek itu untuk menata kembali kayu-kayunya. Sejenak kulihat mata kakek itu menyipit dan tersenyum kepadaku, dia kemudian duduk dipinggir jalan sambil mengibaskan topi yang dikenakannya. Aku kemudian duduk disampingnya.

ÔÇ£terima kasih ya nakÔÇØ ucap kakek tersebut

ÔÇ£iya kek sama-sama, kakek merokok?ÔÇØ ucapku sambil menawarkan dunhill yang tinggal beberapa batang

ÔÇ£ha ha kalau rokok kaya gitu, 1 menit habis nak, kakek biasanya rokoknya iniÔÇØ ucap kakek tersebur menunjukan rokok tingwe (linting dewe alias racikan sendiri) yang kemudian menyulutnya satu batang

ÔÇ£wah kalau saya gih mboten kulino kalihan rokok niku mbah (ya tidak terbiasa dengan rokok itu kek)ÔÇØ ucapku sambil menyulut dunhill mild

ÔÇ£ha ha ha ha… sedang jalan-jalan nak?ÔÇØ ucap kakek tersebut

ÔÇ£iya kek, nyari anginÔÇØ ucapku

ÔÇ£angin kok dicari, memang dirumah ndak ada angin nak?ÔÇØ ucap kakek tersebut

ÔÇ£ya ada kek, maksudnya ya pengen jalan-jalan saja cari suasana baruÔÇØ ucapku

ÔÇ£Nak, kakek tidak tahu siapa kamu, tapi kakek tahu kamu orang baik. Ada sebuah beban yang sangat berat dipundakmu maka selesaikanlah dan… sudah hampir siang hari kakek mau pergi dulu sudah ditunggu istri kakek untuk memasakÔÇØ ucap kakek itu

ÔÇ£dan apa kek?ÔÇØ ucapku melihat kakek itu berdiri dan menaiki sepedanya, aku pun ikut berdiri dan berada dibelakang kakek itu

ÔÇ£wajar jika manusia pernah berbuat kesalahan, seperti halnya kakek juga pernah berbuat kesalahan, tapi apa salahnya keluar dan memperbaikinya. Selalu ada kesempatan bagi setiap manusia untuk meperbaikinya, dan satu hal lagi nak… kalau menolong orang jangan pilih-pilihÔÇØ ucap kakek itu kemudian menjauh dari pandanganku sedangkan aku masih tertegun dengan ucapan kakek

ÔÇ£KAKEEEEEEEEK TERIMA KASIHÔÇØ teriakku yang baru tersadar setelah kakek itu mengayuh sepeda kerbaunya menjauh dan hanya lambaian tangan kirinya yang menjawabnya

Apakah benar jika aku meperbaikinya dia akan mau menerimaku? Ah terlalu naif jika aku berpikiran seperti itu, dan terlalu bodoh bagiku jika aku harus kembali kepadanya. Aku sudah terlalu sering menyakitinya. Kakeeeeek kakek, baru saja ketemu sudah bisa baca situasiku. Apa jangan-jangan dia dukun? Ha ha ha ha… kulanjutkan perjalananku hingga tak sadar REVIA berbelok ke arah kampus tercintaku ini, tampak sepi dan lenggang. Hanya ada beberapa motor yang terparkir di tempat parkir.

Aku kemudian berjalan menyusuri tempatku menuntut ilmu, hingga akhnya aku sampai di depan kanto tata usaha fakultas. kulihat papan pengumuman disana, kubaca satu persatu informasi mengenai lomba, bea siswa dan beberapa informasi mengenai perkuliahan. Ketika aku menggeser kakiku untuk membaca pengumuman yang berada di pojok papan informasi.

Sreeeek… kakiku mengenai sesuatu di lantai

ÔÇ£eh… kunci siapa ini?ÔÇØ bathinku dan kuambil sebuah kunci

Kuamati kunci tersebut dan kulihat merek sebuah produsen sebuah kendaraan bermotor. Jika dilihat dari bentuknya ini bukan sebuah kunci motor, aku masukan dalam saku jaketku. Kulangkahkan kakiku menuju setiap gedung di fakultasku ini. melihat kesekeliling kampus yang tak bernyawa ini, sepi dan sepi hanya suara beberapa orang pegawai dan karyawan di fakultas ini yang terdengar samar. Lelah rasanya kaki ini berjalan, kusulut dunhill agar dia menemaniku kembali ke REVIA. Ketika aku berada disamping gedung Tata usaha, kudengar sebuah percakapan dan aku berhenti disamping gedung tata usaha.

ÔÇ£yuk, makan barengÔÇØ ucap seorang lelaki

ÔÇ£iya bentar… duluan saja, nanti aku susulÔÇØ jawab seorang wanita

ÔÇ£oke, aku tunggu di warung depan tempat parkir yaÔÇØ ucap seorang lelaki lain

ÔÇ£cepetan lho jangan lama-lamaÔÇØ ucap seorang wanita dengan suara yang lain menambahi agar wanita yang diajaknya segera menyusul

ÔÇ£iya… iya bentar…ÔÇØ ucap wanita yang diajak

Kudengar suara langkah wanita yang mondar-mandir didepan gedung Tata Usaha tapi aku tetap berada ditempatkuk berdiri. Hingga suara derap langkahnya menghilang, aku kemudian melangkah keluar dari samping gedung tata usaha menuju ke depan gedung. Tak kulihat lagi wanita yang suaranya baru aku dengar. Kulanjutkan langkahku menuju ke arah tempat parkir fakultas melewati depan gedung tata usaha. Kulihat seorang wanita sedang sibuk mencari sesuatu, tampak sekali dia sedang kebingungan. Kadang dia sedikit berjongkok dan melihat ke bawah mobil dengan harapan menemukan benda yang dia cari. Kudekati perlahan wanita tersebut tanpa menimbulkan suara.

ÔÇ£Sedang mencari ini bu?ÔÇØ ucapku pelan mengagetkan wanita tersebut, dia kemudian berdiri dan berbalik menghadap ke arahku

ÔÇ£Arya… eh mas…ÔÇØ ucap bu dian sedikit terkejut dengan kehadiranku

ÔÇ£iya mas, sedang nyari kunci kok bisa di mas?ÔÇØ ucapnya wajahnya kemballi datar setelahnya

ÔÇ£aku tadi menemukannya di depan papan informasi TU kok buÔÇØ ucapku

ÔÇ£terima kasihÔÇØ balasnya datar

ÔÇ£Sama-sama, saya undur diri dulu buÔÇØ jawabku sembari melangkah meninggalkannya

ÔÇ£kok berangkat ke kampus?ÔÇØ tanyanya menghentikan langkahku

ÔÇ£Jalan-jalan bosan dirumah bu, anak-anak juga sedang piknik sendiri-sendiriÔÇØ balasku

ÔÇ£Oh…ÔÇØ ucapnya yang sedikit tersenyum kepadaku

Entah mengapa kaki ini serasa berat meninggalkan wanita ini.

ÔÇ£Sudah ditunggu lho bu, kasihan cowoknya nunggu ibu di warungÔÇØ ucapku dengan jempol tanganku menunjukan arah dimana dia sedang ditunggu. Sekejap aku baru tersadar akan nada suaraku yang, gimana ya….

ÔÇ£eh.. iya…ÔÇØ ucapnya sambil mengulurkan tangan kepadaku, aku malah kebingungan sendiri kenapa harus berjabat tangan?

ÔÇ£eh… iya buÔÇØ ucapku bergerak maju sembari mengulurkan tanganku meraih tangannya

ÔÇ£terima kasih sudah menemukan kunci mobilkuÔÇØ ucapnya sambil sedikit meremas tanganku lembut

ÔÇ£sama-sama buÔÇØ balasku

ÔÇ£aku pergi dulu masÔÇØ ucapnya, aku hanya menggguk dan..

Tiba-tiba tangaku ditariknya, kepalanya menunduk. Ditempelkannya punggung tanganku di pipinya.

Deg… deg… deg… deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg

Jantungku serasa mau keluar dari dada ini, dan berlari mencari air minum. Berlari mencari tempat teduh dengan semilir angin yang sepoi-sepoi agar bisa mengeringkan keringat yang keluar. Tanganku… tanganku… di tempelkan di pipinya… di pipi… arghh…. tanganku kaku, tak bisa aku gerakan ketika punggung tanganku menempel di pipinya… setelah terlepas dari pipinya pun tanganku masih kaku… kenapa ada apa ini? aku sedang di daerah tropis tapi kenapa tanganku membeku?

ÔÇ£aku maem dulu ya mas, mas hati-hati pulangnyaÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£i… i… ya…ÔÇØ ucapku sambil memandangnya berjalan pergi meninggalkanku, tubuhnya tak memperlihatkan sedikitpun keseksian namun caranya berjalan membuatku gila!

Aku masih memandangnya dengan tanganku tetap pada posisi kaku terangkat, seperti posisiku sewaktu arghh!

ÔÇ£oia mas, dia hanya teman…ÔÇØ ucapnya berbalik sebentar kemudian meninggalkan aku menjauh-menjauh tapi kenapa semakin dia jauh aku merasa semakin dekat? Aku hanya mengangguk walaupun dia tidak melihat anggukanku. Tapi terkadang dia menoleh ke arah samping mencoba melihatku yang berada di belakangnya walau tidak membalikan tubuhnya.

Akhirnya dia menghilang melewati tempat parkir dimana REVIA berada. Setelah hilangnya wanita itu, aku tersadar atas kebingunganku. Ada apa ini? aku bingung benar-benar bingung… dalam kebingungan aku berjalan menuju ke tempat parkir. Segera aku nyalakan REVIA dan keluar dari tempat parkir, kulihat seorang wanita sedang duduk bersama dua orang lelaki dan satu orang perempuan. dia menoleh ke arahku ketika aku keluar dan hendak menyebrang jalan. Tak ada senyum tapi tatapn mata itu menuju kearahku. Aku beranikan diriku tersenyum kepadanya namun tak ada balasan hingga akhirnya aku meninggalkannya.

Waktu menjelang malam dan aku masih sendiri di rumah ini. Ibu tidak pulang, sedangkan Ayahku tak tahu dimana. Dalam renungan keheningan diiringi waktu yang merambat menuju tengah malam, pikiranku kosong. Seakan semuanya menjadi buntu, wanita itu kadang hadir kadang hilang, kadang membawaku terbang kadang membawaku terjatuh. Kenapa selalu wanita itu yang hadir dalam setiap situasi burukku? Lamunanku membawaku kedalam dunia lelapku, namun tiba-tiba…

Can you take me higher?… (Creed). Ringtone HP. Mbak Ara

ÔÇ£Halo mbak huaaaammhhhh nyam nyam nyam….ÔÇØ

ÔÇ£Ar, kamu dimana? Aku ingin bertemuÔÇØ

ÔÇ£Eh… kenapa mbak? Ada apa? Ini sudah terlalu larut untuk ketemuanÔÇØ

ÔÇ£hiks hiks hiks ar, tolong ayahku….ÔÇØ

ÔÇ£Eh… ÔÇ£ (Aku terkejut ketika mendengar mbak ara tiba-tiba menangis, aku terbangun dan duduk dikasur nyamanku)

ÔÇ£Ar… Ayah Ar hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£sudah mbak tenang dulu, kalau mbak menangis mbak ndak bakalan bisa cerita, jadi tolong mbak tidak menangis duluÔÇØ

ÔÇ£heÔÇÖem hiks slurp….ÔÇØ (Sejenak kami dalam keheningan, kudengar tangisan mbak ara sudah mereda)

ÔÇ£Okay mbak sekarang mbak cerita, pelan dan santai tidak perlu menangisÔÇØ

ÔÇ£iya…. huffffffftthhhhÔÇØ (terdengar suara tarikan nafas panjang mbak ara)

ÔÇ£pelan ya mbak…ÔÇØ

ÔÇ£heÔÇÖem ar…. hufthh…. begini ar, aku minta tolong selamatkan ayahku dia tadi hiks hiks hiksÔÇØ (aduuuh nangis lagi)

ÔÇ£Kalau mbak terus nangis, dan mbak ndak cerita secara pelan-pelan, aku tidak mau tolongÔÇØ

ÔÇ£iya, maaf jangan marah ar, aku kan cewek kalau dalam suasna seperti ini kan juga bingungÔÇØ

ÔÇ£iya cerita sekarang…ÔÇØ

ÔÇ£begini ar, tadi ayah dapat telepon dari ayahmu, katanya akan ada pertemuan besok lusa malamÔÇØ

ÔÇ£Lho kan hanya pertemuan mbak?ÔÇØ

ÔÇ£iya tapi kan bisa saja ayahku di habisi disanaÔÇØ

ÔÇ£Hm… ÔÇ£ (aku benar-benar bingung dengan situasi ini, jika harus menubruk mereka bersamaan)

ÔÇ£apakah mbak tahu dimana pertemuannya?ÔÇØ

ÔÇ£di bukit orang utan, Ayahku bercerita kalau dia akan di jemput oleh body guard ayahmuÔÇØ (tidak, tidak mungkin pertemuannya diajukan jika dilihat lagi dari percakapan sewaktu di danau. Eh… tapi kenapa harus body guardnya yang menjemput? )

ÔÇ£Mbak, adakah informasi lain dari ayah mbak?ÔÇØ

ÔÇ£Ada, Ayahku pernah bercerita mengenai pertemuan besar dengan beberapa orang tetapi ayahku bilang kalau pertemuan itu tidak di bukit orang utanÔÇØ

ÔÇ£Sebentar mbak berarti…ÔÇØ

ÔÇ£iya ar, kemungkinan ayahku akan disingkirkan di bukit itu hiksÔÇØ

ÔÇ£kenapa Ayah mbak tidak menolak?ÔÇØ

ÔÇ£tidak bisa ar, terlalu membahayakan keluarga besar jika menolak, karena akan terlalu memperlihatkan kalau ayah mengkhianati mereka ditambah lagi salah satu dari mereka sudah matiÔÇØ

ÔÇ£Okay mbak, jika besok lusa malam, masih ada waktu yang penting terus update informasi ke aku mbak, agar aku bisa menyusun rencanaÔÇØ

ÔÇ£iya ar, terima kasih, apapun maumu aku akan penuhi asalkan selamatkan ayahku arÔÇØ

ÔÇ£sudah mbak sudah… mbak istirahat dulu saja yaÔÇØ

ÔÇ£heÔÇÖem terima kasih arÔÇØ tuuuuuuuuuut…

Mereka sudah mulai gegabah dengan keadaan sekarang, apalagi setelah acara pengintaianku diketahui oleh mereka walaupun mereka tidak tahu tentang siapa aku pada saat itu. Analisaku mengenai Ayah mbak ara atau si buku adalah dia akan dihabisi karena mungkin komplotan ayah curiga dengannya. Tidak mungkin pertemuan dengan penjahat-penjahat besar bisa dimaju mundurkan dengan seenaknya, tapi bisa juga kalau dimajukan karena mungkin kejadian malam tahun baru itu. Tapi hei! Bukit orang utan… bukit dimana jalanan mendaki tak ada tempat untuk bisa berkumpul ataupun bertemu disanam. Bukit orang utan hanya sebuah bukit dengan hutan liarnya dan pemukiman warga yang sangat jarang, tidak mungkin mereka berada disana. Atau adakah tempat yang cocok untuk pertemuan besar? Besok pagi aku harus kesana, setelahnya mungkin aku butuh bantuan koplak, masa bodoh mereka masih piknik atau tidak. Setelah pemikiran panjang mengantarkan aku ke dalam alam bawah sadarku dan kini aku benar-benar tidak sadarkan diriku dan terlelap dalam senandung malam.

Pagi menjelang, aku segera bersiap-siap untuk melihat medan yang akan digunakan oleh komplotan ayah. Seingatku tak ada yang istimewa di bukit orang utan hanya pemandangan indah saja, pas untuk selpi dan berfoto-foto saja. Segera aku panaskan REVIA sambil menyulut sebatang dunhill di tangan kiriku, sedangkan tangan kananku membuka update status BBM.

Status Bu Dian
ÔÇ£Kemarin bedakku luntur gara-gara tanganÔÇØ

Bedak? Luntur? Apakah karena tanganku menempel di pipinya? Entah rasa penasaran yang besar membuat aku memberanikan diriku meneleponnya dengan posisi nangkring di atas REVIA yang menyala. Ku cari kontak bu dian, dengan jempol sudah siap menyentuh gagang telepon berwarna hijau, sentuh tidak sentuh tidak sentuh tidak sentuh tidak sentuh!

Tuuuut tuuuut tuuuut… klek….

ÔÇ£Halo ArÔÇØ (Ar, tumben dia panggil aku ar biasanya mas)

ÔÇ£Pagi bu dian…ÔÇØ

ÔÇ£Pagi, tumben telepon ada apa? Bimbingan?ÔÇØ (judes amat sih ni cewek!)

ÔÇ£Eh ndak bu cuma anu…ÔÇØ

ÔÇ£anu kenapa? anumu ndak diservis? Terus mau cari tempat servisan yang lain lagi buat anumu biar kemana-mana bisa servis terus iya?ÔÇØ (Ini kenapa sih cewek! Telepon baik-baik malah nyolot! Oke aku tahu, aku memang kotor tapi ndak usah judes kenapa)

ÔÇ£Ndak bu, Cuma mau minta maaf saja, kalau kemarin tanganku buat bedak bu dian lunturÔÇØ

ÔÇ£Terus?!ÔÇØ (jawabnya dengan nada sedikit keras, membuat aku semakin ndak betah telepon namun aku mencoba untuk tetap tenang)

ÔÇ£saya minta maaf untuk kejadian kemarin bu, mohon maaf, tolong dimaafkanÔÇØ (dasar akunya saja yang mungkin ke ge-eran masalah bedaknya, mungkin saja dia mengusap pakai tangannya sendiri, bodoh kamu ar!)

ÔÇ£Ya, dimaafin, aku juga bingung kenapa juga kemarin bisa kaya gitu, bikin bedak luntur sajaÔÇØ (tenang ar, tenaaaang!)

ÔÇ£iya bu iya, maaf ya bu, dan mohon maaf menyita waktu ibu, saya undur diri dulu buÔÇØ

ÔÇ£mau mundur? Habis itu maju lagi gitu? Lagi diservis ya anu-nya!ÔÇØ (suaranya sedikit keras)

ÔÇ£terima kasih bu… mohon maaf mengganggu saya undur diri duluÔÇØ tuuuuuut

Tanpa menunggu peresetujuan darinya aku langsung menutup telepon. Hufth… kamu itu kenapa to ya ya? Kemarin saja manjanya minta ampun, kalau memang ndak mau salim ya sudah kenapa salim?
Kalau tahu bedak kamu luntur ya ndak usah salim kan bisa… hufth… mungkin dia lagi ÔÇ£MÔÇØ jadinya judesnya setengah mati.

Tanpa undangan ka buatku kecewa (tenda biru). Ringtone HP. Bu Dian. aku terkejut dia menelepon balik.

ÔÇ£halo buÔÇØ

ÔÇ£kok ditutup?ÔÇØ

ÔÇ£saya kan sudah ijin tadi buÔÇØ

ÔÇ£sudah tergesa-gesa mau servis anumu ya?ÔÇØ (suaranya tampak judes sekali, argh!)

ÔÇ£…..ÔÇØ (aku hanya diam)

ÔÇ£kenapa kok diam? Sudah ndak betah?ÔÇØ

ÔÇ£,,,,,ÔÇØ (aku terdiam)

ÔÇ£lagi servis ya?ÔÇØ

ÔÇ£bu….ÔÇØ

ÔÇ£apaÔÇØ

ÔÇ£Bu dian kenapa? kok kelihatanya sedang tidak senang?ÔÇØ

ÔÇ£Memang, terus kenapa? kamu juga sudah tahu pagi-pagi waktunya berangkat kerja kenapa kamu malah telepon? Itu namanya mengganggu!ÔÇØ

ÔÇ£Iya bu saya salah, maka dari itu saya tadi menutup teleponnya takut mengganggu ibuÔÇØ

ÔÇ£terus kalau kamu menutup telepon, semua urusan sudah selesai begitu? Kamu tahu tidak kalau gara-gara kamu telepon saya jadi terlambat?ÔÇØ

ÔÇ£iya bu maaf…ÔÇØ

ÔÇ£memang maaf menyelesaikan masalah?ÔÇØ

ÔÇ£tidak bu…ÔÇØ

ÔÇ£Kenapa? kok ngomongnya cuma sekecap-sekecap saja? Lagi diservis ya? Enak ya diservis sambil ganggu orang yang lagi mau kerjaÔÇØ

ÔÇ£Eh…ÔÇØ (Aku terdiam, emosiku memuncak)

ÔÇ£Dasar bocah!ÔÇØ (Sudah cukup!)

ÔÇ£Iya bu saya memang bocah, saya hanya bermaksud meminta maaf karena kejadian kemarin, itu juga ibu yang menempelkan tangan ibu sehingga bedak bu dian luntur, saya disini menelepon ibu hanya untuk meminta maaf saja bu, dan mengkonfirmasi apakah benar karena kejadian kemarin jujur saja saya tidak bermaksud mengganggu bu dianÔÇØ

ÔÇ£jadi kamu menyalahkan saya begitu? Dasar bocah…ÔÇØ

ÔÇ£…ÔÇØ (aku terdiam tak tahu apa yang akan aku katakan)

ÔÇ£kenapa diam lagi diservis ya?ÔÇØ

ÔÇ£bu, jika saya mengganggu ibu, kan ibu tidak perlu menelepon sayaÔÇØ

ÔÇ£Kamu itu sudah ganggu, terus aku harus menyalahkan siapa?ÔÇØ

ÔÇ£bu, sebenarnya salah saya apa bu? Kenapa ibu tiba-tiba marah kepada sayaÔÇØ

ÔÇ£banyak, kamu kesalahan kamu itu banyak sekali! Dan aku paling tidak suka dengan orang yang berbuat kesalahan terlalu banyak!ÔÇØ

ÔÇ£…ÔÇØ (aku tidak habis pikir wanita yang malam itu menyelamatkan nyawaku sekarang malah memarahiku habis-habisan)

ÔÇ£kenapa diam?! Sudah skripsi tidak selesai-selesai! Mengganggu orang dipagi hari! Suka servis disembarang tempat lagi!ÔÇØ

ÔÇ£terima kasih bu…ÔÇØ tuuuuut…

Ku diamkan telepon pintarku, kumasukan dalam saku celana. Hanya tak ingin tahu kalau ada telepon masuk. Servis disembarang tempat? Yang terpenting servisku bukan di bengkel abal-abal, semuanya sudah tersertifikasi ISO, masa bodoh sama kamu yan, mau ngomong apa terserah! Segera aku mengeluarkan motorku dan menutup pintu garasi. Kembali pada fokus masalah yang ada sekarang, ayah mbak ara atau mungkin lebi h dikenal sebagai si buku. Ku arahkan motorku menuju bukit orang utan untuk melakukan cek daerah, agar semua bisa dikondisikan pada saat ayah mbak ara di bawa. Kususuri setiap jalanan bukit orang utan bahkan setiap pemukiman aku masuki hanya untuk melakukan cek keadaan. Jalan bukit orang utan di awali dengan jalan bertebing dengan jalanan yang tepat dipinggirnya adalah jurang, setelah 15 ÔÇô 20 km dari jalan masuk bukit baru ditemui pemukiman warga. Tak ada tanah lapang dan juga tempat pertemuan strategis didaerah ini. setiap kali aku masuk ke dalam pemukiman warga banyak mata yang memandangku dengan penuh senyuman dan anggukan, seakan mereka tak peduli kalau aku adalah orang asing disini. Akupun membalas setiap senyuman yang mereka lemparkan kepadaku. Hingga akhirnya aku berhenti di sebuah warung pinggiran yang menjual lotek (buah-buahan + sambal kacang) dan juga pecel serta ada beberapa minuman yang dikenal sebagai es cao (es campur).

ÔÇ£Jalan-jalan gih mas?ÔÇØ ucap nenek penjual

ÔÇ£inggih nek, jalan-jalan lihat-lihat pemandanganÔÇØ ucapku

Kami kemudian terlinat pembicaraan panjang lebar mengenai daerah ini

ÔÇ£Kalau didaerah sini ya kalau malam mengerikan mas, tidak ada tempat buat kumpul-kumpul. Sekalipun ada ya dekat-dekat perumahan warga, kalau diluar itu tidak ada semuanya hanya hutan saja masÔÇØ ucap nenek

ÔÇ£Apa tidak ada tempat buat kumpul yang gimana ya nek, enak lahÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Ndak ada mas, kalau mas mau buat acara disini, bilang saja sama warga nanti akan dibukakan lahanÔÇØ ucap nenek

ÔÇ£maksud nenek?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£ya lahan disekitar pemukiman warga yang ditumbuhi pohon-pohonan di bersihkan tapi tidak menebang pohon, jadi mas bisa kumpul-kumpul di bawah pohoÔÇØ ucap nenek tersebut

ÔÇ£berarti memang nihil jika ada pertemuan disini, yang ada hanya akhir dari si bukuÔÇØ bathinku

ÔÇ£ya sudah nek terima kasih, berapa saya habisnya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£3500 nakÔÇØ jawab nenek tersebut

ÔÇ£ini, terima kasih ya nek saya pulang duluÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya, hati-hati nakÔÇØ ucap nenek tersebut

Akhirnya aku pulang dengan keyakinan bahwa waktu pertemuan mereka tidak akan dimajukan. Dalam perjalanan pulang aku berhent, mengirimkan sms ke grup BBM, grup koplak. Sebenarnya ada pesan BBM masuk dan beberapa panggilan tak terjawab tapi aku acuhkan.

To : all member koplak
ÔÇ£KumpulÔÇØ
segera setelah pesan itu masuk, layar LCD-ku bergerak dengan cepat

Selang satu menit aku melihat layar LCD sematponku

Aris
Ngupil dulu!
Sudira
Iiih arya gitu deh, pasti pas lagi asyik-asyiknya servis yayangku!
Anton
Siap 76!
Karyo
Kampret kamu cat, baru saja lagi buka BH!
Dewo
Memang anjing si cat!
Mau memasukan ÔÇ£bolaÔÇØ kok ya diganggu!
Parjo
Lha kampret, malah pada kenthu!
Tugiyo
Videone direkam ya, aku tak nonton ha ha ha
hermawan
aku telat, nembe ÔÇ£nyusuÔÇØ!
udin
Bentar bro, masih banyak pembeli
Wongso
Kampret semua!
Segera datang, makan gratis!
Dan semua menjawab secara bergantian
ASEEEEEEEEEEK!
Wongso
MANUSIA GRATISAN!
Semua :
HA HA HA HA HA (y)
Ku arahkan motorku dengan sangat cepat melintasi jalanan di perbukitan. Sedikit rasa kesal yang aku lampiaskan pada gas motorku, kesal karena niat baikku untuk meminta maaf malah mendapat kemarahan darinya. Dengan menekuk-nekuk motorku, akhirnya aku sampai di warung wongso. Sambil berjalan ke rumah wongso yang berada dibelakang warungnya aku membuka kembali sematponku, ada beberapa panggilan tak terjawab yang masuk. Tapi masa bodohlah, ayah mbak ara lebih penting sekalipun dulu dia pernah akan memperkosa ibuku. walaupun seperti itu, mbak ara sudah bercerita banyak kepadaku mengenai ayahnya, yups sebuah kesalahan yan gbisa diperbaiki. Aku kemudian duduk di teras rumah wongso, selang beberapa saat wongso membawakan minuman dingin yang disebut dengan es teh, sebanyak jumlah koplak. Tak perlu aku ceritakan satu persatu bagaimana koplak datang. Yang jelas mereka datang dengan wajah yang sangat serius, senyum kebengisan yang aku lihat dari wajah mereka. setelah semuanya berkumpul dan duduk bersama, kami… ingat tanpa dira yang masih entah dimana.

ÔÇ£Ayo ngomong!ÔÇØ ucap karyo

ÔÇ£oke… begini…ÔÇØ ucapku dengan pandangan menyebar keseluruh manusia yang berada disekitarku saat ini. setelah aku selesai bercerita sepertiga luas alas kali tinggi sama dengan volume, tanpa menceritakan kejadian di cermin darat rembulan.

ÔÇ£nton…ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£okay, brother…ÔÇØ

ÔÇ£ar, jujur saja informasi yang kamu dapat lebih cepat dariku bahkan lebih komplit. Sekarang begini, jika dari cerita kamu memang benar tidak ada kemungkinan mereka akan melakukan pertemuan besar yang ada hanya mencoba menyingkirkan ayah mbak ara. Dan, apakah kamu ada informasi yang lain ar? Mungkin mengenai gelagat ayahmu atau bagaimana?ÔÇØ tanya anton dan aku hanya menggelengkan kepala karena memang aku belum ingin menceritakan kejadian di danau

ÔÇ£bagaimana rencanamu nton?ÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£kita belum bisa memastikan rencananya seperti apa, kita saja belum tahu berapa orang yang akan membawa sibuku atau ayah mbak araÔÇØ ucap anton

ÔÇ£buat kemungkinan saja, kalau rencana dadakan ndak bagus tuhÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£okay sebentar, rokok su…ÔÇØ ucap anton

Kami semua memandang anton dengan serius, dia memikirkan semua penjelasanku…

ÔÇ£Bajingan! Kalau lihat aku jangan kaya gitu su! Emange aku penjahat!ÔÇØ ucap anton tiba-tiba

ÔÇ£memang, penjahat kelaminÔÇØ ucap hermawan

ÔÇ£Ya, betulÔÇØ ucap udin

ÔÇ£owalah diiiiin din, disekolahkan tinggi-tinggi Cuma bisa bilang ya betul ya betul terus dari kemarinÔÇØ ucapku

ÔÇ£mikir utang palingÔÇØ ucap aris menimpali

ÔÇ£ya betulÔÇØ ucap udin

Ciiiiiiiiiit…. klek… semua pandangan mengarah pada mobil yang baru saja datang. Pintu depan terbuka dan keluarlah makhluk luar angkasa

ÔÇ£ASUUUUUUU!ÔÇØ teriak kami bersama-sama

Ya dira keluar dengan menggunakan kemben ketat memperlihatkan buah dada sintetisnya dan juga celana legging yang sangat ketat. Dan yang membuat kami terperangah adalah bagian selangkangannya sudah rata tak ada tonjolan seperti empunya kami.

ÔÇ£halo ganteeeeeeeng muach…. mau dira servis? Satu-satu ya? Tenang saja dira kuat kok kalau Cuma koplak hhi hi hiÔÇØ ucap dira sambil berjalan layaknya berada di atas catwalk

ÔÇ£TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!ÔÇØ ucap kamu bersama-sama membuat kamu terjatuh dari duduk kami

ÔÇ£iiih… sebel dehÔÇØ ucap dira sambil melengos layaknya seorang wanita

ÔÇ£paling yang doyan kamu yang ndak kenal sama kamu dirÔÇØ ucap joko

ÔÇ£aku mending sama pacarku, satu ronde tak apalah daripada sama kamuÔÇØ ucap parjo

ÔÇ£bodo amat weeeeekkkk….ÔÇØ

ÔÇ£bu… minum hangat, dan sehatÔÇØ ucap dira ke ibu wongso

ÔÇ£owalah leeeee le(naaaak nak), dulu kamu itu lele sekarang kok malah jadi kolam leleÔÇØ ucap ibu wongso sambil geleng-geleng diikuti gelak tawa kami

ÔÇ£Dira, ya ampuuuuunÔÇØ ucap asmi yang keluar dari pintu warung belakang tepat dibelakang ibunya wongso

ÔÇ£eh asmi, halo cantikÔÇØ ucap dira mendekat ke asmi

ÔÇ£iiih… punya kamu kok segitu terus, mau kaya aku ndak asÔÇØ ucap dira sambil meraba payudara asmi dan membusungkan dadanya

ÔÇ£apaan sih kamu!ÔÇØ ucap asmi

Tiba-tiba…

ÔÇ£Bro… aku ada rencana!ÔÇØ ucap anton keras membuyarkan semua canda kami

ÔÇ£ini hanya rencana awal, jika ada informasi tambahan kita bisa memperbaikinya. He he he… beruntung kita punya diraÔÇØ ucap anton, kamipun tersenyum melihatnya

ÔÇ£begini…ÔÇØ ucap anton kemudian menceritakan rencananya

ÔÇ£MANTAB!ÔÇØ teriak kami bersama

ÔÇ£iiih pasti deh akyu…ÔÇØ ucap dira yang masih bersama asmi

ÔÇ£cantik mau dong ya? nanti ndak cantik lagi lho kalau ndak mau?ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£iiih sebel deh, giliran rencana kaya gini dirayu, kalau pas ndak ada rencana di cuekin iiih sebel sebel sebelÔÇØ ucap dira sambil bersedekap dan membelakangi kami

ÔÇ£jangan gitu dong dira cantik, ini kan demi kebaikan bersama ya ya yaÔÇØ ucap wongso yang merangkul dira dan mentowel pipinya

ÔÇ£iiih sebel deh…ÔÇØ ucap dira yang ngambek

ÔÇ£mas wongso! Apaan sih! Ibuuuuuuuuuuuuuuuu mas wongso godain dira!ÔÇØ teriak asmi yang tiba-tiba keluar dari warung

ÔÇ£Lempar pakai panci saja As!ÔÇØ balas ibu wongso

ÔÇ£jangan-jangan…ÔÇØ ucap wongso sambil meminta ampun ke asmi

ÔÇ£HA HA HA HAÔÇØ teriak kami bersama begitu pula dira, yah kami tahu dira hanya pura-pura saja tidak mau

Lama tak jumpa membuat kami rindu untuk bercengkrama kembali. Kami berkumpul beberapa piring dan gelas sudah berserakan di dekat kami. walaupun begitu kami tidak meninggalkan tanggung jawab kami untuk mencuci dan kadang kala membantu warung ketika pengunjung tambah ramai. Kebersamaan kami membuat kami lupa akan waktu, waktu mulali merangkak menuju malam hari. Waktu pula yang memisahkan kami semua, hingga akhirnya kami satu per satu pamit ke ibunya wongso.

ÔÇ£Pokoknya hati-hati, ndak usah ngebut!ÔÇØ ucap ibunya wongso

ÔÇ£Iya ibuuuuu…ÔÇØ teriak kami

Kami pulang hingga sampai pada tempat dimana kami biasa untuk tidur dan bercengkrama bersama keluarga. Dan aku? Masih sepi karena aku tahu ayah tak akan pulang, mungkin dia sedang menyusun rencana. Kini aku berada didalam kamarku, didalam kar penuh dengan memori kenangan bersama ibu tapi sekarang ibu sedang berada jauh disana. Aku berganti pakaian dan kemudian merebahkan tubuhku, tangan kiriku memegan guling dan tangan kananku memegang sematpon. Kubuka pesan BBM yang masuk dari dia, dian. tak kubalas dan hanya aku baca. Tiba-tiba…

From : Bu Dian
Kenapa ndak dibalas? Saking puasnya diservis terus ndak bisa balas BBM ya?
(tak kubalas, hanya aku baca)

From : Bu Dian
Dasar bocah!
To : Bu Dian
Iya saya tahu, ndak perlu bu dian bilang saya juga tahu kalau saya itu bocah
From : Bu Dian
Bagus kalau sudah sadar diri!
To : Bu Dian
Iya bu, selamat malam
Selamat beristirahat
From : Bu Dian
Oooo… gitu ya?
Memang bocah aneh! Sudah skripsi ndak selesai-selesai, sukanya anu-anu saja!
To : Bu Dian
Bu dian kenapa to? Dari tadi pagi marah-marah sama saya terus?
Cublak cublak suweng… ringtone HP. Bu Dian. mau tidak mau aku angkat

ÔÇ£Kamu tersinggung? Bagus kalau begitu, tersinggung dong, marah!ÔÇØ
ÔÇ£Bu maaf, saya tidak tahu alasan bu dian kenapa marah-marah ke sayaÔÇØ

ÔÇ£aku kan dah bilang kamu menggangguku tadi pagi, dan itu tidak bisa dimaafkan. Aku benar-benar kesal dengan keberadaan kamu tadi pagi, sudah skripsi ndak pernah diurus sukanya haya senang-senang saja! dasar bocah!ÔÇØ (sangat keras, terduduk dan satu tanganku mengusap wajahku)
ÔÇ£Aku benar-benar kesal dengan kamu, kenapa juga aku harus membimbing bocah seperti kamu! Dasar bocah tak bisa tahu dirinya sendiri! Kamu itu bocah yang ergh… kenapa harus ada bocah seperti kamu! kenapa kamu tidak bimbingan dengan yang lain? Kenapa harus dengan aku? Aku benar-benar tidak ingin bertemu kamu lag… ehÔÇØ (aku terperanjat ketika mendengar kata-kata terakhir itu)
ÔÇ£terima kasih sudah mengatakan sebenarnya bu, anggap bocah itu…ÔÇØ

ÔÇ£tunggu dulu mak…ÔÇØ (ucapnya mencoba memotong pembicaraanku tapi aku terus berbicara di telepon)
ÔÇ£lupa akan janji-janjinya, anggap bocah itu sudah mati dan bu dan tidak perlu lagi bertemu dengan bocah itu. Akan aku usahakan bocah ini akan sesegera mungkin menjauhi bu dian, agar bu dian tidak merasa kesal dan terganggu lagi. Mohon maaf atas kesalahan sejak pertama kali bertemu bu dian dan hingga hari ini. terima kasih banyakÔÇØ

ÔÇ£sebentar, aku…ÔÇØ tuuuuuut….
Segera aku buka aplikasi BBM, ada panggilan masuk dan langsung aku tolak. Ku cari nama Bu Dian dan.. Delete Bu Dian? Cancel…. Delete? Delete… dan tentunya juga dengan nomor kontak personnya juga. Aku sudah muak denganmu yan benar-benar muak! Aku letakan sematponku dan ku buat dalam mode diam, kuletakan di meja komputerku dan kusambungkan dengan charger. Aku berjalan menuju arah saklar lampu dan kumatikan. Tampak sekali LCD dari sematponku berkedip-kedip pertanda ada panggilan masuk. Tak kuhiraukan. Segera aku langkahkan kakiku dan kurebahkan tubuhku dalam tidurku. Itukah yang dia mau? Itukah yang dia inginkan? Mungkin memang dalam hidupku hanya butuh satu masalah saja, tidak lebih dan tidak kurang dan itu adalah Ayahku, Dian? mungkin harus segera diselesaikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*