Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 7

Ini Tentang Aku 7

TUJUH

Tidak biasanya aku datang ke kafe ini sendirian, biasanya aku slalu bersama sahabatku yang lainnya, tapi untuk kali ini aku butuh waktu sendirian, karena dua hari lagi akan ada ujian tengah semester. Harus kuakui, bulan ini adalah bulan tersulit bagiku, di saat aku membutuhkan konsentrasi penuh aku malah di hadapi dengan kegalauan.

Setelah memesan segelas kopi dan sepiring kentang goreng, aku segera membuka laptopku yang baru kubeli kemarin, dan tak lupa aku juga membuka buku catatanku.

Dengan bermodalkan buku catatan dan laptop, aku mulai serius belajar, sesekali aku browsing internet ketika ada yang tidak kumengerti, ya aku paling suka mencari jawaban dari mbah google ketimbang baca buku.

“Boleh duduk di sini.”

Kuangkat kepalaku, lalu aku tersenyum “Boleh, silakan duduk saja, gak ada yang marah kok.” Jawabku, sambil menggeser sedikit posisi dudukku.

“Terimakasi.” Katanya, lalu duduk di sampingku. “Ternyata kamu rajin juga ya.” Sambungnya, entah ini sebuah pujian atau hanya sekedar basa-basi biasa.

“Ya dong Mbak, kan sebentar lagi ujian, Mbak kesini mau belajar juga ?”

“Gak kok, cuman lagi pengen nongkrong aja, eh malah ketemu kamu.” Jawabnya, sambil senyum-senyum sendiri. Aku tak lagi mengubris jawabannya, aku kembali fokus membaca catatanku dan sesekali aku browsing internet.

Oh iya, yang duduk di sampingku saat ini adalah Kakak tingkatku, dulu dia salah satu panitia Ospek di kampusku. Orangnya energik, penuh semangat, apa lagi ketika dia sedang orasi, suaranya lantang membuat jiwa ini bergetar saat mendengarnya. Dia salah satu Kakak tingkat yang cukup dekat denganku.

Namanya Melinda, dia semester 9 dan salah satu aktivis yang di segani di kampusku.

“Kamu sudah gabung di organisasi apa ?” Tanyanya, memecah kesunyian malam.

Jujur saja sampai sejauh ini aku belum perna berfikir ingin bergabung di organisasi manapun, karena aku takut nanti kalau gabung di salah satu organisasi kampus, konsentrasiku bisa terganggu dan itu akan mengganggu IPK-ku nanti, belum lagi kebanyakan dari mereka yang aktif organisasi menjadi mahasiswa abadi, bahkan ada yang sampai di DO.

“Belum kepikiran mau gabung di mana mbak.”

“Oh iya… kenapa ?”

“Takut ganggu kuliah Mbak.” Jawabku jujur, tak bermaksud ingin menyinggung dirinya yang sudah semester 9 tapi belum juga ada tanda-tanda kalau mau tamat.

“Gak juga kok Jak, banyak senior kita yang lulusnya tepat waktu, tergantung orangnya juga bisa ngatur waktu atau tidak.” Jelasnya, dan itu artinya dia salah satu orang yang tidak bisa membagi waktunya antara kuliah dan organisasi.

“Lihat saja nanti mbak, saat ini mau fokus ujian dulu.”

“Gak apa-apa, nanti kalau kamu mau gabung, rencananya Mbak sama temen-temen yang lain mau buka stand pendaftaran anggota baru dan kamu kalau mau bisa daftar.” Katanya, yang ujung-ujungnya menawarkanku untuk bergabung di organisasinya.

“Iya mbak, terimakasi.”

Setelah itu aku kembali fokus belajar, dan tak lama kemudian Mbak Melinda pergi, setelah beberapa temannya datang berkelompok, aku yakin mereka pasti dari organisasi yang sama.

+++

Mungkin ini yang dinamakan demam panggung, belum juga lembar ujian di bagikan, tapi aku sudah keringetan kayak gini, dan sangat gugup. Buktinya sedari tadi kedua kakiku tak mau berhenti bergerak, hingga kursi yang kududukipun ikut bergoyang.

Tak lama kemudian, dosen pengawas Ujian menghampiriku, lalu memberiku selembar kertas ujian dan dua lembar kertas jawaban, aku segera mengambilnya dan meletakannya di atas meja kursiku (Maksudnya itu kursi yang ada mejanya di samping, gak tau apa istilahnya itu).

“Tanda tangan dulu, oh iya mana KTM sama KRS kamu ?” Kata sang Dosen sambil menyerahkan lembar absen kepadaku.

Aku segera mengambil lembar KRS di dalam tas dan dompet di saku belakang, tapi sialnya KTMku tidak ketemu, padahal biasanya selalu ada di dompet, tapi ini dia gak ada, kemana dia perginya di saat aku sangat membutuhkannya. Kucoba mencarinya di dalam tas tapi aku tetap tidak menemukannya.

“Ada gak ?” Ujar sang Dosen mulai gak sabar menungguku.

“Kayaknya hilang Bu.” Jawabku gugup, sementara keringatku semakin bercucuran padahal ruangan ini ber Ac.

“Sekarang kamu urus dulu.” Katanya, lalu hendak beranjak kekursi lainnya.

“Gak bisa nanti aja Bu, setelah ngerjain soal.”

“Gak bisa, kamu baru bisa ikut ujian setelah mendapat surat rekomendasi dari ketua jurusan.” Tolaknya, seperti yang aku duga sebelumnya.

Dengan wajah tertunduk lesu, aku terpaksa meninggalkan ruangan kelas. Di hari pertama ujian, aku sudah di hadapkan masalah yang begitu besar, ini semua gara-gaea KTM sialan itu, entah sekarang dia bersembunyi dimana.

Waktu yang kumiliki tidak banyak, hanya satu jam setengah. Aku segera berlarian kelantai tiga, menuju ruang kajur, sesampainya dengan nafas terputus-putus aku membuka pintu TU jurusan. Dan lagi-lagi kesialan menimpaku, sang Kajur ternyata sedang tidak ada di tempat. Sial, kemana perginya tuh orang.

Aku duduk di kursi di depan meja Kajur dengan wajah tertunduk, ternyata usahaku belajar semalaman suntuk sepertinya sia-sia saja.

Oh Tuhan… cobaan apa lagi ini.

“Cari siapa ?” Tiba-tiba dari belakang ada yang menegurku.

Saat aku menoleh ke belekang, ternyata yang menegurku adalah dosen pengawas yang tadi mengawasi kelasku. Sial, gara-gara panik aku jadi lupa kalau dia adalah Kajurku, seharusnya tadi aku gak perlu lari-lari seperti ini.

“Eeh… maaf Bu.”

“Ya sudah duduk, Ibu bikinin dulu suratnya.” Katanya, sambil membenarkan kaca mata minusnya. “Nama kamu Jaka ya, baru semester satu.” Tanyanya, sambil mulai mengetik sesuatu.

“Iya Bu.”

“Lain kali KTMnya di jaga, jangan sampai hilang, kalau hilang kamu sendiri yang repot.”

“Maaf Bu, lain kali saya akan lebih berhati-hati.”

“Ya sudah, ini kertasnya… ingat, ini cuman untuk hari ini saja, kalau besok hilang lagi atau sampe ketinggalan kamu gak akan bisa ikut ujian.” Katanya dengan nada ancaman.

“Iya Bu, trimakasi.”

Lalu aku kembali keruanganku, dan ternyata waktu yang tersisa untukku hanya satu jam saja. Semoga saja aku bisa menyelesaikan soal ujian ini tepat waktu.

++++

Huh… Akhirnya aku bisa menyelesaikan ujian pertamaku, walaupun harus mengalami beberapa insiden yang mengerikan..Oh iya, soal KTM sebenarnya dia tidak pergi kemana-mana, dia ada bersembunyi diantara KTP dan KTMku, mungkin karena panik aku jadi kurang teliti saat memeriksanya tadi.

Karena hari ini jadwal ujianku hanya satu, jadi kuputuskan untuk beristirahat sejenak di kantin.

“Woooi… ” Sambil berteriak aku menepuk pundak sahabatku Toni, dia langsung balik badan, dan memasang wajah garang, haha… maaf ya bro.

“Asuuu koe, ngagetin aja.” Umpatnya kesal.

“Yaelah nyet, becandaaa… tadi gimana ujiannya ? gampang ya ternyata, kirain tadi bakalan sulit.”

“Gampang endasmu… aku sampe mumet jawabnya.”

“Makanya belajar, di ajakin belajar gak mau.” Omel Wulan, pacarnya Toni.

Sebenarnya aku lagi males bertemu Wulan, apa lagi semenjak kejadian waktu itu di kamar kosnya. Entalah, aku jadi merasa amat berdosa terhadap sahabat baikku Toni. Semoga.saja kejadian tempo hari tidak keulang lagi.

“Iya… lain kali aku belajar.” Ujar Toni, tapi aku ragu kalau orang seperti Toni mau belajar.

“Beneraan ya, awas kalau nanti aku ajakin belajar gak mau. Kamu gak bakalan aku kasih jatah lagi.” Ancam Wulan, padahal saat ini ada aku di dekat mereka.

“Atau gak gini aja deh, agar aku bisa srius belajar, kita belajar bareng aja. Gimana menurut kamu Jaka ?” Usul Toni seenaknya saja, dia gak tau kalau sekarang aku sedang mati-matian berusaha menghindari pacarnya.

“Jangan deh, aku takut ganggu kalian berdua.”

“Gak apa-apa kok Sob, kalau ramekan makin seruh.” Jawab Toni.

“Emangnya kenapa kalau kalian belajar barengnya cuman berdua doang, bukannya lebih seru, jadinyakan bisa saling kasih semangat.” Tolakku dengan halus.

“Yang ada bukan belajar kalau cuman berdua, bisa-bisa kami ngentot semalaman.” Bisik Wulan, sambil cekikikan, sementara Toni kulihat tertunduk malu mendengar ucapan Wulan.

Akhirnya aku tidak bisa menolak ajakan mereka, dan dengan sangat terpaksa, malam ini kami akan belajar bersama di kossannya Wulan. Dan jujur saja masih ada perasaan trauma kalau aku harus main kekossannya.

Dari pada nanti di sana aku mati gaya, mending aku ajak Anita untuk belajar bareng. Tapi ngomong-ngomong, Anita kemana ya, kok dari tadi belum kelihatan, atau jangan-jangan dia masih ada ujian lain ? Ah tidak mungkin, hari ini semua anak semster satu hanya punya jadwal satu ujian.

+++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*