Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 6

Ini Tentang Aku 6

ENAM

Seperti biasanya, aku menghabiskan waktuku di kantin di temani Toni, Wulan, Anita dan Reza. Yup, Anita baru saja mengatakan kalau mereka sudah meresmikan status mereka sebagai sepasang kekasih. Dan kalian tau apa yang kurasakan saat ini ? Hancuuurr… hatiku remuk, pecah berkeping-keping.

Aku yang biasanya rame kini lebih banyak diam, dan menyesali hatiku yang jatuh cinta kepadanya.

“Wa… selamat ya ! Berarti uda gak jomblo lagi ni.” Kata Wulan kepada Anita, aku tau dia sengaja menyinggungku, tapi apa yang bisa kuperbuat.

“Iya dong, hehe… kamu gimana Jak ?” Tanya Anita.

Aku menghela nafas panjang. “Apanya yang gimana ?”

“Masi betah ngejomblo ?” Setan, Wulan kembali meledekku, padahal dia tau seberapa besarnya cintaku kepada Anita.

“Cari pacar dong.” Timpal Toni.

“Aku belom mau pacaran.” Alasan klasik terlontar begitu saja dari bibirku.

“Hahaha, alasaan.” Ledek Anita. “Udah ah, gue mau cabut dulu ya, mau nemenin pacar baru ngerjain tugas.” Katanya, lalu menggandeng tangan Reza.

“Ciee… ciee… ngerjain tugas apa di kerjain ni.” Goda Wulan sambil mengedipkan matanya.

“Dua… duanya… hihi !” Jawab Anita, lalu mereka pergi menghilang dari pandangan kami.

Aku tertunduk lesu, kurebakan kepalaku di atas kedua tanganku yang berada di atas meja. Mungkin ini yang mereka sebut galau, dan aku sudah merasakannya. Bayangan Anita yang sedang tersenyum saat menggandeng tangan Reza, benar-benar menyayat hatiku.

“Sabar bro, cari cewek lain aja.” Kata Toni, entah ini sebagai motivasi apa sebuah ledekan untukku. “Aku kekelas dulu ya, masih ada kuliah.” Pamit Toni, lalu sebelum ia pergi, dia sempat menepuk pundakku sebagai bentuk rasa empatinya kepadaku.

“Semangat sayang… !” Teriak Wulan kepada Toni, pemuda itu mengangkat tangannya, sebagai respon dari ucapan Wulan.

Suasana kembali hening, kulihat Wulan tampak sibuk dengan hpnya, sementara aku sibuk ngelamunin Anita, dan ucapan terakhir Wulan sukses membuatku khawatir, kalau benar Reza berani menyentuh tubuh Anita, aku pastikan akan menghajar pria berengsek itu.

Lamunanku terhenti ketika kurasakan tanganku di genggam, aku menoleh kearah Wulan, dia tersenyum manis sekali. Aah… gadis ini semalam hampir saja membuatku mengkhianati Toni sahabatku.

“Sabar ya… aku tau ini sulit bagimu.”

“Terimakasih, tapi aku baik-baik saja.”

“Bagus deh, oh iya… dari pada bengong di sini, mending kita kekosku aja ya, aku baru nginstal game counter strike loh, kamu sukakan game itu.” Ajak Wulan, tapi sepertinya aku tidak tertarik dengan tawarannya.

“Maaf, tapi aku masih ada urusan di rumah, mungkin lain kali ya.” Tolakku dengan halus, saat itu dia memperlihatkan wajah kekecewaannya atas penolakan dariku, aku tau dia gadis yang baik, tapi untuk saat ini aku lagi ingin sendirian.

Lalu tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung berpamitan pulang kerumah.

Sebenarnya tawaran Wulang sangat menarik, apa lagi setelah kejadian tadi malam, aku yakin Wulan pasti mau kujadikan pelampiasan, atau jangan-jangan nanti dia sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi pelampiasanku, tapi aku gak bisa melakukannya, aku tidak sanggup kalau harus menyakiti perasaan sahabatku sendiri, cukup tadi malam aku melukai sahabatku tanpa sepengetahuannya dan aku tidak ingin mengulanginya lagi.

++++

Kenapa harus sekarang, padahal sebentar lagi ada ujian tengah semester, bagaimana mungkin aku bisa konsentrasi kalau galau seperti ini. Lagi aku membalik tubuhku, kepeluk erat bantal gulingku, kubayangkan bantal guling itu adalah Anita.

Tak sadar aku mulai menangis, dadaku semakin sesak, dan… ah sudahlah, ternyata seperti ini sakitnya kalau cinta bertepuk sebelah tangan.

Tok… tok… tok…

“Mas Jaka ada di dalam.” Terdengar suara merdu dari luar kamarku. Aku tau itu pasti Arumi, dia pasti ingin mengajakku makan malam, karena dari tadi siang sewaktu pulang kuliah aku belum memakan apapun.

“I… iya Rum, ada apa ya ?” Jawabku, menyamarkan isak tangisku.

“Di panggil Mama, katanya ayo makan.”

“Duluan aja Rum, Mas masih kenyang.” Jawabku, tanpa ada niat untuk membukakan pintu lebih dulu. Aku tidak ingin Arumi melihatku dalam keadaan seperti ini.

“Ya sudah kalau gitu.” Setelah itu kudengar suara langkah kaki yang menjauh dari kamarku.

Mungkin sebagian besar dari kalian akan menganggapku terlalu berlebihan, secara di luar sana masih banyak wanita cantik yang suka padaku, bahkan kalau aku mau, bisa saja saat ini aku ML dengan Wulan.

Tapi ini soal hati, aku terlanjur cinta kepadanya, bagiku Anita adalah segala-galanya. Suatu musibah besar bagiku, saat mengetahui Anita kini telah resmi menjadi pacarnya Reza, padahal semua orang tau siapa Reza, dia seorang mahasiswa abadi yang setiap harinya menggoda mahasiswi di kampusku, sudah berapa banyak wanita yang menjadi korbannya.

Dan anehnya, predikat tersebut malah membuat dia semakin populer di mata siswa perempuan, termasuk Anita orang yang kucintai.

“Jakaa… ini Tante nak ?” Kudengar suara Tante Tia memanggilku.

“Ya Tante, ada apa ?”

“Ayo makan dulu, dari tadi siang kamu belom makan. Apa kamu lagi sakit ?” Tanyanya.

“Aku gak papa kok Tante, sekarang aku masih kenyang, nanti kalau aku lapar aku akan makan sendiri.” Tolakku halus, karena aku tidak ingin dia mengira yang tidak-tidak tentangku.

“Ya sudah, tapi pintunya di buka dulu, ada yang ingin Tante omongkan sama kamu.”

Sejenak aku terdiam, sebenarnya aku ingin sekali membukakan pintu kamarku untuknya, tapi aku takut kalau nanti Tante Tia curiga, melihat mataku yang mulai membengkak, tapi apakah aku punya pilihan lain ? tetap diam tanpa membuka pintu kamarku, itu sama saja aku akan membuatnya semakin khawatir.

Segera kusapu air mataku, lalu aku berjalan gontai menuju pintu kamarku. Perlahan kubukan pintu kamarku, dan di situ, di balik pintu kamarku Tante Tia berdiri sambil membawa nampan yang berisi makanan.

“Ayo makan dulu.” Katanya, lalu masuk kedalam kamarku.

Tante Tia meletakan nampan diatas meja yang ada di samping tempat tidurku, lalu dia mengambil sepiring nasi dan memintaku duduk didekatnya.

Dengan terpaksa aku duduk di dekat Tante Tia, sebenarnya aku merasa canggung, hanya berdua dengan Tante Tia di dalam kamar. Apa lagi malam ini Tante Tia hanya mengenakan daster hitam tanpa lengan, dengan belahan dada yang begitu renda. Aku takut mata ini kembali bertindak kurang ajar kepadanya.

“Ayo buka mulutnya.” Tiba-tiba dia menyodorkan sesendok nasi kearahku.

“Gak usah Tante, nanti aku makan sendiri.”

“Jangan ngebantah, sekarang buka mulut kamu.” Paksanya, yang membuatku akhirnya membuka mulutku, menyambut suapannya.

Ada rasa malu sekaligus senang, bisa mendapatkan perhatian lebih seperti ini, apa lagi dalam kondisiku yang sedang berduka. Hampir saja aku menangis sanking terharunya.

Tak terasa, suapan demi suapan aku lahap, hingga piring yang di pegang TantenTia sampai tak bersisa. Tante Tia meletakan kembali piring kosong itu kedalam nampan, lalu dia mengambil segelas minuman dan memberikannya kepadaku. Selesai minum aku mengembalikan kembali gelas tersebut.

“Ternyata kamu kelaperan ya Hihihi… tadi bilang kenyang, tapi sampai habis kayak gini.” Ledek Tante Tia, aku hanya meringis tanpa menjawabnya.

“Sekarang kamu cerita ada masalah apa ?”

“Gak ada kok Tante, cuman emang lagi males aja, mungkin bawaan mau ujian kali ya.”

“Yakiiin… Tante pikir karena kamu merasa malu sama Tante.”

“Malu kenapa Tan ?”

“Gara-gara kemarin, waktu ke pergok kamu nafsuan sama anak Tante, jadi gara-gara itu makanya kamu menghindari Tante.” Ujarnya, aku tersenyum kecut, padahal aku hampir saja melupakan masalah itu.

“Tuhkan bener !”

“Hehe….soal kemarin itu maaf ya Tan.” Kataku, jadi salah tingkah, apa lagi saat melihat Tante Tia tersenyum seolah dia meledekku.

“Ya sudah gak apa-apa, Tante gak mempersalahkan itu kok. Kan wajar kalau kamu nafsu liatin Arumi atau Tante, bahkan malah jadi aneh kalau kamu gak nafsu liatin kami berdua.” Jelasnya panjang lebar, aku hanya melongok mendengarnya, karena kupikir dia akan menasehatiku agar tidak mengulanginya lagi, tapi ternyata dia malah tidak mempermasalahkan sikapku yang kurang ajar.

“Tante antar ini dulu ya.” Katanya, lalu dia mengambil nampan yang berisi piring kotor, lalu dia keluar dari dalam kamarku.

Tante segera turun dari tempat tidurku dan hendak membuka kamarku, ketika dia baru melangkahkan satu kakinya keluar kamar, aku langsung memanggilnya.
“Makasi ya Tan.”

“Sama-sama.” Jawabnya tersenyum, lalu dia pergi meninggalkanku.

++++

Besoknya aku bangun kesiangan, saat kulihat jam dinding ternyata sudah pukul 11 siang. Aku segera bangun, bergegas mandi, lalu berganti pakaian. Selesainya, aku langsung keluar kamar.

Seperti biasanya kalau hari biasa seperti ini rumah tanpak sepi, Kak Zaskia dan Tante Tia bekerja, biasanya mereka pulang sore, bahkan terkadang malam, sementara Arumi biasanya pulang jam 2 an, tapi terkadang sepulang sekolah dia tidak langsung pulang kerumah, melainkan kelayapan dulu.

Aku duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi, kuambil rokok sebatang, lalu kusulut dengan zippo. Rasanya nikmat sekali ketika racun yang bernama nikotin itu memasuki paruh-paruhku. Anita, kabarnya gimana ya ? sekarang dia lagi ngapain ? Aah… sial, lagi-lagi ingat dia.

Kuambil hpku, hanya untuk sekedar mengecek, siapa tau ada yang menghubungiku tadi pagi tadi. Dan ternyata benar, ada dua orang yang mengirim bbm ke aku.

Deni : Tar sore jangan lupa, ngerjain tugas kelompok.
Jaka : Ok (balasku singkat)

Lalu aku membuka pesan yang kedua, ternyata dari Wulan.

Wulan : Hari ini kamu gak kuliah ya ?
Wulan : Ping
Wulan :Ping
Wulan : Kamu marah ya ? Maaf ya, kalau aku ada salah sama kamu. (Duh ni anak apa lagi, gak tau apa orang lagi galau.)
Jaka : Sory baru balas, baru bangun soalnya.

Setelah membalas semua pesan masuk, kembali kuletakan hpku diatas meja.

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*