Home » Cerita Seks Tante Keponakan » Ini Tentang Aku 5

Ini Tentang Aku 5

LIMA

Aku baru saja selesai mandi, saat aku melihat Tante Tia sedang duduk santai di depan Tv, sambil menikmati kacang goreng di dalam toples. Semenjak kejadian tempo hari aku jadi serba salah setiap kali hertemu dengannya antara ingin menyapanya atau tidak. Kalau seandainya aku lewat tanpa menyapa nanti aku di kiran sombong, gak tau sopan santun.

Sudalah mending aku sapa saja, sekalian minta izin kalau aku bakalan pulang larut malam.

“Sore Tante, nyantai kok gak ngajak-ngajak.”

“Tumben jam segini kamu sudah mandi ?” Katanya sambil melirikku. “Sini duduk, makan kacang goreng.” Ajaknya, aku langsung menghampirinya dan duduk disampingnya.

Sebenarnya aku sedikit merasa gerogi, duduk berduan dengan Tante Tia, apa lagi sore ini dia tampil begitu seksi, hanya kaos oblong tanpa lengan dan celana jeans pendek ala anak abg. Tiba-tiba kenangan dua minggu yang lalu kembali mengusikku, semoga Tante sudah lupa.

“Baru bangun tidur Tante, jadi sekalian aja mandi biar gak gerah.” Jawabku bohong, padahal tadi aku di kamar istirahat habis ngentotin anaknya. Maaf ya Tante, habis Kak Zaskia bikin aku on terus.

“Main terus si… !”

“Hehehe, namanya juga anak muda, oh iya Tante, malam ini aku pulang telat ya, soalnya mau belajar kelompok bareng teman, ada tugas kuliah.”

“Bohong ?” Ujarnya menyelidik.

“Eehmm… anu Tante !” Tuh kan, aku memang bukan pembohong sejati, baru di gituin aja aku sudah gerogi begini, jadi nyesal tadi sempat berbohong.

“Apa susahnya si kalau jujur, Tante juga gak akan ngelarang kamu, emangnya selama ini Tante suka ngelarang kamu main. Tante cuman ngingetin kamu, agar kuliah kamu gak berantakan, kan nanti Tante juga yang di salahin sama orang tua kamu kalau sampe nilai kamu jatuh.”

“Maaf Tante, iya malam ini aku ada janji mau nonton bareng temen.” Kataku sambil menggaruk-garuk kepala.

“Sama siapa ?”

“Sama Wulan Tante, temen kuliah.”

“Temen apa temen, jangan-jangan pacar baru kamu ya ? Kenalin dong sama Tante, bawak dia kerumah.” Goda Tante Tia sambil menepuk pahaku. Sepertinya, Tante Tia sudah benar-benar melupakan kejadian dua minggu yang lalu.

Tak lama kemudian si centil Arumi keluar dari kamarnya, dan yang membuatku sangat kaget tiba-tiba saja Arumi langsung duduk di pangkuanku, menekan si Jederal yang langsung berontak dan menyatakan siap untuk berperang. Siaaal… anak ini memang terkadang tidak tau tempat, asal main duduk aja.

“Jadi, Mas sudah punya pacar ?” Celetuk Arumi tanpa dosa.

“Arumi, turun sana, kasihan Masmu keberatan pangkuin kamu. Udah gede kok kelakuannya kayak anak-anak.” Tegur Tante Tia, sambil memasang wajah galaknya.

“Gak apa-apa kok Tante, gak berat.”

“Mas Jaka aja gak protes kok Ma.” Jawab Arumi, seolah tidak perduli dengan penderitaan si Jenderal di bawah sana.

Akhirnya Tante Tia mengalah, dia menbiarkan Putri bungsunya tetap berada di pangkuanku. Sambil mengobrol, aku menikmati setiap gesekan yang terjadi antara pantat Arumi dengan selangkanganku, bahkan aku merasa Arumi seperti sengaja menggoyang pinggulnya, menggesek-gesek si Jendral yang sudah sekeras batu.

Setelah hampir satu jam lamanya mengobrol, akhirnya aku segera berpamitan untuk kembali kekamarku, bersiap-siap menjemput Wulan di kossannya.

Kejadian tak menyenangkan kembali terjadi, ketika Arumi bangkit dari pangkuanku, saat itu aku lupa kalau si Jendral sedang siaga satu, sehingga ia membangun tenda yang cukup besar, parahnya Tante Tia sempat melihat tenda yang ia bangun, tapi untunglah Tante Tia buru-buru menegurku sebelum Arumi melihatnya.

“Tutupin !” Tegur Tante Tia setengah berbisik, tapi awalnya aku tidak mengerti maksud dari ucapan Tante Tia.

“Apanya Tan ?”

“Selangkangan kamu lihat, malu-maluin aja.” Katanya ketus, lalu ia beranjak pergi. Saat itulah aku baru sadar, ternyata celanaku kini sudah berbentuk tenda dan ada bercak lendir yang menempel di celanaku, mati aku. Dengan gerakan cepat aku langsung membenarkan posisi si Jendral yang tidak tau aturan.

Kali ini benar-benar bahaya, kemarin aku dengan sengaja melecehkannya dan hari ini, tanpa kusadari aku juga sukses melecehkan putrinya di depan dirinya. Setelah kejadian ini aku yakin Tante Tiia pasti sangat marah kepadaku, dia tidak akan mau menegurku lagi.

Siaaal….

+++

Karena aku tidak punya kendaraan, dengan terpaksa aku jalan kaki menuju kos Wulan, untunglah jarak kos Wulan tak begitu jauh, hanya setengah jam saja. Dengan waktu setengah jam, itu sudah lebi dari cukup untuk membuat bajuku basah kunyup, dan aroma parfumku yang tadi harum semerbak, kini berubah menjadi kecut.

Bukannya aku tidak mau naik angkot, tapi kalau sudah jam lima sore seperti saat ini, angkot di jogja sudah tidak ada lagi yang ngetem, paling bus trans jogja, itupun haltenya terbatas. Jadi dengan segala keterbatasan yang aku miliki, aku terpaksa berjalan kaki ke kosnya Wulan, pacar sahabatku sendiri.

Sesampainya di kos Wulan, aku langsung memanggilnya, sempat kudengar dia menjawab panggilanku. Sambil menunggu ia membuka pintu, aku duduk santai di bangku kayu yang ada didepan kamarnya.

Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka, kulihat hanya kepala Wulan saja yang terlihat.

“Ayo masuk.” Panggilnya.

Dengan langkah gontai aku masuk kedalam kamarnya, tapi saat aku berada didalam kamarnya aku sangat terkejut melihat penampilan Wulan, dia manis dan…. seksi sekali. Sepertinya Wulan baru bangun tidur, melihat matanya yang masi merah dan rambutnya yang berantakan.

“Kok bengong, gak perna liat cewek seksi ya ?” Tegurnya.

“Kamu baru bangun ya ?” Tanyaku, tanpa memperdulikan pertanyaannya barusan. Jujur saja saat ini di depanku Wulan hanya mengenakan daster transparan, dan bagian bawah dasternya tak begitu panjang untuk menutupi paha mulusnya.

“Iya emangnya kenapa ?” Jawabnya cuek, lalu kembali teduran sambil mendekap bantal gulingnya. Mau dong jadi bantal gulingnya… bisik syetan yang ada di dalam diriku.

“Gak apa-apa sih, cuman pakaian kamu bikin risih.”

“Beneran bikin risih ?” Godanya. “Aku lagi gak pake bra loh… ” Pancingnya, otomatis bola mataku langsung tertujuh kearah dadanya, tapi sial… payudarahnya tertutup oleh bantal guling, sehingga aku tidak dapat melihat puttingnya.

Seolah mengerti kalau aku tidak dapat melihat puttingnya, Wulan segera menyingkirkan batal guling yang menutupi payudarahnya, dengan begitu aku dapat leluasa memandangi payudarahnya, dan ternyata benar, Wulan memang tidak mengenakan bra, karena aku dapat melihat jelas puttingnya yang ngejiplak.

“Ya dia malah bengong.” Ledek Wulan, lalu dia kembali duduk.

“Udah ah, buruan mandi katanya mau ngajakin nonton ? jadi gak si ?” Kataku mulai tak sabar.

“Yakin mau sekarang ? Mumpung gak ada Toni loh ?” Lagi dia menggodaku. Dengan sengaja Wulan membuka kedua kakinya, sehingga aku dapat melihat paha mulusnya sekaligus celana dalamnya yang berwarna putih. Aaarrr… dia menyebalkan.

Duh… apa yang harus kulakukan sekarang, pergi dari sini aku takut dengan ancamannya tadi siang, tapi kalau ngikutin permainannya, bisa-bisa dosaku akan bertambah terhadap sahabatku sendiri.

“Ya sudah kalau gak jadi aku pulang loh.” Ancamku, dia langsung mengembungkan kedua pipinya, tanda dia tidak suka dengan ucapanku barusan. Tapi bodoh ah, siapa suruh dia menggodaku.

“Gitu aja ngambek.” Ocehnya, dan ternyata caraku berhasil membuat dia berhenti menggodaku.

Wulan segera mengambil handuk dan peralatan mandinya, lalu dia melangkah gontai keluar kamar. Kebetulan kamar mandinya terletak di luar kamar. Sesaat sebelum dia keluar kamar, aku sempat tergoda melihat payudarahnya yang membusung.

Cukup lama aku menunggunya, hingga hampir satu jam lamanya. Gila ini anak mandi, atau tidur di dalam kamar mandi, padahal jam di hpku menunjukan pukul 6 sore. Lalu tak lama kemudian, Wulan muncul hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.

“Lama banget sih ?” Aku langsung mengomelinya.

“Maaf, namanya juga permaisuri mandi ya pasti lama dong, emang kamu yang gak suka mandi.” Ledeknya. Sudalah, aku males nanggepinnya, mending aku baca komik legenda naga, koleksinya Wulan.

Baru saja aku membalik halaman pertama, tiba-tiba si jendral langsung mengirim sinyal kepadaku. Reflek aku melihat kedepan, dan astaga… Wulan sedang membungkuk sambil mencari pakaian di dalam lemari. Posisiku yang berada di belakangnya, tentu langsung dapat melihat kedua pahanya, sekaligus vaginanya dari belakang. Otomatis pemandangan itu membuatku bengong sesaat.

Lama aku memandangi bibir vagina Wulan yang tampak bersih, ada beberapa helai rambut yang menutupi bibir vaginanya, tapi itu tidak mengurangi keindahan vagina Wulan, pacar sahabatku ini.

Nyeraaah… aku tidak tahan lagi, ini terlalu ekstriem untukku. Aku segera berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya, lalu ‘kleek’ aku mengunci pintu kamarnya.

Wulan sempat melihat kearahku, dengan pandangan curiga, tapi aku tidak perduli. Kuhampiri Wulan yang sedang duduk, lalu tanpa basa-basi langsung kupeluk tubuhnya. Dia tampak kaget, tapi hanya diam saat aku berhasil mencium bibirnya.

“Eehmm… kamu gila Jak.” Gumamnya di sela-sela lumatanku.

Persyetan dengan Toni, aku pria normal, tidak mungkin aku bisa tahan kalau di goda terus-menerus. Apa yang akan terjadi selanjutnya, ini semua salah Wulan karena dia yang duluan menantangku.

Kutidurkan Wulan diatas tempat tidurnya, lalu kutindih tubuhnya, sambil menikmati bibirnya. Tanganku segera menyingkap handuknya, hingga payudarahnya kini tanpa perlindungan apapun. Segera kurumas kasar payudarahnya, sambil sesekali kupilin puttingnya.

“Ooghkk…. Jakaaa ! Aahkk… pelan-pelaaan dong.” Ceracaunya, sepertinya dia tersiksa dengan caraku mengerjai tubuhnya.

Puas mencium bibirnya, kuahlikan ciumanku kedada kirinya, kuhisap lembut puttingnya.

“Gilaaaa isaaapan kamu Jaka… Ooohkk… Jaka… kamuuuu… apaaan tetekku.” Keluhnya, sambil menahan bagian belakang kepalaku.

“Tetek kamu enak Wulan, bentuknya sempurna.”

“Aahkk… aaaakkk… kamu suka Jaka ? kamu suka tetek aku sayang ?” Sepertinya dia suka dengan pujianku.

“Iya Wulan, apa boleh aku kulum tetek kamu yang satunya lagi ?” Kataku, hanya sekedar ingin menggodanya. Kulihat dia mentapku dengan tatapan sayu, lalu dia mengangguk bertanda izin sudah di berikan.

“Lakukaan Jaka, sekarang aku milikmu.”

Segera aku berpindah mengemut payudarah satunya lagi, sementara tangan kananku bergerilya turun keatas perutnya, sedikit kugelitiki perutnya, membuat pinggulnya bergerak dan deruh nafasnya semakin berat.

Perlahan tapi pasti, akhirnya jari nakalku hinggap ke lembah hutan miliknya. Kurasakan di sana sudah sangat becek, tapi aku menyukainya. Tak sabar, aku merengsek turun menuju bukit kecil yang tersembunyi diantara kedua pahanya. Ketika kedua kaki jenjang miliknya kubuka, saat itu juga aroma khas vagina miliknya menyeruak, menusuk hidungku. Cukup lama aku menikmati aroma vaginanya.

Selain menikmati aroma vagina Wulan, aku juga menikmati pemandangan yang ada di hadapanku saat ini. Kulihat bentuk vagina Wulan berbeda dengan miliknya Kak Zaskia, kalau punya Wulan sedikit tembem, banyak lemaknya, mungkin karena bentuk tubuh Wulan yang memang lebih semok ketimbang punyanya Kak Zaskia, trus bibir vaginanya juga ada jenggernya, jadi kelihatan unik.

Kubuka lipatan bibir vagina Wulan, lalu aku menjilati clitorisnya. Sesekali aku juga menghisap labianya.

“Aaampuuunn… Jakaaa… kamu apain memekku, kok rasanyaa enak banget !” Wulan semakin histeris, bahkan dia mulai menjambak rambutku.

Aku ingin segera mengakhiri penderitaan Wulan, kulesatkan kedua jariku, lalu dengan gerakan cepat aku mulai memompa vagina Wulan, tak urung perbuatanku membuatnya seperti orang yang sedang kesurupan.

Tak butuh waktu lama, lima menit kemudian, Wulan semakin menjerit-jerit, pinggulnya terangkat dan akhirnya, kurasakan cairan hangat dan lengket menerpa mulutku. Aku langsung saja menelan lendirnya, sambil sesekali mencucup vagina Wulan.

“Gimana mau lanjut ?” Tegurku, sambil terkekeh melihat Wulan yang kepayahan.

“Kamu belajar dari mana oral kayak tadi ? baru kali ini aku ngerasain enaknya di oral, sebelumnya Toni belum perna buat aku seperti ini.” Katanya jujur, aku hanya tersenyum tipis ketika Wulan menyebut nama sahabatku, ada perasaan bersalah di dalam hatiku.

Kenapa aku bisa jadi seperti ini, Toni adalah sahabatku, tapi aku telah tega mengkhianatinya. Sebagai sahabat, seharusnya aku menjaga Wulan, pacar sahabatku, bukan malah memakannya. Siaaal… ada apa dengan diriku akhir-akhir ini, kenapa aku begitu muda terangsang, seharusnya aku bisa menahan diri.

Cukup lama aku menatap tubuh Wulan yang tergolek pasrah, sebenarnya aku ingin sekali menikmati vagina Wulan, tapi bayangan Toni membuatku tak berani melangkah lebih jauh.

“Jak, kok bengong.” Panggil Wulan, sambil menatapku aneh. “Kamu gak pingin ngentotin aku.” Lanjutnya, lalu tiba-tiba kurasakan tangannya hinggap di selengkanganku, aku hanya diam saat dia mengurutnya.

“Maaf Wulan, aku gak bisa.” Balasku, aku tak berani lagi memandang matanya.

“Yakin, kamu gak mau coba memek aku ?”

“I… iya, maaf.”

Wulan menghela nafas panjang, sepertinya dia mulai menyerah untuk menggodaku. “Ya sudah, tapi aku yakin kok, nanti aku pasti bisa ngentot bareng kamu.” Ujarnya, lalu dia mencium pipiku.

Tak ada respon sama sekali dariku, walaupun aku senang mendapatkan kecupan darinya.

+++

Akhirnya kami batal nonton bioskop, tapi sebagai gantinya kami keliling Jogja, dari berfoto-foto di tuguh, nongkrong sebentar di kafe nusantara, hingga menghabiskan malam di malioboro di depan Bank BNI. Entah kenapa malam ini aku merasa nyaman bersamanya, tawa candanya membuatku merasa lebi rilex, walaupun sesekali dia tetap menggodaku.

Malam itu di akhiri dengan curhatan Wulan tentang sahabatku Toni, menceritakan apa saja yang telah mereka lakukan selama berpacaran, hingga keegoisan Toni ketika mereka sedang bercinta, dan aku hanya menjadi pendengar yang baik, sambil sesekali memberi pendapat untuknya.

Sekitar jam 3 dini hari, kami baru pulang. Dia mengantarku terlebih dahulu.

“Makasi ya untuk malam ini.” Ujar Wulan sambil menggenggam tanganku.

“Hmmm… sama-sama.” Jawabku singkat.

Lalu Wulan turun dari atas motornya, berdiri di depanku. Cukup lama mata kami beradu, saling pandang, dan akhirnya bibir kami bersatu, saling melumat mesrah. Kepeluk erat tubuhnya, seolah aku tak ingin kehilangan dia malam ini.

Maafkan aku sahabatku, untuk malam ini saja tolong izinkan aku memeluk mesrah pacarmu.

“Aku pulang dulu ya.” Dia melepas pelukanku.

“Ya udah, hati-hati.”

“Lain kali kamu masih maukan keluar bareng aku, hanya kita tanpa yang lain.” Ujar Wulan, aku mengangguk setuju dengan rencananya.

Tak lama kemudian, motor yang di kendarai Wulan mulai pergi meninggalkanku, hingga akhirnya motornya menghilang di tikungan. Ini adalah salah satu malam terindah bagiku, terimakasi Wulan, dan maaf belom bisa memberikan apa yang kamu mau.

+++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*