Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 4

Ini Tentang Aku 4

EMPAT

Lama aku duduk termenung di kantin kampus, sesekali aku memainkan ujung sedotan sambil memperhatikan beberapa mahasiswa yang hilir mudik lewat didepanku. Sial, kenapa hidupku begini banget, sekarang aku merasa sangat kesepian, Toni akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pacarnya Wulan, sementara Anita, sekarang dia lebih sering jalan bareng Reza.

Sementara di rumah hubunganku dengan Tante Tia sedikit merenggang, gara-gara kejadian dua minggu lalu, Tante Tia seperti sengaja menghindariku.

Hanya dengan Kak Zaskia hubunganku semakin baik, walaupun ujung-ujungnya tidak jauh dari kata ranjang, aku seperti menjadi pemuasnya saja, tapi aku senang bisa membuatnya histeris setiap kali aku berhasil membuatnya orgasme, apa lagi kalau dia sampe squirt.

“Sendirian aja ni, mana Anita ?” Aku sedikit terkejut saat melihat Wulan yang tiba-tiba saja duduk disampingku. “Mang, es jeruk satu ya.” Pesannya sambil mengangkat tangan kirinya.

“Bikin kaget aja kamu, mana Toni ?”

“Jawab dulu pertanyaanku barusan mana Anita ?” Katanya tidak mau kalah.

“Gak tau, mungkin dia lagi sibuk bareng Reza.” Jujur aku selalu merasa kesal setiap kali harus membicarakan soal Anita dan Reza.

“Sabar ya… Hahaha… ” Ledeknya sambil memukul pundakku.

Sial… ! Tapi ternyata Wulan manis juga saat dia tertawa, pantes saja sahabatku Toni bisa tergila-gila kepadanya, walaupun menurutku Wulan orangnya manja dan keras kepala, dia juga tipikal anak yang susah diatur.

Selain itu Wulan gadis yang nyaris sempurna, kulit hitam manis dengan bentuk tubuh ideal ciri khas orang jawa timur. Ukuran payudarahnya tidak besar tapi tidak juga kecil, pinggangnya ramping dan kedua pahanya padat berisi, selain itu cara berpakaian Wulan yang selalu sembrono terkadang berhasil membangkitkan si junior yang sedang terlelap.

Seperti saat ini, resleting celana jeans yang dikenakan Wulan terbuka, sehingga mataku dapat melihat celana dalam Wulan yang berwarna merah cerah.

“Hei… ngeliatin apa si ?”

Kuangkat kepalaku menatap kembali matanya, sial… wajahku saat ini pasti sudah merah merona seperti kepiting rebus, sanking malunya.

Padangan kami berdua beradu, lalu Wulan menunduk dan melihat kebawah, saat itu juga reflek Wulan munutupi resletingnya dengan kedua tangannya. “Jangan lihat kesini, sana… ” Katanya setenga membentak, buru-buru kupalingkan wajahku.

“Sudah… ” Katanya, aku kembali melihat kearahnya sambil nyengir. “Jaka mesum, nanti aku aduhin sama Toni.” Ancamnya, tentu saja aku jadi merasa bersalah, bisa gawat kalau Toni sampe tau kalau aku sempat nafsu ngeliat pacarnya.

“Aduh maaf, jangan di aduhin dong.”

“Gak ada kata maaf, kemarin ngeliatin iniku.” Katanya sambil menunjuk dadanya. “Dan sekarang bagian bawahku, Mas Toni harus tau kelakuan sahabatnya yang mesum ini.” Ucapannya membuatku mati langkah.

“Ya jangan dong Wulan, janji deh gak lagi.”

Aku memasang wajah melas, berharap dapat pengampunan darinya. Memang harus kuakui, akhir-akhir ini aku tidak lagi bisa mengontrol mataku, setiap kali ada yang bening-bening mata ini pasti akan melotot sampai lupa dengan keadaan sekitarnya. Contohnya seperti beberapa hari yang lalu, saat aku menemani Toni main ke kossannya Wulan, saat itu Wulan masih mengenakan daster berdada renda, ketika dia menunduk tidak sengaja mataku menangkap payudarahnya dari cela lehernya.

Parahnya, perbuatan mesumku di ketahui olehnya, reflek dengan gerakan cepat dia nenutup satu-satunya akses bagiku untuk melihat dadanya, setelah itu dia meminta izin mengganti pakaian yang lebih sopan.

Untunglah kelakuan mesumku itu tidak sampai ketahuan oleh sahabatku, bisa bahaya kalau dia sampai tau aku sedang memperhatikan tubuh pacarnya.

“Hihihi… kamu lucu.” Ujarnya seraya tersenyum manis.

“Apanya yang lucu ?” Tanyaku, tapi dia sangat manis saat tersenyum tadi. Sial, lagi-lagi aku tergoda oleh pesonanya, sadar Jaka, dia punya sahabatmu.

“Hayo… kok bengong lagi, mikir mesum lagi ya.”

“Dasar… ” Kesalku, dia kembali terkekeh memamerkan gigi kelincinya.

Tak lama kemudian pelayan kantin datang membawakan pesanan Wulan, lalu aku kembali memesan semangkok bakso yang juga diikuti Wulan. Setelah itu kami kembali mengobrol santai, kali ini obrolan kami lebi mengarah tentang tugas kuliah.

Obrolan kami terhenti, ketika Toni menghampiri kami. Aku sempat berbicara sebentar kepada Toni, sebelum akhirnya aku permisi pergi karena ada kelas.

+++

Aku pulang lebi awal karena tak ada kegiatan di kampus, mau main juga gak tau mau main kemana, jadi kuputuskan untuk segera pulang, siapa tau Kak Zaskia lagi nganggur. Tapi sayang ternyata Kak Zaskia belum pulang, yang ada hanya Arumi yang sedang tidur-tiduran sambil belajar.

Segera aku masuk kedalam kamarku, lalu rebahan diatas tempat tidurku.

Drrrtt… terdengar suara hpku, segera kuambil hpku dari dalam tas dan melihat siapa yang mengirim bbm kepadaku.

Wulan : Ping
Aku : Ya ada apa neng ?
Wulan : Bete gak ada kerjaan, kamu lagi apa ?
Aku : Lagi tidur2an
Wulan : Nonton yuk, bosen ni di kamar doang.
Aku : Ajak Toni aja. (Sebenarnya aku pingin si nonton bareng Wulan, tapi gak enak sama Toni kalau nontonnya cuman berdua doang)
Wulan : Males bareng Toni, kamu aja yang nemenin aku.
Aku : Kapan-kapan aja deh (Tolakku dengan halus.)
Wulan : Ya sudah, besok aku bakal aduhin kamu soal tadi siang, biar Toni tau kalau sahabatnya suka mesumin pacarnya. (Sial, dia sengaja mengancamku.)

Lama aku tidak membalas bbmnya, sebenarnya aku mau saja menerima tawarannya Wulan, tapi bagaimana dengan Toni ? Aku ragu dia setuju kalau aku mengajak pacarnya nonton. Tapi kalau sampe menolak tawarannya, bisa-bisa dia beneran nekat melaporkan perbuatanku kepada Toni.

Aaarrgg… terus aku harus gimana dong ? Apa ajak Anita saja, siapa tau dia mau.

Wulan : Cuman berdua (Sial, belum juga bbm Anita dia sudah lebi dulum bbmku.)
Aku : Iya, tapi nonton yang malam aja, sekarang tanggung.
Wulan : Ok.

Setelah itu tak ada lagi bbm yang masuk ke hpku, entah kenapa aku kadi deg-degkan begini, aku merasa akan terjadi sesuatu diantara aku dan Wulan. Hmm… Wulan dia anaknya memang baik, muda akrab dengan siapapun, awal pertama kali kami berkenalan, aku langsung akrab dengannya, aku merasa nyambung setiap kali ngobrol dengannya.

Sudalah, mending aku mandi dulu buat ngilangin stress, siapa tau air dingin bisa menenangkan hatiku.

Saat aku keluar kamar, kulihat Arumi masih tidur-tiduran di karpet sambil menonton tv, entah kenapa aku jadi ingin menggodanya, kuurungkan niatku kekamar mandi, dan aku menghampiri Arumi dan duduk di sampingnya.

“Nonton gosip, gak bermutu.” Celetukku, mengomentari tontonan Arumi. Gadis cantik itu sempat menolehku sambil memasang wajah cemberut.

“Mending nonton gosip, dari pada nontonin Mas.”

“Yee… mending nontonin Mas, yang pastinya lebih ganteng ketimbang cowok yang lagi di gosipin itu.” Kataku tak mau kalah darinya.

“Ganteng dari hongkong.” Balasnya.

Tawakupun meledak mendengar komentarnya, entalah akhir-akhir ini aku sering menggodanya, mungkin itu hanya alasanku saja agar bisa lebih dekat dengannya, karena aku menyukainya.

Eitss… jangan salah paham dulu, arti suka di sini bukan berarti aku jatuh cinta terhadap adik sepupuku sendiri, melainkan karena nafsu. Ya… dia, maksudku Arumi akhir-akhir ini selalu berhasil membangkitkan birahiku, entah sengaja atau tidak, tapi cara berpakaiannya akhir-akhir ini slalu menggoda imanku.

Contohnya seperti siang ini, dia mengenakan kaos berwarna hijau yang tampak kekecilan, dipadu dengan hotspan yang menurutku lebih mirip seperti celana dalam, karena ukurannya yang sangat pendek, sehingga menampakan bagian besar paha mulusnya. Sebagai pria normal tentu saja cara berpakaian Arumi mengundangku untuk lebih dekat dengannya.

“Kak… ” Panggil Arumi.

“Apa ? Sini duduk disamping Kakak.” Panggilku, lalu dia segera beranjak dan langsung duduk di pangkuanku.

Astagaaa… anak ini memang benar-benar nakal, gak tau apa dari tadi si jendral terus berontak mengibarkan bendera perang, dan sekarang dia malah nantangin si Jendral dengan mendudukinya.

“Aduuuh… berat ni.” Protesku, padahal aku suka dia duduk di pangkuanku, karena si Jenderal bisa langsung merasakan pantat semok milik Arumi.

“Biariiin… ni rasaiiin.” Eh dia malah dengan sengaja memutar-mutar pantatnya menyiksa si Otong yang semakin menggeliat minta izin untuk bertempur. Gila juga ni Otong, sabaaaarr… woi…

“Aaampuun, berat ni… kamu makan apa si.” Kudekap perutnya agar diam.

“Emang aku gendut ya Mas ?” Dia cemburut, tapi malah kelihatan lucu, bibirnya yang tipis merucut membuatku ingin melumatnya.

“Gak gendut, cuman berat badan kamu kelebihan.”

“Iiihkk… itu sama aja, Mas jahat.” Rutuknya, lalu setelah itu dia memukuli dadaku tanpa ampun. Reflek aku mendekap punggungnya, membuat kami seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan.

Sedetik kemudian kami terdiam, suasana mendadak hening, dapat kurasakan deruh nafas Arumi yang terdengar berat, lalu perlahan dia semakin mendekatkan tubuhnya, hingga dadanya menempel kedadaku, dan kami kini benar-benar berpelukan dalam posisi Arumi duduk menyamping di pangkuanku.

Kulingkarkan tanganku di pinggangnya yang ramping, kuciumi perlahan rambutnya yang wangi.

“Mas… ” Bisiknya.

“Iya sayang, kenapa ?”

“Arumi kangen Papa, bolehkan aku meluk Mas lebih lama lagi.” Ujarnya lirih, membuatku semakin erat memeluk pinggangnya.

“Boleh kok, selama yang Arumi mau.” Jawabku, lalu ku kecup lembut keningnya penuh kasi sayang.

Kasihan Arumi, orang tuanya terlalu sibuk bekerja sehingga dia jarang mendapat pelukan hangat dari orang tuanya, dan aku malah tega memanfaatkan keadaan Arumi yang seperti ini.

Maafkan Mas ya Arumi, Mas janji mulai sekarang akan slalu ada untuk Arumi, karena Mas sayang Arumi.

Setengah jam kemudian, kudengar suara dengkuran pelan dari Arumi, sepertinya dia sudah terlelap didalam pelukanku. Segera kugendong dia dan kubawak masuk kedalam kamarnya. Perlahan kurebahkan dirinya dia atas tempat tidur, tak lupa aku menyelimutinya dan memberinya kecupan di kening sebelum aku meninggalkan kamarnya yang bernuansa merah muda.

“Ngapain kamu di kamarnya Arumi ?”

Sumpah aku sangat kaget saat mendengar suara Kak Zaskia yang tiba-tiba saja sudah di dekatku. “Kapan pulang ?” Tanyaku kebingungan.

“Kok kamu kayak ketakutan gitu ?”

“Eh, masak sih kak ?” Dia menggangguk, kurang ajar dia pasti mengira yang aneh-aneh.

“Kamu tadi ngintipin Arumi tidur ya ?” Na… kan bener.

“Gak Kok, itu tadi aku… ”

“Iya juga gak apa-apa kok.” Potongnya, “Ayo ikut Kakak.” Tanpa menunggu penjelasan dariku dia menarik tanganku menuju kamarnya.

+++

Didalam kamar, seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu, aku memeluknya dan melumat bibirnya, tanganku bergerilya meremas pantatnya yang masih tertutup rapi dibalik rok span pajang yang ia kenakan, sementara si Jenderal tampak bersorak girang, menekan selangkang Kak Zaskia.

Segera kubuka satu persatu kancing kemejanya, sehingga payudarahnya meloncat keluar seperti ingin merobek bra yang dikenakan Kak Zaskia. Aku kembali berciuman dengannya, sambil menbelai kulit punggung Kak Zaskia.

Kusibak kerudungnya, lalu ciumanku turun kelehernya, kujilati lehernya yang jenjang, sementara kedua tanganku kembali sibuk meremas pantatnya.

Kesehariannya Kak Zaskia memang terbiasa mengenakan kerudung, dan aku selalu sangat bernafsu setiap kali melihat ia mengenakan kerudung, apa lagi dalam kondisi seperti saat ini, masih mengenakan pakaian lengkap dengan seluruh kancing baju yang terbuka, dan posisi rok yang sudah tak utuh lagi.

Kak Zaskia membantuku melepas kaitan branya, lalu ia singkap keatas menampakan bulatan payudarahnya yang menggoda. Tanpa basa-basi langsung kulahap kedua payudarah Kak Zaskia secara bergantian, lidahku menari-nari di atas puttingnya, membuat tubuh Kak Zaskia mengelinjang.

“Cukup Jak, Kakak capek ! Pindah kekasur aja ya.”

“Ayo Kak.” Ujarku, lalu kutuntun dia naik keatas tempat tidurnya, kurebahkan dirinya di sana, dan aku langsung menindih tubuhnya.

Kembali kulumat habis bibirnya, sambil berusaha membuka celanaku hingga si jenderal terbebas dari kurungannya dan dia siap untuk beraksi. Kusingkap rok hitam milik Kak Zaskia, hingga menampakan paha dan betisnya yang mulus.

“Kakak sudah siapkan ?” Tanyaku, sambil menarik lepas celana dalamnya.

“Ayo sayang, masukan sekarang sebelum Mama pulang.”

“Siap Kak.” Balasku sambil tersenyum.

Kuangkat kedua kakinya, lalu kuletakan kedua kakinya di pundakku, segera kuposisikan sang Jendral di depan gerbang musuh, lalu dengan dorongan perlahan sang Jenderal berhasil menerobos masuk.

“Eeenaaak Jak, kontol kamuuu kerasss… !”

“Rasakan ini Kak, akan kubuat Kakak sampe pipis.” Ceracauku dan mulai memompa vagina Kak Zaskia, sementara bibirku kembali menciumi lehernya.

“Aahkk… aaahkk… ini terlalu cepaaat Kakak belom siap sayaaang… Aahkkk… aahkk… aahkk… ”

Kucengkram pinggulnya, lalu kuhentak semakin cepat, sungguh vagina Kak Zaskia rasanya nikmat sekali, apa lagi sambil memandang wajahnya dengan jarak yang begitu dekat, membuatku semakin tak tahan ingin segera menumpahkan seluruh isi dalam kantung penisku.

Sedikit lagi, aku hampir saja bobol, tapi untunglah Kak Zaskia ternyata lebih dulu mendapatkan orgasmenya, pinggulnya terangkat hebat, lalu kurasakan semburan hangat mendorong penisku hingga terlepas dari dalam vagina Kak Zaskia.

“Gilaaa… kamu memang hebat.” Pujinya.

“Biasa aja Kak, ini belom seberapa kok.” Kataku sok kuat, padahal tadi aku hampir saja kalah, untunglah Kak Zaskia keluar lebih dulu.

“Sini Dek, kontol kamu Kakak kulumin dulu.”

“Kalau capek, istirahat saja dulu, jangan di paksakan nanti mainnya kurang nyaman.” Tolakku dengan halus, walaupun sebenarnya aku masih ingin merasakan kenikmatan tubuh Kak Zaskia.

“Gak apa-apa kok Dek, kan cuman ngulum.”

“Ya sudah de, tolong ya Kak.” Kataku, lalu aku merangkak mendekatinya.

Kak Zaskia langsung meraih penisku, lalu mengocoknya perlahan. Di cucupnya beberapa kali batang penisku, sebelum akhirnya dia membuka mulutnya dan memasukan batang penisku kedalam mulutnya. Aaahk… enak banget rasanya, apa lagi Kak Zaskia mengulum penisku sambil mengurut batangnya.

Semakin lama gerakan kepalanya semakin cepat, menghisap dan mengemut penisku.

“Aahkk… enak Kak, terruuuss hisap Kak.”

Ploppss… ploppss… Kak Zaskia menatapku sambil menyunggingkan senyum. Gilaaa… ekspresi wajahnya saat ini terlihat begitu binal, apa lagi Kak Zaskia masi mengenakan kerudung, aku sudah di ujung, aku tidak tahan lagi ingin memuntahkan spermaku.

Kutahan kepala Kak Zaskia, lalu aku ikut memaju mundurkan penisku, hingga akhirnya kurasakan ada sesuatu yang ingin meledak. Aaahk… aku keluaaarr…

Kucabut penisku dengan paksa, lalu kutumpahkan spermaku di wajahnya, dan ada sebagian spermaku terkena kerudungnya.

“Adeeeek… ” Serentak Kak Zaskia histeris sambil mendorong kedua pahaku agar menjauh.

“Maaf Kak, udah gak tahan lagi.”

“Tapikan bisa keluarin di mulut, gak sampe di wajah juga kali, jadi jelek ni.” Rutuk Kak Zaskia, aku tersenyum menahan tawa melihat kepanikan Kak Zaskia.

Aku duduk disamping Kak Zaskia, lalu kusandarkan Kak Zaskia di pundakku, semetara tanganku merangkulnya. Sumpaah… wajah Kak Zaskia yang berlepotan spermaku tampak terlihat begitu cantik dan seksi.

“Tapi Kakak cantik loh… !” Pujiku sambil mencium pipinya.

“Bohoong.”

“Beneran Kak, ni kalau gak percaya.” Aku mengambil hp Kak Zaskia yang tergeletak pasrah di atas tempat tidur, lalu kuarahkan kamera kehadapan kami, dan sedetik kemudian aku memfoto kami berdua.

“Kok di foto si Dek.” Protes Kak Zaskia.

Tanpa menjawab, kuperlihatkan hasil fotoku barusan kepadanya. “Cantikkan ?” Tanyaku, sambil tersenyum.

“Wajah Kakak lucu ya… Hihihi !”

“Di bilangin gak percaya.” Ujarku, lalu kuhapus kembali foto tersebut, kan terlalu bahaya kalau aku menyimpan fotonya. “Ya sudah, Kakak mandi dulu gih, bauukk… ” Ledekku, Kak Zaskia langsung mencubit pinggangku.

Segera aku menghindar dari cubitan, dan kemudian kukenakan kembali pakaianku sebelum aku pergi meninggalkannya sendiri di dalam kamar.

++++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*