Home » Cerita Seks Tante Keponakan » Ini Tentang Aku 3

Ini Tentang Aku 3

TIGA

Ddeeerrtt… deerrtt… deerrttt…

Tanganku berusaha menggapai hpku yang entah ada dimana, sementara hpku tidak henti-hentinya meraung-raung, tanda kalau ada yang nelpon. Setelah cukup lama mengais-ngais tanganku di atas kasur tanpa melihat tentunya, akhirnya aku menemukannya, segera aku tekan tanda terima.

?? : Jaka, malam ini ngopi yuk ?
Jaka : Nongkrong dimana ? Eh, ini siapa si ? (Kataku males-malesan, jujur aku masi merasa sangat ngantuk sekali)
?? : Emang kamu gak nyimpan nomor aku ya.
Jaka : (Buru-buru aku melihat layar hpku, ternyata yang nelpon Anita) Maaf… maaf Nit, aku baru bangun ni, emang mau ngopi dimana ?
Nita : Biasa, di Nusantara aja.
Jaka : Jamnya seperti biasa ya.
Nita : Oke, nanti aku jemput ya, bye
Jaka : Iya, bye.

Segera kubanting kembali hpku diatas kasur, badanku rasanya capek banget, ternyata ML itu sangat menguras tenaga, aku baru tau kalau akan secapek ini. Kak Zaskia sekarang lagi ngapain ya? Jangan-jangan dia kecapean juga kayak aku. Sekarang jam berapa si ? Kulihat jam dinding kamarku ternyata suda jam delapan malam.

Aku buru-buru melompat dari atas tempat tidurku, lalu mengambil handuk dan hendak kekamar mandi, tapi saat di ruang tenga aku berpapasan dengan Arumi, adiknya Kak Zaskia, dia bersama temannya Maya sedang mengerjakan sesuatu, sepertinya mereka sedang belajar.

“Mau mandi Mas ?” Sapa Arumi, aku mengangguk.

“Iya, baru bangun soalnya.” Jawabku, sambil melihat kearah sahabatnya Maya. Cantik juga, apa lagi Maya mengenakan piyama transparan.

“Kata Mama, mandi malam itu gak baik.” Katanya sok menasehatiku, aku tersenyum mendengar nasehatnya, memang bener si, mandi malam memang gak baik buat kesehatan, katanya bisa terkena rematik.

“Iya, tapi kalau gak mandi bauk dong… ni cium.” Kataku sambil mendekatkan tubuhku kearahnya.

“Iii… bauk, sana mandi.” Usirnya galak, aku tertawa melihat ekspresi wajahnya.

“Hmmm… tadi bilangnya gak boleh mandi malam, sekarang malah disuruh mandi, gimana sih ?” Kataku bertahan, tidak beranjak selangkapun.

“Tapi jauh-jauh.”

“Hahaha… iya sudah, berarti Mas boleh mandikan ?”

“Iya boleh.” Jawabnya singkat, lalu aku pergi meninggalkan mereka.

+++

Selesai mandi, aku buru-buru mengganti pakaian, karena semenit yang lalu Anita bbm aku kalau dia sudah di depan rumah menungguku. Selesai mengenakan pakaian, aku segera keluar kamar. Lagi aku bertemu dengan Arumi, tapi kali ini dia sendiri, karena temannya Maya sudah tidak ada, mungkin temannya sudah pulang sewaktu aku sedang mengganti pakaian.

Kulihat Arumi sedang berada di dapur hendak mengambil botol minuman didalam kulkas, karena posisi botolnya di bagian bawa, Arumi terpaksa harus membungkuk dan saat dia membungkuk itulah tanpa sadar mataku terpaku kearah bulatan pantatnya yang sekal. Kakak sama Adik sama saja, sama-sama menggoda.

“Kok bengong Mas.” Tegurnya sambil menuangkan air dari dalam botol kecangkir yang ada di tangan kirinya.

“Enggak papa, teman kamu mana ?”

“Uda pulang, kenapa ? Mas naksir ya… ” Tembaknya, dasar Arumi sempat-sempatnya dia menggodaku seperti itu, padahal dia gak tau kalau aku sebenarnya jauh lebi naksir dirinya ketimbang sahabatnya.

“Gak level sama cabe-cabean.”

“Huh… ” Dengusnya kesal.

“Hehehe, Dek Mama mana ?” Tanyaku, memang tujuanku ingin bertemu dengan Tante Tia.

“Ada di kamarnya mungkin.”

“Ya sudah, nanti tolong bilang ke Mama, Mas keluar agak lama mau ngerjain tugas kelompok.”

“Siap bos.” Jawabnya centil.

Lalu aku berpamitan kepadanya, dan segera menyusul Anita yang sudah menungguku di luar.

+++

Segera kupacu motor metiknya, meliuk-liuk melewati beberapa kendaraan yang berada di depan kami, tak lebi dari 15 menit, kami sudah tiba di kafe nusantara, ternyata di situ suda ada Toni dan Wulan.

Anita kusuruh duluan mendekati mereka, sementara aku lebi dulu memesan segelas kopi jahe dan kopi susu, tak lupa sepiring kentang goreng. Selesai memesan makanan aku bergabung bersama mereka.

“Main yuk ?” Ajak Wulan, lalu dia mengeluarkan kartu dari dari dalam tasnya.

“Boleh juga.” Jawabku.

Beginilah kami hampir setiap malam, kalau tidak ada tugas kulia, maka kami akan menghabiskan malam dengan bermain poker rasa Jogja, di temani segelas kopi dan sepiring makanan ringan, sesekali dalam permainan kami tertawa, dan sesekali tampak serius.

Tentu aku senang bisa berkumpul bersama mereka, seperti saat ini, karena menurut seniorku kedekatan seperti ini hanya berlaku selama dua sampe tiga tahun awal kuliah kami, setelah itu kami akan sibuk dengan urusan kami masing-masing.

Semoga saja tradisi itu tidak berlaku kepada kami, aku tidak sanggup kalau harus berjauhan dengan Anita, wanita yang sampai saat ini selalu memenuhi relung hatiku, semoga saja nanti dia bisa menjadi pacarku, bahkan bila perlu dia menjadi Istriku di masa yang akan datang, semoga saja… Amin.

+++

Aku pulang ketika jam di hpku menunjukan pukul satu dinihari, dengan perlahan aku membuka pintu rumah agar tidak mengganggu tidur mereka. Setelah berhasil membuka pintu rumah, aku berjalan berjinjit menuju kamarku, tapi belum sempat aku membuka pintu kamarku, Tante Tia memanggilku.

“Sini dulu Jak, Tante mau ngomong.” Panggilnya, aku mengurungkan niatku kekamar, lalu menghampirinya yang sedang duduk di sofa.

“Iya Tan, ada apa ?” Tanyaku, jujur aku jadi merasa tidak enak hati, mungkin gara-gara menungguku Tante Tia jadi ikut begadang.

“Dari mana kamu Jak ?” Tanyanya, raut wajahnya tampak begitu serius. “Jawab dengan jujur, kamu beneran tadi kerja kelompok dengan temanmu.” Aku terdiam sejenak, bingung mau jujur atau tetap berbohong.

Tapi setelah kupikir tidak ada gunanya aku berbohong kepadanya. “Maaf Tan, tadi main bareng temen.” Jawabku jujur kepadanya, aku paling tidak bisa berbohong kalau dalam kondisi seperti ini. Kulihat Tante Tia menghela nafas panjang, dadanya naik turun.

“Bukannya Tante ngelarang kamu pergi main, tapi jangan keseringan, takut nanti ganggu kuliah kamu.” Katanya memberiku nasehat.

“Iya Tante, maaf.”

“Ya sudah gak apa-apa, kalau kamu ngantuk tidur aja dulu, Tante masi mau nonton.”

“Belum ngantuk Tan, aku di sini aja dulu.”

Lalu keadaan kembali hening, Tante tampak serius memperhatikan jalannya cerita film, sementara aku lebi fokus memperhatikan Tante Tia.

Jujur saja, Tante Tia adalah wanita idamanku, dia hampir mirip dengan Anita, orangnya dewasa, perhatian dan cantik tentunya. Selain itu bentuk tubuhnya sangat ideal, tapi ada satu bagian tubuhnya yang aku paling suka, yaitu payudarahnya, bentuknya besar membulat

Kini perhatianku fokus kearah teteknya, beberapa kancing gaun tidurnya yang terbuka, membuatku sangat leluasa memandangi belahan dadanya. Tidak terasa kontolku mulai berdiri. Seandainya saja yang ada didepanku saat ini adalah Kak Zaskia, mungkin aku akan segera menyetubuhinya.

“Kamu bisa mijit gak Jaka ?” Katanya, aku buru-buru memalingkan wajahku, takut kalau nanti Tante Tia sadar kalau aku sedang memperhatikannya.

“Bisa si Tan, tapi mijitnya ngasal.”

“Gak apa-apa de, punggung Tante pegel banget, tolong kamu pijitin ya.”

“Siap Tante.” Jawabku.

Lalu aku menggeser dudukku memberi ruang agar Tante bisa tidur tengkurap.

“Sebentar ya Tan aku ambil minyaknya dulu.”

“Gak perlu Jak, pijit biasa aja, gak usah pake minyak, rasanya juga gak enak, suka lengket di kulit.” Tolaknya, kuurungkan niatku untuk mengambil minyak, padahal sedikit minyak akan mempermuda tugasku.

Aku tak membantah lagi dan mulai memijit pundaknya, perlahan tapi cukup bertenaga, sesekali aku memijit leher bagian belakang, lalu berpindah kepundak dan kedua lengannya. Karena gaun tidurnya tanpa lengan, aku dapat menyentuh langsung kulit pundaknya, rasanya lembut dan hangat.

Setelah puas memijit pundaknya, aku beralih memijit punggungnya, ternyata dugaanku benar, Tante Tia tidak mengenakan bh, karena tanganku tidak menemukan sesuatu yang mengganjal di punggungnya.

Menyadari hal itu membuatku semakin bersemangat memijit pundak hingga kepunggungnya. “Kayaknya, Tante sangat kecapean ya.” Aku berujar di sela-sela memijit punggungnya di sisi kiri dan kanan.

Aku sengaja memijit punggung bagian sampingnya, diantara bulatan payudarah dan ketiaknya. Kulihat Tante Tia sama sekali tidak protes saat sesekali dengan pura-pura tidak disengaja aku menekan pinggiran dadanya. Karena merasa mendapat lampu hijau aku semakin sering menekan dadanya dari samping kiri dan kanan, di kombinasi dengan pijitan lembut di pundaknya.

“Gak nyangka ternyata kamu pinter mijit juga. Kalau tau gitu sudah dari dulu Tante minta di pijitin sama kamu.” Aku tersenyum girang mendengarnya, itu artinya aku akan sering memijitti tubuh montoknya Tante.

Puas memijit pundak dan punggungnya, aku mulai memberanikan diri memijit pingganya yang lebi dekat dengan pinggulnya, gerakan yang kubuat pelan, tapi bertenaga membuatnya semakin percaya kalau aku benar-benar sedang memijitinya, tanpa dia sadari kalau saat ini aku sedang melecehkannya.

Aku meghela nafas panjang, ini semua salah Kak Zaskia, sebelumnya aku tidak perna berfikir sekalipun untuk melecehkan Tante Tia, karena aku takut. Tapi semenjak ML dengan Kak Zaskia, aku jadi seperti memiliki keberanian untuk melecehkan Tante Tia, mungkin karena aku berfikir kalau buah jatuh tidak akan jauh dari pohonmya, kalau Kak Zaskia bisa aku setubuhi, maka Tante Tia juga pasti bisa aku tiduri.

“Aahkk… ” Terdengar suara lenguhan Tante Tia, membuatku semakin berani.

Sengaja sambil memijit pinggulnya, dengan jari telunjuk aku menarik-narik gaun tidurnya sehingga membuat bagian ujungnya semakin terangkat, memperlihatkan sepasang paha mulus miliknya.

“Tante, pahanya aku pijitin juga ya.”

“Iya Jak, sekalian pantatnya juga ya, soalnya pantat Tante juga pegel, mungkin karena kelamaan duduk.” Aku mengangguk senang, sambil menurunkan pijitanku kearah pantatnya.

Perlahan aku mulai memijit kedua pipi pantatnya, rasanya empuk dan kenyal, membuatku betah berlama-lama memijit pantatnya, tapi sesekali aku tetap memijit paha bagian dalam miliknya, untuk menyamarkan perbuatan mesumku kepadanya.

Semakin lama desahan Tante Tia semakin keras, apa lagi ketika aku dengan sengaja menekan jari jempolku tepat di belahan pantatnya, saat itu dia merespon pijitanku dengan merenggangkan kedua kakinya, tentu saja perbuatannya membuatku semakin sadar kalau dia sangat menyukai perbuatanku.

Kuberanikan diri menyingkap bagian bawah gaunnya, ternyata celana dalam Tante Tia sudah sangat basah, mungkin dia sudah lama tidak di belai, sehingga sangat muda terangsang, mengingat suaminya yang jarang pulang. Aku kembali memijiti kedua pahanya di selingi elus-elusan erotis di kedua pahanya hingga kepangkal pahanya. Kurasakan jariku basah ketika terkena celana dalam Tante.

“Aahkk… terusss ! Geseek terus Jak.” Pinta Tante Tia, akupun segera menggesek-gesekkan jariku di bibir vagina Tante Tia dari luar celana dalamnya.

“Iya Tante, di gesek kayak gini ya ?” Jawabku, sambil menggesek-gesekan jariku kebelahan vaginanya yang masih bersembunyi di balik celana dalam.

“Aahk… iya begitu Jak, lebi cepat.”

Iseng aku selipkan jariku kedalam celana dalam Tante Tia, kucari belahan vaginanya, lalu setelah dapat kusentuh clitorisnya, merangsang tubuhnya dengan memainkan clitorisnya. Tubuhnya menggeliat keenakan, apa lagi ketika kutusuk jari telunjukku kedalam vaginanya, erangannya semakin keras ketika aku dengan sengaja mencongkel-congkel atau mengorek-orek bagian dalam vaginanya yang becek.

“Aahkk… Ohkk… Jaka, Kamu apain memek Tante.” Katanya mulai tak tenang, kedua tangannya mencengkran erat bantalnya, sementara wajahnya ia benamkan sedalam-dalamnya di atas bantal tidurnya.

“Santai aja ya Tante, ini biar Tante bisa sedikit rilex.” Jawabku ngasal sambil mengocok vagina Tante Tia.

Aku semakin cepat mengocok vaginanya dengan kedua jariku, hingga terdengar suara ‘kecipok’ ketika jariku berbenturan dengan bibir vaginanya.

“Mas, Mama, lagi ngapain ?” Jegeeerr… Suara itu sukses membuat kami berdua tersadar dengan apa yang sedang kami lakukan.

Buru-buru kucabut jariku dari dalam vagina Tante Tia, sementara Tante Tia segera bangun dan duduk sambil merapikan gaunnya. Beruntung tepat ketika Tante kembali duduk, Arumi menghampiri kami berdua, sepertinya ia terganggu dengan suara Tante Tia, sehingga membangunkan tidurnya.

“Hooaam… berisik banget si, mau tidur ni.” Omel Arumi, lalu duduk di tengah-tengah anatara aku dan Tante Tia.

“Habis filmnya seru, jadi gak sadar kalau suara Mama ganggu tidur kamu.” Katanya memberi alasan yang menurutku tidak logis.

Mungkin karena ia masih sangat mengantuk, jadi Arumi hanya mengguk-ngangguk saja, padahal acara tv saat ini sedang menayangkan berita kriminal yang tidak ada seru-serunya untuk di tonton.

“Sekarang kamu tidur lagi ya !”

“Eehm… iya de Ma, tapi janga berisik lagi ya Ma.”

“Iya sayang, maaf ya tadi ganggu tidur kamu.” Tante Tia memberi kecupan lembut di kening anaknya, sebelum Arumi beranjak kembali kekamarnya.

Sepeninggal Arumi ruangan kembali terasa sunyi, Tante Tia kembali fokus menatap layar televisi, kulihat dadanya naik turun, sepertinya libido TantenTia belum turun seutuhnya. Kucoba meraih tangannya, lalu kugenggam perlahan jemarinya.

“Tante !”

“Iya, ada apa Jak ?” Ujarnya, tanpa melihat kearahku.

“Maaf Tan, tapi Tante malam ini cantik sekali.” Bisikku lirih sambil menarik tubuhnya kedalam pelukanku. “Dan seksi banget.” Lanjutku memuji dirinya.

Perlahan kudekatkan wajahku, Tante Tia segera memejamkan matanya, sambil memonyongkan sedikit bibirnya. Kulumat perlahan bibirnya, sementara tanganku bergerilya di payudaranya, kuremas perlahan, merasakan kekenyalan dadanya yang selama ini slalu mempermainkan libidoku.

Tante Tia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, sementara ciuman kamj terasa semakin panas, aku sedikit memiringkan kepalaku untuk menyeimbangkan lumatannya. Lidahnya terjulur, lalu kusambut dengan hisapan lembut.

Satu-persatu kancing gaun Tante Tia kubuka, lalu kususupkan tanganku masuk kedalam gaunnya, kuraih payudarahnya, lalu kuremas-remas bongkahan payudarahnya.

“Aaahkk… Cukup !” Tolaknya sambil mendorong dadaku. “Maaf, Tante belum bisa mengkhianati Suami Tante.” Katanya, sambil menggeser menjauh dariku, sementara aku diam tanpa melepas pandanganku kearahnya.

“Iya Tan, maaf aku khilaf.” Kataku merasa bersalah dengan perbuatanku barusan. Seharusnya aku tidak sampai berbuat sejauh ini, ingat dia adalah Tanteku sendiri, orang yang menampungku, memberiku makan, tapi aku malah berbuat kuarang ajar kepadanya.

“Sudalah, lupakan saja kejadian malam ini, sekarang kamu tidurlah, besok kamu kuliahkan ?”

“Iya Tan, kalau begitu aku tidur duluan ya Tante.” Aku beranjak dan pergi menuju kamarku, sempat aku melihat kearahnya yang tampak gelisah, aku tau tidak mudah meredam libido yang sedang naik-naiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*