Home » Cerita Seks Kakak Adik » Ini Tentang Aku 1

Ini Tentang Aku 1

SATU

Namaku Jaka, setelah tamat SMA aku memutuskan melanjutkan kulia di jogja, di sana aku tinggal bersama keluarga Tanteku, awalnya aku merasa canggung tinggal dirumahnya, apa lagi Tante Tia tinggal bersama dua putrinya, yang paling tua Kak Zaskia, dan yang bungsu namanya Arumi masih Sma. Sementara Suaminya Om Saiful sangat jarang di rumah, soalnya dia kerja di luar kota sehingga jarang pulang.

Tak terasa sudah dua bulan aku tinggal di rumah Tanteku, dan sekarang aku sudah kulia di UIN. Selama menjalani ospek, aku berkenalan dengan seorang mahasiswi, namanya Anita, orangnya cantik dia juga anaknya periang, selain dia aku juga berkenalan dengan beberapa mahasiswa baru, diantara merereka aku hanya akrab dengan Anita dan satu lagi Toni, orangnya selengean tapi seru, selama menjalani ospek kami sering duduk bertiga, tapi sayang walaupun kami satu jurusan dan satu fakultas, kami tidak berada di kelas yang sama.

Tapi setiap kali ada waktu kosong, kami selalu berkumpul dikantin hanya sekedar mengobrol, seperti yang kami lakukan saat ini.

“Lama banget keluarnya Jak.” Sapa Anita, seperti biasanya dia terlihat begitu cantik dengan kerudung biru langitnya, senyumannya itu loh, bikin hati ini terasa meleleh di buatnya.

“Gak tau dosennya, lama banget ceramahnya, padahal baru juga perkenalan.” Lalu aku duduk di samping Toni yang sedang menikmati teh botol.

“Emang siapa Dosennya ?” Tanya Toni

“Pak Yadi.”

“Ooo… iya emang dia lama, belum lagi cara dia ngajarnya bikin ngantuk.” Timpal Anita, dia setuju dengan pendapatku kalau Pak Yadi memang dosen yang gak asyik.

“Dia belum masuk kelasku tu.”

“Kalau gitu tunggu aja Ton, nanti dia juga masuk kekelasmu kok.” Kataku sambil menepuk pundaknya, Toni tampak menanggapinya dengan santai.

Ya beginilah kami bertiga, setiap bertemu yang di obrolin bukan soal pelajaran, tapi ngobrolin orang lain, entah bercerita tentang kejadian lucu di kelas, atau tentang seseorang yang kami sukai di kelas, walaupun terkadang aku merasa cemberu ketika Anita bercerita tentang Kakak kelas kami.

Dari awal kenal dengannya, aku sudah suka dengannya, tapi sayang aku gak punya cukup keberanian untuk mengatakannya, apa lagi kami baru kenal.

“Aku duluan ya, ada kelas ni.” Ujar Toni sambil mengenakan tas ranselnya. Lalu pergi meninggalkan kami berdua.

“Kamu gak ada kelas ?” Tanya Anita.

“Gak ada, kamu sendiri gimana, masih ada kelas ?”

“Ada sih, tapi males masuk, lagi bete !” Katanya sambil memasang wajah cemberut.

“Bete kenapa ? lagi ada masalah ya ?”

“Ehmm… ada de, nanti aja aku ceritain. Kita pulang kekosku aja yuk, nanti aku ceritaan di kosku aja deh.” Ajaknya, aku mengangguk setuju, dari pada ngobrol di kantin, lebi baik aku tidur-tiduran di kosnya sambil main game di laptopnya.

Kamipun segera pergi dari kantin menuju parkiran, Anita segera memberikan kunci motornya ke aku, karena memang aku belum punya motor jadi kalau kemana-mana aku sering berboncengan dengan Anita, bahkan motornya ini terkadang seperti punyaku sendiri, karena aku lebi sering memakainya ketimbang yang punya motor.

Jarak dari Universitas tempat aku kuliah ke kosnya Anita tidak begitu jauh, paling cuman 5 menit sampe.

“Katanya tadi mau cerita.” Kataku, lalu aku rebahan diatas kasurnya sambil membuka laptopnya Anita.

“Bentar ya aku ganti baju dulu.” Lalu Anita mengambil pakaian didalan lemarinya, sebenarnya aku sedikit berharap dia mengganti pakaiannya di sini di depanku, tapi itu mustahilkan ? Ya, dia gantinya di kamar mandi yang memang menjadi satu dengan kamarnya.

Tak lama Anita keluar dari dalam kamar mandi, dia tidak lagi menggenakan kerudung, rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai indah. Baju kemejanya ia ganti dengan kaos oblong yang menurutku sedikit kebesaran, dan celana jeans ia ganti dengan celana pendek santai. Lalu dia duduk didepanku.

“Kenapa ?”

“Aku bingung Jak, ternyata Kak Reza sudah punya pacar.” Hup… lagi-lagi soal Reza. Kamu tau gak si Nit, di sini ni sakit setiap kali kamu menyebut namanya.
“Emangnya kenapa kalau dia sudah punya pacar ?” Ujarku sambil pura-pura cuek, memainkan game di laptopnya. Aku paling suka main Counter strike.

“Iiii… kamu nyebelin banget sih.” Tiba-tiba saja ia mencubitku, aku menghindar untuk mengurangi rasa sakit di lenganku. “Kamu kan tau aku suka sama dia, tapi sekarang aku harus gimana dong.” Lanjutnya, lalu ia rebahan di sampingku.

Aku melirik kearahnya, sungguh beruntung si Reza itu bisa bikin Anita seperti ini, seandainya saja mereka benar-benar pacaran. Ah… tidak tidak tidak… aku gak boleh punya pikiran kayak gitu.

“Eit dah, di tanya malah bengong.”

“Brisik, lagi serius ni.” Kataku tak memperdulikan omelannya, aku kembali sibuk bermain game di laptopnya, walaupun sebenarnya masi ada yang mengganjel di hatiku.

+++

Aku baru pulang kerumah sekitar jam lima sore, kulihat Tante Tia sedang duduk diteras rumahnya, sepertinya dia sedang sibuk membaca majala sehingga dia tidak menyadari kedatanganku.

“Sore Tante.” Sapaku kepadanya, dia melihatku sejenak lalu ia kembali membaca majalahnya.

“Baru pulang kulia, apa habis main ?” Tanya Tante Tia, aku sendiri terkadang merasa gak enak sama dia, soalnya aku sering sekali pulang terlambat, bahkan beberapa kali aku pulang larut malam.

“Habis main Tante.” Jawabku jujur sambil menggaruk-garuk kepalaku.

“Hmm, lain kali habis kulia pulang dulu baru main.” Nasehatnya tanpa melihat kearahku. “Tadi Ibu kamu telpon, dia nanyain kamu.”

“Oh iya, kapan Tante ? Kok Ibu gak nelpon ke nomorku.” Aku duduk disampingnya, ternyata Tante Tia sedang membaca majalah misteri.

“Katanya nomor kamu gak aktif, jadi dia nelpon Tante nanyain kamu.”

“Oh iya, tadi hpku habis batrei.” Kataku baru ingat kalau tadi sewaktu di kantin btrei hpku lemah. “Nanti aku telpon balik aja.”

“Makan dulu sana, tapi ambil sendiri ya.”

“Siap Tante.” Ujarku, lalu berlalu kedalam rumah.

+++

Selesai makan aku kembali kekamarku hendak mengambil handuk, setelah itu aku langsung kekamar mandi yang letaknya berada di belakang. Tapi sial ternyata kamar mandi sedang di pake, padahal aku sudah kebelet pipis.

Tak lama menunggu, pintu kamar mandi kebuka, ternyata Kak Zaskia baru selesai mandi, tubuhnya yang basah terbalut handuk. Sejujurnya, aku mulai terbiasa melihat mereka berpakaian minim didalam rumah, atau hanya mengenakan handuk sehabis mandi, tapi tetap saja setiap kali melihat mereka berpakaian minim atau seperti sekarang melihat Kak Zaskia hanya mengenakan handuk, selalu membuatku terangsang.

Harus kuakui, ketiga wanita penghuni rumah ini memang sangat cantik dan seksi, seperti Tante Tia, di usianya yang sudah berkepala empat dia masih terlihat begitu cantik, bentuk tubuhnya juga masih sangat terjaga, apa lagi Kak Zaskia yang sedang mateng-matengnya, begitu juga dengan Adiknya Arumi. Dan mereka juga memiliki satu kesamaan, yaitu ukuran payudarah mereka yang sama besarnya.

“Mau make gak ?” Tegur Kak Zaskia sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

“Eh, apanya yang mau di pake Kak.”

Pletak, Kak Zaskia menjitak kepalaku “Dasar mesum, kamar mandinya, mau di pake gak ? Gak perna liat cewek habis mandi ya ?” Ledeknya, aku hanya tersenyum cengengesan karena malu.

“Kirain tadi bidadari mana yang keluar ? Seksi banget.” Jawabku santai. Memang hubunganku dengan Kak Zaskia sangat akrab seperti tidak ada batas, tak jarang aku berbicara ceplas ceplos dengannya, bahkan terkadang menjurus mesum.

“Gombal… !” Ujarnya, tapi aku tau dia senang digombali.

“Lama banget si Kak mandinya, habis ngapain sih.” Aku sengaja mengajaknya ngobrol, agar bisa lebi lama melihatnya hanya dengan mengenakan handuk.

Kak Zaskia tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia berjalan beberapa langkah menuju kursi santai yang berada didekat lemari, lalu ia duduk sambil menyilangkan kakinya, sehingga handuknya sedikit tersingkap hingga memperlihatkan lutut hingga paha mulusnya.

“Namanya juga cewek dek, mandinya pasti lama dong, belom lagi olaraga sorenya ?” Katanya sambil tersenyum. Ini yang kusuka dari kak Zaskia, dia slalu saja bisa memancing obrolan kearah yang mesum.

Aku mendekatinya, berdiri didepannya sambil mataku berbelanja menelusuri lekuk tubuhnya.

“Olah raga gimana ?”

“Huss, ini urusan orang dewasa, mau tau aja !”

“Pasti… Kakak habis itu ya ?” Kataku pura-pura tau apa yang dimaksud dengan olah raga yang dikatakan Kak Zaskia, sambil menunjuk kearahnya aku senyum-senyum sendiri.

“Apa ? Pasti mesum… ”

“Emang Kakak mesum kok.” Kataku.

“Kalau mesum emanya kenapa ? Adek kan tau sendiri, pacar Kakak lagi pulang kampung.” Katanya sambil memasang wajah murung. Ceritanya dia sekarang lagi galau ditinggal pacarnya.

“Kasiaan ! Hahaha… ”

“Sudah sana mandi, nanti kamu kepingin lagi… ” Usirnya sambil mendorongku. “Dari tadi ngeliatin Kakak kayak gitu banget, jadi takut.”

“Iya de Kak, aku mandi dulu ya… ” Kataku, lalu aku segera masuk kedalam kamar mandi, tapi sebelum aku menutup pintu kamar mandi, Kak Zaskia kembali menggodaku.

“Jangan lupa di bersiin, jangan ninggalin jejak hihihi… ” Ujarnya sambil mengidipkan mata, lalu berlalu pergi meninggalkanku. Dasar Kak Zaskia, tau aja kalau aku mau coli di kamar mandi.

+++

Tidak biasanya aku pulang lebi awal, tapi hari ini keadaan rumah tampak sepi, hanya ada motor miliknya pacar Kak Zaskia. Hmm… mereka pasti lagi begituan, dasar Kak Zaskia, paling gak bisa nahan kalau rumah lagi sepi, kalau sampe kepergok oleh orang lainkan bahaya. Aku segera mengetuk pintu.

“Kak… ini aku Jaka.” Panggilku tapi gak ada jawaban.

Tok… tok… tok… “Buka dong Kak, lapeeer ni.” Lagi aku coba memanggilnya tapi tetap gak ada jawaban, walaupun sudah berteriak sekencang-kencangnya tapi tetap saja tidak ada yang membukakan pintu.

Mungkin Kak Zaskia lagi asyik di kamarnya bareng Mas Andi, lebi baik aku samperin aja kekamarnya. Aku berjalan memutari rumah lewat samping, lalu berhenti di depan jendela kamar Kak Zaskia. Dan ternyata benar, Kak Zaskia lagi berbuat mesum dengan Mas Andi.

Kulihat Kak Zaskia sedang terlentang, sementara Mas Andi sedang menindi tubuhnya, pinggulnya bergerak maju mundur menyodok memek Kak Zaskia. Mas Andi memang beruntung bisa ngentot dengan Kak Zaskia yang cantiknya melebihi bidadari.

“Kak… pintunya di bukain dulu dong.” Panggilku sambil mengetuk-ngetuk jendela kamarnya.

Sebenarnya aku sudah sering memergoki Mas Andi ML dengan Kak Zaskia, waktu di awal-awal aku memang salah tingka, begitu juga dengan mereka, bahkan aku sempat tidak saling sapa dengan Kak Zaskia. Tapi pas kedua kalinya aku memergoki mereka berbuat mesum, Kak Zaskia menghampiriku, kupikir dia akan marah, tapi ternyata tidak.

Dia mengajakku bicara empat mata, caranya dewasa bangetkan, dia memintaku untuk merahasiakan perbuatannya dengan orang rumah, dia juga memberikan penjelasan tentang perbuatan mereka yang di anggap wajar oleh Kak Zaskia, aku sendiri juga tidak mau ambil pusing soal perbuatan mesum mereka berdua, jadi aku katakan kepadanya kalau aku tidak akan mengadukan perbuatannya ke Tante Tia.

Sepertinya Kak Zaskia tidak memperdulikan panggilanku, padahal Mas Andi memintanya berhenti sejenak, tapi Kak Zaskia tetap memaksa Mas Andi untuk terus menyetubuhinya. Dasar Kak Zaskia gak pengertian, padahal di sini aku sudah panas dingin melihat perbuatan mesum mereka, seharusnya Kak Zaskia mengerti kalau aku juga pria normal.

“Saaayang aku keluaar !” Pekik Mas Andi, lalu tubuhnya yang bermandikan keringat bergetar, sedetik kemudian tubuhnya ambruk disamping Kak Zaskia.

“Ayo dong Mas, aku belum puas ni.” Rengek Kak Zaskia, sepertinya Kak Zaskia belum orgasme, ternyata Kak Zaskia nafsunya besar juga.

“Capek sayang, nanti lagi ya… mending kamu bukain pintu buat Jaka, kasian dia dari tadi nungguin kita.” Ujar Mas Andi sambil melirikku yang sedang berdiri pasrah seperti orang pesakitan.

Akhirnya Kak Zaskia mau juga turun dari atas tempat tidurnya, dia mengambil kimono berwarna hijau, lalu mengenakannya ala kadarnya untuk menutupi tubuh telanjangnya. Aku segera kembali kedepan pintu utama menunggu Kak Zaskia membukakan pintu, tak lama kemudian “kleek” terdengar suara anak kunci yang sedang diputar.

“Maaf ya nunggu lama, habis tadi nanggung.” Katanya tak bersemangat.

“Hari ini makan lauknya apa ?” Tanyaku, tak begitu mengubris ucapannya.

“Lihat aja di meja makan.” Jawabnya singkat. “Kakak ke kamar lagi ya, kalau butuh sesuatu panggil aja, tapi jangan ngintip kayak tadi, gak sopan.” Ujarnya galak, sepertinya modnya lagi tidak baik.

Aku tak lagi mengomentari ucapannya, aku langsung menuju dapur, kebetulan perutku sudah sangat lapar, sudah dari tadi minta untuk segera di isi.

+++

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*