Home » Cerita Seks Kakak Adik » Jalan Menuju Dewasa 4

Jalan Menuju Dewasa 4

Bagian 4: Cinematography [Part 1]

Singkatnya, di sekolah gue ada semacam pelajaran muatan lokal tentang perfilman. Yap, cinematography. Buat gue yang ga terlalu senang menghitung dan menghapal, matpel ini bagai oasis di tengah gurun pasir. Apalagi ketika gue tahu ada tugas akhir untuk membuat film bersama. Karena kelas gue berisi 36 orang, maka murid-murid disuruh membuat 6 kelompok masing-masing berisi 6 orang. Tanpa banyak omong, hanya dengan bertukar-pandang, Gue, Fadil, Yudis, dan Dimas langsung satu kelompok. Namun itu berarti kita masih kurang 2 orang. Tanpa dicari, dua cewe yang selalu duduk di depan gue menawarkan diri untuk bergabung. Gloria dan Rachel.

Gloria, saat itu siswi 1 SMA. Tinggi sekitar 160cm. Salah satu bahan obrolan cowo di sekolah gue, karena bodinya yang luar biasa. Ukuran BHnya 36c, inget banget soalnya pernah nanya. Kulitnya cukup putih untuk orang asli pribumi.

Rachel, saat itu siswi 1 SMA, teman dekat Gloria sejak SD. Tinggi sekitar 155cm. Ukurannya 34a, tapi lekukan badannya cukup bagus. Pantatnya benar-benar bulat dan padat. Sedikit tidak proporsional dibanding badan mungilnya.

Kedua merupakan murid paling pintar di kelas. Ranking 1 dan 2 berurutan.

Guru pembimbing menyuruh kami berkumpul sesuai kelompok dan mendiskusikan tema yang ingin diangkat. Temanya bebas. Fadil, dengan otak mesumnya mengusulkan tema pergaulan bebas remaja. Yudis dan Dimas setuju sementara gue menyerahkan keputusan kepada Gloria dan Rachel. Gimanapun juga, gue gaboleh keliatan seperti lelaki berotak remeh macem Fadil. Terlebih gue memendam rasa (dan nafsu) terhadap Gloria, yang saat itu, sudah punya pacar. Secara mengejutkan, Gloria setuju. Sehingga walau Rachel menunjukkan penolakan, perbandingan suara sudah 4 lawan 2, jadinya tema kelompok kami adalah pergaulan bebas.

Penggarapan skenario pun dimulai. Fadil sangat aktif dalam hal ini, sementara Yudis dan Dimas hanya bernyanyi lagu setuju. Gue hanya diam, terlalu fokus memperhatikan Gloria dan juga reaksi Rachel yang berlawanan dengan Gloria yang antusias. Intinya sih standar, ada sepasang remaja yang sedang terlibat asmara dan penasaran dengan hal-hal yang seharusnya belum boleh dilakukan. Kemudian ada satu poin dimana mereka menyesali perbuatan tersebut. Rachel menolak mentah-mentah tawaran menjadi pemeran wanita utama. Sementara Gloria mau tidak mau menerima dengan satu syarat.

ÔÇ£Pemeran cowonya Geri yaÔÇØ Gloria mengajukan syaratnya.
ÔÇ£Kenapa Geri?ÔÇØ tanya Fadil yang penasaran dan menunjukkan sedikit ekspresi kecewa.
ÔÇ£Ya karena dia keliatan lebih normal dibanding kalianÔÇØ sahut Gloria sambil meledek Fadil dkk. Gue pun hanya menatap Fadil dkk dengan senyuman kemenangan sambil sedikit menahan tawa.
ÔÇ£Deal. Tenang glo, lo aman sama gueÔÇØ sahut gue sesaat sebelum melepas tawa dari rongga mulut gue.

Bel istirahat berbunyi pertanda pelajaran cinematography telah berakhir. Sebelum keluar kelas, kelompok gue sepakat untuk kerja kelompok di rumah gue hari Sabtu nanti. Dalam perjalanan menuju kantin kita berempat terlibat pembicaraan tidak penting yang agak seru.

ÔÇ£Bangsat, kenapa lu yang dapet dahÔÇØ kata Fadil membuka obrolan
ÔÇ£Biasa, rejeki anak soleh dil hahaÔÇØ sahut gue tertawa
ÔÇ£Gapapa dah, gue ambil Rachel ajaÔÇØ sahut Dimas yang ternyata cukup pasrah asal tetap dapat jatah
ÔÇ£Woy jatah gue tuhÔÇØ kata Fadil lagi
ÔÇ£Lah semuanya aja lo pengen dilÔÇØ teriak Yudis sambil menjitak kepala Fadil.

Hari sabtu pun tiba. Berkat kak Ikha yang membangunkan gue sebelum dia pergi sama bokap nyokap ke nikahan saudara, gue jadi tidak terlambat untuk menjemput Gloria dan Rachel di sekolah. Kebetulan mereka habis latihan Cheerleader di sekolah sejak pukul 7 sampai sekarang, ketika jarum pendek berada di antara angka 9 dan 10. Terlebih, mereka berdua belum tau lokasi rumah gue. Beda urusan sama 3 anggota kelompok lain yang sudah sering banget main ke rumah cuma buat ngeliatin kak Ikha.

Gue menunggu cukup lama di dalam mobil sebelum dua gadis itu keluar dari gerbang sekolah. Gloria duduk di samping gue dengan balutan jersey sepakbola berwarna putih milik sebuah klub besar di Eropa sana, sedangkan Rachel mengenakan longsleeve tipis berwarna hitam dengan kerah rendah. Lebih dari cukup untuk membuat pikiran berlarian tidak karuan entah kemana. Tidak banyak interaksi di dalam mobil selain obrolan yang tidak begitu penting. Jalanan sabtu siang yang kosong membuat gue cepat sampai di rumah untuk melihat Fadil, Dimas, dan Yudis sudah menunggu di depan rumah. Setelah mempersilahkan mereka masuk dan memberikan minum, diskusi pun berlanjut.

Fadil dengan bantuan Yudis menjelaskan tentang teknik siluet yang ingin ia buat menggunakan kain putih dan lampu sorot yang ia pinjam entah darimana. Katanya itu untuk adegan erotisnya biar tidak terlalu vulgar. Dimas dan Gue cuma mengangguk-angguk saja, Gloria memperhatikan dengan seksama sementara Rachel terlihat menyesal sekelompok dengan Fadil.

ÔÇ£Terus ntar gue sama Geri harus ngapain di belakang kainnya?ÔÇØ tanya Gloria dengan raut wajah serius.
ÔÇ£Ya terserah sih, pelukan kek, apa kek, yang penting keliatan gitu lah. Gak lama kok, yang penting ada bagiannya buat dimasukin ke filmÔÇØ jawab Fadil tidak kalah serius.
ÔÇ£Emangnya gapapa sama Pak Andi? -guru cinematography-ÔÇØ sahut Rachel yang akhir bersuara menentang konsep ini.
ÔÇ£Tergantung sih, tergantung Geri sama Gloria ngapain.ÔÇØ Yudis membantu Fadil menjawab pertanyaan.
ÔÇ£Oh oke gue ngerti. Gimana kalo gue kaya pelukan gitu terus dijatohin ke kasur?ÔÇØ sahut Gloria, masih serius, namun direspon dengan wajah mesum khas Fadil.
ÔÇ£Senyamannya lo aja Glo, gue sih bebasÔÇØ sahut Fadil, padahal dia yang paling maksa sejauh ini.
ÔÇ£Ok gue setuju, lo ga keberatan kan Ger?ÔÇØ tanya Gloria ke gue.
ÔÇ£Selama ada jaminan gue ga dipukulin cowo lo sih gapapaÔÇØ kata gue berusaha memancing reaksi.
ÔÇ£Haha santai kali Ger, buat tugas iniÔÇØ

===

Atas permintaan Fadil yang entah sejak kapan berubah jadi Sutradara, kita pun pindah ke kamar gue untuk take adegan yang dibahas tadi. Katanya mumpung masih di rumah gue jadi take aja sekalian sebelum take yang diluar rumah. Gaada yang bener-bener spesial sih sebenernya, gue dan Gloria benar-benar melakukan sesuai instruksi Fadil. Kita seolah pelukan dan gue menjatuhkan Gloria ke kasur, di balik kain putih yang disoroti lampu. Kita mengulangi adegan tersebut 3 kali, termasuk menuruti permintaan Fadil untuk membalik situasinya menjadi Gloria yang mendorong gue jatuh. Pas take bagian ini, entah sengaja atau tidak, Gloria menduduki junior gue yang setengah bangun karena berkali-kali melakukan adegan ini. Ada sebuah senyuman manis yang muncul di wajah Gloria, sebuah senyum yang tersembunyi di balik kain putih dan hanya gue yang bisa lihat.

Sebelum kita beranjak keluar untuk take di luar ruangan, sebuah pesan masuk ke handphone gue.

Gloria: baru gitu aja udah bangun

Gue yang sedikit kaget langsung mencari Gloria yang sudah turun ke lantai 1. Gloria hanya melihat kearah gue sambil menahan tawa. Tidak lama ia kembali mengetikan kata demi kata di handphonenya. Beberapa detik kemudian handphone gue bergetar pertanda ada pesan baru yang masuk.

Gloria: kayaknya sih lebih dari punya cowo gue

Gue gak sempat merespon pesan tersebut karena Fadil sudah menginstruksikan untuk melanjutkan shooting. Adegan demi adegan pun kita ambil. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Gue cukup salut karena semua adegan bisa diambil cuma dalam satu hari. Walaupun kemudian gue sadar, cuma gue yang bisa edit video sehingga kerjaan gue bertambah. Dengan berat hati gue terima kerjaan tersebut sebelum gue mengantarkan Rachel dan Gloria pulang. Rumah mereka yang ternyata cukup jauh dan jalanan yang macet membuat cukup banyak waktu dihabiskan di mobil. Awalnya terdengar menyebalkan sebelum Gloria mengarahkan tangannya mengelus paha kiri gue. Gue cuma menoleh kearah Gloria yang menyuruh gue untuk tetap diam. Gue lihat kearah spion tengah untuk memastikan Rachel masih sibuk melihat-lihat foto yang ia ambil bersama anak-anak menggunakan DSLR tadi. Sementara tangan kanan Gloria menjelajah paha gue dan menarik turun resleting jeans yang gue kenakan. Jemarinya pun mulai masuk ke sela resleting yang terbuka.

Glo, liat deh foto yang ucapan Rachel terpotong melihat situasi yang ada di depan matanya.
ÔÇ£Hel, diam aja yaÔÇØ kata Gloria tanpa menarik kembali tangannya. Kali ini justru tangan kirinya ikut bergerak membuka kancing celana yang masih mengganjal. Refleks, gue mengangkat sedikit pinggang gue untuk memudahkan Gloria menurunkan sedikit celana jeans dan celana dalam gue. Ia tidak perduli Rachel masih terpaku sambil memegang DSLR. Kedua tangannya pun berhasil mengeluarkan junior gue dari kandangnya. Kalau kaca mobil gue belum dilapisi mungkin gue akan panik dan menghentikan Gloria, tapi untungnya tidak.
ÔÇ£Ih Glo ga jijik apa?ÔÇØ kata Rachel tapi tetap memperhatikan.
ÔÇ£Udah sering kali, jadi biasaÔÇØ sahut Gloria sebelum menyumpal mulutnya dengan junior gue yang hanya masuk kepalanya saja. Gak lama, tapi tidak sebentar juga kepala junior gue dilibas habis dengan lidah dan hisapan bibir Gloria yang cukup tebal sebelum akhirnya ia mengeluarkan junior gue dari mulutnya dan melepas tangan kanannya untuk meraih DSLR yang dipegang oleh Rachel lalu menaruhnya di dashboard mobil.

ÔÇ£Sini hel cobaÔÇØ kata Gloria sambil menarik tangan Rachel yang tidak memberikan perlawanan. Gloria pun menempatkan tangan kiri Rachel di 2 bola kecil di sela paha dan tangan kanan Rachel memegang badan junior gue dengan mantap. Gloria menuntun tangan Rachel untuk meremas dan mengocok junior gue. Sementara gue berusaha tetap konsentrasi untuk mengemudikan mobil di tengah kemacetan. Gloria pun melepaskan tuntunannya dan membiarkan tangan Rachel yang tetap memanjakan junior gue. Tanpa menunggu lama, Gloria mengarahkan kepala Rachel untuk menelan habis junior gue.

Rachel sama sekali tidak melawan ketika junior gue, yang hanya masuk setengahnya, memenuhi rongga mulutnya. Gue yang tetap berusaha mengemudi pun menaruh tangan kiri gue diatas badan Rachel sehingga gue masih bisa mengganti persneling tanpa kesusahan. Entah apa yang merasukinya, tapi Rachel mengikuti setiap instruksi yang dikeluarkan Gloria. Cuma gue yang sadar bahwa Gloria mengambil DSLR yang menganggur, gue tahu Gloria ingin mengabadikan momen ini. Sehingga tangan kiri gue pun menahan kepala Rachel sebelum ia meronta setelah mendengar suara dari DSLR di tangan Gloria. Namun usahanya sia-sia karena Gloria turut menahan kepala Rachel sambil mengocok junior gue. Udara hangat di mulut Rachel yang berusaha berbicara dan gerakan tangan Gloria membuat gue tidak tahan untuk keluar. 1 2 3 beberapa mililiter lendir bening agak putih pucat memenuhi rongga mulut Rachel yang tidak lama kemudian terbatuk setelah menelan beberapa cairan.

ÔÇ£Kok lo foto-foto sih Glo?ÔÇØ sahut Rachel sambil mengelap bibirnya menggunakan handuk yang ia ambil dari tasnya.
ÔÇ£Gapapa biar seruÔÇØ jawab Gloria setengah tertawa sebelum menaruh DSLR tersebut di bawah jok gue, jauh dari jangkauan Rachel sebelum Gloria menjilati habis sperma yang disia-siakan oleh Rachel dan membersihkan junior gue.

Suara klakson mobil di belakang gue membuat gue gabisa ikut menggoda Rachel yang masih mengumpat Gloria yang hanya tertawa. Gue pun lanjut mengemudi dan mengantarkan kedua gadis itu dengan selamat sampai rumah masing-masing. Tidak lama setelah gue sampai di rumah, 2 pesan masuk ke handphone gue

Gloria: ternyata emang lo lebih gede dari cowo gue

Rachel: apus foto gue plis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*