Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wisata Dengan Keluarga

Wisata Dengan Keluarga

Dani terbangun, duduk lantas terkejut. Dia menyadari berada di ruangan yang agak lapang, pintu warna putih namun tiada jendela. Di tengah ruangan terdapat ranjang, kasur dan bantalnya berwarna putih. Di salah satu dinding ada toilet duduk, bersebelahan dengan wastafel dan tempat mandi. Di dinding lain terdapat meja kecil.

Dani lantas melihat dirinya sendiri yang sedang memakian pakaian aneh, pakaian yang seperti dipakai oleh pasien saat akan dioperasi, namun yang dipakai oleh Dani berwarna biru. Dani mencoba berpikir, Dani ingat suara ÔÇô suara yang muncul saat sedang tertidur. Namun tak jelas apa artinya. Dani lantas mendekati toilet, kencing sambil mengingat apa yang terakhir terjadi.

***

Dani, Tari kakaknya, serta Meli mamanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat wisata. Liburan taunan ini biasanya dilakukan menuju tempat wisata baru yang belum pernah dikunjungi keluarganya. Dani sangat menyukai acara ini, tapi tari tak menyukainya. Di perjalanan Tari tak hentinya mengeluh. Sifat ayah yang tempramental dan keras kepala rupanya menurun pada Tari. Belokan dan guncangan membuat Tari membuka jendela mobil, mengeluarkan kepala lalu muntah.

Jalur ini merupakan jalur baru yang belum pernah dilalui keluarga kecil ini. Karena itu, wajar apabila keluarga ini tersesat. Dani melihat kompas yang ada di arlojinya, namun anehnya jarum kompas selalu berputar searah jarum jam dengan cepat. Hp pun tak ada sinyal. Hingga akhirnya mobil berada di jalan tanah pedesaan tanpa aspal.

Entah karena capek atau tak tau jalan, mobil yang dikendarai Meli menabrak sesuatu hingga tak bisa bergerak. Meli coba injak gas namun tak jua gerak. Setelah melalui perdebatan yang cukup panas, akhirnya diputuskan untuk berjalan ke dataran yang agak tinggi untuk mencari sinyal hp.

Dalam malam yang kelam, Dani memegang senter dan mulai melangkah diikuti kakak dan mamanya. Setelah beberapa menit berjalan, meraba ÔÇô raba dalam gelap, ketiganya mulai melihat cahaya samar ÔÇô samar di kejauhan. Muncul secercah harapan di hati sanubari ketiga insan sedarah itu.

Langkah mereka makin cepat. Akhirnya mereka mengetahui sumber cahaya tersebut. Sebuah bangunan seperti bangunan peninggalan kumpeni, berwarna putih dan tinggi, berdiri terpencil tanpa bangunan lain di bukit ini. Di pintu yang diperkirakan merupakan pintu depan, terdapat tulisan ÔÇ£kliniekÔÇØ.

Dani mencoba mendorong pintu, ternyata tidak terkunci. Dani lantas masuk diikuti mama dan dan Tari. Di lobi, terdapat sebuat sofa merah. Tiada seorang pun terlihat. Capek setelah berjalan, ketiganya memutuskan untuk duduk dahulu. Sofa merah itu terlihat bersih, tanpa ada debu yang menempel.

Beberapa menit berselang, dari dalam muncul seorang wanita berusia tiga puluhan membawa baki. Di baki itu terdapat tiga cangkir minuman, ÔÇ£selamat datang di tempat kami. Silakan barangkali haus.ÔÇØ

ÔÇ£Eh, iya. Maaf sudah merepotkan.ÔÇØ Mama bersuara sambil meraih satu cangkir, diikuti oleh putra dan putrinya.

Setelah minum, ketiganya mulai menyadari keanehan yang terjadi. Wanita tersebut hanya memakain pakaian khusus pasien yang akan dioperasi, namun berwarna hijau. Terlihat jelas wanita tersebut tidak memakai bh. Susunya memang tidak besar, namun putingnya terlihat jelas menantang, membuat celana jin Dani menjadi sesak.

ÔÇ£Sebentar lagi petugas jaga menemui anda.ÔÇØ

Saat perempuan itu berbalik untuk pergi, mama bankit lalu memegang tangan perempuan itu, ÔÇ£maaf, kalau boleh tahu, ini di mana ya? Kami tersesat, mau mencari sinyal hp untuk meminta pertolongan.ÔÇØ

Wanita tersebut berbalik lalu menatap mama. ÔÇ£Maaf bu, saya bukan bagian informasi. Sebentar lagi petugasnya datang, silakan ibu bertanya kepadanya.ÔÇØ Wanita tersebut lalu melepas lengannya dari tangan mama, lalu bergegas masuk.

Setelah wanita tersebut menghilang, ketiganya lantas meminum minumannya masing ÔÇô masing. ÔÇ£Tehnya aneh,ÔÇØ Tari berkomentar. Dani mengangguk mengiyakan.

ÔÇ£Sudah, minum aja yang ada. Dikasih juga udah untung.ÔÇØ

Setelah sepeminuman teh, dari dalam muncul pria paruh baya penuh uban memakai jas putih khas dokter. ÔÇ£Selamat datang, saya dr. Ilham. Anda pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh.ÔÇØ

Dani ingat, dokter itu menyajukan pelbagai pertanyaan yang intinya kenapa mereka bisa sampai di tempat itu. Mama menjawab, bahkan meminta bantuan agar bisa menghubungi kerabat. Suara mama terdengar aneh, tidak seperti biasanya. Tari sudah tertidur di sofa. Saat Dani akan bicara, suaranya tak mau keluar. Hm, tidak terduga. Tak kehilangan akal, Dani lantas mencoba berkomunikasi melalui tangannya. Namun, saat Dani mengangkat tangan, tiba ÔÇô tiba muncul satpam.

Hal terakhir yang Dani ingat adalah, dokter Ilham melepas pakaian mama hingga telanjang. Melihat susu mama, Dani serasa ingin menyentuhnya. Saat mata Dani akhirnya menutup, Dani mendengar dokter menyuruh satpam agar mobil mereka diamankan. Satpam langsung menjawab dengan berkata ‘enam sembilan.’

***

Sekarang Dani kembali ke situasinya. Mencoba membuka pintu, namun terkunci. Dani memutuskan untuk duduk. Setelah duduk, di dinding tiba ÔÇô tiba menggeser hingga nampak sebuah panel, jendela kaca. Dari jendela, Dani melihat sebuah lorong dengan tiga ruangan berpanel kaca.

ÔÇ£Selamat pagi Dani. Semoga tidurnya nyenyak.ÔÇØ Suara dokter Ilham menggema.

ÔÇ£Sss… ssss…ÔÇØ rupanya Dani masih tak bisa bersua. Hanya serak ÔÇô serak basah.

ÔÇ£Mohon sabar, anda belum bisa bersua dikarenakan efek samping obat yang tercampur dengan minuman yang anda minum. Mungkin ini mengejutkan, tapi anda adalah tamu kami. Keberadaan anda di klinik ini mungkin hanya beberapa minggu. Tapi bisa juga lebih cepat atau lebih lama, tergantung pada pengobatan anda. Seperti anda lihat, setiap orang memiliki ruangannya tersendiri. Tapi ke depan bisa saja berubah.ÔÇØ

Muncul satu panel lain dari dinding, dengan tombol ÔÇô tombol khusus. ÔÇ£Anda kini memiliki kontrol atas kamar lain. Bisa anda kunci atau buka kuncinya. Bisa anda dinginkan acnya, atau bahkan bisa anda buat panas hingga gerah. Anda juga bisa memberi makanan atau pun tidak. Namun semua itu ada harganya. Misal, jika saudarimu ingin makanan, maka saudarimu harus memberikan sesuatu sebagai gantinya. Namun hati ÔÇô hati, jika anda kedapatan memberi melebihi apa yang seharusnya, si penerima akan menerima hukuman. Anggap saja, anda adalah pemilik mereka.ÔÇØ

Dani mendadak ingat sebagian ucapan dokter itu dalam mimpi, ‘miliki… miliki… miliki…’

***

Meli terbangung. Melihat ke sekeliling lantas ke dirinya. Meli dapati dirinya telanjang, berbaring dengan bantal kecil sebagai sandaran. Ranjangnya melekat ke dinding. Ada empat dinding, tiga dinding bercat putih dan satu dinding terbuat dari kaca. Di sudut, terdapat toilet duduk, wastafel serta sebuat tempat mandi. Semua itu dari stainless steel.

Meli mencoba berdiri sambil memanggil anak ÔÇô anaknya. Namun lututnya sangat lemah, suaranya pun tak mau keluar. Meli pun memutuskan untuk kembali berbaring. Di pembaringan, Meli ingat mimpinya. Dalam mimpi itu, berulang kali terdengar perintah agar Meli menuruti semua perintah anaknya, Dani.

Setelah perintah itu diulang ÔÇô ulang, dalam mimpi Meli merasa bibirnya dicium bibir Dani. Tangan Dani meremas susunya. Mulutnya menghisap kontol anaknya.

Meli jadi ingat. Setelah suaminya kabur dengan wanita lain, beberapa kali dia menjalin hubungan. Tapi selalu kandas. Akhirnya tiga tahun belakangan ini dia tak pernah lagi disentuh.

Mimpi itu, meski sangat tidak masuk akal, telah membangkitkan kembali gairah seks Meli. Meli merasa memeknya gatal dan ingin disentuh. Meli mulai menyentuh memek dengan jemari, memejamkan mata dan mulai menggerakan jemarinya…

***

Tari tersadar dari tidurnya. Mendapati keadaanya yang aneh, Tari lantas menuju dinding kaca, menggedor ÔÇô gedor sambil meminta tolong. Namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Kenyataan ini membuat Tari menjadi pusing hingga menangis. Tari sungguh benci liburan ini. Tari benci mobil bututnya, Tari benci ayah yang telah meninggalkannya, Tari membenci keluarganya. Tari penuh dengan kebencian.

Merekalah sumber semua ini. Mereka memaksanya untuk ikut liburan ini. Sementara, Tari tak ingin pergi. Tari ingin menghabiskan waktu bersama teman ÔÇô teman. Gila ÔÇô gilaan sambil jalan ÔÇô jalan.

Setelah puas menangis, Tari mendadak ingat mimpinya. Dalam mimpi, Tari seperti mendapat perintah agar menuruti Dani. Perintah itu dikatakan berulang kali. Setelah itu, Tari berbaring telanjang di lantai. Merasa jijik dengan perintah itu.

***

Meli mendengar suara klik. Pintu lantas terbuka dan masuklah Dani. Menyadari ketelanjangannya Meli mencoba menutupi tubuh dengan selimut kecil. Dani mendekati dan menyodorkan sebotol minuman. Meli meraih lalu meminumnya. Dani lalu memegang kedua pipi mama dan mencium bibir mama.

Beberapa hari ke belakang, Meli akan langsung menampar pipi anaknya atas kelakuannya itu. Namun Meli hanya diam saat lidah anaknya mencoba masuk ke mulutnya. Tangan anaknya menyelinap selimut dan mengelus susunya, namun Meli tak melawan.

Dani lantas berdiri tegak menghadap mama. ÔÇ£Aku senang kamu baik ÔÇô baik saja. Biar gak pusing, kita sedang jadi objek eksperimen. Sekarang, aku yang mengambil alih semuanya. Kamu sama Tari mesti nurut. Baik di sini maupun nanti setelah keluar dari sini. Kamu mau kemana, apa yang kamu pakai, apa yang kamu lihat aku yang tentukan. Semakin cepat kamu menyadari posisi barumu, semakin cepat kita keluar dari tempat ini.ÔÇØ

Meli menatap anaknya, tertegun. ÔÇ£Kamu mau apa nak? Kenapa kamu gak sebut ‘mama’, malah ‘kamu’?ÔÇØ

Dani tersenyum, ÔÇ£mulai sekarang kamu milikku. Terserah aku untuk menyebutmu apa aja. Mau mama, mau kamu, mau istriku, mau lonteku. Kamu mesti melakukan apa yang aku suruh. Kalau tidak, kamu takkan mendapat makanan dan atau minuman. Bahkan takkan mendapat kenyamanan. Faham?ÔÇØ

Dani lantas menarik selimut dari tubuh mama hingga telanjang. ÔÇ£Sekarang berlutut, isep kontolku, sementara tanganmu ngocok memekmu!ÔÇØ

Meli lantas berlutut dan meraih kontol anaknya. Kontol anaknya lantas diisepnya sementara anaknya melihatnya. Anehnya Meli merasa nyaman melakukan ini, bahkan suara anaknya terdengar menenangkan. Tangan kananya memegang kontol, sementara tangan kirinya bermain di memeknya sendiri.

Dani memperhatikan mama yang sedang mengisap kontolnya, ÔÇ£Kamu belum terlalu tua. Mulai sekarang, kamu mesti hamil.ÔÇØ

Tanpa melepas kontol dari mulutnya, Meli mengganggukkan kepalanya.

ÔÇ£Kamu kayaknya mau keluar. Ayo lonteku, jangan di tahan. Biar kudengar suaramu.ÔÇØ

Tangan Meli semakin liar di memeknya, dan kata ÔÇô kata anaknya membuatnya keluar hingga menjerit nikmat. Meli merasa orgasmenya kali ini sungguh sangat nikmat, melebihi apa yang bisa diberikan mantan suaminya. Meli lantas melepas kontol dari mulutnya, lalu mencoba menghirup nafas sambil terengah ÔÇô engah.

ÔÇ£Kamu bener ÔÇô bener lonte, Mel. Aku bakalan senang buntingin kamu.ÔÇØ

ÔÇ£Mama hanyalah lontemu,ÔÇØ desah Meli sambil berlutut gaya anjing.

Dani lantas berlutut di belakang mama. Kontolnya didorong hingga masuk ke memek mama. Tangan Dani meraih susu mama meremas susu dan memelintir putingnya. Meli tiba ÔÇô tiba ingat, tanpa hubungan dengan siapa pun, dia tak memakai kb. Saat anaknya menyemburkan benih di rahimnya, Meli tau sebentar lagi dia bisa hamil. Keduanya lalu tergulai lemas di lantai.

Meli sudah lemah saat mulut anaknya menyusu, sementara kontolnya menusuk memeknya berkali ÔÇô kali. Anaknya bahkan mencoba menggigit putingnya membuat Meli kembali keluar.

ÔÇ£Ahh… terus… terus… hamilin mama… ahhh…ÔÇØ Meli menegang saat keluar, namun sodokan anaknya yang tanpa henti kembali memuatnya keluar. Setelah anaknya menyemburkan lagi peju di memeknya, anaknya tergulai di atas tubuhnya. Peluh mereka bercampur. Kontol anaknya akhirnya mengecil. Meli tak ingin kontol anaknya lepas dari cengkraman memeknya, namun akhirnya lepas juga. Dialah anaknya, pemiliknya, ayah dari calon anak ÔÇô anaknya. Meli merasa bahagia.

***

Tari berbaring di lantai. Kelelahan setelah mencoba berteriak hingga ambruk. Tari sangat haus, begitu hausnya hingga meraih mangkuk stainless lalu minum. Meski mangkuk itu bersih, tetap saja Tari merasa jijik. Samar ÔÇô samar Tari mendengar desahan dan suara ÔÇô suara. Setelah beberapa saat, tari mengenal suara itu, suara mama dan adiknya. Kemudian, Tari mendengar suara seperti orang yang sedang ngentot. Juga mendengar mama keluar beberapa kali.

Tapi siapa yang sedang ngentot sama mama? Suara klik terdengar, pintu terbuka lalu muncul adiknya telanjang. Beraroma seksual.

ÔÇ£Apa ÔÇô apaan ini? Mana mama? Kenapa lu telanjang?ÔÇØ

Dani mendekat lalu berdiri di sebelahnya. Kontolnya keras dan basah. Juga beraroma campuran peju dan cairan memek.

Perlahan Dani menjelaskan kenapa mereka sampai terjebak di tempat ini. Bagaimana ia harus mengambil kontrol agar bisa keluar. Juga bagaimana seharusnya agar mereka bisa cepat pulang.

ÔÇ£Dan sekarang,ÔÇØ lanjut Dani, ÔÇ£karena gw abis ngentot Meli, lu mesti isep kontol gw. Gak ngisep gak makan.ÔÇØ

ÔÇ£Mati aja lu!ÔÇØ kata Tari sambil berbalik hingga membelakangi adiknya.

ÔÇ£Terserah.ÔÇØ Dani meraih rambut kakanya, lalu mengusapkan ke kontolnya hingga rambut kakanya penuh aroma peju. ÔÇ£Gw bakal bikin kamar ini dingin tanpa makanan dan air. Biar bau kotoran lu.ÔÇØ

***

Detik ÔÇô detik berganti dengan menit dan menit pun silih berganti. Hari ÔÇô hari pun terus berganti, Dani terus ngentot Meli. Juga melatihnya dengan bimbingan dokter.

Tari terus menolak, meski keaadannya tambah parah.

Suatu pagi di kamarnya, Dani merasa lapar. Dani memijit tombol makanan. Makanan pun datang, biasanya satpam yang mengantarkan. Namun kali ini, pengantar makanan adalah wanita pembawa baki dahulu. Setelah wanita itu menyimpan makanan, Dani segera berdiri menghalangi pintu keluar.

ÔÇ£Tunggu sebentar. Saya ingin kenal kamu.ÔÇØ

Wanita itu lantai melihat lantai, menghindari kontak mata. ÔÇ£Dokter mengizinkan saya bicara anda ditanya oleh anda.ÔÇØ

ÔÇ£Siapa namamu?ÔÇØ

ÔÇ£Saya tak punya nama, hanya nomer. 19902.ÔÇØ

ÔÇ£Bagaimana kamu bisa sampai di sini?ÔÇØ

ÔÇ£Dulu ada seorang anak nakal berusia empat belas tahun. Orang tuanya tak sanggup lagi membimbing anak nakal tersebut hingga tak lagi memiliki ide bagaimana cara untuk menyelamatkannya. Daripada anak nakal tersebut berakhir di prodeo, maka orang tua tersebut memasukan anak nakal itu ke klinik ini. Anak nakal itu dicabut nama, asal ÔÇô usul dan pakaiannya. Anak nakal itu dilatih sedemikian rupa hingga berubah menjadi penurut. Setelah berubah, anak nakal itu diberi nomor identitas, yaitu 19902. sebagai gadis penurut, 19902 akan tetap disini hingga ada orang lain yang mau membawanya dan juga menamainya. Serta melihat 19902 apa adanya.ÔÇØ

Setelah berkata, 19902 kemudian meraba rambut dan menariknya hingga lepas. Rupanya 19902 memakai wig. Kepalanya plontos tanpa sehelai rambut. Setelah itu, 19902 melepas pakaian hingga akhirnya telanjang, berdiri di hadapan Dani.

ÔÇ£Muter.ÔÇØ Dani merasa percaya diri (di sisi lain, Dani juga merasa, Dani yang dulu takkan memiliki kepercayaan diri seperti ini. Apalagi memerintah orang lain.)

Sambil tetap menatap lantai, 19902 berputar pelan. Satu ÔÇô satunya rambut di tubuh 19902 hanyalah alis dan bulu matanya. Susunya kecil, pantatnya merah seolah baru saja dipukul. Putingnya yang mancung membuat Dani tak tahan. Dani menginginkan wanita ini.

ÔÇ£Lihat aku!ÔÇØ mata wanita itu akhira beradu dengan mata Dani. ÔÇ£Aku ingin menyentuhmu. Apa dokter mengizinkan kamu disentuh olehku?ÔÇØ

Gadis itu tiba ÔÇô tiba tersenyum sambil berlutut. ÔÇ£Dokter telah mengizinkan saya memberikan kenikmatan apapun kepada tuan. Saya telah dilatih. Tuan boleh memainkan mulut saya, memek saya, anus saya. Dengan seizin tuan, saya mainan tuan.ÔÇØ

Dani lantas meraih lengan gadis itu hingga berdiri. Dani lantas mencium gadis itu. Keduanya lantas ciuman sambil berpelukan. Dani lantas membaringkan gadis itu di ranjang. Gadis itu lalu membuka pahanya lebar ÔÇô lebar.

Dani lalu merendahkan kepala hingga berhadapan dengan memek gadis itu. Dani mulai menciumi memeknya. Lalu mulai menjilati membuat gadis itu mendesah. Jilatan Dani pada itil gadis itu membuat desahannya makin tak terkontrol. Tangan Dani kini meremas pantat gadis selagi lidahnya bermain di itilnya hingga akhirnya gadis itu pun keluar. Tubuhnya kejang. Namun setelah itu sang gadis menangis.

ÔÇ£Tolong tuan, budak tak berharga ini tak layak,ÔÇØ katanya di sela isak tangisnya. ÔÇ£Kenapa tuan begitu baik?ÔÇØ

Dani mencium perutnya, susunya hingga mulutnya. Kontolnya menggesek ÔÇô gesek memek gadis itu. Dengan satu tusukan, kontol itu amblas dan gadis itu mengerang nikmat. Sambil memompa, Dani merendahkan kepala hingga nyusu pada gadis itu.

ÔÇ£Kamu memberikan tubuhmu, tapi aku ingin hatimu. Aku jatuh cinta sejak pandangan pertama. Aku ingin kamu mencintaiku.ÔÇØ Suara Dani jelas terdengar di sela susuannya. Dani merasa sebentar lagi akan keluar, ÔÇ£bilang kalau kamu juga mencintaiku!ÔÇØ

Nafas gadis itu mulai tersengal saat orgasmenya mendekat, ÔÇ£tapi tuan, tubuh ini milik … Uh… Oh… Hamba tak bisa… ohhÔÇØ Tubuh gadis itu kejang, ÔÇ£dia melihat… hamba akan dihukum… oh…oh… iya… aku mencintaimu….ÔÇØ

Mendengar ucapan gadis itu membuat Dani ikut keluar. Keduanya pun lemas penuh peluh. Setelah beberapa menit dalam diam, tangan gadis itu meraih kontol Dani lalu mengocok hingga kembali keras. Setelah itu, Gadis itu kembali nungging, lalu melirik ke Dani, ÔÇ£tolong gaya anjing tuan, saya mohon tuan sudi masuk ke anus saya.ÔÇØ

Tanpa membuang waktu, Dani langsung mencoba menjebol anus gadis itu. Secara perlahan kontol itu masuk memberi kenikmatan lain pada kedua insan itu. Tangan Dani mulai mengelus memek sementara kontolnya menusuk anus.

ÔÇ£Terus tuan. Lonte kotor ini akan bersihin kontol tuan setelah keluar. Lonte kotor ini tak pantas tuan cintai, hanya untuk tuan pakai. Terus tuan.ÔÇØ

Dani tak lagi bisa menahan orgasmenya. Dengan tangan memegang pinggul gadis itu, Dani menyemprotkan peju dalam anus hingga berhenti. Setelah beberapa saat, kontol Dani kembali mengecil dan otomatis keluar. Kontolnya penuh pejunya sendiri dicampur kotoran kuning berceceran.

Gadis itu lalu berbalik dan mulai menjilati kontol Dani, sesekali menghisapnya hingga bersih. Setelah itu, testis Dani juga tak luput dari sapuan mulutnya. ÔÇ£Lonte kotor atau bukan, aku tak peduli. Yang penting aku mencintaimu. Aku ingin kamu. Katakanlah, katakan sejujurnya, apa mungkin kamu mencintaiku?

Gadis itu melepas kontol dari mulutnya, duduk lalu mulai menutup wajah dengan tangannya. Gadis itu mulai menangis tersedu ÔÇô sedu. ÔÇ£Hamba tak peduli jika setelah ini bakal dihukum lagi. Yang sekarang hamba pedulikan adalah hamba juga mencintai tuan,ÔÇØ katanya disela isakannya.

Sebelum Dani membuka mulut, terbuka pintu dan muncullah wanita lebih tua berpakaian seperti suster datang dan menarik gadis itu.

***

Pintu terbuka. Meli langsung berbaring di ranjang dan melebarkan pahanya. Meli sangat senang sejak semalam, saat diberi alat tes kehamilan dan hasilnya meli mengandung benih anaknya. Kini Meli menanti dijamah anaknya. Namun yang datang adalah satpam. Meli terkejut, lantas mencoba menutupi tubuhnya. Satpam itu berdiri di dekat Meli lalu melemparkan pakaian serta sisir. ÔÇ£Cepat pakai! Atau saya tampar kamu!ÔÇØ

***

Tari berbaring lemah. Telanjang dalam ranjang. Sakit. Entah sudah berapa lama dia disekap.

Kenyataannya, sudah dua minggu berlalu namun dirinya tak juga takluk pada adiknya. Tari telah tidur dalam dingin, dalam panas, kelaparan, tapi setiap kali Dani datang, Tari tak mau mengikuti perintahnya.

Tubuhnya sangat kurus hingga tak lagi memiliki kekuatan untuk bergerak dari ranjangnya. Dia sudah kencing dan buang air di tempat. Terpaksa staf klinik membersihkan tempat itu tiap malam, dan memberi vitamin via injeksi sekedar untuk bertahan hidup. Berbahagialah dia yang tidak pernah dilahirkan. Setengah bahagia dia yang mati muda. Sedang sial bagi yang yang mati tua.

Pintu terbuka. Tari tak lagi melihatnya. Seorang perawat datang lantas menatapnya, ÔÇ£kasihan kamu nak. Kenapa gak kamu serahkan saja tubuhmu?ÔÇØ

Dengan mata masih terpejam, Tari merasa diangkat ke ruang lain dan ditempatkan di kasur lain. Tari mendengar suara orang yang sedang melepas pakaian. ÔÇ£Jangan…ÔÇØ lirih Tari lemah. Sebuah tangan lantas memegang tubuhnya dan menyuruhnya untuk tenang. Tari takan diperkosa, kata suara itu. Suara perempuan. Tari lantas mencoba santai biar otot tidak tegang. Tari merasa sepasang bibir hangat menyentuh bibirnya. Naluri Tari langsung bereaksi membuat Tari mencoba mengetahui siapa yang sedang membelainya. ÔÇ£Mah….?ÔÇØ tanya Tari.

ÔÇ£Sayang, andai aku mamamu.ÔÇØ wanita itu lantas membawa Tari ke tempat mandi lalu mendudukannya di lantai. Tari membuka mata menatap wanita cantik yang sedang beridiri. Jembutnya dicukur hingga berbentuk hati.

Wanita itu membuka keran hingga Tari langsung diguyur air dari shower. Tari disabuni. Juga memeknya tak luput. Ternyata belaian wanita itu pada memek Tari berlangsung terus hingga Tari mulai menikmatinya. Refleks Tari mulai melebarkan kaki. Tari kini mengerang saat jemari wanita itu mulai mengelus itilnya. ÔÇ£Tenang nak, biar mama barumu mengurusmu!ÔÇØ

Tari merasa orgasmenya mulai mendekat. Tari lantas menggerakan kepala hingga menyusu ke susu perawat itu. Saat Tari akhirnya keluar, kepalanya kembali ditarik. Wanita itu langsung menciumnya sementara Tari masih menikmati orgasmenya. Tari menikmati permainan wanita itu hingga akhirnya lidah keduanya bertautan.

Mata Tari kembali ditutup saat dia merasa diangkat kembali dan ditidurkan di kasur. Lengannya kembali diinjeksi sesuatu. Tari mendengar sebuah suara. Lantas merasa rambutnya dicukur. ÔÇ£Rambutmu terlalu kusut, jadinya susah diluruskan. Jangan khawatir.ÔÇØ

ÔÇ£Ya.ÔÇØ hanya itulah jawaban Tari. Tari mulai merasa itilnya kembali dijilati. Tari sedikit melenguh saat jemari kecil wanita itu mencoba menerobos anusnya. Tanpa kesadaran penuh, Tari hanya mampu mengerang merasakan kenikmatan dari mulut wanita itu.

***

Dani bangun saat pintu terbuka. Muncul satpam lalu menyerahkan pakaian. ÔÇ£Waktunya konsultasi dengan dokter.ÔÇØ Setelah kencing dan berpakaian, Dani mengikuti satpam ke ruang dokter. Ruangan itu memiliki jendela besar. Dari jendela, Dani bisa melihat pantai.

Di ruangan, Gadis terikat lengannya ke langit ÔÇô langit, hingga gatis itu mesti berjinjit agar tetap berdiri. Mulutnya ditutupi bola merah. Kakinya melebar, pergelangan kakinya diikat hingga memeknya terlihat. Pentilnya dipasangi jepitan. Jepitan itu dipasangi tali yang tersambung ke sebuah bandul.

Hati Dani tercekat melihatnya, namun Dani mencoba tidak bereaksi.

Dokter yang sedari tadi duduk lantas mendekati Dani dan menjabat tangannya. ÔÇ£Selamat datang. Dari penelitian yang kami lakukan, Anda dan Meli sepertinya maju dalam prosesnya. Saya yakin Anda akan terampil menjadi pemilik nanti di rumah. Namun, ada beberapa hal yang mesti kita bincangkan sebelum Anda diputuskan untuk keluar. Pertama soal kakak anda. Tekadnya kuat hingga Anda belum bisa merubahnya. Sepertinya Dia memilih kelaparan daripada menurut. Bisa jadi ujian terhadap dominasi anda.ÔÇØ

Dokter lalu memijit sesuatu di meja, lantas bicara ÔÇ£Suster H, tolong bawa pasien anda masuk.ÔÇØ

ÔÇ£Kedua,ÔÇØ dokter lantas menunjuk gadis terikat, ÔÇ£anda sepertinya tertarik dengan ini. Sayangnya Anda tak bisa memilikinya. Dia milik kami.ÔÇØ

Gadis itu mengisak pelan, airmatanya jatuh. Dokter lantas memutar gadis itu hingga membelakangi Dani. Terlihat pantatnya merah tanda luka cambukan. ÔÇ£Seperti yang anda lihat. Ini hanyalah seonggok daging. Saya memang keras, tapi dia sangat menyukainya. Coba raba memeknya, pasti sudah basah.ÔÇØ

Dani menuruti dokter, memeknya memang basah. Bahkan gadis itu melenguh. ÔÇ£Sejak tiba disini, tubuhnya sudah dipakai banyak pria, bahkan wanita. Dia terlatih memberi kenikmatan. Anda kira dia mencintai anda, tapi itulah sandiwara.ÔÇØ dokter lantas membuka bola mulut gadis itu. ÔÇ£19902, katakan apa yang sebenarnya terjadi.ÔÇØ

Air mata gadis itu bercucuran hingga membasahi susunya. ÔÇ£Tuan, saya hanya untuk kesenangan. Saya bilang saya mencintainya karena bisa membuatnya senang.ÔÇØ Hati Dani serasa hancur mendengarnya. Dokter melihat perubahan di wajah Dani. Dokter kembali menutup mulut gadis itu. Dokter lantas mengambil pecut dari laci meja dan menyerahkan ke tangan Dani.

ÔÇ£Silakan anda hukum dia karena telah membohongi anda.ÔÇØ Dani lantas memecut paha gadis itu. Gadis itu menjerit menangis. ÔÇ£Dasar lonte. Kamu bilang mencintaiku. Dasar pembohong.ÔÇØ

Dani terus memecut hingga air mata gadis itu membasahi lantai. Setelah puas, Dani melepas pecut.

Pintu terbuka. Meli masuk dan melihat gadis itu. Saat melihat anaknya, Meli langsung menunduk mendaki anaknya dan berlutut di depannya. Dokter tersenyum, ÔÇ£Selamat Dani, Anda telah melatihnya. Juga memberinya hadiah di perutnya. Anda telah siap menjadi tuan di rumah sendiri.ÔÇØ Dokter kembali duduk di belakang meja lalu memberi isyarat agar Dani duduk di sofa. Dani duduk, lantas menyuruh mama duduk di sebelahnya. Dani membaringkan kepala mama di pangkuannya, menarik baju ke atas hingga susu mama terlihat. Setelah itu Dani memainkan susu mama. Mama tersipu malu tapi tak menghentikannya.

Pintu kembali dibuka. Muncul perawat mendorong kursi roda. Di kursi roda itu duduk Tari yang lemah. Kepalanya botak. Memakai pakaian pasien. ÔÇ£Saya memandikannya, namun rambutnya begitu kusut hingga tak bisa diluruskan kecuali dibotaki terlebih dahulu,ÔÇØ perawat pendorong menjelaskan. ÔÇ£Dia sedikit gelisah sehingga saya injeksi sedikit penenang. Sepertinya kehadiran saya juga menenangkannya, kalau boleh, saya ingin di sini agar pasien tidak gelisah.ÔÇØ

ÔÇ£Ya, kita bisa melihat itu.ÔÇØ Dokter kembali menatap Dani. ÔÇ£Tari termasuk orang yang gigih. Kebanyakan wanita akan mudah luluh pada anda, seperti yang sedang dipangkuan anda, tapi dia tidak. Saya yakin bisa melatihnya, namun saya tidak bisa meyakinkan anda durasi pelatihannya. Saya ragu anda bisa melatihnya di rumah, apabila anda salah langkah, bisa jadi kacau, bahkan sebelum negara api menyerang. Bagaimana pendapat anda?ÔÇØ

Dokter cukup bicara. Dani menatap pantai. Selama beberapa menit, ruangan itu diselimuti keheningan yang mencekam. Dani akhirnya berdiri meninggalkan mama yang terbaring di sofa. Dani mendekati gadis terikat lantas membuka penutup mulutnya. ÔÇ£Gadis ini sungguh terlatih. Tapi saya yakin dia mencintai saya. Coba jawab sekali lagi dan jangan memutar balikkan fakta!ÔÇØ

Gadis itu menatap dokter dengan wajah ketakutan. Dokter tersenyum membalas tatapan gadis itu lantas bicara, ÔÇ£19902, katakanlah… katakan sejujurnya… tak akan ada hukuman kali ini.ÔÇØ

Gadis itu masih mengeluarkan air mata, lalu menelan ludahnya. ÔÇ£Benar, hamba sangat mencintai tuan. Hamba ingin memiliki benih tuan.ÔÇØ

Dani membelai pipi gadis itu, membungkuk lalu mencium bibirnya. ÔÇ£Maafkan keraguanku…ÔÇØ bisiknya. Dani lantas kembali berdiri dan menatap dokter. ÔÇ£Di awal, gadis ini bilang saat datang, identitasnya diambil lantas dilatih. Kenapa kita tak melakukan hal yang sama pada Tari? Biar keluargaku sempurna dan anda mendapat bahan latih baru.ÔÇØ

Dokter bertepuk tangan, ÔÇ£Dani, ide buatanmu, numero uno! Sesuatu untuk sesuatu. Anda datang beserta Tari, pulang pun beserta Tari.

Dani lantas berbalik melihat mama. Mama terlihat linglung menatap anak pertamanya lemas di kursi roda. Mata mama mulai basah menyadari kemungkinan perpisahan dengan anak pertamanya. Perawat pendorong lantas bicara, ÔÇ£jangan khawatir, akan saya urus baik ÔÇô baik.ÔÇØ Perawat itu lantas mengambil suntikan dan menginjeksi mama. Setelah itu perawat melihat Dani, ÔÇ£tenang, ini hanyalah penenang dosis rendah.ÔÇØ

ÔÇ£Perawat, bawa 24602 ke ruang persiapan. Siapkan identitas baru untuk 19902 lalu lepaskan dia.ÔÇØ Perawat menarik kursi roda keluar ruangan, sementara satpam muncul untuk melepas tali yang menjerat 19902. Setelah itu dibaringkan di sofa, bersebelahan dengan mama.

Dani lantas mendekati sofa dan berbicara, ÔÇ£Meli, ini putrimu Tari. Kamu mencitainya dan dia mencintaimu.ÔÇØ Mama mengangguk seolah mencerna kalimat ini.

ÔÇ£Dia putri saya, TariÔÇØ Mama mulai bergumam. ÔÇ£Aku mencintainya, dia mencintaiku.ÔÇØ

ÔÇ£Sekarang kamu boleh peluk dan cium dia.ÔÇØ

Mama memeluk gadis itu. Gadis itu mencium mama. Gadis itu menangis bahagia, diikuti mama. ÔÇ£Mama, aku punya mama lagi.ÔÇØ kata gadis itu.

Dokter mengambil dokumen dari laci dan menaruhnya di meja. ÔÇ£Saya tahu anda semangat terhadap keadaan keluarga anda. Tapi kita harus bicara kenyataan. Anda masih sma. Sedang mama dan kakak anda tentu takkan bisa mencari nafkah. Sebentar lagi anda menjadi ayah. Jadi apa rencana anda?ÔÇØ

Dani diam sebentar, lalu mengangkat bahu. ÔÇ£Sepertinya saya harus berhenti sekolah lalu mulai bekerja.ÔÇØ

ÔÇ£Kenyataannya, pekerja lulusan smp sangat bergaji murah. Sepertinya takkan cukup membiayai dua wanita hamil. Namun, di setiap kesulitan terdapat kemudahan. Selama anda di sini, saya sudah memeriksa latar belakang anda. Ayah anda yang pergi tanpa pamit memiliki rekening bank yang cukup lumayan hasil dari penggelapan pajak. Total dananya kira ÔÇô kira di atas delapan ratus miliar yang disimpan di negeri singa. Sudah saya urus dokumennya hingga rekening itu bisa jatuh ke tangan anda, namun ada beanya sepuluh persen, kalau anda setuju.

Dokter menyerahkan dokumen yang lantas diraih Dani. Dani mempelajari dokumen tersebut sambil berpikir. ÔÇ£Deal or no deal?ÔÇØ kata dokter.

ÔÇ£Deal.ÔÇØ

ÔÇ£Selamat atas keputusan anda. Kami akan memeriksa perkembangan keluarga anda secara berkala, namun dapat kami pastikan anda takkan menyadarinya.ÔÇØ dokter lantas melihat Meli, yang sedang menutup mata sementara susunya disusu oleh putri barunya. ÔÇ£Baiklah, biar satpam mengantar anda dengan selamat sampai ke rumah anda.ÔÇØ

***

Catatan percobaan, enam belas bulan pasca pembebasan, pria #24601 menjalankan peran sebagai kepala keluarga.

Wanita #24603 sudah melahirkan, bahkan kembali hamil dengan usia kehamilan enam bulan.

Wanita #19902 sudah melahirkan, kini mengandung dengan usia kehamilan empat bulan.

Wanita #24602 hanya merespon terhadap perawat. Tidak berguna. Diberikan ke perawat sebagai mainannya.an dan Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*