Home » Cerita Seks Mama Anak » Menjadikan Mama Binal

Menjadikan Mama Binal

Bandung, dan saat ini saya sedang belajar di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Saat ini aku berumur 19 tahun, dan merpakan anak tunggal dalam keluargaku. Sekilas mengenai keluarga saya, keluarga saya boleh dibilang sangat berada, dan saya mempunyai seorang mama yang cantik, walaupun usia mama saat itu sudah berumur 40 tahun, dan ayah saya saat itu berumur 46 tahun. Boleh dibilang aku mempunyai rumah tangga yang kurang harmonis, mama dan papaku selalu bertengkar hampir setiap hari. Ini membuat aku sangat kesal dan tidak nyaman untuk berlama-lama di rumah jika aku pulang ke Bandung. Bahkan saking jarangnya, terkadang aku pulang ke rumah hanya setahun sekali.
Di Jakarta saya sempat dibeikan rumah dan mobil oleh papaku, sewaktu saya mulai kuliah di Jakarta di daerah Jakarta Barat, Selama saya tinggal di Jakarta, mama dan papa saya belum pernah mengunjungi tempat saya, dan saya merasa senang karena tidak ada yang berisik, juga bisa belajar lebih mandiri. Selama kuliah saya hanya berhubungan lewat telvon jika menghubungi keluarga saya. Sampai suatu hari, saat saya menelfon mama, saat itu mama sedang menangis di telefon. Dan mama bertanya kepada saya apakah dia bisa untuk sementara tiggal di Jakarta bersamaku, dan akhirnya saya setuju untuk mama tinggal sementara di rumahku. Saya juga kasihan melihat mama yang selalu disakiti oleh papa jika mereka bertengkar. Mungkin ini adalah salah satu solusinya pikirku saat itu. Beberapa hari kemudian mama akhirnya datang ke tempatku. Dan sampai di rumahku, mama menceritakan kepada saya bahwa mereka berdua berencana akan bercerai, ternyata papa sudah mempunyai wanita idaman lain, Sayapun awalnya kaget mendengar berita itu bahkan saya sangat marah dan kasihan sama mama, namun saya bisa memaklumi, sepertinya memang ini jalan terbaik bagi mereka berdua.
selama di jakarta, mama selalu memenuhi kebutuhan hidupku, mama selalu menyiapkan makanan ketika aku sudah pulang kuliah. Dan selama mama tinggal disini, ada satu hal yang benar-benar membuat aku menjadi terangsang sama mama. Terkadang mama suka mengganti pakaian di kamarnya untuk mengganti pakaian dengan pintu yang kurang rapat, dan aku yang dari awalnya hanya melihat sekilas, lama kelamaan aku mulai mengintip mama ketika dia kebetulan sedang mengganti pakaiannya, dan sepertinya mama selalu tidak menyadari bahwa dirinya sedang diintip olehku. Disitu saya mengetahui, bahwa mama masih mempunyai tubuh yang seksi dan menarik, payudara mama juga masih kencang dan montok, dengan ditunjang wajah yang cantik, pinggang yang ramping, aku yakin pasti banyak pria yang ingin bercinta dengan mama jika melihatnya. Aku sangat terangsang dengan mama, namun tidak bisa melakukan apapun, karena bagaimanapun dia adalah mamaku sendiri, dan aku tidak berani untuk berbuat yang tidak sopan pada mama. Aku hanya dapat melakukan aktifitas mengintip mama mengganti pakaiannya sambil membayangkan sedang bercinta dengan mama. Namun selama aku mengintip mama, ada satu hal yang kusadari,yaitu mama tidak pernah memakai pakaian yang seksi, dan kulihaat bh dan celana dalam mama pun sepertinya tidak ada yang berwarna atau bermotif menantang adrenalin pria. Biasanya mama hanya mengenakan bh dan celana dalam berwarna krem atau putih.
Sampai suatu waktu, setelah menyelesaikan ujian akhir semester aku mendapat libur yang panjang, sehingga aku dan mama mepunyai waktu untuk bersama. Aku berencana untuk mengajak mama keluar untuk menonton dan makan malam di luar. Kebetulan biarpun papa dan mama ribut, papa tetap memberikan uang lebih untuk aku dan mama.
ÔÇ£Mah, gimana kalau malam ini kita keluar nonton saja, kebetulan kan Ken lagi libur, dan kayanya ada film yang bagus sekarang.ÔÇØ Sahutku
ÔÇ£Hmm…wah ide bagus tuh, mama juga bosan disini, kayanya film yang kamu mau nonton menarik sekali, ya sudah nanti malam mama akan temani kamu nonton ya sayangÔÇØ sahut mama.
Akhirnya malam yang dinantipun tiba, aku menunggu mama di ruang tengah, dan betapa terkejutnya aku melihat mama yang sudah dandan, dan mengenakan baju terusan dengan bawahan sampai sedikit di bawah lutut (mama memang sopanjika memakai pakaian), dengan lipstick berwarna merah, dipadu dengan lipglos, sehingga bibir mama terlihat basah, menjadikan mama terlihat sangat sensual malam itu. Aku sempat terkagum-kagum melihat kecantikan dan keanggunan mama, karena selama ini mama memang jarang untuk berdandan, dan jika ke pesta pun mama selalu tampil apa adanya.
ÔÇ£Loh Ken, kok malah bengong lihat mama, aneh ya mama dandan kaya gini Ken, kalau gitu mama tukar lagi aja deyÔÇØ sahut mama
ÔÇ£Eh, jangan mah, mama justru cantik dan anggun mah, kalau lagi kaya giniÔÇØ sahutku
ÔÇ£Oh ya? Beneran niy? Kamu ga sedang ngeledek mama kan? Udah tua gini kok dibilang cakep aneh-aneh aja kamu…ÔÇØ sahut mama.
ÔÇ£Ya ampun mah, mana berani siy Ken bohong sama mama, apalagi kalau mama berani tampil seksi, Ken yakin pasti mama semakin cantikÔÇØ sahutku memuji.
ÔÇ£Dasar, anak mama udah bisa gombal ya sekarang, belajar dari mana kamu…ÔÇØ sahut mama sambil memegang hidungku dengan tangannya.
ÔÇ£Mah, Ken ga bohong, Ken yakin kok mah dengan penampilan mama yang sekarang, pasti masih banyak cowo yang mau ngantri buat dapetin mamaÔÇØ.
ÔÇ£Hush, kamu ini kok jadi ngomong ngelantur kaya gini siy…mama jadi malu niyÔÇØ sahut mama
ÔÇ£Bener kok mah, mama itu masih cantik, terus tubuh mama juga masih seksi kalau menurut KenÔÇØsahutku.
ÔÇ£Makasih ya sayang,cuma kamu yang ngertiin mama, sudah lama mama tidak mendengar pujian seperti ini untuk mamaÔÇØ sahut mama.
ÔÇ£Ya sudah, ayo kita berangkat mah, silakah my ladyÔÇØ sahutku dengan nada mesra sama mama. Mama tersenyum sedikit malu denganku. Aku dan mama kemudian memasuki mobil, dan langsung menuju ke salah satu restaurant yang ada di Jakarta, selama makan aku banyak bercanda dengan mama dan banyak menggoda mama, sepertinya mama benar-benar menikmati makan malam bersamaku.

lanjutkan menuju ke salah satu mall di Jakarta, aku dan mama jalan-jalan di mall tersebut, saat itu kulihat mama mulai berani merangkul pinggangku, walaupun sepertinya mama merangkulku dengan rangkulan yang agak kaku, sepertinya mama juga masih malu-malu terhadapku, dan sebenarnya aku agak ragu untuk membalas rangkulan mama, setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku memberanikan diri untuk memegang pinggang mama, dan sepertinya mama juga tidak keberatan ketika pinggang mama kurangkul dengan tanganku. Baru kali ini aku merangkul pinggang mama, dan dari rangkulan itu aku semakin mengetahui body mama memang masih aduhai, mama benar-benar bisa menjaga tubuhnya, papaku itu benar-benar bodoh meninggalkan mama yang masih mempunyai tubuh seksi kaya gini. Di mall pun aku dan mama sering bercanda, aku menghibur mama dengan bermain di area time zone, dan selama bermain, aku selalu menggoda mama dengan tingkah laku ku ataupun dengan perkataanku. Lama kelamaan rangkulan mama sepertinya sudah benar-benar biasa kepadaku, dan demikian pun aku merangkul pinggang mama juga seperti aku merangkul pinggang seorang kekasih, dan mama juga kali ini terkadang menyandarkan kepalanya ke dadaku. Aku terkadang juga membelai rambut mama. Saat itu di mall aku dan mama sudah tidak Nampak sebagai ibu dan anak, melainkan sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Saat aku dan mama menonton dalam bioskop pun mama selalu menyenderkan kepalanya ke bahuku.

Hari semakin larut, dan malam itu aku dan mama mengunjungi sebuah kafe, sebelum aku dan mama pulang ke rumah. Ketika aku masuk, seorang waitress menanyakan menu apa yang akan kupesan, dan kalau yang datang pasangan kekasih, maka akan mendapatkan diskon 20 persen, dan yang bikin aku tambah senang adalah, waitress tersebut mengatakan untuk membuktikan kalau seandainya memang pasangan kekasihnya yang dibawa, maka haus menunjukkan aksi mesra dari pasangan tersebut, dan waitress tersebut memfotonya. Sebenarnya aku ragu untuk menjawab kalau aku dan mama adalah pasangan kekasih, karena aku takut menyinggung perasaan mama.

ÔÇ£Mas…kalau kita bukan pasangan kekasih, ga mungkin donk kita datang *hanya berdua ke tempat ini, jam segini pulaÔÇØ sahut mama kepada waitress tersebut. Sontak saja perkataan mama ini membuatku kaget sekaligus bahagia, entah hanya untuk mendapat diskon atau memang mama menganggap aku ini sebagai pacarnya, namun apapun itu aku sangat senang mendengarnya.

ÔÇ£Baik kalau begitu saya memfoto kalian berdua, dan kalau bisa tolong tunjukkan foto kalian paling mesra, supaya bisa ditempel di mading kami, dan nanti akan kami undi siapa yang menang, lumayan Bu, pemenang undian ini bisa mendapat liburan berdua ke baliÔÇØ sahut waitress tersebut.

Aku melihat di mading ada salah satu pasangan yang berpose mencium bibir pasangannya,* dan sepetinya itu adalah kesempatanku untuk mencium bibir mama, kebetulan mama sedang menganggapku kekasihnya malam itu.

ÔÇ£Sayang, kamu mau berpose apa yaÔÇØ sahutku berpura-pura bingung kepada mama, aku memang mengatakan kata ÔÇ£sayangÔÇØ kepada mama agar waitress tersebut tidak curiga kalau pasanganku adalah mamaku sendiri.

ÔÇ£Iya niy say, aq juga bingung, terserah kamu ajalah, aku nurut aja sama kamu sayÔÇØ sahut mama dengan nada mesra.

ÔÇ£Baik bu kalau sudah siap saya akan memfotoyaÔÇØ ungkap waitress tersebut

Ketika akan saatnya difoto, aku dengan seketika langsung mencium bibir mama, jelas saja mama sangat kaget ketika aku mencium bibir mama, sepertinya mama tidak menyangka kalau aku akan menciumnya, namun sepertinya mama juga tidak bisa berontak karena saat itu mama tahu bahwa dia dan aku sedang difoto, malah mama mulai membalas ciumanku, dan karena terbawa suasana aku sempat mengeluarkan lidahku untuk masuk ke dalam mulut mama, dan lidah kami sempat saling jilat di mulut mama, dan terkadang aku hisap bibir bawah mama, ketika itu mama menutup matanya, sepertinya mama sangat menikmati french kiss yang aku berikan pada mama. Dan kulihat waitress nya pun mengambil beberapa foto aku french kiss dengan mama. Sampai waitress tersebut akhirnya berkata baik pa…bu…saya rasa sudah cukup, ternyata kalian memang pasangan yang serasiÔÇØ sahut waitress tersebut. Aku dan mama langsung segera melepaskan ciuman kami,dan kami berdua sempat terdiam barang sejenak. Kulihat wajah mamah sedikit merah, mungkin baru kali ini bibirnya dicium olehku sendiri. Akhirnya kami berduapun memesan makanan, dan setelah memesan makanan aku dan mama masih sempat terdiam, mama masih menundukkan kepalanya dan tidak berani melihatku.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*