Home » Cerita Seks Ayah Anak » Kisah Keluarga Citra 8

Kisah Keluarga Citra 8

Bagian 8 | Astaga…. Clara…? Karnia…?

Dalam perasaan bingung, Ciello duduk dalam perasaan gelisah. Berulangkali, pikirannya kembali teringat akan wajah serius Mamanya yang terlihat begitu marah akibat perbuatan mesumnya tadi.

“Ah… Kampreeet…. Super kampreeeett…. ” Sesal Ciello dalam hati, “Mama nanti pasti bakal ceritain perbuatan mesumku barusan ke Papa nih… Ah SIAAALL…..Mereka berdua pasti bakal ngehabisin aku…. Kampreeet…… Aku harus bener-bener cari cara supaya bisa minta maaf ke Mama….”

Berulang kali Ciello berpikir keras untuk mencari ide guna meminta maaf kepada Citra. Namun sekeras apapun ia berpikir, tak satu idepun yang keluar di pikirannya. Otak saat itu benar-benar tak dapat diandalkan. Buntu sama sekali.

Akhirnya, Ciello menyerah. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya kembali ke video game yang sedang ia mainkan, tapi, tampaknya hal itupun sama sekali tak membantu. Pikirannya masih saja panik. Bahkan, anehnya, ketika ia panik, otaknya malah mengingat-ingat ke kejadian kebeberapa saat lalu, saat dimana ia sedang ‘menikmati’ kemolekan tubuh ibu kandungnya.

“Ooohh… Ngentotin mama….. ” Batin Ciello sambil memejamkan mata, “Pasti rasanya jauh lebih nikmat sekali….. Tetek Mama…. Memek Mama…. Anus Mama…. Oooohh… Pasti kalo dientotin rasanya enak sekali ya Maa…..”

Alih-alih khawatir dengan sikap dingin Citra yang terlihat beberapa waktu lalu, Ciello tiba-tiba teringat koleksi film porno yang ia simpan di hardisk komputernya. Dan entah kenapa, sekarang ia sangat ingin memutar film-film porno itu. Dengan gerakan supercepat, Ciello segera berlari keatas. Menuju kamarnya dan kembali melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya.

Beberapa detik kemudian, Ciello sudah tenggelam dalam imajinasinya. Duduk dikursi belajarnya dan menghadap ke arah layar laptopnya. Posisi meja komputer sengaja Ciello atur sejajar dengan pintu masuk, guna menyembunyikan segala macam aktifitas mesum yang ia lakukan dari orang yang tiba-tiba membuka pintu. “Supaya aman… ” Kata Ciello.

Dengan headset yang menutupi kedua telinganya, Ciello semakin fokus dalam gambar persetubuhan dua insan berbeda kelamin yang terpampang pada layar komputernya. Sengaja, Ciello menyetel film incest yang memperlihatkan persetubuhan antara ibu dan anak.
“Ohhh…Ohhh…. Yeeesss Yesss… Fuck your momma pussy Darling…. Fuck… Your… Momma… Pussy…. Harder…. Harder….” Suara mesum film itu segera memenuhi ruangan. “Ohhh…. Yeeeesss… Yeeessssss… Fuck my slut pussy…….”

“Ohhh… Mama….Kamu nakal banget Maa….” Erang Ciello sembari membayangkan jika perempuan yang ada di film porno itu ibunya, dan lelaki yang sedang menusuki vagina si perempuan itu adalah dirinya. Dengan gerakan supercepat, Ciello mengocoki penisnya yang sudah menegang keras. “Ooohh.. Mamaaa…. Ciello pengen nyodokin memek sempitmu Maa… Pengen ngentotin memekmu dengan kontol besarku Maaa…..”

TEKTEKTEK
Suara tarikan kulit penis Ciello terdengar begitu kencang, terhentak-hentak dengan kecepatan tinggi, seiring gelombang orgasmenya yang mulai terkumpul di pangkal penisnya.
TEKTEKTEK… TEKTEKTEK

“Ooohh… Mamaaaa….. Rasain sodokan kontolku Maaa…. Sshh….Rasain kontolku mengaduk-aduk liang rahimmu….Oohhh… Ohhh…..” Dengus Ciello lantang. “Rasain kenikmatan batang pelerku Maaa…”

TEKTEKTEK… TEKTEKTEK… TEKTEKTEK… TEKTEKTEK

Gerakan kocokan Ciello semakin lama semakin cepat. Mengurut batang penis itu kuat-kuat. Sambil membayangkan persetubuhan yang ada di layar komputer, tubuhnya mulai melengkung-lengkung. Tanpa ampun, Ciello membetoti batang penisnya dengan brutal, sampai-sampai membuat kepala penisnya berwarna merah keungunan.

TEKTEKTEK… TEKTEKTEK… TEKTEKTEK… TEKTEKTEK

“Ooohh.. Mamaaa…. Aku mau keluar lagi Maa… Keluarin dimana Ma…? Didalam atau diluar….?” Lenguh Ciello sambil terus membayangkan persetubuhan dengan Mamanya, “Didalam aja ya Ma…? Anakmu mau keluarin pejuhnya di dalam memekmu ya Maaa….?” Tambahnya lagi sambil mengerang-erang, .
“Ooohh.. Mamaaa…. Ciello….. Keeeluuuaaaarrr…..”

“Kaaaakaaaaaakkkk….. Balikin kalkulator aku dooo………….”

Tiba-tiba, kursi yang Ciello duduki, berputar kekiri. Menghadap tepat kearah sosok wanita bertubuh imut dengan rambut hitam lurus sepunggung. Senyumnya merekah mengembang tanpa mengetahui apa yang sedang Ciello lakukan sebelumnya.

“…..ooong…..” lanjut Clara menyelesaikan kalimatnya.

Entah sejak kapan adik seksi Ciello sudah masuk kedalam kamar. Dan begitu sadar jika kakaknya sedang mengocoki penisnya sambil bertelanjang badan, gadis belia itu kaget bukan kepalang. Matanya tiba-tiba melotot dan mulutnya melongo lebar .

Ihhhhhsss kakaaaaakkk…..
“Looh….? Clara….?” Kaget Ciello panik, “Uh… Uh…..Uhhh……”

CROOOT CROOOT CROOOCOOOOT CROOOT CROOOOTT….

Lima gumpalan sperma, melesat begitu cepat. Melenting jauh kedepan, kearah tubuh semok Clara dan mendarat ke seragam sekolahnya.

“Ihhhhhhhssss….. Kak ciellooooooo…….” Seru Clara yang berusaha menghalang-halangi semprotan sperma kakak kandungnya supaya tak terus menyemburi seragamnya. Namun sia-sia, sperma-sperma Ciello sudah terlanjur membasahi bagian depan seragamnya.

“Loohh… Clara…?” Sejak kapan kamu ada didalam kamar….?” Tanya Ciello panik sambil melepas headset yang ia kenakan. Ia lalu melirik kearah sosok yang ada dibelakang Clara. Sosok wanita dengan tubuh tinggi ramping yang juga ikut-ikutan melongo dengan mata yang tak berkedip melihat aktifitas mesum Ciello dengan mata bulat penuh tanda tanya, “Waduh….Ada Karnia juga….?”

“Hai Kak Ciello….” Sapa Karnia sambil tersenyum malu dan melirik kearah Ciello yang masih mengurut batang penisnya yang masih memancarkan air mani

Sentakan kejutan seolah tiba-tiba memukul kepala Ciello dengan kuat. Memberikan shock teraphy yang benar-benar manjur untuk membuatnya sadar seratus persen.
“Eeh… KEEELLLUUUUAAAARRRR…. Kalian berdua… Keluaar….. Tutup pintunyaaa….” Teriak Ciello keras sambil menutupi penisnya yang masih muncrat berkedut dengan kedua tangannya.

Percuma, teriakannya sama sekali tak dihiraukan oleh Clara. Alih-alih keluar dari kamar Ciello, Clara malah berkacak pinggang didepan Ciello.

“HEEEHH….Kak Ciello jelek…. Kakak tuh ya… Nggak sopan banget sih jadi cowok… Udah lama banget pinjem kalkulator Adek… Nggak dikembali’in… Eh pas ditagih…. Adek malah di muncratin pejuh… ” Cerocos Clara tanpa titik koma, “Dan sekarang…. Adek sampe diusir-usir segala….” Tambah Clara lagi sambil mengusap-usap ceceran sperma Ciello yang menempel di bagian payudaranya.

“Iiihh… Sumpah… Bauk bangeet… ” Jijik Clara sembari menepuk-tepuk sperma kakaknya yang menempel lekat di gundukan payudaranya. Ia berharap, dengan tepukan-tepukannya, sperma itu bisa lepas dari baju dan turun kelantai. Namun, nyatanya, ia salah. Semua tepukan tangannya malah membuat sperma itu terciprat kesana kemari, bahkan sekarang, sperma itu turun ke bagian roknya.

“Karnia… Bantuin dong… ” Pinta Clara ke sepupunya.,”Uuuhhhh…. Sumpah… Kak… Pejuhmu bauk bangeeet…. Kakak makan apa’an sih tadi…?” Tambah Clara setelah mendekatkan tangannya yang belepotan sperma ke hidung mancungnya.
“Sini… Sini… Dilap pake tissu aja… ” Saran Karnia yang segera mengeluarkan tissu dari saku bajunya.
“Iiihhsss… Mana lengket pula…. Bagi tissunya lagi Kar…. Iiiihhhhhhsss… Banyak banget sih… ” Gerutu Clara sembari mencoba mengelap lelehan sperma Ciello.

“Mmmm… Clara…. Mending kamu lepas aja deh bajunya…. Karena sepertinya… Pejuh Kak Ciello nggak bakalan bisa ilang dengan mudah….” Saran Karnia,
“Iiihh… Iya sih… ” Ucap Clara jijik sambil mulai melepasi semua kancing baju seragamnya.
“Mending kamu ganti kaos aja… Soalnya itu baju nggak bakalan bisa bersih lagi….” Jelas Karnia, “Kak Ciello parah deh… Masa adek sendiri dipejuhin…”

“Hehehe… Biarin…. Makan tuh pejuh…” Ejek Ciello, “Itu hukuman buat cewe yang sukanya masuk-masuk ke kamar aku nggak pake ketuk pintu…”
“Clara udah ketuk pintu Kak… Kakak aja yang nggak denger… Keenakan ngocok siiihh… ” Ucap Clara sambil melirik ke arah penis Ciello yang masih digenggam Ciello erat-erat, “Mana pake nyebut-nyebut nama Mama…. Biarin… Ntar Clara laporin ke Mama… Biar titit kakak dikasih pelajaran super berat ama Mama….”
“Iiihhh… Awas ya kalo kamu sampe berani lapor ke Mama… ”
“Biarin…. Biar laptop Kakak disita Mama… Biar Kakak nggak bisa nonton bokep lagi… Biar Kakak nggak bisa kocok-kocok titit mulu… Hihihi… ” Ancam Clara sembari menimpuk selangkangan Ciello dengan seragam sekolahnya yang sudah penuh dengan spermanya

Melihat Clara yang sudah tak mengenakan seragam, membuat Ciello dapat melihat payudaranya yang besar. Apalagi saat itu Clara mengenakan bra kecil berwarna pink, membuat payudaranya putih Clara seolah akan tumpah karena daging payudaranya tak dapat tertampung seluruhnya. Dan karena mendapat suguhan tubuh seksi adik semata wayangnya, perlahan, penis Ciello yang semula lemas, mulai kembali keras menegang.

“Heh… Titit…. ” Panggil Clara sambil menunjuk-nunjuk selangkangan Ciello, “Loo… Bakal… Gw… Mampusssiiinnnn…” Ancam Clara dengan mimik wajah lucu. Wajah khas remaja belia ketika sedang mengancam musuh bebuyutannya.

Mendengar ancaman Clara yang terus-terusan melirik batang penisnya, Ciello segera mendekap batang penisnya dan menyembunyikannya dari pandangan adik dan sepupunya. Namun lagi-lagi, hal itu sama sekali tak berguna. Karena ia masih bisa merasakan tetesan air maninya terpercik ke telapak tangannya, hingga menetes ke lantai.

“Udah udah… Sana pergi….. Kamu mau apa lagi sih…? Keluar… ” Bentak Ciello sembari menepis tangan Clara yang masih menunjuk-nunjuk ancamannya..
“Ihhhss…. Marah-marah mulu nih orang… Kaya Lagi mens aja…?” Goda Clara sambil mengintip layar laptop Ciello yang masih menayangkan film pornonya.
“Kak… Itu… Kok pemain perempuannya…. Mirip ama Mama sih Kak…?” Tanya Clara, “Karnia sini… Coba kamu lihat deh…. Kok kayaknya… Perempuan yang ada di film bokep Kak Ciello… Mirip dengan Mama Clara ya…?”

“Aduuuhhh… Kalian tuh yaaa….. Disuruh pergi susahnya minta ampun… ” Omel Ciello
“Ah Kakak…. Bentaran ah… Clara khan cuman mau ngambil kalkulator Clara lagi…”
“Emang itu kalkulator punyamu…?”
“Ya… Iya… Laaahh… Sok pake nanya segala…. Emang ada ya…? Cowo normal pake kalkulator berwarna pink….?” Tanya Clara cuek, “Jadi sekarang… Buruan balikin kalkulator Clara… ”
“Iye-iyeeee….. Ntar kakak anter kekamar deh… Sekarang… Kamu balik aja sana…”

“NGAK MAUUU… Clara nggak mau pergi sebelum Kakak kasih Clara tuh kalkulator.. .” Ucapnya cuek sambil membuka laci-laci yang ada disamping Ciello. “Simpen dimana sih Kak…. Kok ga nemu-nemu…?” Tanya gadis belia ini yang sama sekali tak merasa sungkan dengan ketelanjangan kakaknya. “Mungkin jatuh kebawah meja kali ya…?” Tambah Clara lagi sambil menungging dan melongok-longok kepalanya ke bawah meja, dekat dengan genangan sperma Ciello yang masih menetes.

Ciello mengambil nafas panjang. Lalu tanpa mempedulikan penisnya yang sudah mulai kembali menegang, ia bangkit dari kursi belajarnya dan mengangkat tubuh adiknya yang masih menungging-nungging di bawah meja. Dan setelah itu, ia meminta Clara untuk berdiri

“Kamu tuh yaa… Jadi cewe nggak pernah mau ngalah….” Ucap Ciello sengit sambil menggiring pundak polos Clara menuju kebalik pintu kamar tidurnya dengan tangan yang masih belepotan sperma.

“Noh… Cari kalkulator kakak ada didalam tas… ” Ucap Ciello, “Buruan ambil… Terus kalian pergi dari kamar kakak….”
“Iiiihhsss… Kak Ciello meper…. Iiihhhsss…” Seru Clara jijik, “Khan tadi tangan kakak sedang penuh ama ceceran pejuuhh…. Yaaahh… Pundah Clara jadi belepotan pejuh nih….. Yaaaiiiikkkkksss…. ” Ucap Clara lagi sambil menepisi lelehan sperma Ciello yang menempel di pundak putihnya. Setelah itu ia pun mengambil kalkulatornya dari dalam tas Ciello.
“Bodo…. Makan tuh pejuh…” Ucap Ciello yang kemudian memegang bagian bawah rok seragam Clara dan menggunakannya untuk mengelap batang penisnya yang masih basah kuyup akan sperma, “Skalian deh… Pinjem roknya buat mbersihin titit Kakak… Hehehe…. “.

“IIiihhhsss… Kakaaaakk…. Sumpah deh … Kakak jorok bangeettt…”
“Biarin…. Udah udah… Ayo sana keluar…. Atau kamu mau pejuh ini… Kakak peperin ke muka nyebelin kamu….?” Ancam Ciello sambil menunjukkan kedua tangannya yang masih penuh sperma, mendekat ke hidung Clara.
“Iiiiiihhh…..Kakak Meesuuuummmm…. Nyebeelliiiinnnn….. Weeeeekkkk….” Kesal Clara sambil berbalik keluar kamar Ciello, “Ayo Kar… Kita tinggalin manusia super mesum ini sendirian….” Omel Clara sambil nyelonong pergi ke kamarnya, meninggalkan Karnia yang masih berdiri di pintu kamar Ciello.
“Ehh… I… Iya….” Jawab Karnia mengiyakan, “Daaa Kak Ciellooo…. Karnia… Uuuummm…. Pergi ke kamar Clara dulu ya…” Senyum Karnia sambil membalikkan badan.

Namun, sebelum ia meninggalkan pintu kamar Ciello, Karnia buru-buru berbalik badan lagi dan mengeluarkan handphonenya. Lalu tanpa bertanya, Kania lalu mendekat kearah Ciello dan mengambil gambar dirinya yang sedang telanjang sambil melirik genit kearah penis Ciello yang mulai kembali mengeras. Tanpa malu, Karnia semakin mendekat dan mengambili photo penis Ciello secara terang-terangan.

CKRIK… CRIK… CRIK CRIK….

“Ehhh… Heeeehh….. Kamu mau ngapain…?” Heran Ciello melihat tingkah sepupunya.
“Hihihihi… Buat kenang-kenangan aja kok… Nggak apa-apa khan Kak… ” Ucap Karnia sambil tersenyum.

CKRIK… CRIK… CRIK CRIK….

“KAARRNIIIAAAAAA… Buruan sini…. Ngapain kamu berdiri mulu disana….?” Teriak Clara dari dalam kamarnya, “Ntar diperkosa ama monyet cabul berekor buntung yang super mesum itu loh….”
“Heeehh… Manusia bertoket Wewe Gombel… Awas kamu ya…” Balas Ciello.
“Hmmm… Yaudah Kak… Karnia ke kamar Clara dulu ya…” Ucap Karnia tersenyum sambil tiba-tiba, gadis manis itu menjulurkan tangannnya kearah penis Ciello dan mengusap kepala penis Ciello yang berwarna merah keunguan. “Jangan sering-sering ngocok sendirian Kak… Kasian…. Nanti… Nggg… Kontolnya bisa copot loh…. Hihihihi….”
“Eeeehh….???” Bingung Ciello.
“Kalo Kak Ciello butuh bantuan…. Nggg… Kabarin Karnia aja Kak… Hihihihi….” Jawab Karnia genit sambil membalikkan badan dan melangkahkan kaki meninggalkan Ciello sendiri di kamarnya.

Bersambung,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*