Home » Cerita Seks Umum » Kisah Keluarga Citra 6

Kisah Keluarga Citra 6

Bagian 6 | Cerita Disekolah

“Karnia Prameswari….. Kemana aja kamu tadiii….? Janjian ketemuan pagi… Nggak dateng-dateng… Ditelepon ga dijawab-jawab…? Sekalinya ngejawab…. Eh cowo… Mana jawabnya pake suara-suara aneh lagi… Kamu tadi sedang apa heeeh….?” Cerocos Clara tak henti-hentinya ketika
karnia tiba di gerbang sekolah. “Eh mana buku PR-ku..? Kamu nggak lupa bawa khan..? Jangan sampe bilang kamu lupa ya… Pelajaran pertama aku pelajaran Pak Surip nih… Guru killer paling nyebelin…” Tambah Clara sembari menyodorkan tangannya. Meminta buku PR yang dipinjam Karnia.

“Iya iya… Ini aku udah bawain… Tenang aja… Aku nggak lupa kok… ” Jawab karnia yang buru-buru menghentikan langkahnya lalu membongkar tas sekolahnya. Kemudian ia menyerahkan selembar buku berwarna merah muda pada Clara.
“Heeeeh… Panjul… Kamu belom jawab pertanyaanku tadi… ” Gerutu Clara lagi.
“Heeee…? Pertanyaan apa..?” Jawab Karnia bingung sambil kembali melangkahkan kakinya menuju kelas.
“Waaah. Pake pura-pura pikun… Tadi… Pas aku lagi nelpon kamu…. Kamu lagi apa heee….?”
“Ooohh.. Ituu…..Hehehe.. Maaf ya Say… Tadi masih nanggung… ” Jawab Karnia sambil nyengir.
“Nanggung mesum….?”
“Mesum… Hihihi….Emang tadi kedengeran ya….?”
“Gimana nggak kedengeran…? Orang tadi suara kalian tuh kenceng amat….”
“Hehehe… Ya maaf deeeh…. Abisan tadi bener-bener lagi nanggung….”
“Iiiihsss….. Emang ya… Dasar wanita murahan… Ama cowo mana lagi nih…?”
“Cowo..? Idiiihhh….. Bukan keleeeuus… Itu tadi pria beristri…”
“Haaa? Serius…?” Tanya Clara kaget, “Siapa siapa…? Tadi kamu ama siapa….? Aku kenal nggak…?” Berondong Clara ingin tahu.

“Hehehe… Ada deeeh… Ntar juga kamu tau kok…”
“Ihhss… Gitu yaaa….” Sewot Clara “Sekarang… Pake rahasia-rahasiaan…. Oke… Cukup tahu aja….”
“Ceileee…. Beneran Say… Aku sekarang belom bisa kasih tahu… Ntar deh… Kalo waktunya udah tepat…. Bakalan aku beberin semuanya….”

Sejenak, Clara menatap tajam kearah sepupunya itu. Kemudian Clara menjulurkan tangannya kearah mulut Karnia.
“Itu… Dibibir kamu ada bekas apaan…?” Tanya Clara sambil mengusap sudut bibir Karnia dengan ibu jarinya, “Lendir bening ini bukan bekas pejuh khan…?”
“Eh mana…?” Tanya Karnia sambil memegang ibu jari Clara dan mendekatkan ke wajahnya.

“NYAM…..” Jawab Karnia sambil melahap ibu jari Clara,” Nyap… Nyap…. Sepertinyaaa…. Ini memang bekas pejuh…. Hehehehe…” Jawab Karnia spontan sambil berlari meninggalkan Clara.

TENG TENG TENG
Suara lonceng sekolah terdengar nyaring, tanda jam pelajaran akan segera dimulai.

“Iiihhss… Karniaaaaa…. Kamu tadi habis ngapain sih….? Ayo cerita doooong….” Kejar Clara sembari menyusul Karnia kedalam kelas.

***

“Bang.. Sotonya satu ya… Pake ceker…” Pinta Clara yang menjelaskan pesanannya kepada Bang Ramos, si penjual Soto di kantin sekolah, “Jangan lupa… Krupuk…Sambalnya dua sendok… Telor bulatnya dua… Ama nggak pake toge ama kubis….Trus…. ”
“Di…Pi… Sah…. ” Sahut Bang Ramos, seolah tahu kelanjutan kalimat Clara. “Siap Neng Ayu…. Soto special buat kembang sekolahan ini bakal segera dikirim ke meja…. Neng Karnia juga…?”
“Enggak Bang… Bosen… Hari ini aku mau pesen siomay….”

“Hai Clara….” Sapa Nano, cowo idaman cewe-cewe seangkatan Clara yang tiba-tiba muncul sambil membawa semangkok soto Bang Ramos pesanan Clara. “Ini soto pesanan kamu….”
“Looohh.. Ehh… Kak Nano…. ” Jawab Clara malu-malu, “Kok malah kakak yang nganter soto aku…?”
“Hehehe… Nggak apa-apa kok…. Itung-itung sembari aku ngunggu pesenan soto aku juga…” Jawab Nano sambil tersenyum manis.
“Waah… Kak Eno juga sampe repot-repot bawain minum segala…”
“Eh iya dong… Sekali-sekali…” Jawab Eno.
“Ngg… Clara… Boleh khan aku ama Eno duduk disini sekalian…?”
“Hmmm… Boleh sih…. Cuman nanti kalo cewe Kakak-kakak sekalian ngelihat gimana…?”
“Cewe aku…? Cewe yang mana…?” Tanya Nano dan Eno hampir bersamaan, sambil celingukan mencari tahu kondisi sekitar,
“Ya nggak tau… Kali aja ada yang lagi PDKT…”
“Ahh… Biarin aja…. Toh aku khan belom punya cewe…” Jawab Nano.
“Jadi gimana nih…? Boleh ya duduk disini…?” Sahut Eno.
“Iyaaa… Nggak apa-apa kok Kak…. ” Jawab Karnia yang nyeletuk sembari membawa sepiring siomay, ” Clara mah ngijinin aja….”.

Tak lama, meja tempat Clara dan Karnia segera saja dipenuhi oleh canda dan gelak tawa. Sifat mudah bergaul yang dimiliki kedua sepupu itu memang membuat siapa saja selalu betah jika berbincang dengan mereka.

Clara yang memiliki tubuh mungil dengan ditunjang oleh kecantikan dan keseksiannya, selalu menjadi magnet bagi teman pria yang ada disekitarnya. Begitu pula dengan Karnia, yang tak kalah cantik dengan Clara, juga selalu menjadi idola oleh kaum adam dimanapun ia berada. Dan karena ketenaran keduanya, banyak teman wanita Clara dan Karnia yang iri bahkan syirik pada mereka.

BRRRAAAAAKKKKKK….

“HEEH… TOGE PASAR MURAHAN…. ” Bentak Rini Asmarani, kakak kelas Clara dikelas 3 yang tiba-tiba datang bersama Susi, Yani dan Mirza, teman-teman gengnya. “Nggak ada kapok-kapoknya ya kamu ngegodain cowo orang….”

Bukan rahasia lagi, jika Clara yang menjadi idola para pria di sekolahan itu, selalu dibuat risih oleh banyak teman wanitanya. Tak terkecuali oleh Rini, yang entah mengapa selalu merasa tersaingi oleh Clara dalam segala hal. Semenjak Clara menginjakkan kaki di sekolahan ini, Rini selalu mengganggu ketenangannya. Dan sudah tak terhitung lagi, berapa kali mereka berdua selalu saling hina, beradu argumen, bahkan beradu jotos karena perselisihannya.

“Ngegodain…?” Bingung Clara.
“Udaaah… Nggak usah mungkir…. Kalo lo nggak ngegodain… Mana mau si Nano ama Eno bakal sudi duduk mojok disitu ama lo…?”
“Loooh…? Kak Nano ama Kak Eno duduk disini juga bukan aku yang ngajak kok….” Jawab Clara santai sembari meneruskan menyantap makanannya, “Mereka mau duduk disini karena kepengenan mereka sendiri kok…”
“Wuidiiihhh…. Berani ngeles juga rupanya ini Toge…” Sinis Rini tak terima

“Rini…. Kamu apa-apaan sih….?” Sergah Nano yang kemudian berusaha melerai pertikaian kedua gadis belia ini, “Udah ah… Malu tuh diliatin orang-orang….”
“Bodo…. Jadi gara-gara ini cewe Toge… Lo udah nggak mau lagi makan siang ama gw…?” Tanya Rini dengan nada sewot.
“Apaan sih Rin….?”
“Karnia… Kita pindah aja yuk…” Ajak Clara yang buru-buru bangun dari duduknya.

“HEEEH…. LONTE… Mau kemana lo…? Jangan pura-pura kabur lo ya…” Geram Rini.
“Yuk Say…. Aku juga udah mau muntah nih… Tiap hari kok ada yang ngajakin berantem mulu… Kaya nggak bosen-bosen….” Sahut Karnia.
“Waahh… Ngelunjak ini DUO LONTE…. Jadi bikin gw makin eneg aja nih… Berulang-ulang kali dibilangin… Masih aja si Lonte-Lonte ini ngedeketin…”
“Sssttt. Udah-udah… ” Lerai Eno yang juga berusaha meredakan emosi gadis-gadis ini.

“Heeeehh… JAGA ya bacot lo…” Bentak Karnia yang tak terima mereka berdua dihina Rini seperti itu.
“Yeeee…. Saudara Se-Lontenya marah…” Ejek Rini, “Kenapa….? Lo nggak terima sodara Toge lo itu gw hina…? Baru punya tetek palsu aja udah sombong… Huh…”
“Emang… Kalo tetek sodara gw gedhe kenapa…? Lo iri khan….?” Celetuk Karnia,
“Ngapain juga iri….? Tetek sumpelan gitu aja iri…?”

“Idihh… Sumpelan….? Sorry ya… Tetek Clara mah asli….” Bela Karnia lagi, “Emang kaya tetek lo… Udah abis banyak obat perangsang… Tapi nggak bisa segedhe tetek Clara….?”
“Ehhh… ANJING LO ya… Maksud lo apaan….?” Bentak Rini yang kemudian mendorong tubuh Karnia mundur. Karena dibelakang Karnia masih ada bangku kantin, otomatis gadis cantik itu terjerembab ke belakang. Terjatuh dalam posisi terlentang. Dan karena Karnia tak mampu menjaga kedua kakinya untuk selalu tertutup, paha putih mulus dan selangkangan Karnia yang tak bercelana dalam dapat terlihat dengan jelas oleh orang-orang yang berkerumun disekitarnya.

“Woooowww… Gundul Booo….Hahaha….” Tawa Rini dan gengnya sambil menunjuk-nunjuk kearah selangkangan Karnia, “Tuuh… Kebukti khaan…. LONTE… Kalo kemana-mana nggak pernah pake celana dalem… Hahaha…. ”
“Astaga… Karnia….” Pekik Clara yang buru-buru menolong saudara sepupunya itu, “Rini… Apa-apaan sih Lo…? Sumpah… Lo keterlaluan banget….” Bentak Clara yang gantian mendorong tubuh Rini hingga terdorong menabrak pagar kantin dengan kencang sebelum buru-buru menolong Karnia.

Dengan sigap Clara membetulkan rok Karnia yang masih tersingkap lalu membantu sepupunya itu berdiri kembali..
“Wuih… ANJING…! Si LONTE nggak terima…?” Tantang Rini yang kemudian meraih mangkuk soto yang ada didepannya dan melemparkannya kearah Clara.

BLUGH…. PRAK… KLONTANG…. PRANG….
Mangkuk soto itu mendarat tepat di badan Clara, menumpahkan kuah panas kedepan payudara besarnya sebelum jatuh dan pecah berkeping-keping ketika mendarat ke ubin kantin.

“Aduh… Panas… Panas….” Teriak Clara histeris, sambil mengibas-kibaskan tangannya ke arah payudaranya, “Aduh… Panas… PANAASSS….”

Karnia yang melihat sepupunya itu kesakitan, tanpa berpikir panjang segera saja menyiram bagian payudara Clara dengan dua gelas es teh yang ada didekatnya. Namun, sepertinya sia-sia. Karena Clara masih tetap saja mengibaskan tangannya karena kepanasan. Kuah panas soto itu tak dapat dengan mudah luruh dari tubuh Clara.

Akhirnya, tanpa berpikir panjang. Karnia segera membuka paksa baju seragam Clara dengan cara membredel kancing-kancing depannya.

BREET… BREEET… BREEEETTTT….

“Buka bajumu Clara….” Perintah Karnia yang segera saja diturutin Clara…”Buruan… Buka sebelum kulitmu melepuh…”

Entah karena merasakan panas yang amat sangat, Clara dan Karnia sama sekali tak memikirkan dengan apa yang sedang mereka lakukan. Yang jelas, Clara ingin panas yang ada di badannya dapat segera mereda.

Dan setelah Clara membuka bajunya, tiba-tiba, suasana di kantin terasa begitu sunyi.

Karena semua mata, tertuju ke tubuh molek Clara sudah tak berseragam sama sekali.

“Woooowww…. Suuiiitt… Suiiitttt…”
“Toge Pasar… Toket Gedhe Pantat Besaar…”
“Anjiiirrrr…. Seksi sekali kamu Clara….”
“Busyeeeett dah itu teeeteeeekkk…. Kaya mau loncat gitu….”
“Itu asli nggak sih…? Badan sekurus itu kok punya toket yang gedheee beeeneeerrr….”
“Waaahh… Tetek Clara bisa dijadiin bahan coli tuuuhh…. Sekel abiiiisss….”
“Bener coiy… Toket gedhe Clara bisa dipake nyelipin kontol tuhh…”
“Waah… Ngocok-kocok kontol pake belahan toket Clara seru juga kali ya…?”
“Kebanyakan diremes om-om kali tuuuhh… Jadi teteknya bisa gedhe gitu…?”

Puluhan komentar kagum dan juga mesum, terlontar tanpa henti ketika melihat kemolekan tubuh Clara yang hanya mengenakan bra berwarna kuning itu. Dengan tubuh ramping, kulit yang putih mulus, dan payudaranya yang ekstra besar, membuat Clara seketika menjadi obyek pelampiasan mata-mata mesum para lelaki. Bahkan, tak sedikit diantara mereka yang malah mengambil photo Clara dari berbagai sudut.

“CLARA… KARNIA… ADA APA INI….?” Suara berat Pak Darmanto, guru olahraga yang tiba-tiba terdengar lantang, meredam keriuhan celoteh siswa-siswanya.
“Nggak ada kapok-kappoknya ya kalian ini berantem mulu…. ” Sahut bu Mirna, guru BP menimpali.
“Ituh Bu… Si Lonte Clara dan Karnia ngajak ribut….” Ucap Rini spontan sembari menunjuk kearah kedua saudara itu. “Mereka kegatelan Bu… Ngegodain cowo orang….”
“Lonte lonte…. Lo yang Lonte….” Balas Karnia tak terima.
“Sssshhh…. RINI… CLARA… KARNIA…. Udah-udah… Ayo kalian ikut kekantor….”
“Nano Eno….Kalian juga…” Tambah Bu Mirna
“Loooh… Bu…? Kok saya juga ikut dibawa-bawa…?” Celetuk Rini tak terima.
“Udaaah…. Jangan protes… Nanti kalian semua jelasin di kantor.

“Huuuuuuuu….. ” Sorak sorai siswa pun segera bergemuruh, seolah tak setuju dengan keputusan guru BP itu, “Wah Pak Manto ngeganggu pertunjukan ajaaa…. Ga seruuuuu…..”
“Iya Niiiihh… Reseeee…..” Sahut siswa yang lain.

***

“Oke…. Setelah mendengar penjelasan para saksi mata… Bapak putuskan jika Rini… ” Ucap Pak Darmanto sengaja memotong kalimatnya, “Kamu ganti seragam Clara….”
“Loh Pak…? Khan yang nyobek seragam LONTE itu Karnia….”

BRAK

“Rini…! Jaga mulutmu…. Nggak sepantasnya wanita secantik kamu berkata seperti itu…” Hardik Bu Mirna sambil menggebrak meja.
“Memang dia Lonte kok… Kenapa aku harus jaga mulutku..?”
“RINIIIII…..” Emosi Bu Mirna meluap, “Kamu tuh ya… ”
“Kenapa….? Ibu nggak suka…?”
“Kamu memang bener-bener ya…? Harus berapa kali sih Ibu harus kasih kamu pelajaran sampai kamu bisa jaga mulutmu…?”

“Udah…Bu…. Sabar… ” Ucap Pak Manto mencoba menenangkan emosi guru BP itu. “Pokoknya bapak nggak mau tau… Besok… Kamu harus bawa baju pengganti buat Clara… Kalau tidak… Bapak bakal panggil orang tuamu…” ucap Pak Manto sambil melirik kearah Clara.
“Ahhh…. Pilih kasih….” Jawab Rini sambil bersungut-sungut, “Bapak sekarang udah beda…. Bapak udah nggak sayang lagi ama Rini….” Sambung gadis muda itu sambil bangkit dari kursi UKS.
“Looh…. Bukan begitu Rini…” Sahut Pak Manto berusaha adil
“Ahh….Bapak jahat… Aku sumpahin kontol bapak mengkerut… Mengecil selamanyaaa….” Teriak Rini sambil berlari menjauh.
“Astaga nih anaaak…..RIIINNNIIIIII…..!” Teriak Bu Mirna sambil menyusul Rini keluar ruangan.
“Bu Mirna… Ini Clara bagaimana….?” Tanya Pak Manto bingung.
“Udah Pak… Bapak urus aja dulu…” Sahut Bu Mirna, “Biar saya yang menenangkan Rini…”
“Hmmm… Yaudah deh kalo gitu… Nano Eno …Sekarang kalian balik aja ke kelas… Jam istirahat udah selesai…”
“Baik Pak….”
***

“Kamu baik-baik saja Clara…?” Tanya Pak Manto sambil melirik kearah payudara Clara.
“Iya Pak… Saya nggak apa-apa kok…” Jawab Clara yang mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya.
“Udah… Udah… Kamu jangan bangun dulu…” Cegah Pak Manto sembari menahan pundak Clara untuk tetap tiduran di tempat tidur, “Kamu istirahat aja dulu sampe badan kamu bener-bener kuat…” Pintanya lagi sambil bergegas ke lemari obat dan kembali ke tempat tidur Clara.

“Sebentar… Mana tadi yang luka…? Berdarah nggak…? Sakit nggak….?” Tanya Pak Manto sambil berpura-pura mengecek luka Clara. Padahal sudah jelas, Clara tak terluka sama sekali. Yang ada hanyalah kulit area payudara Clara yang melepuh karena ketumpahan kuah panas soto. “Bapak obatin dulu ya…?”
“Eeeh… Nggak usah Pak… Clara bisa obatin sendiri kok…”
“Heeeh… Jangan sembarangan ah… Ini bukan luka ringan loh… Kalo kamu salah oles… Bisa makin perih ini lukanya….” Jelas Pak Manto sambil mulai membuka tutup salep itu dan membalurkan ke perut Clara.

Rasa dingin, langsung saja menyebar di sekujur kulit perutnya. Dengan gerakan berputar, Pak Manto berusaha mengobati rasa panas yang ada tubuh Clara. Dari perut, perlahan naik ke payudara.

“Hmmm…. ” Ucap Pak Manto seolah berpikir keras, “Sepertinya… Behamu cukup ngeganggu deh… Ayo buka gih…” Pinta Pak Manto
“Hah…? Saya harus buka beha….?”
“Iya… Kalo nggak dibuka… Gimana bapak bisa ngobatin lukamu…?”
“Nnggg… Tapi Pak…”
“Uudaaah… Nggak usah malu… Bapak juga punya anak perempuan seusiamu kok… Jadi Bapak udah seringlah liat tetek perempuan….” Rayu Pak Manto.

“Tapi Pak… Ngggg… Beneran deh… Saya bisa ngobatin sendiri kok Pak…”
“Udah-udah… Ayo buruan buka….” Pinta Pak Manto bersikeras sambil menurunkan sebelah tali bra Clara, “Nggak apa-apa ini…. Ayo… Nanggung ah kalo bapak ngobatinnya sampe disini aja…. Udah keburu kotor ini tangan bapak…”

Melihat keteguhan hati guru olahraga yang berbadan besar itu, Clara bergidik juga. Ia khawatir jika Pak Manto bakal tersinggung dan marah karena penolakannya. Akhirnya, sambil memiringkan tubuhnya, Clara pun berusaha melepas kait bra di punggungnya.

“Ssshhhh…” Rintih Clara tiba-tiba karena merasakan sakit pada payudaranya. Ia tak menyangka jika luka melepuh di payudaranya sudah mulai berasa seperti ini.
“Tuuhhh…. Sakit khan….?” Celetuk Pak Manto ketika melihat gadis cantik itu meringis-meringis nyeri. “Sini… Bapak coba bantu bukain kait behanya….” Tambah guru olahraga itu sembari meraih kaitan bra Clara. Dan, tak beberapa lama kemudian, payudara bulat Clara sudah terpampang jelas tanpa sebuah penghalang sedikitpun.

“Naaah… Begini khan enak….” Jawab Pak Manto sembari menatap tajam kearah payudara besar Clara, “Bapak obatin ya…?”

Tanpa meminta persetujuan Clara, Pak Manto segera mengusap bawah payudara Clara pelan.
“Nggg….. Pak….”
“Kenapa….? Tahan bentar ya… Sakitnya pasti akan segera hilang….” Ucap Pak Manto sembari mengusapi naik ke arah puting payudara Clara.
“Sshhh…. Nggg….”
“Gimana…? Enak ya…?”
“Nnnnggg… Dingin Pak….”
“Iyalah emang dingin… Namanya juga dibalur salep….”

Melihat Clara yang masih diam saja ketika menerima sentuhan tangan kasarnya, Pak Manto pun semakin meremas perlahan payudara Clara. Membuat puting payudaranya semakin mengeras.
“Ooh…. Sssshh… Pak….”
“Hmmmm…. Putingmu mulai mengeras ya Clara…? Kenapa….? Kamu malu ya….?”
“Udah ya Pak…”
“Sssttt…. Ini salep belum meresap… Sebentar lagi….”
“Geli Pak….”
“Iya… Bapak tahu…” Ucap Pak Manto dengan nafas yang semakin memburu sembari terus mencubiti puting payudara Clara, “Ohh Clara… Bagus banget ini tetekmu… Bentuknya bulat sempurna… Empuk….” Puji Pak Manto sembari berulang kali menarik nafas panjang, “Ini aseli khan ya…? Tetekmu bisa sebesar ini bukan karena obat-obatan….?”
“Ngg… Iya Pak… Asli…..”
“Waaah…. Pasti tetek ini kamu dapet dari mama kamu ya Clara….?” Tanya Pak Manto yang tak hentinya meremas dan menyentil puting payudara Clara yang semakin mancung.
“Sssh… Nggg. Iya Pak…. Oooohh….”
“Hehehe… Tahan bentar ya…. Bentar lagi pasti enak kok….” Ucapnya lirih, dengan tangan yang tanpa malu-malu membetulkan posisi selangkangannya, “Ini putting kok bisa berwarna pink gini ya…. Bikin bapak gemes pengen ngenyot….” Tambah pak Manto yang mulai memonyongkan bibirnya dan mendekat ke arah kuncup payudara Clara.
“Ooohh… Jangan Paaak…” Sergah Clara sembari menjauhkan wajah Pak Manto dar payudaranya.

“CLARA… Ini bajunya udah dapeet…” Teriak Karnia yang menghambur ke dalam ruangan UKS.
“Waah… Karnia udah dateng….” Kata Pak Manto seolah lega ketika sepupu Clara sudah tiba di UKS, ” Sini… Sini…. Karnia… Kebetulan banget kamu udah disini… Ini tolong dong kamu obatin tetek saudaramu… Bapak mau nulis laporan dulu…” Kata Pak Manto sembari menyerahkan salep luka ke tangan Karnia.

Buru-buru, Pak Manto berjalan menuju meja kayu yang ada disamping tempat tidur Clara. Kemudian ia duduk sambil tersenyum ke arah Clara. Tak beberapa lama, terdengar suara metal berdenting dibalik meja Pak Manto. Mirip suara kepala gesper.

“Ayo Karnia…. Buruan kamu obatin tetek Clara… Kasihan loh kalo kulit mulus Clara nanti sampe jadi belang….” Pinta Pak Manto.
“Eh iya Pak…” Jawab Karnia singkat, “Begini…?”
“Iyak bener…. Bener… Iya terus seperti itu… Ngolesinnya sambil diputar-putar ya…. ” Pinta Pak Manto lagi berusaha menginstruksi. ” Naah… Karnia… Sekarang remas-remas tetek Clara…. Biar salepnya cepet meresap kedalam kulit…”

Merasakan usapan tangan lembut Karnia pada payudaranya, otomatis membuat Clara sedikit demi sedikit mulai terangsang. Terlebih dengan adanya Pak Manto yang menatapi kedua payudara besarnya, membuat penyakit pamernya semakin menjadi-jadi.
“Sssh…. Karnia….Pelan-pelan…” Lenguh Clara pelan sambil meringis-meringis kesakitan.
“Tahan ya Clara… Tahan bentar… ”
“Nggghhhh…. Iya Paak…. Shhh…..Ehhmmmhhh….”
“Tahan Clara… Tahaan… Biar tetek besarmu nggak kenapa-napa…” Jawab Pak Manto dengan nada berat. “Putingnya juga Karnia… Itu diobatin juga… Kasihan Clara kalo warna putingnya yang pink berubah menjadi hitam… “Tambah guru olahraga itu dengan badan yang entah kenapa mulai bergoyang-goyang.

“Clara….” Cole Karnia pada payudara Clara.

Mata Clara melotot, mencoba menjawab colekan Karnia.

“Tangan kiri Pak Manto nggak ada di meja….” Bibir Karnia komat-kamit tanpa suara.
“Serius…?” Jawab Clara dengan bibir berkomat-kamit pula, “Emang kemana…?”
“Pasti ada dibawah meja…. Buat ngocok kontolnya…”

Penasaran, Clara melirik kearah Pak Manto. Dan benar, tangan kiri guru olahraga itu tak terlihat. Diatas meja hanya ada tangan kanannya yang terlihat seolah-olah sedang menulis laporan. Taplak meja UKS yang panjang, mampu menutup aktifitas mesumnya dengan sempurna.

“Pak Manto pasti horny liat tetekmu…” Seru Karnia yang tiba-tiba meremas pelan payudara Clara.
“Nggg…. Aaaaww….” Rintih Clara kesakitan.
“Eeeh… Pelan-pelan Karnia…. Kasihan dikit dong sama tetek Clara….” Celetuk Pak Manto sok peduli, “Pasti ngilu tuh tetek….”

“Uppss…. Maaf ya sayang….”
“Karnia… Biar Clara nggak semakin kesakitan…. Coba deh kamu pilin-pilin itu putingnya….”
“Begini….? Pak…?” Jawab Karnia menuruti.
“Sssh… Ooohhh… Karniaa….” Lenguh Clara pelan.

“Iya Benaaar… Trus… Diremas-remas juga….” Pinta Pak Manto
“Diremas-remas…. Seperti… Ini…?” Tanya Karnia sembari mempermainkan payudara besar saudaranya. Membolak-balik payudara mulus itu bak adonan roti.
“Uuuuhhhh… Pelan-pelan Kaaarr…. Eeehhhmmm…. Ooohh….”
“Tahan ya Sayang… Ini demi kesembuhanmu….” Celetuk Karnia sembari terus meremasi payudara Clara sembari mencubiti putingnya yang semakin mancung mengeras.
“Oooh… oooh… Sssshhh… Karnia… Geli…. Sssshhh….”

Tak puas dengan hanya menggoda payudara Clara, Karnia pun melakukan sesuatu yang tak pernah Clara bayangkan sebelumnya. Karnia tiba-tiba menangkap kedua pergelangan tangan Clara, mencegahnya supaya tak banyak bergerak. Setelah itu,

CUP CUP SLUUURRPPP HAEM….

“Ooohh… Karniaaa… Sssh…” Jerit Clara tiba-tiba sambil meronta-ronta, ” Ngiluuu Kaar… Ngiluuu…. ”

Namun, karena badan Karnia lebih besar daripada Clara, rontaannya sama sekali tak berguna. Hanya membuat payudaranya semakin bergoyang kesana kemari. Karena geli, kedua kaki Clara juga menghentak-hentak, hingga rok seragamnya semakin naik dan menamkakkan kedua paha putih mulusnya.

SLUUURRP CUP CUP SLUUURRPPP HAEM….

“Wwoooww… Kalian berdua benar-benar seksi sekali….Ooohh….” Pinta Pak Manto kegirangan antara melihat jilatan lidah Karnia pada payudara Clara, lenguhan kenikmatan Clara, dan keseksian paha mulus Clara. Segera saja, tubuh guru olahraga itu terlihat makin bersemangat. Tangan kirinya bergoyang-goyang hebat disertai suara betotan kulit, seperti yang pernah Clara dengar ketika melihat saudaranya Ciello beronani

TEK TEK TEK TEK…

“Ooohh… Karniaaa… Tetek aku ngiluuu…. Geli Kaaar… Ngiluuu…. Ssshh….” Rintih Clara sembari terus meronta tanpa henti. Sampai-sampai sprei dipan UKS itu teracak-acak terlepas dari tempatnya.

“Yak… Yak…. Ooohh… Terus Karnia… Terus…. Jilat terus tetek besar Clara itu … Jilat teruus… ”

TEK TEK TEK TEK..

“Uuuhh… Karnia… Ngilu Kaar….. Ampunn… Jangan jilat putingku seperti itu laagiii… Ngiluu… Ooohh… Ampuuunn.. Tetek aku ngiluuu….” Lenguh Clara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

TEK TEK TEK TEK..

“Terus Kaarniaaa…. Ooohh… Jilat… Supaya Clara tak merasa kesakitan…” Jawab Pak Manto sembari terus menggoyang-goyangkan tangan kirinya dengan gerakan yang lebih cepat daripada sebelumnya. Jauh lebih cepat dari sebelumnya.

TEK TEK TEK TEK..

“Ooohh.. Ohh… Jilat terus tetek itu Karnia… Hisaap…” Seru Pak Manto girang sambil terus-terusan menggoyangkan tangan kirinya kuat-kuat. Hingga tak lama kemudian, guru olahraga itu melenguh panjang sambil memejamkan mata.

CRET CRET CREECEEET CRET CRET…

Tiba-tiba, dari balik kain taplak meja UKS itu, menetes turun lelehan-lelehan lendir berwarna keputihan dan menggenang di lantai dibawah meja. Tubuh Pak Manto bergetar hebat dengan nafasnya memburu.

Sejenak, suasana UKS itu hening. Hanya terdengar desahan nafas kepuasan Pak Manto dan lenguhan kenikmatan Clara.

“Karnia…. Ngiluu…..” Rintih Clara pelan.
“Sssttt…. Pak Manto udah ngecrot tuh….” Bisik Karnia pelan sambil melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Clara, “Udah yuk… Kita buru-buru cabut…”
“Cabut sih cabut… Tapi tetek aku ngilu bangeeet….”
“Hehee… Maaf… Yuk ah… mumpung tua bangka itu masih terlena dalam khayalannya….”

Karnia segera menyerahkan baju seragam baru buat Clara.

“Eh… Trus beha aku gimana…?” Tanya Clara bingung.
“Udaaah… Sementara nggak usah pake bra… ” Saran Karnia sambil mengangkat punggung Clara dari dipan UKS itu pelan. Berusaha tak membunyikan suara sedikitpun. “Yang penting sekarang keluar dulu dari sini… ”

“Tapi aku takut kalo nanti Pak Manto malah marah…”
“Marah…?”
“Iya…. Kalo dia tahu kita ternyata udah kabur….”
“Nggak bakalan…. Dia nggak bakalan marah….”
“Kok kamu yakin…?”
“Hehehe… Aku sudah punya kartu mati buat dia…” Tutup Karnia sambil menyunggingkan senyum terlicik yang pernah tak pernah Clara lihat sebelumnya.

Bersambung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*