Home » Cerita Seks Mama Anak » Kisah Keluarga Citra 4

Kisah Keluarga Citra 4

Bagian 4 | Inikah Godaan Mama?

Setelah selesai menyabuni tubuhnya, Ciello membilas tubuhnya dengan guyuran air shower. Segar. Membiarkan siraman air hujan buatan itu meluruhkan busa busa wangi dari tubuhnya.

“Hai sayang…. ” Ucap Citra menyapa dirinya dari pintu kamar mandi.
“Eh Mama… Ngagetin aja… ” Ucap Ciello sambil terus membilas tubuhnya. Membiarkan ibu kandungnya itu dapat melihat seluruh tubuh telanjangnya. Setelah selesai, Ciello segera memutar kenop shower. Mematikan aliran air shower.

Sejenak, Citra menatap kagum kearah tubuh Ciello yang masih basah kuyup di depannya. Menatap dengan rasa bangga kearah tubuh tegap putranya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan kembali kearah selangkangan putranya. Kearah penis putranya yang lemas menjuntai. Terombang ambing seiring gerakan si empunya. Citra tahu jika apa yang ia lakukan adalah kurang pantas, Namun entah kenapa, ibu kandung Ciello itu terus menatap tajam kearah penis besar besar putranya itu lekat-lekat.

“Ciello sayang…” Panggil Citra.
“Yaa Maaa…?” Jawab Ciello
“Mama mau bicara…..”

Mendengar kata ‘bicara’, Ciello segera menghentikan aktifitasnya. Ia tahu jika sepertinya ada sesuatu hal penting yang harus diobrolin.
“Nggg… Bicara apa ya Maa..?”

Citra melangkah masuk. Lalu mengambil handuk yang tersampir di gantungan baju. Ibu cantik dan seksi itu kemudian berjalan mendekat kearah putranya berada.

“Ciello… Sayang…. ” Kata Citra membuka percakapan seriusnya. Tetap, sambil sesekali menatap tajam kearah penis Ciello, “Mama minta maaf ya nak… Mungkin tadi pagi Mama bertindak terlalu jauh padamu…”
“Hmmm… Ciello juga minta maaf Maa.. Ciello janji setelah ini ngga bakal malas-malasan lagi kok… Ciello ga bakal mengurung diri dikamar lagi…”

“Nggg… Bukan sayang… Bukan tentang itu… ” Ucap Citra sambil menggelengkan kepalanya.
“Lohh… ? Bukan ya…? Lalu tentang apa Maa…..?”
“Mama ingin minta maaf tentang kejadian yang tadi pagi sayang… Tentang titit kamu yang terselip di…….”
“Owww…. Yang itu…”
“Maafin Mama ya sayang… Mama nggak ngira kalo tadi pagi kita bakal…. Mmmmm… ”

“Oooowwhh…. Iya Ma…. Nggg.. Nggak apa-apa kok….” Potong Ciello buru-buru.
“Tapi… Tadi kamu nggak apa-apa khan sayang…?” Sambung Citra lagi.
“Maksud Mama…?”
“Tititmu… Nggg… Tititmu tadi sampai keluar mmm… Spermanya khan….?”
“Owww… Itu…. Kayaknya sih nggak apa-apa Maa…” Potong Ciello lagi.
“Beneran sayang…. Soalnya menurut Mama… Keluarnya kok agak kecepetan ya…?”

“Nggg…. Anu Maa….. Abisan… Ciello belom pernah ngerasain… Ngg…. Hal yang kaya tadi pagi Mama lakuin ke… Nggg… Titit aku…”
“Oooowww…. Kasian banget anak Mama. Ini…. ” Jawab Citra sembari mengibaskan handuk Ciello dan mulai membantu putranya buat mengeringkan badan, “Nggak apa-apa sayang… Nggak usah khawatir… Nanti kalo saatnya tepat, kamu pasti bakal mahir ngatur kapan harus keluarin.. Mmmm… Spermamu….”

“Nggg…. Gitu ya Maa…?” Tanya Ciello malu-malu.
Tak menjawab, Citra hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum simpul.

Berulang kali, Citra mengusap-usap kepala Ciello dengan handuk, mengusap telinga, wajah, leher hingga pundak dan dadanya. Kasih sayang Citra, membuat dirinya selalu memperlakukan Ciello bak anak yang masih berusia 5-6 tahun. Begitu pula dengan Ciello, remaja 18 tahun ini pun juga terus saja membiarkan ibu kandungnya yang semok itu mengeringkan tubuhnya. Membiarkan jemari lentik ibunya menggerayangi setiap jengkal tubuhnya.

Perlahan Citra lalu berjongkok. Bertumpu pada lututnya. Lalu terus mengeringkan tubuh bagian tengah putranya. Hingga tiba ke bagian tubuh kebanggaan Ciello yang masih menjuntai lemas.

Sejenak, ada keraguan di dalam diri Citra. Antara mau tak mau menyentuh tubuh Ciello yang satu itu, namun karena darah birahinya yang tak terpuaskan tadi pagi, Citra pun sedikit memberanikan diri untuk kembali meneruskan aktifitasnya.

Mengeringkan daerah di sekitar batang kelamin Ciello.

“Oh iya Sayang…. Mama barusan ngobrol dengan Clara… ” Ucap Citra sambil melirik keatas, kearah wajah putranya yang ganteng. Mencari tahu apa reaksi yang ditunjukkan putranya ketika tangannya berputar-putar di sekeliling area batang penisnya tumbuh.

“Ngobrol …? Nggg….. Ngobrol tentang apa Maa…?” Jawab Ciello dengan wajah yang tiba-tiba bingung. Melihat ibunya yang bermain-main di sekitaran batang penisnya.
“Tentang apa yang kamu lakuin dihadapan Clara tadi pagi….” Pancing Citra.
“Nggg…Ciello nggak ngerti Maa… ” Jawab Ciello sambil menatap tubuh ibunya yang hanya terbungkus dengan kain jubah tipis pendek. Yang sama sekali tak mampu menyembunyikan keseksian tubuhnya.

“Iya… Adik kamu… Clara bilang kalo tadi pagi kamu… ” Citra menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi, “Jadi begini sayang… Tadi Clara bilang…. Ia ngelihat kamu sedang ona… Mmmm…. Kamu tahu lah…” Sambung Citra sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Memperlihatkan gerakan mengocok pada putranya.
“Ooowww…Itu…. Maaf Maa… Ciello…. Ciello nggak…..”
“Sssshh…. Iya iya… Udah….Nggak apa-apa Sayang… ”
“Bener Maa….? ”
“Iya Sayang…. Itu wajar kok buat remaja seusiamu… Kalau kamu sering ona…..” Lagi-lagi Citra sejenak tak meneruskan kalimatnya, “Onani… Haah Sumpah deh… Susah sekali nyebut kata itu…. Onani…”
“Maaf Maa….”
“Kamu tak perlu merasa bersalah Sayang… Sekali lagi Mama bilang…. Itu hal yang sangat wajar… Hanya saja…”

Lagi-lagi, Citra menghentikan kalimatnya. Sekilas, ia menatap penis putranya yang mulai menegang karena usapan-usapan tangannya pada perut rata Ciello. Sebelum ia kembali menatap wajah Ciello lagi.

Walau Citra belum mengusap penis Ciello, tetapi ia bisa memperkirakan apa yang terjadi pada batang penis putranya yang mulai tegang itu nanti.

“Hanya…..Kenapa Maa…?”
“Jangan ngelakuin hal itu diluar rumah ya Nak… ” Nasehat Citra, “Mama khawatir aja kalo kamu nantinya bisa salah jalan…” Ucap Citra yang galau antara ingin memegang penis Ciello dengan kain handuk atau melewatinya. Karena ia dapat melihat jika kepala penis putranya yang mulai menampakkan diri dari balik kulit kulupnya.

“Merah sekali kepala tititmu Sayang….” Kata Citra dalam hati yang terus menatap kepala penis Ciello, “Kepala titit itu terlihat begitu menantang… Pasti mulai berkedut tegang… Karena dia sudah dua kali orgasme…” Batin Citra lagi.

“Nggak lah Maa… Cuman tadi Clara juga sih yang ngegodain… Jadinya yaaa… ” Gantian, Ciello tak meneruskan kalimatnya. Ia hanya menatap ekspresi wajah Citra yang tepat berada di depan batang kebanggaannya yang mulai menegang keras.

“Iya Sayang… Mama ngerti….” Jawab Citra sambil tersenyum.

Melihat Citra yang sama sekali tak marah dengan tingkah isengnya pada Clara, pikiran Ciello mulai iseng. Kenakalannya muncul. Dan sepertinya penis mesumnya pun tahu, karena tak lama kemudian, batang yang sudah terasa ngilu karena 2 kali orgasme itu, perlahan mulai menggembung lebih besar lagi. Terisi darah birahi yang semakin lama semakin tak terbendung.

“Tapi kadang… Ciello juga nggak kuat nahan godaan Clara Maa… Terlebih kalo Clara sedang bugil dihadapan Ciello….” Kata Ciello
“Iya Sayang… Mama tahu jika Clara itu cantik dan seksi… Bahkan sepertinya… Clara juga terlalu cuek akan kemolekan tubuhnya….” Jelas Citra sambil terus mengelap lubang pusar Ciello sembari terus menatap penis putranya yang perlahan semakin mendongak keatas. “Mama harap… Kamu juga bisa menjaga diri ya… Kalau sedang berada dekat dekat dengan adikmu… Terlebih… Kamu tahu sendiri khan… Betapa jahilnya adikmu jika dekat dengan kakaknya…?”

“Nggg… Iya Maa…”
“Nah… Oleh karena itu…. Mama minta …. Supaya kamu nggak gampang tergoda dengan keseksian dan segala tingkah lakunya yang terkadang keterlaluan…”
“Ciello coba Maa…”
“Bagus… Itu baru namanya anak Mama…. ” Kata Citra yang dengan cuek, melewatkan daerah selangkangan Ciello dan langsung berpindah mengeringkan kakinya.

“Nggg Maa…?”
“Yaaa Sayang…?”
“Kok itu…”
“Itu apa ?”
“Ngg…. Titit Ciello nggak dihandukin… ?” Tanya Ciello memberanikan diri.

“Oooww…Kamu mau…??”
“Nggg… Kalo boleh sih Maa…. ” Jawab Ciello dengan wajah yang memerah. Malu.

“Hmmm…. Dasar anak muda…. ” Jawab Citra yang kemudian memberanikan diri untuk menatap terang-terangan kearah penis putranya. “Tititmu…Apa selalu keras begini Sayang…?”
“Nggg… I… Iya Maa… Terlebih kalo didekat Ciello ada wanita cantik…”
“Iiihhss… Kamu benar-benar mirip papamu ya sayang….”
“Mirip…?”
“Iya… Jago ngegombal…”

“Ah Mama…. Ciello mah serius… “Jawab Ciello malu-malu, “Jadi gimana Maa… ? Mau khan ngehandukin tit…..”

Tanpa menjawab, Citra hanya menganggukkan kepala. Bibirnya tersenyum dan kemudian menjulurkan tangannya. Menyentuh batang penis putranya yang sudah begitu tegang. Citra sadar, jika Ciello yang sudah dua kali orgasme itu, pasti merasakan sakit yang luar biasa pada batang penisnya.

“Tititmu…. Mmmm… Tititmu mirip punya Papa Sayang…. Besar…” Ucap Citra sambil membolak-balik batang penis Ciello. Matanya terus menatap tajam penis Ciello. Seolah sedang merekam setiap mili penampakan batang penis putranya itu.
“Beneran Maa…?”
“Iya Sayang… Malahan… Mungkin titit ini… Sepertinya bakal jadi lebih besar lagi jika kamu sudah seusia Papamu… ” Goda Citra
“Woooowww… Iya kali ya Maa…”
“Pasti istrimu besok bakal selalu terpuaskan ya Sayang…? Hihihi….” Candanya sambil menyelesaikan mengeringkan penis Ciello dengan handuk ditangannya.
“Hehehe… Ah… Mama bisa aja….”

“Eh iya Sayang…. Mama mau nanya…” Ucap Citra dengan nada santai.
“Kenapa Maa….?”
“Tentang kejadian yang kamu lakukan ketika sedang bersama Clara… ”
“Nggg… Kenapa ya Maa…?

“Mmmm….Apa bener…? Tadi ketika kamu sedang… Hmmmm…. Onani… ” Kata Citra mencoba mengatur kalimatnya tanpa harus membuat Ciello malu, “Apa benar… Mmm…. Kamu manggil-manggil nama Mama dan adikmu ketika kamu orgasme..?

“Nggg…” Kaget Ciello mendengar pertanyaan Citra.
“Enggak enggak Sayang…. Mama nggak marah kok… Mama cuman heran kenapa kamu melakukan itu…? Terlebih adikmu itu khan baru kelas 2 SMP loh… Seharusnya sih… Nggak sepatutnya kamu melakukan hal itu didepan dia…”

“Kalo tentang itu Maa… Ciello….Nggg…” Bingung remaja tanggung itu.
“Emangnya apa yang membuatmu selalu sange seperti itu sih sayang…? Apa kamu selalu nonton video porno….?
“Nggg.. Sebenernya sih… Ciello….Nggg…”
“Iya…? Kamu kenapa Sayang….?

“Ciello memang selalu horny ketika melihat Mama ama Clara Maa…. Terlebih kalian berdua khan sering banget mengenakan sesuatu yang seksi…. Bahkan terkadang terlalu seksi…” Jelas Ciello.
“Oohh.. Gitu ya sayang…. ?”
“Maafin Ciello ya Maa… Mungkin jika Ciello punya cewe… Ciello bisa melepas semua penat yang ada dipikiranku Maa… ”
“Penat gimana maksudmu…?”
“Ya penat yang ada di……” Jawab Ciello malu sambil melirik kearah penisnya yang sudah tegang menjulang tinggi. Kearah kepala penisnya yang menunjuk-nunjuk wajah ibunya.

“Ngewe maksud kamu…? ” Tebak Citra langgsung.

Ciello kaget dengan kesimpulan mamanya. “Enggak Maa… Bukan begitu…”

“Sayang… ” Ucap Citra menatap anaknya dalam-dalam, “Punya cewe… Atau tidak… Bukanlah menjadi sebuah alasan untuk bisa ngewe….. Justru karena kamu masih jomblo… Mama jadi bisa bersyukur…”
“Maksud Mama….?”
“Iya… Mama tak suka ya… Dengan ide pacaran seperti anak jaman sekarang…. Ketemu … Salaman…. Kenalan…. Pacaran…. Trus ngewe…”
“Laaahh… Bukannya hal itu sekarang udah wajar Maa…?”
“Iya sih… Cuman Mama nggak pengen anak Mama yang ganteng ini… Yang punya titit besar ini… Jadi suka mainin perempuan… Baik dia pacar kamu atau bukan….” Nasehat Citra sembari mengusap kepala penis Ciello.

“Uuhhmmm…. Lalu… Ciello harus gimana Maa…?” Tanya Ciello bingung. Dengan penis yang sudah begitu tegang. Berdenyut menantang.

Melihat penis Ciello yang berkedut-kedut, Citra mengigit bibir bawahnya. Rupanya hawa birahinya yang tak tersalurkan tadi pagi, masih membuat dirinya horny. Ditambah lagi karena ulah iseng Mike yang hanya menggelitiki vagina gatalnya sebelum terputus kembali oleh teguran Clara. Sungguh kentang. 2 kali garukkan nikmat penis besar Mike sama sekali tak membuatnya merasa enak.

“Kalau misal… Mama bisa kasih kamu sedikit solusi… Apa kamu bisa pegang janji…?”
“Janji….?”
“Iya… Kamu harus janji ke Mama dahulu Sayang… ”
“Nggg… Oke….”
“Kamu janji nggak bakalan bilang ke siapapun…?”
“Iya Maa…. Aku janji….”

Citra menarik nafasnya dalam-dalam. Sejenak ia bangkit dari posisi berlututnya dan buru-buru keluar. Memeriksa kearah sekitar pintu kamar mandi. Sebelum akhirnya ia kembali masuk kedalam.

Dengan wajah tegang, Citra lalu membuka ikatan tali jubah tidurnya. Dan membiarkan kain lemas itu menjuntai terbuka. Memamerkan seluruh payudara, perut, pusar, dan vagina gundulnya.

Mata Ciello mendadak melotot. Begitu lebar dengan mulut menganga. Ia tak pernah bermimpi sedikitpun mengenai kelakuan ibunya ini. Hari itu Ciello benar-benar merasa beruntung.

Dan Citra pun begitu menikmati ekspresi kaget putranya, yang begitu polos.

“Mama tahu Sayang… Untuk anak seusiamu… Memang susah sekali melawan rasa penasaran dan nafsu yang ada di pikiranmu… “Jelas Citra,”Terlebih melihat Mama dan Clara yang sering kali berkeliaran dirumah dengan segala keseksiannya…. Mama sadar… Kalo Mama juga turut punya salah… Membiarkan nafsu birahimu jadi tak terkontrol seperti ini… ”
“Ngg… Jadi Mama….”
“Iya Sayang…. Jadi.. Kalau kamu pengen melepaskan nafsu birahimu… Sok aja sayang… Kamu bisa ngeliat tubuh telanjang Mama sepuasmu…”

“AASSSTTAAAGGGA… SERIUS MAAA…?” Jerit hati Ciello kegirangan. Hal ini benar-benar susah dipercaya. Ciello sampai-sampai tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. “Ini pasti hari keberuntungankuuu…”

“Beneran Maa…?” Tanya Ciello tak percaya.
“Iya Sayang… Kamu boleh melihat tubuh telanjang Mamamu ini sepuasmu…”
“Nggg… Tapi cuman ngeliat aja ya Maa…?” Tanya Ciello lagi.
“Mmm… Iya… ”
“sebenernya sih… Kalo ngeliat aja… Mmmm… Itu nggak bakal bisa banyak ngebantu ngelepasin nafsu birahiku Maa…” Ucap Ciello, “Itu sama aja dengan lihat artis bokep di tivi…”

“Gitu ya Sayang….? Trus yang bisa ngebantu kamu ngelepas birahimu… Seperti apa…?”
“Yaaahh… Kalau misalnya Ciello bisa minta lebih….”
“Sepertiiiii…..?” Tanya Citra dengan nada menggoda.
“Mmm.. Pengennya sih… Bisa lebih jauh lagi…. Ma…. ” Jawab Ciello sok jual mahal.
“Lebih jauh gimana sih…. Mama nggak ngerti…? Kasih tau Mama dong….”

“Nggg… ” Tanpa menjawab pertanyaan Citra, Ciello buru-buru maju dan mendekat kearah ibunya. Lalu dengan semangat Ciello mengamit tangan mulus ibunya, dan tanpa meminta persetujuan Citra, Ciello mengarahkan telapak tangannya untuk menggenggam, batang penisnya yang sudah begitu keras. “Mungkin… Mama mau ngocokin titit Ciello Maa…?” Jawab remaja tanggung itu sembari menggerakkan tangan ibunya naik turun.

“Hmmm…. Jadi kalau Mama bantuin anak Mama ngocok tititnya… Itu bakal membuat nafsu anak Mama mereda…?” Tanya Citra gemas.
“Yaaa… Ku… Kurang lebih… Seperti itu Maa…” Tambah Ciello mencoba keberuntungannya.

“Ngocokin titit kamu yang gedhe ini…?”
“Iya Maaa… Bahkan kalu Mama mau… Mama boleh kok ngejilati titit Ciello juga…” Jawab Ciello penuh pengharapan.
“Hmmm…Dijilat ya…? Sampai keluar gitu ya…?” Sahut Citra sambi, terus mengocok-kocok pelan batang kejantanan putranya.
“Iya Maaa…” Angguk Ciello, “Mau ya Maaa… Pleeeaasseee….”
“Hihihi… Sepertinya ada yang udah ngga tahan nih…”

“Iya Maaaa…. Sshhh… Sumpah Maaa… Kocokan tangan Mama berasa enak sekali Maa.. ”
“Masa sih Sayang…?”
“Iya Maa… Apalagi kalo Mama mau ngejilatin titit Ciello… Pasti rasanya jauh lebih enak lagi…”
“Hmmmm… Gitu ya…? Tapi kayanya… Mulut Mama nggak bakalan muat deh Sayang.. Tititmu ini terlalu besar buat masuk ke mulut Mama…” Tolak Citra halus.
“Masa sih Maaa…? ”
“Iya Sayang… Liat aja nih… Ditangan Mama aja batang tititmu terasa begitu penuh… Jari Mama aja sampai nggak bisa ngegenggem penuh ini batang… Besar sekali…”
“Nggg… Iya juga ya Maa…”

“Lagian… Sepertinya apa yang kita Lakukin sekarang… Udah terlalu jauh Deh Sayang….” Jawab Citra singkat. Namun terus mengocok penis Ciello dengan gerakan pelan. “Jadi… Sebaiknya kita nggak boleh nerusin perbuatan kita ini ya Sayang…”
“Yaah… Mama…..” Ucap Ciello spontan. “Jadi Mama nggak mau nih Maaa..?”

“Hihihi… Jangan ya sayang… Seperti yang Mama bilang gasi… Mama hanya nawarin pemuas mata aja… “Jelas Citra lagi, “Memang sih… Apa yang Mama tawarkan tadi nggak ada bedanya dengan video porno yang sering kamu tonton ya…? Cuman bisa diliat tanpa bisa ngapa-ngapain lagi…. ”
“I… Iya Maa… Percuma aja kalo Mama nggak bantuin Ciello buat ngasih enak… ” Jawab Ciello tegang dengan mata penuh pengharapan.

“Kalo gitu… Mama minta maaf deh… Kalau apa yang Mama tawarkan ke kamu… Nggak sesuai dengan apa yang kamu inginkan…” Ucap Citra sambil mengecup kening Ciello.

“Nggg… Gini aja deh Ma… Okelah… Kalaupun Mama nggak mau ngocokin titit Ciello… Tapi… Please Maa… Kali aja Ciello masih bisa…. Yaaah… Megang-megang badan seksi Mama sedikit aja Maaa…… Sampai Ciello bisa puasin rasa penasaran Ciello….”
“Badan Mama yang mana Sayang…?”
“Nggg… Yang mana aja deh…. Tetek atau pantat mungkin…? Atau… Mmmmm… Memek Mama…?”
“Trus kalo kamu udah megang… Kira-kira kamu mau apain badan Mama itu…?”

“Yaaa…. Tetep Maa… Kali aja Ciello bisa ngajak Mama… Ngg… Sedikit ngerasain gimana rasanya buat… Nggg…. Tidur atau Ngewe bareng… Hehehe…”

“Astaga… Cielloooo….” Erang Citra. Yang tak mengira jika putranya bakal berkata sejujur itu.

“Otakmu bener-bener mesum Sayang… Mama Nggak ngira kalau kamu… Punya pikiran sejauh itu… Mama ini masih ibu kandungmu loh…..” Ucap Citra yang kemudian melepas batang penis putranya yang sudah mengeluarkan precumnya,
“Eh..Ehhh… Ciello cuman becanda Maaa… Maksud Ciello bukan gitu Maa…” Potong Ciello berusaha meralat kalimatnya, “Maksud Ciello…”

“Udah-udah…. Sepertinya percakapan kita ini nggak bakalan nyambung Sayang… Mama nggak bisa ngelakuin hal itu… ” Jawab Citra lagi.
“Yaaah Mamaaa… Bentaran aja deh Maaa.. Dikit lagi Ciello keluar kok…” Rengek putra Citra itu sambil meneruskan sendiri mengocok batang penisnya.
“Kayaknya enggak deh Sayang…..”

“Lalu titit Ciello ini gimana kelanjutannya Maaa..? Masa Ciello kocok-kocok sendiri lagi…”
“Hihihi… Mungkin akan lebih baik seperti itu Sayang… Habisan.. Tadi Mama udah berbaik hati mau kasih liat tubuh Mama… Tapi. Ternyata… Kamu minta lebih…”
“Ayolah Maaa. Dikit aja….” Pinta Ciello sambil kembali mengamit telapak tangan ibunya. Namun ssegera ditepis Citra dengan pelan.
“Mungkin lain kali Sayang… Mama nggak ngira kalo niatan Mama buat ngebantuin kamu… Bakal menjadi sebuah pengharapan baru bagimu untuk menikmati tubuh Mama lebih jauh lagi….” Jelas Citra, ” Mama benar-benar nggak ngira kalo pemikiranmu bakal jadi sejauh itu….”

“Yah Mamaa… Tapi tadi khan Mama bilang mau bantuin Ciello ngelepas ketegangan di pikiran Ciello… Mama udah lupa ya…?” Protes Ciello.
“Iya… Tapi Khan Mama juga bilang… Kamu bisa nikmatin tubuh Mama… Hanya sebatas pandangan matamu saja Sayang… Kamu boleh manfaatin ketelanjangan Mama kapanpun kamu mau… ”
“Yah Mama… Nanggung Maa… Kalo nggak mau ngocok….. Isep aja juga boleh Maaa…” Rengek Ciello lagi, “Ya Maaa… Mau yaaa…. Ciello khan juga pengen banget ngerasain mulut Mama ketika sedang ngisep tit……..”

“Sssttt… Sayang…. ” Ucap Citra sembari menyentuh mulut Ciello dengan telunjuk tangannya. “Tubuh Mama… Hanya milik Papamu saja… Hanya papamu yang boleh menikmatinya… Mukut Mama… Tetek Mama… Pantat Mama…Memek Mama… Semua milik Papamu…” Jelas Citra sambil tersenyum.

“Tapi… Kalau kamu nggak bisa manfaatin tubuh telanjang Mama… Yaudah.. Mama balik ke dapur aja… ” Kata Citra sambil kembali mengecup kening putranya kemudian buru-buru membungkuk dan mengambil jubah tidurnya yang teronggok di lantai. Tanpa basa-basi, wanita cantik itu lalu mengenakan jubah tipis itu sembari mengikat tali jubahya.

“Maaf ya sayang… Mama belum bisa nurutin semua permintaan mesum kamu itu…” ucap Citra sebelum meninggalkan Ciello,.
“Yaudah yaa… Selamat menghayal aja kalo gitu… Hihihi…” Ucap Citra dengan nada menggoda sambil membalikkan badan. Meninggalkan Ciello beserta penisnya yang sudah sangat keras di dalam kamar mandi.

Sepeninggalan Citra, suasana tiba-tiba hening. Hanya terdengar tetesan air keran yang jetuh kelantai.

“Assstaaagaaaaaa… Tolooool sekali kamu Cielloooo…. Sumpah.,,.. Bodoh sekali kau Ciello…. Seharusnya kau terima saja tawaran Mamamu tadi…” Gerutu hati Ciello melihat kesempatan emasnya yang terbuang sia-sia. “Kapan lagi kamu bisa ngeliat tetek Mamamu yang super besar itu….? Kapan lagi kamu bisa ngeliat memek istri papapu yang muls itu… Toh hanya dengan ketelanjangan seperti itu… Kamu sudah bisa membuat tititmu orgasme berulangkali… Sumpah.. Kau bodoh sekali Ciello… Benar benar bodoooohh…”

Bingung. Remaja tanggung itu tak tahu lagi gimana cara terbaik untuk melepas rasa tegang yang kembali mengisi rongga pembuluh darah birahinya. Yang sudah berkumpul, memenuhi semua rongga di dalam penisnya.

“Mamaaaa…. Maafkan anakmu yang bodoh ini… ” Ucap Ciello sambil Memulai kembali untuk mengocok penisnya kuat-kuat, sembari memejamkan mata. “Ohhh… Mama Citra… Mama binalkuuu… Maafin anakmu yang Benar benar bodoh ini…”

Bersambung,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*