Home » Cerita Seks Ayah Anak » Ayahku Yang Perkasa 4

Ayahku Yang Perkasa 4

Cerita Sebelumnya : Ayahku yang Perkasa 3

Beberapa saat kemudian setelah aku selesai membersihkan diri, akupun lalu keluar dari kamar mandi, dan menaiki tangga untuk mengambil kain handuk yang lalu kulilitkan menutupi selangkanganku ini. Kemudian kulangkahkan kakiku ini menuju kamar tidurku, saat aku melewati ruang tengah kulihat papaku sedang serius menikmati acara yang ditayangkan oleh televisi. Papaku telah kembali berpakaian, papa mengenakan kaos, dan celana pendek. Aku melewati papaku begitu saja, lalu sesampainya di kamar aku mulai mengeringkan selangkangan, juga belahan vaginaku ini dengan kain handuk, yang mana saat keluar dari kamar mandi tadi hingga sampai di dalam kamarku, aku masih dalam keadaan telanjang bugil hanya selembar handuk sajalah yang menutupi tubuh telanjangku ini. Sengaja aku tak mengunci pintu kamarku ini, bahkan kubiarkan pintu kamarku terbuka lebar.

Setelah selesai mengeringkan selangkangan, dan belahan vaginaku ini akupun lantas keluar kamar, aku bermaksud untuk mengambil pakaianku yang ada di lemari pakaian yang terletak di ruang tengah dekat dengan tempat papaku duduk menonton televisi. Aku sengaja menggoda papaku dengan tidak berpakaian atau dengan kata lain aku masih dalam keadaan telanjang saat aku keluar dari kamarku tadi.
Akupun lalu berjalan menghampiri papaku yang masih asyik menonton televisi, lantas kutepuk bahunya, tak lupa akupun tersenyum manis pada papaku, dan kulirik jam yang terletak di atas meja disebelah televisi ternyata saat itu waktu telah menunjukkan pukul 07.45 w.i.b, tak terasa ternyata kami berdua tadi berhubungan intim hampir sejam. Kemudian aku memeluk papaku dari belakang sambil kutempelkan payudaraku yang montok ini tepat pada punggung papaku, sesekali kugoyangkan kedua buah payudaraku yang menggantung ini yang kira-kira besarnya sebesar buah jeruk bali hingga pentilku yang berukuran sebesar jempol bayi namun sedikit lebih panjang atau lebih tepatnya seukuran biji kacang tanah atau 7/8 dari biji/butir kelereng kecil ini pun menegang, juga mengacung ke atas seirama dengan goyangan serta gesekan payudaraku ini pada punggung papaku.
Papa yang sedang asyik menonton televisipun seketika konsentrasinya hilang dari menikmati acara televisi akibat perlakuan dariku ini putri kandungnya yang sedang asyik kugesekkan kedua buah payudaraku ini pada punggungnya. Papaku lalu merespon perlakuanku ini dengan lantas papa membalikkan badannya, dan mulai menyentuh payudaraku dengan jari jemarinya serta memijat kedua buah payudaraku tepat di daerah sekitar areolaku yang sensitif ini, kemudian papaku perlahan-lahan mendekatkan mulutnya pada puting payudaraku(pentilku) ini, lalu papapun mulai menjilati pentilku seperti bayi yang menetek pada ibunya, srruuppp…sruuppp…sluuruupp…sruupp… dihisapnya dengan perlahan pentil payudara kiriku, sambil sesekali disapukannya lidahnya pada daerah areolaku yang berwarna coklat agak gelap ini, sementara tangan kiri papa sibuk meremas dan memijat buah dadaku yang kanan.
Akupun turut membantu gerakan mulut papa dalam menghisap, juga mengenyoti pentil payudara kiriku ini dengan kuletakkan tangan kiriku tepat pada bagian bawah mangkok buah dada kiriku ini agar payudaraku ini tidak bergoyang naik turun saat papa menghisap puting payudaraku, sehingga aku dapat menikmati setiap jilatan dan sapuan lidah papa pada pentilku yang kiri yang kurasakan semakin mengacung tegak seirama dengan sapuan demi sapuan juga jilatan demi jilatan lidah papaku pada pentil payudaraku hingga bagian areolanyapun tak luput dari jilatan juga sapuan lidah papaku.
Akupun yang tadi berdiri saat papa baru saja mulai memijat dan meremas kedua buah dadaku kemudian menghisap juga menjilati pentil payudara kiriku hingga daerah areola disekitarnya, serta tangan kiri papa tengah sibuk meremas sambil memijati payudara kananku ini, kini aku telah duduk di lantai sambil kusandarkan bahuku ini di tembok, gerakan ini kulakukan tanpa kusadari sebab aku merasakan suatu getaran hangat yang menjalari seluruh tubuhku yang menyebabkan lututku ini tidak kuat untuk menahan beban tubuhku ini, sehingga secara reflek gerakan lututku perlahan-lahan merosot kebawah, dan menyebabkan aku menjadi duduk di lantai. Sengaja kusandarkan bahuku ini pada tembok agar aku dapat menikmati jilatan juga hisapan serta kenyotan lidah papa pada pentil payudaraku ini.

Beberapa saat kemudian aku menceracau dan kukeluarkan kata-kata yang sedikit vulgar manakala kurasakan getaran-getaran hangat semakin sering nan intens menyelimuti tubuhku ini, sebagai akibat dari jilatan juga hisapan lidah papaku pada pentil kiriku ini, disertai dengan pijitan berikut remasan tangan kiri papa pada buah dadaku yang kanan akupun lalu berkata; “sshh…ohh…mmmhh…ooohh…sshh…aaahh…eemhhh …sshh…ooohh… Pa teruus sayang jilat terus pentil tetekku ini, ooowwhh papa pintar banget sayang dalam mengenyoti pentilku ini sayang, eeenaakk banget rasanya pa jilatan papa di pentilku ini, mmmhh…teruuss pa…kenyot terus pentilku ini…jangan berhenti pa!” begitulah yang kuucapkan manakala aku tak mampu lagi dalam menahan nikmatnya setiap sapuan juga hisapan lidah papa pada pentil payudara kiriku ini.
Selang 10 menit kemudian setelah papaku puas dalam menghisap, menjilati, dan mengenyoti pentil payudara kiriku ini, papaku lalu membaringkanku di lantai, lalu papa mendekatkan mulutnya pada puting payudara kananku(pentil) lantas papa mulai menjulurkan lidahnya, dan perlahan-lahan disapukannya dengan lembut lidahnya sluruupp…sruupp…srruupp… pada pentilku yang telah mengacung tegak sambil tangan kanan papa memijiti payudaraku yang kiri, sementara tangan kiri papa terus memijiti daerah areola buah dadaku yang kanan ini serta papa juga semakin intens dalam menjilati puting payudara kananku ini, sehingga dapat kurasakan rasa nikmat yang luar biasa sebagai akibat dari rangsangan beserta perlakuan papa pada kedua buah dadaku yang sebesar jeruk bali ini. Papa semakin lahap dalam mengenyoti, menghisap, dan menjilati pentil payudara kananku, bahkan papa sengaja berlama-lama menjilati daerah areola payudaraku yang sangat sensitif ini, dan aku hanya dapat memejamkan mata menikmati setiap jilatan lidah papa pada pentil payudara kananku ini, juga pijitan serta remasan tangan kanan papa pada payudara kiriku. Lama kelamaan akhirnya akupun sedikit mengerang manakala tanpa sengaja gigi papaku itu menggigit pentilku ini; “ooohh…pa…sakit sayang…jangan digigit donk pa pentilku ini, sakit rasanya pa…aaauucchh…aauuchh…oohh…” .

Papaku lalu menghentikan gigitannya pada puting payudara(pentil) kananku ini, dan dijilatinya lagi pentilku ini dengan lembut, sambil sesekali tangan papa memijiti juga mengelus daerah areola payudaraku ini dengan perlahan-lahan, namun hal ini justru semakin membakar, dan membuat gairah birahiku menjadi semakin menyala-nyala. Aku tanpa kusadari kembali menceracau, dan lalu kukatakan; “eemmmhh…mmmhh…ooohh…ssshh…pa…enak sayang, papa mahir dan lihai banget dech dalam mengenyoti pentil tetek Nana ini, sshh…nikmat banget sayangku…teruss pa…hisap yang kuat pentil tetekku ini pa…Ratna cinta papa…aaauucchhhÔÇØ.
Setelah sekitar 5 menit papa mengenyoti pentil payudara kananku juga menjilati serta menghisapnya papapun merasa puas, dan lalu dihentikannya aksinya dalam menjilati pentil payudara kananku ini. Papa lalu berkata kepadaku, “oh…Nduk, buah dadamu benar-benar enak, dan manis rasanya sayang…jauh lebih nikmat daripada susu mamamu sayang, papa benar-benar menyukai tetekmu itu putriku yang cantik…”. Akupun lalu menimpali perkataan papaku tadi, lantas kukatakan, “kenapa tadi papa koq menggigit pentil tetekku ini kalau papa memang menyukainya, dan ingin terus mengenyoti, juga menghisapnya setiap saat sayang?”, kan aku merasakan sakit lho pa, kalau pentilku ini papa gigit-gigit kecil seperti tadi ujarku sambil merajuk pada papaku, namun tangan kiriku juga mulai kumasukkan ke dalam celana pendek papaku, dan dapat kurasakan ternyata papa tak memakai celana dalam.

Papa lalu menjawab ucapanku tadi, dan papa berkata; “iya sayang, putriku yang cantik ma’afkan papa iya Ma, sebab papa tadi gemas banget dengan pentil tetekmu itu Nduk, jadi papa agak sedikit jahil dengan papa gigit pentilmu itu agar kamu makin keenakan, eh ternyata papa terlalu keras dalam menggigit pentil tetekmu tadi, sehingga kamu sampai menjerit kesakitan sayang.” “Ma’afkan papa iya Nduk, istriku juga putriku yang cantik. Papa mencintaimu mama Ratna.” Akupun kemudian menimpali perkataan papa tadi; “hu’um pa, papa sudah kuma’afkan koq sayang, tetapi lain kali jangan diulangi iya Pa.” “Papa boleh mengenyoti dan menghisap pentil tetekku ini setiap saat sayang, hanya saja ketika papa menetek papa harus lebih lembut saat menghisap, dan mengenyoti pentilku ini sayang, papaku, suamiku!” Kemudian papapun menganggukkan kepalanya, dan papa lantas menjawab perkataanku ini sambil tangan papa membelai-belai rambutku yang panjang sebahu ini, papa berkata; “iya Nduk, lain kali papa akan lebih lembut saat menghisap juga mengenyoti pentil tetekmu itu sayang.” Nah sekarang, ayo kita teruskan lagi sayang persetubuhan kita ini di kamarmu Nduk, papa akan buat kamu hamil dan melahirkan anak kita yang juga sekaligus cucu papa ini sayang.” Aku tak berkata apa-apa, namun dalam hati jujur aku sangat bahagia mendengar perkataan papa tadi, iya sejak saat ini aku adalah istri papa. Saat papa tadi memanggilku dengan panggilan mama, saat itulah aku tersadar, bahwa aku sekarang bukan semata anak kandung papa, melainkan aku kini adalah istri papa, sesosok perempuan yang spesial bagi papa, dan kelak akupun akan melahirkan buah cinta kami berdua. Oh Tuhan, apa yang telah kulakukan, dan dosa apakah diriku ini sehingga kini aku bersuamikan ayah kandungku sendiri, papaku tercinta?? begitulah pertanyaan yang menggelayut, dan terlintas di benak pikiranku saat itu, ditambah lagi suara hati nuraniku yang mengatakan ini adalah salah. Akan tetapi, ternyata diriku yang kini sudah dikuasai oleh dorongan serta bisikan dari dewi cinta birahi, mampu meluluh lantakkan kata hati nuraniku ini, juga menghilangkan keraguan yang sempat terlintas, dan menggelayuti benak pikiranku barusan, malah tangan kiriku yang ada di dalam celana pendek papaku kini kugerakkan menyentuh penis papaku, dan mulai kugenggam batang penis papaku yang masih sedikit tegang ini serta kukocok-kocok pelan penis papaku ini dari batang penis hingga kepala penis papaku sambil aku pijit pelan-pelan tepat di bagian kepala penisnya, sehingga perlahan-lahan penis papakupun menegang, dan mencapai ereksi maksimal. Papa lalu membangunkanku, dan diulurkannya tangan kiri papa mengenggam jari-jemari tangan kananku ini, spontan akupun saat itu segera langsung mengeluarkan tangan kiriku ini dari dalam celana pendek papaku, serta kubiarkan saja kontol papaku yang telah mencapai ereksi maksimal, lantas setelah kukeluarkan tangan kiriku itu dari dalam celana pendek papa, kemudian papa lalu mengulurkan tangan kanannya dan digenggamnya jari-jemari tangan kiriku ini, lantas papa mulai menarik kedua tanganku hingga akupun terbangun, dan terduduk di lantai. Papa lalu menggenggam pergelangan tangan kananku ini dengan tangan kirinya, lalu aku ditariknya hingga aku dapat berdiri tegak disamping kiri papaku, dan papa kemudian menuntunku ke kamarku ini.

Sesampainya di kamarku lalu kami berduapun duduk di tepi kasur ranjang tempat tidurku. Aku masih tetap terdiam sebab walaupun tadi aku sudah tersadar saat papa memanggilku tadi, akan tetapi saat itu di dalam benak pikiranku masih merasa bersalah, dan terjadi pergolakan yang teramat sangat dahsyat. Akan tetapi akupun akhirnya menuruti naluri kewanitaanku ini, dan sudah kuputuskan untuk menjadi istri papaku ini selamanya, dan menerima papa, yang notabene adalah ayah kandungku ini menjadi suamiku. Aku juga rela kelak mengandung buah cinta kami, yang mana itu adalah anakku, dan juga adikku, sebab aku memang mencintai papaku, dan aku tak bisa hidup tanpa papaku ini, iya aku sudah ketagihan bersetubuh dengan papaku, ayah kandungku sendiri, tak kupedulikan apa kata orang lain, dan dalam hati aku meminta ma’af pada mamaku ini sebab aku telah merebut suaminya, hatiku berkata dan berbisik; “ma’afkan aku ma, aku memang anak yang durhaka, dan tak tahu diri!” “Aku sudah mama besarkan dan mama didik sejak dari kecil dengan penuh kasih sayang, namun apa yang kuberikan pada mama? Aku sudah merebut suami mama, yang mana itu adalah papaku sendiri…” “Mamaku sayang, ma’afkan putrimu ini ma, aku tak kuasa melawan dorongan nafsu birahiku ini ma, izinkan aku menikah juga memiliki papa selamanya iya ma, aku tak mampu juga tak sanggup hidup tanpa papa, ma…” “Aku mencintai papa ma, walaupun kutahu rasa cintaku pada papa ini sungguh tak wajar, namun kuingin tetap bersamanya, sebab aku mencintai papa setulus hatiku juga semurni cintaku ini…” “Mama tentu inginkan putrimu ini bahagia mamaku sayang?” karena aku tahu pasti mama menginginkan kebahagiaanku setiap saat di dalam kehidupanku ini!” ketika itu wajah mama yang cantik terlintas di benakku ini, tak terasa air matakupun berlinang membasahi kedua pipiku ini, tanpa kusadari aku menangis, sebab aku sudah mengkhianati mamaku ini.
Akupun lalu tersadar dari lamunanku ini saat kudengar suara papa yang ada di hadapanku ini memanggilku, dan papa bertanya kepadaku sambil kedua tangannya menyeka air mata yang menetes membasahi kedua pipiku ini; “Nduk, kenapa kamu menangis putriku sayang, Nana yang cantik?” Akupun tak segera menjawab, dan kucoba sedikit menenangkan diriku ini…sebab saat aku teringat akan mamaku barusan…, tangan kiriku ini tetap aktif dalam membelai, mengocok, dan memijit penis papaku yang tanpa kusadari kini telah menegang maksimal, bahkan sedikit nongol, dan keluar dari celana pendek yang papaku pakai itu. Selang sekitar semenit kemudian akupun lalu menjawab pertanyaan papaku tadi, dan lalu kukatakan; “oh nggak…aku nggak apa-apa koq papaku sayang, hanya saja aku merasa bersalah pada mama.. Pa!” Papaku lalu menjawab perkataanku ini; “Mengapakah kamu koq merasa bersalah pada mamamu sayang?” demikianlah yang ditanyakan papa kepadaku ini, akupun lantas menjawab pertanyaan papaku itu, dan lalu kukatakan; “iya pa, aku merasa bersalah pada mama, sebab aku telah mengkhianati kasih sayang yang telah mama berikan kepadaku ini..pa.” “Aku merasa diriku ini hina, salah, dan dosa besar pa, aku ini hanya perempuan rendahan perebut suami orang, sebab aku telah merebut papa, yang mana papa adalah suami mama yang sah, dan malah papa yang notabene adalah ayah kandungku sendiripun aku jadikan suamiku pa!” “Papa sendiri paham apa yang kamu rasakan saat ini Nduk, sudahlah sekarang kamu tenangkan dirimu itu sayang, papa yakin pasti mamamu akan mema’afkan perbuatan yang kita lakukan ini sayang, sebab papa tahu pasti mamamu itu sangat menyayangimu Nduk”, demikianlah yang dikatakan oleh papaku ini kepadaku untuk menghibur diriku ini yang tengah gundah gulana.
Sesaat setelah kudengarkan perkataan dan pernyataan yang keluar dari mulut papaku itu, akupun kini menjadi sedikit tenang, lantas akupun bertanya pada papaku; “Pa, papa harus janji jangan pernah meninggalkan diriku ini iya pa, sekalipun suatu saat mama memergoki kita berdua sedang asyik ngentot, papa harus membantuku menjelaskan pada mama mengapa kita berdua sampai melakukan persetubuhan yang tabu nan terlarang ini iya pa!” Papa lalu menimpali perkataanku ini, dan papa berkata; “iya sayang, kamu jangan khawatir istriku yang cantik, nanti papa akan membantumu menjelaskan pada mama, yang juga adalah mama mertua papa ini mengapa kita berdua sampai melakukan persetubuhan yang terlarang ini Ratna sayang, cintaku, putriku yang cantik saat kita berdua kepergok mama sedang asyik ngentot sayang!”
Nah sekarang kamu jangan khawatir sayang, senyum donk Nana sayang putriku yang cantik. Akupun lalu perlahan tersenyum, dan lalu akupun berkata pada papa; “ih…papa sayang bisa saja dech ngerayu Nana ini, kan Nana jadi malu lho pa… !” sambil aku agak tersipu malu saat berkata seperti itu. Papapun kemudian menjawab perkataanku ini; “Lho…memang benar kan kamu cantik Nduk, wajahmu itu sepintas mirip dengan artis Ita Purnamasari sayang, walaupun menurut papa siech jauh lebih cantik kamu sayang, dengan beberapa buah tahi lalat dibawah dagu sebelah kirimu itu semakin menambah kecantikan dan kemanisanmu sayang…” tuh pipimu memerah mama Nana sayang, kamu jadi semakin cantik dech kalau begitu puji papaku mengenai kecantikanku ini. Akupun tak mau kalah dari papaku dalam memuji, akupun juga memuji ketampanan papa, lantas kukatakan; “iya donk…aku cantik kan menurun dari kecantikan mama yang sepintas mirip dengan artis Paramitha Rusady, dan papa yang tampan yang sepintas mirip dengan penyanyi, dan pencipta lagu Obbie Messakh pa…walaupun harus kuakui papa hanya sedikit lebih tampan dari Obbie Messakh pa…”
“Hu..putriku yang cantik ini ternyata sudah pintar ngegombali papanya iya, awas nanti kamu papa buat kewalahan sayang saat papa ngentoti kamu sebentar lagi, papa akan buat kamu menyerah kalah, dan mengakui kejantanan juga keperkasaan papa ini sayang…” demikian yang papa ucapkan menjawab perkataanku tadi. Akupun tak mau kalah dan kujawab tantangan papa itu dengan kukatakan; “hmm…ayo…siapa takut pa…silahkan kita buktikan saja siapa yang lebih lama keluarnya saat kita ngentot sebentar lagi pa..aku akan buat papa kelojotan dan menyerah kalah serta mengakui kehebatanku ini dalam memanjakan nafsu birahi papa…sehingga terbukti keunggulanku ini sebagai seorang wanita yang dapat memuaskan dan menaklukkan papa di ranjang, juga papa tak bisa berpaling ke pelukan perempuan lain sayang…” Papa lalu menjawab pernyataanku ini dan papa lalu berkata; “oke, ayo kita buktikan sayang, siapa yang lebih jago, dan mahir dalam ngentot sayang, kamu memang sangat mirip mamamu Nduk, sifatmu tidak mau kalah dalam segala hal, apalagi untuk urusan ranjang sayang.” “Papa harus mengakui untuk yang satu ini kamu sudah menaklukkan papa, dan membuat papa jatuh cinta kepadamu, juga papa sudah jatuh terlalu dalam di pelukanmu itu, papa tak bisa berpaling hati ke wanita lain sayang”. “Akan tetapi kali ini papa janji papa akan membuatmu mengakui keperkasaan dan kejantanan papa diatas ranjang sayang, juga membuatmu hamil Nana sayang, putriku, istriku!” Akupun seakan merasakan terkesima, dan terharu mendengar kata-kata papaku yang barusan terucap dari mulutnya, lalu kukatakan; “huuhh…papaku ini memang jago ngegombalin perempuan dech, pantas saja mama, dan juga aku termakan rayuan gombal papa, sehingga kami berdua benar-benar jatuh ke pelukan papa, dan tak bisa hidup tanpa papa sayang.” “Baiklah pa, sekarang kita mulai persetubuhan kita iya pa, Ratna sudah nggak tahan sayang merasakan tusukan kontol papa di dalam memek Nana ini pa” demikian kuucapkan untuk mengakhiri dialogku dengan papaku yang sudah berlangsung hampir 15 menit tadi, sebab kurasakan belahan liang vaginaku ini sudah mulai berair, dan basah begitupun bibir labia mayora vaginaku ini yang sudah mulai merekah dan mekar seperti kelopak bunga, demikian pula dengan lubang pembukaan vaginaku ini yang berbentuk setengah lingkaran yang lubangnya berukuran sedikit lebih besar dari lubang cincin, yang sudah agak berlendir. Akupun lantas menurunkan celana pendek papa sebelum papa memerintahku untuk menurunkan celana pendek yang dikenakannya sambil tangan kiriku ini tetap memijit dan mengocok batang penis papa hingga kepala penisnya perlahan-lahan. Kuletakkan tangan kananku di karet celana pendek papaku ini, dan perlahan aku pelorotkan celana pendek papaku hingga sebatas lutut, lalu selanjutnya aku berkata pada papa; “Pa, tolong papa lepas sendiri iya pa celana pendek papa itu, kan Ratna sudah bantu papa dengan Nana pelorotin celana pendek papa sampai lutut lho pa.”

Saat papa mendengar perkataanku itu dalam sekejap papaku lalu berdiri disamping ranjang kemudian papaku lantas memelorotkan celana pendeknya, dan meletakannya di sisi ranjang. Papa lalu mulai membuka kaosnya, dan ternyata papa tak memakai kaos dalam, serta dalam sekejap kaos itupun dilemparkannya ke sisi ranjang yang lain, sehingga dalam sekejap kilat tak sampai 2 menit papakupun sudah telanjang bugil sama sepertiku ini. Papa lalu berkata kepadaku ini; “Nah sekarang papa sudah siap mengentotimu, dan membuatmu hamil sayang, lalu papa memintaku untuk berbaring di kasur, kemudian papa berkata; “sini sayang, ayo berbaring agak ke tengah donk Nduk, agar papa mudah dalam memainkan vaginamu itu sayang!”
Akupun segera meluluskan permintaan papaku itu, dan lantas kubaringkan kepalaku ini di atas bantal yang berada tepat di tengah-tengah kasur tempat tidurku ini, kemudian perlahan-lahan kurebahkan badanku di atas ranjang kasur tempat tidurku, sambil aku kangkangkan lebar-lebar kedua pahaku ini, lalu kukatakan pada papaku; “Pa, ayo mainkan vaginaku ini sekarang suamiku sayang, aku sudah siap pa!” Papa lantas beringsut menggerakkan pantatnya mendekati daerah selangkanganku ini sesudah papa mendengar apa yang baru saja kuucapkan, kemudian papa mendekatkan wajahnya tepat di depan belahan liang vaginaku ini, lalu papa mencium belahan vaginaku ini yang mana bibir labia mayora vaginaku saat itu sudah agak bengkak, dan merekah…cup…cupp…cuppp…mmmuuaaacchh…mmmuuaaacch h…..bunyi kecupan bibir papaku saat papa mengecup juga mencium belahan vaginaku ini.

Tidak cukup sampai disini saja aksi papaku dalam memainkan vaginaku, sesudah selesai mengecup dan mencium vaginaku ini, papa lalu meletakkan kedua tangannya di masing-masing sisi kanan dan kiri dari bibir labia mayora vaginaku yang sudah bengkak dan merekah ini sehingga terlihatlah sedikit oleh papaku ini daging bibir labia minora vaginaku yang berwarna merah muda yang sudah basah bahkan cenderung becek ini, namun papa tak puas hanya dapat melihat sedikit daging bibir labia minora vaginaku ini lantas kedua tangan papa tadi digerakkan menjembeng(menarik ke kanan dan ke kiri) kedua sisi bibir labia mayora vaginaku ini, sehingga kini bibir labia mayora vaginaku merekah dan membuka semakin lebar akibat dari kedua sisi bibir labia mayora vaginaku yang dijembeng oleh kedua tangan papaku itu. Papa kemudian mulai menjulurkan lidahnya dan dijilatinya vaginaku ini slurruupp…sluruupp…sruuppp… dimulai dari daerah mons pubis(gundukan) vaginaku yang terletak tepat di bagian atas bibir labia mayora vaginaku yang paling atas berbentuk seperti segitiga dan dibawah rambut kemaluan(pubic hair) atau jembutku ini, lalu perlahan-lahan jilatan lidah papaku turun hingga dapat kurasakan kini sapuan lidah papaku telah berada tepat pada bagian klitoris atau kelentit(itil) vaginaku yang telah menegang juga sedikit membesar ini, yang mana ukuran klitoris pada perempuan normal berukuran panjang 4-5 mm dan lebar 3-4 mm, walaupun pada setiap perempuan memiliki ukuran klitoris yang berbeda-beda tergantung faktor genetiknya, serta kadar androgen dalam darah, sebab peningkatan kadar androgen dalam darah dapat meningkatkan ukuran besar klitoris, yang mana pada bagian batang(tubuh) klitoris ini terlindung oleh jaringan dari labia minora yang berbentuk tudung(selubung) dan diistilahkan dengan “clitoral hood” yang berfungsi mirip dengan kulup pada penis.

Papaku menjilati kepala klitorisku yang telah menegang ini perlahan-lahan hingga bagian bawah permukaan kepala klitorisku yang diistilahkan dengan “frenulum clitoridis” pun tak luput dari jilatan lidah papa sehingga akupun merasakan suatu sensasi kenikmatan yang tiada tara sebab jilatan lidah papa tepat mengenai saraf-saraf sensitif yang terdapat pada klitorisku ini. Akupun merasakan suatu rangsangan yang luar biasa manakala jilatan lidah papa pada klitorisku semakin cepat, dan seringkali papaku juga agak jahil dengan meletakkan jari telunjuk tangan kanannya pada bagian batang(tubuh) klitorisku yang menonjol keluar dari tulang kemaluanku ini yang dapat dilihat oleh mata serta disentuh dengan tangan itu, sesekali papaku bukan hanya menyentuh bagian batang(tubuh) klitorisku ini, malah papa juga memilin-milin dan menggosok ke atas juga ke bawah batang(tubuh) klitorisku. Akupun lantas mendesah dan meracau merasakan rasa geli akibat pilinan jari telunjuk tangan kanan papa pada bagian batang(tubuh) klitorisku ini, namun juga kurasakan benar-benar nikmat jilatan lidah papa di sepanjang permukaan kepala klitorisku hingga bagian bawah permukaan kepala klitorisku yang diistilahkan dengan “frenulum clitoridis” lalu kukatakan; “ooohh…pa…eenaakk banget sayang, eemmhh…gelii pa…sshh…hhh…teruss pa…papa jilatin terus tonjolan kepala itil Nana ini pa…nikmatt banget sayang.. Pa, jangan berhenti pa, terusin pa pilin-pilin batang(tubuh) itil mama ini pa…mmmhh…aaauucchh…pa…” Papaku semakin bersemangat dalam menjilati kepala klitorisku juga memilin dan menggosok bagian batang(tubuh) klitorisku ini sehingga akupun semakin menggelinjang juga menggeliat merasakan kenikmatan yang terus menerus pada klitoris(itil)ku. Setelah dirasa puas, papa lalu meneruskan jilatan lidahnya di sepanjang daging labia minora vaginaku(bibir vagina dalam) yang kurasakan sudah mulai agak berair dikarenakan gairah kewanitaanku yang terus bertambah naik sebagai akibat dorongan nafsu birahiku ini. Papa menjilati setiap jengkal daging labia minora vaginaku dengan penuh kelembutan…sruupp…sruuppp…sluruupp…sruupp…sruupp.. .bunyi sapuan lidah papa pada daging labia mayora vaginaku ini, sesekali papa bahkan juga menjilati lubang kencingku, sehingga menyebabkan rangsangan pada urethra(saluran kencingku) ini dan akupun jadi kebelet pipis(buang air kecil). Aku yang semakin tak tahan, tanpa sengaja akupun terkencing, dan kukeluarkan sedikit air seniku(air kencingku) dari lubang kencingku ini …surrr…surrr…ssurrr…, yang mengenai mulut juga permukaan bawah hidung papaku, tentu saja papa saat itu juga menghentikan jilatan lidahnya pada dinding labia minora vaginaku ini.

Papa lalu keluar kamarku dan menuju kamar mandi untuk membersihkan air kencingku yang terjilat lidahnya juga membasahi mulut dan permukaan bawah hidungnya. Papa berkumur-kumur kemudian menggosok giginya, lantas papa menyabuni wajahnya termasuk juga mulut sampai dengan permukaan bawah hidungnya yang terkena sedikit percikan air kencingku tadi, kemudian papa berjalan kembali ke kamarku sambil membawa gayung yang berisi air, dan juga kain lap kering. Aku yang masih tetap terbaring tentu saja terheran dan dalam hati kukatakan; “lho papa kenapa koq ke kamar sambil membawa gayung dan lap segala? Oh mungkin papa mau mencebokiku, dan membersihkan vaginaku ini, atau mungkinkah papa mau mencoba permainan baru?” demikian pertanyaan yang timbul di dalam hatiku saat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*