Home » Cerita Seks Ayah Anak » Mama Lupa Jemput

Mama Lupa Jemput

Aku membesarkan putriku sendirian. Seorang remaja pemarah, pemilik darah ayahnya. Dapat kusimpulkan begitu karena aku merasa sebagai seorang wanita yang lemah lembut. Sering aku mengalah dan memberi apa yang putriku mau demi keutuhanku dan dia.

***

Pernah ketika, aku janji. Jemput anakku, pulang sekolah. Tapi aku lupa. Teringat akan sifatnya yang pemarah membuat aku langsung bergegas ke sekolahnya. Kucari dan selalu kucari, ternyata sedang di kantin sekolah, ngobrol bersama teman ÔÇô teman. Saat anakku melihatku datang, anakku seolah meniupku. Setelah itu dia tampar aku. Aku belum pernah melihat dia semarah ini sebelumnya. Aku terkejut akan reaksiku yang bahkat tidak melawan, membantah atau mencoba menghentikannya. Aku hanya menundukan kepala dan mencari alasan. Sikapku ini rupanya membuat dia tak berkenan, memarahiku dan menjewer telingaku. Telingaku terus dijewer dan aku diseret hingga ke mobilku. Aku tak mencoba menghentikannya. Yang kulakukan hanyalah mengikuti dan merintih menahan sakit di telinga.

Melewati tempat sampa, anakku menghentikan langkah. Dia memerintahkanku agar melepas cdku dan melemparkan ke tempat sampah tersebut. ÔÇ£Tapi Na, …ÔÇØ aku mencoba berdebat. Namun telingaku malah dijewer makin keras. Hingga aku terpaksa berjinjit. Aku memang pendek, kira ÔÇô kira seratus lima puluh centimeter. Sedang anakku kira ÔÇô kira seratus delapan puluh centimeter. Benar – benar seperti ayahnya. Anakkk kembali menyuruhku.

Sekali lagi aku menuruti perintahnya dengan mudah. Kuturunkan cd dari rokku hingga pergelangan kaki. Dia melepas telingaku, aku membungkuk untuk mengambil cdku. Saat aku membungkuk, anakku mengangkat rokku, hingga semua yang melihat pasti melihat pantatku. Aku lantas membuang cdku disertai tawa dari orang ÔÇô orang. Setelah itu, anakku menyeretku lagi ke mobil. Kuharap amarah anakku bakal reda dalam perjalanan pulang. Namun ternyata malah mengomel terus. Dia juga bilang bahwa aku mesti dipukul begitu sampai di rumah. Kurasa anakku sedang bercanda.

Kami sampai di rumah. Namun sebelum masuk, anakku menyuruhku melepas semua pakaian. ÔÇ£Tapi Na …ÔÇØ aku mencoba lagi. Hasilnya, anakku menamparku lagi. Pipi kiri dan kanan. Aku lantas menuruti perintahnya, membuatku terkejut betapa mudah aku menurut. Aku menangis terisak.

Di dalam, aku disuruh berdiri menghadap dinding. Kudengar putriku seperti sedang sibuk, namun aku tak berani menoleh.

ÔÇ£Sini!ÔÇØ perintahnya.

Aku lantas mengikutinya ke kamar tidurku. Aku ketakutan saat melihat apa yang ada di kasur. Di kasur terdapat sisir, bet pingpong, pemukul kasur dan pecut hiasan dinding. Aku gugup, aku mencoba menenangkannya namun malah membuatnya meraih putingku, meremas dan memutarnya hingga aku menjerit kesakitan. Aku akan biarkan saja putriku memukulku, siapa tahu akan reda amarahnya setelah itu.

Putriku menyuruhku berbaring di kasur. Di tengah kasur terdapat selimut dan diatas selimut terdapat bantal. Aku berbaring di atasnya membuat pantatku seperti terangkat. Lantas putriku mengikat tangan dan kakiku dan tali itu diikat ke kaki ranjang membuatku tak berdaya dan seperti huruf X.

Putriku mengambil sisir dan langsung memukulkannya pada pantatku. Setelah beberapa pukulan, aku menangis dan meminta belas kasihnya. Namun efeknya berbanding terbalik dengan yang kuharap. Putriku malam memukulkan sisir makin menjadi. Saat pukulan berhenti, air mataku jatuh tak tertahankan. Namun putriku langsung mengganti sisir dengan bet pingpong dan kembali menampar pantatku. Rasanya seperti seratus tahun aku dipukuli hingga berhenti. Pantatku serasa terbakar panas. Suara yang terdengar di kamarku hanyalah tangisanku dan suara nafas putriku yang berat.

Beberapa saat kemudian putriku mengambil pemukul kasur. Saat dipukul aku menjerit shok. Hingga saat putriku berhenti, setelah beberapa menit baru aku bisa menenangkan diri. Namun begitu, aku tak hentinya menangis.

Putriku meninggalkan kamar dan perlahan aku berhenti menangis. Setelah beberapa saat, putriku kembali. Kucoba berbalik melihat apa yang akan putriku lakukan. Tapi aku disuruh terus menatap ke depan. Putriku mendorong pantatku. Sebelum aku menyadari betul apa itu, sesuatu telah masuk terpasang di anusku. Aku tentu saja kembali menjerit.

Lantas putriku memasukan dildo ke memekku, yang anehnya sudah basah, dan mulai mengentotku dengan dildo itu. Putriku juga mengocok sumbat anus sambil mengocok dildo. Reaksi yang kuterima benar ÔÇô benar mengejutkanku. Ternyata aku hampir keluar. Saat putriku menyadarinya, dia tertawa lantas menghentikan aksinya. Putriku kembali memukul pantatku, membuat orgasmeku yang hampir datang kembali menjauh.

Putriku kembali ngocok dildo dan sumbat anus seperti sebelumnya, namun saat aku akan keluar putriku menghentikan kocokan lantas memukul pantatku. Putriku beberapa kali mengulangi hal itu membuatku frustasi.

ÔÇ£Kalau lu mau keluar lu mesti minta sama gw!ÔÇØ perintah putriku.

Aku mendadak lupa sopan santun, martabat dan kehormatan. Aku sungguh ingin keluar.

ÔÇ£Oh Na, biarin mama keluar,ÔÇØ aku memohon.

Putriku tertawa. Setelah itu dia kembali ngocok dildo dan sumbat anus hinga aku keluar. Setelah aku keluar, putriku pergi tanpa melepas dildo dan sumbat anus.

Aku dibiarkan sendiri entah selama beberapa saat. Mukin satu jam kemudian putriku kembali lantas mencabut dildo dan ikatanku. Namun sumbat anus masih terpasang. Aku yakin putriku telah puas. Namun rupanya putriku menyuruhku berbalik. Aku lantas terlentang. Pantatku kembali terasa sakit karena luka pukulan tadi.

Putriku lantas memegang pecut. Aku bahkan lupa tentang itu. Putriku lantas memecut payudaraku dengan pecut hiasan untuk dinding. Bahkan beberapa kali mengenai putingku. Perutku pun tak luput dari cambukannya. Terus pahaku hingga aku kembali berair mata.

Putriku lantas naik ke kasur dan berdiri di atasku. Diantara kakinya terdapat tubuhku. Apa yang akan dia lakukan, aku bertanya ÔÇô tanya. Putriku lantas menyeret ujung pecut hingga mengenai memekku. Aku lantas menyadari mana yang akan dicambuk.

ÔÇ£Jangan Na, jangan,ÔÇØ teriakku panik.

Sia ÔÇô sia sudah, aku berteriak. Sepuluh pecutan membuatku berteriak sambil nangis memohon belas kasihnya.

ÔÇ£Sekarang siapa yang merintah di rumah ini?ÔÇØ tanyanya.

Aku bingung, apa yang harus aku katakan. Beri aku ide… beri aku ide…

Putriku kembali mencambuku sepuluh kali, lantas mengulangi pertanyaannya.

Aku tak ingin dicambuk lagi, lantas kujawab, ÔÇ£kamu Na, kamu yang merintah di rumah ini.ÔÇØ Aku tak tahu apakah jawabanku benar. Namun itulah satu ÔÇô satunya yang bisa kupikirkan.

Putriku tertawa puas. Aku yakin jawabanku benar.

ÔÇ£Siapa yang bakal ngelakuin apa yang gw perintahkan?ÔÇØ

Aku tak langsung menjawab. Akibatnya aku kembali dipecut sepuluh kali. Aku berteriak, ÔÇ£mama yang bakal ngelakuinnya.ÔÇØ Hatiku melara ÔÇô lara, memang begini maunya. Aku menjawab agar gak dicambuk lagi.

Putriku melepas cambuk dari genggaman tangannya, membuka sleting celana jin dan melepas celananya serta cdnya. Setelah itu dia berlutut di atas wajahku. Dia menjambak rambutku dan berkata, ÔÇ£jilat memek gw anjing.ÔÇØ Putriku menarik kepalaku ke memeknya. Aku tak pernah menjilati memek sebelumnya. Aku ragu ÔÇô ragu meski mulai menjilatinya. Namun aku ingin menyenangkannya, jadi kujilat sebisaku. Rupanya jilatanku cukup bagus karena tak mala kemudian putriku teriak akan segera keluar. Putriku menekankan memek ke kepalaku begitu dalam hingga aku tak bisa bernafas. Aku takut mati lemas. Aku lega saat akhirnya putriku melepaskan tangan di kepalaku. Ada sedikit kebanggaan bisa memuaskannya.

Putriku lantas duduk di sampingku dan kembali mengambil pecut. Aku merasa ngeri takut dicambuk lagi. Namun putriku malah memberitahuku aturan baru rumah ini. Mulai sekarang aku hanya boleh memakai pakaian serba pendek/mini, seperti rok mini, daster mini, celana pendek. Satu ÔÇô satunya rambut yang boleh tumbuh hanyalah yang ada di atas kepalaku, lain dari pada itu tidak boleh ada. Selain itu, aku juga harus jadi tempat pembuangan putriku dan teman ÔÇô temannya kapan pun dan di mana pun. Aku setuju dan ikatanku dilepas.

Kurasa esok akan kembali normal.

***

Perlakuanku rupanya bukan emosi sesaat putriku. Esok paginya setelah aku buang air besar, sumbat anus kembali dipasangnya dan aku disuruh membuang semua pakaianku. Ternyata tidak semua, aku diizinka memakai kaos yang begitu ketat. Bahkan hampir tak bisa menutupi memekku. Sebelum sekolah, putriku mengambil semua uangku, bahkan membawa mobilku. Yang lebih buruk lagi, aku disuruh menemuinya di sekolah. Aku merasa ngeri memikirkan jalan ke sekolahnya, memakai kaos ketat pendek.

ÔÇ£Tapi Na, mama tak bisa pergi hanya memakai ini,ÔÇØ kataku lemah.

Sebelum aku menyadari apa yang terjadi, putriku telah duduk di kursi, menarikku hingga ke pangkuannya dan mulai memukul pantatku. Sisa pukulan kemari masih sakit, ditambah sekarang, tentu makin sakit lagi. Aku lantas menangis dan memohon seperti anak kecil. Putriku tak menunjukan belas kasihnya, malah terus memukulku hingga akhirnya aku minta maaf karena tak menurut. Putriku lantas tertawa dan melepaskanku yang langsung jatuh ke lantai.

Putriku meninggalkanku menangis lalu duduk di kursi terdekat. Aku sudah lupa akan sumbat anus membuatku terkejut saat pantatku duduk di kursi. Aku angkat kembali pantatku dan menurunkannya pelan. Aku menangis mengasihani diri dan mencoba memahami apa yang terjadi pada diriku.

Kupikir aku tak mematuhinya saja, tak memakai kaos ketat, tak ke sekolahnya, kucabut sumbat anus yang tak nyaman ini. Tapi rasa sakit akibat sumbat anus itu membuatku tak punya keberanian. Aku benar ÔÇô benar pengecut. Perlahan aku bangkit dan mulai melakukan apa yang diperintahkan.

Beberapa saat kemudian, lemari pakaianku telah kosong. Aku terisak putus asa sambil melihat lemari kosongku. Aku lantas putuskan untuk ke sekolah Ana. Aku bahkan tak memakai rok atau sesuatu untuk menutupi memekku.

Entah bagaiamana aku berhasil sampai ke sekolah anakku tanpa banyak diketahui orang. Meski harus mengendap ÔÇô endap, sungguh tak nyaman rasanya jalan dengan anus tersumbat. Aku tentu tak langsung melihat Ana.

Aku diam menunggu putriku muncul untuk naik mobil, namun tak muncul jua. Akhirnya aku mesti ke masuk ke sekolahnya untuk mencarinya. Untungnya sekolah sudah lengang, hanya ada satu atau lima murid. Namun meski begitu mereka melihat apa yang kupakai. Tentu mereka menyadari apa yang terlihat. Beberapa murid mengejek dan bahkan memfotoku. Aku jadi benci hp berkamera.

Aku langsung ke kantin dan mendapati putriku di sana sedang ngobrol bersama teman ÔÇô teman. Putriku menatapku dengan sombong, aku langsung tahu sedang berada dalam keadaan berbahaya. Dia tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menunjuk lantai di sampingnya.

Aku tak tahu apa maksudnya, jadi aku hanya berdiri kebingungan. Karena kesal, anakku meraih rambutku dan menariknya ke lantai hingga aku berlutut seperti anjing di sampingnya. Aku bersuara akibat sakit dan takut. Mendengar suaraku teman ÔÇô temannya hanya tertawa. Mereka mungkin senang melihatku, yang sudah dewasa, diperlakukan seperti ini. Yah setidaknya dengan berlutut, memekku tak terlihat orang lain.

Namun Ana lantas menyadarinya. Dia lantas memerintahkanku melebarkan paha selebar ÔÇô lebarnya. Menyadari akan terlihatnya memek membuatku memohon pada putriku agar tak melakukan ini. Namun ternyata permohonanku dijawab tamparan pipi hingga aku menagis. Kaos pendekku kini seperti terangkat hingga sepinggang. Teman ÔÇô temannya tertawa mengikik. Aku sangat malu dan terhina.

Seorang guru muncul di kantin. Aku rasa Ana bakal menyuruhku menutup memekku agar tak timbul masalah. Namun ternyata berbanding terbalik dengan apa yang kukira. Putriku melambai ramah pada guru membuat guru itu datang menghampiri. Guru itu lantas menatapku dengan angkuh.

ÔÇ£Kamu benar Na, pelacur itu pasti sange abis pose kayak gitu.ÔÇØ

Ana tersenyum dan balas bicara, ÔÇ£Oh ya! Kayaknya bener ÔÇô bener sange nih pelacur. Bener gak?ÔÇØ

Aku masih tercengang bingung apa yang harus ku jawab. Aku masih belum terbiasa dengan semua ini. Aku ragu ÔÇô ragu untuk menjawab hingga pipiku kembali mendapat tamparan membuatku terkejut hingga jatuh.

ÔÇ£Lu terangsang gak? Jawab anjing!ÔÇØ

Aku tak ingin ditampar lagi lantas aku kembali berlutut dan menjawab, ÔÇ£saya tidak tahu Na … Nyonya.ÔÇØ Aku hampir lupa kalau aku mesti memanggil putriku Nyonya, dan memanggil diriku dengan saya.

ÔÇ£Saya tidak tahu?ÔÇØ dengus putriku. ÔÇ£Pegang memeklu, basah gak? Dasar pelacur memang bodoh.ÔÇØ

Aku malu mendengarnya, apalagi mendengar tawa mencemooh. Kuraih memekku dan mersa takjub mendapati kenyataan memeku basah. Bagaimana bisa aku terangsang dalam keaadan seperti ini? Tapi aku benar ÔÇô benar basah dan tak tahu kenapa.

ÔÇ£Gimana?ÔÇØ tanya putriku.

Aku bingung, aku tak mau memberitahu orang lain kalau memekku basah tapi di sisi lain aku tak ingin ditampar lagi. Aku menghela nafas dalam dalam dan mengaku sambil berbisik, ÔÇ£ya nyonya, saya basah.ÔÇØ Putriku seperti kurang puas dengan jawabanku membuatku mengulangi kata ÔÇô kataku dengan agak keras hingga terdengar orang ÔÇô orang.

Semuanya tertawa membuatku jadi lebih malu. Meski aku bertanya ÔÇô tanya kok bisa?

ÔÇ£Pelacur ini memang lucu, kapan ÔÇô kapan boleh pinjem gak?ÔÇØ tanya guru.

ÔÇ£Boleh, tapi kalau sudah terlatih.ÔÇØ

Terlatih? Aku bertanya ÔÇô tanya maksud dari kata ÔÇô kata putriku. Namun aku sadar sebentar lagi pasti kuketahui. Ana lantas memakaikan kalung dan memasang tali ke kalung itu. Ana menarik tali dan aku merangkak mengikutinya di belakang hingga ke mobil. Rasanya sungguh memalukan, tapi lebih baik terhinda daripada dipukuli. Di sisi lain aku masih shok akan kenyataan betapa memekku basah.

Tiga orang teman Ana mengikuti kami. Aku pun diperintah untuk memanggil mereka nyonya. Ana memebuka bagasi dan menyuruhku masuk ke sana. Aku senang aku dulu tak membelik mobil pick up. Sekali lagi aku menyerah dan mengikuti perintahnya. Setelah itu kudengar Ana dan teman ÔÇô temannya naik dan mobil pun melaju. Setelah beberapa saat, mobil berhenti dan putriku membuka bagasi. Kami berada di sebuah tempat parkir.

Kami naik lift dan masuk ke sebuah tempat tempat seperti salon. Kami ditemui seorang pelayan wanita yang berbadan subur. Putriku menyuruhku melepas kaos. Aku melakukannya dan berdiri telanjang. Aku lantas duduk dikursi dan diikat.

ÔÇ£Ya, pertama kita mesti menyingkirkan ini,ÔÇØ kata pelayan sambil menarik jembutku.

ÔÇ£Bener, biar kayak kimcil, belum berbulu,ÔÇØ jawab putriku terdengar antusias.

ÔÇ£Mau cara biasa atau menyenangkan? Menyenangkan bagi kita tentunya.ÔÇØ

ÔÇ£Menyenangkan bagaimana?ÔÇØ tanya putriku penasaran.

Pelayan meraih jembutku dan menariknya. Aku teriak kesakitan. Sepertinya setiap orang di toko mendengar suaraku karena setelah itu aku dikerubuti orang ÔÇô orang. Sambil tertawa, pelayan, putriku dan tiga temannya bergantian menarik paksa jembutku disertai teriakanku. Orang ÔÇô orang yang menonton terlihat senang hingga memekku benar ÔÇô benar botak. Pelayan lantas mengambil suntikan. Aku jadi khawatir dan memohon padanya. Namun sia ÔÇô sia, begitu disuntik aku langsung tertidur.

Perlahan-lahan aku bangun, mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Pusingku belum hilang. Aku melihat cermin dan melihat diriku. Rambutku dikuncir, memekku tak berjembut. Postur tubuhku yang kecil merubahku dari seorang ibu menjadi seperti seroang gadis kecil. Putriku lantas muncul membawa pakaian. Aku terkejut melihat pakaiannya adalah pakaian yang biasa dipakai oleh gadis ÔÇô gadis, buka oleh ibu ÔÇô ibu. Melihatku yang seperti enggan membuat putriku menunjuk dinding. Di dinding itu telah terdapat cambuk dan tongkat yang menempel. Hanya dengan ancaman saja sudah membuatku memakai pakaian.

Kami kembali ke dalam toko di mana teman putriku dan pelayan menunggu. Mereka memuji putriku dan adik kecilnya yang lucu.

***

Hari ÔÇô hari berlalu. Putriku sering membuatku bersenggama dengan teman ÔÇô teman lelakinya. Aku merasa sangat malu berhubungan badan dengan abg sementara putriku dan teman ÔÇô temannya menonton.

Putriku bahkan mengirimku ke jalan tempat bersarang pelacur ÔÇô pelacur murah meriah. Aku diharuskan pulang membawa uang dalam jumlah tertentu. Aku tahu putriku tak begitu memerlukan uang itu, putriku menyuhuku hanya untuk menunjukan siapa yang memegang kendali.

Namun yang lebih memalukan adalah saat putriku dan ketiga sahabatnya menyenggamaiku. Ya, mereka memakai alat bantu, seperti celana dalam, namun di cd itu terpasang dildo yang berukuran agak besar. Tentu aku tak boleh keluar. Namun sayangnya aku keluar juga, membuat putriku menghukum memekku.

Baru ÔÇô baru ini putriku seperti mengadakan perayaan di rumah. Aku diikat hingga berlutut dengan pantat membusung ke atas. Mereka lantas menyodomi pantatku dengan cd dildo beberapa kali. Meski sakit dan sungguh sangat merasa terhina, ternyata sangat sulit untuk menahan diri agar tidak keluar. Untungnya mereka memutuskan aku pantas keluar.

Namun rupanya aku harus keluar dengan cara masturbasi. Mereka bahkan mulai bertaruh berapa kali aku keluar dalam tempo yang sesingkat ÔÇô singkatnya, yaitu tiga puluh menit.

Memalukan sekali rasanya masturbasi di hadapan sekitar dua puluh abg yang matanya fokus menonton. Delapan kali aku keluar. Pemenangnya ternyata Aisah, seorang gadis tomboy dengan perawakan kecil. Dia terlihat sangat gembira.

Esoknya kembali normal, aku disuruh berpakaian layaknya abg, seperti adik baginya. Aku benar ÔÇô benar benci. Entah ke mana aku di bawa, hingga sampailah aku ke sebuah rumah tua, seperti peninggalan kumpeni dengan halaman yang luas. Datang abg menyambut dan memeluk putriku. Dari pelukan dan ciumannya, bisa kulihat mereka tak layaknya seorang teman biasa. Aku jadi sedikit cemburu. Di sisi lain aku jadi malu melihat sisi lembut dan cinta putriku.

Aku tak tahu mesti ngapain saat kedua abg itu terus pelukan sambil ciuman. Lantas kuputuskan untuk melihat sekeliling. Lantas kusadari ada seorang wanita di belakang gadis yang mencium putriku. Dia terlihat sama sepertiku. Bahkan memakai pakaian yang sama. Selintas, kami seperti kembar. Selama beberapa saat kami bertatapan, lantas dia tersenyum malu. Apa yang terjadi pada dirinya, apa yang terjadi pada diriku. Siapakah dia?

Putriku lantas menghentikan pelukannya dan melihat kami yang lantas menunduk. Wanita lain yang sepertiku lantas menyambut putriku, ÔÇ£Nyonya Ana,ÔÇØ katanya lantas berlutut. Untungnya aku telah mendengar siapa yang mencium putriku. Aku lantas berlutut dan bicara, ÔÇ£Nyonya Pipit.ÔÇØ Aku merasa putriku merasa bangga dan pipit terkejut. Namun tentu aku tak melihat karena aku menunduk.

Ana mengetukkan kaki kanannya yang merupakan tanda kalau aku harus mengikutinya. Aku bangkit diikuti abg yang sepertiku. Namun kuperhatikan pipit belum menyentukkan kaki. Sepertinya sengaja, aku lantas berbisik, ÔÇ£belum dulu,ÔÇØ pada sebelahku. Dia kembali berlutut sementara aku melangkah mengikuti putriku.

Putriku dan pipit menoleh melihatku patuh di belakang putriku sedang gadis lain masih berlutut di tempatnya. Kini Pipit menyentakkan kaki lantas kudengar gadis lain lari hingga kini di sebelahku. Aku merasa tangannya mencari tanganku, lantas kuraih dan kami bergandengan tangan. Kami bergandengan tangan seperti putriku dan pipit. Sepertinya kami terlihat seperti teman kecil yang lucu.

Di dalam, aku berusaha melihat ÔÇô lihat. Ternyata ruang tamunya sangat besar. Kami sampai ke ruang lain, yang tak kalah mengesankannya.

ÔÇ£Lu tau mesti kemana,ÔÇØ pipit berkata, ÔÇ£bawa dia!ÔÇØ

ÔÇ£Ya nyonya,ÔÇØ jawabnya lantas menarikku. Aku terkejut di bawa ke ujung dinding, di sana ada pintu tersembunyi. Di dalam, kami tetap berdiri sambil tetap berpegangan tangan. Ingin kubertanya, hatiku melara ÔÇô lara, namun aku takut kita belum diizinkan bicara.

Setelah beberapa saat, dia mulai berlutut, sambil tetap memegang tanganku, lantas menarikku hingga aku ikut berlutut. Dia tak mau mepas tangannya. Bahkan dia kini mendekat padaku. Kini, dia melepas tangan dan menaruhnya di pahanya, aku mengikutinya. Kini tubuh bersentuhan. Aku baru mengalami seperti ini, jadi aku hanya diam saja.

Beberapa saat kemudian kedua nyonya kami masuk dan tersenyum melihat kami duduk. Mereka lantas menyuruh berdiri dan melepas pakaian. Pipit datang bawa tiga sepatu highheel, bukan tiga pasang. Sepatu ketiga bentuknya lebih besar. Lantas sepatu ketiga itu diisi kaki kanan gadis kecil dan kaki kiriku. Kaki itu tingginya kira ÔÇô kira sepaha. Lantas sletingnya ditarik hingga pas. Aneh rasanya bersepatu bersama orang lain.

Ketatnya sepatu membuatku mesti ikut gerak andai kakinya gerak. Begitu pula sebelumnya. Belum pernah aku memakai sepatu dengan hak setinggi ini, hingga membuatku seperti berjinjit.

Belum selesai, lantas aku melihat sebuah korset aneh. Seperti korset ganda. Kami dipakaikan korset dan kini terlihat aneh, dalam korset itu tubuh kami menyatu pinggang ke pinggang. Korsetnya ditarik hingga membuatku susah bernafas. Tangan kiriku diletakan di pinggulnya, begitu juga dengan tangan kanannya.

Kini aku hanya bisa memakai tangan kanan, gadis sebelahku memakain tangan kiri. Kini terlihat kami seperti kembar siam. Dengan tiga kaki, dua kepala dan dua lengan. Kedua nyonya terlihat sangat senang hasilnya lantas memperhatikan kami.

Tanpa peringatan, putriku memecut memekku. Aku menangis kesakitan, di sisi lain aku mencoba menjaga keseimbangan agar tak jatuh.

ÔÇ£Oh iya, aku lupa,ÔÇØ kata pipit lantas tertawa dan melihat kami. Mungkin terlihat jelas warna merah di tempat putriku memecutku. ÔÇ£Bagus nih, tapi kayaknya ada yang kurang.ÔÇØ

Aku bisa merasakan gadis ini menggigil namun aku berusaha agar tetap seimbang. Aku meringis kesakitan saat putriku memecut putingku. Gadis ini juga menangis saat putingnya dipecut pipit. Lantas keduanya mengelilingi kami dan memecut. Yang kutau, kami selalu dipecut di tempat yang sama. Kami terus mengejang dan meringis namun tetap berusaha menahan keseimbangan. Akhirnya kami menghela nafas lega saat pecutan berhenti.

Kemudian para nyonya ngobrol, apakah kami mesti dipukul bareng atau satu -satu. Mereka lantas mesti coba, lantas mereka memukul kami satu ÔÇô satu. Untungnya sudah agak seimbang hingga tak jatuh.

Putriku mulai bicara lagi, ÔÇ£kayaknya kaliang ingin dekat terus ya?ÔÇØ

Aku tahu putriku punya pemikiran lain dan tak peduli apa pun jawaban kami. Setidaknya tak pernah melakukan apa yang kukatakan. Jadi kujawab asal saja, ÔÇ£iya nyonya, saya sangat ingin.ÔÇØ Gadis ini pun rupanya memiliki pemikiran yang sama sehingga menjawab seperti jawabanku.

ÔÇ£Bagus. Karena mulai kini, lu tinggal kayak gini,ÔÇØ kata pipit sambil tertawa, ÔÇ£lu mesti jalan, ngomong dan mikir sama ÔÇô sama. Ngelakuin sama ÔÇô sama. Lu adalah satu. Mungkin kami terlihat seperti bingung, beberapa waktu lalu kami tak saling kenal, namun kini mesti diikat bersama.

ÔÇ£Kalau kalian salah, dua ÔÇô duanya dihukum. Kalau satu salah, keduanya juga dihukum.ÔÇØ

ÔÇ£Tapi itu gak adil,ÔÇØ gadis ini mulai bicara.

ÔÇ£Siapa yang bilang keadilan?ÔÇØ putriku angkat bicara lantas memecut susuku. Pipit melakukan hal yang sama.

Gadis ini lantas memohon belas kasih diantara tangisnya. ÔÇ£Lu ngerti gak?ÔÇØ Pipit mulai emosi.

ÔÇ£Ya nyonya, saya minta maaf,ÔÇØ jawab gadis ini terisak.

“Sentuh memeku?ÔÇØ Pipit kembali merintah.

Gadis bodoh, pikirku. Dia lantas memegang selangkangannya. Tiba ÔÇô tiba pipi kami ditampar.

ÔÇ£Maaf nyonya,ÔÇØ gadis itu kembali bicara. Lantas tangannya kini memegang memekku, yang ternyata basah. Aku bertanya ÔÇô tanya kenapa memeku basah padahal apa yang kulakukan ini sangat kubenci.

ÔÇ£Nah …ÔÇØ

ÔÇ£Basah nyonya.ÔÇØ

Aku juga disuruh menyentuh memek gadis ini, yang ternyata sama basahnya denganku. ÔÇ£Ini juga basah nyonya,ÔÇØ kataku.

ÔÇ£Lu dua pelacur sange. Gw gak cuma ngehukum lu bareng. Jika salahsatu dari lu cukup bodoh buat bertidak atau keluar tanpa izin, maka yang gak salah bakal dihukum ganda.ÔÇØ

Tak adil memang, tapi aku tahu mereka akan melakukan apa saja untuk membuat kami keluar. Kami hanya menjawab, ÔÇ£Ya nyonya.ÔÇØ karena tentu kami tak berani protes.

Mereka menuju pintu dan menyuruh kami mengikuti. Perlahan ÔÇô lahan hingga menuju ruang kosong yang lumayan lega. Aku bertanya ÔÇô tanya untuk apa di sini.

ÔÇ£Kalian latihan di sini, latihan jalan, nunduk dan lainnya,ÔÇØ kata Ana.

Pipit menunjuk sebuah tombol yang letaknya cukup tinggi. Sepertinya susah untuk kujangkau, ÔÇ£saat udah yakin bisa, tekan tombol itu, biar kita datang terus cek.ÔÇØ

ÔÇ£Iya nyonya,ÔÇØ jawab kami patuh, meski bingung cara untuk meraihnya.

Tepat sebelum mereka berjalan keluar pintu mereka, mereka berbalik, lantas Ana berkata, “Mah, ini adik, dik ini mama. Jangan males belajarnya, karena kita bisa lihat dan dengar kalian. Paham?ÔÇØ Lantas mereka tertawa dan meninggalkan ruang.

Kami melihat satu sama lain.

ÔÇ£Hai dik,ÔÇØ bisikku lalu mulai memeluknya pelan. ÔÇ£Mending kita mulai.ÔÇØ

Adik tersenyum, ÔÇ£iya mah.ÔÇØ

Kami coba berdiri dengan pelbagai pose. Namun saat bergerak, butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri. Apalagi latihan jalan. Belum pernah kucoba sesuatu yang sesulit ini. Kami jalan terhuyung ÔÇô huyung seperti sedang mabuk. Juga kami berlatih berlutut serta murangkak.

Di dinding ada gambari Ana dan Ipit, tangannya memegang papan bertuliskan ‘air.’ papan itu memiliki panah yang menunjuk pada gambar memeknya. Di gambar memek itu terdapat lubang. Karena kami sangat haus, kami berlutut dengan kepala agak ke depan lantas menjilati lubang.

Satu detik kemudian kami menjerit terkejut, lidah kami serasa kena setrum. Kami saling pandang ngeri. Apakah ini cara baru untuk menyiksa kami? Namun segera aku yakin, setrum ini bukan tanpa tujuan. Setelah keterkejutanku reda, kulihat adik hampir pingsan. Bisa makin berabe nih. ÔÇ£Kita mesti bareng,ÔÇØ teriakku sadar. Lantas kami coba lagi bareng, beberapa kali kena kejut namun akhirnya bisa juga memuaskan dahaga kami.

Kami terus latihan, jalan, lari, merangkak, berlutut.

Para nyonya datang bersama beberapa gadis lain. Mereka membawa meja dan bangku. Kami bergidik melihat bangku itu. Di bangku itu tertancap empat dildo yang, jika kita duduk, dapat dipastikan akan menancap. Namun kekhawatiran kami seakan sirna, sirna itu sempurna, saat melihat mereka juga membawa makanan. Selama proses tata menata, para nyonya memaki dan memukul gadis ÔÇô gadis malang itu. Jelas keduanya sama ÔÇô sama pemarah.

ÔÇ£Lu siapin itu,ÔÇØ kata Ana sambil mengangguk ke dildo.

Aku tentu paham maksudnya. Aku mesti menjilati dildo itu hingga basah. Aku meremas pelan adik lantas kami bergerak, berlutut dan menghisap dildo hingga para nyonya puas dan menyuruh kami duduk. Karena tak dapat melihat dildo, kami duduk pelan ÔÇô pelan. Para nyonya tentu tak sabar dan langsung menekan tubuh kami sambil tertawa.

Di meja terdapat satu piring, satu garpu dan satu pisau. ÔÇ£Ingat, lu dan lu adalah satu,ÔÇØ kata mereka lantas pergi. Di piring terdapat daging. Adik mengambil garpu dan menusuk daging. ÔÇ£Potong,ÔÇØ katanya. Aku mengambil pisau dan memotongnya. Irisan daging adik masukan ke mulutku. Proses diulangi, namun kali ini daging dimakan adik. Begitu terus hingga habis.

Setelah itu para nyonya datang dan menyuruh kami ikut. Dengan agak sulit, kami bangkit dan bergegas mengikuti mereka. Sepatu dan korset kami dibuka, namun kami belum berani menjauh.

Kami di bawa ke ruang lain yang hanya berisi kotak hitam besar. Pipit menekan suatu tombol lantas setengah kotak bagian atas terbuka menampilkan sesuatu yang sangat mengejutkan. Terdapat dua dildo. Hitam, dildonya hitam tetapi besar ukurannya.

Kami disuruh menaiki dildo itu ke anus. Aku menangis sambil mengerang hingga akhirnya tertancap seluruhnya. Setelah itu aku disuruh berbaring.

Pada adik, dia terus memohon belas kasih sambil melakukannya. Tentu itu percuma. Setelah selesai, adik menangis di sampingku.

Pipit menyumat hidungku hingga tak bisa bernafas lewat hidung. Kubuka mulutku untuk bernafas. Pipit menekan saklar lain dan sesuatu tiba ÔÇô tiba muncul dan memasuki memekku. Tidak seperti dildo, entahlah karena aku tak bisa lihat.

Bagian atas kotak tiba ÔÇô tiba mulai menutup kembali. Di atapnya terdapat dildo lain, tentu untuk mulut kami. Aku takut mesti menghabiskan malam di dalam kotak. Dildo di memekku mulai menggelitik. Hingga kusadari seperti berlistrik. Dildo mulut itu masuk ke mulut hingga seperti mentok.

ÔÇ£Tangki di memelu, kalau penuh bakal memompa isinya ke mulut lain. Jadi kalau lu kencing, yang lain mesti minum airnya,ÔÇØ kata pipit.

Setelah kotak tertutup rapat, cahaya menjadi sirna. Aku sulit bernafas. Lenganku bergerak mencari lengan adik hingga tangan kami berpegangan.

Sekian dan Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*