Home » Cerita Seks Mama Anak » Mama Impian 5

Mama Impian 5

Hari demi hari telah berlalu, di usia kehamilan mama yang sudah menginjak 7 bulan membuat perut mama kini semakin membesar.
Dan tentunya tanpa sepengetahuan papa bahwa anak yang dikandung mama adalah hasil hubungan gelapku dengan mama, tentu saja aku dan mama sangat menjaga rahasia kami.
Walaupun begitu ada rasa kasihan juga terhadap papa, tapi apa boleh buat. Dari pada harus menyakiti papa, lebih baik kami pendam berdua rahasia ini. Papa juga tidak menaruh kecurigaan sama sekali, karena memang mama dan papa masih saling berhubungan intim. Dan pasti papa mengira bahwa mama hamil karenanya, Itu sepengetahuanku dari cerita-cerita mama setiap setelah berhubungan intim dengan papa. Tidak ada rahasia antara aku dan mama, semua hal, baik mama ataupun aku sendiri sangat saling terbuka. Kami bagaikan suami isteri, bahkan kejujuran mama kepadaku melebihi kejujuran mama terhadap papa.

Aku semakin sayang kepada mama. Apalagi mama sedang hamil tua, perutnya yang besar membuat tubuhnya semakin sexy dan menggairahkan. Kami juga masih rutin berhubungan intim, bahkan diusia kehamilan mama yang sekarang aku perhatikan nafsu seks mama semakin meningkat, bahkan tak jarang mama yang minta jatah duluan daripada aku. Dan tentunya kami lakukan seperti biasa secara sembunyi-sembunyi.

Singkat cerita, hari itu adalah hari ulang tahun mama, aku sudah siap dengan sebuah kotak kado yang berisikan kalung emas hasil dari tabunganku selama ini. Dan entah kebetulan atau memang sudah direncanakan, karena kak Mona dan Papa secara bersamaan ada dirumah ketika aku pulang sekolah. Aku juga tidak mengetahui kapan kak Mona dan Papa sampai rumah, karena biasanya sebelum pulang, baik Papa atau kak mona selalu menhubungi aku atau Mama terlebih dahulu.

Sore itu suasana rumah menjadi agak berbeda, yang biasanya sepi sekarang menjadi ramai karena ada Papa dan kak Mona. Apalagi kak Mona, dia orangnya paling ceria diantara anggota keluarga kami, belum lagi hari itu adalah hari ulang tahun Mama, kulihat kak Mona dan Papa sedang meniup balon warna-warni, seolah sedang berlomba siapa yang bisa meniup balon paling besar. Gelak tawa terlihat dari raut wajah mereka, kulihat bi Yanti yang sedang memotong-motong kartas warna-warni juga tertawa ketika melihat kak Mona dan Papa yang sedang bercanda.

“Wahhh ada yang ulang tahun nii…?” Tanyaku sambil memasuki ruang keluarga.
“Ehh.. Kok baru pulang Bob?” Kaget kak Mona melihat kedatanganku.
“Iya kak, tadi ada jam tambahan, mau ujian kan. Kakak kapan sampe rumahnya?” Tanyaku balik sambil bergabung bersama kak Mona dan Papa serta bi Yanti diruang keluarga.
“Tadi siang, bareng dijemput sama Papa distasiun, ehh kamu gak lupa kan kalo hari ini Mama ulang tahun Bob?” Tanya kak Mona,
“Yee… inget lah kak, Mama mana pa? Tanyaku ke Papa yang sedang membantu bi Yanti memotongi kertas hias.
“Didapur kayaknya Bob, kamu ganti baju dulu sana, terus bantuin dekor ruangan, abis itu anterin kak Mona ambil kue buat Mama ya.” Pinta Papa.
“Siiapp bos!” Jawabku sambil berjalan kearah dapur.

Kulihat Mama sedang beraktifitas didapur, aku berjalan perlahan menuju kearah Mama dan Mama tidak mengetahui kehadiranku, tak ingin membuatnya kaget, kurangkul tubuh Mama dari belakang, kuelus perutnya besarnya dan kubisikan kata-kata ditelinganya.

“Happy birthday sayang…!” kataku pelan sambil mencium pipinya dari belakang. Mama membalas dengan menempelkan dahinya ke dahiku dan berkata.
“Hemmm udah pulang Bob, makasih ya sayang inget ulang tahun Mama”. Balas Mama sambil mencium bibirku.
“Inget dong Ma, tadinya sih Bob mau kasih surprise, ehh tau taunya dirumah udah pada rame mau dirayain, gak surprise lagi dong namanya hehehe..” Kataku kemama dengan masih memeluk tubuh Mama dari belakang.
“Barusan kamu juga udah kasih surprise kok sayang, Mama seneng banget barusan dapet ucapan ulang tahun dari kamu, entar malem deh biar Mama yang kasih surprise ke kamu.” Balas Mama sambil meraba tanganku yang sedang mengelus elus perutnya.
“Loh kok jadi Bob yang dikasih surprise Ma, kebalik dong, kan Mama yang ulang tahun.” Kataku sambil heran.
“Memang kamu gak mau Mama kasih surprise?” Balas Mama sambil memandangku.
“Mau dong Ma, memang apaan sih Ma surprisenya?.” Tanyaku ke Mama sambil mencium pipi Mama.
“Ya namanya suprise pastinya rahasia dong, tapi kamu pasti bakalan surprise. Hahaha..” Balas mama sambil setengah tertawa.
“Hah! Mama ini ada-ada aja.” Kataku.
“Udah ah bob, kamu ganti baju dulu sana. Ada Papa sama Kakakmu tuh, entar ketahuan lo kamu peluk-peluk Mama!” Ejek Mama.
“Biarin muachh…” Kulepas pelukanku dan kecium pipi Mama kemudian aku pergi utuk mandi dan berganti pakaian dikamarku.

Malam itu sekitar pukul 18:00 WIB. Aku dan kak Mona akan pergi ketoko kue untuk mengambil pesanan kue ulang tahun untuk Mama. Sebelum berangkat kuperhatikan Mama sedang duduk berdua dengan Papa disofa ruang keluarga, nampaknya Mama dan Papa sedang serius, entah apa yang sedang dibicarakan. Aku dan kak Mona kemudian berlalu dari ruang keluarga. Kukeluarkan mobil dari garasi, dan kamipun berangkat.

Dijalan aku masih berpikir, apa gerangan yang Mama dan Papa bicarakan diruang tamu tadi. Aku ingin menelepon Mama tadi disampingku ada kak Mona. Kemudian aku urungkan niatku dan mencoba untuk SMS mama.

“Hayo ngelamun..! Perhatiin tu jalan, nabrak orang baru tau rasa lu Bob.” Kata kak Mona mengagetkanku yang sedang menyetir sambil SMS.
“Ehh kak, jangan gitu dong, do’anya jelek banget deh.” Protesku sambil kembali konsentrasi mengemudi melintasi jalanan ramai kota metropolitan.
“Kamu sama Mama kok mesra banget sih bob?.” Tanya kak Mona mengagetkanku lagi. Sontak aku langsung mengrem mobil yang sedang kukendarai mendadak ditengah kemacetan.
“Aduhhh! Pelan-pelan dong Bob ngeremnya, untung kakak pake sabuk pengaman. Hihh…” Protes kak Mona.
Kudengar suara klakson dari belakang mobil kami yang tidak terima karena mobil kami berhenti mendadak, dengan cepat aku jalankan lagi mobil kami dan ambil parkir dipinggir jalanan.
“Kenapa Bob? Kok pucet gitu? Kamu sakit?” Tanya kak Mona sambil memperhatikan wajahku.
“Eh engg… enggak kok kak, Bob gak apa-apa.” Jawabku gugup. Aku sungguh kaget dengan pertanyaan kak Mona tadi. Aku sangat yakin bahwa sore tadi kak Mona melihatku dan Mama didapur bermesraan. Aku benar-benar mati kutu.
“Sorry.. sorry.. Bob, Kakak tau kamu kaget denger pertanyaan Kakak tadi kan, ya gimana ya Bob, kita udah pada dewasa kan, Kakak gak mau nanya kayak tadi pas ada Mama atau Papa, makanya Kakak baru nanya nya sekarang.” Jelas kak Mona. Kak mona orangnya memang tidak pernah bertele tele, dia selalu to the poin. Tapi untuk kali ini benar-benar membuat aku syok.
“Gini kak, tapi sebelumnya apa alasan kak Mona nanya kayak gitu ke Bobby?” Jelasku sambil menatap kakaku.
“Tu kan, masih nanya juga. Jelas-jelas tadi sore kakak lihat kamu sama Mama berpulukan mesra banget didapur, kalian terlihat seperti orang pacaran saja. Gak heran kan kalo kakak nanyain ini sama kamu? Masak kakak harus nanya sama Mama.” Tegas kak Mona.
“Oke oke.. Tapi kakak janji ya, masalah ini jangan sampai Papa tau. Bobby mau jujur sama kakak. Tapi jangan Papa. Kakak ngerti kan maksut Bobby?” Balasku sambil mengiba.
“Ya tergantung, asalkan kamu jujur aja sama kakak.” Pinta kak Mona.
“Oke, Bobby sayang banget sama Mama, sayang banget sama keluarga kita. Entah lah kak sejak kapan, Bob sama Mama memang sudah seperti orang pacaran, bahkan Bob sampai sekarang tidak pernah punya pacar lagi diluar. Maafin Bobby kak, Bobby tau kalau ini salah.” Jelasku sambil menundukan kepala.
“Bob, itu Mama kandung kamu sendiri, masak kamu pacarin. Kakak sungguh gak nyangka, Kakak sangat kaget melihat kemesraan kamu dan Mama tadi sore.” Kata kak Mona.
“Iya Bobby salah kak. Tapi kak, ini semua bukan adanya paksaan, Bob sama Mama memang sama-sama saling sayang. Bobby merasa nyaman jika dekat dengan Mama.” Tegasku sambil menatap kak Mona.
“Iya Bob, tapi gak sedekat itu. Jadi sudah sejauh mana hubungan kamu dengan Mama?” Tanya kak mona.
“Kak? Apa perlu Bobby jawab. Kakak bisa menebak sendiri jawabanya, Kakak juga tau kan kalau Mama lebih sering kesepian dirumah. Kakak juga tau kalau Papa kerja diluar kota sampai-sampai jarang pulang.” Kataku.
“Jadi…! Jangan bilang kamu dan Mama sudah sampai pernah ML!” Tegas kak mona.
Menjawab pertanyaan kak Mona kali ini, aku hanya bisa menganggukan kepala tanpa berani menatap wajahnya.
“Bob kamu benar-benar keterlaluan. Itu mama ya Bob. Mama kandung kita. Kamu tega banget sih Bob!” Tegas kak Mona memarahiku.
“Bob udah minta maaf kan kak. Lagian itu juga atas dasar saling sayang. Bob tidak pernah memaksa mama. Bob bisa pastikan kalau Mama menerima Bob dengan rasa sayang sama halnya dengan rasa sayang Bob ke Mama.” Tegasku.
“Okey.. Huuuftt.. Jalan, jalan bob jalan!” Jawab kaka singkat sambil menghela nafas dalam-dalam.

Jelas kak Mona masih tidak terima akan hubunganku dengan Mama. Kulihat raut wajah kecewa dari kak Mona. Percuma kak Mona juga tidak bisa menerima penjelasanku terhadapnya. Suasana semakin hening. Sampai pada akirnya kami sampai ditoko kue tempat kue ulang tahun Mama dipesan. Kuparkir mobil kami didepan toko. Suasana masih kaku. Kak Mona belum berkata satu katapun semenjak tadi.

“Kak udah sampe nih, jadi gak ambil kue nya.” Tanyaku ke kakak, berusaha mencairkan siasana.
“Tau ah, kamu ambil aja sendiri.” Jawab kak Mona jutek.
“Loh kok gitu kak, Bob kan gak bawa uang kak. Ayo dong kak, jangan gitu lah.” Rayuku ke kak Mona.
“Ahhh.. kamu tu Bob ya, bikin BT saja.” Jawab kak Mona sambil membuka pintu mobil. Kuikuti langkah kak Mona. Kulihat wajah murungnya belum juga sirna, aku harus berusaha membuat kak Mona yang biasanya ceria kembali tersenyum.
“Kak, senyum dong. Jangan muram gitu napa? Malu kan dilihat orang.” Candaku.
Tak ada jawaban keluar dari mulut kak Mona. Sampai kami masuk kedalam toko, kak Mona hanya muram saja.
“Kak, senyum dong. Malu tuh diliatin cowok cowok. Dikiranya kita pasangan yang lagi berantem, tu lihat pada ngetawain kita.” Kataku ke kak Mona yang sedang duduk dikursi tunggu disampingku. Memang saat itu ada beberapa cowok seumuranku sedang duduk-duduk diujung dimeja makan.
“Biarin, siapa juga yang mau dibilang pasangan kamu!” Jawab kak mona jutek.
“Idih, Bob mah juga ogah tu dibilang pasangan. Bob ralat tadi kata-kata Bobby.” Balasku.
“Hihhh… Dasar, jangan kurang ajar!” Gemas kak Mona sambil mencubit lenganku kuat-kuat. Sontak membuat aku berteriak kesakitan, membuat semua isi ruangan toko melihat kearah kami.
“Ahkkkkk…! Aduhhh kak, sakit tau.” Protesku sambil berteriak.
“Biarin, itu pelajaran dari kakak buat kamu.” Jawab kaka sambil melotot kearahku.
“Duhh.. Sakit bener kak, sumpah sakit banget.” Kataku sambil mengelus lenganku yang kiri. Sedikit aku naikan lengan kaosku, dan hasilnya lebam bekas cubitan kak Mona membekas berwarna ungu. Kak Mona sendiri sampai kaget, terlihat setengah merasa bersalah sendiri.
“Hahh.. Duh, sorry Bob, kakak kelewatan. Sakit ya.” Kata kak Mona, sambil mengelus lebam dilenganku.
“Aauww.. Sakit kak.” Kataku sambil menjauhkan lenganku dari tangan kak Mona. Kulihat raut wajah kasian kak Mona melihatku yang sedang kesakitan. Tak apalah, dengan begini kak Mona akhirnya bisa kembali terlihat semangatnya.

Setelah beberapa saat penjaga toko keluar dari kasir dan membawakan sekotak kue. Kak Mona membayarnya dan aku membawa kotak itu kedalam mobil, aku berjalan kemobil dibelakang kak Mona sambil masih mengelus lenganku yang lebam. Kak mona sebenernya kasihan, itu terlihat sekali dari wajahnya. Cuma mungkin kak Mona masih jaim, karena waktu itu kak Mona sadang marah kepadaku.

kunyalakan mobil, kemudian kami berjalan pulang. Didalam mobil baik kak Mona maupun aku masih sama-sama terdiam. Sampai akhirnya handphone kak Mona berdering dan entah siapa yang menelepon. Setelah itu kaka Mona mematikan handphonenya.

“Bob didepan belok kiri ya, kakak ada temen. Bentar aja kok.” Kata kak Mona. Kuturuti kak Mona. Sampai disebuah cafe, akhirnya kuparkir mobil kami. Kulihat kak Mona mencari-cari seseorang. Aku sendiri masih belum jelas apakah yang sedang kak Mona lakukan.

Sampai pada akhirnya kak Mona melihat kearah meja dicafe tersebut, dimana ditempat tersebut terdapat sepasang kekasih. Kemudian kak Mona mendatanginya dan apa yang terjadi sungguh aneh. Tiba-tiba saja kak mona menyiramkan air minum dimeja itu kearah sepasang kekasih tadi. Dan usut punya usut ternyata itu adalah cowok kak Mona yang sudah berselingkuh.

Terlihat dari kejauhan kak Mona marah-marah kepada cowok itu, dan akhirnya menangis meninggalkanya. Karena tidak terima aku segera keluar mobil dan menghampiri kak mona yang bejalan kearahku. Sungguh aneh, tiba-tiba saja kak Mona memeluku dan mencium bibirku dengan mesra selayaknya sepasang kekasih. Saat itu aku yang aku rasakan adalah, langanku yang sakit karena deremas menggunakan tangan kak Mona. Kurasa kak Mona memang sengaja membalas perlakuan cowoknya yang selingkuh, dia sengaja membuat cowoknya itu merasa sakit hati didepanya.

Aku mengerti dan aku mencoba membalas dengan memeluk tubuh kak Mona dan ciumanya kuimbangi, tak ada keraguan sedikitpun saat itu, kak Mona sudah gelap mata, dia sudah lupa atau sengaja melupakan marahnya karena aku dan Mama, ciumanya sungguh tidak mengada ngada. Hampir 1 menit kami berciuman didepan umum, semua mata dilokasi itu tertuju kepada kami yang sedang berciuman mesra.

Lidah kak Mona juga tidak bisa diam, bahkan lidah kak Mona dimasukan kedalam mulutku semakin dalam. Kurasakan nafasnya memburu. Sampai akhirnya aku menahan pundaknya dan menghentikan perlakuan kak Mona. Aku usap air mata kak Mona, kupeluk tubuhnya dan kubisikan kata-kata ditelinga kak Mona.
“Sudah kak, lupain. Cowok kayak dia gak perlu ditangisi.” Kataku sambil membukakan pintu mobil untuk kakak. Setalah itu sebelum aku masuk kedalam mobil kulihat cowok itu masih berdiri disamping meja sedari tadi dan melihat kearah kami, kuacungkan jari tengah kearahnya dan aku masuk kedalam mobil, kemudian kami pergi dari cafe tersebut.

Dalam perjalanan, kakak hanya diam saja memalingkan wajah dariku menghadap kearah jendela. Sepertinya kakak sanagt bersedih, cowoknya selingkuh, belum lagi mengetahui hubungan gelapku dengan Mama, aku diamkan saja sementara kak Mona, supaya lebih tenang. Sampai beberapa saat kurasa kak Mona sudah tidak menangis lagi.

“Kak?..” Panggilku pelan.
“Emmm..” Jawab kak Mona singkat.
“Udah, jangan dipikirin. Cowok kayak dia memang kurang ajar.” Kataku geram.
“Kamu tu juga kurang ajar!” Balas kak Mona.
“Lah kok Bobby! kan kak Mona sendiri yang minta di…” Belum selesai aku ngomong, tangan kak Mona sudah mendarat dilenganku.
“Pllakkk… Aduhhh.. Sakit kak, aduhh.. Sorry.. Sorry kak..” Rintihku kesakitan, karena lenganku yang lebam kena tampar lagi oleh tangan kakak.
“Uppsss.. Sorry Bob, kakak lupa, masih sakit ya lengan kamu.” Kata kakak dengan menggigit kuku jari-jarinya sambil nyengir.
“Sakitlah kak, udah dicubit, titabok, belum lagi pas kita ciuman kakak remas lengan Bobby juga, tapi gpp kok hehehe..” Candaku.
“Ehh dasar, kamu kok kurang ajar sih Bob, sama kakak sendiri diembat juga, mau ditambahin lagi apa!” Sahut kak Mona.
“Apa? Dicubit? Jangan lah kak, sakit tau. Dicium sih mau. Uppss… Becanda kak becanda…” Godaku sambil tersenyum.
“Kamu tu ya.. Kakak mau kamu berhenti didepan!” Tegas kak Mona.
“Aduh, apalagi sih kak Bobby cuma becanda kak. Maaf kak maaf.” Balasku.
“Berhenti gak!” Tegas kak Mona.
“Oke.. Oke.. Kak..” Kataku sambil memarkir mobil untuk kesekian kalinya dipinggir jalanan. Kali ini entah apalagi, kak Mona sungguh sensitif, padahal aku hanya becandain dia, bukan salahku, adegan ciuman mesra tadi juga kak Mona sendiri yang memintanya.

Setelah mobil berhenti. Kutarik handrem, kemudian kak Mona beringsut dari duduknya berkata.
“Kamu diam disitu!” Perintah kak Mona.
Alangkah kagetnya aku, kak Mona beringsut dari duduknya dan melangkahkan kakinya kearah duduku. Diturunkanya jok tempat duduku sedikit kebelakang dan sekarang kak Mona duduk mengangkangiku, aku hanya diam tidak bergerak. Karena duduk kak Mona dipangkuan pahaku, posisi kepala kak Mona lebih tinggi dari kepalaku. Kedua tangan kak Mona kini memegang pipi kanan dan kiriku. Aku sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan benar, bibirku langsung dilumat habis olehnya, ciuman kak Mona kali ini lebih bernafsu daripada yang tadi. Lidah kak Mona dimasukan kedalam mulutku, kubalas perlakuan kak Mona itu, kumainkan lidahnya dengan lidahku, sesekali aku hisap supaya masuk lebih dalam kedalam mulutku. Terasa lembuh bibir kak Mona, nafasnya terasa menggebu-gebu, matanya terpejam. Sungguh cantik kakaku ini, tubuhnya wangi, rambutnya yang hitam kontras dengan kulitnya yang putih.

Beberapa menit kami saling berpangutan, kak Mona semakin merapatkan posisi duduknya diatasku, kakinya masih mengangkangi pahaku dangan lutut yang tadinya bertumpu pada jok yang aku duduki sekarang sudah tidak lagi, terasa pantat kak Mona sudah menduduki gundukan kontolku, terasa hangat memek kak Mona dari luar rok nya yang tipis.

Akhirnya, karena semakin bernafsu, kedua tanganku tidak diam saja. Aku ambil inisiatif untuk memegang kedua bokong kak mona. Tapi ternyata tindakanku membuat kak Mona menghentikan ciumanya dan melotot kearah mataku.
“Bisa diem gak Bob!” Perintah kak Mona. Aku hanya bisa menganggukan kepala saja. Ternyata kak Mona melanjutkan ciumanya, aku imbangi ciuman kak Mona yang penuh nafsu itu. Ludah kami saling bercampur. Harum tubuh kak Mona membuatku sangat nyaman. Meskipun sedikit membuatku kecewa karena aku tidak dijinkan menjamah tubuhnya.

Tubuhku kali ini benar-benar dibawah kendali kak Mona. Dia sedang mencumbuku, aku hanya pasrah dan menikmati perlakuan kaka Mona. Kemudian setelah beberapa saat, kaka Mona memegang kedua tanganku dan mengarahkanya dipermukaan bokongnya. Mulut kami masih perpangutan. Akhirnya rasa frustasiku sedikit terobati dengan dijinkanya aku memegang bokong kakaku. Kuelus, kerumas kedua belah pantat kak Mona. Kurasakan dari balik rok tipisnya, bahwa ternyata kak Mona menggunakan celana dalam G-String saja. Kurasakan hanya sebuat tali membentuk huruf Y. Pastinya ini adalah G-String. Kuturunkan tanganku dan sedikit aku naikan rok kak Mona. Belum sampai naik, kedua telapak tangan kak Mona menghentikan pergerakan telapak tanganku itu.

“Muaachh.. Udah ah Bob, keenakan kamunya, udah dapat Mama masak kakak mau kamu nikmatin juga. Dasar ihhh…” Kata kakak menghentikan ciumanya dan mencubit hidungku.
“Tapi kak!” Balasku.
“Eiitt.. Gak ada tapi-tapian. Mau kakak laporin sama Papa?” Ancam kak Mona, sambil mengangkat kedua pahanya dari atas pahaku, kemudian merapikan kembali rambutnya yang acak-acakan dan kembali kejok sebelah kiri tempat dia duduk sebenarnya.
“Yahh, kakak gitu amat.” Protesku.
“Jalan Bob, udah terlalu lama kita, Papa sama Mama nungguin.” Balas kak Mona.
“Iya.. Iya.. Iya..” Jawabku jutek.

Kini kak Mona sudah tidak muram lagi. Wajahnya sudah terlihat normal, kuperhatikan kakaku yang cantik sedang berdandan dalam perjalanan pulang, mulai menyisir rambut, memakai bedak, lipstick dan lainya. Cantik bukan main.

“Apa Bob? Perhatiin tu jalan.” Kata kak Mona.
“Iya iya, kalo gak nanti nabrak orang kan? Udah tau Bobby.” Ejeku sambil konsentrasi kearah depan.
“Hahaha.. Dasar, konsen aja Bob nyetirnya. Kapan-kapan juga dapat lagi kok dari kakak, kakak orangnya gak pelit kok.” Goda kak Mona.
“Hehe.. Makasih kak.” Balasku.

Sepanjang perjalanan pulang aku terus berpikir tentang kak Mona, rasa penasaran semakin membuatku frustasi, aku yakin kak Mona menginginkanku seperti halnya Mama, tapi kenapa kak Mona melarangku menjamah tubuhnya. Sungguh aneh, bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkan kak Mona.

Sampainya dirumah, sikap kami tidak ada yang berbeda, aku dan kak Mona berusaha bersikap normal. Namun ada sedikit perubahan sikap dari Mama dan Papa, aku masih tidak yakin, apa mungkin ada hubunganya denganku. Aku harus mencari tau, tapi sepertinya waktu kurang tepat. ini adalah malam ulang tahun Mama dan aku tidak ingin merusak suasana, maka aku urungkan niatku untuk mencari tau apa yang gerangan terjadi barusan. Jadi akupun mencoba untuk bersikap normal didepan semua anggota keluarga, termasuk Mama.

Mama malam itu terlihat cantik sekali, mengenakan gaun berwarna biru muda dengan belahan dada rendah, pastinya memperlihatkan belahan dada Mama yang menggoda itu, warna gaun yang dikenakan Mama membuat kulit putihnya semakin bersinar cerah. Andai saja dirumah cuma ada aku dan Mama, pasti Mama sudah aku entotin sekarang juga. Dan secara tidak sadar ternyata aku sedang melamun, sampai saat kak Mona menegurku.

“Ehemm…” Kata kak Mona sambil menyikutku.
Saat itu kak Mona duduk disampingku, sedangkan Mama duduk disamping Papa.
“Ehh kenapa kak?” Kataku kaget.
Saat itu kak Mona hanya sedikit melototiku, mungkin kak Mona tau kalau aku sedang memandangi Mama.

“Oke.. Makasih ya Papa, Mona, dan Bobby. Malam ini Mama senang sekali, Mama bahagia punya Suami dan anak-anak yang perhatian sama Mama.” Buka Mama.
“Sama-sama sayang, semoga dihari ulang tahun Mama ini, Mama selalu diberi kesehatan, keselamatan, dan tentunya semakin cantik.” Ucap Papa sambil memuji Mama dengan tersenyum.
Kulihat wajah Mama sedikit memerah, mungkin karena malu.
“Bob juga do’ain semoga Mama panjang umur, sehat selalu, dan semakin sayang dengan keluarga kita.” Kataku sambil memberikan sebuah kotak kado kepada Mama.
“Wah… Apa ini sayang. Makasih ya sayang,” ucap Mama sambil berdiri dan memeluku.
“Mona juga punya sesuatu buat Mama, nih buat Mama, Happy birthday ya Ma, selalu sehat, panjang umur dan banyak rejeki.” Kata kak Mona sambil menyodorkan kotak berisikan kado untuk Mama.
“Makasih juga sayang, Mama kan udah tua, masak masih dikadoin sih, kayak ABG aja, tapi makasih ya sayang udah dikasi kado gini.” Balas Mama sambil memeluk kak Mona.
“Sama-sama Ma, tahun kemaren kan Mona gak kadoin Mama, hehe..” Balas kak Mona.

Singkat kata, tentu saja setelah itu kami bertiga menyanyikan lagu kebangsaan acara ulang tahun, kemudian acara do’a dari Mama sebelum meniup lilin diatas kue. Sesekali aku mencuri curi pandang kuarah dada Mama. Meskipun aku sudah sering merasakan dan menikmati dada itu, tetap saja menggoda jika masih terbalut dengan pakaian lengkap. Aku terus saja memperhatikan Mama, aku sudah tidak perduli lagi, meskipun disampingku ada kak Mona dan ada Papa disamping Mama.

Setelah kue dibagikan, lanjut ke acara makan-makan, kami habiskan malam itu bercanda ria ditemani alunan musik klasik dan suasana pesta diruang keluarga, hiasan khas acara pesta ulang tahun karya sendiri pun cukup membuat meriah seisi ruangan.

Kulihat wajah ceria Mama malam itu. Sungguh senang rasanya bisa melihat Mama sebahagia itu, berkumpul dengan keluarga, termasuk juga bi Yanti yang baru dapat jatah berkumpul diacara makan-makan. Sebenarnya Mama juga mempersilakan bi Yanti ikutan diacara ulang tahun Mama, cuman mungkin karena tau diri, sebagai yang bukan salah satu anggota keluarga jadi bi Yanti enggan untuk bergabung.

“Sekarang Ma?” Tanya Papa.
Aku heran, apa gerangan maksut dari Papa, kuperhatikan Mama yang sedang mencoba kalung dari kado pemberianku dibantu kak Mona sontak menoleh kearah Papa dengan wajah sedikit bersemu.

“Sebentar Pa, gimana Mon, udah? Bagus kan pa kalung Mama? Ini dari Bobby loh” kata Mama sambil meliriku.
“Bagus juga, pinter kamu Bob pilih perhiasan” kata Papa.
“Bagusan cincin dari Mona ya ma?” Timpal kak Mona tidak terima.
“Iya iya, semuanya bagus kok, Mama suka.” Kata Mama sambil memperlihatkan cicin pemberian kak Mona.

Kemudian Mama duduk kembali disamping Papa.
“Papa yakin?” Bisik Mama pelan ke Papa.
“Haha.. Sesuai permintaan Mama kan, biar Papa yang urus, anggap ini kado dari Papa.” Balas Papa sambil mencium kening Mama.
“Okey.. Bob, Mon, Papa tau kita keluarga. Mungkin agak aneh dan kalian akan sedikit risih, tapi Papa harap Bobby dan Mona bisa mengerti.” Maksut Papa memberi penjelasan, namun aku dan kak Mona masih belum tau maksut sebenarnya dari Papa.
“Maksutnya gimana sih Pa?” Kata kak Mona.
“Kamu udah dewasa, pasti tau kan Mon Incest?” Tegas Papa, to the poin.
“Whatt!.. Papa serius, Papa ngomong apaan sih..” Kaget kak Mona sambil memandang kearahku.
“Hehe.. Mona sayang, gak apalah, kan kita keluarga sendiri. Sudah saling tau kepribadian masing-masing. Lagian Mama ngidam nih sayang. Mama pengen ngerasain incest. Em.. Family Incest.” Jelas Mama.
“Tunggu-tunggu, jadi ini sudah direncanakan kan sebelumya Ma? Pa? Papa dan Mama yakin?” Balas kak Mona dengan nada seperti masih belum yakin dengan apa yang barusan Mama dan Papa bilang.
Sedangkan aku, aku hanya diam saja saat itu. Jantungku berdegup sangat kencang. Mama dan Papa sungguh membuatku jantungan.
“Sebenarnya ide ini awalnya dari Mama. Tadinya Papa juga gak yakin sih, tapi gak ada salahnya juga kita bicarakan. Kalaupun ada dari kita yang keberatan, gak apa kok kalau acaranya kita batalin. Papa dan Mama sudah berdiskusi tadi saat kalian pergi.” Jelas Papa.
“Bobby sih oke aja Pa, kak Mona gimana?” Tanyaku ke kak Mona.
“Hihh.. Dasar ni anak, emm.. Gimana ya Pa? Mona belum yakin.” Kata kak Mona.
“Sayang, pleasee.. Buat Mama yah ya..” Pinta Mama.
“Iya sayang buat Mama.” Tambah Papa.
“Gimana ya Pa? Aneh saja kan kalau satu keluarga ML bareng-bareng? Mona gak abis pikir. Eh maaf Ma, bukan maksut Mona ngalawan Mama. Mona masih belum yakin aja Ma.” Jelas lagi kak Mona.
“Gak apa sayang kalo kamu gak mau, Mama dan Papa gak mau maksa kalian.” Balas Mama dengan nada sedikit kecewa.
“Oke oke fine.. Mona mau Ma? Pa? Tapi kan ada bi Yanti gimana?” Balas kak Mona.
“Tenang aja sayang, bi Yanti sudah Papa lobi kok, tadi sesuai permintaan Mama, setelah kalian memberikan persetujuan maka bi Yanti tidak akan keluar kamar sampai besok pagi. Hehe..” Kata Papa sambil tertawa kecil diikuti tawa Mama, tangan Papa kini merankul pundak Mama, dan tangan kanannya mengelus-elus perut Mama yang membesar.
Akhirnya aku memihak Mama dan Papa, sengaja aku persingkat percakapan kak Mona denagna Mama dan Papa.
“Oke Pa, jadi kita sekarang harus ngapain? Tanyaku singkat.
“Kamu duduk disini Bob, kita tukeran tempat, gpp kan Mon jika Papa duduk disebelah kamu.” Pinta Papa.
“Iya gak apa-apa lah pa,” balas kak Mona.

Kemudian aku berdiri dan duduk disamping Mama, sedangkan Papa sekarang duduk disamping kak Mona. Suasana agak sedikit canggung, aku berusaha rileks. Kedekatkan duduku dengan Mama.

“Santai aja sayang, Mama juga grogi kok, hehe” kata sambil menepuk pahaku.
“Langsung aja deh Ma, Iya bener Bob kamu nyantai aja meski ada Papa, Papa sudah sharing kok sama Mama.” Tegas papa.
“Papa nih, gak usah disuruh sih kalo Bobby pasti udah ngerti Pa..” Kata kak Mona.
“Yeee.. Bob kan cuma nurutin Papa sama Mama, wekkk..” Ejeku ke kak Mona.
“Huuu dasar!” Balas kak Mona sambil memanyunkan bibirnya kearahku.
“Udah udah.. Biar Mama yang mulai, oke sayang?” Kata Mama sambil melirik kearahku dengan wajahnya yang bersemu.
“Mama ini paling bisa bikin Bob seneng. Pasti ini ulah Mama kan? Bisiku pelan ditelinga Mama. Kulirik kak Mona dan Papa tidak terlalu memperhatikan kami. Kak Mona masih terlihat canggung. Sama halnya dengan Papa. Mereka hanya duduk manis saja.

Perlahan aku mulai bekerja didepan kak Mona dan Papa, kuberanikan diri untuk berinisiatif sedikit menciumi leher Mama dari samping, tanga kiriku merangkul pundak Mama, dan tangan kananku mengusap-usap paha Mama sehingga sedikit membuat gaunya naik memperlihatkan paha mulus Mama. Kulirik lagi kearah duduk kak Mona dan Papa, masih tidak ada perubahan, mereka hanya sibuk melototi aku dana Mama. Melihat hal itu, nafsuku semakin memanas saja. Kemudian kusingkapkan gaun Mama lebih tinggi lagi, lalu sedikit aku renggangkan kedua paha Mama, sehingga membuat selangkangan Mama terekpose didepan kak Mona dan Papa. Mereka berdua hanya melotot keheranan melihat aku dan Mama. Sensasi luar biasa yang aku rasakan kala menikmati tubuh Mamaku didepan Papa dan Kakakku.

Kembali kubelai belai paha Mama, sampai gaunya terbawa naik keatas kebagian dekat selangkangan Mama, lembut sekali terasa kulit mulus Mama. Kubelai kulit mulus paha Mama, kulirik Papa sempat menelan ludah ketika kuperlakukan Mama demikian. Nafsuku semakin meningkat, tak sadar ciumanku kini sudah berpindah mendarat dibibir Mama, Mama pun membalas sambil setengah melirik kearah Papa, kami mulai melakukan ciuman lembut, sambil tanganku dibawah masih meraba raba paha mulus Mama. Sengaja aku tidak langsung jauh memainkan Mama supaya kak Mona dan Papa bisa terbiasa dulu melihat kami.

“Gimana Mon? Asik tuh kayaknya Mama sama Bobby?.” Kata Papa samar-samar.
“Sshhh… Gabung yuk Pa, melihat Bobby sama Mama memek Mona jadi basah Pa.” Akhir nya kak Mona mulai terbawa, kata-kata fulgar mulai keluar dari mulut kakaku, dengan begini aku bisa sedikit berlega karena adanya tambahan semangat dari kak Mona. Dan mudah mudahan Papa juga bisa menaikan nafsu kak Mona.

Kemudian kak Mona dan Papa bergabung dalam satu sofa dengan aku dan Mama. Sofa itu memang lumayan panjang, mampu ditempati empat orang dewasa, bahkan lima orang juga masih longgar.

“Nah, gini kan lebih nyaman kak.” Kataku ke kak Mona sambil meliriknya. Saat itu posisi duduk kami adalah aku diujung sofa paling kanan, disebelah kiriku Mama, kak Mona kemudian diujung ada Papa.

Tak terasa tangan kiriku yang tadinya merangkul leher Mama sekarang sudah masuk kedalam gaun atas Mama, aku mulai menjamah dua bukit kembar milik Mama, kuremas-remas dan kumainkan putingnya. Kulihat Mama menikmati ramasanku ke dadanya, kak Mona dan Papa terus saja memperhatikan aku dan Mama, kupercepat remasanku didalam gaun biru Mama, terlihat dari sisi luar kalau tanganku sedang mengeksploitasi area dada Mama. Kini desahan mulai terdengar dari mulut Mama yang sedang menikmati cumbuanku.

“Ucchhh… Enak Bob, isepin dong sayang puting Mama. Pinta Mama sambil mengeluarkan kedua big boobsnya dari gaun biru muda itu. Kulihat Papa dan kak Mona terbelalak melihat tingkah Mama.
“Pa, buah dada Mama besar banget ya? Boleh Bobby isepin Pa? kataku sambil mendekatkan wajahku kedada Mama dan memandang kearah Papa.
“Lanjutin Bob, Papa suka kok liatin Mama keenakan kamu kerjain.” Balas Papa.
“Ihh Papa genit, malu Pa Mama kalo dikatain gitu.” Kata Mama sambil refleks menutup kedua buah dadanya yang ranum itu.
“Kak liat dada kak Mona dong? Katanya memeknya dah basah tadi? Liatin juga dong kak memek Kak Mona.” Pintaku ke kak Mona.
“Hem enak aja, Mama udah kamu dapetin masak kakak mau kamu embat juga, ini jatah Papa tau.” Balas kak Mona.
“Haha.. Masih aja kalian tu, udah pada gede juga masih suka bertengkar.” Kata Papa sambil tertawa.

Karena tidak mau kalah, kak Mona langsung menyambar bibir Papa, dan Papa yang kaget pun mulai mengimbangi ciuman kak Mona. Seperti biasa, kak Mona suka memainkan lidahnya ketika berciuman. Aku sudah tau tentunya. Akhirnya kak Mona mulai terbiasa, aku palingkan wajah dari mereka, kubiarkan sementara kak Mona dan Papa saling membiasakan diri, dan aku kembali mengulumi big boob Mama.

“Emmhhh ahhh… Trusin sayang, kamu pinter banget.” Gumam Mama sambil tangan kirinya mulai meraba raba ke selangkangan kak Mona. Kulihat ciuman kak Mona dan Papa semakin menggila. Kak Mona tidak memperdulikan gerayangan tangan Mama, atau mungkin bahkan menikmatinya. Tangan kiri Papa kini sudah berada didalam baju kak Mona, pastinya tangan itu sekarang sedang meremas-remas buah dada kak Mona.
“Acchhh… Geli Ma memek Mona..” Gumam kak Mona sambil menatap Mama. Tangan kiri Mama sudah berhasil menemukan tugasnya, dan secara nyata baru kali ini aku melihat lesbian, bahkan meraka adalah Mama dan Kakak permpuanku.

Tak mau kalah dengan Papa, kunaikan gaun Mama lebih tinggi dan aku tarik kebawah CD mama sampai lepas. Kukangkangkan kedua kai Mama selebarnya, kumasukan dua jariku kedalam memek Mama, memek itu sadah sangat basah, sehingga memudahkan dua jariku masuk kedalamnya.
“uuhhh… Sitt.. Yess.. Kocok sayang, emmhhh..” Perintah Mama, kulihat Mama memejamkan matanya ketika aku kocok lebih cepat kedua jariku didalam memek Mama. Sambil aku kembali melahap dengan rakus big boob Mamaku. Kumainkan putingnya dengan gigiku, sedikit aku tarik dan gigit-giti kecil, tentunya hal ini membuat Mama kelojotan, kurasakan tubuhnya bergetar-getar kenikmatan.

Setelah beberapa saat kemudian aku merasakan ada sesuatu yang memasuki liang memek Mama, aku lirik kebawah dan ternyata jari tangan kanan kak Mona dimasukan juga kesana, bersamaan dengan dua jariku yang masih sibuk keluar masuk. Mama semakin mengeliat ngeliat kala itu, bagaimana tidak, memeknya dimasuki empat jari, dua jariku dan dua jari milik kak Mona.
“Ouhhh fuckkk yesss.. Ohhh.. Damnn..” Ceracau Mama sambil mendongakan kepalanya. Kulihat kearah kak Mona, dia mengedipkan mata kirinya kearahku. Sangat genit kakaku saat itu. Sedangkan Papa masih sibuk dengan dada kak Mona, dengan rakus Papa memberikan cupangan demi cupangan didada Kakakku.

Suasana saat itu sangat panas, AC di ruang keluarga kini tidak lagi terasa dingin karena panasnya pergumulan kami berempat. Sampai beberapa saat kemudian kulihat kak Mona menegakkan posisi duduknya untuk melepas semua pakainnya mulai baju sampai celananya sampai bugil dibantu dengan Papa. Akhirnya baru kali ini aku bisa melihat kak Mona telanjang bulat, tepat persis dihadapanku. Tubuhnya tidak kalah jika dibandingkan dengan Mama, putih mulus dengan perut langsing, ada tahi lalat disebelah dada kak Mona sebelah kanan dan dimemeknya yang bersih tanpa bulu.
Sama dengan kak Mona, akhirnya aku juga melucuti gaun yang dikenakan Mama sampai telanjang bulat, memperlihatkan perut buncitnya yang bergaris tengah berwarna coklat itu. Kuelus perut besar Mama dan kukecup lembut. Kemudian aku rebahkan Mama dengan posisi kepala Mama diletakan dipaha kak Mona sebelah kanan.
Aku sendiri sudah telanjang, perlahan aku mulai mengocok kontolku sendiri yang sudah mengeras dan aku gesek-gesekan dipermukaan memek Mama. kulihat mata kak Mona terpana melihat keperkasaan kontolku.

“Pa Bobby entotin Mama dulu ya? Memek Mama udah basah banget nih Pa?” Kataku.
“Puasin Mamamu Bob, pelan-pelan ya, ingat jangan sampe calon adik kamu bangun.hehe..” Balas Papa.

Tanpa banyak kata langsung aku tancapkan kontolku kedalam memek Mama,
“Sslleeppp… Ucchhh, enak banget Pa memek Mama.” Racauku.
“Emhhh… Yess, kontol kamu berasa banget sayang, uhhh yess ahh…” Gumam Mama.
Kuhujamkan semakin dalam lagi kontolku kedalam memek Mama, terlihat sekali kalau Mama sangat menikmati genjotanku, terkadang sembari kugenjot sambil kubelai belai perut buncit Mama. Tangan kak Mona pun tidak tinggal diam, kini buah dada Mama diremas-remas dengan tangan kak Mona sampai keluar air susu dari big boob Mamaku.
“Pahh.. Mona mau dientotin juga dong kayak Mama.” Pinta kak Mona sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar kearah Papa. Tanpa berlama lama, Papa langsung melepas pakaianya dan memasukan ujung kepala kontol Papa kedalam memek kak Mona tanpa langsung memasukanya semua. Dicabutnya, kemudian dimasukin lagi hanya seujung kepala kontol Papa.
“Kenapa pa? Masukin aja semua pa, memek Mona udah pernah dipake kok. Gak bakalan sakit pa, Masukin Pa, lebih dalam.” Pinta kak Mona,
“Wah Papa gak dapat jatah perawan kamu dong Mon?” Protes Papa.
“Hehehe.. Sorry pa, memek Mona udah pernah dipake mantan pacar Monahhh ahhhh.. Ahhhhh.. Ahhhh… Pa, uhhh trus paa..emhhh ahhhh ahhhh pa ahhh trus truss ahhh yess..” Belum selesai kak Mona berkata Papa sudah melesakan kontol besarnya kedalam memek kak Mona sampai pangkalnya berulang ulang sampai kak Mona kenikmatan marasakanya.
“Gimana? Kontol Papa gak kalah kan sama punya mantan kamu sayang?” Gumam Papa sambil meremas remas kedua buah dada kak Mona.
“Ahh sialan kak Mona, aku aja gak dikasih jatah tadi waktu dimobil.” Gumamku dalam hati.

“Emmhhh.. Entotin Mona Pa, puasin Mona Pa.. Uchhh yesss… Trus pa, kontol Papa gede banget, emmhhhh yesss pa trus.. Pa trus..”
Mendengar dan melihat kak Mona dan Papa, Mama hanya tersenyum gembira kearahku dan mengeleng gelengkan kepalanya.

Sesaat setelah aku lihat jari tengah Mama menunjuk nunjuk bagian lubang anusnya. Aku rasa menginginkan anal seks. Aku mengiyakanya dengan mengangguk, aku cabut kontolku perlahan dari lubang memek Mama, kulihat Mama sedikit mengkerutkan wajah, mungkin karena geli ketika aku cabut kontolku dari memeknya.
kemudian aku posisikan mama dengan gaya doggy dengan tangan bertumpu pada sandaran sofa, kuambil posisi berdiri dibelakang Mama, mulai aku ludahi lubang anus Mama, kujilati lubang anus Mama, sedikit aku tusuk tusukan lidahku kedalam lubang anus Mama,

“Uchhh geli sayang, hahaha.. Udah ah Bob geli Mama.” Pinta Mama.
Aku hentikan jilatanku ke anus Mama, dan aku gesekan ujung kontolku dipermukaan anus Mama yang sudah aku lebarkan kedua bokongnya dengan tangan kanan dan kiriku.
“Kak? Pa? Liat nih kontol Bobby mau Bobby masukin keanus Mama, kira-kira enak gak ya Pa?” Kataku berpura pura seoalah belum pernah nngelakuinya dengan Mama.
“Wah gila kamu Bob, kasian Mama, apa gak sakit ma?” Tanya Papa yang menghentikan genjotan kontolnya dimemek kak Mona.
“Tenang aja Pa, Mona juga pernah kok dianal sama mantan Mona, rasanya sih pertama agak sesak. Tapi setalah itu enak juga kok Pa. Papa mau coba juga analin Mona?” Sahut kak Mona.
“Hehe.. Sorry Pa, Mama penasaran sih rasanya kayak gimana? Gpp ya Pa Mama coba dianal sama Bobby? Pinta Mama.
“Iya Ma, gak apa. Tapi pelan lo Bob, tak Mamamu kesakitan.” Pinta Papa.
“Tenang aja Pa? Bob masukin ya Pa?” Kataku sambil mulai menekan ujung kepala kontolku dilubang anus Mama.
“Emmhhhh… Uhhh… Tekan lagi sayang.” Pinta Mama.
Aku tekan lagi semakin dalam dan akhirnya kontolku seluruhnya masuk kedalam anus Mama. Terasa berdenyut denyut didalam lubang anus Mama. Kucabut dan kumasukan lagi kontolku sampai anus Mama longgar. Kini irama sodokanku ke anus Mama semakin aku percepat. Mamapun mengimbanginya dengan mendorong tubuhnya kebelakang melawan gerakanku kedepan, sehingga membuat kontolku masuk semakin dalam lagi ke anus Mama.
“Oouugghhtttt… Fuckkkkk! Yess, oohhhh… Pa sumpah enak banget Pa akkhhhh… Yess.. Pa enak banget kontol Bobby Pa..”
“Tu kan Pa? Mama aja keenaka? Gimana, Papa mau coba anus Mama?” Kataku ke Papa.
“Emm boleh juga Bob,” kata Papa sambil menggenjot kak Mona.

Kemudian aku mencabut kontolku daru anus Mama, bahkan setelah aku cabut lubang anus Mama masih membuka, terlihat lubang anus Mama berlubang selebar diameter batang kontolku.

“Sayang, Papa cobain anal Mama dulu ya, biar Bobby yang melayani kamu.” Pinta Papa ke kak Mona.
“Hee’eehhh pa..” Jawab singkat kak Mona yang masih merem melek.
Akhirnya Papa mencabut. Kontol Papa dari memek kak Mona, dan mengambil posisi berdiri dibelakang Mama menggantikanku. Kulihat Papa mulai memasukan kontol besarnya kedalam anus Mama yang sudah longgar bekas aku anal itu. Dengan mudah kontol Papa keluar masuk dilubang anus Mama. Mama juga menikmati sodokan demi sodokan yang dilayangkan Papa.
“Gimana Paa ahhhh.. Enn ennnaakk kan pake anus Mama ahhh.. Paa? Enak.. Pa.. Uchhh… Anus Mama nikmat baget disodokin kontol Papa.” Gumam Mama.
“Ehmmm… Mama gak dari dulu aja kayak gini, emhhh enak banget ma anal di anus Mama..” Kata Papa sambil sibuk menggenjot genjot tubuh Mama.

“Kak, Bobby pake memek kak Mona dulu ya, analnya nanti aja deh. Bobby pengen tau rasanya memek kakak kayak apa sih Hehe..” Kataku sambil mengelus memek kak Mona.
Kak Mona langsung melotot kearahku. Mungkin dia berfikir kalau enak banget jadi aku, udah bisa ngentotin Mama sekarang kak Mona dapat juga kena giliranku.

Perlahan aku tindih tubuh kak Mona, kulumat bibir sexy nya, kupegang kontolku, aku cari lubang kakaku dan aku masukan semua sampai mentok didalam memek kak Mona.
“Oouuuuhhhhh… Bob, gila kontol lu panjang banget, pantesan hup!” Belum selesai kak Mona bicara aku dekap mulutnya dengan tanganku. Matanya melotot kearahku dan mencubit punggungku.
“Akkhhh.. Sakit kak.” Teriaku.
“Kenapa lagi Bob?” Tanya Mama.
“Ini nih Ma, kak Mona nyubil Bobby.” Aduku ke Mama.
“Hahaha.. Kalian ini udah ngentot juga masih bertengkar aja, udah Ma biarin aja suka suka mereka, memang dasarnya kayak gitu” Kata Papa sambil menggelengkan kepala.

Kubalas kak Mona dengan hujaman kontolku semakin brutal, sampai-sampai kak Mona mengerang erang.
“Arrggghhh.. Uhhh.. Bob, ampun.. Ahhh… Emmhhh..” gumam kak Mona.
“Pelan-pelan Bob, kasian tu kak Mona sampe nyengir-nyengir gitu..” Kata Papa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*