Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 7

Ibuku Cintaku dan Dukaku 7

Aku hanya bisa bengong menatap langit-langit kamarku. Tak tahu harus berbuat apa. Di saat terbaring seperti ini biasanya aku akan tertidur. Tapi dari tadi mataku tak menunjukkan adanya rasa lelah. Malah sangat segar. Mungkin dikarenakan tidur panjangku tadi.

Ditengah rasa kebosananku aku memilih untuk keluar dan berencana menonton TV. Berharap ada acara TV yang bisa kunikmati. Karena biasanya aku sedang di sekolah di jam-jam ini. Perlahan aku bangkit dari pembaringanku dan berjalan menuju TV yang ada di ruang tamu. Kunyalakan dan duduk menyaksikan. Tak lama aku sudah larut dalam sebuah tontonan komedi kocak yang cukup menyegarkan pikiranku.

Hingga tanpa kusadari berjam-jam sudah aku menonton dan Ibu sudah selesai mencuci pakaian. Dia muncul di dekatku dan kemudian mengomeliku yang kini sedang asyik menonton sebuah sinetron remaja.

ÔÇ£Lho? Tito kok nggak istirahat? Malah nonton TV. Tuh liat, acaranya juga acara yang nggak jelas. Ngajarin anak sekolah jadi anak berandalan. Matiin aja ah!ÔÇØ repetnya.

Hehe Ibu kenapa sih? Kan cuma tontonan? Tito nggak ikut-ikutan kayak gitu kok. Kataku padanya. Ibu sedang berdiri di sebelah kiriku dengan tangan yang masih agak basah.

Ya tetap aja Ibu nggak suka. Kan bagusan Tito ngerjain PR kek, apa kek Daripada nonton sinetron kayak gini. Ujar Ibu sambil melirik ke arahku yang sekarang sedang duduk di sebelah kanannya. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.

ÔÇ£Iya deh iya. Huh! Lagaknya nasehatin Tito, padahal mau nonton berita artis. Ya kan? Ya kan?ÔÇØ sungutku seraya bangkit dan berjalan ke kamarku.

Ihh Sok tau Balas Ibuku. Kulihat dia sudah menukar-nukar channel TV. Ketika dia melihat program infotainment kesukaannya, diapun merebahkan tubuhnya di tempat dudukku tadi.

ÔÇ£Nah! Tuh kan! Bener!ÔÇØ sergahku dari pintu kamar. Kulihat dia hanya menahan tawanya dan tetap menyuruhku masuk ke dalam kamar. Aku pun hanya bisa pasrah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.

Sampai di kamar aku hanya duduk diam di depan meja belajarku. Lagi-lagi bingung harus melakukan apa. Kulihat buku-bukuku yang bertumpuk di depanku. Mereka seolah-olah menungguku untuk segera dibuka dan dipelajari. Namun rasa malasku kali ini menang. Kuurungkan niatku untuk belajar. Kulihat jam dinding di kamarku baru menunjukkan pukul 01.45, alias belum tepat pukul dua siang.

ÔÇ£Ah, nyantai aja deh. Toh si Rama kan belum datang. Ngapain juga repot-repot ngerjain PR sekarang?ÔÇØ pikirku.

Aku kemudian bangkit dari kursi dan kemudian berjalan ke tempat tidurku. Aku bermaksud untuk tiduran lagi. Tapi belum sempat aku berancang-ancang untuk berbaring terdengar suara orang mengucapkan salam dari luar. Dan Ibu menjawabnya dari dalam. Aku pun hanya duduk di atas ranjang sambil menunggu situasi yang sedang terjadi di luar.

ÔÇ£Kayaknya ada tamu deh. Tapi siapa ya? Ah, paling juga tamunya Ibu.ÔÇØ Pikirku cuek. Kemudian kutumpukan siku kananku di dekat bantal dan dengan perlahan aku pun berbaring sempurna di atas ranjang.

Terdengar suara dua orang wanita sedang bercakap-cakap di luar. Sesekali diselingi tawa halus dan guyonan ramah. Tak lama kemudian pintu kamarku diketuk dan Ibu memanggilku.

ÔÇ£To! Udah tidur Nak? Ini ada tamu nih mau jenguk Tito!ÔÇØ teriak Ibu dari luar.

ÔÇ£Nggak Bu! Tito belum tidur! Siapa Bu?ÔÇØ sahutku.

ÔÇ£Ini Bu Dina nih! Ibu suruh masuk aja ya!ÔÇØ

ÔÇ£Hah!? Bu Dina? Waduh, gawat nih! Penampilanku kusut banget lagi! Gimana nih!?ÔÇØ pikirku. Aku panik dan salah tingkah sendiri.

Belum sempat bersiap-siap bahkan berpikir apapun, pintu kamarku sudah terbuka. Tampak dua wanita cantik kini berdiri di pintu kamarku dan melihatku yang sedang berbaring. Keduanya seakan sedang bertanding adu senyum di sana. Sejenak aku malah membandingkan senyuman yang mana yang lebih manis di antara mereka berdua.

Bu Dina kulihat memakai seragam hijau PNS-nya dan membawa tas jinjingnya seperti biasa. Rambut yang sedikit lebih panjang dari rambut Ibu dengan poni menyamping dan diikat kuncir kuda membuat penampilannya sangat santai namun seksi. Ditambah lesung pipi yang khas apabila dia tersenyum membuatnya memiliki pesona tersendiri.

ÔÇ£Eh! Tito gimana kabarnya? Udah baikan?ÔÇØ sapa Bu Dina. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan ke arah tempat tidurku dan kemudian duduk di sampingku yang sedang berbaring. Bu Dina di dekat tubuhku, sementara Ibu di sebelah kakiku.

Oh! Emm Iya Bu. Tito udah agak baikan. Makasih ya Bu udah mau jengukin Tito. Baru pertama kali nih Tito dijengukin sama guru sendiri. Hihi Kataku malu-malu.

ÔÇ£Ah! Nggak apa-apa kali To. Masa murid paling pintar di sekolah Ibu abaikan gitu aja.ÔÇØ Katanya sumringah.

Hehe Aku hanya bisa cengengesan. Ibu juga cuma bisa nyengir.

ÔÇ£Eh! Hampir lupa nih. Bu Dina mau minum apa?ÔÇØ sergah Ibu kemudian.

ÔÇ£Oh, nggak usah Bu. Ngerepotin banget. Lagian saya nggak lama-lama kok.ÔÇØ Tolak Bu Dina.

Nggak apa-apa kok Bu. Nggak ngerepotin kok. Kan cuma buatin minum sebentar aja. Masa tamu nggak dikasih minum? Nggak sopan dong namanya. Hehe Ya udah, mau minum apa nih Bu Dina? sambung Ibu sembari tegak hendak berjalan ke dapur.

Ngg Teh aja deh Bu kalo nggak ngerepotin. Sahut Bu Dina kemudian.

ÔÇ£Oh, ya udah. Bentar ya Bu saya buatin dulu.ÔÇØ Ujar Ibu yang dibalas Bu Dina dengan anggukannya. Ibu pun segera berlalu ke dapur dan menghilang di balik pintu.

Wajah Bu Dina sekarang sudah berpaling ke arahku. Senyumnya yang tadi sekarang hilang digantikan oleh ekspresi iba yang mendalam di wajahnya. Sambil mengelus rambutku dia lalu mendekatkan wajahnya padaku. Dipandanginya wajah dan kepalaku bergantian.

ÔÇ£Kepalanya masih sakit To?ÔÇØ Bu Dina berbicara dengan suara yang pelan.

Emm Kadang-kadang sih Bu. Kalo terlalu cepat digerakin terasa agak ngilu. Kalo lagi nunduk juga lumayan sakit. Tapi udah nggak kayak kemarin kok Bu sakitnya, udah banyak berkurang.

Oh Gitu ya. Bagus deh kalo gitu. Ibu khawatir banget tadi mikirin kamu yang nggak hadir di kelas. Ditambah lagi Ibunya Rama datang kasih surat keterangan sakit sama Ibu. Katanya kalian berdua lagi sakit. Ibu kaget banget dengarnya. Masa kalian bisa kompak gitu sakitnya? Akhirnya Ibu kemari deh mastiin kalian nggak apa-apa. Ibu takut kalian dicelakain orang.

ÔÇ£Dicelakain orang? Maksud Ibu?ÔÇØ tanyaku yang tak mengerti ceritanya.

ÔÇ£Ibu takut kalian dicelakain sama anak-anak SMP kayak waktu itu.ÔÇØ Sambungnya lagi.

ÔÇ£Lho!? Ibu tau kejadian waktu itu?ÔÇØ tanyaku yang tidak percaya bahwa Bu Dina ternyata mengetahui peristiwa saat aku berkelahi mati-matian menghadapi tiga anak SMP.

ÔÇ£Iya. Waktu itu Ibu liat dari jauh ada anak-anak berantem. Jadi Ibu coba datang mau pisahin. Tapi waktu Ibu masih setengah perjalanan, udah ada anak SMP yang lari sambil nangis-nangis. Ibu liat kepalanya udah berdarah-darah gitu. Tapi waktu ngeliat yang berantem itu kamu, ntah kenapa Ibu biarin aja sambil ngintip dari balik tembok yang ada di situ.ÔÇØ

ÔÇ£Lho? Ibu kok cuma nonton? Kok nggak bantuin Tito?ÔÇØ tanyaku dengan sedikit kesal.

Hehe Abis Ibu liat Tito jago banget berantemnya. Sampe yang lain juga pada ngacir sambil ikut-ikutan nangis kayak temannya yang pertama keok duluan. Puji Bu Dina. Aku yang tadinya kesal jadi tersenyum malu karena dipujinya seperti itu.

ÔÇ£Lagian Ibu benci banget tuh sama mereka. Ibu hafal banget tuh wajah-wajah yang sering banget ngegodain Ibu: ÔÇÿSelamat siang Bu Guru. Eh, Ibu Guru yang cantik mau pulang? Bu guru mau dianterin nggak?ÔÇÖ. Kata Bu Dina mencontohkan cara bicara mereka dengan nada yang sangat ÔÇÿmelecehkanÔÇÖ.

Hehehe Aku tertawa mendengarkan ceritanya.

Ternyata bukan hanya di sekolah saja dia menganak emaskanku, bahkan dia bisa bersikap selembut dan sedekat ini padaku ketika di luar sekolah. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan perlakuannya kepada anak-anak lain di sekolah yang mana sangat tegas, galak, dan tak pandang bulu.

ÔÇ£Waktu itu, Ibu liat Rama ketakutan banget. Beda jauh sama Tito yang kayaknya berani banget hadapin mereka bertiga. Ibu sempat liat Tito dipukul lho waktu itu. Tapi Tito langsung bisa bangkit lagi. Tito kok tahan banget? Sering berantem ya!? Hayo ngaku!ÔÇØ

Ihh Nggak kok Bu. Tito nggak pernah berantem kok. Tito

Mungkin keturunan Bapaknya kali Bu Ibu tiba-tiba memotong pembelaanku. Dia sudah muncul di depan pintu kamarku sambil memegang nampan berisi segelas teh hangat. Bu Dina kontan saja menjauhkan wajahnya dariku.

ÔÇ£Eh, Ibunya Tito udah datang.ÔÇØ Ucap Bu Dina dengan agak kikuk.

ÔÇ£Nama saya Yati Bu. Panggil nama juga boleh kok.ÔÇØ Imbuhnya.

Oh iya, Bu Yati Ucap Bu Dina lagi masih dengan kikuk. Ibu berjalan ke arahnya dan menyuguhkan teh itu padanya.

ÔÇ£Ini Bu Dina, silakan diminum dulu.ÔÇØ Ujar Ibu ramah.

ÔÇ£Oh iya Bu, makasih banyak ya.ÔÇØ Bu Dina pun menikmati tehnya beberapa tegukan dan meletakkannya di atas meja belajarku.

Sesaat setelah Bu Dina menikmati tehnya, Ibu pun melanjutkan ceritanya. Bapaknya Tito dulu memang kuat banget orangnya Bu. Jago silat malah. Hehe Mungkin ketahanan badannya diturunin ke Tito kali Bu.

ÔÇ£Hah? Bapak jago silat?ÔÇØ batinku terkejut. Aku tidak pernah tahu bahwa Bapak bisa silat. Aku baru mendengar hal itu dari Ibu sekarang ini.

ÔÇ£Oh gitu ya Bu. Pantesan aja Tito kayaknya kuat banget. Rupanya fisiknya keturunan BapaknyaÔǪ Tapi Ibu kok bilangnya ÔÇÿduluÔÇÖ? Memangnya Bapaknya Tito udahÔǪÔǪ.ÔÇØ Bu Dina mencoba menduga-duga cerita.

Oh, nggak kok Bu. Bapaknya Tito dulu nggak meninggal. Waktu Tito belum lahir dulu Bapaknya merantau, tapi sampe sekarang nggak.. balik-balik lagi. Ibu agak memelankan suaranya di kalimat terakhir. Dari wajahnya masih bisa kulihat kekecewaannya yang dulu.

Oh, mmm maaf ya Bu. Saya nggak tau kalau

ÔÇ£Nggak apa-apa kok Bu, kejadiannya juga udah lama kok. Lagian Tito kayaknya juga nggak mau ingat-ingat tentang Bapaknya lagi.ÔÇØ Ibu melirik padaku dengan pandangan kosong disertai senyum getir. Aku hanya diam memperhatikannya. Sementara Bu Dina cuma menatap ke bawah dan sesekali melirik ke arahku.

Eh! Kok jadi cerita itu ya? Hehe Ibu seperti tersadar dari lamunan.

ÔÇ£Gimana si Tito Bu Dina? Dia di sekolah nakal ya? Buktinya dia pernah berantem kan? Pasti dia nakal kan Bu? Ntar biar saya hukum dia Bu.ÔÇØ Cerocos Ibu mengalihkan cerita. Tangannya mencubit kakiku pelan.

ÔÇ£Ih, Ibu apaan sih?ÔÇØ kataku menanggapi cubitannya.

Oh, hehe Nggak kok Bu. Tito nggak nakal kok, malah baik banget anaknya. Rajin banget belajarnya. Saya aja salut liat anak yang bisa mempertahankan juara kelas sama juara umum berturut-turut. Bu Dina memaparkan keunggulanku dengan tersenyum bangga. Aku hanya bisa tersenyum malu.

ÔÇ£Oh, gitu ya Bu.ÔÇØ Jawab Ibu singkat. Dia juga tak bisa menghilangkan senyum bangganya akan prestasi anaknya.

Tapi maaf ya Bu, waktu Tito berantem waktu itu saya sebenernya ada di situ. Tapi saya bukannya pisahin, malah lebih milih nonton. Jujur bukannya saya mau celakain Tito Bu, saya..

ÔÇ£Udahlah Bu, saya udah dengar kok tadi.ÔÇØ Kata Ibu memotong penjelasan Bu Dina.

Bu Dina terdiam. Tapi sekarang malah aku yang sewot. ÔÇ£Lho!? Berarti Ibu barusan nguping ya? Ih, Ibu kok gitu sih!? Nggak sopan.ÔÇØ

Ihh, siapa juga yang nguping? Ibu tadi waktu nganterin tehnya Bu Dina Cuma dengar dikit aja kok. Abisnya Bu Dina juga tadi ceritanya kayaknya seru banget. Jadi kedengaran deh dikit. Hihi Repet Ibu sambil cengengesan mengklarifikasi segalanya. Bu Dina hanya tersenyum melihat kami.

Udahlah Bu, nggak apa-apa. Toh waktu itu kan Tito mau ngelindungin temannya. Terus Bu Dina tadi bilang kalo Ibu juga sering digangguin anak-anak SMP itu kan? Berarti ada dua deh yang udah diperjuangin Tito. Hehe Canda Ibuku.

Mm Makasih banyak Bu atas pengertiannya. Tapi saya tetap minta maaf Bu, seharusnya saya tetap mengutamakan keselamatannya Tito waktu itu. Bukannya malah mikirin diri saya sendiri. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ucap Bu Dina.

Dia terlihat sangat-sangat bersalah atas kejadian yang menimpaku waktu itu. Dia juga merasa sangat tidak enak dengan Ibu, sampai-sampai Bu Dina menggenggam kedua tangan Ibu dengan erat.

ÔÇ£Udah Bu, nggak apa-apa. Semuanya kan udah terjadi. Waktu itu luka Tito juga nggak parah-parah amat. Jadi walaupun saya baru dengar alasan Ibu yang tadi, saya nggak ada perasaan marah sedikitpun. Saya udah terima itu semua. Saya malah ngerasa bangga lho jadinya Bu.ÔÇØ

Bu Dina jadi bingung dengan pernyataan Ibu barusan. ÔÇ£Lho? Kok bangga Bu?ÔÇØ

Sedetik kemudian Ibu melirikku dengan lirikan yang aneh disertai senyuman yang menggoda. Sepertinya Ibu ingin mengatakan sesuatu tentangku. Aku menunggu dengan penasaran apa yang akan dikatakannya pada Bu Dina.

ÔÇ£Jangan sampai deh dia bilang sesuatu yang enggak-enggak tentangku sama Bu Dina.ÔÇØ Pikirku.

Sambil tetap melirik dan tersenyum padaku Ibu berkata, Ternyata saya baru tau nih kalo ternyata Bu Dina yang sering Tito ceritain tiap hari itu secantik ini. Saya jadi bangga deh karena tau Tito udah ngelindungin gurunya yang cantik ini. Tito itukan suka..

ÔÇ£Ibu!ÔÇØ aku setengah berteriak dan refleks bangun tiba-tiba dari pembaringanku dan menggelitiknya agar dia tak melanjutkan kata-katanya.

Hiihihi Hahaha Eh, Tito! Salah Ibu apa!? Hahaha Ampun Nak Geli Hihi Ibu tertawa terbahak-bahak karena geli. Namun aku tetap menggelitiknya agar dia jera dengan perbuatannya. Bu Dina hanya terperangah dan tersenyum lebar dengan tingkah polah kami.

ÔÇ£Tito akan gelitikin Ibu terus!ÔÇØ Balasku sambil tetap menggelitik daerah rusuk sampingnya. Dia mencoba melindunginya dengan nampan, tapi tanganku dengan lihai menyelip ke baliknya.

Aku tak akan membiarkannya mengatakan kepada Bu Dina akan hal-hal yang sudah kuceritakan padanya selama hampir setahun bahwa aku sangat suka diajari oleh Bu Dina. Bisa-bisa Ibu membumbui cerita itu dengan imajinasinya sendiri. Aku bisa malu habis-habisan di hadapan Bu Dina kalau sampai itu terjadi.

Udah! Udah Nak! Ampun! Hahaha Hihihi Ibu capek Nak! keluh Ibu sambil tertawa lemas.

Kemudian kurasakan tangan Bu Dina memegang erat bahuku. ÔÇ£Eh, Tito. Udah Nak. Ibunya udah capek tuh. Nggak boleh gitu sama Ibu.ÔÇØ

Karena Bu Dina yang memintanya, akupun berhenti. Kulihat Ibu lemas karena tertawa dan masih saja tersenyum. Tapi kemudian dia menatapku tepat di kepala dan wajahnya berubah dan berangsur serius.

ÔÇ£Lho? Tito udah bisa bangun sendiri Nak?ÔÇØ katanya yang kemudian mengelus kepalaku. Bu Dina juga menatapku untuk memastikan keadaanku.

ÔÇ£Eh? Iya ya Bu? Kok bisa ya? Padahal biasanya kalo bangunnya cepat kayak tadi bakal ngilu banget. Tapi ini ngilunya cuma dikit banget. Malah hampir nggak terasa.ÔÇØ

Wah, berarti emang udah baikan tuh To. Selamat ya Kata Bu Dina. Ibu pun tersenyum senang menanggapi pulihnya kepalaku.

ÔÇ£Iya Bu. Makasih banyak. Berarti besok udah bisa sekolah lagi ya Bu?ÔÇØ

ÔÇ£Jangan!ÔÇØ Ibu dan Bu Dina serentak mengatakan kata ÔÇÿjanganÔÇÖ. Mereka saling melihat satu sama lain dan kemudian tertawa lepas.

Hihi Kok bisa samaan gitu ya Bu? tanya Bu Dina di tengah tawanya.

Iya ya. Hihi Kebetulan aja mungkin Bu. Balas Ibuku.

Setelah tawa mereka mereda, Bu Dina kembali berbicara. ÔÇ£Ya udah. Tito istirahat aja dulu dan jangan terlalu banyak gerak. Hari Rabu aja masuk sekolah lagi biar benar-benar sembuh lukanya ya Nak?ÔÇØ

ÔÇ£Iya Bu.ÔÇØ Aku mengangguk takzim.

Sesaat kemudian Bu Dina bangkit dari duduknya. Dia hendak berpamitan. ÔÇ£Ya udah kalo gitu. Bu Yati, saya pamit dulu ya. Tito, Ibu pamit pulang ya Nak.ÔÇØ

ÔÇ£Eh, udah mau pulang Bu? Kalo gitu makasih banyak ya Bu udah mau jengukin Tito kemari. Mana rumahnya di pelosok begini lagi. Ibu sampe repot-repot datang ke sini.ÔÇØ Ujar Ibu berterima kasih sambil memeluk nampan.

Oh, nggak apa-apa kok Bu. Walaupun tadi sempat nyasar juga sih nyari alamatnya. Hihi Terpaksa deh tanya-tanya sama orang. Tadi di sekolah saya coba tanya sama teman-temannya Tito, tapi katanya mereka nggak tau tuh yang mana rumahnya Tito. Tapi syukur aja ada temannya Tito yang namanya Andri bilang kalo dia sering liat Tito jualan sama Ibu di pasar. Dia nyuruh saya tanya sama penjual rujak yang ada di situ. Terus dia gambarin denah di buku catatan saya. Nah, akhirnya sampe deh di sini. Bu Dina menjelaskan dengan panjang lebar.

ÔÇ£Tukang rujak? Oh, itu Bi Ipah Bu.ÔÇØ Timpal Ibu.

ÔÇ£Bi Ipah ya? Oke deh kalo gitu. Dia orangnya baik banget ya Bu. Waktu saya masih bingung dengan jalanan-jalanan yang mana yang harus saya ambil, dia sabar banget ngejelasinnya.ÔÇØ

Hehe Iya Bu. Dia dulunya teman Ibu saya, Neneknya Tito. Sambung Ibu lagi.

Oh, gitu ya. Pantesan tau banget jalan ke sini. Hihi Emm Ya udah deh, saya pamit dulu ya Bu Yati.

ÔÇ£Iya Bu. Eh, itu tehnya nggak dihabisin dulu Bu?ÔÇØ tanya Ibu berbasa-basi.

ÔÇ£Oh, iya iya.ÔÇØ Balas Bu Dina singkat dan meneguk teh itu hingga habis.

ÔÇ£Ibu pamit dulu ya To. Cepat sembuh ya.ÔÇØ Ucapnya.

ÔÇ£Iya Bu.ÔÇØ Kujawab salam perpisahan hangatnya sembari mencium tangannya layaknya seorang anak pada orang tua.

ÔÇ£Mari Bu, saya antar ke depan.ÔÇØ Kata Ibu lagi.

ÔÇ£Oh, iya Bu, makasih.ÔÇØ

Mereka berdua pun berjalan beriringan ke depan. Kudengar sayup-sayup sedikit obrolan perpisahan mereka dan kemudian pintu pun tertutup dan terkunci. Ibu kemudian masuk ke kamarku dan tersenyum genit. Sepertinya dia akan menggodaku lagi kali ini. Tapi itu malah sangat-sangat kuharapkan agar aku bisa menggelitiki dia lagi. Tadi adalah pertama kalinya aku menggelitiknya dalam hidupku. Aku belum pernah bercanda sejauh itu dengannya. Tapi kelihatannya dia asyik-asyik saja.

Tadi sewaktu aku menggelitikinya, aku sempat menyentuh buah dadanya yang bagian samping karena gelinjangnya ketika tertawa sangat tak teratur. Aku merasakan kalau penampilannya masih sama seperti tadi pagi. Tanpa pakaian dalam. Karena aku tidak merasakan adanya tali BH di punggungnya tadi.

Aku benar-benar tak habis pikir dengan Ibuku ini. Bisa-bisanya dia masih tak pakai BH saat Bu Dina datang. Walaupun daster batiknya itu berwarna coklat gelap dan modelnya ada kerut-kerutan di bagian dada yang menyamarkan adanya bentuk puting, namun tetap saja aku sudah kepalang basah mengetahuinya. Atau mungkin saja dia bahkan masih tak memakai celana dalamnya, sama seperti ketika dia baru saja bangun tidur. Nafsuku selalu naik bila terus membayangkannya.

Dia berjalan ke arahku dan duduk di atas ranjang tepat di sampingku yang sedang duduk bersila. Dengan senyum menggodanya dia mulai bicara. Wah wah, rupanya Bu Dina memang cantik ya. Pantes aja anak Ibu belakangan ini ceritanya tentang diaaaa aja Hihihi Canda Ibu genit.

ÔÇ£Ah, Ibu! Tito gelitikin lagi nih!ÔÇØ kugelitik lagi dia. Tapi kali ini dia cepat menghindar dan berdiri menjauh.

ÔÇ£Kali ini nggak kena… Nggak kenaÔǪ WeekkÔǪÔÇØ Ejeknya dengan irama seperti anak kecil yang sedang bermain.

Aku yang benar-benar merasa ÔÇÿterlecehkanÔÇÖ ingin menghampirinya dan melaksanakan ÔÇÿprosesÔÇÖ selanjutnya. Tapi ketika aku mencoba meninggalkan ranjangku, dia dengan cepat menangkap lenganku untuk menyuruhku jangan bangkit mengejarnya. Wajahnya berubah menjadi sangat teduh dan perlahan sukses membuat nafsuku mereda dan mengurungkan niat nakalku untuk menggelitiknya.

Iya iya Nggak Ibu godain lagi deh. Udah ya, Tito istirahat aja. Walaupun kepalanya udah enakan tapi mesti banyak-banyak istirahat dan jangan kebanyakan gerak. Bu Dina tadi pesan begitu, kan?

ÔÇ£Iya Bu.ÔÇØ Jawabku singkat.

ÔÇ£Ya udah. Ibu ke dapur dulu mau masak. Kalo mau apa-apa panggil Ibu aja ya.ÔÇØ

Aku hanya mengangguk saja. Dia hanya tersenyum melihat kepatuhanku. Lagi-lagi dikecupnya pipiku. Kali ini tak hanya pipi kanan, pipi kiriku juga dikecupnya. Aku hanya terperangah merasakan kecupannya. Dia hanya tersenyum misterius dan berlalu ke dapur sambil menutup pintu kamarku.

Sejenak aku berpikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada kami berdua? Akhir-akhir ini aku dan Ibuku sering kali menunjukkan sikap yang aku tak tahu itu apa. Aku tak mengerti, tapi anehnya aku menikmatinya mengalir. Yang kutahu aku hanya terus berusaha menjadi anak yang baik dan berbakti pada Ibuku. Itu saja.

***

Waktu berlalu begitu saja. Siang itupun kami lalui dengan acara makan bersama seperti biasanya. Dan seperti yang sudah-sudah, Ibu menyuapiku. Kali ini dia menyuapiku dengan sendok dan tanpa nafsu seperti yang terjadi sebelumnya. semua kami lalui dengan bahagia.

Namun kebahagiaan itu sirna tepat pukul 06.00 sore. Di tengah riuhnya suara jangkrik yang meramaikan hari petang itu, Rama datang ke rumahku. Entah apa sebabnya aku seperti tidak menyukai kehadirannya di rumahku. Padahal sudah berbulan-bulan dia tak datang ke sini. Tapi rasanya bukan perasaan rindu yang hadir ketika dia di sini, malah muncul rasa kesal. Seolah-olah aku tak ingin lagi dia hadir di rumahku.

Aku tahu perasaan ini aneh. Di sekolah kami bersahabat akrab seperti biasa. Tapi ketika dia hadir di sini, muncul sebuah emosi yang sulit kujelaskan. Apa ini ada hubungannya dengan perasaanku pada Ibuku? Apa aku terlalu terbawa suasana? Aku sungguh tak mengerti.

ÔÇ£Eh To! Udah lama nih aku nggak main ke rumah lu. Aku mau minta ajarin Matematika buat besok nih! Tolongin aku ya.ÔÇØ Sapa Rama yang kini sudah di ruang tamuku.

Iya iya, aku bantuin. Buat lu apa sih yang nggak. Ya udah, buka semua bukunya. Aku mau ambil bukuku di dalam kamar dulu. Sekalian bikin PR juga walaupun besok aku nggak ke sekolah. Hehe kataku senormal mungkin menanggapinya.

Rama pun melepaskan tas sekolahnya dari punggungnya dan meletakkannya begitu saja di lantai. Dikeluarkannya seluruh ÔÇÿpersenjataannyaÔÇÖ dalam mengerjakan PR. Sementara aku mengambil bukuku ke kamar dan kugelar tepat di dekatnya. Kami belajar di ruang tamu dan duduk lesehan beralaskan tikar. Sesaat kemudian kami berdua sudah larut dalam pelajaran kami.

Surr Suurrr Terdengar suara siraman dari kamar mandi.

ÔÇ£Eh To! Ibu lu lagi mandi ya?ÔÇØ tanya Rama memecahkan konsentrasiku yang sedang mengerjakan soal.

ÔÇ£Ya iyalah! Emang lu nggak dengar apa suara dari kamar mandi!ÔÇØ aku nyeletuk lumayan keras dan mengagetkannya.

Eh, mm maaf To. Lu kok jadi marah? Aku kan cuma tanya? Rama memang terlihat kaget dengan sergahanku.

Oh, Ngg Maaf Ram, aku lagi konsentrasi nih. Kepalaku juga masih agak sakit. Jadi kebawa emosi dikit. Hehe Maaf ya. Jawabku sekenanya.

ÔÇ£Oh, iya. Nyantai aja To. Aku kan nginap di sini. Jadi waktu kita lama.ÔÇØ Sambungnya lagi dengan wajah yang lebih santai.

Tapi entah kenapa ketika dia mengatakan akan menginap di sini konsentrasiku pada pelajaran malah jadi buyar semua. Emosiku seakan meninggi dan pikiranku seketika menjadi kusut. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku mencoba untuk menenangkan diriku sendiri.

ÔÇ£Eh, Rama udah datang rupanya.ÔÇØ Sapa Ibuku yang sedang berjalan mendekati pintu kamarnya. Tampak Ibu baru selesai mandi dan hanya memakai sebuah handuk yang menutupi bagian atas dadanya dan setengah pahanya. Handuk yang lebih kecil juga tergulung di kepalanya sebagai pengering rambut.

ÔÇ£Ihh! Ibu kok nggak malu sih!? Ada Rama lho!ÔÇØ hardikku padanya.

Eh! Iya ya. Hihi Tadi Ibu pikir Rama belum datang, makanya Ibu nggak bawa baju ganti ke kamar mandi. Kata Ibu beralasan.

ÔÇ£Ya udah Bu, jangan ngomong lagi. Cepetan dong masuk ke kamar. Malu nih sama Rama!ÔÇØ Repetku kesal.

Eh, iya Hehe Ibu pun masuk dan menutup pintu kamarnya.

Aku saling pandang dengan Rama dan tersenyum tipis seolah menganggap itu adalah kekonyolan tingkat tinggi. Kami pun melanjutkan pelajaran kami.

Tak lama kemudian terdengar derit pintu kamar Ibu dan kulihat Ibu keluar dengan mengenakan daster warna merah terang motif bunga-bunga kecil. Modelnya mirip dengan daster batiknya yang dipakai tadi siang. Ada semacam hiasan kerut-kerutan di bagian dadanya agar bentuk dadanya terlihat lebih membusung. Bagian lengannya juga ketat seperti daster sebelumnya. Aku yang sesekali memperhatikannya dari sini berharap besar agar dia memakai pakaian dalamnya. Tidak seperti tadi siang.

ÔÇ£Ibu masak dulu ya buat makan malam. Ntar kalian kalo udah siap belajarnya ke dapur aja ya. Kita makan bareng.ÔÇØ Ujar Ibuku.

Ya Bu Kami berdua menjawab hampir serentak. Ibu pun pergi ke dapur dan mempersiapkan bahan makanan yang sempat dibelinya tadi sore.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 malam. Suara riuh jangkrik sejak setengah jam tadi sudah lama sirna digantikan suara kegiatan Ibuku di dapur. Aku masih sibuk mengerjakan soal terakhir yang cukup sulit di kertas coret-coret. Rama hanya memperhatikan dengan saksama. Tidak banyak yang kami obrolkan sejak tadi. Kami hanya mengobrolkan sebatas masalah pelajaran yang sedang kami pelajari.

Akhirnya soal yang satu itu pun selesai. Dan Rama kuberitahu cara untuk menyelesaikan soal yang satu itu agar dia mengerti. Ketika aku sedang sibuk member penjelasan padanya Ibu ÔÇÿmenyiarkanÔÇÖ sebuah berita dari belakang.

ÔÇ£Udah selesai PR-nya? Makanannya udah siap nih! Tito! Rama! Yuk makan dulu!ÔÇØ teriak Ibuku.

ÔÇ£Iya Bu, dikit lagi!ÔÇØ sahutku dari depan.

Kujelaskan lebih lanjut tentang soal itu. Dan aku bersyukur Rama lumayan cepat dalam menanggapi. Ketika PR-nya selesai aku pun bergegas untuk mengajaknya ke dapur untuk makan.

ÔÇ£Yuk makan! Dah laper nih!ÔÇØ ajakku padanya. Rama pun mengangguk.

Ketika aku bangkit, kusingkirkan begitu saja tas Rama yang menghalangi jalanku ke atas kursi tamu. ÔÇ£Ini tas kok ditaruh di sini sih, bikin ribet aja!ÔÇØ

ÔÇ£Eh! Jangan dilempar!ÔÇØ seru Rama kaget.

ÔÇ£Emang kenapa? Isinya udah nggak ada lagi kan? Lagian kan kalo ada paling Cuma buku.ÔÇØ kataku mencoba memastikan.

Nggak Tadi itu Jam tangan aku masih ada di dalam tas. Aku takut rusak. Katanya beralasan sambil melihat-lihat isi tasnya.

ÔÇ£Mana sih? Nggak rusak kan?ÔÇØ aku datang ÔÇÿnimbrungÔÇÖ ke dekatnya yang sedang melihat-lihat isi tasnya.

ÔÇ£Oh, nggak kok! Udah yuk makan.ÔÇØ Katanya buru-buru menarik resleting tasnya menutup dan meletakkannya di atas kursi tamu.

ÔÇ£Eh! Bener kan nggak ada yang rusak?ÔÇØ kataku memastikan. Aku cukup khawatir juga apabila ada barang-barang Rama yang rusak akibat kesalahanku.

ÔÇ£Udah, nggak kenapa-napa kok jamnya. Yuk!ÔÇØ dia menggondol tanganku secara paksa ke arah dapur sambil tertawa kecil melihat wajah cemasku.

Di dapur Ibu sudah meletakkan nasi, lauk, sambal dan juga sayur di atas meja makan. Dia menarik kursi kami berdua agar lekas duduk. Kami yang memang sudah lapar duduk saja berdampingan sambil menunggu Ibu mengambil ceret air untuk minum kami nantinya. Setelah selesai semuanya Ibu pun duduk di seberang kami dan kami pun mulai makan. Kali ini Ibu tidak menyuapiku karena ada Rama di sini. Ibu juga sepertinya tahu bahwa aku pasti akan sangat malu jika disuapi di depannya.

Kami melalui acara makan dengan khidmat tanpa banyak bicara. Aku cukup menikmati acara makan malam ini. Emosiku tadi yang sempat naik berangsur memudar dan hilang sama sekali. Sepertinya perasaan kesalku yang tadi disebabkan oleh luka di kepalaku ini. Mungkin aku jadi sensitif karenanya.

Sesaat setelah selesai makan Ibu mengurus piring kotor dan segala macamnya. Sementara aku mengajak Rama untuk ngobrol di ruang tamu sekalian membereskan buku-buku kami.

Baru sekejap kami selesai berberes Ibu sudah kembali ke ruang tamu. Di tangannya sudah ada secangkir air minum dan tablet warna kuning.

ÔÇ£Lho? Ibu udah selesai cuci piringnya? Kok cepat amat?ÔÇØ tanyaku heran.

ÔÇ£Besok pagi aja deh Ibu cuci. Capek banget rasanya abis nyuci baju tadi siang.ÔÇØ

Oh, gitu ya Bu. Ngg Itu obat buat Tito ya Bu? sambungku.

Iya. Nih katanya sambil menyodorkan tablet itu lengkap dengan air minumnya. Dia pun duduk di kursi tamu bersama kami.

Kuminum obatnya dan kutenggak habis air minum itu karena kutakut obatnya pahit. Hanya hitungan detik saja tablet itu tandas ke perutku. Kemudian aku mencoba mengecap-ngecap lidahku. Merasakan bekas obatnya.

ÔÇ£Nah, nggak pahit kan?ÔÇØ kata Ibu yang sejak tadi memperhatikanku.

Iya, nggak pahit. Hehe jawabku kemudian.

Si Tito ini emang kalo di luar pemberani orangnya Ram, tapi sebenarnya dia takut kalo disuruh minum obat pahit. Hihi Gurau Ibu pada Rama.

Hehe Aku hanya terkekeh mengakui kelemahanku yang satu itu. Rama hanya tersenyum menanggapinya.

ÔÇ£Ibu udah minum obat kayak biasa?ÔÇØ tanyaku pada Ibu yang biasanya kulihat mengkonsumsi obat juga tiap malam. Dia menyebutnya ÔÇÿobat kecantikanÔÇÖ.

Eh, itu Udah kok, tadi waktu di dapur. Jawabnya sedikit terbata-bata.

Aneh sekali aku melihatnya. Menjawab begitu saja harus seperti orang bingung. Aku pun melanjutkan percakapanku dengan Rama. Aku menanyakan kabar pantatnya yang dari tadi kelihatannya memang sudah sembuh. Terlihat ketika dia berjalan sepertinya tak ada hambatan yang berarti. Tidak seperti waktu dia habis terjatuh di pinggir sungai kemarin. Jalannya seperti Ibu-ibu yang hendak melahirkan.

ÔÇ£Berarti sebenarnya tadi lu bisa sekolah?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇ£Kalo dipaksain sih bisa kayaknya To. Tapi lu taulah jaraknya ke sekolah, jauh. Mana mesti jalan lagi. Bisa remuk lagi pantat gue.ÔÇØ Keluh Rama.

Kalian berdua itu ya gue, lu, gue, lu sok keren banget. Kayak omongan anak berandalan di TV aja. Aku kamu aja napa sih? Anak-anak kampung sini juga manggil temannya aku kamu. Sahut Ibu nimbrung ke dalam obrolan kami.

Ihh, Ibu ribet banget deh. Biasa aja kaleee Kami kan sohib, ya nggak Ram? kataku pada Rama.

Hehehe Namun Rama hanya bisa terkekeh menanggapinya.

Lu kok Cuma ketawa doang sih? Belain gue kek Protesku padanya.

ÔÇ£Tuh kan! Rama aja nggak bisa jawab.ÔÇØ Cerocos Ibu lagi sambil tersenyum menang.

Ah, entah deh aku hanya melengos.

Beberapa menit kemudian aku merasa mengantuk sekali. Mataku terasa sangat berat. Aku sangat-sangat mengantuk. Lebih mengantuk daripada biasanya. Bahkan agak terasa pusing.

Lu nggak ngerasa ngantuk Ram? Aku kok Hhhooaaammm Ngantuk banget ya tiba-tiba? keluhku dengan suara lesu pada Rama yang sekarang kulihat masih segar-segar saja.

ÔÇ£Nggak kok To. Aku nggak ngantuk tuh.ÔÇØ Sahut Rama.

ÔÇ£Mungkin obatnya tadi udah kerja To. Tito tidur aja ya.ÔÇØ Ibu kemudian berdiri dan memapahku dan mengantarku ke kamar.

Iya Bu Aku menyahuti sebisanya dan menerima apa saja yang dikatakan Ibu. Kepalaku pusing dan mengantuk sekali. Aku seperti orang mabuk saja ketika berdiri.

Aku bahkan tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi saking mengantuknya. Bahkan untuk permisi pada Rama untuk tidur saja sudah tak mampu. Aku hanya ingin segera tiba di kamarku dan merebahkan badanku untuk tidur. Beberapa detik setelah kubaringkan tubuhku di atas ranjang, aku sudah tak ingat apa-apa lagi.

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*