Home » Cerita Seks Mama Anak » Cara Memotivasi Anak 7

Cara Memotivasi Anak 7

Dana memasuki dapur. Dana melihat mamanya sedang mencuci piring dengan telanjang. Dana merasakan tubuhnya seperti dijalari perasaan hangat. Sudah sering Dana melihat mama telanjang, tapi kali ini beda. Dana melihat mama dengan peraasaan yang lain. Dengan penuh cinta.

Dana kemudian berpikir tentang pelayan dan malam penuh percakapan telepon. Dana benar ÔÇô benar ingin mengenal Sendi lebih jauh lagi. Tapi kenyataan ini tak menghilangkan perasaan cinta kepada mamanya. Dana memang cinta mama, tapi Sendi, Sendi merupakan hal lain.

Dana mulai membayangkan seandainya Sendi melalukan semua yang mama lakukan. Tapi pertama ÔÇô tama Dana ingin kenal dahulu.

Dana kembali memperhatikan mama. Mama bahkan bersenandung. Dana sungguh beruntung pagi ini, bahkan mama tak minta apa ÔÇô apa setelah itu. Tapi Dana merasa berutang nikmat, dan ingin membalasnya. Pelan ÔÇô pelan Dana mendekati mama dari belakang, lalu langsung memegang susunya.

ÔÇ£Aw..ÔÇØ Diana terkejut hingga membuat piring yang dipegangnya terjatuh.

Tangan Dana mengelus susu mama. Jemarinya pun tak lupa memainkan pentilnya. Mmm.. Geli nak Kata Diana sambil memutar kepalanya lalu mencium leher anaknya. Dana lalu mengangkat tangan untuk meraih dan mengelus rambut anaknya.

Lembutnya sentuhan anaknya membuat Diana tak tahan untuk menggigit kecil leher anaknya sambil mengerang. Diana mulai menggesekkan pantatnya yang menempel pada kontol anaknya. Akhirnya Diana melepas tangan anaknya lalu berbalik menghadapnya. Diana menatap mata anaknya.

Oh Sudah sangat lama mama menanti. Kamu udah bikin mama kayak gini.

Dana menyeringai. ÔÇ£Duduk mah di meja.ÔÇØ

Diana lalu duduk di meja. Dana berada diantara dua kaki mama yang terjuntai. Dana meraih kepala mama lalu menciumnya sambil meremas rambut mama. Tangan Diana pun meremas rambut anaknya. Elusan tangan Dana bermain di susu mama, lalu beranjak turun ke perutnya. Diana mengerang di sela ÔÇô sela ciumannya. Hembusan nafas mama makin terasa saat Dana mulai menyentuh jembut mama. Dana merasakan kaki mama bergetar saat ia angkat dan meletakkan di bahunya. Tangan Dana kini berada di tempat yang lembab dan hangat.

Oh.. Oh Nafas mama mengenai bibir Dana. Ciumanya makin liar. Tubuh merespon kenikmatan yang ia terima. Tubuh Diana bergetar saat jari anaknya mencoba memasuki memeknya. Dana merasakan kaki dan tubuh mama bergerak seirama gerakan jari di memek mama. Dana menambah satu jari lagi, hingga kini dua jari sedang bermain di memek mama. Jari  jari itu kini ditekuk ke atas. Dana juga membuka dan menutup jari  jarinya bergantian mencoba melebarkan memek mama.

ÔÇ£Aaaahhhh,ÔÇØ teriakan Diana teredam oleh mulut anaknya. Diana mengangkat tubuh hingga membuat Dana jatuh. Keduanya lalu terduduk di lantai, Diana gemetar. Kepalanya kini disandarkan di bahu anaknya.

ÔÇ£Dimana kamu belajar itu nak?ÔÇØ Diana mencium bahu anaknya.

ÔÇ£Dari imaji nasi dong mah.ÔÇØ

ÔÇ£Cewek yang nanti kamu ajak tidur pasti gak kan biarin kamu lepas. Makasih nak.ÔÇØ Diana menoleh menatap anaknya.

ÔÇ£Mama berhak menerimanya kok.ÔÇØ Dana kembali menggerakan tangan membelai punggung mama. ÔÇ£Gimana rasanya mah setelah bertahun ÔÇô tahun?ÔÇØ

ÔÇ£Kayak disurga. Mama gak mau pindah lagi.ÔÇØ

Dana memeluk mama erat, ÔÇ£Dana gakkan kemana ÔÇô mana mah.ÔÇØ

Diana kembali menjilati leher anaknya, ÔÇ£Mama sangat mencintaimu.ÔÇØ

Ibu dan anak itu tetap pada posisi untuk waktu yang cukup lama. Setelah itu, keduanya tertawa, merasa canggung lalu berdiri.

Telepon tiba ÔÇô tiba berbunyi. Diana menyadari mata anaknya menyipit, ÔÇ£Semalam kamu ngomong sesuatu tentang cewek ya?ÔÇØ Kata Diana sambil melihat anaknya yang berlari menuju telepon.

Dana lari lalu mengangkat telepon, ÔÇ£Iya bu, mama gak apa ÔÇô apa kok. Mah, telepon dari bu Dewi.ÔÇØ

Diana menatap anaknya kecewa, Jangan kabur dulu. Mama mau dengar ceritamu. Lalu mengambil telepon dari anaknya. Halo Gw normal kok. Udah gak ngefek lagi Gak, gw gak marah cuma kecewa Gw jadi males liat dia Dana Ya dia luar biasa Apa, lu liat? Hehehe Gw kasih tau, perjanjian gw sama anak gw udah tamat. Gw udah yakin ama anak gw, jadi gak perlu aturan lagi. Lagian tadi gw dibikin lemes ama dia. Apa? Gak, pake jari doang. Lu mesti liat wajah dia sekarang. Apa, lu juga mau? Ah gak percaya gw. Inget Wi, gw udah kasih tau lu. Lu juga mesti cerita abisnya. Si Dana mesti cerita, kayaknya ada cewek baru nih. Ya udah, met senang  senang aja. Yu

Diana menutup telepon sambil tersenyum ke arah Dana. ÔÇ£Ada kabar baru nih. Kamu mau yang mana dulu, kabar aladin atau kabar aladin?ÔÇØ

Dana mengernyitkan alisnya, ÔÇ£kabar aladin?ÔÇØ Dana lalu tertawa, ÔÇ£kabar aladin dulu deh.ÔÇØ Dana kembali mengernyitkan alisnya, seperti bingung. ÔÇ£Kabar aladin dulu.ÔÇØ

ÔÇ£Ternyata, bukan kamu saja yang aladin beruntung.ÔÇØ

ÔÇ£Mama ngomong apaan sih mah? Aladin siapa sih?ÔÇØ

ÔÇ£Ntar sore, Dewi sama lakinya, Jefri, bakalan ngajak si Dewo main kartu, kayak kita semalam.ÔÇØ

Dana tertawa, ÔÇ£Aladin,ÔÇØ katanya sambil mengacungkan jempolnya.

ÔÇ£Kayaknya virus kita mulai menyebar.ÔÇØ Diana mendekati anaknya lalu memeluknya. ÔÇ£Sekarang cerita atau mama paksa kamu.ÔÇØ

ÔÇ£Iya deh, Dana nyerah.ÔÇØ Kata Dana sambil mengajak mamanya duduk di sofa.

ÔÇ£Wo, sini Wo.ÔÇØ

Dewo sedang duduk di depan monitornya. Namun bukannya senang, Dewo malah merasa jenuh. Tak ada lagi yang dapat diperbuatnya selain bengong, gak ada kerjaan. Bingung apa yang harus dia lakukan. Beri aku uang Beri aku uang Pikirnya saat suara mamanya memanggil. Daripada terbunuh sepi Pikirnya sambil melangkah.

Dewo mencari sumber suara itu. Ternyata mama sedang sama ayah di meja. ÔÇ£Apa mah?ÔÇØ

ÔÇ£Lagi sibuk gak ?ÔÇØ

ÔÇ£Emang kenapa mah? Gak sibuk sih.ÔÇØ Kata Dewo sambil duduk di kursi.

ÔÇ£Kamu bosan gak?ÔÇØ mama mengedipkan sebelah mata pada ayah.

ÔÇ£Iya.ÔÇØ

ÔÇ£Mau main gim gak?ÔÇØ

Dewo menatap ayahnya. Heran karena dia tertawa.

ÔÇ£Widia lagi pergi, mama juga bosan sama kayak ayah. Kamu mau ikut maen kartu gak? Yang kalah mesti buka pakaian?ÔÇØ

Dewo terkejut, ÔÇ£apa?ÔÇØ Dewo menatap ayah dan mama bolak ÔÇô balik.

ÔÇ£Kamu kan udah besar,ÔÇØ ayah akhirnya angkat suara. ÔÇ£Ayah denger kamu dan temenmu suka bicarain mamamu dan mama temenmu. Nah, sekarang kamu punya kesempatan. Tapi, kalau gak mau ya gak apa ÔÇô apa.ÔÇØ

ÔÇ£Pasti bercanda nih.ÔÇØ Dewo mulai senyum.

ÔÇ£Mama yakin kamu bakal telanjang duluan sebelum bisa liat mama,ÔÇØ kata Dewi sambil mengambil kartu. Lalu mulai mengocok.

ÔÇ£Jangan gitu. Meski ayah seneng liat anak kita dipermalukan, tapi ayah ingin liat mama telanjang lebih dulu.ÔÇØ Kata ayah sambil menepuk bahu Dewo.

ÔÇ£Silakan berharap. Ingat aja yang, mama bisa nelanjangin si Diana sama anaknya sebelum akhirnya mama telanjang.ÔÇØ

ÔÇ£Apa?ÔÇØ Dewo lemas hingga menggelosor ke lantai dari kursinya. Ayah tertawa melihatnya.

ÔÇ£Mama lagi ngobrolin kamu. Terus Diana malah nantangin main sama anaknya.ÔÇØ

ÔÇ£Bajingan itu malah gak kasih tahu Dewo.ÔÇØ Dewo memukul meja.

ÔÇ£Jangan marah sama dia. Dia gak salah, mamanya otak dari semua ini.ÔÇØ

Kacau Bener  bener kacau

Ayah kembali bicara, ÔÇ£Bukan kacau Wo, tapi menikmati hidup. Kayak ayah dan mamamu dulu, sebelum pada punya anak.ÔÇØ

ÔÇ£Gak usah terjebak masa lalu Yah. Pasti ntar Diana sama Dana juga kebagian lawan ayah.ÔÇØ

ÔÇ£Yakin?ÔÇØ

ÔÇ£Iya dong. Mama yakin kalian akan segera telanjang asal kamu bisa tutup mulut,ÔÇØ Dewi menatap Dewo. ÔÇ£Jadi cepat ambil kartu dan mainkan.ÔÇØ

Ketiganya lalu bemain hingga Dewo dan Jefri hanya tinggal bercd saja. Sedang Dewi hanya memakai cd dan bh.

Putaran berikutnya Dewi kalah. ÔÇ£Sial,ÔÇØ katanya sambil tangannya menjangkau punggung untuk melepas bh. Akhirnya susu Dewi terlihat oleh anaknya untuk kali pertama.

Dewo hanya bisa melongo melihatnya.

Dewi meraih pentil susu dan menariknya, ÔÇ£kamu ingat dulu gak?ÔÇØ katanya sambil menatap anaknya.

ÔÇ£Ayah gak inget terakhir anak kita gak bisa bicara gitu. Hehehe.ÔÇØ

Dewo geleng ÔÇô geleng sambil meraih lalu mengocok kartu. Setelah pertarungan yang cukup sengit, Dewi kalah. Jefri tertawa senang. Dewi lalu berdiri, melepas cd, menggoyang ÔÇô goyangkan pantatnya ke arah anaknya. Setelah itu kembali duduk.

Ee Sekarang apa? bengong Dewo.

ÔÇ£Karena mulut mamamu gak ada gunanya lagi, gimana kalau mama kalah mesti nyepong dia yang menang. Setuju sayang?ÔÇØ jefri menatap Dewi.

Dewi menatap anaknya, ÔÇ£semoga aja Dewo menang,ÔÇØ lalu menatap suaminya, ÔÇ£karena kalau ayah menang, mama pake gigi mama.ÔÇØ

Dewo kembali terjatuh dari kursi akibat lemas. Ayah dan mama hanya tertawa.

Kartu kembali dibagikan. Namun yang menang adalah Jefri. Jefri lalu berdiri dan menatap anaknya, ÔÇ£perhatikan nak. Liat bagaimana ahlinya mamamu!ÔÇØ Jefri berharap soal gigi tadi hanyalah candaan.

Dewo melihat pantat mama bergoyang ÔÇô goyang saat mulut mama sibuk di selangkangan ayah. Dewo mendekati mama biar bisa lebih jelas melihat.

Mama melepas kulumannya lalu menoleh ke anaknya, ÔÇ£pantat bergoyang artinya undangan. Kamu gak homo kan?ÔÇØ

ÔÇ£Tentu tidak.ÔÇØ

Jefri tersenyum pada anaknya, ÔÇ£lepas celanamu nak. Ayo lakukan.ÔÇØ

Dewo langsung melepas celana hingga telanjang lalu berlutut di belakang mama. Dewo memasukan kontol ke memek mamanya.

Oh kata Dewi di sela sepongannya.

Dewo merasakan betapa nikmatnya memek mama hingga mulutnya mengerang dengan sendirinya. Pompaan kontol Dewo semakin lama semakin cepat. Tangan ayah memegang kepala mama saat ayah orgasme di mulut mama. Aku pun orgasme dibarengi mama yang bergetar. Rupanya mama ikut orgasme.

Dewo mencabut kontol lalu duduk dikursi sambil memperhatikan lepasnya kontol dari mulut mama. Mama lalu menatap ayah, ÔÇ£gimana, senikmat imajinasimu?ÔÇØ

ÔÇ£Iya sayang.ÔÇØ

Dewi duduk lalu menatap anaknya. ÔÇ£Setelah mama main sama Diana dan Dana, mama langsung pulang dan bergumul sama ayahmu. Abis itu mama ceritain semua. Terus ayahmu malah punya ide ini.ÔÇØ

Jefri menatap anaknya, ÔÇ£jadi, kira ÔÇô kira setelah ini kamu bakal sering bosan gak?ÔÇØ

ÔÇ£Tidak komandan!ÔÇØ jawaban Dewo membuat ayah dan mama tertawa.

***

ÔÇ£Maksudmu, gadis yang dulu nganter makanan ke rumah kita trus ngelayanin kita di restoran?ÔÇØ

ÔÇ£Iya.ÔÇØ

ÔÇ£Gila, terus gimana caranya kamu mau nerangin kalau saat itu kamu sama mama?ÔÇØ

ÔÇ£Entahlah. Biar waktu yang menjawabnya.ÔÇØ Mata Dana menerawang sambil mengelus meja

ÔÇ£Gimana kalau mama kembali berpakaian aja dan kita kembali normal seperti dulu?ÔÇØ Perut Diana bereaksi melihat anaknya yang jelas sedang jatuh cinta.

ÔÇ£Tentu tidak.ÔÇØ

Diana tertawa, ÔÇ£Terserah kamu. Kita tunggu saja, jika hubungan ini makin serius, maka kamu mesti memikirkan cara untuk memberitahukannya. Gak boleh ada rahasia jika mau berhubungan, bisa ricuh.ÔÇØ

ÔÇ£Dana tahu. Ntar Dana pikirkan suatu cara.ÔÇØ

Diana bangkit lalu mendekati anaknya. Diana duduk di pangkuan anaknya lalu menciumnya. Beberapa saat kemudian Diana melepas ciuman lalu menatap anaknya. ÔÇ£Mama sangat cinta sama kamu. Tapi suatu saat jika kamu sudah menemukan belahan jiwamu, mama akan merelakanmu. Gak perlu kamu khawatirkan perasaan mama.ÔÇØ

Tangan Dana mengelus bahu mama, sedangkan tangan lainnya memainkan jemari di susu mama. Mata Mama mulai terpejam. Erangan kecil mulai keluar dari mulut mama.

ÔÇ£Dana sangat bersyukur punya mama seperti mama.ÔÇØ Dana lalu mencium leher mama.

Diana menjerit saat Dana merangkulnya lalu mengangkatnya hingga ke atas meja. Dana lalu melebarkan kaki mama, ÔÇ£kamu mau lagi ya?ÔÇØ kata mama.

ÔÇ£Tentu.ÔÇØ

Kring Kring

ÔÇ£Biarkan saja mah.ÔÇØ

ÔÇ£Kalau dari sendi gimana?ÔÇØ

ÔÇ£Oh iya,ÔÇØ Dana bergegas meraih telepon.

ÔÇ£Halo, Cip,ÔÇØ mata Dana menatap betis mama. Meski betis mama tak bercahaya seperti ibu para raja zaman dahulu, namun sungguh terlihat seksi. ÔÇ£Gak, gw udah siapin semua. Tinggal lu aja sama Dewo. Telpon aja sama lu. Gw kira cewek. Ya cewek asli lah. Gak, gw gak bakalan cerita sekarang. Yo.ÔÇØ

Tubuh mama masih tergeletak di meja, menatap jalang pada anaknya. Dana menghampiri dengan antusias. Tangan Dana mulai mendekati kaki mama

Kring Kring

Sial Sial Dana kembali meraih telepon.

ÔÇ£Halo. Oh, kamu Sen. Iya, aku juga seneng semalem ngobrol sama kamu. Apa? Iya sip. Jadi besok, jam tiga. Sampai jumpa.ÔÇØ

Wah.. wah Ada yang janjian nih? tawa Diana menggoda anaknya saat anaknya mendekat.

Dana tersenyum, hehe

Masih berbaring di meja, Diana melorotkan celana pendek anaknya, ÔÇ£berarti kamu milik mama malam ini.ÔÇØ Diana menjulurkan lidah perlahan untuk mengenai kontol anaknya.

Kring Kring

Diana melepas kontol dari tangan dan menjatuhkan kepalanya saat Dana memukul meja. Hehehe Diana cengengesan.

ÔÇ£Apa lagi? Eh, halo bu Dewi. Tidak, sedang santai kok. Mau ngomong sama mama? Kata mama ibu lagi main kartu? Sudah? Siapa yang menang? Maksudnya, semua? Mantap. Tentu, ada rencana sih. Ya seperti itu. Ibu kan temen mama, rasanya obrolan ini agak janggal. Ibu yakin? Tentu Dana percaya. Siap bu. Iya.ÔÇØ

Dana kembali menghampiri mama. Tangan mama disilangkan di meja, dan dagu mama bersandar di tangan itu. ÔÇ£Katanya bu Dewi sekeluarga mau ke sini ntar malem.ÔÇØ

Diana langsung duduk, kakinya menjulur dari meja. ÔÇ£Mau ngajak keluar?ÔÇØ

ÔÇ£Enggak, katanya mau makan di sini.ÔÇØ

ÔÇ£Apa kamu yakin gak keberatan kita kedatangan tamu?ÔÇØ

ÔÇ£Gak, bu Dewi kedengeran semangat. Katanya bakal tak terlupakan bagi kita.ÔÇØ

ÔÇ£Bisa jadi malam yang sangat menarik. Kamu siap?ÔÇØ

ÔÇ£Mungkin saja, kita lihat nanti.ÔÇØ

***

Saat yang dinanti para pembaca pun tiba, pintu diketuk. Dana membuka pintu. Munculah bu Dewi dan suaminya, paman Jefri. Dana menyalami mereka. Diana lalu datang. Jefri memandang Diana yang memakai kaos penuh keringat.

ÔÇ£Ku akui, aku mesti berterimakasih atas bantuanmu,ÔÇØ senyum Jefri saat menyalami Diana.

Pantesan kamu senyum terus balas Diana.

Jadi, tumben  tumbenan nih maen ke sini

ÔÇ£Iya, gw inget lu tanya apa gw pingin balik lagi kayak dulu. Nah gw omongin dah ke laki gw. Kalau lu oke, setidaknya gw dan laki mau ngucapin makasih udah nyalain lagi api yang pernah pudar.ÔÇØ

Diana menatap anaknya, ÔÇ£Dana baru dalah hal ini. Jadi kalau lu setuju, kita pelan ÔÇô pelan saja. Gw juga gak mau sampai main kecuali sama anak gw. Gw baru sadar, rasanya gw sengaja nunggu. Duh.ÔÇØ

Ketiga orang paruh baya tertawa, sementara Dana celingukan sendiri bingung.

ÔÇ£Dari dulu juga gw tau lu orangnya punya komitmen. Gimana anak lu, apa dia udah punya inceran buat masa depannya? Kalau anak gw sih, tadi sore gak kesulitan.ÔÇØ Dewi tertawa menatap Dana yang makin merah karena malu.

Jefri tertawa, ÔÇ£Jangan biarkan mereka melahapmu nak. Udah tugas wanita buat bikin kita senang ÔÇô senang, setidaknya salah satu wanita ini udah melakukannya. Si Dewo mulai beruntung sama mamanya, Paman jadi khawatir.ÔÇØ

ÔÇ£Dewo sih gak pernah susah kalau soal cewek, tapi jangan bilang kalau saya kasih tahu,ÔÇØ kata Dana terlihat kikuk.

ÔÇ£Jadi, mau di mana nih?ÔÇØ

ÔÇ£Di dapur aja, sambil duduk. Kita ngobrol normal ÔÇô normal dulu. Pelan ÔÇô pelan untuk remaja kita.ÔÇØ Dewi sambil menggandeng bahu Dana.

ÔÇ£Mana makanannya, katanya lu mau bawa?ÔÇØ Diana meyiapkan piring ke meja.

Udah gw pesen. Tok.. Tok Nah, itu datang pesenannya. Jefri menarik uang dari dompet sambil berjalan menuju pintu

ÔÇ£Tunggu, pesan dari mana paman?ÔÇØ Dana meraih tangan Jefri hingga

ÔÇ£Tempat rekomendasi Dewo, kenapa emang?ÔÇØ Jefri menatap Dana heran.

ÔÇ£Oh, pacarnya kerja di sana. Suka nganterin juga,ÔÇØ Diana menimpali sambil tersenyum.

Jefri menyerahkan uang ke Dana, ÔÇ£kalau gitu, kamu ambil saja.ÔÇØ

Saat pintu dibuka, Dana dan Sindi sama ÔÇô sama tersenyum.

ÔÇ£Hay, aku ingat alamat ini, jadi sengaja aku antar.ÔÇØ

ÔÇ£Ya, setidaknya kali ini aku sengaja berpakaian kumplit.ÔÇØ

Sindi tertawa. Dana melirik ke samping melihat mamanya pun tertawa.

ÔÇ£Bener ÔÇô bener gak ada privasi di sini ya?ÔÇØ

Diana mengangkat tangannya, ÔÇ£cuma ngecek, kali aja butuh bantuan bawain makanan.ÔÇØ

Ya ya percaya deh

Sindi memandang ke dalam, ÔÇ£bilang padanya agar jaga tangannya di tempat yang terlihat,ÔÇØ tawa Sindi.

Diana lalu muncul di pintu, antara Dana dan Sindi. ÔÇ£Halo, kamu pasti Sindi ya.ÔÇØ

ÔÇ£Ya, kalau anda?ÔÇØ

ÔÇ£Diana, tenang saja cantik. Saya bukan sainganmu dalam remaja ini.ÔÇØ

ÔÇ£Udahlah Na, mending sana deh.ÔÇØ

Bukannya menghilang, Diana malah membuka pintu lalu meraih makanan dari Sindi. ÔÇ£Tante tau tante gak diharap ada di sini. Tapi jangan ngambek kalau nanti kamu kembali makanan udah gak bersisa.ÔÇØ Diana lalu masuk sambil tertawa.

Dana memperhatikan mama hingga berada di dapur, lalu kembali ke Sindi.

ÔÇ£Dia makan sebanyak itu, tapi masih kelihatan cantik?ÔÇØtatap Sindi ke Dana.

ÔÇ£Oh, tentu tidak. Di dalam ada teman kami.ÔÇØ

ÔÇ£Kami? Aku tak sabar dengar ceritanya. Dia tampak menawan.ÔÇØ

ÔÇ£Ya, dia hanya senang saat tahu aku lagi dekat sama wanita. Tapi dia juga enak orangnya. Eh, ntar mau nonton apa?ÔÇØ

ÔÇ£Gak tahu, kita liat aja nanti apa yang sedang diputar. Terus kita putuskan bareng, biar sama ÔÇô sama menikmati.ÔÇØ

ÔÇ£Bagus. Oh iya, nih uangnya. Mumpung ingat.ÔÇØ Dana mengeluarkan uang lalu memberinya ke Sindi.

Makasih. Aku mesti kembali, biar tetap kerja. Hehehe

Tanpa berpikir, Dana mendekati Sindi lalu mencium pipinya. Setelah itu Dana melihat Sindi berbalik dan menjauh, langkah Sindi seperti langkah mama saat mama senang. Saat akan masuk, Dana melihat sesuatu di jendela.

ÔÇ£Tukang intip di mana ÔÇô mana.ÔÇØ Teriak Dana, Dewi dan Diana hanya tertawa.

ÔÇ£Paman udah bilang ke mereka jangan ngintip,ÔÇØ kata Jefri dari dapur.

ÔÇ£Iya, makasih udah ngelarang mereka paman.ÔÇØ

Jangan marah dong, lagian siapa yang tahan liat anak lucu kata Dewi sambil memeluk Dana.

ÔÇ£Makanan udah mulai dingin nih,ÔÇØ teriak Jefri sambil mengunyah.

Ketiganya lalu menuju dapur. Makanan sudah tersaji di meja. Ada satu botol kosong dan satu botol penuh.

ÔÇ£Lu minum sendirian?ÔÇØ tanya Diana ke Jefri yang sudah agak mabuk.

ÔÇ£Kan mau ngajarin anak ini. Pelan ÔÇô pelan saja kan.ÔÇØ

Diana tertawa, ÔÇ£putar botol?ÔÇØ

Dewi tersenyum pada Diana, ÔÇ£pelan ÔÇô pelan saja.ÔÇØ Lalu menatap Dana, ÔÇ£Gimana nak, tertarik?ÔÇØ

Boleh bu, tapi jangan harap Dana mau menyetuh paman Jefri, najis tralala

ÔÇ£Tenang, ini versi pasangan. Makanya kami gak bawa Dewo.ÔÇØ

Entahlah Dana masih merasa gak enak sama Dewo.

ÔÇ£Gak usah khawatir, sore tadi Dewo udah bahagia. Apalagi esok lusa. Siapa tahu kapan ÔÇô kapan kita main gim ibu dan anak bareng.ÔÇØ

Dana menggeleng, Kacau bener  bener kacau

ÔÇ£Ngeluh? Kayak yang iya aja,ÔÇØ Diana tertawa.

Keempat insan itu makan, minum dan tertawa. Setelah makan selesai, meja dikosongkan hingga hanya terdapat satu botol. Dewi memutar dan botol itu berhenti tepat menunjuk Dana.

ÔÇ£Cium sang gadis,ÔÇØ teriak Dewi.

Diana tersenyum lalu mencium anaknya.

Jefri menyeringai, ÔÇ£setelah bertaun ÔÇô tahun, lu gak lupa caranya kan?ÔÇØ

Setelah beberapa saat, Diana dan Dana kembali duduk di kursi masing ÔÇô masing. Dana memutar botol. Botol menunjuk ke mama temannya.

ÔÇ£Gantian,ÔÇØ tawa Diana.

Jefri dan Dewi berciuman. Terkadang lidahnya menjulur keluar.

ÔÇ£Babak pertama usai. Selanjutnya yang kalah mesti lepas pakaian. Jika kembali kalah, maka lanjut ke tes jujur.ÔÇØ Cukup bicara, Dewi lantas memutar botol. Ironisnya botol itu mengenai dirinya sendiri.

ÔÇ£Sial, gw mesti pertama telanjang lagi .ÔÇØ Dewi lalu melepas kaosnya. Tangan Dewi meraih ke punggung lalu melepas bh. Setelah itu Dewi berdiri dan melepas celana jins, akhirnya Dewi melepas cdnya. Dana dengan antusias melihatnya.

Botol kembali diputar, berhenti menunjuk Diana. Diana berdiri lalu melepas bajunya. Kedua pria bertepuk tangan.

Jefri tertawa, ÔÇ£masih seperti dulu, liar dan cantik.ÔÇØ

Berikutnya Dana yang harus melepas pakaian.

ÔÇ£Sejauh ini masih aja pemalu?ÔÇØ jefri geleng ÔÇô geleng melihat Dana yang terlihat malu. Para wanita hanya cekikikan.

Akhirnya giliran Jefri yang melepas pakaian. ÔÇ£Kali ini yang tertunjuk mesti ngocok atau ngelus pasangan dengan tangannya. Katanya kamu pintar Dan.ÔÇØ Dewi merujuk kepada Dana sambil memutar botol. Botol menunjuk Dana.

Diana berdiri dan jalan mendekati meja lain, ÔÇ£kita ulangi saja yang tadi.ÔÇØ Diana lalu duduk di meja dan melebarkan kaki, sementara Dana kini berdiri diantara kaki Diana.

Diana lalu membungkuk untuk mencium anaknya. Tangan anaknya mengelus susu Diana, serta punggungnya.

Dewi menggeser kursi hingga di sebelah suaminya. Tangan Dewi lalu mengelus kontol suami, sementara tangan Jefri memainkan pentil istrinya.

Perlahan tangan Dana menuruni tulang rusuk hingga berputar di perut mama. Sementara tangan satunya membelai pantat mama.

Dewi bisa mendengar erangan Diana, ÔÇ£Enak nak.ÔÇØ

Diana mengejang kembali saat jemari anaknya mengelus memek sambil tetap berciuman. Diana lantas membuka mata melihat Dewi sedang memainkan kontol suaminya, ÔÇ£Woy, sabar dong tunggu giliran.ÔÇØ

ÔÇ£Gak usah didengar, terus sayang hhh,ÔÇØ rintih Jefri. Dewi memajukan kepala untuk mencium suaminya.

Diana merebahkan kepala di bahu anaknya sambil menonton temannya. Kini Diana memeluk erat anaknya sambil gemetaran dan menggigit bahu anaknya saat Diana akhirnya keluar.

Perlahan Diana turun dari meja dan kembali mencium anaknya. Kini semua orang kembali duduk. Karena terkena guncangan oleh salah ÔÇô satu tubuh, botol menggelinding. Sebelum jatuh, Diana menangkap botol.

ÔÇ£Rehat dulu, gw mau ke kamar mandi. Ntar gw ada ide buat ronde akhir.ÔÇØ

Semuanya kembali ke meja. Diana berdiri lalu menunjuk Jefri, ÔÇ£lu hutang muasin bini lu, tapi sebelumnya gw mau lanjutin apa yang tadi dipotong sama telepon.ÔÇØ

Diana lalu naik meja dan berbaring. Tangannya lalu meraih kontol anaknya dan menariknya hingga masuk ke mulutnya. Kontan saja Dana terkejut atas aksi mama. Tangan Dana memegang pinggir meja. Sementara matanya melihat kepala mama yang maju mundur. Tangan mama sepertinya memegang dan mengelus pantat Dana.

Dewi bangkit, mendekati Diana lalu membungkuk untuk melihat temannya sedang nyepong anaknya sendiri. Jefri bangkit dan berlutut di belakang istrinya. Tangan jefri lalu mulai mengelus pantat istrinya.

Dewi mengerang saat lidah suaminya mulai bergerilya. Erangan Dewi menyebabkan Diana berhenti, mencabut kontol anaknya lalu mencium Dewi. Kontol yang masih dalam pegangan Diana diarahkan ke mulut Dewi. Dewi menghirup kontol teman anaknya, lalu menoleh ke belakang, ÔÇ£masukin ke anus yang.ÔÇØ Setelah itu, Dewi memasukan kontol teman anaknya ke mulutnya.

Jefri berdiri, melebarkan pantat istrinya lalu mulai menusuk kontol ke pantatnya. Dewi melepas kontol dari mulut, bangkit berdiri lalu mencium mulut teman anaknya sendiri. Sementara kontol Dana kembali bersarang di mulut mamanya.

Dana mengerang di sela ciumannya saat kontolnya menyemburkan peju di mulut mama. Dewi meracau tak jelas saat keluar. Jefri makin cepat memompa hingga menyemburkan peju di anus istrinya.

Mereka lalu berbaring di lantai. Diana kembali mencium Dana, Jefri mencium punggung Diana. Dana lalu melepas ciuman dan memandang ketiga orang itu, ÔÇ£Dana jadi penasaran, pelan ÔÇô pelan saja sudah gini. Gimana kalau yang ekstrim?ÔÇØ

Ketiganya tertawa mendengar pertanyaan remaja itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*