Home » Cerita Seks Mama Anak » Cara Memotivasi Anak 5

Cara Memotivasi Anak 5

“Yes, yang nganternya cewekÔÇØ kata Diana sambil berjingkrak.

Dana melepas baju dan melemparkannya ke sofa. Dana lalu melepas ikat pinggang sambil melihat mamanya berjoget.

ÔÇ£Kamu kayak gak semangat gitu sih?ÔÇØ

ÔÇ£Lho, kan awalnya cuma nebak laki atau bukan.ÔÇØ

ÔÇ£Ingat, sampai tiga kali ya.ÔÇØ

ÔÇ£Iya. Yang kemarin Dana sampai telanjang.ÔÇØ

ÔÇ£Kan handuk itu idenya kamu.ÔÇØ

Kini Dana berdiri di hadapan mamanya dengan hanya mengenakan celana pendek. Dana menatap celana pendek anaknya.

ÔÇ£Temen kecil mama mana?ÔÇØ

ÔÇ£Gak usah ditambahin kata ÔÇÿkecilÔÇÖ!ÔÇØ

ÔÇ£Sini, mama bantu.ÔÇØ

Diana mengangkat ujung belakang kemeja sehingga pantatnya telanjang. Setelah itu Diana berbalik membelakangi anaknya dan mundur hingga pantat itu menyentuh celana anaknya. Setelah menyentuh, Diana lalu menggesek ÔÇô gesekkan pantatnya hingga terdapat benjolan yang dirasa cukup besar oleh Diana.

Ayo goyang duyu

ÔÇ£Mama kok kejam gitu sih?ÔÇØ

ÔÇ£Biar kejam, tapi efektif kan.ÔÇØ

Setelah benjolan itu tak lagi membesar, Diana menghentikan aksinya. Diana kembali berbalik lalu menepuk pelan benjolan yang tiba ÔÇô tiba muncul di celana anaknya. Setelah itu Diana memegang bahu anaknya dan memutar tubuh anaknya lalu mendorongnya.

ÔÇ£Ayo cepet buka, kasian udah nunggu tuh.ÔÇØ

Dana membuka pintu.

ÔÇ£Pak ini pesanannya,ÔÇØ kata pengantar makanan sambil melihat tubuh Dana, dari atas hingga ke bawah.

ÔÇ£Oh ya, jadi berapa?ÔÇØ

ÔÇ£Jadi sekian.ÔÇØ

Dana mengambil makanan yang lalu tangannya menerima uang yang diserahkan oleh mamanya yang sedang sembunyi di belakang pintu. Setelah uang itu diterima oleh Dana, tangan mamanya cepat langsung menarik ujung celana Dana hingga melorot sampai ke bawah. Dana langsung memberikan uang ke pengantar makanan sambil meminta maaf. Setelah itu Dana langsung menutup pintunya.

Terdengar suara tertawa dari luar rumah.

Saat akan melangkah, Dana terjatuh dengan celananya masih melorot.

ÔÇ£Sini mah, Dana mau bunuh mama!ÔÇØ

Diana pura ÔÇô pura menjerit takut sambil tertawa. Lalu Diana melesat ke dapur yang tentu saja sambil dikejar Dana.

ÔÇ£Kalau mama mati, kita gakkan liburan dong.ÔÇØ

Dana kini ada di sisi meja sedangkan Diana di sisi sebrangnya. Mereka saling melotot. Saat Dana berjalan ke arah kanannya, Diana pun melangkah ke kanannya sehingga posisi mereka tetap sama bersebrangan.

ÔÇ£Ayo, tangkap mama. Pasti kamu bingung setelah tangkap mama!ÔÇØ

ÔÇ£Enggak dong, pemburu selalu punya rencana.ÔÇØ

ÔÇ£Tuh liat, temen kecil mama melambaikan tangan!ÔÇØ

Dana menunduk menatap kontolnya yang terlihat jelas. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Diana untuk berlari ke kamarnya lalu mengunci pintunya.

ÔÇ£Kuat berapa lama di dalam mah?ÔÇØ

ÔÇ£Sampai ada kesepakatan.ÔÇØ

ÔÇ£Kesepakatan apa lagi?ÔÇØ

ÔÇ£Kesepakatan yang bakal menjauhkan masalah dari mama.ÔÇØ

ÔÇ£Oh ya semoga beruntung.ÔÇØ

ÔÇ£Lho, mama juga kan udah tiga kali ngasih pertunjukan ke pengantar makanan. Jadi adil dongÔÇØ

ÔÇ£Iya. Mama pasti keliatan seksi. Nah Dana, pasti kelihatan bodoh.ÔÇØ

ÔÇ£Mama yakin cewek barusan gak setuju sama kata – katamu.ÔÇØ

ÔÇ£Kenapa mama gak keluar dan tanyakan aja sendiri?ÔÇØ

ÔÇ£Keluar sementara ada pembunuh liar berkeliaran di rumah? Tentu tidak.ÔÇØ

ÔÇ£Meski gak ada makanan?ÔÇØ

ÔÇ£Mama emang berencana diet kok. Ayolah, akui saja kamu juga menikmati aksimu. Temen kecil mama yang bilang kok.ÔÇØ

ÔÇ£Sekarang siapa yang ngawur? Ingat, nyonya sedang terpuruk dalam lubang.ÔÇØ

ÔÇ£Udahlah, ngaku aja kamu juga menikmatinya kan. Bahkan mama yakin kamu masih keras.ÔÇØ

ÔÇ£Terus kenapa?ÔÇØ

Percakapan mendadak berhenti. Kedua pihak seakan sepakat untuk berdiam diri sejenak.

ÔÇ£Mama bakal buat semuanya terserah kamu aja.ÔÇØ

ÔÇ£Caranya?ÔÇØ

ÔÇ£Percaya saja.ÔÇØ

ÔÇ£Enggak ah.ÔÇØ

ÔÇ£Serius nih. Mama nawarin gencatan senjata.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan main ÔÇô main lagi.ÔÇØ

Terdengar suara kunci dibuka. Pintu lalu terbuka perlahan hingga terbuka seutuhnya. Diana menatap anaknya yang masih berdiri.

ÔÇ£Tuh kan, kamu masih keras.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan ganti topik, gimana ide mama tadi?ÔÇØ

ÔÇ£Sabar, kamu duduk dulu tuh di kasurÔÇØ

Dana melangkahkan kakinya ke kasur sambil menatap curiga mamanya yang mendekati meja rias.

ÔÇ£Ingat gak aturannya?ÔÇØ kata Diana sambil mengeluarkan celana dalam hijau dan memakainya. celana dalam itu terlihat sangat pas sehingga lekukaknya sempurna.

Dana terlihat bingung melihat mamanya mendekat. Setelah dekat, Diana berbalik hingga membelakangi anaknya lalu seolah duduk di pangkuan anaknya, namun bukan untuk duduk melaikan untuk menggesek ÔÇô gesekkan pantatnya. Tangan Diana meraih tangan Dana dan meletakkannya di pahanya.

ÔÇ£Kamu hanya boleh sentuh paha,ÔÇØ kata Dana sambil mencoba menekankan pantatnya lebih dalam.

ÔÇ£Oh tuhan,ÔÇØ kata Dana sambil menarik nafas.

Diana bisa merasakan kontol anaknya yang makin tegang. Diana meletakan tangan di lututnya sambil bergoyang. Mendengar nafas anaknya yang makin tak teratur, Diana bangkit berdiri, menurunkan celana dalam hingga pantatnya kembali telanjang lalu kembali menekan kontol anaknya sambil bergoyang.

Oh

Tubuh Diana tersentak dan tersentak saat kontol anaknya menyemburkan lahar panas ke pantat mulusnya. Setelah lahar itu tak lagi menyembur, kepala Diana berbalik menatap anaknya.

ÔÇ£Nah ingat yang barusan takkan terulang lagi.ÔÇØ

Dana hanya bisa mengangguk menikmati sisa ÔÇô sisa sensasinya.

ÔÇ£Mama udah lapar nih.ÔÇØ

Diana lalu bangkit berdiri yang segera disusul anaknya. Dari selangkangan keduanya menetes caiar putih kental membasahi lantai. celana dalam Diana pun dilepas.

ÔÇ£Kamu mandi sana. Biar mama bersihin ini. Ntar kita makan di luar aja yuk.ÔÇØ

Diana dan anaknya sedang duduk di meja menunggu pelayan.

ÔÇ£Selamat datang, mau pesan apa?ÔÇØ

Suara pelayan terdengar familiar di telinga Dana. Dana menoleh untuk melihatnya, saat kedua pasang mata itu bertatapan, keduanya terkejut. Ternyata pelayan itu adalah pengantar makanan yang tadi. Namun, tak seperti pelayan dan anaknya, Diana malah tertawa ÔÇô tawa.ÔÇØ

ÔÇ£Eh, masih lapar ya? Memang lebih enak makan di sini.ÔÇØ

ÔÇ£IYa, kami bosan makan di rumah.ÔÇØ

ÔÇ£Mau pesan apa?ÔÇØ kata pelayan sambil menyerahkan daftar menu.

ÔÇ£Kami pesan teh manis dulu, dua. Iya kan?ÔÇØ

Dana hanya mengangguk tanpa berkata. Dana malu, celakanya wajahnya menunjukan itu.

ÔÇ£Segera.ÔÇØ

Setelah pelayan itu pergi, Diana menatap anaknya. ÔÇ£Apa pun yang terjadi, kamu jangan panggil mama. Panggil aja Diana. Jangan ada yang tau aku mamamu, Paham!ÔÇØ

ÔÇ£Dari semua tempat makan di kota ini, kenapa malah dilayani dia sih?ÔÇØ

ÔÇ£Itulah yang disebut takdir. Meski sebelum pergi kita bisa memutuskan untuk makan di restoran manapun tanpa ada yang memaksa harus ke mana, namun pertemuan ini sepertinya tidak bisa dihindari. Mama ke toilet dulu. Tunggu di sini.ÔÇØ

Diana berjalan menuju toilet, di tengah jalan, Diana berpapasan dengan pelayan tadi. Diana hanya tersenyum namun Dana terlihat semakin gugup dan atau malu.

Diana kembali ke meja. Di meja telah tersedia minuman yang tadi dipesan. Saat Dana menyedot minumannya, Diana lalu menaruh sesuatu di meja yang membuat Dana tersedak. Dana melihat mamanya menaruh celana dalam hijau.

ÔÇ£Biarkan itu terus di meja, berani gak?ÔÇØ

ÔÇ£Mama mau ngapain?ÔÇØ

ÔÇ£Senang – senang dong. Biar jadi kenangan indah buat kamu.ÔÇØ

Namun Dana malah mengambil celana dalam mamanya dan memasukkannya ke saku. Diana hanya menyeringai melihat tingkah anaknya.

ÔÇ£Dasar mama gila.ÔÇØ

ÔÇ£Hehehe.ÔÇØ

Keduanya lalu diam saat pelayan kembali datang.

ÔÇ£Maaf, sudah siap pesan?ÔÇØ

ÔÇ£Saya pesan lasagna aja. Sedangkan wanita cantik ini sepertinya akan memesan chicken parmesan, benarkan Di?ÔÇØ

Diana tertawa, ÔÇ£bolehlah.ÔÇØ

ÔÇ£Tuan memang pintar memilih pasangan. Mau sekalian saladnya?ÔÇØ

ÔÇ£Boleh.ÔÇØ

ÔÇ£Ada yang lain lagi?ÔÇØ

ÔÇ£Tidak.ÔÇØ

ÔÇ£Terimakasih. Mohon tunggu pesanannya,ÔÇØ kata pelayan itu sambil berjalan pergi, namun tetap berusaha menatap Dana.

Setelah pelayan itu pergi, Diana membungkuk hingga kepalanya agak mendekati anaknya, ÔÇ£dia masing ingat saat kamu telanjang lalu membayangkan gimana kamu menyentuh wanita seusia mama.ÔÇØ

Dana menyemburkan minuman dari mulutnya.

ÔÇ£Mama benar ÔÇô benar gila. Bagaimana dulu tingkah laku papa sama mama sih?ÔÇØ

ÔÇ£Papa dan mamamu pasangan serasi. Tau gak?ÔÇØ

ÔÇ£Pantes saja.ÔÇØ

ÔÇ£Mama dan papa saling mencintai. Pokoknya akan melakukan segalanya demi pasangan. Mama sangat setia, bahkan tak pernah selingkuh. Sepertinya papamu juga begitu. Pokoknya mama dan papa sangat terbuka bagi hal ÔÇô hal baru. Intinya adalah komunikasi.ÔÇØ

Percakapan terhenti saat pelayan datang membawa salad. Mata pelayan itu tak henti ÔÇô hentinya mencuri pandang ke Dana.

ÔÇ£Jadi, ÔÇÿDianaÔÇÖ ini biasa seperti ini dulu sama papa?ÔÇØ

ÔÇ£Mama rela melakukan apa saja demi papamu hingga separuh jiwa mama moksa seiring dengan moksanya papamu. Bertahun ÔÇô tahun mama merasa hidup ini hambar, begitu hambarnya hingga bagaikan tiada lagi yang bisa lebih hambar lagi. Sampai akhir ÔÇô akhir ini.ÔÇØ

ÔÇ£Sampai akhirnya aku mau jadi mahasiswa.ÔÇØ

Sekarang Diana yang tertawa dibuatnya pun hingga saat pelayan datang.

ÔÇ£Ini makanannya, silakan.ÔÇØ Pelayan mulai meletakkan makanan, namun mulutnya tak berhenti bicara. ÔÇ£Mohon maaf, apabila boleh tahu, berapakan usia tuan dan puan yang sungguh sangat serasi ini?ÔÇØ

ÔÇ£Baru tujuh belas.ÔÇØ Kata Dana.

ÔÇ£Saya sih cukup tua. Bahkan layak untuk menjadi ibu dari anak ini,ÔÇØ jawab Diana sambil tersenyum.

Pelayan itu menggeleng, ÔÇ£Luar biasa. Tuan dan puan sungguh terlihat sangat bahagia.ÔÇØ Pelayan itu masih tetap menggelengkan kepala sambil pergi menjauh.

ÔÇ£Mama ternyata suka mengambil resiko.ÔÇØ

ÔÇ£Mama dan papamu justru pemburu sensasi. Apa lagi yang sangat membuat mendebarkan. Mama jadi kangen masa ÔÇô masa dulu. Apa kamu sekarang merasa berdebar ÔÇô debar?ÔÇØ

ÔÇ£Bukan hanya itu, tapi juga takut setengah mati.ÔÇØ

ÔÇ£Itulah sensasinya. Pokoknya ingat, asal jangan sampai ada yang terluka dan harus saling menghormati.ÔÇØ

Aroma makanan membuat pembicaraan berhenti. Berganti dengan acara santap. Makanan pun habis. Diana berdiri melihat pelayan mendekat. Saat pelayan itu menghampiri meja, Diana menyapanya.

ÔÇ£Terimakasih untuk pelayanannya sayang.ÔÇØ

Setelah itu mereka pun keluar dari restoran. Namun sebelum masuk ke mobil, Dana menatap mamanya.

ÔÇ£Berani gak mama lepas rok itu dan nyopir sambil gak pake bawahan?ÔÇØ

Diana tersentak. Diana menatap anaknya lalu melihat keadaan di parkiran itu. Setelah melihat keadaan, Diana kembali menatap anaknya sambil menyeringai. Diana lalu melepas rok dan memberikan ke anaknya.

Angin dingin langsung menyentuh tubuhnya.

Diana langsung duduk di belakang kemudi. Diana lalu menurunkan jendela di pintu kiri.

ÔÇ£Mama gakkan nyetir sampai dapet celanamu.ÔÇØ

Dana menyeringai dan mulai melepas celana panjangnya. Kini di jok belakang terdapat rok, celana panjang dan sepatu.

ÔÇ£Lepas juga dong celana pendekmu?ÔÇØ

ÔÇ£Siap,tapi ada syaratnya.ÔÇØ

ÔÇ£Apa?ÔÇØ

ÔÇ£Dana ingat belum punya video mama lagi make mainan karet mama itu. Gimana, setuju?ÔÇØ

Dana sedang melepas celana pendeknya saat mamanya tertawa sambil berkata setuju. Keduanya kini tidak memakai bawahan sama sekali hingga sampai di rumah.

Sampai di depan rumah, keduanya belum keluar dari mobil. Jalanan tampak sepi sehingga meski mobil mereka melintang agak tengah, tak ada yang memprotes. Pagar masih tertutup. Diana menatap anaknya.

ÔÇ£Berani gak kamu buka tuh pagar tanpa pake celana dulu?ÔÇØ

ÔÇ£Asal mama isep dildo itu di akhir pertunjukan?ÔÇØ

Diana tertawa, ÔÇ£bener ÔÇô bener cabul.ÔÇØ

ÔÇ£Kan belajar dari ahlinya,ÔÇØkata Dana sambil keluar dari mobil dan bergegas membuka pagar.

ÔÇ£Sialan mama. Dasar eksibisionis.ÔÇØ

Ya ya ya  kata orang yang tak bercelana, kata Diana, tertawa sambil keluar dari mobil.

ÔÇ£Ya ya sekarang waktunya tampil. Dana ingin pantat itu siap.ÔÇØ

ÔÇ£Saatnya anakku kerja,ÔÇØ kata Diana berjalan sambil melepas pakaiannya.

Dana mengikuti mamanya dari belakang, ÔÇ£Mah, daripada telanjang, apa mama punya lingerie?ÔÇØ

ÔÇ£Wow, mungkin masih ada. Gini aja, kamu siapin aja kameranya biar mama juga siap ÔÇô siap.ÔÇØ

ÔÇ£Oh iya.ÔÇØ Seringai Dana.

Diana beranjak ke kamar mandi di kamarnya untuk mulai menyiapkan diri sementara anaknya memasang tripod. Selesai memasang tripod, Dana duduk di kasur menunggu mamanya muncul.

ÔÇ£Oh, mama cantik sekali.ÔÇØ

ÔÇ£Makasih.ÔÇØ

Diana terlihat cantik memakai lingerie hitam.

ÔÇ£Kamu suka?ÔÇØ

ÔÇ£Iya mah.ÔÇØ

Diana lalu berjalan menuju laci mengambil keluar dildonya. Saat melewati anaknya, Diana menepuk kontol anaknya dengan dildo sambil tersenyum.

ÔÇ£Temen kecil bertemu temen palsu.ÔÇØ

Setelah itu Diana naik ke kasur dan terlentang.

ÔÇ£Cdnya dilepas apa dipake, pak sutradara?ÔÇØ

ÔÇ£Dilepas aja mah.ÔÇØ

ÔÇ£Ya udah sini bukain dong.ÔÇØ

Dana tertegun. Dana mendekat dan menjulurkan tangannya saat mamanya mengangkat pantatnya. Sentuhan tangan Dana pada pinggul mamanya membuat mereka merasakan getaran nafsu yang tak tertahankan. Tangan Dana lalu menarik cd itu. Saat cd itu mencapai lutut, pantat Diana kembali diturunkan dan kini kakinya yang diangkat membuat cd itu akhirnya terlepas seluruhnya. Dana menaruh cd itu di kasur.

ÔÇ£Makasih.ÔÇØ

Setelah itu Diana mengambil dildo dan mulai mendekatkannya ke selangkangan yang dirasanya sudah mulai basah. Diana lalu diam, menatap anaknya.

Dana tertawa seolah disadarkan, ÔÇ£Oh iya, kamera. Duh.ÔÇØ

Dana lalu memainkan kamera yang ditaruh di tripod. ÔÇ£Oke, action.ÔÇØ

Diana kini mulai mengelus ÔÇô elus dildo itu ke memeknya sambil mengerang. Tak butuh waktu lama bagi Diana untuk mencapai orgasme hingga erangan Diana makin keras namun tertahan, dan tubuhnya pun mengejang. Akhirnya Diana berbaring sambil terengah ÔÇô engah.

Diana lalu mendekatkan dildo itu ke wajahnya.

ÔÇ£Mama tantang kamu jilatin ini.ÔÇØ

ÔÇ£Apa?ÔÇØ

ÔÇ£Kamu dengar tadi, jilatin aja, gak usah yang lain. Inget aja ini barusan dari mana, jangan bayangin bentuknya.ÔÇØ

Dana terlihat ragu. Namun akhirnya Dana mengambil dildo itu dari tangan mamanya. Dana mulai mendekatkan dildo itu ke mulutnya.

ÔÇ£Papamu dulu suka banget rasanya.ÔÇØ

Meski masih terlihat ragu, namun Dana menjulurkan lidah sambil menutup matanya.

ÔÇ£Okelah.ÔÇØ

Dana lalu duduk di kasur, tangan kanannya memegang dildo sambil menjilatinya sementara tangan kirinya kini menyentuh kontol dan mulai mengocoknya. Hanya sebentar, namun kocokan itu mampu membuat lahar panas menyembur dari kontolnya. Lahar itu membasahi perut Dana sendiri. Dana pun merebahkan dirinya di kasur.

Melihat anaknya berbaring di sebelah dengan perut penuh pejunya membuat Diana membungkuk dan mencolek peju anaknya dengan tangannya. Tangan berpeju itu lalu dihisapnya hingga bersih.

Mmmhhh rasanya beda sama rasa papamu.

Mereka berdua lalu menapa kamera yang masih merekam. Diana menyeringai sambil menatap anaknya.

ÔÇ£Mau buat salinannya untuk pelayan kita gak?ÔÇØ

Diana tertawa menyadari anaknya terkejut. Diana lalu bangkit menuju kamar mandi.

ÔÇ£Pingin tau selanjutnya? Mainkan aja imajinasimu.ÔÇØ Kata Diana sambil menutup kamar mandinya.

Dana hanya berbaring sambil menyeringai. Mencoba berimajinasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*