Home » Cerita Seks Kakak Adik » ACYS Episode 6

ACYS Episode 6

ACYS Episode 6: School Sex

Kubelokkan mobilku masuk ke halaman parkir gedung tua itu. Entah kenapa bibirku seolah memaksaku untuk tersenyum lebar. Tapi, sesaat kemudian aku tersadar Terlalu banyak kenangan manis yang disimpan gedung ini.

 Kangen ya sama sekolah ini.

Aku mengangguk dan tersenyum pada Cherry yang duduk di sebelahku, seolah dia mengerti apa yang aku pikirkan. Aku yakin sahabatku ini juga memikirkan hal yang sama. Bagaimana pun kami menghabiskan 12 tahun masa SD hingga SMA di sekolah yang sama.
Cherry dan aku datang bersama ke bekas sekolah kami hari itu karena keperluan kami masing-masing; Cherry harus melatih anak-anak The Foxes (grup modern dance sekolahku) yang akan tampil di kejuaraan dance akhir tahun, sementara aku datang untuk menemani Vany, adikku, menonton sparring tim basket putri SMP.

ÔÇ£Lu latian sampe jam berapa?ÔÇØ tanyaku pada Cherry sambil keluar dari mobil.
Jam 4an gitu lah katanya sambil melirik arloji. Kan latian mulai jam 2. Basket sampe jam berapa?
Mungkin sekitar jam 3 Gapapa ntar pulang bareng aja, jawabku.
Hah? Terus sejam? OOHH! DASAR LU! ujar Cherry sambil tertawa dan memukul lenganku.
Hahahaha Udah lama tau ga di sekolah, jawabku sambil nyengir.
ÔÇ£Ih… Mesum dasar. Belom pernah kan ya sama Vany di sekolah? Dulu sama gue terus kan luÔǪ Hehehe,ÔÇØ kata Cherry.
Hehehe makanya

Menonton sparring basket memang bukanlah satu-satunya tujuanku datang ke sekolah ini. Aku ingin ML dengan Vany di gedung sekolah ini! Aku ingin mengenalkan perasaan seru dan deg-degannya ML bukan di rumah pada adikku.

ÔÇ£Eh tapi lu jangan terlalu nafsu lah… Kasian dia lagi hamil gede gitu masih lu hajar juga…ÔÇØ kata Cherry perlahan saat kami berjalan masuk.
ÔÇ£Iyaa… Lagian dianya yang tambah nafsu tau,ÔÇØ kataku membela diri. Cherry nyengir.
ÔÇ£Iya sih katanya emang cewek hamil jadi tambah nafsu…ÔÇØ

Ya, Vany, adikku yang berusia 15 tahun, memang sedang hamil. Vany mengandung anakku, kakaknya sendiri, dan sekarang kandungannya sudah mencapai bulan kelima. Sejak bulan Juni yang lalu hubunganku dengannya memang bergeser jauh dari selayaknya hubungan kakak-adik; mulai dari saling menyentuh tubuh satu sama lain, hingga akhirnya kami ML berkali-kali sebelum aku pindah untuk kuliah di Singapore, dan akhirnya Vany hamil (baca episode 5).
Dan entah kenapa, menurutku Vany (yang pada dasarnya sudah sangat seksi untuk anak seusianya) menjadi jauh lebih seksi saat ia hamil. Perutnya yang buncit dan mulus selalu merangsangku, dan dadanya yang luar biasa montok dan besar (34DD sekarang) bisa mengeluarkan susu yang manis sekarang. Selain itu vaginanya menjadi lebih sempit dan hangat di bagian dalam, di samping pantatnya yang menjadi semakin montok dan padat. Sungguh luar biasa!

ÔÇ£Hus! Tuh kan udah ngebayangin… Dasarrrr!ÔÇØ bisik Cherry sambil mencolek bagian tengah celanaku yang sudah mulai menonjol. ÔÇ£Lu ngapain sama dia tadi pagi?ÔÇØ

Tadi pagi setelah aku puas meremas dan menyedot susu dari dadanya yang montok, akhirnya Vany men-titf*ckku dengan nikmat hingga aku meledakkan spermaku banyak-banyak di wajahnya. Untung ia tidak telambat sampai di sekolah.
ÔÇ£Duh… Susah dijelaskan dengan kata-kata, Cher…ÔÇØ jawabku. Cherry menggelengkan kepalanya sambil nyengir.

Aku dan Cherry berjalan memasuki gedung SMA sekolah kami. Saat itu jam pulang sekolah, sehingga situasi sangat ramai. Setelah menyapa beberapa adik kelas yang mengenal kami, Cherry bergegas ke arah tangga yang akan membawanya ke ruang latihan tari.

ÔÇ£Oke sampe ketemu ntar sore! Inget Dit jangan terlalu nafsu!ÔÇØ ujar Cherry mengatasi keributan suara anak-anak. Aku melotot memperingatkan, tapi sahabatku ini nyengir nakal, menjulurkan lidah, dan berjalan menjauh ke arah tangga. Aku menggelengkan kepala sambil memperhatikannya pergi… Eh? Sepertinya ada yang berbeda dari Cherry.

Menyadari aku masih terpaku menatapnya, sahabatku menoleh.
ÔÇ£Hus! Jangan melototin pantat gue terang-terangan gitu ah…ÔÇØ katanya perlahan sambil kembali berjalan mendekat. Aku tertawa.
ÔÇ£Haha… Nggak lah… Lu… Agak lain deh,ÔÇØ kataku jujur.
ÔÇ£Hm? Lain apanya?ÔÇØ
ÔÇ£Gatau… Lu tambah berat ya?ÔÇØ tanyaku. Cherry mengernyit.
ÔÇ£Eehh kurang ajar ya…!ÔÇØ jawabnya gengsi. Tapi kemudian ia tersenyum… Penuh arti.
ÔÇ£Koq senyum gitu?ÔÇØ
ÔÇ£Emang ga boleh? Eh udalah gue udah mau telat ini!ÔÇØ ujarnya sambil melirik arloji lagi. Aku nyengir dan meremas pantat sahabatku yang super montok.
ÔÇ£Yaya… Sampe ketemu ntar sore…ÔÇØ
ÔÇ£Eh nakal ya tangannya!ÔÇØ bisiknya sambil berbalik dan berlari menaiki tangga, memamerkan pantatnya yang bulat dan besar di balik celana trainingnya yang merah terang.
Aku tersenyum saat memandangnya pergi… Tapi sungguh, sepertinya ada yang lain dari Cherry. Hmm… Tak apalah.

Aku berjalan perlahan ke arah gedung olahraga sekolahku. Aku bisa mendengar suara decit sepatu para pemain dan sorakan penonton, juga suara debam bola basket yang didribble oleh para pemain. Pertandingan sudah dimulai rupanya. Gedung olahragaÔÄ»saat sedang dilangsungkan pertandingan di dalamnyaÔÄ» selalu terasa panas dan memberi ketegangan tersendiri saat dimasuki, begitu pula saat ini.

Masuk, aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari Vany… Tidak sulit. Selain karena perut buncitnya yang menyembul di balik kemeja putih seragam SMPnya, jumlah penontonnya sedikit, dan Vany ternyata duduk di dekat bangku cadangan tim sekolahku. Aku tersenyum. Tentu saja, Vany adalah kapten tim basket putri SMP sebelum ia hamil.

Raut muka adikku terlihat sangat serius memperhatikan pertandingan. Aku menoleh ke papan skor; quarter pertama, 12-10 untuk sekolahku. Ketat. Aku berjalan mendekat ke arah Vany. Vany begitu berkonsentrasi pada pertandingan hingga tidak menyadari saat aku duduk di sebelahnya. Aku melambai pada Tasya (panggilan dari Natasha), adik Grace mantan pacarku dan salah satu sahabat terbaik adikku, yang menyenggol lengan Vany dan mengangguk ke arahku sambil tersenyum. Vany tersadar dan menoleh.

ÔÇ£Eehh Kak… Aku ga nyadar Kakak dateng!ÔÇØ ujarnya riang sambil nyengir.
ÔÇ£Hahaha gapapa… Kamu serius banget ngeliatin anak-anak,ÔÇØ kataku.
ÔÇ£Iya… Musuhnya jadi jago nih,ÔÇØ jawabnya serius, kembali melihat ke lapangan. Saat itu seorang pemain sekolah lain memblok passing tim sekolahku dan menyetak angka 3 points. Vany merengut.
ÔÇ£Passingnya.. Aduh… JESSICA KONSEN!ÔÇØ Vany meneriaki seorang pemain sekolah kami yang tidak kukenal. Jessica mengacungkan jempol ke arah kaptennya, tampak gugup.
ÔÇ£Ini pertama kali dia main dari awal sih…ÔÇØ kata Tasya di sebelah Vany.
ÔÇ£Point Guard ya dia?ÔÇØ tanyaku pada Vany sambil mengamati Jessica, cewek mungil, kira-kira setinggi adikku, dengan rambut dikuncir ekor kuda. Adikku mengangguk. ÔÇ£Dia yang gantiin aku jadi point guard. Kelas satu.ÔÇØ
ÔÇ£Erika mana?ÔÇØ tanyaku lagi. Aku kenal Erika; point guard cadangan Vany, kelas 2.
ÔÇ£Keseleo kemaren pas latian,ÔÇØ jawab Tasya.
ÔÇ£… Padahal kalo pas latian keliatan gesit banget loh si Jessica ini,ÔÇØ kata Vany. Natasha mengangguk, membetulkan kacamatanya.
ÔÇ£Gesitnya sih sama kayak lu, Van, tapi sering ga konsen… Terus belon begitu berani maennya. Ya masih kelas satu sih… Ntar juga jadi jago,ÔÇØ katanya. Vany mengangguk setuju. Aku pun menyadari bahwa Jessica bergerak sangat gesit, hanya ÔÄ» tidak seperti Vany ÔÄ» operannya masih sering meleset dan mudah dibaca lawan.

Aku mengenal beberapa pemain basket tim putri SMP karena mereka adalah teman-teman adikku. Agnes sang Center bertubuh tinggi besar baru saja mencetak angka. Kedudukan sekarang 14-13. Aku nyengir menikmati pertandingan ini. Sudah lama aku tidak menonton pertandingan basket seperti ini. Kulirik Vany yang duduk tegang di sebelahku… Sepertinya ia sudah lupa bahwa ia sedang hamil 5 bulan.
ÔÇ£Van, santai dikit… Inget kamu lagi hamil ga boleh tegang-tegang,ÔÇØ kataku pelan padanya. Vany tersadar dan nyengir, mengelus lenganku dengan sayang dan mulai duduk bersandar ke tembok.
ÔÇ£Hehehe iya kalo udah seru nonton basket gini suka lupa,ÔÇØ katanya sambil mengelus-elus perutnya yang buncit. Aku merasa penisku mulai tegang, entah kenapa.

Terdiam, menonton lagi. Aku memperhatikan adikku… Kemejanya terlihat sangat sempit menahan dua tonjolan montok dadanya, ditambah dengan perutnya yang buncit menggiurkan. Aku melihat pundaknya… Hm? Biru muda?
ÔÇ£Van, kamu pake BH biru muda ya…ÔÇØ bisikku perlahan. Vany memukul lenganku sambil tertawa.
ÔÇ£Koq liat sih? Emang keliatan dari balik baju?ÔÇØ bisiknya balik. Aku mengangguk, nyengir.
ÔÇ£Yang tadi pagi putih basah ya…ÔÇØ
ÔÇ£Kena susu sama sperma! Kakak sih!ÔÇØ desis Vany sambil mencubit lenganku. Aku tertawa.
ÔÇ£Kamu seksi, Van…ÔÇØ
ÔÇ£Hus! Kak…ÔÇØ
<div align=”center”>* * *</div>
ÔÇ£Tapi bagaimana pun emang hebat kan anak-anak…ÔÇØ
ÔÇ£Iya sih… Cuma maennya bikin deg-degan tipis- tipis gitu,ÔÇØ

Aku dan Vany sedang berjalan perlahan menyusuri koridor dari gedung olahraga menuju ke gedung utama sekolah kami. Pertandingan sudah berakhir, dimenangi oleh SMP ku dengan skor tipis 38-34. Vany agak bersungut-sungut dengan hasil ini, karena saat ia bermain dulu SMP kami pernah membantai mereka 60-8. Benar-benar tidak diberi kesempatan.

ÔÇ£Udalah, Vann… Jangan bete gitu donk,ÔÇØ ujarku menghiburnya.
ÔÇ£Hmm… Coba aku maen,ÔÇØ katanya. Tiba-tiba ia geli sendiri dengan perkataannya dan terkikik. ÔÇ£Ga mungkin ya… Hihihi…ÔÇØ
ÔÇ£Dasar…ÔÇØ kataku. Vany menggamit lenganku dan menyenderkan dirinya padaku dengan sayang. Kami berjalan dalam diam perlahan menyusuri koridor sekolah, menuju ke lantai empat, ke tempat Cherry latihan dance.
Sambil berjalan, Vany membelai-belai perutnya yang buncit; sungguh entah kenapa setiap kali aku melihatnya melakukan itu ada rangsangan sangat besar yang menyerangku. Sembunyi-sembunyi aku membetulkan penisku yang tegang di balik celana jeansku.

ÔÇ£Kita pulang sekarang?ÔÇØ tanya adikku setelah beberapa lama. Aku menggeleng.
ÔÇ£Nggak… Nunggu Cherry kelar latian MD,ÔÇØ jawabku. Vany melirik arlojinya.
ÔÇ£Jam?ÔÇØ
ÔÇ£Empat…ÔÇØ
ÔÇ£Loh ini baru jam 3 kurang… Kita ngapain sejam?ÔÇØ tanyanya, polos.

Ketika itu kami telah sampai di depan kelas kosong di ujung koridor lantai empat yang dulu sering aku pakai bersama Cherry sebagai tempat kami ML sepulang sekolah. Saat itu Vany sepertinya mengerti, menatapku yang nyengir sambil menatapnya dengan tatapan meminta. Vany menggelengkan kepala.

ÔÇ£Dasar mesumm…ÔÇØ bisiknya. Tapi ia menggandengku masuk ke kelas itu. Aku menutup pintu di belakangku perlahan. Kelas ini tak memiliki jendela ke arah dalam, hanya ke arah luar, itu pun agak tinggi di atas, karena ruang ini sebenarnya adalah bekas gudang yang diubah menjadi kelas. Dan karena terletak di ujung koridor dan agak jauh dari kelas-kelas yang lain, maka mendesah sekencang apa pun akan agak susah terdengar.

ÔÇ£Emang gapapa, Kak di sini? Kalo ketauan orang gimana?ÔÇØ tanyanya. Aku merangkul adikku.
ÔÇ£Gapapa… Aman koq. Kakak udah pake kelas ini sejak kelas 3 SMP,ÔÇØ jawabku. Vany terbahak dan memukul lenganku.
ÔÇ£Sama Cherry apa Grace?ÔÇØ
ÔÇ£Pernah dua-duanya,ÔÇØ jawabku tenang. Vany tertawa lagi.
ÔÇ£Lebih sering sama Cherry kan pasti…ÔÇØ bisiknya. Aku tertawa dan mengangguk.
ÔÇ£Cherry lebih heboh,ÔÇØ kataku bercanda.
ÔÇ£Tapi Tasya pernah bilang katanya dulu pas Kakak ML di rumahnya, heboh banget MLnya sama Grace,ÔÇØ kata Vany. Aku terkejut.
ÔÇ£Natasha juga suka intipin Kakak sama Grace??? Astagah kalian!ÔÇØ ujarku. Vany terbahak-bahak.
ÔÇ£Kita pengen tau lah, Kaaak…ÔÇØ jawabnya manja. ÔÇ£Ah si Tasya enak tuh udah bibirnya sama seksinya sama Grace, diajarin langsung lagi. Aku kan cuma belajar dari ngintip doank.ÔÇØ
ÔÇ£Kamu juga udah hebat koq tapi, Van…ÔÇØ kataku. Vany nyengir.
ÔÇ£Kakak yakin ini aman?ÔÇØ tanyanya sekali lagi. Aku mengangguk, meyakinkannya.

Vany tersenyum, berjalan ke arah deretan meja yang ada di tengah ruangan, dan menyenderkan dirinya ke salah satu meja. Posenya seksi sekali; kedua tangannya bertumpu ke meja, tersenyum manis sekali padaku. Aku berjalan perlahan ke arahnya, mendekatkan wajahku hingga berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Aku bisa merasakan nafasnya yang agak tegang.

ÔÇ£Kakak tuh… Nafsunya gede banget deh…ÔÇØ bisiknya. Ia membelai wajahku lembut. Kami berciuman, lembut tapi penuh nafsu. Lidah kami saling berbelit, berdecak memenuhi ruangan itu.

Perlahan, jemariku mulai merayap naik, meremas kedua dada adikku yang montok dan penuh susu, menggosok dan memainkannya dengan nikmat. Aku merasakan desahan mungil keluar dari mulut Vany, menikmati remasan dan rangsanganku pada dadanya.

ÔÇ£Mmh… Kak…ÔÇØ desahnya. Tangannya yang mungil merogoh selangkanganku, mengelus tonjolan keras di baliknya. ÔÇ£Gede banget…ÔÇØ
ÔÇ£Kamu itu yang gede banget…ÔÇØ bisikku, terus menciumi leher kurus adikku sambil meremas dadanya dengan lembut, beberapa kali mengelus perut buncitnya yang keras. Vany menggelinjang tiap kali aku menyentuh titik-titik tertentu yang merangsangnya; benar, adikku ini lebih mudah terangsang saat ia hamil. Apa semua wanita hamil memang seperti itu?

Aku menegakkan badanku sedikit. Vany telah terduduk di atas salah satu meja, sedikit terengah. Tangan kirinya menopang perutnya yang buncit. Saat itu aku melihat bercak basah pada kemeja putih adikku, tepat pada bagian puting susunya. Aku nyengir nakal.

ÔÇ£Van… Kamu baru digituin masa udah keluar susunya?ÔÇØ tanyaku menggodanya.
ÔÇ£Aaa… Kakak kan ngeremesnya heboh… Gimana ga keluar,ÔÇØ jawab Vany sedikit malu. Aku tersenyum, membuka kancing kemejanya perlahan. Benar saja, BH biru muda yang dikenakannya telah basah oleh susu.
ÔÇ£Hmmmhhh… Vannnyy… Kamu seksi banget, sayang…ÔÇØ kataku. Kubenamkan wajahku pada belahan dadanya yang 34 DD itu. Empuk dan lembut sekali. Aku merogoh ke belakang punggungnya, membuka kancing dan melepas BH adikku.

Aku mundur dan terdiam sebentar. Tak pernah aku habis pikir bagaimana adikku bisa memiliki payudara sebagus dan sebesar ini; putih mulus tanpa cacat sedikit pun, montok dan sungguh bulat menantang. Putingnya coklat kemerahan pun telah sangat tegang. Sekali lagi, aku membenamkan wajahku dalam keempukannya.

ÔÇ£Aah… Kak… Jangan buru-buru donk…ÔÇØ desahnya perlahan. Kumainkan kedua putingnya perlahan-lahan dengan telunjukku, membuatnya semakin kegilaan. Air susu sesekali menyemprot dan mengalir dari putingnya. Kuremas dada adikku kencang-kencang sekali lagi hingga susunya benar-benar menyemprot keluar. Vany menggelinjang dan mendesah setiap kalinya.
ÔÇ£Van… Kamu makhluk paling seksi yang pernah kakak kenal,ÔÇØ bisikku. Vany tersenyum dan membelai rambutku, mengecup keningku. Ku sedot putingnya bergantian, meminum susunya dengan nikmat, sementara tanganku membelai perut hamilnya yang mulus. Penisku terasa berdenyut-denyut, minta dibebaskan dari bekapan celana dalam yang sempit.

ÔÇ£Mmhh.. Nnhh.. Kaa… K… Jangan nafsu-nafsu minumnya… Ooh…ÔÇØ desah Vany. Lidahku memainkan kedua putingnya, memelintirnya dan menyedot setiap tetes yang keluar dari dalamnya. Rupanya Vany tidak tahan dibegitukan.
ÔÇ£Kakk… Kakk… Mmnnnhhh! Mmmhh!ÔÇØ

Sejumlah besar susu menyemprot ke dalam mulutku. Aku tahu Vany telah mencapai klimaksnya yang pertama. Tanganku bergerak pelahan mengelus perutnya dan merogoh ke selangkangannya… Benar saja; celana dalamnya telah basah kuyup.

ÔÇ£Ohh… K… Kakk…ÔÇØ desah adikku terbata. Aku mengecup bibirnya.
ÔÇ£Lanjut ya, sayang?ÔÇØ kataku. Vany mengangguk, tersenyum.

Ciumanku bergerak dari bibir ke rahang dan leher adikku, ke kedua dadanya yang super besar dan lembut, hingga ke atas perutnya yang buncit. Kubelai lembut perut adikku, mengecupnya sekali lagi dengan sayang.

ÔÇ£Mmh… Perut kamu gede tapi bagus banget, Van…ÔÇØ kataku. Vany tertawa.
ÔÇ£Kakak demen banget ya sama perutku? Padahal buncit gitu,ÔÇØ katanya imut.
ÔÇ£Seksi tau…ÔÇØ jawabku sungguh-sungguh. Vany nyengir.
ÔÇ£Sini, Kak… Gantian!ÔÇØ Vany turun dari meja dan perlahan berlutut di depanku.

Ia membuka kancing dan retsleting celana jeansku, membiarkannya jatuh ke lantai. Penisku yang tegang langsung menyembul keluar dari balik celana dalamku, mengacung tepat ke wajah adikku. Tanpa aba-aba, Vany langsung menyedotnya dengan bersemangat.
ÔÇ£Oohh Vann… Astagah.. Pelan-pelann…ÔÇØ
ÔÇ£Mm… Cp… Kakak dabi juga… Mmmhh.. Ga belan-belan… Mmmm… (Kakak tadi juga ga pelan-pelan)ÔÇØ jawabnya dengan mulut penuh. Kepalanya bergerak maju-mundur mengulum penisku. Lidahnya bergerak liar menjelajah bagian bawah penisku. Enak sekali.
ÔÇ£Mmmnnhh… Aahh.. Vann… Vanny…ÔÇØ desahku.

Vany melepaskan penisku dari mulutnya, membiarkannya jatuh di atas dadanya yang luar biasa montok dan bulat. Ia mengangkat dadanya dengan kedua belah tangannya dan mulai menjepit penisku di antara keduanya. Adikku ini memang spesialis titf*ck. Belum pernah ada cewek lain yang seenak Vany melakukannya.
ÔÇ£Oohh.. Nnghh… Vann… Kamu emang paling enak…ÔÇØ erangku keenakan. Vany nyengir sambil terus menggerakkan dadanya naik-turun, meremas dan memijat penisku dalam keempukan dadanya. Rasanya aku memang tak dapat bertahan lama dibeginikan.
ÔÇ£Kalo diginiin gimana, Kak?ÔÇØ goda Vany.
Tangan kiri Vany menekankan perutnya yang buncit ke atas, sementara tangan kanannya memegang dadanya dan menjepitkannya lebih erat membungkus penisku. Ini luar biasa; sensasi lembut dan keras perut hamilnya dipadu dengan empuknya dada adikku yang luar biasa besar. Tanpa sadar aku menggerakkan pinggulku maju-mundur, menggosokkan penisku semakin cepat. Aku tak tahan.
ÔÇ£Nggghhh! V… Vaan… VannnnNN!ÔÇØ

<em>Crott… Crrroootttt…. Cccroottt…</em> Spermaku seolah tak mau berhenti meledak, melumuri wajah imut adikku dengan cairan kental putih, mengalir turun membasahi dada dan perutnya juga. Aku merosot bersandar pada meja di belakangku.
ÔÇ£Mmm… Kakak selalu ga tahan kalo digituin,ÔÇØ kata Vany seraya menjilat sisa sperma di sekitar mulutnya. Ia kembali duduk di atas meja, dan dengan ekspresi polos Vany mengusap dan meratakan cairan kental yang melumuri perut dan dadanya yang montok itu, seolah spermaku sejenis krim; pemandangan yang membuat penisku tak menjadi lemas sedikit pun.

Aku berdiri perlahan, melumat bibir adikku dengan nafsu, mendorongnya hingga terlentang di atas meja. Vany tersenyum.

ÔÇ£Ayo, Kak… Langsung aja…ÔÇØ pintanya lembut. Aku tersenyum dan menurutinya.

Kubuka kancing rok SMP adikku, membukanya dan membiarkannya merosot ke lantai batu. Perlahan, aku menarik celana dalamnya yang basah kuyup dan melepasnya. Vany mengangkat kedua pahanya yang montok dan mengangkang lebar-lebar di depanku. Aku meletakkan penisku di bibir vaginanya yang tembem dan mulus dengan bulu yang sangat halus. Perlahan, kumasukkan kepala penisku yang merah padam ke dalamnya. Vany menggrunjal sedikit.

ÔÇ£Mmhh… Kakk…ÔÇØ desahnya, menggeliat merasakan batang penis kakaknya perlahan-lahan memasuki vaginanya yang sempit dan hangat hingga mentok.

Tanpa menunggu lagi, aku segera menghujam-hujamkan penisku ke dalam tubuh Vany. Adikku menggeliat, mendesah, mengerang keenakan setiap kali penisku bergerak masuk, semakin lama semakin cepat.
ÔÇ£Ohh… Nnhhh… Vann.. Vann… Vanny…ÔÇØ kataku berulang-ulang. Vaginanya yang becek dan lembut benar-benar nikmat membungkus penisku.
ÔÇ£Ahh.. Aaahh… Ahhh Kakk.. Nnggghh!ÔÇØ Vany mengerang, satu tangan mencengkeram pundakku, yang lain mengelus perutnya yang buncit.

Kuremas dadanya kuat-kuat hingga susunya menyemprot, kumainkan puting kirinya yang sensitif dengan jemariku, membuat Vany memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya menahan rangsangan.
ÔÇ£Oohh.. Kakk.. Kak aku ga bosen bosen digituin.. Ahhh…ÔÇØ desahnya. Keringat membanjiri tubuh kami. Gerakan pinggulku semakin cepat menghujam vaginanya. Nafas kami memburu. Penisku berdenyut-denyut, menghantam-hantam mulut rahimnya yang sedang mengandung anakku.
ÔÇ£Aaahh.. NNhhh! Ooh Kakk.. Kakak… Mmmnhh! Aaahh…ÔÇØ Vany menggeletar, badannya semakin menegang. Ia mengapitkan kedua kakinya ke pinggangku. Vaginanya mengencang, menjepit penisku lebih kuat lagi. Aku tahu Vany sudah tak tahan.
ÔÇ£Van… Vann tunggu bentar Kakak juga.. Nnggghh juga udah mau keluarr…ÔÇØ
ÔÇ£Ga ku.. kuattt… Kaaaakk… KKkk… Aaaahhh…!ÔÇØ

Vany orgasme dan squirting berkali-kali kencang sekali hingga aku harus mencabut penisku dari vaginanya. Tubuh mungil adikku gemetar hebat sekali setelah itu, tapi aku benar-benar belum puas menikmatinya; padahal tadi sudah tinggal sedikit lagi aku mencapai klimaksku juga. Tanpa menunggu lama, aku segera memasukkan lagi penisku ke dalam vaginanya, dan kembali menggenjot adikku dengan nafsu.

ÔÇ£Aahh.. Hhh.. Kakk.. Kakkk nafs.. nafssuu banget de…hhhH!.. Aaahh pelan-pelan kakk..ÔÇØ desah Vany tak karuan. Tangannya mencengkeram tepi meja, susu menyemprot dari putingnya, dadanya yang super besar dan perutnya yang buncit berguncang-guncang seirama tusukan penisku.

ÔÇ£Mnnhh.. Vann.. Vanny kuarin jurus kamu donk… Nngghh…ÔÇØ pintaku.
Vany mengangguk, wajahnya menegang, berkonsentrasi, dan sebentar kemudian serangan itu datang! Penisku serasa seperti diserang bergelombang-gelombang pijatan bertubi-tubi. Ini dia yang kutunggu.
ÔÇ£Oohh… Vaann.. Vannyy! VANNN!ÔÇØ

Aku meledakkan spermaku berkali-kali ke dalam rahimnya. Nikmatnya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Aku memejamkan mata, menahan nafas, membiarkan spermaku terus keluar hingga bulir terakhirnya di dalam tubuh Vany.

Kucabut penisku, dan segera terlihat cairan putih kental yang mengalir perlahan dari dalam vagina adikku, melumuri anus dan menetes ke meja. Aku merosot, tersengal mengatur nafas, duduk bersandar pada meja di belakangku. Penisku ngilu rasanya, tapi seperti biasanya, belum menunjukkan tanda-tanda melemas setelah dua kali keluar. Tubuhku tak pernah puas menikmati Vany.

Saat itu Vany turun dari meja, menegakkan dirinya, dan berjongkok persis di depanku. Vaginanya yang basah kuyup, masih meneteskan spermaku, berada beberapa senti di atas kepala penisku.
ÔÇ£Lagi, Kak… Aku belom puas… Tanggung jawab…ÔÇØ perintah Vany sambil mendekatkan wajahnya padaku. Aku tersenyum, melumat bibir mungilnya lembut. Tanganku merogoh ke pantatnya yang montok, membimbingnya turun.

Vaginanya membungkus penisku erat saat Vany menurunkan pinggulnya perlahan. Hangat dan lembut sekali rasanya. Vany mulai bergerak naik-turun perlahan; perutnya yang buncit dan mulus menggesek perutku setiap kalinya.
ÔÇ£Nnhh.. Mmhh… Vannn.. Enak banget.. Mmhh…ÔÇØ desahku.

Vany menikmati sekali posisi ini. Ia memejamkan mata, menggigit bibirnya. Tanganku bergerak, meremas-remas pantatnya yang montok dan padat sambil membantunya bergerak naik-turun. Dada Vany yang besar menekan dadaku, membuat susunya mengalir keluar dan membasahiku. Kucium, kujilat leher adikku dengan nafsu.

ÔÇ£Aaahh.. Kakkk… Kenapa posisi ini enak.. Bangett sihh… NnhhhhÔÇØ desahnya. Ia mencium pundak dan leherku, tangannya mencengkeram erat punggung kakaknya.

Aku mempercepat genjotanku ke dalam vaginanya. Vany mengerang, menekankan kepalanya ke pundakku.
ÔÇ£Kakk… Kakak… Nnnnnhhh…ÔÇØ
ÔÇ£Mau keluar, Yang??ÔÇØ
Vany mengangguk liar, memelukku semakin erat. Aku dapat merasakan vaginanya menyempit, menjepit penisku kencang-kencang. Aku menusukkan penisku lebih cepat dan kuat. Vany menggelengkan kepalanya.
ÔÇ£Mmmmmmmmnn… Nnnnn… NNNHHaaaaaHH!ÔÇØ
Dengan lenguhan panjang Vany orgasme untuk ketiga kalinya siang ini. Aku dapat merasakan cairan vaginanya yang dingin meledak keluar, menyiram penis dan pahaku. Susunya pun menyemprot banyak membasahi dadaku.

Kucabut penisku dari vaginanya dan mengarahkannya ke dalam anus adikku. Vany menjerit kecil ketika penisku menerobos anusnya yang luar biasa sempit dan mulai menghujam dengan kuat ke dalamnya. Ini enak sekali. Aku merosot hingga tiduran di lantai, sementara Vany terduduk di atasku, bergerak sesuai irama genjotanku. Dadanya berguncang-guncang menggiurkan.

ÔÇ£Aaahh… Ahh Kakk.. Nnhhh… Kakk… Mmhh..ÔÇØ desah Vany sambil mengelus perutnya. Tangan kirinya meremas dan memainkan dadanya sendiri, menyemprot-nyemprotkan susu keluar. Kucengkeram pantat Vany. Anusnya sangat ketat menjepit penisku, membuatku tak bertahan lama.

ÔÇ£Van.. Ohh.. Hhh.. Hhh… Vannn Kakak mau keluarr…ÔÇØ
ÔÇ£Kak… Kakk… Kakk.. Nnhh Nnhhh… Akuu jugga… MMmmhhhHH…ÔÇØ
ÔÇ£Nngghh.. Vann.. Vannyy… Vannyyy! VANNNY!ÔÇØ

Aku mengerang, tapi Vany ternyata telah mencapai puncaknya terlebih dahulu. Ia menjerit kencang dan squirting kuat-kuat membasahi pinggang dan pahaku, anusnya menyempit lagi. Sedetik kemudian aku orgasme, meledakkan spermaku banyak-banyak ke dalam anus adikku.

Vany roboh ke atasku, terengah, tersengal. Tubuh kami bersimbah keringat. Penisku yang telah lemas kucabut dari anusnya, membuat spermaku meleleh keluar dari dalamnya. Vany berguling turun dan duduk bersandar ke meja di sebelahku, matanya terpejam; dadanya bergerak naik-turun, berusaha mengatur nafas.

ÔÇ£Hh.. Thanks Van…ÔÇØ bisikku setelah beberapa lama.
Vany mengangguk lemah, lelah.
ÔÇ£Sama-sama…ÔÇØ katanya.

Kami terdiam. Aku mendudukkan diri, melirik arloji, jam 4.15… Harusnya Cherry sudah selesai. Aku menoleh ke adikku, perlahan aku meraba dadanya yang besar. Kudekatkan mulutku ke putingnya dan mulai menyedot susu yang manis dari dalamnya. Vany nyengir dan mendengus tertawa.

ÔÇ£Kak… Belum capek apa? Ntar aku jadi terangsang lagi loh…ÔÇØ katanya lembut. Ia membelai rambutku.
ÔÇ£Mmm… Cuma mau minum koq, Yang…ÔÇØ bisikku. Vany tersenyum. Tanganku mengelus perutnya, mulus sekali, enak sekali.

Saat itu tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka perlahan. Hatiku mencelos. Aku menatap Vany, melihat ketakutan dan keterkejutan yang sama di mata adikku. Kami membeku di tempat. Panik. Tak akan sempat kami memakai pakaian kami. Langkah kaki perlahan mendekat, semakin jelas.

ÔÇ£Astagah Diitt… Udah gue duga lu bakal di sini!ÔÇØ

Aku hampir pingsan karena lega. Cherry, sahabatku, berkeringat dan terlihat lelah tapi senang, berdiri bertolak pinggang di hadapanku dan Vany.

ÔÇ£Duh Cher… Lu bikin gw jantungan,ÔÇØ ujarku lega. Vany telah tertawa terbahak-bahak di sebelahku.
ÔÇ£Lagian lu kacau sih… Hai, Van!ÔÇØ kata Cherry geli. Ia melambai ke arah Vany, yang segera berdiri dan memeluk Cherry erat.
ÔÇ£Apa kabar, Cher??ÔÇØ ujar Vany riang.
ÔÇ£Baik banget… Wah kamu udah gede banget!ÔÇØ kata Cherry sambil menatap perut adikku. Vany tertawa.
ÔÇ£Iya donk udah 5 bulan… Salahin dia nih!ÔÇØ ujarnya sambil menunjukku. Cherry tertawa, membelai perut buncit Vany dengan lembut. Heran, koq bisa ga canggung sama sekali sih?
ÔÇ£Yang ini juga gede banget, Van… Bagi-bagi donk!ÔÇØ ujar Cherry sambil meremas dada Vany yang memang super besar.
ÔÇ£Eehh! Cherry!ÔÇØ seru Vany sambil tertawa dan menghindar.
ÔÇ£Heh.. Udah-udah ayo pulang,ÔÇØ kataku sambil memakai celana dan kaosku lagi. Vany mengambil sehelai kaos dan celana pendek dari tasnya dan mengenakannya perlahan.

Kami bertiga berjalan ke arah tempat parkir. Tiba-tiba Vany nyeletuk.
ÔÇ£Cher, kamu… Agak beda deh,ÔÇØ
ÔÇ£Hm? Beda gimana?ÔÇØ
ÔÇ£Ya kan Cher! Emang gw ngerasa agak ada yang lain dari lu…ÔÇØ ujarku setuju. Vany mengangguk. Rupanya Vany juga melihat ada sesuatu yang aneh dari Cherry.
Anehnya, sekali lagi Cherry hanya tersenyum simpul penuh arti.

* * *

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Terminal 2 Keberangkatan
Sabtu, 3 Januari 2009 ÔÇô 15.00 WIB.

ÔÇ£Sampe ketemu, Ma…ÔÇØ
ÔÇ£Ya… Ati-ati ya… Jaga adikmu baik-baik. Bulan depan Mami-Papi kesana.ÔÇØ

Ayah-Ibuku memeluk dan mencium kedua anaknya. Hari ini aku, Vany, dan Cherry akan berangkat ke Singapore. Vany akan tinggal di sana bersamaku hingga setelah melahirkan. Kami melambai dari balik pintu kaca yang memisahkan kami dari Ayah dan Ibu, dan mulai berjalan perlahan menuju ruang tunggu.

ÔÇ£Hmmm… Tinggal di luar negri sendirian enak ga, Kak?ÔÇØ tanya Vany, mengenakan baju terusan warna pink muda ditutupi jaket Adidas putih. Ia berjalan sambil membelai perutnya yang semakin besar, memasuki bulan keenam sekarang (Aku berusaha mengalihkan pandanganku. Celanaku terasa menyempit). Kami sudah tahu bahwa anak yang di dalam kandungan Vany berjenis kelamin perempuan, dan entah kenapa Vany sangat ingin menamainya Ella.
ÔÇ£Ya ada enaknya ada enggaknya… Tapi kamu kan ga sendirian,ÔÇØ kataku. ÔÇ£Ada Kakak…ÔÇØ
ÔÇ£Ada aku juga…ÔÇØ ujar Cherry riang. Vany tertawa.
ÔÇ£Hahaha iya sih…ÔÇØ

Kami berjalan menuju ruang tunggu. Sambil berjalan, aku tak dapat melepaskan pandanganku dari sahabatku. Sungguh, ada yang lain darinya, tapi aku tak dapat menemukan apa. Jelas Cherry terlihat agak menggemuk setelah sebulan di Jakarta, tapi itu wajar karena aku pun menghabiskan sebulan ini untuk makan makanan yang enak-enak di kota kelahiranku. Apa ya? Apa pantatnya tambah montok? Aku jarang bertemu dengan sahabatku ini selama sebulan terakhir, karena kami masing-masing sibuk dengan urusan kami sendiri. Kami bahkan tidak ML sama sekali selama di Jakarta. Aku menatapnya makin tajam, menyelidiki.

ÔÇ£Heh, lu ngapain ngeliatin gue sampe kayak gitu?ÔÇØ hardik Cherry.
ÔÇ£Cher… Lu… Seriusan deh ada yang laen. Apa ya?ÔÇØ

Kali ini Cherry nyengir lebar, nyaris tertawa. Tapi heran sekali, Vany juga ikut nyengir!

ÔÇ£Ahh Cherr! Van! Kalian apaan sih kasi tau donk ada apa!ÔÇØ pintaku tak sabar. Tak kuduga, Vany yang menjawab.
ÔÇ£Ella kan bakal punya adik, Kak…ÔÇØ ujarnya riang. Aku melonjak kaget.
ÔÇ£HAH?! Hah jangan bercanda kamu, Van!ÔÇØ aku memelototi sahabatku. ÔÇ£Lu… Lu hamil??ÔÇØ
Cherry nyengir, mengangguk.
ÔÇ£Udah 3 bulan…ÔÇØ katanya sambil membuka retsleting hoodie tebalnya. Ternyata benar, memang perutnya terlihat buncit dari balik tank top kuningnya. ÔÇ£… Anak lu juga, Dit. Pasti.ÔÇØ
ÔÇ£Minggu lalu ke Tante Rina sama aku,ÔÇØ jelas Vany. ÔÇ£Tantenya sampe geleng-geleng waktu tau ini anak Kakak juga…ÔÇØ

Aku tak dapat berkata apa-apa. Bagaimana ini? Cherry juga hamil anakku?

ÔÇ£… 3 bulan, Cher?ÔÇØ tanyaku gelagapan. Cherry mengangguk, tersenyum manis seperti biasanya. Berarti… Berarti sekitar awal-awal aku tahu bahwa adikku juga hamil, sekitar akhir September. Wah ini kacau!

Tiba-tiba aku sadar akan suatu keanehan. Sekali lagi aku mengamati perut Cherry yang buncit.

ÔÇ£Cher, 3 bulan kata lu?ÔÇØ
ÔÇ£Ya. Napa mank?ÔÇØ
ÔÇ£Koq udah segede itu? Waktu Vany hamil 3 bulan gue liat dari webcam belum begitu keliatan bedanya,ÔÇØ tuntutku.

Cherry nyengir, Vany tertawa terbahak-bahak. Astagah ada apa?

ÔÇ£… Kan kembar, Dit…ÔÇØ
ÔÇ£KEMBAR??!ÔÇØ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*