Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 40

Wild Love 40

Hari-H malam pergantian tahun dimulai dari pagi hari

08:00

Aku bangun pagi, ku telepon ibu. Ibu kemudian menyampaikan sesuatu dengan candanya. Kata ibu, ibu pura-pura jengkel kepada ayah yang jarang pulang dan jarang membelai ibu. kata ibu, ayah malah sedikit salah tingkah ketika ibu marah. Dan menurut penuturan ibu, ayah memperbolehkan Ibu menginap lagi sampai batas waktu tidak ditentukan. Plong rasanya, tapi aku sedikit ngambek ketika mendengar ibu minta jatah. Ibu kemudian menenangkan aku dengan kata-kata ÔÇØCuma untuk kamu sayangkuÔÇØ. Begitulah ibu dia juga tidak lupa mengingatkan aku untuk sarapan. Kubuka email dari om nico.

To : [email protected]

Ingat besok malam, gunakan email sebagai alat komunikasi
Hati-hati dengan buku…
Buku? Ayah mbak ara? Mungkinkah dia benar-benar akan disingkirkan? Itulah pikiranku ketika membaca email om nico. Well, aku harus lebih bersabar. Sambil bersandar di sofa ruang keluarga aku menonton acara kesukaanku, teletabis, acara anak-anak ow owwww… sedikit refreshing untuk menghilangkan kegelisahan hatiku.

11: 00
Aku tidur siang menyiapkan tenaga untuk nanti malam. Tak ada yang tahu rencanaku kecuali aku sendiri.

17:00
Aku bangun, segera aku menelepon pak wan untuk mengantarku. Tapi sebelumnya aku menelepon ayah untuk minta izin bermalam tahun baruan bersama teman-temanku.

ÔÇ£HaloÔÇØ

ÔÇ£Romo, Arya mau minta izin malam tahun baruan bareng teman-temanÔÇØ

ÔÇ£ya, dimana?ÔÇØ

ÔÇ£di kampus romo, di rektorat bareng sama teman-teman SMA, kan mereka juga teman universitasku juga romo. Terus habis malam tahun baruan paling aku tidur di rumah temanku romo, boleh?ÔÇØ

ÔÇ£ya ndak papa, dah duluÔÇØ

ÔÇ£Iya romoÔÇØ

Beberapa saat kemudian pak wan datang, aku kemudian meminta pak wan mengantarkan aku ke rumah makan, mengisi energi. Sesampainya di warung makan aku mengajak pak wan juga untuk makan. Sambil makan aku dan pak wan berbincang-bincang.

ÔÇ£den, apa rencana aden sebenarnya dengan membawa tas besar itu?ÔÇØ tanya pak wan

ÔÇ£Pokoknya pak wan santai saja, aku ingin memata-matai mereka pak… akan ada pertemuan di danau perumahan eliteÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tapi den, sebaiknya aden bawa teman-teman aden jugaÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Jangan pak, terlalu beresiko, jika terlalu banyak yang datang akan menimbulkan curigaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Baiklah, terserah aden… pokoknya aden harus hati-hati, aden sama keras kepalanya kalau mau berbuat yang berbahayaÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Sama seperti siapa pak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tuan wicak…ÔÇØ ucap pak wan membuatku sedikit tertegun dan kemudian tersenyum

ÔÇ£Kok bisa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya bisa, tuan wicak itu dulu pernah nyari anak hilang di lereng bukit. Dia merasa itu adalah tanggung jawabnya sebagai kepala desa. Ketika itu warga sudah menyerah tapi tuan wicak masih terus mencarinya hingga 2 hari 2 malam. Ya walaupun akhirnya ketemu, waktu itu tubuh tuan wicak tampak lusuh dengan membopong anak kecil itu. Dia benar-benar kepala desa yan sangat kami kagumi dan kami hormati. Dan masih banyak lagi cerita keras kepala tuan wicak, tapi itu semua demi kebaikan warga dan warga hanya bisa geleng-geleng kepala sajaÔÇØ ucap pak wan

Senyumku adalah senyum bangga ketika mendengar nama kakekku. Kakek dari ayahku, wicaksono nama belakangku. Seandainya aku sering kerumah kakek-nenek dan tak ada hal seperti ini mungkin aku akan lebih tahu kehebatan kakekku. Kakek warno saja sudah keren ditambah lagi kakek wicak.

ÔÇ£Dan mereka berdua ada didalam diri adenÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku terkejut dari lamunanku

ÔÇ£Ya, mereka berdua tuan wicak dan tuan warno, semuanya ada didalam den aryaÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£ehem…. jangan samakan aku dengan kakek-kakekku pak wan, mereka lebih hebatÔÇØ ucapku sambil menelungkupkan sendok dan garpuku dan ketika hendak berdiri untuk ke kasir

ÔÇ£Iya den, aden dan kedua kakek aden memang tidak sama, tapi yang namanya berlian tetaplah samaÔÇØ ucap pak wan yang aku pandang sejenak, kemudian dia berdiri dan menepuk bahuku dan berbalik meninggalkan aku

ÔÇ£Saya tunggu di taksi denÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Iya pakÔÇØ ucapku kembali melanjutkan langkahku ke kasir tak lupa aku memesan makanan dibungkus untuk nanti malam

Pak wan, pak wan mungkin itu yang kamu lihat di depan matamu tapi kau tidak pernah tahu apa yang aku lakukan dibelakang bersama ibu dan wanita-wanita lain. Aku berlian yang kotor mungkin itu lebih pantas. Setelah makan aku dan pak wan ke perumahan ELITE. Jauh dari perumahan elite aku menyuruh pak wan untuk berhenti.

ÔÇ£Pak berhenti disini saja, aku tidur dulu ya pak, nant kalau jam 10 aku dibangunkanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya den beresÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Kalau pak wan mau beli apa, bilang saja sama pak, nanti aku yang bayarinÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ha ha ha ha… aden ndak usah mikir itu den, dah tidur dulu untuk nanti malamÔÇØ ucap pak wan

22:00

ÔÇ£Den bangun sudah jam 10 malamÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Erghh… hoaaaaaam… jam 10 ya pak? Terima kasih pakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dimakan dulu den makanannyaÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Iya pakÔÇØ ucapku

Aku makan dengan lahap makanan yang aku bungkus dari rumah makan. Mengisi energi untu nanti jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Aku kemudian berganti pakaian serba hitam dengan penyamaran agar tidak ada yang mengetahui jati diriku.

ÔÇ£Pak, bagus ndak penyamaranku?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Mantabz den, kaya maling ayam den ha ha haÔÇØ canda pak wan

ÔÇ£Wekekekekeke… aku tinggal dulu pak, pak wan langsung pulang saja atau kalau tidak nanti kalau saya hubungi pak wan kesini lagi yaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Oke den…ÔÇØ

ÔÇ£Den aryaÔÇØ lanjut pak wan

ÔÇ£Iya pak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sematpion atau henpunnya dibuat diam denÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£Sematpon pak, iya pak terima kasihÔÇØ ucapku yang langsung keluar dari taksi dan men-silent sematponku

Untung saja pak wan mengingatkan aku, ya karena pak wan pernah aku kasih cerita ketika kejadian dirumah tante war. Setelahnya Aku bergerak sendirian, melompati selokan dan menyusuri kebun di samping perumahan ELITE. Untuk tanahnya kering coba saja kalau tidak kering banyak yang menempel di sepatuku. Aku berjalan mengendap-endap keluar dari kebun singkong. Setelahnya aku berjalan seperti biasa, ketika aku melewati sebuah rumah.

ÔÇ£Bu DianÔÇØ hanya itu bathinku berucap

Ya itu rumah bi dian, rumah dimana aku pertama kali bertemu dengannya dengan penampilan yang berbeda. Arghhh kenapa aku ini? kenapa aku bisa ingat dia disaat seperti ini? Aku kembali melangkah menuju danau. Dengan mengendap-endap jika saja ada orang lewat atau orang berada didepan rumahnya. Setelah sampai ditaman Dan aku bersembunyi di taman sambil tiduran agar tidak terlihat dari kejauhan. Taman begitu gelap di malam hari, tak ada lampu taman disini. Karena taman sedang dalam masa renovasi, sehingga memberiku tempat persembunyian yang aman.

23:45
Aku mendengar mobil datang ke danau. Tiga kali kilat cahaya mobil menerobos semak-semak dimana aku rebah bersembunyi. Setelah beberapa saat aku mendengar suara pintu mobil terbuka dan tertutup beberapa kali. kelihatanya mereka tidak bertiga tetapi ada beberap orang yang menemani mereka, mungkin body guard mereka. Aku kemudian bangkit perlahan dan bersembunyi di balik pohon dengan posisi duduk, kedua kakiku kutekuk.

00:00
Tuiiiiiing…. duerrrr…
Tuiiiiiing…. duerrrr…

Cahaya kembang api dari daerah di sebelah perumahan elite menerangi tempat ini. setelah beberapa kembang api menyala dan menghilang, samar-samar aku mendengar mereka mulai bercakap-cakap. Ku nyalakan sematponku yang sudah aku sunyikan, ku sodorkan bagian kamera agar bisa merekam mereka semua. Aku tetap berada dibelakang pohon dengan tubuh sedikit miring tapi tak berani mengintip, hanya untuk memastikan agar kamera tidak terlihat oleh mereka. posisiku duduk adalah membelakangi mereka. pohon tempatku bersembunyi dekat dengan mereka, dan mereka tepat dibelakangku. Entah jaraknya sejauh apa aku tidak tahu, yang jelas aku dekat dengan mereka.

ÔÇ£kita telah kehilangan satu orangÔÇØ ucap seseorang yang sudah tidak asing lagi, Ayahku

ÔÇ£benar, dan kita tidak tahu kenapa bisa seperti iniÔÇØ ucap seorang lagi dan itu aku yakin om nico

ÔÇ£bagaimna ini?ÔÇØ ucap seseorang lagi, aku memang tidak tahu pasti tapi kemungkinan dia adalah aspal

ÔÇ£Aku sudah mencari tahu keberadaan anak dan istri tukang, tapi sialnya orang yang aku suruh malah tertangkap polisi. Tapi tenang dia tidak akan bicara, semuanya beresÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£dan kemarin aku sudah menemui pembantu tukang tapi bukan dia pelakunya, karena dia sudah tahu aku ya aku habisiÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£Bajingan!ÔÇØ bathinku

ÔÇ£bagaimna untuk pesta kita di bulan kedua, tampaknya kita harus mempercepat waktunyaÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£tidak bisa, para peserta pesta kita tidak bisa jika dimajukanÔÇØ ucap ayah

Tuiiiiiing…. duerrrr…
Tuiiiiiing…. duerrrr…

ÔÇ£berarti kita memang harus lebih hati-hati lagiÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£Apa mungkin buku?ÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Bisa jadi dia jad biang kelasi dari semua iniÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£Kita harus membereskannyaÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£Berarti benar apa kata mbak ara, buku akan di singkirkanÔÇØ ucap bathinku

ÔÇ£Baiklah… rencana kita adalah pertama, kita singkirkan buku agar tidak ada lagi yang mengganjal jalan kita, bagaimana?ÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£OkeÔÇØ ucap aspal dan om nico

ÔÇ£selanjutnya?ÔÇØ ucap

ÔÇ£Kedua, kita siapkan wanita-wanita untuk pesta kita ha ha ha tapi kita berkurang satu, anak tukang jadi bagaimana dengan kamu pal?ÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£Beres dia sudah aku asingkan minggu depan aku akan ajak dia kembali ke sini, untuk dilatih menjadi pemuas kitaÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Reng, kamu bagaimana?ÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£Si war, sudah terlatih kan kamu sendiri sudah tahu, kita melatihnya bersama. Dan jaminan bersih tanpa ada penyakit ha ha ha haÔÇØ ucap om nico sambil tertawa terbahak-bahak

ÔÇ£Sialan!ÔÇØ bathinku

ÔÇ£mungkin ada beberapa tambahan lagi, ya kita cari saja ditempat lokalisasi kita bayar mahal mereka semua agar memuaskan kita ha ha ha haÔÇØ ucap ayah diikuti oleh dua orang lainnya. Namun aku juga mendengar tertawa dari dua orang lain yang berbeda, mungkin body guard mereka. Jujur saja aku tidak bisa melihat secara detail jumlah mereka

ÔÇ£tapi war dan anakmu akan jadi biaduanya ha ha ha ha mereka ratu budak seks kita ha ha ha haÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£Ha ha ha tenang saja kawaaaaan… tapi perawannya aku ambil dulu ha ha haÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Kamu emang pinter pal, anak sendiri diperawani dulu baru dilempar ke yang lain ha ha ha haÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£Terus bagaimana mengenai pertemuan besok? Bukannya kamu sering kontak dengan merekaÔÇØ ucap om nico kepada ayahku

ÔÇ£Oke ini yang ketiga, kita akan melakukan transaksi besar dan pesta. Mereka sudah menyediakan barangnya ada pil, serbuk dan juga rumput hisap (ganja) setelah transaksi kita akan menikmati bersama mereka. Baru kemudian kita habisi mereka, jadi kita untung dua kaliÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£Berarti kita harus bawa orang lebih banyak lagi, tidak mungkin seorang bandar besar datang hanya seorang diriÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Tentu saja kita bawa banyak, lebih banyak dari mereka. dan aku sudah menyiapkannyaÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£Tapi mereka semua pastinya sudah ahli apalagi mereka badar besar tidak mungkin penjaga mereka ecek-ecekÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Aku tanya siapa coba yang tidak butuh uang?ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£Maksud kamu?ÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Kita sudah tahu mereka, penjaga mereka kita ambil alih saja dengan memberi uang lebih banyak dari bandar jadi mereka akan membelot dan membela kita, betul tidak?ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£Ha ha ha ha ha haÔÇØ ucap aspal dan om nico kemudian diikuti oleh ayah

ÔÇ£Hei nico bagaimana dengan keluargamu? Dan kamu mahesa, bagaimana dengan keluarga mertua kamu?ÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£Mereka sudah pergi jadi tidak usah khawatir mengenai mereka. jika mereka terlihat lagi aku akan menghabisi merekaÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£Kalau keluargaku, mereka semua beserta keluarga besar akan tamasya mungkin setelah pertemuan aku akan menghabisi merekaÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£BAJINGAN! Sebelum kamu menghabisi kami, aku akan menghabisimu terlebih dahuluÔÇØ bathinku

ÔÇ£Oke, cukup sekian pembahasan kita, sekarang mari kita ke tempat wanita-wanita untuk memuaskan kontol kita. Kita sudah tidak pernah bersama-sama sejak kamu dan tukang pergi ke luar negeri, bagaimana?ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£Okay-okay, aku juga sudah kangen meng-gang bang bersama kalian ha ha haÔÇØ ucap aspal

ÔÇ£aku mau cari yang perawan dulu ha ha haÔÇØ ucap om nico

Pembicaraan selanjutnya hanya berkisar pada sesuatu yang tidak penting. Akhirnya aku tarik kembali sematponku. Segera aku matikan dan aku save video yang sudah aku rekam tersebut.

Clek….

ÔÇ£Siapa itu?ÔÇØ ucap ayahku entah apakah yang lain semuanya terkejut dengan bunyi itu

Tuiiiiiing…. duerrrr…
Tuiiiiiing…. duerrrr…

Hening sesaat…. Sial, ketika aku mencoba menutup aplikasi video. Aplikasi dari video berpindah ke camera. Dan tersentuh bagian tombol mengambil foto dan berbunyi, aku lupa mematikan bunyi pengambilan foto (Shutter sound).

ÔÇ£Cepar periksa, ada orang disitu, bunuh diaÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£Ayo cepat!ÔÇØ ucap aspal

Trap…..

Trap….

Trap…..

Trap….

Trap…..

Trap….

Trap…..

Trap….

ÔÇ£Sial kenapa jadi begini?ÔÇØ bathinku

Tuiiiiiing…. duerrrr…
Tuiiiiiing…. duerrrr…

Dari cahaya kembang api, tampak bayangan dua orang berada disamping kanan kiriku. Ya, mereka sedang melangkah mendekatiku. Jantungku berdegup kencanng, aku tidak ingin tertangkap. Aku tidak ingin mereka tahu siapa aku, jika aku mati disini semua orang yang aku kenal pasti akan mati.

Aku harus lari, harus lari….

Aku tidak ingin mati…

Aku harus lari…..

ÔÇ£Keluar kamu?! Teriak seorang lelaki yang tak aku kenal (Lelaki satu). Tanganku menggenggam erat pasri yang ada ditangan kanan dan kiriku.

ÔÇ£KELUAR!ÔÇØ ucap seorang lelaki yang berbeda lagi, dari suaranya aku bisa tahu. (Lelaki dua)

Tuiiiiiing…. duerrrr…
Tuiiiiiing…. duerrrr…

Mereka semakin dekat… suara mereka semakin jelas… dari bayangan mereka terlihat mereka membawa pistol…

AKU TIDAK BOLEH MATI!….

AKU HARUS HIDUP UNTUK KELUARGAKU, SAHABATKU, DAN DIAN!

Aku kemudian berdiri…

Bangkit….

Langsung berlari ke arah ketika aku datang, pasir yang ada ditanganku aku lemparkan ke arah mereka…

ÔÇ£AH SIAL! BERHENTIÔÇØ ucap lelaki satu yang menyuruhku keluar tadi. Ketika aku melempar pasir hanya satu orang lelaki yang terkena pasirku

Aku terus berlari dengan posisi sedikit merunduk…

DOOOOOR….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*