Home » Cerita Seks Mama Anak » WIld Love 38

WIld Love 38

Pagi menjelang, aku kemudian mandi bergegas menuju kampus. Mencari informasi tambahan mengenai kuliahku, mungkin saja ada mungkin saja tidak. Hitung-hitung sebagai mahasiswa aku tetap harus berangkat, walau sebenarnya kampus sedang dalam masa liburan akhir tahun. Tapi toh disana ada penjaga juga, bahkan dosen dan karyawannya masih berangkat. Alasan lain aku ke kampus adalah ibu menyuruhku mengantarnya ke tante ratna, jadi mau ndak mau ya ke kampus. Sebelum pergi keluar rumah ibu memberikan ciuman mesra, lama kami berciuman seakan aku tidak ingin ke kampus. Namanya juga anak muda, jiwa muda dapat sesuatu yang indah pasti hawa didalam diri tidak mau lepas. Tapi mau tidak mau harus berakhir juga, karena ibu memintaku untuk segera mengantarnya ke rumah tante ratna. Aku mengantarkan ibu terlebih dahulu ke rumah tante ratna, di rumah tante ratna cukup aman menurut penilaianku jadi kalau ada apa-apa diluar sana, ibu tetap aman. Kupacu REVIA dengan penuh kobaran semangat yang melempem. Kecepatan pengendara sepeda onthelpun tak bisa aku lewati ha ha ha. Sesampainya dikampus hanya ada informasi mengenai beasiswa di tata usaha fakultas. dan tak ada yang menarik selain informasi bea siswa. Selepas aku membaca informasi di tata usaha fakultas aku berjalan santai menuju warung yang biasa aku makan bersama rahman. Melewati gedung kuliah tercintaku, yang sebentar lagi aku tinggalkan.

ÔÇ£Rahman…. bagaimana kabarnya?ÔÇØ bathinku. Segera aku kirimkan BBM ke rahma menanyakan kabarnya sesampainya aku di warung. Aku duduk membelakangi pintu masuk warung

Sewu kutho uwis tak lewati, sewu ati wes tak takoni (1000 kota sudah aku lewati, 1000 hati sudah aku tanyai). Ringtone Hpku. Rahman

ÔÇ£Woi ar, gimana kabarnya?ÔÇØ

ÔÇ£Lha kamu itu gimana, kalau aku baik-baik saja kangÔÇØ

ÔÇ£Ane mah oke-oke saja arÔÇØ

ÔÇ£lagi dimana kok tidak pernah kelihatan di kampusÔÇØ

ÔÇ£jangan bilang-bilang ya, ane sekarang pindah rumah, beberapa hari yang lalu mama ane bertengkar sama papaÔÇØ

ÔÇ£HEH! Lha terus nasib kamu bagaimana?ÔÇØ

ÔÇ£tenang, ini lagi sidang, mama sudah ndak tahan sama perlakuan papa. Papa saja malah santai menanggapinya, dia malah senang asal pembagian hartanya 50:50ÔÇØ

ÔÇ£lha kamu kan belum kerja kangÔÇØ

ÔÇ£Tenang brooooo… ane kan masih anaknya, dan aku dapat bagian dari papa aneÔÇØ

ÔÇ£ouwh… emang masalah apa sih kang kok bisa sampai pisah?ÔÇØ

ÔÇ£Bajingan dia itu, waktu kemarin kapan aku lupa dia bawa cewek-ceweknyaÔÇØ

ÔÇ£terus?ÔÇØ

ÔÇ£ya ane sebenarnya dah tahu masalah kejiwaan papa ane, tapi ya ane kan diem. Kemarin ane titipin motor ane ke temen ane, terus pulang dan sembunyi dikamar. Papap ane ndak tahu kalau ane dirumah, ane intip dan ente tahu ar, dia benar-benar gila dan bajingan arÔÇØ

ÔÇ£kok bisaÔÇØ

ÔÇ£ya bisa lah ar, dia main sama cewek-ceweknya dan mama ane diiket di depan mereka. Apa ndak gila ituÔÇØ (benar-benar gila nico)

ÔÇ£be be beneran itu kang?ÔÇØ

ÔÇ£beneran, makanya sekarang ane sama mama ane, honey moon bro ha ha haÔÇØ (Dasar ini orang ndak ada sedihnya atau apa gitu)

ÔÇ£honey moon?ÔÇØ

ÔÇ£Ya kan ane dah pernah cerita ar, yang jelas sekarang ane dah ndak mau tahu urusan tuh bajingan. Kalau mati pun sukurin ha ha ha haÔÇØ (jadi tenang dengarnya, kalau saja suatu saat nanti aku harus melakukan hal yang terjadi pada tukang pada ayah rahman)

ÔÇ£hati-hati lho kangÔÇØ

ÔÇ£Tenang, ndak ada yang tahu keberadaan kita ar. Oia masalah kuliah, ane sudah hampir skripsi arÔÇØ

ÔÇ£WEW cepet banget kangÔÇØ

ÔÇ£Biasa… ane jatah tuh dosen eh ketagihan jadinya ya aku gampang lulus ar ha ha haÔÇØ (Sialan nih orang ndak ada matinya tuh kontol)

ÔÇ£Sialan kamu kangÔÇØ

ÔÇ£Ha ha ha ha…. sudah dulu ar, nanti kalau suasana sudah reda ane kabari keberadaankuÔÇØ

ÔÇ£okay kangÔÇØ

Tepuk jidat dah. Benar-benar orang tanpa beban hidup. Kumasukan telepon ke dalam saku jaketku.
Sejenak aku berpikir mengenai sepak terjang rahman yang notabene lebih dulu ketimbang aku. Tapi dilihat dari manapun dia tidak pernah terlihat mengalami kegalauan, kecuali ketika putus dengan ajeng dan pertama kali dengan ibunya. Selepas kedua kejadian itu eh malah dia dapet keberuntungan terus. Rahman juga sudah tahu mengenai kelakuan buruk ayahnya, ya itu baguslah kalau saja nanti akan terjadi sesuatu pada ayahnya aku tidak perlu sungkan lagi.

ÔÇ£Mbok, nasinysa satuÔÇØ ucapku kepada ibu penjaga warung, biasa kalau manggil seenaknya saja aku. Kadang mbok, mak, ibu dan lain sebagainya

ÔÇ£Pakai lauk ndak? Apa Cuma nasi putih le (nak)ÔÇØ balas simbok

ÔÇ£Ya pakailah, masa putihan emang lagi puasaÔÇØ candaku

ÔÇ£Ya mungkin saja nasi lauk piringÔÇØ canda ibu warung

ÔÇ£emang kuda lumping, cepetan mak dah laperÔÇØ ucapku, langsung ibu penjaga warung mengambilkan aku makanan

ÔÇ£lha temen kamu yang arab itu kok ndak pernah kelihatanÔÇØ ucap ibu warung

ÔÇ£indehoi makÔÇØ balasku

ÔÇ£dolanan (mainan) apa itu?ÔÇØ ucap ibu warung

ÔÇ£yaelah masa indehoi ndak tahu makÔÇØ ucapku

ÔÇ£indehoi itu ssst ssst ssst sstÔÇØ bisik anak perempuannya yang membantu jualan ibu warung, aku hanya cengengesan

ÔÇ£LHO LHO LHO dah nikah itu anak?ÔÇØ tanya ibu warung

ÔÇ£belumÔÇØ ucapkku

ÔÇ£Lho gimana to kok sudah gituan, ndak boleh to yaÔÇØ balas ibu warung yang berjalan megantar makanan ke arahku

ÔÇ£namanya juga anak muda makÔÇØ balas anak ibu warung

ÔÇ£anak jaman sekarang ck ck ck ckÔÇØ ucap ibu warung geleng-geleng, aku hanya senyum meringis saja

ÔÇ£lha minumnya mana mak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tuh kobokan (air bekas cuci)ÔÇØ balasnya sambil lalu

ÔÇ£Emangnya sini buto (monster)ÔÇØ

ÔÇ£es teh mbakÔÇØ ucapku kepada anak ibu warung

Selang beberapa saat minuman pun datang. Sedikit aku meminumnya dan kemudian mulai makan. Dengan sangat lahap aku memakan makananku.

ÔÇ£Kalau makan pelan-pelan arÔÇØ ucap seorang wanita di belakangku, aku menoleh ke arahnya dan kutikuti gerakannya hingga dia duduk didepanku

ÔÇ£Eh… mmmslamat pagi bu….mmmmÔÇØ ucapku yang kemudian menundukan kepalaku. Tak ada kata-kata keluar dari mulut kami berdua, dia hanya memandangku memperhatikan aku ketika makan. Aku sama sekali tak berani memandangnya. Setelah selesai makan…

ÔÇ£Bagaimana kabar kamu?ÔÇØucapnya, aku angkat wajahku dan memandangnya. Kulihat wajah wanita ini sekarang menjadi sangat datar kepadaku, tak ada lagi wajah sayu ataupun sendu

ÔÇ£baik-baik saja bu, bagaimana kabar bu dian?ÔÇØ ucapku mencoba tersenyum walau kemudian menunduk lagi

ÔÇ£baikÔÇØ balasnya, biasa dan datar

ÔÇ£Nda, makan sini saja enak kokÔÇØ ucapnya memangggil seseorang

ÔÇ£Disini ya yan, okeyÔÇØ ucap lelaki itu yang kemudian masuk dan menghampiri kami berdua

ÔÇ£Kenalkan ini mahasiswaku, aryaÔÇØ ucap bu dian kepada lelaki itu

ÔÇ£AndaÔÇØ ucap lelaki itu, yang kemduian aku tahu namanya Anda

ÔÇ£AryaÔÇØ balasku, entah kenapa bathinku serasa sesak ketika melihat seorang laki-laki berkulit putih dan tinggi ini. rambutnya kaku dengan model potongan cepak.

ÔÇ£saya lanjutkan maka saya dulu buÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya silahkanÔÇØ

ÔÇ£Sini nda, duduk sebelahku tapi pesan dulu, aku ndak makanÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£okey yanÔÇØ ucap lelaki itu

Aku hanya mampu menunduk, kadang aku mencoba mencuri pandang ke arah bu dian. tapi dia sibuk dengan sematponnya. Tak ada percakapan antara kami berdua, tampak sepi ketika kami berhadapan. Anda, lelaki yang bersamanya tampaknya selalu tersenyum kepada bu dian. entah mengapa sekarang aku merasakan berada di posisi bu dian ketika aku mengacuhkannya. Rasanya seperti tertikam sangat dalam. Ah, masa bodohlah aku sudah putuskan untuk mundur. Makanan mereka pun datang, mereka tampak mengobrol dengan sangat akrba dihadapanku. Sialan, kenapa juga mereka duduk dihadapanku, mau aku hajar atau bagaimana itu laki. Hei! Kenapa aku cemburu? Terserah bu dian mau ngapain kan? Feel free arya… feel free….

Ciiiittt… klak… trap trap…

ÔÇ£Woi cat, tumben banget ke kampusÔÇØ ucap seorang yang menepuk bahuku, tak lain dia adalah wongso

ÔÇ£eh… mbak dian, pa kabar mbak? Pacarnya ya?ÔÇØ ucap wongso dengan tangan kiri tetap dibahuku dan tangan kanannya bersalaman dengan mereka berdua. Sambil berkenalan dengan anda.

ÔÇ£ni lagi makan siangÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Sial! Jawab bu jawab siapa dia? Pacar kamu atau buka?! Arghhhh!ÔÇØ bathinku membuat aku semakin tertunduk

ÔÇ£Hei goblok! Kamu itu sudah memutuskan untuk mundur, kenapa malah emosi!ÔÇØ bathinku yang lain memarahiku

ÔÇ£Cepet cat! Habiskan kalau perlu piringnya sekalian!ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£emang kuda lumpingÔÇØ jawabku judes

ÔÇ£kalau jawab biasa sajalah, ndak usah pake emosi cat ha ha ha haÔÇØ ucap wongso terbahak

ÔÇ£emang mau kemana?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£biasa, nongkrongÔÇØ balas wongso

ÔÇ£kok kamu tahu aku disiniÔÇØ ucapku

ÔÇ£bau kamu jarak satu kilo tercium apalagi bau kamu yang lagi emosi ha ha ha haÔÇØ canda wongso

Aku hanya diam saja, bu dian yang aku lirik tak sedikitpun tertarik dengan percakapanku dengan wongso. Dia nampak lebih asyik dengan teman barunya itu. Wongso yang semula mencandaiku kini lebih memilih diam dan menungguku. Segera aku selesaikan makan siangku ini dan membayar.

ÔÇ£Nah gitu habis makan langsung bayar ha ha haÔÇØ canda wongso

ÔÇ£Ayo dah ditungu ma koplakÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£iya.. iya…ÔÇØ balasku

ÔÇ£bu dian, pak anda, saya pammit duluÔÇØ ucapku kepada mereka berdua

ÔÇ£iya mas, hati-hatiÔÇØ ucap anda, bu dian tidak membalas kata-kataku

Aku kemudian melangkah menuju wongso. Kuletakan tangan kiriku di bahu wongso dan berjalan dibelakangnya. Sedikti canda kami berdua ketika menuju pintu keluar warung.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku menoleh ke belakang

ÔÇ£Hati-hati…ÔÇØ lanjutnya

Langsung Aku tersenyum dan mengangguk ke arahnya. Sedikit dia melirikku namun dialihkan pandangannya ke makanan dan ke Anda lagi. Aku dan wongso kemudian berboncengan untuk menuju ke tempat parkir mengambil motorku. Entah, kenapa kata-kata itu yang selalu aku tunggu. Hanya dua kata ÔÇ£hati-hatiÔÇØ dan itu sudah membuatku nyaman dalam melangkah, ada apa sebenarnya aku ini? apakah aku ingin membuatnya kembali lebih sakit dari biasanya? Atau masih adakah kesempatan untukku dan dia kembali bersama? Setibanya di tempat parkir, wongso malah tertawa ngakak.

ÔÇ£Ha ha ha ha ha kamu kelihatan cupu cat tadiÔÇØ ejek wongso di atas motornya tepat disampingku yang juga sudah naik di motorku

ÔÇ£woi bocah aneh! Ada apa to sebenernya? Katanya ngajak kumpulÔÇØ ucapku

ÔÇ£Siapa juga yang ngajak kumpul? Pakai nalar dong bro, ini masih siang anak-anak mana mungkin ada waktu longgar apalagi ini menjelang akhir tahunÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Lha maksud kamu tadi ngajak aku keluar cepat-cepat waktu makan mmmmÔÇØ ucapku terpotong ketika wongso menyumpalkan sebatang rokok ke mulutku

ÔÇ£aku tadi berangkat ke kampus, ke jurusan ngurus nilai, waktu pulang ditempat parkir ada motor kamu. Aku langsung punya piling kalau kamu pasti ke warung makan langgananmu. Aku terus kesana jalan kaki fyuuuhhhhhÔÇØ ucap wongso sambil menyemburkan asap dunhill-nya

ÔÇ£lha tadi kamu pakai motorÔÇØ ucapku sambil menyulut api rokokku

ÔÇ£Ya jelaslah, aku tadi pas sudah dekat lihat mbak dian masuk. Terus sedikit melongok ke dalam ada kamuÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Lha apa maksudnya kamu ngajak aku cepat-cepatÔÇØ ucapku

ÔÇ£yeee harusnya kamu berterima kasih sama aku, kalau kelamaan didalam bisa-bisa seisi warung kamu bakar, apalagi mbak dian bawa laki lain. Panas tuh hati kamu ha ha ha haÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Ah sialan kamu wongÔÇØ ucapku

ÔÇ£begini ar, aku ndak tahu posisi kalian berdua seperti apa tapi paling tidak ketika aku melihat sebentar ketika mbak dian sudah di dalam aku lihat kamu salah tingkah, makanya aku jemput kamuÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£eh bentar-bentar… dari tadi kamu manggil bu dian pakai sebutan mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Cemburu nih yeee. Ha ha ha…ÔÇØ

ÔÇ£dia sendiri kok nyuruh aku manggil mbak, waktu dia main ke warung, bahkan koplak sekarang kalau manggil juga pakai sebutan mbak kecuali kamu jadian sama dia, mungkin aku akan manggil namanya sajaÔÇØ ucap wongso santai

ÔÇ£ndak mungkin wong… dia dosenÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dulu aku juga berpikir sama dengan kamu arÔÇØ ucapnya

ÔÇ£maksud kamu?ÔÇØ ucapku melihat wongso menghidupkan mesin motornya yang sudah mati

ÔÇ£Aku dulu berpikir aku tidak mungkin menerobos api yang membakar rumahku untuk menyelamatkan ibuku. tapi ada laki-laki seumuranku yang tiba-tiba saja berlari masuk ke dalam rumahku itu dan membawa ibuku dengan susah payah…ÔÇØ ucap wongso yang memandangku tajam

ÔÇ£Fyuuuuuuuuuuuuh….ÔÇØ disemburkannya asap dunhill ke arahku

ÔÇ£itu beda wong….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sama saja cat, ketika aku berpikiran tidak mungkin ada orang lain yang berpikiran mungkin berarti semua itu mungkin untuk dilewati. Dan ketika kamu berpikiran bahwa itu mustahil dan orang lain berpikiran ada jalan, berarti ada jalan. Jangan terpaku pada pikiranmu, kotor itu bisa dibersihkan asalkan kamu mauÔÇØ

ÔÇ£Aku pulang dulu cat, Cuma satu pesankuÔÇØ ucap wongso, yang membuat aku hanya bisa melihatnya memundurkan motornya

ÔÇ£apa?ÔÇØ balasku

ÔÇ£JOMBLO JANGAN DIPELIHARA! Ha ha ha haÔÇØ teriak wongso yang kemudian meninggalkan aku

ÔÇ£KAKEKÔÇÖANE KOWE WONG!ÔÇØ balasku berteriak (kakekÔÇÖane merupakan makian dan sudah dijelaskan didepan kalau nubie juga bingung artinya apa)

Pandanganku mengikuti wongso pergi menjauhiku. Sejenak aku merenung di tempat parkir. Beginilah cinta deritanya tiada akhir. shit! IÔÇÖm not that pig. Sialan itu tipatkai kenapa juga kamu harus menderita karena dewi siapa itu ah lupa aku namanya. Aku bukan dia, dan aku pasti akan mendapatkan cintaku. Memang bukan dian, tapi pasti ada lagi yang lainnya. Masa bodohlah, segera aku ke rumah tante ratna untuk menjemput ibu. dalam perjalananku kerumah tante aku masih terbawa kata-kata wongso. Ketika seseorang berpikir mungkin dan kamu tidak, maka pasti ada kemungkinan

ÔÇ£bu, ayo pulangÔÇØ ucapku yang masuk ke rumah tante ratna dengan santainya tanpa mengetuk pintu dan langsung nyelonong masuk

ÔÇ£yee… enak saja ntar siapa yang nemenin tante?ÔÇØ ucap tante ratna yang lagi ngobrol dengan ibu

ÔÇ£kan ada om dan anak-anak manja iniÔÇØ ucapku sambil menunjuk ke anak-anak tante

ÔÇ£om keluar kota, ibumu aku pinjam, kamu dirumah sendirian sanaÔÇØ

ÔÇ£kan sudah biasa jomblo hi hi hiÔÇØ ucap tante ratna dengan menunjukan jari kelingking

ÔÇ£arhhh! Tante sukanya ngejek ahÔÇØ ucapku duduk di hadapan mereka

ÔÇ£Sudah… sudah… sayang, ibu sama tante dulu ya? kasihan ndak ada yang nemeninÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ya… ibu, lha terus aku dirumah sendirianÔÇØ ucapku manja

ÔÇ£hiiii masa udah gede tatut sendilianÔÇØ ucap adikku dari tante ratna yang datang dan dipangku tante ratna

ÔÇ£iya tuh sayang, udah gede takut sendirian padahal sudah biasa sendiri, kakakmu itu belum punya pacar sayangÔÇØ ucap tante ratna

ÔÇ£belalti ndak laku ya mahÔÇØ balas anak tante

ÔÇ£iya ndak laku, terus ndak ada yang mau sayang, kan kakak kamu itu manja setengah mati sama budhe hi hi hiÔÇØ ucap tante

ÔÇ£apaan sih tante! Iiiihhh….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah… sudah… kalian itu keponakan sama tante isinya bertengkar muluÔÇØ

ÔÇ£sayang, kalau kamu mau yang tidur sini saja bagaimana?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ndak bu, aku pulang, ntar aku jadi bahan bully tante jelek itu weeeeeeeeeeekÔÇØ ucapku sambil berlari ke belakang ibu

ÔÇ£awas kamu ar! Gini-gini sudah laku ndak jomblo kaya kamu! Lagian seumuran kamu tantemu ini sudah punya pacar weeeeeeeeekÔÇØ ucap tante lagi-lagi aku kalah

ÔÇ£iya siiiih tapi ada adegan sinetron tuh, he he heÔÇØ ucapku yang kemudian salim ke ibu dan lari keluar rumah tante

ÔÇ£Awas kamu ar kalau ketangkep tak jitak kamuÔÇØ ucap tante ratna marah, kemudian menurunkan anaknya dan mencoba mengejarku. Ya karena waktu tante pacaran dengan pacar pertamanya ada adegan sinetron dimana tante mau mencoba bunuh diri ketika putus walau akhirnya datang seorang pahlawan ya suaminya sekarang. Pacar keduanya sekaligus yang menikahinya.

ÔÇ£ndak bakal-ndak bakal weeeeeeeekÔÇØ ejekku yang kemudian menaiki revia dan melaju

ÔÇ£hati-hati sayangÔÇØ ucap ibu yang aku balas dengan tanganku mendadahinya

Aku segera memacu laju REVIA dengan semangat kuadrat pangkat tiga tanpa di akar. Kadang pikiranku kembali ke wanita berambut panjang tanpa senyuman hari ini. otakku berputar kenapa dia tidak tersenyum sedikitpun kepadaku, malah sekarang bertambah dingin. Inikah rasanya dicuekin? Inikah rasanya galau? Inikah rasanya Andilau (antara dilema dan galau)? Sialan kenapa juga aku mikirin dia, persetan dengan wanita itu. Apa aku itu tidak sadar kalau aku ini terlalu kotor untuk dia? Ayo ar, sadar ar… dia bidadari kamu hanya manusia biasa.

ÔÇ£Arya… sudah tenang , pasti ada jalan cobalah untuk memaafkan dirimu dan kembalilah ke dianÔÇØ bathin terangku berbicara

ÔÇ£Alah bro… ndak usah dipikirin bro, kalau emang dia ndak mau cari aja cewek lain, masih banyak bro yang bodinya lebih hot dari si judes ituÔÇØ bathin gelapku membalas

ÔÇ£DIAM KALIAN SEMUA! Dasar terang dan gelap, pergi! Ngapain baru ngomong sekarang! Kemana kalian kemarin-kemarin! Sudah biarkan kakak yang memutuskan!ÔÇØ ucap dedek arya

ÔÇ£Sialan! Ini kenapa bathin ada empat? Bathinku, bathin terang, bathin gelap dan dedek arya? biasanya di film-film juga Cuma dua doang. Hufttthhhh…..ÔÇØ bathinku

ÔÇ£KAN KAMU SENDIRI YANG NGEBUAT! DODOL!ÔÇØ ucap bathin terang, gelap dan dedearya bersamaan membentakku, membentak segala kebodohanku

ÔÇ£Iya… iya cerewet kalian bertiga!ÔÇØ bathinku

Ciiiiit…. sampailah aku di depan rumahku. Rumah yang penuh dengan kenangan indah, manis, pahit dan buruk. Aku harap setelahnya adalah kenangan yang indah. Segera aku masukan motorku ke dalam rumah, tak ada mobil ayah di dalam rumah. Aku masuk ke dalam rumah, dan duduk diruang TV. Merenaung sesaat, sebenarnya hanya merenung dan melamun saja. Tapi entah dari mana ingatan itu masuk, ingatan tentang kejadian di warung. Tentnang sikapnya yang datar kepadaku. Padahal sebelumnya dia… arghhh salahku juga menolak. Bodooooooh bodoh, kan kamu sudah memutuskan untuk mundur ar? Bodohlah… Iseng karena tidak ada kerjaan dan daripada pikiran sontoloyo itu masuk lagi, aku kemudian menelepon ayah.

ÔÇ£HaloÔÇØ (suara keras dan seperti membentak)

ÔÇ£Romo, arya romoÔÇØ

ÔÇ£iya sudah tahu, ada apa?ÔÇØ

ÔÇ£Romo dimana? kok ndak dirumah?ÔÇØ

ÔÇ£lagi ada urusan, kamu dirumah sama ibu kamu sajaÔÇØ

ÔÇ£ibu di tante ratna, romoÔÇØ

ÔÇ£ya sudah kamu dirumah, jaga rumah, romo pulang kapan-kapanÔÇØ

ÔÇ£iya romoÔÇØ

ÔÇ£kamu disuruh ibu kamu telepon romo?ÔÇØ (jeglek… padahal Cuma iseng saja)

ÔÇ£ya ndak romo, Cuma pengen telepon romo saja. Kalau romo ndak pulang arya kan ndak usah beli makan malam, karena tadi ibu nitipin uang buat beli makan malamÔÇØ

ÔÇ£ndak usah saja, uangnya buat kamu. Ada keperluan apa ibumu ke tantemu? Bahas liburan akhir tahun apa awal tahunÔÇØ (waduh jawab apa ya? Kenpa aku malah bingung sendiri)

ÔÇ£Awal tahu mungkin mo, yang jelas arya ndak tahu. Memangnya mau liburan ya mo? Enak dong?ÔÇØ (jawabku sekenanya)

ÔÇ£biasanya ya mereka liburan, ya sudah jaga rumahÔÇØ

ÔÇ£Ampuuun tuan ampuuun saya tidak tahu….ÔÇØ (suara pelan dari telepon romo, membuat aku sedikit terkejut)

ÔÇ£ya romoÔÇØ tuuuuuuuuuuuuut

Siapa? Siapa tadi yang memohon ampun? Kenapa suara seorang lelaki ada di dalam telepon romo siapa dia sebenarnya? Pikiranku semakin berkecamuk dengan berbagai pemikiran yang menjurus pada aksi romo berikutnya. Tapi siapa? Kenapa ada orang yang harus hancur lagi? Aku melangkah ke kamar dengan pikiran yang masih amburadul. Sejenak aku menenangkan pikiranku, merebahkan diriku di atas kasur empuk yang nyaman.

I love you… i love you… through the fire and the hell, thereÔÇÖs something i canÔÇÖt stop. I love you (saigon kick). Ringtone HP. Rani

ÔÇ£Halo adikku yang manjaÔÇØ

ÔÇ£kakak iiih… masa manjaÔÇØ

ÔÇ£iya… iya ada apa?ÔÇØ

ÔÇ£Kak… eri kan…ÔÇØ

ÔÇ£Eri? Oh ya ya… ada apa? Gimana kabarnya?ÔÇØ

ÔÇ£Eri kak hiks…ÔÇØ

ÔÇ£Ran, ada apa?ÔÇØ (wajah kebingungan seperti kehilangan korek api dengan posisi punya rokok)

ÔÇ£Tadi….ÔÇØ

——-

Sudut pandang Rani yang menelepon eri

Sudah lama aku tidak kontak dengan eri, temanku sewaktu KKN dan juga temanku bersama walaupun kita beda jurusan dan fakultas. aku ingin sekali meneleponnya tapi aku sedang bersembunyi takut akan ketahuan, akhirnya aku menyampaikan niatku kepada mamah baruku, tante asih. Dan tante menyarankan aku untuk meneleponnya dengan nomor baru, tante kemudian memebelikan aku nomor baru dan aku menelepon eri.

ÔÇ£HaloÔÇØ

ÔÇ£Halo er…ÔÇØ

ÔÇ£Siapa ya?ÔÇØ

ÔÇ£Masa kamu lupa sama suaraku?ÔÇØ

ÔÇ£Eh kamu…ÔÇØ

ÔÇ£Ssssttt… jangan sebut namaku, kamu ini dimana?ÔÇØ

ÔÇ£Eh iya.. ini aku dirumahÔÇØ

ÔÇ£sama siapa?ÔÇØ

ÔÇ£SendirianÔÇØ

ÔÇ£bajingan itu tidak dirumah kan?ÔÇØ

ÔÇ£Tidak, memangnya ada apa?ÔÇØ

ÔÇ£kamu pasti sudah tahu erÔÇØ

ÔÇ£Iya, aku sudah tahu kemarin ayahku juga marah-marah sendiri. kamu kemana sajaÔÇØ

ÔÇ£Aku lagi sembunyi, aku aman sekarang erÔÇØ

ÔÇ£Syukurlah kalau begitu, seandainya saja aku bisa seperti kamuÔÇØ

ÔÇ£Er, kamu tenang saja aku akan bilang sama kakek kita di KKN untuk menyelematkan kamuÔÇØ

ÔÇ£Eh… Kakek??ÔÇØ

ÔÇ£masa kamu lupa, kakek kita di KKN yang teriak-teriak waktu ada bapak-bapak minta tolong itu lho, ingat kan? Ingat jangan sebut namaÔÇØ

“oh ya ya aku ingatÔÇØ

ÔÇ£bagaimana bisa dia…ÔÇØ

ÔÇ£Aku ketemu sama dia er, dan dia juga sama seperti kita, anak dari seorang komplotan bajingan ituÔÇØ

ÔÇ£ternyata benar dugaanku, dia adalah orang yang baik. Dan dia menyelematkan kamu. Bagaimana ibu kamu?ÔÇØ

ÔÇ£Ibuku keadaannya membaik. Er, kamu tenang saja aku akan bilang sama kak arya untuk menyelamatkanmu, dia pasti mauÔÇØ

ÔÇ£Jangan, berbahaya. Dan sudah terlambat, aku sudah tidak bisa keluar rumah lagi. Setelah kejadian yang menimpa ayahmuÔÇØ

ÔÇ£Maksud kamu?ÔÇØ

ÔÇ£Aku dikurung di sebuah rumah yang aku tidak tahu keberadaanya, dijaga oleh body guard dan hanya menanti hari eksekusi. Kemungkinan setelah tahun baru besok atau tepatnya seperti yang kita tahu sebelumnyaÔÇØ

ÔÇ£tidak, pokoknya kak arya pasti bisa selamatkan kamuÔÇØ

ÔÇ£say, sudah kamu jangan bilang sama kakek. Ini terlalu berbahaya, mendengarmu selamat dan tidak jadi dijadikan mainan oleh para bajingan ini aku sudah cukup senang. Kamu disana baik-baik saja ya sayang. Aku akan pulang kerumah setelah tahun baru besok, kata bajingan itu aku akan dibawa kerumah kembali setelah mereka mengadakan pertemuanÔÇØ

ÔÇ£Tidak er hiks pokoknya kamu harus tetap bersamaku hiksÔÇØ

ÔÇ£sayaaaang cup jangan nangis, mungkin tepat di hari eksekusi itu aku akan mengakhiri hidupku dihadapannyaÔÇØ

ÔÇ£tidak, janganÔÇØ

ÔÇ£Sayang sudah ada yang masuk kerumah, jaga diri baik-baik ya sayangÔÇØ tuuuuuuuuuuuuut

ÔÇ£Er… er… er…. hiks hiks hiksÔÇØ

——
ÔÇ£ran, berarti eri juga?ÔÇØ

ÔÇ£iya kak, eri anak orang yang disebut sebagai aspal. Dan dia juga akan dijadikan budak seks seperti yang pernah aku ceritakan. Hari eksekusi adalah hari dimana aku dan eri akan menjadi mainan mereka. Maafin rani kak baru ceritaÔÇØ

ÔÇ£sudah… sudah tenang, kamu tahu kapan hari eksekusi itu?ÔÇØ

ÔÇ£tidak tahu kak, yang aku tahu waktu itu ayahku hanya mengatakan bulan keduaÔÇØ

ÔÇ£hmmm… okay, kita masih punya waktu. Kamu nanti telepon eri lagi. Suruh dia simpan nomor kamu yang baru, dan suruh dia hapus semua memori pesan setelahnya, okay? Nanti nomor kamu aku mintaÔÇØ

ÔÇ£iya kak makasih kakÔÇØ

ÔÇ£dan satu lagi, katakan pada dia untuk bersabar. Beri kabar kepadaku jika nanti dia sudah berada dirumahnyaÔÇØ

ÔÇ£Iya kakÔÇØ

ÔÇ£dan satu lagi, adikku yang manja jangan menangis lagi okay?ÔÇØ

ÔÇ£iya kakakkuuuuu terima kasihÔÇØ

ÔÇ£Sudah, kamu istirahat dulu ya adikkuÔÇØ

ÔÇ£ya kakÔÇØ

Seetlahnya aku menutup telepon, aku kemudian langsung bergerak menuju ke komputer. Kubuka email dari om nico. Dan coba aku pelajari emailnya. Ya benar, akan ada pertemuan besok pada malam tahun baru. Di email aku telah membaca sebuah percakapan layaknya chat, dimana ayah menyuruh om nico agar mempersiapkan diri. Ya sebentar lagi, aku harus ke tempat itu. Ke tempat pertemuan itu mencari informasi tambahan mengenai pertemuan dihari kedua. Aku kemudian bersandar dan memjamkan mata memikirkan untuk besok ketika malam pergantian tahun. Tanpa aku sadari, pikiranku kembali ke arah kalung yang berada di dompetku. Ku ambil dan ku mainkan ditanganku. Kulihat dan kembali aku mengamatinya.

ÔÇ£Kenapa aku masih menyimpanmu jika memang sudah tidak ada tempat lagi untuk menyimpanmuÔÇØ ucapku kepada kalung monel dengan gantungan kalung berupa cincin. Aku masukan kembali ke dalam saku di dompetku. Sebentar aku menghelas nafas, mengingat semua kejadian yag telah terjadi hampir 1,5 tahun ini.

Wooo ooo weÔÇÖll have way there… woo ooo living on a prayer (Bon Jovi). Ringtone HP. Mbak erlina.

ÔÇ£Halo mbakÔÇØ

ÔÇ£Ar, kamu yang melakukannya? Aku sudah melihat di berita, dan identitas orang yang terbakar didalam mobil itu adalah salah satu dari merekaÔÇØ

ÔÇ£yaelah… bukannya nanya kabar adiknya bagaimana, asal nyrocos sajaÔÇØ

ÔÇ£Iya adikku bagaimana kabarnya? Mau ngentot mbak lagi tidak?ÔÇØ

ÔÇ£iiiih mbak segitunya deh sama akuÔÇØ

ÔÇ£lha harusnya bagaimana hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£he he he…ÔÇØ

ÔÇ£benar kamu?ÔÇØ

ÔÇ£HeÔÇÖem mbak, kok mbak tahu identitas dari yang terbakar?ÔÇØ

ÔÇ£adikku tambah ganteng deh hi hi hi, mbak tahu sewaktu mayatnya di bawa kerumah sakit untuk di lakukan identifikasi, oia kalau mau ngentot sini sayangku muachÔÇØ

ÔÇ£yaelah, ini mbak diulang lagiÔÇØ

ÔÇ£iya iya maaf kan Cuma bercandaÔÇØ

ÔÇ£yah kok bercanda mbakÔÇØ

ÔÇ£katanya suruh serius, pengen nih?ÔÇØ

ÔÇ£he he he ndak mbak lagi pusingÔÇØ

ÔÇ£kenapa? oia kenapa kamu ndak cerita ke mbak?ÔÇØ

ÔÇ£begini mbak, tukang adalah ayah angkat dari teman KKN-ku dan setalah aku tahu mengenai semuanya, aku dan koplak kemudian menyusun rencana. Akhirnya itulah yang terjadiÔÇØ

ÔÇ£anak angkat? Terus kenapa kamu menolongnya?ÔÇØ

ÔÇ£begini mbak….ÔÇØ (aku kemudan menceritakan secara detail ke mbak erlina dan juga eri)

ÔÇ£Syukurlah salah satu dari mereka bisa kamu selamatkan, kalau bisa eri juga ya adikku sayang… jangan sampai ada yang menderita lagi karena mereka, mbak ndak habis pikir ternyata lebih banyak yang menderita. Tapi mbak ndak akan memaksa kamu untuk melakukannya karena ini terlalu berbahaya untuk kamu arÔÇØ

ÔÇ£tidak mbak, masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan, menyelamatkan eri dan beberapa orang lagiÔÇØ (aku tidak menyebutkan mbak ara di dalam pembicaraan kami)

ÔÇ£mbak akan selalu berdoa untuk keselamatan kamu adikkuÔÇØ

ÔÇ£terima kasih mbakÔÇØ

ÔÇ£oia kalau pengen kesini ya, mbak juga kangen nih hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£kalau lagi serius gini jangan ditawari mbak, ntar keluarnya cepet he he heÔÇØ

ÔÇ£letoy tuhÔÇØ

ÔÇ£enak saja letoyÔÇØ

ÔÇ£mana buktinya?ÔÇØ

ÔÇ£awas kalau ketemu lagiÔÇØ

ÔÇ£hi hi hi dah adikku dan ksatriakuÔÇØ

ÔÇ£iya mbakkuÔÇØ tuuuuut….

Setelah telepon dari mbak erlina, rasa penat merasuk dalam pikiranku. Ada eri dan mbak ara, eri yang pertama kali harus aku amankan terlebih dahulu. Mbak ara, entahlah apakah aku akan menepati janjiku kepadanya. Jika aku teringat akan percobaan pemerkosaan terhadap Ibu aku jadi tidak mampu untuk melupakannya. Dan rasa marah terus menggelayutiku ketika aku mengingat wajahnya, wajah si buku. Mataku kemudian terpejam dan terlelap dalam tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*