Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 36

Wild Love 36

Aku belari dengan motor 250 CC dengan seorang wanita bersamaku memeluk tubuhku. Sedikit gugp dan ketakutan akan hadirnya mobil yang mencoba membunuhku. Jalanan gelap aku susuri, sebuah jalan di bukit bacusa (badak bercula satu). Dengan kecepatan yang stabil aku masih bisa bergerak depan mobil dibelakangku. Teriakan dan makian kepala orang yang keluar dari jendela mobilnya tak bisa aku dengar. Dari spion motorku ini aku bisa melihat bagaimana orang yang berada dibelakangku sangat ingin kematianku dan juga rani, wanita yang berada dibelakangku.

Jalan semakin menanjak, kutahu jalan ini pernah aku susuri ketika masih SMA bersama koplak. Jalana yang lama kelamaan akan menjadi sangat sempit, dan juga menyeramkan karena kanan-kirinya berupa belahan bukit. Ya, jalan yang akan aku susuri adalah jalan yang membelah bukit dimana kanan dan kirinya hampir seperti tembok yang menjulang tinggi. Motor 250 CC ini semakin aku pacu dengan cepat, hingga pada jalan yang lurus kuliha seorang laki-laki dengan motor bebeknya mengacungkan jempol ke arahku. Aku tak tahu siapa dia yang jelas dia tersenyum kepadaku. Hingga motorku melaju dengan cepat melewati lelaki itu.

Jalan menjadi semakin gelap tanpa ada penerengan jalan disini. Walau begitu aku masih hapal jalan-jalan disini. Tepat didepanku sebuah tikungan yang berbelok ke kanan yang sedikit tajam dengan jalan sedikit menanjak landai. Sesuai dengan rencana, Motorku sedikit aku lambatkan sehingga mobil dibelakangku akan berada di kananku. Dan ya, mobil itu mulai mencoba menyalipku dari kanan. Posisi mobil sudah berada di kanan belakangku, tampaknya mobil itu menginginkan aku hidup-hidup. DOR DOR DOR… suara tembakan dari mobil kulihat tembakan itu diarahkan ke atas.

ÔÇ£berhenti!ÔÇØ ucap tukang dari belakang mobil,

Tiiiiiiiiin tiiiiiiiiiiiiiiiin… bunyi klaskson dari mobil dibelakangku

ÔÇ£Arya, aku takut…ÔÇØ ucap rani yang terdengar pelan

ÔÇ£Peluk aku lebih erat, kita akan selamat!ÔÇØ teriakku

Tepat ketika tikungan ke kanan tajam, kupacu motorku. Dan…

THIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN THIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN….. CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT BRAAAAAAAAAAAKKKKK….

Sebuah truk dengan bemper baja yang monyonh kedepan melaju di samping kananku. Mobil yang berada dibelakangku kehilangan kendali. Tampak sebelum terjadi tabrakan, dari spion kulihat tukang mencoba membanting mobilnya ke kiri tapi terlambat. Truk dengan lampu yang tidak menyala ini, sudah terlebih dahulu menghantam dan mendorong dengan sangat keras mobil yag ditunggangi tukang. Hingga ringsek mobil itu tak berbentuk tergencet antara truk dan dinding jalan, aku kemudian mengerem motorku dan berputar balik. Tampak pak wan keluar dari truk tanpa plat nomor itu dan berjalan melewati mobil yang ringsek. Aku segera mengejarnya, dan kudekati pak wan. Seorang lelaki datang dengan motor bebeknya. Kami berada agak jauh dari mobil yang ringsek itu.

ÔÇ£Pak wan terima kasihÔÇØ ucapku, motor bebek dengan seorang lelaki itu mendekat

ÔÇ£Sudah kewajiban saya membantu den aryaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ar,aku pinjam korekmuÔÇØ ucap rani yan kemudian turun, mengalihkan perhatianku dan kedua orang lelaki dihadapanku

ÔÇ£Buat apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sudah… pinjami akuÔÇØ ucapnya kemudian ku beri korek apiku

Terlihat sebuah cairan mengalir mendekati tempat kami berada. Rani kemudian mendekati cairan itu dan menyalakan korek api. Seketika, api merambat melalui korek itu dan kemudian berlari kembali kearahku. Kami berempat kemudian bergerak menjauh dan DHUAAAAAAAAAAAARRRR…. sebuah kembang api besar membakar mobil dan truk itu,

ÔÇ£MATI KAMU BAJINGAAAAAAAAAAAAAAAAN!ÔÇØ Teriak Rani

ÔÇ£Sudah ran…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hiks hiks hiks… terima kasih ar, terima kasihÔÇØ ucapnya sambil memelukku di belakang motor

Masih bersama kobaran api….

ÔÇ£pak truknya?ÔÇØucapku kepada pak wan

ÔÇ£Sudah den wicak, tenang… saya bisa beli lagiÔÇØ ucap lelaki itu

ÔÇ£Eh… tapi…ÔÇØ ucapku sedikit kaget mendengar nama kakekku

ÔÇ£Sudah, ndak papa, truk itu belum setimpal dengan apa yang sudah dilakukan tuan wicak kepada saya. Apalagi saya membantu cucu dari orang yang berarti bagi saya, den arya, tapi saya lebih suka memanggil anda den wicakÔÇØ ucap lelaki itu

ÔÇ£perkenalkan den, ini anak saya, namanya WarnadiÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£oh iya, saya…ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£Den Wicak, pokoknya saya manggil aden dengan nama kakek adenÔÇØ ucap mas war

ÔÇ£terima kasih, saya sangat berterima kasihÔÇØ ucapku

ÔÇ£Jadi Mas War itu yang tadi dipinggir jalan itu ya?ÔÇØ ucapku kepada mas war anak dari pak wan

ÔÇ£Iya, tadi sore bapak nelpon aku mas, katanya akan ada pertarungan lumayan besar mas. Makanya aku nemenin bapak, sekalian ngikuti rencana temannya mas yang namanya siapa tadi pak?ÔÇØ ucap mas war kepada pak wan

ÔÇ£Wongso, anak pemilik warung makan itu lho denÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£owh… pantes dia tadi bilang ke aku pak, masÔÇØ ucapku kepada mereka berdua

Kami terlibat perbincangan sebentar, yang kemudian kami berpisah. Pak wan pulang dan sebelum pulang pak wan memasang sebuah tanda di tengah jalan yang berjarak kurang lebih 200 meter dari tabrakan ÔÇ£ADA KECELAKAAN HATI-HATIÔÇØ. Setelahnya kupacu motorku ke arah rumah sakit, dalam perjalanan dengan laju lambat.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucap rani

ÔÇ£Hmmm…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Terima kasihÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tenang cu… sekarang kamu bersembunyi dulu ya cu he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£dasar kakek-kakek ha ha ha hiks terima kasih pokoknyaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya… iya jangan nangis, toko dah pada tutup ndak ada yang jual tisuÔÇØ ucapku

ÔÇ£nyebelin kamu ituÔÇØ

ÔÇ£ar, mulai sekarang kamu adalah kakakkuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kakek sajalah biar kerenÔÇØ balasku

ÔÇ£Kak arya.. ehem… asyiik punya kakakÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tapi ingat, aku pengen punya adik ipar bernama antaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Siap kakakku pastiÔÇØ ucapnya semakin erat memelukku

Hingga aku masuk ke dalam jalur lingkar, dan menuju kearah rumah sakit. Tampak segerombolan koplak berada di samping jalan. Aku berhenti dan tersenyum kepada mereka, mereka pun membalasnya. Wongso dengan santai melempar sekaleng minuma bertuliskan pasir hijau. Aku turun dan duduk memutar bersama mereka, dalam keheningan dan senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba kami tertawa sangat keras bersama-sama.

ÔÇ£KOPLAAAAAAAAAK! HA HA HA HA HA…. !ÔÇØ teriak kami bersama-sama

ÔÇ£HA HA HA HA… MAU HERMAWAN KONTOLE GATEL, OMONGKE DIRA BEN DIGARUKE (tadi hermawan kontolnya gatal, bilangkan dira biar digarukin)ÔÇØ teriak karyo

ÔÇ£Ah matamu! Malah diemut susah ngko ha ha ha (Malah di emut, susah nanti) ÔÇØ balas hermawan

ÔÇ£Lha joko malah geblek, moso Hapeku yang dibuat untuk melempar, kampret joko tuhÔÇØ ucap hermawan

ÔÇ£masalahnya, kan sayang kalau hapeku, hapeku buat BBM-an sama pacarku. Lha kamu? Pacar sebelah rumah saja pakai hape wekekekekekekeke…ÔÇØ ucap joko membalas

ÔÇ£AH RAIMU (WAJAHMU) ha ha ha haÔÇØ ucap hermawan di iringi gelak tawa kami bersama

ÔÇ£Lha tugiyo malah jadi pecinta dangdut, sudah tahu situasi genting perang, malah muter evie tamalaÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Gila separo itu tugiyoÔÇØ dewo menimpali

ÔÇ£Parah lagi parjo, lagunya tina toon… mama bolo bolo… gila ndak tuh?ÔÇØ ucap karyo sambil gerak tubuhnya meledek parjo

ÔÇ£sama gilanya hahahaÔÇØ uca aris diiringi gelak tawa kami semua

ÔÇ£Woi, lha tadi hasilnya bagaimana?ÔÇØ ucapku kepada mereka semua

ÔÇ£NASI BAKAR HA HA HA HAÔÇØ ucap wongso, tugiyo, dewo dan aris yang kemudian mengacungkan jempol ke arahku

ÔÇ£PEPES BAKAR HA HA HA HAÔÇØ ucap karyo, joko, parjo, dan hermawan yang kemudian mereka bersama-sama serta masing-masing dari mereka mengacungkan dua jempol kearahku

ÔÇ£Lha kamu ar?ÔÇØ ucap wongso dan dewo bersamaan

ÔÇ£bandeng presto, tapi habis itu dibakarÔÇØ ucapku santai

HA HA HA HA HA… gelak tawa kami bersama…

ÔÇ£Kakak-kakakku…ÔÇØ ucap rani memecah keceriaan kami

ÔÇ£hiks hiks hiks terima kasih hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya yang berdiri sambil membungkuk ke arah kami bersembilan

ÔÇ£WOI NANGIS MANEH (LAGI) TAK PERKOSA LHOÔÇØ ucap parjo

ÔÇ£EH…ÔÇØ rani sedikit kaget

ÔÇ£Bercanda mbak ha ha ha, mana mungkin kita ngelakuin itu sama ih ih nya arya wekekekekekekÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£gundulmu, ini adikkuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Adik ketemu gede? Wah bahaya arya… ha ha ha haÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£Aku adiknya kak arya, terima kasih sekali lagi teman-teman kak AryaÔÇØ ucap rani kembali membungkuk kearah kami

ÔÇ£hei…ÔÇØ ucapku, serentak kami bersembilan mengacungkan jempol ke arah rani. Dia hanya mampu tersenyum dengan aliran air mata kebahagiaan

Hingga akhirnya kami menyudahi nongkrong sejenak ini karena telepon dari anton agar segera ke rumah sakit. Ku kabarkan kepadanya bahwa misi berhasil dan kami akan segera menuju ke rumah sakit. Laju pelan motor beriringan, diiringi dengan gelak tawa dan canda kami. kadang ada yang memukul dan kemudian lari dengan motornya. Adapula yang ÔÇ£ngegas-ngegasÔÇØ dengan tujuan manas-manasin temannya. Ya itulah koplak, aku sebenarnya juga tidak mengerti kenapa aku bisa bersama mereka. Tidak pernah mengerti kenapa mereka bisa menjadi temanku. Teman yang lebih akrab dari seorang sahabat, entah mungkin nama lainnya adalah keluarga keduaku. Tak ada marah ataupun benci sekalipun ada masalah diantara kami.

ÔÇ£Kak…ÔÇØ ucap rani dibelakangku

ÔÇ£Hmm…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£terima kasih..ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Sudahlah anggap saja ini sebagai hadiah persaudaraan kitaÔÇØ ucapku

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucap rani sambil memelukku sangat erat

Rani, seorang gadis yang tampak berbeda dengan yang aku kenal ketika KKN. Dia yang sebelumnya selalu diam selama KKN, tertutup akan semua hal yang ada dalam dirinya. Sekarang sungguh tampak berbeda, dengan posisi memelukku pun dia mendendangkan lagu entah lagu apa. Dia sudah berani mengejek temanku, mengatai mereka dengan berbaga macam hal yang sedikit parno. Tapi tanggapan dari teman-temanku tetaplah biasa, karena mereka tahu gadis ini sudah menjadi adikku dan pastinya adik mereka juga.

ÔÇ£Kak aris?!ÔÇØ teriak rani ketika motor yang ditunggangi aris berada disampingku

ÔÇ£Apa ran?ÔÇØ ucap aris

ÔÇ£Kakak ahli keris ya?ÔÇØ ucap rani

ÔÇ£Wah pasti arya yang kasih tahu ya, emang kenapa?ÔÇØ ucap aris

ÔÇ£iiih pasti itunya ikut bengkog-bengkong juga ya, ngeri deh… hiiiiiiiiiiiii weeeeeeeeeeeeeekÔÇØ ucap rani

ÔÇ£awas kamu ya tak jewer kamuÔÇØ ucap aris dengan gaya orang tua yang hendak memukul

ÔÇ£Lari kak arya, cepetan… ntar aku dipukulÔÇØ ucap rani

ÔÇ£iya iya…ÔÇØ ucapku yang langsung menancap gas menjauhi aris

Rani membuat kami semakin lengkap hari ini. candanya membuat kami terpingkal-pingkal, apalagi setelah aku memberitahukan sebutan sahabat-sahabatku. Aku masih dikejar-kejar oleh motor dewo dan aris, terlihat ugal-ugalan namun bahagia. Bukan hanya aris, semua kena, aku juga. Ejekan-ejekan rani terus saja keluar sampai kita berada dirumah sakit. Kami langsung berjalan menuju lantai dimana anton, udin, dan sudira sudah menunggu. Dan jelaslah ada tante asih disana. Kami semua mendapat keterangan bahwa yang mengoperasi ibunya rani adalah Om Heri, adik tante asih yang sudah aku ceritakan sebelumnya.

ÔÇ£berdiri, baris yang lurus!ÔÇØ bentak tante asih, membuat kami terkejut setengah mati. Tanpa bisa membantah, kami langsung berbaris lurus satu barisan

ÔÇ£Maju satu persatu!ÔÇØ bentak tante asih

ÔÇ£ini lagi, keluyuran malem-malemÔÇØ ucap tante asih sambil menjewer telinga anton. Anton mangaduh dan langsung berjalan kebelakang tante asih

ÔÇ£ini lagi, cowok bukan cewek bukan, mau cari pelangganÔÇØ ucap tante asih menjewer sudira

ÔÇ£Awwwwww… tante jangan keras-keras nanti dira tambah ndak cantik lhoÔÇØ ucap dira yang langsung terdiam ketika melihat mata tante asih melotot. Dia kemudian berjalan kebelakang anton

ÔÇ£kalian ndak usah majuÔÇØ ucap tante asih yang kemudian berjalan kesamping kami semua

ÔÇ£ini nakalÔÇØ

ÔÇ£ini jugaÔÇØ

ÔÇ£apalagi iniÔÇØ

ÔÇ£kamu jugaÔÇØ

ÔÇ£ini tambah nakal lagiÔÇØ

ÔÇ£dasar ndak bisa di aturÔÇØ

ÔÇ£nakal kok ndak ketulungan ergh!ÔÇØ

ÔÇ£kapan tobatnya!ÔÇØ

ÔÇ£tambah kamu lagiÔÇØ

ÔÇ£ini jugaÔÇØ ucap tante asih yang berjalan di samping kami semua, setiap kata-kata yang keluar dari tante asih disertai jeweran

ÔÇ£ganas!ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£Apa kamu bilang ar?ÔÇØ bentak tante asih

ÔÇ£ndak tan endak kokÔÇØ ucapku

ÔÇ£modaro (mati kamu)ÔÇØucap dewo

ÔÇ£sudah-sudah, pokoknya kalian kalau sedang mengerjakan sesuatu….ÔÇØ

ÔÇ£hati-hati, tante tidak ingin kehilangan kalianÔÇØ ucap tante yang membuat kami semua terharu

ÔÇ£tanteeeeeeee eeee eee eee ee…ÔÇØ ucap kami serempak

ÔÇ£apa?! Apa?!ÔÇØ bentak tante sambil mengepalkan tangan ketika kami hendak memeluknya

ÔÇ£hi hi hi hi ternyata kakak-kakakku takut sama tante ya hi hi hiÔÇØ ucap rani

ÔÇ£kamu juga?! Cewek keluar malam-malam, mau jadi apa?!ÔÇØ ucap tante asih sedikit membentak rani

ÔÇ£SUKURIIIIIIIIIIIIIIIINNNN!ÔÇØ ucap kami bersama-sama

ÔÇ£anu tan anu aaaaa… kak arya yang ngajak tan aaaaaaaaaaaaaaÔÇØ rengek rani, kami semua tertawa melihat tingkah rani

Kami kemudian berkumpul, koplak semua duduk di lantai sedangkan tante asih duduk bersama rani di bangku. Tante memperkenalkan diri kepada rani dan kemudian mengatakan kepada kami jika operasi ibunya rani berhasil. Om heri menyarankan agar ibu rani menjalani rawat jalan.

ÔÇ£tapi tan itu anu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sudah tenang saja, anton sudah mengatakan semuanya. Itulah sebabnya om heri mau datang malam ini untuk mengoperasi. Dia sudah pulang sebelum kalian datang, dan tadi anton juga sudah bercerita mengenai apa yang kalian lakukanÔÇØ

ÔÇ£Ingat kalian harus terus menyembunyikan identitas kalian. Jangan sampai ketahuan, dan kamu arya, hati-hati karena kamu paling dekat dengan mereka…ÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£Iya tan, hufffttttthh… tante sudah tahu semua mengenai dia?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ketika kamu SD, tante sudah tahu kelakuannya… Aku tidak ingin mbak diah mendertia lagiÔÇØ

ÔÇ£untuk tindakanmu malam ini dan seterusnya, tante akan mendukungmuÔÇØ ucap tante

ÔÇ£Paling dekat? Dekat dengan siapa?ÔÇØ tanya rani

ÔÇ£Kamu belum cerita siapa kamu ar?ÔÇØ ucap tante asih dan ku jawab menggeleng

ÔÇ£Ran… Yang tadi kamu bakar…ÔÇØ ucapku dengan senyuman

ÔÇ£eh… iya kak…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Satu komplotan dengan Ayahku, dan aku juga pasti akan menyingkirkan ayahku sendiri seperti kamuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh… tapi kakak tidak perlu melakukan hal yang rani lakukan tadiÔÇØ ucapnya tertunduk

ÔÇ£Mungkin kamu melihat langsung penderitaan Ibu kamu, tapi aku tidak aku mengetahuinya dari sudut pandangku sebagai seorang anak, dan sudah ada beberapa yang menderita karenanya, dan aku tidak ingin itu semua berlanjut. Mungkin aku pelru belajar untuk lebih tegas lagi seperti kamu tadiÔÇØ ucapku, rani tersenyum memandangku

ÔÇ£Wah masalah keluarga ini, kayaknya kita ndak perlu tahu… kita mau cari semoking areya, ada ndak tan?ÔÇØ ucap hermawan

ÔÇ£Di atap gedung, dan ingat puntungnya dibuang ke sampah kalau tidak, besok OB akan tante usulkan untuk liburÔÇØ ucap tante sambil menunjukan arah menuju ke atap gedung

ÔÇ£lha? Apa kaitanya dengan kita tan?ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£Kalian yang akan menggantikannyaÔÇØ ucap tante asih dengan pandangan yang sangat tajam

ÔÇ£Hiiiiii… takuuuuut…. nanti dibersihkan bro, dulu rumah satu komplek sekarang satu rumah sakit ngeriiii… ganasÔÇØ ucap udin

ÔÇ£Apa tadi yang kamu bilang?!ÔÇØ bentak tante asih

ÔÇ£lari bro…ÔÇØ ucap wongso yang langsung lari dan diikuti oleh teman koplak yang lain. Kini tinggal aku, tante dan rani

ÔÇ£Ran, nanti setelah ibu sedikit baikan. Akan tante bawa kerumah tante dan kamu juga tinggal bersama tante ya, masalah nanti kebutuhan kamu akan tante penuhi, okay?ÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£hiks terima kasih tanteee…. huuuuu… huuuuu… ndak nyangka akan bertemu keluarga sebaik ini hiks hiks hiksÔÇØ ucap rani sambil memeluk tante

ÔÇ£sudah, kamu katanya dah jadi adiknya arya, berarti kan keponakan tanteÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£Iya tuh, lagian si arman anak pertama tante yang masih SD kan pengen banget punya kakak perempuanÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem nanti kamu mainnya sama anak-anak tante ya ranÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucap rani yang memandang tante asih sembari mengusap air matanya

ÔÇ£Sudah, kamu sekarang boleh menemani Ibu kamu ya, tuh kasihan ibu kamu sendirian, tapi jangan diabangunin ya, biarkan ibu kamu istirahatÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£iya, tan…ÔÇØ ucap rani cipika-cipiki dan kemudian berdiri

ÔÇ£Makasih kakak ehem.. cupÔÇØ ucap rani yang berjalan dan mengecup keningku yang sedang duduk di lantai

ÔÇ£iya ngeng cengeng…ÔÇØ ucapku, rani hanya menoleh tersenyum dan tetap berjalan ke arah ruang kamar ibunya

Setelahnya hanya tinggal aku dan tante asih. Tante memandangku dengan tatapan lembutnya, aku hanya menaikan bahuku. Tante kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya agar aku mendekat. Aku pun mendekat kearahnya dan duduk dilantai membelakanginya, bersandar pada bangku tempat duduk tante asih. Aku duduk dengan kedua kakiku kutekuk ke atas.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya tan…ÔÇØ balasku

ÔÇ£hati-hati, dia terlalu berbahaya…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£mungkin tan, tapi aku sudah tahu kebusukannya dan karena kebusukannya juga aku lahirÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ibumu cerita semuanya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£HeÔÇÖem… dari awal hingga akhirÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kakekmu sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan Ibumu tapi karena itu janji kakek buyutmu ya kakekmu mau bagaimana lagi, walau kakekmu tahu itu hanya akal-akalan keluarga ayahmu. Karena kakek menghormati kakek buyut dari ayahmu dan kakek buyut dari ibumu, kakekmu mau. Tapi ternyata laki-laki itu busuk sekali, kakek tahu setelah beberapa tahun ayahmu mulai menjabatÔÇØ ucap tante

ÔÇ£aku sudah tahu, dan tante jangan salahkan kakek wicak dan nenek mahesa, mereka juga sama menderitanya karena ulah bajingan ituÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu kok tahu kakek dan nenek dari ayahmu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku mencarinya dan mereka menceritakan semua. Mereka ahhhh… setelah bercerita meninggal di pelukankuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh… jadi kamu sudah melakukan pencarian…ÔÇØ

ÔÇ£hati-hati, dan jaga keluarga ini ar… semua bergantung padamuÔÇØ ucap tante

ÔÇ£Eh… maksud tante?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kita semua sudah tahu akan gerak-gerik Ayahmu, lambat laun dia pasti akan menyingkirkan keluarga kita. Semua sebenarnya sudah berusaha untuk menjatuhkan ayahmu tapi akar dia terlalu kuat jika dihadapi dengan face to face. Harapan kami ya kamu, karena dia tidak pernah tahu kamuÔÇØ ucap tante

ÔÇ£hmmm… aku pasti bisa menghancurkannya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kami selalu akan mendoakan dan mendukungmu, jaga ibu kamu ya?…ÔÇØ ucap tante, aku hanya mengangguk pelan

Keheningan dari kami berdua…

ÔÇ£bagaimana dian?ÔÇØ ucap tante

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku hanya menunduk di sela-sela kakiku yang tertekuk

ÔÇ£hari minggu malam, sekitar pukul 22:00 dia duduk diruang tunggu pasien lanta bawah…ÔÇØucap tante

ÔÇ£Eh….ÔÇØ aku terkejut dan menoleh ke arahnya

——

Malam ini aku mendapat shift jaga malam. Tepat dihari minggu, aku selalu berjalan-jalan memutari rumah sakit untuk sekedar menghilangkan penat dan kantuk. Tepat diruang tunggu lantai bawah aku melihat seorang wanita yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dia Dian, dosen dari keponakanku. Dia duduk terus menatap ke arah mesin penjual makanan dan minuman. Aku berdiri disampingnya dengan jarak beberapa bangku kursi. Dia memandangku sebentar dan kemudian menoleh kembali ke arah mesin itu.

ÔÇ£bagaimana… ÔÇØ ucapnya memecah keheningan

ÔÇ£jika mesin itu rusak mbak, padahal ada seorang pembeli sangat menginginkannya?ÔÇØ ucap dian, aku sedikit terkejut ingin aku mendekat kearahnya namun aku tahan sebentar

ÔÇ£cari yang lain…ÔÇØ hanya itu yang terucap dari bibirku, dan sedikit aku meliriknya

ÔÇ£haruskan seperti itu?ÔÇØ ucapnya tanpa menoleh sedkitpun

ÔÇ£tidak juga, bisa juga kan dibeli dan diperbaikiÔÇØ ucapku

ÔÇ£jika kerusakannya sangat parah…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku tidak mengerti maksudmu yan, sangat tidak mengerti…ÔÇØ ucapku heran, kemudian kami diam. Dari pandangan matanya aku bisa melihat sesuatu yang dia lihat. Aku kemudian tersenyum sendiri.

ÔÇ£huffffthhh…ÔÇØ hela nafas panjang dian, yang kemudian dia berdiri memandangku

ÔÇ£terima kasihÔÇØ ucapnya sembari membungkukan badan dan meninggalkanku

ÔÇ£Hei….ÔÇØ ucapku memanggilnya….

—–
ÔÇ£aku kemudian mengatakan sesuatu kepadanya, dan maafkan tante jika akan ada hasil yang ya bisa buruk bisa juga baik, tapi tante tidak tahu selebihnya…ÔÇØ ucap tante

ÔÇ£Apakah dia menceritakan tentang aku?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya, hanya saja tidak semuanya ada yang dia sembunyikan dari cerita tentang kamuÔÇØ ucap tante

ÔÇ£Aku terlalu kotor untuknya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Makanya pakai deterjen, direndam dan dibersihkan…ÔÇØ ucap tante dengan canda

ÔÇ£Semua tergantung kalian berduaÔÇØ

ÔÇ£Sudah, tante mau menemani rani. Pagi nanti, jika ibu rani sudah siuman akan langsung tante bawa kerumah. Administrasinya sudah tante palsukan jadi kamu tenang saja, pihak rumah sakit sudah tante aturÔÇØ ucapnya sambil meninggalkan aku

ÔÇ£Atur?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kan ada om kamu, tante, dan pak dhe Anas sahabat pak dhemu, jadi everything will be fine, urus tuh cinta kamu hi hi hiÔÇØ ucapnya, aku hanya memandang tante asih berlalu

Aku menerawang ke atas kembali, setelah semua aku lalui hari ini nampaknya akan menjadi sangat rumit hubunganku dengan bu dian. masa bodohlah, seandainya tidak ada dia pun langit masih biru dan daunpun masih hijau kecuali yang sudah layu atau mati. Aku bangki dengan langkah yang malas ke arah atap gedung. Dalam langkah ingatanku kembali ke masa-masa dimana semua masih indah, masa-masa dimana semua masih lugu. Masa dimana aku bersama mereka kembali koplak, rasanya aku ingin sekali kembali ke masa SMA.

ÔÇ£Weh weh weh… surem banget wajahmu ar?ÔÇØ ucap udin

ÔÇ£Sini dira peluk biar ndak surem lagi?ÔÇØ ucap dira sambil membuka kedua tangannya

ÔÇ£O… lha kenthir (Gila), teman sendiri mau diembat juga?!ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£Hayah, sudah bro, yang surem itu juga siapaÔÇØ

ÔÇ£Rokok!ÔÇØ ucapku dengan gerak tangan meminta rokok.

Wongso dan anton yang kemudan berdiri dan melangkah menjauh dari rombongan melambaikan tangan mengajakku untuk mengobrol. Dia kemudian duduk di lantai atap kgedung. Aku menyusulnya, entah apa yang akan dia katakan kepadaku.

ÔÇ£Sini ar, aku mau bicara duluÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Ada apa?ÔÇØ ucapku sembari duduk di depan mereka berdua

ÔÇ£Bagaimana rani?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Dia akan tinggal bersama tante asih, dan aktifitas sebagai mahasiswinya untuk sementara di tinggalkan dulu. Lagian ini libur semester 7, besok semester 8, rani hanya tinggal bimbingan. Jadi tidak masalah jika dia tidak bimbingan terlebih dahulu, dia bisa bimbingan kalau situasinya sudah mulai reda dan tenang. Masalah registrasi kuliah di semester genap (8) akan diurus oleh tanteku, jadi sekarang rani dipingitÔÇØ ucapku

ÔÇ£baguslah kalau begitu…ÔÇØ

ÔÇ£Oia ar, bagaimana ayahmu?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Iya bagaimana dengan dia?ÔÇØ uca wongso

ÔÇ£Sementara ini, selama Ayahku dirumah tidak ada percakapakan atau pergerakan yang mencurigakan. Rumah baginya hanya terminal pemberhentian bus sementara, habis masuk rumah 1-2 jam kemudian keluar lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£Lha ibumu ndak papa ar?ÔÇØ Ucap wongso

ÔÇ£Ibu, begitu juga aku malah lebih bahagia ketika dia tidak ada dirumahÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ada informasi tambahan?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Tidak ada nton, mungkin kita menunggu reaksi mereka setelah kematian tukangÔÇØ ucapku

ÔÇ£benar, kita tunggu saja…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Ton…ÔÇØ ucapku, dia menoleh kearahku

ÔÇ£Jangan beritahukan ke teman-temanmu mengenai aksi kita, aku tidak ingin IN mengambil bagian dari kesenanganku yang berbahaya iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kesenanganmu? Kesenangan kita kaliÔÇØ ucap wongso dan anton bersamaan

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku terkejut dengan jawaban mereka, anton kemudian berdiri

ÔÇ£Tenang bro, selama masih ada koplak, biarkan koplak yang menanganinya. Untuk rencana, kita bisa mengaturnya, selama kita masih punya keberanian terutama berani mati. Well… koplak will handle itÔÇØ ucap anton sembari melangkah pergi menuju ke kerumunan koplak yang lain, aku hanya memandangnya dengan tersenyum kecil

ÔÇ£Cat…ÔÇØ ucap wongso, aku menoleh ke arahnya

ÔÇ£Kemarin dian ke warung, dia mengobrol denganku…ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku hanya tertunduk

ÔÇ£Sudahlah… aku sudah tidak ingin mendengarnya lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi dia mendengarkan aku tentang seorang lelaki yang bukan apa-apa sekarang menjadi apa-apa untuk sahabat-sahabatnyaÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Ah…. terserah kamu mau cerita apa wong, aku sudah tidak peduli lagiÔÇØ ucapku, sembari menyulut dunhill dan melepaskan asapnya ke arah langit

ÔÇ£Terserah kamu juga cat, mau mendengar atau tidak…ÔÇØ

ÔÇ£Dia hanya bertanya kepadaku, tentang seorang lelaki, tentang masa lalunya, dan kemudian aku bercerita mengenai 11 orang yang egois!ÔÇØ ucapnya dengan sedikit mengeraskan suaranya ketika mengatakan 11 orang egois

ÔÇ£Keras kepalaÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£sok jagoÔÇØ ucap karyo

ÔÇ£PemarahÔÇØ ucap udin

ÔÇ£suka menang sendiriÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Suka membullyÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£Suka menindasÔÇØ ucap joko

ÔÇ£Suka menghinaÔÇØ ucap parjo

ÔÇ£Suka memaksa ciiiinÔÇØ ucap dira

ÔÇ£dan tak mau menerima pendapat orang lainÔÇØ ucap aris, ucap mereka secara bergantian dan aku hanya menoleh kearah mereka

ÔÇ£tapi disatukan oleh satu orang, yang kemudian jumlah mereka menjadi 12 orang. sebenarnya ketika mereka menjadi satu belum ada namanya, hingga ketika ke-12 orang ini bersatu dan sedang berkumpul untuk sekedar nongkrong di nasi kucing. Tiba-tiba, sekelompok orang menamai diri mereka geng tato dengan jumlah lebih dari 20 orang, mengobrak-abrik nasi kucing tempat ke-12 orang itu nongkrong. Tapi dengan santai ke-12 orang itu menghajar mereka dan menjadikan mereka bahan banyolan di hadapan semua orang. hingga ada orang yag berteriak, ÔÇ£matur suwun geng koplakÔÇØ dan mulai saat itu, semua mengenal yang namanya geng koplakÔÇØ ucapnya aku hanya tersenyum kecil kepada wongso

ÔÇ£dan ketika itu aku menceritakan bagaimana satu orang yang menyatukan ke-11 orang lainnya itu menolong ibuku dari kebakaranÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£bahkan mengambil BPKB dan STNK serta motor kakeknya untuk membayar biaya rumah sakit adikkuÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Ada lho, yang ngambil perhiasan ibunya Cuma buat nglunasi utang bapakkuÔÇØ ucap joko

ÔÇ£Bahkan sampai berdarah-darah nolongin adik perempuanku yang hampir diperkosa sama geng kemarin soreÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£dan sialnya lelaki itu juga bantu nglunasi hutang ibuku di lintah darat, andai saja ndak dilunasi mungkin udah ndak punya rumah akuÔÇØ ucap karyo

ÔÇ£ada juga yang setiap hari ngurusin kambing-kambingku ketika aku nungguin ibuku dirumah sakit, eh ditambah lagi pas keluar dari rumah sakit dan mau bayar, sudah lunas semua biayanyaÔÇØ ucap aris

ÔÇ£Bahkan ada yang bantu modal ibu dan bapakku buat jualan, agar aku bisa nglanjutin sekolah dan ndak perlu kerjaÔÇØ ucap udin

ÔÇ£ada juga yan nolongin aku waktu aku dijebak cin sama mata keranjang, untung waktu itu ndak jadi mati cin, dibuang coba di tengah hutan, untung tuh ada yang nyariin aku setelah 2 hari aku ndak kelihatanÔÇØ ucap sudira

ÔÇ£Ada juga yang bayarin biaya operasi kakekku dan ayahku yang kecelakaan bersama waktu itu, ya walau akhirnya kakek meninggal tapi paling tidak aku masih bisa melihat ayahku sampai sekarangÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£Ada, waktu ruko ayahku dan ruko ayah hermawan terbakar ludes. Sudah ndak tahu mau kemana, ditambah lagi pakÔÇÖe sama mbokÔÇÖe semuanya ndak punya uang. Tapi tiba-tiba, selang satu minggu ruko itu sudah berdiri lagi di pasar besarÔÇØ ucap parjo

ÔÇ£ya, aneh kan wong terbakar ludes, selang satu minggu ndak pernah tak lihat lagi. Eh dikasih tahu orang pasar, kalau rukoku dan ruko parjo dah siap untuk jualan. Barang dagangannya saja sudah lengkap didalamÔÇØ ucap hermawan mengiyakan parjo

Mereka semua yang berkerumun memandangku dengan senyum. Aku hanya mampu tersenyum lebar setelah semua yang aku lakukan telah diketahui mereka semua. Ya, waktu masih SMA aku menyembunyikannya sebelum aku baru berkumpul dengan mereka, baru saja berkumpul dan belum mempunyai nama. Aku sudah menganggap mereka keluarga, karena mereka aku juga memiliki banyak teman. Kejadian itu semua sudah berlangsung sangat lama, dan ketika itu mereka belum tahu walau akhirnya mereka tahu.

ÔÇ£itu catatan masa lalu br…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£masa lalu dengan tinta emas bagi kami semuaÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Dia tidak hanya datang kepadaku, tapi ke mereka semua. Bertanya tentang laki-laki ituÔÇØ ucap wongs sambil berdiri

ÔÇ£Dan kemarin dia ngabisin satu plastik besar tisu dirumahku, belum dibayar lagi? He he he heÔÇØ ucap udin

ÔÇ£Hei… semua orang pernah melakukan hal yang salah, tapi apa salahnya jika dibenarkan. Dia memang tidak bercerita secara detail mengenai lelaki itu, tapi sebenarnya teman-temannya ada yang pernah melakukan itu. Tapi karena ada bidadari datang dalam hidup mereka, mereka berhenti karena tidak ingin membuat sakit bidadarinyaÔÇØ

ÔÇ£Ada yang berhenti mabok, ngedrugs, nyabu, ngesek-ngesek dan masih banyak lagi, semua mereka lakukan agar bidadari yang datang tidak pergi lagiÔÇØ lanjut wongso yang membungkuk dengan kedua telapak tangannya meremas lututnya. Wajahnya tepat didepan wajahku.

ÔÇ£jika kamu merasa bersalah, jangan terlalu merendahkan diri kamu. Rendah hati boleh tapi rendah diri jangan. Bersikaplah sewajarnya kamu…ÔÇØ ucap wongso meninggalkan aku dan berkumpul bersama mereka

Aku termenung dengan ucapan wongso, enta apa yang ada dipikiranku saat ini. kosong dan tak menentu. Dian, kenapa kamu datang lagi, apakah kamu benar-benar ingin tahu aku sebenarnya? Masa bodohlah, aku akan mencari permaisuriku yang sebenarnya jika itu bukan kamu.

ÔÇ£Woi! Kumpul sini napa, biar kaya manusiaÔÇØ ucap dewo dan karyo

Aku kemudian berdiri dan berjalan kearah mereka. Mereka tersenyum kepadku, ada yang mengacungkan jempol, jari tengah, jempol kecepit dan aku hanya bisa tersenyum memandang mereka. Tak ada pembicaraan mengenai apa yang terjadi malam ini, apa yang terjadi dengan dian. yang ada kami bercanda semalam suntuk hingga pagi menjelang.

Rembulan itu menjadi teman kami selama berkumpul
Rembulan yang sama ketika aku bersamamu
Namun apalah dayaku
Aku terlalu kotor untukmu
Maafkan aku wahai rembulan terang, saksi bisuku
Saksi bisu tentang kisah cinta yang gelap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*