Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 6

Ibuku Cintaku dan Dukaku 6

ÔÇ£Kemana perginya ya?ÔÇØ aku masih bertanya-tanya sambil terus melacak keberadaan celana dalamku itu di sekitar tempat tidur Ibuku. Namun tetap saja tak kutemukan.

ÔÇ£Ah! Capek! Pake baju dulu deh. Dari tadi nyari celana dalam sambil telanjang gini kayak orang gila aja.ÔÇØ

Aku kembali ke kamarku untuk berpakaian. Kubawa serta celana dan baju kotorku tadi ke kamarku. Kulemparkan begitu saja di dekat ranjang. Kubuka lemari pakaian. Kuambil sebuah kaos oblong dari tempat lipatan baju. Belum sempat kubuka lipatannya, aku mengurungkan niatku. Kuletakkan kembali dan kupilih sebuah kaos berkerah dengan tiga kancing agar mudah masuk ke bagian kepalaku. Lalu kuambil celana pendek berikut celana dalam. Sesaat kemudian ketiga benda itu sudah melekat di tubuhku.

Kemudian aku menuju ke tempat di mana cermin berada. Aku berencana menyisir rambutku. Namun sepertinya aku harus mengurungkan niatku itu karena hal itu tak mungkin dilakukan dengan keadaan perbanku sekarang ini. Perbanku masih menggulung di sekeliling kepalaku. Ada noda kemerahan di sebelah kanan perban yang menurutku merupakan percampuran antara obat merah dan darah dari lukaku.

Aku hanya bisa sedikit menyisir bagian-bagian rambut yang bebas dari perban. Selebihnya tetap terjepit di dalam perban atau menjulang ke atas. Kuletakkan sisirku dan kuamati wajahku sebentar. Kutolehkan kepalaku ke kanan, lalu kutolehkan ke kiri perlahan-lahan. Tidak ada rasa sakit yang berarti. Kucoba iseng dengan menyentuh dan sedikit menekan lukanya.

ÔÇ£Aww! Sakit juga!ÔÇØ keluhku.

ÔÇ£Ya iyalah sakit! Dapat lukanya aja kan baru semalam, masa paginya pengen sembuh total? Bego lu To!ÔÇØ repetku dalam hati. Aku jadi senyum-senyum sendiri melihat keisenganku yang benar-benar konyol.

Kuperhatikan lagi wajahku di depan cermin. Kupasang wajah layaknya model yang sedang menjalani pemotretan. Tersenyum, berkacak pinggang, tangan di kantong celana, tangan di dagu sambil terus cengar-cengir di segala posisi. Semua pose kucoba.

ÔÇ£Ah, masih ganteng kok walau jidat masih ditutupin perban.ÔÇØ Pikirku.

Hmm Aku baru sadar kalo aku seganteng ini. Kenapa dari dulu nggak kepikiran ya akan kegantenganku ini. Kalo begini aku bisa jadi artis sinetron nih. Khayalku masih dengan berpose berbagai macam gaya sambil senyum-senyum sendiri.

Ibu emang nggak salah ngomong waktu itu. Aku memang ganteng. Hihi kataku berbangga dalam hati sementara tatapanku masih tak lepas dari cermin.

Tiba-tiba terbetik sebuah kejanggalan di dalam pikiranku. ÔÇ£Eh? Ibu kok belum keluar dari kamar mandi? Perasaan tadi katanya cuma cuci muka deh.ÔÇØ

ÔÇ£Apa dia cuci muka di belakang rumah sambil mulai nyuci pakaian-pakaian keluarganya Bu Ratmi ya?ÔÇØ pikirku.

Ibu biasanya memang mencuci pakaian-pakaian keluarga Bu Ratmi setiap hari Senin dan Kamis. Dia biasanya menjemput pakaian-pakaian kotor keluarga Bu Ratmi yang hendak dicuci dari rumah mereka ke rumah kami. Alasan Ibu adalah karena apabila dia mencuci di rumahnya sendiri, dia bisa gampang beristirahat setiap dia selesai mencuci. Dan Bu Ratmi pun memakluminya. Keluarga Bu Ratmi secara rutin sudah menumpuk pakaian yang hendak dicuci setiap hari Minggu dan Rabu. Dan pakaian yang ditumpuk adalah seluruh pakaian bagian luar, bukan pakaian dalam. Hal itu kuketahui setiap melihat Ibu selesai mencuci. Tidak pernah ada pakaian dalam orang lain yang kutemukan di jemuran. Mungkin keluarga Bu Ratmi sedikit malu untuk hal yang satu itu.

Aku yang cukup penasaran akhirnya ke belakang untuk melihat keberadaan Ibu. Kubawa serta pakaian kotor yang tadi untuk kumasukkan sekalian ke ember tempat pakaian-pakaian kotor yang hendak dicuci. Ketika sampai di ruang belakang rumah yang kulihat adalah pintu belakang masih tertutup dan tidak ada suara siraman air ataupun suara mengucek kain, pertanda tidak ada kegiatan apapun yang sedang terjadi di belakang rumah. Yang kulihat malah pintu kamar mandi yang tertutup rapat yang menandakan ada seseorang di dalam sana.

ÔÇ£Pasti Ibu nih yang masih di dalam kamar mandi. Tapi dari tadi waktu aku masih di kamar kok nggak ada kedengaran suara air dari kamar mandi ya? Apa Ibu lagi berak ya?ÔÇØ tanyaku dalam hati.

Tapi di saat seperti ini selalu saja timbul niat iseng dan nakalku terhadap Ibuku sendiri. Aku memang sudah cukup lama ingin mengintip Ibuku mandi. Kamar mandi kami terbuka di bagian atasnya. Aku bisa saja melakukannya dengan bantuan kursi atau apapun itu. Tapi niat itu tak pernah kulakukan karena aku masih terlalu takut ketahuan dan hati nuraniku yang masih setia menahan pergerakan nafsuku. Tapi setelah menonton Ibu tadi malam dan melihat Ibu membantu mengeluarkan air maniku barusan membuat moralku semakin menipis dan hatiku semakin menuruti hawa nafsuku.

ÔÇ£Kalo pake mata masih takut, pake kuping aja kali ya.ÔÇØ Batinku.

Aku ingin sekali mengetahui kegiatan Ibuku di dalam kamar mandi. Dengan cukup berdebar aku kemudian mendekati pintu kamar mandi dengan langkah perlahan dan sangat berhati-hati. Setelah dekat di pintunya, kufokuskan pendengaranku.

Emhh Engghh Suara itu yang pertama kali kudengar sayup-sayup dari dalam. Jenis suara semacam itu sudah sangat familiar bagiku sekarang. Suara yang benar-benar membuatku penasaran.

ÔÇ£Ibu lagi ngapain ya di dalam? Apa lagi ngocokin memeknya kayak tadi malam? Atau mungkin Ibu lagi berak? Dari suaranya sih mirip suara orang lagi ngeden juga.ÔÇØ Pikirku mencoba menyimpulkan beberapa kemungkinan. Sesaat kemudian diam dan hening yang kudengar. Tak ada lagi suara yang tertangkap indra pendengaranku.

ÔÇ£Lho? Kok nggak ada suara lagi? Apa Ibu udah mau keluar dari kamar mandi? Waduh! Gawat nih! Mesti menyingkir nih dari depan pintu.ÔÇØ

Kuambil sedikit langkah ke belakang. Kemudian berdiri mematung begitu saja dengan jantung berdebar. Aku benar-benar penasaran dan nafsuku sepertinya bangkit kembali. Entah karena penasaran atau nafsuku, aku lalu iseng bertanya langsung kepada Ibu dari luar kamar mandi dengan sedikit berteriak.

ÔÇ£Bu! Ibu masih di kamar mandi!? Ibu lagi ngapain!?ÔÇØ tanyaku dengan berani.

Oh! Ngg Ini To Ibu lagi berak Nak! Perut Ibu agak mules tadi. Balas Ibu dengan suara agak serak setengah berteriak. Saat itu juga ada suara siraman air ke dalam WC dan suara kecipak air seperti orang sedang cebok. Beberapa detik kemudian kunci grendel berbunyi dan pintu kamar mandi terbuka. Tampak Ibu keluar dan matanya langsung mengarah padaku yang sedang berdiri tak jauh dari depan pintu kamar mandi.

Ibu tersenyum dan berkata, ÔÇ£Tito mau masuk? Masuk aja. Ibu udah selesai kok.ÔÇØ

ÔÇ£Eh, iya Bu. Tito mau kencing.ÔÇØ Jawabku asal-asalan dan membalas senyumannya.

ÔÇ£Itu baju sama celana kotor Tito yang tadi ya? Sini biar Ibu masukin ke ember sekalian.ÔÇØ Ucap Ibu sambil mengulurkan tangan memintanya. Kuberikan pakaian kotorku itu begitu saja.

Tapi saat itu mataku malah tertuju ke benda di tangan kiri Ibu yang di bawanya keluar dari kamar mandi barusan. Dia memegang handuk kecil dan sesuatu yang sudah sangat tidak asing bagiku.

Aku yang agak kaget spontan bertanya, ÔÇ£Lho! Itu kan celana dalam kotor Tito? Kok bisa ada sama Ibu?ÔÇØ

Eh! Oh, ngg Itu Tadi Ibu emang mau Ngg Bawa baju sama celana Tito juga Sekalian buat direndam. Tapi tadi nggak sempat gara-gara mau cuci muka yang udah belepotan Terus Jadinya cuma celana dalam Tito aja yang kebawa ke belakang. Terus ya Gitu. Aduh, Ibu kok jadi lelet gini ya? kata Ibu. Dia terdengar gugup dan bingung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Oh Jawabku seperti orang kehabisan kata-kata. Aku juga tak kalah bingung dengan apa yang dikatakannya.

Ibu kemudian berlalu begitu saja ke belakang rumah menuju ke tempat ember cucian. Aku pun masuk ke dalam kamar mandi untuk berpura-pura buang air kecil. Di dalam kamar mandi aku berdiri begitu saja dan berdiam diri mencoba memikirkan alasan Ibu tadi. Tapi tetap saja aku tak mengerti.

ÔÇ£Buat apa Ibu bawa-bawa celana dalamku ke kamar mandi ya?ÔÇØ tanyaku dalam hati.

Apa buat Hihihi Ah! Nggak boleh lu mikirin yang begituan To. Nggak baik! cerocosku dalam hati.

Sejak dari tadi malam pikiranku akan Ibu memang semakin kotor saja. Bagaimana tidak? Tadi malam saja Ibu telanjang dan masturbasi habis-habisan di depan mataku. Terus tadi pagi, Ibu malah membantuku mengocok kemaluanku hingga air maniku menyemprot ke seluruh wajah cantiknya. Dengan semua bayang-bayang erotis itu, bagaimana bisa aku berpaling dari pikiran yang tidak-tidak terhadapnya? Walau bagaimanapun juga aku ini laki-laki normal. Apalagi aku ini sudah memasuki masa remaja seperti yang dikatakan Ibu. Jadi wajar saja jika aku berpikiran layaknya orang dewasa.

Tapi apapun alasannya dia tetaplah Ibuku juga yang harus aku hormati. Dia sudah berjuang sebatang kara selama ini untuk menghidupiku. Aku memang lelaki normal, tapi aku tetaplah anaknya. Aku harus berusaha menekan pikiran-pikiran semacam itu agar tidak melewati batas. Mungkin saja Ibu Cuma ÔÇÿkelepasanÔÇÖ ketika masturbasi tadi malam. Dan mungkin saja tadi pagi dia hanya mengajariku saja dalam hal onani supaya aku bisa meredam nafsuku sendiri suatu saat. Aku harus berpikir positif. Aku tak boleh membiarkan nafsu ini menguasaiku dan membuatku jadi anak yang durhaka.

ÔÇ£To! Udah selesai pipisnya? Ibu mau ambil dingklik nih yang ketinggalan di dalam!ÔÇØ teriak Ibu dari luar kamar mandi.

ÔÇ£Eh, iya Bu! Udah kok!ÔÇØ balasku teriak dari dalam kamar mandi.

Aku sedikit dikejutkan oleh suara Ibu. Akupun buru-buru menyiramkan air ke WC seolah-olah baru saja buang air kecil. Tapi di tengah kegiatan pura-puraku itu aku sempat bertanya-tanya juga tentang keberadaan dingklik ini.

Kusiram WC itu sambil melirik dingklik kayu kecil yang ada di dekat bak mandi. ÔÇ£Perasaan tadi waktu aku mandi sama Ibu tuh dingklik nggak ada di sini deh.ÔÇØ

Tapi tanpa berpikir dan mengingat terlalu banyak aku bergegas menyelesaikan kepura-puraanku dan kemudian membawa dingklik itu keluar. Ibu rupanya sudah menunggu tepat di depan pintu kamar mandi.

ÔÇ£Nih Bu dingkliknya.ÔÇØ Ucapku sembari menyerahkan dingklik itu padanya. Dia langsung mengambilnya tanpa berbicara apapun lagi. Tapi dari matanya seperti sedang memikirkan sesuatu.

ÔÇ£Ibu udah mau nyuci?ÔÇØ sambungku lagi.

ÔÇ£Eh, nggak kok. Ibu mau ngerendam dulu. Satu jam lagi baru Ibu cuci semuanya.ÔÇØ

Oh jawabku singkat.

Lalu Ibu ke belakang lagi mengurus cuciannya. Aku yang dari tadi terlalu banyak berpikiran yang aneh-aneh mencoba menjernihkan semuanya dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Aku kemudian berjalan ke arah TV di ruang tamu dan bermaksud menyalakannya. Tapi kuurungkan niatku. Ada sesuatu yang sangat ingin kulakukan lebih dulu. Aku ingin makan. Dari tadi aku belum sarapan.

ÔÇ£Duh! Lapar banget nih! Mana Ibu belum masak dari tadi pagi. Masa iya harus nungguin Ibu selesai nyuci?ÔÇØ pikirku.

ÔÇ£Apa aku goreng telor aja ya buat lauk?ÔÇØ sebuah ide muncul di otakku.

ÔÇ£Ah! lagi males nih masak sendiri kalo kepala lagi kayak gini. Udah deh sabar aja tunggu Ibu kelar. Paling, nggak sampe lima menit udah siap ngerendam semuanya.ÔÇØ Pikirku memutuskan.

Aku akhirnya hanya bisa duduk pasrah di depan TV dan terpaksa menunggu Ibu selesai merendam pakaian. Aku mencoba bersabar. Tapi baru beberapa menit saja berlalu kesabaranku sepertinya sudah habis. Aku tak tahan. Lalu kuputuskan untuk memasak sendiri.

Baru saja aku tegak berdiri dengan kepala yang agak ngilu aku tiba-tiba teringat sesuatu. ÔÇ£Oh iya! Tadi kan Ibu bawa dua bungkusan plastik tuh. Mungkin aja ada yang isinya makanan. Soalnya tadi kayaknya ada bungkusan yang agak besar gitu. Kenapa nggak kepikiran dari tadi ya?ÔÇØ

Dengan perasaan riang kudatangi kamar Ibu lagi. Kulihat memang ada dua bungkusan plastik hitam yang tergeletak rapi di atas meja riasnya. Dengan semangat yang tinggi kubuka plastik yang agak besar. Ternyata isinya memang ada dua nasi bungkus lengkap dengan lauknya. Kuketahui hal itu setelah membuka karet salah satu bungkusan dan mengintip ke dalamnya. Seketika saja aroma harum bergentayangan di hidungku dan memperparah rasa laparku.

ÔÇ£Yang bungkusan satu lagi pasti punya Ibu.ÔÇØ Pikirku menyimpulkan.

Kuletakkan bungkusan nasiku, lalu kutilik bungkusan plastik yang satu lagi. ÔÇ£Tadi Ibu beli obat apa ya? Katanya ada yang buatku juga. Berarti ntar selesai makan mesti minum obat nih. Mudah-mudahan nggak pahit.ÔÇØ

Kuperiksa bungkusan plastik itu. Dan yang kutemukan ada beberapa obat di dalamnya. Ada beberapa strip obat tablet dan ada semacam botol kecil. Kuambil botol kecil itu. Yang kutahu bentuk botolnya seperti botol obat tetes. Tapi yang ini sedikit lebih besar ukurannya.

ÔÇ£Obat apaan nih?ÔÇØ tanyaku dalam hati. Menebak-nebak obat apa gerangan yang sedang kupegang.

Sungguh sulit aku menyimpulkan obat apa yang ada di dalam botol ini. Karena yang kulihat dari tadi seluruhnya bahasa Inggris semua. Walaupun aku punya nilai bahasa Inggris tertinggi di kelas, itu tidaklah cukup untukku menerjemahkan bahasa Inggris ÔÇÿilmiahÔÇÖ seperti ini.

Cukup lama aku berpikir untuk menerjemahkannya dari satu kata ke kata lainnya. Tapi aku akhirnya menyerah. Dengan hati yang dongkol kuletakkan lagi obat ÔÇÿanehÔÇÖ itu ke dalam plastik dan mengambil obat lainnya. Pandangan mataku tertarik ke sebuah kotak kecil sebesar kotak rokok yang ada di dalam plastik yang sama. Aku yang penasaran lalu mengambil kotak itu.

ÔÇ£Nah. Ini obat apa lagi?ÔÇØ lagi-lagi aku dibuat berpikir keras. Bahasa Inggris terpampang lagi. Yang langsung aku ketahui adalah obat ini punya rasa strawberry sebagaimana yang tertulis di kotaknya.

Oh! Pasti obatku yang ini nih! Hehe Syukur deh, nggak pahit. Bisikku riang.

ÔÇ£Tito! Tito dimana Nak?ÔÇØ seru Ibu dari ruang belakang rumah.

ÔÇ£Di sini Bu! Di kamar Ibu!ÔÇØ balasku berteriak sambil masih tersenyum senang melihat kotak obat rasa strawberry itu.

Tito udah sara belum selesai Ibu berbicara, dia yang melihatku memegang kotak obat itu langsung merebutnya berikut plastik bungkusan seluruh obat yang ada di atas meja rias. Aku cukup terkejut juga dengan gerakannya yang tiba-tiba.

ÔÇ£Tito ngapain bongkar-bongkar obatnya Nak? Ntar Ibu kasih kok.ÔÇØ Ucapnya tegas.

ÔÇ£Lho? Tito belum makan obatnya kok Bu. Cuma liat-liat aja. Lagian Tito kan nggak tau berapa dosisnya. Obatnya pake bahasa Inggris semua sih.ÔÇØ Kataku menimpali. Kutatap mata Ibu yang melihat tajam ke arahku seolah sedang kesal dan memikirkan sesuatu.

ÔÇ£Itu yang rasa strawberry obatnya Tito kan Bu?ÔÇØ kataku mencoba mencairkan ketegangan.

Mmm Itu Itu obatnya Ibu Nak. Jawab Ibu sambil memegang erat plastik kresek hitam tersebut.

ÔÇ£Lho? Jadi obatnya Tito yang mana dong Bu? Jangan yang pahit-pahit dong.ÔÇØ Tanyaku dengan wajah memelas.

Wajah tegang Ibu akhirnya mereda dibarengi senyumnya dan berkata, ÔÇ£Tenang aja. Obatnya nggak pahit kok. Nanti malam Ibu kasih.ÔÇØ

ÔÇ£Hah? Nanti malam? Bukannya abis makan Bu?ÔÇØ

Hehe Nggak Nak. Obat yang untuk Tito diminumnya nanti malam. Ujar Ibu dengan tawa kecilnya.

ÔÇ£Oh, gitu ya Bu.ÔÇØ Aku pun mengangguk tanda mengerti.

ÔÇ£Tito udah makan Nak?ÔÇØ Tanya Ibu dengan suara yang lembut.

ÔÇ£Belum nih Bu. Baru aja mau makan, udah dikagetin sama Ibu.ÔÇØ Ucapku sambil cemberut kesal.

Hihihi Ya udah deh, Ibu minta maaf. Habis tadi Tito keliatannya kayak mau minum obat yang ada di dalam plastik ini. Kan nggak bisa sembarangan Nak. Ujar Ibu menyadari kesalahannya.

Huh Cape dehh Aku hanya melengos.

Hihi Tawa kecil Ibu kembali menghiasi wajahnya. Dia perlahan mendekatiku dan melirik ke atas meja riasnya. Diambilnya nasi bungkus yang tadinya sudah sempat kubuka dan dia menawarkan keramahtamahannya seperti biasa.

ÔÇ£Tito mau Ibu suapin?ÔÇØ tawarnya dengan senyum lebar yang begitu manis.

ÔÇ£Eh! Iya Bu! Mau!ÔÇØ jawabku antusias. Aku memang tidak pernah menolak untuk hal yang satu ini.

ÔÇ£Makannya di kamar Tito aja ya. biar nanti Tito bisa langsung istirahat.ÔÇØ Ujarnya.

ÔÇ£Oke Bu.ÔÇØ Aku mengiyakan saja tawarannya.

Ketika aku sudah duduk di atas ranjangku sendiri, kulihat Ibu meletakkan plastik bungkusan obat tadi. Di tangannya kini hanya memegang nasi bungkus. Dia pun menyusulku duduk di atas ranjang. Dibukanya karet bungkusan itu dan bersiap menyuapiku.

ÔÇ£Lho? Ibu nyuapinnya pake tangan?ÔÇØ tanyaku ketika dia mulai mencampur nasi bersama lauk dan sayurnya.

ÔÇ£Iya. Tangan Ibu udah bersih kok To. Tadi abis ngerendam pakaian, Ibu cuci tangan lagi. Atau Tito mau pake sendok aja? Ya udah, biar Ibu ambilin.ÔÇØ Katanya seraya bangkit dari duduknya.

Dengan cepat kutahan tangannya. ÔÇ£Eh! Nggak usah Bu! Udah nggak apa-apa, pake tangan aja.ÔÇØ

Ibu pun duduk kembali di sebelahku di atas ranjang. Senyum tetap menghiasi wajah cantiknya yang sedikit dibalur keringat karena pekerjaannya merendam cucian barusan. Dicampurkannya dengan sempurna nasi, lauk, sayur dan sambal dalam satu genggaman dan mengawali acara makan ini.

Aaakk sayang Katanya sambil memulai suapan pertamanya.

ÔÇ£Wah! Ibu pake ÔÇÿsayang-sayanganÔÇÖ lagi nih! Bikin aku GR aja!ÔÇØ teriakku dalam hati sambil menyambut suapannya. Seperti biasa setelah dia menyuap dia pasti tersenyum manis padaku dan bersiap untuk suapan berikutnya.

Saking betahnya aku menyaksikan pesona kecantikan Ibuku, tanpa kusadari di setiap suapan-suapan berikutnya aku sudah tidak lagi melihat ke arah nasi yang akan disuapkannya padaku, malah aku hanya menunggu dengan mulut menganga dan mata yang terus tertuju ke wajah dan senyum manisnya. Namun Ibu sepertinya tidak merasa risih dengan tingkahku itu.

Tiba-tiba saja aku yang sedang termangu memandangi wajahnya sambil mengunyah terkejut bukan kepalang. Aku merasakan mulutku seperti terbakar api yang berkobar. Ternyata Ibu menyuapkan sambal sebanyak-banyaknya dengan sedikit nasi ke dalam mulutku barusan. Namun aku tak menyadarinya. Sepertinya Ibu berniat menjahiliku.

Wahh! Huhhh Haaahhh Huuaaahh Pedes banget Bu! Minum! Minum! semprotku kewalahan menahan rasa pedas yang luar biasa.

Hahaha Hihihi Ibu bangkit dan berlari ke dapur sambil tertawa. Sekejap kemudian sudah ada secangkir penuh air putih. Kutenggak hampir separuh dari isi cangkir besar yang terbuat dari bahan kaleng itu.

Huuhh Haahh Pedasnya Ibu tega banget sih ngerjain Tito. Aku bersungut-sungut kesal menanggapi perbuatannya yang sama sekali tidak lucu itu.

Hihihi Habis Tito sih, liatin muka Ibu terus Ya Ibu kerjain deh. Candanya lagi. Aku tetap saja cemberut dan melihat ke arah lain.

Iya deeehh Ibu minta maaf. Jangan cemberut lagi dong, ntar nggak Ibu suapin lagi nih.

ÔÇ£Eh! Jangan dong Bu! Iya iya, Tito maafin deh. Nih, Tito udah senyum.ÔÇØ Aku tersentak ketika dia mengancamku dengan ancaman yang ÔÇÿmematikanÔÇÖ. Kutunjukkan senyumku yang selebar-lebarnya padanya.

Hihi Iya iya udah, jangan lebar-lebar senyumnya. Giginya Tito kering tuh. Ada cabe juga tuh nyelip di giginya. Hihihi Ganteng-ganteng kok jualan cabe. Canda Ibu menyindirku.

Eh, hihi Ada cabe ya Bu? Aku buru-buru menutup mulutku dan menyapu seluruh gigiku yang bagian depan dengan lidah.

Aku pun tersenyum lagi ke arah Ibu dan bertanya padanya, ÔÇ£Udah hilang kan Bu cabenya?ÔÇØ

ÔÇ£Iya, udah bersih.ÔÇØ Jawabnya singkat dan kembali mempersiapkan suapan berikutnya.

ÔÇ£Ibu bilang Tito ÔÇÿganteng-ganteng jualan cabeÔÇÖ. Lah Ibu sendiri, ÔÇÿcantik-cantik tukang cuciÔÇÖ. ÔÇÿJualan gorenganÔÇÖ lagi.ÔÇØ Ucapku asal-asalan sambil memandang ke arah nasi yang sedang dipersiapkannya untuk suapan berikutnya.

Kulihat tangan Ibu berhenti mencampur lauk. Dia terdiam. Aku tiba-tiba merasa sangat bodoh karena telah mengucapkan kalimat barusan. Jelas kalimat itu sangat menusuk di hatinya. Aku benar-benar merasa sangat bersalah padanya. Bahkan sekarang aku tak berani menatap wajahnya.

ÔÇ£Lu memang anak kurang ajar To! Dia kerja begituan kan buat lu juga! Bisa-bisanya lu bilang gitu sama Ibumu! Lu bego apa idiot sih sebenernya?ÔÇØ teriak hati kecilku seakan memaki diriku sendiri.

Namun akhirnya kuberanikan juga menatap wajahnya. Apabila dia memang terdiam karena sakit hati dengan kata-kataku barusan dan wajahnya bersedih, aku berencana untuk segera minta maaf padanya. Bahkan kalau perlu aku akan mencium kedua kakinya karena penyesalanku memang sangat besar.

Tapi apa yang kulihat sekarang? Ibu malah tersenyum manis melihatku seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan dari senyumannya sepertinya dia senang sekali jika aku berkata seperti itu. Tatapan Ibu padaku agak berbeda saat ini. Aku tidak tahu terletak di sudut mana perbedaan itu. Yang jelas mimik wajahnya sangat berseri-seri. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati. Tak lama kemudian dia kembali menyuapkan nasi berikutnya dan kuterima dengan agak kikuk.

ÔÇ£Menurut Tito Ibu cantik?ÔÇØ ucap Ibu perlahan memecah keheningan. Tangannya sibuk mencampurkan nasi untuk suapan yang berikutnya.

Ehmm Hmm Aku hanya bisa bergumam karena mulutku penuh dengan nasi. Aku mengangguk mantap dan mengacungkan jempolku sebagai jawaban bahwa Ibu memang cantik.

Sekarang malah Ibu yang sepertinya jadi kikuk. Suasana di kamarku benar-benar mendebarkan. Kami sudah seperti orang pacaran saja. Ibu tersenyum malu-malu sambil menyiapkan suapannya. Matanya berbinar-binar menatapku. Kami sejenak beradu pandang.

Ketika nasi sudah kutelan, Ibu pun menyuapkan yang berikutnya. Entah kenapa suapan kali ini terasa sangat perlahan. Seperti adegan ÔÇÿslow motionÔÇÖ di film saja. Kubuka mulutku untuk menerimanya dengan mata kami yang masih beradu pandang. Kukatupkan mulutku untuk meraup nasi yang ada di tangannya. Namun tangannya seperti tertahan begitu saja di dalam mulutku. Alhasil aku malah mengemut jari-jarinya. Ibu pun hanya diam saja. Kemudian kulepaskan katupan mulutku di jari-jarinya untuk mengunyah makanan di dalam mulutku. Ibu pun kembali menyiapkan suapan berikutnya.

Kami kini berada dalam keadaan hening namun sangat intim. Berkali-kali dia menyuapiku dan meninggalkan jarinya di dalam mulutku sebelum makanannya kukunyah. Yang aku rasakan sekarang dia bahkan menyuapiku dengan nasi yang sangat sedikit. Seperti sengaja agar aku bisa mengemut jari-jarinya berulang kali dan acara menyuapi ini jadi lebih lama. Aku yang memang menyukainya menyambut saja jari-jarinya dengan sedikit terbawa nafsu. Kujilat dan kusedot habis-habisan jarinya yang melekat di bibirku seolah sedang menikmati es krim.

Pandangan kami berdua sudah agak temaram dan sayu. Mungkin itu karena pengaruh nafsu yang sudah mulai menggerogoti pikiran kami. Tatapan Ibu sekarang persis seperti waktu di kamar mandi tadi ketika sedang ÔÇÿmembantukuÔÇÖ onani. Aku yang tak tahan mengenyot begitu saja jarinya kuat-kuat dan menyedotnya.

Crruupp keluarlah bunyi nyaring yang berasal dari sedotan bibirku. Bunyi itu seolah menyadarkan Ibu akan segalanya.

Eh! Ngg Udah abis nih nasinya. Nih! minum dulu Nak. Kata Ibu. Ia menyodorkan cangkir kaleng tadi yang setengahnya masih berisi air minum. Tampak dia seperti orang yang salah tingkah. Malangnya, aku juga begitu.

Saking salah tingkahnya, aku sampai tersedak saat minum. Aku pun tebatuk-batuk dengan hebatnya. Ibu tegak dan berdiri membungkuk sambil mengusap-usap punggungku.

ÔÇ£Aduh! Pelan-pelan dong minumnya Nak.ÔÇØ Katanya prihatin.

Uhukk uhukk Ukhh Jadi sakit nih kepalanya Tito Bu Kataku meringis.

Iya iya Makanya Tito tenangin nafasnya dulu Saran Ibu sambil tetap mengusap-usap punggungku.

Setelah batukku reda dan kepalaku tenang, Ibu kembali menyuguhkan sisa air minum tadi dan kuminum sampai habis. Setelah itu dia pergi ke belakang membawa sampah bungkusan nasi dan cangkir itu. Sesaat kemudian dia kembali lagi ke kamarku dengan tangan yang sudah dicuci bersih dari bekas makanan.

ÔÇ£Tito mau rebah?ÔÇØ Tanya Ibu.

Iya nih Bu. Kalo udah kenyang enaknya ya emang tiduran. Hehe jawabku cengengesan.

Ibu hanya tersenyum dan berkata, ÔÇ£sebentar ya, Ibu ambilin bantal Tito yang ada di kamar Ibu.ÔÇØ

Dia pun ke kamar sebelah dan kembali membawa dua bantal di tangan kanan dan kirinya. Sepertinya dia membawa salah satu bantal miliknya.

ÔÇ£Nih, bantalnya dua aja biar enak.ÔÇØ Imbuhnya.

Ditumpukkannya kedua bantal itu di atas ranjangku, kemudian dibantunya aku untuk rebahan. Dipegangnya kedua bahuku agar kepalaku tidak terlalu cepat tehempas ke bantal.

Namun gaya tarik dari berat badanku malah membuat Ibu ikut-ikutan ke pembaringan. Ibu telungkup menimpaku. Buah dadanya yang tak dilapisi BH menindih dadaku. Terasa sangat jelas putingnya menekan dadaku. Wajah Ibu sekarang sangat dekat dengan wajahku. Aku dan Ibu yang tak menyangka akan kejadian itu hanya bisa terdiam dan lagi-lagi bertemu pandang.

Tapi sepertinya Ibu bisa mengendalikan dirinya kali ini. Dia hanya tersenyum dan kemudian bangkit duduk di sebelahku. Aku yang masih dilanda ketegangan hanya bisa membalas senyumannya. Beberapa saat kemudian dia mencoba mencairkan suasana kaku dengan memulai obrolan.

Emm To Tadi si Rama nggak sekolah juga sama kayak Tito. Katanya pantatnya masih sakit. Terus dijadiin alasan deh sama dia buat nggak sekolah. Hehe

ÔÇ£Lho? Rama nggak sekolah? Terus surat keterangan sakitnya Tito gimana Bu?ÔÇØ tanyaku agak panik.

ÔÇ£Oh, kalo itu Tito nggak usah takut Nak. Tadi pagi kebetulan katanya Bu Aini mau ngurusin barang yang baru masuk ke tokonya. Jadi katanya dia aja yang antar suratnya ke sekolah abis dari toko.ÔÇØ Kata Ibu menjelaskan.

ÔÇ£Oh, gitu.ÔÇØ Jawabku singkat. Lega rasanya.

ÔÇ£Eh! Rama katanya malam ini mau nginap di sini Nak. Katanya mau jengukin kamu sekalian ngerjain PR untuk besok. Dia katanya besok udah masuk sekolah lagi.ÔÇØ Lanjut Ibu lagi.

ÔÇ£Lho kok mesti nginap sih Bu?ÔÇØ tanyaku tak setuju akan rencana Rama.

ÔÇ£Sebenarnya Ibu yang nyuruh begitu Nak. Si Rama minta diajarin Matematika tuh katanya buat besok. Sementara kamu kan belum bisa keluar rumah sekarang. Jadi ya Ibu minta aja dia nanti malam datang ke sini. Kan kamu biasanya kalo ngerjain PR-nya malam kan? Lagian sekarang ini baiknya Tito istirahat dulu yang banyak. Jangan kebanyakan gerak biar kepalanya cepat sembuh.ÔÇØ Kata Ibu panjang lebar.

Aku hanya bisa pasrah menyetujui rencana Ibu itu. Pikir-pikir memang benar apa yang dikatakannya. Aku juga sekarang sedang tak ingin berkutat dengan pelajaran. Maunya tenang-tenang saja. Biarlah itu kuhadapi nanti malam.

Gitu ya Bu? Ya udah deh jawabku pasrah.

Ibu kemudian tersenyum lebar melihat kepatuhanku akan nasehatnya. Kemudian wajahnya mendekati wajahku. Perlahan tapi pasti di daratkannya bibirnya di pipi kananku. Dia mengecup sayang pipi kananku.

Perasaanku langsung berbunga-bunga. Walaupun aku pernah merasakan yang ÔÇÿlebihÔÇÖ dari ini tadi malam. Tapi dalam keadaan sadar, ini adalah yang pertama kalinya. Aku benar-benar merasakan rasa sayang Ibuku padaku.

ÔÇ£Ibu ke belakang dulu ya ngurusin cucian Ibu. Tito istirahat aja dulu ya.ÔÇØ Katanya seraya beranjak dari duduknya. Namun kutahan lagi tangannya untuk kedua kalinya.

ÔÇ£Ada apa lagi?ÔÇØ Tanya Ibu dengan sabar.

Ngg Bu, Tito boleh tanya nggak?

ÔÇ£Mau tanya apa? Masa pake minta izin segala.ÔÇØ Ucapnya sambil tersenyum geli.

Mmm Itu Bu Yang di kamar mandi tadi Nggg Kapan-kapan boleh lagi nggak? tanyaku ragu-ragu.

ÔÇ£Hah? HihiÔǪ Tito inget aja ya yang kayak gituan. Ya boleh lah. Tapi Tito sendiri yang ngelakuinnya. Ibu nggak boleh ikut lagi. Sebenarnya yang tadi itu nggak boleh dilakuin sama Ibu Nak. Ibu tadi itu cuma ngajarin aja. Buat seterusnya nanti ya Tito yang mainin ÔÇÿitunyaÔÇÖ Tito sendiri kalo rasanya pengen dikeluarin air maninya. Nggak boleh Ibu.ÔÇØ

Oh, gitu ya Bu. Ya udah deh. Kalo gitu Emmm makasih ya Bu udah ngajarin Tito yang tadi. Kataku malu-malu.

ÔÇ£Iya. Ibu ke belakang dulu ya.ÔÇØ katanya sambil bangkit dari duduknya.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum melepasnya ke belakang. Tinggallah aku sendiri di kamarku menunggu Ibu menyelesaikan pekerjaannya.

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*