Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 5

Ibuku Cintaku dan Dukaku 5

Sesaat aku berpikir akan nasibku kemudian. Kemungkinan Ibu akan menjulukiku ÔÇÿSi Tukang NgompolÔÇÖ, atau ÔÇÿSi Anak MamiÔÇÖ, atau mungkin ÔÇÿSi Bayi BesarÔÇÖ, dan sebagainya yang akan menjatuhkan harga diriku di mata Ibu. Aku pastinya hanya bisa pasrah.

Aku sungguh tidak habis pikir. Bagaimana bisa aku ngompol lagi? Aku kan sudah berhenti ngompol sejak umur 5 tahun? Kok sekarang, gara-gara nonton Ibu ÔÇÿbermainÔÇÖ tadi malam kebiasaanku jadi kembali lagi? Aneh sekali.

Sambil berpikir kritis aku mencoba meraba permukaan tempat tidur sebelah kananku di balik selimutku. Pikiran baru malah datang padaku kemudian. Aku tidak menemukan adanya kebasahan di permukaan ranjang yang kutiduri sekarang ini. Sprei itu masih terasa baik-baik saja. Kering dan nyaman.

ÔÇ£Kok nggak basah ya? Seharusnya kalo semprotannya kayak tadi malam, ini kasur sekarang pasti udah banjir banget nih. Kok nggak ada tanda-tanda air ya?ÔÇØ pikirku.

Kucoba meraba permukaan celanaku dari luar. Dari sebelah samping resleting celanaku terasa seperti lembab. Kemudian dengan perlahan dan keingintahuan yang tinggi kurogoh ke dalam celana berikut ke celana dalamku. Di dalam sangat lembab. Seperti ada air yang enggan mengering. Lalu kutarik tanganku dengan hati-hati keluar. Kulihat keadaan tanganku sekarang sangat basah. Tapi kali ini dengan jenis basah yang lain. Cairan ini terasa lengket di tangan.

Kuperhatikan terus dengan saksama sambil terus mengecap-ngecapkan jari telunjukku ke jari jempolku yang seolah-olah ada lem dengan daya rekat yang rendah. Lalu kucoba merogoh lagi cairan itu ke dalam celanaku dan kali ini kuambil cairannya lebih banyak. Tangan kananku semakin basah. Kucoba mengendus sedikit baunya. Rasanya seperti bau pemutih pakaian dan bukanlah bau pesing seperti biasanya. Aku menyimpulkan bahwa ini bukanlah air kencing.

Aku berpikir sejenak. Ada sesuatu yang seperti terlintas di ingatanku. Sepertinya aku pernah mengeluarkan cairan ini sebelumnya. Tapi kapan dan dimana ya? Kucoba berpikir ke belakang sambil tanganku tetap kudekatkan ke hidungku sebagai bantuan untuk mengingat-ingat riwayat bau dari cairan ini.

Kayaknya aku pernah deh ngerasain cairan ini di celanaku juga waktu aku terus mengingat.

ÔÇ£Oh iya! Waktu mimpi basah!ÔÇØ mataku melotot sambil berteriak dalam hati.

Ya, betul! Belum lama abis burungku sembuh dari sunatan aku emang pernah dua kali ngeluarin nih cairan. Tapi waktu itu sih dua-duanya gara-gara aku mimpi diciumin Ibu. Hehe ingatku lagi.

Aku ingat waktu itu aku juga menanyakan hal yang kualami itu pada Ibu. Dan Ibu dengan senyum menggodanya mengatakan bahwa itu namanya adalah ÔÇÿmimpi basahÔÇÖ. Dan cairan yang kukeluarkan itu bukanlah air kencing tetapi air mani. Kata Ibu itu adalah hal wajar yang terjadi apabila seorang laki-laki sudah dikatakan memasuki masa remaja. Ibu waktu itu dengan genitnya bertanya padaku dengan siapa aku di dalam mimpiku itu sampai-sampai cairanku itu keluar. Dia mengetahui bahwasanya cairan itu keluar karena kita memimpikan wanita yang kita suka. Tentu saja aku bilang bahwa aku sudah lupa. Bisa gawat kalau kubilang bahwa aku di mimpi itu bersama Ibuku sendiri yang sangat kusukai.

Waktu mengalami mimpi basah itu memang rasanya enak sekali. Ada rasa geli yang menjalar di kemaluanku saat itu terjadi. Tapi sebagian besar hanya kurasakan ketika dalam keadaan tidur. Baru kali ini hal itu kurasakan ketika dalam keadaan kesadaran penuh. Bahkan lewat cara yang luar biasa dan lebih memuaskan daripada di alam mimpi saat itu.

Sampai di sini aku sudah bisa menyimpulkan bahwa wanita juga bisa mengeluarkan air mani dan merasakan ÔÇÿkenikmatanÔÇÖ jika air mani itu keluar seperti yang terjadi pada Ibu tadi malam. Dia sempat mengoleskan semacam cairan di wajahku saat kenikmatannya selesai.

ÔÇ£Mungkin itu air maninya perempuan.ÔÇØ Pikirku.

Waktu sekarang sudah menunjukkan setengah tujuh pagi. Tapi Ibu masih saja terlelap. Otakku jadi mendadak bingung sekarang. Bukankah hari ini aku harus sekolah?

ÔÇ£Tapi kalo kepalaku masih kayak gini gimana mau sekolah? Terpaksa libur sementara dulu dong ke sekolahnya.ÔÇØ Batinku.

ÔÇ£Lagian tadi malam juga aku nggak sempat ngerjain PR. Ntar kalo ke sekolah pun pasti dimarahin Bu Dina karena nggak ngerjain PR. Bagusan istirahat di rumah dulu deh. Ibu juga pasti bakal nggak ngizinin aku sekolah kalo masi kayak gini.ÔÇØ Lanjutku lagi dalam hati.

Tiba-tiba aku teringat lagi akan sesuatu. ÔÇ£Kalo aku nggak sekolah, berarti mesti kirim surat keterangan dong sama Bu Dina! Ah! Harus buru-buru nih bangunin Ibu!

Aku mencoba bangkit dari pembaringanku. Tapi kepalaku masih lumayan sakit jika harus bangun sendiri. Aku yang takut lukanya nanti tidak sembuh-sembuh akhirnya kembali berbaring dan memilih untuk mencoba membangunkan Ibu dengan teriakan.

ÔÇ£Bu! Ibu! Bangun Bu! Sudah pagi!ÔÇØ teriakku.

Sedikit senyum tersungging di wajahku. Aku teringat Ibu yang tadi malam mencoba memastikan aku tertidur atau tidak dengan kalimat itu. Sekarang benar-benar dalam kondisi yang sebenarnya. Hanya satu teriakan saja Ibu akhirnya terbangun dengan wajah yang kutahu betul masih dalam keadaan yang sangat mengantuk.

Emhh Iya Nak Ibu udah bangun nih. Udah pagi ya? Ibu ketiduran nih. Hhhoooaaaammm jawab Ibu dengan mata yang masih belum benar-benar terbuka.

Dilihatnya semburat cahaya matahari yang terpancar lembut dari ventilasi jendela kamar. Kemudian matanya tertuju pada jam dinding. Dengan agak terkejut dia lalu bangkit duduk dari pembaringannya. Aku yang melihatnya dari sini hanya tersenyum saja.

ÔÇ£Eh! Udah jam setengah tujuh ya? Kesiangan nih.ÔÇØ Katanya sambil melihat jam dan kemudian melihat ke arahku.

ÔÇ£Tito nggak usah sekolah dulu ya Nak. Libur dulu dua hari ini ya.ÔÇØ Sarannya padaku.

ÔÇ£Ya udah Bu. Nggak apa-apa. Tapi buatin dong suratnya. Terus Ibu titipin deh sama si Rama. Biar ada keterangan sakitnya ntar di absensi kelas. Ntar malah dikira bolos sama Bu Dina.ÔÇØ Kataku sambil tetap tersenyum.

ÔÇ£Oh iya! Ibu lupa! Sebentar ya.ÔÇØ Jawabnya sembari bangkit dari duduknya di atas kasur.

Waktu Ibu bangkit, roknya sempat menimbulkan celah yang cukup lebar tepat ke arah mataku. Aku yang memang saat itu sedang menghadap ke arahnya, kontan saja bisa melihat dengan jelas ke dalam roknya. Aku jadi sangat terangsang dengan apa yang kulihat barusan.

ÔÇ£Ibu nggak pake celana dalam!ÔÇØ batinku takjub.

Bisa kulihat tadi sedikit bulu-bulu kemaluannya dan belahan vaginanya yang mengintip malu-malu dari dalam rok dasternya. Cukup samar memang. Tapi tetap saja kelihatan oleh mata mudaku yang masih tajam.

ÔÇ£Apa Ibu nggak pake BH juga ya?ÔÇØ khayalan mesumku berjalan lagi.

Tanpa berlama-lama Ibu segera keluar kamar dan menuju dapur. Kemudian terdengar bunyi siraman air beberapa kali di kamar mandi. Ibu terlihat sangat terburu-buru. Mungkin dia tahu bahwa aku biasanya tepat jam tujuh pagi pasti sudah jalan ke sekolah bersama dengan Rama.

Kulihat ke arah pintu kamar, Ibu barusan lewat dan masuk ke kamarku. Sesaat kemudian tak kulihat lagi Ibu mondar-mandir. Aku hanya bisa menunggu terbaring di atas ranjang. Kurasa dia sedang menulis suratnya di atas meja belajar di kamarku.

Tak lama Ibu masuk lagi ke kamar ini sambil menuju ke balik pintu kamar. Dia rupanya bermaksud mengambil cardigan-nya yang tergantung di gantungan yang ada di balik pintu kamar. Kulihat dia meletakkan sebuah amplop di meja rias, lalu sibuk memakai cardigan-nya. Setelah kedua lengan cardigan itu masuk dengan sempurna di lengannya yang indah, Ibu pun kembali mengambil amplop tadi.

ÔÇ£Loh? Ibu udah mau pergi ke rumah Rama?ÔÇØ tanyaku mengalihkan kesibukan kecilnya.

ÔÇ£Ya iyalah! Ntar si Ramanya keburu pergi ke sekolah lagi. Jangan sampe telat titipin surat sakitmu ini.ÔÇØ Jawab Ibu sambil membetulkan sedikit ujung lengan cardigan-nya yang terlipat.

ÔÇ£Pake baju itu aja?ÔÇØ tanyaku lagi memastikan.

ÔÇ£Ya iyalah To. Emang kenapa kalo Ibu pake baju ini? Udah ya, Ibu mau pergi nih! Nanti telat.ÔÇØ Ujar Ibu sambil berlalu begitu saja.

Tapi Bu

BLAMMM kcrekk pintu depan sudah tertutup dan terkunci dari luar.

Terlambat sudah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa terdiam di atas pembaringan dan tak berdaya. Lagipula apa yang harus kutakutkan? Ibu masih pakai pakaian kan? Aku saja yang terlalu khawatir. Tapi tetap saja aku dibuat mengira-ngira di dalam pikiranku.

ÔÇ£Ibu tadi sempat pake daleman nggak ya? Ah! Bodo deh! Ngapain juga aku harus mikirin Ibu. Mungkin aja dia udah pake celana dalam sama BH-nya waktu di kamar mandi tadi.ÔÇØ Pikirku mencoba mengalihkan dugaanku.

Tapi kalo emang nggak pake gimana ya? Hihihi Jadi lucu sendiri ngebayanginnya.

Okelah, sekarang ngurusin masalah celana aja dulu. Gimana ya ngegantinya? Berdiri sendiri aja masih belum bisa, apalagi ganti celana sendiri. Bisa jatuh berguling-guling ntar. Hehe ujarku dalam hati memprediksi.

Ntar aja deh minta tolong sama Ibu. Atau mungkin sekalian digantiin aja sama Ibu. Kan asyik tuh bisa dibukain sama Ibu. Hihi otak mesumku kembali bekerja.

ÔÇ£Eh! TapiÔǪ Ntar malah diejekin ÔÇÿBayi BesarÔÇÖ sama Ibu. Nggak jadi deh!ÔÇØ kuurungkan niatku.

Emm Tapi Ibu kan pasti tau kalo ini bukan ngompol? Ngapain mesti minder? Dicoba aja. Hehehe sangkalku lagi.

ÔÇ£Oke deh! Tungguin Ibu balik aja dari rumah si Rama. Paling, nggak sampe setengah jam lagi Ibu udah balik lagi ke sini.ÔÇØ Kataku memutuskan.

Sambil menunggu aku memejamkan mataku. Sisa-sisa rasa kantuk tadi mulai kembali meresap ke pelupuk mataku. Perlahan tapi pasti aku pun tertidur lagi.

***

ÔÇ£PlekkkÔǪ!ÔÇØ sesuatu sepertinya jatuh ke atas tanganku. Sesuatu yang kecil, dingin, dan terasa bergerak-gerak. Gerakannya sepertinya terus naik ke atas menuju lenganku. Aku yang sebenarnya masih enggan untuk membuka mataku terpaksa melirik untuk memastikan ÔÇÿsesuatuÔÇÖ itu.

ÔÇ£Whhooaaa..!ÔÇØ aku menjerit lalu secepat kilat mengibas-ngibaskan lenganku.

Ternyata sesuatu yang jatuh itu adalah seekor cicak yang sedang berusaha merayap ke arah lengan atasku. Aku memang sangat geli dengan hewan-hewan yang merayap seperti itu. Sebenarnya jika dalam keadaan sadar aku berani saja memegangnya. Tapi apabila keadaannya tiba-tiba dan tanpa persiapan seperti itu pasti akan lain ceritanya.

Cicak itu pun terhempas ke lantai dan merayap ke balik lemari pakaian Ibu. Hal barusan cukup membuatku ngos-ngosan karena terkejut. Aku sungguh tak habis pikir. Di saat-saat tenang begini ternyata bukan ayam saja yang ÔÇÿunjuk gigiÔÇÖ, sekarang cicak juga bisa membuat gebrakan.

ÔÇ£Sungguh hari yang melelahkan.ÔÇØ Batinku.

Kulihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 09.30 pagi. Itu artinya aku sudah tidur hampir tiga jam lamanya. Ternyata cukup lama juga aku terlelap. Kemungkinan Ibu pasti sudah pulang sekarang.

ÔÇ£Tapi keadaannya kok sepi ya? Kayak nggak ada orang aja.ÔÇØ

Bu Ibu! Bu! kuulangi terus panggilanku secara bertahap. Tapi tak ada sahutan dari Ibu.

ÔÇ£Bu! Ibu! Ibu udah pulang kan!?ÔÇØ teriakku lagi dari kamar. Namun tetap saja tak ada jawaban dari luar.

Beberapa saat kemudian terdengar seperti suara kunci pintu depan yang sedang dibuka. Terdengar derit pintu yang terbuka dan tertutup kembali. Terdengar juga seperti suara plastik kresek. Tak lama kulihat Ibu yang agak keringatan masuk ke kamar menemuiku. Diletakkannya bungkusan plastiknya di meja rias. Dilepasnya cardigan-nya dan digantungkannya kembali ke balik pintu. Kemudian dia berjalan ke arahku sambil tersenyum. Ada sedikit perbedaan di wajahnya saat ini. Aku tidak tahu apa, yang jelas wajahnya terlihat lebih ceria.

ÔÇ£Ibu kok lama banget ke rumah Rama?ÔÇØ tanyaku memulai pembicaraan.

ÔÇ£Iya. Tadi Ibu ke kota dulu beli obat Ibu sama obatnya Tito.ÔÇØ Jawab Ibu singkat. Kemudian dia duduk di sampingku di atas ranjang.

ÔÇ£Kenapa Nak? Udah rindu ya sama Ibu?ÔÇØ godanya lengkap dengan senyum manisnya.

Hehe Iya juga sih Bu. Dikit. Kataku sambil tertawa kecil malu-malu. Ibu pun meladeni tawaku.

Emm Bu! Tito mau mandi nih. Tapi nggak bisa bangkit berdiri sendiri. Ibu bantuin Tito ya mohonku padanya.

ÔÇ£Ya udah. Sini Ibu bantuin berdiri.ÔÇØ Kata Ibu yang kemudian bangkit mengulurkan tangannya padaku.

Kupegang kedua tangannya erat-erat agar tak ada guncangan ataupun tekanan di kepalaku. Perlahan-lahan aku sudah duduk dan kemudian bangkit berdiri di atas kasurnya yang dari tadi pagi masih terbentang di situ. Beberapa saat kepalaku sedikit pusing. Mungkin lantaran baru pertama kali berdiri. Sehingga darah ke otak tiba-tiba berkurang jumlahnya. Ada rasa nyeri di lukaku.

Ibu yang melihat gelagatku seperti orang mabuk langsung memapah tubuhku yang sekarang tingginya sudah hampir menyamai tinggi badan Ibuku. Puncak kepalaku sekarang sudah mencapai setengah batang hidungnya. Perkembangan tubuhku memang cukup pesat.

ÔÇ£Kenapa Nak? Pusing kepalanya? Tunggu sebentar ya. Dibiasain dulu berdirinya biar nggak pusing.ÔÇØ Ujar Ibuku sambil memegang bahuku erat. Buah dada kanannya sekarang sudah menekan-nekan lengan kiriku. Itu membuatku sedikit terangsang dan bersemangat. Terlebih-lebih aku seperti merasakan puting payudaranya menyenggol lenganku.

ÔÇ£Wah! Ibu memang nggak pake BH dari tadi. Berarti di dalam daster ini Ibu udah telanjang dong.ÔÇØ Khayalku.

ÔÇ£Udah Bu. Udah nggak kerasa lagi pusingnya. Anterin Tito ke kamar mandi dong Bu. Tito mau mandi nih. Badannya Tito nggak enak kalo nggak mandi.ÔÇØ

ÔÇ£Tito mau mandi? Buka bajunya gimana? Ntar Tito bisa kepleset di kamar mandi Nak. Sini biar Ibu aja yang bukain semua.ÔÇØ Kata Ibu yang kemudian sudah berancang-ancang menarik kaosku ke atas.

ÔÇ£Wah! Ini dia nih!ÔÇØ pikirku riang.

Ibu pun dengan sigap membuka kaosku ke atas. Dia agak sedikit hati-hati ketika bagian kaos itu melewati kepalaku karena dia takut mengenai lukaku. Setelah kaos itu berhasil terbuka, dilemparnya begitu saja ke atas tempat tidur. Kemudian dia berjongkok untuk membuka celanaku. Dia tiba-tiba berhenti dan wajahnya agak sedikit terkejut melihat noda basah di celanaku.

ÔÇ£Lho? Tito mimpi basah ya Nak?ÔÇØ tanyanya sambil melihat wajah dan celanaku bergantian.

ÔÇ£Nggak tau tuh Bu. Tadi pagi Tito emang ngerasain kayak ngompol gitu, tapi nggak tau deh mimpi basah apa bukan.ÔÇØ Kataku seadanya.

Tapi Ibu terlihat seperti bertanya-tanya. Bisa kulihat itu dari matanya. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Tapi kemudian dia membuka celanaku lalu kemudian celana dalamku. Tampaklah kemaluan mudaku yang dalam keadaan lembab dan setengah mengacung ke arahnya. Agak gugup juga aku kalau dalam keadaan begini.

Dia sempat melihat kemaluanku dengan tatapan tajam, lantas menyuruhku mengangkat kedua kakiku bergantian agar dia bisa melepaskan celanaku. Kemudian didekatkannya celana dan celana dalamku itu ke hidungnya dan sedikit mengendus baunya.

ÔÇ£Eh! Bu! Kok celananya Tito diendusin gitu?ÔÇØ kataku kaget karena baru kali ini melihatnya begitu.

ÔÇ£Iya Nak. Ini bau air mani. Tito tadi malam bener-bener mimpi kan Nak?ÔÇØ tanyanya seolah sedang memastikan sesuatu. Sorot matanya terus saja menunjukkan gelagat aneh.

Tiba-tiba muncul sebuah ingatan di dalam otakku ini. ÔÇ£Oh iya! Ibu pasti lagi mastiin kalo aku ngeluarin mani bukan karena nontonin dia ÔÇÿmainÔÇÖ tadi malam. Aku kok nggak kepikiran sampe kesitu ya?ÔÇØ

ÔÇ£Kayaknya sih gitu Bu. Soalnya tadi malem Tito kayak mimpiin perempuan gitu.ÔÇØ Kataku berpura-pura dan berakting seolah-olah sedang berpikir.

ÔÇ£Mudah-mudahan Ibu percaya.ÔÇØ Pikirku sedikit gugup.

Sejenak tatapan Ibu masih tajam ke sorot mataku. Tapi kemudian segera berubah damai dengan senyum yang mengembang. Ternyata dia mempercayai kebohongan menyedihkanku barusan.

ÔÇ£Ternyata aku berbakat juga jadi bintang sinetron di TV.ÔÇØ Pikirku geli.

Kemudian diletakkannya begitu saja celanaku di atas kasurnya yang masih tergelar di atas lantai, lantas berdiri memapahku yang sedang telanjang. Ada sedikit perasaan malu juga ketika telanjang bulat begini di dekat Ibu. Apalagi sekarang dia merangkulku persis seperti waktu aku di masa-masa pasca sunatan. Seolah-olah aku orang lumpuh yang sedang belajar berjalan.

Aku melirik Ibu yang saat ini menempel di sebelah kiriku. Dia terus saja menatap ke bawah dan menuntun langkahku agar tak tersandung apapun. Padahal memang tidak ada yang menghalangi jalan kami sampai ke kamar mandi.

ÔÇ£Ibu lagi ngeliatin jalan atau ngeliatin burungku ya?ÔÇØ batinku sambil meliriknya dengan saksama.

Akhirnya kami berdua tiba di depan kamar mandi. Ada semacam lantai tinggi di pintu kamar mandi yang harus aku langkahi. Lantai yang agak tinggi ini sudah biasa ada di setiap kamar mandi. Ini dibuat agar air tidak merembes keluar. Kulangkahi itu dengan ÔÇÿlancar jayaÔÇÖ karena aku pada dasarnya memang bisa berjalan dan tak butuh dipapah. Namun kubiarkan saja Ibu memapahku.

Lumayan. Bisa nempel-nempel sama teteknya Ibu yang nggak pake BH. Hehe pikirku.

Tapi sesaat kemudian aku kembali dibuat bertanya-tanya akan kelakuan Ibu. Ibu dari tadi terus saja menuntunku masuk ke dalam kamar mandi. Dan kini dia menutup pintu kamar mandi itu tanpa menguncinya. Kami berdua sudah ada di dalam kamar mandi sekarang.

ÔÇ£Lho? Ibu kok ikut ke kamar mandi juga? Tito kan bisa mandi sendiri Bu? Masa udah besar masih dimandiin sih.ÔÇØ

Namun Ibu yang kutanya begitu malah tersenyum dan berkata, ÔÇ£Udah, nggak apa-apa. Biar Ibu yang mandiin Tito. Lagian Ibu takut Tito kenapa-napa kalo mandi sendiri. Ntar malah kepleset kayak Nenek dulu.ÔÇØ

ÔÇ£Oh gitu ya Bu. Ya udah deh.ÔÇØ Jawabku pasrah. Padahal dalam hati aku benar-benar gembira kalau badanku akan dipegang-pegang dan digosok-gosok oleh Ibu nanti.

Ibu mulai menciduk air dengan gayung dan membilas tubuhku dengan air. Dia sengaja tidak menyiram kepalaku karena perbanku yang takut basah kena air. Ada sekitar tiga bilasan yang dilakukannya. Kemudian Ibu mengambil sabun dan sedikit menguceknya dengan kedua tangannya agar busa sabunnya keluar. Setelah busanya cukup banyak dia lalu meratakannya ke seluruh punggungku, kemudian Ibu berputar ke hadapanku dan kemudian menyabuni bagian depan pula. Dada dan perutku disabuninya. Hal ini membuatku sedikit geli dan membuat kemaluanku bangun.

Ternyata Ibu memperhatikannya. Dia cuma tersenyum dan melanjutkan menyabuni kedua lenganku. Setelah itu dia menyabuni pahaku hingga ke betis. Dan terakhir telapak kakiku berikut sela-sela jarinya. Ketika dia tadi menyabuni pahaku yang bagian dalam, aku merasa sangat kegelian dibuatnya. Kemaluanku semakin menegang ke arahnya, tapi belum tegangan yang penuh. Ibu menyadarinya tapi dia lagi-lagi cuma tersenyum menggoda.

ÔÇ£Udah Bu? Sini gayungnya Bu, biar Tito aja yang bilas sendiri.ÔÇØ Kataku sambil mengulurkan tangan yang penuh busa sabun.

ÔÇ£Eh, belum Nak. Tuh pantat sama selangkangannya kan belum disabunin.ÔÇØ Sanggah Ibu dengan tawaran yang betul-betul menggugah imajinasiku.

ÔÇ£Hah? Ibu mau nyabunin burungku? Bisa-bisa aku ÔÇÿkencingÔÇÖ lagi nih kayak semalam!ÔÇØ batinku. Aku berdebar-debar menantikan tangan Ibu yang sekarang sudah penuh lagi dengan busa sabun yang siap digosok-gosokkan ke selangkanganku.

Pertama-tama dia menyabuni buah pantatku, kemudian tangannya masuk ke sela-selanya dan menggosok anusku berulang-ulang. Burungku semakin menegang menuju maksimal, mengangguk-angguk seperti menantang. Wajahku meringis menahan kenikmatan ini.

Engghh tanpa sadar aku mengeluarkan sedikit erangan tertahan dan Ibu di belakang mendengarnya.

ÔÇ£Kenapa sayang? Geli ya?ÔÇØ Tanya Ibu yang saat ini menyabuni sela-sela pantatku sambil berdiri membungkuk.

Iiya Bu Dikitt jawabku dengan muka yang meringis geli dan kedua tangan yang sudah bertumpu di atas mulut bak. Posisiku kini agak membungkuk.

Hihi ya udah deh, nih pantatnya udah. Sekarang sini burungnya Ibu sabunin. Tadi kan kena air maninya Tito, jadi harus dibersihin. Ujar Ibu sambil mengucek sabun agar busanya keluar lagi.

ÔÇ£Waduh! Gimana nih!? Pantat aja udah gelinya minta ampun, apalagi burungku? Bisa kelonjotan nih!ÔÇØ pikirku sambil memutar badanku sedikit. Kini hanya tangan kananku yang masih memegangi bak mandi.

Sesaat kemudian Ibu memasukkan tangan kanannya ke dalam selangkanganku. Tepatnya di pangkal buah zakarku. Dia membelainya lembut dengan jari-jarinya yang lihai menggosok lipatan-lipatan yang ada di bawah sana. Kemaluanku menegang maksimal. Tegang sejadi-jadinya dan bergerak-gerak mengangguk seolah menantang wajah Ibuku. Ibu saat itu berdiri sambil membungkuk seperti menyabuni pantatku tadi.

Kulihat mata Ibu sepertinya sangat fokus ke arah kemaluanku yang sedang menegang hebat. Aku hanya bisa melihat dengan mata yang sayu karena dilanda kenikmatan yang luar biasa. Aku merasa sangat malu karena kemaluanku menegang di depan Ibu, tapi aku juga merasa tak ingin untuk mengakhiri semua ini. Aku hanya bisa menuruti kemauan tubuhku.

Ukhh Akhh eranganku mulai keluar dari mulutku. Aku tak bisa menahannya. Seolah keluar begitu saja.

ÔÇ£Kenapa sayang? Geli ya?ÔÇØ kata Ibu menatapku dengan senyum yang kali ini terkesan nakal.

Engghh Iya Bu Geli banget kataku menjawab pertanyaannya dengan mencoba tersenyum juga. Tapi yang keluar malah senyuman getir.

Ibu tiba-tiba melambat dan menarik tangannya. Aku tiba-tiba merasa tak enak dengan tingkahnya itu. Entah kenapa emosiku sepertinya naik secara tiba-tiba dan agak sedikit menghardiknya.

Lho!? Kok berhenti sih Bu!? Tito kan jadi kata-kataku terputus. Bukan karena tak bisa melanjutkan kata-kata, tapi karena aku yang tiba-tiba menghardik Ibuku sendiri.

Aku tak mau kurang ajar pada Ibu dengan menghardiknya, apalagi membentaknya. Aku ini anak yang baik dan berbakti. Tak sepantasnya aku melakukan hal-hal itu yang padahal jelas karena kekurangajaranku sendiri. Tapi Ibuku yang sangat baik hati ini malah menatapku dengan senyum yang lebih lebar.

Kenapa Nak? Tito jadi apa? Jadi tanggung ya? Hihi godanya sambil tertawa kecil.

Ngg I Iya Bu Perasaan Tito jadi nggak enak gitu. Jawabku dengan wajah bersalah.

ÔÇ£Ya udah. Ini juga malah mau Ibu bikin lebih enak lagi.ÔÇØ Katanya sembari mengucek-ngucek tangannya lagi dengan sabun.

ÔÇ£Maksud Ibu?ÔÇØ kataku penasaran. Ibu meletakkan sabunnya dan kemudian berjongkok dengan kemaluanku yang sudah berada di depan wajahnya.

ÔÇ£Tito udah mimpi basah kan? Rasanya enak kan?ÔÇØ Tanya Ibu.

ÔÇ£EmmÔǪ Iya Bu, enak.ÔÇØ Jawabku seadanya. Mencoba menebak-nebak arah pembicaraan ÔÇÿkritisÔÇÖ ini.

ÔÇ£Tito mau Ibu bikin enaknya nggak cuma di dalam mimpi nggak?ÔÇØ tawar Ibu dengan tersenyum menatapku.

ÔÇ£Mau dong Bu!ÔÇØ jawabku antusias. Aku menduga ini pasti seperti tadi malam yang mana aku ÔÇÿkeluarÔÇÖ di alam sadarku, bukan dalam mimpi.

ÔÇ£Tito udah pernah onani Nak? Atau kata bahasa kerennya ÔÇÿmasturbasiÔÇÖ?ÔÇØ Tanya Ibu mendalam.

ÔÇ£Belum pernah dengar tuh Bu.ÔÇØ Jawabku dengan jujur.

ÔÇ£Jadi Tito belum pernah ngocok sekalipun seumur hidup Tito?ÔÇØ dengan alis mata yang sedikit terangkat.

ÔÇ£Ngocok? Ngocok itu apa Bu?ÔÇØ tanyaku kembali dengan serius.

Ibu kemudian tersenyum dan hampir tertawa karena pertanyaanku. Seakan-akan dia benar-benar tidak menyangka kalau aku tidak tahu seluk beluk mengenai ngocok, onani, maupun masturbasi. Hingga kemudian senyumnya berubah menjadi sangat nakal.

ÔÇ£Ya udah, sini biar Ibu ajarin caranya ngocok, biar Tito tau dan nanti kapan-kapan bisa ngelakuinnya sendiri.ÔÇØ Ujar Ibu dengan suara yang agak pelan hampir seperti berbisik.

ÔÇ£Tito badannya putar dulu Nak. Belakangin bak mandinya terus pegang dinding baknya ya.ÔÇØ instruksi Ibu padaku. Akupun memutar badanku. Dan posisiku sekarang membelakangi bak dan kedua tanganku tertumpu ke belakang dan memegang mulut bak.

Tangan Ibu yang sedari tadi sudah dilumuri banyak busa kini memegang batang kemaluanku yang dari tadi masih tegang dan keras. Aku sangat terkejut dengan perasaanku kali ini. Kemaluanku bereaksi semakin gencar. Rasanya benar-benar luar biasa. Batang kemaluanku dikocok perlahan maju mundur oleh Ibu.

ÔÇ£Ini lebih enak dari yang tadi!ÔÇØ teriakku dalam hati.

Egghhh Akhhh Erangku tertahan karena saking enaknya kocokan Ibu.

ÔÇ£Enak sayang? Gimana? Enak nggak burungnya Ibu kocokin?ÔÇØ Tanya Ibu dengan nafas berat dan matanya yang sayu menatapku dari posisi jongkoknya. Bibirnya menyunggingkan senyuman nakal.

ÔÇ£UkhhÔǪ IÔǪ Iya BuhhÔǪ Enak banget rasanyaÔǪÔÇØ jawabku dengan erangan tertahan sambil mencoba membuka mata dan menatap wajah Ibu yang sangat seksi. Panggilan ÔÇÿsayangÔÇÖ-nya padaku benar-benar membuatku melambung ke langit ke tujuh.

ÔÇ£Keluarin aja suaranya sayang, jangan ditahan-tahan. Bilang aja apa yang Tito mau. Nggak apa-apa.ÔÇØ Imbuhnya lagi dengan wajah yang semakin seksi.

Engghh Iya Buhh Enak banget Ahh cecarku dengan lebih bebas sekarang.

ÔÇ£Enak sayang? Tadi malam mimpinya sama siapa sayang? Tito kalo mimpi sama siapa sih sayang?ÔÇØ Tanya Ibu mencoba memancing rahasiaku.

Ahhh Engghh nggakk Ohh Nggak tau Bu kataku sambil memejamkan mataku karena nikmatnya.

Bilang dong sama Ibu sayang Nanti nggak Ibu kocokin lagi loh! ancam Ibu dengan menghentikan kocokan tangannya di kemaluanku.

ÔÇ£Iya Bu! Tito bakal jujur! Tapi kocokin terus kayak tadi Bu!ÔÇØ mohonku padanya dengan suara serak dan bergetar. Ibu pun mengocoknya lagi.

Ayo dong Tito Jujur sama Ibu Biar Ibu enakin lagi sayang lanjut Ibu lagi.

Dengan mata yang sayu aku mencoba menatap mata Ibuku. Gila! Wajah Ibu benar-benar sedang penuh nafsu. Matanya juga sayu sama sepertiku. Wajahnya merah padam. Mulutnya sekarang tak ketinggalan juga ikut mendesah.

Ssshh Ayo ssayang jujur dong sama Ibu tadi malam Tito mimpiin siapa? Hhsstt Ibu terus menanyaiku sambil mendesah-desah. Aku semakin tak tahan dengan kocokannya yang kian cepat.

Ayo Tito! Jujur sayang! Ohhsshh Ibu mempercepat kocokannya dan semakin mendesah hebat.

Ohh Bu! Akhh! Tito mimpiin Ibu! Tito mimpiin Ibu! Ahhh Enak Bu! kataku dengan sedikit berteriak. Rahasia itu keluar begitu saja dari mulutku.

Hihi Shhh Ibu lagi ngapain di mimpi kamu sayanghh!? Terus kamu ngapain Ibu sayangghh!? Hmmm?? Tanya Ibu lagi dengan membabi buta.

Sambil menatap Ibu yang sangat menggoda kukatakan segalanya padanya. Ohhh Buu! Tito mimpi diciumin Ibu! Tito mimpi dicium-cium sama Ibuhhh! Enghhh Akhh!

Tito mimpi dicium-cium Ibu sayanggghh!? Apanya Tito yang Ibu ciumin sayanghh!?? Hmmm?? Shhh?? Apanya sayangg? Sshh Burungnya Tito ya? Ibu ciumin burungnya Tito sayang!? Tito mimpi burungnya Ibu ciumin sayangghh? Hngg..? Ahhssshh Burungnya Tito Ibu ciumin kayak gini ya sayangg..!?

Ibu langsung menciumi kepala penisku yang sudah sangat panas membara. Busa sabun ditangannya sejak tadi sudah habis. Kini tangannya sudah kelihatan dengan jelas sedang maju mundur mengocok batang penisku yang merah padam sekencang mungkin sementara bibirnya yang seksi menciumi kepala penisku sambil mengoles-oleskannya di bibirnya.

Bukan Bu! Bukan burung Tito yang Ibu ciumin! Bukan burungnya Tito! Auuhhh Enak Bu! Burung Tito geli banget Bu! Teriakku tidak tahan melihat kocokan dan bibir Ibu yang kini menciumi kemaluanku.

Crruupp crruppshhh Bunyi kecupan bibir Ibu yang seksi di kepala penisku. Dia terus saya menciuminya tanpa ampun.

Bu! Ibu cantik banget Bu! Aahhss Ibu cantik bangettthhh..! Jangan ciumin burung Tito Bu! Akhh Tito mau kencing Bu! Tito mau kencinnggg! Geli banget Bu! Ahhh! Aku mulai mengejang-ngejang menyaksikan Ibu yang menciumi dan mengocok kemaluanku dengan sangat cepat. Aku tak tahan lagi.

Ibuuuuu cantik bangettt! Oooohhh.! Croottt. Creett Croott Crottt! air maniku menyemprot bertubi-tubi ke wajah Ibu. Aku tak sempat menarik penisku ke arah lain.

Kencing di muka Ibu Nakkk! Ayo kencing sayannggghh aahhh! Emhhh! Ohhh! Ibu menampung air maniku di bibirnya, di hidungnya, pipinya, bahkan menyemprot hingga rambutnya. Aku tak tahan menyaksikan Ibuku yang terus dengan rakus masih menciumi seluruh batang penisku ketika cairanku menyemprot. Pantatku berkedut-kedut dan kemaluanku terus saja mengejang mengeluarkan cairan kental berwarna putih.

Baru pertama kali aku melihat cairan ini keluar dari kemaluanku. Ternyata beginilah air mani itu. Tubuhku masih berkedut-kedut ketika cairan itu sudah habis kukeluarkan. Rasanya letih sekali. Nafasku sampai tersengal-sengal. Nafas Ibu juga terdengar memburu.

Kulihat air maniku menggenang belepotan ke sekujur wajah Ibu. Aku jadi merasa bersalah dan merasa seperti anak durhaka. Perasaan yang tadi seperti hilang ditelan bumi. Sekarang digantikan seperti perasaan berdosa.

Bu! Maafin Tito Bu. Tito tadi nggak sengaja kencingin Ibu. Tadi enak banget, jadi Tito nggak sempet. Tito jadinya belum habis omonganku Ibu langsung memotong.

Tito kenapa Nak? Nggak apa-apa kok, Ibu nggak marah. Kan Tito nggak sengaja. Lagian juga Tito kan baru pertama kali ini kayak gini. Biasa kok kalo nggak tahan. Hihi Ujar Ibuku dengan wajah masih terbalur air maniku banyak sekali. Sampai menetes-netes ke lantai kamar mandi. Tapi dia tidak kelihatan risih. Dia malah sibuk menyirami kemaluanku sampai bersih dan kemudian menghandukiku ala kadarnya.

ÔÇ£Sini Bu! Biar Tito bersihin mukanya. Belepotan tuh! Tito kan jadi ngerasa bersalah sama Ibu.ÔÇØ Kataku sambil meraih gayung yang sudah berisi air.

ÔÇ£Nggak usah Nak. Ibu bisa bersihin sendiri. Udah, kamu balik aja ke kamar kamu ya. Sini Ibu bantu.ÔÇØ Kata Ibuku sambil berjalan memapahku keluar dari kamar mandi. Secepat kilat dia meraih handuk kering dari gantungan dekat kamar mandi. Kali ini sepertinya Ibu memapahku berjalan jauh lebih cepat dari yang tadi. Seperti ada yang dikejarnya. Akibatnya dengan cepatnya aku sudah berada di dalam kamarku sendiri sekarang.

ÔÇ£Ini handuknya Tito. Tito handukan sendiri ya.ÔÇØ Kata Ibu menyodorkan handuk kering itu padaku.

ÔÇ£Ibu mau kemana? Kok buru-buru?ÔÇØ tanyaku ingin tahu.

Ini Ibu mau Bersihin maninya kamu yang belepotan nih. Katanya. Memang kulihat ada sebagian kecil air maniku yang mengenai mata sebelah kirinya. Jadi mata kirinya agak menyipit sekarang.

ÔÇ£Itu memang salahku.ÔÇØ Batinku.

ÔÇ£Tito minta maaf ya Bu.ÔÇØ Aku lagi-lagi minta maaf.

Udahlah To kata Ibu sambil berlalu begitu saja ke belakang.

.. aku hanya bisa diam tanpa kata.

Beberapa saat kemudian aku mengeringkan bagian tubuhku yang masih basah dengan handuk. Setelah kering kulemparkan handuk itu begitu saja ke atas tempat tidur. Kemudian berjalan ke arah lemari pakaian dan memilih pakaian yang akan kugunakan. Ketika akan mengambil celana dalam, aku teringat sesuatu.

ÔÇ£Celana dalamku sama baju celanaku yang di kamar Ibu baiknya aku langsung letakin deh ke tempat cucian kotor. Ngapain juga terpampang nggak jelas di sana.ÔÇØ Pikirku.

Aku berjalan ke kamar belakang, di mana seluruh pakaianku tadi tergeletak tak berdaya di sana. Segera kuambil celanaku di lantai dan bajuku yang ada di atas tempat tidur Ibuku. Aku terhenti sejenak.

ÔÇ£Kok rasanya ada yang janggal ya? kayak ada yang kurang.ÔÇØ Aku termenung melihat baju dan celanaku yang kupegang di tangan kanan dan kiriku.

ÔÇ£Oh iya! Celana dalamku kemana ya?ÔÇØ

Kucari-cari ke tempat celanaku tadi teronggok di atas kasur Ibu, tidak ada. Kulihat-lihat sedikit ke bawah ranjang Ibu, tidak ada.

ÔÇ£Kemana ya?ÔÇØ

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*