Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 4

Ibuku Cintaku dan Dukaku 4

Kukkrukukkuuuuukk suara kokok ayam yang terus bersahutan di sekitar rumahku. Bunyi itu muncul bagaikan alarm otomatis setiap harinya.

Jumlah ayam jantan Pak Imron dan Bu Halimah yang cukup banyak membuat suara kokok mereka seperti paduan suara. Dan semua ayam mereka memang sengaja dilepaskan ke alam liar setiap subuh dan akan pulang ke kandang dengan sendirinya ketika petang. Biasanya fenomena paduan suara ayam yang terjadi di waktu subuh ini pasti akan membangunkan Ibu. Tak jarang juga malah membangunkanku. Tapi lebih sering Ibulah yang selalu terbangun duluan dan kemudian membangunkan sekaligus membuyarkan mimpi-mimpi indahku.

ÔÇ£Arrgghhh! Berisik banget nih ayam-ayam! Gangguin orang tidur aja!ÔÇØ seruku dalam hati sambil memaksa kedua mataku untuk terpejam lagi. Otakku memang masih mengirimkan sinyal kantuk. Namun mataku seolah tidak berkorelasi dengan otakku. Tetap saja sulit untuk menutupnya. Konsentrasi tidurku sudah terlanjur buyar karena ayam-ayam sok macho ini.

Secara keseluruhan, tubuhku sekarang memang sedang sangat letih. Tak seperti biasanya. Rasa-rasanya aku ingin sekali tidur semalam lagi untuk menebus rasa kantukku yang sekarang. Kelopak mataku benar-benar plin-plan. Disuruh tidur tidak mau terpejam, ketika dibuka malah terasa berat.
ÔÇ£Dasar ayam sialan! Gara-gara mereka tuh aku jadi begini.ÔÇØ Makiku dalam hati.

Di tengah-tengah kutukanku, rentetan aksi Ibu tadi malam tersaji lagi di otakku. Ketika pantatnya bergoyang-goyang, ketika dia melepaskan dasternya, ketika pakaian dalamnya teronggok di kepala dan wajahku, semuanya benar-benar indah. Apalagi ketika dia mengejang dan bergetar, itu merupakan bagian favoritku. Racauan-racauan vulgar Ibu juga masih terngiang di benakku. Termasuk kicauannya yang menyebut nama Rama. Aku tak bisa juga untuk tak memikirkannya. Tetap saja itu menimbulkan secercah kerikil di pikiranku.

Tapi Ah! Mungkin itu cuma perasaanku aja yang terlalu sensitif. Kataku dalam hati dengan mata yang masih sayu menatap langit-langit.

ÔÇ£Oh iya! Ibu di mana ya?ÔÇØ tiba-tiba aku teringat dia. Mataku sedikit lebih terbuka karena mengingat Ibuku.

ÔÇ£Jangan bilang dia lagi ngelakuin yang ÔÇÿaneh-anehÔÇÖ lagi, karena pasti aku bakal dengan senang hati nonton sambil pura-pura tidur. HeheÔǪÔÇØ di tengah keletihanku masih saja aku berharap yang tidak-tidak.

Saking antusiasnya diriku, aku tak sadar menolehkan kepalaku ke kanan dengan gerakan yang lebih cepat dari yang tadi malam. Namun untungnya, sama sekali tak kurasakan sakit yang serius. Walau rasa ngilu itu masih lumayan terasa. Mungkin keadaannya sudah agak lebih baik sekarang.

Rupanya dugaanku tak sejalan dengan kenyataannya. Ternyata Ibu sedang tertidur nyenyak sekali. Dia sudah mengganti dasternya yang sebelumnya dengan daster batik warna coklat tua dengan model leher persegi. Lengan dasternya pendek tapi ketat di tepiannya, membuat ketiaknya tertutup rapat. Daster yang satu ini berbeda dengan daster kesukaanku yang tadi malam dipakainya yang berbahan lebih tipis. Berwarna kuning cerah dan bermotif seperti bunga tulip di tepian roknya. Lingkar leher daster yang satu itu lebih lebar dan rendah, disertai bagian lengan yang longgar dan cukup lebar juga. Sehingga aku dapat melihat lilitan BH-nya di balik lengannya.

Dia tidur dengan tangan kanan seperti gerakan sedang menggaruk lehernya, sementara tangan kirinya berada di atas bantalnya. Lengan kirinya terangkat membentuk sudut siku-siku, persis seperti lengan anak bayi jika tertidur. Rambutnya yang tergerai indah di atas bantal serta dilengkapi poni menyamping itu membuatnya benar-benar kelihatan jauh lebih muda. Ditambah wajahnya yang begitu polos dan tenang saat tertidur seperti ini membuatku semakin jatuh hati pada Ibuku sendiri.

ÔÇ£Apa aku udah jatuh cinta sama Ibuku sendiri? Apa hal kayak gitu wajar ya, untuk anak seusiaku? Apa ada anak lain yang jatuh cinta juga sama Ibunya sendiri? Terus, apa boleh ya aku jatuh cinta sama Ibuku sendiri kayak sama perempuan lain?ÔÇØ berbagai pertanyaan menjejali nalarku.

ÔÇ£Atau jangan-jangan ini cuma cinta monyet kayak yang Bu Dina bilang di sekolah?ÔÇØ pikirku.

Aku teringat dengan kata-kata Bu Dina di sekolah kepada kami beberapa bulan yang lalu. Tepatnya ketika sedang ada pemeriksaan PR matematika, salah satu mata pelajaran favoritku. Sepuluh siswa di dalam kelas disuruh untuk menuliskan di papan tulis jawaban dari sepuluh soal PR yang telah diberikan kemarin, lengkap dengan cara, rumus, dan proses perhitungannya. Jadi tak hanya sekedar tulis hasil akhir.

Giliran pertama, empat orang dipanggil ke depan kelas dan menuliskan hasil PR-nya. Di antara empat orang pertama itu salah satunya adalah aku. Seperti biasa namaku selalu dipanggil yang pertama kali oleh Bu Dina. Bukannya aku ingin menyombongkan diri. Tapi kurasa Bu Dina memang sangat menyukaiku. Alasan Bu Dina sangat menyukaiku di sekolah mungkin karena aku selalu rajin belajar dan dapat mempertahankan gelar juara kelasku sejak kelas 1 SD. Aku bahkan sanggup mempertahankan gelar juara umum selama tiga periode, tepatnya semenjak kelas 4 SD.

Empat orang kedua dipanggil ke depan kelas. Kali ini salah satunya adalah teman semejaku, Rama. Rama menuliskan hasil PR-nya yang dia kerjakan kemarin bersamaku. Masalah PR memang kami berdua sering mengerjakannya bersama di rumahnya. Tapi untuk beberapa mata pelajaran tertentu saja, seperti halnya matematika. Rama memang agak lemah pada pelajaran matematika. Dan sebagai sahabatnya yang baik aku selalu mau membantunya. Sebab dia juga pasti selalu mau membantuku di saat aku kesulitan. Apalagi Rama adalah teman yang sangat murah hati. Jika dia punya permainan baru atau hiburan dan keseruan baru, dia selalu mengajakku sebagai satu-satunya pendampingnya berbagi.

Rama bukannya tak mau berteman dengan orang lain selain diriku. Tapi menurutnya, jika berada di dekatku hari-harinya terasa seru dan dia juga merasa terlindungi. Waktu pertengahan semester 1 kami di kelas 6, Rama sering sekali diincar oleh anak-anak SMP yang sering nongkrong dan merokok di dekat sekolah kami. Itu karena mereka tahu mana anak orang ÔÇÿberduitÔÇÖ dan mana yang tidak. Tidak sulit bagi mereka mendeteksinya. Rama yang setiap harinya memakai tas bagus, sepatu bagus, dan jam tangan yang berkilau merupakan ciri-ciri mangsa empuk mereka. Kami berdua yang selalu pulang bersama-sama lebih sering lari menghindari mereka.

Pernah sekali waktu kami dicegat oleh mereka. Tapi aku yang notabene punya ukuran tubuh lebih baik daripada Rama dengan gagah berani maju dan melawan anak-anak SMP yang waktu itu ada tiga orang dengan tubuh sedikit lebih tinggi daripada aku. Aku tak tahu keberanianku datang dari mana. Yang jelas aku yang termotivasi dan tersulut kemarahan akan tersudutnya sahabat baikku yang penakut itu, langsung saja menyerang mereka membabi buta. Kuambil senjata yang ada di sekitar situ. Kayu, batu, atau apapun yang bisa dijadikan senjata. Aku juga sempat melemparkan sepatuku sendiri.

Tapi akhirnya ÔÇÿamunisiÔÇÖ habis. Tak ada lagi yang bisa dijadikan senjata. Salah seorang di antara mereka kepalanya sudah berdarah-darah dan bibirnya robek. Dia berlari pulang dengan tertatih-tatih sambil menangis ketakutan dan meneriakkan kata ÔÇÿemakÔÇÖ terus-terusan ketika melihat darahnya sendiri berceceran. Sementara dua orang lagi hanya dapat luka kecil dan masih sanggup untuk melawan. Lagi-lagi dengan gagah berani kulawan mereka meski dengan tangan kosong. Anehnya mereka hanya bisa memukulku dua kali di pelipisku. Sementara aku bisa memukul dan menendang mereka berkali-kali di wajah dan di perut mereka.

Alhasil mereka berdua minta ampun dan berlari (juga) dalam keadaan menangis. Ternyata mereka tak seseram dan sekuat dugaanku. Mereka ternyata cuma banyak gaya saja dengan rokok mereka yang mereka gunakan untuk menakut-nakuti anak-anak SD dari sekolah kami. Padahal mereka sebenarnya hanya ÔÇÿanak mamiÔÇÖ sama sepertiku.

Ukhh kucoba memegang luka di pelipisku. Mencoba menyentuh-nyentuhnya dan melihat telapak tanganku berulang-ulang memastikan ada tidaknya darah yang keluar.

Ada sedikit darah yang keluar seperti pada luka lecet biasa. Terasa perih namun tak mengeluarkan terlalu banyak darah.

ÔÇ£Mungkin emang cuma lecet atau memar doang.ÔÇØ Pikirku.

Kulihat keadaan Rama. Matanya saat itu berbinar-binar sambil cengengesan melihatku yang memegangi lukaku.

ÔÇ£Lu kenapa Ram?ÔÇØ tanyaku. Merasa risih dengan pandangannya itu. Seolah-olah dia melihat aku sebagai seorang pria pahlawan yang telah menyelamatkan seorang wanita dari perkosaan.

ÔÇ£Sumpah To! Lu keren banget!ÔÇØ serunya antusias.

Pandangan anehnya itu kembali ditunjukkannya padaku ketika selesai mengerjakan soal PR di papan tulis dan berjalan ke kursinya di sebelahku. Tatapannya seolah berkata, ÔÇ£tanpa dirimu di sisiku wahai sahabatku, riwayatku pasti sudah tamat!ÔÇØ

Paras Bu Dina memang cantik, tapi kalau mentolerir kesalahan atau kelalaian dia sangat galak. Dia tegas sekali dalam mendidik dan mengajar. Tak jarang berdiri di depan kelas selama satu jam menjadi ganjaran untuk murid-murid bandel ataupun yang malas mengerjakan PR. Kadang juga ketika dia benar-benar geram, dia menghukum muridnya untuk berdiri di lapangan sambil hormat ke tiang bendera selama satu jam. Sebagaimana yang pernah menimpa Andri sebelumnya karena tak pernah mengerjakan PR. Yang dikerjakannya hanya main bola, main bola, dan main bola.

Tapi setelah itu Andri bertobat. Dia mengerjakan PR-nya, walaupun bermain bola tetap saja dilakukannya. Mungkin sepak bola sudah mendarah daging baginya layaknya tokoh kartun Tsubasa Ozora.

Beruntungnya ketika itu Bu Dina ingin sekali melihat hasil ÔÇÿjerih payahÔÇÖ Andri dalam mengerjakan PR. Dua siswa untuk dua soal terakhir pun dipanggil. Ratna dapat soal nomor 9, sementara Andri dapat soal yang paling sulit, soal nomor 10.

Seketika saja suara yang lazim berkumandang, kembali terdengar membahana di ruang kelas kami. Ciiieee Ciieeee Ciieee sambut kami meriah.

Sudah banyak sekali gosip yang mengatakan tentang Andri yang menaruh hati pada Ratna. Anehnya Ratna yang tadinya tak punya rasa pada Andri sedikitpun, kini jadi salah tingkah jika disanding-sandingkan dengan Andri.

ÔÇ£Kalian kenapa sih?ÔÇØ kata Bu Dina sambil tersenyum pada kami semua.

ÔÇ£Si Andri katanya suka sama si Ratna Bu!ÔÇØ sahut Suryo, teman semeja Andri yang duduk paling belakang.

Andri yang sedang salah tingkah di papan tulis dengan kapur tulis di tangannya pun melotot sambil tersenyum ke arah Suryo di belakang. Sementara Ratna walau tak bisa menahan senyumannya, dia tetap melanjutkan tulisannya.

ÔÇ£Udah-udah! Cepat dikerjakan! Jangan kebanyakan bercanda.ÔÇØ Sergah Bu Dina membuat satu kelas kontan menjadi sunyi senyap. Hanya goresan kapur mereka yang terdengar menggores papan tulis.

Akhirnya mereka berdua selesai mengerjakannya dan Bu Dina melihat hasilnya. Terutama hasil pekerjaan Andri si pemalas itu.

ÔÇ£Yak, benar semua!ÔÇØ seru Bu Dina dengan senyum bangga ke arah kami semua.

Ciiieee Ciieee serentak kami semua kepada mereka berdua terutama Andri. Sangat jarang Andri menjawab soal dengan benar. Tapi saat itu dia bisa melakukannya.

Gara-gara ada si Ratna tuh Bu! Ciieee Ciieeeee seru Suryo.

Seketika kami semua tertawa mendengar kelakar Suryo yang sukses menghibur kami semua. Bahkan Andri tak bisa lagi menahan malu dan segera berjalan cepat ke kursinya, kemudian melayangkan tepukan buku ke kepala Suryo. Suryo tetap saja tertawa terpingkal-pingkal. Bu Dina yang begitu tegas dan serius ketika mengajar juga tak bisa menahan tawanya. Gigi-geliginya yang putih menghiasi bibirnya yang dipoles lipstick warna merah muda yang lembut menghiasi wajahnya. Tak ketinggalan lesung pipi yang memperindah senyumannya membuatku malah terkonsentrasi memperhatikannya.

ÔÇ£Oh! Guruku yang cantik. Oh! Bidadariku.ÔÇØ Syairku dalam hati.

Setelah tawa kami mereda, Bu Dina mulai berbicara. Dia berkata sesungguhnya apa yang kami rasakan sekarang ini adalah ÔÇÿcinta monyetÔÇÖ. Tapi belum sempat Bu Dina menjelaskan lebih lanjut, Suryo lagi-lagi nyeletuk.

ÔÇ£Bu! Berarti si Andri monyet dong!ÔÇØ

Lagi-lagi kami semua tertawa terbahak-bahak. Andri hanya bisa menepuk kepala teman semejanya itu sambil tersenyum kesal. Bu Dina juga tertawa. Tapi kemudian dilanjutkannya lagi penjelasannya bahwa cinta monyet itu adalah cinta main-main dan bukan cinta yang serius. Itu hanya terjadi pada anak-anak yang baru memasuki masa pubertas. Cinta yang hanya diwarnai dengan bersenang-senang sesaat dan tidak memikirkan halangan, risiko, maupun tanggung jawab.

Kami semua hanya menatapnya serius. Mungkin ada sebagian di antara kami yang paham, ada juga yang tidak. Tapi menurutku sih lebih banyak yang tidak. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang melongo.

Saat itu muncul pertanyaan-pertanyaan dalam pikiranku yang terus bertahan hingga sekarang aku menatap Ibuku yang sedang tertidur ini. Kalo emang yang aku rasain ini cinta monyet, gimana dengan Bapak? Kenapa dia nggak bertanggung jawab sama nasib kami? Kenapa dia nggak mau menghadapi segala risiko sama-sama? Kenapa dia ninggalin istri yang secantik ini? Apa sih yang ada di pikiran Bapak? Cinta Bapak cinta monyet juga dong kalo gitu.

Kutolehkan kepalaku kembali ke langit-langit kamar dan kembali menerawang. Bapak ada di mana ya sekarang? Apa dia nggak kangen sama aku, anaknya sendiri? Apa dia juga nggak kangen sama Ibu? Mukanya Bapak kayak apa ya? Aku belum pernah tuh liat mukanya. Fotonya aja kami nggak punya satupun. Katanya Ibu sih dia ganteng. Tapi Ibu pernah bilang aku malah lebih ganteng dari Bapak. Hehe Jadi penasaran mukanya Bapak. khayalku sambil senyum-senyum sendiri.

Kukkrukukkuuuuukk Suara kokok ayam itu terdengar lagi dengan lantangnya. Kali ini terdengar lebih dekat dari yang tadi. Asalnya sepertinya dari samping kamar ini.

ÔÇ£Buset dah nih ayam! Emang udah nggak sabar dijadiin ayam potong kali ya! Berisik amat! Tadi gangguin orang tidur, sekarang gangguin orang lagi berkhayal!ÔÇØ omelku dalam hati.

ÔÇ£Kalo aja tuh rumah nggak dibeli sama Pak Imron, pasti nggak bakal ada nih ayam-ayam belagu!ÔÇØ sambungku lagi.

Rumah Pak Imron dan Bu Halimah, tetangga kami yang jaraknya cukup jauh dengan rumah yang kami tempati sekarang ini dulunya adalah rumah kami. Sementara rumah yang kami tempati sekarang ini awalnya merupakan rumah Kakek dan Nenekku dari pihak Ibuku.

Menurut cerita Ibu, saat-saat krisis di keluarga kami terjadi saat Ibu baru saja tamat SMP. Ketika itu Ibu melanjutkan sekolah SMA-nya ke luar kota dan ÔÇÿnge-kostÔÇÖ di sana. Namun belum genap setahun dia bersekolah di luar kota, Kakek sakit keras dan dia diminta untuk pulang. Karena itu pula Ibu tak kembali lagi ke sekolahnya karena uang simpanan Kakek dan Nenek semakin menipis, dan mereka berdua takut jika biaya untuk pengobatan penyakit Kakek akan lebih besar.

Ternyata waktu itu Kakek terkena penyakit kanker paru-paru dikarenakan kebiasaan merokoknya. Ketidaktahuan kami dulunya akan penyakit Kakek ini membuat keadaannya semakin parah dalam waktu singkat. Kami baru tahu bahwa Kakek menderita kanker paru-paru stadium akhir saat di bawa ke dokter spesialis di luar kota atas rujukan dari rumah sakit yang ada di kota dekat desa kami. Namun Kakek bersikeras untuk tak mau dirawat di rumah sakit itu. Dia ingin rawat jalan saja, dan mempercayakan penyakitnya pada obat-obatan.

Saat Kakek masih sakit parah, Pak Kusnadi, Bapaknya Bu Ratmi datang ke rumah ini untuk meminta bantuan uang pada Kakek. Saat itu mereka terkena musibah. Rumah mereka kebakaran. Rumah mereka yang terbuat dari papan membuat segalanya ludes dibakar ÔÇÿsi jago merahÔÇÖ, termasuk warung nasi uduk istrinya dan bengkel motor kecil-kecilan milik Pak Kusnadi yang mana kedua bangunan itu dibangun menempel ke bangunan rumah mereka yang dilalap api. Padahal hanya itulah sumber mata pencaharian keluarga kecil mereka. Dan malangnya hanya sedikit barang yang bisa mereka selamatkan.

Mereka tak tahu harus bernaung di mana lagi. Pak Kusnadi tak punya sanak saudara, sementara sanak saudara Istrinya berada di luar provinsi. Terlalu jauh untuk meminta bantuan di saat genting seperti itu. Dan jikalau Istri Pak Kusnadi meminta bantuan pun mereka pasti tak sanggup berbuat banyak karena mereka bukanlah orang yang tergolong mampu.

Pak Kusnadi adalah teman baik Kakek dan Nenek saat masih remaja. Karena ikatan persahabatan itu pula akhirnya Nenek mengeluarkan uang tabungannya yang selama ini dia simpan ketika menjual gorengan. Waktu itu dia punya uang simpanan beberapa juta. Namun harta berharga Nenek yang sebenarnya ada pada simpanan perhiasan emasnya yang cukup banyak. Perhiasan emas itu terkumpul dari perpaduan jerih payah Kakek dan Nenek. Mereka menyadari bahwa harta semacam itu akan dibutuhkan suatu hari nanti, tepatnya di saat-saat kritis seperti saat itu.

Dia lalu mengeluarkan setengah dari jumlah perhiasan emasnya, dan menyuruh Pak Kusnadi untuk menjualnya di kota. Dan untuk sementara waktu Nenek menyuruh Pak Kusnadi untuk menggunakan uang simpanan Nenek itu untuk kontrakan dan makan sehari-hari. Nenek juga meminta Pak Kusnadi untuk mencarikan seseorang dari kalangan petani untuk mengawasi dan membantu menggarap sawah Kakek setiap hari bersama petani-petani lain yang biasa diupah Kakek untuk menggarap sawahnya. Pak Kusnadi tentu sangat dengan senang hati melakukan apa yang diperintahkan Nenek.

Ternyata perintah Nenek tak cukup sampai di situ. Nenek menyuruh Pak Kusnadi untuk mencari beberapa pekerja untuk membangun sebuah rumah di atas tanah milik Kakek. Nenek berpikir uang dari hasil penjualan emasnya itu seharusnya cukup untuk membuat sebuah rumah. Dulu, membuat rumah permanen sederhana dengan dua kamar itu masih murah. Hanya membutuhkan uang paling mahal 12 juta saja. Tidaklah semahal sekarang.

Orang-orang zaman dulu juga memang biasanya mempunyai tanah yang banyak dan luas. Apalagi untuk kalangan orang-orang desa. Begitu pula Kakek yang mempunyai kebun, sawah-sawah, dan juga sebidang tanah yang luas. Dulunya tanah di sebelah kanan gang ini semuanya adalah milik Kakekku. Dan Nenek memerintahkan Pak Kusnadi untuk membangun sebuah rumah di atas tanah milik Kakekku itu. Itulah rumah Pak Imron dan Bu Halimah sekarang.

Waktu itu Nenek berkata bahwa uang yang diberikannya itu hanya cukup untuk mengontrak dalam waktu yang tidak lama dan untuk makan beberapa minggu saja. Jadi apabila rumah itu sudah rampung, nantinya akan diperuntukkan kepada keluarga Pak Kusnadi untuk tinggal di situ. Gratis, tanpa uang sewa sepeserpun. Pak Kusnadi tak bisa membendung air matanya atas kebaikan hati Nenek dan Kakekku saat itu. Dia berkata akan segera mencari pekerjaan yang layak sehingga dia bisa membayar sewanya nanti. Tapi Nenek tetap bersikeras mengatakan kalau itu tak perlu.

Bahkan Nenek dalam penolakannya sempat juga mengatakan hal yang lucu. Udahlah, Kus! Nggak usah kamu pikirin. Toh dulu yang nyomblangin kami berdua kan kamu. Kamu juga udah berjasa sama kami. Hehe

Beberapa hari berlalu. Ketika rumah itu baru saja dimulai pembangunannya, Kakek meninggal dunia di usianya yang ke-51 tahun. Banyak warga desa maupun desa-desa tetangga yang datang melayat ke rumah. Itu semua karena sosok Kakek yang cukup dikenal baik, hingga ke desa-desa lain. Kakek memang terkenal suka membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan. Saat itulah pertama kalinya Ibu melihat Dewo, Bapakku, datang melayat bersama dengan Bapaknya alias Kakekku juga. Saat itu Bapak masih berumur sekitar 18 tahun, dan Ibuku masih baru menginjak 16 tahun.

Saat itu Ibu langsung terpesona melihat ketampanan Bapak. Dan menurut Ibu, Bapak saat itu juga begitu. Hari itu sangat bersejarah bagi mereka berdua. Namun setelah melayat dan Bapak pulang, Ibu tak pernah lagi melihatnya hingga dua tahun kemudian.

Selama dua tahun setelah Kakek meninggal, cukup banyak hal yang terjadi. Ibu tak lagi melanjutkan sekolahnya karena ketiadaan biaya. Hal itu disebabkan Nenek yang saat itu masih berusia 50 tahun, terkena penyakit ginjal kronis yang harus mendapatkan perawatan dan obat-obatan yang harganya mahal. Setiap saat Nenek juga harus bolak-balik ke rumah sakit di luar kota untuk cuci darah. Penyakit diabetes dan tekanan darah tingginya juga semakin memperparah keadaan. Mungkin semua itu dikarenakan efek stres dari meninggalnya Kakek. Entahlah, Ibu juga tak begitu mengetahui seluk-beluk penyakit Nenek. Yang Ibu pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya mencari uang untuk kebutuhan belanja sehari-hari sekaligus biaya perawatan Nenek. Ibu akhirnya hanya bisa melanjutkan usaha gorengan Nenek yang sudah Nenek rintis sejak lama. Namun Ibu mengikutsertakan Nenek karena Nenek harus beristirahat banyak.

Akhirnya, emas simpanan Nenek sudah habis semuanya untuk pengobatannya sendiri. Beruntungnya saat itu datang kabar dari Pak Kusnadi bahwa Pak Lurah berniat untuk menyatukan seluruh lahan sawah yang ada di daerah pematang sawah milik almarhum Kakek. Kakek punya beberapa petak di sebelah Barat. Sementara milik Pak Lurah yang petaknya 2 kali lipat dari jumlah sawah Kakek, berada di sebelah Timur. Pak Lurah ingin menjadikan seluruh sawah itu menjadi kepemilikannya seutuhnya dan membeli seluruh sawah milik almarhum Kakekku. Ibu pun menyetujui rencana Pak Lurah itu. Sementara Nenek hanya mengiyakan, pasrah karena tidak tahu lagi langkah yang harus diambil. Karena uang penjualan sawah itu benar-benar diharapkan untuk kelangsungan hidup Ibu dan Nenek.

Rezeki terus mengalir. Kali itu datang dari Pak Legimin, suami Bi Siti dan juga Bapak dari Bang Baim. Pak Legimin yang pekerjaannya merupakan distributor buah-buahan ke kota besar membawa serta juragan buah dari tempatnya bekerja di kota besar sana. Namanya A Heng. Seorang keturunan Tiong Hoa kaya yang punya banyak perkebunan buah. Dia berniat untuk membeli kebun buah milik almarhum Kakek untuk menambah produksi. Dia berpikir bahwa tanah kebun milik almarhum Kakek itu sangatlah subur, jadi akan sangat berpotensi besar, pikirnya. Hidup Ibu dan Nenek pun akhirnya semakin mudah.

Suatu hari, ketika Ibu sedang menjual gorengan, datanglah sang pujaan hatinya, Dewo. Saat itu Bapakku sedang ada di pasar dan kebetulan melintasi tempat jualan gorengan Ibu. Ketika mereka berdua beradu pandang, ÔÇÿperasaanÔÇÖ itu akhirnya datang kembali. Bapak ÔÇÿbergerakÔÇÖ lebih dulu dengan memperkenalkan dirinya pada Ibu. Ibu begitu menerima Bapakku di hatinya, dan kemudian berkembanglah suatu hubungan antara mereka.

Belum begitu lama mereka berdua melakukan pendekatan, akhirnya di dalam rasa cinta yang menggebu mereka berpacaran. Cukup lama juga mereka membina hubungan. Menurut penuturan Ibu ada sekitaran 1 tahun lebih mereka berpacaran, dan kemudian Bapak melamar Ibu untuk dijadikan Istri. Bapak saat itu bukanlah orang yang kaya, malah terbilang ÔÇÿpas-pasanÔÇÖ. Dia hanya berprofesi sebagai penjaga toko sparepart motor di kota berbekal ijazah SMA-nya. Tapi karena rasa cinta Ibu yang begitu hebatnya, akhirnya Nenek pun pasrah dan merelakan anaknya diperistri Bapak.

Setahun yang lalu rumah Nenek yang ditempati keluarga Bu Ratmi, sudah ditinggalkan. Karena Bu Ratmi dilamar oleh pria yang bekerja di kantor Lurah yang sekarang ini sudah menjadi kepala desa kami. Setelah rumah mereka terbakar waktu itu, Pak Kusnadi mendapat pekerjaan di kantor Lurah entah sebagai apa Ibu juga tidak begitu tahu. Yang jelas Pak Kusnadi kenal betul dengan calon menantunya itu. Akhirnya mereka sekeluarga waktu itu sudah tinggal di rumah sang menantu yang cukup besar.

Nenek bersikeras menyuruh Bapak dan Ibu untuk tinggal di rumah bekas keluarga Bu Ratmi itu saja dan meninggalkan Nenek sendiri tinggal di rumah ini. Toh, itu rumah keluarga kita juga. Namun, Ibu cukup was-was untuk meninggalkan Nenek yang sebenarnya masih dalam kondisi sakit untuk hidup sendiri. Ibu mengatakan tidak mau, tapi Nenek dengan tegas menolak.

Sambil tersenyum Nenek berkata, ÔÇ£Udahlah Yat, Ibu nggak apa-apa. Toh kalo kalian mau datang tiap hari atau tiap jam ke sini kan bisa aja. Rumahnya juga nggak jauh kan.ÔÇØ

Ibu akhirnya menerima dan mengangguk dengan perasaan yang masih keberatan. Walau bagaimanapun, wanita itu adalah Ibunya. Dia tak sanggup meninggalkannya sendirian tinggal di rumah ini apalagi dalam keadaan sakit dan butuh perhatian lebih. Saat itu Ibu berjanji untuk tetap merawat Nenek dengan baik dan datang setiap hari ke rumah ini. Nenek pun mengiyakannya.

Hari demi hari keadaan Nenek semakin membaik dan kelihatan lebih segar. Setelah diperiksakan ke dokter ternyata memang benar. Ginjalnya kembali berfungsi dengan sebagaimana mestinya. Namun Nenek tetap harus tetap menjaga kestabilan tubuhnya dengan pola hidup sehat.

Tiga bulan kemudian permintaan tak mengenakkan datang dari Bapak. Bapaknya Bapak alias Kakekku datang ke rumah, dan mengatakan ingin mengajak Bapak ke luar kota sekitar dua atau tiga bulan untuk mengurus sengketa asset rumah dan harta warisan orang tuanya yang ada di sana. Kenapa hanya Kakekku yang datang? Itu karena Kakek dan Nenekku dari pihak Bapakku itu sudah lama bercerai ketika Bapak kecil, sementara Bapak ikut bersama Kakekku.

Kakek beralasan bahwa apabila Kakek menuntut haknya atas rumah dan harta orang tuanya yang ada di luar kota itu, besar kemungkinan sebagian besar asset rumah itu akan jatuh ke tangannya, karena dia adalah anak laki-laki satu-satunya dari 3 bersaudara. Dia juga mengatakan bahwa itu bisa menjadi kesempatan yang besar bagi Bapakku untuk merubah nasib dan mencari pekerjaan yang lebih mapan di luar kota. Dan kalau itu semua terwujud, Bapak bisa membawa Ibu dan Nenek pindah ke sana.

Namun kabar yang memberatkan Yati adalah bahwa Kakeknya membutuhkan uang ratusan juta untuk menebus hak-hak atas harta dan rumah orang tua Kakek itu kepada kedua saudara perempuannya agar dia mendapatkan hak penuh atas warisannya. Uang itu juga rencananya akan digunakan sebagai investasi hidup mereka di sana demi masa depan mereka berdua.

Tapi Ibu saat itu ternyata tidak mau membiarkan suaminya pergi begitu saja. Dia sangat keberatan akan rencana Kakek. Apalagi dia mengetahui bahwa dirinya sedang hamil muda waktu itu. Di dalam hatinya dia ingin suaminya terus berada di sampingnya hingga kelahiranku tiba. Ditambah lagi Ibu waktu itu sangat berat untuk meminjamkan uang pada Kakek sebanyak itu karena belum bicara pada Nenek. Tapi kalaupun Ibu memberitahukan rencana itu pada Nenek, pasti Nenek akan marah besar dan berbahaya untuk kesehatannya. Seluruh uang itu bukan disimpan oleh Nenek, melainkan oleh Ibu sendiri.

Ibu mencoba berusaha meyakinkan Bapak saat itu untuk memikirkan ulang rencana itu. Tapi apa mau dikata, keputusan Bapak waktu itu sudah bulat. Dia ingin melakukan sesuatu yang ÔÇÿlebihÔÇÖ dalam hidupnya. Dan beralasan bahwa ini semua dilakukannya juga demi aku, jabang bayi yang sedang dikandung oleh Ibu. Akhirnya hati Ibu pun luluh menyambut niat mulia Bapak dan merelakan kepergian mereka berdua berikut uang hasil penjualan kebun dan setengah uang hasil penjualan sawah. Ibu sengaja menyimpan yang setengah lagi untuk berjaga-jaga.

ÔÇ£Lagian paling lama cuma tiga bulan kan? Nggak lebih. Habis itu aku pasti pulang kok.ÔÇØ Kata-kata Bapak masih terngiang-ngiang di kepala Ibu waktu itu. Ibu hanya bisa mengangguk pasrah dan penuh harapan.

Kakek dan Ayah pun pergi meninggalkan Ibu dan Nenek yang masih dalam keadaan rentan dan masih baru merasakan kesehatannya. Ibu dengan tegar tetap melanjutkan hidupnya. Melakukan pekerjaannya seperti biasa, menjual gorengan dalam keadaan hamil muda dan tetap memberikan perawatan pada Nenek. Ibu yang saat itu tak mau tinggal sendirian kemudian pindah dan tinggal bersama Nenek di rumah ini. Rumah yang satu lagi dibiarkan kosong.

Nenek yang saat itu melihat Ibu datang ke rumah ini ketika sudah malam, menjadi penasaran dan kemudian bertanya pada Ibu kenapa Ibu ingin tinggal dengannya, bukan dengan suaminya. Apa penyebabnya dan apa masalahnya. Ibu pun terpaksa menceritakan segalanya termasuk mereka yang membawa uang ratusan juta yang akan digunakan untuk tujuan Kakek menebus hak asset kedua saudarinya atas harta orang tuanya di luar kota. Ibu pikir cepat atau lambat Nenek harus diberitahu juga.

Nenek sangat terkejut dan sempat terjatuh ketika mendengarnya. Dia tak menyangka putrinya akan melakukan suatu hal penting tanpa berpikir panjang seperti itu. Hampir saja Nenek meninggal terkena serangan jantung saat itu juga karena penyakit tekanan darah tingginya. Namun Nenek akhirnya bisa bertahan setelah pingsan beberapa saat. Ketika Nenek terbangun dan melihat Ibu disampingnya, ia kemudian menangis, menampar, dan memarahi Ibu habis-habisan. Tak pernah Nenek semarah itu kepada Ibu seumur hidupnya.

Nenek berkata bahwa Kakek dan Bapak sudah menipunya habis-habisan dan pasti mereka sedang bersenang-senang di luar sana menikmati uang hasil penipuannya. Tapi Ibu menyangkal hal itu dan terus saja mengatakan bahwa Bapak pasti akan pulang tiga bulan lagi dengan kabar baik. Kepercayaan Ibu yang berlebihan kepada Bapak sungguh membuat Nenek geram. Nenek bahkan berpikir akan pelet macam apa yang sudah diberikan Bapak kepada Ibu sehingga dia begitu membangkang.

Setelah kejadian di malam itu, Nenek tidak berbicara sama sekali pada Ibu selama beberapa hari. Dan dengan lapang dada Ibu menerimanya. Menurut Ibu mungkin Nenek masih butuh waktu untuk menerima keadaan itu. Tapi akhirnya setelah beberapa hari berlalu emosi Nenek mulai mendingin pada Ibu. Nenek mulai berbicara pada Ibu dan berpesan agar mereka berdua mendatangi rumah Kakek di desa tetangga untuk menanyakan mengenai keberadaan Kakek dan Bapak setelah lewat tiga bulan ke depan.

Bulan demi bulan berlalu. Tak terasa kehamilan Ibu juga sudah memasuki bulan ketujuh. Perut Ibu sudah cukup besar. Mereka yang tak kunjung mendengar kabar Bapak, pergi ke rumah Kakek yang ada di desa sebelah untuk memastikan segala sesuatunya. Ternyata apa yang mereka lihat dan dengar waktu itu sungguh mengejutkan dan mematahkan semangat. Yang keluar dari rumah Kakek bukanlah Kakek melainkan orang lain yang mengatakan bahwa rumah itu sudah sejak tiga bulan lalu dijual Kakek pada keluarganya. Kontan Ibu menangis di pelukan Nenek, merasa begitu menyesal dan putus asa atas segala perbuatannya. Mereka pun pulang dengan pasrah.

Di tengah jalan mereka bertemu dengan Pak Kusnadi dan istrinya. Mereka bertanya pada Ibu dan Nenek yang sepertinya sedang murung. Nenek pun menjelaskan segalanya.

ÔÇ£Oh, gitu ya? Jadi gosip si Dewo minggat dari rumah itu betul?ÔÇØ kata istri Pak Kusnadi waktu itu sambil mengelus rambut dan perut Ibu yang membuncit.

ÔÇ£Iya Bu.ÔÇØ Jawab Ibu singkat.

Kamu yang tabah ya Yat Yang kuat Kamu harus pikirin anak di kandunganmu. Pesan istri Pak Kusnadi. Ibu hanya mengangguk lemah.

Setelah itu Pak Kusnadi mengabarkan bahwa ada yang sedang mencari rumah untuk disewakan. Menantu Pak Kusnadi tak tahu rumah mana di desa ini yang sedang disewakan. Jadi Pak Kusnadi menawarkan rumah lama mereka yang juga ditempati Dewo dan Yati sebelumnya. Keputusan akhir diserahkan pada Nenek dan Ibu. Namun Nenek yang tak ingin berpikir lebih panjang lagi langsung saja mengiyakan tawaran itu.

Beberapa hari kemudian datanglah Pak Imron dan Bu Halimah ke rumah ini dan setuju untuk membayar sewa 3 juta per tahun pada Nenek. Kata Nenek itu bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari maupun persalinan nanti.

Ibu yang sedang hamil tua waktu itu sering melamun sendiri setiap hari. Bertanya-tanya dalam hati akan keberadaan suaminya yang entah di mana keberadaanya sekarang ini. Rasa penyesalan sudah jatuh terhempas di dalam hatinya. Ibu benar-benar putus asa. Tapi Nenek tak pernah bosan untuk memberi semangat baru kepada putri semata wayangnya. Nenek berkata itu hanya musibah ‘kecil’ yang sudah lama berlalu, tak perlu dipikirkan lagi. Anggaplah itu sebuah pelajaran berharga. Ibu pun kembali bersemangat melanjutkan hidupnya lagi.

Dua bulan kemudian lahirlah diriku ke dunia ini. Nenek sendiri yang menemani Ibu melahirkan. Nenek sungguh bangga melihat perjuangan Ibu dan bangga bahwa dia punya cucu laki-laki. Nenek berdoÔÇÖa agar aku menjadi orang yang kelak dapat membahagiakan Ibu.

Namun malang memang tak dapat dihindari. Nenek meninggal ketika aku belum genap berusia lima bulan. Saat itu Nenek terpeleset di kamar mandi ketika Ibu sedang mengganti popokku. Ibu langsung berhamburan keluar rumah dan meminta pertolongan Pak Imron dan Bu Halimah. Pak Imron pun mengajak Pak Legimin beserta Bang Baim anaknya untuk membawa Nenek ke rumah sakit di kota. Tapi akhirnya pendarahan di kepala Nenek membuatnya tak bisa bertahan lagi. Nenek menghembuskan nafas terakhirnya sebelum sempat mendengarku memanggilnya Nenek.

Ibu memang orang yang kuat dan tegar. Dari saat-saat yang sulit seperti itu dia masih bisa terus bertahan hingga sekarang ini. Aku benar-benar mencintai Ibuku.

ÔÇ£Tapi apa cara mencintainya kayak gini ya? Ah! Aku bingung!ÔÇØ kegusaran muncul di pikiranku setelah angan-anganku melayang jauh ke sejarah keluargaku.

Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.15. Kulihat lagi ke arah Ibuku tertidur.

ÔÇ£Gimana nih? Apa aku biarin aja Ibu tidur terus? Ah, sebentar lagi aja deh banguninnya. Liatin Ibu tidur dulu sebentar.ÔÇØ Kataku akhirnya memutuskan.

ÔÇ£Ngomong-ngomong Ibu kok nggak bangun-bangun ya? Apa lantaran kecapean? Kecapen kenapa ya? Apa karena ÔÇÿmainÔÇÖ tadi malam? HeheheÔǪÔÇØ lanjutku menduga.

ÔÇ£Ya jelas dong kecapean. Aku juga ngerasa masih capek nih abis ÔÇÿngompolÔÇÖ tadi malam.ÔÇØ

Tiba-tiba aku tersentak akan kejadian yang sudah menimpaku tadi malam. ÔÇ£Oh iya! Celanaku kan kena kencing tadi malam! Gimana nih!? Ketauan deh kalo aku ngompol di celana!ÔÇØ

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*