Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 21

Bundaku 21

Part 21

Aku pulang dalam suasana hati yang bahagia, apa lagi mengingat kejadian barusan, aku meresa seperti berada di dunia khayal, aku tidak menyangka kenekatanku mengintip Ustadza Karima, akan berakhir dengan perasaan bahagia. Apa lagi minggu depan mereka berjanji akan memberiku sebuah kejutan. Rasanya aku tidak sabar menunggu minggu depan

Tapi kebahagianku tidak berlangsung lama, saat aku tiba depan rumahku, kulihat dua orang pria keluar dari dalam rumahku, mereka sempat menoleh kearahku, lalu tersenyum sinis kepadaku. Entah kenapa perasaanku jadi tak enak, buru-buru aku pulang kerumah, dan kulihat Bunda sedang menangis.

Segera aku menghampiri Bunda yang sedang meringkuk sambil menangis tersedu-sedu.

“Bun… Bunda kenapa ?” Tanyaku, lalu tiba-tiba dia memelukku, tangisannya semakin kencang. Entah kenapa, walaupun aku tidak tau masalahnya, akupun ikut menangis di dalam pelukan Bunda, aku merasa ada sesuatu yang menyakitkan di hatiku.

Cukup lama kami menangis, dan kemudian dia mengangkat wajahnya berusaha tersenyum di depanku. “Maafkan Bunda ya sayang, semestinya Bunda tidak menangis di depan kamu.” Dia membelai wajahku, menyapu air mataku.

“Bunda kenapa ?” Tanyaku untuk kedua kalinya.

“Bunda gak apa-apa sayang, kamu pasti laparkan ? Ayo Bunda siapin dulu ya, sekarang kamu mandi dulu, nanti kalau sudah siap Bunda panggil kamu.”

“Bunda… ! Aku gak lapar, sekarang ceritalah.” Desakku, sambil memegang erat jemarinya.

“Bunda tidak tau harus memulainya dari mana Nak.”

“Bunda sayang Aldi ?” Tanyaku. Dia mengangguk dan mengecup keningku.

“Iya, Bunda sangat sayang sama kamu, bagi Bunda Aldi adalah permata hati Bunda, tanpa Aldi di sini.” Dia menepuk dadanya. “Bunda tidak akan bisa hidup.” Jelasnya, aku tersenyum lalu sisi dewasaku mendorongku untuk mencium bibirnya, hanya sebuah kecupan lembut yang aku pikir bisa menenangkannya.

“Kalau Bunda sayang sama Aldi, kalau Bunda percaya sama Aldi, tolong ceritakan semuanya Bunda.”

Bunda menarik nafas panjang lalu tersenyum. “Baiklah, Bunda akan cerita, tapi dengan satu syarat, sekarang kamu mandi terus makan, habis itu Bunda baru akan cerita.” Janjinya sambil menjulurkan jari kelingkingnya, aku segera mengaitkan jari kelingkingku kejarinya.

****

Segera aku mandi membasuh tubuhku dengan air hangat, tak butuh waktu lama, hanya setengah jam saja. Selesai mandi aku mengenakan pakaianku, lalu menuju dapur dan ternyata Bunda telah menyiapkan segalanya untukku, kulihat di atas meja makan terdapat sup ayam kesukaanku.

Aku segera duduk di kursi makan, lalu Bunda mengambilkan piringku dan mengisinya dengan beberapa sendok nasi beserta lauk pauknya.

Tanpa berkata apapun, segera aku menghabiskan makan siangku dengan cepat, bahkan aku hampir tersedak. “Makannya pelan-pelan dong sayang, ini kamu minum dulu.” Kata Bunda sambil mengambilkanku minum.

“Terimakasih Bunda.” Lalu kuhabiskan minumku

Tak butuh waktu lama, aku menghabiskan makan siangku, dan selesai makan aku segera menagih janjinya.

“Kita ngobrolnya di kamar Bunda aja ya.” Katanya, lalu dia menggandeng tanganku menuju kamarnya.

Setibanya di kamar, dia memintaku untuk tiduran diatas tempat tidurnya, lalu dia juga ikut berbaring diatas tempat tidur, dan kamipun berpelukan sangat erat, kugeser kepalaku sehingga menempel di dadanya yang empuk.

“Katanya mau cerita ?” Tanyaku mulai tak sabaran.

“Bunda akan cerita, tapi kamu janji gak akan melakukan apapun yang membahayakan kamu, ingat bagi Bunda kamu adalah permata hati Bunda, Bunda tidak mau kalau sampai terjadi sama kamu.” Ucapnya sambil mengecup keningku.

“Iya, aku janji.”

“Jadi begini… kamu pasti ingatkan sama dua orang yang dulu yang perna datang kerumah kita ?” Aku mengannguk. “Kamu ingatkan kalau dulu kita sering kemalingan ?” Aku kembali mengangguk, tentu saja aku sangat mengingatnya, karena gara-gara maling sialan itu aku harus berakhir dirumah sakit.

“Sebenarnya mereka orang suruhan Burhan, dia yang dari dulu ingin sekali membeli rumah kita, karena dia ingin membangun sebuah ruko disni.”

“Bunda setuju ?”

“Ya gaklah sayang, bagaimanapun juga rumah ini adalah peninggalan Kakekmu, dan sampai kapanpun Bunda tidak akan perna menjualnya.” Jelasnya, lalu kurasakan telapak tangannya yang lembut membelai kepalaku.

“Aku senang dengernya Bun.”

“Tapi yang jadi masalahnya, ternyata Burhan tidak mau menyerah, dia melakukan segala cara agar Bunda mau menjual rumah ini, dari mulai meneror kita dengan cara menyewa orang untuk mencuri di rumah kita, sampe kamu masuk rumah sakit, dan dia berharap dengan begitu, kita mulai merasa tidak aman, dan mau menjual rumah ini.” Aku mengangguk mengerti.

Dari awal aku memang sudah merasa aneh, karena selama ini hanya rumah kami saja yang di datangi maling, tapi di rumah tetangga tidak perna terjadi kemalingan. Tapi yang jadi pertanyaannya, kenapa dia begitu ngotot mengingingkan rumah kami, bukannya dia bisa saja membeli rumah orang lain untuk di jadikan ruko.

“Karena rencana pertama mereka gagal, sekarang mereka malah mengancam Bunda untuk membayar hutang.”

“Hutaang ?” Tanyaku sangat terkejut, tidak biasanya Bunda punya hutamg, soalnya Bunda paling tidak suka berhutang, katanya takut nanti ketagihan, dan sekarang kenapa Bunda bisa berhutang, apa keungan keluargaku benar-benar dalam masalah sehingga harus berhutang.

“Bukan Bunda yang berhutang, tapi Ayahmu.”

“Kok bisa Bun ?” Tanyaku keheranan.

“Bunda juga tidak tau sayang, tapi menurut mereka Ayahmu berhutang sampe seratus juta kepada Burhan, Ayahmu suka menghabiskan uang di meja judi.” Lanjut Bunda, kulihat pancaran matanya mengisyaratkan kesedihan.

“Tidak mungkin Bunda, mustahil Ayah suka main Judi, itu pasti akal-akalan mereka saja.”

Aku tau betul seperti apa Ayah, orang seperti Ayah rasanya tidak mungkin suka berjudi. Apa lagi sampe berhutang hanya karena judi, atau jangan-jangan mereka sengaja menjelekan Ayah, untuk menjebak kami sekeluarga. Dasar tua bangka kurang ajar, tidak tau diri, padahal selama ini keluargaku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.

“Banyak yang tidak kamu ketahui soal Ayah kamu, selama ini Bunda sudah tau kelakuan Ayah kamu di luar sana, dari dulu Ayah kamu memang suka berjudi, mabuk-mabukan dan main perempuan. Tapi selama ini Bunda diam, karena kamu… Bunda tidak ingin kehilangan kamu.” Ucapnya, lalu dia kembali terisak.

“Jadii… !”

“Iya sayang, maafkan Bunda karena selama ini telah menyembunyikannya dari kamu.” Kusapu air matanya, aku tidak ingin melihat Bunda menangis.

“Kapan jatuh temponya Bunda ?”

“Mereka meminta kita melunasinya bulan depan, kalau tidak rumah ini akan menjadi milik mereka. Tapi kamu tidak perlu merasa khawatir Al, Bunda yakin pasti bisa membayar hutang Ayahmu.” Katanya kembali tersenyum.

****

Ayah… apakah salah bila sekarang aku sangat membencimu ? Kenapa kau tega menelantarkan kami, di saat kami dalam masalah seperti saat ini, dan kenapa Ayah lebi memilih kabur dari tanggung jawab dari pada membantu kami, apakah kami sudah tidak lagi berharga untukmu Ayah.

Padahal dulu kau adalah panutan bagiku, kau dulu adalah Ayah yang baik, selalu menasehatiku banyak hal agar aku tidak terjebak ke dalam lingkaran dosa. Sungguh aku sangat kecewa, ternyata semua ini hanyalah topeng belaka.

“Bunda tidak sendirian, ada aku di sini.” Ujarku lirih sambil menatap matanya. “Apa yang bisa kulakukan untukmu Bunda ?” Tanyaku kepadanya.

“Tidak ada sayang… yang Bunda butuhkan dari kamu hanya satu saja, cintai Bunda dan jangan perna meninggalkan Bunda.” Bisiknya, lalu dia mencium sekujur wajahku.

Segera aku menindi tubuhnya, lalu giliran aku yang menciumi sekujur wajahnya, lalu berhenti di bibirnya. Kulumat lembut bibir tipisnya, sambil kubelai manja kepalanya yang masih mengenakan kerudung santai. Lalu Bunda menahan kepalaku, seolah dia tidak ingin melepaskan lumatanku di bibirnya.

Sambil berciuman, aku membuka kancing dasternya, lalu kususpkan tanganku kedalam cup branya, dan kuremas perlahan payudarahnya, membuat dirinya merintih keenakan.

“Eehmmpp… entotin Bunda sayang, Hhmmpp… hmmpp… ” Katanya, di sela-sela menghisap lidaku.

Kulepas pagutanku, lalu kubantu Bunda untuk menelanjangi dirinya, kubuka dasternya, lalu branya dan terakhir aku melepas celana dalamnya. Sungguh aku sangat menikmati tubuh telanjang Bunda, payudarahnya yang besar, perutnya yang rata dan vaginanya yang habis di cukur, terlihat begitu indah di kedua bola mataku yang rasanya tidak perna bosan untuk melihatnya.

“Ngeliatnya jangan gitu dong sayang, Bunda jadi malu ni.”

“Hehehe… habis Bunda cantik sekali, gak bosen-bosen rasanya ngeliatin Bunda telanjang.” Entah belajar dari mana aku bisa menggombal seperti ini.

“Dasar gombal, jangan-jangan semua cewek kamu gombalin ya Al ? Gak nyangka anak Bunda bisa ngegombal.”

“Gak kok Bun, gombal Aldi cuman buat Bunda.”

“Beneran ?” Aku mengangguk. “Kalau begitu entotin Bunda sekarang sayang, Bunda uda gak tahan ni.” Sambungnya,.sambil memainkan payudaranya sendiri.

Segera aku melepas pakaianku hingga telanjang bulat sama seperti dirnya, lalu kami kembali terlibat ciuman yang sangat panas, sementara kedua tanganku meremas-remas payudarah Bunda, dan memilin puttingnya.

Kulepas kembali pagutanku, karena aku sudah tidak sabar ingin menikmati payudarahnya. “Huuppss…” Mulutku langsung mencomot payudarahnya yang sebelah kiri, sementara tangan kiriku turun kebawah membelai bibir vagina Bunda yang sudah sangat basah.

Secara bergantian, aku mengulum buah dadanya, puttingnya kuhisap membuat tubuh Bunda menggelinjang keenakan, apa lagi jari tengahku kini sedang mengocok vaginanya.

“Aaaahlk… Sayaang ! Enaaak…. sedooot tetek Bunda saayaaang…. Aahhh… aaaaaa…. ”

“Eehmppp… tetek Bunda enak banget.”

“Iya sayaaang, cintaaaku… tetek Bunda cuman untuk kamuuu…. Aahkk… kocokannya lebi cepaaat sayang.” Pintanya, lalu aku memasukan kedua jariku kedalam rongga peranakannya, lalu kembali kukocok vaginanya.

“Saaaaayaaang…. Bunda cinta kamu !”

“Aku juga cinta Bundaaaa, aku pingin ngentotin Bunda.” Kataku setelah melepas payudaranya dari mulutku.

Lalu.kebuka kedua kakinya, hingga terpampang bibir vaginanya yang sudah sangat basah. Tanpa berpikir dua kali, kubenamkan wajahku keselangkangannya, kujulurkan lidaku menyapu setiap inci bibir vaginanya.

Clitorisnya kuhisap, membuat pinggulnya bergerak semakin liar. Sluuplss… sluuppss…. sljuupppss… Kembali kutusukan kedua jariku, sambil menjilati clitorisnya, aku kembali mengocok vagina Bunda dengan ritme yang sangat cepat.

“Sayaaaang… Bundaaa keluaaar Nak.” Erang Bunda, lalu kurasakan cairan cinta Bunda kekuar begitu banyak dari lobang sirgawi miliknya.

“Bunda, aku entotin sekarang ya.” Kataku, tanpa melepas pandanganku kearahnya.

“Iya sayang, sini setubuhi Bundamu.” Dia meraih penisku, lalu memposisikan penisku di depan lipatan bibir vaginanya yang sudah sangat basah.

Perlahan kutusukan penisku, membela bibir vaginanya yang terasa begitu mejepit penisku, rasanya hangat dan nyaman sekali berada di dalam sana, membuatku tak sadar mulai menggoyang pinggulku maju-mundur, menghentak selangkangannya semakin kuat dan kuat.

Kedua bibir kami kembali bertemu, saling melumat memberi kenikmatan satu sama lainnya, sementara tangannya memeluk punggungku semakin erat.

“Aaah… aaah… aahh… puaskan dirimu sayang !” Erang Bunda, sambil ikut menggoyangkan tubuhnya.

“Bundaaa… aku sangat mencintai Bunda.”

“Oooo… kamu… Aaaaa…. aaaaa…. aaa…. bikin Bunda berasa melayaaaang… aaa…. entotin Bunda saaayaaang…. Bunda milik kamu sekaraaamg…. ” Erangnya semakin keras, membuatku semakin semangat.menghajar vaginanya.

“Bundaaa… aku mau keluaar.”

“Hamilin Bunda sayang, cintaaakuu… aku mau hamil dari kamuu… buat lontemu ini hamill… !”

“Budaaaa… aku keluaar !”

Crooootts…. crroooot… crrooott….

Kutumpahkan seluruh spermaku kedalam rahimnya, aku berharap benar-benar bisa menghamili Bunda seperti yang dia inginkan dariku, karena aku sangat mencintainya.

***

Sambil memeluk dirinya, kami kembali berciuman. Lalu kuminta Bunda mengulumi penisku, dan dengan senang hati dia mau membersikan penisku dari lendir vaginanya. Setelah merasa cukup, aku meminta Bunda untuk menungging, karena aku ingin kembali merasakan jepitan anus Bunda.

Bunda yang sudah mengerti, sedikit membuka pipi pantatnya, sehingga aku tidak begitu kesulitan saat menyodomi anusnya yang terasa sangat kencang memeluk penisku.

“Bundaaa… aku suka anus Bunda.” Erangku sambil memaju mundurkan penisku yang berada di dalam anus Bunda tanpa memperdulikan Bunda yang tampak tersiksa saat sedang aku sodomi anusnya.

“Aaaa…. kamuui… aaa… aaa… ” Desahnya terputus-putus sambil mencengkram erat seprei kasurnya.

“Pantat Bunda enak banget.” Plaak….plaak….plak… Sambil kutampar pantatnya hingga meninggalkan jejak merah di pantatnya yang montok.

“Pukul lagi sayaaaang…. Aaaa…. enak bangeeeet…. Bunda juga suka kamu sodomi… Aa…. aaaa…. aaaa…. ” “Bunda mau keluar lagi sayaaang…. ayoooo lebi cepat sayang.” Pinta Bunda, tangan kanannga bergerak turun sambil memainkan clitorisnya, membuatku semakin bersemangat.

“Aku jugaaaa Bunda.”

“Ayo sayaaang…. kita bareeeng.”

“Aaaaa…. aaaa…. Bundaaaa….. ”

Aku melolong panjang lalu memuntahkan kembali spermaku, tapi kali ini sasarannya adalah anus Bunda. Begitu juga dengan Bunda, dia mengerang enak sambil menyemburkan cukup banyak cairan cintanya, sehingga membasahi seprei tempat tidurnya. Lalu tubuhki ambruk menindi tubuh Bunda.

Aku mengatur nafasku sejenak, lalu kujatuhkan tubuhku di aamping tubuhnya yang bermandikan keringat. Bunda memandangku sejenak, lalu dia tersenyum manis sekali.

“Terimakasi sayang !” Ujarnya.

“Iya Bunda, Aldi sayang Bunda.” Jawabku, sambil memeluk tubuhnya. Bunda membalas pelukanku lalu dia mengecup mesra keningku.

“Bunda sangat mencitai Aldi, jadi Bunda mohon jangan perna meninggalkan Bunda.”

“Aku janji Bunda, tidak akan perna meninggalkan Bunda.”

Lalu kamipun tertidur sambil berpelukan dengan sangat erat, sejenak melupakan masalah keluarga kami, dan menikmati momen indah seperti saat ini bersama seorang wanita yang amat sangat aku cintai.

Bunda… apapun akan kulakukan demi membahagiakan Bunda, walaupun nyawaku menjadi taruhannya.

Burhan… aku tidak akan perna lupa akan namamu, suatu hari nanti, aku akan membalas perbuatanmu yang telah berani menyakiti orang yang paling berharga di dalam hidupku, aku berjanji akan membuatmu menyesal.

Ayah…. aku berharap kau jangan perna kembali kerumah ini, kalau hanya untuk menjadi beban buat kami.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*