Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 34

Wild Love 34

Di taman ketika aku mulai menyesali semua yang telah terjadi, semua yang telah aku lakukan. Di guyur hujan deras yang membasahi setiap nanometer tubuhku. Mencoba meresapi dan merenungi semua yang terjadi. Hingga sapuan air mata langit tak lagi mengenai tubuhku. Sebuah payung melayang di atasku dengan tangan indah memegang. Kulihat wanita itu tersenyum kepadaku.

ÔÇ£Pulang…ÔÇØ begitu ucapnya

ÔÇ£Tidak aku ingin disiniÔÇØ ucapku

ÔÇ£Pulang…ÔÇØ kata wanita tersebut untuk kedua kalinya

ÔÇ£Jangan paksa aku…ÔÇØ ucapku, wanita tersebut kemudian berjongkok disampingku

ÔÇ£aku tak tahu apa yang terjadi kepadamu namun hujan tak mampu menjawab semua kegelisahanmu…ÔÇØ ucap wanita tersebut, aku hanya memandangnya dan kemudian tersenyum kepadanya. Ya, hujan tak mampu menjawab pertanyaanku, hanya mampu menghapus panas dikepalaku. Aku kemudian berdiri dan berjalan menuju ke REVIA, diiringi oleh wanita tersebut. Perjalanan menuju ÔÇ£pulangÔÇØ yang sebenarnya tak aku mengerti. Tapi aku tahu kemana arah tujuanku.

ÔÇ£buka semua pakaianmuÔÇØ ucap wanita tersebut. Kini aku berada didala kamar yang tidak asing lagi, aku melepas semua pakaianku dan duduk hanya dengan menggunakan celana dalam. Wanita itu kemudian mengambil pakaianku dan membawanya ke luar untuk dimasukan ke dalam mesin penggiling

Klek… pintu tertutup dan wanita itu menuju kearahku. Dia duduk didepanku dengan senyumannya. Merangkank maju ke arahku dan mendaratkan bibirnya. Tak mampu aku menolakny, ciuman disertai dengan pelukan dileherku.

ÔÇ£Luapkan emosimu…ÔÇØ ucap wanita tersebut,

ÔÇ£Luapkan ke mbak..ÔÇØ lanjut ucapa wanita tersebut, mbak erlina.

ÔÇ£mmmmhhhh… mmmm slurp slurp…. hah hah hah hah slurrrp slurrp slurrrp slurrrpÔÇØ aku hanya mengikuti apa yang harus aku lakukan

ÔÇ£katakan yang kamu inginkan sekarang, kalau kamu ingin berkata kasar katakanlah sayangku, adikku owhhhh mmmmmhhhh…ÔÇØ ucapnya yang kemudian kuciumi lehernya yang masih berbalut kerudung itu

ÔÇ£aku pengen mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£pengen apa sayang…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£pengen itu mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£pengen apa yang jelas adikku sayang…ÔÇØ ucapnya yang tak gubris sama sekali

ÔÇ£arghhhhh… ayo katakan luapkan semuanya…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku pengen ngenthu mbak, pengen banget mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£pengen ngentot ya? Pengen masukin kontol kamu ke memek mbak kamu ini sayang?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya aku pengen ngenthu mbak, pengen ngentot mbak, pengen masukin kontolkuke mbak, pengen arrghhhhhh… mmmmmhhhhhhh….ÔÇØ ucapku yang kemudian

ÔÇ£ayo sayang, lakukan puaskan dirimu, keluarkan penatmu…ÔÇØ ucap mbak erlin

Aku menubruknya, wanita yang masih menggunakan kerudung putih, kaos berwarna putih dan juga roknya yang berwarna putih. Aku mengangkangi pahanya, kedua tanganku meremas payudaranya yang masih terbungkus oleh kaos. Bibirku melumat bibirnya, hanya desahan tersumbat yang aku dengar dari bibirnya. Perlahan kedua tanganku turun dengan bibirku masih melumat bibirnya. Kusingkap keatas kaosnya dengan perlahan. Terlihatlah payudara indah yang masih terbungkus BH, kubenamkan wajahku di antara kedua buah payudaranya. Kugesek-gesekan wajahku diantaranya.

ÔÇ£Mainkan susu mbak, sayang ehhhh…. emmmmhhhhh….ÔÇØ ucap mbak erlina

Kedua tanganku menarik BH-nya ke atas, tersembulah payudara indah milik mbak erlin. Segera aku kulum puting susu mbak erlin secara bergantian dengan remasan pada kedua buah. Mbak erlin mendesah sedikit keras. Tak aku pedulikan jika ada teman kosnya mendengar.

ÔÇ£Arghhh… mmmmmhhh terus jilat sedot yang kuat… remas yang kuaaaathhhhh ahhhhh…ÔÇØ racaunya

dengan penuh nafsu, pandangan mataku menjadi pandangan mata yang tak biasanya. Aku memandang tubuh wanita ini seperti memandang mangsa yang harus segera aku terkam. Kusingkap roknya, kulorotkan celana dalam mbak erlina. Dan kulempar celanda dalamnya, langsung kudaratkan bibrku di vagina mbak erlin. Dengan jari tengah kananku masuk ke dalam vaginanya. Lidahku bermain-main di klitorisnya sedangkan jariku mengocok vaginanya. Tangan kiriku mencoba melepas celana dalamku sendiri dan toeeeeeeenggg.

ÔÇ£Sebenarnya aku sedang tidak mood tapi kalau dikasih ndak papa kakakÔÇØ ucap dedek arya

ÔÇ£Mainkan memek mbak sesukamu sayang owhhh… kocok teruussshhhhh kocok lebih kuat… sedot itil mbak lebih kuat lagi… puaskan dirimu owh sayangkuwhhhhhh erghhhhh…. nikmat sekali sayanghhhh…ÔÇØ racaunya

ÔÇ£Ouuuuuuuuuuwhhhh nikmat sayanghhhhhhh… errrghhhhhh… pas sekali jilatanmu owhhh jarimu menyentuh owhhhh pas sekalihhhhhh owhhhh emmmmmhhhhh… teruuuusssssshhhhh….ÔÇØ racaunya

ÔÇ£Arghhh aryaaaa…. mbak mau keluar…. essshhhhhhh…. aaaaaahhhhhhhhhÔÇØ racaunya

Seketika itu cairan hangat keluar dari vagina mbak erlina. Tubuhnya melengking ke atas dan mengejang beberapa kali. pandanganku buram akan kesadaran, kulihat mbak erlin sedang menghela nafas panjang untuk beristirahat. Sejenak, dia kemudian mencoba bangkit tapi aku langsg mengankangi tubuhnya tepat diatas payudaranya. Tubuhnya kembali ambruk.

ÔÇ£Kulum mbak kulum kontolku… aku ingin kontolku dikulum mbak…ÔÇØ paksaku

Dengan pandangan yang sipit menandakan dia tersenyum kepadaku. Langsung dilahapnya dedek arya dengan rakusnya. Dijilatinya dari pangkal dedek arya menuju lubang pipis dedek arya. sangat nikmat, aku benar-benar menikmati kulumannya. Menikmati kegilaanku yang diselubungi kegundahan hatiku. Kulumannya sangat keras ketika menyedot batang dedek arya. walau tak masuk keseluruhan ke dalam mulutnya tapi aku sangat menikmatinya.

ÔÇ£owhhh mbak enak sekali mbak, nikmat sekali bibiru owhhhh…ÔÇØ racauku

Ketika mbak erlin mengeluarkan dedek arya dari mulutnya dan hendak menjilatinya. Kutarik batang dedek arya dan kuposisikan tubuhku diantara selangkanganya. Kuarahkan dedek arya ke vaginanya.

ÔÇ£Arhhh hangat sekali… enaaak sekali memekmu mbak owghhhhh…ÔÇØ racauku

ÔÇ£Egh… pelan ughhh… emmmmmhhh…ÔÇØ

ÔÇ£iya erhhhhh… terus lebih dalam lagi… entot memek mbak kamu ini adiku… kamu suka memek mbak kamu kan adikku sayang… owhhh…ÔÇØ racaunya, aku hanya memejamkan mata dan menikmati setiap nanometer dedek arya masuk kedalam vagina mbak erlina

ÔÇ£owhh…. kontolku keenakan di memekmu mbakku sayang… owghhh… kontolku masuk ke memekmu, aku manu ngenthu memekmu keras…ÔÇØ racauku

ÔÇ£iya, entot memeku yang keras, entot memek mbakmu ini, aku akan berikan kepuasan pada kontol kamu, kontol adikku… owhhhh… ayo goyang yang keras, entot yang keras…arhhhhh aaaaaaaaaa….ÔÇØ racaunya dan diakhiri sedikit teriakan ketika aku mulai menghujam keras vaginanya

Aku pompa vagina indah itu dengan sangat keras. Tak ada dalam pikiranku untuk berpindah dari posisi ini. Yang aku inginkan hanya memompa vagina mbak erlina.

ÔÇ£Aku kenthu kamu mbak, aku kenthu memekmu, owgghhhhh memekmu enak mbak, kontolku keenakan owhhh… yahh…. enak sekali owhhhh….ÔÇØ racauku

ÔÇ£Arhhhh entot lebih keras sayangku… memeku owh untukmu aryaaa… owhh… entot lebih keras lagi… entot mbak ini, mbak mu butuh kontol kamu owh…ÔÇØ racaunya

ÔÇ£iya… aku entot kamu mbak…ÔÇØ ucapku

Gelombang permainan dedek arya dan vagina mbak arya semakin keras, semakin panas. Tubuhku tidak terkontrol, aku semakin memompanya dengan sangat keras.

ÔÇ£mbak aku mau keluar….ÔÇØ rracauku

ÔÇ£sama-sama, aku juga, keluarhhhh kan di memek mbakmu… aku ingin merasakan pejuhhhhhmuuuhhhh owhhh….ÔÇØ racaunya

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Dan seketika itu dedek arya menghujam sangat keras ke dalam vagina mbak erlina. spermaku tumpah kedalam vagina itu. Tubuh mbak erlina melengking, aku ambruk dan memeluknya. Tubuh mbak erlina mengejang sejadi-jadinya. Kupeluk dengan sangat erat.

ÔÇ£terima kasih mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sama-sama…ÔÇØ balasnya. Hanya itu yang terakhir aku dengar, Kesadaranku mulai hilang dan ku tertidur di dalam dekapan mbak erlina.

Sayup-sayup aku merasakan elusan lembut di kepalaku. Aku membuka mataku, mbak erlina tersenyum kepadaku dengan ramah. Aku pun tersenyum kepadanya. Aku tertidur dengan kepala di pangkuannya, dengan tubuh telanjangku dan juga tubuh telanjang mbak elrina.

ÔÇ£tidurlah, aku akan menjagamu…ÔÇØ ucapnya, aku kemudian membenamkan wajahku di perutnya

ÔÇ£na… na… naaaa… na… naaa….ÔÇØ alunan lagu Sutike dane di nyanyikan oleh mbak erlina, walau hanya dengan nada ÔÇ£na na naÔÇØ tapi membuatku teringat akan ibu.

ÔÇ£mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hmmm…ÔÇØ balasnya, hening sesaat seperti mengisyaratkan bahwa aku ingin ditanya olehnya

ÔÇ£kamu kenapa?ÔÇØ ucap mbak erlina

Kuceritakan pertemuanku dengan bu dian dan semua detail yang aku sampaikan kepadanya, tapi tidak persetubuhanku dengan Ibu.

ÔÇ£Seharusnya kamu tidak perlu mengatakannya…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku tidak bisa membohonginya…ÔÇØ balasku

ÔÇ£karena kamu mencintainya bukan?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya…ÔÇØ balasku pelan

ÔÇ£Aku kagum kepadamu ar, sejak pertama kali aku melihatmu, pertama kali kita bisa bercengkrama, kamu adalah sosok laki-laki yang sangat ideal bagi kamu perempuan. ganteng, bersih dan ceria serta jujur…ÔÇØ

ÔÇ£Dan dian sangat beruntung karena dia dicintai olehmu…ÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£tapi aku terlalu ko…ÔÇØ ucapku menghentikan ucapanku sendiri

ÔÇ£Aku juga, sama sepertimu kan ar?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tapi..ÔÇØ aku tak mampu melanjutkan

ÔÇ£jangan pernah berpikir kamu akan jauh darinya, dia pasti akan memilih bersamamu apapun resikonya…ÔÇØ

ÔÇ£dan kamu jangan pernah berpikir mencari penggantinya, karena hanya akan ada rasa sesal dihatimu…. ar, jujur saja aku juga menginginkanmu, aku sempat jatuh cinta kepadamu…ÔÇØ ucapnya, yang langsung kulingkarkan tangan kiriku pinggangnya

ÔÇ£ketika aku merasakan cinta kepadamu, aku marah, dan pada saat aku marah kamu datang dan aku tidak menggubrismu, bahkan waktu itu aku jutek kan hi hi hi…ÔÇØ ucapnya aku hanya menganggukan kepala

ÔÇ£tapi kamu bukan buatku, ketika cinta itu datang aku menyapanya dan menyuruhnya untuk pulang. Ketika rasa sayang itu datang aku menyapanya dan mempersilahkannya untuk menetap. Karena cukup bagiku sayang kepadamu, karena aku memiliki Alan dan dia mau menerimaku apa adanya. Walau aku tahu yang kita lakukan salah, tapi sejak pertama kali kita melakukannya dan betapa heroiknya kamu menolongku. bahkan hingga saat ini aku tidak menolaknya ketika kamu menginginkannyaÔÇØ

ÔÇ£dan dihari ini pun, aku memberikannya kepadamu bukan untuk janjimu kepadaku. Karena aku melihatmu jatuh dan tak ingin kamu berlama-lama didalamnya. Banyak yang membutuhkanmu selain aku, jika kamu jatuh dan tak ingin bangkit mungkin akan ada beberapa orang lagi yang menyusul ayahkuÔÇØ ucapnya. Aku kemudian bangkit dan duduk disampingya, membelakanginya. Dia bersandar pada punggungku.

ÔÇ£tapi mbak, aku tak bisa lagi melangkah…ÔÇØ ucapku, kemudian kedua tanganya melingkar diperutku

ÔÇ£Janji adalah hutang dan aku harap kamu melunasinya. Dan aku tahu, kau pasti jug apunya janji dengan yang lain walau aku tidak tahu kepada siapa kamu berjanjiÔÇØ ucapanya mengingatkan aku pada Pak Koco, Tante War, mbak ara dan Ibu serta kedua orang yang meninggal dalam pelukanku, Kakek Wicak dan Nenek Mahesa.

ÔÇ£Maafkan aku hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Menangislah, seorang kesatriapun butuh untuk mengeluarkan air mata tanpa harus meninggalkan tanggung jawabnya. Menangislah karena seorang kesatria juga butuh untuk mengeluh… dan butuh cinta…ÔÇØ ucapnya yang kemudian tubuhnya bergeser ke sampingku dan dibenamkannya wajahku di dadanya.

ÔÇ£na… na… naaaa… na… naaa….ÔÇØ alunan lagu Sutike dane di nyanyikan lagi oleh mbak erlina

ÔÇ£Setiap orang mempunyai masa lalu yang buruk, bukan berarti dia selamanya akan menjadi buruk. Dia bisa mengubahnya dengan tekad yang kuat pasti bisa berubah.ÔÇØ

ÔÇ£na… na… naaaa… na… naaa….ÔÇØ

ÔÇ£Sekalipun tak ada Alan bersamaku, aku tidak akan mau memilikimu… karena hati tidak dipaksakan… jangan sekali-kali kamu berpikir untuk memilikiku ar, aku tidak ingin…ÔÇØ, aku terhenyak sesaat ketika aku mendengar kata-kata itu, ya aku memang pernah ingin bersamanya ketika aku merasakan sakit darinya bahkan saat inipun perasaanku menginginkan dia sebagai pasanganku

ÔÇ£na… na… naaaa… na… naaa….ÔÇØ

ÔÇ£kembalilah ke jalan kesatriamu adikku sayang, disana ada seorang putri sedang menantimu… aku akan selalu ada untukmu, disampingmu sebagai seorang kakak yang selalu mendukung adiknya… ya, seorang kakak perempuan seperti yang kamu katakan kepadaku dan no love between you and me, hanya rasa sayang seorang kakak perempuan kepada adiknya yang seorang kesatria…ÔÇØ

ÔÇ£Yakinlah pada jalanmu…ÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£Mbak, bagaimana jika dia tidak memilihku, jujur saja aku tidak pantas untuknya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£pantas dan tidak pantas bukan dari pandangan satu pihak…pantas dan tidak pantas adalah kamu yang menjalaninya, jika kamu mau berubah, jika kamu mau menjalaninya kamu pasti bisa…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£na… na… naaaa… na… naaa….ÔÇØ

ÔÇ£tapi aku belum bisa…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Semua butuh waktu, tidurlah adikku sayang, ksatriaku, ksatria semua orang-orang yang tertindas… tidurlah, agar esok kamu bisa bangkit dan mulai melangkah lagi, banyak yang membutuhkanmu… jangan jatuh hanya karena satu masalah, jangan….ÔÇØ

ÔÇ£jika permaisuri itu memilih yang lain, akan ada permaisuri yang lain akan datang kepadamu… tak mungkin dalam jalanmu tak ada permaisuri, pasti ada entah dia atau yang lainnya… tidurlah sayangku, adikku, ksatriaku…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£na… na… naaaa… na… naaa….ÔÇØ

ÔÇ£Aku berharap dia tidak memilihku tapi aku berharap dia memilihku hiks…ÔÇØ lirihku, dengan air mata mengalir di pipiku

ÔÇ£tak ada yang tahu….ÔÇØ balasnya, sayup-sayup kudengar, mata ini kemudian terpejam dan terlelap. Entah esok aku akan menjadi apa…

ÔÇ£na… na… naaaa… na… naaa….ÔÇØ

ÔÇ£na… na… naaaa… na… naaa….ÔÇØ

Hingga pagi menjelang aku dibangunkan oleh mbak erlina. Segera aku mandi dan mebersihkan diri, senyum dan canda mewarnai pagi ini. pakaianku sudah kering dan sudah disetrika oleh mbak erlina. Seperti tidak ada yang pernah terjadi, mbak erlina terus menyemangatiku. Kami bercanda dan bergurau layaknya kakak dan adik, main game dikomputer bersama, nonton TV bareng hingga jalan-jalan sore bersama. Akhirnya malam tiba, aku pulang kerumah.

ÔÇ£Hai…!Adikku!ÔÇØ teriaknya di pintu gerbang kos ketika aku sudah ditepi jalan

ÔÇ£Keep Fight for me and the other!ÔÇØ ucapnya dengan senyuman

ÔÇ£IÔÇÖll do it sist, my beautifull big sisterÔÇØ teriakku,

ÔÇ£Kalau mau begini ke mbakmu ini saja yaÔÇØ teriaknya sambil menunjukan jempol kejepit disela jarinya.

ÔÇ£Dasar mbakku ha ha haÔÇØ teriakku. Aku kemudian memacu REVIA dengan senyuman. Ya, aku harus terus melangkah, ada permaisuri lain tak perlu menangisi satu pintu walau itu adalah pintu emas. Aku masih punya pintu yang lain walau pintu itu bukan pintu emas.

Ibu duduk bersandar pada sandaran samping kursi, Kemudian Ibu bangkit dan duduk tegap memandangku. Aku terseyum dan ibu membalasnya. Dia berdiri, menggandeng tanganku menuju ke dapur.

ÔÇ£makan dulu sayang…ÔÇØ ucap Ibu dengan wajah sumringah

ÔÇ£iya…ÔÇØ ucapku walau dalam perut yang kenyang, kulahap habis secepatnya agar aku bisa langsung istirahat.

ÔÇ£Sudah bu, arya mau istirahat dulu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tidak mau mengobrol sama Ibu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Besok saja buÔÇØ ucapku tersenyum kepadanya, ibu mengangguk dan tersenyum kepadaku

Kurebahkan tubuhku dikamarku. Tak ada pikiran dalam diriku untuk menuntaskan masalahku dengan Ayah. Sejenak hanya ingin beristirahat, terlalu lelah tubuh ini. aku kemudian bangkit dan mengganti pakaianku dengan kaos dan celana kolor. Segera aku rebah dan kutarik selimut. Kleeek… Kubuka sedikit mataku dan Ibu berjalan ke arahku.

ÔÇ£Oh… bu…ÔÇØ ucapku bangkit

ÔÇ£Tidurlah, tak usah bangun kamu pasti lelah…ÔÇØ ucap Ibu dengan kedua tangan mendorongku agar rebah kembali. Ibu kemudian masuk dalam selimutku dan membelakangiku, ditariknya tangaku untuk memeluknya

ÔÇ£Jika kamu ingin sayang…ÔÇØ ucap Ibu sambil mengarahkan tanganku ke payudaranya

ÔÇ£tidak bu, Ibu tenang saja…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Erlina ya?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£iya tapi bukan aku yang meminta, dia menemukanku di taman dan membawaku ke kosnya…ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Maafkan ibu, jika saja waktu itu tidak terjadi mungkin kamu akan bersamanya sekarang dan tak ada lagi perasaan bersalah dalam hatimuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Arya sudah katakan sebelumnya, Ibu tenang saja… Arya akan menjalani sisa hidup ini dengan penuh keceriaan dan tentunya menyelesaikan apa yang arya sudah mulai…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tapi…ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ibu tenang saja, seandainya bukan dia yang menemani sisa hidupku aku akan menemukan yang lainnya dan kita bisa menghentikan ini semua…ÔÇØ ucapku sambil memeluk erat tubuhnya

ÔÇ£Percaya pada anakmu ini bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£I Believe in you…ÔÇØ ucap ibu lirih

ÔÇ£Thanks…ÔÇØ balasku

Tangan ibu semakin mendekap tanganku dan aku semakin memeluknya erat. kami terdur bersama dan melewati malam ini bersama. Entah esok apa yang akan terjadi, entah….

Pagi hari menjelang, aku terbangun tanpa Ibu disampingku. Segera aku mandi dan bersih-bersih tampak ibu sedang mendendangkan lagu di dapur. Ku sapa dengan senyum dan dibalasnya dengan senyuman. Makan pagi bersama Ibu tanpa Ayah sangat menyenangkan. Setelahnya aku pergi ke kampus untuk mencari informasi-informasi yan mungkin terlewatkan. Dari kejauhan ku lihat Bu Dian sedang berjalan dengan bu erna, segera aku menghindar agar tidak terjadi kontak dengannya. Kulihat wajahnya sedikit sayu dan kelelahan. Tak ada pancaran judes ataupun semangat, maafkan aku dian, maaf…

Setelah aku tahu tidak ada informasi, aku ambil motorku dan berjalan-jalan di sudut taman rektorat. Tempat yang adem dan enak buat nongkrong. Di tambah lagi, taman ini berada jauh dari jurusanku sehingga tidak memungkinkan bertemunya aku dengan bu dian. Taman ini berada di depan rektorat dan hari ini sangat sepi biasanya ramai tapi mungkin karena sudah memasuki minggu tenang. Hanya aku dan REVIA yang berada di tempat parkir belakang rektorat. Baru saja nongkrong, sudah pengen kebelakang. Segera aku berlari ke kamar mandi, sambil mendunhill aku BAB ha ha ha. Kamar mandi terletak dibelakang gedung rektorat, persisnya dekat tempat parkir. Lama aku berada didalam 2 batang dunhill melayang.

ÔÇ£Huft sial kenapa juga susah keluarnyaÔÇØ keluhku.

Setelah operasi sesar di kamar mandi aku hendalk berjalan menuju taman kembali. Tapi ketika baru saja aku akan berbelok di sudut gedung, kulihat beberapa orang sudah berada di tempat nongkrongku. Segera aku memundurkan tubuhku dan mengintip. Tampak Anta yang terjatuh dengan sedikit luka, Rani menangis memegangi anta dan empat orang berbaju hitam dengan tubuh kekar yang tak dapat aku lihat jelas wajahnya karena membelakangiku. Satu lagi dibelakang empat orang berbaju hitam itu tampak lelaki tua yang sedang bersedekap tapi juga tidak terlihat wajahnya.

Tiba-tiba laki-laki itu menendang anta dan berteriak-teriak menyuruh anta untuk segera pergi. Anta kemudian diseret dan akhirnya pergi walau sebenarnya tampak sangat jelas dia tidak ingin meninggalkan rani. Tapi rani berteriak agar anta segera pergi, setelahnya lelaki tua itu menampar wajah rani dan memarahinya. Entah apa yang di katakan lelaki tua itu tidak begitu jelas, dan ketika mereka berbalik. Mataku terbuka lebar dan melotot kearah lelaki tersebut. Segera aku tarik tubuhku bersembunyi dibalik tembok.

ÔÇ£itu… itu tukang, bagaimana dia bisa bersama rani dan antaÔÇØ bathinku, segera aku lepaskan jaketku dan kututupi wajahku, kulihat 3 mobil melaju melewati bagian belakang gedung. Setelah 3 mobil itu menghilang, aku bangkit dan kulihat rani masih menagis dan duduk di bangku. Aku mendekatinya…

ÔÇ£Ran…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh…ÔÇØ dia terkejut akan kehadiranku dan menoleh ke arahku

ÔÇ£Kamu ar…ÔÇØ ucapnya, aku kemudian dudukdi sampingnya

ÔÇ£iya…ÔÇØ

ÔÇ£Aku melihat semuanya dan maaf jika aku hanya diam…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu lihat ya, hiksÔÇØ ucapnya sedikit parau dan tersengal

ÔÇ£tolong bilang sama dia, agar tidak mendekatiku lagi…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Apa karena bajingan tua tadi?ÔÇØ ucapku sedikit emosi

ÔÇ£Eh… kamu tidak tahu apa-apa ar, lebih baik kamu menjauhi sekarang atau kamu akan dihajarnya dan juga anta, segera menjauhiku atau bukan hanya dihajar mungkin kamu bisa dibunuhnyaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku sulit mati cu he he heÔÇØ ucapku dengan canda

ÔÇ£Aku tidak main-main ar, segera pergi atau kalau dia menemukanmu bersamaku dia akan membunuhmuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ran…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Cepat pergi!ÔÇØ bentaknya, aku hanya menoleh ke arahnya dan tersenyum

ÔÇ£Aku tahu siapa dia? Aku tahu apa yang telah dia lakukan…ÔÇØ ucapku sambil mengambil sebatang dunhill

ÔÇ£Eh… siapa kamu sebenarnya ar!ÔÇØ bentaknya yang semula dia sangat terkejut

ÔÇ£Apa kamu juga bagian dari mereka?! Kamu juga akan menjadi pemain di dalamnya?! Kalau begitu bunuh aku sekarang!ÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£sssssttt… tenang ran…ÔÇØ ucapku menenagkan dan tersenyum kepadanya

ÔÇ£Kamu bisa saja bilang tenang tapi kamu pasti bagian dari mereka untuk memata-mataiku kan selama di KKN sampai sekarang?!ÔÇØ bentaknya dengan penuh emosi, dia berdiri dan memaki-maki diriku. aku langsung bangkit dan meraih tubuhnya, kupeluk erat tubuhnya

ÔÇ£tenanglah, aku bukan musuhmu… ÔÇ£ ucapku

ÔÇ£hiks hiks hiks hiks aryaaaaaaaaaaaaa…… hiks hiks hiks… tolong aku tolong aku….ÔÇØ isak tangisnya sambil mendekapku erat

ÔÇ£Sudah kamu tenang dulu ran, tenang, jika kamu tidak tenang bagaimana aku bisa menolongmu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ikut aku, jika disini bisa saja mereka kembali…ÔÇØ ucapku mengajak rani menuju tempat dimana tak ada orang yang bisa menemukan kami berdua.

ÔÇ£kita mau kemana ar?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Sudah ikut saja, aku ndak akan bunuh kamu kok, tenang ya cuuu….ÔÇØ ucapku sambil menarik tanganya, dan berjalan bersamanya menuju lantai 3 gedung kuliahku. Jelas sepi, mahasiswa tak ada yang berangkat. Aku memasuki salah satu kelas, dia duduk di bangku. Kutarik salah satu bangku dan duduk dihadapannya

ÔÇ£Oke sekarang ceritakan kepadaku…ÔÇØ ucapku dihadapan dia yang duduk di bangku

ÔÇ£hiks hiks hiks dia akan menjadikan aku sebagai wanita pemuas birahinya, dia dan juga teman-temannyaÔÇØ ucapnya membuat aku seperti disambar petir

ÔÇ£Eh… kamu bisa lari ran, larilah aku akan bantu kamu untuk lari…ÔÇØ ucapku dengan nada menekan

ÔÇ£Lari Ar? Segampang itu lari?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya kamu bisa lari ran, dan dia tidak akan menemukanmu. Kamu bisa meminta surat pindah kuliah dan aku akan membantu biaya kuliahmuÔÇØ ucapku teringat akan uang ratusan juta di kamarku

ÔÇ£tidak bisa ar, aku tidak bisa meninggalkan Ibuku…ÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£kamu bisa ajak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ibuku sedang sakit keras dan dia mau menolong Ibuku asal aku mau menjadi budak seksnya bersama teman-temannya. Aku menyetujuinya dan hanya itu jalan satu-satunya dan malam ini adalah malam penentuan untuk Ibu, aku harus melakukannya dan sebagai uang muka aku harus mau menyerahkan keperawananku kepadanya malam ini hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Sudah kamu jangan pikirkan itu, aku punya uang cukup untuk operasi Ibumu, sekarang kamu harus lari terlebih dahuluÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tidak bisa, dia selalu berada dirumah setelah kepulangannya dari luar negeri. Selain rehat, dia jug amengawasiku. Jika aku pulang telat dia pasti akan mengahajarku habis-habisan didepan ibuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Dirumah?ÔÇØ ucapku sedikit terkejut

ÔÇ£Ya, Dia Ayahku…ÔÇØ ucapnya, aku tertunduk dan ambruk ke belakang bersandar pada sandaran kursi

ÔÇ£Ibu adalah seorang wanita kaya raya, setelah Ayah kandungku meninggal. Semua warisan diserahkan ke Ibu, dan setelah dua tahun hidup sendiri Ibu bertemu dengannya. Mereka kemudian menikah, 6 bulan pertama tampak indah namun setelahnya dia menguasai semua harta ibu. dan membuat Ibu jatuh sakit, bukannya menolong malah memperparah kondisi Ibu hiks hiks hiks…ÔÇØ

ÔÇ£aku benar-benar sedih melihat kondisi ibu, aku memohon kepada ayahku untuk menolong Ibu. tapi kemudian dia mengajukan syarat itu, aku awalnya menolak tapi demi keselamatan Ibu aku menyetujuinya hiks hiks hiks…ÔÇØucapnya dengan isak tangis

ÔÇ£ARRRGHHHHHHHHHHHHH!ÔÇØ teriakku marah sambil berdiri dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku

ÔÇ£dan malam ini, dia mengatakan kepadaku untuk menyerahkan keperawananku kepadanya. Setelahnya dia akan membiayai semua operasi ibu. Kamu tahu kan ketika aku telepon diluar posko, itu ayahku yang menelepon agar aku tidak main-main di KKN. Setelah malam nanti Ibu akan diberangkatkan operasi esok paginya. Dan jika aku tidak memenuhinya, ibu akan hiks hiks hiks.. jika tidak esok pagi kondisi ibu semakin parah dan…ÔÇØ

ÔÇ£Aku tidak ingin Ibu mati ar, dia harta satu-satunya bagiku hiks hiks hiks… tolong aku hiks hiks hiks aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, jika saja aku membawa ibu keluar rumah pasti aku dan ibu akan dibunuhnya hiks hiks…ÔÇØ ucapna diselingi isak tangis, kata Ibu membuat aku semakin membenci Ayahku dan teman-temanya. Ya, Ibu harataku satu-satunya.

ÔÇ£Ran…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£hiks hiks hiks… ya ar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Apakah dia selalu berada dirumah? Dan kapan dia akan mengambil mahkotamu?ÔÇØ ucapku datar dan memandang rani yang sedang tertunduk sambil menutupi wajahnya. Air matanya menetes di celana jeansnya

ÔÇ£Dia mengatakan kepadaku, tengah malam nanti setelah dia pulang dinas. Hari ini dia akan berada dirumah terus hingga nanti jam 8 malam biasanya dia akan keluar sebentar dan kemudian pulang jam 11an ar… kenapa kamu tanya-tan…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£Apakah dokternya selalu bisa melakukan operasi?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku tidak tahu, tapi pihak rumah sakit bisa mengusahakan karena dokternya dari derah ini juga. Ar, apa yang ingin kamu lakukan?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£di rumah sakit mana?ÔÇØ ucapku, tanpa menjawab pertanyaanya

ÔÇ£Rumah sakit pinggir kota kita ini arÔÇØ ucapnya, dan itu adalah rumah sakit tante asih

ÔÇ£Sebentar ran…ÔÇØ ucapku, menyulut dunhill dan mengambil sematponku

Kutulis sebuah pesan di group BBM ÔÇ£KOPLAKÔÇØ yang beranggotakan Karyo, parjo, tugiyo, wongso, hermawan, dewo, aris, anton, joko, karyo, sudira.

Kumpul jam 14:00, warung wongso!
Semua!
Need koplak help!
Selang satu menit aku melihat layar LCD sematponku

Aris
Tak ngising sek (mau BAB dulu)

Sudira
Bentar, lagi disodok nih!

Anton
Huatching! Oke!

Karyo
Iyo cat, silitku gathel (iyo cat, anusku gatal)

Dewo
Wani piro? (berani berapa?)
Guyon ndes,oke (bercanda ndes)

Parjo
Iyo, jo nesu to (iya, jangan marah to)
Ha ha ha

Tugiyo
Makan-makan, oke

hermawan
kosek lagi bayar utang (bentar lagi bayar hutang)

udin
oke, makÔÇÖku wis balik (oke, ibuku sudah pulang)

Wongso
Roger!
KakekÔÇÖane, nek kumpul ngko ojo ngentek-ngenteke ndul, mbayar lho ha ha ha ha
(Sialan, kalau kumpul nanti jangan menghabis-habiskan ndul, ha ha ha ha)
Dan semua menjawab secara bergantian
MATAMU!
Aku :
Terima kasih semua, aku tunggu (y)
kutatap layar LCD itu dan membuatku tersenyum, entah apakah aku bisa menolong rani atau tidak. Tapi aku bisa mengandalkan mereka, pasti bisa.

ÔÇ£Ran, kamu pulang, nanti aku jemput ketika ayahmu pergi jam 8 malam. Setelah itu, aku antarkan ibumu ke rumah sakit dan mengoperasinya segeraÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu gila ar, kamu bisa dibunuh…. n…. nya….ÔÇØ ucapnya sedikit melambar ketika melihat tatapan mataku tajam

ÔÇ£kamu cukup terima jadi, hubungi aku ketika ayahmu pergi dan berikan setiap informasi apapun ke akuÔÇØ ucapku

ÔÇ£jika kamu ingin selamat dan hidup bersama anta… jika kamu ingin selamat dan merawat harta terindahmu, ibumu… percayakan pada kakek…ÔÇØ ucapku kembali tersenyum dengan mata menyipit

ÔÇ£aku ingin yang kamu ucapkan…ÔÇØ ucapnya sembari memelukku

ÔÇ£Pulanglah, dampingi ibumu, malam ini akan menjadi malam indah…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£terima kasih…ÔÇØ

ÔÇ£Aku percaya kepadamu ar, walau aku tidak tahu kenapa kamu mau menolongkuÔÇØucapnya

ÔÇ£Aku akan mengatakannya, ketika kita semua sudah selesaiÔÇØ ucapku dan dia mengangguk

Setelahnya kami berpisah, aku segera kembali ke rektorat mengambil REVIA. Dengan langkah cepat dan wajah seriusku aku melangkah dengan tergesa-gesa. Namun, semua itu terhenti ketika aku bertemu dengannya, dengan bu dian. kami bertemu ketika aku berjalan menuju rektorat. Kami saling bertatapan, tak ada orang disekitar kami. aku kemudianmenunduk tak berani aku melihatnya. Kemudian aku melangkah mencoba melewatinya.

ÔÇ£Bolehkah aku melihat senyummu?ÔÇØ ucapnya tiba-tiba, membuat aku berhenti tepat disampingnya. Aku kemudian menoleh dan tersenyum kepadanya, dia memandangku denga senyuman indahnya.

ÔÇ£terima kasih…ÔÇØ ucapnya kembali menghadap ke depan

ÔÇ£Sama-sama…ÔÇØ ucapku dengan pelan kurahkan pandanganku ke depan

ÔÇ£Jangan jauh…ÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£Aku tidak tahu… Maaf…ÔÇØ jawabku sambil melanjutkan langkahku

ÔÇ£Apakah bocah SMP itu masih menyimpan perasaanya sampai saat ini?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku tak tahu…ÔÇØ ucapku menghentikan langkahku dan kemudian melanjutkannya lagi

Tak ada kata-kata lagi dari kami berdua, aku menoleh kebelakang sambil berjalan. Saat aku tahu dia akan menoleh kebelakang, aku mengarahkan kembali pandanganku kedepan.

ÔÇ£Hati-hati…ÔÇØ teriaknya, aku mengangkat tangan kananku dan mengacungkan jempol

ÔÇ£Maafkan aku, aku benar-benar belum siap berhadapan denganmu. Maafkan aku…ÔÇØ bathinku

Di atas REVIA pun aku termenu sesaat menyaksikan bu dian yang kutemui baru saja. Lama aku termenung hingga melamun, dengan pikiranku masih berputar-putar di sekitar bu dian. sesaat kemudian aku tersadar dan aku tepk-tepuk kedua pipiku. Segera aku bergerak menuju ke warung wongso

13:30 Waktu setempat
Wongso sudah berada di warungnya, tak ada tegur sapa diantara kami. andangan mata kami berdua ketika berhadapan sudah cukup mengatakan bahwa akan ada ÔÇ£death gameÔÇØ malam ini. tapi entah apa rencanaku, aku benar-benar tidak tahu. Aku duduk termenung di depan rumah wongso yang berada di belakang warungnya. Dengan langkah santai wongso memberiku sebungkus rokok dunhill dan segelas teh hangat.

ÔÇ£Rileks, we will make it brother!ÔÇØ ucapnya dengan senyuman dan dia kembali di tempat pencucian piring

13:40 Waktu Setempat
Karyo, parjo, tugiyo, karyo datang dengan dua motor. Tanpa ada pembicaraan mereka langsung duduk di lantai ada juga yang duduk di kursi. Kami semua diam menungu kehadiran yang lain. Tak ada tegur sapa diantara kami, awalnya mereka tersenyum namun wajah mereka kembali datar ketika melihat raut mukaku. Wongso kembali datang membawa empat gelas minuman hangat untuk mereka berempat dan kembali lagi ke dalam warung membantu Ibunya, disitu tampak asmi sedang berada di dalam warung. Tapi ada rasa keengganan untuk menyapa kami ketika melihat wajah seriusku dan juga yang lain

13 : 50 Waktu Setempat
hermawan, dewo, aris, anton, joko, sudira datang mereka melihat kami berlima sudah berada di rumah wongso. Tanpa ada tegur sapa kam semua berdiam diri menunggu 14:00. Dengan tanggap, wongso langsung membawakan minuman untuk mereka berenam yang baru saja datang.

14:00 Waktu Setempat
Kami ber 12 sudah berkumpul lengkap, 12 orang anggota geng koplak yang sedari dulu tidak ernah mempunyai ketua geng. Hanya mempunyai pengawas, Tante Asih dan Ibu wongso yang selalu mengetahui apa yang akan kami lakukan.

ÔÇ£Bicara di dalam, dan tidak boleh ramaiÔÇØ ucap Ibu wongso yang berdiri di pintu belakang warung

Dengan segera kami masuk ke dalam rumah wongso. Tanpa harus mengatur posisi duduk, ada yang duduk di kursi, di lantai , ada juga yang tiduran di paha teman yang lain. Keheningan antara kami mulai menyelimuti, hanya kepulan asap rokok yang berbicara. Setelah beberapa dari kami mematikan rokok.

14: 15 Waktu Setempat

ÔÇ£Aku butuh bantuan kalianÔÇØ ucapku tanpa ada jawaban dari mereka

ÔÇ£ssssshhhhhh huuuuuuuuuuuffttthhh… tapi ini bisa jadi pertemuan terakhir kita jika kita gagal dan ini taruhannya nyawaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Bisa ke poinnya langsung?ÔÇØ ucap Anton

ÔÇ£Eh… okay…ÔÇØ ucapku yang kemudian menceritakan mengenai Rani dan kejadian tadi pagi, serta kenyataan siapa rani.

ÔÇ£Begini, malam ini aku ingin menjemput Rani. Dirumahnya, jam 8 malam Ayahnya keluar rumah dan aku sudah mengondisikan Rani agar terus memberiku informasi keberadaan Ayahnya. Namun ini memiliki resiko yan tinggi, jika saja tiba-tiba Ayah rani atau tukang tiba-tiba pulang kita akan ketahuan. Atau bisa saja kita harus berhadapan dengan para penjaga ayahnya yang berada dirumah, aku belum tahu pastinyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Apa yang kamu butuhkan?ÔÇØ ucap Aris

ÔÇ£Jika ada dari kalian yang bisa membawa mobil yang mampu membawa Ibu rani, aku berteirima kasihÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ada, terusÔÇØ ucap Dewo

ÔÇ£Aku tidak tahu…ÔÇØ ucapku sambil memgang kepalaku dengan kedua tanganku

ÔÇ£ada berapa penjaga dirumah rani?ÔÇØ ucap Aris

ÔÇ£Setahuku, tadi ada empat orang yang menjada ayah rani. Dan mereka tadi menggunakan 3 mobil. Hanya itu yang aku tahu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£okey, 1 mobil dan 5 motor berkecepatan 250 CC mungkin itu yang kita butuhkan…ÔÇØ ucap Karyo

ÔÇ£Maksud kamu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£1 mobil untuk pengangkut Ibu dari rani, 5 motor untuk menghadang 3 mobil tersebut, ini hanya untuk berjaga-jaga seandainya aksi kita ketahuan… dan…ÔÇØ ucap karyo

ÔÇ£jika kita harus berhadapan dengan para penjaga atau ayah rani sendiri dirumahnya, kita harus memastika tak ada orang lain yang tahu. Karena mungkin saja kita malam ini akan menjadi pembunuhÔÇØ ucap udin melanjutkan, aku kemudian menundukan kepala

ÔÇ£hei ar, jika kita semua tertangkap menurutku tidak apa-apa… tapi sebisa mungkin hanya beberapa dari kita, jangan semuanya dan terutama kamu ar, masih ada banyak misi dalam hidupmu. Dan kamu harus melanjutkan perjuangan kita yang jika nanrti tertangkapÔÇØ ucap anton

ÔÇ£ton, tapi… arghhh… aku benar-benar bingung… disisi lain aku tidak ingin mengorbankan kalian…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tapi, ada seorang dari koplak yan rela mati-matian mengorbankan hidupnya untuk menolong kami semua…ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£tapi wong… arghhhh… ÔÇ£ ucapku

ÔÇ£Sudah, kita berkumpul pukul 18:30, persiapan, jangan lupa penyamaran agar kita tidak diketahui. Masalah motor aku ada…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Semuanya kita bergerak malam nanti jam 18:30 mulai dari rumah wongso, dan kita akan atur semuanya. Tidak boleh telat sebisa mungkin on-time! Dan aku akan menyusun rencana…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Aku percayakan kepadamu ton…ÔÇØ ucap joko, dan kemudian semua memandang anton yang notabene adalah anggoya IN

ÔÇ£jangan katakan ini kepada anggotamu, tak akan indah masa muda kita jika dibantu oleh anggotamuÔÇØ ucap hermawan

ÔÇ£betul, sekali-kali kita melakukan hal besar… inilah koplakÔÇØ ujar parjo

ÔÇ£yoÔÇÖi bro…ÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£iiiih…. seneng deh lihat si gantengku pada serius hi hi hiÔÇØ ucap sudira

ÔÇ£pasti, sekali-kali aku ingin menikmati masa-masa indah bersama kalian, tak akan ada yang indah jika tak bersama kalian. Dan lagi, dengan anggota IN, aku tidak bisa menikmatinya he he heÔÇØ ucap anton

ÔÇ£tunggu dulu, aku…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£wes ora usah dipikir, ngko edan kowe, wes koplak tambah edan ha ha ha (sudah tidak usah dipikir, nanti gila kamu, sudah koplak tambah dila ha ha ha)ÔÇØ ucap dewo

ÔÇ£jangan pernah tanyakan kesiapan koplak, jika kamu bertanya kami akan mengurangi satu anggota koplak yaitu kamu, ar…ÔÇØ ucap Udin dengan pandangan serius

ÔÇ£terima kasihÔÇØ ucapku sambil memandang mereka satu-satu

Kami kemudian bubar, mempersiapkan diri untuk nanti malam. Sedangkan aku tetap berada di rumah wongso. Setelah semua bubar hanya aku sendiri berada di ruang tamu, wongso kembali membantu ibunya di warung. Aku percaya pada mereka namun aku masih tidak tega jika harus melibatkan mereka tapi sudah tidak ada lagi yang bisa membantuku kecuali mereka. Hingga maa ini terlelap dan tak tahu apa yang akan terjadi.

18:00 Waktu setempat
Aku terbangun, dan aku sudah mendapati mereka semua berada di rumah wongso. Mereka semua berpenampilan serba hitam, dengan jaket hitam, sarung tangan hingga sepatu cat warna hitam. Anton kemudian melemparkan pakaian kepadaku, dan segera aku berganti pakaian di kamar wongso. Kulihat sebuah BBM dari Rani,

From : Rani
Ayah akan keluar jam 8
To : Rani
Ada yang jaga rumahmu?
From : Rani
Tidak ada, biasanya mereka semua pergi bersama ayah
To : Rani
Oke, rileks and believe me, okay?!
From : Rani
Okay
18:15 Waktu Setempat

ÔÇ£Aku mendapat BBM dari rani, ada kemungkinan mereka semua keluar. Oia, rumah rani ada diperumahan Arwah (Asri Ramai Mewah) jadi ada penjagaÔÇØ ucapku, anton memandangku dan mengangguk

ÔÇ£okey, kita mulai, karena ada kemungkinan rumah tanpa penjagaan…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£dengarkan koplak…ÔÇØ ucap anton kembali

ÔÇ£siaaaaaaaaaap!ÔÇØ teriak kami bersamaan

ÔÇ£Diluar sudah ada mobil, aku, sudira dan udin akan berada didalam mobil membawa Ibu dari rani. Dan ada 5 motor, motor 1 wongso akan bersama tugiyo, motor 2 aris bersama dewo, motor 3 parjo dengan karyo, motor 4 hermawan dan joko, dan motor 5 kamu sendiri ar, kamu akan memboncengkan raniÔÇØ

ÔÇ£Plan A, Jika nanti ternyata rumah ada penjaga, maka kita akan mengobrak-abrik rumah rani dan ingat kill them all, no matter what!ÔÇØ

ÔÇ£Plan B, jika mereka keluar semua, kita bisa langsung mengambilnya dan membawanya ke rumah sakit, dan kita harus kembali kerumah mereka memancing mereka berlima untuk mengikuti permainan kitaÔÇØ

ÔÇ£Plan C, jika kita ketahuan sebisa mungkin kita lakukan permainan kita di jalan raya, untuk membuat mereka menghembuskan nafas terakhirÔÇØ lanjut anton

ÔÇ£permainan seperti apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£motor 1 dan motor 2 menuju bukit komodo, motor 3 dan 4 menuju bukit cendrawasih, dan kamu arya menuju bukit bacusa. Ingat jika plan A dan B semuanya gagal terus kita ketahuan entah ketahuan seperti apa, sebisa mungkin pancing mereka semua jangan buat kericuhan disekitar perumahan, karena bisa jadi warga akan keluar dan semua rencana kita gagal,Plan C adalah rencana di jalan, mengerti?!ÔÇØ ucap Anton

ÔÇ£mengerti!ÔÇØ teriak kami

ÔÇ£Le, di ombe! Eling, yen nulungi wong kudu sak rampunge ojo sampe mandek ning tengah-tengah (nak, di minum! Ingat, kalau menolong orang harus sampai selesai jangan sampai berhenti di tengah-tengah)ÔÇØ ucap Ibu wongso sambil meletakan minuman hangat

ÔÇ£Siap!ÔÇØ ucap kami serempak

ÔÇ£Dir, satpamnya aku serahkan kepadamu, iniÔÇØ ucap anton sambil melemparkan sesuatu entah apa itu. Kami berangkat sesuai dengan posisi yang telah dijelaskan oleh anton.

ÔÇ£Ar, aku sudah menghubungi pak wan…ÔÇØucap wongso

ÔÇ£oh… berarti dia?ÔÇØ ucapku, kemudian wongso berbisik kepadaku

ÔÇ£okay…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sayang-sayangku jangan lupa bawa tasnya yaÔÇØ ucap sudira

ÔÇ£Weeeeeeeeeeeek…ÔÇØ ucap kami serempak

ÔÇ£iiih jual mahal deh kalau sama sudira… sebelÔÇØ ucap dira di akhiri gelak tawa kami

Bagaimana nanti?! WhoÔÇÖs know… kami berangkat tepat pukul 19:00 dan sampai di depan gerbang perumahan mewah tepat 19:30 Waktu setempat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*