Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 33

Wild Love 33

Di tempat dimana aku pertama kali bersama ibu, kemudian wanita yang selama ini aku kagumi dan aku sukai, Dian Rahmawati. Wanit berambut panjang, hidung mancung dan bekulit putih. Wajah yang ayu dan senyum manisnya, membuat semua mahasiswanya jatuh berlutut di hadapannya. Apakah aku juga? Ya, namun setiap kali aku merasa dia akan menjadi milikku, setiap kali itu pulalah aku merasakan racun yang tak bisa ditawar oleh hatiku. Di tempat ini, tempat yang indah bagiku, tempat dimana aku bisa memandang rembulan dari bangku tempat aku duduk sekarang. Dengan sekaleng minuman dan tentunya dunhill mild isi 20 menemaniku. Tak ada yang bisa menemaniku saat ini kecuali dunhill. Suasana begitu hening membuat aku merasa nyaman, namun suasana itu berubah menjadi sesuatu yang tak terduga setelah wanita itu datang.

ÔÇ£AKU MOHON JANGAN PERGI LAGI! AKU MOHON!ÔÇØ

ÔÇ£Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi untuk waktu yang lama, sudah cukup bagiku sekali saja berpisah darimu dan melihatmu menghilang dari kaca jendela bisÔÇØ

ÔÇ£AKU MOHOOOOOOOOOOOOOOON ARYAAAAAAAAAAAAAAAAAA hiks hiks hiks hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya terisak, ucapannya membuatku berhenti melangkah

ÔÇ£jangan pergi lagi hiks hiks hiks jangaaaan hiks hiks hiks aryaaaa hiks hiks hiksÔÇØ isaknya

ÔÇ£Bis?ÔÇØ bathinku

Aku menoleh ke arah wanita yang terduduk dengan kedua kakinya menekuk kebelakang. Wajahnya tertunduk melihat kelantai jalan ini. Kedua tangannya menutupi wajahnya, dapat kulihat air mata mengalir dari sela-sela jarinya dan menetes kebawah. Ingatanku kembali kemasa itu, masa dimana aku….

ÔÇ£Apa ini?, kenapa ada sesuatu yang ingin kembali masuk ke dalam kepalaku? Ada apa?ÔÇØ bathinku yang tiba-tiba saja sebuah ingatan yang buram yang berasal dari masa lalu ingin masuk ke dalam pikiranku

ÔÇ£Aku mohon jangan pergi lagi, apa kamu tidak merasa lelah membuatku mencarimu? Hiks hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£Aku mohon tinggalah, hiks hiks hiks…ÔÇØ

ÔÇ£Apa kau hiks hiks hiks sudah melupakan aku?hiks hiks hiksÔÇØ ucap wanita itu, bu dian. Wajahnya berlumurkan air mata yang tertutup dengan kedua tangannya

ÔÇ£A… apa maksud bu dian? Sungguh A… Aku tidak mengerti sama sekali?ÔÇØ ucapku, dengan pandangan kebingungan mencoba mengingat kembali

ÔÇ£APA DARI DIRIKU INI TAK ADA YANG MENGINGATKAN KAMU AR? APA KAMU BENAR-BEAR SUDAH MELUPAKAN AKU? MELUPAKAN YANG PERNAH KAMU KATAKAN KEPADAKU?! Hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£LIHAT AKU AR… LIHAT AKU hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£LIHAT AKU ARYAAAAAAA! Hiks hiks hiks hiksÔÇØ teriaknya yang masih terduduk dengan kaki bertekuk kebelakang, tangan kananya rebah dan menumpu tubuhnya di depan kedua lututnya sedangkan tangan kirinya diletakannya di dadanya mencoba menunjukan kepadaku agar aku bisa menatapnya dan mengingatnya. Namun aku hanya terdiam mematung dihadapannya dan menatapnya. Tangan kirinya, telapak tangan kirinya mengusap air mata yang menagalir di pipinya. Telapak tangan itu mengusap air mata di pipi kanannya kesamping kanan kemudian air mata di mata kirinya ke samping kirinya. Tiba-tiba yang aku lihat…

ÔÇ£Eh… siapa dia?ÔÇØ bathinku

Tiba-tiba gambaran akan masa lalu muncul dihadapanku. Yang kulihat bukan lagi seorang perempuan dewasa berkulit putih, tapi seorang gadis memakai baju SMA yang hanya menutupi sebagian lengannya dengan posisi yang sama. Bajunya lusuh terkena kotoran dan debu tanah dengan rok abu-abu diatas lutunya. Wajahnya gelap, tak seputih sebelum gambaran ini datang. Rambutnya pendek seperti potongan lelaki, tubuhnya tampak kurus sekali. Kulitnya pun gelap hampir mendekati hitam. Di salah satu kakinya hanya mengenakan kaos kaki putih sedangkan yang satunya lagi masih menggunakan sepatu hitam dengan alas berwarna putih.

ÔÇ£MbakÔÇÖe-nya….ÔÇØ suara seorang bocah muncul

Tanpa aku sadari bayang-bayang seorang bocah yang tiba-tiba berlari di sampingku membawa sepatu dan tas cangklong bahu (tas yang dipakai menyilang di bahu, sling bag mungkin istilahnya) berwarna hitam. Dia berlari ke arah gadis SMA tersebut, bocah itu memakai seragam SMP. Tampak seragamnya tampak lusuh, bercak-bercak darah tampak di pakaian seragamnya. Tak bisa aku melihat wajah itu, namun sekarang aku ingat.

ÔÇ£Aku… itu aku….ÔÇØ bathinku, dan bayang-bayang itu kemudian hilang dan berganti dengan perempuan dewasa, bu dian.

ÔÇ£hiks hiks hiks hiks hiks hiks….ÔÇØ tangisnya

Kini tatapanku menjadi tatapan orang yang sangat terkejut. Jantungkku berdetak sangat kencang, bibirku sedikit terbuka teringat akan masa lalu itu. Masa dimana aku, aku arya mahesa wicaksono, bertemu dengan seorang gadis SMA dengan senyum manisnya. ingatanku kembali ke masa dimana aku melihat senyum itu, senyum yang telah lama tidak aku lihat dan aku bisa melihatnya kembali ketika pertama kali aku kuliah di semester 5. Ketika kuliah dengan dosen bernama Dian Rahmawati. Gadis itu, adalah Dian Rahmawati. Dosenku adalah gadis dengan senyuman indah yang dulu aku pernah memujinya. Gadis itu sekarang ada di hadapanku.

Gadis yang memiliki senyuman indah…

Gadis yang aku kagumi…

Gadis dengan wajah kalemnya…

Gadis dengan tatapan menentramkan…

Gadis yang pernah tertunduk malu dihadapanku…

Gadis itu, Dosenku…

Gadis itu, Dian Rahmawati….

ÔÇ£MbakÔÇÖe-nya….ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£MbakÔÇÖe-nya…ÔÇØ ucapku mengulangi dengan nada datar, yang kemudian dia sedikit tersenyum kearahku sambil mengusap air matanya

Teringat akan semua kesalahan yang pernah aku buat. Teringat akan kegilaan yang pernah aku buat, bersama ibu dan yang lainnya. Wanita ini mengingatkan aku akan semua kesalahanku. Wanita ini membuat aku merasa malu. Wanita ini membuat aku merasa bersalah. Wanita ini membuat aku merasa menyesal karena telah melakukan kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak aku perbuat. Wanita yang selalu aku idamkan, wanita yang bersih. Merasa aku tidak pantas untuknya. Lutuku lemah untuk menopang tubuhku, aku terjatuh dengan posisi lutut terlebih dahulu. Aku sangat-sangat menyesal, kenapa aku harus mengotori diriku? Kenapa aku harus bertemu dengannya dengan keadaan seperti sekarang ini? tubuhku ambruk ke depan dengan kedua tanganku menopang tubuhku. Tangan kananku memukul-mukul tanah.

ÔÇ£Arghhh…….ÔÇØ teriakku, yang kemudian bangkit dan duduk berlutut di hadapannya, menatapnya kembali

ÔÇ£Maafkan aku…ÔÇØ hanya itu yang mampu terucap, malu, membuatku tak sanggup untuk memandangnya. Kualihkan pandanganku ke arah rembulan, saksi bisu pertemuan yang tak terduga ini

ÔÇ£hiks hiks hiks hiks… kamu ingat aku sekarang Ar?ÔÇØ ucapnya dengan isak tangis

ÔÇ£Ya, aku ingat kamu, perempuan yang tak pernah aku tahu namanya…ÔÇØ ucapku dengan wajah menengadah ke langit atas

ÔÇ£hiks hiks hiks… Aku yang salah Ar, maafkan aku… aku dipaksa oleh felix, dia yang mendorongku…ÔÇØ ucapnya pelan

Ucapannya tak aku hiraukan kembali, aku hanya menyesali semua kejadian yang telah terjadi. Tubuh ini rasanya ingin lari dari tempat ini, tapi hati ini melarangnya, hati ini tak ingin lari karena ada hati yang diinginkan oleh hatiku.

ÔÇ£Aku memang dulu pernah pacaran dengan felix hiks…ÔÇØ ucapnya dengan suara parau tapi isak tangisnya sudah mereda

ÔÇ£Seandainya kamu tahu ar,bagaimana aku selalu…..ÔÇØ ucapnya yang kemudian menceritakan masa lalunya.

————————————————————————

Sebuah cerita pencarian dan penantian seorang wanita….

Bocah itu dengan gagah berani menyelamatkan aku, menyelamatkan tubuhku dan mahkotaku. Menyelematkan aku dari ketiga teman yang baru aku kenal dari dunia maya. Aku datang ke daerah ini karena ingin melepas kepenatan dengan membolos sekolah dan seorang dari mereka yang dihajar menawarkan kepadaku untuk menemaniku tapi hal yang tidak disangka terjadi. Namun bocah itu menyelamatkanku. Dia benar-benar seorang laki-laki bagiku. Walau umurnya masih bocah, dan dia beberapa tahun dibawahku. Seorang bocah, entah dia kelas berapa namun yang jelas dia masih SMP sedangkan aku kelas 3 SMA. Dia menghajar tiga orang teman yang baru aku kenal.

Kulitku gelap tapi sebenarnya kulitku putih dan bocah itu juga yang mengetahui pertama kali. kulit luar yang tak tertutup oleh pakaian memang gelap menjurus ke hitam namun yang tertutup pakaian putih. Maklumlah, aku suka sekali bermain panas-panasan diluar dan membuatku menjadi gelap menjurus ke hitam. Aku lebih suka memotong rambutku seperti pria dan sedikit tomboy walaupun terpaksa. Bagaimana bocah itu bisa tahu warna kulitku sebenarnya? Itu karena ketika aku mencincingkan lengan seragamku, tampak belang dan bocah itu langsung nyletuk dengan lugunya.

Terakhir aku melihatnya sedang berlari mengejar bis dimana aku berada. Dia tersenyum dan terus melambai, aku mendengar teriakannya bertanya akan namaku. Aku menjawabnya tapi terlihat gerakan bahunya keatas tidak mendengarku. Sudahlah yang penting aku tahu namanya, jika nanti aku bertemu dengan dia lagi aku pasti akan mengatakannya dan aku yakin dia ingat kepadaku. Setelah perpisahan dengan bocah itu aku terus memperbaiki diriku. Karena dia satu-satunya lelaki yang memujiku dan satu-satunya lelaki yang berani berbicara jujur. Jujur? Jelas, dari kata-kata yang dia sampaikan kepadaku tampak polos dan lugu. Kata-kata bocah itu selalu teringat dikepalaku membuat aku ingin selalu memperbaiki diriku. Aku terus memperbaiki diriku selepas aku lulus SMA, penampilanku semakin menarik banyak laki-laki ketika kuliahku menginjak semester 7. Tapi maaf? Aku tidak tertarik dengan mata-mata itu yang hanya ingin menelanjangiku. Aku kuliah di Universitas Sabarin, dengan tujuan aku bisa bertemu atau menemukan bocah itu. Karena universitas ini berada di daerah dimana aku bertemu dengan bocah itu.

Selepas aku kuliah, aku langsung mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa S2. Dan pencarian satria itu, aku hentikan. Aku kuliah S2 di jerman, disana aku bertemu dengan kakak kelasku. Dulu dia tidak pernah meliriku namun sekarang dia meliriku. Nama panggilannya Felix. Usahanya mendekatiku sangat keras hingga aku jatuh dalam pelukannya dan membuatku seakan lupa akan bocah itu. Entah sekarang dia seperti apa?

Aku menjalani hubungan dengan felix dengan sangat baik, hubungan itu berjalan kurang lebih 1 tahun setelah aku mendarat di jerman. Tapi tak disangka setelah berbulan-bulan aku menjalani dengannya aku memergokinya sedang melakukan hubungan dengan sahabatku sendiri. Aku meminta putus, dan dia mengiyakan dengan beberapa keluhan kepadaku. Aku yang tidak mau disentuh, aku yang jaim dan lain sebagainya. Aku menangis… Apakah untuk mendapatkan laki-laki aku harus menyerahkan semuanya? Tidak, aku tidak akan memberikan kepada lelaki yang belum tentu menjadi suamiku. Setelah aku putus dengan felix, aku menjalani hidup dengan penuh semangat. Dan itulah yang membuat aku kembali teringat kepada bocah satria itu. Kuliah S2 tepat 2 tahun aku selesaikan. Selalu tepat waktu, untuk S1 aku menghabiskan kuliahku selama 3,5 tahun sebagai mahasiswa berprestasi jadi wajar jika aku mendapatkan beasiswa.

Sekembalinya aku ke negara asalku, dan kembali ke universitas sabarin. Aku langsung diangkat menjadi dosen. Dan belum mengajar saja aku sudah mendapat label killer, ya karena ada yang pernah menjadi adik kelasku dan mereka tahu betapa judesnya aku. Berita itu terus menyebar hingga ke adik-adik kelas yang baru saja masuk. Ketika itu pertama kalinya aku mengajar, aku melihat sesosok laki-laki yang mengingatkan aku pada bocah itu. Setelah salam dari mahasiswa, aku kemudian memperkenalkan diriku. Aku memang penasaran dengan laki-laki itu, hingga aku meraih daftar hadir mahasiswa dan aku cek satu-satu kehadirannya. Kubaca namana dan aku langsung melihat mahasiswa tanpa melihat nama dibawahnya. Satu persatu aku baca hingga di nomor presensi 32.

ÔÇ£Eh… Arya…ÔÇØ bathinku

ÔÇ£Arya Mahesa Wocaksono!ÔÇØ ucapku dengan nada keras

ÔÇ£Hadir buÔÇØ ucap seorang laki-laki yang duduk didepan. Sambil tersenyum kepadaku, tapi aku hanya kembali membaca nama mahasiswa berikutnya. Tak kubalas senyuman itu, senyuman yang dulu pernah menyelamatkan aku.

Sekalipun aku tak membalasnya, namun hati ini seakan berteriak sangat bahagia. Sangat-sangat bahagia, sebenarnya aku ingin membalasnya. Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan kepadanya tentang kejadian 6 tahun yang lalu. Tapi apakah dia akan mengingatku? Ditengah-tengah kuliah ketika semua mengerjakan tugas, aku terus memandangnya berharap dia memandangku kembali. Dan benar dia memandangku, aku tersenyum kepadanya dan dia membalasnya, iiiiih seneng sekali rasanya. Arya… aryaa… dia pasti mengingatku. Pasti ingat hi hi hi senaaaaaaaaang sekali rasanya. Tapi ternyata dia tidak ingat, dia lupa. Bahkan ketika kuliah selesai pun dia tidak menemuiku atau apalah sekalipun aku sempat melemparkan senyum kepadanya ketika perkuliahan selesai. Apa memang dia telah melupakan aku?

Setelah pertemuan pertama dengannya, aku semakin bersemangat mengajar. Aku akan berusaha untuk mencoba membuatnya ingat kepadaku sekalipun dia sudah melupakanku. Dialah satriaku, semaksimal mungkin aku akan berusaha membuatnya ingat. Pernah waktu itu aku bertemu dengannya di toko pakaian, dia tampak sangat lucu ketika mengetahui kalau aku, dosennya, yang sedang mengajak bicara dari belakang. Walau di awal tampak agak kaku, begitupula aku, aku mencoba lebih lembut lagi. Aku akhirnya bisa membawanya menemaniku berbelanja. Aku mencoba mengorek tentang dirinya agar aku yakin bahwa dia adalah bocah itu. Dan benar dia adalah bocah yang menyelamatkan aku waktu itu. Tapi jawaban yang aku harapkan tidak seperti seharusnya. Dia tidak mengetahui siapa gadis itu, wajar itu semua salahku karena aku saat itu tidak sempat memperkenalkan diriku. Tapi dengan cerita dia membuat aku semakin ingin sekali bersamanya, bersama satria penolongku.

ÔÇ£Arya ganteeeeng….ÔÇØ begitu teriakku di dalam mobil setelah berpisah dengannya, betapa bahagianya hatiku

Sesampainya aku dirumah, aku mencari tahu keberadaanya. Pertama dari Fish Boat (FB), kucoba mencari namanya tapi tak ketemu. Aku sedikit menyerah tapi tiba-tiba ada ide muncul dikepalaku. Aku melakukan pencarian arya dari teman-teman kuliahnya. Semua nama mahasiswa di kelasnya aku ÔÇ£searchÔÇØ , dan dari semua temannya hanya satu yang menggunakan nama asli. Ku lihat teman-teman dari mahasiswa itu dan kucek satu-satu. Ada lebih dari 2000 teman aku cek hingga ke seorang teman dengan nama Zi K0PL4k A12J4 MW, dengan Profil picture sebuah tulisan KOPLAK. Kubuka album.

ÔÇ£DASAR NYEBELIIIIIIIIIIIN!ÔÇØ teriakku sambil menunjuk-nunjuk wajah seorang lelaki di layar monitor

Kutatap senyuma itu, tak henti-hentinya aku memandang wajah itu. Kadang aku menunduk dan malu sendiri ketika harus menatap mata itu. Hampir semalaman kerjaku hanya membuka foto-foto si bocah itu, dari foto pertama hingga terakhir dan kuulangi hingga aku tertidur. Arya…..

Ini adalah kedua kalinya aku masuk ke kelas arya kembali, seperti halnya dosen yang lain. Setiap tugas harus dikumpulkan, namun tiba-tiba saja bocah itu mendatangiku dan mengatakan kepadaku kalau tugasnya tertinggal di rumah. Aku sebenarnya tidak tega tapi mau tidak mau aku menyuruhnya keluar. Setelah dia keluar konsentrasiku menjadi pecah, hatiku gundah, tak ada semangat untuk mengajar dikelas ketika seorang lelaki yang aku idamkan tidak berada didepanku. Selepasnya perkuliahan selesai bocah itu mengejarku, aku sangat senang sekali. Walau balasan yang dia dapat adalah kejudesanku dan rasa angkuhku, bagaimana tidak aku tidak ingin dibilang dosen pilih kasih atau dosen yang tidak adil. Hingga dia menawarkan untuk mengumpulkan tugas ke rumah. Senang? Pastilah! Hi hi hi hi hi hi, tapi aku sedikit jual mahal agar tidak dikira dosen gampangan.

ÔÇ£Maaf saya sibuk jika harus menunggu tugas kamu sampai nanti soreÔÇØ ucapku sambil berlalu, dia tidak menyerah dan terus mengejarku.

ÔÇ£Bu, akan saya kumpulkan ke rumah Ibu, saya mohon bu…ÔÇØ ucapnya sambil membungkukan tubuhnya dihadapannku, Aku hanya berlalu, dia terus mengejarnya dan mengejarnya, hingga…

ÔÇ£Oke saya tunggu nanti malam jam 7 malam, ingat jam 7 malam, lebih 1 detik saya tidak akan menerima tugasmu dan nilai kamu EÔÇØ ucapku dengan nada judes,

ÔÇ£Maaf sebelumnya bu, Boleh saya meminta nomor HP Ibu, jika nanti saya kesasar Bu?ÔÇØ ucapnya,

ÔÇ£Kamu lihat alamat saya di data jurusan, memangnya kamu tidak punya mata?ÔÇØ kata-kata pedas sepedas cabai setan menhujam mukanya

ÔÇ£Iya bu, maaf, jika Ibu tidak keberatan memberikan nomor HP Ibu langsungÔÇØ ucapnya dengan wajah takut dan menunduk kebawah

ÔÇ£Dasar mahasiswa tidak tahu etikaÔÇØ kata-kata pedas keluar kembali dari mulutku, walau akhirnya aku memberikan nomor HP-ku

Malam menjelag aku terus menantinya. Waktu berjalan sangat lama. Aku benar-benar merasakan cemas, apakah dia akan datang atau tidak? Akhirnya dia datang walau sempat kesasar juga. Aku sengaja memakai pakaian seksi dihadapanya, apakah dia masih sama dengan ketika dia menjadi bocah? Dan ya, dia menunduk dihadapanku karena pakaianku. Aku sebenarnya tersinggung namun bahagia, bahagia karena dia masih sama seperti dulu dan bahagia aku mendapatkan kaosnya. Kebahagiaan demi kebahagiaan aku dapatkan hingga akhirnya aku benar-benar dekat dengannya.

Sosok seorang satria aku dapati darinya ketika itu,dia menyelamatkanku kembali dari tangan Lucas. Entah siapa lucas, padahal dia selalu mengejek kejelekanku di awal kuliah. Dia selalu mendekatiku tapi tak ku gubris. Dasar cowok tak tahu diri, sukurin! Akhirnya arya menjatuhkannya. Cup… aku memberanikan diriku mengecup pipinya setelah kejadian dengan lucas, dia tampak kikuk, grogi, lucu banget deh pokoknya hi hi hi.

Semua berjalan dengan normal, hingga felix datang kembali ke kehidupanku. Menawarkan kepadaku keseriusannya. Aku bingung, arya dan felix, hingga akhirnya aku mendekat ke felix karena dorongan erna dan teman dosenku. Aku lupakan arya, entah kenapa aku bisa melupakannya. Kejadian ketika felix melamarku dihadapannya, senyuman itu membuat aku terluka. Mungkin luka yang aku rasakan tidak sebanding dengan luka yang dia rasakan. Akhirnya dia menjauh, hatiku menangis setiap kali melhatnya. Dan aku lebih terluka lagi ketika orang yang aku campakan adalah penolongku untuk ketiga kalinya. Hingga aku mengetahui arya memilik pacar, dan itu juga membuatku sangat terluka. Mungkin ini ganjaran dari perbuatanku. Aku mencoba mendekatinya kembali mendesak ketua jurusanku untuk menempatkan aku sebagai dosen pembimbing lapangan untuk PKL arya. Selama arya PKL aku putuskan hubunganku dengan felix. Dia tidak menerima keputusan sepihakku ini tapi aku tetap bersikeukeuh untuk putus dengannya. Dia terus mengejarku tak henti-hentnya dia mengejarku dan aku tidak menghiraukannya. Pernah saat itu aku datang ke warung teman arya dan bertemu arya yang datang bersama seorang wanita. Jengkel, marah tapi aku tidak bisa itu hak dia karena aku telah mencampakannya.

Hingga suatu malam di tempat dimana dia pertama kali mengajakku ketempat yang romantis. Tempat dimana dia aku acuhkan. Disitu sebuah kenyataan aku peroleh, pacarnya adalah ibunya yang berpura-pura. Dan kenyataan itu aku peroleh dari ibunya langsung yang datang ke tempat itu. Setelah pertemuan itu hubunganku membaik, aku merasa aku sudah dekat dengannya. Dan aku sudah menentukan waktu untuk mengatakan kepadanya tentang masa itu. Masa dimana aku bertemu dengannya pertama kali. tapi felix mengubah semuanya, dia yang terus menerus memaksaku agar kembali padanya membuat aku semakin jengkel hingga. Di ruang jurusan, hari dimana Arya akan mengajukan bimbingan felix datang. Kata-katanya membuat aku kesal, ketika aku hendak beranjak pergi dari ruangan dia menarikku dan mendorongku. Didaratkannya bibirnya di bibirku dan disaat itu Arya membuka pintu…
————————————————————————

ÔÇ£Kenapa?ÔÇØ hanya itu yang terucap dari mulutku, dengan posisi duduk bersimpuh, kedua tanganku menumpu tubuhku bagian depan. Cerita sekilas cerita yang sama sekali tidak aku hiraukan

ÔÇ£hiks hiks hiks maafkan aku ar…ÔÇØ

ÔÇ£felix yang memaksaku, bukan maksudku untuk menyakitimuÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Kenapa? kenapa baru sekarang aku menemukanmu?ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£Eh…ÔÇØ

ÔÇ£Ar… hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya dengan isak tangis

ÔÇ£KENAPA AKU HARUS TAHU KALAU GADIS ITU ADALAH KAMU! KENAPA BARU SEKARANG?! ARGHHHHHHHHHHH…! hash hash hashÔÇØ teriakku, membuat bu dian terdiam dan terkejut

ÔÇ£ssssshhhhhh huuuufffffffffffffffffffÔÇØ hela nafasku

ÔÇ£seandainya kamu datang lebih awal, dan mengatakannya lebi awal mungkin aku tidak akan sekotor seperti sekarang iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku tidak pantas untukmu…ÔÇØ lanjutku, yang kemudian berdiri melangkah kearahnya, dengan mengambil kaleng minuman yang masih tergeletak di bangku taman

ÔÇ£Ar… maafkan aku hiks hiks hiks aku mohon jangan pergi lagi ar hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya kembali, aku kemudian duduk disampingnya dengap posisi berlawanan. Kakiku aku tekuk

ÔÇ£aku tidak pantas untukmuÔÇØ ucapku sekali lagi

ÔÇ£Kenpa hiks hiks hiks apakah karena kejadian aku dengan felix arÔÇØ ucapnya yang mengarahkan padangannya kesamping, ke arahku. Aku masih memandang jauh kedepan (kearah belakang bu dian)

ÔÇ£semenjak kejadian itu, aku terus menantimu di halte bis tempat kita berpisah setiap kali aku pulang sekolah hingga aku lulus SMP. Berharap aku bisa bertemu denganmu. Namun yang aku tunggu tak kunjung tiba. Ketika SMA aku mulai mencarimu walau sebenarnya aku tahu itu mustahil karena aku tahu kamu bukan dari daerah sini tapi aku pernah melihatmu di universitas di jurusan yang sekarang aku menuntut ilmu tapi kamu menghilang karena ketika itu hujan deras sekali. Aku mencoba mendekati tapi kamu sudah tidak ada ditempat itu. Sssshhhh huuuuuuuuuuuftthhhh…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kau juga mencariku ar….ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ Setiap pulang sekolah aku selalu ke universitas berharap bisa menemukanmu. Itulah mengapa aku masuk ke jurusan yang sekarang ini, berharap bisa bertemu denganmu tapi tidak ku temukan. Tak ada yang pernah tahu pencarianku, bahkan orang terdekatku tak ada yang pernah tahu tentang pencarianku. Hingga kamu datang dengan penampilan yang sangat berbeda, sebagai dosen dan aku mahasiswanya. Pertama kali aku melihatmu, aku merasakan hal yang aneh. Seakan-akan aku pernah melihatmu tapi aku menepisnya karena kamu yang dulu sangat berbeda dengan kamu yang sekarangÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Maafkan aku tidak mengatakannya sejak awal, tapi hiks hiks apakah kamu mau memaafkan aku arÔÇØ ucapku, aku terdiam sejenak

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucapnya dengan masih memandangku tapi aku tidak memandangnya

ÔÇ£Kamu mengaharapkan aku? Kamu inginkan aku?ÔÇØ ucapku yang menoleh kearahnya, dia hanya mengangguk dengan sedikit senyum penuh harap

ÔÇ£aku tidak pantas untukmuÔÇØ ucapku yang kemudian menoleh kearah depanku

ÔÇ£Apa maksudmu?! Apakah karena aku telah melakukan hal bodoh dihadapanmu ar?ÔÇØ ucapnya pelan dengan wajah tertunduk

ÔÇ£Aku terlalu kotor untukmu…ÔÇØ ucapku pelan dengan wajah tertunduk dan kedua tanganku berada di kedua lututku

ÔÇ£Apakah hanya karena aku tidak mengatakan sejak awal kamu menilai diriku sekotor itu ar? Apakah aku yang dipaksa felix membuatmu menilaiku sekotor itu ar? Aku terus mencarimu tapi kenapa ketika aku menemukanmu… kamu ingin pergi lagi? Apakah karena aku yang terus menyakitimu?ÔÇØ ucapnya, tak ada jawaban dariku

ÔÇ£Aku…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku apa ar?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku apa?ÔÇØ lanjutnya mendesakku

ÔÇ£MbakÔÇÖe-nya… aku terlalu kotor untukmu mbak…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£aku tidak mengerti maksudmu ar hiks jika memang kamu tidak meng…ÔÇØ ucapnya terpotong olehku

ÔÇ£Aku telah…ÔÇØ ucapku memotong ucapannya

Tak kuceritakan secara detail perjalanan hidupku. Hanya menceritakan sebuah kejadian demi kejadian yang aku alami terutama masalah berhubungan dengan wanita. Kuceritakan tentang aku yang telah berhubungan dengan tante ima, ibu dari sahabatku kemudian mbak maya seorang wanita yang telah merawatku selama pencarian kakek dan nenek dari ayahku walau tak kuceritakan kenapa aku harus mencari kakek dan nenek dari ayahku. Kulanjutkan lagi tentang aku berhubungan dengan mbak echa, teman yang dia kenal semasa kuliah dan juga mbak ela supervisorku serta seorang wanita setengah baya bernama tante War. Dan yang terakhir kuceritakan adalah mbak erlina dan ajeng, yang menyerahkan mahkotanya untukku. Kuceritaka setiap bagian secara garis besarnya saja.

ÔÇ£tidak… hiks tidak kamu pasti…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£dan yang pertama dan paling awal, yang pertama sebelum tante ima dan yang lainnya, yang memberiku rasa tentang wanita adalah…ÔÇØ ucapku memotong

ÔÇ£ibuku… ibuku sendiri, diah ayu pitaloka….ÔÇØucapku pelan sambil kepalaku tertunduk diantara kedua tanganku yang bertumpu pada lutuuku yang menekuk

ÔÇ£Tidak… hiks tidak mungkin kamu melakukan itu semua… hiks… TIDAK MUNGKIN! KAMU PASTI BOHONG!ÔÇØ

ÔÇ£KAMU MENGATAKAN ITU SEMUA AGAR AKU BERHENTI MENGHARAPKANMU, AGAR KAMU BISA BERSAMA YANG LAIN BUKAN?! AGAR KAMU BISA BERSAMA ERLINA BUKAN! KAMU PEMBOHOOOOOOOOOOONG!ÔÇØ teriaknya dengan wajah penuh linangan air mata, aku sedikit menggeser bola mataku ke arah wanita tersebut, wajahnya tertunduk dengan posisi tubuh masih sama seperti sebelumnya

ÔÇ£Hei…ÔÇØ ucapku pelan sambil menoleh kearahnya, dia kemudian seara perlahan menoleh kearahku

ÔÇ£Lihat mataku…ÔÇØ ucapku dengan sedikit air mata mengalir di pipiku, dia kemudian melihat kedalam mataku

ÔÇ£Apakah aku pernah bohong kepadamu?ÔÇØ ucapku datar dengan suara sedikit parau, dia hanya menggelengkan kepala. Aku kemudian tersenyum kepadanya dan bangkir berdiri

ÔÇ£kamu mau kemana? Kamu mau pergi lagi? Hiks hiks ÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£Aku tidak pantas untukmu, aku terlalu kotor. Pikirkanlah lagi perasaanmu kepadaku, pikirkanlah… Felix lebih bersih daripada aku, felix lebih indah daripada manusia kotor seperti aku…ÔÇØ

ÔÇ£sssshhhhh huuuuuuuuftttt…. hiks… aku tak ingin kamu menderita karena perbuatankuÔÇØ ucapku yang sempat terisak namun kucoba untuk kutahan

ÔÇ£kamu boh…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£Aku sudah katakan semua kepadamu, dan aku tidak berbohong Dian! Dian rahmawati!ÔÇØ ucapku sedikit keras

ÔÇ£jika kamu bertanya bagaimana perasaanku kepadamu saat ini, masih…ÔÇØ

ÔÇ£masih sama dengan saat aku pertama kali melihatmu, apa yang dulu aku katakan kepadamu adalah nyata dan jujur tapi dengan keadaanku seperti sekarang ini hanya akan membuat hidupmu penuh bayang-bayang gelap masa laluku, aku tidak ingin jika kamu bersamaku…ÔÇØ

ÔÇ£kamu menderita karenanya, aku mungkin bisa berhenti tapi kesalahan di masa laluku pasti akan muncul dan membuatmu sedih, aku tidak ingin melihatmu sedih lagi…ÔÇØ lanjutku

ÔÇ£dengan kamu meninggalkanku lagi… itu lebih membuatku lebih sedih lagi…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£… pikirkanlah kembali perasaanmu… tentang manusia kotor sepertiku yang kamu inginkan, apakah aku pantas denganmu…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£apakah kamu akan pergi lagi? Menjauhiku lagi? Dan menganggapku tidak ada lagi hiks hiksÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£tidak… aku akan selalu ada ketika kamu ingin melihatku, apapun yang terjadi setelahnya, entah apa pilihanmu, jika kamu menginginkan aku ada aku akan datang, jika kamu mengingnkanku hilang aku akan hilang dari hidupmu… tapi untuk selalu bersamamu, aku… tidak mampu…ÔÇØ

ÔÇ£Kamu bidadari yang turun dengan keindahan dan warna yang putih dan bersih, sedangkan aku manusia kotor… maafkan aku… aku tidak mampu…ÔÇØ ucapku yang kemudian melangkahkan kaki beranjak pergi dari tempat ini

ÔÇ£berjanjilah kepadaku…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku tak sanggup…ÔÇØ ucapku yang membuat langkahku terhenti

ÔÇ£berjanjilah hiks apapun pilihanku tentang yang akan terjadi nanti… kamu tetap arya seperti yang aku kenal pertama kali tanpa ada kesalahan yang telah kamu perbuat…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Jika aku mampu…ÔÇØ ucapku kemudian beranjak pergi

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucapnya menghentikan langkahku

ÔÇ£Apakah bocah SMP itu benar-benar jujur kepadaku saat itu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hiks hiks hiks dia jujur… karena gadis kusam itu yang pertama kali memberikan senyum indah kepadanya hiksÔÇØ ucapku sedikit terisak

ÔÇ£sssssshhhhh huuuuuuuuuuuuftttt…ÔÇØ hela nafasku

ÔÇ£pikirkanlah lagi, jangan kamu memilih yang buruk dan kotor untuk masa depamuÔÇØ ucapku dan beranjak pergi

ÔÇ£aku akan memilih sesuai hati nuraniku, dan akan kukatakan kepadamuÔÇØ ucapnya yang pelan dan kemudian diterpa angin dan hilang. Aku tak tahu apa yang terjadi kepadanya setelah pertemuan ini. aku meninggalkannya dengan air mata mengalir di pipinya tanpa mampu menghapus kesedihannya.

Love hurts
Love scars
Love wounds and marks
Any heart not tough or strong enough
To take a lot of pain, take a lot of pain
Love is like a cloud, it holds a lot of rain
Love hurts,
Ooo-oo love hurts
I’m young,
I know,
But even so
I know a thing or two, I learned from you
I really learned a lot, really learned a lot
Love is like a flame, it burns you when it’s hot
Love hurts,
Ooo-oo love hurts
Some fools think
Of happiness, blissfulness, togetherness
Some fools fool themselves, I guess
They’re not foolin’ me
I know it isn’t true I know it isn’t true
Love is just a lie made to make you blue
Love hurts,
Ooo-oo love hurts
Ooo-oo love hurts
I know it isn’t true
I know it isn’t true
Love is just a lie made to make you blue
Love hurts,
Ooo-oo love hurts
Ooo-oo, love hurts, ooo-oo
Love hurt by nazareth
Truth is a pain, meskipun kamu menginginkan sebuah keindahan. Tapi apakah setiap manusia memiliki hati yang berani untuk mengungkapkan truth, kebenaran tentang hidupnya. Aku tidak pernah tahu mengenai sebuah rasa sakit setelah kebenaran terungkap, yang aku tahu hanya apapun kebenaran itu, bagaimana kehidupanku, aku harus mengatakan kebenaran itu. Kebenaran tentang jati diriku. Aku tidak peduli jika aku harus merasakan rasa sakit seumur hidupku karena kebenaran yang telah aku ucapkan, ya hanya kepada orang-orang yang benar aku cintai dan sayangi, aku selalu mengatakan kejujuran. Karena aku tidak ingin mereka menangis karenaku, walau sejujurnya mereka menangis karena kebenaran yang aku ungkapkan. Lebih baik menderita seumur hidupku daripada aku hidup dalam kebohongan. Well, itÔÇÖs me…. arya, manusia yang lahir karena kekejaman seorang lelaki terhadap seorang perempuan. manusia yang menikmati potongan kecil keindahan namun terperosok jauh kedalam lubang keindahan itu. Lubang yang menghubungkan keindagan dengan kegelapan. Love hurt? Ya menyakitkan karena aku memilih jalan yang salah untuk mendapatkan cinta itu. Mungkin akan indah dan menyenangkan jika aku… ahhh bodohlah…

Sebuah lagu ÔÇ£DonÔÇÖt Give Up dari White lionÔÇØ menemani perjalanan pulangku. Hingga dirumah, aku rebahkan tubuhku. Air mata mengalir membasahi pipiku. Hingga aku terlelap dalam lelahnya malam. Pagi hari, dirumahku yang seharusnya hanya aku sendiri kini telah duduk seorang wanita disampingku. Ya, dia Ibuku, dia hanya diam sejak Ibu melihatku turun dari kamar. seakan tahu kesedihanku.

ÔÇ£Bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£aku telah…ÔÇØ ucapku, menceritakan pertemuanku dengan dian

ÔÇ£jadi dian gadis SMA waktu itu? Dan kamu selama ini mencarinya sayang? Wah… indah banget sayangÔÇØ ucap Ibu, tapi tak kuhiraukan dan wajahku semakin tertunduk. Ibu yang semula mencoba menghangatkan suasana kembali diam

ÔÇ£dan aku…ÔÇØ ucapku menceritakan kembali kejadian dengan dian, kukatakan kepada ibu tentang semua yang telah aku ceritakan kepada dian. Ibu kini hanya terdiam dan aku memandangnya, kudekati tubuhnya dan kupeluk tubuhnya dari samping. Kucium tengkuknya…

ÔÇ£Arya sudah hentikan…ÔÇØucapnya dengan nada sedikit keras

ÔÇ£Maaf bu…ÔÇØ ucapku, kulepaskan pelukanku dan aku beranjak menuju ke kamarku

ÔÇ£Maafkan Ibu, seandainya dulu Ibu tidak menyeretmu mungkin kamu sidah bersama dian saat iniÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Arya yang salah bu, kenapa arya juga tidak menghentikannya… semua telah terjadi seandainya semuanya meninggalkan arya itu sudah menjadi resiko untuk arya… Ibu tenang saja ya ÔÇ£ ucapku mencoba tersenyum ketika aku berada ditengah-tengah tangga.

Tak ada tegur sapa setelah pembicaran pagi hari tadi. Aku kemudian pergi keluar dan pamit dengan ibu, ibu hanya mampu tersenyum kecil kepadaku. Kupeluk tubuhnya dan kubisikan agar dia tetap tenang. Setelahnya aku pergi keluar rumah, hingga REVIA kuhentikan disebuah taman. Aku duuk di lantai taman dan bersandar di sebuah bangku. Hingga panas matahari berlalu berganti panas sore hari. Tiba-tiba Langit mendung seakan mengerti kegelisahanku.

Tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik…

Jjrrrssssssshhhhhh………

Tak kuhiraukan hujan yang mengguyur tubuhku. Masa bodoh dengan air ini, lama aku berdiam diri dengan wajah tertunduk. Tanpa menghiarukan sekitarku, Hingga air itu tidak mengenai tubuhku kembali. Kugeser bola mataku ke kiri melihat sepasang sepatu putih berdekatan. Kuangkat wajahku dan kulihat seorang wanita dengan menggunakan rok putih dan berdiri memegang payung yang berada diatasku.

ÔÇ£Pulang…ÔÇØ ucap wanita itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*