Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 31

Wild Love 31

Dengan langkah tegapku mencoba untuk bertahan dan mencoba untuk tetap tegar atas apa yang aku lihat. Masih disini aku melangkah keluar dari gedung jurusan. Seakan tak ingin memperlama waktu kaki ini kemudian mulai berlari dengan sendirinya. Tak ada tempat yang terindah bagiku di kampus kecuali belakang gedung kuliahku. Aku duduk dengan kaki lurus ke depan, tatapan mataku memandang langit biru

ÔÇ£Bodoh kamu ar bodoh kenapa kamu bisa jatuh cinta dengan wanita seperti itu hiks hiks hiksÔÇØ ucapku pelan

Kakiku dengan sendirinya mulai menekuk, tanganku memeluk kedua kakiku. Wajahku terbenam diantaranya, air mata mulai menghiasi keheninganku. Sebuah ketidak adilan, memang semua ini harus terjadi kepadak yang selama ini selalu bermain-main hati. Aku jadi ingat ajeng dan mbak erlina, bagaimana perasaan mereka ketika hanya aku anggap sebagai seorang sahabat padahal mereka menyayangiku. Hingga detik ini aku masih tidak percaya dengan yang aku lihatentah darimana air mata ini mengalir lebih deras dari sebelumnya. Untuk kedua kalinya aku merasa seperti burung yang terbang tinggi dan untuk kedua kalinya pula aku ditarik jatuh hingga ke dalam palung laut. Lama aku berdiam hingga air mata ini berhenti mengalir, selama itu pula matahari lelah menemaniku. Senja datang dengan warna langit menguning. Ku luruskan kembali kakiku, kuambil sebatang dunhill dari saku celanaku.

ÔÇ£sssssss aaaaaaaaah….ÔÇØ

ÔÇ£Kamu memang bodoh ar, kenapa kamu harus menangisi wanita seperti itu? Ha ha ha ha Goblok! ÔÇØ ucapku dengan nada sedikit keras dengan ditemani asap dunhill

Kuhabiskan sebatang dunhill dan segera aku berjalan menuju kamar mandi dan membasuh mukaku. Kulihat wajahku di dalam cermin itu, Aku hanya mampu menatapnya dan kemudian aku tertawa terbahak-bahak sendiri. Menertawakan kebodohanku, menertawakan cinta yang mulai tumbuh kembali. Benar-benar hal bodoh telah aku lakukan kenapa aku harus mencintai wanita yang sama sekali tidak mencintaiku. Aku bisa tertawa namun hati terasa lebih sakit, semakin aku tertawa semakin aku merasakan emosi yang terbakar.

Diluar kamar mandi kusulut sebatang dunhill, kadang ketika teringat kejadian yang baru saja terjadi aku tertawa sendiri seperti orang gila. Dengan langkah tegap dan senyum kesedihanku aku melangkah menuju tempat parkir yang sudah mulai gelap ini. benar-benar bodoh, dia itu bukan apa-apaku, kenapa juga aku menangisinya? Dia mau dilamar, di cium, bahkan mau ngeseks ditempat umum pun bukan urusanku kan. Seharusnya aku paham tentang hal ini, Arya… aryaaa. Baru saja aku sampai di tempat parkir, hanya REVIA yang berdiri disana. Berdiri dengan setia menanti kedatanganku. Ya, masih dipinggir tempat parkir yang dekat dengan gedung jurusan lain.

ÔÇ£Ar….ÔÇØ tiba-tiba suara seorang wanita memegang tangan kiriku, aku menoleh ke arahnya. Bu Dian.

ÔÇ£aku mohon apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkanÔÇØ ucapnya lembut dengan mata sedikit berkaca

ÔÇ£Eh Ibu Dian, Maaf bu, saya mau pulang duluÔÇØ ucapku tersenyum memandangnya dengan menghempaskan keras tangan kiriku agar lepas pegangan tangannya

ÔÇ£Arya, aku mohon dengarkan aku dulu ar, jangan pergi arÔÇØ ucapnya dengan kedua tangannya meraih kembali tangan kiriku. Sebelumnya aku sudah mencoba untuk tenang, tapi ego dalam diriku menguasaiku, seperti halnyan api yang mulai membakar kepalaku

ÔÇ£Apa?! Mau apa lagi??? Mau mengancamku TA-ku lagi, iya begitu? Kalau perlu bakar saja TA-ku, aku masih bisa mencari dosbing lain selain kamu, masih banyak yang mau membimbingku dengan hati mereka, tidak seperti kamu!ÔÇØ bentakku yang kehilangan kendali pada logikaku sendiri

ÔÇ£Arya, kamu tidak seharusnya bicara seperti itu kepadaku, tolong dengarkan akuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Oh iya ya kamu itu dosenku harusnya aku itu lebih sopan lagi ya kepadamu, lebih ramah lagi ya ha ha sudah lepaskan aku mau pulang bu doseeeeeenÔÇØ ucapku dengan nada sinis kepadanya, tanganku aku hempaskan lagi lebih keras dari sebelumnya dan mulai melangkah ke tempat parkir

ÔÇ£Arya, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu kira, mengertilah Ar!, aku dipak….ÔÇØ ucapnya dengan nada sedikit keras

ÔÇ£Mengerti? Memangnya kamu itu siapa aku? Pacar bukan? gebetan juga bukan? Kenapa aku harus mengerti?ÔÇØ ucapku seketika itu berhenti dan setengah berbalik memandangnya, masih dengan nada sinis dan benci kepadanya

ÔÇ£Ar… itu…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£Kenapa Bu? Ayo dong jelaskan! Kenapa saya harus mengerti ibu? ibu mau ciuman, mau ngapain terserah ibu dan ibu tidak perlu memikirkan perasaan saya, saya kan hanya mahasiswa tanpa penghasilan, mahasiswa bodoh yang kenapa harus menyukai dosen pembimbingnya sendiri! Dan itu adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan!ÔÇØ ucapku membentaknya

ÔÇ£Arya, kita bicarakan baik-baik ar, kita bisa bicara ditempat lain atau….ÔÇØ ucapnya kembali terpotong

ÔÇ£Apa? Mau memperlihatkan ke aku sesuatu yang lain lagi bu? Kemarin tunangan sudah, sekarang ciuman, nanti ibu mau memperlihatkan tontonan gratis ke aku ketika ibu bermadu kasih dengan kekasih ibu, felix itu? Wah ter….ÔÇØ ucapku tepotong

PLAK…. sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku dan refles tangan kiriku memegang pipi kiriku

ÔÇ£Maaf Ar aku… aku tidak bermaksud menamp…ÔÇØ ucapnya kembali terpotong

ÔÇ£Ha ha ha santai saja bu, lha wong di pukul sama botol saja saya masih bisa berdiri apalagi Cuma ditampar, ndak masalah bu. Lebih baik ibu jangan disini, ditunggu tuh paling sama pak felix di jurusan, saya tak pulang duluÔÇØ ucapku, masih sinis

ÔÇ£Aku bukan wanita murahann seperti yang kamu kira ar, aku tidak menyangka kamu bisa berpikir seperti itu, bahkan kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku sama sekali, kamu benar-benar laki-laki egois ar, dan….ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£Ha ha ha… terus ada yang salah dengan lelaki egois ini bu? Kenapa ibu sebegitunya mencari dan menunggu lelaki egois yang selalu ibu sakiti perasaanya. Enak lho bu diajak terbang tinggiiiiiiii sekali, dua kali saya diajak terbang tinggi dan dua kali itu sayapku dipatahkan hingga harus TERJATUH DAN TERTATIH!ÔÇØ ucapku dengan nada pelan santai dengan senyuman dan diakhiri dengan bentakan

ÔÇ£Maafkan ar aku tidak bermaksug untuk…ÔÇØ ucapnya kembali terpotong

ÔÇ£Sudahlah bu, kita ini hanya mahasiswa dan dosen, Ibu itu dosennya dengan gelar S2 yang nyentrik penghasilan yang wah, penelitian dimana-mana, prestasinya segudang dan aku hanya mahasiswa yang egois!ÔÇØ

ÔÇ£terima kasih saya pulang!ÔÇØ ucapku dengan segera berjalan cepat menuju motorku

ÔÇ£Arya… arya tunggu arya, aku ingin bicara denganmu jangan pergi dulu, aku mohon, aku ingin mengatakan sesuatu, arya…ÔÇØ ucapnya yang berjalan serta sambil mecoba meraih tanganku kembali. Aku masih berjalan tanpa menghiraukannya. Hingga aku naik motor dan memakai helm, wanita ini masih saja mencoba menahanku

ÔÇ£Ibu doseeeeen yang cantik, baik, dan penuh pengertian. Saya undur diri dulu dan mohon untuk tidak menghalangi sayaÔÇØ ucapku yang langsung memundurkan motor dan menghidupkan motorku, segera aku mengarahkan motorku ke arah keluar tempat parkir. Tiba-tiba wanita itu berdiri di depanku dengan tangan terbuka lebar

ÔÇ£Arya, aku mohon, maafkan aku , aku juga memiliki perasaan….ÔÇØ ucapnya kembali terpotong dengan keegoisanku

ÔÇ£Lho Ibu punya perasaan? Saya kira ndak punya bu ha ha ha lucu ya bu ha ha haÔÇØ

ÔÇ£Sudah bu, saya mau pulang, Ibu mau ngapain dengan dosen saya yang laki-laki itu ndak ada urusannya dengan saya bu. Mau salto, mau kayang, mau main lompat tali pun juga ndak ada urusannya dengan saya bu dan jangan perlihatkan ke saya lagi ya buuuuu karena saya tidak dibayar untuk nonton Ibu. dan ibu ndak perlu meminta maaf kan Ibu tidak salah, benar kan bu??ÔÇØ ucapku yang mencoba meminggirkan motor

ÔÇ£bisa minggir ndak bu! Dasar dosen ndak tahu arturan! Kalau berdiri jangan ditengah jalan woi! Denger tidaaaaaaaaak!ÔÇØ ucapku kasar

ÔÇ£Ar aku ndak nyangka kamu bisa mengatakan kata-kata kasar kepadaku ar, kamu…ÔÇØ ucapnya terpotong dengan kedua tangan menutupi mulutnya

ÔÇ£Dan saya juga tidak menyangka kalau saya bisa merasakan keindahan yang penuh dengan rasa sakit , PENUH DENGAN RACUN!ÔÇØ ucapku sembari membelokan REVIA dan tancap gas meninggalkannya

ÔÇ£Aryaaaaaa!ÔÇÖ teriaknya namun tak kuhiraukan

Aku terus melanjutkan laju motorku, spion yang biasanya memperlihatkan kepadaku sesosok bidadari aku tekuk kebawa. Tak ingin lagi aku melihat ke belakang. Kenapa sih? Kenapa harus aku yang kamu terbangkan tinggi. Dipinggir pantai tempat dimana aku mengajak jalan-jala ajeng, aku duduk di bawah memandangi langit disini menyesali semua yang telah aku lakukan. Membuang banyak sekali kesempatan yang sebenarnya indah untukku. Ajeng, Erlina dua wanita yang bisa saja aku jadikan tambatan hati, kenapa juga aku harus menyukainya? Dasar bodoh kamu ar….

Tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik…

Jrssssshhh… jrssssh….

ÔÇ£Hai langit! Kenapa? jangan sok ikut campur perasaan orang! kenapa kamu juga menangis?ÔÇØ ucapku kepada langit yang tak aku ketahui, ternyata gelapnya langit sekarang adalah gelap karena mendung

Bersama dengan air mata langit jatuh membasahiku, air mataku juga mengalir di pipiku. Tak ada seorang yang tahu, mungkin aku yang bodoh karena menyalahkan langit. Sebenarnya dia bersimpati pada kesedihanku, mencoba menyembunyikan air mataku sendiri. Kenapa aku harus mengalami dua momen yang sangat menyakitkan? Melihat wanita yang aku sukai dilamar, dan yang terakhir sedang berciuman, apakah setelahnya aku harus melihatnya bermandikan keringat si atas ranjang?

Bodoh kamu ar, kamu memang bodoh. Kalau kamu suka kenapa tidak kamu nyatakan sejak awal. Kenapa kamu hanya diam dan mengaguminya? Sial, kenapa juga ada air mata? Kenapa tidak bisa berhenti? Dian, kenapa???

ÔÇ£AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAÔÇØ teriakku yang berdiri dari tempat aku duduk, berteriak sekerasnya dan sekencang mungkin dengan kedua tanganku terbuka lebar

ÔÇ£Dian, kamu memang sangat indah, kamu memang sangat menakjudbkan, mengesankan bahkan kamulah yang paling indah diantara yang terindah. Tapi… tapi… AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA kamu racuuuuuuuuuuuun!ÔÇØ teriakku

ÔÇ£Arya… arya, dasar laki-laki bodoh! Banyak keindahan yang menginginkanmu tapi kamu malah memilih keindahan yang menyakitkan. He he he he Ha ha ha ha ha ha ha ha hiks hiks hiks hiksÔÇØ uapku yang kemudian lututku tertekuk dan tubuh depanku jatuh ke depan seperti orang menyembah.

Tangisku semakin menjadi-jadi layaknya seorang anak kecil yang kehilangan permennya. Tangis langit terus menemaniku hingga air mata ini berhenti. Hujan telah reda dengan langkah gontai aku kembali ke rumah. Sesampainya dirumah, ibu menyambutku dengan senyuman namun setelah melihat raut wajahku yang penuh kesedihan ini, ibu terdiam. Dengan senyuman kecil yang indah, Ibu menyuruhku segera membersihkan diri. Didalam kamar, setelah tubuh ini segar bugar karena guyuran air, aku duduk di pinggir tempat tidurku dan segera kuraih sematpon dalam tasku. Untung saja tasku adalah tas anti air. Beberapa pesan BBM dari beberapa temanku dan juga pesan BBM dari Bu Dian yang enggan aku buka. Tiba-tiba panggilan dari Bu Dian masuk ke sematponku, aku letakan sematponku di kasur tempat tidurku.

Kleeek…. Ibu masuk ke dalam kamar membawa teh hangat

ÔÇ£kok tidak diangkat?ÔÇØ ucap Ibu sambil menyerahkan teh hangat itu kepadaku

ÔÇ£malesÔÇØ ucapku sambil mmenerima teh hangat

ÔÇ£Lho, itu dian, diangkat dong… kan calon mantu ibuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£lupakan bu…ÔÇØ ucapku, setelahnya nada panggil dari sematponku berhenti dan langsung aku matikan sematponku

ÔÇ£Kenapa?ÔÇØ ucap Ibu yang kemudian duduk disampingku

ÔÇ£Tadi itu…ÔÇØ ucapku

Cerita demi cerita aku ceritakan sejak awal hingga akhir. Dari awal aku bertemu dengan bu dian, melihatnya berciuman dengan pak felix. Setelahnya percakapanku dengan bu dian di tempat parkir, hingga kata-kata kasar aku keluarkan di depannya.

ÔÇ£Begitu bu…ÔÇØ ucapku mengakhiri cerita sedihku dihari ini

ÔÇ£Sayang ternyata kamu kasar ya?ÔÇØ ucap Ibu yang membuatku sedikit kesal dengan ucapan Ibu, namun kekesalan itu cepat hilang karena Ibu menatapku dengan senyuman.

ÔÇ£Kenapa Ibu bisa bilang seperti itu?ÔÇØ ucapku mencoba tenang

ÔÇ£em em em em….ÔÇØ ucapnya dengan senyuman, matanya menyipit dengan kepala bergerak ke kanan kekiri

ÔÇ£Ibuuuuuuuuu… aku itu tanya sama ibu, ibu malah bercandaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu itu kasar karena membentak cewek selembut dian, sayaaaaangÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Tapi coba ibu lihat, sebenarnya dia itu judes, jutek dan jengkelin! Apalagi setelah dia arghhhhhhhhhhhhhÔÇØ ucapku sambil menggelengkan kepala dan memukul angin. Kuletakan gelas berisi teh hangat itu dan langsung ku ambrukan tubuhku kebelakang ke kasur

ÔÇ£Tapi kamu cinta kan?ÔÇØ ucap ibu melanjutkan

ÔÇ£Bodoh bu! Aku sudah tidak mau kenal sama dia, ndak mau sama sekaliÔÇØ ucapku

ÔÇ£hm…. sayang, menurut kamu yang salah itu siapa?ÔÇØ ucap Ibu pelan dengan tangan kanannya menyangga tubuhnya. Sedikit tubuhnya berbalik untuk melihat kearahku

ÔÇ£Dian, aku ndak salah, pokoknya dianÔÇØ ucapku yang kemudian memiringkan tubuhku membelakangi ibu

ÔÇ£Seandainya saja, kamu masuk kerumah kemudian ada seorang lelaki yang sedang mencium Ibu dengan posisi yang sama dengan dian, apakah kamu akan tetap berpikir sama dengan yang kamu lihat ketika melihat dian?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£tidak, arya tidak akan berpikir seperti ini, karena arya tahu kalau Ibu tidak mungkin melakukannya karena inginÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kan Ibu sama dian sama-sama wanitaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Iya tapi kan beda bu, Kalau Ibu beda, arya sudah tahu Ibu dan arya adalah anak IbuÔÇØ ucapku kepada ibu dan kembali duduk bersila di atas tempat tidur lalu menghadap Ibu

ÔÇ£Ouwh gitu ya…. em em em emÔÇØ ucap Ibu tanpa memandangku, tapi memandang ke depan dan kemudian menatap langit-langit sambil tersenyum hingga matanya menjadi sipit

ÔÇ£Seandainya saja, dian yang masuk kerumah ini, dengan maksud bertemu pangerannya, tapi ketika dia sampai di ruang TV melihat pangerannya sedang bercinta dengan Ibunya sendiri, apa yang akan dian lakukan? ÔÇ£ ucap Ibu dengan sedikit melirik ke arahku

ÔÇ£Ndak akan terjadi, setelah ini arya kan ndak mau bertemu dengan dian. Ibu tidak usah mengada-adaÔÇØ ucapku dengan kedua tanganku menyangga daguku

ÔÇ£Hmmm… SayangÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ya…ÔÇØ ucapku sedikit ngambek

ÔÇ£Ciuman dengan bercinta, diantara kedua itu mana yang lebih menyakitkan ketika kamu melihatnya?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Eh…ÔÇØ kutarik kedua tanganku dan menunduk, kembali aku menggeser tubuhku dan berbaring seperti sediakala

ÔÇ£sayang, jujur saja itu memang menyakitkan, melihat orang yang kita sayangi, kita cintai berciuman dengan orang lainÔÇØ ucap Ibu yang kemudian merebahkan kepalanya di dadaku. Aku tidur berbaring memandang ke atas ditemani Ibu yang juga berbaring didadaku dan menatap langit-langit kamarkku. tapi apa salahnya kamu mendengar penjelasan dian.

ÔÇ£Ibu punya seoarang anak, ya juga pacar Ibu, ya juga kekasih Ibu. coba kamu bayangkan sayang, kamu hanya melihat Dian berciuman dan belum tahu itu dipaksa atau memang keinginannya sendiri. Sedangkan Ibu, setiap kali berduaan dengan pacar Ibu dapat cerita kalau pacar Ibu habis gini sama si itu, gitu sama si ini. sakit mana sayang?ÔÇØ ucap Ibu pelan

ÔÇ£Eh… Maaf…ÔÇØ hanya itu yang terucap dari bibirku

ÔÇ£Maaf? Kok enak sekali? Ehem…ÔÇØ ucap Ibu yang diakhiri dengan sedikit tawa pelan

ÔÇ£Kan ibu memperbolehkan aku, jadi… maaf bu, aku tidak bermaksud untuk…ÔÇØ ucapku pelan dan sudah tidak bisa melawannya lagi

ÔÇ£Sebenaranya Ibu tidak suka, tapi Ibu tahu semua dari kesalahan Ibu jadi Ibu tidak bisa berbuat apa-apa sayang, kecuali memberikan yang lebih kepada kamu agar kamu tidak melakukannya diluar lagi. Tapi apa mau dikata jiwa kamu terlalu muda untuk berpikir dewasa, sehingga membuat kamu merasakan ini hanya sekedar permainan, bayangkan kalau kamu sudah menikah kelak. Kamu pasti akan berpikir ribuan kali ketika meninggalkan istrimu dirumahÔÇØ ucap Ibu menasehatiku. Ibu kemudian bangkit dan duduk di pinggir tempat tidurku, hanya punggung indahnya yang kulihat.

ÔÇ£Ibu hanya berharap, Dian bisa mengakhiri kegilaan ini, dan Ibu yakin dian bisa. Seharusnya kamu mendengar penjelasannya dahulu sayangÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Bu…ÔÇØ ucapkku pelan

ÔÇ£Iya…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£Maafkan arya, menyakiti hati ibuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sudah tidak apa-apa sayang, hanya saja kamu harus bersikap lebih lembut kepada perempuanÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£tapi semuanya sudah terlanjur bu, untu kmaju kembali sudah tidak bisaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Masih bisa, asal kamu mauÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Aku belum bisa, mungkin memang benar aku terlalu egois dan tidak ingin menjadi pihak yang disalahkanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Masih banyak waktu…ÔÇØ

ÔÇ£pikirkan lagi sayangÔÇØ ucap Ibu , yang kemudian bangkit mencium keningku

ÔÇ£Ibu turun dulu, kamu istirahat dulu ya sayangÔÇØ ucap Ibu

Kulihat Ibu menghilang dari balik pintu kamarku. Benar, semua benar kata Ibu, ibu memberiku label egois tapi dengan cara yang lebih halus tidak secara langsung. Setiap kata-katanya membuat aku melihat kembali ke masa-masa kegilaanku. Kupejamkan mata ini dan kembali mengingat-ingat kata-kata Ibu. beberapa saat kemudian aku bangkit di pinggir tempat tidurku. Aku butuh seorang yang lain lagi sebagai tempat curhatku, mbak erlina. Aku meneleponnya, dan aku ceritakan kejadian bersama dian namun untuk hubunganku dengan Ibu tidak aku ceritakan.

ÔÇ£Kamu egois adiiiiku yang gantengÔÇØ

ÔÇ£Mbak, arghhh… Ibu tadi juga menyalahkan aku, sekarang mbak erlinÔÇØ

ÔÇ£ya jelaslah, Dian itu sebenarnya sayang banget sama kamu, mbak itu cewek dan dian juga cewek,. Cara dia pandang kamu lebih dalam daripada mbak mandang kamu. Kamu tahu kan kalau mbak suka kamu hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£Mbaaaaaaaaak….ÔÇØ

ÔÇ£iya… iya adikku sayang, no love, mbak sama adik. Oke gini, sekarang coba kamu bayangin kalau dian yang melihat kamu sedang gituin mbak, kamu mau apa? Minta maaf? Kalau dian jawab semua permintaan maaf kamu sama seperti yang kamu ucapkan, mau apa? Macarin mbak? Hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£mbaaaakkk….ÔÇØ

ÔÇ£ih diajak bercanda kok ngambek terus, dah cepetan dijawabÔÇØ

ÔÇ£ya, ndak tahu mbakÔÇØ

ÔÇ£Makannya, jaga tuh ego, jaga tuh emosi, kalau lihat sesuatu jangan dari satu sudut pandang cari sudut pandang yang lain. Kamu berpikir dian itu judes sama kamu tapi nyatanya dia lembut kan?ÔÇØ

ÔÇ£iya… iya aku salahÔÇØ

ÔÇ£dah sana minta maaf sama dian, dan ingat kalau kamu ndak jadi sama dian, mbak yang akan pacarin kamu hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£kok gitu sich mbak, lha alan dikemanain, emang mbak ndak sayang sama alan?ÔÇØ

ÔÇ£Ya, sayang banget sich, tapi… mmmmm… kamu jadi selingkuhanku saja dech, ya hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£enak saja, dasar mbak jengkelin!ÔÇØ

ÔÇ£Iiiih daripada adik laki tapi suka gaya anjing weeeeeekÔÇØ

ÔÇ£mbaaaaaaaaaaak!ÔÇØ

ÔÇ£hi hi hi, dah sana minta maafÔÇØ

ÔÇ£tapi aku berpikir untuk tidak maju lagi mbakÔÇØ

ÔÇ£Masa bodoh! Mbak hanya ijinin kamu sama dian, kalau sampai mbak tahu kamu jalin hubungan dengan cewek lain, mbak akan labrak itu cewek! Ingat! Dah mbak lagi kerja jangan diganggu. Dadah adik jeleeeeeeeeeeeeeeeeeekÔÇØ

ÔÇ£wekÔÇØ tuuuuuuuut…

Aku merengung, kulihat sekeliling kamarku. Tak ada sesuatu yang indah di dalam sini. Bahkan Ibu saja sudah mengutarakan kalau dia juga merasakan sakit atas ulahku. Ku sentuh menu kontak pada layar sematponku, Bu Dian.

ÔÇ£Halo, ar…ÔÇØ

ÔÇ£Selamat malam buÔÇØ

ÔÇ£Kamu ingin memarahi aku lagi ar? Marah ar, dosen kamu yang ndak tahu aturan ini memang pantas disalahkanÔÇØ

ÔÇ£Bu…ÔÇØ

ÔÇ£Ya…ÔÇØ

ÔÇ£Maaf…ÔÇØ

ÔÇ£kamu ndak salah ar, aku yang sal…ÔÇØ

ÔÇ£Maaf jika saya marah-marah kepada Ibu tadi. Padahal aku bukan siapa-siapa ibu tapi aku bisa marah seperti tadi, jujur saya sangat menyesal. Saya harap ibu mau memaafkan saya dan saya harap kita masih bisa menjadi dosen dan mahasiswa seperti yang lainnyaÔÇØ

ÔÇ£Ar, aku….ÔÇØ

ÔÇ£Bu, saya harap sudah tidak ada lagi pertemuan di luar urusan perkuliahan. Saya akan selalu menghormati Ibu sebagai seorang dosen, seorang guru panutan bagi saya agar kelak saya bisa menuntut ilmu lebih dan juga bisa membaginya kepada orang-orang seperti halnya ibu yang selalu mengajarkan mata kuliah dan membuat semua mahasiswa selalu mengerti dan paham. Saya ingin menjadi mahasiswa lagi bu, menjadi mahasiswa yang seharusnya, mahasiswa semestinya seorang mahasiswa yang memikirkan bagaimana cara lulus dengan nilai memuaskan dan mendapatkan pekerjaan, jadi saya harap kita bisa kembali seperti semula, seharusnya dan semestinyaÔÇØ

ÔÇ£Aku belum bisa ar… aku masih ingin kamu seperti saat ituÔÇØ

ÔÇ£Ibu pasti bisa, saya akan bantu bu. Saya akan berusaha menjadi mahasiswa semestinya. Ibu mempunyai kehidupan yang indah, dan membahagiakan tak sepantasnya saya berada di dalamnya.saya mohon maaf dan saya undur diri dalam kehidupan ibu. dan saya hanya ingin menjadi mahasiswa ibu saja. Terima kasih buÔÇØ

ÔÇ£Arya… tapi harapanku…ÔÇØ

ÔÇ£…ÔÇØ hening sesaat antara kami berdua, kemudian bu dian memulai kembali pembicaraan lagi

ÔÇ£Ar, mungkin kamu lelah, beristirahatlah. Jika ada kesempatan bertemu, aku ingin bercerita kepadamuÔÇØ

ÔÇ£Maaf bu, saya tidak ingin bertemu diluar kampus lagiÔÇØ

ÔÇ£Itu hanya harapanku ar, semoga saja terrealisasiÔÇØ

ÔÇ£Eh… saya undur diri dulu bu, terima kasihÔÇØ

ÔÇ£sama-samaÔÇØ

Percakapan kami telah usai, kini aku semakin mantap untuk tidak lagi mengharap terlalu berlebih kepadanya. Sambil tiduran aku bermain sematponku.

Status Bu Dian
This is not fairy tale, but i want you listen to my story
To explain , to make you know
Hanya pandangan kosong ketika melihat status itu. Mataku mulai terpejam dan ingatan-ingatan akan setiap kata dari ibu dan bu dian bergantian memenuhi kepalaku. Kata itu mengantarkan aku dalam lelapnya malam, dalam lelahnya perjalanan hidupku. Aku tertidur hingga pagi menjelang.

ÔÇ£Dimakan dulu sayangÔÇØ ucap Ibu, yang kini hanya berdua denganku di dapur. Pagi ini aku menjalani aktifitasku seperti biasanya.

ÔÇ£Arya sudah mundur bu, dan arya harap Ibu mengertiÔÇØ ucapku

ÔÇ£Waktu masih panjang, suatu saat bisa saja menetap dan bisa saja berubahÔÇØ jawab Ibu

ÔÇ£tapi arya sudah yakinÔÇØ ucapku

ÔÇ£itÔÇÖs now, but someday whoÔÇÖs knowÔÇØ ucap Ibu tersenyum kepadaku

KKN telah dimulai, aku berangkat ke desa Manyan (makmur dan nyaman) bersama anggota kelompok lain. Ibu kemudian meminta ijin ayah ntuk merawat kakek selama kau idak dirumah dan ayah jelaslah mengijinkan. Oh ya, Desa Manyan terletak lumayan jauh dari peradaban namun suasana desa ini sungguh asri dan sangat sejuk. Bandingkan saja dengan daerahku, panas. Ada 6 kelompok yang berangkat ke desa ini, dan kelompokku mendapatkan tempat di Dusun Marpo (Makmur Pol), dan 5 kelompok lain di tempatkan di dusun-dusun yang masih satu desa dengan kelompokku. Aku berenam dengan teman kelompokku tinggal di rumah kepala dusun marpo. Dirumah ini kami tinggal menjadi satu. Oia aku belum mengenalkan kelompok KKN-ku, Anta berwajah kalem yang dapat membuat semua cewek bertekuk lutut dengan pawakan tinggi besar seperti aku tapi lebih tinggi aku daripada dia, kulihatnya putih agak sedikit gelap. Rino, cowok dengan wajah menawan yang bisa membuat para wanita memujanya, dan memiliki tinggi hampir sama dengan Anta. Rani, wanita putih nan cantik dengan rambut panjangnya. Eri, wanita berkerudung sedang (tidak begitu lebar tapi tidak begitu kecil) kulitnya putih dan senyumannya manis sama halnya dengan Rani. Ajeng? Sudah tahukan. Oia antara anta, rino dan aku, akulah yang paling ganteng, lho? Kok muji diri sendiri? He he he daripada ndak ada yang muji he he he.

Dua minggu awal merupakan minggu terberat bagi kelompokku. Karena kami harus bersosialisasi mengenani rancangan kerja dari kelompok kami. dusun memang terdiri dari beberapa kepala keluarga namun letak satu rumah dengan rumah yang lainnya sangat jauh. Naik turun bukit dan lembah, walau naik turun bukit dan lembah masih bisa di lalui dengan mobil ataupun motor. Oia, setelah beberapa hari kami KKN, Ajeng dan Rani pulang untuk mengambil mobil dan sedangkan Anta dan Eri mengambil motor. Untuk perkenalan dengan taman satu kelompokkku tidak begitu sulit, mungkin di satu minggu awal kami sedikit agak canggung tapi setelahnya kami sangat akrab. Ketika kami harus melakukan sosialisasi, aku selalu bersama ajeng tahu sendirilah ajeng selalu yang meminta. Padahal aku juga ingin pergi bareng Rani ataupun Eri.

ÔÇ£Sssst… kalau lihat cewek biasa sajalahÔÇØ ucapku kepada Anta dan Rino sehabis makan malam bersama. Mereka berdua melihat Eri dan Rani berjalan ke dapur untuk di cuci, begitu pula ajeng membantu mereka. Setelah beberapa hari kami melakukan sosialisai program kerja KKN selama dua minggu ini kami baru bisa makan bersama berenam malam ini. sebelum-sebelumnya paling berempat.

ÔÇ£Apaan cih ArÔÇØ ucap mereka berdua

ÔÇ£Kalian suka ya sama rani dan eri?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ah, Cuma perasaanmu saja kali, ndak ArÔÇØ mereka berdua bersamaan

ÔÇ£Lha kok wajahmu pada merah semua ha ha ha haÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu tuh yang suka sama ajeng, kemana-mana ajeng nempel sama kamuÔÇØ ucap Anta

ÔÇ£Iya bener tuh, ya kan ya kanÔÇØ ucap Erino

ÔÇ£Ha ha ha ha… kalau ajeng itu sudah sahabatan sejak dulu kaleeee, tanya aja sama ajengÔÇØ ucapku dan mereka hanya melengos karena tantanganku.

ÔÇ£Ada apa to kok malah pada ribut sendiri? Sudah dibahas rencana besok pagi?ÔÇØ ucap Rani yang datang bersama eri dan ajeng

ÔÇ£Paling Arya ngobrolon yang enggak-enggak tuhÔÇØ ucap Ajeng

ÔÇ£Arya nakutin ya ternyataÔÇØ ucap Eri

ÔÇ£yeee.. kamu itu jeng sukanya, begini lho sebenarnya bbbbbbbbbbÔÇØ ucapku yang kemudian dibekap dan dikunci tubuhku oleh anta dan rino

ÔÇ£Kalian apaan sich, kaya anak kecil sajaÔÇØ ujar ajeng

Malam ini malam yang sangat menogocok perut. Anta dan Rino selalu mengawasiku bak seorang sniper, ketika aku berbicara mengenai Rani dan Eri mereka selalu saja membekapku. Kami kemudian membahas program kerja kami, satu persatu mendapatkan tugas untuk tiap-tiap daerah di dusun yang telah kami bagi. Anta dengan Rani, Rino dengan Eri, dan aku, ajeng. Setelah semua pembagian tugas selesai, kami semua kembali ke kamar masing-masing. Namun aku membuat teh hangat dan merokok didepan, tiba-tiba rani berlari kedepan rumah dan membelakangiku.

ÔÇ£Iya, Rani mengerti pahÔÇØ

ÔÇ£Iya, rani akan jaga tapi tolong permintaan rani dikabulkanÔÇØ

ÔÇ£terima kasih pahÔÇØ

Aku yang duduk didepan rumah atau lebih tepanya disebut sebagai posko KKN melihat kearah rani. Setelah telepon tersebut wajahnya tampak bermuram durja, entah apa sebenarnya yang terjadi. Hanya beberapa kalimat keluar dari mulutnya ketika menjawab telepon tapi raut mukannya menjadi sangat sedih.

ÔÇ£Ran, ada apa?ÔÇØ ucapku dari belakang yang duduk melihatnya

ÔÇ£Eh kamu to ar, ndak tahu kalau kamu disitu, sejak kapan?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Sejak sebelum masehi he he he, ada apa ran kok malah sedih? Sini cerita sama KakekÔÇØ candaku

ÔÇ£Yeee… kakek, tapi iya sih kamu kaya kakek-kakek hi hi hiÔÇØ balasnya sambil berjalan kearahku dan duduk disampingku

ÔÇ£ditanya ndak jawabÔÇØ ucapku

ÔÇ£biasalah ar masalah keluarga, jadi kamu ndak perlu tahuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tenang cu, kakek juga tidak memaksa karena kalau memaksa nanti dikira memperkosa ha ha haÔÇØ candaku

ÔÇ£dasar aki-aki, ya udah aku tidur dulu arÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Oke, cuuuuuÔÇØ balasku

Coba bayangkan tiga kalimat balasan dan mengubah keceriaanya. Aneh, bodohlah, aku menyusul masuk kerumah dan tidur bersama ÔÇ£batangÔÇØ yang lainnya. Perjalanan KKN kami terbilang sukses, program kerja dapat kami jalankan sesuai prosedur. Bahkan beberapa warga sangat antusias karena kepiawaian kami bersosialisasi dan juga ketika kami melaksanakan progja kami. Selama satu minggu kami melakukan proga pertama masih ada 2 progja lagi yang belum kami laksanakan.

Tok tok tok tok tok tok….

ÔÇ£iya sebentarÔÇØ ucapku, siapa juga malam-malam begini bertamu, dan kubuka pintu rumah

ÔÇ£Mas tolong anak saya mas, antarkan kerumah bu dokter, anak saya tiba-tiba panasÔÇØ ucap lelaki setengah baya menggendong anaknya beserta istri dan satu lagi anaknya yang sudah besar

ÔÇ£eh… iya pak iya, tungguÔÇØ ucapku

ÔÇ£Woi, bangun-bangun, daruratÔÇØ ucapku sambil berganti pakaian dan berteriak-teriak

ÔÇ£Apaan sih arÔÇØ ucap Anta yang terbangun

ÔÇ£Anak warga panas, minta diantar ke bu dokterÔÇØ ucapku yang kemudian melangkah menuju kamar para kaum hawa yang disana sudah ada Eri di depan pintu kamarnya

ÔÇ£Pinjem mobil Rani atau ajeng, Er. Cepetan, anak warga sakit tuhÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh, iya iya… Ran, jeng kunci mobil kamu mana?ÔÇØ ucap Eri

Mereka semua seperti orang terkena gempa, ketika mengetahui ada yang membutuhkan bantuan. Eri kemudian memberikan kunci mobil rani, jelas karena mobil ajeng diparkir di depan mobil rani. Aku kemudian membawa Bapak itu bersama keluarga ke rumha bu dokter. Sedangkan mereka berlima menyusul dengan mobil ajeng. Dalam perjalanan, aku bertanya ke bapak dan ibu mengenai perihal sakit anaknya. Kami berdua mengobrol ngalor ngidul, maklum perjalanan malam agar aku tidak ngantuk. Ditambah lagi medan yang kami tempuh juga sedikit mengerikan sekalipun ngebut tetap saja tidak bisa. Aku kemudian mendapatkan informasi mengenai dokter di desa ini, ada dokter yang setiap sabtu-minggu selalu buka praktek di desa ini. bahkan dokter ini tidak menarif bayaran, semampunya dari warga. Sekalipun tidak dibayar juga dokter tidak keberatan. Sampailah aku dirumah yang lumyan mewah ini, jelas saja aku tidak pernah tahu mengenai dokter yang prakte karena dia berada di dusun kelompok lain tapi masih satu desa. Segera aku keluar, melompat pagar dan langsug menggedor-nggedo pintu rumahnya dengan sangat keras

ÔÇ£Dokter dokter…. tolong… ada anak sakit… buka pintu dokÔÇØ teriakku sambil menggedor-gedor pintu

ÔÇ£Iya… sebentar sabarÔÇØ ucap seorang wanita, mungkin istri dari dokter

Kleeek….

ÔÇ£Lho mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu arÔÇØ ucap wanita tersebut yang tidak lain mbak asmara medita

ÔÇ£eh, bingungnya nanti saja mbak, minta kunci pintu gerbang. Cepetaaan itu anak bapaknya sakit panas sekaliÔÇØ ucapku

ÔÇ£Oh iya, iya sebentarÔÇØ ucapnya

Setelah aku mendapatkan kunci segera aku buka pintu gerbang. Kuangkat anak itu dan langsung kularikan kedalam rumah dokter, mbak ara. Dengan cepat mbak ara memberikan pertolongan kepada anak tersebut, dan aku sangat bersyukur panasnya beberapa saat kemudian mulai turun. Bapak dan keluarganya kemudian menunggu diruang rawat yang berada dalam rumah mbak ara. Aku kemudian keluar dan biasa, dunhill. Beberapa saat kemudian mobil yang ditunggangi teman kelompokku datang, para wanita langsung masuk dan menemani keluarga bapaknya. Sedangkan cowok-cowoknya ÔÇ£ngelekerÔÇØ (tidur) diteras depan rumah menemaniku.

ÔÇ£ndak nyangka bisa ketemu kamu disini arÔÇØ ucap mbak ara

ÔÇ£Aku juga, ndak nyangka ketemu mbak dokter he he heÔÇØ candaku

ÔÇ£jadi, bakalan ada yang traktir aku nihÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Masih inget saja mbakÔÇØ balasku

Kami terlibat sedikit obrolan, setelahnya mbak ara kembali masuk untuk beristirahat. Hingga pagi menjelang aku masih berada di rumah mbak ara, teman-temanku kembali ke posko untuk melanjutkan progja yang sudah di rencanakan. Aku mendapat tugas baru dari Anta agar menemani bapak dan keluarganya, kalau-kalau nanti anaknya sudah membaik dan bisa pulang. Kulihat anak dari bapaknya sudah mendingan jika dibandingkan dengan tadi malam.

ÔÇ£Ar, tidur di atas saja, pasien boleh pulang nanti sore atau malam hariÔÇØ ucap mbak ara

ÔÇ£disini saja mbak, ndak papaÔÇØ ucapku

ÔÇ£dah diatas sana, kalau ada pasien datang kasihan mau duduk diaman kalau kamu tidur di ruang tamuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, iya mbak dokterÔÇØ ucapku yang kemudian melangkah ke lantai atas. segera aku ambrukan tubuhku di kasur lantai. Hingga siang hari, aku tertidur dikamar atas rumah mbak ara.

Tepat pukul 11:30 aku terbangun dan ku lihat sudah ada makanan dan minuman disamping kasur. Tanpa basai-basi langsung aku lahap, tidak peduli ada rasun atau tidak yang penting makan. Saing lahapnya aku makan karena posisiku membelakangi pintu aku tidak menyadari mbak ara masuk ke kamar.

ÔÇ£traktirnya jadi dua kali yaÔÇØ ucap mbak ara

ÔÇ£uhuk uhuk uhuk… mbak bikin kaget saja, tersedak nihÔÇØ balasku

ÔÇ£makannya kalau makan pelan-pelanÔÇØ ucap mbak ara, yang kemudian berdiri di balkon melihat pemandangan.

ÔÇ£Enak mbak terima kasihÔÇØ ucapku yang langsung menyambar minuman

ÔÇ£iya… sama-samaÔÇØ ucapnya yang kini berbalik memandangku, dia bersandar di balkon. Hening sesaat membuat aku bingung ingin mengatakan apa. Tapi anehnya adalah raut muka mbak ara menjadi sedih, pandangannya menjadi kosong. Namun tiba-tiba pandangannya begitu tajam kearahku.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£Iya mbak…ÔÇØ

ÔÇ£Emmm… mbak kalau lihat jangan kaya gitu jadi takut akunyaÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Eh… maafÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Yeee… pakai maaf segala, formal bangetÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya ya, formal banget hi hi hiÔÇØ ucapnya yang kembali tersenyum

ÔÇ£Ada apa mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Erlin..ÔÇØ ucapnya pelan, membuat aku terperanjat

ÔÇ£Kamu kakak adikan kan sama erlinÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku hanya terkejut

ÔÇ£Sudah ar, tenang saja, aku sudah tahu semua. Dari awal hingga akhir, bahkan erlin juga ceerita tentang ÔÇ£gituÔÇØnya kok sama aku hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£WHAT?!ÔÇØ teriakku kaget

ÔÇ£Hei biasa saja ndak usah formalÔÇØ ucapnya

ÔÇ£formal apaan? Ini kaget tahu mbak?!ÔÇØ ucapku, dia hanya tertawa dan aku bengong hingga suasan menjad hening

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucapnya dengan wajah menjadi sendu dan menatap ke lantai

ÔÇ£yoi…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bisakah kamu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iyaaaa….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bisakah kamu juga berjanji kepadaku untuk….ÔÇØ ucapnya terpotong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*