Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 30

Wild Love 30

Sory baru sempet update, kemarin masih liburan soalnya hehe.. mulai malam ini blognya update seperti biasa. thanks

Pagi menjelang, aku pun segera beranjak dari tempat ternyaman di seluruh dunia. Ku lipat selimut putih yang tebal pemberian Ibu dan kurapikan hamparan sprei agar terlihat lebih rapi. Segera aku melakukan aktifitasku seperti biasa, hingga aku berkumpul di meja makan bersama keluarga. Ayah, Ibu dan aku, indah bukan. Indah, dari penglihatan semua yang memandang walau sebenarnya banyak misteri yang tersembunyi di dalamnya. Seperti kedondong, halus namun rasanya masam di dalamnya. Mungkin aku akan memilih durian, walau dari luar tampak buruk tapi di dalamnya manis dan banyak yang mencari.

Ngeeeeeeeeeeeeeeeng… sekarang aku sudah berada di atas si bodi montok REVIA. Melaju dengan kecepatan optimum, dimana semua motor menyalipku dengan mudahnya. Kunikmati putaran demi putaran roda menuju kampus tercintaku. Akhirnya dengan iringan hembusan angin pagi aku sampai di kampusku tepat pukul setengah sembilan pagi. Segera aku melangkah cepat menuj jurusan dimana seorang wanita cantik nan judes sudah menungguku disana.

ÔÇ£Mas, Arya!ÔÇØ teriak pegawai TU yang aku lihat sedang mengorbol dengan seseorang di pintu masuk TU. Segera aku memindahkan halauan kakiku menuju TU dan wanita tersebut masuk ke dalam TU

ÔÇ£Iya bu, ada apa?ÔÇØ ucapku ketika masuk TU dan wanita itu tampak sibuk mencari sesuatu

ÔÇ£Ini ada kiriman dari tepat mas Arya PKLÔÇØ ucapnya sembari menyodorkan sebuah amplop

ÔÇ£Apa ini bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£nilai mungkinÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Owh… ya bu terima kasihÔÇØ ucapku, agak sedikit bingung juga ketika mendapati amplop berisi nilai dikirimkan ke jurusan. Aneh, biasanya sudah ada nilainya ketika penarikan.

Aku melangkah keluar dan kemudian ku buka amplop tersebut. Betapa kagetnya aku melihat sepulu uang berwarna merah sedang berpelukan di dalam amplop. Ada sebuah surat di dalamnya.

To : Arya

Makasih ya papah, itu uang lembur papah ketika analisa di lab. Bukan apa-apa lho pah Cuma uang saku dari perusahaan. Ingat pah, itu adalah uang lembur kerja di lab, bukan lembur di rumah mamah. Kalau lembur di rumah mamah, bayarannya bukan uang lho pah masalahnya kalau papah dibayar pakae uang nanti marah-marah hi hi hi. Kalau mau bayaran kerja lembur di rumah mamah, dateng saja pah kerumah, memek mamah siap kok menjadi bayarannya, asal papah sendiri saja yah yang datang hi hi hi.

Dari,

Mamah Echa muachhhhhh
Tepuk jidat akunya, hanya bisa menggeleng-geleng kepala setelah membaca surat dari mbak echa. Segera aku sobek-sobek menjadi kecil ketika tak ada orang di sekitarku, takutnya kalau ada orang yang melihat dikira lagi patah hati. Kubuang sobekan itu ke dalam tong sampah. Masih terngiang dalam ingatanku sebuah pertempuran dahsyat di laboratorium dan rumah mbak echa, dan hanya bisa membuatku geleng-geleng kepala. Sambil mengingat aku melangkah menuju ke ruang dosen.

Tok tok tok tok….

ÔÇ£Masuk…ÔÇØ ucap wanita di dalam, aku pun masuk setelah suara itu menghilang

ÔÇ£Bu Dian…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Owh, silahkan dudukÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Terima kasih buÔÇØ

ÔÇ£Maaf bu sesuai dengan instruksi dari ibu untuk bimbingan tugas akhir, ini Tugas Akhir saya mohon bimbingannyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Owh TA ya? Memang aku menginstruksikan untuk bimbingan hari ini?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Maaf bu, kemarin yang di BBM, ibu menyuruh saya untuk bimbinganÔÇØ ucapku

ÔÇ£Memang benar saya? Ada buktinya? Saya ndak merasa tuhÔÇØ ucap bu dian yang judesnya mulai kelihatan

ÔÇ£maaf bu, saya tidak mungkin salah baca, ibu mengrimkan bbm ke saya untuk bimbingan dan bukti percakapan masih ada buÔÇØ ucapku mencoba membela diri

ÔÇ£Saya tidak merasa mengirimkan bbm ke kamu arÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh… ya sudah saya mohon maaf, kalau begitu saya undur diri dulu dan maaf mengganggu waktu ibuÔÇØ ucapku sambil berdiri dan sedikit membungkukan badan. Tanganku pun bergerak meraih tumpukan kertas bertuliskan Tugas Akhir itu.

ÔÇ£Sudah, sudah… kamu duduk lagi saja, karena kamu sudah disini ya bimbingan sajaÔÇØ ucapnya sambil tersenyum mengejekku yang ditutupi tangan kirinya

ÔÇ£Tidak usah saja bu, ndak enak mengganggu ibuÔÇØ ucapku

ÔÇ£DU…. DUK!ÔÇØ ucapnya sedikit membentak

ÔÇ£I… iya bu…ÔÇØ ucapku yang kemudian duduk dihadapanya kembali

ÔÇ£Dasar cewek judes, jutek nyebelin seenaknya saja mempermainkan aku, belum tahu apa berapa cewek yang sudah aku lumpuhkan! Dasar coba saja kamu tahu kehebatanku, aku pasti…. bertekuk lutut dihadapanmu cantik hiks hiks hiksÔÇØ bathinku

Kulihat bu dian membolak-balikan tugas akhirku. Tampak wajahnya yang serius membaca tugas akhirku membuat aku terhipnotis dengan mulutku sedikit terbuka. Wajahnya, keanggunannya, kenapa baru kali ini aku bisa melihatnya?

ÔÇ£Ar…ÔÇØ

ÔÇ£Ar…ÔÇØ

ÔÇ£Aryaaaa…..ÔÇØ ucapnya dengan nada sedikit keras

ÔÇ£Eh eh iya bu dian, maaf bu maaf melamunÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kenapa belum pernah lilhat cewek cantik ya? Sampek ngelamun begitu? Ngelamun apa kamu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh ndak bu ndak, hanya agak sedikit capek sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£kenapa? capek bertengkar sama cewek judes dan jutek ya kemarin di warung?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Bukan itu bukan bu, ibu salah lihat orang mungkiinÔÇØ elakku

ÔÇ£Ya ndak mungkin salah lihat… wong aku melihatnya pake mata kepala saya sendiriÔÇØ ucapnya

Aku hanya mampu terdiam dan menunduk. Benar-benar sial hari ini, kenapa juga kemarin aku harus bertengkar dengannya. Dia kan dosenku yang seharusnya aku hormati, tapi dia wanita yang buat aku bingung. Benar-benar sial yang aku rasakan, tak berani aku melihat apalagi memandangnya. Hanya melihat kedua pahaku sendiri yang berbalutkan celana jeans.

ÔÇ£Kenapa diam? Kok ndak kaya kemarin, menggebu-gebu bales setiap omonganku?ÔÇØ ucapnya dan aku hanya diam saja

ÔÇ£Ini TA, diperbaiki lagi, penulisan banyak yang salah. Apa ndak bisa ngetik? Masa mahasiswa S1 ndak bisa ngetik? Payah!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya bu maaf… akan segera saya perbaikiÔÇØ ucapku tanpa ada keberanian membalas omongannya

Tanganku kemudian meraih tugas akhir yang diserahkan kepadaku. Tanpa melihat wajahnya sedikit pun aku letakan tugas akhirku di atas pahaku. Suasana hening dan tak ada tegur sapa antara kami berdua.

ÔÇ£Sudah?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya bu sudah terima kasih atas bimbingannyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau sudah tidak ada lagi, kamu bisa meninggalkan ruanganÔÇØ ucapnya. Namun kaki ini tidak bisa beranjak dari tempat duduk, pikiranku kacau balau entah kenapa aku tidak ingin meninggalkan tempat ini, entah mengapa aku masih ingin bersamanya

ÔÇ£kok ndak pergi? Masih betah berhadapan sama cewek judes?ÔÇØ ucapnya, aku hanya terdiam dan kemudian….

ÔÇ£Maaf bu, boleh bertanya?ÔÇØ ucapku memberanikan diri

ÔÇ£Apa? Tanya tinggal nanya kok susah to?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh… terima kasih bu..mmmmÔÇØ ucapku terhenti

ÔÇ£Apa? Cepetan!ÔÇØ ucapnya dengan sejuta judes dan jutek di tiap kata-katanya

ÔÇ£iya bu iya, sabar bu…ÔÇØ

ÔÇ£Ibu kalau malam minggu suka berpergian tidak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Memang apa urusan kamu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Maaf bu saya hanya tanya, kalau menyinggung perasaan ibu, saya mohon maafÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak, kalau malam minggu dirumah saja, memang kenapa?!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ini bu saya dapat uang saku dari perusahaan, kalau ibu berkenan saya ingin mengajak makan malamÔÇØ ucapku semakin berani

ÔÇ£oh….ÔÇØ hanya itu yang aku dengar darinya dan tak ada lanjutan

ÔÇ£Sudah dulu, aku mau mengajar sudah ditunggu mahasiswa-mahasiswaku yang ganteng-gantengÔÇØ ucapnya sambil berdiri dan membawa buku yang dipeluknya

ÔÇ£Eh… iya bu maaf, kalau tadi saya lancangÔÇØ ucapku sambil memandang bu dian melangkah mendekari pintu

Klek… suara daun pintu

ÔÇ£Jam setengan delapan aku tunggu, dirumahÔÇØ ucapnya tanpa memandangku dan langsung melangkah pergi

ÔÇ£YES!ÔÇØ teriakku sedikit keras

ÔÇ£SSStttt.. diam, ini jurusanÔÇØ ucapnya yang tiba-tiba membuka pintu

ÔÇ£Eh… maaf buÔÇØ ucapku kembali tertunduk

Dalam heningku aku hanya bisa tersenyum dan masih duduk di ruangan dosenku ini. kudengar suara langkah kakinya menjauh diiringi tawa cekikikan. Aku pun sedikit tersenyum dengan tingkahku dihadapannya. Aku kemudian bangkit dan berjalan menuju tempat parkir. Biasanya siang-siang seperti ini aku makan bersama dengan Rahman, tapi dia masih PKL dan selesainya 3 hari sebelum pemberangkatan PKL.

Sampai dirumah aku bercerita kepada ibuku mengenai sikap bu dian. Ibu hanya tertawa dan menertawakanku berkali-kali. Ibu heran kepadaku kenapa aku bisa seberaninya seperti hari ini. ibu semakin menertawakanku ketika aku bercerita kejadian di warung wongso. Aku semakin jengkel dengan sikap ibu yang menertawakanku, bukan jengkel karena marah tapi jengkel karena ditertawakan terus-terusan. Ibu hanya menyarankan kepadaku agar aku lebih memakai perasaan ketika bertemu dengan bu dian. Ya mungkin itu yang akan aku aplikasikan besok malam minggu.

ÔÇ£bu… boleh?ÔÇØ ucapku sambil memeluknya dan mengusap-usapkan kepalaku di susunya

ÔÇ£yeee… ndak dulu sayang, kan minggu kemarin sudah rapel banyak sekali, setiap hari lagiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ya kan, kemarin ibu sendiri yang kasihÔÇØ ucapku

ÔÇ£hi hi hi selama kamu pdkt pokoknya kamu harus bisa mengalihkan perhatian kamu dari iniÔÇØ ucap ibu sambil menunjuk susunya

ÔÇ£kenapa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Agar kamu bisa lebih fokus lagi, ndak selengekan kaya gini, okay dear?ÔÇØ ucap ibu sambil tersenyum manis kepadaku. Aku pun tersenyum melihat kesungguhan ibu yang mendukungku

ÔÇ£Okay momÔÇØ ucapku

Hari berganti waktupun berlalu, tak ada kesibukan yang berarti bagiku. Hanya membenarkan beberapa kesalahan di tugas akhirku. Akhirnya Malam minggu tiba, aku kemudian bersiap menuju ke rumah bu dian. Tampak Ibu dengan mengepalkan tangannya keatas, dengan senyum manisnya yang khas memberiku semangat. Dengan aroma wangi parfum ÔÇ£KAPAKÔÇØ aku menuju kerumah bu dian. Sesampainya disana, baru saja motorku bernti tiba-tiba pintu gerbang rumahnya terbuka.

ÔÇ£Ndak usah dimatikanÔÇØ ucapnya sambil mengunci pintu gerbang rumahnya.

Setelahnya bu dian langsung melangkah ke arahku, tanpa bicara bu dian langsung membonceng di belakangku. Aku hanya diam melihatnya takjub dengan keindahan wanita yang baru saja melintas dihadapanku yang sekarnag sudah dibelakangku. Bagaimana tidak? Wanita dengan pakaian yang menutupi sikunya, tidak ketat hanya saja memperlihatkan dada yang membusung tapi tanpa ada belahan dada pada pakaian yang dikenakannya. Pada bagian perutnya pakaiannya tampak sangat longgar tidak sedikitpun memperlihatkan bentuk perutnya. Bagian bawah dihiasi oleh celana jeans legging dengan sepatu karet hitam, mungkin sepatu karet maklumlah malam hari tidak begitu jelas. Dengan helm putihnya menghiasi kepalanya. Ya begitulah ciri-ciri wanita yang baru saja melintas di hadapanku, sekarang? Sudah aku bilang di belakangku kan tadi?

ÔÇ£Ayo jalan, malah bengongÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh… iya buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sekali lagi kamu panggil aku dengan kata bu atau mbak di depan, aku turun, lebih baik tidur saja drumahÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh.. iya bu eh mbak eh dianÔÇØ ucapku agak sedikit gugup entah kenapa aku merasakan hal yang sama terulang lagi seperti ketika aku pertama kali bersamanya

ÔÇ£Jalan!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£sssssshhhhh huffffffffth….ÔÇØ hela nafasku mencoba menenangkan tubuhku yang seakan menggigil

ÔÇ£iya iya… sabar, kaya naik tukang ojek sajaÔÇØ ucapku sedikit mencoba mengakrabinya

ÔÇ£marah niiiiih?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Endak marah yan diaaaaanÔÇØ ucapku

ÔÇ£hi hi hi hi…ÔÇØ tawanya

ÔÇ£kok malah ketawa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£berani sekali kamu manggil nama aku, aku itu dosen kamu lho hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh… terus gimana tadi minta dipanggil nama sekarang… argghhh bingung akuÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya iya dipanggil dian saja ndak papa mas aryaaaaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£dah ayo jalan sudah lapar nungguin kamu niÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£Oke siap!ÔÇØ ucapku yang langsung menarik gas ditangan kananku

ÔÇ£Eh bentarÔÇØ ucapnya, membuat aku mengeram mendadak ciit…. dan dada yang membusung itu langsung menghantam punggungku

ÔÇ£Aduh, pelan kenapa? cari kesempatan ya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Yeee siapa yang nyari kesempatan, kamu ngomongnya juga mendadak tadiÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiiih… sama cewek ndak mau ngalahÔÇØ ucapnya sambil mencubit punggungku

ÔÇ£Adaaaaaaaaaow… iya, iya maafÔÇØ ucapkku

ÔÇ£hi hi hi, kita mau makan dimana?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Di cafe miliknya pacarnya dira, yang dulu ituÔÇØ ucapku

ÔÇ£Oke, yuk jalanÔÇØ ucapnya

REVIA berjalan dengan dua orang yang menunggangi, satu orang sedang dalam suasana hati yang bahagia yang satunya entahlah, namanya juga cewek susah dimengerti isi hatinya. Jalan malam aku telusuri dan akhirnya aku sampai di cafe milik eko pacar sudira alias suka jadi waria. Setelah beberapa bulan aku tidak ke cafe ini, tampak perubahan besar-besaran ada di dalam cafe. Kami mencari tempat yang lebih nyaman, tepatnya dekat dengan kolam ikan. Pelayan pun datang dan menawarkan kami makanan, kami sudah tampak akrab dengan pelayan-pelayan disini maklumlah 2 kejadian perkelahian melibatkan aku dan dian di dalamnya. Pelayan tersebut kemudian pergi setelah kami menulis pesanan kami.

ÔÇ£Kok celingak-celinguk, nyari apa? Lihatin cewek ya? Dasar ndak sopan! Sudah ada cewek di depannya masih nyari yang lainÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ndak begitu dian, dosenku…ÔÇØ

ÔÇ£Cuma mencoba lebih waspada saja, kalau tiba-tiba ada yang menggebrak meja dan nyiram mukaku lagi, perih masalahnya he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiiih apaan sich kamu itu awas!ÔÇØ ucapnya aku hanya tertawa cengengesan melihatnya mencoba mencubit tanganku.

Sedikitnya kami bercanda walau aku masih tetap menganggap ada batas diantara kami berdua, maklumlah dia kan dosen aku. Setiap kali aku melihat wajahnya, hati ini merasa sangat nyaman sekali. Indah benar makhluk yang ada didepanku ini. Pelayan kemudian datang, membawakan makanan pesanan kami dan juga minuman. Kami berdua kemudian makan, tapi nakalnya mataku ini selalu saja mencoba mencuri pandang wajah indahnya.

ÔÇ£Kalau makan ya makan, ndak usah lihat kemana-mana? Ndak pernah llihat cewek cantik ya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Hmmm… siapa yang lihatin kamu, aku Cuma lihatin tuh air mancur dibelakang kamu yan, bagus sekaliÔÇØ ucapku dengan sedikit makanan di dalam mulutku

ÔÇ£owh gitu ya? Ya sudahÔÇØ ucap bu dian yang kemudian menggeser tempat duduknya

ÔÇ£lho kok pindah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dah sekarang lihatin saja itu ari mancur sepuasnya, katanya bagusÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh…ÔÇØ mati kutu dah aku

Aku kemudian melanjutkan makanku lagi, dengan bu dian berada di sampingku. Tapi mata ini seperti kena tarikan magnet yang sangat kuat membuat bola mata ini tak henti-hentinya bergeser kesamping untuk sekedar melihatnya makan. Dia tampak sangat cuek sekali, setiap kali makan dia melihat ke depan tanpa melirikku.

ÔÇ£Apa lagi sekarang? Ada air mancur dibelakangku?ÔÇØ ucapnya tanpa sedikit melihat ke arahku

ÔÇ£Eh… ndak, ada bidadariÔÇØ ucapku santai dan kemudian melanjutkan makan lagi. Kulirik dia memandangku dengan senyuman dan melanjutkan makan lagi.

ÔÇ£Iiiiiih…. sebel banget deh, kok bisa-bisanya ya ndak main ke kos mbaknya, ndak ngabari gimana gitu, eh tahu-tahunya makan malam bareng sama cewek dasar adik laki kurang ajar!ÔÇØ ucap seorang wanita di belakangku, kami berdua menoleh ke arah suara itu

ÔÇ£Mbak erlin…ÔÇØ ucapku, sedikit kulirik bu dian dia hanya tersenyum kemudian melanjutkan makannya lagi. Terlukis sebuah gambaran ketidak sukaan ketika mbak erlin datang.

ÔÇ£Duduk sini ahh…. sayang, duduk di sebelahku siniÔÇØ ucap mbak erlina kepada seorang laki-laki dibelakangnya

ÔÇ£kenalin ar, pacar aku…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Alan…ÔÇØ ucap pacar mbak erlina

ÔÇ£Arya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Mbak, kenalin pacar akuÔÇØ ucap mbak erlin ke bu dian

ÔÇ£Dian…ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Alan…ÔÇØ ucap alan

ÔÇ£kok mbak ada disini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Yeee… terserah aku dong, kan aku lagi pacaran emang kamu? Ndak jelas hi hi hiÔÇØ ucap mbak erlin

ÔÇ£ndak jelas gimana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak tahu dech…ÔÇØ ucap mbak erlina

Kulihat raut wajah bu diah semakin suntuk, tak ada guratan senyum yang terlukis di wajahnya kembali. Beberapa kali mbak erlina mencoba untuk mengajak bu dian berbicara pun dijawabnya secukupnya saja. Benar-benar terlihat judes sekali. Tapi bu dian tetap melempar senyum ke arah mbak erlina dan alan walau senyum yang sangat terpaksa.

ÔÇ£Eh… mbak dian, sudah jadian ya sama aryaÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£belum, dia mahasiswakuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kan ndak papa, mahasiswa sama dosen, benar ndak sayang?ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£kelihatannya ndak mungkinÔÇØ ucap bu dian sembari melihat kearahku penuh arti

Aku malah kebingungan dengan tatapan matanya. Kenapa tatapan mata itu memperlihatkan sesuatu tuntutan. Tuntutan agar aku yang menjawabnya. Aku tak mampu memandang mata indah itu, aku benar-benar belum mampu. Aku hanya tertunduk dan menghabiskan makanku. Mbak erlina dan alan tampak berbisik-bisik sesuatu dan kemudian tertawa cekikikan sendiri melihat tingkah polah kami berdua. Pesanan mbak erlina datang dan makanku sudah selesai, serti biasa dunhill.

ÔÇ£ndak usah merokokÔÇØ ucap bu dian sambil mencabut rokok di bibirku dan langsung di buang. Diraihnya dunhill sebungkus dan korek api yang ada di meja, diremah dan hilang sudah. Aku hanya melongo menyaksikankejadian pembunuhan rokok dan peremasan sebungkus dunhill itu. Aku tidak mampu protes karena dari matanya dapat aku tangkap ketidak nyamanan dia berada disini.

ÔÇ£tuh, perhatian tanda sayang lho arÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Eh… mbak erlina, sudah deh kasihan dianÔÇØ ucapku

ÔÇ£Lho kok dian? Wah dah jadian niiiiihÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Kelhatanya sich sudah jadian sayangÔÇØ ucap alan

Kulihat bu dian hanya diam saja tidak memandang ke arahku. Pandangannya dibuang ke arah kolam ikan yang berisi ikan koi. Aku sedikit salah tingkah dengan sikap bu dian ditambah lagi mbak erlina dan alan yang selalu saja mencandai aku dan bu dian. Lambat laun setelah suasana hening sesaat, bu dian akhirnya bisa memulai pembicaraan kembali dengan sikapnya yang tidak judes lagi. Kadang kakiku di injak oleh mbak erlina ketika bu dian sudah mulai bercanda dengan kami, tapi ingat judesnya masih ada.

ÔÇ£Dah malam pulang yuk arÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Eh iya…ÔÇØ

ÔÇ£mbak, mas aku pulang dulu yaÔÇØ ucapku kepada mbak erlina dan alan

ÔÇ£oke, hati-hati ya ar dijagain lho dianÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£dijaga, dianter sampai rumahÔÇØ ucap alan

ÔÇ£iya.. iya…ÔÇØ ucapku

Setelah membayar aku kemudian memboncengkan bu dian pulang. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami. jujur saja aku menjadi merasa bersalah dengan suasana ini. tapi jika dilihat lagi, kami bertemu dengan mbak erlin dan alan juga tidak disengaja. Hingga akhirnya aku melwati pos satpam perumahan ELITE, tiba-tiba bu dian memelukku dengan sangat erat.

ÔÇ£Pelan sajaÔÇØ ucapnya, aku kemudian menurunkan laju REVIA

ÔÇ£Maaf…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£buat apa bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sikapku tadi ketika erlina datangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Dian ndak salah kok, aku yang salah, kalau saja tidak di cafe itu mungkin ndak akan ketemu merekaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku ndak sukaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku sedikit terkejut dengan kata-katanya, REVIA berhenti tepat di depan rumahnya dan bu dian masih memelukku. aku tak mampu berkata-kata.

ÔÇ£Aku ndak suka kalau kita sedang makan diganggu cewekÔÇØ ucapnya terasa mulutnya di benamkan di bahu kananku

ÔÇ£Pokoknya malam minggu besok keluar makan lagi, di tempat lainÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh… aku ndak tahu tempat lainnya yanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Pokoknya makan ditempat lain, Cuma aku sama kamu titik, aku ndak mau di cafe itu lagi, pokoknya ndak mau, ndak mau ketemu sama orang yang dikenalÔÇØ ucapnya yang kini terlihat manja dengan suara serak seakan mau menangis

ÔÇ£Eh iya… minggu depan kita makan ditempat lain, iya aku bayarin lagi pokoknyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucapnya kemudian turun

ÔÇ£Janji ya?ÔÇØ ucapnya tepat di sampingku, aku mengangguk pelan dan tersenyum kepadanya

Tiba-tiba, dibukanya helmku olehnya. Seperti orang terhipnotis dan cup… pipi kananku di kecupnya. Aku tersenyum mendapatkan kecupan manisnya kembali. Dipakaikannya helmku kembali dan dia melangkah menuju ke gerbang pintu. Dibukanya gembok gerbang itu dan kemudian berdiri di depannya memandangku dengan senyum sambil kedua tangannya dibelakang. Tersadar akan waktu yang semakin malam.

ÔÇ£Aku pulang dulu yanÔÇØ ucapku

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucapnya sambil menganggukan kepala

ÔÇ£hati-hati ya ar, ndak usah ngebutÔÇØ ucapnya sambil tangannya men-dadah-iku

ÔÇ£iya,…ÔÇØ ucapku sembari menganggukan kepala dan tersenyum kepadanya

Kuputar revia dan kutarik gas motorku. Semakin aku menjauh kulihat dari spion motorku dia masih berada di depan pintu gerbangnya dan memandangku. Hingga revia membelok, hilang sudah bidadari itu. Dalam perjalanan menuju rumah, aku tersenyum-senyum sendiri dengan sikap manjanya. Kalau saja dia istriku dan manja seperti itu, wow seklai pastinya hari-hariku. Sesampainya dirumah, aku menemui ibuku dan ku ajak Ibu ke kamar lalu menceritakan semua yang terjadi. Ayah, lagi nonton TV bro.

ÔÇ£berarti banyakin puasa ini ya?ÔÇØ ucap Ibu sambil menunjukan ke arah susunya

ÔÇ£kenapa kaitanya sama itu to bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£biar kamu itu, fokus, kan ibu sudah bilang bagaimana kita mau kembali seperti dulu kalau kamu ndak bisa melupakan iniÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Ibu adalah ibu kamu, dan ibu berharap kamu juga mempunyai istri sayang tapi ingat jangan kamu terkam dian sebelum waktunya, awas!ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Kalau ndak dapat jatah dan ada kesempatan ya diterkam saja bu he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£Adaaaaaaaaaaow…ÔÇØ pukulan ringan dikepalaku

ÔÇ£ndak boleh, Ibu suka sama dian dan kamu ndak boleh sekali-kali menyentuhnya, ingat itu! Harus tepat pada waktunyaÔÇØ ucap Ibu

Aku tersenyum melihat kesungguhan kalimat ibu. mungkin dianlah yang bisa menghentikan kegilaanku saat ini. tapi bagaimana caranya? Aku juga belum tahu.

ÔÇ£Ibu akan selalu mendukungmu selama kamu dengan dian, dan setelahnya ibu akan jadi ibu kamu, okay? I want thebest for you sonÔÇØ ucapnya

ÔÇ£I hope i can let you go somedayÔÇØ ucapku

ÔÇ£you can! I promiseÔÇØ ucapnya

Akhirnya ibu meninggalkan kamarku dengan wajah bahagia. Tapi aku bisa melihat sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dian, kamu bisa menghentikan kegilaan aku dan ibu tapi apakah kamu bisa menerimaku seandainya kamu tahu semuanya? Centung, Bu dian

From : Bu Dian
Makasih malam ini,
Ingat janjimu ya
To : Bu Dian
Sama-sama bu,
Pasti aku ingat
Hari-hariku semakin indah dengan kehadiran bu dian saat ini. Entah sesaat atau selamanya aku juga belum tahu. Sikap manjanya yang terakhir itu membuatku seakan-akan menjadi laki-laki yang hebat dan gagah. Ibu pun semakin mendukungku, walau aku tidak mengatakan kepada ibu jika memang suatu saat nanti ada seorang wanita yang ingin bersamaku, aku akan mengatakan rahasiaku. Aku tidak suka berbohong. Dian dan Ibu, aku harap bisa menjadi menantu dan ibu mertua yang akur.

Bimbingan dengan bu dian tampak sedikit berbeda dengan minggu lalu. Senyumya selalu terlukis ketika memberitahukan kesalah-kesalahan di tugas Akhirku. Di sini aku tetap memanggilnya dengan sebutan bu, dikampus harus ada formalitas juga kan?. Kulihat senyuman-senyuman indah itu seakan membius nadiku dan membuat seluruh tubuhku kaku dan membeku. Hanya leherku saja yang dapat bergerak dan mengangguk-angguk setiap ucapannya. Ada apa ini? kemarin aku begitu sangat kecewa dengannya tapi kenapa sekarang malah seperti ini. wanita ini jangan-jangan jelmaan medusa? Atau dia adalah dewi kecantikan yunani? Hanya itu pikiran yang terlntas di otakku hingga bimbingan selesai dan aku disadarkan oleh kata-kata indahnya.

ÔÇ£Arya, sudah…ÔÇØ ucapnya lembut

ÔÇ£Eh.. eh iya bu sudah, terima kasihÔÇØ

ÔÇ£Saya mohon undur diri duluÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya, jangan lupa besok ya, ingat janjimuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya yan, eh bu dian…ÔÇØ ucapku

Hingga di rumahpun aku masih tidak bisa menyangka sikapnya yang sekarang sangat begitu anggun dan menyentuh hatiku. Ibu duduk disampingku dan tersenyum ke arahku. Aku bercerita mengenai semua yang aku lalui hari demi hari walau sebenarnya aku seudah menceritakannya. Dan yang terbaru adalah perasaanku ketika bimbingan tadi.

ÔÇ£Jujur saja ibu suka sekali dengan dian dan kasihan sama kamuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£maksud ibu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Suka sama dian, tapi kasihan itu kamu tuh, ndak keluar-keluar pasti sakit ya?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ibu sich ndak mau kasihÔÇØ ucapku sambil memeluknya

ÔÇ£Ibu ndak enak sama dian, sayang. Ibu wanita, dian juga, ibu ndak mau melukai hatinya walau dia tidak pernah mengetahuinya. Ibu hanya ingin kamu benar-benar bisa meraih hatinya dan bisa melupakan kegilaan kita. Itu yang ibu harapkanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ya bu, tapi entah arya bisa atau tidak. Akan arya usahakan yang terbaikÔÇØ ucapku dengan pikiran mengawang ke arah yang tidak menentu

ÔÇ£hei, jangan melamun sayang. Tenang kita pasti bisa melaluinyaÔÇØ ucap Ibu

Kupandangi wajah Ibu sejenak, wajah yang meneduhkanku. Aku pun tersenyum kepadanya, dibalasnya senyumanku dengan senyuman indahnya. Hening sesaat yang hanya dihiasi oleh senyuman kami berdua. Tiba-tiba ibu mencubit kedua pipiku dan mengecup kedua pipiku secara bergantian lalu dibetetnya hidungku dengan sangat keras. Aku mengaduh kesakitan, Ibu langsung berlari menjauhiku. Kami saling kejar-kejaran dan tertawa terbahak-bahak seakan-akan tak terjad sesuatu yang salah diantara kami berdua.

Hubunganku dengan mbak erlina pun seperti biasanya namun untuk kali ini tidak ada jatah kepadaku. Aku sempat kebingungan menahan kentang di dedek arya, bagaimana tidak? Jaminan 2 orang wanita yang akan selalu membuang kentang dari dedek arya semuanya tidak bisa hingga aku berangkat KKN. Ibu tidak ingin melakukannya karena tidak ingn mengganggu pikiranku, agar aku benar-benar bisa mendapatkan hati dian tanpa harus memikirkan hubungan ÔÇ£gelapkuÔÇØ dengan Ibu. Mbak erlina? Mungkin memang dia harapanku satu-satunya tapi pacarnya mendapatkan tugas untuk di daerahku. Lengkap sudah, tak mungkin aku ke kos mbak erlina hanya untuk minta jatah karena dari penuturan mbak erlina pacarnya selalu berada di kos.

Mbak echa atau mbak ela? Mungkin bisa tapi bisa gila kalau aku terus-terusan main bertiga. Bisa copot semua tulangku. Kalaupun main dengan mbak echa pastinya dia akan mengajak mbak ela tapi bisa saja aku mengondisikan agar aku hanya dengan mbak ela atau mbak echa saja. Aarghh… tidaklah, terlalu beresiko dengan mereka berdua ditambah lagi sekarang mbak ela serumah dengan mbak echa. Mbak ela sudah menjadi istri kedua suami mbak echa namun hanya secara ÔÇ£de factoÔÇØ untuk secara ÔÇ£de jureÔÇØ akan disahkan ke depannya. De facto? Nikah siri, de jure? Nikah sah yang diakui oleh negara yang semakin amburadul ini.

Balas Dengan Quote Balas Dengan Quote
3 August 2015, 10:39 AM #1495
richieheaven
richieheaven is offline
Semprot Kecil

Daftar
Nov 2014
Lokasi
Desa Semprot
Posts
88
Thanked: 10

Pertamax kah bos…?

Balas Dengan Quote Balas Dengan Quote Posted via Mobile Device
3 August 2015, 10:41 AM #1496
Down hill
Down hill is offline
Semprot Holic
Down hill’s Avatar

Daftar
Mar 2015
Posts
322
Thanked: 11

THREAD STARTER
Sambungan 39. 2

Ciiiiiiiiiiiit… aku terperangah melihat seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Wanita itu memakai kaos lengan panjang yang dulu pernah dia minta, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan dada yang membusung itu. Dengan hiasan celana legging, dia tetap anggun walau kaos lengan panjang itu terlihat sangat klowor. Ya, malam ini adalah malam minggu dimana aku kembali ÔÇ£apelÔÇØ ke rumah dosen judes dan jutekku ini. Dia tersenyum ke arahku dan langsung naik delakangku.

ÔÇ£Ayo mas, jalanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£yee… emang tukang ojek pake mas segalaÔÇØ ucapku sedikit nyleneh

ÔÇ£Mas Arya, ayo jalan-jalanÔÇØ ucapnya kembali membuatku sedikit grogi

ÔÇ£Eh… i.. iyaÔÇØ ucapku, benar-benar berbeda dari hari-hari sebelumnya

ÔÇ£ndak usah grogi gitu dong mas aryaaaaaa….ÔÇØ ucapnya dengan nada manja

ÔÇ£he he heÔÇØ aku hanya mampu tersenyum dan cengengesan saja

Malam ini aku mengajaknya makan di warung emperan, maklum untuk urusan makan di cafe lagi malas. Malas uangnya he he he, walaupun aku mempunyai uang ratusan juta di kamarku namun aku tidak ingin menggunakannya jika harus keluar dengan yang tersayang. Setelahnya aku mengajaknya ke tempat dimana aku bertemu dengannya sebelum ini. Kami duduk di bangku yang sama dengan waktu itu, namun yang berbeda kali ini adalah aku dan bu dian duduk bersebelahan di tengah-tengah bangku bukan diujung yang berlawanan seperti waktu itu. Tak berani aku mengeluarkan kotak putih bertuliskan dunhill yang biasa menemaniku. Aku bersandar dan dia duduk tegap, kulihat rambut lurus yang beraroma wangi ini dari belakang.

ÔÇ£Bulannya indah ya ar?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya bu eh yan, bulan purnamaÔÇØ ucapku yang kemudian bangkit dengan posisi tegap disamping kanannya

ÔÇ£banyak wanita sangat suka di samakan dengan rembulan ituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£jangan mau kalau disamakan dengan bulanÔÇØ ucapku sekenanya

ÔÇ£Dasar ndak romantisÔÇØ balasnya

ÔÇ£bukannya ndak romantis, itu bulan sudah di injak-injak Neil Amstrong, emang mau disamakan dengan jejak kaki neil amstrong?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kan banyak bukti kalau dia tidak pernah mendarat di bulanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya, memang banyak bukti kalau ekspedisi dia ke bulan itu masih dalam kategori misteri. Tapi kan setelahnya banyak astronot yang sudah menginjakan kaki di bulanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dasar kamu itu cowok ndak ada romantisnya sama sekaliÔÇØ balasnya kelihatan judes

ÔÇ£Mana mungkin bidadari disamakan dengan bulan, yang ada sama dengan cahaya indahnyaÔÇØ ucapku yang langsung melengoskan kepalaku ke arah kanan. Sedikit aku meliriknya dan dia melihat kearahku dengan tersenyum manis

ÔÇ£Memang ada bidadari ya disini?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ada tapi dia-nya ndak sadarÔÇØ ucapku sekenanya. Ku benamkan wajahku di antara kedua pahaku

ÔÇ£Kamu kenapa to? Kaya orang salting? Grogi ya deket sama cewek cantik?ÔÇØ ucapnya, aku menoleh ke arahnya dan tersenyum

ÔÇ£memang ada cewek cantik disini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiih…ÔÇØ ucapnya dengan menyikutku

ÔÇ£bodoh, ndak tahuÔÇØ lanjutya

ÔÇ£adanya bidadariÔÇØ ucapku pelan yang kemudian bersandar lagi

ÔÇ£awwwww…. sakit tahuÔÇØ ucapku yang tiba-tiba saja tangan kanannya mencubit paha kiriku

Kulihat dia tersenyum tersipu, kedua tangannya disatukan untuk menyangga dahunya. Senyumnya semakin indah dengan hiasan cahaya bulan yang jatuh di wajahnya. Apakah benar dia bidadari? Ataukah mahadewi seperti lagu band lawas? Atau jangan-jangan dia adalah seorang pembunuh dan penakluk? Ya aku sudah mengiranya dia adalah bidadari sekaligus mahadewi seperti lagu yang pernah aku dengarkan. Dia juga seorang pembunuh dan penakluk……. hatiku. Aku kembali duduk tegap disampingnya, sedikit aku menoleh ke arahnya. Ah ternyata memang benar, senyumannya adalah bius untuk hatiku dan tatapan matanya adalah pedang yang siap menghunus hatiku jika aku jauh darinya.

ÔÇ£Jam berapa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Jam sembilanÔÇØ ucapku

ÔÇ£owh…ÔÇØ ucapnya sedikit menggerakan kakinya, teringat aku akan masa dimana wanita ini meminta cepat pulang. Aku kemudian bangkit dan duduk di tanah tepat dihadapannya dengan memeluk kedua kaki yang kutekuk didepanku .

ÔÇ£ada apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak papa? Kok kamu malah duduk di bawah?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£agar kamu ndak cepet-cept pulangÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu itu aneh, bagaimana caraku bisa pulang coba? Kesini saja sama kamuÔÇØ ucapnya tersenyum

ÔÇ£Bisa saja kamu sms taksiÔÇØ ucapku dengan tatapan mata datar ke arahnya

ÔÇ£Ada apa siiiiiihÔÇØ ucapny sambil mentowel hidungku

ÔÇ£Aku serasa De javuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh… ehem….ÔÇØ dia hanya tersenyum manis ke arahku

ÔÇ£kok malah tersenyum, memangnya kamu tahu maksudku?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya tahulah, ndak aku ndak akan pulang sebelum kamu mengajak pulangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Kalau pulang besok pagi?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£siapa takut?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ha ha, ndak, ntar aku dimarahi sama ibukuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu itu aneh ya, seharusnya kamu takutnya sama ibu akuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya itu salah satunya, tapi lebih takut sama ibukuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Lho kok bisa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ibu menyuruhku menjaga kamu…. ÔÇ£ ucapku

ÔÇ£Selalu..ÔÇØ lanjutku dengan sura pelan dan kubenamkan

ÔÇ£terima kasih…ÔÇØ ucapnya yang kutahu dia mendekatkan wajahnya kearahku karena aku sedikit mengangkat wajahku dan meliriknya.

ÔÇ£eh… sama-samaÔÇØ ucapku kaget ketika aku mengangkat wajahku, karena wajahnya tepat di depan wajahku. Lama sekali aku memandang wajahnya, baru kali ini wajah bidadari sangat dekat dengan wajahku.

ÔÇ£yan, aku….ÔÇØ ucapku tertahan, ingin rasanya aku meneruskan kata-kataku namun semuanya tertahan. Lidahku seakan-akan terpaku di dalam mulutku

ÔÇ£Apa?ÔÇØ bisiknya pelan namun terdengar, hening sesaat. Tatapan mata kami saling beradu, hembusan angin malam menemani kami berdua

ÔÇ£eeeeeee….ÔÇØ grogi, terperangah akan kecantikan bidadari ini

ÔÇ£kamu mau bilang, kalau aku suka sama aku? Iya kan?ÔÇØ ucapnya tiba-tiba, seketika itu aku terkejut dan ketika hendak menganggukan kepala tangan kanannya mencubit pipi kiriku

ÔÇ£ada mahasiswa suka sama dosennya ni hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£ndak level ah hi hi hiÔÇØ ucapnya dengan senyum mengejek

ÔÇ£Siapa juga yang suka sama dosen weeeeeek….ÔÇØ ucapku lalu menjulurkan lidah ke arahnya

ÔÇ£terus mau bilang apa?ÔÇØ desaknya

ÔÇ£itu rambut sering disisir, terus lipstiknya jangan ketebalanÔÇØ balasku sambil berdiri dan menepuk-nepuk pantatku membersihkan tanah yang menempel

ÔÇ£ih!ÔÇØ serunya dengan menonjokan pukulan ringan ke perutku, dia langsung berdiri dihadapanku dengan kepala mendongak ke atas dan kedua tangan berpinggang, maklum diakan lebih pendek dariku.

ÔÇ£Apa? Berani membalas?ÔÇØ ucapnya seakan-akan membiusku.

ÔÇ£Sial baru kali ini ada wanita yang membuatku kaku seperti iniÔÇØ ucap bathin ini dengan tatapan mata kearahnya tanpa sedetik pun aku melepaskan pandangan ini.

ÔÇ£awwwwwwwwwwwwww….sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitÔÇØ teriakku yang tidak sadar dia sudah menggigit lengan kananku, dia langsung berlari menjauhiku

ÔÇ£preman di gigit kok sakit weeeeeeeeeeeekÔÇØ ledeknya

ÔÇ£awas kamu ya!ÔÇØ ucapku sembari berlari mengejarnya

Walau aku bisa mengejarnya dan menangkapnya, aku tetap saja tidak ingin melakukannya. Tak ingin momen indah kejar-kejaran ini terlewatkan begitu saja. Kami tertawa dan saling melontarkan ejekan.

ÔÇ£eits ndak kena, ndak kenaÔÇØ ucapnya yang berhasil menghindariku

ÔÇ£awas ya!ÔÇØ ucapku

Seperti anak kecil yang berlari dan beramin tangkap-tangkapan. Seperti dua bocah yang tak pernah ingin mengakhiri permainanan. Namun nafasnya tak seperti ketika masih kecil yang selalu bertambah kuat setiap kali teman mainnya mendekat. Dan…

ÔÇ£kena kamu!ÔÇØ ucapku dengan kedua tangan memeluk perutnya dari belakang

Bidadari ini hanya diam ketika kedua tangan ini memeluk perutnya semakin erat. tubuhnya secara perlahan bersandar ke tubuhku. Kedua tangannya kemudian menggenggam tanganku. Hangat, begitu hangat membuat perasaan ini semakin nyaman.

ÔÇ£Indah ya bulannya?ÔÇØ ucapnya pelan dengan pandangan matanya ke arah purnama itu

ÔÇ£iya..ÔÇØ ucapku yang tanpa aku sadari aku memeluknya dan menghadap ke bulan

Perlahan kepalanya mulai bersandar di leherku, dan kemudian pipinya rebah di bahu kananku. Leher kananya terlihat sangat indah. Semakin kaku tubuh ini, semakin tak bisa melepaskan pelukan ini. kuarahkan bola mataku kebawah matanya mulai terpejam. Tubuhnya perlahan mulai bergoyang, tangan kanannya meraih belakang kepalaku agar menunduk dan bibirku rebah di leher kanannya. Tak berani aku mengecupnya, tak berani aku menciumnya terlalu indah, terlalu indah. Momen ini berlalu sangat lama, bahkan lelah tubuh ini menyangga tubuhnya pun tak terasa. Setelah lama dalam posisi ini, dia kemudian berbalik dan memandangku.

ÔÇ£Terima kasih…ÔÇØucapnya dengan tatapan mata yang menyipit dan senyuman di bibirnya

ÔÇ£heg…ÔÇØ semakin terbuai aku

Tubuhnya melekat di tubuhku, tangannya melingkar di hingga di belakang punggungku. Hangat dan erat aku rasakan, kedua tangan ini kemudian melingkar di punggungnya. Kepalaku menunduk, bibir ini tepat di kepalanya. Aroma wangi rambutnya, aroma wangi parfum dari tubuhnya menusuk hidungku.

ÔÇ£Jaga aku ya…ÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£ya…ÔÇØ balasku

ÔÇ£terima kasih…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku…ÔÇØ ucapku tertahan

ÔÇ£Apa?! Mau bilang suka sama aku? Sayang sama aku ya?ÔÇØ ucapnya tiba-tiba saja mendongakan kepala dan memandangku dengan wajah mengejeknya

ÔÇ£eh… i…ÔÇØ ucapku tertahan

ÔÇ£mahasiswa kok bilang sayang sama dosen weeeeeeeeeeeeek… iiiiiiiiiiiiihÔÇØ ucapnya mengejek dan membetet hidungku

ÔÇ£aduh sakit tahuÔÇØ ucapku

ÔÇ£sakit ya sakit, tapi kok tanganya ndak lepas?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh… maafÔÇØ ucapku langsung aku tarik kedua tanganku

ÔÇ£hi hi hi… pulang yuk dah malam arÔÇØ ucapnya dan tersenyum ke arahku

ÔÇ£Iya…ÔÇØ jawabku tersenyum kepadanya

Dengan ditemani cahaya purnama, aku menagntarnya pulang. Pelukan erat tubuhnya di belakangku semakinn membuat revia berjalan perlahan. Tak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya, dan tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirku. Kami berdua tahu, momen ini adalah momen indah tak salah kan jika harus diam? Laju REVIA semakin mendekat ke rumahnya, tapi ketika melewati pos satpam dia melepaskan pelukannya. Setelahnya? Semakin erat saja pelukan tubuhnya.

ÔÇ£Terimakasih malam ini, cup…ÔÇØ ucapnya sembari memberikan kecupan di pipi kananku

ÔÇ£iya sama-sama…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku pulang dulu dianÔÇØ lanjutku

ÔÇ£iya hati-hati…ÔÇØ balasnya

Kuputar balik motorku, kulihat di masih berdiri melihatku dari kaca spion. Ingin rasanya aku tidak pulang danb tetap bersamanya malam ini. Tapi nanti kalau dia sudah menjadi istriku, ngimpi kali yeee he he he. Dengan hati berbunga-bunga aku pulang kerumah. Dalam perjalanan aku mendapati mobil yang tidak asing lagi, Ayah. Segera ku arahkan motorku membuntutinya hingga mobil itu berhenti dan dengan jarak yang jauh aku turun.

Kulihat Ayah turun dan pintu depan terbuka, om nico. Beberapa saat kemudian seorang wanita yang tak asing lagi bagiku, tante war dari pintu belakang turun dengan pakaian yang sangat seksi. Di taman itu, setidaknya ada 3 orang pemuda yang sedang nongkrong. Dan… tak tega rasanya aku menceritakannya. Di awal, tante war melayani nafsu kedua bajingan itu di hadapan pemuda-pemuda itu dan berikutnya secara bergiliran ketiga pemuda itu menikmati tubuh tante war. Sungguh ironis memang, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah mereka berlima puas, di tertawakannya tubuh wanita yang tergeletak lemas setelah melayani mereka.

Sial! Kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa? Jika aku menyembunyikan tante war, pasti anaknya yang akan menggantikannya. Tante war pastinya tidak ingin melakukannya. Dengan hati yang gelisah aku meninggalkan pemandangan itu, tak mampu aku bercerita tentang kejadian yang baru saja aku lihat. Hati yang berbunga-bungan dan kemudian melihat kejadian menyedihkan. Dengan perlahan aku tinggalkan tempat bersembunyiku menuju rumah. Segera aku masuk kerumah dengan wajah sedikit suram.

ÔÇ£Ada apa sayang?ÔÇØ sambut Ibuku lalu kuceritakan apa yang baru saja aku lihat tanpa menceritakan kebersamaanku bersama bu dian.

ÔÇ£Sudah jangan kamu pikirkan hal itu, dan kamu jangan berpikir aneh-aneh ya, kamu pasti kepikiran ibu kan?ÔÇØ ucapnya dan aku hanya mengangguk

ÔÇ£Sudah tenang…ÔÇØ

ÔÇ£bagaimana dengan dian?ÔÇØ tanya ibu

ÔÇ£Kalau itu sich…ÔÇØ ucapku dan kemudian menceritakan semua secara detail

ÔÇ£Yes! Anakku normal! Dan sebentar lagi punya pacar hi hi hiÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£iiih ibu apaan sih, aku cowok normal nyatanya juga he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya itunya normal, tapi kan ndak tahu isinya hi hi hiÔÇØ balas ibu

ÔÇ£Bisa saja kan ndak normal hi hi hiÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£Ibuuuuuuuuuu…. ÔÇ£ ucapku manja sambil memeluk tubuhnya, ibu pun balas memelukku

ÔÇ£sayang…ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Ya bu…ÔÇØ balasku

ÔÇ£kamu hebat ya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£lho kok?ÔÇØ balasku

ÔÇ£Tuh si kecil kamu ndak berdiri sama sekali, padahal sudah nempel kaya perangko seperti iniÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aaahhhh….ÔÇØ ucapku sambil merebahkan kepalaku di paha ibu dengan kepala menengadah ke wajahnya

ÔÇ£Maaf bu jika arya mengecewakan…ÔÇØ ucapku sambil tersenyum

ÔÇ£itu malah bagus nak, berarti kita bisa mencoba untuk memulai yang baruÔÇØ ucap ibu

Kami berpandangan dengan kepalaku yang berada di pahanya. Senyuman menghiasi bibir indah yang baru minggu kemarin aku lumat habis. Kami hanya bisa saling berpandangan dan kadang ibu memainkan hidungku dengan jari tangan kirinya. Tangan kanannya mengelus-elus kepalaku, hingga aku terlelap dan tak sadarkan diriku.

Hari-hari berikutnya sikap kami kembali normal. Ibu adalah Ibuku tak ada lagi Ibu sebagai kekasihku saat ini. tak tahu sampai kapan suasana ini akan terus seperti ini. hatiku masih sedikit mengganjal jika harus melepas ibu sebagai kekasihku. Kadang ada rasa sedih dan tak tega jika harus menjadikannya seperti yang seharusnya.

Hari ini adalah hari dimana aku harus bimbingan dengan bu dian, namun ternyata berbenturan dengan pembekalan KKN. Aku kemudian menghunbungi bu dian dan meminta untuk menunda serta mengundurkan hari bimbingan. Bu Dian memperbolehkan, toh bimbinganku juga tidak rumit-rumit sekali.

ÔÇ£Ndak papa ar, asal kamu bimbingan ya, kan besok dah KKNÔÇØ ucap bu dian ketika aku menemuinya di ruangannya setengah jam sebelum pembekalan

ÔÇ£iya bu besok saya KKN, mulai hari senin minggu depan pemberangkatanÔÇØ ucapku dengan senyuman

ÔÇ£Jangan sedih ya?ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£kenapa sedih bu?ÔÇØ tanyaku sedikit bingung

ÔÇ£Kan ndak bisa lihat cewek cantik lagiÔÇØ ucapnya santai

ÔÇ£di KKN banyak kok bu he he heÔÇØ ucapku sambil cengengesan

ÔÇ£Owh gitu?!ÔÇØ ucapnya sedikit membentak

ÔÇ£Eh.. ndak bu, jelek-jelek semua, beneran jelek semuaÔÇØ ucapku dengan kedua tangan bergerak seperti orang mendadahi

ÔÇ£awas!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku sedikit terkejut dengan kata-kata terakhirnya

ÔÇ£ kok awas? Maksudnya apa bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh… mmm… ya awas kalau kamu malah kepincut sama cewek KKN ntar TA kamu terbengkalai, gitu maksud sayaÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Bilang saja kamu yang kehilangan yan he he heÔÇØ bathinku yang membuat mimik wajahku senyum-senyum sendiri

ÔÇ£Sudah-sudah, sana pembekalan nanti terlambatÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Siap bu!ÔÇØ ucapku dengan mengacungkan jempol kananku

ÔÇ£saya pamit dulu buÔÇØ ucapkku sambil berdiri dan membungkukan badan sedikit. Dibalasnya dengan anggukan kepalanya. Aku kemudian membuka pintu ruangan untuk keluar. Kleeek…

ÔÇ£Hati-hati ar, dan jaga hati kamu…..ÔÇØ ucapnya pelan tanpa memandangku

ÔÇ£Ehem… iya bu diaaaaanÔÇØ ucapku yang langsung meninggalkan ruangan

Pembekalan KKN adalah masa dimana hal membosankan dimulai. Aku sedikit terlambat dan aku mendapatkan tempat duduk dibelakang. Seorang laki-laki melambaikan tangan, ah sahabatku tersayang, Rahman. aku duduk disebelahnya dan kami mengobrol mengenai semua hal tentang PKL kami.

ÔÇ£tahu ndak Ar, aku habis dapet memek lagi waktu PKLÔÇØ ucapnya

ÔÇ£dasar PK!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Legit ar, oh jepitannya mantap!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£terus mama kamu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tenang, setiap hari aku jatah kekasihku itu ha ha haÔÇØ ucapnya pelan dan kemudian di akhiri tawa yag keras

Kamu sama denganku man, tapi aku mendekati masa dimana aku harus berhenti. Sedangkan kamu mungkin masih akan berlangsung lebih lama lagi. Aku hanya mampu memandangnya dan membathin. Obrolan demi obrolan membuat waktu tak terasa hingga akhirnya sampailah pada pembagian kelompok. Disini masing-masinng ketua regu memanggil anggota KKN-nya satu persatu untuk berkumpul setelahnya baru akan dibuat STO dari masing-masing regu. Betapa terkejutnya aku ketika aku dipanggil dan berkumpul dengan mereka.

ÔÇ£Ajeng?????ÔÇØ ucapku terkejut

ÔÇ£Hei Ar, apa kabar?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kok kamu disini? Bukannya kamu….ÔÇØ ucapku yang kemudian dihentikan dengan jarinya yang menyilang di bibirku

ÔÇ£Sssstttt… ndak jadi Ar, calonkku ternyata dah punya bini, bohong dia sama akuÔÇØ ucapnya santai

ÔÇ£Asyik nih sama kamu ar, bisa jalan-jalan lagi he he heÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£kirain dah jadi ibu rumah tangga kamu jeeeeenng jengÔÇØ ucapku sambil geleng-geleng kepala

ÔÇ£kamunya sih ndak mau ar, kalau mau aku dah jadi ibu rumah tanggamu hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Yeeee…ÔÇØ ucapku sambil menguyek-uyek kepalanya

Tampak keakraban kami berdua membuat yang lainpun juga ikut akrab. Ada Anta Yunos, Rani setya ekdarini, Eri rika widiastuti, Rino hornbig, Ajeng dan terakhir adalah aku. Sebagai ketua dipilih Anta, wakil Rino, sekretaris Rani dan bendahara adalah Eri dan Ajeng sedangkan aku anggota huru hara. Setelahnya kami berpisah, menyiapkan persiapan dan bekal untuk pemberangkatan. Kulihat kelompok KKN-ku merupakan kelompok yang berimbang, 3 cewek dan 3 cowok. Mereka kesemuanya berawajah kalem, dan cowok-cowoknya pun tidak kelihatan seperti cowok huru hara seperti halnya aku. Aku dan ajeng berpisah, sempat ajeng berpapasan dengan rahman tapi kelihatannya mereka baik-baik saja. Aku yang berada diantara mereka pun merangkul mereka berdua. Kami tertawa terbahak-bahak mengingat semua yang telah terjadi.

Akhirnya aku berpisah, rahman langsung ke tempat parkir yang dekat dengan tempat pembekalan. Aku ke kampus, karena motorku aku parkir di kampusku. Waktu telah menjelang sore hari, kira-kira pukul 15:30, kampus tampak sepi tak ada satupun mahasiswa di kampunhingga aku mendengar suara yang lumayan keras dari gedung perkuliahan. Aku kemudian mengendap-endap dan bersembunyi di samping gedung.

ÔÇ£Dian. Kenapa kamu itu? Apa salahku sehingga kamu mengembalikan cincin yang aku berikan?ÔÇØ ucap seorang laki-laki yang tidak lain adalah Pak Felix

ÔÇ£Felix aku mohon, kita sudah tidak mempunyai kecocokan apapun, jadi aku harap kamu bisa menerimanyaÔÇØ ucap wanita dengan nama Dian, ya itu Bu Dian

ÔÇ£Tapi berikan penjelasan kepadaku? Kau pergi begitu saja tanpa ada penjelasan apapun?ÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£Apa kamu tidak melihat dirimu sendiri ketika di jerman felix?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Iya saat itu aku salah, karena telah menjaliln hubungan dengan wanita lain dan meninggalkanmu begitu saja. Aku mohon maaf, tapi dengan aku disini aku ingin memulai babak baru denganmu yanÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£Aku tidak bisa, maaf aku sungguh tidak bisaÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi kenapa? jelaskan padaku yan?ÔÇØ ucap pak felix kembali

ÔÇ£Salah satunya, pacar kamu yang di jerman dulu menghubungiku dan dia ingin sekali kembali kepadamuÔÇØ ucap bu dian membuat aku sedikit merasa bahwa aku sebagai pelampiasannya

ÔÇ£Apakah hanya itu yan? Jujur yan aku lebih memilih kamu, aku mohon berilah aku kesempatanÔÇØ ucap pak felix, aku semakin termenung mendengar percakapan mereka dari samping gedung

ÔÇ£Bukan, itu adalah alasan kedua yang memperkuat aku untuk tidak bersamamu, ada alasan yang lebih utamaÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Eh… apakah ada laki-laki lain yang lebih bisa membahagiakanmu daripada aku yan?ÔÇØ ucap pak felix penuh tanya

ÔÇ£Maaf felix, aku tidak mengatakan alasan utamaku tapi yang jelas alasan utamakulah yang harus membuatku meninggalkanmu felixÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Maaf felix, aku harus pulang pekerjaanku menumpukÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Dian, tunggu sebentar aku butuh penjelasan darimu, aku mohon jangan tinggalkan aku dalam kebingunganÔÇØ ucap pak felix (Arya hanya mendengarkan tanpa melihat kejadian jadi tidak tahu gerakan yang terjadi antara mereka)

ÔÇ£lepaskan tangan kamu felix atau aku berteriakÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£baiklah… aku akan terus mengejarmu dian, dan tak akan pernah aku melepaskanmu begitu saja sebelum aku mengetahui apa alasan utamamuÔÇØ ucap pak felix

Suara derap langkah mulai terdengar, suasana menjadi hening. Selang beberapa menit, aku mengintip keluar tak ada satu orang pun disana. Aku kemudian berjalan menuju tempat parkir, kulihat mobil bu dian melaju dan beberapa saat kemudian mobil pak felix. Aku sedikit tertegun dengan pembicaraan tadi, apakah aku hanya pelampiasannya saja? Apakah benar dia menyukaiku? Ketika dirumah aku kembali bercerita kepada Ibu. Ibu hanya diam kemudian dia menyarankan kepadaku untuk lebih tenang dalam menghadapai sesuatu. Ya ibu adalah mentor sekaligus penasihat, juga ratu bagiku. Ibu bisa membuatku tenang, nyaman dan tentram.

ÔÇ£ingat kamu harus tenang dan berpikir positif. Okay?ÔÇØucap Ibu dan aku hanya mengangguk

Hari berikutnya aku berangkat untuk bimbingan ketiga kalinya. Hatiku serasa bahagia karena akan bertemu dengan bidadari dari khayangan. Ingatanku kembali ke waktu dimana aku memeluknya, kembali ke pemandangan akan senyumannya, judesnya, juteknya dan yangmembuat aku semakinkangen adalah manjanya. Bimbingan kali ini agak sedikit sore pukul 14:00 karena bu dian mengajar hingga siang hari. Tepat pukul 14:00 aku masuk ke gedung jurusan, suasan sepi. Ya jelas, karena hanya jadwal bu dian yang sampai pada jam dua siang. Ketika aku mendekati ruangannya tampak terdengar suara gaduh, tapi tak ada pembicaraan disana dan yang jelas disana ada mannusia. Bidadariku pastilah he he he, dengan penuh kebahagiaan, wajah yang sumringah dan tanpa mengetok pintu aku membuka pintu ruangannya. Dan…

ÔÇ£Feli…mmmmmm…ÔÇØ ucap budian dengan mulut tersumbat

Sebuah pemandangan yang mengiris hatiku. Dua orang manusia, tepat dihadapan pintu yang aku buka, ya itu adalah bu dian dan pak felix. Bu Dian bersandar matanya terpejam dengan tangan kanannya di tekan ke tembok oleh tangan kanan pak felix, sedang tangan kiri bu dian memegang bahu pak felix. Bagian dagunya dipegang oleh tangan kiri pak felix. Mereka sedang berciuman dan pak felix tidak mengetahui kehadiranku karena aku berada tepat dibelakangku. Bu Dian membuka matanya dan pandangan kami bertemu, bu dian nampak semakin terkejut melihatku. Tangan kirinya melambai ke arahku, tapi tubuh ini serasa kaku melihat semua yang telah terjadi. Bagaimana tidak sebelumnya mata itu terpejam seakan menikmati apa yang terjadi. Ya wanita itu mencoba mengatakan sesuatu namun apa yang ada dihadapanku sudah mengatakan semuanya

ÔÇ£mmmm… mmmmmmm….ÔÇØ hanya itu yang aku dengar dari bu dian sedangkan pak lix terus memburu bibir bu dian

Aku terpaku, kaku dan tiba-tiba tanpa aku sadari mata ini berkaca-kaca. Setelahnya aku tersenyum kepada wanita dengan tangan kririnya yang mengarah ke arahku. Aku kemudian menunduk, dengan masih tersenyum dan sedikit membungkukan tubuhku aku berbalik lalu meninggalkan kedua manusia yang sedang bermandikan asmara. Dengan langkah yang tegap dan pandangan kedepan, air mata ini mengalir dengan sendirinya di pipiku. Bibirku mulai layu dari senyuman yang biasanya terlukis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*