Home » Cerita Seks Mama Anak » Obsesiku 1

Obsesiku 1

Prologue

Kami hidup di kota Jakarta. Bukan sebagai keluarga kaya atau berada, melainkan keluarga sederhana yang mengarah kepada miskin. Ayahku adalah supir Bus antar kota antar propinsi. Sehingga ia sering tidak di rumah, apalagi ternyata ayahku punya isteri muda di kota lain. Ibuku sendiri hanyalah ibu rumah tangga. Aku adalah anak tunggal. Namaku Hendra. Ibuku melahirkan aku ketika beliau berusia 18 tahun. Sekitar tahun kelahiranku itu, ternyata ayahku menikahi gadis di kampungnya yang berusia 16 tahun. Kisahku yang kutuangkan kepada saudaraku Guo Jing, atau yang dikenal di dunia perlendiran sebagai Sang Pemanah Rajawali adalah kisah aib, tetapi aib yang aku lakukan adalah aib yang aku sangat sukai. Aib yang tidak ingin aku tinggalkan.

Aib ini terjadi karena kedekatan antara aku dan ibuku. Berhubung aku anak tunggal, sedari kecil aku selalu tidur dengan ibu. Apalagi ayah jarang di rumah. Kami tinggal di kontrakan satu pintu. Kamar tidur cuma satu. Bila ayah ada, maka aku akan tidur di matras di samping tempat tidur, bahkan terkadang di ruang tamu depan. Masa kecilku cukup bahagia. Aku tidak kemaruk harta, sehingga keadaan kami yang pas-pasan tidaklah menjadi sesuatu yang menjadikanku sedih. Ini karena ibuku yang selalu menjaga dan merawatku selalu. Ia akan berusaha membuat aku senang dan tertawa walaupun terkadang keadaannya sangat memprihatinkan.

KELAS SATU

Aku sendiri anak yang normal pada mulanya. Hingga suatu saat waktu aku kelas 1 SD dan usiaku masih 7 tahun, aku mulai berubah sedikit demi sedikit menjadi anak kecil yang berpikiran kotor. Ibuku bila di rumah selalu pakai daster dengan model dua tali yang memperlihatkan bagian punggungnya di antara belikat. Depannya sih tak terlalu rendah sehingga belahan dadanya tak sampai terlihat. Tetapi punggungnya selalu terbuka. Dan suatu saat ketika aku tidur siang berdua, aku yang belum tidur memperhatikan punggung ibu dan merasa tiba-tiba kagum. Ada tanda di tengah belikat ibu, tepat di tengah tulang belakangnya, yaitu ada tahi lalat hitam kecil yang menurutku membuat punggung ibu jadi indah. Kulit ibuku sendiri putih, karena ia dari daerah pasundan. Hanya saja, kalau mau jujur, wajah ibu tidak bisa dibilang cantik, malah, bibirnya agak tebal atau dower. Tidak setebal orang Afrika, melainkan terlihat agak mencolok. Matanya malah agak sedikit sipit, tapi hidungnya mancung. Sehingga bila dinilai secara keseluruhan, orang bisa bilang bahwa wajah ibuku bernilai 6. Tidak jelek, tapi bukan wajah yang membuat lelaki terpana.

Yang menjadi kelebihan ibu selain kulitnya putih adalah tubuh ibu yang memiliki lekuk yang seksi. Pinggulnya lebar, dengan perut yang hanya sedikit buncit, tanda bahwa ia pernah melahirkan. Selain itu, buah dada ibu cukup besar dengan cup B. Sebenarnya, ibu selalu memaki BH dengan cup yang lebih kecil sehingga bila ia keluar rumah, orang-orang banyak yang tidak tahu bahwa dada ibu itu sebenarnya cukup besar, apalagi beliau selalu berpakaian tertutup dan longgar. Sehingga bila ada orang yang bertemu dengan ibu di luar rumah, tidak ada yang tahu bahwa ibu memiliki tubuh yang seksi sekali. Bila wajahnya 6, bodi ibu minimal nilainya 8. Tubuh wanita dewasa yang menunjukkan apa artinya keindahan natural. Tanpa operasi, tanpa obat langsing, tanpa kelainan anoreksik. Tubuh ibu yang semok itu tidak terlihat gemuk, namun paduan antara kedua tangan, kedua kaki yang mebingkai keseluruhan tubuhnya bagaikan perpaduan sempurna bagaikan lukisan dewi Venus kuno.

Kembali ke masa aku SD. Saat itu aku yang sedang terkagum-kagum mendekatkan diri ke punggung ibu untuk melihat tahi lalatnya itu. Tiba-tiba saja hidungku mencium aroma tubuh ibu yang amat lembut yang menguar dari kulitnya yang putih dan terlihat mengkilat disinari cahaya lampu kamar. Aku sangat menyukai bau tubuh ibu. Ibu tidak memiliki bau seperti ibu Jenar sebelah rumah yang baunya kayak kuli bangunan, atau ibu Atik yang keteknya bau asem. Bau tubuh ibu tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia. Bukan wangi bunga atau buah segar, hanya saja itulah bau khusus yang keluar dari tubuhnya. Tak terasa hidungku menyentuh punggung ibu yang terasa halus. Entah kenapa tititku jadi keras. Tapi aku jadi suka sensasi ini. Aku tak tahu harus ngapain saat itu, tapi aku ingin menghirup bau ibuku ini terus menerus, maka aku hanya bisa memeluk ibu dari belakang perlahan dan melanjutkan tidur dengan menghirup aroma tubuh ibuku itu.

Ketika aku bangun ibu sudah tidak ada, karena sudah sore. Maka aku kemudian bangun dan melanjutkan aktivitas sore seperti mandi dan belajar. Namun, mulai dari situ aku menjadi terobsesi dengan tubuh ibu, terutama wangi tubuhnya dan juga punggungya yang memiliki tahi lalat kecil yang bagiku adalah pemandangan paling indah.

Malamnya aku menunggu ibu dengan tak sabar. Ketika akhirnya ia masuk kamar dan tidur, aku yang masih polos dan belum tahu benar atau salah, belum takut dimarahi untuk banyak hal, maka aku mengatur bantalku di sampin punggung ibu lalu segera memeluk ibu dari belakang dan menaruh hidungku di tahi lalat ibu. Ibu sedikit kaget namun tidak berkata apa-apa. Ia hanya memegang tanganku yang saat itu mendekap perutnya. Kunikmati aroma tubuh ibu selama mungkin. Apalagi halus kulit ibu yang tersentuh hidungku itu menambah kenikmatan tersendiri. Inginnya aku tidak tidur, aku berusaha terjaga sebisa mungkin, namun akhirnya kantuk juga yang menang dan aku tertidur sambil memeluk ibu dan bernafas di punggungnya. Mulai saat itu aku selalu tidur dengan memeluk ibu dan menghirup aroma tubuhnya hingga aku tertidur.

KELAS DUA

Kebiasaanku terus berlangsung selama setahun hingga pada kelas dua, aku mulai ingin mengendusi punggung ibu lebih sering lagi. Suatu saat ibu sedang nonton TV sore-sore. Berhubung kami tak punya bangku, kami memakai karpet lusuh di tengah ruang tamu tanpa perabot lain. Hanya ada lemari di situ. Ibu biasa nonton tv tidur miring menghadap TV. Aku tiduran di samping agak belakang. Selama ini bila aku mau minta jajan aku agak kolokan dengan menggelendoti ibu, maka aku jadi punya ide. Maka aku memeluk pinggang kanan ibu, karena aku ada di kirinya. Pipiku menempel di lengan kanan ibu yang halus dan harum.

“Ibu…….”

“Mau apa? Jajan ya? Ini tanggal tua, Ndra….. Ibu ga ada duit…..”

“Yaaaahh…. Masa ga ada sih?”

Sementara lubang hidungku kupepet ke lengan harum ibu sehingga aku bernafas di lengan ibu.

“kamu jangan marah ya? Tapi ibu memang ga ada duit,” katanya lagi.

“Hendra akan peluk ibu terus kalau ga dikasih….”

Pikirku ini akan win-win solution karena kalau dikasih aku bisa jajan, kalau enggak aku bisa endusin ibu. Maka aku beranikan diri merebahkan diri di belakang ibu menyamping juga dengan tangan kiri menyusup ke bawah tubuh ibu, sementara ibu mengangkat tubuhnya sehingga kedua tanganku memeluk ibu dengan kedua tangan di perutnya yang langsing. Kata ibu,

“Peluk aja sampai bosen. Ibu emang ga punya duit…..”

Aku dengan senang hati merapatkan diri ke tubuh ibu. Walaupun aku tak berani menempelkan bagian bawah tubuh, namun kepalaku kini aku taruh dilantai namun hidungnya sudah dekat sekali di bahu kiri ibu. Tali daster ibu jatuh sehingga hidungku hampir menempel di belikatnya. Setelah beberapa menit tak ada apa-apa, aku memajukan hidungku hingga menempel sedikit di belikat ibu sehingga kini aku menghirup bau tubuh ibu dengan lebih baik. Entah berapa lama aku mengendusi ibu, sampai akhirnya ibu melepaskan diri karena sudah waktunya mandi.

Mulai saat itu, tiap nonton TV, aku akan memeluk ibu dari belakang dan mengendusi tubuhnya. Hingga lama kelamaan hidungku bukan hanya menyentuh sedikit kulit ibu, namun aku menempelkan hidungku dan bernafas di kulitnya yang indah itu. Pernah ibu ingin memberikan duit kepadaku untuk jajan namun aku bilang aku ga butuh jajan dan duitnya lebih baik di simpan aja. Bukannya karena aku anak yang tidak ingin membebani ibu, tetapi karena sebenarnya aku lebih memilih mengendusi tubuh ibu.

Sampai saat itu aku mengendusi ibu ketika kami tidur siang atau sore dan juga waktu ibu menonton TV. Yang membuatku bahagia adalah, ibu tidak pernah berubah sikap terhadapku. Tidak ada larangan dari mulutnya keluar, seakan apa yang aku lakukan itu adalah hal yang biasa, yang tak perlu dibahas. Aku makin menyayangi ibuku karena beliau tidak risih saat anak kandungnya menempelkan hidung di punggungnya yang terbuka. Namun, enam bulan kemudian aku mau lebih. Wangi tubuh dan kehalusan kulit ibu menjadi candu bagi aku yang kecil ini. Bila ibu sedang duduk, entah sedang menghadap meja di ruang tamu, entah sedang cuci piring di bak tempat cuci piring, pokoknya bila ibu tidak sedang berjalan, selama tubuh ibu berdiam cukup lama, aku akan memberanikan diri entah duduk atau berdiri di belakangnya dan mengendus punggungnya yang terbuka.

Pertama kali aku memberanikan diri adalah ketika ia menjahit di ruang tamu yang tanpa kursi itu, kami sudah makan malam dan menonton TV. Aku sudah mengendus-endus punggungnya seperti biasa dengan tiduran di belakang ibu, namun ibu baru ingat bahwa ada baju yang harus dijahit. Maka ibu mengambil kotak jahit dan baju yang dimaksud untuk kembali ke ruang tamu untuk menjahit sambil menonton TV. Ibu bersimpuh di depan meja kecil yang ada di tengah ruang tamu. Biasanya, bila ibu menghentikan kegiatanku untuk mengendusi tubuhnya, aku akan menunggu sampai ibu menonton TV lagi dengan tiduran, atau sampai waktunya kami berdua tidur. Namun malam itu, aku memberanikan diri untuk duduk di samping ibu, melingkarkan tanganku di pinggangnya dan perlahan mulai menaruh hidungku di bahunya. Berhubung aku di samping maka pinggir badanku mengenai lengannya.

“Awas dong… Lagi jahit nih….. ” kata ibu.

Maka aku bergerak ke belakangnya dan memeluk ibu dengan kedua tanganku dan menempelkan pipiku ke punggungnya.

“Akhir-akhir ini kamu kolokan…….” kata ibu dengan perlahan.

Aku menunggu perkataan ibu selanjutnya. Pikirku ia pasti akan marah. Tapi tidak ada lanjutan dari mulutnya. Menurutku itu cukup. Aku sedikit menempelkan sebelah hidungku dan aku disuguhi wangi tubuh perempuan yang melahirkanku ini. Sungguh nikmat. Setelah beberapa menit aku ganti pipi yang satu lagi dan melanjutkan endusanku. Akhirnya setelah bosan dan ga tahan, aku tempel hidungku di tahi lalat ibu.

Tahu-tahu ibu berkata,

“Ibu perhatiin kamu seneng banget ngendus-ngendus badan ibu. Ga kebauan?”

Aku kaget. Dengan terbata-bata aku berkata,

“Eng….engg… Engggak bu…… Ibu ga…… Ba… Ga bau…..”

“Kamu ada-ada saja tingkahnya,” kata ibu untuk kemudian kembali terdiam. Aku sedang bingung apakah ibu marah atau tidak padaku. Bila marah, nada suara ibu biasanya tinggi. Tapi tadi tidak. Maka dengan jantung berdebar keras aku mengendusi ibu lagi. Kali ini ibu terdiam. Aku mengendusi ibu hingga ibu selesai menjahit. Entah berapa lama aku mengendus-endus punggung ibu, walau akhirnya ibu selesai menjahit dan setelah itu kami tidur, dan seperti biasa aku memeluk ibu dari belakang dan kembali mengendusi punggungnya.

Aku sebenarnya saat itu heran kenapa ibu tidak marah, namun aku menjadi bahagia karena ibu tidak pernah melarang aku. Setelah aku lebih besar dan hubunganku dengan ibu lebih intim, aku baru mengetahui bahwa sebenarnya saat aku kelas dua ibu sedang merasa kesepian dan sedih, berhubung ayah ketahuan punya isteri muda di kampung. Ibu saat itu merasa tertekan dan merasa bahwa dirinya jelek karena ayahku berpaling pada wanita lain. Maka dari itulah, ketika aku mulai mengendusi ibu secara terang-terangan, ibu menjadi terhibur. Perhatianku kepada ibu itu membuat ia mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Bahwa masih ada seseorang yang menyukai kedekatan dengan ibu. Masih ada orang yang tidak menganggap ibu wanita yang jelek.

Semenjak saat itu, kapanpun ibu duduk atau tiduran, aku akan selalu berusaha berada di belakangnya untuk kemudian mengendusi punggungnya. Kegiatan endus-mengendus itu berlangsung selama beberapa bulan dan semakin lama aku semakin berani. Pada mulanya aku hanya menaruh hidung di tengah punggungnya, namun suatu ketika aku coba menggeser hidungku ke kiri, ibu tidak protes. Kugeser ke kanan juga tidak ada tanggapan. Maka lama kelamaan aku mulai mengedus tubuh ibu perlahan dari tengah kemudian bergerak ke pinggir ke arah belikat untuk kembali ke tengah lalu terus ke pinggir satu lagi dan kembali ke tengah. Lama kelamaan gerakanku tidak hanya kanan kiri, tapi mulai bervariasi. Aku kadang ke atas ke bawah juga. Sehingga beberapa bulan kemudian saat aku kelas tiga, aku akan mengendusi seluruh punggung ibu yang tidak tertutup daster.

KELAS TIGA

Entah kenapa nafsuku perlahan seiring waktu juga makin tinggi. Dari mengendus perlahan, sedikit sedikit aku makin kuat menghirupnya. Semakin lama hidungku semakin berani menekan kulit punggung ibu dan nafasku semakin kuat menghirup wangi tubuh ibu. Dan juga, kini setiap aku melihat ibu di rumah aku selalu nafsu dan mendekati ibu untuk mengendusnya.

Tiap pagi, aku bangun, mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Tidak ada kesempatan mengendus ibu karena ia sibuk di dapur dan aku tak mau mengganggu. Namun tiap berangkat aku akan cium tangan ibu. Setelah kelas tiga, di mana aku sudah berani mengendusi ibu tatkala ia sedang tidak bergerak, aku juga mulai berani mencium pipinya. Pada mulanya hanya sebelah pipinya. Ibu nampak terkejut namun tidak berkata apa-apa. Lama kelamaan aku mencium tangan ibu lalu kedua pipinya.

Pulang sekolah biasanya ibu sedang menonton TV. Aku akan mencium tangan dan kedua pipinya, untuk kemudian cuci muka dan ganti baju rumah. Lalu aku akan tiduran di belakang ibu seperti biasa lalu tak sungkan lagi mengendusi punggungnya, hingga waktunya tidur siang di mana aku biasanya akan mengendus-endus punggung ibu terus sampai aku terlelap. Sorenya aku bangun dan mengerjakan PR, berhubung ibu marah kalau aku tidak belajar. Bila sudah selesai, aku akan mendekati ibu apapun yang sedang ia kerjakan, apakah ia sedang membaca, menjahit atau nonton TV, aku akan mengendusi punggungnya lagi. Sebelum maghrib aku akan mandi, kemudian menunggu ibu yang gantian mandi. Setelah itu ibu akan menyiapkan makan malam dan ketika selesai kami akan makan malam. Setelahnya aku akan kembali mengendusi punggung ibu.

Kelas tiga itu, tingkahku makin tak genah saja. Aku bahkan mulai mengendus-endus lengan ibu. Itu juga karena pernah beberapa hari, ibu sengaja duduk menonton tv bersandarkan dinding dengan duduk menghadap TV, sehingga punggungnya selalu tertutup. Aku mula-mula kecewa dan tidak melakukan apa-apa, namun akhirnya aku sebal, karena sejak hari kedua ibu menutup punggungnya, aku dapat melihat senyum sinis ibu. Tampaknya ia sengaja menolak aksesku ke punggungnya. Aku yang menjadi kesal, memberanikan diri duduk di samping ibu kala nonton TV lalu mulai mengendus lengannya dengan semangat 45.

“Apaan sih kamu?” tanya ibu. Aku pura-pura tidak mendengar. Dengan deg-degan aku meneruskan kegiatanku itu dan ibu tidak berkata apa-apa lagi. Malamnya pun ketika ibu tidur telentang aku memeluknya dari samping dan mengendusi lengannya kembali. Akhirnya keesokan harinya ibu kembali beraktivitas seperti biasa, dan membiarkan aku mengendusi punggungnya lagi. Tampaknya ia menyerah dan membiarkan aku melakukan aktivitas favoritku, yaitu mengendus-endus tubuhnya.

Namun, karena aku juga suka dapat mengendusi lengannya yang berarti aksesku bertambah, terkadang kala aku tidur, aku mengendus lengannya dahulu, kemudian punggung. Apalagi area ketiaknya, walaupun ibu menutup ketiaknya, tapi bau yang terpancar dari ketiaknya itu terasa lebih greng bila kuendus di sudut lengan ibu. Sepanjang kelas tiga, aku menikmati kebebasan untuk mengendusi lengan dan punggung ibu, setiap saat aku mau, dan sepanjang aktivitasku itu berlangsung, ibu tidak akan memberikan reaksi apapun, bagaikan ia tidak merasakan bahwa anak tunggalnya sedang mengedus-endus punggung dan lengannya.

Setahun sekali kami akan pergi ke kampung ibu. Terkadang ayah menyusul, namun cuma sebentar. Dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa lama-lama ditinggal, padahal sih dia memang lebih betah tinggal di tempat isteri mudanya. Dalam perjalanan ke kampung ibu, aku selalu merangkul ibu layaknya anak kolokan. Hanya saja aku tidak berani mengendus ibu di tempat umum.

Maka dari itu aku sebal bila harus ke kampung ibu karena kesempatanku lebih kecil lagi di situ untuk mengendusi tubuh ibu. Di rumah nenek, kami diberikan kamar tidur adik bungsu ibu yang saat itu masih berumur 15 tahun yang bernama Ela. Singkatan dari Nurlela. Sebenarnya orangnya cantik, tapi dari dulu aku selalu menganggapnya sebagai kakak perempuan yang aku tak punya, jadi aku tak punya nafsu kepadanya. Apalagi saat itu aku sedang terobsesi dengan ibuku sendiri. Ia tidak mau kupanggil bibi, melainkan Mbak Ela. Mbak Ela memiliki kulit kuning langsat, tidak seputih ibuku, tetapi wajahnya lebih cantik. Bibirnya tipis dan hidungnya agak mancung dan mata yang sedikit belo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*