Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 29

Wild Love 29

Sesampainya di hotel tempat pak dhe dan tante ima bertemu, aku langsung menuju resepsionis. Ku perlihatkan kertas yang bertandakan lambang hotel tersebut. Resepsionis kemudian memberikan aku kunci dan setelahnya aku bergerak menuju ke kamar hotel tersebut. Sesampainya di kamar hotel, kamar dengan model yang sama dengan milik bu dhe waktu itu. Aku membuka jendela dan menyulut sebatang dunhill, aku duduk di pinggiran jendela.

ÔÇ£entah apa yang akan terjadi sore ini, besok aku akan….ÔÇØ bathinku

Centung… centung… centung…. BBM notifikasi. Bu Dian. Kubuka pesan tersebut.

From : Bu Dian
PING!
From : Bu Dian
Hai Ar, apa kabar?
From : Bu Dian
Besok penarikan ya?
To : Bu Dian
Baik Bu, bagaimana kabar Ibu?
Iya bu besok penarikan
From : Bu Dian
Baik juga, kalau begitu besok kita ketemu di perusahaan jam 8 pagi saja ya
To : Bu Dian
Ibu juga ikut? Kan hanya penarikan saja bu
From : Bu Dian
Kamu kan tanggung jawabku, jadi aku harus tahu tentang kamu di tempat PKL
To : Bu Dian
Iya bu terima kasih sebelumnya
Tapi biasanya dosen tidak iku tidak apa-apa bu
Berdasarkan pengalaman kakak tingkat
From : Bu Dian
Pokoknya kamu datang saja jam 8
Ndak usah bantah
From : Bu Dian
Iya bu iya, maaf saya hanya menyarankan ke ibu saja
Mungkin saja ibu ada urusan atau bagaimana daripada nanti mengganggu urusan ibu
From : Bu Dian
Ya, mpe ketemu besok
To : Bu Dian
Iya bu
ÔÇ£Dasar dosen judes, di gampangin malah pengen susah. Kakak tingkatku saja tidak ada yang diantar dosen waktu penerjunan apalagi penarikan. Dian JUDES!ÔÇØ bathinku

Jujur saja aku tidak pernah tahu jalan pikiran dari dosenku ini. kenapa juga harus dia yang menjadi Dosbing dan DPL-ku, membuat rumit saja dengan kehadiran dosen ini. rumit? Jelas rumit… karena setiap kali aku bertemu dengannya membuat aku kadang membencinya kadang juga muncul rasa kasih sayang. Ah bodoh lah… aku kemudian melepas jaketku serta baju HEM-ku, dan kini hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Aku merebahkan tubuhku di tengah-tengah tempat tidur yang luas, itu hingga aku terkantuk dan tertidur.

ÔÇ£Eh… eh… eh…. apa ini?ÔÇØ bathinku

Kubuka mataku yang sudah terlelap dan kupandangi bagian selangkanganku. Seorang wanita berkerudung merah jambu sedang mengulum dedek arya, entah kapan bagian bawahku telanjang seperti ini. sambil menjilati batang dedek arya dari bawah keatas dipangdangnya wajahku dengan senyuman nakalnya, mbak echa.

ÔÇ£Erghhh… mbak…ÔÇØ ucapku lirih yang diiringi oleh gelombang nafsu yang mulai meledak-ledak

ÔÇ£Kok mbak? Mamah dong pah slurpp slurrppp…ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£oh ya mamah, ini jam berapa oughhhh…. sedot kencang mah….ÔÇØ racauku

ÔÇ£jam slurp setengah slurp lima slurpp….ÔÇØ ucap mbak echa sambil menjilati dan mengulum

ÔÇ£terus mah lebih kuat lagi sedotannya oughhh ya jilati semuanya mah emmmhhh….ÔÇØ ucapku

Kira-kira beberapa menit berselang tiba pintu kamar hotel terbuka. Dengan wajah penuh kenikmatan aku kemudian menoleh kearah pintu hotel. Masuklah seorang wanita yang tidak asing lagi bagiku, mbak ela.

ÔÇ£Mbak… mbak, sudah ada mbak elaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sudah tenang saja Ar, aku kesini kan juga pengen gara-gara mbak echa hi hi hiÔÇØ ucap mbak ela yang kemudian menutup pintu dan melangkah mendekati kami berdua

ÔÇ£tenang saja papah, sekarang kan hari terakhir mamah kasih mami tuhÔÇØ ucap mbak echa santai

ÔÇ£iiihh gemesin ternyata ya mbak, ndak rugi aku ikut mbakÔÇØ ucap mbak ela

Aku hanya terbengong-bengong dengan kelakuan mereka berdua. Yang satu berkerudung merah jambu dan yang satunya lagi berkerudung biru muda. Mbak echa masih sibuk mengulumi batang dedek arya, yang kemudian tiba-tiba menarik kakiku. Aku yang tidak tahu apa yang akan mereka lakukan hanya pasrah dan menuruti tarikan mbak echa yang kemudian di bantu mbak ela. Kini posisiku duduk di pinggir ranjang dengan kedua paha terbuka lebar. Dan….

ÔÇ£Papi, sekarang papi harus kuat ya papi, akan ada mamah sama mami hi hi hiÔÇØ ucap mbak ela yang kemudian cup melumat bibirku

Aku sedikit terkejut dengan tindakan mbak ela yang kini duduk disampingku dan mbak echa yang sibuk mengulumi dedek arya. setelah keterkejutan itu, nafsuku kembali meledak-ledak. Kulumat bibir mbak ela, kurengkuh tubuhnya dengan tangan kananku sedang tangan kiriku meremas-remas payudaranya. Dibukannya kaosku oleh mbak ela, memang terlihat lebih profesional daripada mbak echa ketika pertama kali aku main. Ini aku benar-benar telanjang di hadapan dua wanita berkerudung ini. Dijilatinya putingku oleh mbak ela, kuelus kepalanya dengan tangan kiriku sedang tangan kananku mengelus-elus kepala mbak echa. Trisum? Ini pengalaman pertamaku.

ÔÇ£Mah, gantian dong…ÔÇØ ucap mbak ela

ÔÇ£sluuurrrrp ah… iya mi, ni enak lho mi, mamah aja ketagihan hi hi hiÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£haduh… mah, mi… satu-satu… sajah hash hash has bbbbbbbbbebebeb…ÔÇØ ucapku yang langsung disumpal oleh bibir indah mbak echa sambil memainkan putingku.

Kini giliran mbak ela yang mengulum batang dedek arya. benar-benar sensasi yang luar biasa, dua wanita berkerudung ini memiliki nafsu yang besar terhadapku. Ciuman mbak echa turun ke putingku dimainkannya lidahnya. Batang dedek arya pun tak kalah nikmat, di jilatinya dan dikulumnya oleh bibir indah mbak ela. Selang beberapa saat, mbak echa turun dan bersimpuh disebelah mbak ela. Mbak ela masih mengulum batang dedek arya naik turun sedang mbak echa tiba-tiba mengulum buah zakarku.

ÔÇ£Ayo mah, mi nikmati kontol papah ini kontol papi ini oughhh… nikmat sekali… senyum dong mah mi ke papah owghhh…ÔÇØ ucapku yang kemudian mereka berdua melakukan aktifitasnya dengan memandangku. Entah dikomando atau tidaknya, mereka secara bergiliran menikmati batang dan zakarku.

ÔÇ£terushhh sedooooth yang kuat, kontol papah mau keluar owghhh ayo mih kulum yang telur papi ughhhh….ÔÇØ racauku

ÔÇ£arghhh keluar mau keluar mamah mami papah mau keluar papi keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar….ÔÇØ teriakku

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Dengan gerak cepatnya mereka membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya ke arahku. Dengan memgang dedek arya, kuarahkan ujung penisku ke mulut mereka masing-masing. Beberapa ada yang tercecer di wajah mereka. Setelah puncakku selesai, aku bertumpu dengan kedua tanganku kulihat mereka melap wajah mereka dengan jari-jarinya. Setelah beberapa saat. Kutarik mereka berdua untuk rebah di tempat tidur, kulolosi celana dalam mereka semua. Dan…

ÔÇ£Papiiiiiiiiiiiiiii…. erghhh diapain itu piii erghhhhhh… aduuuh enak banget pi memek mami oughhhh terus pi jilat pi itil mami, sedot pi jilati pi….ÔÇØ ucap mbak ela

ÔÇ£erghhhhhhhhhhhh… papah owghhh kocok yang lebih keras pah jari papah enak owghhh… yah terus pah terussshhhh….ÔÇØ ucap mbak echa yang aku kocok dengan jari tengah kananku

ÔÇ£papi papi aduh pi kok enak banget pi, aduh jari papi ouhhhh…. terus pi lebih keras lagi pi ngocoknya…ÔÇØ ucap mbak ela yang menerima jilatan lidah dan kocokan jaru kiriku

Lama aku melakukannya, tubuh mereka bergerak tidak karuan. Hingga akhirnya tubuh mbak ela mengejang terlebih dahulu, tak menunggu lama aku berpindah fokus ke vagina mbak echa. Langsung aku lahap vaginanya.

ÔÇ£hesh hesh hesh… mamah ndak salah pilih papahÔÇØ ucap mbak ela yang kemudian menciumi mbak echa dan meremas-remas susunya

ÔÇ£Erghh… mami owghh… papah… essssssssssssshh yang keras pah nyodoknya ouwgh… lebih keras lagi mamah mau keluar… mami remas yang kuat mih owghh….ÔÇØ racaunya

ÔÇ£egh egh egh egh egh..ÔÇØ tubuh mbak echa mengejang aku kemudian bangkit dan memandang separang wanita berkerudung ini sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan.

Segera aku mendekati mereka berdua, tanpa babibu aku mulai melepaskan pakaian mereka semua. Tanpa disuruh pun mereka melepaskan semua pakaiannya begitu pula dengan kerudungnya. Sekarang di hadapanku terpampang dua wanita telanjang. Yang satu manager yang satunya kepala lab, WOW.

ÔÇ£pah, mami dulu saja tuh dah pengen tapi papah dibawah ya hi hi hiÔÇØ ucap mbak echa

Aku hanya tersenyum dan kemudian memposisikan tubuhku terlentang. Mbak ela dengan perlahan memasukan dedek arya di vaginanya.

ÔÇ£ufttthhh sempit banget mih…emmmmm…..ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sempitlah pih, punya papih gede… erghhhh…. ah ah ah ah ah ah ah….ÔÇØ ucap mbak ela yang setelahnya menggoyang pinggulnya naik turun. Mbak echa kemudian memposisikan dirinya mengakangi kepalaku. Sambil merasakan nikmat dari vagina mbak ela, aku mainkan kembali klitoris mbak echa. Kulihat mbak echa juga memainkan puting susu mbak ela yang sedang naik turun memompa dedek arya.

ÔÇ£owghh… kontol gede emmmm mentok pih mentok pih owghh…. mamah owghh… terus mah dimainkan mah….ÔÇØ racau mbak ela

ÔÇ£awwww… papah jangan digigit pahÔÇØ ucap mbak echa sedikit menngangkat pinggangnya, aku hanya tersenyum

Tiba-tiba, mbak ela menaik turunkan pinggulnya dengan sangat cepat. Kepalanya mendongak ke atas, ritme goyangannya lebih cepat. Mbak echa kemudian turun dari kepalaku dan kini duduk di kasur tepat di atas kepalaku. Kupegang tubuh mbak ela, kuremas susu indahnya itu. Rambut panjangnya awut-awutan dengan susu seukuran mbak echa namun lebih kecil sedikit.

ÔÇ£papih pappih kontol papppppih masuk dalem enak , besar, mamih suka arghhh mami suka kontol papik di memek mamih owghhh argghhh yah enak enak enak bangetttthhhhh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaÔÇØ ucapnya yang kemudian ambruk di atas tubuhku, perlahan mbak ela kemudian turun dari tubuhku dan tidur terlentang dengan nafas tersengal-sengal. Kucium keningnya dan pipinya, namun tak perlu lama, mbak echa langsung menelantangkan tubuhku. Dinaiki tubuhku dan…

ÔÇ£ini kontol kesukaan mamah owghhh… yah enak sekali… hmmm…. owgh…. dalemmmm bangetthhh oghhhh…. erghhh….ÔÇØ ucapnya sambil menggoyang pelan pinggulnya

ÔÇ£ayo goyang mamah sayang…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Seperti ini pah… ah ah ah ah ah ah ah… kontol nikmat kontol papah nikmat oghh… yah nikmat sekali ouwghh yeah…..mmmmm…ÔÇØ ucap mbak echa, aku hanya mampu memandanngnya dengan meremas-remas susunya

Sama seperti mbak ela, tubuh mbak echa tiba-tiba menggoyang dengan kecepatan tinggi. Aku tak mampu lagi meremas susunya, kupegang pinggulnya saja. Kedua tangannya bertumpu pada dadaku. Goyangannya semakin liar

ÔÇ£owgh papah enak banget kon… tol… pa…. pah aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaÔÇØ ucapnya yang langsung ambruk di tubuhku.

Kukecup keningnya dan kemudian aku rebahkan di sampingku. Aku kemudian bangkit dan mencoba menubruk mbak echa.

ÔÇ£paaah… sama mamih yang sudah istrirahat tuh…ÔÇØ ucap manja mbak echa

ÔÇ£oh iya…ÔÇØ ucapku langsung merangsek ketubuh mbak ela dan bet bet bet blessss

ÔÇ£awwwwwwwww….. pelan piiiiihÔÇØ

ÔÇ£pelan pih pelan aggh ah ah ah kontol papih masuk dalem banget owghhh… terusssh pih tersu pih owghh ya begitu pih terus pih jangan berhentiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£memek mamih sempit enak mih owghh…ÔÇØ racauku. Aku menggoyang dengan lebih cepat lagi.

ÔÇ£papih mami keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarÔÇØ ucap mbak ela dengan tubuh melengking ke atas dan kemudian mengejang lagi

ÔÇ£hash hash has… sama mamah pih hash hash hashÔÇØ ucapku sedikit kecewa karena baru saja menggoyang sudah keluar lagi. Aku beranjak kembali ke arah mbak echa dan blesss….

ÔÇ£Ayo pah, puaskan dirimu pah akan mamah buat papah keluar….ÔÇØ ucapnya dengan senyuman nakal

ÔÇ£Owghh… ya mah buat kontol papah keluar… ughhhh smepit enak mah….ÔÇØ ucapku sambil menggoyang

ÔÇ£iya pah terus goyang lebih keras lagi pah owghh…. nikmat pah kontol papah nikmatÔÇØ ucap mbak echa

Aku terus menggoyang dengan sangat keras dan cepat. Tubuh mbak echa bergerak tidak karuan, hingga akhirnya tubuhnya melengking dan kurasakan cairan hangat membasahi dedek arya. namun aku tidak menghiraukannya. Aku tetap dan terus menggoyang pinggulku.

ÔÇ£cepeet pah, mamah capeeekhhh arghhh cepat pah keluarkaaaaaaaannn….ÔÇØ racaunya

ÔÇ£iya mah ini sedikit ah ah ah lagiiiiiihh…. oghhh…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£papah keluaaaaaaaaaaaaar…..ÔÇØ ucapku

Yang langsung mencabut dedek arya dan kuarahkan ke wajah mbak echa. Dan crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot tumpah spermaku di wajah mbak echa. Mbak ela yang melihat itu kemudian mendekat dan menjilati spermaku yang berada di wajah mbak echa. Aku kemudian duduk dan memandangi tingkah mereka. Aku hanya tidak habis pikir dengan ulahku selama ini hingga saat ini. kuamati mbak echa hanya terdiam dan kemudian memejamkan mata, nampaknya dia begitu kelelahan. Di tambah lagi mbak ela yang kemudian memeluk mbak ela dan ikut tertidur. Aku kemudian bangkit dan ke kamar mandi membersihkan diriku. Setelah bersih aku pakai lagi pakaianku, kuamati 3 nampan berisi makanan di meja kamar. tanpa minta ijin aku langsung melahapnya.

ÔÇ£Lapar ya pah? Hi hi hiÔÇØ ucap mbak echa yang kemudian bangkit dan menuju kamar mandi

ÔÇ£heÔÇÖemmmm mmmÔÇØ ucapku memandang mbak echa yang masuk kamar mandi

Setelah selesai makan aku buka jendela kamar hotel, seperti biasa aku duduk di jendela dengan sekaleng minuman yang tersedia dimeja tadi. Kusulut dunhill, ku buang asap-asap penuh nikotin itu keluar jendela.

ÔÇ£hati-hati pih ntar jatuh lhoÔÇØ ucap mbak ela yang aku balas hanya dengan senyuman.

Mbak ela kemudian bergantian dengan mbak echa untuk membersihkan badan. Kulihat mbak echa tersenyum kepadaku sambil mengenakan pakaiannya. Mbak echa kemudian makan selang beberapa saat mbak ela keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya lagi. Mereka kemudian makan bersama. Aku masih di jendela dengan dunhill ketiga yang aku sulut, kupandangi wajah ayu mereka ketika berkerudung.

ÔÇ£Kenapa mbak eh… mamah ngajak mamih?ÔÇØ ucapku tiba-tiba

ÔÇ£kan dia simpanannya suami aku pahÔÇØ ucap mbak echa santai

ÔÇ£Hah!ÔÇØ aku terkejut

ÔÇ£Sudah jangan terkejut gitu pahÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£ya mau gimana lagi pih, kan diajak mamih hi hi hiÔÇØ ucap mbak ela

Kemudian mbak echa menceritakan kejadiannya, dimana setelah dengan aku suaminya sering berada dirumah. Walau hanya baru beberapa hari setelah aku bermain dengan mbak echa, suaminya jarang sekali keluar karena sudah merasakan nyaman dengan mbak echa. Namun ketika hari keempat, atau tepatnya kemarin mbak ela menemui mbak echa. Mbak ela kemudian menceritakan semuanya, semua tentanng suaminya yang sering ke rumah kontrakannya. Di awal mbak echa kaget dan marah, namun kemudian mbak ela memohon untuk didengarkan terlebih dahulu. Suami mbak echa memang selama ini selalu melakukan perjalanan dinas, namun ada satu hari dalam satu minggu tepatnya di hari ketiga atau rabu suami mbak echa ijin dinas tapi berbelok ke rumah mbak ela. Awalnya memang mbak ela mengenal suami mbak echa ketika main kerumah mbak echa, namun ternyata suami mbak echa mendekati mbak ela. Dan mbak ela jatuh dalam pelukannya. Hingga beberapa hari ini, suami mbak echa mulai meninggalkan mbak ela. Dengan seribu alasan suami mbak echa meminta untuk menghentikan hubungan ini yang akhirnya diketahui adanya kemungkinan kepuasan bermain dengan mbak echa. Mbak ela tidak terima karena keperawanannya sudah direnggut dan ditinggalkan begitu saja.

ÔÇ£Ya karena, mamah sayang sama mami dan mami itu partner kerja mamah, ya mamah ajak sekalianÔÇØ

ÔÇ£enak kan mih?ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£iiih mamah ngajaknya telat sich hi hi hiÔÇØ ucap mbak ela, aku hanya menggeleng-geleng kepala

ÔÇ£terus kedepannya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya, aku mau berbagi sama mami kok pah, jadi biarkan suami mamah punya dua istri dan biar kelabakan dia dirumah nantiÔÇØ ucap mbak echa

Ternyata dibalik ke-liar-annya tersembunyi rasa belas kasihan dan persaudaraan. Sedikit aku menyesal membuatnya menjadi sedikit liar seperti ini. hanya yang aku takutkan jika mereka seliar seperti tante ima.

ÔÇ£Mah, mih, apa kalian akan mencari laki-laki lain setelahku?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ndak!ÔÇØ ucap mereka serempak

ÔÇ£kok?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah cukup sama papahÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Iya pihÔÇØ ucap mbak ela

ÔÇ£sudah saatnya kembali ke normal life lagiÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£iya cukup papih sajaÔÇØ ucap mbak ela

Aku sedikit tertegun dengan ucapan mereka, normal life. Ibu, ah kenapa semuanya harus terjadi? Selang beberapa saat kami berpisah dan aku kembali kerumah. Dalam perjalanan kata-kata mbak echa dan mbak ela terngiang-ngiang di telingaku dan otakku. Normal life? Can I? Entah aku mampu atau tidak ketika aku harus kembali ke kehidupan normalku. Sesampainya dirumah ibu hanya tersenyum melihat wajah lelahku, dan menyuruhku kembali ke kamar dan tidur.

Centung… Bu Dian

From : Bu Dian
Besok jam 8 ingat, jangan terlambat!
To : Bu Dian
Iya bu…
Hanya itu yang aku kirimkan, tak ada balasan dari Bu Dian. Aku akhirnya terlelap dalam lelahnya malam yang berselimutkan sisa kenikmatan dari dua wanita berkerudung. Tiba-tiba ibu masuk dan hanya mengecup keningku dan mengucapkan selamat malam.

Pagi hari, aktifitas seperti biasa. Ayah libur dan Ibu menyiapkan makan pagi. Kubisikan kepada Ibu kalau hari ini adalah hari terakhir PKL-ku jadi tidak perlu minuman kuat. Ibu hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Aku kemudian berangkat ke tempat PKL, tepat pukul 07:55 aku masuk ke ruangan mbak echa. Disana sudah ada bu dian menunggu, mereka tampak asyik bercanda. Tak ada yang istimewa dari penarikannku hari ini. cukup sedikit obrolan dari kami bertiga. Setelah selesai, aku kemudian pamit dengan mbak echa yang tersenyum sedikit nakal ke arahku. Tak lupa aku pamit ke teman-teman QC, oh mbak ela dia juga tersenyum nakal kepadaku. Akhirnya aku pulang bersama Bu Dian diantar oleh mbak echa hingga tempat parkir. Setelahnya aku pulang, sedikit bisikan dari mbak echa.

ÔÇ£itunya dijaga, sama dian aja pah, dia cantik lhoÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£hadeeeehh….ÔÇØ ucapku dan tepuk jidat

ÔÇ£kalian ngapain kok bisik-bisik?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£ndak ada yan, Cuma kangen saja sama arya kan sudah selesai PKL-nya hi hi hiÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Ternyata kamu macari echa ya Ar?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£ndak bu ndak, ndak berani saya buÔÇØ ucapku

Akhirya aku pulang, tapi ku arahkan motorku ke kosan mbak erlina. Sesampainya disana aku langsung membuka pintu kamar kos mbak erlina. Kulihat mbak erlina sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.

ÔÇ£Ada apa? Minta jatah?ÔÇØ ucap mbak erlina tiba-tiba dengan nada sinis

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku sedikit terkejut kemudian tersenyum manis kepadanya

ÔÇ£jenguk mbak…ÔÇØ ucapku yang kemudian duduk dibelakangnya. Suasana kali ini tampak lebih horor jadi aku tidak berani menyentuhnya

ÔÇ£Ada nasi?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ada, ituÔÇØ ucapnya sambil menunjuk rice cooker dikamarnya, aku kemudian berdiri dan mengambil nasi dua piring lalu kubawa ke dapur. Dengan berbekal pengetahuan yang diajarkan wongso, aku masak nasi goreng dan kemudian aku bawa ke kamar mbak erlin.

ÔÇ£Makan duluÔÇØ ucapku sambil meletakan nasi goreng di sampingnya

ÔÇ£Iya makasihÔÇØ ucapnya ketus

Aku tidak meghiraukannya dan kemudian memakan habis nasi goreng. Setelahnya ku duduk di depan kamar kos mbak erlina dan menyulut dunhill. Satu bayang dunhill telah menjadi asap dan abu, tinggal filter saja yang masih utuh.

ÔÇ£Aku pulang duluÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ndak minta jatah?ÔÇØ ucap mbak erlin ketus

ÔÇ£Aku bukan koruptorÔÇØ ucapku yang langsung meninggalkan kamar kosnya

ÔÇ£Jangan berlagakÔÇØ ucap mbak erlin yang masih bisa aku dengar, aku kemudian menoleh dan melempar senyum kearahnya

ÔÇ£IÔÇÖll keep my promise and show you that iÔÇÖll make him dyingÔÇØ

ÔÇ£And to keep my promise… i donÔÇÖt need your body to keep it, just your smile as my big sisterÔÇØ ucapku yang langsung meninggalkan mbak erlina. Aku pacu motorku dan kembali kerumah.

From : erlina
Come back, iÔÇÖll give it to you
Maafin aku…
To : erlina
Ndak perlu minta maaf mbak
Aku sudah pernah bilangkan, kalau sebenarnya untuk membalaskan dendammu
Mbak tidak perlu memberikan milik mbak
From : erlina
Cepetan sini pokoknya
To : erlina
Aku dah di rumah mbak, capek seharian PKL
From : erlina
Sekarang pokoknya kapanpun kamu mau
Aku siap, ndak perlu satu minggu sekali, seminggu 7 kali pun ndak papa
To : erlina
Ingat mbak, no love
I see something wrong from your eyes
Istirahat dulu mbak, jangan keseringan nanti mbak jatuh cinta ma aku bagaimana? He he he
From : erlina
Itulah kamu
Tapi bukan berarti kamu tidak main ke kosku
To : erlina
Iya aku bakal main, tapi ndak harus gitu, okay?
From : erlina
Okay, but if i want it
Kamu harus kasih hi hi hi
To : erlina
Okay
Shot through the heart and your too blame, you give love a bad name. Ringtone sematponku. Bu Dian

ÔÇ£Halo buÔÇØ

ÔÇ£Ingat janji kamu?ÔÇØ

ÔÇ£Eh… iya buÔÇØ

ÔÇ£Besok malam, jemput akuÔÇØ

ÔÇ£tidak bu, kita ketemu saja di tempat tujuanÔÇØ

ÔÇ£eh… baiklah, ketemu di tempat biasaÔÇØ

ÔÇ£eh dimana? Kok biasa bu?ÔÇØ

ÔÇ£Di taman yang waktu ituÔÇØ

ÔÇ£Owhh.. yang Cuma sebentar saja itu bu disanaÔÇØ

ÔÇ£eh.. iya, maafÔÇØ

ÔÇ£ndak papa bu, santai saja bu, okay bu jam berapa?ÔÇØ

ÔÇ£jam 7ÔÇØ

ÔÇ£iya buÔÇØ tuuuuuuut bu dian menutup telepon dan Kleeek… Ibu masuk ke kamarku.

ÔÇ£cerita ayo…ÔÇØ ucap ibu yang kemudian duduk di sampingku

ÔÇ£iya ibuuuu….ÔÇØ ucapku. Kuceritakan kejadian di hotel, mbak erlina dan janji dengan bu dian.

ÔÇ£hi hi hi main bertiga kamu sayang? Capek pastinyaaaaaaaaaaaaaahÔÇØ ucap ibu sambil mencubit jengkel

ÔÇ£adaow sakit buÔÇØ ucapku sambil mengelus-eslu tanganku

ÔÇ£ya sudah, makan malam dulu sayangÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£oh iya, kamu harus temui dian, pokoknya temui diaÔÇØ ucap ibu dengan wajagh seriusnya

ÔÇ£iya bu….ÔÇØ ucapku mengiyakan

Detik berdetak, menit berjalan dan jam pun berganti. Hingga akhirnya malam pertemuan aku dengan dosen judesku menghampiri. Aku pamit kepada ibu, Ayah? Main perempuan mungkin. Hingga akhirnya aku sampai di tempat ketemuan. Aku duduk di ujung bangku taman yang panjang, dengan sekaleng minuman dan dunhill yang terbakar di tanganku.

ÔÇ£Sudah lama?ÔÇØ ucap seorang wanita

ÔÇ£Eh…ÔÇØ

ÔÇ£Barusan bu…ÔÇØ ucapku sambil menoleh ke asal suara itu

Perempuan dengan rambut terurai dan kaos sedikit ketatnya dihiasi celana jeans legging dan tas kecil yang menggantung di bahunya. Bu Dian, dia tampak anggun malam ini. bu dian kemudian duduk di ujung bangku yang berlawanan denganku. Jarak kami jauh, dan sesekali aku melirik ke arah bu dian.

ÔÇ£Ar….ÔÇØ ucapnya

Di tempat dimana aku pernah mengajak dosenku yang dikala itu membuat aku terbang ketika pertama kali dia mengajakku makan. Namun dipertemuan keduaku di tempat ini, tempat dimana awal aku mulai merasakan sakit darinya, ya tempat ini adalah awal kebingungan atas sikapnya yang kemudian diteruskan dibalik pohon ketika aku melihat seorang laki-laki melamarnya. Hening sesaat ketika dia sudah hadir di tempat ini. entah kenapa malam ini sinar rembulan walau tidak sempurna menyinarinya, dia tampak anggun dan indah. Wanita itu duduk di ujung bangku taman sedangkan aku duduk di ujung bangku satunya lagi. Hembusan angin malam tidak begitu dingin di tempat ini namun bisa membuat bulu kuduk berdiri.

ÔÇ£Ar….ÔÇØ ucapnya setelah kami berdiam diri sebentar

ÔÇ£iya bu…ÔÇØ ucapku sambil menoleh dan tersenyum kepadanya

ÔÇ£engg… kemarin nilai PKL kamu A dari perusahaanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Owh iya bu, beruntung berarti saya bu kan jarang ada yang dapat nilai AÔÇØ jawabku

ÔÇ£Enak ya PKL di tempat Echa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Enak bu, ya sudah ada beberapa yang kenal disana, ada dua orang adik kelasku namanya encus dan yanto buÔÇØ ucapku, buat apa aku menyebutkan nama mereka

ÔÇ£owh… rame dong disana?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya…ÔÇØ ucapku singkat. Percakapan basa-basi ini membuatku sedikit tidak sabaran

ÔÇ£maaf bu, boleh saya bertanya?ÔÇØ ucapku sambil memiringkan duduku menghadap ke arahnya

ÔÇ£Eh.. iyaÔÇØ ucap Bu Dian, kedua tangannya diletakan di sebelah paha luarnya, dijadikan tumpuan tubuhna. Bu dian kemudian menoleh ke arahku.

ÔÇ£Maaf bu, sebenarnya pertemuan kita ini untuk membahas apa ya bu? Dilihat dari sudut pandang manapun kelihatannya bu dian tidak perlu bertemu dengan saya bu, karena ibu adalah dosen saya dan juga sudah mempunyai tunangan, istilah orangn dulu ora ilok (ndak bagus) buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh… karena…ÔÇØ ucap bu Dian

ÔÇ£apa bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ayo katakan sesuatu kepadaku bu? Katakan apa yang ada didalam hati dan pikiranmu agar aku tidak selalu menebakÔÇØ bathinku sambil memandangnya penuh harap

ÔÇ£ya karena, kamu mahasiswaku dan aku sebagai dosen kamu tidak ingin mahasiswaku jauh dari aku saja. Nanti dikira aku dosen killer ehem….ÔÇØ ucapnya sambil memandang bulan tak sempurna itu

ÔÇ£Jawaban formal yang benar-benar tidak aku sukai, ngomong saja ngapa?ÔÇØ bathinku

ÔÇ£Owh…ÔÇØ ucapku kembali duduk menghadap ke depan melihat bulan tak sempurna itu, hening sesaat

ÔÇ£Bu, jika memang itu alasannya kita tidak perlu bertemu seperti ini, tidak enakan sama pak felixÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku dan dia sudah selesai Ar, kenapa juga kamu merasa tidak enak dengan dia?ÔÇØ ucapku

Aku meoleh ke arahnya dengan mulut terbuka. Seperti orang terhipnotis aku memandangnya dengan tatapan kosong

ÔÇ£Hei biasa sajalah, kenapa kamu itu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku kembali sadar dan sedikit salah tingkah

ÔÇ£Ya kaget saja, padahal waktu nglamar bu dian kan romantis bangetÔÇØ ucapku sekenanya dan kembali memandang bulan tak sempurna itu

ÔÇ£Namannya juga ndak cocokÔÇØ ucapnya. Suasana kembali hening dan angin kembali berbicara di sela-sela perbincangan kami berdua

ÔÇ£Bu…ÔÇØ ucapku sambil kembali menoleh ke arahnya, dia hanya menjawab dengan anggukan tanpa menoleh ke arahku seakan tahu aku menoleh kearahnya. Senyumannya memandang bulan tak sempurna itu tampak bersinar

ÔÇ£Bisa kita pulang?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh kenapa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£karena sudah tidak ada yang kita bicarakan lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… masih ada arÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Apa? Mbak diah? Iya?ÔÇØ ucapku, dia hanya mengangguk

ÔÇ£jika alasan ibu tidak ingin jauh dari mahasiswanya, ibu tidak perlu membahas masalah pacar mahasiswanya kan? Dan itu sangat tidak relevan dan valid, jika dianalisis secara kuantitatif (analisa berdasarkan jumlah) tidak akan ketemu buÔÇØ ucapku santai dan sok kimia

ÔÇ£sok kimia kamu ituÔÇØ ucapnya, aku hanya diam menunggu jawaban

ÔÇ£Ya kan aku harus tahu, paling tidak itu tidak mengganggu TA kamuÔÇØ ucapnya menghindar

ÔÇ£Malah ndak mengganggu bu, selalu ada support bu, makannya saya hampir selesai dan bisa meninggalkan univ secepatnyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh…ÔÇØ bu dian kini menundukan kepala

ÔÇ£Lebih baik kita pulang bu, karena sudah tidak ada yang kita bicarakan lagiÔÇØ ucapku sedikit kesal

ÔÇ£Masih ada ar, masih itu… aku mau minta…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£Lho kok pada diem saja?ÔÇØ ucap seorang wanita dari belakang kami da tidak begtu asing bagiku. Aku kemudian menoleh ke belakang dengan wajah kaget begitu pula Bu Dian, Ibu.

ÔÇ£Mbak Diah… eh itu mbak… maaf kalau…ÔÇØ ucap Bu Dian yang sedikit ketakutan

ÔÇ£Eh… kenapa kok?ÔÇØ ucapku sedikit kaget

ÔÇ£Sudah jangan kaget begitu dong kalian, kaya lihat setan sajaÔÇØ ucap Ibu

Ibu kemudian melangkah berputar ke arahku, tepat di depanku di daratkannya kecupan di keningku dengan jari menyilang di bibirku. Kulirik Bu Dian, wajahnya tampak seidkit berbeda. Ibu kemudian duduk disampingku, menghadap ke Bu Dian dan sedikit bersandar di lenganku. Aku hanya diam tak bisa bicara karena ibu sudah mengisyaratkan aku untuk diam. Ibu memakai kaos lengan panjang tanpa belahan di lehernya yang longgar, dan rok hingga dibawah lutut serta tas dengan tali panjang yang menggantung di bahunya.

ÔÇ£Kenapa yan?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Eh ndak papa kok mbakÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Wajahnya kok beda, tadi kelihatan senang waktu ketemu aryaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Maaf mbak… sebenarnya aku Cuma mau ngobrol sama arya bukan maksud aku…ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Ngobrol apa ngobrol? Kok berduaan? Disini lagi, romantis bangetÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Maaf mbak bukan maksudku untuk merusak hubungan mbak dengan arya…ÔÇØ ucap bu dian, tampak dari samping ibu hanya tersenyum melihat tingkah bu dian

ÔÇ£mmm… mungkin sebaiknya aku pulang mbak, maaf sekali lagi mbakÔÇØ ucap Bu Dian

Bu Dian lalu berdiri dan sedikit membungkukan badan ke arah Ibu, aku melihatnya hanya sedikit aneh saja dengan tingkahnya. Ibu dengan sedikit menggeser duduknya menarik tangan bu dian. Dengan senyuman khas Ibu, ditariknya dengan lembut tangan bu dian hingga dia duduk kembali.

ÔÇ£Sudah ndak papa, disini dulu, kamu takut aku putus sama arya ya yan? Gara-gara kamu ketemuan?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Eh…ÔÇØ bu dian yang kini duduk hanya mengangguk

ÔÇ£Aku tidak bakalan putus sama arya yanÔÇØ ucap Ibu, bu dian hanya tersenyum dan mengangguk walau tidak memandang ibu

ÔÇ£Karena aku punya hubungan lebih dari seorang pacarÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Eh, berarti mbak diyah sudah…?ÔÇØ ucap Bu Dian dengan isyarat tangan yang memperlihatkan gerakan memasukan cincin ke jari manis kiri

ÔÇ£ehm ehm ehm ehmÔÇØ ibu tertawa tertahan, Bu Dian hanya terheran-heran. Tiba-tiba, ibu bangkit dan duduk di dekat bu dian

ÔÇ£Rambut kamu itu sering disisir ya yan, jelek kalau begini iniÔÇØ

ÔÇ£terus, lipstiknya ndak usah tebal-tebal ya sayangÔÇØ ucap Ibu yang berlagak seperti tukang rias

ÔÇ£Eh mbak..ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Kenapa? aku dulu sudah pengen banget punya anak cewek, tapi ya mau bagaimana lagi, setelah arya lahir, ayahnya ndak mau punya anak lagiÔÇØ ucap Ibu yang masih sibuk menata rambut bu dian

ÔÇ£Jadi… mbak itu…ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Apa? Pacarnya? Makasih lho ya sudah panggil mbak, jadi merasa lebih muda lagiÔÇØ ucap Ibu santai sambil kedua tangannya memainkan pipi Bu Dian

ÔÇ£Eh bukan, berati mbak itu ibunya arya?ÔÇØ ucap bu dian yang tidak mempedulikan ibu merias wajahnya itu

ÔÇ£iya sayangku hi …ÔÇØ jawab ibu dengan sedikit terkekeh-kekeh

ÔÇ£maaf mbak, eh tante…ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£ndak papa lho dipanggil mbak hi hi hi, seneng banget masih ada yang melihat aku sebagai gadis mudaÔÇØ ucap ibu terkekeh

ÔÇ£iiih kamu itu cantik banget cup cupÔÇØ ucap ibu yang kemudian mencium pipi kanan dan kiri bu dian

ÔÇ£eh iya mba… eh tante terima kasihÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Ya sudah aku pulang dulu yan cup cup cupÔÇØ ucap ibu yang kemudian menciumi pipi kiri, kanan dan kenning bu dian

ÔÇ£Sayang, pacarmu ini mau pulang dulu hi hi hi cupÔÇØ ucap Ibu yang kemudian mengecup keningku

ÔÇ£Ibu apaan sihÔÇØ ucapku

ÔÇ£dadah… ingat ar, jangan pulang malam kasihan dianÔÇØ ucap Ibu yang kemudian melangkah, tampak sebuah taksi sudah menunggu ibu. Dan setelahnya ibu naik taksi dan kemudian menghilang hanya tinggal kami berdua. Kami berdua tampak seperti orang yang terkena permainan tommy rafael (master hipnotis) memandang ibu dari awal hingga dia menghilang.

Kembali kami berdua disini, ditempat yang masih sama seperti sebelumnya. Dengan hiasan sinar rembulan malam bersama kami. kulirik wajah bu dian tampak sedikit tersenyum. Raut wajahnya 180 derajat berubah total jika dibandingkan sewaktu ibu hadir di awal tadi. Kenapa juga Ibu membongkar identitasnya, kalau begini kan jadi susah, aku ndak punya alasan lagi kalau ada apa-apa ke depannya.

ÔÇ£ternyata benar seperti yang aku duga… ehem…ÔÇØ ucapnya sambil tersenyum yang masih memandang bulan tak sempurna itu

ÔÇ£Benar apanya bu?ÔÇØ ucapku sedikit menoleh ke arahnya

ÔÇ£tante diah bukan pacar kamu kan, tapi bolehkah aku tahu.. emmm…ÔÇØ

ÔÇ£kenapa tante diah mengaku sebagai pacar kamu?ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£itulah ibuku, dia selalu mengaku sebagai pacar aku bu setiap kali ada seorang cewek kerumah bersamaku, hanya untuk melihat keseriusan dari si cewekÔÇØ ucapku

ÔÇ£maksudnya?ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£ya, maksudnya kalau memang serius mau jadi mantunya ya harus berani face to face sama ibu, bicara ke ibu gituÔÇØ ucapku yang mengingat kata-kata ibu, dimana ibu pernah berkata padaku jika aku punya pacar. Pacarku harus berhadapan dengan ibu dan berbicara langsung dengannya perihal hubungannya dengan aku.

ÔÇ£oh… begitu, tapi ibumu cantik dan menyenangkan ya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya..ÔÇØ jawabku singkat

ÔÇ£Seandainya saja aku punya ibu seperti tante diah, hmmm… pasti menyenangkanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh…ÔÇØ

ÔÇ£Bu, sudah saja lebih baik kita pulang, karena kelihatannya sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan dan akan saya usahakan TA saya cepat selesai, agar mahasiswa ibu ini tidak membuat ibu pusing lagiÔÇØ ucapku menyela

ÔÇ£Can we…ÔÇØ

ÔÇ£Re-Starting all over again?ÔÇØ ucapnya tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaanku

ÔÇ£Eh… maksud ibu apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya kembali memulai dari awal lagiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Apa yang dimulai dari awal lagi bu?TA-nya? Jangan bu… kan TA saya sudah benar semua tinggal bimbingan dan ujianÔÇØ ucapku

ÔÇ£bukan TA, ar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£terus apa bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku ingin kita seperti awal lagi ar, seperti ketika kita pertama kali bekerja sama mengerjakan Karya tulis ilmiah hingga kita bisa makan malam bersama, dan… ÔÇØ

ÔÇ£Aku harap kamu bisa melupakan semua kejadian setelah makan malam ituÔÇØ ucapnya yang kemudian berdiri dan bergerak kearahku

ÔÇ£Cup…ÔÇØ ciuman mendarat di pipi kiriku tapi tidak membuatku kaku seperti dulu lagi, kemudian Bu Dian melangkah bergerak meninggalkan aku

ÔÇ£jujur saja bu, aku tidak mengerti bu….ÔÇØ ucapku, bu dian lalu berbalik dan memandang ke arahku

ÔÇ£Suatu saat kamu akan mengerti, tapi bukan sekarang. Aku ingin memperbaiki hubungan kita agar semuanya baik dari awal ar, dan aku berharap kamu bisa kembali seperti dulu lagi. Agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi, dan…ÔÇØ ucapnya terpotong, Bu Dian menghela nafas yang panjang

ÔÇ£Dan apa bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dan… aku harap kita bisa selalu membicarakan apapun itu jika suatu saat terjadi kesalah pahamanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Bu Dian… Bu Dian… Ibu itu aneh sekaliÔÇØ ucapku

ÔÇ£Maksud kamu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Bu, coba ibu ingat-ingat lagi, kita itu dosen dan mahasiswa bu, sampai kapanpun juga seperti itu, kenapa juga kita harus memperbaiki hubungan kita, membicarakan kesalah pahaman dan lain-lain. Kalau kita pacaran terus balikan mungkin itu bisa kita lakukan, sedangkan saat ini saya bukan apa-apanya bu dian, kenapa harus seserius itu bu? Kan malah lebih baik, ibu sebagai dosen saya dan saya sebagai mahasiswa ibu, masing-masing dari kita menjalani kehidupan kita masing-masing. Hubungan dosen dan mahasiswa kita lanjutkan secara normal, dan tidak per…ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£mungkin di awal kita memulai kita dosen dan mahasiswa tapi kita tidak tahu di akhirÔÇØ ucapnya yang kemudian berbalik membelakangiku

ÔÇ£Bersikaplah lebih dewasa lagi ar, karena aku yakin kita bisa membuat semuanya lebih baik lagiÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£Ibu suka sama saya?ÔÇØ ucapku dengan PD-nya

ÔÇ£kamu jadi laki-laki pede sekali ar, memang kalau aku menemui seperti ini, aku suka sama kamu?ÔÇØ ucapnya sambil membalikan badannya lagi. Aku menjawab dengan mengangkat bahuku

ÔÇ£Dasar cowok! Pikirannya pendek!ÔÇØ ucapnya sambil membentak dan diakhiri senyuman

ÔÇ£Lha terus? Kenapa juga waktu itu ibu selalu menanyakan mbak diah, mbak diah terus?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya ndak tahulah kan aku Cuma pengen tahu saja, memang kalau cewek tanya ke cowok masalah pacarnya berarti cewek itu suka sama cowok yang ditanya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ah… bingung aku bu bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Makanya kalau mikir jangan kejauhanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Mending aku ngobrol sama mbak erlin, lebih jelas dan tidak membingungkanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh…”

ÔÇ£Owh… sekarang erlin yang akan kamu majukan kalau nanti aku ngeganggu kamu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ndak, dia sudah aku anggap kakak perempuankuÔÇØ ucapku sambil membuang muka

Trap trap trap… cup… aku langsung menoleh kembali ke arah bu dian yang kini sudah melangkah berbalik meninggalkan aku

ÔÇ£Aku hanya berharap setelah ini sesuai dengan harapankuÔÇØ ucapnya meninggalkan aku

ÔÇ£Semoga saja tidak ada acara lamaran segalaÔÇØ ucapku yang kemudian berdiri dan membelanginya, kini posisi aku dan budian saling membelakangi

ÔÇ£cemburu ya? Hi hi hi kamu suka sama aku ar?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£he he ngapain juga cemburu, mahasiswa cemburu kok sama dosen, kasihan dosennya, mahasiswa kan bukan levelnya dosenÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hmmm… kalau cemburu bilang saja kenapa?ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Dosennya mungkin yang cemburu, nanya-nanya mbak diah, eh… terus langsung pulang waktu ada mbak erlin. Lagian ngapain coba dosen ngajak ketemuan mahasiswanya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hmm… wah iya ya, apa mungkin dosennya cemburu ya? Kayaknya ndak deh, kan tadi ada yang bilang kasihan dosennya kalau cemburu, ndak levelÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ergghhhh… sudah bu, aku kalah, aku mau pulang duluÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hm… yang kalah berarti yang cemburuÔÇØ ucapnya, aku diam mematung sesaat

Aku dengan seketika membalikan badanku dan kulihat bu dian sudah melangkah jauh meninggalkan aku. Kulihat langkah anggunnya meninggalkan aku. Cara melangkah yang sangat indah sekali, mungkin ada sedikit ingatan akan lagu pop jadul.

Lihat cara dia berjala oh mengagumkan oh mengagumkan
Ikutilah jalan pikirannya oh mengesankan oh mengesankan
Ingin sekali kutunjukkan betapa berarti senyumnya untukku

Ikutilah gerak jarinya, kau kan terkesan kau kan terkesan
Dengarlah dia bernyanyi, Kau kan terharu lalu membisu
Ingin sekali kukatakan, Betapa berarti tingkahnya bagiku

Karna aku slalu pasti mengagumi dengan hati
Di setiap jengkal indahnya, di setiap jengkal buruknya
Karna aku slalu pasti mengikuti lewat mimpi
Di setiap sudut terangnya, di setiap sudut gelapnya

Quick reply to this message Balas   Balas Dengan Quote Balas Dengan Quote   Multi-Quote This Message
26 July 2015, 05:25 AM #1406
Down hill
Down hill is offline
Semprot Lover
Down hill’s Avatar

Daftar
Mar 2015
Posts
292
Thanked: 9

THREAD STARTER
Sambungan 38

Wanita? tanyakan pada wanita apa mau mereka. Tak ada yang mengerti tentang keinginan mereka. Coba saja mungkin dari sekian banyak laki-laki ada yang mengalami hal yang aneh ketika berhadapan dengan seorang wanita. Wanita itu indah, coba saja buka pakaiannya pasti indah, lha wong tidak dibuka saja kadang sangat indah apalagi dibuka. Wanita kadang sulit dipahami, itulah dia makannya wanita itu misterius tapi kalau sudah ada maunya harus dituruti. Benteng pertahanan laki-laki adalah wanita dan senjata paling mematikan untuk laki-laki adalah wanita. Coba lihat saja sejarah-sejarah, contohnya saja Napoleon bertekuk lutut dihadapan Cleopatra, padahal Napoleon bisa saja menaklukan semua wanita di Prancis. Satu laki-laki bisa menaklukan banyak perempuan tapi satu laki-laki itu juga pasti takluk terhadap satu perempuan. Lihat saja, laki-laki bujang nyari uang banyak akhirnya untuk nikah dan untuk semua wanitanya. Seandainya uangnya kebanyakan pasti buat beli mobil seporet, rumah mewah, motor keLen tapi apa hanya dengan itu saja hidup laki-laki lengkap? Pasti harus ada wanita kalau ndak istri ya cewek seksi yang ikut nunggangi mobil seporet, menghiasi rumah mewah, dan juga meluk si laki-laki ketika ngendarai motor kerennya. Hidup laki-laki ndak akan lengkap tanpa wanita, namanya juga ÔÇ£HPÔÇØ butuh ÔÇ£flip coverÔÇØ-lah. ah bodoh ah, itu hanya pendapatku saja jadi jangan di bahas lagi, pendapat yang tidak ada relevansinya sama sekali, tidak signifikan. Terus kenapa aku harus mengutarakan pendapatku? Arya… arya… bikin bingung saja. Tapi, kenapa wanita susah dimengerti? Contohnya saja laki-laki ketemu sama ceweknya yang lagi ngambek gara-gara menstruasi atau habis dimarahi ortu atau dimarahi dosen.

Cowok : sayang kenapa?
Cewek : ndak papa!
Cowok : cerita sama aku dong sayang, mungkin bisa meringankan beban pikiranmu
Cewek : aku bilang ndak papa ya ndak papa, kamu itu malah bikin bete
Cowok : maaf sayang, aku Cuma pengen kamu tersenyum
Cewek : yang bikin aku ndak bisa senyum itu kamu selalu tanya-tanya terus
Cowok : iya deh, aku diem sekarang
Cowok kemudian diam tak berani bertanya kepada si cewek
Cewek : kamu itu gimana to? Malah diem! Aku tuh lagi sedih habis dimarahi Ibu tadi, bukannya menghibur malah diem saja, dasar nyebelin! Ndak peka!
Cowok hanya mampu bengong seperti di tengah laut, ketimpa pesawat jet, di sapu ombak, di tabrak titanik, kebentur karang, diseret hiu, di setrum ubur-ubur, dilahap paus kemudian disemburkan keluar, terombang ambing lagi ditengah laut dan terakhir dihantam meteor!

Nah loh! Gimana coba kalau begitu? Apa coba yang harus aku lakukan? Mengungkapkan perasaanku sama dosen judes itu? Iya kalau suka, kalau ndak? Dari percakapan tadi, jujur saja aku menangkap sinyal kalau dia suka sama aku, tapi candaanya di belakang bikin ngedrop saja. Kembali memulai dari awal lagi? Emang kaset diputer ulang? Udah nancepin paku di kayu kamu cabut, ya jelaslah ada lubangnya. Kalau mau tutupin itu lubang, dia yang harusnya nutupin bukannya aku yang harus mengungkapkan kan? Emang aku cowok apapun? Dasar dosen judes!

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memang seharusnya aku yang ngomong duluan ke Bu Dian. Tapi dia mintanya semuanya diperbaiki dulu dari awal. Memang Nagasaki dan Hirosima, habis di bom atom langsung dibangun lagi. Iya sich dibangun lagi, tapi coba lihat imbas radiasi nuklir yang mengenai orang-orang disekitarnya. Gen mereka berubah, bayi dalam kandungan lahir cacat, yang masih hidup tidak bisa menikah karena gen sudah berubah ditakutkan anak yang lahir dari pernikahannya cacat permanen. Bangunan memang bisa dibangun lagi woi! Tapi efek yang ditimbulkan sulit untuk diperbaiki woi! Dosen judes woi! Aku memang suka sama kamu, tapi kamunya itu judes, jutek minta ampun! Dian judes, dian jutek, dian jelek, dian jengkelin, dian dian dian dian dian kamu cantik aku suka. Argh!

Pagi menjelang, aku beranjak dari tempat tidurku. Tak ada yang dapat aku lakukan hari ini, karena harus menunggu teman sekampusku selesai PPL. Ya aku jurusan murni dan jurusan pendidikan biasanya harus menyelsaikan PPL-nya terlebih dahulu. KKN akan dimula secara bersamaan ya anak murni ya anak pendidikan. Untuk hari ini biasa setor cerita sama Ibu, biasa di ruang TV. Ayah? Kerjalah dinas ke lokalisasi mungkin.

ÔÇ£hi hi hi… berarti hmmmm….ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Apa bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu jatahnya dikurangi ya sayang?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£lho kok begitu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sekarang ini kamu kan sedang memulai dari awal, jadi satu minggu sekali saja sama ibu ya?ÔÇØ ucap Ibu dengan tersenyum

ÔÇ£kan aku pengennya setiap hariÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya kalau kamu ndak lagi pdkt sama cewek, lha ini kan kamu lagi pdkt sama dian. Dia suka lho sama kamu, dan Ibu juga sukaa sama dian hi hi hiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Cewek judes sekaligus membingungkan kaya gitu di pdkt-in bu buÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi kamu suka kan?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£suka sih suka, tapi kalau membayangkan dia jadi pacar atau istri aku, hancur duniakuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Cup cup cup… ÔÇ£ ucap Ibu

ÔÇ£pengen?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£besok lusa saja ya, nunggu isinya penuh lagi hi hi hiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£yah, ibu kok gitu, kan pengenÔÇØ ucapku

ÔÇ£kan ada erlinaÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£lebih baik aku dirumah saja buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tapi jangan perkosa ibu, kalau kamu maksa ibu ndak akan ada untuk hari selanjutnya. Dan tidak boleh merangsang ibu, awas! Kalau hari ini, itu masuk ke dalam ibu, selesai!ÔÇØ ucap dengan sedikit membentak. Seketika itu pula dedek arya menciut memilih untuk bertekuk lutu kepada vaginawatinya

ÔÇ£iya bu iya… arya janji ibuku sayang dindaku sayangÔÇØ ucapku

ÔÇ£nah begitu sayang cupÔÇØ ucap ibu dengan kecupan di bibirku. Ibu kemudian meninggalkan aku sendiri di ruang TV. centung. BBM. Bu Dian

From : Bu Dian
Hai, arya yang cemburu sama dosennya
(Ergh sok akrab ni si judes!)

To : Bu Dian
Maaf, arya sedang main keluar
Dia tidak bisa diganggu
From : Bu Dian
Ngambek ar?
To : Bu Dian
Ndak level ngambek sama dosen bu?
From : Bu Dian
Kok bu?
To : Bu Dian
Lha kan situ ibu-ibu?
From : Bu Dian
Huh! Aku belum punya anak tahu
To : Bu Dian
Ya kali saja sudah punya, terus dititipin sama mertuanya
From : Bu Dian
Kamu itu, huh!
To : Bu Dian
He he he
From : Bu Dian
Besok bimbingan, satu minggu satu kali bimbingan
Sambil menunggu KKN, jam 9 ingat, jam 9!
To : Bu Dian
Tapi bu, kan ini masih libur, istirahat dulu lah bu
From : Bu Dian
Ndak ada tapi-tapian,Atau ndak aku ACC TA kamu
To : Bu Dian
Iya, bu iya akan saya jalankan
From : Bu Dian
Bagus, mahasiswa itu nurut sama dosennya
To : Bu Dian
Iya bu iya, saya nurut
Bener-bener memang ini dosen, kalau saja semalam ibu ndak dateng. Pasti dia ndak bakal sok akrab sama aku, dan aku bakal lebih enjoy lagi hari ini. enjoy dengan ibu, kentang banget hari ini. hufttt…. tiba-tiba

ÔÇ£Ibu apaan sih, kembalikan buÔÇØ ucapku meminta sematponku yang di rebut ibu

ÔÇ£Anak baik diam!ÔÇØ ucap ibu, seakan dihipnotis aku diam

ÔÇ£ihirrrr… akrab sama dosennya yaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Akrab apaan bu? Judes kaya gitu di akrabinÔÇØ ucapku sinis

ÔÇ£Ya sudah, jangan ngambek gitu, kalau ngambek gitu tandanya kamu itu sayang, cinta sama dianÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£ah ibu, bikin bete sajaÔÇØ ucapku sambil bangkit mencoba meraih kembali sematponku

ÔÇ£eit ndak bisa-ndak bisa ha ha haÔÇØ ucap ibu sambil berlari menjauhiku

Aku berlari mengejar ibu di dapur, layaknya adik dan kakak kami main kejar-kejaran. Senyum mengembang, tawa meledak diantara kami. seakan-akan tak pernah ada kejadian buruk terjadi diantara kami. aku melihatnya seperti halnya seorang anak melihat seorang ibu. Hingga aku bisa memeluk ibu dan meraih kembali sematponku. Ibu kemudian membetet hidungku dengan gemas, aku hanya menjulurkan lidahku ke arah ibu. setelah lelah bermain kejar-kejaran di dalam rumah, aku dan ibu beristirahat di ruang TV kembali. Kebahagiaan terpancar di wajah kamu berdua. Kepalaku rebah di paha Ibu dan ibu membersihkan telingaku.

ÔÇ£iiih jorok banget, masa ada tempat pembuangan sampah di telinga?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Yeee… itu bukan tempat pembuangan sampah bu, tapi rest area buat kotoranÔÇØ ucapku

ÔÇ£emang mau mudik, pakai rest area segala hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£paling bu, kotorannya lagi mudik ke telingaku nanti kalau arus balik paling hilang sendiri he he heÔÇØ balasku

ÔÇ£kamu itu jorokÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£makanya bu dibersihin doooongÔÇØ balasku, tiba-tiba

ÔÇ£aw… Ibu apaan sih?ÔÇØ protesku yang tiba-tiba tangan ibu meremas dedek arya

ÔÇ£Lho kok tidur, padahal ibu sudah nempel-nempelin susu ibu dikepalamu lhoÔÇØ ucap ibu menggodaku

ÔÇ£jangan-jangan kamu… sudah ndak suka perempuan???ÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£ndak tahu bu, seneng saja hari ini bisa bercanda dan tidak melulu membicarakan masalah berbau ex ex exÔÇØ ucapku

ÔÇ£Berarti kita mendekati kehidupan normal lagi sayang ehemmm…ÔÇØ ucap ibu santai

ÔÇ£mungkin bu, tapi bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£We will back to normal, dearÔÇØ ucap Ibuku, aku hanya tersenyum dengan pandangan ke arah TV

ÔÇ£After heÔÇÖs goneÔÇØ ucapku

ÔÇ£Yupz thatÔÇÖs rightÔÇØ ucap Ibu

Kami bercanda seperti biasanya, tak ada dalam pikiranku untuk menghunuskan dedek arya ke dalam tubuh ibu. Entah kenapa kali ini tampak berbeda, apakah karena pertemuan semalam dengan bu dian? Padahal jika aku memutar balikan waktu, seminggu yang lalu kami melakukannya dengan sangat ganas di dekat ayah. Namun kali ini aku merasakan hal yan berbeda. Mungkin memang adanya bu dian merubah segalanya. Aku pun terlelap dalam pangkuan ibuku hingga siang hari. Tepat pukul 13:00 aku bangun dan tak kudapati ibu di sofa. Aku kemudian bangkit dan kembali ke kamar, kulihat ibu sedang membersihkan pekarangan rumah. Selepasnya aku berganti pakaian, ingin rasanya keluar main. Aku turun dan menghampiri ibu di pekarangan belakang rumah.

ÔÇ£Aku mau main ke wongso buÔÇØ ucapku sambil mencium pipinya

ÔÇ£Iya hati-hatiÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ingat, ndak usah main-main lagi sama cewek lho, kasihan tuh yang didalem bisa pingsan tujuh turunanÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£yee ibu bisa saja, aku berangkat dulu buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya sayang, hati-hati pelan-pelan saja bawa motornyaÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£oke ibuÔÇØ ucapku

Dengan REVIA aku kembali ke jalanan daerahku. Kuhirup udara panas di daerahku yang bercampur dengan karbon dioksida dan karbon monoksida serta sedikit oksigen. Sudah jelaskan kenapa sekarang udara menjadi kotor? Banyak pohon yang ditebangi, industri dimana-mana menggusur zona hijau. Ditambah lagi makin banyaknya motor dan mobil yang berlalu lalang, memang sih ndak bisa disalahkan karena kita semua butuh transportasi yang memadai. Lama aku mengendarai motor, hingga akhirnya aku sampai di dekat warung wongso. Kulhat mobil yang tidak asing lagi bagiku, tapi sayang ingatanku buruk. Kuparkir motorku di depan warung wongso dan masuk ke dalam tanpa menoleh ke kanan dan kekiri.

ÔÇ£Kulonuwun (permisi)ÔÇØ teriakku dan semua pelanggan menoleh ke arahku

ÔÇ£O… lha wong edan (orang gila) pelan kenapa? memangnya di goa, teriak-teriakÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Ya menawane (mungkin saja) kamu budeg wongÔÇØ ucapku

ÔÇ£Lihat telingaku masih normalÔÇØ ucap wongso sambil memperlihatkan telinganya

ÔÇ£Iya itu, dasar orang katrok!ÔÇØ ucap seorang wanita di belakangku, aku menoleh ke arah belakang

ÔÇ£Huh, mau katrok atau ndak, bukan urusan situ kaliÔÇØ ucapku, wongso hanya bengong melihat perdebatan kami

ÔÇ£Ya memang bukan urusan aku, tapi mbok yaho tahu sopan santun kenapa, dasar preman takut setanÔÇØ ucap Bu Dian, aku tak menggubris kata-kata dari si judes ini

ÔÇ£BuÔÇÖe (ibu)… lama tak jumpa buÔÇØ ucapku sambil menghampiri ibunya wongso, segera aku mencium tangan ibunya wongso. Disitu juga ada asmi yang sedang membantu ibunya wongso berjualan.

ÔÇ£Lho As, ndak kuliah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kan habis PKL Ar, kamu sendiri?ÔÇØ ucap asmi

ÔÇ£sama saja, habis PKL, seneng deh PKL sudah selesai, nilai sudah keluar dan juga ndak perlu ketemu DE-PE-EL ku lagi, seneng bangeeeeeeeeeet rasanya ndak ketemu DE-PE-EL ku lagi AsÔÇØ ucapku dengan suara menekan pada kata DPL

ÔÇ£Lho ar, DPL kamu itu kan… kan… kan….ÔÇØ ucap wongso yang aku lihat menggerakan bola matanya ke arah bu dian

ÔÇ£ada apa kamu wong? DE-PE-EL-ku itu kan dah ndak ada urusan sama aku lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£Enak saja, aku bisa rubah nilai kamu sekarang juga! Huh!ÔÇØ ucap bu dian yang sekarang tampak lebih judes, tanpa menghiraukannya aku langsung ambil makanan

ÔÇ£makan dulu ahhhhh…ÔÇØ ucapku santai. Wongso, asmi dan ibunya wongso tampak terheran-heran melihat sikap kami berdua.

ÔÇ£Aku makan di teras rumah kamu saja wong, takut makan disini, ada yang nggigit nantiÔÇØ ucapku langsung ngeloyor ke belakang warung. Belakang warung wongso adalah rumahnya.

ÔÇ£Arya!ÔÇÖ teriak bu dian membuat seisi warung bengong, tapi aku tidak menggubrisnya sama sekali

Aku kini duduk di teras rumah wongso. Wongso kemudian menyusulku begitupula asmi, diikuti bu dian dengan wajah judes dan wajah jengkelnya. Wongso kemudian duduk di sebelahku, Asmi duduk bersebelahan di hadapanku dan wongso.

ÔÇ£Ngomong apa kamu tadi hm!ÔÇØ ucap bu dian yang berdiri di kananku sambil memegang tangan kananku

ÔÇ£bu ini aku lagi makan bu, ndak boleh digangguÔÇØ ucapku yang tadinya mulutku sudah siap melahap makanan disendok yang aku angkat

ÔÇ£tadi kamu bilang apa? Siapa yang ngegigit kamu?!ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£lha ibu merasa mau menggigit tidak?ÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£Tidak!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ya sudah ibu tenang, duduk, dan nikmati hidangan di warung ibunya wongso, bereskanÔÇØ ucapku dengan suara datar dan diplomatis

ÔÇ£Awwwww…..ÔÇØ teriakku, kaget karena tiba-tiba tanganku digigit bu dian dan semua makanan di sendokku tumpah

ÔÇ£Rasain!ÔÇØ ucapnya judes yang kemudian duduk di sebelah asmi

ÔÇ£Sebentar, sebentar ada apa dengan bu dian dan kamu ar? Kok sekarang tampak berbeda?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£HeÔÇÖem kok akrab banget sekarang?ÔÇØ ucap asmi

ÔÇ£Akrab sama dosenku ini, ndak lah, kasihan dosennya, mahsiswanya kan bukan levelnya dosenÔÇØ ucapku sambil makan

ÔÇ£Orang seperti arya jangan di akrab-i, bisa-bisa makanan sewarung habis nanti wongÔÇØ ucap Bu dian yang tampak mulai bisa membaur dengan wongso dan asmi

ÔÇ£Ada apa to bu?ÔÇØ ucap asmi

ÔÇ£Tanya saja sama mahasiswa yang suka bohongin cewekÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Eh, bu kok aku pembohong?ÔÇØ ucapku, pandangan wongso dan asmi ke arahku

ÔÇ£Iyalah, nyatanya, yang kamu akui sebagai pacar bukan pacar kamu kan?ÔÇØ ucapnya, pandangan wongso dan asmi ke arah bu dian

ÔÇ£Yeee… kapan saya mengakui kalau saya punya pacar, coba diingat-ingat lagi, kapan saya melakukan klaim kalau aku punya pacar?ÔÇØ ucapku pandangan wongso dan asmi ke arahku

ÔÇ£Eh… ya pokoknya kamu bohong sama akuÔÇØ ucap bu dian dengan wajah cemberutnya namun tetap cantik, dan pandangan wongso dan asmi ke arah bu dian

ÔÇ£Dosen sukanya kok ngeles, kasihan mahasiswanya kalau begitu itu, ndak validÔÇØ ucapku, kini pandangan wongso dan asmi kembali ke arahku

ÔÇ£Emang penelitian, pakai valid segalaÔÇØ ucapnya, kembali lagi pandangan wongso dan asmi ke arah bu dian

ÔÇ£ya kan mahasiswa butuh pembelajaran yang valid, kalau yang disampaikan dosen ndak valid bagaimana nasib mereka di dunia kerjaÔÇØ ucapku, lagi pandangan wongso dan asmi ke arahku

ÔÇ£Dasar Mahasiswa ndak tahu terima kasihÔÇØ ucap bu dian, dan lagi pandangan wongso dan asmi ke arah bu dian

ÔÇ£Sudah-sudah tenang, bisa kita bicarakan pelan-pelan kan?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Bu dian, biarkan arya makan duluÔÇØ

ÔÇ£Ar, jangan diteruskan lagi ndak baik makan sambil berbicaraÔÇØ ucap asmi

Kulihat wongso hanya menaikan bahunya ketika memandang asmi. Begitupula asmi, entah kenapa hubunganku dengan bu dian malah seperti musuh besar ketika bertemu. Sekalipun begitu. Aku sering mencuri-curi pandang ke arah bu dian. Kadang pandangan kami bertemu dan kami saling melempar senyum.

ÔÇ£Sudah selesaiiiii… nyam… kenyaaaaangÔÇØ ucapku

ÔÇ£Bayar dulu tuhÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Ya jelaslah, aku kan punya uangÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£Kirain mau hutangÔÇØ ucap bu dian

Kembali wongso dan asmi hanya geleng-geleng kepala dengan pertengkaran kami. tak ada satupun dari mereka yang bisa menyela pertengkaran kami.

ÔÇ£MANDEK MANDEK! Wis tuo kok yo do padu wae (BERHENTI BERHENTI! Sudah tua kok ya adu mulut terus)ÔÇØ ucap ibunya wongso yang datang tiba-tiba dan mendaratkan jeweran di telingaku

ÔÇ£Bu dian, maafkan arya ya, arya memang sukannya kalau berbicara suka kelepasanÔÇØ ucap ibunya wongso ke bu dian

ÔÇ£Oh iya bu ndak papa, ya saya sudah tahu kalau arya itu seperti ituÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£Eh.. ndak..ÔÇØ ucapku terpotong karena tangan wongso membekap mulutku

ÔÇ£Ar, kalau kamu adu mulut lagi, ibu suruh kamu nyuci piring sampai malam nantiÔÇØ ucap ibunya wongso dan membuatku tidak berkutik sama sekali

Kulihat Bu Dian tersenyum manis, dan kemudian tertawa yang tertutup oleh tangan kananku. Aku tahu jika dia sedang menertawakanku. Aku hanya diam, membuang muka namun mata ini tak sanggup jika tidak meliriknya sebentar saja. Mungkin seperti lagu lama yang di aransemen ulang oleh MUSE, canÔÇÖt take my eyes off you. Wajahnya, senyumnya, judesnya, juteknya, jengkelinnya membuat perasaanku menjadi satu. Apa itu? Kalian pasti sudah tahu. Akhirnya aku tidak berani lagi mendebat atau mengejek bu dian, kami berempat berbincang sederhana. Hingga akhirnya bu dian pulang.

ÔÇ£Ar, jangan lupa besok bimbinganÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£iya bu, besok akan saya bawakan TA saya ke ibuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya sudah, wong, as aku pulang duluÔÇØ ucapnya yang kemudian masuk ke warung dan pamitan kepada ibu wongso. Asmi kemudian kembali lagi ke warung membantu ibu wongso. Dengan dunhill bersamaku dan wongso kami duduk bersama di depan rumahnya

ÔÇ£Kemarin saja kamu formal sama bu dian, sekarang kok kaya anjing sama kucing?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Ndak tahulah wong, aku juga bingung sama itu cewekÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu suka sama dia kan ar?ÔÇØ ucapnya, dan aku hanya mengangguk

ÔÇ£Ya sudah, dekati saja kenapa ambil pusingÔÇØ ucapnya

ÔÇ£bukannya ambil pusing, dia dosen dan sudah kerja, lagian dia sudah bilang sama aku kalau aku bukan levelnyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£di mulut kan ar? Bukan di hatinyaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£maksudmu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya dia bilangnya di mulutnya saja kan, kalau dilihat dari sikapnya, kelihatannya hatinya menginginkan sang pangeran ini ha ha haÔÇØ ucapnya

ÔÇ£bodoh ah, pusing, mending mikir kapan cepet lulusÔÇØ

ÔÇ£Lha kamu, sekarang kuliah ikut adik tingkat?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya iyalah, kan aku cuti satu tahun arÔÇØ ucapnya

Perbincangan demi perbincangan menemani kami hingga malam. Seperti biasa, ketika warung ramai aku jug aikut membantu kalau warung lenggang aku dan wongso kembali mengobrol. Hingga warung wongso tutup dan wongso mulai mengantar asmi pulang akupun juga ikut angkat kaki dari warung wongso. Sesampainya dirumah, aku melihat ibu di depan TV senyumnya masih tetap sama. Kami bercanda bersama. Tiba-tiba…

ÔÇ£akukan sudah bilang, Pokoknya kita berempat saja, buku bisa hancurkan kitaÔÇØ

ÔÇ£setelah kita berempat bertemu, kita akan singkirkan bukuÔÇØ

Aku dan ibu berpandangan mendengar teriakan keras ayah dari pekarangan rumah. Ibu kemudian menyilangkan jari telunjuknya di bibirnya. Aku hanya diam sejenak dan mulai mendengarkan percakapan ayah. Namun, percakapan berikutnya tidak membahas mengenai penyingkiran buku.

ÔÇ£Tenang saja, buku tidak bakalan tahu, kita akan bagi menjadi empat saja, nanti aku aturÔÇØ

ÔÇ£Kamu tenang saja reng, kamu ndak usah takut kaya ngelihat setan saja kamu ituÔÇØ

Setelahnya Ayah menutup telepon dan beranjak dari pekarangan rumah. Ayah menyapaku seperlunya saja dan kemudian masuk kamar, tidur. Ibu membisikan kepadaku untuk segera istirahat dan tidak membahas apa yang baru saja didengar. Karena jika membahas sekarang Ayah bisa saja tahu mengenasi aku sebagai pemegang sematpon KS. Aku akhirnya kembali ke kamarku, ku buka sematponku dan tak ada pesan BBM. Email om nico juga nihil. Aku kemudian beristirahat menanti pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*