Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 26

Wild Love 26

Pagi menjelang, seperti biasa aku selalu sempatkan makan pagi bersama keluargaku. Dan seperti biasa pula sebelum berangkat jika ada Ibu, selalu dapat lumatan lama di garasi. Di hari kelima PKL, perusahaan melakukan produksi secara besar-besaran dikarenakan permintaan yang membludak. Namanya juga perusahaan yang lumayan bonafit ditambah lagi sayuran beku yang diekspor ke jepang mengalami peningkatan permintaanya. Sampel datang berjubel seperti antrian tiket panjang di kala mudik. Semua pengendali kualitas di laboratorium sibuk dengan sampel masing-masing. Sampel yang datang bertubi-tubi membuat kami harus pulang lebih larut lagi. Ketika semua sampel telah selesai di analisa, kami bisa beritirahat sejenak.

Kleeek… mbak echa masuk ke dalam ruangan

ÔÇ£Oia, besok produksi masih dalam volume yang besar, jadi besok kalian pulangnya nelat yaÔÇØ

ÔÇ£Ya kira-kira jam 3 sore, ndak papa ya? Ada tambahannya kokÔÇØ ucap mbak echa, memang jika hari sabtu kita hanya berkerja setengah hari

ÔÇ£Aku jam 2 saja ya mbak, ada acara jam 4. Boleh ya mbak? Mau ke rumah saudara, ada acara nikahanÔÇØ ucap mbak ela

ÔÇ£Oke, kamu arya, yanto, encus? Bisa yaÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Iya, mbak aku bisa, nyante sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi pasti jam 3 kan mbak?ÔÇØ ucap yanto

ÔÇ£iya mbak, pasti jam 3 kan?ÔÇØ ucap encus

ÔÇ£Iya jam 3, kalau ada tambahan lembur lagi aku belum tahu, tapi untuk pastinya besok jam 3 soreÔÇØ

ÔÇ£Oke, gitu saja ya, sekarang kalian boleh pulangÔÇØ ucap mbak echa

Kami kemudian membereskan laboratorium dan membersihkannya. Setelah semua beres mbak ela terlebih dahulu meninggalkan laboratorium. Yanto dan encus kemudian menyusul mbak ela, aku masih berada di lab karena ada BBM masuk. Bu Dian.

From : Bu Dian
Ar…
To : Bu Dian
Iya bu Dian
From : Bu Dian
Pake senyum segala? Lagi seneng ya?
To : Bu Dian
Biar saya ndak di cap pembohong bu
From : Bu Dian
Maksud kamu?
To : Bu Dian
Ibu Dian bagaimana to?
Masa lupa sama sms saya? Kan banyak yang menunggu senyum Ibu
Makanya saya ikut senang bu
From : Bu Dian
Telat!
To : Bu Dian
Ya sudah bu, saya ndak jadi senyum
From : Bu Dian
Ha ha ha ha kamu itu bisa juga bikin ketawa
Sudah selesai PKL-nya?
To : Bu Dian
Namanya juga orang koplak bu, ya bisa bikin orang ketawa
Hati-hati lho bu nanti ketularan saya
Ini masih di lab bu, baru mau pulang tadi disuruh lembur
From : Bu Dian
Dapat uang tambahan dong?
Ndak papa, malah seneng bisa ikutan koplak
To : Bu Dian
Kasihan mahasiswa ibu nanti bu he he he
Ndak juga bu, kan saya magang bukan kerja
From : Bu Dian
Ya kali saja dapat tambahan, kan bisa gantian traktir aku
To : Bu Dian
Ndak berani bu, kalau pun dapat
From : Bu Dian
Owh.. kenapa?
To : Bu Dian
Sudah bu jangan dibahas lagi, bahas PKL saja
From : Bu Dian
Kok gitu?
To : Bu Dian
Ndak enak sama tunangan Ibu
From : Bu Dian
Ndak papa kok, atau ndak enak sama mbak diah?
To : Bu Dian
Iya itu salah satunya bu
Bu, saya ijin pulang dulu disini sepi takut sama disamperin setan he he he
From : Bu Dian
Preman kok takut sama setan
To : Bu Dian
Yah namanya juga PREMAN,
Pasti laREi kalau Melihat setAN he he he
From : Bu Dian
Ha ha ha Okay, hati-hati ar
To : Bu Dian
Iya bu Dian
Aku kemudian bangkit dan berbalik ke arah pintu

ÔÇ£WAAAAAAAAAAAAA…. ÔÇ£ teriakku kaget melihat sesosok manusia di pintu laboratorium

ÔÇ£Apaan kamu itu ar teriak-teriak bikin takut saja?!ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Mbak echa juga aneh, kenapa juga berdiri di pintu bikin kaget saja, sudah lab sepi kaya giniÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku baru mau pulang, lihat kamu masih di lab ya aku samperin, belum juga menyapa kamu sudah teriakÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Namanya juga orang kaget and takut mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dah yuk mbak, cabut dah merinding mbak he he heÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Ah kamu jangan nakut-nakutinÔÇØ ucap mbak echa

Aku dan mbak echa kemudian berjalan beriringan menuju tempat parkir. Langkah mbak echa nampak bertambah sangat cepat. Aku tertinggal dibelakangnya.

ÔÇ£Mbak kenapa cepat-cepat, takut ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu tadi juga, ngapain nakut-nakutin?ÔÇØ ucap mbak echa.

Mbak echa kemudian menungguku dan berjalan di sampingku. Tatapannya tampak lelah dengan kegiatan hari ini. wanita berkerudung merah muda meutup bahunya, baju merah muda berkancing yang ketat dengan celana jeans pensil hitam berhiaskan sepatu berwarna putih. Wanita ini sebenarnya tampak ayu namun ada sesuatu yang disembunyikan dari dalam dirinya.

ÔÇ£Mbak, tidak usah dipikirkan nyante saja kaliÔÇØ ucapku memecah kesunyian ketika kami berjalan bersama

ÔÇ£Apaan sich kamu ituÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£lha itu, wajah mbak echa tampak murung, lagi banyak pikiran ya mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya…ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Namanya juga pekerjaan mbak, banyak masalah yang pastinya terjadi, apalagi perusahaan yang baru berkembang seperti ini, pasti banyak sekali hal-hal yang harus disesuaikan dengan permintaan konsumen, ya… agar produk kita laku dipasaran dan diakui oleh badan pengawas dari pemerintahan mbakÔÇØ ucapku panjang lebar

ÔÇ£Sok tahu kamu itu ArÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Eh… salah berarti perkiraanku mbak he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£bukan, masalah pekerjaan Ar, tapi yang dirumahÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£waduuuu… kalau yang dirumah, berarti masalah listrik, air, cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan motor gitu ya mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ha ha ha ha emang masalah rumah itu saja?ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Ya kan saya masih nubie mbak alias masih awam hal-hal rumah yang aku tahu di tipi-tipi ya seputar itu-itu saja mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£bukan masaah itu, tapi suamikuÔÇØ ucap mbak echa, deg… aku langsung terdiam sejenak dan tak berani melanjutkan kembali. Terlihat tempat parkir karyawan sudah terlihat di depan kami.

ÔÇ£kok diem?ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£he he he ndak mudeng aku masalah kaya gitu mbak, daripada sok tahu mending ndak usah tahu mbak he he heÔÇØ ucapku sambil menuju motorku yang aku parkir di dekat mobil briyo hijau. Dan ternyata mbak echa juga berjalan ke arah yang sama.

ÔÇ£ya mungkin saja kamu bisa memberikan pandangan arÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£ini mobil mbak echaÔÇØ

ÔÇ£wah kereeeeen!ÔÇØucapku mengalihkan perhatian

ÔÇ£Kamu itu diajak ngobrol tapi nyambungnya ke tempat yang lainÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£walah mbak, kalau pandangan tentang metode analisa aku bisa mbak, kalau pandangan masalah misterius mbak aku ndak bisaÔÇØ ucapku sambil duduk di atas revia dan memakai helm

ÔÇ£Owh…ÔÇØ

ÔÇ£Oia Ar, bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang?ÔÇØ tawar mbak echa kepadaku

ÔÇ£ndak usah mbak, aku dah sms ibuku kalau aku mau pulang. Kasihan kan sudah dimasakan tapi ndak aku makanÔÇØ ucapku sambil menyalakan mesin motorku

ÔÇ£Iya dech, kapan-kapan sajaÔÇØ

ÔÇ£Hati-hati pulangnya arÔÇØ ucap mbak echa sembari membuka pintu mobil

ÔÇ£mbak juga hati-hati yaÔÇØ ucapku, dibalas anggukan oleh mbak echa

Aku jalankan REVIA terlebih dahulu meninggalkan mbak echa. Kulihat matahari sudah terlelap dalam tidurnya dan sinar terangnya mulai digantikan oleh sinar lampu jalan. Tubuhku sangat lelah dengan kegiatan hari ini, ditambah lagi bayang-bayang esok hari yang makin banyak sampel akan datang. Hari yang pendek dengan jadwal produksi yang padat dapat dipastikan kalau sampel yang datang akan bertambah lebih banyak lagi. Sesampainya dirumah, ketika hendak naik ke kamar. kulihat Ibu masuk ke rumah dari pekarangan rumah, Ibu tersenyum manis kepadaku. Ku ganti arah langkahku, kira-kira satu setengah meter dari pintu belakang rumah aku langsung memeluknya. Aku tahu Ayahku ada di pekarangan rumah sedang bertelepon ria.

ÔÇ£Dia lagi ngobrol di belakang sama teleponnyaÔÇØ ucap Ibu. Seketika itu pula aku memegang kedua pipi Ibu dengan kedua telapak tanganku, kulumat bibirnya dengan lembut

ÔÇ£puasi aku sekarang bu, mumpung dia lagi sibukÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucap Ibu

Kedua tangannku masih memegang kedua pipinya, kucium lembut bibirnya. Dengan ujung jarinya ibu mengelus-elus lembut dedek arya yang masih terbungkus oleh celana. Luamatan antara bibir kami semakin ganas.

ÔÇ£NIMAAAAAAAAASSSSS!ÔÇØ teriak ayah, mengagetkan kami berdua

ÔÇ£Iya kang mas, ada apa?ÔÇØ ucap Ibu yang berbalik dan masih aku peluk dari belakang

ÔÇ£Ambilkan rokokku di atas TV!ÔÇØ ucap Ayah

ÔÇ£Iya kang masÔÇØ ucap Ibu yang kemudian melepaskan pelukanku, aku masih berdiri di tempat yang sama. Setelah Ibu menyerahkan rokok, Ibu kembali kepadaku dan memelukku.

ÔÇ£Hmmm… kayaknya ndak bisa sayangÔÇØ ucap Ibu pelan

ÔÇ£Padahal dah On Fire ini buÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£sabar yah sayangku, mandi dulu gih, bersih besih, bau tuh hi hi hiÔÇØ bisik Ibu pelan

Aku lepaskan pelukanku, sedikit kecupan pada bibir ibu sebelum aku pergi ke kamarku. Akifitas yang seperti biasanya aku, mandi dan diakhiri oleh makan malam bersama Ayah dan Ibuku. setelah semua selesai aku kembali ke kamarku, kucoba merenungi semua petunjuk dan masih tetap saja buntu. Mungkin memang harus pelan-pelan terlebih dahulu agar nantinya aku bisa merangkainya menjadi sebuah bukti kuat. Saatnya untuk tidur agar esok aku bisa lebih fresh lagi. Tapi ada yang kurang hari ini, aku tidak mendapatkan jatah dari Ibu. Aaaahhhh cenggurrr…. zzzzzzzzzzz.

Centung… centung… centung.. suara notifikasi BBM yang membuatku terjaga. Ibu. Kulihar jam dinding menunjukan pukul 12:00 malam.

From : Ibu
PING!
From : Ibu
PING!
From : Ibu
PING!
To : Ibu
Iya bu…
Tak ada jawaban dari Ibu, selang beberapa saat dari BBM terakhir. Kleeeeeek….. ceklek. Deg, seorang wanita masuk ke kamarku melalui pintu yan gsudah tertutup kembali.

ÔÇ£Ibu…ÔÇØ ucapku penuh dengan senyuman

ÔÇ£Kamu tidak mau melewatkan ini kan sayang?ÔÇØ ucap Ibu dengan tangan kanannya memegang baju dan rok yang sudah dilepasnya. Ibu mengenakan tangk top coklat muda tipis dan G-String putih. Ketika aku hendak berdiri Ibu, melempar pakaiannya dan langsung menubrukku. Aku kini rebah dikasur.

ÔÇ£Kamu dibawah saja sayang, ibu lagi pengen diatas kamu terusÔÇØ

ÔÇ£Ingat sayang, Ibu di atasÔÇØ ucap Ibu dengan senyuman nakalnya. Ibu langsung mengulum bibirku dengan lembut, tangan kanannya berada di samping kiri kepalaku dan tangan kirinya mengelus-elus selangkanganku.

ÔÇ£Masukan tanganmu dibawah bantal sayang, Ibu tidak mau melihat tangannmu, atau tidak sama sekali malam iniÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Asalkan arya bisa memuaskan IbuÔÇØ ucapku sembari menelusupkan tanganku di belakang bantal

Ciuman ibu turun ke leherku, membuat aku menggelinjang. Perlahan turun kebawah tubuhku, disingkapkannya kaosku, lidahnya menari-nari diperutku kemudian naik keatas bermain-main dputingku.

ÔÇ£Arghh sayang… enak sayangku, aku cinta IbuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Katakan itu terus sayangku slurp slurpÔÇØ uca Ibu sambil memainkan bibirnya di putingku

ÔÇ£aku cinta Ibu… aku cinta Ibu… aku cinta Ibu… aku cinta Ibu… aku cinta Ibu… aku cinta Ibu… aku cinta Ibu… aku cinta Ibu… aku cinta Ibu… aku cinta Ibu…ÔÇØ ucapku berurutan membuat ibu semakin hebat dalam kulumannya. Ibu kemudian duduk di atas perutku. Di sentuhkannya telunjuk jari Ibu dari kening kemudian turun ke hidung, kemulut, leher, dan bermain-main di putingku

ÔÇ£Anak nakal!ÔÇØ ucap Ibu sedikit membentakku, membuat aku terkejut

ÔÇ£Ergh… Maaf buÔÇØ ucapku sembari memperlihatkan wajah bersalahku

ÔÇ£Iya kamu itu anak nakal, suka memberi jatah ke yang lain, tapi Ibu jarang kamu sentuh huh!ÔÇØ ucap Ibu ketus

ÔÇ£Tapi salah Ibu sendiri, jarang dirumah hi hi hiÔÇØ lanjut Ibu yang kemudian mengangkat pantatnya. Kini posisi Ibu berada di selangkanganku. Ditariknya celana kolorku dengan paksa dan toeeengg…

ÔÇ£Ampun vaginawati, bukan aku yan menginginkannya tapi kakak yang memaksaku untuk masuk ke dalam vagina lain hiks hiks hiksÔÇØ rintih dedek arya (hanya Arya yang bisa dengar)

ÔÇ£Cuup… ini juga nakal sekaliÔÇØ ucap Ibu yang langsung melumat dedek arya. Dimainkan lidahnya diujung dedek arya, tatapan mata Ibu tampak sangat sensual. Setelah puas di ujung batang dedek arya, dikulumnya dedek arya dengan mulut Ibu.

ÔÇ£Arghhh… bu, Arya sukahhh… terusshh bu emmhhh….ÔÇØ ucapku, namun tiba-tiba Ibu mengehentikan kulumannya

ÔÇ£Suka?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Kulum lagi sayangkuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya kang mas AryaÔÇØ ucap Ibu

Kuluman diah membuat aku kembali on fire, aku sudah tidak peduli lagi. Dalam hatiku aku tidak ingin melepaskan Ibu tapi dari semua gelagat selama ini, ibu ingin sekali lepas dariku. Aku paham namun bukan sekarang. Kulihat kepalanya maju mundur memuaskan batang dedek arya. Sedikit cairan pelumas keluar dari ujung dedek arya.

ÔÇ£sayang, cairan beningmu enak mmmmm….ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ibu, suka?ÔÇØ ucapku yang masih sedikit kaku

ÔÇ£Suka mmmm slurrppp…ÔÇØ ucap Diah

Ibu kemudian berdiri mengakangi dedek arya yang masih tegak. Di geser penutup vaginanya, secara perlahan dimasukan ke dalam. Kepalanya mendongak ke atas, bibirnya bawahnya di gigitnya

ÔÇ£sayang… tempik Ibu penuuuhhh sekali… erghhh….ÔÇØ ucap Ibu yang kemudian blesss semua batang dedek arya masuk ke dalam vaginanya. Ibu kemudian jatuh telengkup di atas tubuhku

ÔÇ£Bu…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£ergh… maafkan Ibu, sayang. Ibu terlalu sering berada diluar rumah sehingga melupakanmu. Ibu ingin kamu yang sekarang adalah kamu yang selalu masuk ke dalam tubuh ibu. Ibu ingin melakukan semua yang kamu inginkan dan Ibu inginkan. Ibu ingin kamulah yang paling sering menyentuh Ibu. Seandainya kamu tahu sayang, sejak pertama kali Ibu melakukannya bersama kamu, ibu meraskan indah bersamamu. Dan Ibu benar-benar merasakan kebahagiaan bersamamu sayang, terlebih lagi dia tidak pernah menyentuh Ibu sejak beberapa tahun yang lalu. Dan mulai sekarang Ibu akan benar-benar menjadi wanitamu dan selalu menunggumu dirumah sayangkuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Aku sayang Ibu, cinta Ibu…ÔÇØ ucapku dibalas senyumannya

ÔÇ£Sayang, sekarang sekalipun ada dia, Ibu ingin melakukannya bersamamu hingga waktu untuk kita berpisah datang sayangÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Jika Ibu menginginkannya Arya akan selalu….ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£Ssssttt… kita sudah berjanji sayangÔÇØ ucap Ibu mengingatkanku. Ibu kemudian bangkit, kedua tangannya bertumpu pada lutut kakiku yang aku tekuk.

ÔÇ£ergh sayang, nikmatilah tempik ibu yang selalu ibu rawat untukmu erghhh… kontol kamu akan selalu merasakan nikmat di tempik ibu sayangkuwh…. owghhh… Ibu akan buat kamu selalu berada dirumah sayang emmmhhhh…. kontol kamu milik tempik ibu ahhhhhh….ÔÇØ racaunya

ÔÇ£Ibu… owhhh nikmat tempikmu nikmat Ibu, owgh… ayo sayangku lebih keras lagiÔÇØ racauku. Ibu kemudian mengocoku vaginanya dengan cepat dan keras. Dalam posisi itu aku hanya bisa merasakan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhku. Kulihat setian ayunan pinggulnya membuat dia menggelinjang nikmat

ÔÇ£Argh… kontol kamu arghhh menyentuh ahhhh rahimku sayang owghh… nikmat owghhh… ibu mau keluarr…ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Keluarkan, bu aku ingin meraskannya arghhh….ÔÇØ racauku

ÔÇ£Ibu keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar…. aaaaaaaaaaaaaaaryaaaa…ÔÇØ ucap ibu setengaj berteriak. Tubuhnya ambruk lagi di atas tubuhku. Membuat aku sedikit ketakutan jika dia mendengarnya

ÔÇ£sayangku cintaku, esh esh esh esh…ÔÇØ ucap Ibu sambil memelukku

ÔÇ£bu… hash hash hasÔÇØ ucapku tersengal

ÔÇ£hmmm..ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£kalau dia bangun bagaimana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tenang saja, kamu berteriak dia tidak bakalan bangun. Ibu sudah kunci kamar, kalau dia bangun kita pasti tahu. Lagian dia tadi juga minum obat tidur, dia tadi minta ibu membelikan obat tidur, katanya dia susa tidut hi hi hiÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£hash has has… buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sssst… gendong Ibu tanpa melepas kontol kamu sayang, di ruang TVÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£sayangku nakal ternyataÔÇ£ balasku dengan senyuman nakal

Dengan posisi dedek arya masih menancap aku gendong Ibu menuju ke ruang TV. di depan TV aku duduk dan Ibu masih dalam posisi duduk di pangkuanku. Dedek arya masih saja tegang siap berperang. Ibu kemudian secara perlahan menaik turunkan tubuhnya, kedua tangannya berpegang pada bahuku.

ÔÇ£Ergh… sayang… kontol kamu lebih terasa masuk sangat dalamhhh erghhh… argh ah ah ah… nyentuh rahim ibu erghhhhÔÇØ racaunya

ÔÇ£ergh… linu bu.. emmmhh… tapi enak… susu ibu menggantung indah arghhhhh…ÔÇØ balasku

ÔÇ£enakh sayang? Eh eh mau yang lebih enakhh ash ash ash…ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£mau bu, goyang terus bu… terusshhhhh erghhhhhhÔÇØ ucapku,

Setelah aku menjawab pertanyaannya Ibu kemudian menggoyang pinggulnya naik turun lebih cepat. Susu ibu naik turun tidak beraturan, tubuhnya melengking. Kedua tangannya bertumpu pada kedua lututku

ÔÇ£Ibu merasa nikmat sekali sayang owgh… kontol kamu eghh… selalu bisa bikin ibu senang… owhh sayangku… erghhhh….ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£arya juga bu, enak sekali, tempik ibu enak seklai arghhh.. nikma bu….ÔÇØ racauku

Ibu kemudian menghentikan goyangan pinggulnya. Tubuhnya ambruk ke tubuhku, nafasnya mengalir ke dadaku. Kupeluk tubuh ibu dan aujung jariku mengelus-elus punggungnya.

ÔÇ£emmmmhhh…. geli sayangÔÇØ ucap ibuku menerima perlakuanku

ÔÇ£suka kan?mmmmhhhh…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucap Ibu

Ku bangkitkan tubuh ibu, kemudian aku arahkan tubuh ibu untuk menungging dengan bertumpu pada sofa. Kuarahkan dedek arya kelubang vaginanya, Doogy style. Sebuah gaya yang bisa membuatku lebih cepat klimaks, karena lubang vagina ibu lebih semppit dari biasanya. Dan bless… dedek arya masuk semua. Perlahan aku mulai menggoyang pinggulku, kedua tanganku memegang pinggang Ibu.

ÔÇ£arghhh…. sayang nikmat, lebih keras lagi… erghhh… buat bu keluar sayangkuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Pasti… siap ya Ibuku sayangÔÇØ ucapku

Aku kemudian mulai menggoyang pinggulku lebih cepat dan keras dari biasanya. Ibu merintih nikmat merasakan dedek arya keluar masuk sesuka hati di vaginanya. Kepalanya ambruk ke depan, kemudian menoleh sedikit kebelakang. Kuraih susu ibu yang menggantung dengan kedua tanganku, goyanganku semakin keras di vagina ibu.

ÔÇ£Arghh… ibu sempith sekalihh owghhh… lebih sempit owghhh….ÔÇØ racauku

ÔÇ£sempit mana sama perawan erlina sayang erghh… erghh… erghh…ÔÇØ racaunya

ÔÇ£sempit punya ibu, lebih enak punya ibu owghh… ibu yang paling nikmat….ÔÇØ racauku

ÔÇ£terus sayanghhh nikamati tempik ibu sayang… erghhh kenthu lebih kerassshhhhh…. erghhhh….ÔÇØ ucap Ibu

Goyanganku semakin keras dan semakin kuat. Kepala ibu tampak mendongak. Kedua tangannya tampak mencoba meremas sofa yang empuk itu. Susunya semakin bergoyang lebih cepat lagi. Aku merasakan spermaku akan segera keluar. Ku alihkan tanganku ke pinggang ibu.

ÔÇ£Keluarkan di mulut ibu sayanghhhh… ibu ingin se..permahhh muwhh owghhh…. terusshhh… goyang lebih kerasshhh… masukan lebih dalam kontol kamuwhhh sayangkuwwhhhh ibu sukaaaahhhhh…ÔÇØ racaunya

ÔÇ£iya bu eh eh eh eh ÔÇ£ ucapku

ÔÇ£aku keluar… arghhhhÔÇØ racauku.

Segera aku cabut penisku, dan bergeser disamping ibu. Ibu kemudian merubah posisinya duduk dilantai. Dibukannya mulut ibu lebar, dan kuarahkan dedek arya ke mulut ibu. Tapi sebelum masuk kemulut ibu, spermaku keburu keluar terlebih dahulu.

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Spermaku keluar dimulur ibu, ada beberapa yang kelaur di wajahnya. Ada juga yang sudah berada di mulutnya. Tangan kanan ibu kemudian meraih batang dedek arya, dan sedikit menogocoknya dengan posisi mulut masih menganga lebar. Aku hanya diam dan menikmati pemandangan itu. Setelah yakin spermaku sudah tidak keluar lagi, ibu melap wajahnya dengan tangan kiirinya dimasukan sisa-sisa sperma ke dalam mulutnya.

ÔÇ£slurrrp… slurrrp…mmmm… cairan cintamu memang ternikmat buat ibuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£dan cinta ibu sangat indah bagikuÔÇØ ucapku. Aku kemudian duduk disebelah ibu yang masih sibuk dengan kegiatannya. Kupeluk tubuh Ibu dan ku masukan wajahku ke dalam lembah susunya. beberapa saat kemudian, ibu mengelus-elus kepalaku.

ÔÇ£kamu tahu sayang, kamulah yang pertama dan yang terakhir untuk ibu. Karena dengan kamu, ibu bisa menikmati yang namanya cinta dan seks hi hi hiÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Arya juga bu mmmmhhh…ÔÇØ ucapku dengan sikap manja masih memeluknya dan menggeleng-gelengkan kepala di antara kedua susunya

ÔÇ£tapi jangan jadikan ibu yang terakhir ya, kalau bisa dian tuh yang terakhir hi hi hiÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£males banget, ngapain juga ibu bahas-bahas diaÔÇØ ucapku

ÔÇ£terlanjur suka sama diaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£pokoknya sama ibu dulu sekarang mmmhhhhh… ibu ya ibuÔÇØ ucapku manja

ÔÇ£Iya sayang iya… hi hi hi ÔÇ£ ucap Ibu

Setelah lama kami berpelukan, kami menyudahi persetubuhan ini. Ibu kemudian menyuruhku untuk bersih-bersih secukupnya dan segera untuk tidur. Setelahnya ibu kemudian bersih-bersih. Sebelum kami berpisah, dengan tubuh telanjangku aku memeluk ibu sangat erat dan kami saling melumat bibir. Aku kembali ke kamarku dan Ibu kembali ke kamarnya.

Pagi menjelang, aku raih handuk dan kupakai kaoe serta celana kolorku. Aku kemudian turun kebawah dan ku dapati Ayah sedang menonton televisi di tempat kami bersetubuh malam tadi. Ku sapa Ayah dan aku berjalan kearah Ibu. Aku duduk di kursi meja makan. Oia antara ruang makan dan ruang TV dibatasi tembok yang tingginya lebih dari meja makan. Kucolek pantat ibu dan Ibu menoleh ke arahku. Ibu tersenyum kepadaku, karena pagi ini dedek arya bangun langsung aku lorotkan celana kolorku di hadapan ibu. Tanpa basa-basi Ibu kemudian jongkok didepanku tertutup meja makan dan tembok. Dikulumnya batang kemaluanku.

ÔÇ£Lho ar, Ibumu kemana?ÔÇØ ucap Ayah tiba-tiba yang tidak melihat keberadaan Ibu yang sedang berjongkok di depanku. Sesaat itu berhenti mengulum dedek arya, namun kemudian melanjutkannya lagi dengan perlahan memaju mundurkan kepalanya

ÔÇ£argh… ndak tahu romo, mungkin lagi di belakangÔÇØ ucapku sambil mengelus-elus kepala Ibuku

ÔÇ£owh ya sudah, nanti kalau sudah balik suruh buatkan teh hangatÔÇØ ucap Ayahku yang kemudian berkonsentrasi ke televisi lagi

ÔÇ£Iya RomoÔÇØ ucapku

Dengan segera ibu memaju-mundurkan kepalanya lebih cepat. Kurasakan sedotannya lebih kuat. Gesekan antara kulit dedek arya dan dinding mulutnya membuatku semakin belingsatan. Di pagi hari membuat ku merasakan lebih cepat untuk mencapai klimaks. Dan… Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot. Spermaku keluar dimulut ibu, sejenak Ibu berdiam di depan selangkanganku, aku menunduk dan terpejam. Ibu kemudian bangkit dan sedikit memuntahkan spermaku di tempat cuci piring dan langsung berkumur.

ÔÇ£Bu, disuruh buatin teh hangat romoÔÇØ ucapku, agak sedikit keras agar Ayahku mendengarnya

ÔÇ£mmm iya…ÔÇØ balas Ibu

ÔÇ£mandi gihÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£gih buÔÇØ ucapku yang langsung bangkit dan mandi

ÔÇ£ni kang masÔÇØ ucap Ibu yang ku dengar dari dalam kamar mandi

Setelah beres mandi, ku lihat Ayah masih di depan televisi menikmati acara tersebut. Tak kulihat Ibu, aku kemudian ke kamarku. Sesampainya di kamarku, aku dapati ibu berada di kamarku. Ditariknyaku dan di dorongnya aku hingga rebah di kasur. Ibu kemudian menutup pintu kamar, dan berjalan ke arahku. Ibu sedikit membungkuk, dengan tangan kananya diremasnya dedek arya.

ÔÇ£Pagi-pagi sudah nyusahin Ibu sajaÔÇØ ucap Ibu dengan wajah judes. Aku sedikit takut.

ÔÇ£e… itu anu bu… arya dah ndak kuat…ÔÇØ ucapku. Dengan posisi merangkak, diatas tubuhku ibu mencum bibirku

ÔÇ£Ndak papa sayang, ibu suka karena kamu tambah berani. Ibu juga senang karena gimana ya? Merasa senang saja bisa melakukannya ketika ada dia hi hi hi cup mmmmmÔÇØ ucap Ibu yang kemudian melumat bibirku. Ibu kemudian bangkit dan menyuruhku segera berangkat PKL

ÔÇ£Bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya…ÔÇØ balas Ibuku yang membalikan badan ketika hendak membuka pintu kamarku untuk kembali turun ke bawah

ÔÇ£engggg… itu kok Ibu tambah ennggggg gimana ya berani saja?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hi hi hi… ibu baca-baca artikel, dan sempat nonton film di sematponmu waktu kamu masih tertidur kan ada adegan silent sex. Ibu jadi kepengen, Dan lagian kalau kamu ndak dijatah, bisa-bisa kamu main diluar. Kan bisa terkena penyakit nanti sayangÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£huft… yang penting sama arya saja buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Pasti, ibu jamin… ehemmmm…ÔÇØ ucap ibu terneyum kepadaku sembari meninggalkanku di kamar

Selepas itu, aku berangkat PKL. Sebelum berangkat Ibu kini lebih mengendalikan aku. Dengan sedikit ancaman kalau main diluar, harus ada hukuman dirumah. Aku sedikit geleng-geleng dengan sikap ibu kali ini. Katanya cemburu, dan aku bisa maklum akan hal itu.

Sesampainya di tempat PKL, sampel datang lebih banyak. Seperti kata mbak echa kemarin, kami harus lembur hingga jam 3 sore. Jam 2, mbak ela pamit pulang tapi sampel masih menumpuk banyak. Hingga jam 3 yanto dan encus minta ijin pulang.

ÔÇ£kan sampelnya masih banyak, kalau lembur 2 jam lagi bagaimana?ÔÇØ ucap mbak echa yang kini berada di lab bersama kami bertiga

ÔÇ£aduh mbak, gimana ya? Mas arya saja mbak, kemungkinan satu orang sudah cukup mbakÔÇØ ucap yanto

ÔÇ£Iya… iya sekalian latihan he he heÔÇØ ucap encus

ÔÇ£Lho Lho Lho…ÔÇØ balasku

ÔÇ£Mau ya Ar, nanti ada uang saku, okay?ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Yah mbak, kalau aku sendiri bisa sampai malam mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ayolah mas tolongin kita, aku sama yanto mau ada acara keluarga juga, pleaseeeeeeÔÇØ ucap encus

ÔÇ£mau ya mas?ÔÇØ ucap yanto.

Mau ndak mau kini aku mahasiswa magang menghandle semua pekerjaan dilaboratorium. Yanto dan encus akhirnya pulang, mbak echa pun tampak senang ada yang membantunya. Aku kini sendirian di dalam laboratorium, hingga pukul 6 sore sampel masih tersisa sedikit lagi. Mbak echa kemudian meyuruhku istiraha dan makan terlebih dahulu. Mbak echa telah memesankan makan malam untukku. Mbak echa kemudian kembali ke ruangannya dan meninggalkan aku dilab. Aku kemudian keluar ruangan untuk makan dan sssshhhh aaaaahhhh dunhill mild. Aku kemudian menelepon Ibu.

ÔÇ£Halo sayangÔÇØ

ÔÇ£Bu, ini aku disruh lembur di PKL, sampelnya masih ada untuk di analisa sedangkan karyawannya malah pada pulang, Arya ijin pulang malamÔÇØ

ÔÇ£Lho gimana to perusahaan itu, malah kamu yang disuruh lembur? Tapi bener kamu masih di tempat PKL? Hayooo…ÔÇØ

ÔÇ£iiih Ibu, kalau ibu ndak percaya, ibu ntar aku telepon pakai nomor kantor siniÔÇØ

ÔÇ£iya.. iya ibu percaya, ya sudah kamu menginap saja di tempat temen kamuÔÇØ

ÔÇ£Lha nanti dia ngapa-ngapain Ibu gimana?ÔÇØ

ÔÇ£dah tenang saja, dia belum pulang, paling besok pagiÔÇØ

ÔÇ£Beneran ndak papa?ÔÇØ

ÔÇ£Ya ndak papa. Asal kalau ada apa-apa cerita sama Ibu dan kalau apa-apanya kaya gitu harus siap dihukum sama IbuÔÇØ

ÔÇ£tapi dihukumnya ndak suruh pergi dari rumahkan?ÔÇØ

ÔÇ£Ya ndak to ya, sudah cepet kamu selesaikan pekerjaan kamuÔÇØ

ÔÇ£Siap Ibuku sayangÔÇØ

ÔÇ£selamat PKL sayangku emmmuaaaachhhhh….ÔÇØ

ÔÇ£iya ibu emmmuaachhhhhÔÇØ

Selepas aku telepon dengan Ibu, aku kemudian kembali di laboratorium tepat pukul 18:45. Kembali kerutinitas analisa, Beberapa sampel sudah aku analisa dan tersisa sedikit. Kleeeek… pintu lab terbuka, dan mbak echa masuk ke dalam lab. Masuklah mbak echa, yang mengenakan baju ketat yag berwarna biru muda dan legging hitam, bagian kepalanya dihiasi oleh kerudung berwarna biru.

ÔÇ£Makasih ya ar, kalau ndak ada kamu bisa-bisa ndak jalan analisanyaÔÇØucap mbak echa yang duduk diseberang meja

ÔÇ£Santai saja mbak, ndak papa, aku tadi juga sudah minta ijin sama Ibuku mbakÔÇØ ucapku sambil menganaisa sampel

ÔÇ£Sebenarnya aku juga ndak tega, tapi mau bagaimana lagi perusahaan kadang memeras keringat tapi ndak ada tambahan. Mereka yang sudah biasa di lab jadinya sudah tahu, akhirnya mereka sering menolak kalau tambahannya sedikit. Aku juga ndak bisa apa-apa kalau begituÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Lha mbak echa kok tadi mau ngasih uang saku aku segala?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Itu uang pribadi aku arÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£ndak usah saja mbak, ndak enak sama yang lain nantiÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak papa santai saja, kamu pulang malam ndak papa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£sudah biasa, tadi ibu nyuruh aku nginap di rumah temanÔÇØ ucapku

ÔÇ£nah selesai juga akhirnyaÔÇØ lanjutku yang sudah menyelesaikan semua pekerjaan

Akhirnya selesai jugaÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Lha mbak pulang malam apa ndak dicari suami mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak, suamiku itu sering berubah-ubah kadang dingin kadang hangatÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£owh…ÔÇØ ucapku yang tidak ingin melanjutkan pembahasan mengenai suaminya

ÔÇ£dia itu kaku arÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£….ÔÇØ aku hanya diam dan memandangnya sambil membersihkan alat lab

ÔÇ£kamu kok malah diem diajak bicaraÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£ya mungkin mbak echanya yang kaku duluan dan memang dasaranya lelaki itu kaku dan keras mbakÔÇØ ucapku sekenananya

ÔÇ£nyatanya kamu bisa luwesÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£ya aku pun juga pastinya akan kaku juga mbak kalau yang berhadapan dengan aku kaku, sama seperti cowok lainÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ehhhh…ÔÇØ ucapnya sambil meletakan kepalanya di atas tumpukan tangannya

ÔÇ£dia sebenarnya hangat ar, tapi kadang dia tidak bisa sehangat itu ketika kita melakukan…ÔÇØ ucap mbak echa berhenti

ÔÇ£Owh… kurang komunikasi kaliÔÇØ ucapku sok tahu dan tanpa pikir panjang. Ya mungkin karena aku pernah melakukannya

ÔÇ£Hmmm… kamu pernah ya Ar?ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£eh… itu aku tahu dari internetÔÇØ ucapku

ÔÇ£bohong! Jujur arÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£iya aku pernah mbak, eh perna apa mbak maksudnya?ÔÇØ ucapku mengelak kembali

ÔÇ£berlagak bodoh lagi, ya hubungan ranjangÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£hufttthhh… iya deh aku ngaku pernah mbakÔÇØ ucapku yang masih membersihkan alat-alat lab

ÔÇ£terus, ceritain dong ke akuÔÇØucap mbak echa

ÔÇ£yeee… mbak kan juga sudah pernah melakukannya ngapain aku cerita-cerita, parno kaliÔÇØ ucapku

ÔÇ£huh dasar cowok!ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£yeee marah….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dulu sebelum menikah, aku pernah ar sama cowokku sebelum suamiku sekarang. Enak orangnya dan beberapa kali melakukan dengan dia aku merasa jadi wanita. Tapi sialnya dia selingkuh, dan ketika sama suamiku waktu pacaran juga sama seperti ketika setelah menikah kakuÔÇØ curhatnya

ÔÇ£….ÔÇØ aku diam, dan masih sibuk dengan melap alat-alat lab satu persatu

ÔÇ£iiih kamu itu, mbok dijawab kenapa toÔÇØ ucap mbak echa jengkel

ÔÇ£Eh… itu anu mbak emmmmm…..ÔÇØ ucapku kemudian berdiam sambil berpikir

ÔÇ£emmm… apa alasan pacar mbak pertama selingkuh? Atau meninggalkan mbak?ÔÇØ ucapku mencoba menelisik

ÔÇ£mmmm apa ya mmmm oh iya, dulu dia pernah bilang ke aku . katanya aku egois kalau sedang berhubungan, awalnya tidak lama kelamaan egois gitu katanya. Menurut kamu, egoisnya perempuan itu seperti apa?ÔÇØ ucap mbak echa. Aku kemudian menata alat-alat lab dan duduk diseberang meja, kini aku berhadapan dengan mbak echa

ÔÇ£maaf mbak sebelumnya, aku tidak pernah tahu hal-hal dalam rumah tangga. Egois itu ingin menang sendiri, apa ketika mbak berhubungan tidak pernah berkomunikasi dengan suami mbak mengenai ehem ehemnya, misal setelah ehem ehem itu selesaiÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak pernah, lha wong kadang kalau dia sudah keluar dia langsung tidur ar, aku ya ikutan masa aku disuruh nungguin orang tidurÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Kalau waktu main?ÔÇØ ucapku menelisik

ÔÇ£Hmmm.. gimana ya, aku sukanya ya gimana istilahnya…ÔÇØ ucap mbak echa sedikit bingung

ÔÇ£lha gimana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya menguasai permainan lah, istilahnya begituÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Owh dominasi, mbak echa suka mendominasi? Gitu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya bener-bener, mendominasi hi hi hi…ÔÇØ ucap mbak

ÔÇ£Hmmm… ÔÇ£ sejenak aku berpikir, aku menundukan kepalaku dan kadang-kadang aku memandang mbak echa

ÔÇ£mbak tahu ndak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Apa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku saja, sebagai seorang cowok itu inginnya mendominasi permainan walau kadang aku ingin didominasi, tapi hanya kadang saja mbak. Selebihnya aku harus yang menguasai, walau begitu komunikasi paling penting mbak. Yang terpenting jangan selalu mendominasi, harus ada take and givenya, aku ambil kepuasan dan juga memberi kepuasanÔÇØ ucapku sok tahu

ÔÇ£Hmmm…ÔÇØ ucap mbak echa sambil memandangku dalam

ÔÇ£Kamu tahu banyak ya? Aku selalu ingin mendominasi dan suamiku aku jadikan objek. Habis mau bagaimana lagi dia lambat arÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£bukannya tahu banyak, dari internet mbak he he heÔÇØ

ÔÇ£Yeee mbak echa-nya kali yang suka mengambil kesimpulan sepihak. Harusnya mbak echa, tanya ke suami mbak, pengennya apa? Kalau dilihat dari cerita mbak, suami mbak echa itu pendiam ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Bener-bener peramal kamu ar, ita dia pendiam jarang ngomongÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£makanya diajak ngomong mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya iya… hmmmm…. arÔÇØ ucap mbak echa yang berdiri dan berjalan ke arahku

ÔÇ£Iya mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£apa kamu bisa menunjukan kepadaku, bagaimana agar cewek yang egois seperti aku bisa memahami sorang pria?ÔÇØ ucap mbak echa yang berdiri tepat disampingku

ÔÇ£Eh….ÔÇØ aku terkejut dengan kata-kata mbak echa

ÔÇ£ajari aku ar, agar aku bisa melakukannya dengan suamiku. Paling tidak ajari aku agar aku bisa menghilangkan keegoisanku di hadapan suamiku dan agar aku bisa mengambil serta memberi kepada suamikuÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Yeee…. ndak mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Please ar, ajari akuÔÇØ ucap mbak echa yang kemudian secara paksa membalikan tubuhku ke arahnya. Seketika itu pula di hadapanku dia mulai meremas lembut selangkanganku

ÔÇ£eh.. mbak jangan mbak, bagaimana kalau suami mbak tahu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dia ndak bakal tahu ar, kalau kamu tidak memberi tahunyaÔÇØ ucap mbak echa santai kepadaku dan tangannya masih meremas-remas lembut selangkanganku

ÔÇ£mmmhh… mbak sudah mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu ternyata hanya bisa bicara Ar, omong thok (omong doang-bahasa kerennya)ÔÇØ ucap mbak echa. Mata kami saling beradu satu sama lain, matanya tajam ke arah mataku. Kata-kata terakhirnya membuat aku sedikit tidak terima walau pada dasarnya aku memang tidak tahu menahu mengenai perihal rumah tangga. Tapi ucapannya itu membuat aku sedikit terbakar, sudah tahu ada petroleum eter (zat yang sangat mudah terbakar) pakai di kasih api. Aku kemudian memandangnya denga senyuman, ku remas tangannya dan kuarahkan untuk membuka relseting celanaku.

ÔÇ£Sebenarnya aku tidak ingin mbak, tapi aku tidak terima dengan ucapan mbakÔÇØ ucapku. Mbak echa sedikit terkejut dengan ucapanku namun kemudian dia tersenyum kepadaku. Perlahan mbak echa membuka resleting celanaku, dengan sedikit memaksa dia tarik celanaku. Aku sedikit mengangkat pantatku dan toeeeeengggg…. dedek arya keluar, dedek arya tampak memasang wajah jengkelnya.

ÔÇ£Menghina kita ini kak, aku ndak terima! Buat dia tergila-gila kakÔÇØ ucap dedek arya (ingat ucapan dedek arya hanya halusinasi saja)

ÔÇ£gede dan panjang ar, punya suamiku hampir sama gedenya cuma lebih pendek sedikitÔÇØ ucap mbak echa dengan tangan mengelus-elus dedek arya

ÔÇ£Kalau ndak suka ditutup saja mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£suka? Bagaimana aku bisa bilang suka, Cuma lihat doangÔÇØ ucap mbak echa yang masih memandang dedek arya dan mengelus-elusnya. Seakan-akan terhipnotis, aku arahkan kedua tanganku dibahunya, dengan sedikit menekannya mbak echa sekarang berjongkok dihadapanku. Pandangannya tidak lepas dari dedek arya

ÔÇ£Coba dikulum mbakÔÇØ ucapku sedikit nakal

ÔÇ£Ndak! Jorok tahu!ÔÇØ ucap mbak echa sedikit membentakku dan memandangku dengan wajah marahnya. Wah dah kepala tanggung dia sudah jongkok, sayang sekali jika dia harus berdiri lagi. Apa dia belum pernah mengulum ya? Wajahnya memang tampak marah sekali. Kasihan suaminya tidak pernah merasakan nikmat dikulum. Harus sedikit aku paksa agar dia mengenal nikmatnya dedek arya. Wah tambah gila aku ini, masa bodoh!

Trap trap trap trap… suara langkah seseorang melintas di depan laboratorium, aku menoleh ke arah luar laboratorium tampak bayangan seseorang. Ya suaranya sangat jelas, karena posisi perusahaan sekarang memang sudah mulai sepi. Kudengar suara langkah itu kembali dan aku perkirakan menuju ke arah laboratorium. Tampak bayangan itu mendekat ke pintu laboratorium yang terbuat dari kaca buram. Dengan segera kugeser kursiku dan tarik mbak echa dengan paksa, mbak echa tampak terkejut. Kini posisi mbak echa berjongkok tepat di selangkanganku dibelakangnya terdapat meja lab, dan dihadapannya aku yang sedang duduk dikursi dengan dedek arya berwajah sini memandangnya. Segera aku raih bagian belakang kepala mbak echa, kudorong kedepan. Kuarahkan dedek arya ke mulut mbak echa. Mbak echa nampak mencoba menolak, aku tutup hidung mbak echa yang seketika itu mulutnya menganga dan slebbb masuklah dedek arya di mulult mungil mbak echa. Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke pintu lab yang akan terbuka. Ku sadari bahwa kepala mbak echa sedikit terlihat, segera aku raih tasku dan ku letakan dihadapanku. Dan masuklah seseorang.

ÔÇ£Lho ar, masih disini?ÔÇØ ucap pak humas

ÔÇ£Erghh… iya pak, baru saja emmhhh selesai…ÔÇØ ucapku sedikit merasakan ngilu dan sakit karena gigi mbak echa mengenai dedek arya

ÔÇ£Ada apa kamu? Sakit?ÔÇØ ucap pak humas. Kucoba menenangkan diriku dan menahan rasa sakit ini, ku turunkan tangan kiriku dan kuraih bagian belakang kepala mbak echa. Ku dorong kedepan dan kutahan.

ÔÇ£Owh… ndak pak, Cuma sedikit capek saja, ada apa pak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak, ini aku mencari managermu, mbak echa, lihat ndak?ÔÇØ ucap pak humas yang kemudian duduk di seberang meja, di kursi dimana mbak echa tadi duduk

ÔÇ£Wah ndakh tahu pak, tadi memang masuk kesini tapi kemudian keluar lagiÔÇØ ucapku. Sambil mengambil sematponku di dalam tas. Kurasakan mbak echa mulai meronta dan hendak berdiri tapi aku mencoba menahannya. Ku ketik sebuah pesan di sematponku

ÔÇ£Owh ya sudah, mau menyesuaikan laporan sebenarnya, lha kamu kok belum pulang? Mau bareng?ÔÇØ ucap pak humas

ÔÇ£Eh…ÔÇØ ucapku sedikit kaget. Dengan berbagai gaya, aku letakan sematponku di bawah meja tepat dihadapan mata mbak echa.

Tertulis :
Jangan berdiri, kalau ketahuan, pak humas bisa minta jatah juga dan mbak akan melayani 2 orang. atau mbak mau kedepannya dijadikan mainan sama pak humas? Lebih baik kulum dan nikmati!

ÔÇ£Owh ndak pak, nunggu mbak echa saja. Ndak enak kalau pulang duluan, kan aku juga harus kasih laporan pakÔÇØ ucapku sekenanya. Mbak echa mulai tidak meronta setelah membaca kalimat yang aku ketik di sematponku. Dia kini hanya mengulum tanpa aktifitas apapun, hanya berdiam dengan mulut tersumpal dedek arya.

ÔÇ£Owh ya sudah, nanti kalau mbak echa sudah balik kesini bilangkan ke dia kalau bagian humas mencari. Biar nanti kalau ada waktu bisa mampir ke office, gitu ya Ar?ÔÇØ ucap pak humas

ÔÇ£Okay pakÔÇØ ucapku dengan senyuman

ÔÇ£Ya sudah aku ke kantor duluÔÇØ ucap pak humas yang kemudian berdiri dan keluar dari lab. Posisi mbak echa masih berada di selangkanganku , suara derap langkah mulai menghilang dan mbak echa sedikit mendorongku. Dia berdiri dan menatapku dengan wajah yang marah

ÔÇ£Kamu benar-benar gila Ar! Cuih cuih cuihÔÇØ

ÔÇ£bagaimana kalau ketahuan?! Kamu itu bajingan!ÔÇØ ucap mbak echa, sembari memandangku dan mengelap mulutnya. Terlihat mbak echa merasa jijik dengan apa yang dilakukannya barusan. Aku hanya memandangnya dengan tersenyum, melihat reaksinya berbeda dari yang aku harapkan. Sambil berdiri, Aku masukan kembali dedek arya kedalam celanaku.

ÔÇ£Maaf mbak, mbak sendiri yang minta pembuktian ditambah lagi mbak sedikit menghinaku. Dan sekarang mbak sendiri yang kecewa atas permintaan mbakÔÇØ ucapku sambil memandangnya

ÔÇ£Kalau mbak mau mengeluarkan aku dari PKL sekarang juga ndak masalah mbakÔÇØ ucapku tersenyum kepadanya

ÔÇ£ndak ada kaitannya sama PKL, aku tidak suka perlakuan kamu tadi. Jijik tahu ndak kamu!ÔÇØ ucapnya sedikit membentak. Kurah tas punggungku, ku berjalan kearahnya dan tepat dihadapannya.

ÔÇ£Mbak tahu?ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£Apa?! kamu mau perkosa aku!ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£E-GO-IS!ÔÇØucapku pelan dan tegas

ÔÇ£aku pulang dulu mbak, besok-besok lagi ndak usah minta bukti kalau dikasih ndak mauÔÇØ ucapku sedikit sinis kepadanya. Aku kemudian melangkah menuju ke pintu lab, tiba-tiba tanganku di pegang oleh mbak echa

ÔÇ£Egois gimana maksud kamu?ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Ya, kan bisa lihat sendiri kan?ÔÇØ ucapku yang sedikit membalikan tubuhku ke arahnya

ÔÇ£Aku ndak ngertiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Cowok itu paling suka kalau alat kelaminnya di mainkan, mungkin mbak jarang memainkan punya suami mbak, mungkin kalau mbak sudah basah minta dimasuki dah selesai. Kepuasan cowok kan ndak Cuma ketika masuk, pemanasan juga bagian penting mbakÔÇØ ucapku mencoba melepaskan genggaman tangannya. Tapi tiba-tiba mbak echa bergerak dengan cepa mendahuluikku dan merapatkan pintu lab, dan klek.,.. suara pintu lab dikunci. Kemudian dia bersandar di pintu dan memandangku. Aku bengong dengan sikapnya, perlahan dia bergerak ke arahku dan berjongkok dihadapanku. Perlahan dan pasti, dia mulai membuka celanaku, ditariknya pelan celanaku dan toeeeng… dedek arya tegak berdiri. Di elus-elusnya dengan tangan kanannya.

ÔÇ£Main-main sama kakakku, kakakku paling jago main kata-kata, pake marah segala, kalau aku dah masuk baru tahu rasa kamu ha ha ha haÔÇØ tawa dedek arya

ÔÇ£Diam kamu ndulÔÇØ bathinku yang bergejolak

ÔÇ£Aku memang egois ar, ajari aku agar tidak menang sendiri. Setiap kali aku main sama suamiku, aku selalu ingin di atas. aku tidak pernah melakukan pemanasan, karena sebelum aku bermain aku selalu memainkan punyaku sendiri dihadapannya. Baru setelah aku merasa akan keluar, kupaksa suamiku memasukan burungnya. Dan kami bisa keluar bersama ar, aku kira itu sudah membuatnya cukup puas ar, tapi ternyata aku baru sadar kalau pemikiran laki-laki itu berbeda dengan perempuan. jujur ar, kadang aku tidak suka dia memainkan organ-organ seksku, karena bagiku itu hanya akan memperlama. Pandanganku, seks adalah yang penting sama-sama keluar, itu sajaÔÇØ

ÔÇ£semua itu aku dapatkan dari kakak perempuankuÔÇØ jelas mbak echa

ÔÇ£Hmmm… mungkin suami kakak mbak memang menginginkan permainan seperti itu, tapi suami mbak tidakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Terus, aku harus bagaimana ar?ÔÇØ ucap mbak echa pelan yang memandangku dan tangannya masih mengelus-elus dedek arya.

Ku raih kepala bagian belakang dan kudorong ke depan. Mbak echa yang sudah tahu keinginanku langsung membuka mulutnya lebar. Dimasukannya dedek arya ke dalam mulutnya, perlahan aku maju mundurkan kepalanya.

ÔÇ£aduh… jangan kena gigi mbak, sakitÔÇØ ucapku sambil mengrenyitkan dahi

ÔÇ£mmm… ah ah ah… terus bagaimana aku tidak pernah arÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Kaya nemut es krim mbakÔÇØ ucapku

Dimasukannya lagi dedek arya ke dalam mulutnya. Kini perlahan tapi pasti, dedek arya masuk keluar dari mulutnya. Walau terkadang terkena giginya, aku bisa menahannya. Lama kelamaan mbak echa sudah bisa menikmati aktifitasnya, tampak wajahnya kini sudah tidak mulai jijik. Kulumannya memang benar-benar nikmat sebagai pemula. Sensasi ini bertambah panas dengan balutan kerudung di kepalanya.

ÔÇ£Arghh… nikmat mbak, emmmhh…. terus mbak kulum terus sampai aku merasa cukupÔÇØ ucapku

ÔÇ£mmm… mmm… mmm…ÔÇØ mbak echa hanya bisa menjawab sekenanya saja, tangan kananya mengocok batang dedek arya dan mulutnya mengulum sebagian batang dedek arya hingga ujungnya,

Segera aku cabut dedek arya ku berdirikan mbak echa, kucium bibirnya dengan lembut. Tanganku memeluknya dan mengelus-elus punggungnya. Mbak echa juga tidak kalah, dia memluk leherku dan menekannya. Lumatan bibir kami begitu brutal, bibir kami saling berpagutan seakan-akan tidak ingin lepas. Ku jatuhkan tas punggungku dan dengan gerak cepat aku buka resleting celana mbak echa. Kupelorotkan celana sekaligus celana dalamnya hingga posisi tubuhku agak sedikit turun namun tidak lepas ciuman kami. aku berdiri kembali dan masih berpagutan dengan bbir mbak echa, kaki kananku ku gunakan untuk menekan kebawah celana mbak echa. Mbak echa kemudian mengangkat satu persatu kakinya, kini mbak echa telanjang pada bagian bawahnya. Ku posisikan diriku dibelakang mbak echa, kepala mbak echa menoleh kebelakang seakan-akan tak mau melepas bibirku. Kedua tanganku meremas payudara mbak echa, kubuka kancingnya satu persatu.

Terbakarnya nafsu membuat aku hilang kendali, karena sulitnya membuka kancing itu aku kemudian menarik baju mbak echa. Tak ada perlawanan darinya, kini terlihatlah BH berenda warna putih. Kuremas-remas kuat payudaranya, kuremas ke atas kesamping sesuka hatiku. Kutarik keatas BH mbak echa dan munculah payudara montok dan sekal, maklumlah belum pernah menyusui. Dengan posisi masih berciuman aku maninkan puting yang sedikit merah itu.

ÔÇ£ahhhh papah enaaakkkhhh… erghhh…. terus pah, mamah enak banget emmmhhh… ssshhhhh…. terus… mainkan pah, mamah suka dimainkan….ÔÇØ desah mbak echa yang tiba-tiba saja memanggilku papah

ÔÇ£kangen sama suami ya mbak?hash hashÔÇØ ucapku dengan nafas memburu

ÔÇ£erghh… ndak Ar, asssssssshhhh…ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Iya terserah mbakÔÇØ ucapku

Masih di belakang mbak echa, Kuturunkan tangan kananku ke selangkangan mbak echa. Segera aku menyibak vaginanya, kumainkan dengan sedikit menusuk-nusukan jariku ke vagina mbak echa. Tubuh mbak echa kelihatan sekali merasakan rangsangan, tubuhnya meliuk-liuk setiap kali jari-jemari kananku bermain-main di vaginanya ditambah lagi tangan kiriku tidak berhenti bermain-main di puting susu mbak echa.

ÔÇ£Arghh… papah… erghhh enak bangethh pah… mamah ndak pernah diginiin sama suami mamah, erghhh… papah ayo pah terus pah… mainin sepuasnya, memek mamah buat papah ufthhhh…ÔÇØ racaunya

Kudorong tubuhnya, kuciumi lehernya, mbak echa hanya bisa mengaduh dan merintih nikmat atas perlakuanku. Kuhentikan kegiatanku dan ku posisikan mbak echa duduk di meja lab. Kubuka selangkangan mbak echa, kumajukan bibirku.

ÔÇ£Jijik pah jangan…ÔÇØ ucap mbak echa, aku tidak menghiraukan.

Segera aku memasukan jari kananku ke dalam memek mbak echa, dengan sedikit menekuknya aku maju mundurkan jariku. Denganasih memainkan jariku aku mencium bibirnya tangan kirku memainkan puting susunya. Dengan bertumpu pada tangan kanannya, tangan kiri mbak echa meraih bagian belakang kepalaku menekannya untuk mencium bibirnya lebih ganas. Suara desahan mulut yang tersumpal keluar dari bibirnya. Mungkin jika tak aku seumpal dengan bibirku akan ada teriakan keras. Setelah puas, aku menarik bibirku dari bibirnya dan berpindah ke vaginanya. Segera aku menjulurkan lidahku ke vagina mbak echa, kusapu vaginanya dengan lidahku.

ÔÇ£Arghhhh… papah nikmat sekali… emmmhh…. terusshhh oghhh papahku… mainkan… semua milik papah, mamah suka sekali papah owgh… itil mamah enak banget pah… mamah suka… arghh arghhh mamah, mamah, punya papah owghh… pahh terushh lebi kerasssh mamah mau klimaks pah owgh….ÔÇØ racau mbak echa

ÔÇ£enka banget pahhhh…. arghhhhhhh… sangat nikmat pah, jangan berhenti… ashhhh… papah papah hebat arghhhh….ÔÇØracaunya kembali

aku perkuat kocokanku dan lebih kasar lagi jari-jariku bermain-main di vagnanya. Dan…

ÔÇ£Papahh…. owghhh…. ehg ehg ehg ehg … ahhhhhhÔÇØ racaunya,

Tubuhnya melengking, cairan hangat mengalir dari vaginanya. Kuhentikan aktifitasku an kucabut jariku dari vaginanya. Aku berdiri dan Kulihat tubuhnya masih tersengal-sengal, matanya terpejam. Balutan kerudung itu sedikit acak-acakan. Selang beberapa saat matanya terbuka, kedua tanganya terbuka dan memelukku. Ku balas pelukannya dan kuelus-elus punggungnya.

ÔÇ£Nikmat sekali pah… mmmhhhh hesh hesh hegh ahhhh…ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Manggilnya kok papah mbak? Pasti lagi ngebayangin main sama suaminya ya he he heÔÇØ jawabku selengekan

ÔÇ£Kamu sekarang papahku ar, aku mau kamu ajari aku semua ar, sisa PKL kamu disini aku adalah istrimu ar, aku siap kapanpunÔÇØ ucapnya masih sambil memelukku

ÔÇ£Beneran mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mamah, mamah… kalau Cuma kita berdua panggil aku mamahÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Iya mamah, mamah papah belum keluarÔÇØ ucapku yang sudah terbakar birahi. Aku juga tidak habis pikir mbak echa bisa dengan mudah aku peluk.

ÔÇ£iya pah, masuki burung papah, kita ke sofa ruangan mamahÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£burung? Gak ada burung disini mahÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiih papah jorok, iya dech kontol, pindah yuk pahÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£Disini saja mahÔÇØ ucapku sambil mendorong tubuhnya agak sedikit kebelakang. Kini mbak echa bertumpu pada kedua tanganya, kakinya aku buka lebar dan perlahan aku masukan dedek arya ke dalam vaginanya. Licin dan becek, blessss… masuk secara perlahan batang dedek arya.

ÔÇ£erghhh… pah penuh pah lebih penuh daripada kontol suamiku… pelan pah, masuknya pelan pah agak sakit pah ufthhh… papahku owghh… enaaak enaaak banget pah emmmm enak pah terus pah di goyang pah ashhhÔÇØ racaunya

ÔÇ£memek mamah kok sempit sekali, jarang dimasuki ya?ÔÇØ ucapku menggoda sambil mengoyangnya sebentar dan perlahan

ÔÇ£iya pah paling seminggu sekali pah owghhh… aduh pah, diem dulu sebentar pah… mamah pengen nikmati kontol papah sebentar owgh… ÔÇ£ racaunya

ÔÇ£Papah dah ndak tahan mah erghhh…. pengen ngocok memek kamu pengen ngenthu memek kamu mahÔÇØ ucapku yang kemudian mulai menggoyang perlahan

ÔÇ£Iya pah kenthu pah, kenthu memekkuhhh owhhh… terus pah pelan pelan dulu pah, kontol papah kebesaren pah… owghhh….ÔÇØ ucap mbak echa

Tanpa pikir panjang lagi, aku kemudian mulai menggoyang pinggulku. Dimulai dengan pelan kemudian bertambah kecepatan menggoyang. Kedua tangan mbak echa sudah tidak dapat menyangga tubuhnya, mbak echa tergeletak di meja lab dengan vagina yang diobok-obok oleh dek arya. Kedua tangannya bereaksi dengan memainkan putingnya sendiri, mungkin karena sudah terbiasa masturbasi. Pemandangan yan gsangat indah, wanita berkerudung dengan baju terbuka, BH terangkat di atas paydaranya yang lumayan besar. Ya, seorang manager QC wanita yang sedang di sodok oleh mahasiswa PKL atau bisa dibilang jatuh kedalam pelukan karyawannya sendiri.

Tubuhnya bergoyang, payudaranya naik turun. Matanya terpejam, lama aku menggoyangkan pinggulku gerakan tubuhnya semakin tidak teratur. Kedua tangannya yang semula bermain-main diputing susunya mencoba menahan gerakan pinggulku namun tak mampu. Kepalanya mendongak ke atas, tubuhnya bergetar dan bergoyang racaunya kembali terdengar. Tak ada lagi yang kulihat wibawa seorang manager, namun yang kulihat sekarang adalah seorang wanita yang butuh dipuaskan. Butuh laki-laki untuk mengajarinya memuaskan suaminya.

ÔÇ£Arghhh papah… jebol memekku pah arghhh… kontolmu nanggok pah arghhhh… terus pah terus arghhh… kocok kontolmu lebih keras pah arghhh lebih dalam lagi, memeku butuh kontol papah aieshhhhh… ayo terus pah terus puaskan mamah pah… agh agh agh agh… erghh… kontol papah enaaaaakkk owghhhh….ÔÇØ racaunya. Aku sedikit tersenyum dengan nafas sedikit tersengal-sengal

ÔÇ£Mamah, ash ash ash mamah itu manager kok ngomongnya jorok!ÔÇØ ucapku dengan nafas tersengal

ÔÇ£iya mama assssshhhhhhhh… mamah manager yang butuh KONTOL PAPAH arghhhhh… terushhh pah mamah hampir sampai…. erghhhhh… terus papahku sayanghhh erhhhhÔÇØ racaunya

ÔÇ£Sebentar mamah, papah juga maughhhh keluarghhhhh…ÔÇØ ucapku yang semakin cepat menggoyang. Kedua tanganku semakin membuka lebar kedua pahanya dan dedek arya semakin leluasa masuk keluar di vagina manager echa ini.

ÔÇ£Papah owghh… mamah mau keluarrrrrrr…. ashhhhhhhhhÔÇØ racaunya

ÔÇ£papah juga owgh….ÔÇØ ucapku. Seketika itu pula,tubuh mbak echa melengking tubuhnya bergetar. Tubuhnya menggelinjang beberapa kali, namun aku tetap meneruskan goyanganku. Dan beberapa saat kemudian

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Spermaku dan cairan hangat mbak echa yang baru saja keluar bercampur menjadi satu. Dengan nafas yang tersengal-sengal aku berdiam diri sejenak. Mbak echa hanya terpejam dengan nafas yang tersengal juga, kedua tangannya terbuka lebar. Dengan posisi dedek arya masih tertancap, Ku arahkan kedua tanganku untuk membelai kedua payudaranya.

ÔÇ£Emmmhh… papah nakal, mamah mau istirahat dulu… ergh ergh…ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£mah, papah boleh minta dibersihin ndak?ÔÇØ ucapku mencoba menggodanya

ÔÇ£hash hash hash has… minta apa pah? Terserah papahÔÇØ ucap mbak echa

Aku kemudian naik ke meja lab. Aku kemudian berjongkok di samping kepala mbak echa. Kuarahkan batang dedek arya ke dmulut mbak echa. Matanya masih terpejam, mulutnya yang sedikit terbuka karena masih mengambil nafas panjang. Dengan sedikit memaksa, aku dorongkan dedek arya kemulutnya. Awalnya mbak echa kaget, berusaha menolak namun setelah menatapku dan aku menganggukan kepala. Mbak echa membuka mulutnya dan melumat serta mengulum batang dedek arya. aku jatuhkan pantatku di meja lab, dan mbak echa bangkit. Dengan posisi menungging mbak echa membersihkan dedek arya dengan mulutnya. Kulihat sedikit spermaku mengalir dan menetes dari vagina mbak echa. Sebuah pemandangan eksotis, ketika seorang wanita berkerudung melumati dedek arya. ah kenapa aku jadi ngat mbak erlina? Kalau masalah wanita berkerudung memang yang dikepalaku hanya ada mbak erlina, untuk masalah wanita dewasa dengan kenyamanannya, pastilah Ibu.

Setelah semua bersih, kukecup kening mbak echa. Dia hanya tersenyum manja kepadaku kemudian memelukku. Beberapa saat kami berpelukan kemudian kami berbenah. Aku pakai kembali celanaku, dan saat aku melihat mbak echa timbiul pikiran isengku. Entah kenapa pikiran ini bisa muncul, dan aku bisa setega itu berpikir seperti sekarang ini. jika sama Ibu dan mbak erlina aku tidak sanggup karena mungkin ada rasa sayang terhadap mereka berdua.

ÔÇ£Mah, celana dalamnya ndak usah dipakaiÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiih papah apa-apain sich, nanti tembus dan dilihat orangÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£kok ndak nurut sama papah to? Katanya minta diajarinÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya nurut sama papah dechÔÇØ ucap mbak echa. Aku melihat gunting lab, skuambil dan segera Kudekati mbak echa. Dengan sedikit memaksa, aku potong BH mbak echa dan kusuruh mbak echa memakai pakaiannya tanpa dalaman.

ÔÇ£papah, jangan pah, nanti kecetak di baju mamahÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£biar tambah seksi mah he he heÔÇØ ucapku dengan kendali penuh.

Kini mbak echa menngenakan legging dan baju tanpa dalaman. Baju yang dipakainya sudah tidak dapat dikancingkan lagi, jadi dengan kedua tangannya dia harus memegang bajunya agar tidak terbuka. Sebuah pemandangan yang menggairahkan. kudekati mbak echa, dan sedikit aku raba dan remas susunya tak ada perlawanan dari mbak echa. Setelah puas, aku kemudian pamit pulang ke mbak echa.

ÔÇ£Pah, ini bagaimana? Nanti kalau ada pegawai yang masih disini dan tahu mamah kaya begini bisa diperkosa mamahÔÇØ

ÔÇ£bagaimana? Ya tinggal jalan saja kan mah, sudah ndak ada orang santai saja mah, kalau ada yang mau memperkosa mamah, akan berhadapan dengan papah. Nanti mamah jalan bareng papah sampai parkiran terus kita pisahÔÇØ ucapku dengan senyum

ÔÇ£kok pisah? papah kan sudah pamit nginep di kos teman, nginep dirumah mamah saja pahÔÇØ lanjut mbak echa

ÔÇ£Hmmm… memang dirumah mamah ada apa?ÔÇØ ucapku menggoda

ÔÇ£Ada susu dan memek mamah, kalau papah mau, tapi kalau papah ndak mau ya ndak papa. Mau saja ya pah?ÔÇØ ucap mbak echa merajuk. Dia bergerak mendekat kearahku dan memgang kepalaku. Didaratkannya bibirnya di bibirku.

ÔÇ£Kena kamu! Beraninya main-main sama kakak ha ha ha haÔÇØ ucap dedek arya

ÔÇ£Diam kamu!ÔÇØ bathinku berucap kepada dedek arya

ÔÇ£Oke kakak, yang penting aku terima jadiÔÇØ ucap dedek arya

ÔÇ£Tapi ada syaratnya mah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Apa pah?ÔÇØ ucap mbak echa

ÔÇ£mamah ndak boleh megangi baju selama jalan sama papah ke parkiran, kalau ndak mau papah pulangÔÇØ ucapku mencoba menguasainya

ÔÇ£iiihh.. oke ndak papa, tapi papah jagain lhoÔÇØ ucap mbak echa dan aku hanya menagngguk tersenyum kepadanya

Aku bersihkan sisa-sisa pertempuran kamu di lab. Setelah itu aku dan mbak echa berjalan menuju tempat parkir, untungnya jalan yang kami lalui tidak ada CCTV-nya jadi aman. Selama berjalan kadang aku berbuat nakal dengan meremas susunya, mbak echa tak kuasa menolak dan hanya bisa menerima perlakuanku. Sesampainya di tempat parkir, mbak echa kemudai masuk kedalam mobilnya. Ketika hendak menutup pintu, ku tahan sejenak kutarik tanganya dengan isyarat membuka relseting celanaku. Seakan tahu apa yang aku inginkan, mbak echa kemudian membukanya.

ÔÇ£Dikulum sebentar mah, sebagai DP sebelum menginapÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya papahku sayang mmmmmhhh….ÔÇØ ucap mbak echa yang kemudian melahap dedek arya

ÔÇ£sudah mah, cukup… nanti dilanjutkan lagi dirumah ya mahÔÇØ ucapku setelah beberapa menit mbaj echa mengulum dedek arya

ÔÇ£iya pah, ehm…ÔÇØ ucap mbak echa tersenyum

Mobil mbak echa kemudian bergerak terlebih dahulu, aku kemudian memyusulnya dari belakang. Di pos satpam tampak pak satpam yang tertidur di pos-nya. Aku turun membangunkannya dan berpamitan sebentar. Mbak echa tidak berani keluar dari mobil, setelahnya mbak echa memacu mobilnya dan aku berada dibelakang mobilnya.

Aku nakal? Ya kali ini aku ingin nakal, mumpung ada wanita yang bisa aku nakali karena aku juga sudah tidak ingin lagi dengan tante ima, bisa gaswat kalau Rahman tahu ya mau bagaimana lagi Cuma tante ima yang bisa dinakali. Disisi lain Karena aku tidak ingin nakal dengan ibu ataupun mbak erlina. Bahkan sama bu dian kalau saja aku jadian sama dia aku tidak akan memperlakukannya dengan seliar ini he he he mimpi kali yeee jadian sama bu dian. Mumpung ada kesempatan nakal, nakal saja dech he he he.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*