Home » Cerita Seks Mama Anak » Bundaku 20

Bundaku 20

Part 20

Hening, itulah yang kurasakan semenjak aku di undang duduk di ruang tamu Ustadza Karima, aku sendiri bingung dengan sifatnya, tadi dia memintaku untuk kerumahnya, kupikir dia akan memarahiku, atau mengancamku atas perbuatanku yang lancang kepadanya, tapi ternyata dia mengajakku kerumahnya hanya untuk berdiam diri.

Sementara itu Putrinya Misba sepertinya lagi sibuk didapur, tapi sebelum kedapur aku sempat melihat dia yang tertunduk malu.

Tak lama kemudian Misba keluar dari dapur sambil membawa minuman dan gorengan, pantesan dia lama ternyata dia sibuk menggoreng bakwan, sebenarnya aku ingin mencicipinya, tapi aku merasa tidak enak dengan Ustadza Karima.

“Ayo diminum dulu Al.”

“I… iya Umi, makasi Misba.” Jawabku, lalu dengan sedikit rasa malu aku mencicipi es sirup yang dibikinkan Misba untukku, dingin dan manis itu yang kurasakan, ketika air sirup itu membasahi tenggorokanku.

“Udah gak haus lagi.” Tanyanya, tapi sorot matanya itu seperti sedang menyelidikiku.

“Enak Umi.” Jawabku ala kadarnya.

“Sekarang ada yang ingin kamu katakan tentang peristiwa barusan.” Sepertinya Ustadza Karima mulai tidak sabar meminta pertanggung jawaban atas perbuatanku sebelumnya, yang telah berani mengintip aktivitas mereka di dalam kamar mandi.

“Sa… saya ngaku salah, saya minta maaf.”

“Tidak cukup dengan hanya minta maaf Aldi, kamu sudah tau rahasia Umi, bisa-bisa kamu akan membocorkannya ke orang lain.” Wajar, kalau Ustadza Karima merasa khawatir, kemungkinan aku membocorkannya pasti ada.

“Sumpah saya tidak akan membocorkannya, sebagai gantinya saya mau di hukum apa saja.” Kataku berusaha meyakinkannya.

“Beneran, kamu mau di hukum apa saja ?”

“I…iya Umi.” Kataku yakin, paling aku akan di hukum pembersian lagi seperti sebelumnya.

“Misba, tolong ya nak.” Umi menggenggam tangan anaknya, aku tidak mengerti apa maksudnya, apa dia meminta anaknya untuk menghukumku, tapi hukuman yang seperti apa ? Semoga saja tidak begitu berat.

“Tapi Umi… ”

“Percaya sama Umi, kamu pasti bisa.”

“Baik Umi, asal Umi senang.” Ujarnya, lalu untuk selanjutnya, aku benar-benar di buat takjub oleh mereka berdua.

Misba tidak di sangka-sangka membuka kerudungnya didepanku, membiarkan rambutnya tergerai indah, lalu.setelah itu dengan perlahan dia membuka baju gamisnya, menyisakan pakaian dalam yang melekat di tubuhnya. Aku dibuat terkesima dengan apa yang dilakukan Misba, mengingat dia seorang santri yang berprestasi.

Perlahan dia berjalan mendekatiku yang masi belum sadar sepenuhnya, lalu dia duduk dipangkuanku dengan posisi menyamping.

“Maaf ya Mas.” Katanya berujar sambil tertunduk malu.

Aku tau dia melakukan semua ini karena terpaksa, dilihat dari sorot matanya, dia tertekan dalam ketidak berdayaannya melawan Ibu kandungnya, tapi jujur saja, saat ini aku juga sangat terangsang mendapatkan perlakuan spesial darinya.

“Kamu harus ML dengan anakku, sambil di rekam, biar nanti kalau kamu membocorkan rahasia kami, maka saya tidak segan-segan menyebarkan video ini ke orang lain, agar kamu dan keluargamu juga ikut menanggung malu sama seperti kami.” Katanya dengan nada ancaman, entah semenjak kapan dia mengambilnya, tapi yang kulihat, saat ini di tangnya, Umi Misba sedang memegang handycam.

Sekarang aku benar-benar paham maksud dari semua ini, kembali aku melihat kearah Misba, sepertinya dia benar-benar terpukul dengan keadaannya saat ini.

Bagaimana mungkin, Ustadza Karima begitu tega menggadaikan anaknya sendiri demi sebuah rahasia.

“Kamu yakin ?”

“I… iya Mas, kamu boleh tidurin aku sekarang.” Lalu sebutir kristas jatuh dari kedua bola matanya. Oh Tuhan, dia menangis, sekarang apa yang harus kulakukan.

Kalau ingin menuruti nafsu iblisku, tentu saja dengan senang hati aku akan menuruti permintaan Ustadza Karima, tapi aku tidak sejahat itu, membiarkan seorang anak gadis ikut menanggung kesalahanku.

“Maaf Umi, tapi saya tidak bisa.” Ujarku lirih, sumpah kalau seandainya aku berada didalam kondisi yang berbeda, mungkin dengan senang hati aku akan menggarap tubuh mudanya, walaupun resikonya video mesumku kapan saja bisa tersebar.

“Kenapa ? Kamu takut ?”

“Bukan begitu Umi, tapi… ” Aku menggantung kalimatku, tapi sumpah, aku tidak tega melukai hati gadi sesuci Misba, dia anak yang baik. “Jangan dia Umi, kalau mau dengan Umi saja.” Sambungku, sambil meminta Misba turun dari pangkuanku.

Aku berjalan mendekati Umi Karima, lalu kuambli pakaiannya yang berserakan, dan kuserahkan kembali pakaian tersebut kepadanya. Awalnya Misba ragu untuk menerima pakaiannya, tapi dengan sedikit pemaksaan dia akhirnya bersedia menerima pakaianya, kulihat dia kembali mengenakan pakaian.

Setelah itu aku berali kearah Ustadza Karima. Benar aku memang masi remaja, usiakupun belum sampe 17 tahun, tapi pelajaran yang kudapat akhir-akhir ini membuatku dewasa lebi cepat dari seharusnya.

“Jangan macam-macam kamu.” Hardiknya, saat aku mendekat, tapi aku tidak perduli dan segera mengambil handycam dari tangannya tanpa perlawanan berarti.

Handycam itu kuserahkan kepada Misba, lalu aku kembali mendekati Usyadza Karima.

“Lepasiiin.” Ujarnya setenga berteriak.

Kurangkul Ustadza Karima, sambil berusaha mencium bibirnya. Memang Ustadza Karima berusaha menolak keinginanku, tapi aku tidak menyerah, kuraih payudarahnya dengan tangan kananku, kuremas dengan perlahan menikmatinya kelembutan payudarahnya.

“Aahkk… hhmmp… hhmmpp… ” Akhirnya aku berhasil memanggut bibirnya.

Kuhisap lembut bibirnya, sesekali aku berusaha memasukan lidaku kedalam mulutnya, tapi selalu gagal karena Ustadza Karima masi menolak berciuman denganku, walaupun tidak seagresif sebelumnya. Kucoba untuk merangsang tubuhnya, tangan kananku bergrilya masuk kedalan pakaiannya, memalalui kancing gamis yang sudah kubuka, menyelip kedalam bra Ustadza Karima, hingga aku menemukan puttingnya.

“Aaahkk… ” Desahnya panjang, saat itulah aku memasukan lidaku kedalam mulutnya.

Lidaku mendapat perlawanan sengit, kami saling menyerang, membelit, membuat air liur kami menetes, dan sebagian lagi tertelan.

Kulepas ciumanku, kupandangi wajahnya yang memerah, sementara tanganku semakin aktif meremas dan memainkan putting Ustadza Karima. Sesekali kudengar desahannya, walaupun dia berusaha menahannya.

“Jangan di tahan Umi.” Bisikku menggodanya.

“Ka… kamu, Aahkk… lepasin saya.”

“Apanya yang mau di lepaskan ? Bajunya ?”

“Ti… tidak, jangan Aldi.” Tolaknya, tapi aku masi tetap berusaha membuka gamisnya.

Tanpa perlawanan berarti aku berhasil membuka pakaiannya, menyisakan pakaian dalam yang melekat di tubuhnya. Ustadza Karima kini terlihat sempurna, dengan hanya mengenakan pakaian dalam berwarna merah muda, kondisi branya juga sudah tidak utuh lagi akibat perbuatanku barusan.

“Aaww… ” Ustadza Karima terpekik saat aku kembali menyosor tubuhnya.

Kupeluk tubuhnya, sambil kuciumi seluruh wajahnya, sementara ia kembali mencoba melawan, tapi tak akan kubiarkan dia meberontak.

Segera kusingkap keatas cupnya, lalu kubenamkan wajahku di sana. Gak nyangka aroma keringat Ustadza Karima sangat enak, membuatku beta berlama-lama menciumi payudarahnya.

“Aahkk… Aldi, Uhkk… aahkk… geli.” Erang Ustadza Karima.

“Tetek Umi enak banget, kenyel kayak agar.”

“Eeh… pelan-pelaan, Aahkk… Umi gak tahan, puttingnya jangan di pelintir gitu.”

“Trus di apaan dong, di giniin ?” Kataku, lalu kutarik pentilnya kedepan, sambil kupencet puttingnya, reaksi yang di tunjukan Karima membuatku puas.

Desahan Ustadza Karima semakin keras, tubuhnya menggelinjang keenakan, cairan cintanya terlihat keluar semakin banyak, menjiplak di celana dalamnya. Tanganku bergriliya keselangkangannya, dengan jari telunjuk aku menggosok-gosok memeknya, dari luar celana dalamnya yang lembab.

Kembali aku melumat bibirnya, kepalaku miring kekiri menyeimbangkan gerakan kepalanya. Kali ini aku mendapat respon positif dari Ustadza Karima, dia tampak menikmati permainan lidaku.

“Cukup, pinda kekamar aja.” Ujarnya, setelah kulepas lumatanku.

“Siapa takut.” Tantangku.

Lalu tanpa memperdulikanku Ustadza Karima berjalan lebi dulu kekamarnya, lalu aku menyusul dan di ikuti oleh putrinya Misba, sesampai di kamarnya, Ustadza Karima melepas sisa pakaiannya hingga ia telanjang bulat.

Aku duduk ditepian tempat tidurnya, sementara Ustadza Karima berjongkok didepanku, sedangkan putrinya duduk tidak jauh dari kami sambil mengarahkan handycam kearah kami, sepertinya sebentar lagi aku akan menjadi bintang porno terkenal.

“Umi akan balas perbuatan kamu.” Ancamnya.

“Coba saja Umi, tapi kalau dalam waktu lima belas menit Umi tidak bikin aku keluar, sebagai hukumannya aku boleh ngentotin Umi.” Kataku lancang, kulihat Umi tidak suka dengan ucapanku barusan.

“Oke.”

Ustadza Karima mulai mengocok kontolku dengan perlahan, rasanya memang enak tapi aku yakin bisa bertahan, apa lagi kocokannya agak kasar, sepertinya Ustadza Karima belum terbiasa mengoral kontol benaran, jangan-jangan dia tidak perna mengoral kontol Suaminya.

“Kalau begitu caranya, aku gak bakalan keluar loh Umi.” Ledekku, matanya mendelik tak suka. “Pake mulutnya dong Umi sayang, siapa tau aku bisa keluar lebi cepat.” Aku sedikit memprovokasinya, siapa tau dia mau melakukannya.

“Jangan mimpi, saya tidak sudi.”

“Ya sudah terserah Umi saja.” Jawabku santai, membiarkan Istadza Karima terus memainkan kontolku dengan jemarinya.

Sepuluh menit berlalu, keringat mulai bercucuran dari dahinya, rasa khawatir mulai menyelimutinya. Aku tersenyum senang, saat ia mulai menyerah, sesekali dia menjulurkan lidahnya, menjilat kepala kontolku. Reaksiku tetap sama, seperti tidak terjadi apapun, walaupun sebenarnya aku mulai menikmati jilatannya.

Ustadza Karima menarik nafas panjang, lalu dia membuka mulutnya, dan yang kunanti akhirnya terjadi, Ustadza Karima mengulum kontolku, sementara tangannya mengocok kontolku berirama dengan hisapannya.

“Aahkk… Ini baru enak, tapi belum seberapa.” Pancingku.

“Masi ada waktu.” Gumamnya disela-sela mengulum kontolku, sesekali dia kembali menjilati kepala kontolku, sambil melirikku.

Tatapan itu sangat menggoda, rasa geli di kontolku mulai menjalar ketubuhku, gara-gara tatapan itu aku jadi ikut terbawa arus permainannya. Sabar… aku tidak boleh menyerah, aku harus bisa memberinya pelajaran agar tidak lagi semena-mena terhadap anaknya.

Aku mendesa pelan, menahan birahi nafsuku yang memuncak, rasanya aku akan kalah, tapi… jam dinding menunjukan kalau lima belas menit yang di janjikan telah berlalu, itu artinya aku selamat.

“Cukup… Umi kalah.” Ujarku, dengan suara yang berat.

“Sial, kamu menang.” Katanya jengkel, aku tertawa kecil melihat raut wajahnya yang kecewa. Tidak kusangka, kalau aku bisa tidur dengannya, seorang Ustadza yang terkenal bengis itu.

Ustadza Katima tidak melakukan perlawanan, ketika aku memintanya tiduran ditempar tidurnya. Lalu aku segera menindinya, kuarahkan kontolku di depan memeknya, perlahan tapi pasti kudorong pinggulku, menembus memeknya yang memang sudah sangat basah, membuatku tidak mengalami kesulitan.

“Aahkk… pelan-pelan.” Rintihnya, tapi aku tetap melesatkan kontolku secepat mungkin.

Dapat kurasakan kedutan dinding memek Ustadza Karima menyambut kontolku, rasanya hangat dan becek tapi aku menyukainya, aku puas bisa menyetubuhinya.

“Memek Umi enak banget, hangat… ”

“Eehkk.. iya tapi pelan-pelan dong.” Pintanya, tapi aku kembali tidak mengubris permintaannya, ku goyang pinggulku dengan cepat.

“Aahkk… aahkk… kamu… Aahkk… ”

Kugenjot memeknya, kuremas teteknya, kuciumi bibirnya hingga aku tidak memberinya waktu walaupun semenit untuk menguasai permainan kami.

Lima menit kemudian aku memintanya untuk berganti gaya, aku mau main gaya dogi stayle, seru kayaknya kalau ngentotin Ustadza Karima dari belakang. Tak ada protes sama sekali ketika aku memintanya menungging, bahkan Ustadza Karima terkesan tidak sabaran.

Kembali kumasukan kontolku kedalam memeknya, kali ini jepitannya semakin terasa.

“Uuhkk… lebi cepat.” Pinta Ustadza Karima.

“Gimana Umi, enakkan ngentot sama muridnya sendiri.” Godaku, sambil memukuli pantatnya yang semok, aku senang memukul pantatnya.

“Iyaaa, kontol kamu enak banget.”

“Hehehe… ”

Aku semakin bersemangat menyetubuhinya, dari belakang aku dapat melihat punggungnya yang mulus bermandikan keringat, tak terasa aku mulai di ambang ejakulasi.

Aku sudah tidak tahan lagi, aku semakin cepat menyetubuhi Ustadza Karima, aku juga yakin kalau sebentar lagi dia akan mencapai klimaksnya, aku ingin memberinya kesan yang baik di awal hubungan kami berdua. Kupegangi pinggulnya, kusodok memeknya semakin cepat.

“Umiii… aku mau keluar.”

“Sebentaaar, aku juga mau keluaar.”

“Aahkkkk… ” Teriak kami berbarengan, lalu kurasakan kepala kontolku menyembutkan lahar panas kedalam memeknya, begitu juga dengan Ustadza Karima, kurasakan sebuah dorongan dari dalam memeknya Ustadza Karima.

***

“Ingat, kamu harus janji ini hanya menjadi rahasia kita bertiga.” Ujar Ustadza Karima sambil membenarkan pakaiannya.

“Iya Umi, aku juga gak mau kalau videoku sampai tersebar ke seluruh madrasyah.” Kataku meyakinnya, aku juga tidak ingin menanggung malu sama seperti dirinya.

Setelah mengenakan pakaian, aku segera berpamitan kepada mereka, Ustadza Karima seperti biasa-biasa saja, tapi Misba, ada yang aneh darinya. Sedari tadi dia menunduk, wajah memerah, tubuhnya gemetaran, seperti sedang menahan sesuatu. Aku menghampirnya, lalu berusaha tersenyum didepannya.

“Maaf ya… ” Hanya itu yang keluar dari mulutku.

“Ehmm… ”

“Aku pulang dulu.”

“Tunggu, ada yang ingin aku katakan.” Lanjutnya, aku berdiri diam, menunggu kelanjutan dari ucapannya yang menggantung. “Aku… Tidak… tidak… lain kali aku juga mau seperti tadi.” Aku tercengang sekaligus bingung dengan ucapan Misba.

“Makanya jangan sok jadi pahlawan, seharus kamu bisa dapat dua sekaligus, tapi sayang kamu terlalu bodoh, kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan.” Jelas Ustadza Karima panjang lebar.

Aku tertunduk malu, menyesali tindakanku barusan. Seharusnya aku paham, seharusnya aku tidak sok mejadi pahlawan, seharusnya aku mengerti kalau mereka sedang menjalankan sandiwara. Bukannya aku sering membuat jalan cerita sendiri ketika bersama Bunda.

Bodoh… bodoh… bodoh…

Aku memukuli kepalaku sendiri, sebagai hukuman atas kebodohanku. Mereka berdua tertawa cekikikan melihat tingka konyolku.

“Sudah… sudah… masih ada minggu depan.” Kata Ustadza Karima seraya tersenyum kepadaku.

“Benaran ? Minggu depan ?” Mereka berdua mengangguk. Aku langsung melompat kegirangan, minggu depan, aku pasti akan membuat kalian bertekuk lutut di hadapanku.

Aku tunggu minggu depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*