Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 24

Wild Love 24

Di dalam sebuah kamar kos berukuran 4×5 meter ini aku sedang terdiam di depan laptop milik teman perempuanku. Tubuhku kaku dan tak bisa bergerak. Sebuah cutter menyilang di leherku yang dipegang oleh teman perempuanku ini. sebuah kesalahan telah aku perbuat karena membuka folder pribadinya. Entah mengapa setelah aku membuka folder pribadinya dia begitu marah.

ÔÇ£Maaf Ar, Aku sudah bilang sama kamu untuk tidak membuka file-file pribadikuÔÇØ ucap mbak erlina tiba-tiba sudah berada di belakangku yang tak aku dengar suaranya ketika keluar dari kamar mandi.

ÔÇ£Eh…ÔÇØ ucapku terkjeut, terhenti dan tubuhku tak bisa bergerak. Kurasakan tangan kanan mbak erlina memgang sebuah cutter yang bagian tajam berada di depan leherku.

ÔÇ£Mbak, ada apa ini? ergh…ÔÇØ ucapku terhenti karena bagian tajam cutter itu semakin menekan ke leherku

ÔÇ£Maaf Ar, sebenarnya aku tidak tega karena kamu telah menolongku tapi dengan tindakanmu kali ini aku tidak bisa membiarkan hidup karena bisa membahayakan keberadaankuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Sebentar-sebentar mbak, aku tidak tahu maksud dari perkataan mbakÔÇØ ucapku sedikit memundurkan leherku, namun seketika itu pula cutter itu ikut mendekati leherku kembali

ÔÇ£Kamu pasti tahu kan siapa lelaki di foto itu?ÔÇØ ucapnya, aku hanya bisa mengangguk, bahkan untuk menelan ludah saja aku merasakan takut

ÔÇ£Kamu sudah tahu segalanya Ar, kamu harus mati hari ini, maafkan akuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Kalau mati, aduh aku belum siap, aku baru merokok separo batang dunhill dan sisanya aku masukan ke dalam bungkusnya lagi, sayang sekali… Ibu?! ÔÇØ bathinku

ÔÇ£Mbak…ÔÇØ ucapku sambil menarik kebelakang leherku hingga bagian belakang kepalaku menyentuh bahu kanan mbak erlina

ÔÇ£Aku punya satu permintaan terakhirÔÇØ lanjutku yang seketika itu aku teringat Ibuku

ÔÇ£Baiklah… Aku kabulkan permintaan terakhirmu tapi tetap diam disiniÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya mbak, tolong jaga Ibuku, sampaikan padanya jika aku menyayanginya, aku tidak ingin Ayahku menyakitinya. Dan tolong sampaikan kepada sahabat-sahabatku mereka biasa kumpul di warung milik seorang sahabatku bernama wongso di jalan kencang, nama warungnya warung MUREK (Murah Enak). Katakan Aku sangat menyayangi mereka dan salam koplak, hanya itu saja.ÔÇØ ucapku. Suasana menjadi hening sesaat tak ada kata-kata dari mbak erlina keluar dari mulutnya, nampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

ÔÇ£Kenapa kamu sangat peduli dengan Ibumu, sahabatmu, Ayahmu saja tidak pernah peduli dengan orang lainÔÇØ ucapnya tiba-tiba

ÔÇ£Aku bukan Ayahku, aku sangat menyayangi Ibuku dan sahabat-sahabatkuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Cuuih… jangan berlagak kamu, mana ada anak pembunuh bisa mengatakan sayangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Pembunuh?…ÔÇØ

ÔÇ£He he he… Mbak, sekarang aku tahu kamu pasti punya hubungan dengan KS, iya kan?ÔÇØ ucapku, tak ada jawaban dari mbak erlina, Dia hanya diam

ÔÇ£Entah apa hubunganmu dengan KS, tapi yang jelas jika kamu mengatakan Ayahku seorang pembunuh kamu pasti tahu sesuatu tentang Ayahku dan aku tidak tahu mengapa kamu bisa tahu jika aku adalah anak dari AyahkuÔÇØ

ÔÇ£Dan yang jelas, aku bukan Ayahku sekalipun aku anaknyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sebelum kamu benar-benar membunuhku maukah kau berjanji menyampaikan permintaanku tadi dan jika bisa bawa Ibuku pergi sejauh-jauhnya dari AyahkuÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Aku tidak peduli dengan Ibumu maupun sahabtmuÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku terkejut dengan perkataannya

ÔÇ£Mungkin aku akan bertemu dengan Ibu di kehidupan keduaÔÇØ bathinku ketika mendengar kata-kata mbak erlina

ÔÇ£hessssssssh ssssssssh sssssssssssh….ÔÇØ kudengar desah nafas mbak erlina

ÔÇ£aku tahu kamu, ketika aku mencari sematpon milik KS, aku melihatmu menemukannya di kolam ikan tersebut walau tubuhmu tertutup dengan pakaian dan helm. Aku terus membuntutimu dan mencari tahu siapa kamu. Hingga akhirnya aku membuntutimu sampai di kampus dan aku bisa melihatmu secara keseluruhan dan mendapatkan identitasmuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£siapa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya jelas aku yang mencari tahu tentang kamu siapa lagi?!ÔÇØ ucapnya sedikit membentak

ÔÇ£yang tanya?ÔÇØ ucapku dengan santai

ÔÇ£Kamu mau mati saja nyebelin banget ya!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Segera bunuh aku, tak usah kamu menceritakan detail mengenai kegiatan ddetektif kamu itu. Percuma aku tahu karena setelahnya aku mati. Dan satu hal lagi jika kamu memang tidak peduli dengan Ibuku tolong setelah kamu membunuhnya, kuburkan aku dekat dengan Ibuku dan tentang sahabatku tak perlu kamu menemuinyaÔÇØ ucaku santai

ÔÇ£Segera bunuh aku, agar kamu tidak kehabisan tenaga hanya untuk menjelaskan sesuatu hal yang tidak penting bagikuÔÇØ lanjutku. Sejenak kemudian mbak erlina mengendorkan tangannya yang memegang cutter. Dengan santai aku mengambil rokok dari saku celanaku.

ÔÇ£Kamu mau apa?ÔÇØ ucap mbak erlina kembali mengalungkan cutter itu kembali

ÔÇ£tenang mbak aku tidak akan melawan, aku hanya mau menghabiskan rokokku tadi, sayang masih separo mbak, biar aku tidak mati penasaran sama rokokÔÇØ ucapku. Kuhisap separo batang dunhill mild sisa tadi pagi hingga habis, walau masih ada beberapa batang panjang di bungkus rokokku.

ÔÇ£sudah mbak aku sudah siap!ÔÇØ ucapku sambil memajamkan mataku

ÔÇ£kamu ini hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£KENAPA KAMU PEDULI DENGAN ORANG LAIN? KENAPA KAMU PEDULI DENGAN IBUMU?SAHABATMU? KAMU ITU MAU MATI TAPI LAGAKMU ITU! Hiks hiks hiksÔÇØ ucap mbak erlina tiba-tiba melepaskan cutter dan memukul punggungku

ÔÇ£Aku peduli karena Ibuku mengajariku kasih sayang, cinta dan kepedulian terhadap orang lain, aku peduli dengan sahabatku karena mereka megajariku tentang indahnya perbedaan. Dan aku tenang karena aku tahu kamu akan menguburkan jasadku berdekatan dengan IbukuÔÇØ ucapku santai sambil mengambil sebatang dunhill dann kusulut lagi. Kurasakan kedua tangan mbak erlina mngepal dan dijatuhkannya dipungguku. Kepala mbak erlina pun rebah di punggungku. Hanya tangisan yang aku dengar dari mbak erlina yang berada di belakangku

ÔÇ£mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£APA! Hiks hiks hiksÔÇØ jawabnya membentak di iringi tangisan

ÔÇ£Jadi bunuh aku tidak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Bodoh! Dasar orang nyebelin kamu!ÔÇØ ucapnya membentakku

ÔÇ£Yah, ndak jadi mati…ÔÇØ ucapku kemudian membalikan tubuhku kebelakang dan hegh… mbak erlina langsung memelukku. Wanita berambut panjang yang selama ini selalu tertutup oleh kerudungnya, wajahnya cantik dan putih bersih. Tampak dia mengenakan kaos merah lengan pendek yang ketat memperlihatkan tonjolan payudaranya dan celana training putih

ÔÇ£Aku benci kamu! Hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya sambil terisak

ÔÇ£Yaelah, tadi mau membunuh sekarang malah mengungkapkan perasaan, ini bukan termehek-mehek mbakÔÇØ ucapku santai

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK… tamparan di pipi kanan dan kiriku berkali-kali aku dapatkan. Seperti adonan martabak yang dibanting berkali-kali di meja adonan

ÔÇ£DASAR NYEBELIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!ÔÇØ teriaknya di depan wajahku sambil menjauhkan tubuhnya dan duduk dihadapanku.

ÔÇ£Sssssssh hhaaaaaaahhhh….ÔÇØ kepulan asap rokok

ÔÇ£Jujur mbak aku tahu lelaki di foto itu, lelaki itu adalah Kaiman Supraja. Lelaki yang dibunuh di perumahan SAE. Aku memang menemukan sematpon di kolam ikan. Awalnya aku tidak tahu mengenai sematpon itu tapi setelahnya aku tahu itu milik siapaÔÇØ

ÔÇ£Ayahku terlibat dalam pembunuhan itu dan aku bermaksud mengakhiri karirnya tapi tidak dengan serta merta membunuhnya, karena itu terlalu mudah bagiku. Aku ingin dia menderita seperti Ayah dan Ibunya yang dia terlantarkan, seperti penjaga Losmen yang diperalatnya. Aku bisa melakukannya dengan sangat mudah namun jika hanya dia yang aku hancurkan, orang-orang disekelilingnya pasti masih berkeliaran. Aku ingin mereka semua ikut menderitaÔÇØ jelasku dengan asap rokok yang semakin pekat di kamar ini. Mbak Erlina kemudian berdiri dan membuka jendela kamarnya dan duduk di pinggir jendela.

ÔÇ£Kenapa malah kesitu, ntar kesusahan bunuh aku lho mbak?ÔÇØ ucapku dengan santai

ÔÇ£Asap rokok kamu itu, ndak sehat!ÔÇØ ucapnya sedikit membentak dengan sedikit masih tersengal

ÔÇ£Ndak jadi bunuh aku mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kenapa kamu yakin aku tidak akan membunuhmu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Sekalipun mbak mampu tapi hati mbak terlalu lemahÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sok tahu!ÔÇØ ucapnya

Suasana menjadi hening sesaat. Kepulan asap dunhill semakin menghilang keluar dari jendela yang dibuka oleh mbak erlina. Aku hanya duduk dan memandangnya, butiran air mata mulai mengering di pipinya. Pandanganya jauh keluar jendela walau sebenarnya pemandangannya hanya taman di depan kosnya. Tampak sekali matanya mencoba mengulang sebuah rekaman memori yang indah. Kumatikan dunhill di piring nasi gorengku dan kini aku hanya berdiam diri di kamar itu.

ÔÇ£Aku adalah anak KS, Kaiman SuprajaÔÇØ ucapnya membuatku sedikit terkejut karena dugaanku pertama, mbak erlina adlaah wanita simpanan KS

ÔÇ£Aku anak dari istri pertamanya, yang sudah meninggal 15 tahun yang lalu. Ayahku kemudian menikah lagi dan mempunyai anak dari istri keduanya. Sekalipun Ayah menikah lagi, kasih sayangnya terhadapaku tidak pernah luntur, Ibu tiriku pun sangat menyayangiku. Setelah Ayah menikah lagi aku tinggal bersama kakek dan nenekkuÔÇØ Jelasnya. Kemudian dia memandangku dan mellihatku tajam

ÔÇ£Apakah aku bisa mempercayaimu jika kamu memang ingin menyingkirkan Ayahmu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku tidak tahu mbak, yang jelas semua itu tergantung mbak erlina, mau percaya atau tidakÔÇØ ucapku

Sesaat hening kembali bercanda di sekelilingi kami berdua. Tatapan matanya sangat tajam bak busur panah yang siap menghujamku kapan saja. Ditutupnya jendela itu dan kemudian dudu disebelahku. Kepalanya bersandar di bahu kiriku.

ÔÇ£Ayahmu….ÔÇØ

ÔÇ£Bajingan…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku tahu mbakÔÇØ jawabku

ÔÇ£Dia memperalat Ayahku sebagai kurir untuk menyerahkan uang hasil korupsinya kepada geng-nya. Ketika keuangan instansinya diaudit, dia meng-kambing hitam-kan adik Ayahku. Ayahku tidak terima dan mau membocorkan kebusukan mereka namun dia dibunuh dengan cara yang keji. Aku tahu itu d dari berita di TV ketika aku berada di rumah kakekkuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Bagaimana mbak tahu jika KS atau Ayah mbak diperalat? Dan bagaimana mbak tahu jika Ayah mbak adalah seorang kurir?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ketika itu Ayahku dijebak, Ayahku diajak oleh Bajingan itu berpesta hingga dia mabuk berat. Entah apa yang terjadi, di dalam ruang pesta itu tiba-tiba saja Ayahku dituduh telah membunuh rekan kerja si bajingan itu. Ada sebuah video yang ditunjukan kepada Ayahku bahwa dialah yang membunuh rekan kerjanya, namun video itu tampak janggal karena hanya merekam ketika Ayahku memegang pisau yang sudah tertancap di tubuh rekan kerja si bajingan itu. Mayat dibuang kesungai dan tidak ada satupun yang tahu keberadaanya sampai sekarang, bahkan keluarga korban saja tidak tahu dengan siapa korban bertemuÔÇØ

ÔÇ£Bajingan itu hiks hiks mengancam Ayahku, jika tidak menuruti kemauannya dia akan dilaporkan. Dan kejadian itu terjadi ketika aku masih SMPÔÇØ jelas mbak erlina yang membuat aku tercekat

ÔÇ£Masalah kurir itu?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Pernah suatu malam setelah Ayahku menjemputku, aku diajaknya ke sebuah tempat di gedung tua disana sudah menunggu beberapa orang, kelihatanya mereka adalah pejabat penting. Aku bersembunyi di jok belakang, ketika Ayahku menyerahkan uang itu aku merekamnya dari dalam mobil tapi tidak jelas siapa merekaÔÇØ ucapnya membalikan badan kearahnya dan memgang kedua bahunya

ÔÇ£Mana Videonya mbak, tunjukan kepadaku, aku harus tahu siapa mereka semuaÔÇØ ucapku. Dengan sedikit tersenyum di dekatinya laptopnya, kemudian diubahnysettingan hidden folder menjadi dapat terlihat.

ÔÇ£Ini, lihatlah…ÔÇØ ucapnya. Aku kemudian mengklik video tersebut

——
Kresek… kresekkk… sssh….heh heh heh heh…

ÔÇ£Akhirnya datang juga makan malam kitaÔÇØ ucap seseorang dengan suara yang samar-samar. Tak jelas bentuk dan rupanya karena Suasana dalam gedung tua itu gelap hanya cahaya mobil yang menjadi penerang

ÔÇ£Ini PakÔÇØ ucap seseorang yang membelakangi kamera video, suaranya pun juga tidak begitu jelas namun sangat kecil volumenya namun bisa dengar

ÔÇ£Bagus, bagusÔÇØ ucap seseorang tadi

ÔÇ£Woi tukang, ada makan malam ni, kita bisa pestaÔÇØ ucap seseorang yang memanggil nama tukang dengan suara khasnya

ÔÇ£Wah wah… asyik juga ya, Woi aspal dihitung dulu berapa isinya?ÔÇØ ucap seseorang yang dipanggil dengan nama tukang dengan suara khasnya. View video yang selalu bergoyang dan terhalang membuat suara kresek-kresek. Selang beberapa saat setelahnya.

ÔÇ£Pas nih, nggak nyangka Si Kebo dan si Gareng itu jago jugaÔÇØ ucap seseorang yang dipanggil dengan nama aspal

ÔÇ£Bilang sama Bos kamu, kita akan pesta dua minggu lagi dan katakan pada mereka, tendernya akan kita kasihkan ke ÔÇ£benderanyaÔÇØ, dan jangan lupa, jangan sekali-kali kamu bertindak bodoh atau kamu tahu sendiri akibatnya he he heÔÇØ ucap seseorang yang dipanggil Aspal

ÔÇ£Ayo pal, kita pergiÔÇØ ucap seorang yang di panggil tukang. Selang beberapa saat kemudian, dua mobil itu pergi dan kamera bergerak-gerak denga sendirinya.

ÔÇ£Ayah, kenapa Ayah tidak melaporkannya saja atau Ayah bisa pergi sejauh mungkin dari sini?ÔÇØ ucap seorang perempuan yang tidak lain adalah mbak erlina. Tak ada gambar di video itu hanya hitam dan hitam alias BF (Black Film)

ÔÇ£Ayah, tidak bisa apa-apa nak, jika Ayah pergi atau membocorkan ini semua, bagaimana nasib Ibumu? Bagaimana nasib adik-adikmu? Kakekmu dan nenekmu?ÔÇØ ucap laki-laki tersebut

ÔÇ£Tapi Ayah…ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Sudahlah nak, mereka sudah tahu mengenai semua keluarga kita, Kakek, nenek, Pak Dhe, Om, Ibu, Adik-adikmu. Mereka bisa dibunuh jika Ayah membocorkan rahasia mereka. Kamu, kamu sebaiknya setelah lulus pergi dari tempat ini, mereka tidak tahu siapa kamuÔÇØ ucap lelaki tersebut. Sssssstttt…. prttt… pet

—-

ÔÇ£Kemana? Kemana si Buku, kenapa tidak ada di video itu? Di email om nico ada kata-kata si bukuÔÇØ bathinku. Aku mengrenyitkan dahiku, memegang kepalaku dengan tangan kananku. Kucoba klik video satunya lagi tentang rekan kerja Ayahku (Mahesa) yang dibuat seolah-olah dibunuh oleh KS, memang terlihat sangat janggal.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucap pelan mbak erlina mengagetkan aku

ÔÇ£Eh… i… iya mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ada apa dengan kamu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tidak mbak, hanya saja seharusnya mereka lima orang tetapi kenapa dalam video itu hanya ada dua orang, seharusnya masih ada satu orang lagi mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku tidak tahu ArÔÇØ ucapnya hanya merunduk dan meneteskan air mata

ÔÇ£Aku masih beruntung Ar, karena ayah tidak mencantumkan aku sebagai anak di identitasnya apalagi di kartu keluarganya karena setelah Ibu meninggal, namaku digantinya semua mengenai aku dihapuskan dari informasi mengenai Ayahku. Aku dibuatkan identitas baru dan KK baru sebagai anak Yatim Piatu, karena Ayah takut jika suatu hari nanti terjadi sesuatu yang membahayakan paling tidak aku masih bisa selamat. Bajingan-bajingan itu tidak pernah tahu mengenai Aku dan hanya tahu tentang Ibuku yang dibuat oleh Ayah seolah-olah Ibuku tidak bisa memberikan anak kepadanyaÔÇØ

ÔÇ£Sejak.. hufthh… Om di fitnah melakukan korpusi dan masuk penjara, dan Ayah di ancam dibunuh hiks hiks hiks Ayah mengungsikan semua keluarga Ayah ke luar pulau semua dan aku menolaknya hiks hiks hiks. KAMU TAHU AR?! AYAH… AYAH… DIBUNUH LAYAKNYA ANJING! Hiks hiks hiksÔÇØ jelasnya dengan isak tangis, di benamkannya wajahnya ke dadaku dan kupeluk kepalanya dengan lembut

ÔÇ£Ba… Bagaimana mbak bisa tahu?ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£Jasad Ayah hiks hiks di hiks hiks dimasukan di rumah sakit tempat aku bekerja.slurrrpp aaahhhh. Lebih dari 21 tusukan pada tubuhnya, tembakan pada kaki kanannya, dan luka gores pada kepalanya seperti luka terseret hiks hiks hiks aku hanya mampu menangis dikamar mandi RS ketika melihatnya,hiks hiks karena aku takut jika ada yang mengetahui identitaskuÔÇØ ucapnya pelan dengan posisi masih dalam pelukanku

ÔÇ£AKU BENCI MEREKA AR, BENCI BENCI MEREKA JAHAT Huaaaa hiks hiks hiks hiksÔÇØ teriaknya menangis sejadi-jadinya sambil memandangku

ÔÇ£BUNUH MEREKA AR…ÔÇØ

ÔÇ£BUNUH MEREKA hiks hiks hiksÔÇØ teriaknya dengan kepalan tanganya memukul-mukul dadaku. Aku kemudian berusaha menenangkannya dengan memegang kedua tangannya

ÔÇ£tenang mbak tenanglah…ÔÇØ ucapku mencoba menenangkannya

ÔÇ£hiks hiks hiks berjanjiiah kepadaku bahwa kamu akan membuat mereka menderitaÔÇØ

ÔÇ£BERJANJILAH PADAKU AR….ÔÇØ

ÔÇ£Aku mohon hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya disertai isak tangis

ÔÇ£Aku janji mbak… aku pasti membuat mereka menderita…ÔÇØ ucapku dengan tatapan mata yang tajam kearahnya. Lebih tajam dari elang yang siap menyambar mangsa yang sedang berlari dibawahnya. Lebih tajam dari tatapan harimau yang siap menerkam mangsanya.

ÔÇ£terima kasih ar, aku sangat berharap kepadamu hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya. Tanganya kemudian melemah, aku pun melemahkan peganganku. Diusapnya air matanya dengan kedua tangannya

ÔÇ£Mbak, aku memang tidak bisa berjanji dalam waktu dekat namun aku pastikan mereka akan menderitaÔÇØ ucapku serius kemudian tersenyum kepadanya

ÔÇ£Jangan menangis lagi, Pak Kaiman pasti sedih jika tahu mbak menangisinya. Beliau telah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keluarga mbakÔÇØ tenangku kepada mbak erlina

ÔÇ£Aku kelihatan cengeng ya Ar hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Wajar itu mbak, ketika kita tahu orang yang kita sayangi pergi dengan cara tidak wajar. Namun, aku berharap mbak bisa diajak berkerja sama, dan aku akan berusaha membalaskan perlakuan yang telah dilakukan bajingan itu terhadap keluarga mbakÔÇØ tenangku

ÔÇ£terima kasih… Ar…ÔÇØ

ÔÇ£Aku sangat mempercayaimuÔÇØ ucapnya dengan senyuman

ÔÇ£Mbak bisa mempercaiyai…kummm….ÔÇØ ucapku terhenti. Tiba-tiba kecupan bibirnya jatuh di bibirkku

ÔÇ£mmmm… mbak sudah…. mmmm… aku sudah pernah mmm bilang mmmhhhh kan… no loveÔÇØ ucapku dengan mulut tersumbat mencoba menghindari ciumannya yang terus memburu bibirku

ÔÇ£This is no love, but this gift for your promiseÔÇØ

ÔÇ£Karena aku yakin kamu pasti menepati janjimuÔÇØ ucapnya yang kemudian menubrukku hingga ku jatuh terlentang

ÔÇ£Mbak… mmm… tidak … mmm…. perlu… seperti ihnih… mmm…ÔÇØucapku

ÔÇ£Ambilah Ar, aku memohon…ÔÇØ ucapnya dengan tatapan yang sendu

ÔÇ£Mbak, sudahlah kita tidak perlu… erghhh…..ÔÇØ ucapku terhenti mataku terpejam tidak bisa menolak kenikmatan ini. aku tak berdaya manakala ujung-ujung jari mbak erlina mengelus selangkanganku walau masih terbungkus celana jeans. Terasa sangat nikmat, aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tak ada kucing yang tidak mau ikan goreng.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ bisik pelan mbak erlina

ÔÇ£Erghhh…ÔÇØ desahanku dan kubuka mataku. Tak lagi ada Arya yang bisa mengontrol logikanya. Kuraih kepalanya dan kudaratkan ciuman pada bibirnya

ÔÇ£Hesh hesh maaf mbak, aku tidak bisa menahannya lagiÔÇØ ucapku dengan nafas layaknya harimau yang berlari memburu mangsanya

ÔÇ£ehemmm…ÔÇØ senyumnya kepadaku

Segera aku membalikan tubuhku, kini aku berada di atasnya dengan bibirku yang sudah menempel pada bibirnya. Kedua tangannya meranngkul leherku, menekan erat leherku. Ciuman kami beradu, saling menjilat, saling mengecup, saling menyedot. Kuarahkan ciumanku ke pipinya dan turun ke lehernya.

ÔÇ£ahhhh… Aryaaaahhhh…. ehmmmmmÔÇØ desah lembutnya

Darahku semakin ternakar, ciumanku kemudian semakin turun ke susunya yang masih terbungkus oleh pakaiannya. Kedua tanganku meremas kedua susunya. Ciuman-ciuman aku daratkan di kedua susunya. Kedua tangan mbak erlina memeluk kepalaku dengan erat, kulirik wajahnya tampak kedua matanya terpejam menikmati perlakuan yang aku berikan. Tangan kananku kemudian turun kebawah, kuselipkan dibalk bajunya dan merayap ke atas menuju gunung indah yang lebih indah dari Mount Everest. Remasan-remasan kecil pada susu kanannya membuat desahan mbak erlina semakin menjadi-jadi. Segera aku singkap kaosnya ke atas dan tersembulah sebuah gunung kembar nan indah. Segera aku tarik kaosnya hingga terlepas. Payudaranya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sangat pas dan masih sekal. Payudara yang dihiasi dengan puting kecil ditengah-tengahnya. Kecil? Kenapa kecil kok berbeda dengan punya yang sebelum-sebelumnya aku mainkan? Bodoh Ah!

ÔÇ£Arghhh… Arya… emhhh….ÔÇØ desahnya yang hanya mampu memanggil namaku.

Matanya masih terpejam, kuciumi sekitar puting susu kirinyanya dengan tangan kananku membelai lembut susu kanannya. Ciuman memutar mendekati puting susunya dan hap, kulumat habis dan ku jilati puting susunya dengan pnuh nafus. Tangan kananku pun memainkan puting susu kanan mbak erlina.

ÔÇ£Ergh… Ar, kamu sudah pernah yah… emmmhhhÔÇØ desahnya pelan

ÔÇ£Slurp slurp… iya mbak slurp slurp…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Ar, dikasur saja punggungku sakitÔÇØ ucapnya kemudian aku bangkit dan memandang wajahnya. Mbak erlina kemudian menciumku, tanpa dikomando aku membopongnya dan aku dudukan di pinggir kasur dengan ranjang berkaki pendek. Ciumanku saling beradu dengannya, tangan kanan mbak erlina membelai lembut selangkanganku yang masih terbungkus oleh celana jeansku. Dengan kedua tangannya, mbak erlina membuka celana jeans beserta celana dalamku.Toeeeenng…

ÔÇ£Aku bebas… hmmmm ssssshhhhhh aaaaaahhh…. baunya sangat berbeda kakakÔÇØ ucap dedek arya

Di kocoknya lembut dedek arya dengan tangan kanannya. Tak ada komentar apapun tentang dedek arya dari mbak erlina, aneh memang beberapa perempuan yang bermain denganku selalu memberikan komentarnya tentang dedek arya. Kususupkan tangan kiriku kedalam celanan training mbak erlina hingga menyentuh bagian kewanitaannya.

ÔÇ£Ahhh… pelan ar… slurpp….ÔÇØ desahnya mulutnya yang kemudian tersumpal kembali oleh mulutku

Dengan segera aku menarik celana trainingnya hingga terlepas, kini mbak erlina telanjang tanpa sehelai benang. Kumainkan jariku di klitorisnya, kadang aku kocok pelan jari-jariku di vagina mbak erlina.

ÔÇ£Argghhh… Ar… pelan Ar… emmmmhhh… aishhhh ashhhh aahhhh….ÔÇØ desahnya melepaskan ciumanku dengan kedua tanganya berpegang pada kedua bahuku

ÔÇ£Enak mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£HeÔÇÖ….em…. Ar erghhhhhh…..ÔÇØ desah mbak erlina

Kumasukan jariku lebih kedalam lagi tampak becek dan sempit. Tapi baru masuk pada kedalaman sekian centimeter, mbak erlina menahan tanganku.

ÔÇ£Masukan Ar, aku sudah tidak tahan lagi…ÔÇØ ucapnya dengan wajah sayu-nya. Tanpa berkata-kata aku kemudian merebahkan tubuh telanjang mbak erlina di kasurnya. Sejenak aku pandangi tubuh indah berbelut kulit yang putih kekuningan ini. wajahnya Ayu nan eksotis, payudaranya tampak sangat kencangn dan menjulang tinggi keatas dengan hiasan puting kecilnya. Segera aku posisikan tubuhku ditengah-tengah selangkangan mbak erlina

ÔÇ£Mbak yakin?ÔÇØ ucapku, dia hanya menjawab dengan anggukanku

ÔÇ£Maaf ya mbak, aku benar-benar sudah tidak tahanÔÇØ ucapku. Segera aku arahkan dedek arya ke dalam vaginanya

ÔÇ£Arghhhh… PELAAAAN AR… SAKIIIIITTT…. hiks hiksÔÇØ desah tangisnya, aku sedikit heran kenapa mbak erlina kesakitan, mungkin ukuranku terlalu besar baginya. Aku berhenti sejenak dan kemudian aku coba dorong lagi.

ÔÇ£Arghhh… Aryaaaaa… pelaaaaaaan… sakiiiit sekali hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya mengiba. aku tak tega melihatnya kemudian menarik mundur dedek arya dari vaginanya. Namun kedua tangan mbak erlina meraih tubuhku untuk tidak menghentikan tindakanku

ÔÇ£Mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sudah, tekan tapi pelan-pelan saja Ar…ÔÇØ ucapnya dengan kening mengrenyit dan raut wajah kesakitan

Aku tekan perlahan, kepala mbak erlina mendongak keatas menahan sakit. Kupeluk tubuhnya dan kucium leher jenjangnya itu. Dengan perlahan aku tekan lagi, namun ada sesuatu yang menghalangi pergerakan ujung dedek arya. Setiap aku mencoba menekannya, mbak erlina mengaduh keras, sangat keras membuat tubuhnya terangkat namun tetap aku tahan dengan pelukanku. Aku tidak habis pikir kenapa mbak erlina sangat kesakitan, sudah kepalang tanggung aku bangkit dan aku bertumpu pada kedua tanganku. Ku hentakan sangat keras untuk menerobos penghalang itu. Dan…

ÔÇ£Arghhhhh…. Sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit hiks hiks hiks hiksÔÇØ teriak mbak erlina denga tubuh melengking keatas bertumpu pada kedua siku tangannya. Spontan, aku langsung memeluknya, kuraih kepalanya dengan tangan kananku dan ku cium bibirnya.

ÔÇ£Sakit banget ar… hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya terisak

ÔÇ£Kita hentikan saja mbak, mbak kelihatan kesakitan ÔÇ£ ucapku

ÔÇ£Pelan-pelan saja Ar… hiks hiksÔÇØ ucapnya

Ku maju mundurkan pinggulku perlahan, rintihan sakit dari mbak erlina semakin menjadi-jadi. Namun selang beberapa lama, setiap gerakan pinggulku membuatnya merasakan kenikmatan. Mulutnya membentuk huruf O dan kedua tangannya memegag kedua lenganku. Vaginanya terasa sangat menjepit dedek arya, setiap gesekan dengan dinding vaginanya sangat terasa sekali.

ÔÇ£Erhmmm… terus ar, aku sudah bisa menikmatinya owhhh…. lebih keras sedikit ar…ÔÇØ

ÔÇ£Lebih dalam lagi Ar, arghhh… asssshhhh… penismu menyentuh rahimku…ÔÇØ desahnya lembut

ÔÇ£Iya mbak…ÔÇØ ucapku

Aku menaikan tempo goyangan pinggulku secara perlahan. Semakin lama semakin cepat goyangan pinggulku. Tampak kenikmatan mulai didapatkannya, tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Kepalanya menggeleng-geleng, wajahnya tampak sekali kepuasan. Suasana redup dalam kamar membuatku semakin cepat menggoyang pinggulku. Semakin cepat aku menggoyang semakin sensitif dedek arya. Benar-benar perasaan yanng berbeda dari sebelum-sebelumnya. Vaginanya walau sangat becek tetap bisa mencengkram dedek arya.

ÔÇ£Ar… aku mau pipis.. ergghhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Terus ar… erghhhh erghhhh erghhhh….ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku juga mbak, vagina mbak sangat nikmat, sempit sekalihhh owhhhhhhhh…ÔÇØ desahku

Aku semakin cepar menggoyang pinggulku, kurasakan spermaku sudah berada di ujung dedek arya. Payudara mbak erlina nampak bergoyang tapi tidak seperti payudara sebelum-sebelumnya yang dapat bergoyang naik turun. Payudaranya bergoyang namun tetap tegak menjulang.

ÔÇ£mba, aku hamupir keluar… ÔÇ£

ÔÇ£Aku keluar mbak, arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhÔÇØ teriakku

ÔÇ£Aku juga Aryaaaaaaaaaaaaa….. aku pipissssss…..ÔÇØ teriaknya

Croot croot croot croot croot croot croot croot croot croot croot

Tubuhnya melengking keatas, dan langsung aku tangkap dengan pelukanku. Cairan hangat mengalir di batang dedek arya. Kupelu tubuhnya dan aku ciumi seluruh wajahnya. Matanya terpejam menikmati sensasi yang baru saja dia nikmati.

ÔÇ£Ash ash ash ash ash….ÔÇØ desah nafas mbak erlina

ÔÇ£emmmm…..ÔÇØ desahku yang membenamkan wajahku di susunya

Setelah nafasnya teratur aku kemudian mengankat kepalaku dan kudaratkan ciuman di bibirnya. Dibalasnya ciumanku dengan sambutan hangat. Kami berpelukan dan berciuman sangat lama. Hingga akhirnya dia merasa lelah dan tertidur. Aku posisikan tubuhku di sampingnya dan kupeluk tubuhnya. Ku ambil selimut yang masih terlipat dibawah kakiku dan kututupi tubuhku dan tubuhnya. Jujur saja aku ingin menambah lagi tapi dengan melihatnya sangat kelelahan aku tak tega. Akhirnya aku ikut tertidur disampingnya. Plup… dedek arya keluar dari sarang barunya.

Malam sekitar pukul 02.00 aku terbangun dari tidurku. Aku kemudian duduk disamping mbak erlina yang masih terlelap dalam kelelahannya. Kupandangi wajahnya dan kukecup keningnya. Aku kemudian bangkit dan mengenakan celana jeansku dan kaosku, ku ambil minuman teh sisa dari makan nasi gorengku tadi. Aku kemudian keluar dari kamar dan duduk bersama sematponku, kusulut dunhil mild. Centung… BBM. Mbak erlina.

From : mbak erlina
Kok keluar, kenapa?
To : mbak erlina
Ngrokok mbak
Kleeek… mbak erlina mengeluarkan kepalanya tampak hanya mengenakan kaos ketat tanpa bra.

ÔÇ£Masuk saja, ngrokok didalam, jendelanya dibuka…ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Disini saja mbak lebih rileksÔÇØ jawabku

ÔÇ£MA… SUK…ÔÇØ ucapnya dengan wajah garangnya. Aku kemudian masuk kututp pintu, kulihat mbak erlina berjalan dihadapanku dengan sedikit kesulitan melangkah. Dilepaskannya selimut yang menutupi bagian bawahnya. Ahhh… ternyata dia tidak mengenakan apa-apa.

ÔÇ£Kalau ngrokoknya sudah, tidur sama aku lagi, aku ingin dipelukÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Yah mbak, sebentar lah, ini rokoknya kan sayang…ÔÇØ ucapku sambil membuka jendela

ÔÇ£iya… iya.. erghhh….ÔÇØ ucapnya sambil kesakitan ketika hendak duduk.

ÔÇ£Ada apa mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sakit tahu!ÔÇØ ucapnya dengan wajah meringis

ÔÇ£Eh…ÔÇØ aku terkejut

ÔÇ£Kenapa sakit? Ada apa dengan vagina mbak erlina? Apakah ukuranku terlalu besar untuk vaginanya?ÔÇØbathinku

ÔÇ£Sakit kenapa mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Heh! Sini… lihat!ÔÇØ ucap mbak erlina sambil menujuk pada sprei berwarna putihnya. Aku bangkit dan menuju ke arah mbak erlina

ÔÇ£kok ada darah mbak?ÔÇØ ucapku polos

ÔÇ£pura-pura bodoh lagiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£beneran aku ndak tahu mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Duduk siniÔÇØ ucapnya, aku kemudian duduk disampingnya dan di merebahkan kepalanya di dadaku

ÔÇ£kamu pernah melakukannya?ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£pernahÔÇØ ucapku

ÔÇ£sama siapa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya ada dehÔÇØ ucapku

ÔÇ£pernah lihat seperti itu erghhh… aduh…ÔÇØ ucapnya ketika mencoba menyilangkan kakinya

ÔÇ£ndak pernah mbakÔÇØ ucapku. Kemudian mbak erlina bangkit dan memandangku

ÔÇ£memangnya kamu mainnya sama siapa sich Ar?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ada pokoknya, mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£jujur sama mbak, kamu pasti main sama cewek-cewek yang sudah pernah begituan kan?ÔÇØ ucapnya dan aku hanya mengangguk

ÔÇ£pantes…ÔÇØ ucapnya sambil merebahkan kepalanya lagi

ÔÇ£pantes kenapa mbak?ÔÇØ ucapku polos

ÔÇ£Pantes kamu ndak pernah lihat darah!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Kan kalau gituan ndak perlu ada darah mbak, di film-film juga ndak ada mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya jelas di film ndak ada, apalagi cewek yang main sama kamu sebelumnyaÔÇØ

ÔÇ£karena mereka sudah ndak perawan lagi aryaaaaaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh… perawan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£itu darah perawan, kamu itu nyebelin banget, udah ngambil perawanku masih pura-pura bodoh lagi, iiiiiiiiiiiiih…ÔÇØ ucapnya sambil membetet hidungku. Dia kemudian berbaring lagi.

ÔÇ£Lepas baju sama celanamu kalau mau tidurÔÇØ lanjutnya. Kulepas pakaianku, seperti kerbau yang dicocok hidungnya aku menuruti kemauannya. Aku tidur disampingnya dan kupeluk tubuhnya, kedua tangannya dan juga tubuhnya tenggelam dalam dekapanku

ÔÇ£jika seorang wanita belum pernah melakukan hubungan seks, pasti akan keluar darah ar. Contohnya akuÔÇØ ucapnya dengan mata terpejam

ÔÇ£berarti mbak masih perawan dan aku yang memerawani mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya arya sayanng, itu hadiah buat kamu, jangan kecewakan aku ar…ÔÇØ

ÔÇ£tepati janjimu padaku…ÔÇØ lanjutnya. Aku tak mampu menjawab pernyataannya, aku hanya memeluknya

ÔÇ£Ah benar-benar gila, pengalaman pertamaku dengan yang tidak perawan ada dan pengalamanku dengan yang perawan ada. Sungguh berbedaÔÇØ bathinku

ÔÇ£mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hmm…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£Boleh lagi ndak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ndak, besok lagi, masih sakit tahu!ÔÇØ ucapnya sambil menggigit kulit dadaku

ÔÇ£bobo..ÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£iya mbak he he heÔÇØ balasku. Mau bagaimana lagi, jujur saja sensasinya sangat berbeda ketika dengan mbak erlina. Aku peluk tubuhnya yang hangat itu dan aku ikut terlelap dalam gelapnya malam.

Pagi menjelang tak kudapati mbak erlina di sampingku. Ketika aku duduk pintu kamar mandi terbuka, munculah sesosok perempuan cantik berbalut handuk. Dia berjalan ke arahku dan mengecup keningku.

ÔÇ£mandi sanaÔÇØ ucapnya. Aku kemudian beranjak dari tempat tidur, kuambil pakianku dan segera mandi. Setelahnya aku keluar nampak mbak maya sedang mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut dan masih berbalut. Aku duduk di jendela yang aku buka sambil menyulut dunhill mild. Dengan santai mbak erlina membuka lilitan handuknya dan berganti dihadapanku, sungguh tubuh yang sangat istimewa.

ÔÇ£mbak, mbok ganti di dalam kamar mandi napa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kenapa? Kamu sudah llihat kenapa aku harus menutupinya lagiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Oh iya ya he he he…ÔÇØ

ÔÇ£Mbak, apa benar-benar sangat sakit tadi malam? Aku minta maaf mbak, seandainya aku tahu mbak masih perawan mungkin aku masih bisa mengontrol dirikuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Seandainya aku mengatakannya kepadamu, kamu pasti tidak akan mau melakukannyaÔÇØ ucap mbak erlina santai yang masih mengenakan BH, celana dalam kemudian kaos lengan panjangnya.

ÔÇ£Maaf mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu itu aneh ya, laki-laki paling aneh, banyak cowok yang mencari perawan, kamu dapet malah menyesalÔÇØ ucapnya sambil mengenakan celana pensilnya

ÔÇ£bukannya menyesal mbak, tapi aku tidak enak jika pacar kamu mengetahuinyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya…ÔÇØ balasku

ÔÇ£selama kamu belum menuntaskan janjimu, kamu adalah milikku dan kamu setiap minggu harus ke kosku tanpa terkecualiÔÇØ ucapnya sambil mengenakan kerudung putihnya dengan model masa kini

ÔÇ£tapi mbak kita kan…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya aku tahu, No Love, tapi sebelum kamu melunasi hutangmu aku tidak akan melepaskanmu. Dan jika kamu lari dariku, kamu akan menemukan jasadku dan akan kutuliskan namamu di sekiar jasadku. Agar kamu menjadi tersangka dan mendekam di penjaraÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Haduuuuuh…ÔÇØ ucapku pelan sambil memandangnya dengan senyum

ÔÇ£Dapet perawan tapi resikonya lebih gede ternyataÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya begitulah… hi hi hi dan aku tidak main-main dengan hal ituÔÇØ

ÔÇ£Lagian semalam kamu mau nambahkan? Apa ndak penasaran?ÔÇØucapnya

ÔÇ£Penasaran.. penasaran mbak, tapi brrrr menakutkan…ÔÇØ ucapku. dia kemudian duduk di bawahku dan menyandarkan kepalanya di kakiku

ÔÇ£Makanya kamu jangan bohong dan harus menepati janjimu, aku sangat bergantung padamuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hm…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£Believe me… and thank you for your guft… iÔÇÖll keep my promiseÔÇØ ucapku

ÔÇ£I Believe in youÔÇØ ucapnya

Aku berada dikosnya hingga makan siang, kini aku benar-benar merasakan kehadiran seorang yang lan. Entah pacar atau kekasih, sekalipun aku bersama Ibuku namun dengan mbak erlina sangat berbeda. Seakan-akan ini pertama kalinya aku memiliki pacar, dia melayaniku dengan sangat riang. Menyiapkan aku makan, minum, kadang memijit-mijit pundakku. Kebersamaanku dengan mbak erlina akhirnya berakhir pada pukul 14:00, aku pulang kerumah dan tidak kudapati Ibu ataupun Ayah. Aku telepon Ibu, katanya Kakek dan nenek masih membutuhkannya di rumah karena pembantu dirumah kakek dan nenek sedang ada keperluan keluarga. ku telepon Wongso.

ÔÇ£Woi cat… dapa?ÔÇØ

ÔÇ£Aku dapat informasi baruÔÇØ

Aku kemudian menceritakan mengenai mbak erlina. Wongso hanya mengiyakan setiap penjelasanku.

ÔÇ£Minggu depan ke warung cat, nanti aku hubungi antonÔÇØ

ÔÇ£Ya, oke, oh ya, nanti aku telepon antonÔÇØ

ÔÇ£OkeÔÇØ

Selang beberapa saat aku kemudian menelpon anton mengenai perihal mbak erlina. Anton mengiyakan untuk bertemu. Dia menyarankan untuk mengajak mbak erlia juga dalam pertemuan itu, agar IN dapat memberikan perlindungan kepadanya. Aku mengiyakan namun dengan syarat, hanya anton yang mengetahui mengenai mbak erlina tanpa memberitahukan kepada pimpinannya. Karena semakin banyak yang tahu akan semakin berbahaya. Anton mengiyakan dan siap menyamarkan nama mbak erlina dalam laporannya.

Keesokan harinya aku PKL seperti biasa, aku menghadap ke mbak echa untuk memberikan standar analisa yang lebih baku ketimbang yang digunakan oleh perusahaan. Dengan sangat gembira mbak echa menerimanya bahkan mbak echa langsung menawariku pekerjaan di perusahaannya jika lulus nanti. Aku sangat bersyukur karena sudah ada satu pandangan dimana aku akan bekerja nanti. Di dalam laboratorium aku juga dapat beradaptasi dengan baik, ide dan saranku diterima dengan baik pula oleh Yanto, Encus dan juga mbak ela.

Seminggu berlalu Ibu masih di rumah Kakek dan Ayah entah kemana, di hari sabtu ini aku ke kos mbak erlina. Tepat pukul 13:00 aku sampai dikos mbak erlina. Kusampaikan niatku kepada mbak erlina, beberapa saat mbak erlina berpikir. Di awal memang dia tampak sedikit ragu namun akhirnya dia mau untuk bertemu dengan sahabat-sahabatku. Namun kemudian dia mau.

ÔÇ£Emm… Ar…ÔÇØ ucapnya yang masih mengenakan kerudung putihnya

ÔÇ£Iya mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ndak nambah lagi? Hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hadeeeeh… ntar kelamaan mbak, ndak usah saja, pokoknya mbak bisa percaya sama akuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tapi… kan aku sudah janji sama kamiu arÔÇØ

ÔÇ£Beneran ndak mau Ar? Ya sudah aku tak siap-siap saja…ÔÇØucapnya sambil bangkit dan berjalan membelakangiku menuju ke tempat tidurnya. Dia kemudian mengambil sematponnya yang berada di kasur dengan posisi berlutut kemudian menungging. Seagian tubuhnya berada di tempat tidurnya. Sebuah pemandangan yang tak pernah aku lihat, wanita berkerudung menggodaku dan kini posisinya juga sangat menggodaku. Entah kenapa akal sehatku selalu hilang ketika bersama mbak erlina, apa mungkin karena dia memiliki penampilan yang berbeda dengan yang lain? Aku bangki tan segera berlutut di belakang pantatnya yang masih terbungkus dengan rok panjangnya yang berumbai

ÔÇ£Mbak…ÔÇØ ucapku. Dia hanya menoleh ke belakang tanpa mengubah posisinya, lalu tersenyum kepadaku. Aku singkap rok panjangnya hingga pinggangnya, terlihat celana dalam tipis dan berpenampilan hamir seperti G-String. Segera aku lorotkan celana dalamnya hingga setengah pahanya

ÔÇ£Katanya ndak mau ahhhhhh…..ÔÇØ ucapnya tercekat, karena ulahku yang langsung tanpa aba-aba menjilati setiap nanometer vaginanya. Lidahku bermain-main di klitorisnya, membuat mbak erlin bergelinjang nikmat.

ÔÇ£Arya… pelan erghhhh… aduh itu itilku kamu apakan ufthhhh enak ar….sssshhhÔÇØ desahnya

Kujilati vagina bagian bawah dekat dengan anusnya, dan Jari kananku bermain hingga ke dalam vaginanya. Kutekuk jariku dan aku kocok dengan perlahan. Dengan tempo sesingkat-singkatnya aku percepat kocokannku menyentuh bagian atas dinding vaginanya. Kocokanku semakin cepat, kulihat kedua tangannya terbuka lebar mencengkram sprei tempat tidurnya.

ÔÇ£erghhh… ariiiya… essttthhhhh…. ehmmmm…. aku mau pipis…ÔÇØ

ÔÇ£ÔÇØArya… oufthhh… aryaa…. aryaaaaaaaaaaaaaaemmmmmmhhh…..ÔÇØ racaunya

Tubuhnya menggelinjang berkali-kali, kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Segera aku lepaskan celana jeansku dan toeeeeng… dedek arya bangki, siap masuk! Setelah tubuhnya terdiam aku lesakan dedek arya ke dalam vaginanya. Sangat basah namun sensasi kesempitan dari vaginanya tetap sama seperti ketika keperawanannya hilang di batang dedek arya. Kumasukan perlahan hingga terbenam semua dedek arya di dalam vaginanya, kudiamkan sejenak.

ÔÇ£Pelaaan ar…. masih terasahhh sakithhh oufthhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Kalau mau keluar, nanti di keluarkan penis kamu itu essh esh eshÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Terserah mbak erlinÔÇØ ucapku yang kemudian perlahan menggoyang pinggulku. Dengan tempo dan irama yang pas, aku kemudian mempercepat goyangan pinggulku. Aku peluk tubuhnya dan kuremas dua buah payudaranya yang masih terbungkus itu dengan kedua tanganku.

ÔÇ£Owghh… ar… rasanya nikmat sekali owhhh… terus ar… aku suka erghhhh permainanmu…ÔÇØ racaunya

ÔÇ£Aku juga sukahhh has has has vaginamu mbak sempit oufth….ÔÇØ balasku

Aku kemudian memgang pinggulnya dan Goyangan pinggulku semakin cepat membuat mbak erlina hanya bisa mendesah. Tubuhnya setengah berbalik ke belakang dengan tangan kanannya sedikit menahan pundakku.

ÔÇ£Enak mbak erghhh… erghhh erghhh…ÔÇØ ucappku

ÔÇ£HeÔÇÖem…mmmhhh… mhhh…ÔÇØ jawabnya.

Aku semakin cepat menggoyang pinggulku. Gesekan dinding vaginanya yang masih sempit itu membuat kulit dedek arya semakin sensitif. Mbak erlina mulai bergerak tidak kaaruan. Tubuhnya tiba-tiba melengking dan menggelinjang berkali-kali. kurasakan otot-otot vaginanya mencengkram erat dedek arya. Aku diam sejenak, kemudian aku lanjutkan lagi menggoyang tanpa komando dari mbak erlin. Kugoyang pinggulku semakin cepat.

ÔÇ£Mbak, aku mau keluar…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Cabut ar… cabuthhh erghhh….ÔÇØ ucapnya. Aku kemudian menuruti perkataan mbak erlin, kucabut batang dedek arya dan bergerak sedikit kebelakang. Dengan gerak cepat mbak erlin merubah posisinya berbalik dan langsung melahap batang dedek arya dan mengulumnya. Disedot-sedotnya sangat kuat batang dedek arya.

ÔÇ£Mbak aku keluaaaaaarrrr….ÔÇØ ucapku

Crooot Crooot Crooot Crooot Crooot Crooot Crooot

Sperma keluar di mulut mbak erlina, ketika baru beberapa crootan. Mbak erlina melepaskan kulumannya sehingga spermaku muncrat di wajah mbak erlina. Sebuah pemandangan yang memberikan sensasi tersendiri bagiku.

ÔÇ£Banyak banget Ar has has hash…ÔÇØ ucapnya. Dilapnya spermaku dan dengan ujung kerudungnya lalu dia tersenyum kepadaku

ÔÇ£mbak, enak banget, yakin mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hi hi hi… enakkan? Hi hi hiÔÇØ ucapnya sembari berjalan ke kamar mandi dan kudengar suara gemercik air menandakan dia mandi. Selang beberapa saat dia menyuruhku mandi juga.

Setelah kami berdua bersih, aku sedikit mengobrol dengan mbak erlin. Aku menanyakan kepadanya mengenai perihal kulumannya yang seakan-akan sudah menjadi kebiasaannya. Jika dia baru pertama kali melakukannya biasanya akan terasa sakit. Dia hanya menjawab, dia sudah sering melakukannya dengan pacarnya yang berada di luar kota. Paling tidak setiap satu bulan sekali selama 3 hari pacarnya akan menginap dikosnya dan mbak erlin memberikan servis kuluman kepadanya. Perihal keperawanannya aku disuruhnya untu tenang,karena dia mengaku pada pacarnya kalau keperawanannya sudah hilang akibat kecelakaan jatuh dari sepeda motor. Konyol memang tapi mau bagaimana lagi, mbak erlin yang dengan suka rela memberikannya kepadaku.

Ku telepon Anton untuk menemuiku di warung wongso dan dia mengiyakannya. Pertemuan di warung wongso pukul 16:00. Segera aku berangkat dengan mbak erlin ke warung wongso tanpa memberitahukan ke wongso. Selama perjalanan sematponku bergetar terus-terusan dengan nada sambung panggilan, namun aku acuhkan. Setibanya aku disana aku melihat wongso sedang menata motor yang parkir di warungnya, dia tampak kaget dengan kehadiran bersama mbak erlina. Bahasa tubuhnya menyuruhku untuk segera pergi dari warungnya, namun aku cuek saja.

ÔÇ£Kaya orang gila saja kamu itu Wong?ÔÇØ ucapku sambil turun dari motorku bersama mbak erlina

ÔÇ£Kamu pergi sekarang, ada…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£Hai Ar…ÔÇØ sapa seorang wanita yang keluar dari warung dan berjalan menuju kearahku. Bu Dian, mengenakan celana pensil hitam dengan kaos lengan panjang longgar berwanya putih

ÔÇ£Aduuuh…ÔÇØ ucap wongso sambil kedua tangan berpinggang dan kepalanya menggeleng-geleng

ÔÇ£Lho Ibu kok disini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Siapa Ar?ÔÇØ ucap mbak erlin

ÔÇ£Aku teman baiknya sekaligus Dosen AryaÔÇØ

ÔÇ£Kamu sendiri?ÔÇØ ucap Bu Dian sambil mengulurkan tangannya ke Mbak Erlin

ÔÇ£Erlina,…ÔÇØ

ÔÇ£Temannya jugaÔÇØ ucap mbak erlina

Aku kemudian duduk di ujung kursi panjang di depan warung wongso. Bu Dian kemudian duduk di kananku, tiba-tiba mbak erlina mendesakku dan sekarang duduk di kiriku. Wongso hanya duduk di motor pelanggan warungnya. Kuliihatwajah mbak erlina nampak sedikit judes karena Bu Dian yang tiba-tiba duduk di sebelah kananku.

ÔÇ£Kok pada diem?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tahu tuh, apa ndak tahu kalau kamu dateng sama aku, bisa-bisanya duduk langsung disebelahmu, iiih ndak menghargai aku sama sekali, apa dia ndak tahu siapa aku?ÔÇØ ucap mbak erlina judes

ÔÇ£Owh aku minta maaf er jika terlalu lancang, maaf yaÔÇØ balas Bu Dian lembut

ÔÇ£iya mbak.. kalau mau duduk disebelah arya ijin aku dulu?ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Eh… maafÔÇØ ucap Bu Dian kemudian membuang muka melihat jalan-jalan yang penuh dengan kendaraan yang berlalu-lalang

ÔÇ£Mbak erlina, sudah mbak, Bu Dian ini Dosenku dan tolong hormati diaÔÇØucapku ke mbak erlina. Sejenak kupandangi wajah lebut Bu Dian yang memandang ke arah jalan

ÔÇ£iiiiiiiiiiiih…ÔÇØ ucapnya mbak erlina sambil melipat kakinya dengan sikunya bertumpu pada pahanya untuk menyangga dagunya

ÔÇ£Weleh.. weleh… Ar… ar… betapa beruntungnya kamu diperebutkan dua wanita cantikÔÇØ ucap wongso. Aku hanya mengacungkan jari tengahku ke arah wongso.

ÔÇ£Arya, sayang aku pijitin ya kamu kan pastinya capek ya tadi mboncengin aku ya?ÔÇØ ucap mbak erlina yang kemudian memijit-mijit bahu kiriku

ÔÇ£Mbak sudah dongÔÇØ ucapku sambil mencoba melepaskan pijitan mbak erlina

ÔÇ£Ndak papa, kan kamu capek, wajar kan teman memijit teman.ÔÇØ ucap mbak erlina menyindir Bu Dian. Bersamaan dengan mbak erlina berbicara, sebuah taksi datang dan keluarlah Pak Wan. Bu Dian kemudian bangkit.

ÔÇ£Maaf sudah mengganggu kalian berdua, aku pulang dulu yaÔÇØ

ÔÇ£Wongso aku pulang duluÔÇØ ucap Bu Dian sembari melangkah menuju taksi pak wan

ÔÇ£Iya Bu, hati-hatiÔÇØ ucap wongso. Aku merasa tidak enak dengan sikap mbak erlina terhadap Bu Dian, kemudian mengejarnya

ÔÇ£Pak Antar saya pulangÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Oh ya mbakÔÇØ ucap Pak Wan, yang kemudian masuk kedalam taksinya lagi

ÔÇ£Sebentar pak…ÔÇØ ucapku sambil mencegah pintu mobil tertutup

ÔÇ£Bu, tolong maafkan teman sayaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ndak papa Ar, santai saja, lagian aku yang salah sudah mengganggu kalianÔÇØ ucapnya dengan sambil tersenyum ke arahku

ÔÇ£Jalan pakÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Duluan mas Arya…ÔÇØ ucap pak wan dan wush taksi berjalan menjauhiku

Perempuan memang sulit untuk dimengerti. Kadang dia cuek bebek, kadang pula mereka meminta untuk diperhatikan. Setiap laki-laki pasti lebih sering salahnya ketibang benernya dihadapan seorang perempuan. Kadang bilangnya tidak ingin diperhatikan, tapi setelah di kabulkan eh malah marah-marah. Bilangnya ndak level, barang sudah dijauhi eh malah mendekat. Bikin bingung saja.

ÔÇ£Karena kamu ndak bisa membohongi persaanmu kakakÔÇØ ucap dedek arya

ÔÇ£Sialan kamu, siapa yang nyuruh kamu ngomong!ÔÇØ bentak bathinku ke dedek arya

Aku kembali ke arah mbak erlina, dan wongso hanya tertawa cekiki-an. Wajahku lesu karena entah ada sesuatu yang mengganjal di dalam bathinku. Entah kenapa sekarang aku malah merasa sangat bersalah kepada Bu Dian.

ÔÇ£Kamu suka ya sama dosen kamu?ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£ndak mbak, dia sudah bertunangan lagian kenapa juga aku suka sama dosenku sendiri, aku kan bukan levelnyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£hi hi hi kamu ndak bisa ngebohongin perasaan kamu sendiri ArÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£lagian kenapa mbak erlina tadi ngajak perang Bu Dian?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Yeee… iseng saja, karena pandangan matanya ketika melihatmu tampak lain, ya aku tes sajaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Argh mbak itu iiiih…ÔÇØ ucapku gemes

ÔÇ£Sudah tenang saja, No Love, aku Cuma ngetes dia doang kok ndak ada yang lain, kalau dia bener-bener sayang sama kamu pastinya dia akan sangat tersinggung dengan ucapanku dan pastinya dia merasa jengkel karena ndak bisa melakukan sesuatu untuk kamu. Buktinya dia langsung pergi gitu saja, itu tandanya karena dia merasa jengkel pada dirinya sendiri ndak bisa mijitin kamu nempel-nempel kamu hi hi hiÔÇØ ucpa mbak erlina

ÔÇ£Sok tahuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Bukannya sok tahu ar, hanya saja dia masih menjaga hubungan Dosen-Mahasiswa dengan kamu. Coba saja kalau kamu sudah lulus, bisa lebih nekat dari aku dia ituÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Iya bener tuh kata mbaknyaÔÇØ ucap asmi tiba-tiba datang dari dalam warung

ÔÇ£setuju ndak mas?ÔÇØ ucap Asmi kepada Wongso

ÔÇ£Aku selalu setuju apapun pendapat kamu sayangÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Kalian itu erghhhh….ÔÇØ ucapku yang kemudian ditertawakan oleh mereka semua.

Memang ada benarnya kata mbak erlina, tapi mau bagaimana lagi. Sekalipun aku harus maju ada pak felix disana. Masa bodoh ah!. Aku kemudian memperkenalkan mbak erlina kepada wongso dan asmi, ya maklumlah kelupaan. Selang beberapa saat anton datang, lalu aku,wongso dan anton beserta mbak erlina masuk ke dalam rumah. Asmi tetap berada di warung membantu Ibu wongso. Setelah kami berkumpul di dalam rumah wongso, aku kemudian menjelaskan kepada Anton begitupula mbak erlina. Kuperlihatkan dua video rekaman, yang pertama video rekaman yang menjebak KS sebagai pembunuh rekan kerja Ayahku, yang kedua video rekaman serah terima uang yang direkam oleh mbak erlina. Aku kemudian meminta anton untuk merahasiakan identitas mbak erlina kepada siapapun, Anton pun mengiyakan.

ÔÇ£Hufth… Video ini belum bisa dijadikan barang buktiÔÇØ ucap anton

ÔÇ£Kenapa?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Kamu bisa lihat, semua di video ketika penyerahan uang tersebut? Semua gambar tampak buram, wwajah mereka tidak bisa kellihatan. Memang kita bisa menebak-nebak siapa saja mereka, namun tanpa adanya bukti kita akan kalah di persidangan. Rekan kerjaku mengatakan kepadaku bahwa pentolannya ada 5 orang. Jika kita berpaku pada video ini, jumlah orang jika kita jumlahkan jumlahnya hanya 4 orang. Ar, sebelum KS atau Ayah mbaknya ini meninggal kami sudah mengorek beberapa informasi dari KS, KS mengatakan bahwa jumlah mereka ada 5. Waktu itu kami mengintrogasinya di dalam kantor, namun untuk keterangan siapa-siapa saja 5 orang itu belum sempar dikatakan oleh KS. Kami memberinya waktu istirahat saat itu dikantor namun KS ijin untuk pulang dan disitulah kami kecolongan Ar. Kami tidak mengawal KS sama sekali, dan terjadilah pembunuhan ituÔÇØ

ÔÇ£Bisa di bilang, pembunuh KS sudah berada di dalam rumah KS sebelumnya. Menurut penuturan KS pula kami tahu jika Jsemua keluarga KS sudah di ungsikan keluar pulau. Kami juga tidak tahu menahu mengenai mbak erlina adalah anak dari KS. Untuk saat ini kita harus mencari bukti tambahan dan saksi. Apakah mbak mau menjadi saksi suatu saat nanti?ÔÇØ jelas Anton

ÔÇ£Aku mau, tapi tidak untuk sekarang. Aku tidak ingin berakhir seperti AyahkuÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Oke, aku akan tetap merahasiakan identitas mbak kepada semua orang tak terkecuali tim dan pimpinanku. Ar… Wong… jika kalian mendapatkan informasi tambahan lagi, segera hubungi aku. Kita akan susun rencana setelahnyaÔÇØ ucap Anton

ÔÇ£Siap Ndan!ÔÇØ ucap kami serentak

Perbincangan kami menemui titik akhir, dimana kita harus mengumpulkan bukti lagi. Karena bukti kita masih kurang. Mbak erlina tampak bahagia karena banyak yang membantunya untuk membalas perlakuan Ayahku dan om Nico terhadap Ayahnya. Mbak erlina pun berjanji jika nanti dia mendapatkan bukti lain akan segera di sampaikan kepada kami. Kami akhiri perbincangan kami dengan canda dan gurau bersama hingga larut malam. Segera aku antarkan mbak erlina pulang kekosnya. Tepat di depan kosnya, ku matikan mesin REVIA.

ÔÇ£Hei Ar, berjuanglah, Dosen kamu itu pasti bisa kamu dapatkanÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Iya… iya.. tapi ndak mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau kamu menyerah begitu saja, berarti kamu juga menyerah pada janjimu kepadakuÔÇØ

ÔÇ£Ya sudah cepet pulang sana dah malamÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Oke mbakÔÇØ ucapku. Sembari menyalakan mesin motor REVIA.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Iya mbak, ada apa?ÔÇØ ucapku menoleh ke arahnya

ÔÇ£Seandainya saja kita bertemu dari awal, dan aku mengenalmu terlebih dahulu. Mungkin aku akan sangat bahagiaÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£Hm hm hm… mbak erlinaaaaaaaaaaaaÔÇØ ucapku yang mengerti maksud perkataanya

ÔÇ£Iya No Love, tapi tolong sayangi aku jangan jadikan aku hanya sebagai wanita sementaramuÔÇØ ucapnya. Kulepas Helmku dan Kupandangi wajahnya, kuambil sebatang dunhill dan kusulut

ÔÇ£hufthhh…ÔÇØ

ÔÇ£Mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya Ar…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£Aku sayang mbak sebagai seorang sahabat dan juga sebagai seorang kakak perempuanku. Sebenarnya aku juga tidak ingin melakukan hubungan seperti yang sudah-sudah kita lakukan. Seandainya saja mbak tidak memberiku hadiah pun aku akan tetap membantu mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Karena aku merasakan kehilangan juga seperti mbak, kehilangan Kakek dan Nenekku, Orang tua Ayahku yang harus menderita karena ulah Ayahku. Aku ingin menyingkirkannya bukan membunuhnya, karena aku ingin dia juga merasakan apa yang di rasakan oleh kakek dan nenekÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Eh…ÔÇØ

ÔÇ£Ssssshh…. Hmmmmmssshhhhhh…ÔÇØ

ÔÇ£Ternyata Dian lebih beruntung daripada aku, padahal dia juga cocok sebagai kakak perempuanmuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Maksud mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya dia beruntung karena dia memiliki seorang lelaki yang mencintainya sebagai seorang wanita bukan seorang kakak perempuannya. Dan orang itu adalah kamuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Halah mbak itu mengada-adaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Cara mata kamu memandangnya ketika dia keluar dari warung wongso. Cara kamu memperlakukannya ketika dia mau naik taksi. Itu adalah perlakuan seorang lelaki yang mencintainyaÔÇØ jelas mbak erlina

ÔÇ£Dasar peramal ndak lulus ha ha haÔÇØ candaku. Tiba-tiba mbak erlina melangkah menuju ke arahku

ÔÇ£Mungkin aku terlambat, namun dengan aku sebagai sahabat dan juga seorang kakak perempuan bagimu memang sedikit membuatku kecewa namun aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Kamu ada untuk aku karena Ayahku, dan aku ada untuk kamu karena janjimu. Aku akan menikmati masa-masa sampai kamu menepati janjimu Ar, dan aku akan doakan kamu bisa bersama DianÔÇØ ucapnya tepat di depan wajahku dengan tangannya memegang lengan tanganku yang memegang rokok

ÔÇ£Kamu tidak perlu menyesal atas apa yang telah terjadi, karena aku akan menikmati masa-masa itu. Berjanjilah kepadaku bahwa kamu akan menepati janjimu dan lindungilah akuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh… pasti mbak, aku berjanji… mmmÔÇØ ucapku terhenti karena mulutku tersumbat oleh bibirnya. Hanya sebentar namun cara dia menciumku berbeda dari sebelumnya, aku dapat merasakannya.

ÔÇ£Hati-hati pulangnya ya Arya nyebeliiiiiiiiiinÔÇØ ucapnya sembari berlari masuk ke kosnya.

ÔÇ£dasar kakakku yang aneh!ÔÇØ teriakku.

Segera aku nyalakan mesin motorku. Dalam perjalanan pulang aku merenungkan perkataan mbak erlina. Sesampainya dirumah, keadaan masih sepi hanya ada aku sebagai penghuni tunggal rumahku. Kurebahkan tubuhku di kasur kenyamananku. Kuraih sematponku dan ku buka BBM.

ÔÇ£Semua karena kesalahankuÔÇØ

Begitulah status Bu Dian

To : Bu Dian
Bu Dian, saya mohon maaf atas sikap teman saya tadi ya bu
Mohon di maafkan.
From : Bu Dian
Ya Ar, ndak papa
Lagi ngapain?
To : Bu Dian
Terima kasih Bu
Lagi mau tidur bu
From : Bu Dian
Ow… met bobo ya
To : Bu Dian
Iya Bu, terima kasih
Bu Dian juga ya, met istirahat
From : Bu Dian
Iya Arya, terima kasih
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam sematponku, bukan BBM namun Short Message Service. Sebuah perpesanan tua yang sudah jarang digunakan. Bu Dian.

If the moon, embarrassed to shine tonight
and hiding behind the clouds night
I will break the clouds
so that the light accompany your sleep tonight
Goodnight and have a nice dream

Aku hanya tersenyum dan tak mampu membalas smsnya. Kupandangi pesan singkat itu hingga lelah mata ini memandang dan terlelap dalam lelahnya malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*