Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 16 (Tamat)

I Love You Handsome 16 (Tamat)

“Sidang ini memutuskan bahwa Arci telah bersalah, menggerakkan masa, membuat kekacauan ini adalah kejahatan yang serius bahkan sampai membunuh orang lain,” kata seorang Jaksa. “Dengan ini sesuai pasal pidana menuntut dia dihukum seumur hidup.”

“Keberatan, Pak Hakim,” kata seorang pengacara dia adalah Bu Susiati. “Klien saya terkena gangguan jiwa. Saya ada rekam medisnya, silakan dilihat!”

Bu Susiati datang menuju ke hakim dan menunjukkan rekam medis dari sebuah rumah sakit jiwa. Sang hakim membacanya dengan teliti.

“Jadi, dia tidak melakukan pembunuhan itu atas kesadaran. Dia melihat istrinya dibunuh, siapa yang akan membiarkan itu terjadi? Sekarang pengadilan ini harus memberikan keadilan kepada dia. Lihatlah dia! Lahir tanpa ayah, tapi setelah mendapatkan kekayaan dari ayahnya ia malah disiksa tak diberi keadilan, kemudian istri dan kakaknya dibunuh apakah dengan memberikan dia hukuman itu bisa disebut keadilan. Ketika istrinya tewas ia telah kehilangan kesadaran, tak tahu siapa dirinya. Maka dari itu pengadilan tak akan bisa seenaknya mengadili orang yang kehilangan akalnya,” kata Bu Susiati.

Jaksa penuntut yang membacakan dakwaan tadi menggerutu, “Dari mana dia bisa dapatkan rekam medis itu?”

Setelah beberapa saat hening. Akhirnya sang hakim pun memutuskan sesuatu.

“Pengadilan ini tak bisa mendakwa bahwa Arci telah membunuh dikarenakan ia mengalami depresi berat setelah istrinya dibunuh dengan cara diperkosa sampai mati. Namun oleh karena itu, pengadilan memutuskan Arci bersalah karena telah menggerakkan massa, membuat kekacauan dan keributan, merusak prasarana umum, maka dengan ini ia mendapatkan hukuman 7 tahun penjara dikurangi masa hukuman dan denda sebesar 30 Milyar atas kerusakan yang terjadi. Dan dia dihukum setelah mendapatkan kejelasan akan kesembuhan mentalnya.” Hakim mengetuk palu.

Enam bulan setelah kejadian itu. Arci seperti orang linglung. MALANG RIOT AND CHAOS itulah yang menjadi judul Headline di surat kabar. Nama Arci menjadi besar karena itu. Dia dianggap sebagai raja preman, menggerakkan seluruh preman yang ada di kota ini. Namanya dieluk-elukkan oleh dunia hitam. Tapi sekali pun begitu ia tak bahagia. Kehilangan Andini membuat dirinya rapuh. Dia melihat saat-saat terakhir istrinya dimakamkan dan menjerit histeris. Sampai setelah tiga kali suntikan obat penenang dia baru tenang.

Arci selama tiga bulan lamanya mendekam di dalam rumah sakit jiwa. Letnan Basuki mengerti perasaan Arci. Dia tak menduga saja seperti ini kejadiannya. Kejadian hari itu memberikan banyak luka. Banyak orang yang tewas, baik dari para preman, juga dari pihak kepolisian. Untunglah Lian dan Putri selamat. Mereka berdua sering mengunjungi Arci, tapi yang lebih sering lagi Ghea. Ghea masih hidup. Setelah sembuh dari luka-lukanya ia sering menjenguk Arci, menyuapinya makan, membersihkan tempat tidurnya, membantunya untuk mandi.

Melihat Arci rapuh, Ghea jadi melankolis lagi. Dia tak pernah menyangka Arci akan seperti ini. Orang yang dicintainya sekarang telah kehilangan segala-galanya. Dia tahu perasaan Arci, kehilangan orang yang dicintai, ia tahu. Arci selama sebulan pertama menatap dengan tatapan kosong. Tangan dan kakinya dirantai, karena ia sering mengamuk sendiri. Kalau sudah mengamuk tak ada yang bisa menghentikannya kecuali dengan penenang yang bisa membius gajah.

Namun semenjak Ghea sembuh dan sering datang. Arci mulai melunak. Dokter menyuruh Ghea untuk sering datang.

“Kapan kamu begini terus?” tanya Ghea.

Arci tak menjawab.

“Aku tahu perasaanmu, aku tahu rasanya kehilangan. Tapi tak harus seperti ini. Kamu menyiksa dirimu sendiri. Arci, aku bisa jadi nyawamu, aku menawarkan diriku. Ayolah, kamu harus sembuh, sampai kapan kamu rapuh?”

Arci tak menjawab. Pandangannya tetap kosong. Ghea menangis dan memeluk orang yang sangat dicintainya itu.

“Aku akan tetap mencintaimu apapun keadaanmu. Aku tak akan bisa menjadi Safira ataupun Andini, tapi aku akan berusaha memberikan semua cintaku kepadamu. Engkaulah yang mengajariku tentang cinta, engkaulah yang memberikan oase di dalam gersangnya hatiku. Aku akan terus mencintaimu, tak ada lelaki lain yang pantas untukku. Hanya engkau…,”

“Ghea…?” bisik Arci.

“Arci?? Ya, ini aku Ghea,” Ghea tersenyum mendengar Arci memanggilnya.

“Biarkan aku menikmati masa rapuhku ini…,” kata Arci.

“Kenapa?”

“Aku lebih tenang di sini…aku tahu alasan kenapa Araline mau tinggal di rumah sakit jiwa seperti ini. Ia tak ingin orang lain melihat dirinya rapuh. Di sini aku bisa tenang. Setiap aku lepas kendali dengan obat penenang itu aku jadi bisa tidur nyenyak. Aku tak ingin keluar dari sini.”

“Kamu… kamu tidak gila?”

“Aku selama ini tidak gila, aku memang seperti orang gila. Aku rapuh. Kehilangan orang yang aku cintai. Mereka semua pergi. Aku tak mau hidup lagi, setiap hari aku berusaha membunuh diriku dengan membentur-benturkan kepalaku ke tembok, hingga mereka kemudian memborgolku. Aku rapuh Ghea, aku rapuh….”

“Kamu tak boleh begitu. Ada aku di sini. Ada aku…kamu tak boleh seperti itu! Dengarlah, lihatlah aku! Lihatlah!”

Ghea memegang kedua pipi Arci. Arci menatap mata Ghea yang berwarna hijau. Arci tak tahu kalau Ghea ternyata punya sepasang mata yang indah. Dan mata itu sembab. Sedih.

“Aku akan memberikan separuh nyawaku untukmu. Aku rela, aku akan melakukannya. Kumohon terimalah! Aku akan memberikannya.”

“Aku tak tahu apakah aku akan menerimanya atau tidak.”

“Arci, kamu harus keluar dari sini. Aku menawarkan diriku, aku memang bukan wanita pertamamu, aku bukan wanita yang baik menurutmu, aku bukan wanita yang engkau cintai. Setidaknya ijinkanlah aku jadi wanita terakhir dalam hidupmu. Aku akan lakukan apapun, kamu membuatku bersedih. Kalau kamu rapuh, aku juga rapuh, ibumu juga, adikmu. Siapa yang akan menjaga mereka kalau kamu di sini terus?”

“Ghea…”

“Arci…”

Keduanya kemudian berciuman. Untuk pertama kali dalam hidupnya Arci mencium Ghea dengan deep kiss. Lama mereka berciuman. Ghea memeluk Arci dengan hangat. Kehangatan yang tak ingin ia lepaskan.

“Terima kasih, Ghea.”

“Kamu harus keluar dari sini. Tommy belum binasa. Ia masih berkeliaran bebas di luar sana. Aku akan membantumu untuk membalaskan dendam.”

“Tidak Ghea, jangan! Aku tak mau kamu pergi lagi.”

“Aku bukan wanita yang lemah. Aku bukan Safira, aku bukan Andini, aku adalah Ghea. Aku telah merasakan tebasan pedang, parang dan peluru. Aku kuat. Kamu tahu juga itu bukan?”

Arci tersenyum. Ghea tiba-tiba menangis lagi.

“Kenapa kamu menangis??”

“Baru kali ini aku melihatmu tersenyum lagi.”

“Ya, baiklah. Demi kalian. Aku akan keluar.”

Wajah Ghea memancarkan kebahagiaan. Inilah awal mula Ghea mendapatkan cintanya. Dan untuk pertama kalinya Arci menerima cinta Ghea. Walaupun memang, ia tak akan pernah bisa melupakan Safira dan Andini. Keduanya tak akan bisa terhapus dari ingatannya. Karena ia mencintai mereka selamanya.

* * *

Arci dibebaskan dari rumah sakit jiwa setelah dokter memutuskan kesehatannya. Sesuai keputusan pengadilan, setelah mendapatkan pengobatan dan terapi di rumah sakit jiwa, Arci masuk ke dalam penjara. Di LAPAS ia tidak saja menjadi orang yang disegani tapi dikenal sebagai big boss, sebagai raja preman. Semua penghuni LAPAS menghormatinya seperti raja. Kalau biasanya setiap orang baru masuk ada orientasinya, tapi tidak bagi Arci. Semua orang berebut untuk bisa melayaninya. Ya, nama Arci menjadi tenar sekarang. Dia tinggal di dalam penjara di sel khusus.

Hari demi hari ia habiskan untuk melatih tubuhnya yang kaku. Hari demi hari ia juga menulis dan membaca buku. Ia tak pernah menghitung hari kapan ia akan keluar dari penjara. Setiap hari Ghea selalu mengunjunginya kalau ada waktu. Ghea sekarang yang mengelola usaha keluarga Zenedine. Seluruh kekayaan Arci sekarang diserahkan kepada Yuswo, tapi Yuswo menolak, baginya mendapatkan penerus seperti Arci lebih dari cukup. Dan ia bersungguh-sungguh.

Selama di penjara Arci mengenal banyak orang, terutama ketika seluruh penghuni LAPAS dikumpulkan. Dia termasuk narapidana yang paling baik kelakuannya. Tak neko-neko. Tapi dihormati oleh semua orang. Berkat kelakuan baiknya itu hanya dalam waktu lima tahun dia pun keluar setelah mendapatkan grasi dari presiden.

Ketika akan keluar, seluruh penghuni LAPAS berebut mencium tangannya. Arci hanya diam saja dan sedikit geli mendapatkan perlakuan seperti itu. Setelah berpamitan dengan sipir dan menandatangani sesuatu, ia pun keluar. Di luar LAPAS telah menunggu tiga yang sangat ia kenal. Lian, Ghea dan Putri yang sekarang udah besar.

Putri langsung berlari ke arah kakaknya, “Kakaaaaaak!” Dia langsung memeluk kakaknya. “Aku rindu sekali.”

“Kau tambah besar,” ujar Arci sambil menguyel-uyel rambut Putri.

Arci berjalan mendekat ke arah Ghea dan Lian. Ia mencium pipi keduanya.

“Terima kasih, sudah menjemput.”

“Tak apa, ayo!” ajak Ghea.

Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil. Mobil melaju pelan meninggalkan tempat di mana Arci menghabiskan masa hukumannya. Ghea yang menjadi sopirnya hari itu. Arci tak pernah menyangka bebas juga akhirnya. Dia kemudian teringat sesuatu.

“Kita ke pemakaman dulu yuk?!” ajak Arci.

Ghea mengerti. Segera ia menuju ke pemakaman tempat di mana Safira dan Andini di kuburkan.

Ternyata Kedua orang yang dicintai Arci itu dikuburkan bersebelahan. Ini adalah inisiatif dari Ghea sendiri. Bu Susiati menyetujuinya. Tak hanya Arci yang terpukul, keluarganya juga merasa kehilangan.

Arci memandangi batu nisan bertuliskan Safira dan Andini secara bergantian. Ghea ingin meninggalkan Arci sendiri tapi Arci mencegahnya.

“Jangan pergi!” kata Arci.

“Baiklah!” kata Ghea.

Dari jauh Lian dan Putri memandangi dua orang yang sedang berdiri di depan makam kerabatnya itu.

“Andini, Safira, maafkan aku. Aku tak bisa menjaga kalian. Seharusnya aku bisa. Seharusnya aku menuruti nasehatmu Din. Seharusnya aku bisa. Tapi aku akan menuruti wasiatmu, di sebelahku ada Ghea. Dia orang yang sangat mencintaiku. Aku akan mencintainya juga. Aku meminta restumu Kak Safira, Andini… aku mencintai kalian selamanya. Dan aku sekarang akan mencintai Ghea selamanya. Dia yang selama ini merawatku memberikan aku kehidupan. Kalian tidak marah kan?”

Ghea terharu. Air matanya tak bisa dibendung.

“Aku bersyukur kalian hadir di dalam kehidupanku, kalian adalah hal terindah yang pernah ada dalam hidupku. Aku tak akan melupakan kalian.”

Ghea tak kuat lagi dan dia pun memeluk Arci sambil menangis. Arci balas memeluk Ghea.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Pernikahan yang sederhana. Ya, pernikahan yang sederhana. Itulah yang diinginkan oleh Ghea. Keduanya sudah menikah sekarang. Ghea untuk pertama kalinya memakai baju wanita. Tapi pernikahan yang sederhana itu menjadi spesial, kenapa? Karena sang Raja Preman sekarang terjalin ikatan yang sangat erat dengan keluarga Zenedine. Arci sang Godfather, itu yang dikatakan oleh semua orang.

Letnan Basuki sendiri tak menyangka hal itu akan terjadi. Setelah ia berhasil memberangus kejahatan Tommy dan menangkap Arci, sekarang Arci di dunia hitam dikenal sebagai seorang pemimpin. Paling tidak jangan sampai Arci berbuat kriminal. Itu yang ditekankan dirinya sendiri, kalau sampai dia mencium gelagat yang tidak baik dari pemuda yang sudah berusia 30-an tahun itu, maka dia akan menangkap Arci.

Di kamarnya, Arci memandang tubuhnya sendiri. Seluruh badannya tampak bekas luka. Satu per satu ia memegangnya, dari mulai luka bekas tertembus peluru hingga terkena sayatan pedang, pisau, golok, parang dan lainnya. Beberapa dijahit. Ia tidak mentatto dirinya, dengan luka itu saja ia sudah dikenal. Raja dunia hitam yang banyak mempuyai luka di tubuhnya. Itu sebagai ciri khasnya. Sebenarnya secara tak langsung file Arci sudah masuk ke dalam target polisi, tapi polisi tak bisa bertindak ceroboh, terlebih orang yang membantu Arci adalah seorang pengacara terkenal Susiati.

Ghea mendekati Arci dan berdiri di sampingnya sambil memeluk lengan suaminya itu.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Arci.

“Seorang big boss. Orang yang telah merajai seluruh preman di kota ini. Dan juga pewaris tunggal dari Zenedine,” jawab Ghea.

“Bukan, aku lebih kepada seorang lelaki yang hopeless. Aku seperti melihat zombie. Kamu tahu, aku sudah menjadi zombie sekarang ini. Lihatlah, aku sudah tak merasakan sakit lagi,” ujar Arci.

“Tidak sayangku, tidak begitu,” Ghea mendekap Arci lebih erat.

“Bagiku kau adalah lelaki yang paling baik, paling kuat, dan paling tampan. Kamu bukan zombie. Kamu adalah dirimu sendiri.”

“Aku sudah terlalu jauh masuk ke dunia ini. Dunia yang harusnya aku hindari. Dunia yang telah merenggut orang-orang yang aku cintai. Memang di mana-mana aku dihormati, tapi aku merasa hampa.”

“Kamu masih teringat dengan Safira dan Andini?”

“Setiap waktu aku ingat mereka. Dan setiap aku melihat diriku, aku marah kepada bayanganku sendiri. Marah karena aku tak bisa melindungi mereka. Bahkan sampai tanganku bersimbah darah sekalipun aku tak bisa melindungi mereka. Gege, apa yang harus aku lakukan.”

“Lepaskanlah beban itu. Bebanmu terlalu berat. Kamu tidak sendiri sekarang ini. Ada aku, aku akan sekuat tenaga mensupportmu.” Ghea memutar tubuh Arci agar melihatnya. “Lihat aku!”

Arci menatap mata hijau Ghea. Hari ini seharusnya hari yang paling bahagia bagi Ghea dan Arci, tapi tampaknya rasa bersalah di pundak Arci belum hilang.

“Kita bisa bersama menghadapi ini semua. Kamulah yang mengajarkan cinta kepadaku, tentang arti cinta yang sebenarnya. Tak ada yang bisa mengajariku sebaik dirimu. Kamulah alasanku berubah, kamulah alasanku tetap tegar menjagamu. Sebagai istrimu aku rela menjadi sarung pedangmu, menjadi tamengmu bahkan kalau kamu gunakan aku untuk umpan musuh pun aku rela!”

Arci memeluk Ghea, “Jangan ucapkan itu! Kumohon! Sudah cukup. Aku tak mau kehilangan anggota keluargaku lagi.”

“Cici…boleh kupanggil engkau dengan panggilan sayang istrimu?” tanya Ghea yang menangis dalam pelukan Arci.

“Ya, panggil saja.”

“Aku hari ini mendapatkan pelajaran berharga.”

“Apa itu?”

“Bahwa cinta sejati itu tak akan pernah mati, walaupun aku bukan cinta sejatimu, setidaknya biarkan engkau yang menjadi cinta sejatiku. Biarlah saat-saat akhir hidupmu aku yang akan mengisinya. Kamu mau kan?”

Arci mengangguk. “Iya, demi kamu.”

“Cici…”

“Gege.”

Keduanya kini berpandangan. Kedua mata mereka memancarkan sebuah aura yang tak akan bisa difahami oleh siapapun. Rasa kesedihan Arci mulai perlahan hilang. Jiwanya yang rapuh mulai perlahan-lahan dibangun lagi. Semuanya karena perjuangan seorang wanita bernama Ghea. Ghea berjuang sendiri untuk itu, Arci tak akan mungkin melupakan Ghea begitu saja. Melihat kesungguhan Ghea merawat dirinya, Arci akhirnya memberikan keputusan yang membuat hati Ghea bergetar hebat.

Saat itu setelah beberapa minggu Arci keluar dari LAPAS. Dia mengajak Ghea ke sebuah tempat. Tempat di mana dia pernah menunggu Andini sampai ketiduran. Di taman Merbabu. Apa yang dilakukan oleh Arci tengah malam mengajak Ghea ke tempat ini? Arci hanya berkata, “Ikutlah aku!”

Ghea tak pernah diberitahu kenapa Arci mengajaknya ke taman itu. Dia selalu mematuhi Arci, apapun yang Arci inginkan. Bahkan kalau Arci ingin dia terjun dari jurang pun akan dia lakukan. Tapi Arci bukan seperti itu, sebagai seorang big boss ia berhati lembut. Semua para preman teratur bahkan status Arci sekarang melebihi status seorang pimpinan daerah sekali pun. Di mana-mana dia dihormati, ingin pergi ke restoran manapun, tempat nongkrong mana pun tak pernah ada yang berani membantahnya. Bahkan jika ia mau ingin membooking satu gedung bioskop sendirian pun dia bisa. Sayangnya sang Godfather ini berhati lembut, walau pun dia bisa marah.

Untuk beberapa menit lamanya Arci dan Ghea hanya berdiri di taman itu. Rambut Arci mulai memanjang, ia tak pernah mencukurnya selama di penjara. Malam semakin larut dan hawa dingin kota ini mulai menusuk membuat beberapa kali Ghea mengusap-usap lengannya.

“Aku tahu di sini tempatnya bukan?” tanya Arci.

“Maksudnya?”

“Tempat untuk pertama kalinya kamu jatuh cinta kepadaku, pertama kalinya kamu menciumku.”

Pipi Ghea memerah. “Apaan sih?”

“Aku tahu karena waktu itu aku terjaga.”

“Hah??”

“Hahahaha, maaf. Aku tak ingin menghancurkan harga dirimu waktu itu. Aku terpaksa pura-pura tidur, kalau aku terbangun kamu pasti akan sangat malu. Bahkan akan mungkin menembakku dengan pistol glock kesayanganmu.”

“Kamu…,” Ghea gemas dengan Arci.

“Aku ingin menikahimu.”

“A..apa?”

“Aku ingin menikahimu.”

Wajah Ghea makin memerah. Mungkin wajahnya sekarang sekarang seperti cabe merah. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Lelaki yang dicintainya ini benar-benar berkata seperti itu kepadanya.

“Kamu…yakin?” tanya Ghea.

“Aku butuh orang untuk menenangkan diriku. Dan kamu selama ini yang sanggup melakukannya. Mungkin big boss memang membutuhkan seorang pendamping sekuat dirimu. Dan aku memilihmu, maukah kamu?”

“Kalau saja hari ini aku membawa pistolku, aku ingin menembak kepalaku sendiri. Tentu saja aku mau.”

Arci pun memeluk Ghea, sama seperti hari ini. Ketika mereka telah resmi menjadi suami istri. Arci membelai punggung Ghea. Ghea malam itu hanya memakai gaun tidur saja tanpa pakaian dalam. Ia telah mempersiapkan segalanya. Malam itu ia merelakan dirinya untuk orang yang sangat ia cintai. Arci mulai menurunkan tali baju Ghea, kulit putih mulusnya pun terpampang dari pundak, lalu turun ke buah dadanya hingga ke bawah. Ghea sudah telanjang. Dan Ghea mengambil inisiatif, ia membuka celana Arci dan menurunkannya, keduanya lalu maju mendekatkan diri saling memagut. Kedua bibir dan lidah bertemu, memilin, memutar dan saling menghisap.

Arci memegangi kepala Ghea agar tak pergi dari pagutannya. Keduanya kini terlena dalam luapan asmara. Ghea sudah menyerahkan semuanya kepada Arci, bahkan sekarang hidupnya pun diserahkan kepada lelaki ini. Mungkin inilah untuk pertama kalinya Ghea akan bercinta dengan rasa yang sesungguhnya. Arci perlahan-lahan mengubah ciumannya ke leher, leher wanita ini dihisapnya kuat, sehingga membekas sebuah cupangan cinta. Darah Ghea mulai mengalir ke ubun-ubun ketika batang kemaluan Arci menyentuh perutnya. Batang itu tetap keras dan perkasa dengan otot-ototnya berurat yang pernah memuaskan dirinya. Arci menuntun Ghea hingga berbaring di ranjang.

Ghea terlena dengan perlakuan pria yang sekarang menjadi suaminya ini. Sangat lembut. Siapa bilang singa betina harus ditaklukkan dengan cara kasar? Buktinya lelaki ini telah menaklukkan dirinya dengan cara yang sangat lembut. Entah mengapa Ghea sudah merasa basah padahal ia baru berpagutan dengan Arci. Kali ini ketika puting susunya yang kencang itu di hisap badannya melengkung, seolah-olah ia berkata, “Hisaplah, nikmatilah ini!”

Puting Ghea yang berwarna pink ini terus dimainkan dan dikenyot oleh Arci. Lidah Arci dengan lembut memutar-mutari puting yang sekarang sudah mengeras itu. Ghea pun melenguh. “Ohhh…sayangku, aku suka kau gituin.”

Arci meremas-remas dua buah payudara sekal itu. Walaupun tak sebesar milik istrinya dulu, tapi buah dada mulus dan sekal itu tak akan mungkin bisa dinikmati. Bau parfum Ghea wangi sekali, bahkan membuat Arci mabuk kepayang. Lidah Arci kembali menelusuri belahan toket itu, dengan lembut mengenyot lagi putingnya kalau tadi yang kanan sekarang yang kiri. Ghea pasrah, benar-benar pasrah. Bahkan kalau saja ada pembunuh bayaran yang sekarang menembak kepalanya pun pasti akan berhasil. Ghea melayang, jiwanya seperti terbang ke langit ke tujuh. Arci memberikan cupangan-cupangan cinta di buah dadanya, sambil sesekali ia menatap mata Ghea yang terpejam menikmati setiap sentuhan dirinya.

Arci menaikkan tangan Ghea. Pemandangan ketiak putih tanpa bulu terpampan di hadapannya. Arci pun menghisapnya, menjilati setiap inchi, lidahnya pun sampai mengkilat berada di ketiak Ghea.

“Aaahhh….kamu buat aku geli….Cici…aku mau nyampe!” jerit Ghea.

Dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Arci hingga tubuhnya lagi-lagi melengkung dan kedua pahanya mengapit. Ya, hanya perlakuan seperti itu saja Ghea orgasme, ia sendiri tak percaya terhadap apa yang terjadi dengan dirinya. Dia bisa menikmati hubungan intim ini. Arci ternyata masih belum puas, ketiak Ghea tetap dia hisap dan jilat walaupun Ghea sudah meminta agar jangan dilakukan dan dia meronta, hingga ia orgasme lagi. Ghea membelalakkan matanya dan melihat Arci tersenyum.

“Aku dua kali keluar hanya kamu gitukan? Ohh…sayangku…entah apa yang terjadi denganku. Mungkinkah sekarang ini aku sangat bahagia?”

“Bisa jadi.”

Arci bekerja lagi. Ia kini menciumi setiap lekukan tubuh Ghea, hingga ke pusar, perutnya lalu menyasar di sebuah daging belah berwarna pink dan tembem. Ia mencium belahan kemaluan Ghea. Tubuh Ghea gemetar hebat, makin banyak cairan yang keluar melalui liang senggamanya, makin melayang pula dirinya. Arci menghirup cairan itu, apapun yang ada di tempat itu ia hisap semuanya. Lidahnya pun menelusuri garis merah yang membelah vagina Ghea. Ketika bertemu klitoris Ghea, Arci menghisap kuat.

“AAaahhhkk!” pekik Ghea. Gelombang orgasmenya mulai datang lagi. Arci menari-narikan lidahnya di sepanjang belahan vaginanya dan setelah menyentuh klitorisnya ia menggigit kecil.

“Sudah Cii…aku tak tahan lagi…!” Ghea meminta-minta.

Arci menyudahi aksinya, hal itu membuat Ghea bisa bernafas lega. Ia benar-benar sudah banjir. Arci tiba-tiba saja memutar tubuhnya, hingga sekarang ia mengarahkan batang kemaluannya ke mulut Ghea. Ghea menghirup aroma batang kejantanan Arci. Ia rindu sekali aromanya, bibirnya mulai mengecup batang itu.

“Batang ini keras, panjang, dan sempurna. Ohhh…aku rindu sekali!” kata Ghea.

Ghea merindukannya, tentu saja karena ia hanya sekali merasakan batang itu. Kini ia puas-puaskan menikmati batang itu. Ia pun menjilati seluruh permukaan batang kemaluan itu. Batang itu ibarat es krim yang tak bisa meleleh, tangan Ghea menggelitik buah peler Arci, sengatan-sengatan listrik mulai dirasakan Arci, terlebih ia seperti menyerahkan batang itu kepada Ghea untuk dikulum. Seorang cewek berambut merah dengan mata hijau seksi tanpa busana sekarang sedang mengulumnya. Lelaki manapun pasti ingin membayar berapapun untuk bisa menikmati bibir seksi Ghea. Terlebih Ghea mengulum penis itu seperti lolipop. Terkadang ia masukkan penuh terkadang ia buat mainan. Ghea makin kelonjotan ketika Arci kembali memainkan vaginanya. Dengan gaya 69 ini, Ghea kalah lagi. Dia orgasme lagi.

“Sayang, sudah dong. Aku tak kuat lagi,” kata Ghea. Ia sekarang seperti cacing kepanasan yang menggelapar-gelepar di atas aspal yang panas.

Arci kemudian melepaskan Ghea. Dia sekarang berada di atas Ghea dan memeluknya. Ditindihnya tubuh sintal wanita Kaukasia itu. Arci tak sulit untuk menemukan lubang sarang senjatanya. Begitu menancap ia pun mendorong.

“Oouuhhhfff…!” lenguh Ghea.

Batang itu meluncur pelan. Keras dan mantab. Menyeruak ruang-ruang yang belum terjamah. Arci masuk lagi ke lubang ini. Tapi kali ini batangnya lebih keras, mungkin karena ia ingin bersungguh-sungguh bercinta dengan Ghea. Kini ia akan mencintai Ghea, toh dia sudah jadi suaminya bukan? Arci seperti memberikan tenaga ke dalam liang senggama Ghea. Membuat Ghea lagi-lagi merasakan kemaluannya penuh seperti tak ada ruang lagi di dalam sana.

“Besar…mantab…sempurna!” bisik Ghea.

“I love you,” bisik Arci.

Perasaan Ghea melayang sekarang ini, “I Love You too Handsome!”

Arci mulai menggenjot Ghea. Awalnya pelan sambil berpanggutan, lama-lama makin cepat, lama-lama makin bernafsu. Pinggul Arci naik turun, seirama kocokan pada batangnya, suara kecipak lendir liang senggama Ghea membuat suasana kamar mereka makin panas. Arci sesekali melirik ke cermin yang ada di kamarnya. Ia melihat tubuhnya sendiri, Ghea mengakang di bawahnya, dan ia bisa melihat jelas bagaimana tubuhnya menusuk-nusuk kemaluan Ghea. Melihat itu Arci makin bergairah dan makin cepat menggenjot istrinya.

Ghea merasakan penis Arci makin keras, berkedut-kedut, menusuk-nusuk rahimnya. Agaknya pertahanan Arci akan bobol.

“Kamu ingin keluar?” tanya Ghea.

“Iya”

“Cum inside me please!”

“Oyeah…here we go…. I’m Cumming…awwwww!”

“Aaahhhkk!”

Mulut Ghea membentuk huruf O. Tubuhnya mendekap Arci erat seperti tak ingin melepaskan dia. Ia meliuk-liukkan pinggangnya, ingin agar vaginanya penuh. Tapi sudah mentok. Dan benar saja Aci menembakkan spermanya dalam-dalam. Batang kemaluannya berkedut-kedut. Semburan milyaran sel sperma kembali lagi masuk ke dalam liang senggama Ghea. Kali ini Ghea tak takut lagi dia dibuahi oleh Arci. Dia ingin spermanya, ia ingin sperma kental lelaki ini masuk ke dalam rahimnya membuahi telurnya. Ghea bisa merasakan rahimnya tersiram semburan sperma itu. Ia menggelinjang dan orgasme lagi.

Kedua insan ini untuk semenit lamanya terengah-engah. Peluh mulai bercucuran dari keduanya. Arci tak pernah membayangkan akan bercinta seperti ini dengan Ghea. Bercinta dengan penuh perasaan. Ia sepertinya ingin menumpahkan seluruh perasaan yang pernah ia miliki kepada Safira dan Andini untuk Ghea. Dan ia telah tumpahkan semuanya sekarang. Ghea menerima cinta Arci, menerimanya dengan tangan terbuka. Dan semburan cintanya benar-benar telah bersarang di rahimnya.

Keduanya berpagutan hangat. Lembutnya bibir Arci membuat Ghea mabuk kepayang. Arci mencabut penisnya perlahan-lahan. Dia melihat hasil kerja kerasnya. Sebuah lelehan cairan kental berwarna putih meleleh dari lubang kenikmatan milik Ghea. Ghea pun tertidur karena kelelahan. Sungguh sebuah hubungan intim yang hebat. Arci mengakhirinya dengan kecupan lembut di kening istrinya, lalu menyelimuti istrinya. Dia bangun.

Dia lalu duduk sambil merenung. Kembali siluet masa lalunya datang. Dia memang sudah terlalu jauh melangkah. Dia tak pernah merasa bahagia. Selama ini dia hanya bersama ibu dan saudara-saudaranya saja. Sebenarnya hidup bersama mereka sudah cukup bahagia. Ia tak perlu ini semua. Entah kenapa ia waktu itu menyetujui begitu saja menjadi pewaris Archer. Ia sebenarnya bisa saja menolak. Hanya karena harta orang-orang yang dicintainya pergi. Dia menoleh ke wajah Ghea yang kini pulas tertidur karena kelelahan. Mungkin inilah saatnya ia akan mendapatkan kebahagiaan. Apakah memang Ghea adalah cinta sejatinya sekarang?

Arci menghela nafas. Sekali lagi ia teringat dengan Safira. Ia masih ingat bagaimana kakaknya itu menyentuhnya. Ia juga masih ingat bagaimana Andini menyentuhnya. Kedua orang ini adalah cinta pertamanya. Dan ia tak akan bisa melupakannya begitu saja. Arci sudah bertekad agar dia bisa membahagiakan Ghea. Semoga saja bisa.

* * *

Pagi telah datang. Ghea terbangun. Matanya terbuka dan menyapu sekitar. Tak ada Arci di sampingnya. Tubuhnya serasa sakit semua. Tadi malam adalah sex yang paling hebat dalam hidupnya. Ia tak pernah bercinta seperti itu. Dan ia merasa puas, sebuah kelelahan yang tidak pernah ia sesali. Dengan langkah gontai ia beranjak dari ranjangnya.

Arci saat itu sudah memakai baju rapi, kemeja lengan panjang warna putih dan sebuah jas hitam. Dia akan menemui seseorang hari ini. Ghea mendengar suara mobil di luar rumah. Ia mengintip dari jendela dan tampak suaminya sudah berpakaian rapi melajukan mobilnya. Dia penasaran kenapa pagi-pagi sekali Arci sudah pergi?

Setelah beberapa waktu melaju dan berputar-putar, bergelut dengan padatnya lalu lintas, Arci pun tiba di sebuah rumah. Ini adalah rumah kontrakannya dulu. Ia menghabiskan waktu di sini bersama Safira. Kenangan itu tak akan pernah hilang. Untuk beberapa waktu lamanya ia hanya termenung di tempat itu, kemudian ia melanjutkan lagi perjalanannya hingga menemui sebuah rumah yang berada di pinggiran kota. Rumahnya teduh dan tampak ditanami tanaman hias.

Ketika Arci tiba, seseorang dari dalam rumah keluar. Dia adalah Araline. Dia membawa tongkat sambil dipapah oleh suaminya. Johan membisikkan sesuatu ke telinga wanita buta itu.

“Ibu?!” sapa Arci.

“Arci?”

Arci segera memeluk Araline dan Johan.

“Kamu tak apa-apa, nak? Kamu baik-baik saja?” Araline berkali-kali mengusap wajah Arci.

“Iya. Kabar kalian?”

“Kami mulai menata hidup. Kurasa, semuanya akan baik bila bersamamu,” kata Johan.

“Aku berterima kasih kepada kalian. Aku tetap akan menatap masa depanku. Mungkin peristiwa kemarin membuatku lebih kuat lagi. Aku berterima kasih karena kalian baik kepadaku. Dan aku minta maaf karena tidak mengundang kalian kemarin.”

“Mengundang?” Araline heran.

“Aku dan Ghea kemarin menikah.”

“Ghea? Ya ampun, betulkah itu? Aku tak menyangka Ghea bisa juga takluk ama lelaki. Hahahaha,” Araline tersenyum.

“Ibu, untuk itu aku ingin mengajak kalian makan siang di restoran yang kalian inginkan.”

Araline dan Johan tertawa. Paling tidak Arci ingin memberikan kebahagiaan juga kepada mereka. Siang itu pun mereka makan bersama, bercanda dan tertawa. Tak ada lagi raut kesedihan pada wajah Araline. Makan siang itu terasa nikmat, terasa hangat. Hingga sebuah panggilan telepon diterima Arci. Dari Ghea.

“Ada di mana?” tanya Ghea.

“Ada di tempat Araline,” jawab Arci.

“Ahh…kita belum mengundang mereka,” kata Ghea cemas.

“Kamu mau ngobrol dengan mereka?”

“Kasihkan! Kasihkan!” kata Ghea.

Arci menyerahkan ponselnya ke Araline. “Dari Ghea.”

Araline menerimanya, “Ghea?”

“Tante? Maaf ya, kemarin tak diundang. Soalnya memang kami tidak bikin pesta yang meriah.”

“Tak apa-apa. Tante mengerti, selamat yah. Kamu sekarang dipilih oleh Arci, tetaplah di sampingnya. Dia butuh seorang wanita yang kuat sepertimu. Agar di saat dia rapuh akan ada yang selalu menjaganya. Ah, bagaimana kamu bisa ditaklukkan oleh dia?”

Arci nyengir mendengar Araline bicara seperti itu. Johan tertawa keras.

“Ah, tante ini entahlah,” Ghea tersipu-sipu.

* * *

Setelah acara makan siang itu Arci menemui seseorang lagi. Siapa lagi kalau bukan Yuswo. Yuswo dirawat di rumah sakit karena kanker paru-paru. Ternyata kebiasaannya merokok membuat paru-parunya sekarang berlubang. Melihat Arci datang semua orang yang ada di luar kamar langsung menyambutnya. Mereka semua tentunya tahu siapa Arci, sang pewaris kekuatan Yuswo. Begitu masuk ke dalam kamarnya, Arci langsung bertemu dengan Yuswo yang sedang diapit oleh istri dan anaknya. Melihat Arci masuk, Yuswo memberi isyarat agar mereka semua pergi kecuali Arci. Setelah ruangan itu hanya ada dua orang saja, Arci duduk di kursi.

“Merokok bisa membunuhmu, agaknya benar kata-kata itu,” kata Arci.

“Ironis kan? Selama puluhan tahun jadi preman, rokok malah membuatku seperti ini. Hahahaha uhuk…uhuk…uhuk..!” kata Yuswo terbatuk-batuk, ia mengambil masker oksigennya lalu menghirupnya.

“Aku berterima kasih,” kata Arci.

“Kenapa berterima kasih kepadaku? Aku yang harusnya berterima kasih kepadamu. Karena kalau bukan kamu yang membiayai rumah sakit ini lalu siapa? Hehehehe, lagi pula aku senang sudah punya penerus hebat sepertimu. Kota ini sudah kamu kuasai. Kamu punya segala-galanya sekarang. Kemanapun kamu pergi akan dihormati. Aku memang sudah waktunya pensiun, kamu masih muda. Jalanmu masih panjang.”

“Aku belum menemukan Tommy. Polisi juga mencarinya. Selama lima tahun ini entah ia bersembunyi di mana,” kata Arci sambil memberikan wajah penyesalan.

“Tak usah khawatir. Tak perlu kau khawatirkan dia. Hidupnya sekarang pasti menyedihkan karena ia tak lagi bisa kembali ke kota ini. Kota ini seperti tak akan bisa menerima dia lagi. Setiap sudut kota punya mata yang akan membuat dia merasa diawasi dan setiap hembusan angin di kota ini akan membuat ia terasa sesak.”

“Aku kemari hanya ingin mengucapkan terima kasih”

“Sudah kubilang, tak perlu berterima kasih.”

“Justru, kalau aku tidak berterima kasih, aku sama saja seperti murid durhaka kepada gurunya.”

Senyum tergurat di bibir Yuswo sang preman pensiun. Ia pun menghela nafas. “Sudah, sudah, sekarang pergilah. Engkau mengganggu istirahatku saja.”

Arci tertawa, “Aku akan menunggumu di luar. Kudengar baru dibuka kolam pemancingan baru, kuharap kita bisa mancing di sana bersama.”

“Mancing itu bikin tua, kamu tak pantas.”

Sekali lagi Arci tertawa.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Sorenya Arci tiba di rumah Lian. Ibunya tampak sedang menulis sesuatu. Dia sekarang menekuni bidang fashion. Ternyata semenjak Arci di penjara dirinya banyak berubah. Pensiun dari dunia perlendiran dan mengantarkannya ke dunia yang sangat baru. Setidaknya kalau anaknya mempunyai sebuah perusahaan textil dia juga harus bisa juga di bidang ini. Selama tiga tahun ia menekuni mode. Mendesain busana dan membuatnya. Pekerjaannya ini menghabiskan waktu juga. Putri sekarang sedang sibuk-sibuknya karena akan masuk kuliah. Rumah terlihat sepi. Begitu Arci masuk, Lian langsung menyambutnya.

“Dari mana?” tanya Lian.

“Dari berkeliling-keliling,” jawab Arci.

Rumah yang ditempati oleh Lian adalah rumah Archer. Sengaja Lian memilih rumah ini agar kenangannya bersama Archer bisa kembali lagi. Mungkin berbeda dengan semua yang pernah ia rasakan tentang kenangan pahit maupun manis, tapi bagi Lian kenangan dengan Archer adalah kenangan yang paling manis. Dia sampai sekarang masih bisa merasakan bagaimana bibir Archer menciumnya untuk pertama kali.

“Bagaimana kabar Putri?” tanya Arci sambil menuju ke dapur mengambil air minum.

“Yah, kamu tahu sendiri, sibuk dengan kuliahnya,” jawab ibunya.

“Kudengar dia ngekos, kenapa nggak tinggal di sini saja?”

“Yah, kamu tahu sendiri. Dia tak mau dimanjakan oleh kakaknya. Lagipula, kalau misalnya kamu ada terus di dekat dia, mana dia laku? Cowok-cowok di sekolahannya dulu saja sampai nggak mau dekat karena takut ama dirimu.”

Arci tertawa. Ia membuka penutup makanan di meja dapur. Ada tongseng cumi dan semangkuk sup.

“Makan saja, kalau lapar,” kata Lian.

“Sebenarnya aku tadi sudah makan, aku ambil cuminya saja deh,” kata Arci sambil mengambil beberapa sendok tongseng cumi.

Lian pun ikut nimbrung di meja makan. Mereka pun kemudian bercerita banyak hal. Sudah lama Arci tidak bicara seperti ini dengan ibunya. Ia jadi merindukan kehadiran Safira. Biasanya di saat seperti ini Safira pasti menggodanya dengan mengambil makanan yang ada di piringnya.

“Aku jadi teringat Safira,” Arci memulai lagi. Ia menyudahi makannya. Lian pun beranjak dan memeluk kepala anaknya. Air mata Arci meleleh. Ia sangat rindu kakaknya itu.

“Ssshh…sudah, nggak usah difikirkan,” kata Lian. “Kamu sekarang tabah saja, lupakan hal yang sudah lalu. Ibu juga kehilangan, karena Safira lahir dari rahim ibu.”

Ponsel Arci berbunyi. Dari istrinya.

“Halo?!” sapa Arci.

“Di mana sayang?”

“Di rumah ibuku…srrk..,” Arci mencoba menghapus air matanya.

“Apa yang terjadi? Kamu menangis?” tanya Ghea.

“Iya, tapi nggak apa-apa koq. Hanya teringat kenangan lama,” jawab Arci.

“Oh, aku mengerti. Ya sudah, nginap saja di sana kalau itu bisa membuat hatimu jadi lebih baik,” kata Ghea.

“Baiklah, mungkin seperti itu. Lagipula ibu sendirian di sini, aku ingin menemani beliau dulu hari ini,” kata Arci.

“Dari Ghea? Boleh ibu bicara?” tanya Lian.

Arci menyerahkan ponselnya.

“Ghea??” Lian pun mulai bicara.

Arci tak mempedulikan apa yang dibicarakan oleh ibu dan istrinya. Mereka ngobrol soal rumah, kadang soal pekerjaan, cukup lama berteleponan. Arci menghapus air matanya. Hidupnya sudah berubah, walaupun kedua orang yang dicintainya sudah pergi, tapi ia masih tak bisa melupakan mereka berdua. Mungkin karena ia sangat mencintai keduanya. Dan ibunya? Ya, mereka pernah bercinta. Tapi semenjak Arci dan Safira lebih sering bersama ia tak pernah lagi berhubungan intim dengan Lian. Lian sekarang sudah lima puluhan tahun, tapi badannya masih bagus. Arci bisa melihat kulitnya hanya sedikit yang keriput, tapi masih mulus. Badannya masih segar, buah dadanya masih montok. Arci mengambil air minum dan meneguk gelas yang sudah terisi air putih sampai habis.

Lian menyerahkan ponsel Arci dan meletakkannya di meja makan. “Kamu nginap di sini saja, temani ibu.”

Arci berdiri dari kursi tempat ia duduk. Keduanya saling bertemu muka. Lian jadi teringat dengan wajah Archer. Archer tak hanya mewariskan hartanya kepada Arci, tapi juga wajah dan sifatnya. Mungkin karena asupan protein dan rasa rindunya kepada Safira membuat Arci sedikit horni, terlebih kalau ia teringat dulu ia juga pernah menjamah tubuh ibunya sendiri. Hal itu terjadi karena Lian yang menginginkannya, di saat ia sangat horni. Tapi entah kenapa sudah lama mereka tidak melakukannya lagi dia pun terasa rindu. Dia tak pernah melakukan sex lagi setelah terakhir kali bercinta bersama Arci. Pernah sekali dua kali ia mastrubasi sendiri saat mendengar Safira dan Arci bercinta di kamarnya. Tapi Lian masih butuh yang namanya seks.

“Malam ini, kamu mau melakukannya dengan ibu?” tanya Lian.

“Tapi aku sudah beristri, aku tak bisa melakukan itu lagi,” jawab Arci.

“Sekali dan terakhir. Tolonglah, sekali saja. Aku tak akan pernah meminta kepadamu lagi. Kamu boleh minta ibu apa saja, lakukanlah. Semenjak ibu tahu hubunganmu makin dekat dengan Safira, ibu sebenarnya juga ingin. Tapi ibu selalu menahan. Dan selama itu pula ibu tak kuasa menahan hasrat ingin bercinta. Kamu bisa menolongku? Kali ini saja, malam ini. Hajar ibumu ini sampai lemas, please…!”

Arci menghela nafas. Dia tahu tak mungkin menolak. Ghea juga tahu hubungannya dengan Lian, tak sekedar hubungan ibu dan anak. Walau Ghea tak mempermasalahkan hal itu, tapi Arci merasa berdosa. Arci kemudian memeluk ibunya. Lian pun tenggelam dalam dekapan anaknya yang memakai parfum khas prianya itu. Parfum yang membuat birahinya hadir.

Arci kemudian perlahan-lahan menggelitik tubuh Lian. Lian tertawa geli. Wanita paruh baya ini berjalan menjauh. Arci mengejarnya hingga mereka berada di kamar Lian. Wanita ini tentu ingat ini kamarnya, kamar penuh kenangan di mana selama tiga hari tiga malam Archer menggenjot dia tanpa ampun. Mereka hanya istirahat untuk makan dan mandi, tapi setelah itu kembali mereka lakukan lagi dan lagi. Hingga mungkin karena itulah Arci bisa lahir.

Di dalam kamar, Arci membantu Lian melepaskan bajunya. Lian saat itu hanya memakai kemeja dan celana pendek. Pakaian sehari-hari di rumahnya tentu saja. Walaupun usia Lian sudah berkepala lima, tapi bodynya masih sekel. Tak perlu menunggu waktu lama ketika keduanya sudah telanjang. Lian segera berlutut di depan Arci. Dia tersenyum kepada Arci ketika batang kejantanan anaknya sudah menyentuh mulutnya. Arci minta dipuaskan. Segera mulut Lian yang lembut mengemut batang itu.

Ia akan kerahkan seluruh kemampuannya sebagai pelacur high-class. Arci harus merasakan bagaimana dia menservis para pelanggannya hingga klepek-klepek. Kepala penis pemuda ini pun dipelintir dengan lidah Lian, membuat Arci mendesis sambil memejamkan matanya. Arci memegangi kepala Lian, kemudian pinggulnya bergerak maju mundur. Batang berurat itu keluar masuk di mulut Lian, bahkan masuk hingga dalam. Membuat Lian sedikit terbatuk-batuk. Tapi ternyata Arci tak mau menghentikan itu, ketika Lian tersedak, ia diam sebentar, kemudian Arci menggenjot kepalanya. Lian pasrah ketika anaknya berusaha memuaskan diri dengan mulutnya, ia hanya membantu Arci meremas-remas buah pelernya saja.

Setelah puas, Arci menarik tubuh Lian agar berdiri. Mereka pun berpagutan. Saling melumat, memberikan esensi rasa birahi. Arci mendorong ibunya hingga berbaring di atas ranjang. Ia tarik tubuh ibunya sehingga bibir kemaluan ibunya berada di pinggir ranjang, segera ia tempatkan kepala penisnya tepat di liang senggama wanita itu. Tak terasa ibunya sangat basah.

Arci pun menusukkan kemaluannya yang sudah keras itu masuk, meluncur dengan mudahnya menyeruak dinding yang sudah bertahun-tahun tak dimasuki. Lian memekik.

“Aaahh…anak ibu masuk lagi…Ahhh…luar biasa…hmmmhhh…!” jerit Lian.

“Aku ngentotin kamu lagi, …Lian!” bisik Arci. Ya, Arci tak memanggilnya dengan ibu.

Dia menggenjot tubuh wanita paruh baya itu. Tubuh Lian menerima respon yang tidak biasa. Ia sepertinya menginginkan lebih dan lebih. Bukan sekedar pemuas nafsu saja. Ia ingin bisa mencintai Arci sebagai seorang kekasih, tapi apakah bisa? Apakah Arci akan menolaknya? Tidak. Harus.

“Kamu…mmau…khan… mencintai ibu …. seperti kamu … mencintai ….Safi…ra…danhh….Andini?” tanya ibunya yang ngos-ngosan karena digenjot anaknya.

“Kamu spesial Lian, kamu spesial,” Arci menghentikan sodokannya. “Andai tak ada Safira dan Andini, aku pasti akan mempunyai anak darimu.”

“Aku sudah menopause, kalau aku bisa beri anak, aku akan berikan anak,” kata Lian.

“Boleh kupanggil kamu dengan namamu saat bercinta?”

“Iya. Lakukanlah, malam ini aku milikmu.”

Arci tersenyum mendengar hal itu. Kemudian ia cabut penisnya dan membalikkan tubuh Lian, dan kini ia sodok memek Lian dari belakang. Lian menjerit, penis Arci serasa penuh di dalam sana. Membuat matanya merem melek ketika Arci menyodoknya dengan gaya doggie.

Berbagai gaya mereka lakukan, sodokan-demi-sodokan membuat Lian belingsatan. Arci tumpahkan seluruh spermanya di mulut dan vagina ibunya. Malam itu mereka bercinta hingga benar-benar kantong menyan Arci kering. Vagina Lian bahkan sampai menggumpal putih karena penuh dengan sperma anaknya.

* * *

Pagi harinya Arci sudah bangun. Ia mandi kemudian memakai bajunya. Siap untuk pergi. Sebelum pergi ia cium kening ibunya yang sekarang tertidur, karena kelelahan terhadap aktivitas tadi malam. Tampak bekas lelehan sperma di wajah, dada dan vagina ibunya sudah mengering. Ya, tadi malam mereka bercinta dengan sangat hebat. Lian sekali lagi jadi teringat saat-saat dia menggunakan tubuhnya dulu. Ia tak pernah menyangka sekarang jadi membutuhkan anaknya. Mungkin setelah ini Arci harus memberikan menjatah lagi kepada seorang wanita selain Ghea.

Tahun demi tahun berlalu.

Mungkin yang disebut dengan masa kejayaan adalah seperti sekarang ini. Di mana Arci menjadi penguasa. Walaupun ada struktur pemerintahan, tapi dia lebih bisa disebut sebagai penguasa sejati. Dia menguasai kota yang ia tinggali, mengawasi setiap bisnis-bisnis gelap di kota ini, dan juga mengeksekusi orang-orang yang tidak mengikuti perintahnya. Semenjak Yuswo meninggal dia lebih banyak menghabiskan diri di tempat di mana Yuswo selama hidupnya di sana. Banyak orang yang loyal kepadanya. Tapi juga ada yang mengkhianatinya.

Dari Ghea, Arci mempunyai anak. Sekalipun menjadi ibu, bukan berarti kemampuan Ghea menurun. Dia tetap sebagai seorang wanita yang mahir dalam melakukan sesuatu yang tidak lazim. Bahkan ada sebuah kejadian di mana dia harus membacok orang di depan umum dengan katana yang ia miliki karena berani menggoda dia.

Ceritanya adalah ketika dia sedang berbelanja di pasar. Semua orang juga tahu siapa Ghea di pasar tradisional itu. Kebetulan saat itu Ghea mendampingi Arci dan Arci meninggalkannya sebentar karena ada suatu urusan. Datanglah orang yang tidak dikenal menggoda Ghea. Awalnya ia menepuk pantat Ghea. Semua orang langsung menyingkir saat itu, ya mereka takut. Tapi dengan sombong orang itu malah tertawa.

“Kalian kenapa?” tanya orang itu heran. “Maaf nona, punya nomor telepon?”

“Masnya orang baru di sini?” tanya Ghea.

“Oh, iya. Kenalkan namaku Karebet,” jawab lelaki yang bertatto itu. Dia memang baru tiba di Malang. Hari ini harusnya ia bekerja sebagai salah satu anak buah Arci, mengawasi pasar. Tapi agaknya hanya diberi kekuasaan sedikit lelaki ini sombong.

Ghea tersenyum mendengarnya, ia berbalik hendak meninggalkan orang itu. Tentu saja ia tak ingin berurusan panjang dengan lelaki itu. Mata hijaunya ternyata telah menggoda lelaki itu. Segera lelaki itu menghadang jalannya.

“Ayolah nona, siapa tahu kita bisa kenal lebih dekat. Nona tahu siapa saya? Saya orang yang menguasai pasar ini. Nggak akan ada yang berani sama saya,” kata orang itu.

Ghea tersenyum. Dia memberikan aba-aba. Tiba-tiba seseorang berkacamata memakai jas dan dasi hitam berkemeja putih mendekat kepadanya sambil membawakan dia sebilah katana. Tentu saja lelaki yang menggodanya terkejut bukan main.

“Lho, lho, lho?”

Ghea segera mengayunkan katana itu hingga menebas leher si lelaki hidung belang itu. Baru diberi sedikit kekuasaan dia sudah berlagak. Darah langsung mengucur dari leher yang tertebas. Ajudan Ghea segera membuka payung agar darah lelak itu tidak mengotorinya. Ghea lalu pergi meninggalkan tubuh yang sudah tak bernyawa itu ambruk.

Arci buru-buru datang ketika diberi kamar bahwa anak buahnya dibunuh oleh Ghea. Ia tiba di tempat kejadian perkara dan melihat orang-orang berkerumun. Ghea tampak berada di mobil menunggu sambil bermain bersama anaknya. Arci hanya menggeleng-geleng.

“Ahh…dasar preman, susah diatur,” gumam Arci sambil melihat mayat orang yang tidak beruntung itu.

Sepuluh tahun kemudian……

Arci berdiri di sebuah makam. Batu nisan itu bertuliskan Rahma. Di sebelahnya tampak Singgih dengan kursi rodanya. Mereka berdua menatap batu nisan itu.

“Sungguh aku iri kepadamu,” ujar Singgih.

“Iri kenapa? Kehidupan yang kelam sepertiku tidak pantas engkau iri.”

“Bukan, bukan itu. Aku iri, karena engkau seharusnya bisa bersama Rahma.”

“Apa maksudmu?”

“Aku membaca buku harianya.”

Arci menoleh ke arah Singgih.

“Dia memang masih mencintaiku, tapi semenjak ia mendekatimu, semenjak kau pura-pura dekat dengan dia, ia mulai suka kepadamu. Hanya saja ketika tahu kamu membawaku kembali ke sini, ia jadi bimbang. Ia merasa tak enak. Ia selama ini sebenarnya menahan rasa sakit, terhadap seorang rekan kerja yang ia cintai, tapi harus menerima kenyataan pahit bahwa lelaki yang disukainya bersama wanita lain.”

Arci tak bisa bicara apa-apa. Hanya diam.

“Tapi tak mengapa, aku sadar dengan kekurangan yang ada pada diriku. Rahma lebih tertarik kepadamu. LDR memang membuat hidupku hancur. Seharusnya kamu tak membawaku pulang. Aku baru tahu kalau hatinya sesakit itu. Tapi ia berusaha baik kepadaku dan belajar mencintaiku dengan segala keterbasan ini. Dia wanita yang paling baik.”

“Ya, dia wanita yang baik.”

“Kamu sudah punya anak?”

“Ya, anakku laki-laki. Mungkin sekarang sedang bermain bersama ibunya.”

“Ah,..dari dulu Rahma dan aku ingin punya anak laki-laki juga. Selamat buat kamu dan Ghea.”

“Aku akan meninggalkanmu sendiri. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Aku habis ini menjemput istri dan anakku.”

“Hahaha, aku tak tahu wanita seperti Ghea bisa sefeminim itu sekarang. Padahal aku lihat dia seorang wanita yang tangguh.”

“Percayalah ia tetap seperti itu.”

Arci menyerahkan sebuah kotak remote kecil kepada Singgih. Ia letakkan di pahanya. Setelah itu Arci menepuk pundak Singgih dan pergi meninggalkan Singgih sendirian di depan kuburan istrinya. Singgih menghela nafas. Bebannya sedikit berkurang setelah ia menceritakan bagaimana perasaan Rahma kepada Arci. Dia menoleh ke sebuah arah. Tak jauh dari tempat dia duduk di atas kursi rodanya, ada seseorang dengan mulut dilakban dan tangan beserta kakinya terikat kuat. Seorang lelaki dengan mata yang nanar, pelipisnya berdarah dan bajunya robek di sana-sini.

Orang itu sudah berubah penampilan. Sangat berbeda dengan wajahnya beberapa tahun yang lalu. Ternyata operasi plastik telah mengubah wajahnya menjadi orang lain. Sayangnya hal itu tak akan bisa menyembunyikan sidik jari yang ia punyai. Wajah boleh berubah, tapi sidik jari tetaplah sidik jari. Kalau saja waktu itu Arci tidak tertarik kepada sebuah lukisan maka ia tak akan bisa menemukan orang ini. Ya, Tommy ditemukan dengan profesinya sebagai pelukis. Wajahnya memang berubah, tapi ketika Arci menyelidiki sidik jarinya, ia yakin bahwa pelukis itu adalah Tommy.

Arci sudah tak lagi dendam kepada Tommy. Ia tahu dendam hanya akan membuat penyesalan seumur hidupnya. Maka ia serahkan hidup Tommy kepada Singgih yang sangat kehilangan Rahma. Di tempat Tommy duduk ada sebuah bom tertanam di sana. Singgih hanya menekan tombol itu dan meledaklah Tommy.

“Seharusnya tak kamu lakukan itu,” kata Singgih.

Tommy menggeleng-geleng. Mulutnya tak bisa bicara ia hanya melotot. Terlebih setelah Singgih menekan tombol remotenya.

DUAAARRR!

Tubuh Tommy hancur berkeping-keping. Setelah itu Singgih menyingkirkan remote kecil itu dengan sikunya. Seseorang datang kepadanya dan membantu dia untuk mendorong kursi rodanya. Dia adalah Catherine. Perasaan Singgih sekarang lega. Akhirnya Tommy sudah mati dengan tubuh berhamburan di sana-sini.

“Kita pergi,” kata Singgih.

“Sekarang, kemana lagi?” tanya Catherine.

“Kembali ke London?”

“Boleh, siapa takut?”

* * *

Letnan Basuki sekarang bukan lagi letnan tapi komisaris diundang Arci ke kantornya. Bagi polisi yang diundang oleh Big Boss, tentu saja hal ini merupakan hal teraneh. Terlebih polisi sekarang sedang mencari-cari kesalahan yang bisa menjerat Arci. Sekarang hampir semuanya dikuasai oleh Arci, mulai dari mall, toko-toko, jalan-jalan, semua kota dikuasai olehnya. Kalau dulu ada keluarga Trunojoyo sekarang mereka tak ada apa-apanya setelah perusahaannya tumbang dan dibeli oleh Arci dengan harga murah.

Komisaris Basuki memakai baju biasa. Kemeja berwarna coklat dengan celana kain warna hitam. Sikapnya yang formal membuat ia dikenali sebagai polisi. Kantor tempat Arci berada sekarang dirombak. Gedungnya ketambahan lantai lagi, bahkan fasilitasnya sangat mewah. Arci sedang menanti dua orang tepatnya, seorang yang melamar kerja dan seorang tamu.

TOK! TOK! TOK! pintu diketuk.

Arci berkata, “Masuk!?”

Seorang lelaki berkumis berbadan tegap masuk ke dalam ruangannya. Dia adalah Komisaris Basuki. Arci mengangguk-angguk. Dia berdiri menyambut polisi itu. Ini perjumpaan kesekian kalinya. Setelah beberapa tahun lalu ia berseteru dengan sang polisi.

“Selamat datang, Komisaris,” sapa Arci.

Komisaris Basuki mendekat dan menjabat tangan Arci. “Sudahlah, tak usah basa-basi lagi. Katakan apa yang ingin kamu katakan!”

“Aku hanya ingin kita bersahabat itu saja. Aku kemari dengan niat baik. Kita sudahi permusuhan ini, lagipula aku tak punya dendam kepadamu.”

“Kamu memang tak punya dendam kepadaku, tapi jangan lupa kamu yang menggerakkan masa enam belas tahun yang lalu! Kamu membuat kekacauan di Malang, nyawa anak buahku tak terhitung yang tewas. Dalam sehari kamu buat kota Malang mencekam. Tapi aku cukup takjub kamu bisa punya mertua seorang pengacara handal. Tak kusangka kamu bisa memanfaatkan semua orang.”

“Aku tak memanfaatkan siapapun. Bu Susiati sudah menganggapku sebagai anaknya. Aku juga mencintai putrinya.”

“Agaknya aku sia-sia saja kamu panggil ke sini, aku tak akan bersahabat dengan kriminal sepertimu.”

“Pak, aku berterima kasih.”

Komisaris Basuki agak terkejut. “Berterima kasih, buat apa?”

“Berterima kasih karena telah menjagaku selama ini.”

“Cih. Menjaga?”

“Ya, aku tahu apa yang dilakukan Letnan Yanuar. Aku tahu yang kalian inginkan. Sekarang ini aku memang telah menguasai kota ini, tapi dulu sebelum aku seperti ini kalian yang telah melindungiku. Melindungiku ketika para pembunuh itu ingin menghabisi seluruh keluargaku. Itulah sebabnya aku tidak pernah menyakitimu ataupun Letnan Yanuar.”

Komisaris Basuki tertawa. “Kamu merasa begitu?”

“Begitulah.”

“Sungguh bodoh,” ujar Komisaris Basuki. “Aku tak ada urusan lagi denganmu. AKu cuma ingatkan kamu, usaha ilegalmu akan aku dapatkan dan kamu bisa mendekam lagi di penjara dalam waktu yang lama.”

“Ini artinya Anda ingin menangkap orang yang telah menjadi penguasa kota ini, sedangkan semuanya yang ada di kota ini adalah rumah dan tempatku hidup? Itu artinya anda ingin menyalahkanku terhadap apa yang aku lakukan di dalam rumahku sendiri sedangkan anda sendiri adalah oang yang sekedar menumpang?”

Komisaris Basuki tak bicara. Ia terdiam tanpa menjawab.

“Well,… good luck!”

Komisaris Basuki mendengus, ia segera berbalik dan sebelum membuka pintu ia berkata, “Dulu, Letnan Yanuar sangat berharap engkau membuang semua kesempatan untuk bergabung dengan keluarga Zenedine. Tapi tampaknya hal itu tidak akan mungkin. Mungkin itu sebabnya kau kehilangan orang-orang yang kamu cintai.”

“Ya, aku tahu. Ini adalah karma yang aku peroleh,” ujar Arci.

Komisaris Basuki pun keluar. Arci menoleh ke dinding. Di dinding itu ada pigura-pigura yang berisi foto-foto. Ada dua pigura besar. Satu berisi foto Andini dan satunya adalah foto Safira. Keduanya tersenyum manis, Arci sengaja memajangnya ia merasa mereka berdua sekarang masih hidup, berdiri di sampingnya. Setiap hari ia merasa demikian. Terkadang juga bisikan-bisikan Andini masih terdengar di telinganya.

TOK! TOK! TOK! pintu diketuk.

“Masuk!” perintah Arci. Lamunannya pun buyar.

Seorang wanita masuk ke dalam. Dia seorang gadis yang cantik dengan baju atasan kemeja putih dan bawahan hitam. Ia pasti datang untuk interview. Ya, Arci sedang menunggu gadis ini.

“Maaf, tadi saya disuruh HRD langsung ke sini saja untuk interview,” ujar gadis itu.

“Silakan duduk!” kata Arci. “Anda memang sudah ditunggu.”

“Terima kasih pak,” kata gadis itu.

Arci membuka sebuah stopmap folio. Di dalamnya ada data gadis itu. Ia memeriksa latar belakang pendidikan dan lain-lain. Arci tertarik ketika ternyata gadis cantik yang ada di depannya ini kuliah di Unbraw dengan IPK 3,9. Jurusan Tehnik Informatika, tapi melamar sebagai seorang sekretaris.

“OK, sepertinya saya tak perlu panjang-panjang bicara. Saya memang membutuhkan seorang sekretaris,” kata Arci.

* * *

Komisaris Basuki keluar dari ruangan Presiden Direktur. Dia berpapasan dengan gadis dengan kemeja putih dan celana hitam tadi. Dia sepertinya agak-agak ingat dengan gadis itu. Namun ia pun mengangkat bahunya. Banyak ia temui gadis-gadis bahkan mungkin terlalu banyak sehingga ia pasti pernah melihatnya di suatu tempat.

Polisi ini serasa dilecehkan di kantor ini. Mungkin kalau Arci tak punya banyak beking, bisa jadi ia akan menghajar lelaki itu. Dia melihat kantor Arci yang sangat besar ini, semuanya berbeda sekarang. Para pekerjanya tampak sibuk, namun sebagian santai. Sebagian lain berdiskusi, sebagian lain sedang merancang sesuatu, apalagi kalau bukan produk fashion terbaru mereka. Komisaris Basuki berada di depan lift, hingga ia teringat dengan satu hal.

“Sebentar, …. gadis tadi….oh tidak, celaka!” segera Komisaris Basuki berbalik.

* * *

Di depan Arci gadis itu sekarang sedang menodongkan senjatanya ke arah Arci. Sebuah pistol Desert Eagle mengarah tepat ke kepalanya. Arci dengan santai tersenyum kepadanya.

“Siapa kamu ini?” tanya Arci.

“Kamu tak tahu aku? Tentu saja. Aku adalah anak Agus Trunojoyo. Kau dapat salam dari dia!”

Arci menghela nafas. Apakah ini yang namanya karma? Akhirnya setelah lama menunggu, akan ada orang yang senekad ini. Menodongkan pistolnya tepat dihadapannya. Arci tak akan bisa menghindar kalau dia menarik pelatuknya. Jaraknya terlalu dekat. Terdengar di telinga Arci suara gemetar. Gadis itu gemetar memegang pistolnya.

“Apakah kamu masih ingin hidup?” Arci bertanya kepada dirinya sendiri. “Aku sudah tak ingin hidup sejak lama. Nyawaku sudah pergi. Tembaklah kalau kamu ingin menembakku, jangan pernah ragu. Jangan gemetar seperti itu.”

Gadis itu menatap tajam Arci, matanya berair. Entah kenapa keberaniannya berhenti ketika Arci memang berniat untuk mati.

“TEMBAK AKU! JANGAN PERNAH RAGU!” bentak Arci.

“AAAAAAARRRGGGHHH!” gadis itu berteriak histeris.

Komisaris Basuki teringat, ketika saat ia datang ke pemakaman Agus Trunojoyo. Dia ingat gadis itu, gadis kecil yang menangis meraung-raung di depan makam ayahnya. Dia teringat bagaimana gadis itu histeris sambil berteriak, “Aku akan bunuh dia, aku akan bunuh orang itu!”

“Brengsek! Kenapa dia bisa ada di sini!?” ujar Komisaris Basuki sambil mengumpat. Dia mengeluarkan revolvernya berlari kencang menuju pintu tempat di mana Arci berada. Semua orang terkejut karena suaranya larinya yang ribut sambil mengangkat senjata.

Sang polisi reserse itu pun menubruk pintu ruangan Arci.

BRRAKK!

“Gladis Trunojoyo! Hentikan!” Komisaris Basuki berada di pintu sambil menodongkan senjatanya.

Arci hanya tersenyum, ia memejamkan matanya. “Andini, Safira, aku datang……”

DOR!

(The End)

~ o ~

Epilog

Ghea menyimpan kembali PSG-2 miliknya. Dia menaruhnya di kotak senjata. Setelah itu ia beranjak dari tempat dia tiarap, menenteng kotak panjang itu. Dia berada di gedung seberang tempat Arci berada. Salah seorang ajudannya menerima kotak yang ia bawa, kemudian dengan santai Ghea berjalan pergi ke gedung tempat suaminya berada.

“Andini, Safira, maaf. Aku masih ingin bersama suamiku.”

~ ~ ~ o ~ ~ ~

Dendam itu punya sebuah karma
yaitu perputaran kematian tanpa henti

I LOVE YOU HANDSOME ~ Selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*