Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 15

I Love You Handsome 15

Dendam hanya akan membawa kehancuran
Menyeret pelakunya ke dalam kehampaan
Akan banyak orang yang kehilangan
Dan akan banyak darah ditumpahkan

Pasukan Tommy terbagi menjadi dua, mereka yang menuju ke rumah Rahma dan satunya yang ingin menggempur pasukan Yuswo. Arci juga membagi pasukan menjadi beberapa bagian. Satu melindungi keluarganya, yang lainnya ikut dia. Dan satu lagi untuk mencegah agar pasukan Tommy lari. Malam itu preman-preman tidak tidur. Sorenya mereka sudah galau. Mereka sebenarnya khawatir dirinya akan mati malam itu. Tapi itu tak menjadi masalah, hidup sebagai preman, mati sebagai preman apa bedanya? Daripada mati di tangan timah panas polisi, mereka lebih baik mati berkelahi dengan orang lain. Para preman stasiun yang biasanya mangkal sebagai tukang parkir, sebagai penjual gorengan, sebagai polisi cepek dan berbagai profesi yang mereka tekuni malam itu bangun. Mereka mengejutkan istri-istri dan anak-anak mereka. Dan pesan mereka kepada keluarganya adalah “Kalau pagi aku tidak pulang, tolong jangan cari aku. Mungkin aku sudah pergi.” Kurang lebih semua suami yang berpesan kepada istrinya seperti itu.

Ghea, Andini, Lian dan Rahma tampak bersiap. Sedari siang mereka tak bisa keluar rumah karena ratusan orang berpakaian preman sudah berjaga-jaga di sana. Mereka semua adalah para preman yang ditugaskan oleh Yuswo. Ditambah lagi para polisi yang juga sudah bersiaga dari kemarin-kemarin kini mulai bersiap. Mereka memakai rompi anti peluru dan berbagai persenjataan.

Semua toko tiba-tiba tutup lebih awal. Beberapa orang swadaya masyarakat tampak berjaga-jaga sebagai keamanan. Mereka juga takut kalau-kalau terjadi sesuatu. Para polisi sudah menyebar pasukannya di mana-mana. Bahkan pasukan anti huru-hara sudah bersiap dengan tameng dan tongkat pemukulnya di sepanjang jalan Ahmad Yani. Mobil ambulance dan pemadam kebakaran di kerahkan. Malam itu keadaan benar-benar mencekam.

Arci menelpon istrinya.

“Halo?!” sapa Arci.

“Sayang, kamu di mana? Aku tak bisa keluar ada orang-orang yang mencegah kami keluar. Katanya kami harus tinggal di dalam rumah!” ujar Andini.

“Iya, mereka orang-orangku. Bertahanlah! Aku akan membuat perhitungan dengan mereka semua,” ujar Arci.

Andini membalas, “Tidak! Hentikan semua ini. Kamu suamiku, aku tak mau terjadi apa-apa denganmu! Ayo kita pergi sayang, kita sudahi semua ini. Hentikan balas dendam ini.”

“Aku tak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku hidup lebih lama bersama kakakku. Dia berkorban banyak buat kami. Bahkan demi agar diakui keluarganya dia rela menyumbangkan ginjalnya untuk ayahnya tapi itu tidak diakui. Akhirnya hanya aku yang bisa mengakui dirinya. Hanya aku yang bisa memberikan kehidupan untuknya. Ada alasan kenapa dia mencintaiku, ada alasan kenapa aku juga mencintai dia. Dia bukan sekedar kakak buatku. Kau juga tahu itu. Itulah alasannya kenapa aku tak bisa berhenti. Apalagi ketika dia harus tewas di depan mataku sendiri, terlebih dia juga mengandung anakku.”

“Apa?”

“Ya, dia tewas saat mengandung anakku. Karena itulah aku tak akan memaafkan mereka. Aku sudah bersumpah akan menjadi vampir malam ini. Aku akan hirup darah mereka. Aku akan habisi mereka semua sampai mereka menyesal telah hidup.”

“Sayangku….aku tak tahu….”

“Sabarlah, aku akan pulang. Kalau toh aku tidak pulang, kamu jangan khawatir. Aku akan pergi ke tempat di mana orang yang aku cintai berada.”

“Ajaklah aku!”

“Aku tidak ingin mengajakmu. Kamu harus hidup.”

“Aku juga tidak akan bisa hidup, aku hamil….”

DEGG!

Tangan Arci gemetar. “Apa tadi yang kamu bilang?”

“Aku hamil,” kata Andini sambil terisak.

“Katakan sekali lagi?!”

“Aku hamil.”

“Kenapa kamu tak bilang?”

“Aku akan bilang kepadamu.”

Arci entah bahagia atau bersedih. Ia tak tahu yang mana yang benar dan yang salah sekarang. Di hadapannya sudah ada barikade polisi. Polisi benar-benar sekarang berada di tengah dua kekuatan.

“Sekarang belum terlambat. Sudahi ini semua sayangku, pulanglah! Ayo kita hidup menyendiri, menjauh dari semua. Kita hidup di sebuah gubuk kecil, dengan anak-anak kita. Jauhi ini semua.”

Tangan Arci gemetar. Dia tak pernah menyangka akan seperti ini. Air matanya meleleh.

“Demi anak kita suamiku, jangan lakukan ini!”

Pasukan Arci berhenti menunggu aba-aba Arci. Arci memejamkan mata. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia lakukan? Ia sudah berjalan jauh. Dan ini di depannya. Sudah ada pihak kepolisian menantang dirinya. Dan di seberang sana ada pasukan dari Tommy.

“Mundur! Kalau tidak kami akan menembak! Kalian harus membubarkan diri secepatnya!” tampak suara keras dari salah satu polisi terdengar jelas. “Kami hitung sampai sepuluh hitungan!”

“Cici, itu apa? Suara apa itu?” tanya Andini.

“Polisi. Mereka akan membubarkan kami,” jawab Arci.

“Tidak mungkin! Sudahilah, kumohon aku sangat khawatir. Pulanglah!”

“Aku tidak bisa. Belum bisa,” Arci segera menutup teleponnya.

Andini menjerit histeris. Ghea yang menyadari hal itu hanya bisa menghela nafas. Berat bagi Arci, berat bagi Andini. Lian berusaha menenangkan Andini. Rahma pun ikut menenangkannya.

“Sudahlah, kita hanya bisa berharap Arci pulang dengan selamat,” kata Lian.

“Dini, yang tabah ya?!” kata Rahma.

“Kalian tak perlu khawatir. Arci bukan orang yang akan jatuh begitu saja. Dia pernah melewati masa-masa kritis, dia telah melewati banyak cobaan. Dia lelaki tampan yang paling kuat yang pernah aku kenal,” kata Ghea.

“Ghea?” gumam Andini.

“Perlu kalian ketahui, aku juga berharap ia selamat. Tapi aku tak pernah menyerah akan berharap kepadanya. Kamu adalah orang yang paling ia cintai. Kamu harusnya yakin!” kata Ghea sambil memegang bahu Andini. “Ini!” Ghea memberikan sebuah senjata kepada Andini. “Pakai pistol ini, kamu harus kuat. Sebagai istri seorang bos mafia kamu harus kuat. Tembak siapapun yang ingin mendekat kepadamu. Malam ini kita akan mati. Jadi jangan berharap untuk bisa hidup esok hari.”

Andini berkaca-kaca, air matanya meleleh. “Ghea, terima kasih…”

“Kalian adalah keluargaku juga. Aku tak akan membiarkan siapapun mendekati kalian,” kata Ghea.

Sementara itu Arci menyimpan ponselnya. Dia menatap ke arah para polisi yang sudah bersiaga. Dia memberi aba-aba.

“Ingat, kita tak bisa kembali lagi. Maju atau mati!” teriak Arci.

HIIYYEEEE! teriak semua orang.

“Tujuh, Enam, Lima, Empat, Tiga, Dua, Satu! Waktu habis!” seru suara polisi di TOA.

Tak berapa lama kemudian pasukan anti huru-hara mulai maju menuju ke arah Arci. Tapi Arci belum memberi aba-aba menyerang. Sementara gas air mata sudah dilontarkan. Beberapa orang langsung mengoleskan pasta gigi di bahwa mata mereka dan memakai masker. Arci mengeluarkan topeng gas dan memakainya. Beberapa orang yang membawa topeng gas pun langsung memakainya. Di tempat lain, di mana pasukan Tommy sekarang juga memakai topeng gas. Mereka kemudian langsung bentrok dengan polisi.

Arci memberi aba-aba untuk maju. Tapi bukan maju secara fisik, para preman melemparkan sesuatu.

BANG! BANG! DOR! RATATATATATA!

Ternyata mereka melemparkan petasan. Hal itu membuat para polisi kalang kabut. Pasukan anti huru-hara kocar-kacir karena lemparan petasan itu. Arci pun langsung berlari menuju ke arah para polisi yang kalang kabut itu. Akhirnya terjadilah bentrok. Tiga pasukan pun bertemu, mereka saling serang, saling pukul,s saling bantai. Keadaan kacau sekali. Arci tak segan-segan membalas serangan para polisi. Mereka juga bertahan ketika dua kekuatan saling bertemu, tapi karena kekuatan pasukan anti huru-hara ini sedikit akhirnya mereka pun terdesak. Pasukan Gegana yang diterjunkan pun tak bisa berbuat banyak terlebih salah satu preman membawa RPG dan menembakkan RPG itu ke arah salah satu mobil panser hingga mobil panser itu bersalto di udara.

Tembakan pistol dan ledakan granat membahana. Malam itu Malang terjadi perang. Listrik di sepanjang jalan Ahmad Yani dipadamkan. Beberapa di antaranya takut dan lari terus dikejar. Para polisi makin terdesak, hingga akhirnya pasukan Tommy dan pasukan Arci bertemu. Mereka pun bertarung satu sama lain. Para polisi tak bisa berbuat banyak dan mereka meminta bantuan.

Arci mempraktekan apa yang telah ia pelajari bertarung keroyokan. Dia mengambil senjata polisi yaitu tongkat pemukul dan menghajar siapapun yang ada di depannya. Semua yang terkena pukulannya pasti tumbang. Setiap orang mendapatkan paling sedikit dua pukulan, perut dan kepala, perut dan kepala, kaki dan kepala. Arci terus mengalahkan setiap orang yang dilewatinya sekalipun mereka bersenjatakan parang dan pipa besi.

“Pergi ke sana, dapatkan wanita itu! Mereka butuh bantuan” seru seseorang.

Arci mendengarkannya. “Wanita itu” mungkinkah Andini? pikirnya. Ia segera melihat banyak sekali pasukan dari Tommy berbelok ke sebuah gang. Arci pun segera mengejarnya. Tak salah lagi mereka ingin menangkap keluarganya. Arci segera menelpon Ghea.

“Ghea!?” sapa Arci.

“Ya?!” jawab Ghea.

“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Arci.

“Kacau, di sini terjadi perang! Kami bertahan di rumah!” jawabnya.

DOR! DOR! DOR! DOR! Terdengar suara tembakan.

“Apa itu?” tanya Arci.

“Mereka menyerang dengan banyak senjata, pertahanan terakhir kita hanya menggunakan pistol in…auhh!” suara Ghea terputus.

“GHEA! GHEA!” teriak Arci. Arci pun segera berlari menuju rumah Rahma yang letaknya memang tak begitu jauh dari tempat pertempuran ini. “Tidak, tidak, tidak, aku tak mau kehilangan kalian. Aku tak mau. Aku tak mau!”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Rusuh, itulah yang terjadi. Terlebih ketika dua orang assasins suruhan Tommy tiba di tempat Andini dan yang lainnya berada. Baek dan Tina. Para polisi dan preman-preman yang berjaga melindungi rumah Rahma tak ada yang diberi ampun. Mereka semua dibantai. Ghea baru menyadari siapa lawan mereka.

“Ini tidak baik,” kata Ghea.

“Ada apa?” tanya Andini.

“Mereka bukan orang biasa, mereka pembunuh bayaran nomor satu. Kalian segera pergi tak ada yang bisa melawan mereka!” kata Ghea.

Telepon Ghea berbunyi. Ghea segera mengangkatnya.

“Ghea!?” sapa Arci.

“Ya?!” jawab Ghea.

“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Arci.

“Kacau, di sini terjadi perang! Kami bertahan di rumah!” jawabnya.

Ghea menembakkan senjatanya DOR! DOR! DOR! DOR!

“Apa itu?” tanya Arci.

“Mereka menyerang dengan banyak senjata, pertahanan terakhir kita hanya menggunakan pistol in…auhh!” Ghea memekik ketika sebuah pisau kecil menancap di punggung tangannya. Tampak Tina yang dari kejauhan memainkan pisaunya mulai merangsek masuk.

“Lari!” seru Ghea. Andini yang memegang pistol pun tak punya pilihan lain. Dia sama sekali belum menembakkan satu peluru pun. Andini dan yang lainnya segera keluar lewat pintu belakang. Singgih dengan kursi rodanya didorong oleh Rahma. Andini, Lian dan Putri segera berlari keluar rumah, tapi ketika Singgih dan Rahma keluar sebuah tendangan menghantam tubuh Singgih hingga dia yang tak mempunyai kaki dan tangan langsung mendarat seperti bantal ke tanah. Rahma pun terhantam hingga mental ke dalam rumah lagi. Andini berbalik dan melihat keadaan. Dia membidik Baek.

“Pergi dari dia, kamu mengincar aku bukan?! Sini kamu! Aku akan menembakmu!” kata Andini.

Baek menginjak-injak tubuh Singgih. Singgih hanya bisa mengerang kesakitan. Ia tak bisa berbuat banyak dengan tubuhnya yang cacat. Ia hanya berteriak, “Rahmaaa! Rahmaaa!”

Melihat Andini menantangnya, Baek segera menghampiri Andini. Andini berusaha menarik pelatuknya tapi susah. Apa yang terjadi? Bahkan sekarang Baek sudah mendekat persis di depannya hingga moncong pistolnya tepat berada di dada Baek. Baek tersenyum geli.

“Bagaimana kamu bisa menembak kalau masih kau kunci?” tanya Baek. Andini terkejut. Baek memberikan hantaman ke perut Andini hingga Andini tak bisa bernafas. Lian yang melihatnya segera menolong Andini tapi dia terkena tamparan Baek hingga ambruk ke tanah. Rahma yang baru bangun segera mengambil sapu dan menerjang Baek, lalu ia memukulkan sapu itu ke kepala Baek. Kayunya patah tapi Baek masih baik-baik saja. Baek berbalik.

Dia kemudian mengapit leher Rahma dengan siku lengan bagian dalam lalu memelintir leher Rahma hingga berbunyi KRAAK! lalu tubuh Rahma dilempar begitu saja ke tanah. Mata Rahma melotot, ia sudah tak bernyawa dengan gerakan Baek tadi.

Singgih histeris, “Rahmaaa! TIDAAK! Rahmaaaa!” Dia berusaha menggapai tubuh Rahma dengan kekuatan seadanya. Ia berjalan seperti penyu, merayap.

Baek meninggalkan Singgih yang histeris. Dia kemudian menggelandang tangan Andini dan Lian. Dia menyeret tubuh kedua wanita yang pingsan itu. Tapi di tengah jalan, tampak Putri dengan membawa tongkat menghalangi Baek.

“Lepaskan ibuku! Lepaskan!” kata Putri. Dia segera memukul-mukul Baek. Baek tak merasa sakit, bahkan dengan tendangan keras ia menendang perut Putri hingga ia terpental dan menghantam sebuah kotak kayu yang di atasnya ada tumpukan kasur busa yang memang dijemur oleh para tetangga. Putri pun pingsan.

Sementara itu Ghea terlibat perkelahian sengit dengan Tina. Tina mahir memakai pisau. Tidak, bahkan keduanya mahir. Bedanya adalah Tina mahir menggunakan pisau terbang berukuran kecil, sedangkan Ghea mahir menggunakan pisau yang lebih besar. Terjadilah adegan melempar pisau yang dilakukan oleh Tina. Tapi karena ini pertarungan jarak dekat, akhirnya Tina dan Ghea saling membenturkan pisau mereka. Pisau Tina adalah pisau baja sepanjang dua puluh senti yang biasanya digunakan di bayonet. Sedangkan Ghea lebih ke pisau belati yang biasanya digunakan oleh tentara seperti satuan elit.

TRANG! TRANG! TRANG!

Suara pisau mereka sangat nyaring. Sekilas Ghea menoleh ke arah Baek yang telah berhasil menyeret Andini dan Lian. Ia pun makin frustasi. Tina berhasil menyabet perutnya. Ghea mulai meliuk-liukkan pisaunya, dia terus mendesak Tina. Tina tak tinggal diam, ia juga sesekali melemparkan senjata rahasianya, satu pisau menancap di bahu Ghea. Ghea mencabutnya dan melempar balik, Tina menangkisnya, itu membuat Tina hilang konsentrasi sehingga sebuah tendangan tanggung menghantam dada Tina hingga ia terpental ke meja kaca yang ada di dalam rumah. Kaca pun berhamburan karenanya.

Tina berguling, tampak pinggangnya tertancap kaca. Ia pun mencabutnya lalu dibuang. Darah mengalir dari lukanya. Demikian juga Ghea. Perempuan berambut merah ini sudah bersiap dengan kuda-kudanya walaupun tangannya berkedut karena sakit akibat tertancap pisau tadi.

“Kita tak bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini,” kata Ghea.

“Hehehehe, aku tak peduli. Ternyata aku tak salah memilih lawan. Kamu hebat!” kata Tina.

Ghea kemudian menerjang Tina. Tina pun menangkap Ghea, keduanya masih menghunuskan pisau mereka dan saling mendorong dengan pisau masing-masing. Tiba-tiba tubuh Ghea meloncat ke atas. Tina sedikit kaget, belum sempat kekagetannya hilang tiba-tiba sebuah lutut langsung mengarah ke dadanya dua kali. Hal itu seketika membuat kantong paru-parunya kosong. Tina kehilangan nafas. Ia langsung mundur.

Ghea, belum selesai sekali lagi dia menekuk lengan sikunya, kakinya juga ditekuk, ini adalah kuda-kuda Muay Boran. Dia mendekat dengan kaki merendah ke arah Tina. Dan tanpa Tina sadari Ghea melompat lagi, kini lututnya tiba-tiba sudah berada di telinganya, menghantam kepala bagian kiri. Tina terhuyung ke kanan. Bagai slow motion, Tina berusaha bertahan agar tak jatuh, belum sempat ia menahan keseimbangannya, Ghea sudah menendang ulu hatinya, membuat cewek assasin ini terhempas ke tembok.

Tina memijat-mijat dadanya yang sakit. “Muay Boran?”

“Kamu kira aku hanya belajar satu ilmu beladiri? Kamu salah!” ujar Ghea. Dia pun melemparkan pisaunya, saat bersamaan dengan sisa-sisa tenaganya Tina juga melemparkan pisaunya hingga kedua pisau itu saling menghantam dan tersebar ke arah yang berbeda.

Tina mendorong tubuhnya dari tembok hingga seakan-akan ia melesat terbang ke arah Ghea. Ghea sudah siap, ia memantapkan kuda-kudanya kemudian merendahkan tubuhnya lalu menerima tendangan Tina dengan tangkisan siku di kaki dan lengannya. Hantaman kaki Tina membuat Ghea mundur beberapa langkah. Tak butuh waktu lama, ia segera melakukan counter attack, kemudian menyapu kaki Tina dan dengan tendangan memutar lagi kepala Tina dijadikan sasaran empuk tendangan Ghea yang ternyata adalah spinning kick. Tina terhempas ke kiri.

Cewek Assasins ini segera berdiri, belum sempurna ia berdiri Ghea sudah melompat ke arahnya dan mendaratkan sikunya tepat ke arah kepala Tina. Jurus ini sungguh telak, Kepala Tina langsung robek bersamaan itu tulang tengkoraknya retak. Tina terhuyung-huyung, Ghea mendarat di depannya dan mengambil sebuah pisau kecil yang disimpan Tina di kakinya. Ghea lalu menusukkan pisau itu tepat ke dagu cewek Assasins ini dan merobeknya. Terakhir ia mencengkeram kepala Tina dan menghadiahi lututnya hingga cewek ini terhempas ke lantai.

Pertarungan ini dimenangkan oleh Ghea. Tina tewas di tempat dengan leher robek dan wajah bonyok. Ghea teringat dengan Andini segera ia mengejar ke mana Baek tadi membawa Andini dan Lian. Ghea terus berlari mengejar Baek yang sudah tak kelihatan lagi. Kemana ia harus mengejar?

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Arci telah sampai di muka gang. Di sana mayat-mayat bergelimpangan, dari mulai polisi sampai para preman. Dan yang lebih mengejutkan lagi ia melihat Andini dan Lian diseret oleh Baek dari kejauhan. Baek menuju ke sebuah mobil SUV. Dengan kasar ia melempar Andni ke dalam mobil juga dengan Lian.

Melihat itu Arci segera berlari. “Berhenti! Berhenti kataku!”

Ghea berjumpa dengan Arci. Arci melihat Ghea terluka bahu dan perutnya. Darah mengalir dari kedua luka itu. Tapi Ghea merasa tak apa-apa. Keduanya berlari mengejar mobil itu sambil menyerang orang-orang yang berusaha menghalangi langkah mereka.

“Aku tahu kemana mereka pergi,” kata Arci.

“Kemana?” tanya Ghea.

“PT Evolus!”

Dan mereka berdua pun membajak sebuah mobil, kemudian segera menuju ke perusahaan textil milik keluarga Zenedine.

* * *

Letnan Basuki yang melihat kekacauan ini mendapati Arci yang tampak masuk ke sebuah mobil bersama Ghea. Dia pun segera mengambil sebuah motor milik kepolisian. Dia pun mengejar Arci. Letnan Basuki benar-benar tak habis pikir akan terjadi seperti ini. Semuanya kacau, rusuh, dan ini semua hanya sebuah perebutan harta.

“Kamu terluka?” tanya Arci yang khawatir kepada Ghea.

“Aku tak apa-apa,” jawab Ghea.

“Yakin?”

“Sudah kemudikan saja!”

Arci mengemudikan mobilnya dengan kesetanan. Bahkan lampu merah pun ia terobos. Baek sudah masuk ke dalam halaman perkantoran PT Evolus. Tak berapa lama kemudian Arci pun menyusul. Melihat Baek menyeret Andini dan ibunya Arci tampak sangat marah, ia pun menghantamkan mobil yang ia kendarai ke mobil SUV yang dikendarai oleh Baek.

BRRAAAKKK!

Suara hantaman keras itu mengejutkan Baek. Segera para penjaga yang ada di tempat itu menuju ke arah Arci. Arci menyerahkan salah satu pistol Desert Eagle-nya kepada Ghea dan dua magazinenya. Arci dan Ghea segera keluar dan menembaki para penjaga. Arci dan sepupunya segera masuk ke dalam kantor. Terjadi baku tembak. Beberapa orang petugas keamanan menjadi korban. Sekarang ini Arci lebih prioritas untuk menyelamatkan Andini. Ia tak mempedulikan apa yang ia lakukan.

Saat Arci dan Andini sampai di depan lift mereka terlambat karena Baek sudah naik ke atas sambil melambai kepada Arci. Dan di hadapan Arci sekarang ada puluhan orang yang menghadang keduanya.

“Brengsek, kenapa mereka banyak sekali?” gumam Arci.

“Sepertinya tak ada gunanya kita memakai senjata api di sini,” kata Ghea.

“Kau benar,” kata Arci. Ia menyimpan lagi senjata mahal itu. Sebagaimana janji dia kepada Yuswo untuk mengembalikannya. Dia memberikan katana yang ia bawa kepada Ghea. “Gunakan ini!”

Ghea menerimanya. Arci mengeluarkan kapak yang ia bawa sejak tadi. Ghea melepaskan jaketnya, dia kemudian membalut luka di perutnya dengan jaket itu agar rasa nyerinya reda. Ia sekarang terlihat memakai kaos singlet You-can-see berwarna hijau dengan bra yang tercetak jelas. Punggung Ghea dan Arci saling bersandar. Mereka kini dikepung oleh puluhan orang dengan senjata tajam mereka.

“Katakan kepadaku!” kata Ghea. “Apa kamu menyesal mengenal keluargaku?”

Arci menggeleng, “Tidak. Tapi kehidupan seperti ini jauh lebih menarik.”

“Maafkan aku yang telah membawamu jauh ke tempat ini, rasanya aku makin berdosa,” kata Ghea.

“Tak perlu merasa bersalah! Aku sudah terlalu jauh masuk, aku akan menikmatinya. Setidaknya statusku sekarang tak bisa dianggap remeh sebagai raja preman.”

“Kau sinting!”

“Kita bukankah pasangan yang sinting?”

Mendengar kata “pasangan” membuat wajah Ghea memerah. Tapi rasanya adrenalinnya lebih terpacu untuk bertarung daripada merasakan debar-debar cinta yang dirasakannya sekarang. Ghea tersenyum. Ia sudah siap dengan katana di tangannya.

“Arci, boleh minta satu hal?” tanya Ghea.

“Apa?”

“Kalau kita berdua masih hidup setelah ini, jadikanlah aku istrimu!”

“What? Apa yang kau katakan?”

“Dengarlah, di dunia ini tak ada lelaki yang cocok denganku. Tak ada sama sekali yang bisa menerima Ghea. Tak masalah, kamu sudah beristri atau tidak. Kabulkanlah permintaan terakhirku ini. Aku siap menjadi nyonya Arczre!”

“Kau sinting. Aku sudah katakan kalau…”

“Cukup! Aku tahu, cinta tak bisa dipaksa. Dan aku tak ingin hidup terus dengan sakit hati karena kamu menolak cintaku. Bullshit semua itu. Kita deal?”

“Ini nggak mudah.”

“Deal?”

“Arghh…whatever, deal!”

“I love you, Handsome!” bisik Ghea.

Puluhan orang yang mengepung Arci dan Ghea langsung serentak menyerang mereka. Arci pun mempraktekkan apa yang telah ia pelajari bersama Yuswo, bertarung dalam keroyokan. Arci menganggap semua orang yang menyerang dia adalah pedang-pedang kayu yang menjadi latihannya, ia bisa menangkis dan menyabetkan kapaknya. Ia memutar-mutar kapak itu seperti baling-baling hingga tak ada satu pun orang yang bisa menghindar dari sabetan kapak itu. Begitu juga Ghea, ia dengan lihai memainkan katana yang ia pegang sekarang. Akibat dari sabetannya banyak orang yang kehilangan lengan dan jarinya. Perutnya robek, badannya robek, tertusuk. Bukan, karena Ghea expert dalam memainkan pedang, tapi ada sebuah kekuatan baru di dalam dirinya yang bangkit. Kamu bisa menyebutnya kekuatan cinta kalau mau.

Singkat cerita puluhan orang itu pun akhirnya bisa ditaklukkan dengan sisanya lari tunggang langgang setelah melihat teman-temannya terkapar oleh aksi dua monster ini. Tubuh Arci bertambah lukanya karena beberapa sabetan parang mengenai punggungnya dan dadanya, tapi lukanya tak begitu dalam. Agaknya Ghea tidak demikian. Pahanya berdarah, tampaknya lukanya cukup dalam.

“Kamu tak apa-apa?” tanya Arci memberikan perhatian kepada Ghea dengan memegang bahunya.

“Fuck off!” jawab Ghea.

“Kondisimu seperti ini, sebaiknya aku sendirian saja yang berangkat ke atas,” kata Arci.

“Kamu tak akan sanggup. Kita sama-sama,” kata Ghea.

“Tidak, kamu di sini. Dengan luka seperti ini kau tak akan sanggup!” kata Arci.

“Kamu juga terluka.”

“Ini tak seberapa, lukamu dalam!”

“Luka hati lebih sakit daripada luka ini.”

Arci menghela nafas. “Terserah deh. Ayo!”

Kedua saudara sepupu ini pun berjalan menuju ke lift. Arci masih memegang kapaknya yang sekarang berlumuran darah. Ghea juga memegang katananya yang berlumuran darah. Mereka berdua menuju lantai teratas, tempat di mana Tommy dan Agus Trunojoyo berada.

Aku adalah cintamu
Selamanya…..

Andini tersenyum pagi itu. Kicauan burung dan matahari masuk melalui jendela ruang tengah rumah Rahma. Tadi malam sungguh luar biasa. Ini kedua kalinya mereka berhubungan badan. Teringat dalam benak Andini, bagaimana Arci bermain penuh nafsu tadi malam. Dia diguling-gulingkan seperti bantal, Arci benar-benar membuat ia KO. Walaupun tidur di ruang tengah dengan kasur tipis, tapi mereka berdua cukup bahagia.

“Sayang, bangun!” bisik Andini.

“Hmm….,” jawab Arci.

“Kamu capek?” tanya Andini. “Aku buatin teh hangat yah?”

“Hmmm…”

Begitu Andini beranjak Arci menahan tangannya. “Ntar dulu, temeni aku lagi!”

“Ihh…udah pagi ini, matahari udah terbit. Mau bangun jam berapa?”

“Oh ya? Ah jam enam yah?”

“Tadi Rahma ngajak jalan-jalan suaminya, Ibu ama Putri belanja.”

Arci menarik tangan Andini hingga istrinya itu ke pelukannya lagi. “Lagi yuk?”

“Udah dong say, ntar kalau mereka datang gimana?”

“Peduli amat.”

“Udah aaaahh!”

Arci kemudian mengecup bibir Andini. Keduanya berpagutan. Andini menjauh dari wajah Arci.

“Kenapa?” tanya Arci.

“Bau acem,” jawab Andini.

Arci tertawa geli. Ia segera memeluk istrinya. “Kalau gitu mandi bareng yuk?”

“Hmm?? Mandi apa mandiii?”

“Mandi sambil ehm-ehm….”

“Hihihihi, dasar. Bener berarti yah kata orang. Suami itu ibarat anak kecil berbadan gedhe.”

“Bodo amat, aku kangen susumu.”

“Kamu mau nyusu?”

Arci mengangguk.

“Sambil mandi?”

Arci mengangguk lagi.

“Yuk, tapi cepet yah, takut kalau yang lain dateng.”

Mereka berdua pun beranjak. Tapi sebagai pengantin baru, maklum saja kalau mereka berdua sedang di masa gairah. Gairah sex-nya meluap-luap. Arci tak sabar. Ia pun mencium Andini, mereka terus berpagutan sambil berjalan menuju kamar mandi. Kegiatan mereka sebenarnya ada yang melihat, siapa lagi kalau bukan Ghea. Dia ada di teras dan mengintip apa yang dilakukan oleh sepupunya itu. Dan ia sangat cemburu. Ia memejamkan mata dan menahan seluruh gejolak yang ada di dadanya.

“Arci, aku tak bisa mencari lelaki lain. Aku mencintaimu selamanya….,” bisik Ghea. “Dan maafkan aku Andini, aku tak bisa menghilangkan perasaan cintaku kepada suamimu.”

Sementara itu Arci dan Andini sudah berada di kamar mandi, pakaian mereka pun sudah dilepas. Arci tak henti-hentinya mengenyot puting Andini. Wanita ini kini pasrah apapun yang dilakukan suaminya. Ia juga menikmatinya. Bahkan sekarang dia ingin agar Arci terus melakukan itu. Perlahan-lahan keran shower dinyalakan, keduanya pun diguyur air. Sensasi berpagutan di bawah pancuran air memang berbeda.

Andini membasuh tubuh Arci, seluruh otot-otot Arci dibasuh dari kepala, telinga, leher, dada, perut hingga di daerah vital bagian bawah di mana batangnya sudah mengacung keras. Ereksinya sampai menyentuh perut Andini. Arci merasakan nikmat ketika batang itu diurut. Kocokan lembut Andini membuat dia merasakan nikmat yang luar biasa.

“Enak sayangku?” tanya Andini.

“Iya”

Arci juga kini membilas tubuh istrinya, mulai dari lehernya yang jenjang ada bekas cupangan di sana, akibat ulahnya. Kemudian buah dadanya yang juga ada bekas cupang di sana. Andini benar-benar terangsang dengan usapan lembut Arci, hingga jari telunjuk Arci sekarang juga mengobok-obok belahan vaginanya. Keduanya sama-sama merangsang saling memberikan setruman-setruman di setiap sentuhannya.

Andini menggigit bibir bawahnya, hal itu membuat Arci lebih gemas lagi karena gigi Andini yang tampak seperti kelinci itu sangat menggairahkan untuk dijilat. Akhirnya bibirnya pun memagut. Tangan Arci satunya meremas-remas bongkahan pantat Andini.

“Ci, aku udah kepengen banget,” bisik Andini.

Akhirnya Arci membalikkan tubuh Andini. Pantat Andini menungging dan ia menyandarkan tangannya ke dinding kamar mandi. Mudah bagi Arci untuk masuk karena pelumasnya sudah banyak. Ia pun menggoyang tubuh seksi istrinya. Kepala penisnya menggesek liang senggama Andini. Andini pun menjerit keenakan ketika gesekan demi gesekan menghantarkan kenikmatan surgawi yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Arci meremas-remas toket Andini yang sangat ia sukai itu. Andini pun makin membusung, Ia menoleh ke belakang, Arci pun menciumi bibirnya dan lidah mereka saling menjilat.

Sungguh mungkin kalau ada orang yang menyaksikan pergumulan panas mereka pasti juga akan merasakan gelora birahi. Suara kecipak pertemuan pantat dan selakangan itu benar-benar menggairahkan, terlebih banjir lendir dari kemaluan Andini menandakan wanita ini benar-benar sudah terangsang sekali. Arci mengusap-usap tubuh Andini yang lain, yaitu pinggang dan perut sambil terus ia pompa batangnya keluar masuk. Kepalanya pun menyusup ke ketiak Andini dan menghisapnya kuat. Andini mengelinjang kegelian. Ia makin basah dan makin gatal. Tidak bahkan ia makin geli. Pantatnya pun ikut bergoyang mengimbangi gesekan batang kejantanan Arci.

“Ehhmm…ohhh….sayangku, enak sekali…” racau Andini.

“Peret banget memekmu sayangku!” ujar Arci.

Sementara itu Ghea masuk ke dalam rumah dan menguping apa yang dilakukan oleh Arci dan Andini. Ia pun memasukkan tangannya ke dalam celananya dan menggosok-gosok belahan kemaluannya. Tampaknya ia sangat rindu dimasuki lagi oleh Arci. Dan dia pun sekarang membayangkan dirinya sedang disetubuhi oleh Arci. Ghea berusaha agar tak bersuara ketika ia mastrubasi. Mendengarkan suara desahan suami istri itu saja membuat ia terangsang. Apalagi lelaki itu adalah orang yang ia cintai.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Apa yang akan kita lakukan kepadanya?” tanya Michael.

Lian pun tersadar. Tapi tangan dan kakinya sudah terikat. Ia melihat Alexandra ada di hadapannya.

“Hai pelacur, kita ketemu lagi!” kata Alexandra.

PLAK! Tamparan keras mengena ke pipi Lian.

“Brengsek! Bajingan, lepaskan Andini! Kalau kalian menginginkan aku sakiti aku saja, tapi lepaskan dia!” kata Lian.

“Melepaskannya? Kau gila? Justru dia ada di sini karena kita akan bersenang-senang. Arci sudah membohongi kami dengan memalsukan tanda tangan di surat pengesahan. Ia pantas mendapatkan sesuatu yang pantas. Menghancurkan hidupnya,” kata Alexandra. “Sayangku, lakukan saja!”

Michael tertawa. Tommy dan Agus tampak ada di ruangan itu juga tertawa.

“Mau apa kalian?!” tanya Lian.

“Ini biar bagianku!” kata Agus. “Aku tidak pernah merasakan binor.”

“Hahahaha, terserah. Aku akan tinggalkan kalian di luar,” kata Tommy meninggalkan mereka semua.

“Brengsek! Lepaskan Andini! Lepaskan dia!” Lian histeris, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena terikat. Sementara itu, Michael melepaskan pakaiannya satu per satu hingga telanjang bulat, begitu pula dengan Agus. Sementara itu Andini masih pingsan tak berdaya.

Michael mulai menelanjangi istri Arci itu, Agus pun telaten membantunya. Lian menjerit, “JANGAAAAN!”

“Lihatlah pelacur, aku akan buat menantumu mengikuti jejakmu menjadi pelacur. Hahahahahahaha!” Alexandra menduduki tubuh Lian.

“Shit! Boobsnya gedhe! Mulus lagi!” kata Michael.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Arci terus menggenjot Andini. Dan Andini sudah mulai orgasme lagi. Wanita ini makin kesetanan meliuk-liukkan pantatnya membuat penis Arci seperti diurut-urut. Dan akhirnya Andini orgasme. Arci menghentikan gerakannya dan mencumbui Andini. Dia mencabut batangnya, dengan mata sayu keduanya berpagutan lagi. Sungguh sebuah hubungan yang penuh gairah.

“Kamu ingin berapa anak sayangku?” tanya Andini.

“Sebanyak-banyaknya,” jawab Arci.

“Hihihihi, dasar, enak di kamu rempong di aku,” jawab Andini.

Arci mengangkat paha kanan Andini ke atas. Batang kemaluannya sudah meluncur lagi ke dalam liang senggama Andini yang basah. Licin sekali tapi peret hingga membuat keduanya melenguh lagi. Pergumulan panas pun terjadi lagi. Arci memagut istrinya itu sambil memepetnya ke dinding kamar mandi bermarmer. Andini merasa geli sekali ketika otot-otot batang kemaluan Arci menelusuri setiap rongga kemaluannya. Arci kembali menyusu kepadanya.

“Buah dadamu sayangku, sungguh memabukkanku. Aku rasanya tak puas-puas menikmatinya.”

“Ahh…sayangku, nikmatilah sepuasnya. Aku ada untukmu.”

Arci menghisap kuat puting Andini sambil terus menyodok Andini dengan ritme sedang. Andini melenguh lagi. Ia menggigit pundak Arci karena tak tahan kenikmatan yang terus menderanya. Sementara sodokan Arci yang seperti memompa piston itu makin kencang, sungguh batangnya serasa tak tahan lagi ingin menyemburkan lahar hangat.

“Sayangku, mau keluar?” tanya Andini.

“Iya,” jawab Arci.

“Aaahhkk… Cici, aku juga mau keluar.”

“Aarrghhh!”

Keduanya pun menjerit saat gelombang orgasme keluar. Semburan air mani kental pun kembali membasahi rahim Andini. Arci menekan kuat-kuat kemaluannya di rahim Andini. Kenikmatan yang luar biasa saat orgasme itu datang membuat mereka kelelahan. Keduanya berpelukan erat, tubuh Andini lemas.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Jangaaan! Kumohon jangaaaan! Hentikan! Dia sedang hamil, jangaaann!” Lian memohon kepada Michael dan Agus. Tapi terlambat.

Tubuh Andini sudah ditelanjangi dan kini sedang dihisap puting susunya oleh Agus dan Michael. Mereka berbagi susu Andini, kiri dan kanan. Lian meronta, terus meronta, ia tak ingin Andini dilukai. Sebab dia adalah nyawa anaknya. Arci pasti akan sangat bersedih melihat kondisi Andini sekarang.

Tangan Andini mulai dijilati oleh dua pria hidung belang ini. Bahkan sekarang Agus mulai menjilati kemaluan Andini. Ya, lidahnya menari-nari di sepanjang garis kemaluan Andini. Andini masih tak sadar. Pukulan Baek tadi terlalu keras, mungkin saja bisa menghancurkan janin yang ada di dalam kandungannya.

Sementara itu Arci dan Ghea sudah bersiap. Mereka sampai ke lantai paling atas. Di sini sepi. Hanya ada seseorang yang berdiri di sana, yaitu Baek. Dia tampak sombong, berkacak pinggang sambil memberi isyarat menantang Arci.

“Kau tenang saja, ia bagianku,” ujar Arci. “Istirahatlah!”

Baek tertawa, “Kamu kira sendirian bisa mengalahkanku? Baiklah, ayo!”

Kaki Baek mulai bergerak-gerak. Arci mengetahui gaya ini. Ini gaya Tae Kwondo. Arci memasang kuda-kuda bebas. Ia gayanya seperti petinju sekarang. Baek menendang ke udara, lalu melakukan spinning kick. Dia memerkan tendangannya kepada Arci. Arci tetap tenang, sekalipun sebenarnya lukanya nyut-nyutan.

Baek mulai menyerang, ia menggunakan kaki kirinya sebagai tumpuan sedangkan kaki kanannya maju menendang wajah Arci. Arci bisa menangkis dengan tangannya, kaki Baek bergantian menendang dan Arci menangkis semuanya. Gantian Arci menyerang, kiri kanan. Kemudian ditutup dengan low kick. Dia mengenai lutut Baek. Baek sedikit meringis. Tendangan Arci tepat mengenai tempurung lututnya.

Baek melompat lagi dengan tendangan, tubuhnya seperti terbang ketika dua tendangan mengarah ke Arci. Arci sekali lagi bisa menangkis. Baek menaikkan kakinya tinggi-tinggi dan menurunkannya dengan cepat, tapi Arci berputar dan masuk ke pertahanan Baek yang kosong. Baek tentu saja kaget, tapi Arci memberikan uppercut. Baek bisa menghindar, tapi ternyata serangan Arci bukan sekedar uppercut, tapi sebuah pukulan smash yang tiba-tiba berubah arah. Dan pukulan itu telah mengenai wajah Baek.

Baek tersungkur.

“Beladiri apa itu, pukulan apa itu?” tanya Baek.

“Who knows? Siapa tahu aku sekarang sedang menggunakan street fighter,” jawab Arci.

Baek kembali bangkit dan menyerang Arci, kini dia memakai pukulan sesekali menendang, Arci bisa membaca semua serangannya. Baek makin gusar. Terlebih semua serangannya bisa dibaca oleh Arci. Dan Arci sekali lagi begitu ada kesempatan langsung menyerang dengan pukulan ataupun dengan tedangan dan semuanya mengena. Baek kemudian menghentikan serangannya dan berpikir, kenapa setiap serangannya bisa diketahui?

Arci kini berbalik menyerang. Kini pukulan-pukulan Arci seperti seorang petinju. Tentu saja pertahannya sangat kokoh. Ketika Arci memukul, dia terkadang melepaskan jab cepat, kemudian dengan pukulan satu dua, seperti petinju dia mendaratkan pukulan ke wajah Baek. Belum selesai, Arci memukul Baek dengan kedua tangannya lagi, kiri kanan. Kemudian ia daratkan sebuah tendangan tepat ke dada assasin itu. Tapi kaki Arci ditangkap oleh Baek. Arci tak tinggal diam, ia segera melompat ke udara berputar dan tendangannya menghantam pipi Baek hingga lelaki itu pun tumbang. Menangkap kaki Arci itu adalah hal bodoh, pikir Baek.

Dia bersusah payah bangkit sambil meludah. Darah segar keluar dari mulutnya. Baek kini mengganti kuda-kudanya. Arci mulai mengerutkan dahi. Dari kuda-kuda itu ia sangat tahu sekali apa yang sedang ada di depannya, Baek tidak hanya belajar tae-kwondo, tapi juga Cappoeira. Tangannya menari-nari dan kakinya menyapu-nyapu. Dan yang terjadi selanjutnya, dengan gerakan memutar, Baek menerjang Arci dengan tendangan. Arci menurunkan badannya, sehingga hampir saja kaki Baek menyapu wajahnya. Tapi Baek tak cukup satu serangan, dengan gerakan gesit tangannya sebagai tumpuan dia sudah memutar kakinya seperti baling-baling lalu menghantam dada Arci. Arci terhempas. Baek belum berhenti, di saat Arci jatuh ke lantai, Baek sudah terbang salto untuk menghempaskan dua kakinya ke tubuh Arci, segera Arci berguling untuk menghindar.

Hampir saja Arci terkena injakan Baek.

Mereka berdua kini sama-sama berdiri lagi, semuanya memasang kuda-kuda. Semuanya bersiap untuk menyerang. Tapi siapa yang akan maju terlebih dahulu?

Arci melepaskan jasnya. Ia melucuti semua senjata yang ia bawa. Pistol, pisau, kapak. Ia singkirkan dengan kakinya. Baek mengernyitkan dahi.

“Maaf, tadi gerakanku terhalang oleh beban, sekarang ayo!” ujar Arci.

Baek merasa diremehkan, dia kembali maju dengan bertumpu kepada telapak tangannya, kemudian kakinya berputar seperti baling-baling. Arci menghindar. Saat Baek berguling ke depan Arci dengan cepat menghantam punggung tangan Baek. Seketika itu Baek meringis. Kenapa punggung tangan yang Arci jadikan sasaran? Baek mengaduh.

“Aarrghh!” berkali-kali Baek mengibas-kibaskan tangannya.

Arci mundur. Baek sekali lagi memainkan kakinya sambil bertumpu kepada tangannya tapi ia terpeleset. Arci memahami, kelemahan Cappoeira adalah tumpuan yang dipakai untuk bisa menggerakkan kakinya seperti baling-baling ada pada tangannya, apabila tangannya bisa dilumpuhkan, ia hanya bisa mengandalkan kakinya.

“Jenius!” puji Baek.

Sekarang giliran Arci, dia berlari ke arah Baek. Melihat Arci berlari ke arahnya, Baek segera bersiaga. Tapi begitu mendekat Arci melompat ke udara dan mendaratkan sebuah tendangan ke wajah Baek. Ini baru, Arci tak pernah melakukan ini sebelumnya, bukan ini bukan hanya sebuah tendagan. Gerakan berikutnya kakinya ditekuk sehingga kedua lututnya mencengkram kepala Baek sekarang. Lalu Arci mengarahkan kedua sikunya ke kepala Baek. Seketika itu Baek seperti dihantam sebuah pipa linggis. Dan Arci menghantamnya berkali-kali.

Setelah itu Baek ambruk dengan kepala bocor. Dan terakhir Arci melompat ke udara kemudian menuntaskannya dengan lutut terjun ke punggung Baek, mengakibatkan tulang punggung pendekar Tae Kwondo itu remuk.

KRRRAAAKK!

Sebuah akhir yang mengenaskan bagi Baek. Arci jadi mengerti kenapa dia diajari Ghea beberapa ilmu beladiri, terlebih ketika ia juga diajari oleh Yuswo beladiri yang aneh. Tapi hal itu membuat gerakannya jadi tak terdeteksi. Inilah yang disebut cara preman, mereka memang tak pernah belajar di sebuah padepokan, mereka juga tak pernah diajarkan bagaimana membangun sebuah aturan dalam menyerang maupun bertahan diri. Mereka hanya punya satu tujuan, yaitu mengalahkan lawan. Boleh jadi inilah yang disebut petarung jalanan.

Setelah menghabisi Baek, Arci menoleh ke sebuah pintu. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Ghea berjalan tertatih-tatih mendekat ke sepupunya. Arci mengambil kembali kapak dan pisaunya. Dan mereka berdua mendekat ke arah pintu di mana Tommy dan yang lainnya ada di dalam. Dan mereka pun masuk.

“Jangaaan!” terdengar suara Lian. “Kumohon jangan!”

Arci langsung naik darah mencari arah suaranya. Tampak dia dihalangi oleh seorang pemuda berambut cepak dan sebuah katana. Sang pemuda itu sesekali menggerak-gerakkan kepalanya seperti orang terkena ayan. Ia menggedek-gedek. Ghea menahan Arci.

“Dia bagianku, kamu pergilah!” kata Ghea.

“Hati-hati!” ujar Arci.

Arci menjauh dari Ungi yang sekarang ini berhadapan dengan Ghea. Ghea menghunuskan katananya. Ungi pun kemudian mengeluarkan katana dari sarung pedangnya. Ghea dan Ungi sekarang bersiap untuk bertarung. Sementara Arci meninggalkan mereka menuju ke sebuah pintu seperti kamar.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Cici, aku tak ingin pergi darimu,” kata Andini.

“Aku juga,” kata Arci.

“Rasanya perjumpaan kita terlalu singkat ya, aku ingin seumur hidup bersamamu menikmati hari. Kita bersama selamanya.”

“Bukankah kita sudah seperti itu sekarang?”

Andini menggeleng, “Tidak, sepertinya kamu jauh.”

“Andini, perasaanku kepadamu kepadamu tak akan pernah berubah. Engkau adalah nyawaku sekarang. Kalau kau pergi maka separuh jiwaku akan hilang. Aku selalu memikirkanmu, bayang-bayangmu tak akan pernah lepas dari benakku. Aku telah menyerahkan separuh nyawaku untukmu.”

“Cici, aku cinta kamu selamanya.”

“Selamanya aku juga mencintaimu.”

“Sayangku, aku sangat menyesal sekali sebenarnya.”

“Menyesal kenapa?”

“Andai waktu itu aku jujur kepadamu aku bukan Iskha, andai perjumpaan pertama kali itu kita sudah langsung bersama, apakah engkau akan bisa bersamaku seperti sekarang ini?”

“Entahlah, yang jelas bukankah perjumpaan kita sekarang sudah ditakdirkan dan kita sudah bersama?”

“Tapi aku merasa sebentar lagi kita akan berpisah lagi.”

“Tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap berjuang untuk hidup.”

“Kalau misalnya nanti kita berpisah…”

“Jangan ucapkan itu. Aku tak mau lagi kehilangan orang-orang yang aku cintai.”

Andini memeluk Arci. “Aku cinta selamanya.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Selamat datang, keponakan!” kata Tommy.

Tiba-tiba tubuh Arci dipegangi oleh beberapa orang. Lututnya ditendang sehingga ia kini berlutut. Ia tak bisa bergerak ketika punggungnya kemudian diinjak hingga ia tiarap. Kemudian kepalanya ditahan hingga mendongak dan dia menyaksikan sesuatu di depan matanya. Sesuatu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sesuatu yang membuat darahnya mendidih.

“ANDINIIIIII! LEPASKAAAN! LEPASKAN DIAAAA! BAJINGAN! BRENGSEK! BEDEBAH KALIAN! LEPASKAN DIA!” Arci menjerit histeris.

Di depannya terpampang sebuah scene di mana Michael menggenjot Andini sementara Agus menggenjot Andini dari bawah. Dia mencengkram buah dada Andini. Andini tak berdaya, ia tak sadar bahwa sekarang ia sedang digagahi dengan double penetration. Lian menangis sejadi-jadinya. Dengan tubuh terikat dan diduduki oleh Alexandra. Ia tak bisa berbuat banyak. Melihat Arci datang ia juga tambah bersedih. Ia tahu bagaimana putranya itu sangat mencintai Andini.

“Ini adalah akibat kalau kamu main-main dengan kami. Kamu berani-beraninya memalsukan tanda tanganmu, kamu kira kamu siapa? Kamu hanya anak seorang pelacur. Kamu hanya anak seorang pelacur, kamu tak pantas menyandang nama Zenedine. Sekarang, kamu lihat kamu tak berdaya di hadapanku, semua orang-orang yang kamu cintai aku rampas. Hahahahaha, menangislah, marahlah! Sekarang kamu tak bisa berbuat apa-apa.”

Air mata Arci keluar, ia berusaha meronta untuk bisa terbebas dari cengkraman orang-orang Tommy. Matanya dipaksa untuk menyaksikan bagaimana istrinya diperkosa oleh Michael dan Agus.

Apakah kalian pernah melihat istri yang kalian sayangi dizinahi? Semua orang apabila melihat istrinya selingkuh pasti sakit. Ya, sangat sakit. Apalagi apabila seorang suami sangat mencintai istrinya. Tapi itu semua berakhir dan akan disadari bahwa sang istri tidak baik bagi dirinya. Tapi berbeda, apabila sang istri yang sangat mencintainya, diperkosa di hadapannya, sedangkan ia tak bisa berbuat apa-apa. Arci sangat mencintai Andini. Ia menangis, histeris, air matanya tak tertahan lagi. Ia meronta, memanggil-manggil nama istrinya.

“HENTIKAAAANN! AKU MOHONNN! HENTIKAN! DIA SEDANG HAMIL! HENTIKAAAANN!” jerit Arci.

“Peret banget istrimu, aku tak bosan ngentotin dia, betul nggak Gus?” tanya Michael yang nafsunya sudah diubun-ubun.

“Uhh, enak banget ini dubur istrimu, belum pernah dipake kan? Aahahh…ahahh…aaaahhh..aku keluar Mike!”

“Uuufffhh…gila, enak banget, aku jugaaaa….!”

“BANGSAAAATTT! AKU BERSUMPAH! AKU TAK AKAN MATI SAMPAI MENGHABISI KALIAN SEMUA! AKU AKAN BERIKAN KALIAN MIMPI BURUK YANG TAK AKAN PERNAH KALIAN LUPAKAN, BAHKAN KALIAN AKAN MEMINTA SENDIRI KEMATIAN!”

“Hahahahaha….kamu bisa apa? Kamu tak bisa apa-apa sekarang. Nikmati saja suguhan ini!” kata Tommy.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Apa yang terjadi denganku?

Siapa dia? Kenapa dia ada di atasku? Tubuhku sakit semua. Apa yang terjadi?

Arci, kenapa dia ada di sana? Oh, suamiku ada di sana. Tubuhku sakit semua. Kenapa dia ada di sini? Aku di mana?

Ada seorang lelaki yang menindihku?

Sakit sekali, sakiiitt…. Apakah aku akan mati?

“Aku puaas…akhirnya keluar juga…ohhh!”

Suara siapa itu?

“Aku juga Mike, ternyata dia benar-benar peret.”

“Lepaskan dia!”

“Heeii, darah apa ini?”

“Shit! Kenapa dia mengeluarkan banyak darah?”

“Darah apa ini?”

“Dia keguguran!”

“BAJINGAAANN! AKU BUNUH KALIAN SEMUAA!”

Arci, apa yang terjadi?

Tiba-tiba tubuhku di dekap. Arci, itu dia. Suamiku datang. Akhirnya…. oh, aku merindukanmu sayangku. Tapi tubuhku sakit semua. Apa yang sedang terjadi? Kenapa dia menangis? Jangan menangis. Jangan bersedih. Aku ingin menghiburmu sayangku, jangan bersedih. Kumohon!…Ciciku jangan bersedih. Kenapa kamu menangis.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Andini….Andini, maafkan aku, maafkan aku!” Arci menangis. Dia terisak. Dia berhasil meronta dari cengkraman anak buah Tommy dan berlari menuju Andini. Ia segera menyelimuti Andini yang sudah tanpa busana. Darah keluar dari kemaluan Andini dan terus keluar tanpa henti.

Tommy, Michael dan Agus tertawa. Alexandra tampak puas melihat itu semua.

“Ciciku…kamu datang?” bisik Andini.

“Ya, aku datang,” jawab Arci.

“Tubuhku sakit semua…apa yang terjadi?”

“Tak apa-apa, tak apa-apa sayangku. Tidurlah! Tidurlah! Aku akan memelukmu dengan erat.”

“Aku tahu…tapi entah kenapa…rasanya engkau akan pergi jauh.”

“Jangan katakan itu kumohon, jangan katakan itu….”

“Aku bahkan tak bisa menggerakkan badanku, perutku seperti dililit, aku bahkan tak bisa menggerakkan badanku. Sayangku…kita pulang saja yuk!?”

“Iya, kita pulang. Kita pulang! Kita pulang. Kita akan bangun gubuk, kita akan hidup sendiri. Aku akan turuti keinginanmu. Kita akan bersama, kita akan punya banyak anak. Kumohon jangan tinggalkan aku. Kumohon! Kamu adalah nyawaku, bagaimana aku bisa hidup tanpamu?”

“Apakah aku akan mati?”

“Tidak, kamu tidak boleh mati.”

“Tapi aku merasa ada sesuatu yang lepas dari diriku. Cici, semuanya gelap.”

“TIDAAAAKKK! Jangan pergi aku mohooonn! Jangaaaan! Aku akan melakukan apapun asal kamu jangan pergi. Andiniii… aku mencintaimu….aku mencintaimu…”

Lian menangis melihat itu semua. Hatinya hancur melihat putranya rapuh sekarang ini.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Ungi dan Ghea saling beradu pedang, gerakan Ungi sangat lincah seperti samurai sesungguhnya. Sabetan-sabetan pedangnya benar-benar akurat dan cepat. Ghea dengan kaki pincang tentu saja kewalahan melawan Ungi. Tapi ia terus bertahan.

“Hebat, hebat, hebat! Kamu wanita pertama yang sanggup mengimbangiku,” kata Ungi sambil bergedek.

Luka-luka di tubuh Ghea mulai bereaksi. Tapi dia harus hidup. Dan yang dilakukan olehnya sekarang adalah berpikir bagaimana agar bisa mengalahkan Ungi. Ghea menahan rasa sakit di pahanya yang robek. Darah membuat celananya makin berat. Bahkan sepatunya pun sekarang sudah berisi darahnya sendiri sehingga meninggalkan jejak di lantai. Terlebih luka sabetan pisau di perutnya membuat rasa sendiri. Ghea menyadari gerakannya mulai melambat. Ia banyak kehilangan darah. Terlebih luka di pahanya cukup dalam.

Ghea bertahan. Dia memegang gagang katananya dengan kedua tangan. Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam. Posisi kuda-kudanya sekarang seperti seseorang atlit kendo. Kedua tangan ke depan, katananya memanjang seolah-olah mengukur jarak antara dia dengan Ungi.

Ungi tersenyum sinis. Tubuhnya tiba-tiba berputar cepat sambil mengayunkan katananya ke arah Ghea. Ungi sekarang seperti angin topan. Ghea hanya bisa berdiri mematung menanti saat yang tepat untuk menyerang. Ketika Ungi menyerangnya Ghea menghindar. Gerakan Ungi sangat cepat. Untunglah terlambat sedikit saja, badan Ghea bakal terpotong menjadi dua. Bertarung menggunakan pedang bukan keahliannya, tapi kalau tidak memakai katana bagaimana cara mengalahkan Ungi?

Ungi yang merasa Ghea bisa menghindari serangannya, tampaknya tak heran. Dia kemudian melakukan lagi gerakan memutarnya, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Gadis berambut merah ini pun bertahan. Kakinya tiba-tiba terasa lagi nyut-nyut. Ghea mengumpat kepada dirinya sendiri kenapa di saat seperti ini malah merasa sakit. Akhirnya dengan tenaga seadanya ia bertahan dan menangkis serangan itu.

TRANG!TRANG!TRANG!TRANG!

Gerakan berputar itu ternyata datang bertubi-tubi. Ghea tak bisa bertahan lebih lama karena serangannya cepat dan beruntun. Ghea pun terdesak dan dengan benturan beruntun itulah tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah tendangan yang menghantam kepalanya.

BUAAKK!

Tubuh Ghea terhempas dan membentur sebuah meja yang ada di ruangan itu. Ghea tersungkur. Rasa lelah mulai merambat di tubuhnya. Mungkin dikarenakan ia merasakan sakit. Tapi ia pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya bukan? Dengan sisa-sisa tenaganya ia bertumpu kepada katananya untuk berdiri.

“Ayo, aku masih belum kalah!” kata Ghea.

Ungi pun datang secepat kilat kemudian menebaskan katananya ke tubuh Ghea. Ghea kemudian ambruk ke lantai. Melihat Ghea sudah tak berdaya, Ungi pun meninggalkannya sambil sesekali kepalanya bergedek.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“See You Again”
(feat. Charlie Puth)

[Charlie Puth:] It’s been a long day without you, my friend
And I’ll tell you all about it when I see you again
We’ve come a long way from where we began
Oh, I’ll tell you all about it when I see you again
When I see you again
(Hey)

[Wiz Khalifa:] Damn, who knew?
All the planes we flew
Good things we’ve been through
That I’ll be standing right here talking to you
‘Bout another path
I know we loved to hit the road and laugh
But something told me that it wouldn’t last
Had to switch up
Look at things different, see the bigger picture
Those were the days
Hard work forever pays
Now I see you win the better place (see you win the better place)

Uh
How can we not talk about family when family’s all that we got?
Everything I went through you were standing there by my side
And now you gon’ be with me for the last ride

[Charlie Puth:] It’s been a long day without you, my friend
And I’ll tell you all about it when I see you again (I see you again)
We’ve come a long way (yeah, we came a long way) from where we began (you know we started)
Oh, I’ll tell you all about it when I’ll see you again (let me tell you)
When I’ll see you again

(Aah oh, aah oh
Wooooh-oh-oh-oh-oh-oh)

[Wiz Khalifa:] {Yeah}
First you both go out your way
And the vibe is feeling strong
And what’s small turn to a friendship
A friendship turn to a bond
And that bond will never be broken
The love will never get lost (and the love will never get lost)
And when brotherhood come first
Then the line will never be crossed
Established it on our own
When that line had to be drawn
And that line is what we reach
So remember me when I’m gone (remember me when I’m gone)

How can we not talk about family when family’s all that we got?
Everything I went through you were standing there by my side
And now you gon’ be with me for the last ride

[Charlie Puth:] So let the light guide your way, yeah
Hold every memory as you go
And every road you take, will always lead you home, ooh ooo oh

It’s been a long day without you, my friend
And I’ll tell you all about it when I see you again
We’ve come a long way from where we began
Oh, I’ll tell you all about it when I see you again
When I see you again

(Aah oh)
{Uh}
(Aah oh)
{Yeah}
(Wooooh-oh-oh-oh-oh-oh)
{Ya, ya}
When I see you again
{Uh}
See you again
(Wooooh-oh-oh-oh-oh-oh)
{Yeah, yeah, uh-huh}
When I see you again

“Terima kasih atas cintamu sayangku. Aku tahu kalau kamu sangat mencintaiku. Aku adalah bagian terindah dari hidupmu. Tapi kalau kita tidak ditakdirkan bersama apakah yang bisa kita lakukan?”

“Pasti ada. Pasti ada yang bisa aku lakukan. Kalau kamu pergi… siapa yang akan menjadi nyawaku sekarang? Safira telah pergi, lalu kamu??”

“Ada seorang wanita yang sangat mencintaimu.”

“Siapa?”

“Kamu tidak tahu?”

“Aku tahu, tapi kenapa dia?”

“Dia sangat mencintaimu.”

“Tapi aku mencintaimu.”

“Ya, kau memang mencintaiku. Tapi aku tak bisa bersanding denganmu.”

“Setelah apa yang selama ini telah kita lakukan? Kita perjuangkan? Kamu harus pergi? Ini terlalu sakit bagiku.”

“Dia juga telah merasakan sakit. Sakit karena cintanya tak dibalas.”

“Jangan lakukan ini Andini, jangan!”

“Aku tak bisa berbuat apa-apa.”

“Biarkan aku pergi denganmu.”

“Tidak bisa, jangan! Kamu harus hidup! Cintailah dia!”

“Tak akan ada yang bisa mengisi hatiku lagi selain dirimu.”

“Bisa, kamu bisa mencintainya. Dia bisa memberikanmu kehangatan seperti yang kuberikan. Dia bisa memberikanmu kesejukan seperti yang kuberikan. Kau hanya perlu mengajarinya.”

“Andini….aku rapuh.”

“Kuatlah suamiku, kamu harus kuat.”

“Engkau adalah kekuatanku. Engkau adalah cintaku.”

“Kalau kau mencintaiku, kamu harus tegar.”

“Kenapa perjumpaan kita begitu cepat?”

“Semuanya telah digariskan. Sebagaimana Safira bilang, semua yang ada awal pasti ada akhir. Hiduplah untuk cintamu. Masih ada ibumu, masih ada Putri dan Ghea.”

“Andini….”

“Terima kasih, cinta…”

“Aku mencintaimu selamanya Andini.”

“Aku juga mencintaimu….selamanya, suamiku. Lelaki yang paling tampan.”

“Biarkan aku memelukmu. Biarkan aku memelukmu untuk terakhir kali.”

“Selamat tinggal cinta….”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Arci membisu. Nafas Andini berhenti. Jantungnya berhenti. Arci memeluk tubuh istrinya untuk terakhir kali. Ia menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Menciumnya untuk yang terakhir kali. Matanya memerah. Ia mencopot kemejanya. Terlihat kemejanya bersimbah darah karena luka-lukanya. Arci menutupkan kemejanya ke tubuh istrinya. Ia menciumi wajah yang terlihat damai itu sekarang. Ya, Andini telah pergi dengan menyunggingkan senyuman. Terlihatlah luka-luka di tubuh Arci. Bahkan Lian pun tak sanggup untuk melihat luka-luka di tubuh itu. Di punggungnya ada banyak luka sabetan, terlebih ketika Arci berbalik memperlihatkan dadanya. Ada beberapa bekas luka tertembus peluru di sana.

“Hajar dia!” kata Tommy kepada anak buahnya.

Empat anak buah Tommy yang memegangi Arci tadi langsung menuju ke arah Arci. Mereka memukul Arci, menendang, tapi Arci tak bergeming. Ia seperti mati rasa. Matanya masih menatap tajam. Pukulan demi pukulan ia terima tapi sekali lagi tak ada rasa sakit. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang lebih sakit daripada sebuah pukulan ataupun tendangan. Bahkan kalau saja dia mati hari ini, mungkin tak ada rasanya sama sekali.

Arci dengan satu tangan menangkap leher salah seorang anak buah Tommy. Kemudian menangkap tenggorokannya dan mematahkannya. KLEEK! Orang itu pun langsung ambruk. Melihat rekannya tewas begitu saja, yang lainnya berusaha menghajar Arci lagi, tapi Arci menangkap tangan salah seorang dari mereka, kemudian menekuknya ke arah berlawanan. KRAAK! Orang itu langsung menjerit. Tommy heran melihat Arci seperti itu. Dua orang lainnya berasa ketakutan. Arci mengeluarkan kapak yang ia bawa. Kapak kecil itu digenggamnya rapat-rapat setelah itu ia ayunkan ke salah seorang anak buah Tommy, tepat mengenai kepalanya. Setela itu ia cabut dan ayunkan lagi ke perut temannya.

“Aku sudah katakan, aku akan menjadi vampir malam ini. Aku akan hisap darah kalian!” kata Arci. “Aku tak akan memaafkan kalian. Aku akan hisap sampai kalian bahkan ingin menginginkan kematian!”

Tommy jadi merinding. Alexandra jadi ketakutan melihat Arci sekarang ini. Tiba-tiba Arci bergerak cepat ke arah Alexandra dan rambutnya dijambak. Gerakan cepat itu tak pernah disadari oleh siapapun, atau lebih tepatnya semuanya takut sekarang. Arci sudah tidak bisa berfikir tentang logika. Yang ada di dalam otaknya adalah membunuh semua orang.

“AAARRGHH!” jerit Alexandra. “Kamu mau menyakiti wanita?”

Arci tak peduli, ia segera membenturkan Alexandra ke lantai. Michael yang melihat istrinya diperlakukan seperti itu segera berlari ke arah Arci sambil membawa sebuah tongkat basebal. Arci dipukul-pukul kepalanya. Tapi tongkat itu berhasil ditangkap oleh Arci dengan tangan kirinya. Alexandra menggeliat di lantai. Arci mengayunkan kapaknya, kalau saja Michael tidak melepaskan tongkat baseball itu mungkin ia sudah terkena sabetan kapak Arci. Alexandra yang sekarang berada di bawah kaki Arci tampak ketakutan. Entah bagaimana Arci punya kekuatan seperti ini sekarang. Tongkat baseball itu pun diayunkan ke kepalanya. Arci dengan membabi buta terus-menerus memukul-mukul kepala Alexandra hingga remuk. Istri Michael itu pun tewas dengan kepala remuk karena tongkat baseball.

Semua orang yang ada di tempat itu merinding. Tommy mencari-cari pistolnya. Tak ada di pinggangnya, padahal harusnya ia selalu bawa. Michael menatap ngeri tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa itu. Arci membuang tongkat baseball tersebut. Ia berjalan ke arah Michael.

“Tu..tunggu dulu!” kata Michael memohon. Tommy dan Agus mundur menghindar. Arci sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Michael ketakutan, sangat ketakutan. Ia pun berlutut. “Maafkan aku, tolong jangan bunuh aku. Tom! Tommy lakukan sesuatu!”

Tommy dan Agus akan keluar ke pintu tapi Arci melemparkan kapaknya hingga menancap di pintu. Tommy dan Agus terkejut tentu saja. Arci segera menendang kemaluan Michael. Michael langsung mengerang ketika kedua telurnya dengan keras ditendang oleh Arci. Mungkin ia tak pernah menyangka dalam hidupnya bahwa kantong testisnya akan hancur hari itu dengan sekali tendang. Dan Arci menggigit lehernya. KRRAASSSHH!

“AAAAAAARRRGGGHHH!” Michael meronta-ronta agar Arci melepaskannya. Tapi gigitan Arci lebih kuat seperti serigala. Michael berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Arci tapi semakin dia mendorong gigitan itu semakin kuat. Arci menggigit Michael tepat di pembuluh nadinya. Dia menggigit sekeras-kerasnya sambil menghisap setiap darah yang keluar dari luka Michael.

Tommy begidik melihat itu semua. Terlebih Agus. Lian sungguh tak tega melihat itu ia memejamkan mata. Melihat tubuh Andini yang sudah tergolek tak bernyawa itu ia pun merasa bersalah. Bersalah dan menyesal atas dosa-dosanya selama ini. Seharusnya ia tolak cinta dari Archer. Cinta yang membawa petaka, cinta yang hanya membawa derita. Ia sendiri tampaknya tak tega melihat kondisi Arci seperti sekarang ini. Arci sekarang seperti binatang buas. Ia tak akan berhenti sampai tujuannya terpenuhi.

Michael mengerang dan meronta. Tapi tenaga Arci sangat kuat, entah dari mana tenaga itu berasal. Hingga akhirnya Michael pun lemas. Darahnya banyak yang keluar. Apalagi Arci berhasil memutuskan pembuluh nadinya. Ia pun menggigit dan menarik daging yang ia dapatkan dari leher Michael dan meludahkannya. Kini mulutnya penuh darah.

Tommy dan Agus sangat ketakutan, apa yang mereka hadapi sekarang ini bukan manusia. Ternyata mereka telah bertemu dengan binatang yang sesungguhnya. Mereka selama ini bersifat seperti binatang. Menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan mereka. Namun ketika mereka bertemu dengan keadaan yang sekarang ini, di mana manusia yang menjadi binatang sesungguhnya mereka pun takut.

Dari pintu muncullah Ungi.

“Ungi, bagus. Bunuh dia! Cepat!” suruh Tommy.

Ungi yang melihat Arci segera menerjang ke arah Arci. Dan dengan satu gerakan tusukan ke perutnya hingga katana Ungi menembus perut Arci hingga ke punggungnya. Ungi tersenyum sambil bergedek. Tapi kali ini Arci menengklengkan kepalanya. Dia menggenggam erat katana Ungi. Ungi berusaha mencabut lagi katananya. Tapi katana itu seakan-akan dijepit dengan kuat oleh Arci sehingga tak bisa dia cabut lagi.

“Brengsek! Apa yang kau lakukan?” tanya Ungi.

Arci mengayunkan kapaknya ke pundak Ungi. JLEB! KRESSS! Ungi menjerit keras. Arci mendaratkan kapak kecilnya berkali-kali ke tubuh Ungi hingga pundaknya tampak terbelah seperti sepotong kayu. Ungi melepaskan katananya dan mengerang merasakan sakit di pundaknya yang sekarang menganga dengan kucuran darah segar yang keluar dari lukanya. Ungi merayap meninggalkan Arci. Arci kemudian perlahan-lahan menarik katana itu keluar dari tubuhnya. Setelah berhasil ia keluarkan. Dengan darah yang makin banyak mengucur ia pun berjalan mengejar Ungi. Ungi ketakutan. Ia tak pernah merasakan akan dijemput oleh kematian secepat ini. Tidak di usia mudanya. Arci menginjak tubuhnya dan menancapkan katana itu persis ke wajahnya. Ungi tak pernah menyangka ia mati dengan katana miliknya sendiri.

Tommy mendorong tubuh Agus hingga Agus yang tidak siap langsung tersungkur ke depan Arci. Sementara itu Tommy keluar dari ruangan itu dan lari.

“Arci, Arci maaf, kita bisa bicarakan baik-baik. Kau bisa dapatkan lagi perusahaanmu. Anggap semua tidak terjadi OK, ampuni aku,” kata Agus.

Arci melemparkan kapaknya ke lantai. Agus menghela nafas lega. Berarti kata-katanya tadi seolah-olah telah didengarkan oleh Arci. Namun tidak, Arci langsung menggigit lehernya. KRESSS! Sama seperti yang dilakukan Arci terhadap Michael.

Agus menjerit. Ia tak pernah menyangka dalam hidupnya ia akan mati oleh pemuda seperti Arci. Pembuluh nadinya langsung putus ketika gigi Arci yang entah bagaimana bisa tajam itu mengoyak lehernya dan menghisap darahnya. Cukup lama Arci menghisap darah Agus.

“Arci, sudah! Hentikan!” kata Lian. “Hentikan nak! Kamu harus berhenti! Sudah cukup!”

Dari pintu muncullah Letnan Basuki. Melihat Arci menggigit Agus, dia langsung berteriak, “Arci, hentikan!”

DOR!

Letnan Basuki melepaskan tembakannya. Arci pun melepaskan gigitannya ke Agus lalu dia ambruk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*