Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 22

Wild Love 22

Pagi menyapaku dengan sangat ramah, tampak sedikit sinar sang surya masuk ke dalam kamarku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan kemudian bangkit, kudapati kepalaku penuh dengan perban yang di balutkan oleh tante malam tadi. Aku duduk di tepi ranjang, meliuk-liukkan tubuhku hingga berbunyi kretek kretek. Kusapu ruangan kamarku, pandanganku arah pada sebuah tumpukan kertas di meja komputerku.

ÔÇ£TA!… Bu Dian… bodoh bodoh bodoh!ÔÇØ teriak bathinku

Segera aku bangkit dan melepas celana panjangku dan kuganti dengan celana pendek. Aku turun ke lantai bawah, mencoba menemukan kehangatan akan senyum Ibu setelah semalam aku hanya mampu memandang seorang wanita yang menangisi kekasihnya. Wajahnya selalu terbayang di pikiranku saat ini. aku menuruni tangga kamar menuju lantai bawah.

ÔÇ£Mandi sayang…ÔÇØ ucap Ibu yang tampak terlihat kepalanya saja dengan senyuman manis di bibirnya yang kemudian masuk lagi

ÔÇ£Kok ndak ditutup?ÔÇØ ucapku ketika di depan pintu kamar mandi, kulihat tubuh telanjanng Ibu dari bagian belakang

ÔÇ£Ya Sudah Ibu tutup…ÔÇØ ucap Ibu sembari tanganya menarik daun pintu kamar mandi, tubuh telanjangnya sangat indah. Dengan cepat aku mencegahnya.

ÔÇ£he he he ndak usah Bu…ÔÇØ ucapku sambil tertawa cengengesan, Ibu kemudian tersenyum kepadaku dan membelakangiku lagi. Aku lepas kaos dan celana pendekkeku beserta celana dalamku. Aku kemudian masuk ke dalam dan langsung kupeluk Ibu. Ibu kemudian mematikan showernya.

ÔÇ£Kok Dimatikan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Lukamu belum kering sayangÔÇØ

ÔÇ£eh.. itu yang dibawah apa sich? Kok ndorong-ndorong pantat Ibu?ÔÇØ ucap Ibu. Aku tetap memeluk Ibu, kuletakan kepalaku di bahu kanannya. Terasa hangat dan aku terlupa akan semua rasa sakit yang aku rasakan.

ÔÇ£Mau mandi dulu atau…ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ingin peluk Ibu…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£Hmmm… beneran Cuma peluk saja?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucapku

Ibu kemudian menoleh kebelakang, tangan kanannya kemudian mendorong bagian belakang kepalaku dengan lembut. Kami berciuman dengan sangat lembut, tanganku semakin erat memeluknya. Tangan kiri Ibu kemudian mengarahkan tangan kiriku ke susu kiri Ibu. Lalu ke gerakan jari-jari dan telapak tanganku meremas susu kirinya itu.

ÔÇ£Jangan pikirkan dia, apa kamu tidak kasihan dengan Ibu?ÔÇØ

ÔÇ£kamu berpelukan dengan seorang wanita tapi pikiran kamu ke wanita lainÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Eh… maaf bu, kenapa Ibu bisa tahu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hi hi hi, aku Ibumu nak, aku tahu segalanyaÔÇØ

ÔÇ£Sekarang, Ibu dan kamu disini, dan tak boleh ada orang lainÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Iya hmmm slurpp….ÔÇØ ucapku kemudian melanjutkan kembali ciuman kami. Wajah Bu Dian kini semakin lama semakin menghilang, kehangatan dan kasih sayang Ibu membuatku kembali di masa aku tidak pernah mengenalnya. Tangan kananku mulai bergerak ke arah susu kananya dan memainkan puting susu Ibu. Tangan kanan Ibu masih di kepalaku dan tangan kirinya memegangi tangan kiriku dan kadang memberika isyarat untuk menekan lebih keras pada susu kirinya. Tangan kananku kemudian bergerak ke selangkangan ibu, kucari klitorisnya dan kumainkan secara perlahan.

ÔÇ£Ergghhhh… sayanghhh… owghh… terusshhhh shhhhh arghhhhh ahhhhhÔÇØ desahnya. Kuciumi leher Ibu dengan dan kujilati dengan lembut. Remasan susu kirinya terus aku lakukan, ciumanku semakin turun dan semakin turun. Hingga pada bongkahan pantatnta kedua tanganku meremasnya.

ÔÇ£Ergghhhh… sayang… mau di apain?ÔÇØ ucap Ibu yang menoleh ke belakang. Ku arahkan tanganku dan sedikit aku tekan punggungnya, Ibu yang mengerti maksudku kemudian menungging dan bertumpu pada bak mandi. Aku membuka bongkahan pantat itu dan ku masukan lidahkuke dalam vagina Ibu. Kujilati dengan lembut dan terkadang kasar, klitorisnya menjadi sasaran lidahku.

ÔÇ£Arghhhh.. sayang…. Arya…. itil Ibu owghhh… rasanya enakhh orghhh….ÔÇØ

ÔÇ£terushhh sssshhhhh terushhhh jilati sedot sayangkuhhh owghhhh… mainkan itil Ibu owghhhhhÔÇØ racaunya

Dengan memiringkan kepalaku aku menjilati klitorisnya dan jariku masuk dan mulai mengocok vagina Ibu. Vagina Ibu pertama terasa keset tapi lama kelamaan sedikit licin. Membuat jariku dapat keluar masuk dengan lebih mudah lagi.

ÔÇ£Aryaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. arghhhhh… nakal kamuwhhh erghhhhh…aishhhh arghhh ofthhh…ÔÇØ

ÔÇ£Terussshhh nakkh buat Ibu keluarhhhh owghhhh… nikmath sayanghhh… erghhhh….ÔÇØ

ÔÇ£jilati itil ibu nakhhhh sedothh arghhhh lebiiiih erghhhh kencenghhhhh erghhhhh….ÔÇØracaunya kembali. Aku semakin cepat mengocok dan jilatan serta sedotanku semakin liar. Tubuh Ibu bergoyang dan melengking bahkan kadang Ibu mengapit kan pahanya. Tapi dengan tangan kiriku aku bisa menahan paha Ibu agar tidak mengapit.

ÔÇ£Aryaaaa…. IBU KELUAAAAAAAAAR ARHHHHHHHÔÇØ teriak Ibu. Kepalanya disandarkan pada tangannya, lututnya menjadi rapuh dan jatuh kelantai secara perlahan. Lalu aku beranjak di samping Ibu dan memluknya dari belakang. Kuciumi punggungnya dengan sangat lembut.

ÔÇ£Ayo sayang, kamu sudah kepengen kan? ÔÇ£ ucap Ibu

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucapku yang kemudian memposisikan diriku di belakang Ibu

Dengan posisi Ibu yang masih sama dengan sebelumnya, aku mencoba memasukan batang dede arya ke dalam vagina Ibu. Perlahan tapi pasti dengan bantuan sisa cairan yang masih berada di dalam vaginanya, dedek Arya bisa masuk dengan lancar. Kubenamkan sejenak dedek arya di dalam vagina Ibu.

ÔÇ£Erghhh… sayaaaangghhhh emmmmmmhhh… tambah besar ya sayang?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Punyah Ibu ehmmmm yang tambah sempitÔÇØ jawabku. Aku mulai menggoyang pinggulku perlahan, kunikmati setiap sensasi dari jepitan vagina dan dinding dalam vaginanya.

ÔÇ£emmmmh… pelan-pelan saja sayang… Ibu ingin lama sama kamuwhhh…ÔÇØ

ÔÇ£kangenhh… erghhhh… emmmmmhhhhhÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Arya juga pengeh lama sama Ibu, kangen Ibu banget…ÔÇØ ucapku kepada Ibu

Pelan aku menggoyang dengan kedua tangan ini memegang pada pinggang Ibu kadang kedua tanganku meremas bongkahan indah pantat Ibu. Aku terus menggoyangnya pelan tapi perasaan kalut dalam diriku membuat aku semakin bernafsu. Aku teringat akan semua kejadian itu, hatiku terasa sakit. Aku tidak ingin kehilangan wanita untuk kedua kalinya, aku tidak ingin kehilangan ibu.

ÔÇ£Ibu, aku menyayangimu arghhhh…. aku ingin selalu bermasamh Ibu owghhh…. aku ingin slalu bersamamu bu hiks hiks…ÔÇØ racauku dengan tersu menggoyang semakin cepat pinggulku, kupeluk Ibu dan denga erat dan terus menggoyang pinggulku

ÔÇ£Argh… nak… Ibu akan selaluh bersmamuwh owghh… emmmmmhhh…. luapkan emosimuwh…ÔÇØ

ÔÇ£Masukan lebih dalamhhh owghhh… kontol hebathhh erghhhh…. terusssshhhh…ÔÇØ racau Ibu

ÔÇ£Aku arghhhh aku mau Ibu… selalu bersamamuwh owgh…. aku suka ibu owghhhh… kontolkuwh enakhhh di dalam ahhh tempikh ibu owghhh…ÔÇØ

ÔÇ£arghhh… ibu aku ingin Ibu selaluwhhhhh arghhhhhhhhhhÔÇØ racauku

ÔÇ£ahhhhhhhhhhhhhhhhh….ÔÇØ desah keras Ibu

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Kurasakan cairan hangat Ibu bersatu dengan cairan hangat dari dedek arya. Kupeluk manja Ibu dengan sangat erat. Air mataku melelh di pipiku. Ibu kemudian melepaskan diri dari pelukanku, membalikan badan dan duduk dihadapanku, dipeluknya aku sangat erat.

ÔÇ£Sudah, ndak perlu nangis gitu toÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£hiks hiks hiks pokoknya Arya sama Ibu tersu saja…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya… iya, Ibu bersihkan dulu dedek arya kamu iniÔÇØ ucap Ibu, kepalanya kemudian turun kebawah mengulum dan menjilati dedek arya dengan lembut. Terasa hangat dan lembut, mulut dan lidah Ibu.

ÔÇ£Bu,erghhhh… aku pengen peluk Ibu mmmmmhhhÔÇØ ucapku. Ibu kemudian bangkit dan memandangku, membuka luas kedua tanganya. Kupeluk dengan lembut tubuhnya.

ÔÇ£Dengan Ibu aku tidak pernah merasakan pedihÔÇØ ucapku

ÔÇ£Karena aku IbumuÔÇØ

ÔÇ£Sudah, kamu jangan khawatir dengan IbuÔÇØ ucapnya lembut

Ibu kemudian membasuh semua tubuhku, diguyurnya tubuhku dengan air. Aku dan Ibu mandi bersama, teringat masa kecilku ketika itu. Sentuhan-sentuhan halus dan hangat pada tubuhku menghilangkan dinginya air yang membasahi tubuhku. Selesai mandi aku kemudian makan bersama Ibu, benar-benar suasana romantis, terkadang aku sudah tidak dapat membedakan dia Ibuku atau pacarku.

Didepan televisi, setelah kami makan bersama, aku hanya termangu melihat layar hitam televisi yang tidak menampakan gambar. Ibu kemudian membawakan aku teh hangat dan duduk disebelahku. Disandarkannya kepala Ibu di bahu kiriku.

ÔÇ£semakin bertambah umur seseorang akan semakin tua dan semakin dewasa dirinya, pahit manisnya kehidupan akan berjalan seiring dengan bertambahnya umurÔÇØ

ÔÇ£Semua yang kamu alami adalah sebuah awal pendewasaan kamu nak, tak ada cinta yang tidak membawa sakit hati, karena semua cinta pasti membawa sedikit benih rasa sakit agar kamu tahu makna cinta yang sebenarnyaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Apa harus sakit dahulu agar mengerti cinta?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£orang yang pernah merasakan sakit pasti bisa lebih menata hatinyaÔÇØ ucap Ibu. Ibu kemudian bangkit dan memegang kepalaku dipandangnya kedua mataku

ÔÇ£Kamu mencintai Ibu dan Ibu juga mncintai kamu nak, tapi hubungan ini tidak dapat berlangsung lama, Ibu sudah pernah mengatakannya kepadamu dan kamu tahu bahwa ini harus berakhirÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Hmmm…ÔÇØ gumamku yang tak bisa melanjutkan kata-kata, kupandangi senyuman Ibu yang dilemparnya kearahku. Kusatukan keningku dengan kening Ibu.

ÔÇ£Kita akan kembali ke tatanan seharusnya bu, tapi bukan dalam waktu sekarang dan Arya harap Ibu tidak membahas ini lagi sebelum waktu itu semakin dekatÔÇØ

ÔÇ£Ibu boleh memberiku nasehat tapi bukan yang berkaitan dengan kita berdua, Arya ingin semuanya sesuai dengan waktu yang akan datang tersebutÔÇØ ucapku. Ibu memandangku dengan tatapan mata yang teduh

ÔÇ£nak, Ibu akan selalu mencintaimu, hingga ada waktu yang tepat untuk kembali menjadi seperti dulu lagi dan kamu harus berjanji untuk tetap melindungi IbuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Arya janjiÔÇØ ucapku. Kami kemudian berciuman mesra, saling melumat dan menyedot bibir masing-masing.

ÔÇ£Bu, Arya masih bisa bobo sama Ibu kan?ÔÇØ ucapku cengengesan

ÔÇ£ini anak iiiiiiiiiiiiiiih nakal amat, ntar malam kalau dia belum pulangÔÇØ ucap Ibu dengan nada bercanda sambil mebetet hidungku

ÔÇ£Ibu tidak ingin kamu kehilangan masa mudamu seperti Ibu, maka Ibu akan tetap bersamamu sampai ada seorang wanita mau menggantikan posisi ibu…ÔÇØ

ÔÇ£As your loverÔÇØ ucap Ibu lembut

ÔÇ£And i will let you go, till that girl come to you…ÔÇØucapku mengiyakan. Dalam hening kami berpelukan, kurasakan lembut wangi tubuhnya dalam dekapanku.

ÔÇ£Kamu ndak jenguk pak felix?ÔÇØ ucap Ibu. Selepas kami berpelukan.

ÔÇ£Ndak, males…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dian ya?ÔÇØ ucap Ibu yang tahu alasan kenapa aku malas menjenguk pak felix

ÔÇ£tuh sudah tahuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ya ndak gitu to ya, katanya dulu pengen jadi ksatria pelindung, masa ksatria gampang sakit hati?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Yang namanya ksatria, harus punya hati yang kuat dan lapang, okay?ÔÇØ ucap Ibu, aku hanya tersenyum aku kemudian bangkit dan ke kamar untuk berganti pakaian. Segera aku sambar perlengkapan tempurku. Segera aku turun dan pamit dengan Ibu.

ÔÇ£Ingat, wanita itu inginnya dimengerti kalau kamu tidak menginginkan wanita itu ya tidak usah kamu mengerti keinginannya, tapi kalau kamu menginginkan dia kamu harus mencoba mengerti keinginannya dan bersikaplah sewajarnya jangan terlalu dingin sama wanita, okay?ÔÇØ ucap Ibu sembari memberikan ciuman hangat pada bibirku kubalas ciumannya, lalu Ibu meberikan aku buah tangan untuk pak felix dan segera aku berangkat menuju rumah sakit.

Laju motor REVIA bergerak dengan sangat cepat, gas kutarikhingga maksimal. Saking cepatnya sebuah motor SATRIYA dapat menyalipku dengan sangat mudah bahkan motor TOSYA roda tiga pun dapat dengan mudah melewatiku. Dan sampailah aku di depan sebuah RS terkenal di daerahku. Aku berhenti untuk menunggu sebuah keajaiban seperti halnya motor yang didepanku tadi.

ÔÇ£Mas, cepetan! Woi panas ini! malah berhentiÔÇØ ucap seseorang pengendara di belakangku

ÔÇ£Bentar pak, ini palangnya ndak mau naikÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£Lha goblok banget to mas, itu tombol ijo-nya dipencet mas, sampai kucing bertelur ndak bakalan mbuka mas kalau ndak dipencet!ÔÇØ teriak pengendara itu lagi

ÔÇ£Ndak tahu pak he he he, maklum wong ndesoÔÇØ ucapku, segera ku pencet tombol hijau itu dan terbukalah palang pintu parkir. Segera aku parkir motorku di tempat yang teduh agar kulit recia tetap kinclong dan mempesona

ÔÇ£Mas!ÔÇØ ucap seseorang di belakangku sambil mennepuk bahuku, dan ternyata itu adalah pengendara yang tadi dibelakangku

ÔÇ£Ada apa ya pak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ini karcisnya tadi ndak kamu ambil, gimana to mas-nya itu, ndeso-ndeso mas tapi jangan malu-maluinÔÇØ ucap bapaknya sambil menyerahkan karcis itu, akupun berterima kasih kepada bapaknya walau sedikit ada rasa malu

ÔÇ£Sialan! Untuk ndak ada orang coba kalau di sini banyak orang bisa-bisa jadi bahan tertawaan, itu juga mau masuk parkir saja ada mesin yang otomatis segalaÔÇØ ucapku, kalau diingat-ingat sewaktu aku ke gramedia dan bertemu budhe waktu itu ada tukang parkirnya di dalam box. Dasar aku-nya saja yang ndeso mungkin. Segera aku berjalan ke arah pintu masuk utama rumah sakit dan kutanyakan kepada bagian administrasi mengenai pasien bernama Felix yang masuk tadi malam.

ÔÇ£Ruang Hati nomor C-1-N-7-4ÔÇØ ucap mbaknya yang jaga

ÔÇ£kok anehÔÇØ bathinku

ÔÇ£Ini dimana ya mbak, ada petunjuknyaÔÇØ ucapku kepada mbaknya yang memakai kerudung putih dengan senyum yang manis

ÔÇ£Petunjuknya di hati saya mas, mas-nya ke hati saya saja bagaimana?ÔÇØ ucap mbaknya. Glodak, sial ternyata aku kena gombal

ÔÇ£Waduh…ÔÇØ ucapku sambil tepuk jidat mbaknya hanya tersenyum

ÔÇ£hi hi hi… ruang lavender mas nomor…. nomor mas berapa?ÔÇØ ucap mbaknya lagi

ÔÇ£nomor apa mbak? Kalau nomor pacar saya, saya punya mbak, gimana?ÔÇØ ucapku, seketika wajah mbaknya sedikit cemberut ke arahku. Walau secara de jure aku memang tidak mempunyai pacar tapi secara de facto aku punya pacar, Ibu.

ÔÇ£nomor 69 mas, tuh ada petunjuknyaÔÇØ ucap mbaknya jadi ketus. Langsung aku sodorkan tanganku ke arah mbaknya

ÔÇ£Arya, Arya Mahesa Wicaksono, maaf jika membuat mbak marah, hanya saja saya bukan tipe orang yang suka bohong, tapi saya suka ketika mempunyai banyak teman atau sahabatÔÇØ ucapku dengan senyuman, disambutnya tanganku denga lembut

ÔÇ£Erlina, Erlina Eka Pangestuti, memang kelihatannya mas lebih cocok jadi sahabat daripada pacar ehemÔÇØ ucapnya dengan senyum, ditariknya tanganku dan ditulisnya sebuah angka dan huruf di telapak tanganku

ÔÇ£Invite ya mas hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Mbak, aku invite tapi janji dulu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£janji apa mas?ÔÇØ tanyanya

ÔÇ£sahabat selamanya, okay? No LoveÔÇØ ucapku dengan santai

ÔÇ£Okay, bestfriend with no loveÔÇØ ucapnya. Aku kemudian beranjak dari tempat itu, sambil berjalan aku menginvite erlina di BBM-ku. Sial kenapa juga aku harus memperkenalkan diriku kepada erlin, arghhh masa bodoh yang penting aku sudah bilang sama dia kalau aku hanya ingin jadi sahabatnya. Tapi aneh juga ya kenapa dia tiba-tiba ngegombal ke aku? Ah masa bodoh! Ku ikuti petunjuk arah keruang lavender, mungkin karena ndesonya aku jadi aku tidak memanfaatkan lift yang tersedia, hanya mengikuti petunjuk ke kanan ke kiri naik tangga dan lain sebagainya. Terdengan sebuah bunyi pukulan pada sematponku, kubuka. Erlina. Sambil berjalan mengikuti petunjuk arah, aku memainkan sematponku.

From : Erlina
PING!
To : Erlina
Ya mbak
From : Erlina
Cuma ngecek beneran kamu ndak yang invite aku
To : Erlina
Fotonya dilihat tuh mbak, foto siapa, masa aku bohong
From : Erlina
Hi hi… iya dech percaya
To : Erlina
Hadeeeeh…
From : Erlina
Met jalan-jalan muter-muter ya
To : Erlina
Owh aku dikerjai nich ceritanya?
From : Erlina
Salah sendiri ndak pake lift he he he
To : Erlina
Awas kalau ketemu
From : Erlina
Hi hi…
Braaakkkkk…..

ÔÇ£Aaaa…..ÔÇØ teriak seorang wanita memakai jas putih yang hampir terjatuh. Dengan cepat aku raih punggungnya dengan tangan kananku, buah tangan dan sematpon sementara aku tidurn di lantai alias jatuh. Wajah nan Ayu rambut panjang terurai dengan kaca mata menghiasi wajah manisnya. Segera aku bangkitkan tubuhnya.

ÔÇ£Maaf… maaf mbak… maaf….ÔÇØ ucapku sambil membungkuk-bungkuk di hadapannya

ÔÇ£Masnya itu kalau jalan hati-hati kenapa?ÔÇØ ucap wanita tersebut. Aku hanya tersenyum memandangnya dengan senyum cengengesanku

ÔÇ£Ndak ada yang kurang kan mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kalau kurang memangnya mau ganti rugi?ÔÇØ ucap wanita tersebut

ÔÇ£Ya ndak juga mbak, saya minta maaf sebesar-besarnya jika pakaian mbak kotor atau apa saya siap menanggung resikonyaÔÇØ ucapku dengan tersenyum dengan sedikit cengengesan

ÔÇ£Okay, ganti rugi makan siang , bagaimana?ÔÇØ ucap mbaknya. Kulihat sepintas pakaiannya, jas lab putih dengan celana kain hitam panjang dihiasi sepatu hitam berhak tidaj terlalu tinggi.

ÔÇ£Waduh…ÔÇØ

ÔÇ£Masa, saya yang orang biasa seperti ini harus ganti rugi makan siang mbak, yang ada mbak dokter yang traktir sayaÔÇØ ucapku

ÔÇ£hi hi hi… sudah mas tenag sajaÔÇØ

ÔÇ£Emmm…. mas-nya itu tadi yang bikin gara-gara di pintu masuk parkir ya?ÔÇØ ucap mbaknya dokter, yang kemudian membuat suasana semakin akrab

ÔÇ£gara-gara ditempat parkir? Bukan mbak, mbaknya salah lihat mungkinÔÇØ ucapku, mau garuk-garuk kepala juga susah masih ada perbannya.

ÔÇ£Lha tadi bikin antrian panjang, ya kan? yang ndak mencet tombol hij…ÔÇØ ucap mbaknya dokter terpotong. Langsung saja aku mendekat dan menyilangkan jariku di bibirnya, entah keberanian dari mana tapi itu hanya sekedar reflek

ÔÇ£Sssssttt… jangan keras-keras mbak ntar saya bisa jadi komedian disiniÔÇØ ucapku

ÔÇ£ini tangan ngapain sich nyampe siniÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh… maaf maaf reflek mbak, mbaknya dokter sich keras-kerasÔÇØ ucapku

ÔÇ£mbaknya dokter-mbaknya dokter, apa ndak bisa baca name text-ku?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£AS-MA-RA ME-DI-TAÔÇØ

ÔÇ£iya mbak asmara, maaf kalau saya lancang, maaf maafÔÇØ ucapku

ÔÇ£Panggil saja aku Ara, kamu mau kemana?ÔÇØ ucap Ara

ÔÇ£Mau ke ruang lavender nomor 69 mbak, mbak dokterkan disini? Pasti tahu dongÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya masih di lantai atas, kenapa kamu ndak naik lift saja dari bawah kan malah cepetÔÇØ ucap mbak Asra

ÔÇ£Dikerjai sama mbaknya yang dibawah owk, jadi ya jalan kaki saja mbak biar sehat he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£Pantes!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Pantes kenapa mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Pantes kalau kamu itu ndeso, ada lift kok ndak dipake, ada tombol kok ya ndak dipencetÔÇØ ucap mbak Asra

ÔÇ£Sudah dech mbak jangan di ingatkan lagi, saya jadi malu, lagian mbak Ara kok tahu kalau saya tadi bikin huru-hara di tempat parkir?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku tadi yang membonceng bapaknya, yang neriaki kamu… eh ngomong-ngomong siapa nama kamu?ÔÇØ ucapmbaknya

ÔÇ£Arya mbakÔÇØ ucapku sembari menyodorkan tanganku dan disambut olehnya

ÔÇ£ya sudah mbak kalau begitu, sebelumnya saya minta maaf, saya mau melanjutkan perjalanan duluÔÇØ

ÔÇ£tapi mbaknya ndak bohongkan kalau levender diruang atas?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau bohong cari aku, nanti aku akan traktir makan siang sepuasnyaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh.. gimana cara nyari mbak?ÔÇØ ucapku lugu

ÔÇ£ni kartu namakuÔÇØ ucapnya sembari menyodorkan kartu namanya, kenapa hari ini aku dapat kenalan cewek? Double lagi? Bodoh ah!

ÔÇ£wah kalau berobat sama mbak gratis ya he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya dech, di awal ya tapi nanti kebelakangnya bayar dobelÔÇØ ucapnya dengan senyum mengejekku

ÔÇ£sama aja mbak, mending aku berobat ke dokter lainÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hi hi hi kamu lucu juga, itu kenapa kepala pakai perban?ÔÇØ tanya mbak Ara

ÔÇ£Biasa mbak, cowok, ber… an… temÔÇØ ucapku semakin pelan dan mengeja karena mabak ara tiba-tiba dia mendekat dan membenarkan perban di atas kepalaku. Aroma wangi parfum semerbak masuk kehidungku

ÔÇ£Besok lagi ndak usah berkelahi lagi ArÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Eh… iya mbak, terima kasihÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya sudah, cepat sana ke lavender, kasihan yang nungguin kamu entarÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Oke, mbak, duluan ya mbakÔÇØ ucapku, segera aku melangkah kembali menuju tangga padahal dan kemudian menaikinya, memang lebih enak menaiki tubuh wanita ketimbang menaiki tangga eh… kenapa aku punya pikiran kotor? He he he… sampailah aku pada ruang lavender no 69.

ÔÇ£bener-bener gila ini yang buat rumah sakit, luas banget, bikin pegel sajaÔÇØ bathinku berkeluh kesah. Kubuka kartu nama mbak ara, dan aku kemudian sms mbak ara.

To : Ara
Mbak, terima kasih, mbaknya dokter bener
From : Ara
Iyalah Aryaaaa,
Oia, besok-besok lagi kalau sudah dikasih tahu sama yang lebih tahu
Naik lift, sudah dibilangin lantai atas masih saja naik tangga, ndeso!
To : Ara
Iya iya, aku Ndeso….
From : Ara
Marah nih ya?
To : Ara
Ndak juga, kalau marah sama mbak bisa di tikam sama pacar mbak
From : Ara
Paling pacarku ndak berani sama kamu ar
Dia ndak jago berkelahi kaya kamu yang doyan berkelahi
To : Ara
KDL he hehe
From : Ara
Apaan tuh?
To : Ara
Kasihan Dech Loe ha ha ha
Gimana nanti kalau ada preman yang ngegodain mbak coba?
Masa pacar mbak diem aja?
From : Ara
Awas kamu kalau ketemu lagi!
To : Ara
Tenang saja mbak, mbak ndak bakal ketemu sama aku lagi kok
From : Ara
Oh ya?!
AWAS KAMU POKOKNYA!
To : Ara
Serem he he he
Met aktifitas mbak
From : Ara
Okay, sama-sama Ar
Setelah bersms ria dengan mbak ara, segera aku membuka pintu kamar itu, tak ada seorang pun disitu kecuali pak felix yang berbaring dan sedang asyik main game di sematponya.

ÔÇ£Pak Felix…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Oh… Hai Ar, apa kabar? Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?ÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£seharusnya yang tanya begitu kan saya pak, kan saya yang jenguk bapakÔÇØ ucapku, sambil meletakan buah tangan dari Ibu

ÔÇ£Oh iya, ya beginilah Ar, ada beberapa tulangku yang patah sewaktu di injak-injak kemarin, kamu bagaiman? Makasih buat buah tanganyaÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£Sudah biasa pak, tenang saja. Iya pak sama-samaÔÇØ ucap pak felix, tak kulihat Bu Dian disana, tampak sepi namun aku enggan menanyakan keberadaanya. Aku kemudian duduk di kursi di sebelah kiri pak felix, membelakangi pintu masuk. Lama kami bercakap mengenai kejadian semalam dan juga perkuliahan di semester depan. Canda dan gurau menghiasi pembicaraan kami berdua.

Bugh… pukulah ringan dibahuku

ÔÇ£Ngapain kamu disini Ar?ÔÇØ ucap seorang laki-laki di belakangku, aku menoleh

ÔÇ£Lho, Om Heri? Bukanya om heri ada di luar kota? ÔÇØ ucapku kepada Om heri, adik tante asih

ÔÇ£Aku pindah dinasÔÇØ ucap om heri

ÔÇ£Kata tante asih, di luar kotaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya Tantemu itu belum tahu, Seharusnya bulan depan aku pindahnya tapi karena sudah kangen rumah, om mendesak pihak kedinasan untuk mempercepat kepindahanku, jadi tante asih kaget tadi waktu om her disiniÔÇØ ucap om heri

ÔÇ£Bagaimana keadaanmu Lix?ÔÇØ ucap Om Her ke pak felix

ÔÇ£Ya beginilah mas, kalau tidak ada Arya sama teman-temannya mungkin sudah lebih parah lagi masÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£Arya ini hadeeeeeh… kakak kelasnya saja sampe nangis-nangis dikerjai sama dia, nakal memang anak iniÔÇØ ucap Om Heri

ÔÇ£Lho kalian sudah saling kenal?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Felix itu adik kelas SMA om her, jadi ya kenalÔÇØ

ÔÇ£Dan jangan berkelahi lagi!ÔÇØ ucap om her sedikit membentak, aku hanya tersenyum cengengesan di hadapannya.

ÔÇ£Sudah mas, ndak papa, ponakanmu ini orang hebat masÔÇØ bela pak felix

ÔÇ£tuh denger kata pak felix om he he heÔÇØ ucapku dengan sedikit sombong

Kami kemudian melanjutkan percakapan kami. Om her menceritakan mengenai rumah sakit luar kota dan betapa kangennya dirinya dengan rumah. Akhirnya dia pindah dinas agar bisa lebih dekat denhi gan Ayah Ibunya atau adik dari kakekku. Lama kami mengobrol akhirnya waktu menunjukan pukul 11:30. Aku kemudian keluar sebentar untuk menyulut rokok.

ÔÇ£Di atap gedung saja Ar, di sana smoking areanyaÔÇØ ucap Om Her, aku hanya mengangguk mengiyakan, aku keluar menuju tangga ke atap gedung. Baru beberapa langkah menuju tangga tersebut muncul wanita yang sudah tidak asing lagi dengannya, Tante Asih dan juga Dosen judes, Bu Dian yang membawa air mineral. Walau di awal perkuliahanku dia tampak judes, setelah banyak yang dilalui dan melibatkan aku dan dia pandangannya menjadi pandangan yang teduh kepadaku. Bodoh Ah!

ÔÇ£Tan… te…. he he heÔÇØ ucapku ketika berhadapan dengan mereka berdua

ÔÇ£APA!ÔÇØ bentaknya

ÔÇ£ndak papa tante…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Sekarang bersihkan lantai ini dan harus bersih!ÔÇØ ucap tante tiba-tiba menghukumku

ÔÇ£Lho tan, kan ada tukang bersih-bersih disini, dan mereka dibayar untuk itu, kenapa harus aku?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Membantah? Berani membantah sekarang?ÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£ndak tan, Arya ndak berani membantah tanteÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hi hi hi…ÔÇØ Bu Dian mengejekku

ÔÇ£Iya Ar, kamu bersihkan , lagian tante kamu tadi sudah minta ijin ke Pak Dhe, kalau nanti Arya kesini suruh ngepel lantai, gituÔÇØ ucap lelaki yang berada dibelakang tante asih dan bu dian. Pak Dhe Anas, sahabat dari Pak Dhe Andi merupakan kepala rumah sakit ini atau bisa dibilang direktur utama rumah sakit.

ÔÇ£Pak Dhe Anas, memang beneran begitu pak dhe?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya…!ÔÇØ bentak tante asih

ÔÇ£Ya ndak juga, tapi kalau hukuman karena berkelahi diijinkan kokÔÇØ ucap pak dhe Anas yang langsung berjalan meninggalkan kami bertiga. Jelaslah Pak Dhe Anas tahu kelakuanku, dia sahabat pakdhe andi sejak kecil dan tahu bagaimana kecilku hingga besarku.

ÔÇ£Argghhh… Hmmmm….ÔÇØ gerutuku

ÔÇ£Dah, mulai dibersihkan, Dian, kamu jaga Arya, kalau nanti dia tidak serius membersihkannya kasih tahu mbak, biar seluruh rumah sakit dia yang mengepel, aku akan periksa Felix duluÔÇØ ucap tante yang kemudian meninggalkan kami berdua.

ÔÇ£iya mbakÔÇØ ucap Bu Dian. Di hadapanku berdiri seorang wanita yang pernah membuatku terbang tinggi walau akhirnya sayapku patah dan terjatuh dihadapanya.

ÔÇ£selamat siang bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£siang Arya ehem…ÔÇØ ucapnya dengan senyuman lembut. Aku pamit melangkah menuju ruang tukang bersih-bersih atau lebih kerennya dipanggil OB. Setelah menjelaskan kepada OB-OB disana aku diambilkan alat pembersih. Aku kemudian kembali ke tempat Bu Dian berada, Bu Dian hanya duduk manis menatapku yang sedang membungkuk membersihkan lantai. Entah mimpi apa semalam aku hingga bisa menjadi seorang OB di rumah sakit. Tapi anehnya kenapa Bu Dian sekarang tampak dekat dengan tante asih?

ÔÇ£Yang itu belum Ar…ÔÇØ ucap Bu Dian sambil menunjuk lantai dibawah kursi

ÔÇ£iya Bu…ÔÇØ ucapku pelan dan datar

Aku segera memmbersihkan yang ditunjuk oleh Bu Dian, dengan cepat aku bersihkan. Tubuh yang masih terasa sakit tapi tak aku hiraukan dan tetap mebersihkan lantai hingga sudut-sudut sempit yang tidak terjangkau. Mungkin aku memang mempunyai keahlian tukang bersih-bersih. Saat aku membersihkan lantai, sedikit aku melirik ke arah bu dian. Dia sedang membuka air mineralnya kemudian dituangkan sedikit ke alas sepatunya. Di injakannya sepatu itu di depannya agak jauh, dan jelas akan terstempel sebuah tanda sesuai dengan bentuk alas kakinya.

ÔÇ£Ar… ini masih kotor…ÔÇØ ucap Bu Dian. Dengan diam aku membersihkan lantai di depannya, ketika sudah bersih aku kembali ke lantai lain yang belum dibersihkan.

ÔÇ£Ar, ini juga masih kotor…ÔÇØ ucap Bu Dian menunjukan sebuah stempel alas sepatunya lagi didepannya yang baru saja aku bersihkan dengan jarak yang lebih dekat dengan bu dian dari sebelumnya.

Aku tidak menjawab atau apapun aku kembali ke tempat itu, dan membersihkannya lagi. Aku kemudian mebersihkan lantai yang lainnya lagi. Tapi Bu Dian sekali lagi melakukan hal yang sama dengan stempel alas kakinya semakin dekat dengannya. Ketika aku memandangnya, dia membuang muka dan bergaya sambil bersiul-siul walau tidak ada bunyi yang keluar dari siulannya itu. Kejadian itu berulang hingga tujuh kali dan yang ketujuh, stempel alas kakinya itu berada tepat didepannya. Aku berdiri di depannya dan menatapnya, kini Bu Dian menatapku dengan lembut

ÔÇ£Ndak boleh marah lho Ar, nanti dimarahi sama tantemuÔÇØ ucap Bu Dian santai. Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi jika nama itu disebutkan. Aku bersihkan sebersih-bersihnya dan ketika aku berbalik ke tempat lain aku sedikit melirik ke arah Bu Dian, kulihat Bu Dian akan melakukan hal itu lagi. Dengan cepat aku bergerak mendekatinya dan mencegahnya. Ku sandarkan lap pel itu dan aku pegang kedua sepatunya itu dengan kedua tanganku. Hingga kedua tanganku terinjak kakinya, dengan segera aku lepas sepatu di kakinya.

ÔÇ£Kaki Ibu sakit ya? Arya pijatÔÇØ ucapku dengan nada datar tanpa memandangnya sama sekali. Entah darimana ide ini muncul yang jelas aku tidak mau dikerjai terus-terusan. Aku kemudian memijat-mijat ringan pada kakinya yang sebenarnya tidak terluka ataupun sakit. Sedikit aku melirik ke atas, wajahnya tampak sekali sumringah dan tidak ada penolakan.

ÔÇ£Eh…ÔÇØ dia terkejut dengan pijatan-pijatan kecilku

ÔÇ£Mbak Diah beruntung ya punya pacar kamu, baik dan tidak gampang jengkel walau dikerjai habis-habisanÔÇØ ucap Bu Dian tiba-tiba

ÔÇ£Iya…ÔÇØ ucapku datar

ÔÇ£Kalau boleh tahu, ketemu dimana?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Di rumahÔÇØ ucapku

ÔÇ£Deket rumah ya, wah asyik dong kalau ngapel ndak perlu jauh-jauhÔÇØ

ÔÇ£Apa dia benar pacarmu Ar?ÔÇØ ucapnya dengan nada penasarannya

ÔÇ£Setiap hari saya bisa ngapel kok BuÔÇØ

ÔÇ£Seandainya iya, ada yang salah? Dan seandainya tidak, kenapa Bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh.. tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja apa dia benar pacarmu atau tidakÔÇØ ucapnya, kemudian tatapan kami beradu

ÔÇ£karena dia terlihat lebih tua darimuÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Kan Cinta tidak memandang usiaÔÇØ ucapku dengan santai, dan aku kembali memijit kakinya

ÔÇ£I… iya… 28 ya umurnya?ÔÇØ ucap Bu Dian, mencoba menebak umur Ibu

ÔÇ£Eh… muda banget ternyata Ibu dimata orang lainÔÇØ bathinku

ÔÇ£Tidak tahu…ÔÇØ ucapku yang kemudian memasangkan sepatunya kembali pada kakinya lalu bangkit

ÔÇ£Sudah, kaki Ibu kalau sakit dipijitkan langsung saja tidak usah diinjak-injakan kelantai kasihan nanti yang membersihkan buÔÇØ ucapku sambil memandang wajahnya yang menengadah memandangku. Ku angkat kakiku dan melangkah mengambil lap pel.

ÔÇ£Apa dia benar pacarmu Ar?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Apakah pada saat ujian skripsi nanti, ada pertanyaan seperti itu bu?ÔÇØ

ÔÇ£Seandainya dia bukan pacarku ataupun iya, itu juga tidak menguntungkan atau bahkan merugikan Ibu kan?ÔÇØ ucapku sambil membalikan badan dan tersenyum kepadanya

ÔÇ£eh… iyaÔÇØ ucapnya sambil menunduk dan aku berjalan ke arah ruang OB

ÔÇ£Tapi aku yakin dia bukan pacarmu… ArÔÇØ ucap Bu Dian. Membuatku sedikit kaget, tertegun dan berhenti lalu kembali melangkah menuju ruang OB. Aku masuk dan di dalam ruang OB tidak ada seorang pun. Aku bersandar kemudian pada pintu tersebut hingga tubuh ini melorot jatuh ke bawah hingga kedua siku tanganku bertumpu pada lututku

ÔÇ£Kenapa kamu sangat peduli padaku bu? Tapi setelah malam itu sikapmu memperlihatkan aku bukan orang yang pantas kamu pedulikanÔÇØ bathinku

Aku kemudian bangkit dan keluar dari ruangan tak kulihat lagi Bu Dian di tempat duduk itu. Kuangkat kakiku menuju ke atap gedung. Kurogoh sakuku dan kupandangi pemandangan kota dari atas gedung. Tampak semua bangunan terlihat sangat kecil dan mungil.

ÔÇ£Kamu itu harusnya jujur pada dirimu sendiri, bukannya malah bersikap aneh seperti itu!ÔÇØ ucap tante asih dari belakangku, aku menoleh sebentar kemudian membuang pandanganku ke pemandangan itu lagi

ÔÇ£Tante tahu kamu sukakan sama Dian?ÔÇØ ucap Tante Asih

ÔÇ£Jujurlah Ar, tidak ada salahnyaÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£Tante, dia terlalu tua untukku dan tentunya tante masih ingat kejadian yang menimpa om heri?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Eh…ÔÇØ

ÔÇ£Iya aku masih ingatÔÇØ ucap tante Asih

ÔÇ£Om heri sudah bertunangan dengan kekasihnya, dan tante tahu sendiri mereka harus berpisah karena ada lelaki lain yang menyatakan cintanya kepada kekasih om heriÔÇØ

ÔÇ£Jika tante memaksaku, berarti tante senang dengan apa yang dialami oleh om heriÔÇØ ucapku

ÔÇ£Beda, saaaaangat berbeda…ÔÇØ

ÔÇ£Kekasihnya bukan wanita baik-baik, dan tante sudah tahu itu, tante pernah mengingatkan om kamu namun dia tetap bersikeras, ketika itu semua terjadi, tante dan keluarga cukup senang walau kami semua tahu Om kamu merasakan patah hati yang mendalam. Tapi lihat sisi baiknya, dia kemudian tahu siapa kekasihnya dan mendapat istri yang lebih, lebih baik dari kekasihnya yang duluÔÇØ

ÔÇ£Dan perlu kamu ketahui, kekasihnya yang dulu itu pernah minta balikan lho, tapi om heri tidak mau karena istrinya lebih dari mantannya ituÔÇØ ucap tante Asih

ÔÇ£Kasus Dian berbeda, di dalam hatinya…ÔÇØ ucap tante asih terpotong

ÔÇ£di dalam hatinya apa tante?ÔÇØ ucapku penasaran

ÔÇ£ehem…ÔÇØ tante tersenyum kepadaku

ÔÇ£di dalam hatinya ada cinta yang hanya bisa di temukan oleh orang yang benar-benar dia harapkanÔÇØ ucap tante asih seakan-akan mengalihkan kata-katanya

ÔÇ£Semua juga tahu itu tante, dan orang itu adalah pak felixÔÇØ

ÔÇ£Arya tidak perlu ikut campur urusan mereka merusak hubungan dengan orang lain adalah salah, titik, ÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Eh…ÔÇØ tante terkejut dengan ucapanku

ÔÇ£Terserah kamu Ar, tapi yang jelas, cinta itu tidak bisa dipaksakan dan harus jujur, cinta harus mencari wadah yang sesuaiÔÇØ ucap tante, aku hanya memandangnya dan kembali memandang pemandangan itu lagi

ÔÇ£Erghhh… Ibu? Ah kenapa aku teringat Ibu, cinta kita, wadah kita? Aaargghhhhhh… tidak sesuai tapi untuk saat ini aku tidak ingin pergi dari Ibu. Bu Dian? Bodoh Ah!ÔÇØ bathinku

ÔÇ£Bagaimana semalam? Apakah dian terlihat sangat cemburu ketika Ibu kamu mengaku pacar kamuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Heeeh… ternyata itu taktik Ibu dan tante? Ndak tahu tanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kalau dari penuturan Ibu kamu, Dian tampaknya sangat cemburuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kenapa harus cemburu, lha wong dia sudah punya pak felixÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£AAAAAAAAAAAAAAAAUUUWWWWW!ÔÇØ teriakku karena mendapat cubitan dari ante

ÔÇ£DASAR LELAKI EGOIS! TIDAK PEKA!ÔÇØ

ÔÇ£tante mau turun lagi huhÔÇØ ucap tante judes meninggalkan aku

ÔÇ£Eh tan. Kabar ilman, paijo dan lucas, gimana?ÔÇØ ucapku mengehntikan langkahnya. Tante kemudian berbalik memandangku

ÔÇ£Banyak tulang yang patah dan dapat dipastikan dia tidak akan bisa bergerak senormal mungkin seperti sekarang ini, polisi akan menahan mereka setelah keluar dari RS karena ada beberapa kasus kekerasan yang melibatkan mereka bertigaÔÇØ ucap tante

ÔÇ£Lho memangnya mereka satu komplotan? Setahuku hanya ilman dan paijo yang saru hatiÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dari penuturan polisi, mereka itu komplotan dan sudah melakukan beberapa kejahatan, lha kalian itu koplak masa ndak tahu mengenai ini?ÔÇØucap tante

ÔÇ£Yeee… kita kan udah berhenti ugal-ugalan didaerah, kan pada sibuk sama kesibukan masing-masing, ditambah lagi satpam dari rumah sakit selalu mengawasi kita semua he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya iyalah, kalau kalian tidak tante awasi bisa-bisa kalian tambah urakan, ya sudah tante turunÔÇØ ucap tante yang kini menghilang dari pandanganku

Ilman da paijo serta lucas, aku tidak pernah tahu mengenai sepak terjang mereka. Bu Dian? Memang benar apa kata tante mengenai wajah cemburu Bu Dian. Apalagi tadi selama kami mengobrol Bu Dian selalu menanyakan tentang pacarku yang tidak lain adalah Ibu. Memang aneh ketika seorang wanita yang sudah dilamar menanyakan hubungan lelaki lain dengan pacarnya. Apa aku memang kurang peka? Tapi aku tidak mungkin mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan, bisa perang dunia ke 3, ditambah lagi pak felix kenal baik dengan Om Heri. Bodoh Ah! Pulang.

Ketika aku berada di tempat parkir, tepatnya di dalam tempat parkir. Aku berjalan seorang diri menju motorku. Aku sedikit terhenyak dan berdiam diri sejenak manakala di samping motorku, duduk dan bersandar seorang wanita, Bu Dian. Dia hanya tersenyum kepadaku, kedua tangannya memgang helm SNI. Kulanjutkan langkahku ke arah motorku, mau bagaimana lagi, seandainya aku menghindar pun juga tidak bisa. Ketika aku sudah berada tepat disampingh motorku.

ÔÇ£Kenapa?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Kenapa Ibu disini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tadi aku minta ijin untuk pulang sama tante kamu, dia menyuruhku untuk minta tolong kamu mengantarkan aku, kalau bisa?ÔÇØ ucapnya kepadaku dengan sedikit senyuman

ÔÇ£Lha mobil Ibu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Itu mobil Felix, jadi aku diantar kamu saja?ÔÇØ ucapnya berubah menjadi datar

ÔÇ£saya masih ada urusan BuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sebenarnya tadi aku mau pulang pakai mobil felix tapi kepalaku pusing belum tidur semalaman, ya sudah ndak papa kalau tidak bolehÔÇØ ucapnya sambil beranjak dari motorku

ÔÇ£Hmmm… mungkin sebentar lagi aku akan di opname di Rumah sakit iniÔÇØ ucapnya kembali membuat aku terhenyak. Bu Dian menakutiku jika ketika dia mengendarai mobil itu dia akan tertidur dan begitulah

ÔÇ£Kenapa ndak pakai taksi saja bu? Daripada nanti opname, aku punya kenalan taksiÔÇØ ucapku. Bu Dian berbalik degan wajahnya berubah menjadi wajah jengkel karena aku selalu bisa membalik pernyataan-pernyataannya. Bu Dian memakai helmnya dan berjalan ke arahku, lalu langsung naik di jok belakang motorku. Aku yang malah jadi kebingungan karena sikapnya, kedua pipinya kemudian menggelembung seakan sangat jengkel kepadaku.

ÔÇ£Bu, bisa turun saya itu ada urusanÔÇØ ucapku walau sebenarnya tidak ada. Bu Dian ya diam saja dan memandang ke arah depannya tanpa menghiarukanku. Arghhhh….. ini wanita bikin kesal saja. Aku kemudian menaiki si motok REVIA kesayanganku untuk ketiga kalinya bersama Bu Dian

Segera aku nyalakan mesin motor kesayanganku ini. aku mundurkan secara perlahan karena berat motorku menjadi bertambah dengan kehadiran Dosen Judesku ini. segera kutarik gas motorku, baru beberapa meter keluar dari tempat parkit dan hegh… pelukan erat dari Bu Dian mendekap tubuhku sangat erat. aku tak mempedulikannya karena jika aku membuat perkara di RS bisa-bisa jadi bahan makian orang-orang. Dalam perjalanan menuju tempat Bu Dian.

ÔÇ£Ndak usah cepat-cepatÔÇØ ucap Bu Dian. Segera aku berhenti di pinggir jalan.

ÔÇ£Bu, tolong ndak usah peluk saya Bu, bagaimana kalau ketahuan sama pak felix?ÔÇØucapku

ÔÇ£Bagaimana kalau ketahuan sama mbak diah?ÔÇØ ucap Bu Dian

Erghhhhh…. ditanya malah kembali nanya, segera aku tancap gas kembali. Semakin aku meningkatkan laju REVIA semakin erat pula Bu Dian memelukku. Akhirnya aku mengalah, motorku pun melaju dengan kecepatan lambat kurang lebih 40Km/jam. Kurasakan pelukan Bu Dian tetap erat seperti sebelumnya, bibirnya digesek-gesekan pada bahu kananku.

ÔÇ£Bu… Sudah… jangan…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku ngantuk, aku mau tidur, jika tidak pegangan nanti kalau jatuh bagaimana?ÔÇØ ucap Bu Dian dengan seribu alasannya

ÔÇ£tinggal opname saja bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kenapa ndak pukulin sekalian saja aku disini? Biar cepet opname dan kamu tidak perlu susah-susah mengantarkan akuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Huft… iya iya, boleh peluk Bu Dosenku yang manis dan cantik, yang erat ya, biar ndak jatuhÔÇØ ucapku

ÔÇ£nah, gitukan lebih baikÔÇØ ucapnya

Entah mengapa pelukan Dosenku ini membuatku merasa nyaman, pelukan darinya berbeda dengan pelukan wanita lain. Dikecupnya bahu kananku dengan lembut membuatku semakin merasa nyaman, walau sebenarnya ada sebuah kegundahan dalam hatiku. Bagaimana dengan pak felix? Masa bodoh ah! Apa Bu Dian tidak sadar? Seandainya saja dia bersamaku pun belum tentu dia bisa menerima kenyataan yang sudah aku alami. Belum hilang kesemrawautan dalam pikiranku, tiba-tiba pelukannya menjadi melemah, kurasakan tubuhnya menjadi sedikit terdorong kebelakang. Kuhentikan laju REVIA, sejenak kutengok kebelakang.

ÔÇ£Dia benar-benar tertidurÔÇØ ucapku pelan

Kujalankan REVIA sayang dengan lebih pelan, tangan kiriku kuposisikan ke belakang tubuhnya. Untuk berjaga-jaga seandainya dia terjengkang. Kedua tangannya sudah tidak bisa memelukku erat. Namun kembali kurasakan kedua tangannya memeluk tubuhku dengan eratnya

ÔÇ£Terima kasih…ÔÇØ ucapnya lembut

ÔÇ£Sama-sama…ÔÇØ balasku

ÔÇ£Dasar manja…ÔÇØ ucapku pelan yang ternyata di dengar olehku dan mencubit sedikit perutku

Selama perjalanan tak ada percakapan dari kami berdua. Hanya kekhawtiranku jika saja dia terjatuh. Semakin rasa khawatirku bertambah semakin Kupeluk tubuhnya dengan tangan kirku dengan eratnya. Perjalan masih sangat jauh, namun aku perasaan nayaman ini tidak membuatku lelah. Sesampainya di depan pintu gerbang Perumahan ELITE, seorang satpam mengacungkan jempolnya ke arahku entah apa maksudnya. Aku anggukan kepalaku dan hanya tersenyum kepada pak satpam,dengan tetap pada kecepatan yang sama sampailah aku di depan rumah Bu Dian. Belum aku mengatakan apa-apa, slah satu tanganya lepas dari pelukanku.

ÔÇ£Aku ngantukÔÇØ ucapnya sambil menengadahkan tangannya yang dengan kunci diatasnya

ÔÇ£Maksudnya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£BukakanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£huft…iya Bu DosenÔÇØ ucapku kemudian men-standar-kan REVIA, mengambil kunci dan membukakan pintu gerbang. Bu Dian masih duduk di jok motorku dengan kepala di letakan diatas tumpukan tangannya yang bersandar pada kepala REVIA. Helmnya ditaruhnya di spion kanan REVIA.

ÔÇ£Sudah BuÔÇØ ucapku berjalan kearah Bu Dian sembari membawa kunci itu kembali, Bu Dian kemudian bangkit dan tetap duduk di jok REVIA

ÔÇ£Aku capek ndak bisa jalanÔÇØ ucapnya santai

ÔÇ£terus?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£capeeeek ndak kuaaaaaaaat jalan aryaaaaaaÔÇØ ucapnya bernada sok manja. Iiih…

Aku hanya bisa jongkok di samping REVIA, bingung dengan sikap Bu Dian. Kenapa juga ini Dosen judes jadi manja di hadapanku? Bikin orang susah saja huft… daripada aku kelamaan di tempat ini mungkin aku harus segera mengambil tindakan, lagian aku sudah mulai kesal dengan sikapnya. Segera aku bangkit dan duduk di depannya, kulepas helmku, aku tarik kedua tangannya ke bahuku. Kemudian kedua tanganku meraih kedua pahanya dengan perlahan aku gendong Bu Dian di punggungku.

ÔÇ£Ughhh… berathhh…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku ndak gendut-gendut amat kali hoaaamÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£Iya langsing…ÔÇØ ucapku sambil membopongnya menuju kursi depan pintu masuk rumahnya. Sesampainya di kursi tersebut, aku dudukan Bu Dian dan aku kemudian duduk sebentar di lantai tepat dibawahnya.

ÔÇ£Terima kasih Ar Hoaaaam…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Sama-sama BuÔÇØ ucapku sambil menoleh kebelakang

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya Bu…ÔÇØ balasku

ÔÇ£Aku ingin kita jalan-jalan lagiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Besok Bu Setelah PKLÔÇØ jawabku sekenanya

ÔÇ£Janji ya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ya… kalau ingat BuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Aku akan mengingatkanmu ArÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya Bu iya…ÔÇØ ucapku dengan nada jengkel

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya Ada apa lagi Bu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku yakin Mbak Diah bukan pacarmuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Huft… kenapa dibahas lagi bu?ÔÇØ ucapku.

ÔÇ£Saya mau pulang dulu Bu sudah sore?ÔÇØ ucapku sembari aku berdiri sambil membalikan badanku ke arahnya untuk pamit kepadanya. Kan ndak enak masa pamit ke seseorang ndak menatap mukanya. Ketika posisiku sedang dalam posisi membungkuk. Cup… sebuah kecupan di pipi kananku membuatku sedikit bengong, namun langsung ku raih kesadaranku dan wajahku tetap aku buat datar.

ÔÇ£Seharusnya Bu Dian tahu posisi Bu Dian, Tolong pikirkan perasaan pak felix buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Itu hanya ucapan terima kasih apa salah?ÔÇØ ucap Bu Dian santai menanggapi pernyataanku

ÔÇ£Eh… hmmm… saya pamit pulang dulu BuÔÇØ ucapku, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bu Dian

ÔÇ£Hati-hati ya ArÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya Bu…ÔÇØ ucapku, sambil meninggalkannya

Ku tunggangi motorku kembali menuju jalan pulang, kulihat Bu Dian berdiri dan Men-dadahi-ku dengan tangan kananya. Senyuman indah itu dilemparkannya untukku namun urung aku untuk menangkap senyuman itu. Aku hanya menganggukan kepalaku dan kemudian mempercepat laju motorku.

Sesampainya dirumah kudapati Ayahku sudah berada di rumah, bagiku ini adalah suasana yang suram. Ayah hanya menanyaiku mengenai perban dikepalaku, kujawab sekenanya dan dia tidak begitu menghiraukannya. Ayah kemudian menuju ke pekarangan rumah dengan memawa segelas minuman di tangan kirinya. Segera aku menghampiri Ibu di dapur dan aku sedikit bercerita kepadanya, dia hanya tersenyum mendengar ceritaku. Kukecup bibirnya dan aku kemudian berlari ke kamarku.

Hari-hari berikutnya aku isi dengan berangkat kekampus untuk mengurusi PKL. Membuat surat permohonan PKL ke industri yang terkait dengan jurusanku. Semua teman-temanku pun sama, setelah aku mendapatkan tempat PKL aku mengajukan DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) untuk PKL-ku. Setiap mahasiswa yang mengajukan PKL tidak langsung mendapatkan DPL, ini semua tergantung pada perusahaan/ instansi memberikan jawaban. Ada yang berkelompok ada juga yang individu, dan aku memilih untuk individu karena kebanyakan teman-teman kelasku memilih untuk PKL sendiri. Ketika setiap mahasiswa sudah mendapatkan jawaban maka akan langsung diberikan DPL keesokan harinya.

Hari berikutnya aku ke kampus untuk mengetahui DPL-ku. Segera aku berlari dari tempat parkir menuju ke gedung jurusan untuk menemui Tata Usaha meminta surat pengantar dari jurusan yang nantinya aku serahkan ke perusahaan tempakku PKL. Pegawi TU kemudian memberikan dua buah amplop yang ditumpuk

ÔÇ£Mas, itu yang atas perusahaan dan yang bawah untuk DPL-nya yaÔÇØ ucap pegawai TU

ÔÇ£Iya BuÔÇØ ucapku sembari meninggalkan TU, aku melangkah ke ruanng Dosen. Kulihat amplop yang berisi surat pengantar untuk perusahaan, tercantum nama sebuah PT dan tertluis benar. Ku balik dan ku baca nama DPL,

Yth. Dian Rahmawati
Selaku Dosen Pembimbin Lapangan

Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…. Kenapa Nama itu lagi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*