Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 12

I Love You Handsome 12

“Arci, bangun!” Andini menggoyangkan tubuhnya.

Arci pun bangun. Ia membuka matanya. Dilihatnya Safira memakai baju piyama. Wajahnya sungguh cantik. “Kamu cantik sekali hari ini.”

“Gombal”

“Beneran. Kamu seperti bidadari.”

“Ayo bangun!”

“Aku rasanya tak ingin bangun. Kalau memang ini mimpi aku ingin di sini terus.”

Safira mendekat dan memberikan kecupan di keningnya. “Kalau kamu tidak bangun, bagaimana kamu akan menyongsong hari ini? Banyak yang menunggumu.”

“Temani aku sebentar! Aku rindu kamu, aku sangat kehilangan kamu.”

Safira menggeleng-geleng. Ia pun berbaring di sebelah kekasihnya. Kedua mata mereka bertatapan, mata Arci menyiratkan kerinduan yang sangat. Arci lalu merangkul Safira, lalu menciumnya. Ia memejamkan mata. Arci bersedih, ia ingin memeluk kakaknya lebih lama. Ia sangat kehilangan.

“Jangan pergi kak! Jangan pergi! Aku akan berikan apa saja, tapi jangan pergi. Aku tak mau separuh nafasku pergi meninggalkanku.”

“Ada banyak perjumpaan, ada pula kepergian. Aku tak bisa di sini terus.”

Arci berderai air mata. “Kumohon jangan pergi. Kamu sudah berjanji akan jadi ibu dari anak-anakku, jangan pergi! Aku mohon!”

“Aku akan selalu bersamamu. Aku selalu melihatmu. Adek. Kamu sudah ada Andini, jangan lepaskan dia!”

“Hiks…aku butuh kamu, aku rela membuang semua kekayaan ini untuk kamu! Jangan pergi! Aku janji aku akan mengajakmu liburan, aku janji aku akan buatkan rumah untuk kita. Aku janji!”

Safira mengusap wajah adiknya, ia lalu bangun. Ia mendorong pelan agar pelukan Arci terlepas.

“Dunia ini cuma sementara adikku. Di mana tempat untuk orang seperti aku? Tak ada yang menerimaku, engkau satu-satunya orang yang mau menerimaku. Engkau satu-satunya orang yang memelukku erat saat tak ada siapapun yang mau peduli kepadaku. Engkau satu-satunya lelaki yang menghiburku saat yang lain merendahkanku. Aku sudah punya tempat tinggal di hatimu, aku akan selamanya di sana. Kamu harus berjuang untuk hidup. Karena Andini juga tinggal di sana. Aku dan dia ada di hatimu. Selamanya…”

“Kaak…! Maafkan aku…!”

Safira tersenyum. Senyumnya tak akan pernah dilupakan oleh Arci. Perlahan-lahan tubuhnya bercahaya, kemudian menghilang.

“Kaaaakk! Kak Safiraaa!”

* * *

Ghea melihat jalannya operasi. Tubuh Arci penuh luka, bacokan di punggung, sayatan di lengan, pelipisnya berdarah, enam peluru menembus dada dan perutnya. Beruntung tidak mengenai jantung. Arci kehilangan banyak darah, bahkan detak jantungnya sempat berhenti beberapa kali. Tapi kondisi kritis itu sudah lewat. Ada sesuatu yang membuat Arci berjuang hidup. Ghea keluar dari kamar bedah lalu duduk di kursi tunggu.

Dokter lalu keluar dari kamar operasi. Ia melihat Ghea yang sepertinya kelelahan. Bajunya masih basah akibat terjun ke sungai. Tangan Ghea gemetar sambil membawa pistol glocknya.

“Kamu perlu baju ganti?” tanya sang dokter.

Ghea menatap ke arahnya.

“Jangan berpikir buruk, aku cuma mau menolong. Aku tak peduli apa yang sedang terjadi dengan kalian. Aku hanya ingin menolong. Itu sudah jadi tugasku,” ujar sang dokter.

Ghea tersenyum tipis. “Baiklah, ada baju?”

“Ada, asistenku bisa menyediakannya. Aku tak tahu ukurannya pas atau tidak.”

“Ada mobil?”

“Kalau soal itu…”

“Heh, jangan khawatir. Aku akan mengembalikannya!”

Singkat cerita setelah Ghea mendapatkan baju ganti, ia segera membawa Arci pergi dengan mobil milik sang dokter. Satu hal yang dijanjikan oleh Ghea kepada sang dokter. “Aku akan mengembalikannya nanti, berikut uang untuk biaya operasi.”

Mobil Hyundai Avega milik sang dokter itu melaju. Ghea menuju ke sebuah tempat yang sering ia jadikan latihan. Tempat itu tak banyak orang yang tahu, termasuk Tommy. Jadi menurutnya itu tempat teraman bagi dia sekarang. Hari itu ia juga membaca banyak berita tentang kerusuhan kemarin. Letnan Yanuar tewas, Jacques, Pieter, Amanda, dan Safira. Mata Ghea berkaca-kaca saat mengetahui kematian ayahnya. Semua orang kehilangan. Arci kehilangan, dia juga. Agaknya kedua orang ini punya satu tujuan yang sama, balas dendam.

Ghea melajukan mobilnya sampai ke daerah perbukitan, jalanan berliku, berkelok. Setelah mengisi bahan bakar di SPBU, dia masih terus menyetir hingga dua jam. Jauh sekali. Mereka berhenti di sebuah pondok. Halamannya cukup luas, dan pemandangannya di depannya ada sebuah gunung dan jurang. Dari jauh terlihat sebuah Waduk. Ghea tiba di sana hari sudah malam. Segera ia menggendong Arci menuju ke dalam pondok. Ghea mengambil kunci yang dia simpan di sebuah pot, lalu dibukalah pintunya. Cewek berambut merah ini menuju ke kamar dan meletakkan Arci di sana. Ghea juga ambruk di samping Arci.

“Aku juga capek. Kamu harus hidup! Aku tak bisa menghadapi mereka sendirian. Kamu harus hidup!…”

Ghea menatap wajah Arci. Ada perasaan tertentu ketika dia menatap wajah pemuda itu. Ia mulai ada rasa tertarik kepada pemuda yang dulu ia todong. Sang pemuda ini berani menghadapi semuanya sendirian. Ia juga tak takut terhadap ancaman pistol. Baru kali ini ia bertemu pemuda seperti ini, berbeda dengan cowok-cowok pengecut yang pernah ia temui. Ghea kemudian mengecup bibir Arci.

“Ini hadiah buat kamu. Kamu harus hidup. Aku tak tahu apa yang terjadi kepadaku, aku jadi mellow kalau dekat kamu. Jadi malu, jadi tersipu-sipu, dadaku berdebar-debar. Aku tak mengerti apa yang terjadi kepadaku. Tapi kalau perasaanku ini bisa membuatmu hidup, maka hiduplah! Aku tak tahu… tapi aku sepertinya menyukaimu, cinta? Entahlah….jangan mati! Jangan mati!”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Suara ayam jago berkokok membangunkan sang mentari. Arci yang sudah tiga hari pingsan pun akhirnya bangun. Tubuhnya rasanya sakit semua. Di kamar yang berukuran 3×3 meter itu ia kebingungan kenapa bisa ada di sana. Padahal ia tadinya berharap mati saja. Rasa kehilangannya sangat dalam, kehilangan Safira membuat ia benar-benar tak punya semangat hidup. Arci membuka matanya, menatap langit-langit, merasakan hawa dingin yang menusuk. Selimut tebal yang menutupinya rasanya tak bisa menghalau hawa dingin itu.

Arci pun menyingkapkan selimut itu. Ia kebingungan melihat tubuhnya telanjang. Dan yang pertama kali dirasakannya adalah “panggilan alam”. Dia segera menuju ke sebuah pintu yang dia kira kamar mandi. Dan benar, itu pintu kamar mandi. Dia mengeluarkan hajat yang ada di dalam tubuhnya. Setelah itu berkaca di cermin yang ada di kamar mandi. Ada banyak luka yang diperban. Ia masih ingat peluru-peluru itu menembus tubuhnya. Sayatan-sayatan parang, pukulan pipa, ia ingat bagaimana rasanya itu semua. Kehidupannya belum berubah. Masih kelam. Tapi ia merasa ini lebih gelap. Kekayaan tak menjamin ia bisa hidup dengan tenang sebagaimana yang ia inginkan. Setelah selesai urusannya di kamar mandi, Arci mengambil handuk yang ada di gantungan kamar mandi. Ia keluar.

Agak terkejut ketika mendapati Ghea ada di sana. Ghea memakai tanktop warna merah dan celana pendek jeans. Hal menampakkan kemulusan tubuhnya. Arci tak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada tubuh Ghea yang terpampang di hadapannya. Apalagi Ghea sedang duduk di tepi ranjang, dengan tangan bersedekap, dan kakinya disilangkan.

“Kamu sudah siuman?” tanya Ghea.

“Kalau sudah begini ya sudah siuman,” jawab Arci.

“Hahahaha, aku pikir kamu tak akan selamat kemarin. Tiga hari pingsan. Engkau sekarang sudah merasakan bagaimana peluru menembus tubuhmu kan?”

“Iya”

“Sekarang, apa yang ada di pikiranmu?”

Arci tak menjawab. Dia masih bingung. Dia teringat lagi tentang Safira.

“Apa yang sudah terjadi?”

“Kamu harus berterima kasih kepadaku, aku mengumpulkan berita selama tiga hari engkau berada di rumah pribadiku.”

“Ini? Di mana?”

“Ini di daerah Nongko Jajar. Di atas gunung. Aku memang memilih tempat ini untuk menyepi. Tak akan ada orang yang mengganggu. Bahkan para cecunguk Tommy tak akan menemukan kita. Tak ada sinyal telepon, tapi kalau kamu mau akses internet, kita ada sambungan satelit.”

“Nongko Jajar?”

“Iya, daerah ini dari Malang terus ke timur melewati Pakis, kemudian ke Utara. Kalau kamu mau terus ke Utara, kamu akan mendapati hutan belantara yang belum tersentuh.”

“Aku baru tahu daerah yang belum tersentuh.”

“Jadi, apa yang ada di pikiranmu sekarang?”

“Aku mau balas dendam.”

“Sama sepertiku.”

Arci mengangkat alisnya.

“Tapi, dengan kondisimu yang sekarang kamu belum siap. Aku akan melatihmu hingga kamu siap.”

“Melatihku?”

“Kita masih ada waktu. Kamu jangan khawatir, istrimu, ibumu, adikmu semuanya selamat. Aku yang mengabari mereka.”

Arci baru ingat kalau ponselnya tak ada. Ghea berdiri menuju ke lemari, di sana ada beberapa baju. Ia mengambilnya kemudian menyerahkannya ke Arci.

“Pakailah, ini baju ayahku. Kuharap pas, kalau toh tidak, kamu bakalan tiap hari pakai handuk itu!” kata Ghea sambil tersenyum.

Arci nyengir melihat kondisi tubuhnya yang hanya memakai handuk. Ghea setelah itu keluar dari kamarnya. Segera Arci memakai baju yang ada. Dia kemudian melangkah keluar. Dia melihat suasana rumah yang kecil, nyaman, hampir semuanya terbuat dari kayu. Sampai ubinnya juga terbuat dari kayu. Beberapa foto ada di sana. Foto-foto pamannya, juga Ghea. Ada foto Ghea merangkul senapan laras panjang, seperti sniper rifle. Ada juga senapan yang di pajang, itu senapan asli.

Ada tiga sofa di ruang tengah dan sebuah meja. Di tengahnya ada vas bunga yang isinya kosong. Arci melihat keluar rumah, di sana ada Ghea yang sedang mengelap pistolnya. Di sana ada meja dan Ghea berdiri di depan meja. Ada beberapa senjata api yang digelarnya. Arci menghampirinya.

“Hidup ini memang keras, aku yakin kamu tahu itu. Terkadang kita tak bisa lari, terkadang kita harus melawan balik.” Ghea menggenggam pistolnya, lalu membidik Arci.

KLIK!

Arci sedikit kaget. Ia sangka Ghea beneran menembaknya.

“Itu yang aku suka, kamu tak berkedip ketika pistol ini aku tarik pelatuknya. Orang biasa pasti akan memejamkan mata. Kamu tidak, kamu sudah tahu rasanya menembakkan senjata, kamu juga sudah tahu rasanya ditembus peluru. Itu akan jadi nilai plus. Aku tahu kamu kehilangan, sangat kehilangan. Dan aku ingin rasa kehilanganmu itu kamu fokuskan untuk membalas perbuatan mereka. Jadikan itu sebagai semangatmu. Nih, tangkap!”

Arci menangkap pistol glock yang dilemparkan oleh Ghea. Rasanya sedikit ringan daripada yang ia pegang dulu. Mungkin karena tak ada pelurunya. Mungkin juga ia pernah memegang pistol sebelumnya. Dia menatap Ghea. Di mata gadis ini, terpancar hawa balas dendam. Dan dia sedang butuh bantuan.

“Aku ingin menghubungi Andini,” kata Arci.

“Kamu nanti bisa menggunakan laptop di kamarku,” kata Ghea. Dia segera menghampiri Arci dipegang tangan pemuda ini, “Aku ingin bertanya kepadamu lagi. Kamu sudah masuk di keluarga ini. Suka atau tidak kamu akan berkubang lumpur di keluarga ini. Dan kamu harus siap. Sebelum lebih jauh melangkah aku tanya lagi. Kamu siap?”

Arci menatap mata Ghea. Ia tak mampu menjelaskan apa yang ada di dalam dirinya sekarang ini. Ketika ingat Safira, ia pun langsung berkata, “Aku siap.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Andini bersedih. Ya, dia bersedih. Dia berdiri di hadapan kuburan Safira. Ia tak bisa membendung tangisnya. Padahal mereka baru saja dekat, tapi semuanya berlalu begitu cepat. Hanya sang ibu yang bisa mengelus-elus punggungnya untuk menenangkan putrinya. Saat sedang bersedih itulah Ghea tiba-tiba muncul.

“Andini?!” sapa Ghea.

Andini menoleh ke arah Ghea. Bu Susiati juga tak menyadari kalau Ghea ada di dekat mereka.

“Arci selamat. Aku ingin kamu, ibunya Arci, adiknya dan kalian semua sembunyi dulu. Kalian tak aman berada di sini,” kata Ghea.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Andini. “Kenapa mereka melakukan ini?”

“Ada orang yang gila harta ingin menghabisi Arci dan yang lainnya. Papaku juga telah dibunuh oleh mereka. Bukan kamu saja yang kehilangan,” kata Ghea.

“Maaf, aku turut berduka,” kata Andini.

Ghea tersenyum simpul. Dia melangkah mendekat ke Andini lalu memberikan dia pelukan. Bukan seperti Ghea pada umumnya. Ghea juga heran kenapa dia bisa berbuat demikian, semenjak mengenal Arci dan tenggelam dalam kehidupan sepupunya itu, ia banyak berubah. Dan kali ini ia melakukannya secara spontanitas.

“Aku akan menjaga Arci, kamu jangan khawatir. Sementara ini, kamu ganti nomor telepon. Mereka bisa melacakmu kalau kamu pakai nomor yang lama,” kata Ghea.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

“Karena kita keluarga, Arci sudah menjadi keluargaku, dan engkau juga. Kalian juga,” kata Ghea sambil menepuk-nepuk punggung Andini.

Ghea melepaskan pelukannya. Andini tampak masih bersedih. Ia tak percaya terhadap apa yang baru saja terjadi.

“Kalian punya tempat untuk sembunyi bukan?” tanya Ghea.

Bu Susiati menghela nafas, “Ada, kami akan mengajak Lian dan anaknya. Kamu jangan khawatir. Bagaimana keadaan Arci?”

“Dia masih pingsan, belum siuman sampai sekarang. Tapi dia telah melewati masa kritis. Maaf, merusak acara bulan madu kalian,” Ghea menggenggam tangan Andini yang dingin.

Wajah Andini datar. Ia terlalu sedih untuk dihibur.

“Jaga diri kalian, aku akan menyuruh Arci untuk menghubungimu lewat email kalau nanti dia sudah sadar, untuk sementara kalian jangan bertemu dulu dengan dia. Dia sendiri nanti yang akan menemui kalian,” kata Ghea.

“Ghea….”

“Ada apa?”

“Bilang kepada Arci, balaskan setiap tetes darah Safira yang ditumpahkan oleh mereka. Balaskan sakit hatiku, sakit hati kita semua.”

“Ya, aku akan menyampaikannya,” ujar Ghea sambil tersenyum kepada Andini.

Setelah itu ia meninggalkan Andini dan ibunya. Andini kemudian merangkul ibunya. Seharusnya ini menjadi hari bahagia karena Andini sudah bisa bersama Arci. Entah apalagi yang akan terjadi ke depannya. Ghea dan Arci pasti punya rencana sendiri pikir Andini. Dan ia akan menunggu kedatangan Arci suatu saat nanti.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Tommy tampak puas. Dia telah melaksanakan apa yang dia inginkan. Kini ia duduk di kursi presiden direktur. Dia melihat sebuah foto yang terpampang di pigura. Foto Andini.

“Tch, aku lupa kalau mereka sudah menikah,” gumam Tommy. “Ah, whatever. Tak penting. Sekarang tak akan ada lagi yang bisa merebut kekayaan ini.”

Alfred masuk ke ruangannya. “Papa?”

“Hai Alfred, kerja bagus. Kamu sudah melacak keberadaan mereka?” tanya Tommy.

“Mereka sepertinya menghilang.”

“Apa kita sandera saja istrinya biar dia bisa muncul?”

“Itu ide bagus. Aku juga sudah berpikir ke arah sana, tapi mereka juga menghilang tanpa jejak.”

“What?”

“Ah, tapi aku tak peduli. Mereka tak akan mungkin merebut ini. Apa mereka mau cari mati? Hahahaha, kerja bagus. Sekarang tinggal kita satukan perusahaan ini dengan PT Denim.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Andini menerima email Arci.

From: arci
To: andini
Subject: I’m Sorry

Maaf sayangku, sepertinya aku harus menunda bulan madu kita. Tapi secepatnya aku akan kembali.

I love you.

Arci.
“Arci, aku merindukanmu,” desah Andini. Dia bersama dengan ibu, ayahnya, Lian dan Putri mengendarai mobil pergi ke tempat yang dirasa mereka aman. Andini tak membalas email dari Arci. Tapi ia yakin Arci sekarang pasti sangat merindukannya. Tiba-tiba saja pikirannya mengatakan bagaimana kalau Ghea jadi lebih dekat ke Arci? Ah, itu hanya perasaannya. Tapi sebagai istrinya ia juga punya rasa cemburu.

“Arci, aku merindukanmu,” lagi-lagi Andini mendesah.

Dan Arci saat itu sedang memandang langit yang penuh bintang. Dia bergumam, “Andini, tunggulah aku….”

DOR! DOR! DOR!

Arci menembak tiga target dan semuanya kena. Sudah hampir satu bulan Arci berlatih. Kini dia sudah mulai bisa menggunakan pisau, pistol dan beberapa gerakan kravmaga. Hampir tiap hari dia berlatih dengan Ghea. Sekalipun tubuhnya sakit semua, tapi Arci memaksa untuk berlatih. Pagi hari turun gunung, kemudian naik lagi lagi. Begitu terus hampir tiap hari. Kini otot-ototnya sudah terbentuk. Refleknya pun sudah terbentuk. Di bulan kedua Arci mulai mahir, menggunakan semua senjata yang ia punya, bahkan menggunakan apapun sebagai senjata. Ghea benar-benar keras melatihnya.

Mungkin karena sering bersama Arci, melihat tingkah Arci, mempelajari sifatnya, Ghea makin terusik hatinya. Dia tak tahu apa maknanya. Hatinya merasa kehilangan ketika Arci belum naik gunung sampai hari hampir siang. Tapi perasaannya lega ketika melihat Arci tiba. Ketika Arci membuka perbannya ia sangat kesakitan dan entah mengapa Ghea reflek langsung menolongnya. Awalnya mereka diam-diam saja, tak bicara satu sama lain. Kemudian seminggu setelahnya mereka mulai bicara satu sama lain walaupun masih canggung. Minggu kedua, barulah mereka bisa bicara akrab satu sama lain.

Awalnya Ghea tertutup. Tapi dia kemudian mulai bicara. Dia menceritakan masa lalunya, dia menceritakan bagaimana dia berlatih militer, dididik keras oleh ayahnya hingga seperti sekarang. Arci pun mulai menyadari Ghea tak pernah diajarkan tentang cinta.

“Kamu pernah tahu ayahku bukan? Ceritakan tentangnya! Orangnya seperti apa?” tanya Arci.

“Ah, paman Archer. Dari seluruh keluarga Zenedine. Kukira dia yang paling baik. Dia sangat lembut kepadaku, berbeda dengan ayahku. Aku suka setiap dia memperlakukanku. Aku rindu saat dia menganggapku sebagai orang yang paling dia sayangi. Aku tak pernah mendapatkan perlakuan sayang dari seorang lelaki manapun kecuali dari dia. Sebagai keponakannya ia sangat memanjakanku, ayahku sempat marah ketika aku bermain boneka hadiah ulang tahunku yang diberikan oleh paman Archer. Ayahku marah dan merusak boneka itu.”

“Itu kejam sekali!”

Ghea tersenyum. “Apa yang bisa kamu harapkan dari ayahku?”

“Ah, aku kira dia orang yang baik.”

“Dia sangat baik sebenarnya, hanya saja ia menempatkanku kepada fungsinya.”

“Fungsi?”

“Fungsiku di keluarga ini adalah sebagai tangan kanan ayahku. Dia adalah anjing penjaga Zenedine, aku harus mensupport dia. Agaknya setelah ayahku tidak ada semua sekutu-sekutunya pun tidak punya kekuatan untuk mengalahkan Tommy.”

Malam mulai larut. Mereka berdua duduk di dekat perapian. Sementara itu hawa dingin mulai datang, kabut sudah menyapa menyelimuti sekeliling rumah. Ada rasa debar tak menentu di dalam diri Ghea. Baru kali ini dia bertemu dengan lelaki seperti Arci, biasanya kalau seorang lelaki di dekatnya bakal langsung menggoda dirinya. Tapi Arci tidak. Karena itulah ia merasa nyaman dekat dengan Arci, tak hanya itu, ada sesuatu yang lain.

“Kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?” tanya Arci.

Ghea bingung menjawabnya, “Aku…jujur tak tahu apa itu cinta.”

“Sungguhkah?”

“Iya.”

“Ah, I see.”

“Anehkah orang yang belum mengenal cinta?”

“Tidak juga, hanya saja. Seseorang paling tidak harus mengenal cinta sekalipun sekali. Ketahuilah, kamu pernah mengenalnya.”

“Kamu sok tahu.”

“Ketika ayahku memperlakukanmu, itu adalah cinta.”

“Cinta?”

“Ya, cinta seorang paman kepada keponakannya.”

“Ayahku juga mencintaiku, dia senang ketika aku menyelesaikan tugas yang diberikan olehnya.”

“Bukan seperti itu. Cinta itu tak butuh balasan. Cinta tak membutuhkan imbalan. Ketika seseorang mencintai orang lain, maka yang ia lakukan adalah memberikan cinta itu tanpa mengharapkan balasan.”

“Apakah orang sepertiku bisa memberikan cinta kepada orang lain?”

“Bisa, tentu saja bisa.”

“Bagaimana caranya?”

Arci juga bingung menjawabnya. “Ah, soal itu. Banyak cara sih. Seperti memberikan kecupan, atau memberikan hadiah seperti yang ayahku lakukan. Atau mungkin selalu memperlakukan dia dengan baik.”

“Kamu mencintai kakakmu?”

“Ya, sangat mencintainya.”

“Apakah bercinta dengannya juga salah satu wujud cinta?”

“Ah, soal itu….beda.”

“Beda? Kenapa beda? Bukankah kalian saling mencintai?”

“Iya, tapi seharusnya itu tak terjadi.”

“Kenapa?”

“Ah, aku tak tahu. Ada hal-hal kompleks yang tak bisa aku jelaskan dengan bahasaku sendiri.”

Ghea merangkak mendekat ke Arci. “Aku tak tahu apa itu cinta, tapi… saat ini dadaku berdebar-debar ketika bersamamu.”

“Hah?”

Ghea mengangguk. “Dan semenjak aku melakukan ini…”. Ghea tiba-tiba mencium bibir Arci. Arci kaget. Wajah Ghea makin tersipu-sipu, “Rasanya aneh, perasaan itu makin kuat.”

Arci tak menyangka Ghea menyukai dia.

“Apakah itu cinta?”

“M-mungkin.”

“Tak mungkin, aku jatuh cinta kepadamu? Tapi, saat aku mengatakannya aku menjadi lega. Ya, lega. Arci, aku sepertinya jatuh cinta kepadamu.”

Arci mengerutkan dahi. Ia tak tahu harus bilang apa. Ghea makin mendekat kepadanya. Bibir mereka bertemu lagi. Ingat Arci lelaki normal. Berduaan dengan wanita seksi, berambut merah, cantik dan kulitnya mulus, siapa yang tak tergoda, tapi, dia tahu diri. Apakah kalau dia melakukannya dengan Ghea berarti ia telah mengkhianati Andini? Ia pun bingung, haruskah ini terjadi lagi?

“Ghea, kamu tahu aku sudah beristri,” kata Arci.

“Ya, aku tahu. Apa salahnya? Bukankah kamu juga melakukan hal itu kepada kakakmu? Bukankah papaku dan ibu tirimu juga melakukannya? Salahkah hal itu?”

“Itu…,” Arci tak bisa menjawabnya.

Ghea yang hanya memakai kaos dan celana pendek itu mulai menggoda Arci dengan menempelkan tubuhnya ke tubuh Arci. Kini kedua selakangan mereka bertemu lagi. Ghea teringat akan peristiwa memalukan antara dirinya dan Arci saat itu. Posisi kemaluan mereka bertemu seperti sekarang. Perlahan-lahan Arci menerima tubuh Ghea yang bersandar di tubuhnya.

Arci tahu ini salah. Tapi mungkin karena situasi dan kondisi, godaan ini terlalu kuat. Dia juga manusia biasa, tak mungkin ia bisa menolak ini. Apalagi Ghea masih polos, kalau ia menolaknya takut Ghea salah mempresepsikan tentang arti cinta yang sebenarnya. Mungkin dengan perlahan ia akan mencoba untuk mengajarinya. Arci agak ragu ketika ingin menjamah rambut Ghea yang tergerai panjang. Akhirnya dia pun memeluknya.

“Andini, maafkan aku,” rutuknya pada dirinya sendiri. Mungkin pria manapun tak akan sanggup menerima cobaan berat seperti ini. Seorang cewek, cantik, dan sedang ingin dibelai berada di depannya menggoda dirinya. Siapapun lelaki itu pasti akan takluk. Sebenarnya bisa saja Arci saat itu mendorong Ghea dan Ghea tak akan marah, tapi perasaannya melampaui itu semua. Terlebih Arci juga sudah lama tak bercinta, rasa itu pun datang, sebuah rasa yang disebut sebagai nafsu. Ya, nafsunya sudah melebihi apapun.

“Kamu mau bercinta denganku?” tanya Arci.

“Sejujurnya berhubungan badan aku hanya sekali, dan itu pun ketika aku diperkosa dulu,” jawab Ghea.

“Kamu mau merasakan make love yang sesungguhnya?”

Ghea mengangguk.

“Tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, cinta itu tak bisa dipaksa. Dan aku sudah mencintai wanita lain. Kamu tahu?”

Ghea mengangguk. Ia memalingkan wajahnya, “Maafkan aku…” Ghea meneteskan air mata. Baru kali ini Arci melihat gadis ini meneteskan air mata. Baru kali ini. Ghea yang terkenal keras, kejam, beringas, bisa melow seperti ini. Arci memegang wajahnya agar menatap dirinya. Mata Ghea masih berkaca-kaca. Arci tak tega dan kemudian menciumnya. Mereka pun berpagutan. Arci bernafsu menciumnya. Tak ada yang bisa mencegah mereka berdua bercinta malam itu. Di depan perapian, dengan hawa dingin yang makin menusuk, serta birahi yang telah memuncak. Akhirnya Arci harus melakukannya. Ia akan melakukannya dengan lembut.

Perlahan-lahan Ghea menarik kaos Arci, kini tubuh Arci bagian atas terbuka. Ada perban di bagian luka tempat dia dijahit. Sementara bekas luka tembak yang ada di tubuhnya sudah mengering. Ada enam, Ghea berkaca-kaca melihat luka itu. Baginya itu luka terindah yang pernah ada pada seorang cowok, luka yang macho menurut Ghea. Dia pun menciumi luka itu. Setelah satu per satu luka itu dicium, barulah Arci melepaskan baju Ghea. Kini mereka berdua sama-sama atasannya tanpa baju alias topless.

Buah dada Ghea tak terlalu besar. Mungkin cukup di tangan Arci, dia pun mencoba untuk memegangnya. Ghea menangkap tangannya dan menuntun tangan Arci untuk meremasnya.

“Aaahhkk..!” erang Ghea. “Arci…remas yach?!”

Arci meremasnya, terus dan terus. Ia memberikan rangsangan di buah dada Ghea yang putingnya terlihat kemerahan itu. Mata Ghea menatapnya sayu. Sementara itu pinggul Ghea terus bergerak-gerak, belahan vaginanya menggesek kemaluan Arci membuatnya sedikit ngilu dan sakit.

Ghea sepertinya tahu Arci kesakitan, dia pun melepaskan celana pendeknya. Kini tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Dia beringsut melepaskan celana lawan mainnya. Arci membantu Ghea melepaskan semua baju yang melekat di tubuhnya, kini keduanya tanpa busana, Ghea langsung memeluk Arci. Kedua tubuh mereka bertemu memberikan kehangatan satu sama lainnya.

“Arci, aku ingin jadi kekasihmu,” kata Ghea.

“Kamu tahu, cinta tak bisa dipaksa,” kata Arci.

“Jadilah kekasihku hanya untuk malam ini, please!”

“I can’t”

“Ohhh… please suck my nipple!”

Arci menurut, ia pun langsung menghisap puting susu Ghea. Ghea menggelinjang hebat. Dia meremas kepala Arci kuat-kuat, mengacak-acak rambutnya, baru kali ini ia merasakan geli seperti ini. Geli dan nikmat yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dia baru sadar, tak pernah ada lelaki yang menghisap putingnya seperti ini. Tidak juga wanita-wanita yang pernah memuaskan dirinya. Arci menghisapnya dengan penuh perasaan. Arci menghirup aroma tubuhnya. Ghea merasa malu. Dia khawatir bau tubuhnya menyengat, tidak enak. Tapi Arci terus menghirupnya. Bahkan setelah puas menghisap pentil susunya, Arci menuju ke ketiaknya. Ketiaknya memang ada bulu-bulu halus, tidak panjang, sangat pendek, bukan tidak berbulu. Bahkan memang mungkin terlihat tidak berbulu, tapi bulu-bulu halus itu akan terlihat kalau mata mendekat seperti Arci sekarang yang mengunyah ketiaknya. Ghea makin menggelinjang. Kemaluannya makin banjir.

“Tidaaakk….Arrgghh…! Arci…aku…tak tahan lagi!”

Arci tak menghiraukannya, ia terus menikmati ketiak gadis blesteran ini. Dia meronta, tapi rasanya tak ingin Arci mengakhirinya. Arci menjilatnya, menghirupnya, menghisapnya. Ghea pun mengejang. Memeluk Arci erat-erat.

“Akh…aku nyampee….!” keluhnya.

Arci menyudahi aksinya. Ghea duduk di pangkuannya sekarang sambil nafasnya terengah-engah. Arci membelai rambut gadis ini. Gadis yang belum pernah merasakan nikmatnya bercinta. Mereka berpandangan, kemudian berpagutan lagi. Kini Ghea, menjilati tubuh Arci. Dia terus mengelamuti tubuh pemuda ini hingga Ghea turun dari pangkuan Arci. Kemudian dia mulai menciumi perut Arci dan sebuah tongkat tegang mulai menyentuh dagunya. Ghea memegang batang Arci yang sudah keras. Membelainya, lalu bibirnya mengecup topi bajanya.

Arci merinding. Lidah Ghea meliuk-liuk, menjilati batangnya, lalu menyapu kedua telurnya. Ghea agaknya berlama-lama di sana sambil menghirup aroma yang keluar dari tubuh Arci. Dia suka. Dia suka aroma penisnya. Dia mengemut dua bola yang lari-lari itu. Arci lemas, ia tak berdaya dengan perlakuan Ghea itu. Ghea mengocok lembut batang itu sambil ia hisap pangkalnya. Telurnya lagi-lagi dijilati, hingga hampir menyentuh anusnya. Ghea teruskan dengan mengulum batang penis Arci yang makin mengeras. Setetes lendir bening mulai keluar sedikit di lubang kencingnya. Ghea tak sia-siakan dihisapnya lendir itu. Kini penisnya benar-benar basah oleh air liur gadis ini.

“Gheaa…aahhkk!” Arci tak tahan.

“Bercintalah denganku Ci!?” katanya.

Arci tak tahan lagi. Ia pun segera menubruk Ghea. Ia memeluk Ghea sekarang, mereka berpagutan. Arci meremas buah dada Ghea lagi, Ghea menggelinjang hingga tak sengaja kepala penis Arci menyentuh bibir kemaluannya yang berbulu.

“Ufffhh!” keluh Ghea.

Dan Arci pun mulai mendorongnya. SLEEBB…karena becek mudah sekali untuk bisa masuk. Dan tak disangka kemaluannya dicengkram kuat oleh liang senggama Ghea. Ghea mendongak dan menatap Arci lekat-lekat.

“Inikah rasanya?” tanya Ghea. “Aku tak pernah bercinta seperti ini.”

Wajar bagi Ghea baru merasakannya. Selama ini ia hanya merasakan lewat perkosaan. Dia dipaksa waktu itu, juga disiksa. Tapi kali ini Arci melakukannya dengan kasih sayang, dengan perasaan yang kuat. Membuat Ghea merasakan hubungan intim ini melebihi apapun yang diinginkannya.

Arci mendiamkan penisnya tertanam di dalam. Ia juga menikmati bagaimana liang senggama Ghea mencengkeram kuat. Kedutan demi kedutan, makin lama membuat ia keenakan. Ghea terus memandang Arci. Pemuda ini merasa ditantang oleh Ghea, “Ayo goyang!”

Arci pun mulai menarik dan memajukan pinggulnya. Maju mundur, maju mundur. Gesekan demi gesekan kini membuat rangsangan demi rangsangan menjalar ke seluruh tubuh Ghea. Rasanya sangat nikmat, geli, nikmat, entahlah ia tak bisa menjelaskannya. Dia menggigit bibir bawahnya dan matanya mulai terpejam.

“Arci…nikmat sekali, aku tak pernah merasakan senikmat ini,” kata Ghea.

Arci tak bicara, hanya terus bekerja, memompa penisnya keluar masuk liang senggama Ghea yang sudah banjir. Rasanya nikmat sekali. Dia makin erat memeluk Ghea dan tubuh Ghea makin melengkung merasakan gesekan demi gesekan. Setelah beberapa menit Arci kemudian menghentikan gerakannya. Ghea sedikit terkejut. Arci mencabutnya perlahan. Ghea penasaran ketika Arci membalikkan tubuhnya. Ternyata dia disuruh untuk menungging. Ghea tak tahu gaya ini, tapi ketika Arci melesakkan lagi rudalnya ke dalam kemaluannya ia merasakan nikmat yang tak terkira.

Arci mulai menusuk-nusuk liang senggama Ghea dari belakang. Ghea baru kali ini merasakan gaya seperti ini yang rasanya tak kalah nikmat. Buah dadanya jadi terjuntai bebas. Sementara tangannya menekuk, dan kepalanya bersandar di karpet. Arci melihat pantat Ghea yang bahenol, sesekali ia meremasnya, membuat penisnya seperti diremas-rema. Arci kemudian menggapai buah dada Ghea dan mengajak Ghea untuk mendudukinya sementara Arci kemudian berbaring telentang. Ghea yang mengerti keinginan Arci pun mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun, sambil sesekali memutar-mutarnya. Tapi makin lama goyangan Ghea makin cepat, ternyata ia ingi orgasme lagi.

Dan ambruklah Ghea ke atas tubuh Arci ketika orgasme yang panjang. Ghea mencari-cari bibir Arci keduanya berciuman lagi. Arci membalikkan tubuh Ghea kini kembali dalam posisi misionari. Arci sepertinya sudah tak tahan lagi ingin menyemburkan spermanya. Dia pun menggoyang pinggulnya menyodok selakangan Ghea bertubi-tubi sambil melihat wajah Ghea yang kini keenakan sambil memejamkan mata. Ia tak pernah mengira putri Pieter ini sekarang jadi feminim, manja dan menggairahkan. Arci makin cepat menggoyang, kepala Ghea menoleh kiri dan kanan. Ia tak kuasa lagi menahan ledakan orgasme dahsyat yang ketiga kalinya.

“Aku keluarrr….ohhh…Gheaaa…aaakhhh!”

Spermanya sangat banyak. Berkali-kali Arci menyemprot ke dalam kemaluan Ghea. Ghea baru kali ini merasakan nikmat yang luar biasa. Ledakan demi ledakan sperma menyiram rahimnya. Hangat, puas…

Keduanya berciuman lagi. Menikmati momen-momen yang tak akan mereka lupakan seumur hidup. Ghea menatap mata Arci dengan sayu. Arci membelai rambut Ghea, menciumnya lagi.

“Aku tak pernah merasakan bercinta seperti ini. Kamu luar biasa,” kata Ghea.

Arci kemudian perlahan-lahan mencabut kemaluannya. Liang senggama Ghea becek sekali, bercampur sperma dan cairan lendirnya. Rasanya baru kali ini Ghea merasa kelelahan seperti ini. Ia cukup puas. Arci pun memeluknya dan mereka berdua mengambil sebuah selimut di dekat mereka. Arci mendekapnya kemudian keduanya terlelap. Wajah Ghea tampak menunjukkan kepuasan.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Pagi datang. Ghea terbangun dalam pelukan Arci. Ia bingung sekarang. Apa yang harus dia lakukan dalam keadaan seperti ini. Ia merasa dirinya hina. Takluk kepada seorang lelaki, terlebih, lelaki ini sudah beristri. Bahkan lelaki ini saja belum merasakan malam pengantinnya. Ia merasa bersalah. Namun ketika mengingat kembali malam sebelumnya ia tak menyesal. Ada sebuah perasaan aneh, yang kemudian ia pun mengetahui ini namanya cinta.

Arci terbangun. Ketika menyadari dia mendekap Ghea, ia segera melepaskannya. Ghea tahu Arci teringat dengan Andini, maka dari itu ia memakluminya. Sebenarnya Ghea terbangun beberapa kali ketika Arci memanggil-manggil nama istrinya. Ironis memang, orang yang dipeluknya ini bukanlah istrinya. Ghea pun menyadari siapa dirinya. Ada rasa sakit, sakit sekali di dadanya.

Arci berdiri memakai celananya lagi. Pemuda ini melangkah menuju kaca jendela dan melihat matahari terbit. Ghea baru menyadari bahwa pemuda ini sangat gagah. Bahunya mulai kekar, lengannya mulai berotot, hasil latihan yang dia tempa selama ini.

“Ini adalah pertama dan terakhir aku melakukannya denganmu. Kuharap kamu mengerti,” kata Arci.

“Aku mengerti, cinta tak bisa dipaksa,” kata Ghea.

“Tapi, apakah aku bisa merasakan cinta darimu Arci?” kata Ghea dalam hati. “Entah kenapa dadaku rasanya sakit sekali. Apakah ini namanya cemburu?”

Inilah untuk pertama kalinya Ghea merasakan cemburu. Rasanya sakit, bukan sakit secara fisik, tapi secara batin hatinya serasa dicabik-cabik. Dia baru kali ini mengenal cinta, ia juga baru kali ini mengenal sakit karena mengenal cinta. Tapi ia tahu, Arci bukan miliknya. Dia tak bisa memaksa Arci untuk menjadi miliknya, Arci milik Andini dan ia harus menerimanya walaupun rasanya sakit. Entah kenapa ia sangat menyesal bercinta dengan Arci tadi malam. Ia sangat menyesal. Ia menyadari seandainya ia berada di posisi Andini, ia akan sangat marah kepada apa yang telah dia lakukan. Dia menggoda Arci, dia sudah menjadi wanita jalang yang menggoda seorang lelaki yang sudah beristri. Apalagi ia belum pernah menyentuh istrinya sama sekali. Betapa rendahnya dia. Ingin sekali saat itu Ghea menarik pelatuknya dan menembakkan saja dikepalanya. Tapi hal itu akan menyakiti hati Arci, ia tak ingin seperti itu. Gadis ini terlalu cinta kepada Arci, mungkin sekarang cintanya sangat dalam.

Arci menoleh kepada Ghea. Arci baru sadar Ghea menangis. Pemuda ini pun berbalik dan menghampirinya. Setelah itu Arci menelukupkan selimut yang tadi ia pakai ke Ghea seluruhnya hingga gadis yang sedang menangis ini badannya tertutupi selimut dengan sempurna.

“Aku yakin suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan lelaki yang tepat, yang penting kamu sudah mengerti bukan apa arti cinta?”

Ghea mengangguk, “Tapi rasanya sakit.”

Arci mengusap-usap kepala Ghea. “Aku tahu rasanya, aku juga pernah merasakannya. Tapi jangan jadikan rasa cinta itu berubah jadi kebencian, jadikan itu sebagai semangat untuk hidupmu”

Kata-kata Arci itu seperti sebuah embun yang membasahi hatinya yang gersang. Ghea baru sadar, selama ini ia tak pernah punya alasan membenci sesuatu. Ia juga tak pernah punya alasan menyukai sesuatu. Apapun itu asalkan sesuai yang diinginkan ayahnya maka itulah dirinya. Bersama dengan Arci mengubah dia, dari singa betina menjadi seekor kucing yang lucu, mungkin. Tapi itu sekarang dirasakannya. Ia telah takluk kepada pemuda ini tanpa dia sadari.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Agus Trunojoyo menggebrak meja. “Apa??!”

Pengacaranya mengangguk. “Benar, ini yang terjadi.”

“Maksudnya? Tanda tangannya tidak sah?” tanya Agus.

“Iya, tanda tangan Arci tidak sah, karena itu bukan tanda tangannya. Berdasarkan tanda tangan yang pernah ia lakukan pada beberapa berkas dan surat-menyurat tanda tangannya tidak seperti itu,” kata sang pengacara.

“Apa tidak bisa dipalsu?” tanya Agus.

“Tidak mungkin, tanda tanganya terlalu rumit. Kalau pun kita menirunya butuh orang yang benar-benar ahli dalam melakukannya. Bisa jadi Arci kemarin sebenarnya kidal, makanya untuk agar seolah-olah dia menandatangani surat perjanjian itu, dia menggunakan tangan kanan. Terlebih tanda tangannya Arci seperti condong ke kiri, hal ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang punya kebiasaan menulis dengan tangan kiri.”

Agus segera mengambil ponselnya. Ia pun menelpon Tommy. Tommy pun langsung mengangkatnya. Saat itu ia berada di kolam dengan ditemani oleh beberapa wanita panggilan. Pemandangan di kolam itu sungguh erotis di mana dua perempuan seksi dengan hanya memakai lingerie sedang berebutan menjilati batang kemaluannya.

“Ada apa Gus?” tanya Tommy.

“Ada masalah Tom!” kata Agus.

“Masalah apa?”

“Keponakanmu itu memalsukan tanda tangannya! Kita dibodohi!”

“Apa?!”

“Kita harus mencari Arci!”

Tommy agaknya sedikit gusar. Ia mendorong kedua perempuan yang sedang berebut penisnya itu agar menyingkir. Kedua perempuan itu pun pergi. “Jadi begitu ya, baiklah. Aku akan memaksa dia keluar. Aku akan lacak keberadaan istrinya. Ia pasti akan muncul kalau aku berhasil mendapatkan Andini. Kamu jangan khawatir. Sekarang tak ada yang bisa menghalangiku, keluarga Zenedine sudah aku taklukkan, semuanya sudah aku kuasai.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*