Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 11

I Love You Handsome 11

Hari itu Lian sedang berbelanja di supermarket, hingga dengan sengaja troli belanjaya ditabrak oleh troli belanja seseorang. Lian menatap ke orang itu. Dia mengenal siapa orang itu, seorang wanita yang menjadi menantu keluarga Zenedine. Sebenarnya tidak resmi sebagai menantu. Dia menikahi duda dari seorang keluarga Zenedine. Sebenarnya juga sang duda bukan keluarga Zenedine, ia beruntung karena menikahi anak keluarga Zenedine. Wanita ini adalah Alexandra, suami dari Michael.

“Alexandra?!” sapa Lian.

“Hai pelacur? Masih exists? Selamat atas warisannya,” kata Alexandra ketus.

“Apa kamu menyapaku hanya untuk menghinaku saja?”

“Kamu memang pantas untuk dihina, dasar pelacur. Anaknya juga pelacur. Kamu tak pantas berada di keluarga kami.”

“Aku juga sebenarnya tak sudi berada di keluarga ini, tapi… Archer telah memilihku. Kita sama-sama orang yang beruntung masuk ke dalam keluarga Zenedine. Aku yakin kalau kamu dicerai suamimu, kamu juga akan melacur sama sepertiku.”

“Brengsek! Kamu mau menghinaku?”

“Kenapa? Benar bukan? Jangan-jangan suamimu mati karena kamu bunuh hanya untuk mendapatkan harta warisannya, atau mungkin kamu dan Michael sudah selingkuh lama sehingga kalian menghabisi pasangan kalian masing-masing?”

Alexandra kepancing emosinya, tapi ia mengurungkan niatnya yang ingin menghajar Lian saat melihat petugas security lewat.

“Ini belum selesai. Aku akan merobek mulutmu,” kata Alexandra.

“Aku tak takut,”

Alexandra kemudian pergi meninggalkan Lian. Lian jadi teringat bagaimana masa lalunya ketika pertama kali bertemu dengan Alexandra. Dia pernah dilecehkan habis-habisan oleh Alexandra. Bukan, tetapi oleh Michael suaminya. Lian tahu hubungan perselingkuhan Alexandra dan Michael saat pasangan mereka masih hidup. Alexandra yang menikah dengan Robert Zenedine dan Michael yang menikah dengan Rachel Zenedine. Mungkin dugaannya selama ini memang benar kalau Robert dan Rachel dibunuh oleh pasangan mereka. Robert, dia tewas dalam sebuah insiden. Jatuh dari jurang saat melakukan hiking. Rachel, dia tewas dalam sebuah kecelakaan.

Dia teringat ketika hari itu Archer mengantar dia pulang. Setelah Archer pulang Lian dibekap. Dia disekap oleh Michael. Dan Alexandra juga ada di sana. Lian disiksa dengan cambukan, dikencingi oleh Michael dan juga diperkosa. Lian tak akan melupakan kejadian itu. Hal itu membuat Archer marah dan mengancam mengusir Alexandra dan Michael kalau tidak berlaku baik kepada Lian. Tapi cobaan tidak berakhir. Setelah Archer mewarisi kekayaan Arthur, dia tak bisa berbuat banyak. Sementara Alexandra dan Michael terus memburunya. Ini adalah salah satu alasan Lian dan anak-anaknya lari dari satu kota ke kota yang lain, selain tentu saja kejaran debt collector, karena Archer tak meninggalkan apapun buat mereka. Namun setelah Archer meninggal, gangguan itu mulai reda. Mungkin sebagian besar tahu bahwa Lian yang telah mengandung anak Archer, dan akan berakibat buruk kalau sampai terjadi apa-apa kepada Lian.

Lian menghela nafas. Ia tahu beban ini masih berat. Keluarga yang tidak menyukai keberadaannya. Tapi yang lebih berat adalah Arci. Dia harus menanggung banyak hal. Apakah anaknya akan kuat?

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Arci baru saja dari Rumah Sakit Jiwa menemui Araline. Dia mengetahui hal-hal yang tidak pernah ia ketahui sebenarnya. Ia ingin menyimpannya sendiri. Ternyata apa yang dikatakan oleh ayahnya benar, “Jangan percaya kepada siapapun”. Entah apa yang akan dilakukannya. Ia sendiri tak tahu harus percaya kepada siapa saja. Araline tidak berbohong. Ia telah menjelaskan semuanya, kenapa ayahnya lebih memilih Lian sebagai pasangannya hingga melahirkan dirinya. Dan alasan Araline masuk ke dalam rumah sakit jiwa, juga mencengangkan dirinya. Johan hanya berpesan satu hal, “Kali ini, kamu sendiri. Kalau kamu ingin teman, satu-satunya yang bisa menjadi temanmu di keluarga ini hanyalah Ghea. Dia masih polos, dia hanya patuh kepada ayahnya. Tapi kalau engkau mencoba mendekati dia, kamu akan bisa mengendalikannya. Aku tak bisa menolongmu, kamu tahu sendiri bagaimana keadaan Araline. Sekarang kamu mengerti bukan?”

Arci mengangguk. Selama dua jam dia ada di Rumah Sakit Jiwa mendengarkan cerita Araline. Seluruh seluk beluk keluarga Zenedine malah didapatnya dari cerita seorang yang sedang ada gangguan jiwa. Arci pun punya rencana. Dan kali ini ia yakin rencananya tak akan gagal. Hanya saja mungkin apa yang akan dilakukannya ini akan membuat jalan hidupnya makin gelap. Selama ini ternyata ayahnya lebih banyak curhat kepada Araline. Mungkin karena disangka Araline gila karena itulah ia bicara semaunya, membicarakan segala hal tentang keluarga Zenedine, bahkan sampai ke perselingkuhan Amanda dengan Pieter pun diceritakannya. Arci sudah masuk ke dalam lembah hitam, kalau ia lebih masuk lagi maka tak ada pilihan.Hidup memang keras dan ia harus kuat. Ia selama ini telah berjuang dalam kesusahan, dan ia akan terus memperjuangkannya.

Mobilnya melaju di atas aspal kering melewati jalanan raya, sampai sebuah mobil SUV memepet dirinya dan mengklakson. Arci melihat ke jendela dan mendapati wajah Letnan Yanuar. Mau apa Letnan Yanuar? Arci pun menepi dan mobil SUV yang dinaiki reserse itu pun menepi. Arci segera keluar dari mobilnya. Letnan Yanuar tampak bersama anak buahnya juga keluar.

“Ada apa?” tanya Arci.

“Kenapa belum ada laporan? Bukankah kita sudah bersepakat?” tanya Letnan Yanuar.

“Bersepakat? Sepertinya Anda salah, saya tidak bilang iya. Anda cuma ingin agar saya membantu Anda untuk menghancurkan keluarga saya berdasarkan rekaman video ayah saya bukan?” tanya Arci.

“Ya, memang seperti itu.”

“Tapi saya tidak mengatakan iya. Dan saya juga bukan orang yang suka ada orang yang mencampuri urusan saya. Jelaskan kepada saya kenapa Anda menerjunka tim lain?”

“Oh itu, aku tentu saja tidak percaya dengan kinerjamu. Kamu bukan reserse!”

“Kalau Anda memang ingin percaya kepada saya, suruh anak buahmu pergi semua. Daripada mereka mati konyol.”

“Sersan Danu memang aku tugaskan untuk membackup-mu, bukan untuk mencampuri urusanmu.”

“Sama saja. Dengar Let, aku akan lakukan dengan caraku sendiri.”

“Maksudnya?”

“Aku akan lakukan dengan caraku sendiri.”

“Arci, mereka orang-orang berbahaya.”

“Kalian juga orang-orang yang berbahaya.”

“Apa maksudnya?”

“Kalian memang penegak hukum, tapi rela melakukan apapun.”

“Hei, jangan mulutmu itu!”

“Mau apa, memukulku? Memenjarakan aku? Ayo, silakan! Toh, aku sudah seharusnya dari dulu tidak pernah ada. Kalian yang katanya melindungiku saat aku diburu oleh keluargaku sendiri, tapi kalian membiarkan ibu dan kakakku melacur. Itukah yang kalian sebut melindungi? Ketika aku menjual diriku untuk menjadi gigolo lalu kalian diam saja, itukah yang kalian sebut melindungi? Polisi macam apa kalian?”

Letnan Yanuar membisu.

“Sudahlah, aku capek. Aku perlu mempersiapkan acara pernikahanku,” Arci berbalik menuju mobilnya lagi.

“Pernikahan?”

“Ya, aku akan kirimkan undangannya ke kantor kalian,” Arci membanting pintu dan menstarter mobilnya. Dengan cepat mesin mobilnya menyala dan meninggalkan Letnan Yanuar.

Kedua polisi yang ada di pinggir jalan itu tampaknya kecewa. Sementara itu dari jauh sebuah sedan Mercedes Benz SLK 250 melihat mereka semua. Di dalamnya Ghea hanya tersenyum simpul menyaksikan kelakuan Arci terhadap kedua polisi yang ada di pinggir jalan itu. Saat sedan mewah itu mendekat ke Letnan Yanuar, sang polisi tampak terkejut. Ia tahu siapa pemilik mobil itu.

“Arci diikuti oleh mereka. Itu mobil milik Pieter. Jangan khawatir ia tadi mungkin cuma pura-pura karena tahu dia diikuti,” kata Letnan Yanuar.

“Siap Ndan!” jawab anak buahnya.

“Lain kali kita harus hati-hati,” ujar Letnan Yanuar.

Arci hari itu langsung kembali ke rumahnya. Kondisi rumahnya sepi. Ia hanya mendapati adiknya saja yang berada di rumah.

“Lho, kak Safira dan Ibu kemana?” tanya Arci.

“Ibu belanja, kak Safira nggak tau dari tadi nggak nongol,” jawab Putri.

Arci kemudian mengambil ponselnya dan mengirim SMS.

Quote Originally Posted by Arci to Safira
Kak, ada di mana? bales GPL
* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Safira hari itu meninggalkan rumahnya tanpa ada yang tahu sama sekali. Ia sebenarnya berat. Tapi itu semua dilakukannya agar Andini kembali kepada Arci. Andini sudah melarangnya, tapi Safira mengirimkan pesan pagi itu dengan BBM.

Safira: Andini, aku hari ini pergi dari rumah, tanpa sepengetahuan Arci. Kuharap kamu bisa kembali.

Andini: Lho, kenapa kamu harus pergi? Jangan!

Safira: Aku tak bisa berada di sini terus. Kembalilah kepada Arci. Ya?

Andini: Safira, jangan. Kamu berada di mana sekarang?

Safira: Aku masih berada di jalan.

Andini: Aku akan menyusulmu. Please jangan lakukan ini!

Safira: Dini, aku akan pergi. Jagalah Arci.

Andini: Nggak. Kalau kamu pergi aku tak akan kembali kepadanya.

Safira: Sungguh??

Andini: Ya, sungguh. Iya, aku akan kembali ke Arci. Tapi kamu jangan pergi. Please. Aku akan terima semuanya. Aku akan menerima kalian sebagai keluargaku.

Safira: Boleh aku bertemu denganmu?

Andini: Aku akan menjemputmu.
Safira sudah berada di jalan saat itu. Melihat keputusan Andini yang akan kembali kepada Arci, ia pun akhirnya lega. Tak berapa lama kemudian mobil Andini menyusulnya. Andini langsung keluar dari mobil dan memeluk Safira.

“Kamu kenapa bertindak bodoh seperti ini?” tanya Andini.

“Apa aku punya pilihan lain?”

“Sudahlah, aku akan menerima kalian sebagai keluargaku. Ya, itu keputusanku. Mungkin ini berat bagiku, tapi… aku tak mau melihat orang yang dicintainya seperti ini. Safira,..”

Safira tersenyum. Ia membelai rambut Andini. Ia jadi tahu kenapa Arci sangat mencintai Andini. Bukan karena harta, bukan karena semata-mata kecantikannya, tapi terhadap kepribadian yang ada pada Andini. Andini mungkin tak ingin cintanya diduakan. Tapi dia lebih sakit ketika keluarganya sendiri mendapatkan cobaan. Andini sadar, ia hanya belum siap. Dia sadar alasan Safira bersama Arci bukan karena didasari alasan nafsu semata, itu karena masa lalu Safira yang kelam. Ia mengetahuinya. Safira, seorang pelacur, bagaimana ia bisa diterima di masyarakat. Siapa laki-laki yang mau mencintai dirinya selain adiknya sendiri? Selain keluarganya sendiri?

Andini juga baru mengetahui, bahwa ayah Safira tak mengakui dirinya. Lalu kemana lagi ia harus pergi? Kemana ia akan pergi kalau semuanya tidak menerimanya? Andini tak bisa mengusir Safira dari kehidupan Arci. Itu terlalu jahat. Dan dia akan jadi orang jahat kalau sampai memisahkan Safira dan Andini. Andini menganggap dia terlalu egois, tapi satu hal yang tak bisa ia bohongi kepada dirinya sendiri. Ia cinta mati ama Arci.

“Boleh aku tinggal di rumahmu untuk beberapa hari?” tanya Safira.

“Kenapa?” tanya Andini.

“Nggak apa-apa. Aku ingin dekat dengan kamu saja,” jawab Safira.

Andini mengangguk. “Ayo”

Safira mendapatkan SMS. Dari adiknya.

Quote Originally Posted by from Arci
Kak, ada di mana? bales GPL
Safira pun membalas.

Quote Originally Posted by to Arci
Ke rumah teman. Tak usah dicari. Oh ya, aku nginap beberapa hari di rumahnya.
Arci yang saat itu menerima balasan mengerutkan dahi. Agak aneh, bukankah Safira tak pernah punya teman. Arci pun makin penasaran.

Quote Originally Posted by to Safira
Teman? Siapa?
Safira tersenyum.

Quote Originally Posted by to Arci
Sudah deh. Jangan khawatir. Aku tak akan pergi koq. Aku yakin adikku akan mendapatkan cintanya.
Arci makin nggak ngerti. Tapi kalau Safira bilang tidak akan pergi maka perasaannya pun lega. Hanya saja ketidak beradaan Safira itu hal yang baru. Ponsel Arci berdering. Dari Ghea. Arci segera mengangkatnya.

“Halo?!” sapa Arci.

“Arci, aku dengar semuanya,” kata Ghea.

“Maksudnya?”

“Semua yang dikatakan Araline, aku mendengar semuanya.”

“Engkau menyadapku?”

“Ya.”

Arci meraba-raba tubuhnya.

“Tak perlu diraba-raba, yang penting aku tahu. Itu untuk keamananmu saja.”

“Jadi sekarang?”

“Ya, kita sekarang tahu siapa orangnya. Aku khawatir ia telah menguasai semua yang ada di dalam keluarga Zenedine. Bahkan mungkin semua orang-orang kita. Aku takut terjadi sesuatu kepada ayahku, dan kamu tentu saja.”

Ghea entah kenapa sedikit mellow hari itu. Dia merasa manja kepada Arci, sesuatu yang aneh. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Beberapa hari pernikahanmu bukan?” tanya Ghea.

“Itu setingan, aku sudah mempersiapkan sesuatu.”

“Jadi? Itu bohongan?”

“Iya, aku ingin Andini kembali kepadaku. Sengaja aku bentuk seperti itu.”

“Kamu sewa gedung, catering, baju pengantin, itu semua buat apa?”

“Aku sudah merencanakan ini semua. Kamu ikuti saja.”

Ghea sama sekali tak mengerti.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Bagaimana baju pengantinnya?” tanya Arci kepada Rahma.

Mereka berdua sedang melakukan fiting baju pengantin. Arci telah memakai sebuah kemeja dan jas tuxedo. Rahma memakai sebuah gaun yang sangat angun dengan untaian mutiara. Baju pengantin yang mahal tentu saja. Rahma tak tahu apa yang bakal terjadi nanti, tapi kalau memang Arci berkata ini hanya pura-pura tapi kenapa seperti sungguhan? Ia merasa seperti dijadikan alat.

Rahma menatap dirinya di cermin. “Arci, ini terlalu berlebihan. Kamu sampai sewa penghulu segala, ini berlebihan! Kita bukannya cuma pura-pura saja?”

“Kamu ikuti saja permainanku, nanti engkau akan tahu sendiri. Seperti yang aku tanyakan kemarin. Kalau misalnya aku tak memberikan apa-apa kepadamu apakah kamu tetap mau?”

“Entahlah, sebenarnya apakah kamu mencintaiku?”

Arci tersenyum mendengar pertanyaan Rahma, “Kamu pikir bagaimana?”

“Entahlah. Aku tak tahu.”

Arci memegang bahu Rahma. Jarak mereka sangat dekat, “Dengarlah, aku masih mencintai Andini. Tapi pernikahan ini sungguhan. Kamu akan menikah, aku juga.”

“Tapi… apa maksudnya aku tak mengerti!”

Arci masih tersenyum, “Dan aku mohon maaf kemarin sudah menciummu. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin Andini cemburu. Engkau akan tahu pada hari pernikahan besok.” Arci melepaskan pegangannya dan berkaca di cermin.

“Arci, aku masih tak mengerti,” kata Rahma.

Sikap Arci ini penuh dengan tanda tanya. Dia sudah punya rencana sendiri. Rencana yang tidak semua orang tahu. Bahkan ketika pada malam sebelum hari H. Arci tetap membisu. Dia tidak menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya. Rahma kebingungan atas sikap Arci. Dia ingin protes, tapi bingung apa yang bisa dilakukannya. Semuanya sudah diset, gedung, penghulu, catering, undangan telah disebar. Kalau misalnya dibatalkan begitu saja, dia yang akan malu.

****

Safira tinggal di rumah Andini beberapa hari ini. Cukup ajaib, mereka sekarang bisa akrab. Andini mendapatkan undangan dari Arci. Safira yang melihat undangan itu hanya tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Andini.

“Kamu yakin Arci bakal menikahi Rahma?” tanya Safira.

“Trus? Undangan ini? Bukannya ini sebagai bukti bahwa ia tak main-main?”

“Arci punya kejutan. Katakan saja kamu mencintainya, ia pasti akan memberikanmu kejutan!”

“Omong kosong, tidak mungkin. Dia sudah menyewa gedung, menyewa macam-macam, udangan sudah disebar. Mana mungkin ini cuma bohongan?”

“Andini, aku tahu siapa adikku. Dia sangat mencintaimu. Ketika kamu datang nanti ke sana, pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Dan itu baik bagimu. Kalau toh tidak, ah…itu tidak mungkin. Datang saja!”

Andini menutup wajahnya. Ia mengusap-usap wajahnya rasanya tak percaya melihat undangan Arci dan Rahma. Mustahil seperti mimpi.

“Mau ke sana bareng?” tanya Safira.

Andini menghela nafas, “Boleh. Aku ingin buktikan sendiri kalau ini cuma bohongan.”

Safira mengacak-acak rambut Andini, “Naah, gitu. Sekalian jaga-jaga kamu kalau pingsan.”

“Ihhh! Nggaklah.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Siang sepupu,” sapa seseorang lelaki kepada Pieter.

“Tommy?” Pieter keheranan. “Kapan datang? Koq tidak ngasih kabar?”

“Hahahaha, ingin memberi kejutan saja. Katanya anaknya Archer muncul ya?”

“Begitulah,” ujar Pieter.

Pieter masih sibuk memotongi dedaunan tanaman hiasnya. Ia menoleh lagi kepada Tommy, diperhatikannya Tommy yang memakai baju casual. Selama di Perancis sepertinya selera fashion Tommy lebih baik. Tommy melihat-lihat tanaman hias Pieter.

“Kenapa? Ada urusan penting kah?” tanya Pieter.

“Sebenarnya tidak ada, aku hanya ingin mengunjungimu saja. Sekaligus tanya-tanya tentang siapa namanya? Arczre?”

“Dia anak yang baik. Dia telah menjadi bagian dari keluarga kita. Kamu tak datang ketika pembacaan wasiat itu, seharusnya kamu datang.”

“Hahaha, buat apa. Aku toh tidak tertarik.”

“Orang seperti kamu tidak tertarik? Mustahil.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Hahahaha, Tommy Tommy… aku tahu kamu benci kakakmu itu sejak lama. Bahkan kamu kan yang melaporkan kepada ayahmu ketika Archer pergi ke Paris bersama Lian? Aku tahu hal itu. Walaupun aku di penjara, tapi aku punya banyak telinga.”

Tommy tersenyum tipis. “Itu masa lalu, saat aku emang iri dengannya.”

“Apa kamu bisa menjamin sekarang tidak? Aku tidak percaya kepadamu Tom!”

“Lalu kamu sendiri? Apa tidak ingin kekayaan itu juga?”

“Hahahaha, bagi orang seperti aku, bisnis gelapku lebih aku sukai daripada harus mengemis kekayaan keluarga Zenedine! Sedangkan kamu, hidupmu tidak jelas. Penghasilan dari melukis? Hahahaha, kamu bikin aku tertawa. Sejak dulu kamu rival Archer, aku tak yakin kamu tak punya hasrat.”

“Bisa saja kau ini. Sudahlah, aku tak mau membahas itu. Sepi sekali, mana Ghea? Biasanya ia selalu bersamamu”

“Dia ada tugas.”

“Oh, baiklah.”

Tommy melihat arloji di tangannya. Ia menghirup nafas dalam-dalam. “Udara Malang sejuk. Aku suka tinggal di sini. Ah, ngomong-ngomong aku ada perlu, selamat tinggal paman.”

Pieter hanya tersenyum mendengar ucapan Tommy. Tommy melambai, kemudian ia keluar dari gerbang. Pieter wajahnya langsung berubah datar. Segera ia berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung menuju ke mejanya mengeluarkan dua buah pistol dan mengambil beberapa magazine.

Ucapan Tommy bukan ucapan biasa. Umumnya orang-orang akan berkata, “Sampai nanti” atau “Sampai jumpa” tapi ketika seseorang bilang “selamat tinggal” itu persoalan lain. Dan benar. Beberapa orang, mungkin puluhan masuk ke rumah Pieter. Pieter mengambil ponselnya dan menghubungi Ghea dengan loud speaker.

“Papa?” sapa Ghea.

“Lindungi Arci!” kata Pieter.

“Iya, Ada apa?”

“Mungkin aku tak bisa melihatmu hari ini.”

“Papa, jangan katakan kalau Tommy menemuimu?”

“Begitulah. Kamu sudah tahu ternyata.”

“Aku sudah tahu beberapa hari yang lalu ketika Arci menemui Araline di Rumah Sakit Jiwa. Tapi aku tak percaya begitu saja, aku mengumpulkan bukti-bukti dulu sebelum memberikannya kepada ayah. Sebagaimana ayah bilang, aku tak boleh gegabah. Dan aku sudah mendapatkannya. Semua obat-obat terlarang itu, narkoba dan sejenisnya, Alfred yang mengatur. Araline mengatakan bahwa dia bisa terlibat narkoba karena pengaruh dari Tommy, dan yang lebih mengejutkan adalah dia sangat bernafsu ingin menguasai harta Zenedine. Dialah yang menjadi pengkhianat, aku telah mendapatkan kesepakatan dia dengan Agus Trunojoyo untuk menguasai PT Evolus.”

“Oh, jadi begitu.”

“Papa, apa yang terjadi di sana?”

“Ada perusuh masuk. Jangan khawatirkan aku, khawatirkan Arci! Lindungi dia. Lagipula ini hari yang spesial bukan?”

“Papaaa! Kalau papa tidak ada aku harus bagaimana?”

“Pergilah bersama Arci, selamatkan apa yang ada.”

“Tapi papa!? Aku akan kesana, tunggulah!”

“PERGI KATAKU!”

Ghea takut mendengar suara ayahnya sendiri.

“Baiklah.”

“Ghea, aku sangat menyayangimu. Bertahanlah hidup!”

Telepon pun ditutup. Pieter kini memegang dua pistol glock. Rumahnya telah di kepung, semuanya membawa senapan mesin, mereka semua sudah bersiap untuk memuntahkan isi peluru mereka. Dan jadilah hari itu hari berdarah bagi keluarga Zenedine. Sang anjing penjaga berjuang sendirian menghadapi para cecunguk suruhan Tommy Zenedine. Pieter berjuang hingga pelurunya habis. Pieter berhasil menembak beberapa orang, bukan beberapa puluhan orang. Peluru-peluru yang dia tembakkan tidak sia-sia hingga akhirnya habis. Setelah pelurunya habis dia mengambil parang yang ada di bawah mejanya, dia kemudian menyerang orang-orang yang mengepung rumahnya. Benar-benar pejuang yang tangguh, hingga Pieter yang kalah senjata itu akhirnya harus mengakui tubuhnya tak mampu lagi menahan luka. Peluru-peluru menembus tubuhnya hingga ia akhirnya berlutut dengan berpegangan kepada parang yang ada di tubuhnya.

Tommy Zenedine kembali masuk ke dalam rumah Pieter. Dia menendang anak buahnya yang tewas oleh peluru Pieter. Pieter menatap Tommy tanpa berkedip. Darah mengalir dari lubang-lubang peluru di tubuhnya.

“Kamu selalu mengajariku kalau ingin perang, selalu memakai rompi anti peluru. Ternyata engkau sendiri yang lupa,” ujar Tommy.

Pieter tersenyum. “Aku juga mengajarimu, kalau masuk rumah orang kamu harus tahu ada apa saja di dalamnya bukan?”

Tommy mengerutan dahi. Dia melihat Pieter mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah remote.

“FUUUCKK!” umpat Tommy. Ia segera berbalik dan pergi. Anak buahnya pun mengikutinya. Mereka semua mengambil langkah seribu dan tak lama kemudian rumah Pieter meledak. Ledakannya benar-benar mengguncang dan menimbulkan suara yang keras. Getarannya hingga membuat mobil-mobil yang berada di dekat rumahnya pun ikut terangkat, bahkan sebagian alarm mobil berbunyi.

Tommy selamat, dia sangat beruntung. Beberapa anak buahnya tewas karena ledakan. “Brengsek! Tua bangka, mau mati saja nyusahin orang. Keparat! MATI KAU!”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Andini masih tak percaya ia datang di pernikahan Arci. Ya, pernikahan itu berada di sebuah gedung mewah. Semua undangan telah disebar. Tapi mana pengantennya?

Andini memakai gaun warna putih keperakan. Safira memakai gaun warna merah maroon. Dan dibandingkan tamu undangan yang lain, mereka berdua sepertinya bakal menjadi bintangnya karena sangat cantik. Dua bidadari ini begitu masuk gedung langsung disambut oleh banyak orang. Pelaminan masih kosong, pengantinnya belum kelihatan. Para tamu sudah menunggu dan sebagian menyantap hidangan yang ada.

Saat itulah dari arah pintu masuk Arci datang. Dia menggandeng Rahma. Tentu saja Andini rasanya mendidih melihat mereka berdua, Safira mencoba menenangkan Andini. Arci menyapu semua tamu yang hadir dan dia melihat Andini dan Safira. Wajahnya tampak berseri-seri, bukan karena acara hari ini, tapi karena melihat seorang yang sangat dicintainya ada di tempat ini.

Setelah itu Arci buru-buru naik ke panggung yang ada di sebelah kanan tempat pelaminan. Di sana sudah disiapkan alat-alat musik dan beberapa anggota band. Begitu Arci meraih mic tanpa kabel ia segera turun. Dia mengetuk mic, membuat semua tamu undangan melihat ke arahnya.

“Terima kasih semuanya telah datang. Hari ini, bisa jadi hari bahagia bagi kita semua. Namun bisa jadi hari yang paling mengharukan bagi sebagian orang. Saya berterima kasih kepada kalian yang telah hadir. Rekan-rekan kerja, teman-teman yang sudah memberikan waktunya untuk bisa hadir pada acara hari ini,” kata Arci.

“Sebelumnya saya hanya ingin kalian semua menjadi saksi,” lanjut Arci. “Saksi atas apa yang terjadi pada hari ini. Yang pertama, saya menyuruh kalian untuk membawa undangan bukan? Sudah kalian bawa? Kalau kalian bawa coba angkat ke atas!”

Semua tamu undangan yang membawa undangan itu mengangkat undangan itu keatas begitu Arci memberi aba-aba. Mereka tak mengerti apa yang Arci inginkan. Rahma juga gagal faham. Andini yang membawa undangan itu ikut mengangkatnya. Ia merasa konyol dengan kelakuan Arci.

“Setelah itu, lihat ada pita bukan di tengah halamannya? Pita ini coba ditarik, maka akan ada halaman baru di dalamnya!” kata Arci.

Andini mengerutkan dahi. Ia tak percaya, maka ia menarik pita itu dan kata-kata sebelumnya adalah

ARCZRE dan RAHMA

berubah menjadi

ANDINI dan ARCZRE

RAHMA dan SINGGIH

Andini mulutnya menganga. Safira tertawa puas.

“Apa-apaan ini?” kata Andini.

Rahma juga heran ketika ia baru menyadari ada halaman baru di dalamnya, sebuah nama yang ia tak akan pernah lupa. Arci kemudian menunjuk ke sebuah arah. Di pintu masuk, tampak seseorang berada di atas kursi roda, ia tak mempunyai lengan dan kaki. Tapi wajahnya sangat dikenal Rahma.

“Singgih??” kata Rahma.

Arci kemudian berjalan menuju ke arah Andini. Seluruh tamu undangan tercengang. Mereka gagal faham terhadap apa yang terjadi, tapi mereka mencoba mencerna. Beberapa orang mulai faham.

“Andini, kamu masih ingat janjiku ketika kamu menjadi Iskha?” tanya Arci yang kini sudah ada di hadapannya sambil mic masih ada di dekat bibirnya.

Mata Andini berkaca-kaca. “Kau jahat! Tentu aku ingat.”

“Hari ini, pak penghulu sudah menunggu. Kamu tak mau jadi istriku?” tanya Arci.

Andini masih tak percaya. Beberapa saat lalu hatinya hancur diaduk-aduk, sekarang berubah 180 derajat. Dia menoleh ke arah Safira. Safira mengacungi jempol. Andini menangis, ia tak peduli make-upnya luntur. Ia lalu memukul-mukul Arci.

“Brengsek! Kamu pria terbrengsek yang pernah aku kenal,” kata Andini. Ia lalu memeluk Arci, “Tapi aku cinta ama kamu.”

Rahma tak menghiraukan apa yang terjadi dengan Arci. Di hadapannya sekarang ada Singgih yang didorong oleh seorang wanita. Wanita inilah yang selama ini merawat Singgih. Singgih tampak memakai baju yang sangat rapi, khusus di hari spesial ini. Arci telah mencarinya selama beberapa waktu, tak sulit mencarinya. Dia tinggal menghubungi kedutaan besar Indonesia di Inggris kemudian mencari Singgih dengan orang suruhannya. Lalu membuat acara kejutan yang telah ia siapkan.

Sekarang Rahma mengerti maksud dari Arci bahwa hari ini Arci menikah, dia juga akan menikah. Dan ia juga mengerti maksud dari ia tak akan mendapatkan apa-apa. Singgih dengan kondisi seperti sekarang, artinya ia tak akan bisa memberikan Rahma apa-apa.

“Hai…apa kabar?” sapa Rahma.

“Beginilah kabarku. Kamu sangat cantik hari ini,” kata Singgih. “Aku tak bisa menghubungimu, keadaanku seperti ini. Aku ingin pulang tapi aku tak bisa.”

Rahma meneteskan air mata. Ia tak kuasa melihat Singgih.

“Aku telah diminta Arci. Dia yang merancang semua ini. Ia bilang, kamu masih mencintaiku. Aku tidak percaya diri melihat keadaanku seperti sekarang ini. Aku merasa kamu lebih pantas menerima orang yang lebih baik daripada aku, tapi…dia memaksa. Katanya kalau engkau mencintaiku, maka kau akan menerimaku apa adanya,” Singgih tak kuasa menahan haru. “Kenalkan dia Catherine. Dia yang menabrakku, dia merasa bersalah dan merawatku hingga sekarang.”

Catherine tersenyum kepada Rahma, “So it was you, Singgih bercerita banyak tentang dirimu. Dia sangat mencintaimu.”

Rahma tak bisa bicara lagi, ia langsung memeluk Singgih. “Sudah cukup, sudah cukup, aku sudah bilang jangan pergi. Aku sudah bilang jangan pergi! Lihat bukan akibatnya?”

“Maafkan aku!”

Keduanya tenggelam dalam tangis. Catherine pun tak mampu lagi membendung kesedihannya, ia juga larut dalam tangis. So…ini happy ending? Yeah, sepertinya. Tapi cerita belum berakhir. Kegelapan, mulai mendekat kepada mereka semua. Seperti semut yang merambat di atas batu hitam di kegelapan malam.

Beberapa Hari Sebelumnya…..

Arci masuk ke sebuah ruangan khusus. Ruangan itu adalah ruangan kamar tempat di mana Araline berada. Johan menunggu di luar. Arci melihat seorang wanita paruh baya, wajahnya sudah ada keriput, rambutnya tergerai tak terawat. Matanya mirip sekali dengan mata Archer.

“Archer?” sapa Araline.

“Aku Arczre, anaknya,” jawab Arci.

“Ah, bagaimana kabar ayahmu?” tanya Araline.

“Dia sudah meninggal.”

Mata Araline berkaca-kaca. Tangannya gemetar. Ia memberi aba-aba agar Arci mendekat. Arci pun mendekat. Tubuh tua Araline gemetar ketika meraba wajah pemuda itu. Araline meraba seolah-olah ia tak bisa melihat. Wajah Arci diusapnya hingga seluruh panca indera perabanya bisa merasakan wajahnya.

“Penglihatanku sudah tak berfungsi,” ujar Araline. “Aku terlalu banyak menangis. Aku selama ini menghancurkan hati Johan yang selalu setia mendampingiku.”

“Apa yang ingin kamu sampaikan?”

“Aku ingin menceritakan semuanya. Sudah saatnya aku bicara banyak. Semua yang kamu harus ketahui tentang keluarga Zenedine. Kalau ada orang yang ingin menguasai harta kekayaan ayahmu, maka cuma satu orang. Dia adalah Tommy Zenedine.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Ceritanya cukup panjang. Tapi aku akan ceritakan dengan detail, agar kamu paham seberapa bencinya Tommy kepada ayahmu. Dan agar kamu tahu, apa yang Archer perjuangkan untuk keluarga ini. Kamu mau tak mau harus menerimanya, kamu bisa mengubah semuanya, kamu bisa dan kamu satu-satunya yang bisa. Aku berada di sini, karena takut. Aku pura-pura gila, agar aku tak mau dihancurkan oleh Tommy. Dia orang yang sangat berbahaya.”

“Bukankah dia tidak tertarik dengan harta keluarga ini?”

“Siapa bilang? Dia berkata hanya akan mencintai seni, itu bohong semuanya. Dia yang pertama kali memperkenalkanku kepada narkoba. Dia yang pertama kali. Dia juga yang menyeludupkan narkoba ke luar negeri dengan perantara perusahaan ini. Kamu tahu pengaruhnya di keluarga ini melebihi pengaruh Archer. Hampir semua tukang pukul, bodyguard, pembunuh bayaran, semuanya dikuasai oleh dia dan anaknya, Alfred. Alfred adalah kepanjangan tangan Tommy. Mereka ayah dan anak sama saja.

“Sejak kecil Tommy selalu bersaing dengan Archer. Dalam banyak hal. Tapi Tommy selalu kalah. Dia selalu iri dengan semua yang selalu diraih Archer. Archer selalu sempurna, Archer sederhana, Archer membuat semua orang suka kepadanya. Aku juga suka kepada Archer. Dia selalu melindungiku, tapi aku melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan terbesarku adalah karena aku mencintai dia.

“Aku ingat ketika kami masih sekolah, dia sangat berbeda dari yang lain. Sangat mempesona. Sikapnya yang dewasa membuat setiap cewek ingin mendekatinya. Aku sangat protektif. Dan selalu aku manja kepadanya. Dia tetap menganggap aku sebagai adiknya, tapi aku tidak. Aku merasa ingin memilikinya, aku merasa akulah yang lebih tahu Archer, aku ingin menjadikan dia sebagai kekasihku, dan akhirnya aku bisa mendapatkannya. Ya, aku bisa mendapatkannya. Suatu malam di saat ulang tahunku aku meminta hadiah berupa kecupan di bibir. Dan aku mendapatkannya dari Archer. Ah, indahnya saat itu. Itu ciuman pertamaku.

“Namun, Archer tidak pernah menganggap aku sebagai kekasihnya. Tidak, kami tidak pernah melakukan seks. Aku mencintainya tulus, mengorbankan apapun untuk dia. Aku menyayangi dia sebagai keluarga, juga sebagai kekasih. Hanya saja kecintaanku kepada Archer mengakibatkan aku selalu sakit hati. Ya, sakit hati. Dia bisa bebas memiliki kekasih, ia gonta-ganti pacar, tapi aku? Aku hanya menelan pil pahit.

“Tommy menyadari bahwa aku sedang galau. Dia pun menawariku serbuk jahanam itu. Untuk pertama kalinya aku memakai kokain. Dan makin lama aku ketagihan. Archer marah kepadaku, dan ketika marah itulah aku bisa jujur kepadanya kalau aku sangat mencintainya. Tapi, kami kakak beradik, aku tak bisa mencintai dia dan dia juga tak bisa mencintaiku. Akhirnya, aku pun mengurung diri di kamar karenanya, sebulan, dua bulan, tiga bulan. Selama itu, aku selalu diberi narkoba oleh Tommy. Darinyalah aku bisa mengerti ambisi Tommy yang sebenarnya. Darinya aku tahu masa lalunya bagaimana dia sangat membenci Archer. Darinya aku bisa tahu berbagai bisnis yang dia kelola, dari narkoba hingga jual beli barang antik curian. Aku pura-pura fly ketika ia bicara.

“Suatu hari, aku lagi-lagi pura-pura fly ketika dia datang. Tapi dia bersimbah darah. Dia bercerita bahwa baru saja menggorok leher orang. Dan ia ingin bisa menggorok ayahnya sendiri suatu saat nanti karena tidak berniat memberikan perusahaan itu kepada dirinya. Akhirnya Archer bertemu dengan Lian, mereka makin dekat, dan Archer mengunjungiku lagi. Ia bilang kalau dia dekat dan sangat sayang kepada Lian. Ah, aku tak tahu bagaimana wajahnya. Tapi aku tak peduli, bagiku kalau Archer bahagia aku juga ikut bahagia. Walaupun sakit sebenarnya.

“Setelah ayahku mengancamnya dan menghancurkan hidup Lian, aku tak tahu lagi kabar Lian. Archer menjadi dingin. Dia tak peduli lagi kepadaku, bahkan terhadap keluarganya juga. Suatu saat entah bagaimana aku histeris, aku sedang kolaps, aku gila, aku tak ingat bagaimana dan apa yang terjadi. Antara aku sedang sakaw, gila atau aku begitu karena Archer. Setelah itu aku direhabilitasi. Di sini aku bertemu dengan Johan. Mungkin karena sering bertemu akhirnya aku dan Johan menikah. Pernikahan kami sederhana, berada di bawah pohon beringin, pondok rehabilitasi memberikan kami kamar khusus untuk itu. Ah, itu hari terindah. Aku mendapatkan cinta Johan. Kamu pasti masih melihat sorot matanya yang mencintaiku bukan?

“Berita mengejutkan terjadi setelah itu. Archer meninggal karena sakit jantung. Tapi aku tak percaya. Memang Archer punya kelainan pada jantungnya, tapi aku tak percaya dia mati begitu saja. Ketika telah lama berita kematiannya kudengar aku mendapatkan sepucuk surat. AKu bisa membaca surat itu,tentu saja. Itu adalah tulisan Archer, katanya aku harus menunggu. Menunggu siapa? Ketika aku tahu kamu datang aku yakin sekarang yang dimaksud menunggu itu adalah menunggumu.

“Aku kemudian masuk rumah sakit jiwa. Johan selalu mensupportku, bahkan semua berita tentang keluarga ini aku tahu dari dia. Aku mendengar bagaimana Tommy mulai menyuruh Alfred untuk berbuat bodoh, ia ingin menggabungkan perusahaan kita dengan perusahaan milik Trunojoyo.

“Agus Trunojoyo, pemilik PT Denim sangat berambisi untuk bisa menguasai PT Evolus. Dan kesepakatan antara Tommy dan Agus adalah Tommy akan menjadi presiden direkturnya apabila PT Denim bisa merger dengan PT Evolus. Kenapa ia tak lakukan saja sejak awal? Itu karena pengaruh Pieter masih sangat kuat. Di penjara Pieter banyak rekanan, banyak kenalan sehingga mengusik keluarga Zenedine sama saja dengan cari mati. Tommy mungkin masih mencari waktu yang tepat dengan sedikit demi sedikit menguasai orang-orang di keluarga Zenedine.

“Arci, tahukah kamu kalau sebenarnya Archer banyak curhat kepadaku tentang ibumu. Ya, ibu yang penuh kasih sayang. Aku tak pernah menyangka Archer akan bertemu dengan ibumu dan rasanya aku tahu kenapa Archer memilih ibumu. Semenjak aku berada di rumah sakit, aku jadi berfikir kalau toh aku bukan adiknya tetap saja aku tak akan bisa mengalahkan Lian. Aku juga tak mungkin bisa menjadi ibu yang baik, ibu baik mana yang kecanduan narkoba? Archer juga menceritakan kepadaku ia tak mencintai Amanda. Selama ini ia menikah hanya berdasarkan status saja, tak pernah ia sentuh Amanda. Mereka menjadi sahabat. Sedangkan Amanda lebih mencintai Pieter. Ya, mereka berdua adalah sepasang kekasih, tapi harus bertemu dalam keadaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketika Pieter berada di penjara karena membunuh seorang polisi, Amanda selalu menjenguknya. Ah, banyak sekali affair dalam keluarga ini. Tapi aku salut kepada Amanda yang menyimpan cintanya sampai sekarang.

“Arci…, boleh aku meminta satu hal kepadamu nak?”

“Ya, apa itu?”

“Maukah kamu menjadi anakku? Anggaplah aku ibumu.”

Arci sedari tadi menahan haru. Ia mengetahui semua rahasia keluarga Zenedine dari wanita ini.

“Ya, kamu boleh menganggapku sebagai anakmu,” kata Arci.

“Sini anakku, peluk ibumu!”

Arci pun maju memeluk Araline. Araline meneteskan air mata. Ia sangat rindu Archer, walaupun sekarang yang ada di hadapannya adalah anak kandungnya. Itu sudah cukup. Itu sudah cukup rasanya.

Selama dua jam Arci berada di Rumah Sakit Jiwa. Ia pun sampai menyuapi Araline, layaknya seorang anak kepada ibunya. Araline sangat senang, Arci tak tega sebenarnya meninggalkan Araline sendirian. Johan yang melihat itu pun tak bisa menahan haru. Tapi, akhirnya setelah sekian lamanya Araline bertemu dengan kebahagiaan. Senyum bisa terukir di wajahnya.

“Baru kali ini aku melihat Araline tersenyum. Terima kasih Arci, terima kasih.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Akhirnya hari itu Arci menikah. Kejutan tentu saja ketika Bu Susiati juga hadir bersama suaminya. Andini makin bingung bagaimana ibunya bisa hadir.

“Mama koq tahu?” tanya Andini.

“Ini semua idenya Arci, dia menghubungi mama jauh hari. Maaf ya, nggak ngasih tahu,” kata Bu Susiati.

“Arciii! Aku rasanya jadi orang bego gini. Mana aku nggak pake baju penganten lagi, disuruh duduk di depan penghulu. Malu tahu!” Andini protes sambil mukul-mukul bahu Arci.

“Halah, peduli amat ama baju penganten. Yang penting saaah!” Arci nyengir.

Setelah status Arci dan Andini disahkan menjadi suami istri, juga Rahma dan Singgih, semuanya larut dalam kegembiraan. Arci menyalami siapa saja yang datang. Yah, takdir tak dapat disangka. Rahma bisa bertemu dengan Singgih. Ia sangat senang, ia tak peduli Singgih punya kaki atau tidak, punya tangan atau tidak. Yang penting Singgih kembali.

Hari itu perasaan Andini antara mendongkol dan bahagia jadi satu. Semua kejutan-kejutan dari kekasihnya itu tak pernah ia sangka. Perasaannya senang, gembira, gemes, jutek jadi satu. Ia menganggap Arci pria terbrengsek, terganteng dan tersayang yang paling ia kenal. Arci menggenggam tangan Andini erat-erat, seolah-olah ia berkata, “Jangan pergi, tempatmu di sini.”

Akhirnya untuk pertama kalinya Andini tersenyum. Mata Arci dan Andini bertemu. Ada debar rasa tersendiri di dada mereka. Ya, apalagi kalau bukan hari ini mereka telah sah jadi suami istri. Sebuah janji yang dulu diucapkan sekarang telah ditepati. Rasanya seperti mimpi.

Ponsel Arci berbunyi. Dia melihat siapa yang menelpon. Sebuah nama Ghea Zenedine terpampang di sana.

“Ghea?” gumam Arci.

“Ghea? Ghea Zenedine? Yang nodong kamu waktu itu?” tanya Andini.

“Iya,” kata Arci. Ia kemudian mengangkat ponselnya. “Halo?”

“Arci! Pergi dari tempat itu, sekarang!” kata Ghea.

“Kenapa suaramu seperti menangis? Ada apa?” tanya Arci.

“Papa tewas. Rumah kami meledak. Anak buah Tommy sedang menuju ke tempatmu!” kata Ghea.

“Apa?”

“Aku sekarang menuju ke tempatmu. Bubarkan semua orang yang ada di sana. Aku khawatir sebentar lagi terjadi perang di sana. Aku sudah mengirim orang-orang yang aku percaya untuk melidungimu. Tapi sepertinya kita kalah jumlah,” kata Ghea.

“Baiklah!” Arci menutup teleponnya. Raut wajahnya berubah.

“Ada apa?” tanya Andini.

Arci memegang bahunya, “Dengar, segera lari dari sini!”

“Ada apa? Kenapa?” Andini heran. Arci segera memberikan ciuman terdalam kepadanya. Andini langsung hanyut dalam kecupan sang kekasih. Arci seolah-olah ingin menghirup seluruh rasa bibir yang Andini punyai.

Setelah mencium Andini, Arci menoleh kiri-kanan mencari Safira. Tak ada. Kemana Safira pergi? Arci tak pikir panjang, segera ia berlari ke sebuah alarm kebakaran. Dan ia pun memukul alarm itu.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Letnan Yanuar pagi itu menghabiskan waktunya di sebuah kafe setelah jogging pagi. Dia memang sering nongkrong di sana. Pagi yang cerah, menikmati secangkir kopi dan biskuit sambil membaca koran. Beberapa kali ia sibuk dengan smartphonenya, melihat berita-berita terbaru. Pikirannya sibuk akhir-akhir ini dengan kasus-kasus yang ia tangani, terlebih ketika salah satu anak buahnya harus tewas di tangan Pieter. Arci tak bisa diandalkan pikirnya.

Berapa yang harus dibayar atas kasus ini? Keluarga Zenedine telah terbukti berbuat jahat, menyeludupkan narkoba, membunuh orang, tapi barang bukti-barang buktinya seolah-olah lenyap begitu saja. Dan baru saja ia akan mendapatkannya anak buahnya sudah tewas duluan. Letnan Yanuar melipat koran dan memandang sekeliling. Sunyi, sepi. Ia menghirup udara pagi yang sejuk, kemudian ia memandang sekelilingnya. Terlalu sepi.

“Sialan,” gumamnya ketika ada orang-orang yang tidak ia kenal berdatangan. Dan mereka membawa macam-macam senjata, parang, pipa, pisau.

Letnan Yanuar meraba pinggangnya. Ia lupa tak membawa senjata. Padahal ia seharusnya membawa benda itu kemana-mana. Oh, dia lupa. Kenapa jogging harus membawa pistol? Bodoh memang. Tapi, akhirnya dia mengerti. Dia terkepung.

“Jadi begini ya? Main keroyokan. Baiklah,” Letnan Yanuar berdiri. Kemudian dia mengambil kursi yang dia jadikan tempat duduk tadi. Ia angkat lalu ia banting hingga hancur berkeping-keping. Kemudian dia mengambil sebilah kayu yang kemudian dia ayun-ayunkan. “Ayo! Kalian mau mengeroyokku? Ayo sini!”

Kemudian orang-orang itu pun mulai maju satu persatu mengayunkan apa yang ada di tangan mereka. Letnan Yanuar terus bertahan, bacokan demi bacokan parang, pisau dan hantaman pipa mengenai tubuhnya. Ia berhasil melukai beberapa orang. Sekalipun kalah jumlah ia benar-benar garang, tapi apa daya ia memang kalah jumlah. Setelah polisi itu terkapar tak berdaya dengan luka penuh bacokan, tusukan dan kepalanya remuk, ia pun ditinggalkan begitu saja seperti sampah, hingga nafasnya pun berhenti.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Amanda menikmati suasana rumahnya yang sepi. Tak ada suara seindah suara burung dan dedaunan yang gemersik tertiup angin. Apa yang ia inginkan sekarang? Mungkin yang ia inginkan adalah bisa bersama Pieter. Sendirian di rumah tanpa ada yang menemani hidupnya agaknya sudah membuatnya bosan. Ia ingin sekali dibelai oleh Pieter. Ingin di akhir hidupnya ia bisa mencintai lelaki itu. Ah, sungguh bukan sesuatu yang muluk bukan apabila bermimpi seperti itu? Dia sangat menginginkan kedamaian dan cinta. Dia boleh dibilang tidak menyesal berkenalan dengan keluarga Zenedine.

Setelah ia melihat Arci, ia jadi teringat Archer. Ya, teringat saat dia menjadi sahabatnya. Archer selalu baik kepadanya. Status mereka memang suami istri tapi Archer sama sekali tak menyentuhnya. Ah, andaikan Archer menjadi suaminya sepenuhnya tentu keadaannya akan lain. Tapi dia mendapatkan cinta yang bernama Pieter. Itu sudah cukup. Sekalipun setelah lama dipenjara, tapi cinta mereka makin besar.

Amanda memandang jauh ke depan. Ke pepohonan yang daun-daunnya bergoyang. Suasana di teras halaman belakang rumahnya sangat teduh. Tak begitu panas dan tak begitu dingin. Suasana kota Batu tempat tinggalnya ini pun sangat mendukung. Ia tak perlu pusing tentang masalah ekonomi, semuanya sudah ada. Tapi sekalipun begitu hati Amanda kesepian. Ia bisa saja tiap hari berada di rumah Pieter, tapi mereka belum resmi. Kegalauan lainnya dia tidak enak dengan Ghea. Rencananya dengan Pieter adalah bulan depan mereka menikah. Ya, tak ada yang bisa tahan dengan hubungan tidak jelas ini. Amanda sudah tak peduli lagi terhadap semuanya, yang ia inginkan hanya Pieter.

Ia mengambil tehnya yang udah dingin. Hampir saja ia minum tiba-tiba sebuah tangan kekar membekap mulutnya. Ia mencoba melepaskan diri tapi tangan itu terlalu kuat. Dengan satu gerakan kepala Amanda diputar. KRAAAK! Seketika itu juga Amanda sudah tak bernyawa. Amanda melemah, tubuhnya sekarang kaku dengan kepala terputar ke belakang. Lehernya dipatahkan oleh seorang assasin.

Teras belakang rumah, sebuah saksi bisu di mana perempuan yang sudah lama menunggu cintanya, akhirnya harus mati di tangan orang suruhan Tommy Zenedine. Tommy sudah berniat ingin menghabisi seluruh keluarga Zenedine.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Jacques, hari itu bangun tidur. Ia cukup capek dengan banyak urusan beberapa hari ini. Maka dari itulah ia kali ini bangun lebih siang. Dia mendapatkan SMS dari Ghea agar segera menemuinya. Jacques hanya membalas OK. Setelah itu ia ganti baju, memakai kemeja, dan juga jas. Sebagai tangan kanan Pieter, Jacques yang bekas anggota Delta Force itu cukup peka terhadap banyak hal. Terutama terhadap sesuatu yang mengancam nyawanya. Seperti pagi ini. Ia merasakan sesuatu yang aneh ketika keluar dari rumahnya.

Di halaman rumahnya biasa saja. Tak ada tanda-tanda yang aneh. Jalanan juga sepi. Bahkan mungkin terlalu sepi bagi dia. Dia punya kebiasaan ketika pagi tiba selalu mendapati sebuah koran tergeletak di teras rumahnya. Ada anak kecil yang menjadi loper koran langganannya yang selalu melemparkan koran. Tapi ini tidak ada. Dan tidak biasanya. Lebih aneh lagi adalah pagar rumahnya bergeser sedikit.

Dia segera menghubungi Ghea tapi Ghea tidak mengangkat hanya voice mail, “Ghea, ada yang tidak beres. Coba cek Pieter!”

Jacques tidak masuk ke mobilnya. Dia keluar dari pagar rumahnya dan melihat sekeliling. Dan perasaannya pun tidak salah. Sudah ada puluhan orang menodongkan senjata semi otomatis ke arahnya. Ia hanya tersenyum sinis.

“Jadi ini yang kalian lakukan. Baiklah….”

Jacques tak ada pilihan, tak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang yang mengepungnya itu pun sudah memberondong dia dengan peluru. Peluru-peluru dari senjata semi otomatis itu pun menembus tubuhnya. Tubuh Jacques pun terkapar di pinggir jalan. Orang-orang yang menembaknya pun pergi.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Agaknya Safira yang sebenarnya tak kuat berada di dalam gedung. Melihat Arci dan Andini bisa bersatu membuat dia cemburu. Ah, hidup memang kejam. Tapi ini adalah pilihannya. Ia sangat mencintai adiknya melebihi apapun, dan ia harus bisa bahagia dengan itu. Safira melangkahkan kakinya menuju keluar gedung. Dan ia terkejut ketika tangannya disentuh oleh seseorang. Safira mengenal orang itu.

“Anda??”

“Ini aku, Agus. Masih ingat?” sapa orang itu.

Tentu saja Safira masih ingat Agus Trunojoyo, client pertamanya. Yang mendapatkan keperawanannya kala itu.

“I-iya, aku masih ingat. Apa kabar om?” tanya Safira.

“Kamu sudah dewasa ya sekarang,” kata Agus melihat Safira dari atas sampai ke bawah.

Safira tersenyum. “Iyalah om, sudah berapa tahun juga.”

“Maaf, kamu masih menekuni profesimu? Kalau masih boleh tuh om pakai lagi. Tadi om terkejut melihat kamu disini,” kata Agus.

“Oh, udah nggak om. Maaf, om diundang juga? Kenal ama adikku berarti?”

“Aku pemilik PT. Denim, tentu saja diundang. Adikmu pemilik PT. Evolus kan? Aku tak menyangka saja dia adalah adikmu.”

“Iya, kehidupan kami cukup berubah.”

“Mau ikut ama om? Tenang aja, kita ngobrol. Nggak ngapa-ngapain.”

Safira menghela nafasnya. Boleh juga pikirnya. Lagipula ia tak tahu apa yang harus ia lakukan di tempat itu. Ia pun mengangguk. Agus kemudian menggandeng Safira meninggalkan gedung itu. Safira menganggap Agus tak akan berbuat jahat. Sebab dulu Agus memperlakukan dia dengan baik, apalagi membayarnya dengan sangat mahal. Mungkin saja tak akan macam-macam.

Alarm berbunyi dan membuat semua orang panik. Semuanya langsung pergi keluar dari gedung acara pernikahan. Andini kebingungan terhadap apa yang dilakukan oleh suaminya.

“Ada apa?” tanya Andini.

Arci segera menggandengnya menemui Bu Susiati dan Suaminya yang kebingungan.

“Ada apa nak Arci?” tanya Bu Susiati.

“Bawa Andini pergi, ada sesuatu yang tidak beres,” kata Arci.

Andini yang sepertinya mengerti maksudnya segera dibawa oleh orang tuanya pergi. Arci mengambil ponselnya kemudian menghubungi Safira. Safira pun mengangkat teleponnya.

“Kak, ada di mana?” tanya Arci.

“Aku sedang jalan ama teman,” jawab Safira.

“Siapa?” tanya Arci.

“Ada deh,” jawab Safira.

“Aku seriusan ini! Sama siapa?!”

Mendengar Arci berkata dengan nada tinggi membuat Safira terhenyak. “Sama Pak Agus.”

“Siapa?”

“Klien aku dulu. Aku pernah cerita bukan? Kamu mengundangnya juga. Masa’ nggak ingat? Kalau nggak ingat kenapa dia bisa datang?”

Arci mengingat-ingat nama Agus. Dan dia pun teringat dengan nama yang dimaksud Agus Trunojoyo. Mendengar nama Trunojoyo ia terkejut.

“Kak, pergi dari orang itu! Aku tak mengundangnya. Lari! Dia pemilik PT Denim. PT Evolus dan PT Denim musuhan kak, bukan sahabat. Aku hanya mengundang rekan-rekan kerjaku saja dari PT. Evolus! Kamu ada di mana?”

Mendengar itu Safira yang saat itu ada di dalam mobil tersentak. Tapi terlambat. Agus sudah membekap dia dengan sapu tangan berkloroform. Safira kemudian pingsan. Agus tersenyum penuh kemenangan. Dia kemudian menelpon seseorang.

“Kakaknya udah aku dapatkan!” kata Agus.

“….”

“Baiklah, sopir. Kita ke tempatku!” kata Agus.

Arci yang saat itu panik segera berlari keluar. Namun dari arah pintu masuk, tampak beberapa orang masuk dengan membawa clurit, parang, pipa dan berbagai senjata lainnya. Kini Arci sedang dihadang oleh segerombolan tukang pukul. Kemudian dari ujung gerombolan itu tampak seseorang tersenyum sinis sambil memukul-mukulkan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya. Rambutnya cepak seperti seorang tentara, dia tegap memakai jas berwarna abu-abu.

“Alfred….,” gumam Arci yang mengenali dia.

Orang-orang pun kemudian panik, mereka semua berlari keluar gedung. Mereka mengira akan terjadi pertumpahan darah di tempat ini. Arci melihat sekeliling ruangan, ia sudah tak melihat lagi teman-temannya termasuk Rahma juga Andini. Andini yang melihat orang-orang tukang pukul dari keluarga Zenedine masuk menjadi panik.

“Ma, lepasin ma. Arci masih di dalem!” kata Andini.

“Nggak, kita harus pergi. Suamimu bisa jaga dirinya,” kata Bu Susiati.

“Tapi…dia sendirian Maa!” kata Andini.

“Dini, dengar Arci menyerahkanmu kepadaku. Itu artinya ia percaya kepadaku dan dia bisa menjaga dirinya. Ayo. Kita harus pergi!” kata Bu Susiati.

“Ayo Dini!” ayahnya pun menarik tangan anak perempuannya.

Andini bersedih. Seharusnya ini menjadi hari bahagia, ia telah menjadi istri dari orang yang dicintainya tapi, kenapa harus terjadi hal seperti ini. Tapi ia punya keyakinan, Arci pasti baik-baik saja. Dia segera berlari mengikuti ibu dan ayahnya.

Sementara itu Arci diam. Baru kali ini ia berhadapan dengan banyak orang apalagi dirinya tanpa senjata. Alfred memang benar-benar ingin membunuhnya. Tommy Zenedine ingin menguasai seluruh harta Zenedine bahkan harus menyingkirkan dirinya.

“Jadi, seperti inikah yang kalian inginkan?” tanya Arci.

“Hahahaha, tak usah dianggap serius. Ini sudah biasa terjadi di dalam keluarga kami. Yang tidak disuka akan kami sikat. Saling menghabisi satu sama lain itu sudah biasa,” ujar Alfred.

“Aku sudah tahu apa yang kalian rencanakan. Tapi aku tak pernah menyangka kalian akan merusak acara pernikahanku,” kata Arci.

“Bagus bukan? Memang itu yang kami inginkan,” kata Alfred.

Arci mundur. Ia tak punya senjata, untuk bisa mengalahkan puluhan orang seperti ini, ia harus punya senjata. Dia juga teringat dengan kakaknya. Kakaknya dalam bahaya. Ia harus nekat. Dia mundur sampai ke meja makan. Makanan yang ada di pesta itu adalah prasmanan. Jadi ada sebuah kompor kecil berbahan bakar spirtus yang biasanya nyala di bawah wadahnya. Satu yang akan ia buat, kerusuhan. Dia pun akhirnya mengambil kompor kecil itu menuangkan spirtusnya ke taplak meja, kemudian api kecil dari kompor itu langsung membakar taplak meja. Jadilah meja makan itu terbakar. Tak cukup di situ, ia mengambil kompor lagi dan menuangkannya di atas karpet, membanting kompor itu sehingga api langsung membakar karpet yang digelar di gedung itu.

Alfred cukup panik melihat api, terlebih apinya entah kenapa bisa merambatcepat. Arci segera berlari ke panggung, dia melihat tongkat mic yang panjang. Diambil gagang itu kemudian ia lempar micnya. Kini ia punya senjata. Tujuannya satu, ia harus mengejar Safira.

Arci nekat menuju ke gerombolan tukang pukul yang mengepungnya. Mereka pun mulai menyerangnya. Arci pun mulai mengayun-ayunkan tongkat mic itu. Sebagian tukang pukul terkena, Arci memukul-mukul mereka tanpa ampun. Dia sudah membunuh orang, apa salahnya untuk membunuh lagi, terlebih ia sudah berada di dalam keluarga ini. Jadi penjahat atau tidak, tak ada nilainya di keluarga Zenedine. Beberapa sabetan parang mengenai punggungnya. Ia pun memutar-mutar tongkat mic itu hingga terkena beberapa orang. Arci terus mendesak mereka semua, sementara ayunan parang, tongkat dan macam-macam yang dibawa oleh tukang pukul itu terus menerjangnya. Alfred tiba-tiba berlari dan melompat kemudian menendang dadanya hingga Arci terpental. Arci mengenai sound system yang ada di pinggir ruangan. Langsung terdengar suara melengking yang membuat telinga semua orang serasa mau pecah.

Arci susah payah berdiri. Tapi kengeriannya tak berhenti di situ saja. Orang-orang Alfred kembali mengejar dia. Arci melihat di dekatnya ada jendela kaca. Kesempatan, ia kemudian memukulkan tongkat mic ke arah jendela itu sekeras-kerasnya. Kacanya pecah. Segera ia melompat keluar.

Arci kemudian berlari sekencang-kencangnya. Tidak, ia tidak ke tempat parkir. Ia menuju jalan raya. Dia dikejar orang-orang dengan senjata-senjata mereka. Tubuh Arci yang bersimbah darah karena luka sabetan tak dia hiraukan. Hal itu menjadi pemandangan aneh bagi orang-orang. Arci lalu mencoba mengubungi Safira lagi. Kali ini ponselnya diangkat.

“Halo?!” kata Arci.

“Halo,” saat itu Agus yang menjawab teleponnya.

“Brengsek, di mana kamu? Lepaskan Safira!” kata Arci.

“Melepaskannya itu mudah, tapi aku harus punya jaminan dulu engkau menyerahkan seluruh aset perusahaanmu kepada PT. Denim,” kata Agus.

“Baiklah, di mana kita ketemuan?” kata Arci tanpa berpikir.

“Oh, cepat sekali. Sudah kamu pikirkan baik-baik?” tanya Agus.

“Anjing! Katakan kamu dimana?!”

“Baiklah, aku tunggu di atas jembatan Sulfat”

Arci melihat seorang pengendara motor yang jalannya santai. Ia kemudian menendang pengendara motor itu. Tentu saja yang punya kaget dan karena tak bisa menghindar akhirnya terjatuh. Arci kemudian merebut motornya.

“Maaf, aku pinjam dulu!” katanya.

Segera Arci menggeber sepeda motor itu dan meninggalkan sang empunya yang ling-lung.

***

Butuh waktu beberapa menit untuknya sampai di jembatan Sulfat. Arci melihat Safira yang berdiri di pinggir jembatan bersama seorang lelaki. Sementara itu beberapa meter di depannya ada beberapa orang yang menghadang. Arci segera turun dari sepeda motornya dan berjalan mendekat.

“Lepaskan Safira!” kata Arci.

“Lepaskan? Sesuai dengan perjanjianmu. Aku sudah membawa surat-surat pengesahan agar semua aset PT. Evolus menjadi milik PT. Denim!” kata Agus.

“Brengsek,” Arci mendekat.

Anak buah Agus dengan sigap memeriksa Arci kalau-kalau membawa senjata. Setelah yakin bersih ia mengijinkan Arci berjalan maju mendekat. Safira yang ketakutan ia menggeleng-geleng. Punggungnya sedang ditodong dengan sebuah pistol oleh Agus. Salah seorang anak buah Agus mendekat dengan membawa sebuah surat-surat yang telah disiapkan. Ternyata semuanya sudah disiapkan oleh Agus.

“Jadi, kamu bekerja sama dengan Tommy?” tanya Arci.

“Ah, kamu tahu juga rupanya,” jawab Agus.

Arci tersenyum sinis. Anak buah Agus yang membawa surat-surat tadi mendekat ke Arci dan memberikan pena. Arci melihat tulisan-tulisan yang ada di kertas tersebut. Dia tak membacanya, tapi ia membaca situasi bagaimana cara menyelamatkan kakaknya. Arci kemudian mencorat-coret sebuah tempat untuk tanda tangan. Hingga menyentuh materai. Setelah itu Agus tersenyum penuh kemenangan.

“Hahahahaha, akhirnya PT. Evolus menjadi milikku. Selamat tinggal, cantik!” kata Agus.

DOR!

Arci terkejut. “Kak Safira!”

Safira ditembak oleh Agus. Wajah perempuan itu seperti terhenyak. Ia mencoba menggapai Arci. Arci pun menangkap kakaknya itu.

“Nggak, nggak, nggak, jangan! Kamu tak boleh pergi. Kakak nggak boleh pergi!” Arci menangis.

Safira tak bisa berkata-kata. Rasa sakit di punggungnya tembus ke perutnya membuat ia tak bisa bicara dengan lancar. Sementara itu Agus dan anak buahnya mulai pergi.

Safira menangis, tubuhnya lunglai. Kini Arci mendekapnya. Ia sangat bahagia di saat terakhir dalam hidupnya bisa melihat Arci. Lelaki yang dicintainya ini hancur sekarang. Arci sekarang lebih membutuhkan kakaknya dari siapapun.

“Terima …. kasih sudah …. memberikan cintamu kepada…ku, maaf…Ci… aku ….ttak…bi…sa… menj..jadi…ibu … d..dari an..nak…kkhi…taa,” Safira memegang perutnya.

“Jangan bilang kamu hamil!?”

Safira mengangguk.

“Tidak kak, kamu harus hidup, jangan! Tidak seperti ini!” Arci berkata sambil sesenggukan.

Safira tersenyum, kemudian tubuhnya kaku dan lemas. Ia menghembuskan nafas terakhirnya.

“Kaaaaaakkk…. Kak Safira jangan pergi! Kaaaakk!” Arci menjerit. Di pingir jalan dia memeluk kakaknya dengan bersimbah darah. Ia tak tahu kalau kakaknya sudah mengandung anaknya. Kini ia benar-benar membenci semuanya, membenci orang-orang yang telah mencelakai keluarganya. Dia akan mengejar Agus. Ia harus menuntut balas. Digesernya tubuh kakaknya hingga bersandar di pinggir jembatan.

Arci kemudian mengambil sepeda motornya tadi. Dengan segera ia geber sepeda motornya dan langsung mengejar Agus. Mobilnya masih terlihat. Dengan kesetanan Arci pun segera mengejar mobil orang yang telah membunuh Safira. Air matanya mengalir, kesedihan akan kehilangan orang yang sangat dia cintai itu tak bisa dibendung lagi.

“Terkutuk kalian, aku akan membunuhmu Tommy, aku akan membunuhmu Agus, aku akan minum darah kalian, aku akan jadi vampir yang tidak akan puas sebelum aku menghabiskan darah kalian,” kata Arci sambil menarik gas penuh.

Dia pun sampai juga mengejar Agus. Mereka mulai melewati jalanan yang curam. Mereka sekarang melewati jalanan curam dan sempit di daerah Industri. Jalanan di sini memang curam, menanjak dan menikung, plus ada sebuah jembatan kecil di daerah itu. Arci menendang-nendang pintu mobil Agus. Melihat itu Agus jadi geli.

“Pepet saja, di depan ada jembatan lagi bukan?” perintah Agus.

Mobilnya kemudian memepet Arci hingga motornya Arci minggir. Kemudian tanpa disangka Arci tak melihat ke depan, sehingga ia menabrak sebuah pembatas jembatan. Dan ia pun terpelanting jatuh di atas jembatan. Mobil Agus segera berhenti. Agus kemudian keluar dari mobilnya dan menodongkan senjatanya ke arah Arci yang masih terkapar di atas jalan. Ia membiarkan Arci perlahan-lahan bangun. Dan setelah itu.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Beberapa peluru menembus tubuh pemuda itu. Ia meraba tubuhnya yang tertembus peluru. Dia tersenyum. Mungkin Arci mengira akan bisa bertemu dengan Safira kalau dia mati. Tapi dia ingat Andini. Dia harus hidup. Arci terhuyung dan ia pun jatuh ke sungai.

BYURRR!

Agus kemudian masuk lagi ke mobilnya. Ia menginstruksikan sopirnya untuk jalan lagi. Tiba-tiba dari depan sebuah mobil Marcedes Benz SLK 250 menghantam mobilnya.

BRAAKK!

Sebuah air bag langsung terkembang ketika mobil milik Agus dihantam mobil itu. Dari dalam mobil Marcedes Benz itu, muncullah Ghea. Beberapa anak buah agus yang berada di mobil lainnya keluar. Kemudian Ghea menyambutnya dengan tembakan di pistol glock miliknya.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Terjadi perang sengit di jalanan. Tapi Ghea tahu prioritasnya. Menyelamatkan Arci. Dia segera berlari ke arah jembatan dan menceburkan dirinya ke sungai. Arus sungai yang deras itu pun menyeretnya jauh. Sementara anak buah Agus berusaha menembaki dia dari atas jembatan.

Agus kehilangan sopirnya. Sopirnya kaget terkena hantaman mobil mewah itu, hal itu mengakibatkan sampai-sampai lehernya patah. Agus yang duduk di belakang selamat, ia keluar dari mobilnya.

“Sudah, sudah, biarkan. Ayo kita segera pergi!” katanya. Mereka semua pun akhirnya pergi dan meninggalkan mobil Agus ada di situ. Sementara itu Agus menumpang mobil anak buahnya.

Sementara itu di sungai Ghea berhasil menangkap Arci. Dia pun segera menyeret Arci ke pinggir. Dengan sisa-sisa tenaganya ia segera membawa Arci pergi, berjalan menembus semak belukar. Tubuh Arci bersimbah darah, terdapat banyak luka di tubuhnya. Ghea harus membawa Arci untuk diobati, tapi ke mana? Dia akhirnya menggendong Arci tanpa tujuan.

Ghea terus menggendongnya hingga ia melihat sebuah klinik kecil. Dia segera berlari ke klinik itu. Klinik itu kecil, belum ada pasien sepertinya. Segera saja Ghea masuk ke klinik itu. Ya, langsung masuk tentu saja, tanpa babibu. Di dalamnya ada seorang perawat yang kaget. Terlebih melihat Arci yang penuh luka sampai darahnya menetes di lantai.

Ghea menodongkan senjatanya, “Kalau kamu tak obati dia, aku akan menembakkan pistol ini ke kepalamu!”

Perawat itu gemetaran, ia panik dan segera mengambil peralatannya. Arci kemudian diletakkan di atas sebuah ranjang. Dokter jaga klink itu pun datang datang dan terkejut melihat Ghea yang menodong perawat kemudian dirinya. Sang dokter pun melihat Arci di ranjang. Ia menelan ludah.

“Selamatkan dia, cepat!” kata Ghea.

“OK, kami akan selamatkan dia tapi jangan ditodong. Turunkan senjatanya!” kata dokter.

“Kamu berani memerintah aku?” tanya Ghea.

“Ti…tidak, baiklah,” sang dokter pun mulai bekerja.

Ooo bersambung ooO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*