Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 9

I Love You Handsome 9

Kejadian di kantor PT Evolus sungguh menghebohkan. Jatmiko tewas dengan luka tembak di kepalanya. Dia seolah-olah seperti menembak kepalanya sendiri. Dari orang-orang hingga para polisi semuanya menyangka demikian, tapi tidak bagi Arci dan Andini yang tahu bagaimana keluarga Zenedine. Mereka bisa saja melakukan hal tersebut, tapi siapa?

Arci dan Andini berada di ruangannya. Mereka berdua tampak membisu. Antara cemas, takut dan khawatir. Semuanya bercampur jadi satu.

“Seharusnya tidak terjadi seperti ini bukan?” tanya Andini.

“Iya, seharusnya tidak begini. Aku takut Jatmiko dihabisi ketika sang pelaku takut ia akan membocorkan rahasia perusahaan ini. Tentang pengiriman barang ekspor itu, aku sungguh tak menduga sama sekali. Ini benar-benar gila,” Arci menghirup nafas dalam-dalam.

“Aku jadi takut,” kata Andini.

Arci segera beringsut mendekat ke Andini. “Tak perlu takut. Aku akan berusaha melindungimu.”

“Tapi….aku khawatir kalau nanti terjadi sesuatu kepadamu,” kata Andini.

“Aku tak akan apa-apa, sebaiknya siapkan saja dirimu. Bukankah kita sebentar lagi akan menikah. Aku akan datang ke rumahmu secepatnya untuk melamarmu.”

Andini tersenyum. “Baiklah, secepatnya itu kapan?”

“Kamu bisanya kapan?”

“Kapan-kapan?”

“Besok?”

“Ayo aja!”

“OK, besok.”

Arci menarik tangan Andini dan memeluknya. Tiba-tiba ia teringat dengan Safira. Apakah ia harus jujur kepada Andini tentang hubungannya dengan Safira yang melebihi saudara kandung?

“Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan, tapi aku tak tahu bagaimana menceritakannya,” kata Arci.

“Ceritakan saja!?”

“Tidak, nanti saja. Aku belum siap, aku takut kalau aku cerita, maka aku akan kehilangan dirimu.”

Andini mengerutkan dahi. “Apa? Kenapa koq bisa begitu?”

“Hmmm…ini rumit.”

“Kamu punya pacar?”

Arci menggeleng.

“Punya istri?”

“Aku belum kawin non.”

“Gay?”

“Aku normal.”

“Hmm?? Pernah menghamili anak orang?”

Arci menggeleng.

“Trus apa dong?”

“Beri aku waktu. Tapi yang jelas aku butuh jaminan dulu.”

“Apa?”

“Kalau aku cerita, kamu jangan tinggalin aku ya?”

“Kalau itu hal yang baik, kenapa aku harus takut?”

“Ini hal yang tidak baik.”

“Oh”

“Bagaimana?”

Andini terdiam beberapa saat. “Apakah ini bisa mengganggu hubungan kita?”

“Tidak.”

Wajah Andini menampakkan raut wajah heran. “Trus?”

“Nanti yah, aku ingin merangkai kata-kata yang pas dulu.”

“Baiklah.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Ghea meletakkan pistol glocknya di meja. Lengan baju jaketnya terkena cipratan darah. Ya, dialah yang membunuh Jatmiko. Di depannya ada Pieter yang sedang menikmati cerutu. Melihat kedatangan Ghea di ruangannya dia pun tahu bahwa Ghea baru saja melakukan sesuatu.

“Jatmiko?” tanya Pieter.

“Iya, dia yang mengepak barang-barang haram itu ke dalam box untuk diekspor ke luar negeri. Sebenarnya ia ingin mengirim ke Vietnam,” jawab Ghea.

“Brengsek. Kita tak pernah mengekspor itu ke Vietnam. Siapa yang memberi dia otoritas itu?”

“Aku masih belum tahu.”

“Aku tak menyangka ada anggota keluarga kita yang berusaha keluar jalur. Bagaimana dengan Arci?”

“Aku telah menyelidiki tentang dirinya. Dia bersih. Tak pernah berbuat kriminal, masa lalunya cukup kelam, demikian juga keluarganya. Hanya saja, kemarin Amanda pergi ke rumahnya.”

“Hmm?? Itu wajar. Dia ibu tirinya. Lalu?”

“Dia begitu mengetahui kokain itu ada di produk PT Evolus, dia marah besar. Dia memusnahkan semua produk yang ada kokainnya. Ternyata dia boleh juga.”

“Dia terlalu lurus. Itu akan merusak beberapa usaha kita. Di dalam keluarga ini semuanya saling makan, aku tak ingin dia juga jadi korban.”

“Kenapa ayah?”

Pieter tidak menjawab.

“Dia bukan siapa-siapa. Terus terang aku merasa ayah terlalu menganak emaskan dirinya.”

“Tenanglah, bukan begitu maksudku. Aku ingin kamu bisa melindungi dia, sebab seperti sebelum-sebelumnya ada orang yang tak suka kepadanya di keluarga ini yang ingin menghabisi pemuda itu. Apalagi sekarang ia adalah sang pewaris tahta. Apa yang baru saja ia lakukan akan berdampak besar. Aku yakin sebentar lagi akan heboh berita di surat kabar tentang barang yang diseludupkan itu. Aku ingin kamu mencegah para wartawan itu untuk mencetak berita. PT Evolus harus bersih dari berita negatif.”

“Baik ayah.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Besoknya Arci sekarang sedang galau. Galau karena ia ingin berterus terang tentang keadaan dirinya dan Safira kepad Andini. Safira tak bisa lepas dari Arci dan juga sebaliknya. Ia takut keadaan ini tak akan diterima oleh Andini. Malam itu Arci mengajak Andini ke taman Merbabu. Mungkin karena malam hari, maka malam itu taman Merbabu sepi. Arci duduk di salah satu ayunan dan Andini berada di ayunan di sebelahnya. Mereka memang belum pulang, setelah selesai dari kantor Arci mengajak Andini ke sini.

“Jadi mau bicara apa?” tanya Andini.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Arci memulai.

“Yah, kalau ditanya dari peristiwa akhir-akhir ini. Boleh dibilang pikiranku kacau. Aku shock ketika kejadian di vila itu, ditambah lagi dengan barang seludupan ini. Everything seems fucked up!”

“Yeah, I agree.”

“Din…”

“Ya?”

“Aku cinta kamu”

Andini menoleh ke Arci. Dia tersenyum. “Aku juga.”

Arci menoleh ke arahnya. Mereka berdua berpandangan. “Aku sangat sangat mencintaimu dan aku tak ingin kamu pergi.”

“Aku juga.”

Arci terdiam dan memandangi kakinya sendiri.

“Ada apa sih?” Andini penasaran.

“Kamu tahu, aku sangat mencintai keluargaku. Ibuku, kakakku dan adikku.”

“Yeah, aku tahu.”

“Dan terkadang aku melakukan apapun untuk mereka. Apapun.”

“Aku mengerti.”

“Tidak, engkau tidak mengerti!” Arci berdiri.

“Bagaimana maksudnya?”

“Sejujurnya, aku dan Safira saling mencintai. Maksudku…dia mencintaiku.”

“Aku bisa tahu itu.”

“Bukan itu. Dengarlah, engkau adalah wanita yang paling aku cintai. Aku sangat ingin menikahimu, kita membangun keluarga tapi aku tak bisa menafikan Safira. Karena aku dan Safira juga saling mencintai. Dia membutuhkanku, aku tak ingin dia menjadi pelacur lagi. Cukup sudah bagiku melihat dia disewa oleh pria-pria hidung belang dan aku tak sanggup melihat keluargaku hidup mengais rejeki dengan cara demikian.”

“Maksudmu? Kamu dan Safira…??”

“Iya. Kami melakukan hal yang tabu bagi semua orang. Aku tahu kamu bakal terkejut, mungkin juga jijik, marah, entahlah.”

Andini terdiam. Dia mengalihkan wajahnya.

“Maafkan aku. Tapi ketahuilah aku sangat mencintaimu.”

Andini kemudian bangkit. Ia beranjak dari ayunan itu. Dadanya terasa sesak. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Rasanya kejujuran itu sangat pahit. Tapi tidak seperti ini kan? Arci dan Andini terdiam. Tak tahu apa yang harus mereka katakan lagi. Semuanya serba gelap.

“Bicaralah!” kata Arci. “Aku harus bagaimana?”

Andini menarik nafas dalam-dalam, “Aku tak tahu”

“Setelah apa yang aku katakan apa kamu masih mencintaiku?”

“Aku tak tahu.”

“Din..!?” Arci ingin meraih Andini tapi Andini mengelak.

“Maaf, biarkan aku berpikir,” Andini pun pergi meninggalkan Arci.

“Din, tunggu! Jangan begitu, tolonglah aku. Apa yang harus aku lakukan?”

Andini tak menjawab. Air matanya keluar. Ia pergi meninggalkan Arci sendirian di taman itu. Kini suara dedaunan yang berguguran di musim kemarau pun membuat sebuah alunan nada yang sesuai dengan perasaan hatinya saat ini. Ah, andainya ia tak usah mengatakan hal ini kepada Andini. Tapi Andini harus tahu. Arci menghela nafas panjang. Ia tahu pasti akan ada imbas dari kejujurannya ini, tapi…ia masih mencintai Andini.

“Andini, aku sangat mencintaimu,” gumam Arci, kemudian ia pun berbalik pergi meninggalkan taman tersebut.

Andini pulang ke rumahnya dengan mata sembab. Tak bisa disembunyikan, tentu saja. Ia menangis sepanjang jalan menuju rumahnya. “Arci sang pengkhianat” mungkin itulah yang ia tetapkan padanya. Arci sang pengkhianat. Kenapa dia melakukan hal itu kepada kakaknya sendiri?? Apapun alasannya seharusnya ia tak melakukannya. Andini marah, kesal, ia membanting pintu mobilnya dan segera masuk rumah.

Melihat putrinya seperti itu Susiati tampak keheranan. Ia segera bertanya, “Ada apa Din?”

Andini tak menjawabnya. Ia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Gadis itu pun ambruk di atas kasur dan membenamkan wajahnya ke bantal. Ia menangis lagi.

“Arci, kenapa? Padahal selama ini aku menantikan dirimu. Aku mencintaimu….”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Ahh…ahhh…ahhh,” seorang wanita paruh baya tampak sedang menaiki tubuh seorang lelaki. Mereka berada di dalam kamar yang gelap. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari cahaya yang masuk ke jendela.

Sang wanita menggoyang pinggulnya dengan sangat hot. Sang pria tampak keenakan sambil meremas-remas buah dada wanita itu.

“Ahh…aku sudah lama tidak ngentot sama kamu,” kata sang wanita.

“Argghh..iya…kamu tetap menggiurkan,” kata sang pria.

“Kamu sudah siap kalau aku punya anak darimu?”

“Kamu memangnya masih bisa?”

“Aku masih mens. Bagaimana?”

“Baiklah, toh kamu sudah sendirian sekarang.”

“Ahh…benar. Penismu masih perkasa saja sayang.”

“Memekmu juga masih legit. Masih seperti saat aku memerawanimu dulu.”

“Iyahh…nganggur lama ini. Uuuffhhh..”

Sang pria bangun dan menghisap puting sang wanita. Sang wanita pun menggelinjang keenakan. Mereka berpelukan dan sang pria pun mengubah posisinya. Kini ia berada di atas dengan gaya misionari. Dia melebarkan paha sang wanita dan mulai memompa penisnya keluar masuk.

“Aah…ahhh..ahhh…terus…terus!” ujar sang wanita.

Buah dadanya naik turun seirama goyangan sang pria. Keduanya kemudian saling memagut lidah. Menghisap setiap saliva yang keluar dari mulut mereka. Sang pria pun sepertinya ingin sampai ke puncak. Kantong menyannya sudah tak sanggup lagi untuk menampung sperma yang sudah siap untuk ditembakkan. Kepala penisnya yang berkali-kali menyentuh rahim sang wanita pun sudah mulai gatal.

“Aku mau keluar,” kata sang lelaki.

“Iya sayang, semprot di dalam ya?!”

Akhirnya semburan sperma berkali-kali itu pun sampai pula membasahi rahim sang wanita. Sang pria menekan kuat-kuat penisnya hingga tenggelam sepenuhnya ke dalam liang senggama sang wanita. Ekspresi wajah mereka menampakkan kepuasan, sudah lama memang mereka tak bercinta seperti ini, terlebih ketika sang pria sudah tidak takut lagi untuk menghamilinya. Atau bahkan keadaan mereka sekarang sudah tidak bisa dianggap selingkuh. Keduanya janda dan duda.

Lampu pun dinyalakan, tampak wajah Amanda dan Pieter. Keduanya baru saja melakukan persetubuhan hebat. Sesuatu yang sudah mereka lakukan sejak lama. Kini Amanda menempelkan kepalanya ke dada Pieter.

“Bagaimana tanggapanmu tentang Arci?” tanya Pieter.

“Dia anak yang baik, seperti ayahnya,” jawab Amanda. “Menurutmu ia akan bisa diterima di keluarga ini?”

“Tindakannya di kantor telah membuktikan ia sangat serius untuk mengurus perusahaan. Aku cukup bangga kepadanya. Hanya saja ia terlalu lurus. Aku takut dia akan menggapai apa yang menjadi lumbungku.”

“Aku sudah menyuruhnya untuk bisa dekat denganmu.”

“Oh, kenapa begitu?”

“Karena dia anakku di mata hukum, dan aku sebentar lagi akan kamu nikahi. Bukankah itu pantas?”

Pieter mencium kening Amanda. “Hanya saja, orang yang dulu berusaha membunuh Arci dan keluarganya masih belum aku temukan. Bahkan ketika Archer menyuruhku untuk menyelidikinya, malah aku masuk penjara.”

“Menurutmu siapa?”

“Aku tak tahu. Tapi aku akan berusaha sekuat tenagaku menolong dia. Ghea sudah bergerak untuk menyelidiki.”

“Semoga saja kita segera tahu siapa orang yang melakukan ini semua.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Pagi hari seperti biasa, suasana kantor sibuk. Hanya saja ada yang berbeda dengan Andini. Ia terlihat dingin. Bahkan ketika berpapasan dengan Arci ia tampak membuang muka. Arci pun tak tinggal diam. Ia segera masuk ke ruangan Andini.

“Dini?!” panggil Arci. Arci menutup pintu ruangan kerja Andini. “Din, aku….”

“Maaf pak,…kalau memang ada hal yang penting segera katakan saja aku sibuk,” kata Andini dengan dingin.

“Dini, jangan begitu. Aku menemuimu karena aku mencintaimu. Maafkan aku.”

“Keluar!?” perintah Andini.

“Din, mengertilah!”

“Kumohon keluar!” Andini memelas. Bulir-bulir air mata mulai keluar dari matanya.

“Din, apakah kamu tak mencintaiku lagi?”

Andini tak menjawab.

“Setelah apa yang kita lakukan? Aku tak bisa meninggalkan Safira. Aku ingin minta maaf, kalau kamu ingin kakakku pergi aku tak bisa. Dia butuh aku. Apalagi setelah ia tak diakui oleh ayahnya sendiri, kemana lagi ia harus pergi? Mengertilah. Ini tak seperti yang kamu pikirkan! Dan….aku butuh kamu.”

“Pergi dari ruanganku, kumohon!….”

“Apakah hubungan kita berakhir begitu saja?”

Andini tak menjawab. Air matanya mulai jatuh.

“Kenapa? Karena satu kesalahan ini kamu tak memaafkanku? Dini, aku butuh kamu.”

“Arci, pergilah.”

“Aku ingin kamu dengar alasanku dulu.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Keluarlah, kumohon, atau aku yang akan pergi.”

“Apakah hanya sampai di sini, Din?”

“Iya, sampai di sini.”

“Kenapa? Bukankah selama ini aku berusaha untuk menepati janjiku? Dan kamu juga menungguku.”

“Cukup Arci, cukup! Pergilah! Kumohon!”

“Baiklah, aku pergi. Kalau kamu memaafkanku dan ingin mendengarkan semua penjelasanku, aku akan menunggumu di taman Merbabu nanti. Aku akan semalaman menunggumu di sana. Aku pergi!”

Arci pun pergi meninggalkan ruangan Andini. Setelah Arci pergi, Andini pun mulai menangis. Entah ada rasa sesal ia berkata itu kepada Arci. Ia sendiri tak tahu perasaan hatinya saat ini.

Malam itu Arci menunggu Andini di taman Merbabu. Dari selepas maghrib sampai malam. Hingga ia harus tidur di bangku taman, dengan keadaan menggigil tentunya karena udara malam di Malang yang sangat dingin. Ia terbangun ketika matahari sudah mulai muncul. Andini tidak datang ke taman itu. Arci bersedih. Ternyata hanya sampai di sini saja hubungannya dengan Andini. Sang kekasih sepertinya masih belum menerima alasan dia. Masih tak memaafkan dia. Ia mencoba menelpon Andini tapi nomornya tak pernah diangkat bahkan direject. Arci hanya bisa menghela nafas panjang. Dia pun pergi meninggalkan taman itu dengan seribu penyesalan. Sekalipun Andini tak menerima alasannya, tapi ia terlanjur cinta.

Terkadang Kita tak tahu mana yang benar dan yang salah
Batas itu menjadi kabur
Ketika darah sudah menjadi santapan
Ketika kita seperti anjing-anjing kelaparan
Kebenaran hanya milik mereka yang berdiri paling akhir

Inggris. Negara yang sebenarnya tak ingin dikunjungi oleh Ghea. Tapi ia mengunjunginya hanya karena ingin mencoba pelatihan SAS. Semua juga tahu SAS tak akan menerima anggota tentara seorang wanita. Hanya saja dia memang sengaja melakukannya untuk membentuk mentalnya. Apalagi kenalan Pieter bukan orang biasa.

Selama sekolah Ghea selalu mendapatkan bullying. Hampir tiap hari. Ghea memang berbeda dengan teman-temannya. Ia lebih seperti orang asing di Indonesia. Bukan saja bullying sekedar mengerjai tapi juga dikucilkan dan ia dianggap eksklusif. Dihina sebagai seorang anak mafia, anak kriminal, karena memang ayahnya saat itu masuk penjara.

Saat itu Inggris sedang membuka bagi siapa saja yang ingin merasakan pelatihan SAS. Ghea pun ikut. Sebenarnya tak hanya SAS yang ia ikuti. Sebelumnya ia juga mengikuti bagaimana pelatihan di KOPASUS, Korea, hingga kemudian mengikuti pelatihan militer SAS. Hal itulah yang membuat Ghea menjadi seperti sekarang ini. Puncaknya kejadian tragis yang menimpanya ketika berada di camp pelatihan.

Saat itu ketika malam menjelang. Camp pelatihan itu sudah pasti sepi karena para pesertanya sedang istirahat. Tapi tidak kalau bagi sebagian orang yang ingin melakukan bullying terlebih kepada peserta wanita. Inilah saat-saat di mana Ghea mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh itu. Dia dalam kegelapan malam langsung dibekap. Ia tak bisa berteriak, tak bisa meronta saat kelelahan karena latihan pada siang harinya. Tubuhnya yang lemah itu pun tak berdaya ketika tangan-tangan kekar mencengkram tubuhnya.

Dia pun diseret. Para kadet itu pun menyeret tubuh tak berdaya Ghea. Mereka tertawa dalam kegelapan menggeranyangi tubuh Ghea. Apa yang bisa dilakukan oleh Ghea? Berteriak saja ia tak bisa. Hanya erangan, rontaan hingga akhirnya sebuah tamparan keras mengakhiri perjuangannya karena kepalanya pusing.

Malam itu jadi malam penyiksaan terpanjang bagi dirinya saat dia diperawani. Saat vaginanya dirobek, saat kemaluan para lelaki itu menggilir lubang kemaluannya seperti tak ada harganya. Ghea tak menangis. Ia tak merasakan sakit, ia juga tak merasakan nikmat. Malam itu ia hanya merasakan satu, balas dendam.

Setelah pria-pria itu puas. Ghea kemudian berkata, “Bunuh aku!”

“Hmm?? Hei lihat apa yang dikatakannya!” kata salah satu pria.

“Bunuh aku keparat! Atau aku akan balas perbuatan kalian semua,” kata Ghea.

“Hahahahaha, we will wait bitch!”

PLAK! Sebuah tamparan membuat Ghea pingsan.

Tiga pria itu pun kemudian menggilir Ghea. Penis mereka bergantian keluar masuk kemaluan Ghea yang dipaksa. Darah mengalir dari kemaluan Ghea, bercampur dengan lendir putih milik dari tiga pria Kaukasia tersebut. Gadis itu pasrah, tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya dibalik, dilekukkan, disodok dari depan dan belakang. Gadis berambut merah ini diam saja, pasrah. Hingga ia kehilangan total kesadarannya.

Tak terasa Ghea pingsan selama beberapa jam. Tulangnya benar-benar seperti remuk. Dia terbangun ketika hujan mengguyur tubuhnya. Dia terbangun dan menyadari ia ada di sebuah hutan. Banyak tanaman-tanaman rambat, pepohonan, rerumputan dan semak belukar. Ghea berada di atas sebuah rumput yang hijau. Ghea tak memakai baju sehelai pun, bajunya sudah dirobeki oleh para pria hidung belang yang memperkosanya. Hanya sebuah kaos compang-camping yang tersisa kemudian ia kenakan.

Tubuhnya menggigil, darah masih mengalir dari kemaluannya bercampur lendiran sperma berwarna putih yang menggumpal. Dia berjalan tertatih-tatih merasakan perih di kemaluannya. Tujuannya satu, balas dendam.

Dia telah mengikuti pelatihan Kopasus. Mentalnya telah terlatih. Mengikuti pelatihan SAS karena ia ingin tantangan yang lebih. Dan balas dendam ini ia akan lakukan dengan cara yang mengerikan.

Ghea berhasil masuk ke camp tanpa diketahui. Ia pun berhasil masuk ke tenda orang-orang yang memperkosanya. Dia langsung membangunkan salah seorang lalu memukulnya dengan memakai siku lengannya hingga hidung lelaki itu patah. Hal itu membuat temannya yang tidur di sampingnya terbangun. Ghea tak berhenti segera ia melompat ke atas ranjang, lalu mengunci leher sang lelaki. Posisi kemaluannya tepat di wajah sang lelaki membuat lelaki itu tak bisa bernafas, kemudian ia memutar pinggangnya hingga terdengar bunyi “krak”. Kemudian dia melihat pria ketiga yang memperkosanya baru terbangun, Ghea langsung mengambil sebuah pisau di meja kecil di dekat ranjangnya lalu dipukulnya kepala sang lelaki hingga lelaki itu ambruk.

“So, you rape me huh? How about I punish this punny cock with this?” kata Ghea sambil menimang-nimang pisaunya.

Pria itu menjerit ketika celananya dipelorotkan kemudian dengan cepat Ghea memotong kemaluannya.

Kejadian itu tentu saja membuat gempar. Terlebih Ghea ditangkap dalam kondisi tubuh setengah telanjang. Kejadian menghebohkan ini segera menghentikan acara pelatihan SAS saat itu juga. Ghea langsung divisum, dan ketiga pria yang memperkosanya dihukum.

Hal itu membentuk kepribadian Ghea jadi berbeda. Ia bersikap dingin. Dari semua pelatihan militer yang telah ia lakukan. Ia menjadi seorang wanita yang tangguh. Buas, mengerikan. Tanpa ekspresi, bahkan ia tak segan-segan menghabisi siapa saja yang berani kepadanya. Ghea tak pernah punya perasaan kepada lelaki, mungkin ia lebih membenci laki-laki. Ada yang mengisukan ia lesbi. Boleh dibilang bisa benar, karena dia beberapa kali menyewa wanita untuk memuaskan dirinya.

Di dalam hidupnya Ghea hanya patuh kepada seseorang yaitu ayahnya. Pieter telah mendidiknya sangat keras. Banyak luka-luka di tubuh Ghea, itu karena ayahnya yang memukulnya. Namun ketika Ghea berhasil, maka sang ayah akan sangat menghargainya. Semenjak kecil hidup dalam keluarga mafia membuat Ghea ingin memberikan sesuatu yang berarti bagi ayahnya, maka dari itulah ia mengikuti banyak kegiatan pelatihan militer. Tak hanya itu ia juga belajar beladiri kravmaga untuk melindungi dirinya, atau mungkin malah untuk menyakiti orang lain.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Pekerjaan Ghea kali ini sedikit membuat ia senewen. Pasalnya ia harus menjadi bodyguard Arci. Sebenarnya ketika Arci mengetahui produk-produk dari PT Evolus diseludupi oleh narkoba, Ghea sudah langsung menemui Jatmiko. Dia langsung masuk ke dalam ruangan Jatmiko dengan menodongkan pistol glock miliknya.

“Siapa orang yang menyuruhmu untuk berkhianat?” tanya Ghea waktu itu sambil menodongkan senjatanya.

“Fuck you, aku tak takut ancamanmu. Akan ada yang melindungiku,” kata Jatmiko.

“Siapa? Katakan atau aku akan menembakmu!” perintah Ghea.

“Tembak saja!” tantang Jatmiko.

DOR!

Ghea memang tak pernah basa-basi. Ia benar-benar menembak Jatmiko saat itu juga sekalipun tidak diketahui siapa yang telah berkhianat. Begitulah.

Ia juga mengikuti kemana Arci pergi seperti hari itu. Menunggui Arci dan Andini di taman. Mengikuti Arci sampai ke rumahnya, kemudian mengikuti Arci ke tempat kerjanya, hingga Arci menginap di taman. Ghea terus mengamati Arci, ketika dia galau, ketika Arci sendirian.

Sudah seminggu ini dia terus mengikuti Arci. Melihat segala kegalauan Arci, sebenarnya juga Andini datang kepada Arci saat itu. Ketika malam telah larut dan Ghea melihat Arci dari jauh, tampak Andini datang. Arci yang ketiduran dibangku hampir saja dibangunkan oleh Andini. Andini ingin meraih wajah Arci tapi entah kenapa ia berhenti. Menarik tangannya lalu berbalik meninggalkan Arci sambil menangis. Ghea yang tak pernah mengerti apa arti cinta mulai belajar, kenapa Andini menangis? Kenapa Arci galau?

Arci sangat spesial dalam mempelakukan keluarganya. Memanjakan seluruh anggota keluarganya. Ketika mengajak Safira dan Putri jalan-jalan, mereka dibelikan apapun yang ingin dimiliki. Putri sampai dibelikan boneka yang lebih besar dari tubuhnya. Ghea tak pernah dibelikan boneka oleh ayahnya. Ayahnya hanya ingin dia jadi bodyguard yang bisa diandalkan. Menjadi pelindung bagi keluarga Zenedine. Ghea hanya bisa pasrah terhadap nasibnya. Nasib buruk, ataukah nasib yang baik? Ia tak peduli. Hatinya kosong terhadap perasaan.

Arci tersenyum melihat kegembiraan Putri yang sedang bermain di play ground sementara Safira mengawasinya. Ghea terus mengikuti mereka dari jauh bersembunyi di antara kerumunan manusia. Ghea juga melihat sekeliling dia melihat Andini, lagi-lagi. Kenapa Andini terus mengikuti Arci? Andini melihat Arci dari jauh. Entah kenapa Andini mengikuti Arci. Bukankah dia menginginkan Arci pergi? Lalu kenapa Andini masih mengikutinya? Ghea tak mau tahu urusan mereka berdua. Hanya saja keberadaan Andini di setiap kesempatan, membuat Ghea gerah juga. Ia ingin tahu alasan Andini mengikuti Arci.

Ghea pun menghampiri Andini. Baru saja Ghea akan menyapanya, Andini sudah pergi. Begitu dia melihat ke arah Arci, targetnya itu pun juga beranjak pergi. Perempuan itu menggaruk-garuk rambutnya bingung. Tapi agaknya mengikuti Arci lebih ia utamakan.

Arci menerima telepon. Ghea sebenarnya telah menyadap ponsel Arci tanpa diketahuinya. Ia telah menanamkan chip di ponsel Arci. Sehingga ia bisa mendengarkan percakapan Arci dengan ponselnya. Ghea pun memasang headset ke telinganya.

“Halo?” sapa Arci.

“Arci, bisa ketemu di tempat parkir lantai 3?” tanya seseorang.

“Siapa ya?”

“Penting, ini tentang keluarga Zenedine.”

Ghea yang curiga segera ke lantai tiga yang dimaksud.

Arci berkata kepada Safira, “Kamu di sini dulu ya, sama Putri main kek apa kek. Aku ada urusan. Sebentar.”

“OK,” kata Safira. “Yuk Put, main ke sana!” Safira menunjuk ke Time Zone.

Arci segera menuju ke parkiran di lantai tiga. Di parkiran ini tampak mobil-mobil berderet, sepi tak ada orang, hingga tiba-tiba seseorang menjerat leher Arci ketika ia berbelok ke sebuah pilar. Arci meronta-ronta, lehernya dijerat dengan sebuah tali yang cukup kuat. Dia tak bisa melihat orangnya, tapi yang jelas orang itu memakai sarung tangan dan dengan kuat berusaha untuk mencekiknya.

Pemuda ini berusaha meraih kepala orang yang menyerangnya, begitu dapat ia memukuli orang itu. Tapi sama sekali tak bergeming. Ghea merasa Arci butuh bantuan, hampir saja ia mencabut pistolnya. Tapi ia tahu kalau terlalu ribut ia akan membuat heboh seluruh mall. Akhirnya dia memakai tangan kosong. Segera ia menerjang orang yang menyerang Arci. Orang itu pun terkejut. Terlebih Arci yang batuk-batuk sambil meludah. Ia mendongak dan melihat Ghea telah berkelahi dengan orang yang mencekiknya tadi.

Dia heran, bagaimana Ghea bisa ada di tempat ini?

Ghea dengan gerakan gesit sudah memukul tubuh assasin bertopeng ini. Kemudian dia putar pergelangan orang itu lalu membantingnya.

“Kau tak apa-apa?” tanya Ghea.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Arci. “Kamu membuntutiku?”

“Aku di sini untuk menolongmu. Jangan tanya,” kata Ghea.

Ghea sedikit lengah sehingga kepalanya dipukul dari belakang membuat ia terhuyung ke depan dan ambruk. Arci yang tenaganya mulai puling kemudian bangkit dan mendorong orang yang ingin membunuhnya tadi hingga menghantam sebuah mobil.

BRAK!

Arci memukul wajah orang itu. Kiri dan kanan, kemudian dia menghadiahi lututnya. Sang Assasin terlalu kuat, ia sudah membalas Arci dengan pukulan telak ke pipinya. Arci agak terhuyung hingga kemudian tiba-tiba sebuah tendangan terbang mendarat ke dada sang Assasin. Ghea masih pusing, tapi ia berusaha keras untuk tetap bisa melindungi Arci. Sang Assasin berdiri dengan susah payah, kemudian Arci menerjangnya lagi hingga terkena sebuah besi pembatas. Arci mendorong sang Assasin hingga sang assasin pun terjatuh. Arci juga terjatuh tapi dengan sigap tangannya diraih oleh Ghea. Sang Assasin pun jatuh ke bawah menghantam sebuah mobil SUV.

BRAAKK!

Kaca mobil berhamburan ketika tubuh berat itu menghantam mobil. Alarm mobil pun berbunyi. Saat itulah Ghea menarik tubuh Arci agar tidak jatuh ke bawah, hingga kemudian Arci berusaha meraih pegangan pada besi pembatas, dan diraihnya sebuah pijakan sehingga ia melompat naik. Hampir saja ia menghantam tubuh Ghea, tidak. Ia telah menghantam tubuh Ghea. Sehingga Arci menubruk Ghea.

Untuk beberapa detik wajah Arci hanya berjarak 1 cm dari Ghea. Bahkan secara tak sengaja bibir mereka bersentuhan. Awkward moment. Sebuah momen yang biasanya akan menimbulkan bunga-bunga cinta, klasik seperti sinetron-sinetron ataupun film-film romance. Tapi bagi Ghea ini adalah kondisi yang sangat aneh. Bagaimana tidak, Arci menindihnya, bibir mereka bertemu, kaki Ghea terbuka dan selakangan Arci tepat berada di selakangannya. Posisi mereka persis seperti orang bercinta tapi dengan memakai baju.

Arci yang terkejut segera menarik diri. Ia pun meminta maaf.

“Maaf, maaf, maaf. Nggak sengaja!” kata Arci sambil menyatukan tangannya.

Ghea bangkit, “Tak apa-apa, aku kurang sigap tadi. Kamu tak apa-apa?”

“Ya, begitulah,” kata Arci.

“Ayo kita pergi dari sini, kalau tak ingin terlibat dengan pihak keamanan.”

Arci mengikuti Ghea. Mereka keluar dari tempat parkir, seola-olah tak terjadi sesuatu apapun.

“Kamu, mengikutiku?” tanya Arci.

“Lebih tepatnya mengawalmu,” jawab Ghea.

“Kenapa? Siapa yang menyuruh?”

“Ayahku. Kenapa? Tak suka?”

“Bukan begitu. Ini keterlaluan. Tanpa keputusanku kamu sudah berbuat seenaknya sendiri, juga Pieter.”

“Sudahlah, I’ve saved your ass. Jadi jangan protes. Kembalilah ke keluargamu!”

Arci menggeleng-geleng. Ia pun segera menuju ke keluarganya.

“Jangan takut, selama kamu berbuat yang tidak merugikan, kami akan mendukungmu.”

Arci tak mengerti kata-kata Ghea. Tapi ia cukup mengingatnya. Ghea menarik nafas panjang. Dadanya berdebar-debar. “Apa ini?” gumamnya. “Pasti karena kelelahan setelah berkelahi tadi.”

Ia menghirup nafas dalam-dalam. Aneh. Jantungnya masih berdebar-debar. Ia kemudian melihat Arci, jantungnya makin berdebar-debar. “Apa yang terjadi denganku?”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Mendapati kenyataan ada orang yang ingin membunuhnya berarti telah terjadi sesuatu yang membuat orang-orang tidak suka kepadanya. Apakah karena hal yang terjadi kemarin? Atau bagaimana? Arci tak habis pikir, tapi ia cukup bersyukur ketika Ghea secara diam-diam melindungi dirinya. Ia tak menyangka kalau Pieter menyuruhnya untuk melindungi dirinya. Tapi kejadian tubrukan dia dengan Ghea, sangat memalukan.

Apa yang harus dilakukan Arci sekarang? Dia pergi menemui Pieter.

Pieter tinggal di sebuah rumah yang cukup megah. Dengan gaya eropa halaman luas dan ada dua petugas security di sana. Saat Arci menemuinya Ghea sudah ada di pagar. Ghea kembali mengingat memory dia kemarin. Sungguh hal yang sangat memalukan bagi dia. Wajah Ghea bersemu merah.

“Hai?!” sapa Arci.

“Hai, a-ada perlu apa?” tanya Ghea dengan gugup.

“Pieter ada?” tanya Arci.

“Papa ada, m…masuklah!” kata Ghea.

Arci sedikit aneh dengan tingkah polah Ghea yang gugup. Dia lalu berjalan melewati Ghea. Ghea menahan lengannya.

“Kenapa?” tanya Arci.

“Kalau kamu ceritakan kejadian kemarin, aku akan membunuhmu,” kata Ghea.

“Aku kesini ingin menceritakannya.”

“APAAA??”

“Iya, aku ingin tahu siapa yang berusaha membunuhku kemarin.”

“Mm…maksudku kejadian kita tubrukan itu,” Ghea menunduk malu. Wajahnya bersemu merah. “Jangan ceritakan bagian itu.”

Arci tersenyum. “Ya, itu tidak akan.”

“Itu…pokoknya jangan. Awas kalau kamu ceritakan.”

Arci mengangkat tangannya, “Nggak, nggak akan.”

“Janji!?”

“Iya, you have my words.”

Ghea menghela nafas lega.

“Sebenarnya kamu cantik juga kalau malu-malu seperti itu.”

Ghea terkejut dan langsung mengeluarkan glock miliknya menodongkannya ke kepala Arci, “Apa kamu bilang?”

“Sorry, sorry, OK, aku masuk.” Arci mundur teratur lalu menuju ke dalam rumah.

Dada Ghea berdebar-debar. Baru kali ini ia merasakan hal ini. Badannya panas dingin. Tidak, lebih parah. Mukanya memerah, tangannya dingin. Ini lebih parah dari sebelumnya.

“Aku sepertinya harus minum aspirin,” gumam Ghea.

Arci berjalan menuju ke dalam. Ia tak pernah menyangka Ghea bisa bersikap seperti itu. Mungkin semenjak kejadian kemarin Ghea jadi sedikit lebih…feminim. Sedikit.

Di dalam tampak seseorang dengan rambut beruban sedang menyiram tanaman. Dia adalah Pieter. Pupil matanya yang hijau melirik ke arah Arci. Bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Selamat datang di gubukku, Arci,” sapa Pieter.

“Pagi, paman,” jawab Arci.

“Hahahahaha, untuk pertama kalinya ada yang memanggilku paman. Ah, tentu saja. Semenjak Alfred tidak ada di sini. Aku rindu dengan panggilan paman.”

Seseorang keluar dari rumah, seorang lelaki botak dengan badan yang lumayan tegap. Dia mendekat kepada Pieter membisikkan sesuatu. Dia adalah Jacques, tangan kanan Pieter. Semua pekerjaan kotor Pieter dialah yang menyelesaikan selain Ghea juga tentu saja. Jacques lebih bekerja untuk masalah yang mendetail serta dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan hukum dan birokrasi. Untuk urusan kekerasan semua diurus oleh Ghea. Tapi meskipun begitu, Jacques tak bisa diremehkan begitu saja. Dia juga sangat ahli dalam mengatasi persoalan nyawa, sebut saja menghabisi seseorang.

“Baiklah, aku mengerti. Arci, ayo ikut denganku!” ajak Pieter.

“Kemana?” tanya Arci.

“Kamu akan tahu nanti.”

Tak berapa lama kemudian Arci sudah berada di dalam mobil sedan Marcedes Benz SLK 250. Pieter yang mengemudikan mobil mewah berwarna putih itu. Di belakang mereka tampak Jacques dan Ghea membuntuti mereka. Mobil itu melewati jalanan protokol membuat semua mata memandang iri kepadanya. Arci hanya bisa menikmati pemandangan dari dalam mobil yang dikendarai pamannya itu, sambil sesekali merasa canggung.

“Kamu tak perlu canggung. Kalau soal mobil kamu sekarang bisa membeli mobil seperti ini. Kekayaan ayahmu tak akan habis,” kata Pieter yang seolah-olah bisa membaca pikiran Arci.

“Ah, tidak. Saya lebih suka MPV. Bisa ngangkut banyak orang.” Arci memang mempunyai mobil MPV yang baru saja dia beli. Dengan mobil itu ia bisa mengangkut banyak orang, termasuk Safira, Putri dan Lian. Ketika berbelanja pun mereka mengendarai mobil itu.

“Ayolah, kamu sesekali harus bersenang-senang. Katakan mobil apa yang kamu suka.”

Arci sedikit berpikir. “Mungkin…Lexus.”

“Pilihan yang bagus, tapi kalau soal prestige masih lebih tinggi Mercedes Benz. Lexus dengan Toyota Harrier itu masih saudara. Tapi dibandingin Mercedes Benz, masih tetap kalah.”

“Entahlah, aku tak terlalu begitu mendalami tentang masalah mobil.”

“Ya, setelah ini kamu akan mengerti kenapa aku bicara masalah mobil.”

Arci tak begitu mengerti tapi perjalanan mereka cukup jauh hingga sampai ke sebuah perkampungan sepi dan makin jauh lagi, sampai Arci tak mengenal daerah tempat dia berada. Semuanya ditumbuhi rumput gajah yang tingginya melebihi tinggi manusia. Mobilnya berbelok ke sebuah tempat di mana di sana ada banyak mobil bekas yang terbengkalai. Mungkin lebih tepatnya di sini adalah kuburan mobil atau mungkin tempat rongsokan mobil.

Arci tiba-tiba teringat dengan film-film mafia di mana mereka selalu punya tempat eksekusi. Jantungnya pun berdebar-debar, mau apa Pieter membawanya ke tempat ini? Tak jauh di hadapan mereka tampak beberapa orang memakai jaket kulit berwarna hitam. Mobil pun berhenti, Pieter mengajak Arci keluar. Arci baru sadar kalau di hadapannya ada seseorang yang sedang berlutut dengan mata ditutup kain.

“Kamu telah melihat bukan bagaimana sikapku terhadap pengkhianat?”

Arci hanya berdiri saja sementara Pieter bersandar di mobil.

“Jangan takut, kamu adalah bagian dari keluarga ini. Maka aku harus jujur kepadamu. Kamu sudah dewasa, kamu berhak tahu seperti apa urusan di keluarga ini diselesaikan. Tenang saja. Jangan takut, aku dan ayahmu sangat dekat kalau saja aku tidak dipenjara. Aku dipenjara pun ada alasan khusus. Mau dengar?”

Arci mengangguk. Ia menoleh ke arah mobil yang mengikuti mereka. Ghea dan Jacques keluar. Jacques beringsut menuju orang yang berlutut. Dia sepertinya bersiap menunggu aba-aba dari Pieter.

“Dulu, aku dan Archer bermain bersama, belajar bersama. Dia sangat mengerti tentang keluarga ini. Tapi jalan hidupku dan hidupnya berbeda. Aku tidak tertarik dengan kekayaan keluarga ini. Aku lebih bisa disebut sebagai anjing penjaga keluarga ini. Keluarga Zenedine selalu bertarung dan bersaing dengan keluarga Trunojoyo. Dari dulu seperti itu. Keluarga Trunojoyo itulah pemilik PT Denim. Kita selalu bersaing dalam banyak hal, mulai dari yang legal sampai ilegal.

“Keluarga kita awalnya tidak seperti ini. Kita dulu hanya penjahit kecil, yang kemudian menjadi besar, hingga punya pabrik sendiri. Tapi lebih daripada itu kita semua adalah orang-orang yang berjuang untuk menjadikan perubahan. Persaingan antara kita dan keluarga Trunojoyo awalnya adalah karena persoalan siapa yang paling baik. Hingga sampai saling mencuri ide. PT Denim tak bisa dianggap remeh. Mereka melakukan segala cara untuk bisa mengalahkan atau paling tidak membuat kita bangkrut. Untuk itulah kami jadi gila, karena membuat banyak ide itu tidaklah gampang. Kami ingin menguasai pasar, untuk itu kami butuh uang, maka kami pun mengembangkan bisnis-bisnis yang lain.

“Kamu hanya melihat sebagian kecil bisnis kita. Tapi sekali pun kita berbisnis dalam dunia gelap, tapi kami tak pernah berbisnis narkoba. Aku tak pernah merasakan ataupun berbisnis narkoba. Lebih dari itu, bisnisku yang lain adalah dalam barang seludupan, mobil, dan barang elektronika. Selain itu sahamku di PT Evolus adalah satu-satunya hartaku yang berasal dari jalan yang halal. Segala hal yang berbau hitam di perusahaan ini aku tahu semua, dan agar perusahaan ini tetap berdiri, aku akan melakukan apa saja, bahkan kalau perlu sampai masuk penjara sekalipun. Ini semua demi keluarga ini. Demi bisnis turun temurun mereka.

“Aku saat itu harus melakukannya. Tak ada pilihan lain, tak ada cara lain. Pihak kepolisian menggunakan informan mereka untuk mengumpulkan bukti-bukti menjerat siapa saja orang yang menggunakan kekuasaan mereka di perusahaan ini di dunia hitam. Aku juga salah satunya. Informan itu hampir saja melaporkannya ke pihak yang berwajib. Ya, hampir saja kalau aku tidak membunuhnya terlebih dulu. Kalau saja aku tidak membayar mahal seorang pengacara, maka aku pasti akan dihukum mati karena membunuh seorang polisi.

“Awalnya aku mengira kamu adalah orang ingin menghancurkan perusahaan ini. Tapi melihatmu gigih memajukan perusahaan, menyingkirkan para pengkhianat seperti Yuswan, maka aku yakin kamu orang baik. Hanya saja di keluarga ini semua orang tak suka dengan orang yang terlalu lurus sepertimu, termasuk aku. Kamu bisa berbahaya bagi siapa saja, termasuk aku.”

Pieter bicara panjang lebar. Arci hanya menjadi pendengarnya saja.

“Orang itu, dia pengkhianat. Anak buah dari Letnan Yanuar. Selama beberapa hari ini dia berusaha masuk ke dalam ruang arsip. Pura-pura mengisi lowongan dengan identitas palsu. Akhirnya ia masuk ke dalam ruang administrasi melaporkan setiap keluar masuk barang dan yang membuatku curiga adalah dia sampai mengobok-obok data barang seludupanku. Di PT Evolus aku bersih, tapi memang beberapa kendaraan yang menjadi harta perusahaan berasal dari bisnis kotorku, juga komputer-komputernya. Dia sudah membawa flashdisknya, dan kami memergoki dia. Jacques beruntung sekali menangkapnya. Aku ingin tahu apakah kamu ingin keluargamu dihancurkan oleh orang seperti dia? Ingatlah, ayahmu juga hidup dari cara seperti ini, suka atau tidak dia telah berada di dalamnya. Engkau berada di dalamnya, hidup dari jerih payahnya. Apakah sampai hati kamu tidak akan mencintai keluarga ini? Baik atau buruknya?”

Arci masih terdiam. Ia tak memberikan jawaban. Pieter memberikan isyarat. Ghea menghampirinya lalu menyerahkan pistolnya kepada ayahnya.

“Bisnisku yang lain adalah ini, jual beli senjata. Kebetulan aku kenal dengan orang tinggi di militer. Ia juga punya koneksi di berbagai negara, oleh karena itulah Ghea bisa ikut berlatih di beberapa pelatihan militer. Aku memang membuat dia menjadi mesin pembunuh. Semua pelatihan militer yang ia lakukan hingga pada puncaknya ia harus dilecehkan oleh orang Inggris, aku pun menganggap latihannya cukup. Padahal aku masih ingin dia berlatih bersama spetnatz tapi cukup. Ini peganglah!”

Pieter menangkap tangan Arci dan di tangan Arci kini ada pistol. Ia baru kali ini membawa pistol. Tangannya gemetar ketika memegangnya.

“Kamu belum pernah memegang senjata? Aku bisa mengerti. Ini adalah pertama kalinya. Bunuh orang itu. Informan itu. Kalau kamu tidak membunuhnya aku akan melepaskan dia. Tapi sebagai imbasnya, semua data, semua dokumen tentang kita, tentang kamu, tentang segala yang terjadi dengan perusahaan ini, termasuk narkoba yang engkau temukan akan masuk ke tangan kepolisian. Artinya kamu juga akan ikut imbasnya. Kalau kamu mau seperti itu silakan.”

Arci sebenarnya marah. Karena Letnan Yanuar tak pernah bilang kalau dia akan menerjunkan tim lain. Dan memang ini jebakan. Kalau ia tak melakukannya maka polisi itu akan melaporkan segalanya. Jacques mencopot penutup wajah orang yang disebut informan itu. Arci pun melihatnya. Orang itu ketakutan.

“Paman Pieter, Ghea selalu mengikutiku atas perintahmu. Berarti kamu tahu kalau Letnan Yanuar menghubungiku?” tanya Arci.

“Ya, aku tahu,” jawab Pieter. “Dia tetap menyuruh anak buahnya bukan? Itu artinya dia tak percaya kepadamu. Dia akan memangsamu juga.”

Arci menarik hammer pistolnya. CKREK! Arci maju, mendekat ke arah informan yang ditangkap dan kini sedang berlutut itu. Tangan Arci masih bergoyang, ia tak siap ketika mengangkat dan menodongkannya ke kepala sang informan. Mata sang informan menatap tajam ke arah Arci. Arci menoleh ke arah Jacques yang sudah siap kalau sewaktu-waktu sang informan melarikan diri atau berbuat nekad. Arci menelan ludah.

“Kenapa Letnan Yanuar menyuruhmu kalau ia percaya kepadaku?” tanya Arci.

“Bagaimana mungkin kami mempercayakan urusan ini kepadamu?”

“Jadi benar kalian tak percaya kepadaku. Baiklah, aku akan menembakmu.”

“Tembak saja, ayo tembak!”

Tangan Arci bergetar hebat. Ia tak pernah menembak orang sebelumnya. Tidak seperti ini. Betapa berat sekali ia menarik pelatuk itu, seolah-olah ia mengangkat beban yang sangat berat. Matanya terpejam.

“Buka matamu!” bentak Pieter.

DOR!

Mungkin karena kaget sehingga Arci membuka matanya dan langsung menarik pelatuknya. Timah panas pun akhirnya menembus kepala sang informan. Dia pun jatuh tersungkur. Arci terhuyung dan mundur ke belakang. Baru kali ini ia membunuh orang. Ya, baru kali ini. Tangannya gemetar.

Ghea menahan lengannya. Arci menoleh ke arah gadis itu. Ghea tersenyum, baru kali ini ia melihat gadis itu tersenyum. Perlahan-lahan Ghea mengambil pistol miliknya lagi.

“Welcome to our family,” Ghea mengecup pipi Arci. Mungkin ia ingin membuat Arci kuat dengan itu. Ia tahu bagaimana perasaan seseorang yang baru saja membunuh seseorang.

Beberapa anak buah Pieter menyeret mayat sang informan. Pieter menghampiri Arci.

“Kita adalah keluarga. Mulai sekarang, kamu bagian dari kami,” kata Pieter.

Arci masih tak percaya. Ia melihat telapak tangannya sendiri. Ini lebih mengerikan daripada yang ia kira. Sementara itu, Ghea menoleh ke arah Arci. Ia melihat sesuatu yang ada pada pemuda itu yang tak bisa dia jelaskan. Yang jelas, hanya satu. Ia mulai menyukai Arci, sekali pun ia tak bisa menunjukkan hal itu.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Andini akhir-akhir ini selalu menghindar dari Arci. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Dalam hati ia masih mencintai Arci. Mengamatinya dari jauh. Dia sebenarnya datang ke taman itu. Melihat Arci tertidur di bangku. Ingin sekali ia membelai wajah Arci. Tapi ….. entah kenapa hatinya seolah-olah menahannya. Ada sebuah perasaan yang tak bisa ia ungkapkan, dia juga tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Dia cemburu, cemburu melihat Arci bisa berjalan bersama Safira. Ya, ketika faktanya diketahui bahwa Safira dan Arci saling mencintai, apakah ia bisa berada di tengah mereka?

Andini beberapa hari ini tak konsen. Dia mengacak-acak rambutnya, membanting apa saja yang bisa dibanting. Dia sampai malas untuk pergi ke kantor. Perasaan wanita sungguh membingungkan, ia sebenarnya masih mencintai Arci, tapi….entah kenapa ia tak mau bertemu dengannya. Mungkin ia ingin sendiri dulu. Arci harus tahu kalau dia ingin sendiri dulu. Tapi bagaimana memberitahukannya? Tidak mungkin bisa, karena ia sendiri tak ingin bertemu dengan Arci.

Arci selalu berusaha menelponnya dan selalu dia reject. Bahkan ketika makan siang, Andini selalu menghindar. Dan beberapa hari ini Arci tak kelihatan. Andini merasa kehilangan. Sekali pun tak ingin menemui Arci, tapi ia selalu melihat Arci dari jauh dan itu sudah membuat dia lega. Aneh memang. Dia tak ingin bertemu, tapi sangat mengharapkan. Perasaan wanita memang seperti itu, sesuatu yang kontra selalu ada di dalamnya sehingga jalan tengahnya sangat sulit. Antara suka dan tidak, antara iya dan tidak, antara mau dan tidak. Tapi satu yang pasti, Andini masih mencintai dia. Hanya saja kondisi dia sekarang, sulit dikatakan.

Ooo Bersambung ooO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*