Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 8

I Love You Handsome 8

Rahma dengan kaki tak beralas diturunkan truk pengangkut sayur tak jauh dari vila. Sudah jam 7, pastinya sebentar lagi akan banyak yang datang. Ia pun berpikir harus bersembunyi, sampai Arci atau Andini muncul. Sebab hanya kedua orang itulah yang bisa menolongnya sekarang ini. Rahma kemudian bersembunyi di sebuah pohon pinus yang ada di pinggir jalan menanti mobil-mobil lewat. Ia berharap mobil Andini akan masuk ke dalam vila. Dan dugaannya tidak salah, mobil-mobil para petinggi direksi mulai berdatangan. Ia berdebar-debar karena semua orang yang ada di perusahaan ini tak bisa dipercaya. Ia hanya percaya kepada rekan kerja dan bosnya saja.

Rahma capek berdiri, ia pun duduk sambil tetap merapat ke pohon, bersembunyi dari orang yang lalu lalang lewat. Pikirannya lelah, ia capek, apalagi matanya mulai mengantuk. Kakinya sakit karena tak memakai alas kaki. Sepatunya ia buang ketika dikejar oleh orang-orang yang menculiknya akibatnya kakinya tertusuk batu dan duri beberapa kali. Ia merasa perih, tapi ia tahan. Rahma bukan wanita yang lemah, ia telah banyak mengalami yang lebih buruk daripada ini. Dan ia tipe wanita pejuang.

Angin semilir di Songgoriti yang sejuk membuat Rahma sedikit tak sadar. Ia terlelap beberapa menit, hingga suara klakson mobil membangunkannya. Rahma kaget, ia mengumpat dalam hatinya ketika menyadari bahwa ia tadi mengantuk dan tertidur beberapa saat. Ketika ia menoleh ke arah vila didapatinya mobil BMW orang-orang yang menculiknya ada di sana. Rahma segera bersembunyi. Ia mengintip dari balik pohon, hingga saat mobil itu sudah memasuki halaman vila ia pun menghela nafas lega.

Sesaat kemudian Rahma melihat seseorang mengendarai sepeda motor supra-X. Dia sangat kenal dengan orang itu. Dia Arci, segera Rahma muncul dan melambaikan tangannya. Arci yang mengendarai sepeda motor kaget melihat Rahma. Ia segera menghampiri Rahma, kemudian turun dari sepeda motornya.

“Rahma, kemana aja kamu?” tanyanya.

“Tak ada waktu, Bu Dini. Cepat hubungi Bu Dini!” kata Rahma panik.

“Ada apa?”

“Ada orang yang berniat jahat kepadanya. Aku diculik karena mengetahui apa yang mereka rencanakan. Aku baru saja kabur,” kata Rahma sambil terengah-engah.

Arci melihat Rahma dari ujung rambut ke ujung kaki. Melihat Rahma yang kondisinya memprihatinkan itu ia langsung percaya. “OK, sebentar.” Arci mengeluarkan ponselnya. Ia pun menelpon Andini.

“Din, kamu di mana?”

“—”

“OK, jangan ke Vila dulu. Aku ketemu ama Rahma, kita sebaiknya ketemuan di depan alun-alun Batu.”

“—”

“Nanti aku jelaskan. Ini darurat! OK”

Rahma sekarang lebih melihat Arci sebagai dewa penolongnya. Perasaannya sangat lega hari itu.

“Mau naik?” Arci menawarkan diri.

Segera saja Rahma naik ke motornya Arci. “Mau ke mana kita?”

“Ke alun-alun Batu. Kita ketemuan ama Andini di sana,” kata Arci.

Mungkin Rahma agak aneh karena Arci tidak menyebut Andini dengan sebutan Bu Andini. Tetapi langsung namanya. Hal ini membuat Rahma sedikit curiga, jangan-jangan ada sesuatu antara Arci dan Andini. Sepeda motor pun langsung digeber dengan kencang.

“Pegangan!” kata Arci.

Rahma pun akhirnya memeluk pinggang Arci dengan kuat sambil memejamkan mata. Motor Supra-X itu pun melaju seperti orang kesetanan membelah jalan. Rahma tak terasa menempelkan pipinya ke punggung Arci, ia jadi teringat tentang Singgih. Bagaimana kabar cowoknya itu sekarang? Sudah dua tahun tak ada kabar, ia bahkan sudah pesimis bisa bertemu lagi dengan lelaki itu.

Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di alun-alun Kota Batu. Di sana Arci bisa mengenali mobil Andini, segera ia menghampiri mobil itu. Andini segera keluar dari mobilnya begitu melihat Rahma. Rahma pun segera turun dari boncengan Arci. Andini memakai baju blouse abu-abu dengan rok warna hitam. Ia tampak terlihat anggun dengan baju itu.

“Rahma, Kamu tak apa-apa?” tanya Andini.

“I-iya Bu, ada yang gawat. Ada orang yang merencanakan ingin mencelakai ibu.” Rahma mengatur nafasnya sejenak, kemudian ia mulai bercerita dari awal sampai akhir. Sampai nafasnya hampir habis. Andini kemudian memberikan sebotol air minum setelah Rahma bercerita panjang lebar.

Arci tampak menampakkan mimik wajah serius, “Kita bagaimana sekarang?”

Andini berpikir keras. Tak mungkin ia tidak menghadiri rapat tersebut walaupun nanti ia bakalan dibantai habis-habisan oleh direksi. Arci juga berpikir keras. Hingga tiba-tiba dia ada ide.

“Aku yang akan menghadapi mereka hari ini. Kamu dan Rahma sembunyi dulu, lebih baik antar Rahma pulang soalnya sudah beberapa hari nggak pulang tentunya orang tuanya khawatir. Besok kamu baru muncul, sekalian dengan ibumu. Kamu tahu apa yang aku maksudkan,” kata Arci.

“Serius? Mereka pasti akan mencariku,” kata Andini.

“Trust me! Untuk sementara memang seperti itu,” kata Arci.

“Aku tak percaya kalau Yuswan Andi ingin melakukan hal seperti itu,” ujar Andini. “Kamu tak salah orang kan?”

“Tidak, aku sangat kenal sekali dengan mobilnya. Hanya saja aku tak tahu dia di toilet itu bicara dengan siapa,” kata Rahma.

“Baiklah, ayo kita berangkat,” kata Arci.

Rahma semakin curiga dengan cara ngomong dua orang yang ada di depannya. Mereka tampak lebih akrab seperti orang yang sudah kenal lama. Dan adegan berikutnya bikin Rahma nyesek. Arci mengelus pipi Andini! Whaat??

“Hati-hati!” kata Andini.

“Kamu juga!” balas Arci.

Kedua orang ini lalu menoleh ke arah Rahma. Mereka nggak agaknya sesaat lupa kalau ada Rahma di sana. Langsung mereka salah tingkah. Arci menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Rahma hanya nyengir.

“OK, Rahma ikut aku!” kata Andini. Rahma lansung beringsut masuk ke dalam mobil.

Arci kemudian menggeber sepeda motornya kembali ke Vila. Rapat kali ini bakal jadi ajang politik. Arci akan berusaha berpikir dengan kepala dingin. Dia akan mencoba untuk bisa stay cool, sekalipun tahu keadaan yang sebenarnya.

Vila yang dipakai rapat itu cukup besar dan mewah. Ini memang vila yang tiap tahun dijadikan tempat untuk rapat. Dan oleh keluarga Zenedine vila ini disewakan dengan harga yang tinggi. Selain vilanya sangat nyaman dengan berbagai fasilitas, vila ini juga dikelilingi pemandangan yang cukup memanjakan mata. Di dalamnya ada sebuah kolam renang dan juga tempat pemandian. Ada pula para pekerja yang memang dipekerjakan secara khusus di sini. Sehingga lebih mirip seperti sebuah hotel. Kamarnya pun ada banyak, kalau dilihat dari atas, vila ini seperti membentuk huruf U. Dari kiri ke kanan secara berurutan adalah ruang aula, kemudian ruang makan dan kamar. Di tengah-tengahnya ada sebuah kolam renang. Agak jauh dari kolam renang ada sebuah pemandian yang disekat antara pemandian pria dan wanita. Sebuah taman yang ditumbuhi tanaman hias berjajar mengelilingi vila itu.

Arci melangkah masuk langsung menuju ke sebuah ruangan yang digunakan untuk meeting. Melihat dia sendirian tanpa Andini membuat jajaran direksi bertanya-tanya. Mata Arci mengawasi siapa saja yang ada di sana. Tampak Yuswan Andi ada di sana.

“Saya mohon maaf, Ibu Andini tidak bisa hadir karena beliau harus ke rumah sakit,” kata Arci mengada-ada.

“Hah, ke rumah sakit?”

“Begitulah, beliau menyuruh saya untuk mewakilinya.” Arci kemudian mengambil tempat duduk. Semua pimpinan direksi saling berpandangan.

“Baiklah, kita langsung saja kalau begitu,” kata Weny yang sepertinya tidak sabaran. “Saudara Arci, sudah disiapkan semua materinya.”

“Tentu saja,” kata Arci dengan percaya diri.

Rapat pun hampir saja dimulai, ketika beberapa orang masuk ke dalam ruangan direksi. Arci tak mengenal mereka. Tapi ketika semua orang yang ada di ruangan rapat berdiri Arci pun ikut berdiri. Ada seseorang dengan memakai jas yang rapi, rambutnya putih, matanya hijau. Sedangkan tiga orang yang lainnya, tampaknya hanya mengawal saja. Ada seorang wanita yang membawa map dan dua orang berkacamata berjalan di belakangnya. Orang itu sedikit tersenyum dan ia terkejut ketika melihat Arci. Sepertinya ia kenal dengan Arci.

“Siapa?” tanyanya.

“Saya Arczre, manajer marketing yang baru,” jawab Arci.

“Oh, kenapa hanya empat. Mana Andini?” tanyanya.

“Saya yang mewakili dia.”

“Kamu bisa apa?”

“Saya telah mempelajari apa yang harus saya pelajari untuk bisa rapat hari ini.”

“Baiklah tunjukkan kepadaku! Sebelumnya kalau kamu belum tahu siapa aku. Aku adalah Pieter Zenedine, aku termasuk salah satu orang yang memegang saham perusahaan ini, juga anggota keluarga Zenedine. Sekarang, mari kita mulai saja. Dimulai dengan kamu, laporkan apapun yang ingin kamu laporkan dalam meeting tahunan ini.”

Arci mengangguk. Ia kemudian mengambil tablet dan ponselnya. Semua orang kecuali tiga orang yang bersama Pieter duduk semua. Arci kemudian berdiri, beringsut menuju ke imager dan langsung mencolokkan kabel USB tabletnya ke imager. Ia memilih-milih file lalu dalam sekejap di layar sudah ada presentasi.

“Perusahaan kita sedang sekarat,” kata Arci memecah suasana ketika hening. Di layar sudah ada beberapa bagan yang menjelaskan maksud Arci. Semua orang mengerutkan dahi. “Anda tahu kenapa sekarat?”

“Sekarat? Bukankah kita selama ini terus beruntung?” tanya Pieter.

“Tidak, kalau Anda melihat angka laba yang stabil tiap bulannya itu adalah angka yang mengerikan, saya jamin tiga bulan lagi perusahaan ini bangkrut.”

“Kamu jangan mengada-ada, ini data dari mana? Andini harus bisa memberikan alasan yang jelas!” kata Tomi Rahardjo.

“Data ini bukan dari Andini tapi dari saya sendiri. Selama 2 minggu saya telah mempelajari seluk beluk pemasukan perusahaan ini. Kebanyakan yang terjadi adalah perusahaan-perusahaan cabang yang dipimpin oleh Anda semua melakukan persaingan pasar terhadap teman sendiri. Akibatnya pembeli bingung. Anda bisa lihat. Laba tiap bulannya konstan. Bahkan selama dua tahun. Apakah Anda tahu ketika laba konstan maka ada sesuatu yang terjadi dengan perusahaan ini yaitu sebut saja tidak berkembang.”

Arci kemudian menampilkan slide lainnya. Di situ menampakkan foto-foto tentang barang di gudang.

“Saya mendapatkan fakta bahwa di gudang ada produk-produk yang sebenarnya masih bagus tapi tak laku dijual? Karena apa? Karena tak ada pemasaran yang sesuai. Semuanya menumpuk dan perusahaan hanya terfokus kepada produk yang menjadi trend sedangkan produk-produk lama yang jauh dari trend dibiarkan menumpuk digudang. Padahal kalau dijual sebenarnya masih laku, terlebih karena PT Evolus adalah sebuah perusahaan yang barang-barangnya sudah dikenal oleh banyak masyarakat.”

Semua orang tercengang. Mereka tak pernah mengetahui ada barang yang menumpuk.

“Tapi tak perlu khawatir, karena saya sudah menyelesaikan permasalahan ini. Anda tahu? Sebagian konsumen kita mereka sebenarnya punya ide-ide yang briliant, saya kemudian membuat sebuah kuis di internet yaitu sebuah kuis untuk mereka yang punya ide desain untuk mendesain produk kita. Dan sebagai hadiahnya kita akan berikan banyak voucher dan hadiah langsung dari produk-produk kita yang menumpuk di gudang. Alhasil, peminatnya banyak yang mendaftar lebih dari 500 orang. Strategi pasar yang saya gunakan adalah mengusung komunitas-komunitas lokal untuk bisa memasarkan produk ini. Saya telah membuat sebuah portal yang bisa menghubungkan konsumen dengan kita. Alhasil mereka suka dan situs ini hanya dalam waktu satu bulan telah dikunjungi sebanyak satu juta pengunjung.”

Pieter manggut-manggut.

“Dan kemudian, saya tahu saingan terbesar kita adalah PT Denim. Ya, dengan produk-produk mereka yang terus berinovasi kita akan ketinggalan. Kita akan kalah. Dan kita akan bangkrut karena dari fakta lapangan beberapa pasar kita telah dikuasai mereka. Hanya saja mereka tidak melangkah ke tempat kita melangkah. Saya menyerang mereka dari segi yang mereka tidak sangka, yaitu komunitas online. Kaskus, Lazada, Tokopedia, semuanya akan membicarakan produk kita. Dan dengan begini saya akan pastikan tiga bulan lagi laba kita akan naik. Otomatis kita tak perlu memusingkan diri untuk bersaing dengan PT Denim.”

“Tapi, bukankah PT Denim lebih baik dalam masalah inovasi? Setidaknya kenapa kita tidak mencoba untuk bisa bekerja sama dengan mereka?” sela Yuswan Andi.

Arci kemudian menampilkan sebuah gambar. “Anda lihat, ini ada sebuah baju. Bajunya sangat menarik. Dengan setelan lengan panjang berwarna biru dengan motif batik di bawah, sebuah desain yang keren kalau dibuat bekerja. Apalagi warnanya khas seperti jins. Menarik bukan? Coba tebak ini produknya siapa?”

Semuanya tampak terkesima dengan model baju kemeja yang ditunjukkan oleh Arci.

“Kita tak pernah membuat baju bermotif batik untuk baju kemeja seperti itu!” kata Argha.

“Ya, kita tak pernah membuat baju bermotif batik seperti itu,” sambung Weny.

“Pak Pieter?” tanya Arci.

“Itu baju kita, produk kita,” jawab Pieter.

“Pak Pieter benar, ini produk kita,” jawab Arci.

Semua orang tercengang.

“Bagaimana mungkin??” tanya Yuswan Andi.

“Ini produk pertama yang dibuat oleh Archer Zenedine. Di jaman itu di saat beliau masih menggunakan mesin jahit manual, beliau merancang baju ini. Anda mungkin lupa, tapi ini adalah produk pertama beliau. Dan lihat gambar berikutnya!” Arci menggeser slide. Dan tampak sebuah baju yang bentuknya sama. “Ini produk PT Denim yang baru saja keluar. Anda bisa lihat logo di kerah bajunya.”

BRAK!

Pieter menggebrak meja. “Bagaimana mereka bisa mendapatkan itu??”

“Saya tak tahu, tapi yang jelas sebagian besar inovasi yang dilakukan oleh PT Denim berasal dari kita. Rancangan-rancangan model lama kita diambil oleh mereka dan diklaim sebagai produk mereka. Saya kira ada orang dalam yang ingin membuat perusahaan ini bangkrut,” jelas Arci. “Dan bukan hanya produk ini saja. Ada banyak. Saya akan tampilkan di layar semuanya.”

Arci kemudian menggeser slide, menampilkan perbandingan kedua produk antara PT Evolus dan PT Denim.

“Oh My God. What the FUCK is THIS SHIT?!” Pieter tampaknya gusar. “Kalian, jelaskan kepadaku, apa-apaan ini?!”

“Pak Pieter, kami baru saja tahu,” jelas Yuswan.

“Arczre, jelaskan kepadaku data ini sangat valid?” tanya Pieter.

“Sangat valid, saya bisa antar kepada Anda di mana baju-baju ini dipajang,” jawab Arci.

“Baiklah, apakah engkau punya solusi dari ini semua?” tanya Pieter.

“Sejujurnya, saya punya tapi….,”

“Tapi apa?”

“Alangkah lebih baiknya saya meminta masukan juga kepada semua orang yang ada di sini, kalau misalnya ide saya tidak diterima silakan berikan saya masukan, kalau misalnya diterima maka saya ingin kita semua komitmen untuk bisa melaksanakannya,” kata Arci.

Sekilas wajah Pieter tampak menampakkan rasa penasaran. Tentu saja ia penasaran. Ia adalah sepupu dari Archer Zenedine. Melihat Arci ia jadi teringat saudara sepupunya itu. Semuanya mirip, baik itu wajah, suara dan perawakannya. Ia jadi penasaran siapa sebenarnya Arci.

“Baiklah, berikan kami idemu!” kata Pieter.

Arci menarik nafas dalam-dalam. Memberikan ruang sejenak di dalam paru-parunya untuk bisa mengeluarkans semua kata-katanya.

“Ide saya, kita biarkan masyarakat, kita biarkan customer yang memberikan kita ide. Dari customer, untuk customer. Kita akan berikan apresiasi yang pantas bagi desain mereka yang bisa kita pakai, bisa kita jual. Bahkan ke depannya kita akan mencoba berikan sebuah terobosan, ‘You can desain your suit'”

“Maksudnya?”

“Kita akan membuat customer yang secara langsung memesan produk sesuai dengan ide mereka. Mereka lebih senang mendesain sebuah kemeja untuk lelaki, maka kita akan berikan kepada mereka untuk mendesain model mereka sendiri.”

“Itu ide gila!”

“Gila, tapi itu akan membuat kita di mata customer lebih naik. Saya bertaruh ide tidak masuk akal ini tidak akan dipakai oleh PT Denim. Dan sebaiknya kalau misalnya ada di antara kita yang berniat untuk bergabung dengan mereka, buang saja jauh-jauh hal itu.”

Semua yang ada di ruangan itu tercengang. Harusnya hari itu akan menjadi pembantaian bagi Andini, tapi Arci membuat semuanya berbalik. Dia menguasai forum.

“Ide itu pernah diusulkan oleh Archer dulu, tapi sebelum terlaksana ia telah pergi terlebih dulu,” kata Pieter.

Arci sedikit terkejut. Well, mungkin karena memang sifat bapak niru kepada anaknya. Ia punya pikiran yang sama dengan mendiang sang ayah. Itu suatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Arci hanya bisa menyunggingkan senyumnya.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Setelah seharian mengikuti meeting, akhirnya rapat hari itu sukses. Besok akan ada pembacaan wasiat dari Archer Zenedine. Seluruh pimpinan direksi dan hampir semua keluarga Zenedine akan datang. Sebagian sudah tahu isi wasiat itu, sebagian tidak tahu. Beberapa keluarga Zenedine tahu tapi hanya sebagian kecil, mereka hanya penasaran siapa anak dari Archer yang akan menjadi pewaris tahta.

Arci tidak menginap di villa itu, sedangkan yang lainnya menginap di sana. Ia lebih memilih menuju hotel tempat Andini menginap. Rahma telah dipulangkan ke rumahnya, tentu saja kedua orang tuanya sangat khawatir. Akhirnya mereka bisa bernafas lega setelah mengetahui Rahma selamat. Arci segera menemui Andini setelah sampai di hotel itu. Ia pun mengetuk pintu kamar Andini.

Andini pun membuka pintu. Arci kemudian masuk.

“Bagaimana rapat tadi?” tanya Andini.

“Tenang saja, aku sudah menghandlenya. Aku mengatakan kalau kamu masuk rumah sakit,” jawab Arci.

“Fiyuuh…trus?”

“Besok. Kita lihat saja apa yang terjadi besok.”

Arci menghadap ke Andini. Arci lebih tinggi dari Andini, tapi perbedaan usia mereka tentu saja berbeda. Bagi Arci ia sangat takjub dengan Andini. Bagaimana ketika ia bertemu dengannya dulu, dalam keadaan yang sangat berbeda dengan hari ini.

Arci memegang pipi Andini, tangan itu terasa lembut di pipi Andini. Ia merasakan kesejukan ketika tangan lembut pemuda itu membelai pipinya. Andini memejamkan mata. Agaknya ia pasrah terhadap apa yang akan dilakukan pemuda itu. Di kamar hotel, berduaan. Arci bisa saja melakukan yang lebih jauh dari sekedar menciumnya. Tapi hari itu ia hanya mendaratkan sebuah ciuman ke bibir Andini dan memeluknya.

Dalam pelukannya Andini berkata, “Aku sangat merindukanmu. Kamu tahu itu?”

“Kamu beda sekali.”

“So, Mr. Zenedine. I’m yours.”

“No no no, not like this. Aku sudah berjanji akan menikahimu. Kamu bisa tunggu?”

Arci memegang bahu Andini. Wanita ini hanya tersenyum, senyum kebanggaan memiliki kekasih seperti Arci.

“Tapi bagaimana kita tidurnya? Just single bed,” gumam Andini yang masih dipeluk.

“Hmm… it’s OK. Aku bisa tidur sambil memelukmu.”

“Yakin kuat?”

“Apanya?”

“Yakin nggak tergoda?”

“Coba aja.”

Andini melepaskan pelukannya. Ia kemudian melepaskan kemejanya, lalu roknya hingga ia hanya memakai g-string dan bra. Arci menelan ludah dengan sangat susah. Andini memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar Arci mendekat.

“Wah, dia goda aku nih,” katanya dalam hati.

Tubuh Andini sangat mulus, kuning langsat, tanpa cacat. Tak ada bekas luka apapun, bulu-bulu halus tumbuh di sekitar lengannya, tampak urat-uratnya di payudaranya kelihatan pertanda dua buah bukit kembar itu tak pernah disuntik silikon. Buah dada berukuran 34 D ini seakan tak muat dibungkus oleh bra berwarna krem itu. Arci pun membuka kemejanya, sama seperti Andini, ia kini hanya memakai boxer. Sebagai laki-laki normal tentu saja senjatanya sudah mengeras.

“Hahahaha, sudah keras aja tuh,” kata Andini.

“Yah, kalau nggak gini ya nggak normal. Hehehhe,” kata Arci.

“Baiklah, aku mau tahu seberapa kuat kamu menahan diri. Hihihi.”

Arci tanpa basa-basi langsung menerjang Andini. “Aw!”

Mereka pun saling bercumbu, seperti melepas kerinduan yang selama ini mereka pendam. Arci meremas buah dada atasannya itu tanpa ada rasa sungkan. Rasa cintanya makin besar, ia ingin melampiaskan semuanya malam itu. Tapi Arci tetap akan memegang janjinya, sebelum menikah ia tak akan menyentuh Andini lebih jauh.

“Boleh aku lihat dalamnya?” tanya Arci saat menyentuh buah dada Andini.

Wajah Andini bersemu merah. Ia baru pertama kali disentuh lelaki seperti itu. “Te..tetapi kamu janji kan nggak masukin?”

Arci mengangguk. “Aku janji”

Andini menaikkan punggungnya sehingga tangan Arci bisa menggapai kaitan bra di punggungnya. Dalam sekejap dua buah bukit kembar dengan puting yang sudah mengeras terpampang di hadapannya. Arci menatapnya tanpa berkedip. Tentu saja ia sesaat membandingkan dengan punya Safira. Jelas, punya Safira tak ada apa-apanya dibandingkan ini. Yang ini lebih besar, lebih kencang, dan putingnya mengeras.

“Jangan tatap gitu ah, malu!” kata Andini mengalihkan wajahnya.

“Kamu punya buah dada yang sangat mempesona,” kata Arci.

“Cici, jahat!”

“Boleh aku hisap?”

Andini mengangguk.

Arci pun mulai bekerja. Bibirnya mulai mengecup puting susu Andini. Andini menggelinjang. “Aaahh…Ciii…!”

Arci menikmati setiap kelembutan yang hinggap di bibirnya. Andini pun merasakan sentuhan seorang lelaki yang kini mulai menikmati payudaranya. Ia memeluk Arci, meremas setiap sudut kepala pemuda ini hingga Arci tak bisa bernafas karena terbenam dalam dua buah bola yang empuk. Arci menghisap bergantian kedua puting tubuh wanita yang sempurna ini.

“Cii…geli…”

Puas dengan payudara Andini, Arci mulai menciumi semua tubuh wanita ini. Dari kening, kedua kelopak matanya, pipi, leher, lalu dada, ketiaknya–yang ini membuat Andini menggelinjang hebat, Arci sampai menjilati ketiak Andini yang bersih serta wangi ini–lalu pinggulnya, pahanya, betisnya hingga kemudian Arci mengemut jempol kaki Andini yang membuat wanita ini tubuhnya melengkung.

“Ciii…memekku gatel, masukin yuukk….plissss..!” Andini merengek. Arci melihat g-string milik Andini basah. Ia menyentuh daerah selakangan Andini, seketika itu gadis itu menggeliat dan menjerit. “Aawwww! Jangan disentuh Cii…!”

“Kenapa?”

“Aku keluarrrr…!”

“Lho, aku belum ngapa-ngapain lho.” Arci pun dicubit pinggangnya. “Aduh!”

“Jahat! Cici jahat! Aku keluar banyak gini!”

“Lihat, siapa yang nggak kuat??”

“Ahhh….Cici jahaaat!”

Arci lalu berbaring memeluk Andini erat-erat sementara Andini bergeser berada di atas tubuh lelaki itu. Ia pun menggesek-gesekkan kemaluannya di tonjolan boxer Arci.

“Duuhh…Ciii, enak bangeetttss!”

“Aww…..aduh…iya Ni, enaaakk!”

Andini pun menggesek-gesekkan kemaluannya. Klitorisnya benar-benar seperti dikoyak oleh tonjolan kemaluan Arci. Tiba-tiba di saat bergoyang Andini pun menghentikan aktivitasnya. Ia berdiri lalu melepaskan G-Stringnya. Dan terlihat jelas sebuah tempat privat wanita yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Arci kaget melihat Andini telanjang tanpa sehelai benang pun. Dan lebih kaget lagi ketika Andini berusaha melepas boxer yang ia pakai.

“Lho, lho, Dini…kamu mau apa?”

“Udah deh, nikmatin aja!”

Tanpa disangka keduanya sekarang telanjang bulat. Rudal Arci mengacung ke atas dan Andini merangkak di atas tubuhnya. Dia pun kemudian menduduki batang monumen nasional itu. Arci menggelinjang geli ketika cairan Andini yang membasahi memeknya kini juga membelai batang penisnya. Andini mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Ini seperti batang Arci dikocok oleh jepitan memek Andini. Sensasinya cukup membuat ia terangsang dan benar-benar membakar birahi. Arci pun meremas kedua toket Andini.

“Dini…ohhhhhh…. kita kayak orang ngentot!” rancau Arci.

“Kita simpan pertemuannya nanti malam pertama yach yang? Sekarang, kita cukup begini aja,” kata Andini.

“Aaahh…Diinnniii…!”

“Achh…Cii..enaaak…uuufffffhhh!”

Andini terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya dengan batang kemaluan Arci. Rasanya juga sudah cukup enak. Kemaluan Andini juga sudah gatel ingin segera mengeluarkan orgasmenya lagi. Sedangkan Arci pun juga merasakan sesuatu yang akan meledak.

“Diinn..aku kayaknya mau keluar,” kata Arci.

“Keluarin yang, aku juga nih,” kata Andini.

“Aaahhh….toketmu gedhe gilak!”

“Kamu suka?”

“Suka banget!”

“Oohhhh…Cinta….aku keluuuuaaaaaaaaaaarrrrrr!”

“Akhhhh!”

Jeritan keduanya mengakhiri pergumulan keduanya, semburan sperma hangat menyembur ke perut Arci dan Andini. Keduanya lantas langsung berpelukan erat. Andini memeluk Arci dengan erat, menindihnya, meluapkan semua perasaannya kepada orgasme keduanya. Walaupun tidak memasukkan kemaluannya ke liang senggama Andini, Arci sudah merasa cukup puas. Ia tak memaksa Andini, apalagi ia ingin hubungan ini terjalin dengan baik.

Keduanya berpelukan dalam sebuah selimut tebal. Andini merasa tentram dalam dekapan kekasihnya. Sang kekasih yang tetap memegang janjinya.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Besoknya, saat yang ditunggu. Arci dan Andini hadir. Dalam sekejap vila tersebut dipenuhi mobil-mobil mewah, hampir semua keluarga Zenedine dan orang-orang yang dekat dengan Archer Zenedine hadir di sana. Dan tentu saja Bu Susiati sebagai seorang pengacara yang sangat disegani ada di sana.

Arci melihat dengan seksama seluruh keluarga Zenedine. Sebentar lagi semua orang akan tahu siapa dirinya. Ia tak tahu apa nanti yang akan terjadi. Tiba-tiba ia teringat dengan Letnan Yanuar. Tentang kelakuan keluarga Zenedine yang sebenarnya mereka semua adalah mafia. Arci tak tahu apa yang harus dilakukan, apakah ia akan menerima tawaran itu ataukah tidak. Mengumpulkan bukti-bukti untuk menghukum anggota keluarganya sendiri?

Bu Susiati mulai mengeluarkan sebuah CD. Ia kemudian memasukkannya ke sebuah player. Sebuah imager yang terpampang di tengah ruangan pun mulai menampilkan Video Player. Bu Susiati kemudian memutar video itu. Setelah itu muncul wajah Archer Zenedine. Arci mengetahuinya.

“Ini adalah wasiatku. Aku Archer Zenedine. Aku tahu kalian pasti akan bertanya-tanya kenapa harus hari ini, tanggal 31 Mei beberapa tahun setelah aku wafat. Jawabannya hanya satu. Karena hari ini adalah hari ulang tahun putraku. Putra semata wayangku. Dialah satu-satunya yang berhak atas semua kekayaanku, dan satu-satunya orang yang akan mengarahkan kemana perusahaan yang diwariskan oleh Arthur Zenedine kepadaku.

“Namanya adalah Arczre Vian Zainal. Dia adalah anak biologisku dengan seorang wanita yang sangat aku cintai, Lian. Semuanya telah sah aku tanda tangani dan mulai hari ini Arczre mewarisi semuanya. Dia berhak menjadi anggota keluarga Zenedine, dia berhak atas semuanya. Dan kepada anggota keluarga yang lain, semuanya telah aku bagikan yang mana akan diurus oleh pengacaraku. Sekian. Dan untuk Arci, aku pesan kepadamu follow your heart”

Berakhirlah rekaman video itu.

“Ini semua yang menjadi wasiat dari Archer Zenedine, dan ini sudah menjadi ketetapan hukum tidak bisa diganggu gugat,” kata Bu Susiati.

“Ini gila, ini tidak mungkin. Siapa anak pamanku itu? Toh kita tak tahu dia masih hidup atau tidak,” protes seorang pemuda. Ia sepertinya lebih muda sedikit dari Arci.

“Aku tak setuju, wasiat sampah. Akulah yang seharusnya menjadi pewaris resmi,” ujar seorang lagi.

Lalu seluruh ruangan menjadi ricuh. Tapi Pieter yang saat itu juga ada di tempat itu mengangkat tangannya. Semua orang langsung terdiam. Ternyata Pieter punya pengaruh yang luar biasa di keluarga ini.

“Arczre Vian Zainal anak Archer Zenedine ada di sini, bukan begitu?” tanya Pieter sambil menoleh ke arah Arci. Tatapan Pieter itu seolah-olah dia sudah mengetahui semuanya.

“Ya, dia ada di sini,” kata Bu Susiati.

“Mana?!” teriak salah satu anggota keluarga Zenedine.

“Saya orangnya,” Arci melangkah maju.

Semua mata tertuju kepadanya.

Tiba-tiba dari kerumunan keluarga Zendine seorang wanita bergerak maju dan mengacungkan sepucuk pistol ke dahi Arci. Wanita itu tampak masih muda, cukup cantik, tatapan matanya tajam dan bulu matanya tebal. Pistol model glock itu sudah hampir ditarik pelatuknya dan Arci tentu saja kaget. Jantungnya hampir copot.

“Ghea!” bentak Pieter. “Kamu mau apa?”

“Aku akan menghabisi orang yang mengaku sebagai anak paman Archer ini, dia tak pantas menyandang nama keluarga Zenedine. Kalau dia dihabisi bukankah kekayaannya bisa dibagi ke kita?!” kata gadis yang sepertinya masih berusia 21 atau 22 tahun.

“BODOH!” bentak Pieter. “Kalau kamu membunuhnya maka tidak satupun dari kita akan mendapatkan warisan itu, bahkan semuanya akan disumbangkan ke yayasan sosial.”

“Jadi aku harus menerima dia sebagai anggota keluarga kita?”

“Tentu saja, lagi pula dia tak sebodoh yang kamu kira,” kata Pieter sambil terus bersuara lantang.

Semua orang membisu. Wanita yang dipanggil Ghea itu pun menurunkan pistolnya. Arci menarik nafas lega.

“Aku tak suka kepadamu, sepupu!” Ghea mendorong Arci. Arci mundur satu langkah. Setelah itu dia pergi meninggalkan Arci.

Hari itu tentu saja semua berubah. Semua orang mau tidak mau harus menerima Arci. Keadaan yang tidak menguntungkan bagi keluarga Zenedine. Tapi mereka harus menerima. Sebagian yang lain mulai merancang sesuatu, Arci tahu di antara mereka tidak akan ada yang bisa diajak bersahabat. Mereka hanya ingin hartanya.

“Arci, apa yang akan kamu lakukan sebagai pemimpin perusahaan ini?” tanya Pieter.

Arci menghirup nafas dalam-dalam.

“Jangan takut, keputusanmu adalah keputusan kami juga. Tapi, kalau kamu ingin menghancurkan apa yang dirintis oleh kakekmu, aku tidak akan tinggal diam,” kata Pieter.

“Baiklah, kalian sudah mengetahui apa rencanaku ke depan dari rapat kemarin bukan?”

Semuanya mengangguk.

“Hal pertama yang ingin aku lakukan adalah memecat Yuswan Andi dari jajaran direksi.”

Sontak hal itu membuat semuanya terkejut. Ruangan itu jadi ricuh.

“Hei, anak muda!? Apa yang kamu lakukan? Salahku apa?” Yuswan Andi protes.

“Kamulah orang yang telah membocorkan rancangan kita kepada PT Denim, kamu berusaha untuk bisa mempersatukan perusahaan ini dengan PT Denim dan rencanamu itu telah di dengar salah satu rekan kerjaku Rahma. Kamu juga berniat buruk kepada Andini, tapi sayangnya aku telah mengambil alih rapat kemarin,” ujar Arci.

“Betulkah katamu itu?” tanya Pieter.

“Aku bisa mendatangkan Rahma menjadi saksi,” jawab Arci.

“Jadi, dia yang membocorkan desain itu?” tanya Pieter.

“Aku bisa jelaskan semua,” Yuswan Andi berusaha membela diri.

Pieter memberi isyarat. Tiba-tiba seorang berkaca mata hitam muncul dari belakang Yuswan Andi dan menodongkan pistolnya lalu….

DOR!

Sebuah peluru menembus kepalanya. Yuswan Andi belum sempat bicara. Ia sudah tewas di tempat. Andini kaget dan langsung memeluk ibunya. Semua orang tak tega melihat itu. Pembunuhan tepat di depan mata mereka. Arci benar-benar menyaksikannya secara langsung. Darah segar menggenangi lantai tepat di mana Yuswan terbujur kaku.

Pieter menghampiri tubuh Yuswan Andi, ia lalu berkata, “Aku tak suka pengkhianat. Aku sudah bilang aku tak suka pengkhianat. Kalian lihat? Aku sudah tegaskan kepada kalian. Kalau sampai ada yang berkhianat aku tak akan memaafkan orang itu. Dan kamu Arci, termasuk kamu. Kami rela kehilangan semua warisan dari Archer, kalau kamu berkianat kepada kami. Kamu mengerti?”

Arci menelan ludah. Pandangannya terpaku kepada Pieter. Pieter hanya tersenyum, ia lalu menepuk pundak keponakannya.

“Santai saja, selamat datang keponakanku. Kamu perlu berkenalan dengan kami semuanya nanti,” kata Pieter. “Maaf, sambutanku yang tidak pantas ini.”

Setelah itu Pieter dan keluarga Zenedine keluar semuanya dari ruangan. Arci masih begidik melihat Ghea yang tadi menodongkan pistolnya ke kepalanya. Ia masih terasa dinginya besi yang menempel di dahinya tadi. Ghea, hanya tersenyum simpul kepadanya.

“Bu Susiati, ini kejahatan bukan?” tanya Arci sambil berbisik. “Kenapa Anda diam saja?”

“Arci, ada kalanya uang dan pengaruh lebih berkuasa dari hukum. Kamu akan sering melihat seperti ini di keluarga ini. Aku hanya bisa menolongmu untuk mendapatkan kekuasaan di keluarga Zenedine. Selebihnya engkau harus berusaha sendiri,” bisik Bu Susiati.

“Lalu??”

“Berusaha jangan mati,” kata Bu Susiati.

Kepala Arci pusing. Ia baru kali ini melihat seseorang dieksekusi tepat di depan matanya. Agaknya ia harus melaporkan ini kepada Letnan Yanuar. Tapi ancaman dari Pieter tadi bukan main-main. Ia sekarang sedang berada di sebuah platform yang sangat berat untuk diduduki, seseorang yang dijuluki Inheritance. Keturunan. Dan dia menyesal mendapatkan semuanya sekarang.

Arczre mengambil alih perusahaan PT Evolus. PT Evolus mempunyai Presiden Direktur baru. Ya, itulah judul headline koran. Seorang yang tiba-tiba berada di puncak. Tapi inilah hasil dari harga yang harus dibayar mahal oleh Arci dan keluarganya. Hidup bertahun-tahun berpindah-pindah dikejar renternir, debt colector hingga orang-orang yang tak jelas yang ingin membunuh mereka. Sekarang Arci bisa berdiri di puncak. Namun tetap saja ada orang-orang yang tak suka ia berada di sana. Terlebih setelah ia mengetahui bagaimana sejatinya keluarga Zenedine. Mereka semua mengerikan.

Arci mau tak mau harus mengakui dirinya butuh sekutu. Ia sendirian di keluarga ini. Tak ada yang mendukungnya. Arci pun datang ke Letnan Yanuar setelah ia menelpon polisi itu. Mereka pun bertemu di sebuah kafe.

“Kau tak perlu takut, kita aman,” kata Letnan Yanuar. “Siapapun tak akan ada yang curiga kamu ngobrol dengan siapa.”

“Ini gila,” kata Arci. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Pieter membunuh orang, tepat di depanku!”

“Aku tahu, korbannya Yuswan Andi,” kata Letan Yanuar.

“Lalu kenapa dia tidak ditangkap?”

Letnan Yanuar menggeleng. “Kamu kira menangkap dia semudah menangkap nyamuk? Siapa saksinya? Kamu?”

“Bukankah banyak yang melihat?”

“Banyak yang melihat? Kamu tahu seberapa takut mereka kalau melaporkan kejadian itu? Ini tidak terjadi pertama kali, tapi lebih dari itu, beberapa tahun yang lalu juga terjadi hal serupa, tidak didor, tapi dijatuhkan dari atas gedung. Otaknya berhamburan di bawah. Dan kamu tahu nasib orang yang melaporkannya? Sama. Jatuh dari atas gedung. Pieter bukan orang sembarangan. Kalau kamu mau mengalahkan dia, maka kamu harus mencabut satu demi satu gigi-giginya. Dia itu seperti macan yang gigi-giginya tajam. Untuk melumpuhkannya, tentu saja cakarnya harus dipotong, giginya dicabut baru kita bisa mengalahkannya.”

Arci menggaruk-garuk kepalanya yang makin pusing.

“Kamu butuh sekutu di dalam keluarga itu, Arci!” Letnan Yanuar kemudian menyerahkan beberapa dokumen. “Ini data tentang keluarga Zenedine. Pelajarilah, hanya ini yang bisa aku bantu. Dan satu lagi, kalau kamu ingin disegani oleh mereka, dekati Pieter dan Ghea. Dua orang ini ayah dan anak. Pieter saudara jauh dari Archer, lebih tepatnya sepupunya. Sebenarnya kalau saat itu dia tidak terlibat kasus kriminal, maka dia akan memimpin perusahaan ini. Tapi sekalipun begitu dengan bisnisnya yang entah apa namanya ia berhasil mempunyai banyak uang dan sahamnya termasuk salah satu yang tinggi di perusahaan ini.

“Pieter terkenal sebagai orang yang menjalankan bisnis. Dia orang kepercayaan Arthur. Segala sesuatu yang berbau kotor, ia pasti pelakunya. Tapi setiap polisi akan menangkapnya, bukti-bukti itu selalu hilang. Tak berbekas. Ghea, dia cewek yang mengerikan. Kalau kamu bisa mendapatkan dia sebagai sekutumu, kamu tidak akan dianggap remeh oleh keluarga Zenedine. Sebab apapun yang dianggap baik oleh Ghea, maka banyak keluarga yang mendukung. Satu lagi, ia berdarah dingin. Tak segan-segan menembak orang yang tidak disukai.”

Arci melihat dua buah foto. “Ini? Siapa mereka?”

“Yang laki-laki namanya Tommy Zenedine, dia pekerja seni. Ia tak mau terlibat panasnya intrik keluarga Zenedine, sekarang tinggal di Paris. Yang satunya Areline. Dia sekarang masuk rumah sakit jiwa karena terlalu banyak mengkonsumsi barang haram ketika muda hingga otaknya goyah. Kamu bisa tak perlu mencampuri urusan mereka.”

“Yang lainnya?” tanya Arci.

Letnan Yanuar memberikan dokumen lainnya. Arci pun menerimanya.

“Pelajari semuanya. Mereka sangat berbahaya,” kata Letnan Yanuar.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Arci.

“Kumpulkan bukti-bukti agar aku bisa menjerat mereka satu per satu. Di dokumen ini ayahmu memberikan catatan tentang siapa saja yang berbuat kriminal. Pelajari saja. Kamu akan mengerti nantinya. Dan satu lagi…,” Letnan Yanuar merogoh sakunya dan menyerahkan sebuah flashdisk USB.

“Apa ini?” tanya Arci.

“Kalau kamu pernah melihat video tentang ayahmu, ini video yang lainnya. Dia menyerahkannya kepadaku sebelum pergi. Dan dia benar-benar menyuruhku agar jangan sampai benda ini jatuh ke tangan orang yang salah,” jawab Letnan Yanuar. Ia menyeruput kopinya yang sudah dingin.

Arci membolak-balik dokumen-dokumen itu.

“Aku tinggal dulu,” ujar Letnan Yanuar. “Kalau kamu ingin menghubungiku, kamu tahu harus ke mana.” Ia pun beranjak dari tempat duduknya.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Tinggal di rumah baru. Rumah peninggalan Archer Zenedine. Siapa yang tak suka? Baik Lian, Safira dan Putri sangat senang. Kehidupan mereka berubah sekarang. Mereka sudah tidak kekurangan lagi. Lian dan Safira pun akhirnya tidak lagi mendalami profesi mereka. Kini keduanya menjadi orang yang bebas. Menikmati apa yang telah disiapkan oleh Archer Zenedine. Safira lebih bahagia kini, ia bisa tinggal bersama Arci. Lebih tepatnya dia sekarang seperti istri yang melayani suaminya.

Agaknya sedikit bimbang bagi diri Arci. Bagaimana kalau Andini tahu hubungan dia dengan kakaknya sendiri? Sebuah hubungan tabu yang bisa membuat dia dan Andini berpisah. Aci menyukai Andini tentu saja. Ia sangat mencintainya. Tapi ia juga tak bisa menelantarkan cinta Safira. Apalagi mereka adalah kakak adik. Di rumah mereka sangat mesra. Bahkan mungkin Lian sedikit cemburu dengan tingkah anak-anaknya ini. Tapi di dalam diri Arci ada sebuah perasaan galau. Hingga suatu ketika saat mereka telah selesai bercinta, keduanya saling berpandangan.

“Aku takut,” kata Arci.

“Takut kenapa dek?” tanya Safira.

“Kita sekarang berada di sarang singa. Semua anggota keluarga Zenedine memusuhi kita. Kakak mungkin tahu bagaimana kita dulu harus berpindah-pindah, semuanya salah satunya adalah karena ulah mereka. Tapi siapa aku masih belum tahu.”

Safira tak berkata-kata. Ia makin merapatkan tubuh tanpa busananya ke tubuh Arci. Mereka pun berpelukan. Arci membelai rambut kakaknya.

“Aku sekarang ini sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita,” kata Arci.

“Oh ya? Siapa?”

“Kakak masih ingat saat aku menjadi gigolo dulu?”

“Ya?”

“Aku sekarang menjalin hubungan dengan dirinya.”

“Oh..”

“Dan sebenarnya waktu itu aku tak melayani dia. Aku menolaknya dan ternyata mereka malah memberiku uang yang banyak. Mereka ternyata mendapatkan mandat dari ayahku untuk memberikan uang itu kepadaku.”

“Yang benar?”

“Iya. Dan sekarang wanita yang saat itu ada di dalam kamar hotel saat itu,…sekarang aku telah menjalin hubungan dengan dia. Dan kita serius. Dia bosku sendiri di perusahaan ini.”

Dada Safira terasa sesak. Ia tahu hal ini bakal terjadi. Arci mencintai wanita lain. Ia cemburu. Tapi sebagai seorang kakak ia tak ingin adiknya sakit hati. Ia ingin membiarkan Arci dengan cintanya. Hanya saja ia tak rela kalau adiknya direbut oleh orang lain. Tiba-tiba air matanya mengalir. Arci mengetahui hal itu.

“Kakak menangis?”

“Nggak koq dek. Nggak.”

“Itu?” Arci menghapus air mata Safira.

“Aku kakakmu, aku akan mendukung apapun yang kamu lakukan. Tapi…sungguh, mendengar ceritamu aku tak tahu harus bahagia atau sedih.”

Arci lalu mendekap Safira. “Kamu tetaplah Kak Safira sampai kapan pun.”

“Kenapa aku bisa jadi kakakmu? Aku ingin jadi kekasihmu. Tak bisakah itu terjadi?”

“Kamu kakakku dan juga kekasihku.”

“Tapi kamu mencintai dia bukan? Rasanya sakit dek…dadaku sakit.”

“Maafkan aku.”

Safira menangis dalam pelukan Arci. Kamar yang baru mereka tempati hari ini merupakan saksi bisu bagaimana Safira mengutarakan kecemburuannya kepada Andini. Tapi seharusnya ia tak boleh cemburu. Tapi cinta tak bisa dipaksakan. Cinta Arci kepada Andini adalah cinta yang tulus. Dan ia ingin menjaganya. Dan cintanya kepada Safira, adalah cinta seorang adik kepada kakaknya. Andainya bisa lebih, apa yang akan terjadi nanti?

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Arci membaca semua dokumen yang diberikan oleh Letnan Yanuar. Ternyata anggota keluarga Zenedine punya pengaruh yang luar biasa. Baik di dalam bisnis dan politik.

Tommy Zenedine

Usia 45 tahun. Adik dari Archer Zenedine. Sekarang menjadi seniman di Perancis. Sudah 10 tahun tidak pulang ke Indonesia.

Araline Zenedine

Usia 40 tahun. Adik dari Archer Zenedine. Sekarang tinggal di RSJ karena gila setelah terlalu banyak mengkonsumsi narkoba.

Pieter Zenedine

Usia 55 tahun. Sepupu Archer, orang yang lebih banyak berkecimpung di dunia hitam. Semua bisnis PT Evolus dia yang menjaga. Saat terjadi peralihan kekuasaan ke Archer ia tak masuk kandidat karena mendekam di penjara.

Ghea Zenedine

Anak dari Pieter. Pernah melakukan pelatihan di SAS. Namun dia dikeluarkan lantaran memotong salah satu kemaluan anggota SAS. Hanya dia satu-satunya wanita yang punya kemampuan militer. Bertempramen tinggi dan berbuat seenaknya.

Johan Sebastian

Suami dari Araline. Sekarang mengelola bisnis sendiri, bisnis yang ditekuninya adalah di bidang properti. Dia mendapatkan kekayaan dari istrinya dan digunakannya sebagai modal usaha.

Amanda Zenedine

Amanda Zenedine adalah istri dari Archer Zenedine. Tidak banyak yang diketahui darinya karena dia sangat tertutup. Darinya Archer tidak mendapatkan keturunan.

Alfred Zenedine

Alfred Zenedine adalah anak dari Tommy. Berbeda dari ayahnya, dia lebih banyak bekerja dalam bidang teknologi. Dia mempunyai toko elektronik yang cukup besar.

Jacques Kenedy

Jacques adalah tangan kanan Pieter Zenedine. Tak ada yang tahu identitas dan masa lalunya. Yang jelas dia tidak bisa diremehkan karena segala urusan kotor sekarang ini ditangani oleh Jacques.

Michael Hurtman

Salah satu menantu keluarga Zenedine. Dia orang yang berasal dari Amerika, seorang pengusaha real estate yang sekarang tinggal di Indonesia. Istrinya adalah Alexandra Zurky.

Alexandra Zurky

Kalau tidak jadi orang yang beruntung maka Alexandra tidak akan masuk ke keluarga Zenedine. Dia boleh dibilang beruntung karena dulu pernah dinikahi oleh Kevin Zenedine, sepupu Archer. Setelah suaminya meninggal, dia mewarisi semua hartanya. Kemudian dia menikah dengan Michael.

Arci kemudian memutar sebuah file video dari USB yang diberikan oleh Letnan Yanuar. Dia melihat wajah ayahnya lagi. Kemudian Archer mulai bicara.

“Arci, kalau kamu menerima file ini itu artinya kamu sudah masuk ke dalam keluarga Zenedine dan kamu mendapatkan warisan dariku. Selamat. Gunakan warisan itu sebaik-baiknya. Aku tak bisa menjagamu, andainya aku masih hidup saat melihatmu aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membelamu, melindungimu dan juga ibumu. Aku ingin kamu tahu, aku sangat mencintai kalian dan aku tak ingin kalian disakiti.

“Aku meminta tolong kepada Letnan Yanuar untuk bisa menolongku menyerahkan rekaman ini kepadamu. Sekali lagi, jangan percaya kepada siapapun. Setiap anggota keluarga Zenedine adalah singa-singa yang kelaparan. Kalau kamu sudah masuk ke sana berarti kamu telah masuk ke sarang singa. Saranku, jadilah singa. Kamu harus bisa menunjukkan kemampuanmu, jangan menyerah, wasiatku kepadamu yang terakhir adalah hancurkan keluarga Zenedine. Balaskan dendam ibumu, balaskan dendam orang-orang yang telah menghancurkan hidup ayah dan ibumu. Aku belum bisa mengumpulkan cukup bukti tapi kalau engkau masuk ke bagian produksi barang-barang yang diekspor kamu akan mendapati sesuatu yang tak pernah kamu duga.

“Dekatilah Pieter, dekatilah Ghea, dengan mendekati keduanya kamu akan tahu bisnis gelap apa yang mereka lakukan. Aku hanya punya satu teman di keluarga ini, yaitu istriku sendiri. Amanda. Aku tak pernah menyentuhnya, karena aku masih mencintai ibumu sampai sekarang. Dia satu-satunya yang bisa dipercaya di keluarga Zenedine, karena ia wanita yang entah bagaimana tersesat di sana. Hancurkan keluarga ini. Mereka tak berhak lagi untuk bisa menikmati kehidupan mereka. Dan kamu jangan khawatir. Kekayaanku sangat banyak bahkan kalau toh kamu menghancurkan setiap sendi dari mereka, kamu tak akan kehilangan satu sen pun dari kekayaanku.

“Arci, maafkan aku. Andai aku bisa hidup lebih lama lagi. Aku hanya bisa berkata ‘Jangan percaya kepada siapapun’. Dan…jangan mati.”

Video pesan dari ayahnya sudah selesai. Dan Arci hanya terbengong. Ia tak menyangka seperti ini. Isi flashdisk itu dibuka dan ada beberapa file tentang aliran dana, aliran uang perusahaan. Ternyata ayahnya mencatat semuanya, mencatat semua data keuangan yang tidak biasa. Arci tak percaya kalau tidak melihat sendiri.

Bicara tentang data keluarganya, maka data itu tidaklah lengkap. Arci tahu itu. Apakah mereka semua punya usaha di dunia hitam? Kalau misalnya dia membantu polisi itu, berarti dia sama saja ingin menghancurkan keluarganya. Apalagi ancaman Pieter, kalau misalnya dia berkhianat. Apa yang harus dia lakukan? Arci menumpuk dokumen-dokumen itu di atas mejanya. Hingga kemudian bel berbunyi.

TING TONG!

Agak aneh kalau sampai ada tamu sedangkan dia sendiri belum mengumumkan di mana alamat rumahnya yang baru. Arci segera menuju ke pintu. Ia melintasi ruang tamu kemudian mengintip dari lubang pintu. Dia melihat seorang wanita paruh baya, cukup cantik dengan baju warna hitam dan rambutnya yang berombak. Seorang wanita yang tidak dikenal sekarang sedang berada di luar pintu rumahnya. Kalau saja Arci tidak mengingat dokumen yang baru saja ia baca, maka ia pasti tak akan menghiraukan siapa wanita itu. Ya, dia adalah Amanda Zenedine.

Dibukalah pintu. Wajah sumringah seorang Amanda terlihat.

“Arci, apa kabar? Aku dengar cerita kamu sekarang dapatkan semua yang ayahmu punya. Boleh aku masuk?” tanya Amanda.

Kenyataan bahwa dia adalah istri sah ayahnya tak bisa ditepis. Ia sedikit ragu ketika mengucapkan kata “silakan” kepadanya. Wanita itu pun masuk. Lian yang juga penasaran siapa tamu yang datang agaknya terlihat sedikit terkejut melihat Amanda.

“Apa kabar, Lian?” sapa Amanda.

“Baik. Bagaimana kamu?” tanya Lian.

“Seperti biasa, kesepian,” jawabnya.

Amanda lalu berjalan masuk ke ruang tamu, kemudian dia duduk di sofa. Arci dan Lian menemaninya.

“Maaf, kedatanganku mengagetkan kalian.” Amanda menghela nafas. “Mungkin kamu kaget ketika pertama kali bertemu dengan kami disambut dengan sambutan yang tidak pantas.” Amanda melihat Arci.

“Ya, aku shock,” ujar Arci.

“Aku dan Archer, tidak pernah merasakan pernikahan yang sesungguhnya. Berada di dalam keluarga ini rasanya seperti neraka. Aku sangat terkejut ketika mendapatkan kabar bahwa Arci muncul. Kalau ada Arci berarti ada Lian, kamu yakin ingin masuk ke dalam keluarga ini?” tanya Amanda.

Arci menggeleng, “Aku tak yakin. Aku juga tak tahu apakah ini pilihan yang benar atau tidak.”

“Aku akan membantumu,” kata Amanda.

“Membantuku?”

“Ya, apapun yang kamu perlukan aku akan membantumu. Kalau kamu sudah pernah melihat pesan dari ayahmu, maka aku adalah satu-satunya orang yang bisa kamu percaya sekarang ini,” jelas Amanda. “Tapi itu juga terserah kepadamu apakah kamu ingin berjuang sendiri ataukah membutuhkan bantuanku. Aku tahu tak ada yang dipercaya di keluarga ini, tapi aku berani bilang kalau aku adalah satu-satunya harapanmu di keluarga ini.”

Arci tak yakin. Ia menoleh kepada ibunya. Lian hanya menghela nafas. Ia juga tak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin saja kehadiran Amanda bisa membantunya. Mungkin saja tidak.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Pieter berjalan-jalan di jalan Ijen saat Car Free Day. Dengan baju training lengan panjang. Ia terlihat santai sambil sesekali menggerak-gerakkan tubuhnya. Walaupun usianya lanjut ia masih energik. Ghea tampak mengawasinya dari jauh sambil terus berjalan di belakangnya. Rambutnya yang kemerahan dengan mata hijaunya, membuat banyak lelaki yang melirik ke arahnya. Mereka tak tahu saja kalau di pinggang cewek blesteran itu ada pistol yang siap ditembakkan kapan saja, serta beberapa pisau tajam yang siap memotong apapun.

“Ghea, Kenapa jauh-jauh? Kemarilah!” kata Pieter.

Ghe segera mendekat. Dia berjalan di sisi ayahnya sekarang.

“Aku ingin perintahkan kamu untuk mengawasi Arci. Kedatangannya di keluarga ini memang mengejutkan tapi… cobalah untuk mengawasi gerak-geriknya. Kalau ada yang mencurigakan segera lapor kepadaku!”

“Kenapa tidak dihabisi saja dia?”

“Jangan begitu, di dalam darahnya masih mengalir darah Zenedine. Hanya para pengkhianat yang wajib dihabisi. Selama ia tidak berkhianat, kita tak boleh berbuat gegabah. Dekati saja dia, korek keterangan tentang dirinya. Dan, jangan berbuat yang jauh. Aku tak mau dia tahu kalau engkau awasi.”

“Baik ayah.”

“Satu lagi, cari orang yang menerima bocoran desain dari Yuswan. Kalau ketemu habisi dia. Aku tak ingin kita dianggap remeh oleh PT Denim.”

“Baik ayah.”

Pieter melanjutkan acara olahraganya sementara Ghea sudah berbalik meninggalkan ayahnya sendirian.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Aku tak suka dengan orang itu. Siapa dia seenaknya masuk ke keluarga kita.”

“AKu juga demikian. Tapi keputusan itu tak bisa dimentahkan oleh siapapun.”

“Aku tahu, wasiat Archer tak bisa diubah, tak bisa dibatalkan. Tapi, apa bisa dia menggunakan warisan ayahnya itu dengan bijak?”

“Daripada itu, kita lebih baik menjaga diri. Sebab Yuswan telah mati tepat di hadapan kita. Aku tak mau kita juga ikut seperti Yuswan. Beruntung dia tidak memberitahukan siapa rekannya. Pieter pun memperingatkan kita semua, itu adalah balasan bagi para pengkhianat. Tentunya kepalamu tak mau berlubang bukan?”

“Ya, kita harus lebih hati-hati lain kali.”

“Tapi kita cukup beruntung, gadis itu hanya memberitahukan tentang Yuswan. Artinya ia tak melihatku.”

“Perlu kita bereskan dia?”

“Tidak, misi kita lain. Hancurkan PT Evolus, kita harus buat PT Evolus terpuruk dengan begitu anak Archer tak akan dapat dipercaya oleh keluarga mereka dan kita bisa menguasai PT Evolus dengan membelinya.”

“Baiklah.”

“Tapi ingat, harus tanpa ketahuan.”

“Iya, tentu saja.”

“Sebentar ada telepon masuk….ya?? Halo?”

“…”

“Teruskan, pengiriman harus selesai malam ini. Ya, tentu saja ke Vietnam.”

“…”

“Apa katamu??”

“…”

“OK, aku akan urus sisanya.”

“Ada apa?”

“Presiden direkturmu yang baru membuat langkah yang membahayakan bagi kita.”

“Hah?”

“Sebaiknya aku ceritakan sambil jalan. Ayo!”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Arci memeriksa pembuatan produk dan dia pun membongkar beberapa baju yang sudah dipack di sebuah box kayu yang siap dikirimkan ekspor. Arci kemudian merobek salah satu baju. Dan dia tercengang mendapati sesuatu di sana. Sebuah bubuk putih berada di lipatan-lipatan jahitan. Kecurigaan ayahnya terbukti. Ada sesuatu di perusahaan ini. Jadi ada narkoba yang diseludupkan pada produk-produk yang diekspor.

Saat itu beberapa pekerja tampak menundukkan wajah.

“Apa ini?” tanya Arci. “Siapa yang bertanggung jawab terhadap ini?”

Tak ada satu pun yang menjawab. Wajah-wajah mereka tampak ketakutan.

“Kalau tak ada yang bilang kepadaku siapa yang bertanggung jawab atas ini semua. Aku akan memecat kalian semua,” ancam Arci.

“Maaf pak, ini semua sudah lama,” jawab salah seorang karyawan.

“Sudah lama?”

“Iya, sudah lama. Anda mungkin baru tahu itu bisa dimaklumi. Khusus untuk produk ekspor yang dipack, telah jadi rahasia perusahaan ini kalau diisi serbuk itu. Dan ini semua atas inisiatif dari mendiang Arthur. Dia yang merancang sistem ini, pengepakan ini, semuanya.”

“Apakah ayahku tahu tentang hal ini?”

Karyawan itu menggeleng.

“Baiklah, aku ingin semua barang-barang ekspor ini di keluarkan. Setelah itu rusak seluruhnya, serbuk-serbuk itu segera disiram air. Musnahkan semuanya. Kalau ada yang bertanya ini ulah siapa, jawab saja aku!”

Arci kemudian meninggalkan bagian pengepakan barang. Semua karyawan saling berpandangan. Mereka antara takut dan was-was melakukan apa yang diperintahkan oleh Arci. Ia segera menuju ke ruangannya. Sudah seminggu ini ia menjadi presiden direktur, sungguh sebuah perjalanan hidup yang aneh. Dalam waktu singkat ia sudah melejit ke atas. Ia menuju ke ruangan Andini.

Arci melewati Yusuf, ia sapa pemuda itu, lalu Rahma. Rahma langsung berdiri, dan Arci menyuruhnya duduk. Pintu dibuka. Andini agak kaget melihat Arci.

“Ci? Eh, maaf Pak Direktur?!” sapa Andini. Ia langsung berdiri menyambut Arci.

“Panggil aku sesukamu nggak apa-apa koq,” jawab Arci.

“Yah, kita bertukar posisi sekarang,” kata Andini.

“Tidak, tidak, kamu masih bosku,” kata Arci.

“Nggak bisa begitu dong!”

Andini meletakkan kedua telapak tangannya di pundak Arci.

“Hei, ingat ini kantor,” kata Arci.

“Bodo amat.” Andini kemudian melanjutkannya dengan ciuman.

“Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu,” kata Arci sambil membelai rambut Andini yang lurus.

“Apa itu sayang?”

“Kamu tahu produk ekspor kita? Aku tadi memeriksanya ada garam murahan di dalamnya.”

“Garam murahan?”

“Kokain.”

“Hah??”

Arci menghela nafas. “Kalau dari raut wajahmu yang heran itu artinya kamu baru tahu. Aku tak tahu bagaimana tapi barang itu ada di sana. Aku sudah menyuruh para karyawan untuk memusnahkan semua produk yang diekspor yang mengandung kokain.”

“Jelas aku tak tahu, tak pernah tahu,” ujar Andini sambil keheranan.

“Ada yang tidak beres dengan perusahaan ini. Aku akan coba memeriksa kemana barang-barang ekspor itu dikirim,” kata Arci.

“Aku akan minta Yusuf untuk memeriksanya!”

Andini segera beringsut keluar dari ruangannya, Arci mengikutinya. Lagi-lagi Rahma keheranan melihat Arci dan Andini jalan bersama. Ia semakin yakin kalau kedua atasannya ini punya hubungan khusus. Yusuf sedikit kaget ketika Andini dan Rahma ada di samping tempat dia duduk.

“Yusuf, bisa minta tolong? Aku ingin tahu semua data barang kita yang diekspor. Kemana tujuannya dan diantarkan pakai apa?” tanyaku.

“Sertakan juga kapasitas boxnya, produknya apa saja,” tanya Andini.

“Baik bu sebentar,” kata Yusuf.

Dengan cekatan ia memeriksa database. Yusuf cukup terampil. Terima kasih kepada Arci yang telah membuatkan program khusus sehingga orang awam dengan sangat mudah bisa mengoperasikannya.

“Oke, kita sudah dapatkan. Kita mengekspornya ke Amerika, Inggris, Perancis, Venezuela, Kolombia, Malaysia, Thailand, Mexico dan Itali,” kata Yusuf.

“Mana yang ekspornya paling kecil?” tanya Arci.

“Kolombia dan…Mexico??”

“Drug Cartel, kedua negara itu terkenal dengan kartel narkoba. Alasan inikah yang menyebabkan sampai diekspor ke sana?” gumam Arci.

“Ini ada apa ya?” tanya Yusuf.

“Berapa laba yang dihasilkan?” tanya Andini.

“Hmm…tak begitu banyak, konstan tiap tahun,” jawab Yusuf.

“Itu dia, laba yang konstan. Biasanya perusahaan berusaha untuk menambah laba, tapi kenapa perusahaan ini seolah-olah mendiamkan begitu saja laba konstan? Apalagi begitu kecil?” tanya Arci. “Kamu tahu siapa yang bertanggung jawab atas ekspor ini?”

“Aku tahu, namanya Jatmiko. Dia bagian ekspor,” jawab Andini.

“Kita segera menemuinya,” kata Arci.

“Rahma, tolong telpon bagian ekspor. Sambungkan dengan Pak Jatmiko!” perintah Andini.

Rahma segera mengangkat gagang teleponnya. Lalu ia menekan beberapa tombol. Cukup lama ia menunggu respon lalu ia menggeleng.

“Aneh, tak ada yang mengangkat,” kata Rahma.

Arci punya firasat buruk. Segera ia pergi meninggalkan Yusuf, Rahma dan Andini. Andini beringsut mengikutinya.

“Ada apa?” tanya Andini.

“Bagian ekspor ada di gedung sebelah bukan?” tanya Arci.

“Iya,” jawab Andini.

Arci dan Andini segera bergegas menuju ke gedung sebelah. Beberapa staf dan karyawan yang melihat mereka tampak keheranan. Dan tak lama kemudian sampailah mereka ke ruangan manajer distributor dan ekspor. Tanpa ba-bi-bu Arci segera masuk ke ruangan. Begitu masuk ia langsung berbalik menahan Andini agar tidak masuk.

“Sebaiknya kita tak usah masuk,” kata Arci.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Andini.

“Aku takut kita hanya akan mendapatkan mayat Jatmiko,” jawab Arci.

Ooo Bersambung ooO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*