Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 7

I Love You Handsome 7

Pimpinan direksi yang ada di PT Evolus Produtama ini ada lima pembesar. Andini salah satunya. Empat yang lainnya adalah Weny Widi Astuti, Tomi Rahardjo, Argha Federicus, dan Yuswan Andi. Keempatnya adalah orang-orang besar dan licik. Licik karena mereka semua ingin menguasai PT Evolus Produtama dan ingin menyingkirkan satu sama lain. Kecuali Andini, karena dia tahu harus memihak kepada siapa. Semuanya juga tahu satu sama lain sekalipun mereka berada dalam satu PT masing-masing berusaha membuat produk sendiri. Sepeninggal Zenedine PT Evolus dikuasai oleh orang-orang yang berambisi untuk bisa menguasainya. Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Archer Zenedine mempercayakan perusahaan PT Evolus Produtama agar tetap berjalan seperti biasanya kepada seorang yang dipercaya. Tentu saja yang dimaksudkan adalah Andini. Karena Archer Zenedine sangat kenal dengan orang tuanya. Mereka telah menjalin persahabatan sejak lama. Bu Susiati dan suaminya selama ini berusaha melindungi Arci dari orang-orang yang tak bertanggung jawab yang hendak melenyapkan dirinya sejak Archer Zenedine meninggal.

Lalu siapakah ancaman terbesar dari keempat orang yang sekarang duduk di jajaran direksi? Selama ini Andini berusaha keras untuk bisa mengatur roda perusahaan, tapi karena sebentar lagi akan terjadi peralihan kekuasaan agaknya akan ada lobi-lobi dari direksi. Mereka kebanyakan sepakat untuk menyingkirkan Andini dari jajaran direksi kalau seluruh direksi mendukung langkah ini maka matilah langkah Andini untuk tetap bisa mengendalikan perusahaan ini. Andini kini berada di ujung tanduk. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan dia dan perusahaan ini adalah keputusan pengacara yang akan dibacakan pada tanggal 31 Mei saat rapat direksi berlangsung. Momen itu sangat pas untuk pengalihan kekuasaan.

Rahma kedinginan malam itu. Sudah tiga hari ia berada di ruangan dan disekap. Ia lemas karena belum makan dan minum. Bahkan sang penculik pun tidak memberikan apa-apa kepadanya. Hawa dinginnya sangat menusuk kulit, dari sini ia mengira bahwa saat ini ia berada di daerah pegunungan atau yang semisalnya. Sebab tak mungkin suhunya bisa sedingin ini kalau malam hari.

Rahma berjuang. Ia berusaha melepaskan ikatan yang membelenggunya. Seharian kemarin ia berhasil melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Sekarang ia sedang berusaha untuk menyingkirkan seluruh perkakas, meja dan kursi yang ada di ruangan itu. Ia mencoba untuk menghantam kaca jendela dengan potongan kaki dari meja dan kursi.

Awalnya Rahma ketakutan. Tapi semakin ia takut ia semakin tak akan bisa berpikir jernih. Butuh waktu seharian bagi dirinya untuk yakin seyakin-yakinnya bahwa dia sendirian di tempat ini. Butuh waktu seharian pula untuknya agar bisa lepas dari ikatan yang cukup kuat ini. Kini ia ingin pergi ke toilet, sekaligus juga lapar dan haus. Komplit.

Ketika mengingat-ingat lagi siapa kira-kira orang yang tega melakukan ini semua. Pikirannya langsung tertuju ke orang-orang yang berniat jahat kepada Andini. Rahma bukan perempuan biasa. Ia sekalipun tak sekuat pria tapi tetap berjuang. Ia tak lemah.

JDAAARRRR!

Nyaring sekali suara kaca yang ia pukul. Tapi tenaganya kurang kuat. Apalagi kacanya juga tebal. Ternyata tidak seperti film-film yang menggunakan kaca dari bahan yang lunak sehingga bisa dengan mudah dihancurkan. Ini kaca beneran, bukan seperti di film-film.

Rahma pun akhirnya mengambil potongan meja yang agak keras, lalu dengan sekuat tenaga ia pukulkan ke kacanya.

JDAARRR!

Mulai muncul retakan. Ia pukulkan lagi. Lagi dan akhirnya.

PRAANGGG!

Untunglah kaca jendela ini bukan terbuat dari kaca anti peluru. Yang jelas sekarang pecahan-pecahan kaca itu berserakan di mana-mana. Rahma senang akhirnya bisa memecahkan kaca jendela itu. Dia melongok keluar. Hari sudah mulai pagi. Di ufuk timur tampak seberkas cahaya yang mulai memanjang. Sementara dari kejauhan terdengar suara surau dan masjid yang bersahut-sahutan. Hawa dingin kembali datang. Rahma menepis kuat-kuat perasaan takutnya. Ia harus lari!

Rahma melompat keluar dari ruangan tempat dia disekap. Ia kemudian berlari. Lari dan lari. Tiba-tiba ia berhenti, ia kebelet pipis. Dilihatnya sekeliling tempat itu masih banyak tanaman-tanaman, semak belukar dan pepohonan. Agaknya bangunan tempat ia menyekap seperti sebuah bangunan sekolah tua yang sudah tak terpakai. Rahma mencari tempat yang agak tersembunyi dan ia segera buang air kecil di sana. Rasanya sedikit lega walaupun diliputi rasa takut.

Ia agak terkejut ketika sebuah mobil datang dari kejauhan. Ia memekik tertahan ketika mobil itu menuju ke tempat di mana ia disekap. Ia ingin tahu siapa orang yang berada di mobil. Dari tempat ia bersembunyi sekarang kemungkinan ia tak akan terlihat.

Mobil BMW berwarna hitam itu bisa milik siapa saja. Apalagi plat nomornya, mungkin saja dipalsukan. Semua kemungkinan itu ada tapi Rahma sedikit ragu ia tak mengenali pemilik mobil BMW itu. Ia pernah melihat mobil itu terparkir di kantor tempat ia bekerja. Dan sudah pasti pemilik mobil itu ada hubungannya dengan perusahaan tempat dia bekerja.

Mobil berhenti. Sang sopir pun keluar. Beberapa orang juga keluar dari mobil. Rahma langsung mengenali siapa mereka. Setelah yakin seyakin-yakinnya siapa yang telah menculiknya, hanya ada satu hal yang harus Rahma lakukan. Lari!

“Lho, kabur orangnya!” seru salah satu orang yang memeriksa tempat tersebut.

“Brengsek! Cepat cari! Jangan sampai ia kabur! Bunuh saja kalau perlu!”

Rahma tidak melewati jalanan yang ada. Ia lebih memilih menghindari jalanan terbuka, sehingga para penculik tidak akan menemukan dia. Akibatnya ia harus berjibaku menuruni tebing yang curam dengan berpegangan pohon-pohon pinus yang sengaja tumbuh teratur. Ia beberapa kali harus menghantamkan tubuhnya di batang pohon itu, di bawah sana ia bisa melihat mobil lalu lalang. Apakah mungkin ia bisa minta tolong ke mobil yang lewat?

“Cari di sebelah sana!” seru seseorang di belakangnya.

Tiba-tiba lampu senter pun menyorot ke semua arah. Rahma langsung bersembunyi di balik pohon. Berusaha mengatur nafasnya. Ia tak boleh tertangkap, tak boleh tertangkap. Setelah lampu senter itu menyorot tempat lain dan terdengar suara langkah kaki menjauh Rahma kembali berlari.

Kejutan kecil, ia terpeleset. Ia sempat berguling-guling beberapa kali hingga ia berusaha menjaga keseimbangan lagi. Berlari menggunakan sepatu hak tinggi sungguh tak nyaman. Akhirnya ia pun membuang sepatunya. Ia kembali kepada pemahaman alam alias nyekerisme.

Rahma akhirnya sampai pula di atas aspal yang dingin. Tak mungkin kalau ia mencegat mobil sambil menunggu sedangkan nyawanya di ujung tanduk. Ia harus menghindari jalan raya karena para penculiknya membawa mobil. Siapa tahu mereka akan melewati jalan raya ini. Akhirnya, lagi-lagi Rahma berlari dan berusaha menghindar dari jalan raya.

Rahma tak bisa diremehkan. Dia selalu mendapatkan nilai bagus dalam olahraga. Ia sangat cepat larinya, dalam bidang atletik ia selalu juara satu. Untuk persoalan lari ia juga jagonya. Rahma berlari seperti orang kesetanan. Ia hanya butuh rumah penduduk untuk bisa minta tolong.

Tapi aneh sekali kenapa tak ada satupun rumah penduduk? Terlebih jalannya berkelok-kelok. Ia pun mengingat-ingat seluruh tempat yang pernah ia kunjungi apakah ia pernah melewati jalanan ini atau tidak. Akhirnya ia teringat sesuatu ketika melihat sungai.

“Ah, ini di Pujon!” serunya.

Pujon adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang terletak setelah melewati Batu. Letaknya di dataran tinggi sehingga hawanya sangat dingin dan sejuk. Rahma yang menyadari dirinya ada di sini akhirnya menjadi terang semuanya. Ia pun tahu siapa yang menculik dirinya dan berusaha berbuat jahat kepada Andini. Tapi kemana ia sekarang? Ia sendiri bingung.

Dari jauh ada lampu sorot mobil. Tapi tak begitu terang. Rahma langsung tahu bahwa itu adalah lampu mobil pickup. Segera ia melambai-lambai. Ternyata itu adalah mobil pengangkut sayuran. Sang sopir pun menghentikan mobilnya.

“Lho, ada apa mbak?” tanya sang sopir yang ternyata seorang wanita.

“Bu, tolong saya. Saya diculik. Saya kabur dan sekarang harus menghubungi seseorang. Saya bisa numpang?” tanya Rahma panik dan memelas.

Beberapa orang yang ada di dalam pickup saling berpandangan.

“Naik aja mbak, naik!” kata sopirnya.

Akhirnya Rahma pun ikut rombongan itu. Rahma sedikit lega. Dia pun akhirnya menceritakan tentang pengalaman dirinya yang tak mengenakan kepada rombongan tukang sayur itu. Rahma pun diberi makan nasi bungkus ala kadarnya. Ia sangat kelaparan. Bahkan makanan yang tak begitu mewah yang isinya hanya sambel goreng tempe dan mie goreng itu rasanya sangat nikmat.

Rahma pun kemudian meminjam ponsel salah satu dari mereka. Yang langsung dihubungi adalah Andini.

Tapi cukup lama ia menanti jawabannya, malah ponselnya direject. Ah ia baru ingat. Andini selalu mereject telepon dari orang yang tidak dikenal. Tipikal bosnya memang seperti itu. Ia lupa. Ponselnya telah dibuang oleh para penculik. Ia kehilangan semua kontaknya. Satu-satunya yang ia ingat hanya nomor telepon Andini. Ah tidak. Ada lagi. Arci! Entah kenapa ia bisa ingat nomor telepon cowok itu.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Lian duduk menikmati kopi yang ia bikin sendiri. Ia telah lega setelah kemarin menceritakan segalanya tentang ayah Arci. Bayangan wajah ayah Arci tak bisa ia tepis. Terlalu singkat memang perjumpaan dengannya, ia juga tak tahu apa yang akan terjadi kepada Arci setelah mengetahui tentang siapa jatidirinya. Agaknya ada rasa bersalah kepada dirinya sekarang. Rasa bersalah yang bisa jadi wajar karena dirinyalah anaknya bisa seperti Arci sekarang ini. Safira dan Arci terlalu dekat sehingga keadaannya seperti sekarang.

Hari sudah pagi dan ia tidak tidur semalaman. Besok adalah hari di mana Arci akan mendapatkan seluruh warisan ayahnya. Entah kemelut apa yang akan terjadi. Lian yang selama ini dikejar-kejar orang-orang yang ingin membunuhnya dan Arci dari pihak keluarga Zenedine, sekarang akan terbebas dari beban. Mereka yang mengincar harta Zenedine akan gigit jari kalau sampai Arci masih hidup pada hari ini.

Arci keluar dari kamarnya dan mendapati ibunya sedang memandangi keluar jendela.

“Arci? Sudah bangun?” tanya Lian.

“Sudah biasa Arci bangun jam segini,” jawab cowok itu.

“Tak terasa, besok harinya. Kamu sudah siap?”

Arci menghela nafas. “Entahlah. Bagiku kekayaan itu tak penting. Yang paling penting adalah kalian. Asalkan kalian bahagia, aku tidak masalah.”

“Safira masih tidur?”

Arci mengangguk.

“Kamu punya teman dekat? Ibu tak pernah lihat kamu punya teman dekat,” tanya Lian.

Arci tersenyum. Wajar seorang ibu tanya seperti itu. Terlebih ia selama ini terlihat menjomblo. “Ada sih. Tapi, aku tak yakin.”

“Siapa?”

“Bosku sendiri.”

“Bosmu? Siapa namanya?”

“Andini Maharani.”

“Ohh…, Andini. Sepertinya ibu kenal.”

“Oh ya?”

“Ah, mungkin orangnya saja yang sama.”

“Adakah yang ibu kenal dari masa lalu?”

“Bukan begitu, namanya tak asing. Ibu kenal dengan seseorang bernama Bu Susiati, punya anak namanya juga Andini Maharani. Dia yang selama ini menghubungkan ibu dengan ayahmu. Dan dia juga orang yang memegang surat wasiat ayahmu. Bu Susiati sang pengacara terkenal itu.”

Arci terkejut. “Tunggu dulu, Bu Susiati? Yang punya anak namanya Iskha?”

“Iskha? Oh, anaknya yang itu sudah meninggal karena kecelakaan beberapa waktu lalu. Tunggu, koq kamu tahu?”

Arci segera kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Dicari nomor Andini. Ia langsung menelpon Andini saat itu juga.

“Arci, ada apa?” tanya ibunya.

“Sebentar, ada yang ingin aku tanyakan terlebih dahulu,” jawab Arci.

Andini saat itu sedang tidur terbangun karena suara dering ponsel. Dari Arci, ia kaget. Segera ia angkat. “Ya? Halo?”

“Aku ingin bertanya, ibumu bernama Bu Susiati? Seorang pengacara?” tanya Arci.

Andini tentu saja terkejut. Dari mana Arci tahu??

“Jawablah!” kata Arci.

“I-iya… kenapa?” tanya Andini balik.

“Dan, Iskha itu meninggal karena kecelakaan?”

“Iya, kamu tahu sekarang?” terdengar suara Andini pelan.

“Kalau begitu yang di hotel itu??”

“Itu aku, bukan Iskha. Akulah yang mengaku sebagai adikku waktu itu. [tut] [tut] Aku sebenarnya ingin jujur kepadamu, tapi belum saatnya. Ternyata kamu sudah tahu lebih dulu [tut] [tut]….,” kata Andini sepertinya diiringi ada nada telepon masuk.

“Jadi…waktu itu…”

“Iya,…itu aku…”

“Kamu berubah sekali,” Arci sedikit tertawa.

“Hehehe[tut] [tut]..begitulah, jadi?? Kalau sudah tahu itu aku??”

“Berarti kamu tahu siapa aku selama ini?”

“Iya. Aku tahu semuanya, besok kamu akan jadi bosku. [tut] [tut]Kita bertukar posisi.”

“Damn…, tak bisa begitu. Aku…aku hanya tak menyangka saja.”

“Sekarang sudah [tut] [tut]jelas kan? Jadi? Lanjut?”

“Apanya?”

“Ah, kamu jadi cowok nggak [tut] [tut] sensitif!”

“Maaf, jujur aku shock. Kaget. Kalau tahu itu kamu aku sudah pasti akan menerimanya.”

“Maksudnya?”

“Kamu mau jadi pacarku?”

Lian mengangkat alisnya. “Duh duh duh, subuh-subuh nembak orang. Dasar anak jaman sekarang.” Ia pun menggeleng-geleng dan meninggalkan Arci sendirian.

“Pacar? Bukannya [tut] [tut] janjinya mau nikahin aku?”

“Hehehe…siapa takut.”

“I Love You Handsome”

“I Love You too.”

“Jangan lupa, nanti langsung ke tempat acara yah?”

“Siap boss.”

Arci lalu menutup teleponnya tanpa mempedulikan nada sela di teleponnya tadi. Ia melonjak-lonjak kegirangan. Sampai tanpa sengaja ponselnya jatuh.

PRAAK!

“Waduh?!”

Safira terbangun. Ia melihat Arci memunguti ponselnya. Ia mencoba merangkai ponselnya yang layarnya retak.

“Yaah, pecah. Mana nggak bisa nyala lagi,” gumam Arci. “Beli baru deh, untung kontaknya udah synchronize.”

“Apaan sih? Seneng banget?” tanya Safira.

“Ada dehhh.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Aarrrgghh! Arciii, Arci bego bego bego bego bego bego bego bego bego bego bego bego bego bego! Kenapa malah ditutup???” umpat Rahma.

Ia mencoba menelpon balik. Tapi malah terdengar suara seorang wanita cantik yang mengatakan bahwa telepon tidak aktif. Rahma mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Sekarang malah mati lagi. Duuuuuhhhhhhh pusiiinngg!?” Rahma memijat-mijat kepalanya.

“Dianter kemana mbak?” tanya sopir.

Rahma tahu kalau hari ini akan ada jadwal rapat di salah satu Vila di daerah Songgoriti. Kalau ia pulang justru makin jauh. Kalau ia pergi ke polisi takutnya Andini nanti malah kenapa-napa. Akhirnya ia pun memutuskan, “Anter ke songgoriti bu!?”

Sedikit kembali ke masa lalu. Di mana semuanya berawal. Lebih tepatnya sedikit mengulas tentang hidup Archer Zenedine. Dia ini bukan orang biasa. Kisah cintanya sedikit pilu. Inilah awal dari semua petaka yang menimpa Arci.

Hari itu 27 tahun yang lalu di bulan Desember. Akhir tahun yang terasa hambar bagi seorang Archer Zenedine. Dia tak punya gairah hidup, bukan berarti ia adalah seorang pecandu obat terlarang, bukan. Bahkan dia mengharamkan dirinya menyentuh narkotika. Dia juga tidak merokok. Dia adalah lelaki baik-baik, yang tumbuh normal dalam didikan keluarga baik-baik.

Lian membuka pintu kafe. Ia meletakkan payung di tempat yang telah disediakan. Dia bosan, suntuk, dan serasa otak ingin pecah. Hari ini dia dapat klien sedikit brengsek. Tapi demi uang ia rela melakukan apapun sekalipun itu menjual dirinya. Inilah perjumpaan awal dia dengan Archer Zenedine.

Archer muda saat itu baru saja lulus kuliah. Dia tentu saja tak butuh pekerjaan. Masa depannya sudah cerah dengan menjadi satu-satunya pewaris yang bakal menggantikan posisi ayahnya di PT Evolus Produtama. Wajahnya seperti orang Kaukasia, bermata biru, berambut sedikit pirang. Tentu saja di kafe itu ia jadi perhatian karena satu-satunya bule yang mau duduk bersama orang pribumi.

Lian juga duduk sendiri. Perbedaannya dengan Archer adalah Lian yang jadi perhatian adalah tubuhnya yang memakai balutan baju seksi. Tanktop warna putih dengan celana pendek yang memperlihatkan kemulusan pahanya. Lian melirik ke arah Archer. Tapi bagi dia, seorang bule seperti Archer lebih terlihat seperti orang baik-baik. Ia tak mau mengganggu sang bule. Namun dugaannya salah. Sang bule tertarik dengan dirinya.

Archer beranjak dari tempatnya duduk dan mengambil tempat di depan Lian. Mereka pun semeja.

“Hai, apa kabar?” tanya Archer.

Lian agak terkejut dengan fasihnya bahasa Indonesia pemuda bule yang ada di hadapannya ini. “Wow, baik. Aku kira kamu tak bisa bahasa Indonesia.”

“Hahahaha. Aku sudah lama di Indonesia, dan … ayahku menikah dengan orang pribumi. Kenalkan Archer Zenedine. Kamu?”

“Lian, Lian Larasati,” kata Lian sambil menjabat tangan Archer.

“Sendirian saja?”

“Yah, begitulah. Kamu dari mana?”

“Dari rumah.”

“Maksudku, kebangsaanmu.”

“Aku Ceko. Tapi boleh dibilang aku sudah lama di negara ini.”

“Waw,keren. Apa yang menyebabkan kamu kerasan?”

“Yah, bisa dibilang salah satunya karena ada wanita secantik dirimu.”

Lian tertawa.

“Hei, aku serius. Wanita Indonesia cantik-cantik semua. Dan aku yakin kamu juga orangnya cantik.”

“Bagaimana kalau misalnya orang yang cantik itu adalah pelacur?”

“Aku menilai orang bukan dari profesinya. Aku yakin setiap wanita punya sisi keindahan, bahkan sisi keindahan itu hanya bisa difahami oleh mereka yang benar-benar faham.”

“Sudahlah jangan goda aku. Kamu tidak tahu siapa aku.”

“I don’t care.”

“Hhhh…Archer yang baik, tak perlu menggodaku.”

“Maaf kalau aku menggodamu. Hanya saja aku sangat yakin kalau aku hari ini bisa dapatkan nomor teleponmu dan kita malam ini bisa saling menelpon,” kata Archer.

Lian tertawa, “Hahahaha. Smooth, baiklah. Rayuanmu masuk akal.”

“Sendirian saja, jomblo berarti?”

“Bisa jomblo, bisa tidak.”

“Maksudnya?”

“Aku akan bilang siapa aku kalau kamu mau mengajakku pergi dari tempat ini.”

“Sure”

Archer segera menarik Lian pergi dari kafe itu setelah menaruh beberapa lembar uang 50.000 di meja. Lian tak menyangka cowok bule yang dikenalnya ini cukup nekat. Ia segera mengajak Lian ke tempat parkir untuk masuk ke mobil Honda Accord warna hitam.

“So, mau ke mana kita?” tanya Archer.

“Terserah sih, tapi kalau bisa jangan malam-malam yah,” jawab Lian.

“Kenapa?”

“Anakku sendirian di rumah.”

“OK”

Akhirnya Archer mengajak Lian ke sebuah private house. Rumah itu sangat mewah. Halamannya cukup rindang, bahkan pagarnya saja dibuka dengan menggunakan remote. Selama perjalanan Lian lebih banyak diam. Baru kali ini dia diajak kencan seperti ini. Setelah mobil sedan masuk, Archer mengajak Lian langsung masuk ke rumahnya.

“Ini salah satu private House milik keluargaku, anggap seperti rumah sendiri,” ujar Archer sambil menuju ke pub pribadinya. Rumahnya sangat nyaman, sofanya empuk, dan agak surprise agak jauh ke dalam ada jacuzi dan di halaman samping ada kolam renang. Archer mengambil minuman. “Mau bir? Wisky?”

“Aku nggak minum. Aku pasti mabuk kalau minum walaupun sedikit,” kata Lian.

“OK, bagaimana kalau soda?”

“Baiklah”

Archer membuka kulkasnya lalu mengambil minuman bersoda. Ia menghampiri Lian yang masih berdiri mengagumi kemewahan rumah itu. Archer menyerahkan minuman berkaleng itu kepada Lian. Archer ikut berdiri di samping Lian. Mereka berdua lalu membuka penutup kalengnya kemudian langsung meneguk minuman tersebut.

Setelah itu agak lama mereka diam.

“Masih mengagumi rumahku? Nggak duduk?” tanya Archer.

“Sebentar, Archer. Aku tahu kamu baik, tapi kamu tahu siapa aku bukan?” tanya Lian.

“Who cares?”

“Bukan begitu. Aku ini bukan wanita baik-baik.”

Archer tersenyum. Ia mengambil ponselnya, kemudian memperlihatkan sesuatu kepada Lian. “Check this out!”

Lian memegang ponsel Archer, dia melihat beberapa gambar. Di sana terlihat gambar dirinya. Dirinya? Ya, dirinya sedang berada di pasar, sedang membawa Safira yang masih kecil.

“Kamu???” Lian terkejut.

“Sebetulnya aku tahu siapa kamu. Dan ketahuilah, baru kali ini aku menyapamu. Aku tahu profesimu, dan aku ingin kamu berhenti. Aku tak mau kamu seperti ini,” kata Archer. “Aku mencintaimu Lian, anggap saja love at the first sight”

“Oh my god,” Lian menutup mulutnya. Archer mengambil ponselnya lagi. “Sejak kapan kamu mengikutiku?”

“Sejak lama. Kamu pasti heran ketika saat melakukan persalinan ada yang membiayaimu bukan? Itu aku. Aku tertegun kepada cerita perawat di rumah sakit yang mana ada seorang wanita PSK yang melahirkan bayi. Tapi tak punya uang. Ketika aku melihat dirimu, saat itulah aku langsung jatuh cinta kepadamu. Tapi saat itu aku masih muda, belum menjadi pemilik perusahaan. Sekarang aku sudah siap.”

“Jadi itu kau?”

Lian langsung memeluk Archer. Ia tak pernah menyangka bahwa Archer selama ini adalah malaikatnya. Dan adegan berikutnya adalah Lian menyerahkan dirinya untuk Archer Zenedine.

Hari itu Archer dan Lian memadu kasih. Archer Zenedine merasa Lian adalah wanita yang dia cari selama ini. Mereka pun akhirnya berselimutkan asmara, berbalut birahi.

Setelah perjumpaan terakhir itu. Ada kedekatan antara Lian dan Archer. Siapa yang mau menolak cowok seperti Archer. Ganteng, blesteran, dan kaya. Siapapun pasti akan takluk kepadanya. Hanya saja tidak bagi keluarga Zenedine. Keluarga mereka lebih mementingkan kasta untuk orang yang ingin masuk ke dalam keluarganya.

Namanya Arthur Zenedine, seorang ambisius dia ayah Archer. Dia boleh dibilang diktator dalam keluarganya. Tapi memang berkat kediktatorannya PT Evolus Produtama menjadi besar. Sebesar ambisinya. Dan kini kandidat yang ia pilih untuk memimpin perusahaan adalah Archer Zenedine. Arthur orangnya sangat strict. Dia juga suka kepada details, selain itu dia tidak suka kalau ada yang tidak sempurna baik pada dirinya, pekerjaannya maupun kepada putranya. Dia hanya punya satu putra sebagai pewaris tunggal oleh karena itu ia berusaha mendidik putranya dengan sebaik-baiknya. Menyekolahkan setinggi-tingginya hingga akhirnya ia siap memimpin perusahaan.

Sebenarnya ada kandidat lain, namanya Tommy Zenedine. Tapi dia langsung keluar dari kandidat manakala Archer ada bahkan siap untuk memimpin perusahaan. Apalagi Tommy sama sekali tidak tertarik urusan bisnis textil. Ia lebih tertarik dengan seni, musik, dan berbagai macam yang berbau Indonesia. Tapi sekali pun begitu ia juga punya bisnis batik yang ia kelola sendiri sampai diekspor keluar negeri. Pertentangannya dengan Arthur Zenedine juga yang mengakibatkan dia harus didepak dari kandidat sang pewaris.

Ada seorang lagi yang jadi kandidat. Tapi jauh dari ekspetasi. Namanya Areline. Dia hanya menghabiskan hidupnya dengan berfoya-foya, clubing dan dugem. Bukan sebagai pewaris yang baik. Ia hanya akan menghabiskan uang keluarganya. Dia adalah sepupu Archer. Walaupun punya wajah rupawan, pendidikannya juga sama seperti Archer tapi dia jauh dari ekspetasi seorang Arthur Zenedine.

Total Hanya tiga kandidat. Dan hanya satu orang yang terpilih. Arthur Zenedine benar-benar mempersiapkan semua hal agar anaknya menjadi pewaris tahta. Dan ia pun yakin anaknya sanggup.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Paris, siapa yang tak kenal dengan negeri Menara Eifel ini? Lian dan Archer sering jalan-jalan ke luar negeri. Mereka memadu kasih dan Lian benar-benar yakin ia telah mendapatkan lelaki yang tepat. Yang tak peduli tentang masa lalunya, yang menerima dia apa adanya. Apa ada lelaki yang sanggup menerima cinta seorang pelacur? Itulah Archer. Bagi Archer dia telah menemukan bidadarinya. Lian sangat senang diperlakukan seperti putri raja. Liburan kali itu ia juga mengajak Safira yang masih kecil. Lebih tepatnya mereka seperti pasangan suami istri yang memang berlibur. Namun saat itu kejadian tak terduga terjadi.

Di saat Lian dan Archer sedang berada di hotel Archer dikejutkan dengan perjumpaannya dengan Tommy.

“What the hell are you doing in this place?” tanya Tommy yang langsung menyapa Archer.

“Kamu sendiri?” tanya Archer.

“Aku sedang ada bisnis proyek tentang pembuatan lukisan. Kamu… oh siapa wanita itu?” tanya Tommy antusias.

“Not your bussiness,” Archer kemudian pergi meninggalkan Tommy di lobi.

“Hei Archer, aku bukannya mengurusi, tapi kamu tahu sendiri papa tidak suka kamu sembarangan memilih wanita. Kamu tahu sendiri keluarga kita seperti apa,” kata Tommy.

“I don’t care. Aku sudah siap apapun yang terjadi. Aku mencintai dia.”

“Aku tahu, tapi apa dia siap? Kamu memang akan kuat menghadapi papa, tapi dia? Dia bukan siapa-siapa. Papa dan mama tak akan peduli dengan dia.”

Archer berbalik dan menghampiri Tommy. “Aku tak peduli, kalau pun harus keluar dari silsilah keluarga Zenedine aku tak peduli.”

“OK OK,” Tommy mengangkat tangannya. “Aku tahu kamu keras kepala dari dulu.”

Perjumpaan dengan Tommy di Paris itulah yang mengubah semua penilaian Archer terhadap keluarganya. Selama Archer dan Lian liburan di Paris dan menghabiskan waktu bersama-sama, saat itulah gambar-gambar tentang keadaan Archer dikirim oleh seseorang. Dan seluruh foto-fotonya sampai ke tangan Arthur Zenedine. Arthur pun mulai menyelidiki siapa Lian.

Dia memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki jatidiri Lian. Arthur sengaja membiarkan Archer berbuat semaunya, hingga kemudian tibalah saatnya ketika Archer harus menghadap ayahnya. Dia didudukkan sang ayah di sebuah kursi. Dia dikelilingi oleh hampir seluruh anggota keluarga Zenedine. Bahkan ada orang-orang yang belum dia kenal ada di sana. Semuanya menatap ke arah Archer.

“Kamu tahu kenapa kamu dipanggil di tempat ini?” tanya Arthur.

“Ya, aku tahu,” jawab Archer.

“Baguslah kalau kamu tahu. Archer, aku ingin memberikan seluruh warisan keluarga kita kepadamu. Kamu akan memimpin seluruhnya, kamu akan memiliki semuanya, tak ada yang bisa mengganggu gugat dirimu. Kamu bisa melihat bagaimana kekayaan dan aset perusahaan kita, semuanya berasal dari jerih payahku. Ya, jerih payah yang kamu tak akan sanggup untuk bisa berpikir karena kamu hanya menikmatinya sekarang ini. Bukan hanya kamu saja, tapi semua orang yang ada di ruangan ini telah menikmatinya. Kamu adalah satu-satunya kandidat dan aku tetap memaksamu sekalipun kamu menolaknya.

“Dan aku tahu semuanya yang kamu lakukan. Aku tahu siapa wanita itu, dan apa profesinya. Kamu tahu secara tegas, aku menolak dirinya. Aku tak akan mengijinkan dia masuk ke dalam keluarga ini. Dan untuk kamu ketahui kamu tak punya hak untuk memilih siapa calon pendampingmu. Aku telah mempersiapkan segalanya, hal ini agar silsilah kita tidak musnah. Dan kita tetap sebagai keluarga terhormat. Sekarang yang harus kamu siapkan adalah konsentrasi untuk membangun perusahaan ini,” kata Arthur.

“Kalau aku menolak?” tantang Archer.

“Kalau kamu menolak, akan ada banyak peristiwa yang menyedihkan terutama dengan wanita yang kamu cintai itu. Siapa namanya? Lian? Ya, kamu tahu tanganku tidak terbatas. Aku bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan oleh siapapun kepadanya dan jangan pernah mencoba untuk mengetesku!” ancam Arthur.

“Kau tak akan mungkin melakukannya!”

“Aku bisa melakukannya. Dan aku bisa lebih sadis dari yang kamu kira. Semua anggota keluarga kita telah menyetujuiku. Pelacur itu dilarang masuk ke dalam keluarga ini.”

“Ini omong kosong, bagaimana mungkin kamu akan melukainya.”

“Kamu mungkin masih ingat anak laki-laki yang dulu pernah menyakitimu ketika remaja?”

Memori Archer pun kembali ke masa dia masih remaja. Saat itu ia pernah terlibat perkelahian. Lebih tepatnya terlibat tawuran antar pelajar. Archer jadi korban waktu itu. Tapi tak ada orang yang tahu siapa yang memukulnya. Tangan Archer patah dan harus digips.

“Apa maksud papa?”

“Anak lelaki itu harus membayar mahal terhadap aset perusahaan ini. Namanya Bobi, anak orang biasa,” Arthur menyerahkan selembar foto kepada Archer. Ada gambar seorang pemuda yang kehilangan lengannya, bajunya compang-camping. Ia tampak menyedihkan. “Setelah aku menyelidiki siapa yang membuat lenganmu patah, aku berhasil menangkapnya. Dia memang sampah. Dia aku tangkap saat sedang nyabu dengan teman-temannya. Sebagai balasannya, lengannya aku gilas di atas rel kereta api. Inilah akibat dari menyakiti dirimu.”

Archer terkejut. Ia tak menyangka ayahnya akan berbuat sejauh itu.

“Satu lagi, kamu dulu pernah berusaha menembak seorang cewek dan dia menolakmu bukan? Ia menghinamu, mengatakan bahwa kamu adalah sampah, playboy, bule gila, orang sinting dan sebutlah yang kamu ingat. Bahkan karena dia kamu harus down selama beberapa minggu. Ketahuilah, penghinaan itu sudah aku balas dengan penghinaan pula. Kamu mungkin heran ketika tiba-tiba dia pindah sekolah dan tak ada kabarnya. Ya, tentu saja. Setelah tiga orang kepercayaanku memperkosa dia dan mencampakkannya seperti sampah. Kini ia tak ada harganya dan telah pergi keluar pulau entah kemana.”

“Papa, itu keterlaluan! Papa tahu itu kejahatan?”

“Dan kalau kamu tidak ingin hal itu terjadi kepada Lian, patuhilah papa.”

Tangan Archer mengepal. Ia sangat marah. Tapi ketika teringat lagi Lian dan anaknya, ia jadi tak tega. Hatinya berkecamuk. Orang yang ada di hadapannya ini adalah monster. Ya, monster. Akhirnya ia pun punya rencana. Ia akan pura-pura patuh, ini semua demi Lian. Tapi setiap saat ia akan berusaha melindungi Lian.

“Baiklah,” kata Archer menyerah.

Inilah awal bagaimana Archer berjuang untuk bisa melindungi Lian. Ia pun mulai menyalahkan semua keluarganya karena tak ada satupun keluarganya yang membela dia saat itu. Tak ada satupun. Ia baru menyadari papanya seorang monster. Ia selalu berharap papanya segera mati agar ia bisa berbuat yang ia inginkan. Dia tidak tahu kabar tentang Lian setelah itu, ia hanya menghubungi seorang pengacara, temannya sendiri. Namanya Susiati.

Archer pun kemudian “dipaksa” menikah dengan seorang wanita pilihan papanya. Sekalipun menikah Archer tak bahagia sama sekali. Bahkan ketika malam pertama Archer sama sekali tak menyentuh sang wanita yang saat itu sudah menjadi Nyonya Archer. Namanya Elena. Elena sendiri sebenarnya wanita baik-baik. Ia juga tak suka sebenarnya dengan pernikahan “paksa”. Ia bahkan tak mencintai Archer. Akhirnya mereka pun bersepakat untuk jadi teman saja, sekalipun statusnya suami istri.

Archer dan Susiati berteman baik. Segala sesuatu tentang masalah hukum dia selalu menghubungi Susiati. Bahkan ketika suaminya sakit Archer pun menolongnya. Sejak Archer kuliah mereka telah bersahabat. Di saat mereka susah maka Archer selalu menolong mereka. Maka dari itulah Susiati sangat berterima kasih kepada Archer.

Mungkin do’a Archer didengar selama ini, Arthur pun meninggal karena stroke. Otomatis semua usaha Arthur beralih ke tangan Archer. Archer pun mulai memimpin perusahaan dengan cara yang berbeda dari papanya. Ia lebih bersahabat, ia lebih banyak merangkul orang-orang, memberikan inovasi-inovasi baru. Karyawan disejahterakan sehingga boleh dibilang ia menjadi boss yang paling disukai dan dihormati di perusahaan tersebut. Namun kali ini sesuatu terjadi kepadanya. Ia mulai mengidap penyakit jantung. Di saat ia ingin menghubungi Lian lagi, ia seperti tak punya kesempatan. Akhirnya ia pun meminta bantuan kepada Susiati.

“Saat ini aku tak tahu apa yang terjadi dengan Lian. Kamu bisa mencari tahu?” tanya Archer.

Susiati dengan senang hati menolongnya. Setelah beberapa waktu akhirnya datanglah kabar itu. Dia menyampaikan di mana Susiati tinggal, bahkan secara mengejutkan tentu saja dia mengetahui bagaimana kabar Lian yang sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Archer kemudian menitipkan surat yang ia tulis sendiri kepada Susiati agar diserahkan kepada Lian.

Saat menerima surat dari Archer, Lian sangat bahagia sekaligus sedih. Sedih karena membaca kenyataan pahit yang diderita oleh Archer dan dirinya. Dirinya hanya bisa pasrah. Namun Archer punya rencana lain. Tepat pada usia anaknya yang bernama Arczre ke-25 dia akan mewariskan seluruh kekayaannya. Ia merasa berdosa tidak menepati janjinya kepada Lian saat melamarnya di Moskow. Sementara itu sakitnya makin parah. Bahkan demi perusahaannya tetap berjalan, kantornya pun berpindah. Ia menjalankan roda perusahaan dari dalam kamarnya. Archer berusaha merencanakan semuanya yaitu memberikan warisannya kepada putranya. Susiati pun membantunya. Setiap uang yang dikeluarkan oleh Archer diberikan kepada Lian. Puncaknya adalah ketika Arci sedang butuh biaya untuk sekolah.

Sengaja Susiati saat itu mengajak anaknya ke hotel. Dia benar-benar kaget ketika melihat iklan seorang lelaki remaja mau jadi gigolo. Dan ia tahu kalau itu Arci. Dia pun membuat skenario ingin membuat kejutan kepada Arci. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ia dikejutkan dengan sikap Arci, sebuah janji pun terukir pada hari itu. Janji di mana Andini pertama kali melihat Arci, dan pemuda itu berjanji akan menikahinya. Sungguh sebuah janji yang konyol.

Sayang sekali, rencananya Archer untuk memberikan warisannya ke Arci terendus keluarga Zenedine. Akibatnya sekali lagi keluarga Zenedine berusaha untuk meyingkirkan Arci. Namun berkat Susiati semuanya bisa ditepis, sekalipun harus susah payah. Setelah Andini lulus kuliah, Archer langsung merekrutnya untuk berada di jajaran direksi. Dan itulah saat-saat terakhir Archer. Ironis memang. Tapi kalau memang Arci mendapatkan seluruh warisan itu, ia masih harus berjuang menghadapi orang-orang yang berniat jahat kepadanya. Ya, dia sendirian melawan seluruh keluarganya.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Arci berdiri di depan sebuah batu nisan. Sengaja ia mampir dulu di pemakaman umum untuk mengetahui di mana kuburan ayahnya. Dia tak menyangka saja dirinya sebentar lagi akan jadi sang pewaris. Setelah seluruh liku-liku kehidupannya selama ini, sebentar lagi ia akan jadi orang nomor satu. Saat ia merenung ada seorang yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.

“Arczre, ah susah sekali mengeja namamu,” kata orang tak dikenal itu.

Arci menoleh ke arahnya, “Siapa?”

“Perkenalkan, namaku Letnan Yanuar. Aku bagian dari unit reserse,” jawab orang itu yang ternyata adalah polisi.

“Ada apa ya pak?” tanya Arci.

“Kami butuh bantuan Anda, saudara Arci,” jawab Letnan Yanuar.

“Bantuan?”

“Ya, bantuan. Kami butuh Anda untuk menyelidiki orang-orang yang berada di dalam keluarga Anda yang mana mereka telah melakukan sebuah kejahatan besar.”

“Keluarga saya, maksudnya?”

“Kami telah menyelidiki siapa Anda. Anda anak dari Archer Zenedine bukan? Anda boleh dibilang terbebas dari silsilah keluarga Zenedine. Hanya saja, kami telah menyelidiki kemungkinan keluarga besar Anda telah melakukan tindak kejahatan yang luar biasa. Sebut saja mafia.”

“Mafia? Pak, saya saja belum resmi jadi anggota keluarga mereka.”

“Maka dari itu, dengan sangat kami meminta bantuanmu. Kamu sebentar lagi jadi anggota keluarga mereka bukan? Surat wasiat dari Bu Susiati akan dibacakan besok di rapat direksi. Mereka semua pasti terkejut. Bu Susiati bilang engkau bisa dipercaya untuk membekuk para penjahat di dalam keluarga besarmu. Ini kartu namaku. Kalau engkau ingin tahu detailnya kita bisa bicara,” kata Letnan Yanuar sambil menyerahkan kartu nama.

Arci melihat kartu nama itu hanya bertuliskan nama Yanuar dan nomor telepon. Tak ada yang lain.

“Ini gila.”

“Kamu pasti belum diceritakan semuanya bukan? Ketahuilah, Bu Susiati meminta bantuanku di saat nyawamu dan ibumu terancam. Kamu, ibumu dan kakakmu hampir tiap hari diburu oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Saat mereka tahu kamu dilindungi oleh pihak kepolisian, barulah mereka tak berani mendekat. Apa kamu tak ada perasaan ingin membalas dendam perlakuan mereka? Ingatlah ayahmu memberikanmu kekayaan ini bukan untuk hal yang sia-sia. Tolong bantu kami untuk memenjarakan orang yang telah menyakitimu dan ibumu. Bahkan mungkin juga ayahmu.”

Arci memicingkan mata. Ia mencoba mencari kesungguhan dari wajah sang polisi. Dalam hati sebenarnya ia juga ingin membalas perlakuan mereka. Tapi bagaimana?

“Aku akan menghubungimu,” kata Arci.

Letnan Yanuar menghela nafas. “Baiklah, aku akan tinggalkan kamu. Paling tidak pastikan engkau menghubungi aku.”

“Kalau aku tidak menghubungimu?”

“Aku akan mencarimu. Ingatlah, keluarga Zenedine bukan orang biasa. Mereka semua orang yang berbahaya. Dan satu lagi, jangan percaya satupun seorang di antara mereka.”

“Kalau Anda salah bagaimana?”

“Aku tak pernah salah.”

“Kenapa demikian?”

“Karena ayahmu pernah memintaku untuk menangkap mereka semua, tapi kemudian ia keburu meninggal, sementara bukti-bukti tak bisa kami terima.”

“Ayahku sendiri?”

“Ya, tepat sekali. Sampai nanti,” Letnan Yanuar pun meninggalkan Arci sendirian di pemakaman itu.

Arci memandangi batu nisan yang ada di depannya. Ia pun bicara sendiri, “Ayah, apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan kepadaku?”

Ooo Bersambung ooO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*