Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 6

I Love You Handsome 6

Sehari sebelumnya……

Safira mengamati Arci. Pergi pagi-pagi sekali, rapi. Pulang malam dan kucel. Hampir semua tugas rumah Arci yang melakukannya. Dan sudah sebulan ia tak “kerja”. Ia memang tak mencari pelanggan lagi, terlebih setelah kemarahan Arci beberapa waktu lalu. Lucu juga, sebagai seorang kakak harusnya dia yang bisa marahi adiknya ini, tapi ternyata tidak. Dia mungkin terlalu sayang ama adiknya, atau bisa jadi ia sudah terlanjur cinta.

Hari Minggu, Arci tak pergi ke kantor. Di rumah ia sibuk mencuci dan bersih-bersih. Bahkan urusan memasak Arci pun jagonya. Hampir semua tugas rumah dia yang melakukan dibantu dengan sang adik yang masih SD. Terkadang sang ibu ikut membantu Arci dalam urusan dapur. Ibunya pernah bercerita kepada Safira tentang siapa ayahnya. Ayah Safira adalah seorang berondong yang menyewa jasa Lian waktu itu. Antara percaya dan tidak, Safira hanya bisa menerimanya. Dia bahkan pernah melihat siapa sang ayah. Hanya saja tak berani untuk menyapanya. Lian sendiri mengatakannya setelah dipaksa olehnya. Dan sebenarnya ginjal dia diberikan kepada ayahnya. Sekalipun dengan upah, hal itu semata-mata dilakukan Safira karena ingin menolong ayah biologisnya, sekalipun sang ayah tak mengakuinya. Pahit memang. Tapi hal itu tak pernah diketahui oleh Lian ataupun Arci. Mereka hanya tahu Safira menjual organ ginjalnya.

Lalu ayah Putri? Ayahnya adalah seorang tentara yang tewas beberapa waktu lalu ketika ditugaskan ke sebuah daerah konflik. Nahas memang. Disaat Lian mulai serius dengan seseorang, selalu saja sang lelakinya bernasib sial. Akhirnya Lian pun hanya bisa pasrah.

Dan entah kenapa sampai sekarang Lian tak pernah menceritakan kepada siapapun tentang siapa ayah Arci. Pasti ada sesuatu. Lian mengunci rapat-rapat identitas ayah Arci. Dia hanya bisa mengatakan bahwa ayah Arci sudah meninggal. Tapi itu tak cukup. Pastinya.

Safira hanya memakai kemeja putih lengan panjang. Tanpa bra, tanpa CD. Ia keluar dari kamarnya dan langsung nonton tv. Pagi itu ia melihat bagaimana Arci mondar-mandir kesana-kemari hingga akhirnya selesai masak di dapur bersama ibunya. Setelah itu ia duduk di sofa, bersebelahan dengan Safira. Direbutnya remote tv itu.

“Eh, rese’. Ngerebut remote sembarangan!” kata Safira yang berusaha merebut remote tv.

“Makanya jadi cewek itu belajar masak sonoh, nyuci kek, bersih-bersih kek, nggak di kamar aja. Trus bangun lihat tv,” kata Arci.

Safira berusah merebut remote tv. Tapi tak sanggup. Akhirnya ia nyerah. Arci pun memindah-mindah saluran untuk mencari acara yang menurutnya bagus. Tiba-tiba Safira memeluk pinggangnya dan merapat ke adiknya itu.

Kini posisi tubuh Arci seperti di peluk oleh Safira. Ada perasaan nyaman pada diri Safira saat dia memeluk Arci seperti itu. Perasaan nyaman yang aneh.

“Ngapain sih kak? Lagi pengen?” pancing Arci.

“Jangan mancing, aku cuma kepengen meluk kamu aja. Masa’ nggak boleh?”

“Yaaa…boleh aja sih. Tapi biasanya kalau manja begini Kakak lagi kepengen.”

Arci dipukul dengan bantal. “Huuu dasar…kamu ngeres mulu pikirannya. Mentang-mentang …..”

“Mentang-mentang apaan?”

“Ah… nggak ah.”

Arci dan Safira kembali membisu. Arci diam-diam mengamati kakaknya yang kini menindih tubuhnya. Arci mulai berbaring, Safira beringsut menempelkan dadanya di dada Arci.

“Kamu sudah punya pacar, dek?” tanya Safira.

Arci menggeleng. Ia menelan ludah saat tahu kakaknya tak memakai dalaman sama sekali. Diperhatikannya paha mulus Safira yang kini sudah menindih kemaluannya yang sudah menegang karena singgungan kontak yang tak bisa ditolak itu.

“Kenapa kak?” tanya Arci.

“Pengen tanya aja, Kakak bakal cemburu sepertinya kalau kamu nanti punya pacar.”

“Kenapa bisa begitu?”

Saat itu Arci yang hanya memakai training pun diturunkan oleh kedua tangan Safira hingga celana dalamnya pun melorot sekalian. Safira mendekatkan bibirnya ke buah zakar Arci dan menciumnya. Batang Arci mulai mengeras. Arci tak heran. Ketika Safira sudah bernafsu biasanya dia lebih agresif.

“Telanjang aja yuk?!” ajak Safira.

Arci hanya menurut saja. Dalam hitungan detik, keduanya sudah tak memakai apa-apa lagi. Arci kemudian menarik tubuh Safira hingga sang kakak pun duduk di atas pangkuannya. Kembali hubungan sedarah terjadi lagi. Buah dada Safira mulai dikulum oleh sang adik.

“Ahhh….,” desah Safira.

“Katanya nggak mau?” bisik Arci.

“Entalah, mungkin…karena aku selalu ingin kalau dekat ama kamu dek,” jawab Safira.

Tubuh Safira sebenarnya mulus, tanpa cacat. Ia tak pernah madat, tak pernah mengukir tato. Dan ia selalu merawat tubuhnya ke spa. Hanya satu yang kurang. Di pinggang sebelah kanannya ada luka bekas operasi. Ya, operasi pengambilan ginjal beberapa tahun yang lalu.

“Dek, kalau kakak cinta beneran ama kamu gimana?” tanya Safira.

“Maksud kakak?”

“Cinta sebagai seorang kekasih?”

Safira mengecup bibir Arci.

“Kakak tahu bukan itu tak mungkin?” tanya Arci sambil memeluk Safira erat.

“Tapi kakak mulai menyukaimu, mulai mencintaimu. Aku tak mau pisah ama kamu dek.”

“Kenapa?”

“Karena kamu terlalu banyak berkorban buat keluarga ini. Kamu rela jadi anak seorang PSK. Punya saudara juga PSK. Kamu mengurusi segala pekerjaan rumah, aku terlalu baik. Aku yakin ayah kamu pasti orang baik pula. Ahhh…Adekku.”

“Kalau kakak mau, silakan saja. Aku akan melakukan apapun buat kakak, tapi….kalau suatu saat aku punya istri bagaimana? Bagaimana juga kalau misalnya aku punya anak, mereka akan manggil kamu apa? Apa yang harus aku katakan kepada istriku kelak?”

“Aku tak peduli. Aku akan menghormati istrimu, tapi aku ingin jadi istrimu dek. Aku tak sanggup lagi membendung perasaanku ini. Ketahuilah, sejak aku kecil aku sudah menyukaimu.”

“Oh ya?”

Safira mengangguk. Ia mencari-cari batang penis adiknya, lalu menempatkannya di liang senggama miliknya. Mereka biasa bercinta tanpa kondom maupun dengan kondom. Mereka bisa menjaga diri, Safira sudah piawai agar penis pasangannya tak membuahi rahimnya. Tapi entah mengapa kali ini ia ingin hal yang lain. Kenikmatan mulai menjalar ketika batang itu melesak masuk ke dalam liang senggamanya, hingga mentok menyentuh rahimnya.

“Uuuhhhhh…,” keluhnya.

Arci juga merasakan sensasi yang luar biasa saat penisnya masuk dengan sempurna.

“Dek, kamu mau kan mencintaiku?”

“Iya, aku bisa.”

“Sungguh?”

“Iya. Apapun buat kakak.”

“Aku tak akan mencampuri urusan cintamu. Tapi tolong berikan satu ruang di hatimu buat kakakmu ini ya? Kamu bisa?”

“Aku akan berusaha.”

“Hari ini, tolong lakukan dengan sungguh-sungguh!”

“Maksudnya?”

“Anggap aku orang yang kamu cintai. Bukan orang yang kamu anggap sebagai kakakmu.”

“Tapi engkau memang kakakku dan aku mencintaimu.”

“Lebih dari itu. Pliisss… ohh..dek…aku sangat mencintaimu.”

“Kaakk…aahhh!”

Sementara itu Lian yang tadinya berada di dapur dan akan ke ruang tengah terpaksa kembali lagi ke dapur karena melihat adegan persetubuhan Arci dan Safira. Lian tak ingin Putri melihat mereka berdua, walaupun Putri terkadang memergoki mereka, hanya saja Lian masih waras. Ia tak mau anak kecil ini bisa lebih dulu dewasa dengan menonton apa yang terjadi dengan Safira dan Arci. Dalam hati Lian, ia hanya bisa menerima kenyataan bahwa Safira terlanjur mencintai adiknya sendiri. Dan dia tahu sifat Safira, sekali ia mencintai seseorang ia tak akan pernah bisa melepaskannya begitu saja. Terlebih sekarang yang dicintainya adalah adiknya sendiri.

“Kenapa sih ma koq keluar lewat pintu belakang?” tanya Putri polos.

“Udah, mau ikut apa nggak?” tanya Lian.

“Ya udah deh.”

Dalam hati Lian pun berkata, “Arci, Safira, berbahagialah kalian.”

Di dalam rumah desahan demi desahan terus keluar dari kedua mulut kakak beradik ini. Arci dan Safira tak henti-hentinya berpagutan. Mereka sebenarnya sudah biasa bercinta tapi tak seperti ini. Ini lebih bergairah dari biasanya. Arci juga merasa demikian penisnya lebih keras daripada biasanya. Ia sekarang lebih melihat tubuh kakaknya ini sebagai seorang kekasih. Kalau biasanya ia bercinta hanya untuk mengimbangi Safira, kini ia juga ingin merasakan bercinta dengan orang yang dicintainya.

Dalam bercinta Arci mungkin merasakan tabularasa-nya hubungan sedarah. Tapi agaknya untuk hari ini tidak. Terbukti ia bisa bermanja-manjaan dengan Safira kalau sebelumnya ia dingin. Ia belai seluruh lekuk tubuh kakaknya. Mungkin kalau ada orang yang punya kakak seperti Safira hanya bisa bengong dan membayangkan Arci tidak. Ia sekarang secara nyata telah menyentuh Safira, kakaknya yang seksi.

Pantat Safira di remas-remas. Arci berusaha lebih dalam lagi untuk menusukkan kemaluannya, walaupun sebenarnya sudah mentok. Safira menggit bibir bawahnya saat Arci menghentak-hentakkan tubuhnya. Lama sekali keduanya saling menekan selakangan. Desisan dan desahan silih berganti bersahutan.

“Ci…sodok kakak dari belakang dong!” pinta Safira.

Arci tak menolak. Ia bangkit, kemudian berdiri di pinggir sofa. Safira menunggingkan pantatnya. Kepala penis Arci di arahkan ke liang surgawinya. Tak butuh waktu lama keduanya bergoyang lagi. Kini dengan gaya doggie style mereka mulai memacu birahi lagi. Dua buah payudara bergantungan seirama goyangan tubuh Safira. Arci berusaha menggapainya dan meremas-remasnya.

“Kamu suka toketku ya dek?” tanya Safira.

“He-eh,” jawab Arci.

“OOhhh….sodok yang kenceng ya dek, jebolin memek kakakmu ini,” kata Safira.

Arci makin menyodok sekencang-kencangnya seolah-olah memek Safira benar-benar muat untuk ditusuk sekencang itu. Hingga akhirnya sang kakak pun mengejang, pertanda orgasme pertamanya sampai. Arci masih belum puas, Safira tahu itu. Ia pun langsung berbalik dan mengulum penis adiknya yang sudah mengacung sempurna. Tak tahan rasanya ingin digigit saja benda bulat lonjong besar berotot itu oleh Safira. Ia sangat gemes dan berkali-kali menghisapnya dengan gemas. Arci hanya bisa menikmati perlakukan kakaknya itu.

Safira meludahi kepala penis adiknya. Dia lalu mengocok lembut sambil mengisap buah zakarnya. Arci terus bertahan atas perlakuan saudarinya itu.

“Dek, semprotin di dalem ya,” kata Safira.

“Nggak apa-apa?” tanya Arci.

“Nggak apa-apa, kakak lagi kosong koq.”

Arci lalu mulai menindih Safira. Safira kemudian membuka kedua pahanya lebar-lebar. Mempersilakan rudal berotot masuk ke dalam liang senggamanya. Dan dengan mudahnya Arci memasuki gua kenikmatan itu. Arci membuka mulutnya dan menghisap tetek Safira.

“Ahhh…aku yakin kalau adekku ini suka ama tetek kakaknya,” kata Safira.

“Biarin,” kata Arci sambil terus meremas dan mengisap dua bukit kembar itu bergantian.

“Ayo dek, memek kakak kepengen digesekin lagi nih,” kata Safira.

“Kak, aku tak pernah tahu. Tapi…kalau kakak ingin kita hanya hidup bertiga saja aku rela koq,” ujar Arci.

“Hush, nggak boleh begitu. Kita sebenarnya juga nggak boleh seperti ini,” kata Safira.

“Kalau misalnya nanti kakak aku hamili bagaimana? Bisa repot kan nanti masyarakat, bahkan kita bisa diarak keliling kampung,” kata Arci.

“Lihat ibu, ketika semua orang tahu ibu PSK dan hamil di luar nikah. Masyarakat sudah maklum, kenapa kamu tidak?”

“Kak, aaahhh…!” sesekali Arci mendesah keenakan saat menggenjot Safira. “…. tapi ini kita…ahhh…kalau…uhhh… kita ketahuan….aahh…bagaimanaaahhh…?”

“Aahh…aahh…aahh..uuhhh… nggak usah dipikirkan dek. Kakak …ahh..uhhh.. udah rusak….biarin rusak sek…aahhh…kalian….uhhhh!”

“Aku tak mau begitu kak. Aku akan ahhh….cari cara untuk membahagiakan kakak…uhhh. Itu sudah tugasku, itu cita-citaku sejak dulu. Ahhh….Aku juga ingin membahagiakan ibu.”

“Deekk…keras banget, mau nyampe?”

Arci mengangguk. Goyangannya makin cepat. “Sampe kak, sampe….aku tak ingin seperti itu kak. Kalau kakak mencintaiku, maka kakak pun harus diperlakukan dengan terhorrrmmmmmmaaaaaattttt!”

Arci dan Safira menjerit bersamaan saat mereka sampai kepada orgasme secara bersamaan. Arci memeluk Safira seolah-olah tak ingin melepaskannya lagi. Dekapan Arci erat sekali, ia menghentak beberapa kali ketika spermanya keluar, hal itu membuat Safira melayang. Ia juga memeluk adiknya dengan erat.

“Banyak banget kamu keluarnya,” kata Safira.

“Aku tumpahin semuanya,” ujar Arci.

“Emangnya udah berapa lama nggak gituan?” tanya Safira.

“Semenjak terakhir ama ibu, dua mingguan,” jawab Arci.

“Aahhh…pantes, hihihihi,” kata Safira sambil menunjukkan senyum manisnya.

“Kak, serius mau jadi kekasihku?” tanya Arci.

“Masih tanya aja, aku serius. Dan untuk keseriusanku, aku nggak akan jadi PSK lagi. Aku pensiun. Aku akan cari kerja yang halal,” jawab Safira.

“Beneran?” Arci tampak senang sekali. Terlihat dari raut wajahnya berseri-seri.

“Serius, hari ini demi adikku dan juga kekasihku. Aku pensiun.”

“I love you kak”

“I love you too”

Sebuah kisah cinta yang kompleks. Arci yang ingin kakaknya berhenti jadi pelacur pun bisa teratasi. Tapi imbasnya sang kakak jadi mencintai dia seperti seorang kekasih. Siapa yang patut disalahkan dalam hal ini? Yang benar atau salah pun terkadang samar untuk bisa dimengerti.

* * *

Safira hari itu bercinta dan bercinta bersama adiknya sampai malam. Bahkan kali ini ia tak malu-malu untuk tidur di kamar adiknya. Ada perasaan menyesal mencintai adiknya, namun perasaan itu pun akhirnya luluh dengan sendirinya. Ia berada di dalam persimpangan jalan sekarang. Tadi malam lagi dan lagi adiknya membuahi dia, ia merasa pasti bakal jadi. Apalagi Arci bercinta dengannya penuh perasaan. Setiap ciuman, setiap belaian, setiap hentakan adiknya ke dalam dirinya ia sangat menyukainya. Ia biarkan Arci membolak-balikkan tubuhnya, menikmati setiap jengkal tubuhnya. Ia sudah pasrahkan tubuhnya untuk sang adik.

Pagi sudah menjelang. Arci sudah memakai handuk dengan tubuh basah. Badan tegapnya membentuk sebuah siluet di tirai kamarnya ketika tirai jendela dibuka. Safira terbangun.

“Hari ini aku presentasi di kantor. Promosi,” kata Arci.

Safira menggeliat. “Pagi sayang.”

Arci tersenyum. Menghampiri Safira. “Kakak serius?”

“Serius apa?”

“Serius dengan hubungan ini?”

Safira mengangguk. “Aku sudah memutuskannya. Mulai hari ini dan seterusnya aku adalah kekasihmu.”

“Tahu kamu kan kita tak bisa ….,” jari telunjuk Safira menempel di bibir Arci.

“It’s OK. Dek, you’re my everything. I can’t stop fallin love with you. I know it’s wrong. Kalau nanti kamu bertemu dengan pujaan hatimu, aku tak akan cemburu. Memang sudah seharusnya seperti ini, asal jangan pergi dariku. I can’t live without you,” kata Safira.

Bibir mereka pun berdekatan. Kemudian menempel lagi. Wajah Safira yang cantik dengan mata sayunya benar-benar akan membius siapa saja. Tapi Arci tak bisa berlama-lama di kamarnya. Ia harus pergi ke kantor. Segera saja diambil baju-bajunya dan berdandan.

Saat membenarkan dasinya Safira melompat dari tempat tidur, ia membantu Arci. Dibantu pemuda itu membenarkan dasinya, lalu merapikan rambutnya. Arci melihat kakaknya tanpa baju sehelai pun. Kulit yang mulus tanpa cacat. Mungkin kalau nyamuk berjalan di atasnya pasti terpeleset. Sebuah kecupan hangat di pagi hari meninggalkan Safira seorang diri di kamar.

Di luar Arci langsung disambut ibunya.

“Jangan kecewakan Safira. Aku tahu ini salah, tapi….jangan pernah buat kakakmu bersedih!” kata Lian.

“Aku tidak akan. Kalian adalah orang-orang yang paling berharga buatku. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri,” kata Arci.

Lian lalu memeluk anaknya. “Arci, maafin ibu ya.”

“Kenapa?”

“Seharusnya tidak seperti ini. Pulanglah cepat hari ini, ibu ingin bicarakan sesuatu tentang ayahmu. Asal cepatlah pulang!”

Mendengar ibunya berkata seperti itu membuat Arci penasaran. Dia menatap mata Lian. Terdapat raut kesungguhan di sana.

“Cepatlah pulang!” kata Lian.

“Baiklah, hari ini aku ada promosi. Mungkin agak lebih malem pulangnya,” kata Arci.

“Lekas saja pulang,” kata Lian.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Bego, kenapa dia kita sekap?”

“Heh, dia sudah mendengar apa yang kita bicarakan.”

“Trus, kenapa nggak dihabisi saja?”

“Dihabisi? Aku tak mau jadi pembunuh, dodol!”

“Lha trus?”

“Kita tahan aja dulu dia, sampai target kita Si Andini takluk. Kita lalu kumpulin dia sama-sama. Lalu kita garap bareng. Kalau ia macam-macam kita sikat.”

“Sikat gimana?”

“Ancam saja, kalau macam-macam kita perkosa rame-rame.”

“Sekarang, dia kita sekap di mana?”

“Gampang, aku ada tempat. Nggak bakalan ada orang yang tahu.”

“Oke, awas kalau sampai dia lolos dan ngebocorin rahasia kita.”

“Tenang aja.”

Setelah acara pesta makan-makan malam itu Arci segera pulang karena ibunya ingin bercerita tentang sesuatu. Tentang siapa jati diri ayahnya. Sebenarnya menurut Arci sendiri hal ini tentunya membuat dirinya lebih senang tapi ada sesuatu yang entah kenapa dia lebih takut dari pada sebelumnya. Ibaratnya ia lebih takut mengetahui siapa dirinya sekarang. Baginya tabir misteri itu lebih baik tetap tidak dibuka daripada ia mengetahui malah mengubah semuanya. Ia takut.

Setelah melihat Andini pergi Arci pun ikut pergi. Dia lumayan ngebut di atas aspal. Sama seperti sebelum-sebelumnya ia ngebut tapi masih dalam batas wajar, dalam arti tetap mematuhi rambu lalu lintas. Tak berapa lama kemudian ia sudah sampai di rumah.

Sesampainya di rumah ia sudah melihat ibunya duduk di ruang tamu sambil menyalakan rokok. Di meja tampak sebuah buku album tergeletak di sana.

“Butuh waktu untuk ibu menyimpan ini semua,” kata Lian sambil menunjuk ke album yang ada di hadapannya.

Arci yang tahu apa maksudnya langsung mengambil album itu dan membuka-buka isinya. Ada wajah seseorang di sana. Wajah seorang lelaki yang sangat asing. Tapi dari sekilas ada kemiripan antara wajah itu dengan dirinya. Terutama bagian mata dan rambutnya.

“Ini..??” gumam Arci.

“Dulu setelah dua tahun Safira lahir, ibu sempat bertobat. Tak mau lagi menekuni dunia seperti ini. Dan ibu kenal dengan seorang yang dia cukup tampan, berwibawa, pokoknya tak ada yang bisa menyamai dirinya. Dia adalah klien terakhir ibu waktu itu. Tipnya juga besar. Entah kenapa waktu itu ibu curhat kepadanya soal rumah tangga. Prinsip ibu adalah, tak mau curhat kepada pelanggan. Karena hal itu bisa menimbulkan ikatan batin yang tidak seharusnya. Alhasil, terjadilah.

“Namanya Archer Zenedine. Seorang berkebangsaan Ceko yang sudah lama menetap di negeri ini. Kamu tak bakal menyangka seperti apa kekayaannya. Selama menjalin hubungan dengan dirinya ibu pernah ke luar negeri beberapa kali. Bahkan ia melamar ibumu ketika mengajak ibu ke Moskow. Hanya saja sayang sekali keluarganya tidak setuju. Ibu diintimidasi, dia juga. Bahkan keluarganya mengurung dia agar tidak keluar rumah, sampai kemudian kabarnya ia dipaksa untuk menikah dengan wanita pilihan keluarga mereka. Tapi ibu sudah hamil dan melahirkan kamu. Ibu tak tahu lagi kabarnya. Intimidasi keluarganyalah yang menyebabkan kita seperti ini. Tinggal berpindah-pindah, kehidupan yang tak menentu bahkan memaksa ibu untuk menekuni profesi lama ibu lagi. Mereka jugalah yang memaksa kakakmu untuk melacur, dan ya ibu dendam kepada mereka. Kasihan ayahmu, ia sangat mencintai ibu tapi tak bisa berbuat banyak.

“Dia selalu mengirimkan surat kepada ibu di saat-saat terakhirnya. Setelah ayahnya meninggal dia yang mewarisi perusahaannya. Semuanya. Namun nasib juga sepertinya tak membuat ia beruntung. Ayahmu pun mengidap penyakit jantung. Sehingga tak lama kemudian ia juga menyusul ayahnya. Tapi dia telah mengembangkan perusahaan miliknya hingga sangat besar. Dia juga berhasil mengontak ibu lagi. Hanya sayang sekali itu sudah terlambat. Ia telah menulis sebuah surat wasiat yang akan dibaca pada tanggal 31 Mei. Di dalamnya ada namamu. Ibu sengaja merahasiakannya darimu, ini semua karena ibu tak mau kamu berbuat nekat dengan menemui keluarga mereka. Ibu tahu watakmu yang bertindak berdasarkan hatimu. Ibu tak ingin kamu kenapa-napa, maka dari itulah ibu simpan sampai ibu rasa kamu sudah siap mendengarnya.”

Arci terus membolak-balikkan album kenangan yang berisi foto ibunya dan ayahnya. Dan ketika sampai di halaman terakhir ada sebuah amplop.

“Bukalah! Itu seharusnya kamu baca ketika usia tujuh belas tahun. Tapi ibu tak memberikannya kepadamu. Karena ibu takut kamu belum siap. Tapi sekarang, kamu harus membacanya. Itu pesan terakhir ayahmu!” kata Lian. Arci menatap ke ibunya sejenak. Lalu ia pun membuka amplop tersebut. Ada beberapa lembar surat. Arci mulai membacanya.

Anakku Arczre,

Aku tak tahu sampai kapan aku akan berjuang melawan penyakitku ini, tapi sebelum terlambat aku ingin menyapamu dulu. Apa kabarmu? Kamu sekarang pasti sudah remaja. Kamu sudah mulai mengenal cinta. Papa tahu, karena papa dulu pernah muda.

Maafkan papa. Papa sangat ingin sekali bisa menggendong dirimu waktu kamu masih bayi dulu. Papa sangat ingin sekali memeluk dan menciummu, tapi sampai sekarang papa tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan papamu. Tapi dalam setiap mimpi, dalam setiap tarikan nafas, engkau adalah putraku satu-satunya. Satu nama yang selalu membuatku bersemangat untuk tetap hidup. Andai posisi kita tidak seperti ini tentu aku akan lebih menyayangimu lagi nak, sayang kita tidak bisa saling melihat, tidak bisa saling menyapa.

Anakku.

Maafkanlah ibumu. Dia selama ini pasti sangat lelah menjagamu. Mungkin ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya, tapi itu semua karena ia sangat menyayangimu. Tolong jangan marah kepada ibumu. Marahlah kepada papamu yang tidak bisa berbuat banyak, bahkan ketika semua kekayaan ini ada di tangan tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

Anakku.

Aku sebenarnya ingin marah. Tapi tak tahu harus marah kepada siapa? Aku marah karena aku tak berdaya. Tak bisa berbuat apa-apa. Padahal aku sangat ingin bisa melihatmu. Dalam beberapa tahun ini papa berusaha mencarimu hingga akhirnya bisa menghubungi ibumu lagi. Sungguh itu suatu hal yang sangat menyenangkan. Tapi sayang, kondisi papamu mulai drop. Bahkan sekarang makanan yang dulunya enak, terasa hambar di mulut. Hanya makanan halus yang boleh masuk ke dalam perut. Setiap hari papa hanya memandang dari tempat tidur, berbaring, sambil terkadang menulis beberapa paragraf untuk dikirim kepada ibumu. Baru kali ini papamu berani menuliskan wasiat ini kepadamu. Sebut saja wasiat, sebut saja salam perpisahan, karena hidup papa nggak lama lagi.

Anakku,

Aku sungguh sangat menyayangimu, aku juga sungguh merindukanmu. Aku ingin berpesan kepadamu jadilah anak yang baik. Jagalah ibu dan kakakmu. Dan kalau engkau sudah berusia dua puluh lima tahun. Papa ada kejutan buatmu. Kuharap engkau sudah siap waktu itu. Kuharap engkau sudah siap menerima kejutan dari papa. Tapi untuk itu kamu harus sekolah yang tinggi. Ambil semua ilmu yang ada. Perbaiki masa depanmu. Engkau adalah pewaris PT Evolus Produtama. Semuanya adalah milikmu dan satu-satunya manusia di planet ini yang berhak mendapatkannya. Sementara ini sebelum usiamu sampai 25 tahun papa menyerahkan perusahaan ini kepada orang yang paling papa percaya. Datanglah ke PT Evolus Produtama saat pembacaan wasiat, tapi kalau engkau berhalangan tak masalah. Pengacaraku sudah mempersiapkan semuanya.

Pesan papa. Berhati-hatilah. Papa sengaja merahasiakanmu dari semua orang. Hanya beberapa orang saja yang tahu mengenai dirimu. Bahkan namamu pun memang sengaja papa berikan bukan nama Zenedine, agar tidak ada orang yang tahu bahwa kamu adalah anakku. Ada orang yang sangat ingin kamu tiada. Papa dan ibumu berusaha melindungimu selama ini. Jadilah anak yang kuat.

Ini adalah kenang-kenangan dari papamu. Tak seberapa, tapi kalian memang berhak untuk mendapatkannya. Ini sebagai balasan karena papa tak bisa menjagamu selama ini. Kamu mau kan maafin papa?

Anakku…. Selamat Tinggal, jaga ibu dan kakakmu.

ttd

Archer Zenedine

Mata Arci basah. Ia meletakkan surat itu. Di belakang surat itu ada sebuah foto. Foto seorang lelaki yang banyak sekali alat-alat di tubuhnya. Wajahnya kurus kering. Itu adalah wajah Archer Zenedine di saat-saat terakhirnya. Arci menoleh ke arah ibunya. Ibunya sudah tak bisa membendung kesedihannya. Arci tahu sekarang kenapa ibunya tak memberi tahu siapa ayahnya sampai sekarang. Ia hanya tak percaya, dia adalah pewaris perusahaan tempat ia bekerja sekarang ini.

Safira muncul dari kamarnya. Ia ternyata sejak dari tadi sudah melihat semuanya. Ia lalu memeluk adiknya. Mungkin kisah ini seperti kisah si Bebek Buruk Rupa. Memang dilihat oleh semua orang ia seperti orang tak berguna, tapi ternyata ia lebih dari dugaan semua orang. Arci, pewaris sebuah kerajaan. Dan satu-satunya orang yang berhak atas PT Evolus.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Arci terbangun. Hari sudah pagi. Ia agak kaget mendapati Safira sudah ada di sampingnya. Ia baru ingat kalau tadi malam Safira memeluknya sampai ia tertidur. Arci menyunggingkan senyum. Agaknya ia akan terbiasa melihat Safira selalu ada di kamarnya tiap hari. Dia tadi malam mengisi batteray ponselnya, karena habis. Ia kini menghidupkan ponselnya. Langsung ada satu pesan masuk.

Quote Originally Posted by FROM: SMS Rahma Savithri

Ci, SMS aku yes. Puenting, guawat. Cepet!
Arci mengerutkan dahi. “Apaan nih?” Ia segera menghubungi Rahma. Seketika itu langsung ada suara perempuan “Nomor yang Anda hubungi tidak aktif atau berada di luar service area”

“Aneh…?” gumam Arci.

Arci merasa tak ada yang aneh pagi itu. Mungkin Rahma ada suatu masalah kerjaan di kantor. Nanti di kantor juga bakalan tahu, pikirnya.

“Hmm…? Sudah bangun?” tanya Safira.

“Sudah, mandi sono gih!” Arci melemparkan bantal ke arah Safira.

“Aduh!”

Arci melepas bajunya dan mengambil handuk.

“Mandi bareng doong!?” Safira menggelayut manja.

“Duh, kakakku ini koq manja banget,” Arci pun masuk ke kamar mandi.

Safira langsung melepas bajunya satu per satu, lalu beringsut membuka pintu kamar mandi. “Ikuuutt…!” Melihat Safira tanpa benang sehelai pun langsung membuat Arci “bangun”.

“Dasar, ya udah,” kata Arci.

Walaupun ada acara mandi. Tapi toh akhirnya diselingi juga dengan belaian dan cumbuan. Hingga akhirnya kedua tubuh polos tanpa busana itu pun sudah bersatu. Arci memeluk Safira sambil menyodok-nyodokkan kemaluannya ke dalam liang senggama kakaknya yang sempit. Mereka berdua sudah terbakar nafsu, shower yang mengguyur mereka pun rasanya sudah tak diperhatikan lagi yang ada hanya memburu kenikmatan di pagi hari. Kedua insan yang saling mencintai ini akhirnya mengakhiri perguluman dahsyatnya di kamar mandi dengan semburan berkali-kali dari kemaluan mereka. Arci dan Safira saling tertawa menyaksikan diri mereka sendiri.

“Kamu tak takut kalau hamil kak? Aku sering nyemprot di dalem,” kata Arci.

“Kalo papanya seganteng kamu sih nggak masalah,” kata Safira sambil ketawa sementara tangannya melingkar di leher Arci.

“Heh, serius ini.”

“Lha kamu sendiri kenapa koq disemprotin di dalem?”

“Hmm…itu..yaa….kalau disemprotin di luar kurang nikmat aja.”

“Huuu dasar, cowok maunya emang gitu. Aku nggak masalah kalau sampai jadi, aku ingin merawat anak kita nanti kalau emang jadi.”

“Oh kak…hmmh,” Arci memberikan satu ciuman. “Aku juga tak akan menyesal kalau sampai kakak hamil. Ibu sudah merestui kita koq.”

“Iya, gara-gara kemarin kita seharian begituan. Aku bilang ama ibu kalau aku cinta ama kamu,” kata Safira.

“Maafkan aku ya kak. Harusnya kakak mendapatkan lelaki yang lebih baik daripada aku.”

Safira menggeleng. “Nggak, mana ada lelaki yang mau perempuan seperti aku? Yang ada aku malah akan disakiti. Aku tak mau seperti ibu. Biarlah aku mencintaimu dek. Kalau toh kamu tak mencintaiku aku tak apa-apa. Cinta tak harus menerima.”

“Nggak kak, aku mencintai kakak.”

“Ohh…Arci..adikku yang ganteng.”

Arci dan Safira berpelukan dalam rasa birahi tabu. Mereka pun melanjutkan aktivitas mandi yang sebenarnya setelah itu. Walaupun begitu mereka masih belum puas sebenarnya untuk menuntaskan birahi. Tapi Arci tahu diri kalau ia harus berangkat kerja hari itu. Dan hari ini adalah hari yang baru baginya. Ia tahu siapa jati dirinya sekarang.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Aku di mana?” gumam Rahma.

Ia merasa sangat pusing. Ia baru menyadari kalau tubuhnya terikat, kaki dan tangannya terikat dengan tali yang sangat kuat, sementara mulutnya ada lakban tapi sudah terlepas. Disadari olehnya ia seperti berada di sebuah gudang. Ada barang-barang seperti sepeda, meja, kursi, bangku dan beberapa besi yang tertumpuk di dekatnya. Sementara dirinya ada di atas sebuah ranjang dengan kasur yang bau. Ranjang itu ranjang tua, sehingga ketika ia bergerak suaranya berderit. Satu-satunya penerangan adalah lampu pijar seukuran sepuluh watt yang ada di atasnya. Rahma berusaha menggeser tubuhnya. Bisa, ternyata tali itu hanya melilit tangan dan kakinya saja.

“Oh tidak, tidak, aku harus pulang, aku harus beritahu Arci, aku harus beritahu Bu Dini.”

Rahma berguling-guling hingga ia akhirnya jatuh dari ranjang. Ia jatuh bahu kanannya dulu karena ia terikat ke belakang. Rasanya sakit bukan main. Rahma berusaha untuk berdiri, tapi dengan susah payah. Dia berusaha mengingat-ingat orang yang berusaha membekapnya. Semakin ia mengingat-ingat semakin kepalanya pusing.

Dengan penuh perjuangan ia akhirnya bisa bangkit. Tapi karena tangan dan kakinya terikat ia pun melompat-lompat seperti kanguru. Dia berusaha menuju ke pintu. Rahma melihat kaca jendela yang ada di sampingnya. Ia mempelajari di mana ia berada. Tak bisa diketahui, di luar ia hanya melihat rerumputan yang tak terawat serta beberapa benda seperti bangku dan kursi yang tergeletak bertumpuk di dekat pintu. Tidak, bahkan pintu itu diganjal dengan benda-benda rongsokan itu.

“TOloooong!?” teriak Rahma. “Tolooong!”

Rahma total hanya berteriak dua kata itu. Karena di pikirannya tiba-tiba timbul pikiran waras bisa jadi komplotan orang yang menyekapnya ada di sana. Maka dia pun berpikir lagi. Ia harus keluar, tapi bagaimana caranya. Lalu siapa orang yang melakukan ini semua?

Tiba-tiba di saat seperti ini ia teringat kembali kepada Singgih. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Andai Singgih berada di tempat ini. Apakah dia bisa menolongnya?

* * *

Di kantor, Arci tidak melihat Rahma. Mejanya sepi.

Andini langsung menyeletuk mengagetkan dirinya. “Nggak lihat Rahma?” tanya Andini.

Arci menggeleng.

“Kemana ya? Nggak biasanya,” gumam Andini. “Coba deh hubungi rumahnya! Ada berkas yang harus aku periksa soalnya.”

“Baik,” kata Arci.

“Oh ya, karena Rahma nggak ada. Kamu jadi asistenku sementara yah?”

“Koq aku, Bu?”

“Apa kamu keberatan?”

“Ehhmm…nggak sih.”

“Habis ini ke ruanganku!” kata Andini. Ia kemudian melangkah ke ruangannya.

Arci hanya menghela nafas. Padahal kerjaannya masih menumpuk. Ia kemudian mencari-cari nomor Rahma di data arsip karyawan. Setelah mendapatkan nomornya, ia lalu memutar nomor di telepon kantor.

“Halo? Ini rumah Rahma? Rahmanya ada pak?”

“…”

“Ini saya Arci teman sekantornya. Koq dia nggak masuk ya hari ini?”

“…”

“Hah? Belum pulang? Lho??”

“…”

“Saya nggak tahu juga.”

“…”

“Baiklah kalau begitu, terima kasih.”

Arci menutup teleponnya. Dia bergumam, “Aneh, Rahma belum pulang dari kemarin. Ada apa ini?”

“Ada apa Pak Menejer?” tanya Yusuf yang baru saja tiba.

“Rahma nggak masuk, dan katanya belum pulang dari kemarin,” jawab Arci.

“Lho?? Koq aneh?” Yusuf menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ada yang nggak beres nih kayaknya. Oke deh, ntar aku coba lacak ponselnya,” kata Arci. “Soalnya kemarin dia cuman SMS suruh calling dia katanya penting. Sayang kemarin ponselku batteray-nya drop. Jadi dia pasti calling aku nggak bisa.”

“Wah, wah, wah. Oke deh. Aku juga khawatir nih ama dia,” kata Yusuf.

Arci segera masuk ke ruangan Andini dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Masuk!” kata Andini yang bersamaan dengan itu Arci masuk. Arci menutup pintunya.

“Din, Rahma nggak pulang dari kemarin,” kata Arci.

“Hah? Koq bisa?”

Arci mengangkat bahu. “Dan….dia ngirim SMS aneh ini ke aku kemarin.”

Arci menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan SMS dari Rahma. Andini mengerutkan dahinya.

“Ponselnya udah dihubungi?” tanya Andini.

“Nggak bisa. Mati. Dia sering onlinekan? Aku coba lacak terakhir kali dia ada di mana,” kata Arci.

“Oke deh, hati-hati. Perasaanku jadi nggak enak. Oh iya. Besok ada rapat dewan direksi selama tiga hari di Villa Songgoriti. Aku ingin kamu ikut,” ujar Andini.

“Aku?”

“Iya, menginap di sana.”

“Trus Rahma?”

“Ini penting. Menyangkut hajat hidup orang banyak satu perusahaan.”

Arci kembali teringat sesuatu. Bukankah dua hari lagi tanggal 31 Mei?

“Rapat ini akan menentukan arah kemana perusahaan kita. Kamu pokoknya harus hadir. Ada sesuatu yang ingin aku omongin juga, penting buat kamu,” kata Andini.

“Penting buat aku?”

“Iya, penting. Tidak saja buat kamu, tapi juga seluruh perusahaan. Di rapat nanti akan ditentukan siapa orang yang kelak akan memimpin perusahaan ini. Jadi kuharap engkau hadir.”

Melihat tatapan mata Andini Arci pun begidik. Ia hanya bisa menelan ludah. Bagaimana Rahma? Sesuai prosedur kalau ada seseorang hilang sampai 2×24 jam tak ada kabar maka berarti memang Rahma telah diculik.

Ooo — BERSAMBUNG — ooO
“Tapi kira-kira akan ada orang yang curiga nggak kalau dia hilang?”

“Ya jelas curiga, namanya juga orang hilang. Tapi hilang kenapa nggak bakal ada yang tahu. Itu sudah cukup.”

“Oke. Sip!”

“Jangan lupa buang ponselnya!”

“Beres, sudah koq.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*