Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 10

I Love You Handsome 10

Duhai yang dicinta
Sungguh aku sangat sulit melupakanmu
Cintamu sudah terlalu menusuk hatiku
Akankah aku bisa mencintaimu

“Rahma, pulang bareng yuk,” ajak Nita.

“Eh, bentar girls, tunggu disit lhaa!” kata Rahma.

“Arep lemburan a?” tanya Sonia.

“Iyoi, wis tinggalen dhisit! Bu Dini belum ngijinin pulang, akeh garapan jes!”

“Ooo…yawes, tak tinggal yo!?” Nita melambai ke Rahma.

“Hati-hati! Ntar kesambet cowok ganteng,” goda Rahma.

“Aamiin…klo gantengnya kayak bos baru kita ya… OK OK aja!” jawab Sonia.

“Rahma?!” Arci tiba-tiba ada di dekat Nita dan Sonia.

Nita dan Sonia langsung wajahnya memerah. Mereka jadi salah tingkah melihat Arci.

“Eh,…i..iya pak?” sahut Rahma gugup.

Nita dan Sonia buru-buru pergi.

“Lho, katanya kepengen kesambet cowok ganteng, koq kabur semua?” goda Arci.

Muka Nita dan Sonia memerah. Mereka malu setengah mati. “Nggak paaaak!?”

Arci ketawa. Rahma hanya tersenyum.

“Bu Dini ada?” tanya Arci.

“Ada, tapi….dia tak mau diganggu,” kata Arci.

“Kamu ada waktu?” tanya Arci.

“Saya sedang ngurusi pembukuan pak,” jawabnya.

“Halah, nggak usah bilang Pak. Kemarin saja bilang Arci. Biasa ajalah. OK, aku mau masuk.”

“Tapi pak? Eh, Ci…!”

Arci tak menghiraukan Rahma. Ia mengetuk pintunya dan masuk. Andini kaget melihat kedatangan Arci.

“Mau apa kamu ke sini?” tanya Andini.

“Aku hanya ingin kejelasan. Apakah kamu masih mencintaiku?” tanya Arci.

Andini tidak menjawab. Mungkin terlalu keki bagi dia mengakui masih mencintai Arci. Dia teringat kemarin ketika Arci jalan dengan Safira. Betapa dadanya bergemuruh, terlebih Arci mengakui telah berhubungan dengan Safira. Andini meneteskan air mata.

“Keluarlah, kumohon. Jangan temui aku lagi,” kata Andini.

Arci menghela nafas. Ia mendekati Andini. Andini memejamkan matanya. Arci mendekat dan kini tepat berada di hadapannya. Arci memegang wajah Andini lalu mencium orang yang sangat dicintainya itu. Andini tak bisa berbuat apa-apa. Ia ingin dicium, tapi ia tetap tak bisa menerimanya. Ia menerima ciuman Arci itu tapi ada sesuatu di dadanya yang tak ingin Arci ada di sini.

“Baiklah kalau kamu ingin seperti ini,” kata Arci. “Aku akan buktikan kalau kamu masih mencintaiku. Dan ketahuilah, aku sangat mencintaimu. Aku tak bisa jauh darimu, tapi…. setelah ini kamu akan melihatku lain. Setelah aku keluar dari pintu ini aku tak akan lagi menemuimu. Aku tahu ini sulit. Menerima kenyataan bahwa aku mencintai kakakku sendiri memang sulit. Tapi aku jujur kepadamu, karena aku mencintaimu. Tak ada yang lebih baik bagiku selain kejujuran. Maafkan aku. Sekarang belum terlambat, aku masih disini. Katakanlah kalau kamu mencintaiku!?”

Andini masih memejamkan mata. Ia membisu. Arci melepaskan tangannya dari wajah Andini. Ia berbalik menuju pintu. Perlahan-lahan ia pegang gagang pintunya.

“Katakanlah kamu masih mencintaiku, kumohon!” kata Arci.

Andini terisak. Ia sangat mencintai Arci, dia ingin bicara, tapi mulutnya seperti tercekat.

“Aku sungguh mencintaimu. Kalau kamu tak menerimaku….baiklah, aku tak bisa memaksamu. Selamat tinggal…cinta,” Arci membuka pintu dan keluar dari ruangan Andini.

Tangis Andini pecah. Ia langsung duduk di mejanya dan menangis sejadi-jadinya, “Arci…. aku mencintaimu…. hikkss…. maafkan aku, hikss… aku masih mencintaimu, huaaaaaaa….”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Seumur hidup, Arci tak pernah mabuk. Baru kali ini ia minum wisky sampai mabuk. Dia pun sampai tertidur di bangku taman. Ghea yang seharian itu membuntutinya hanya menggeleng-geleng. Dia sudah mengetahui hubungan Arci dengan Andini, tentu saja percakapan Arci di dalam ruangan Andini ia pun tahu.

“Ayolah, kamu itu lelaki. Kenapa hanya urusan seorang wanita saja sampai seperti ini?” kata Ghea di depan Arci yang sedang tertidur.

Ghea lalu berjongkok. Dia mengusap wajah sepupunya itu. Entah kenapa hatinya sekarang nyaman ketika bisa mengusap wajah pemuda ini. Ia tak pernah mengerti yang namanya cinta. Tapi, apakah kini ia telah terkena virus itu? Dia menampar-nampar pipi Arci, tapi pemuda itu tak bangun. Ghea menghela nafas.

“Kenapa aku harus jadi babysitter?” gumamnya.

Dilihatnya wajah pemuda itu. Wajah Arci sangat mirip dengan pamannya Archer. Ghea masih ingat pamannya itu. Pamannya orang yang baik. Archer selalu memperlakukanya dengan lembut. Beda dengan ayahnya yang keras. Archer seorang penyayang. Maka dari itulah mungkin ia bisa melihat sisi kasih sayang pada diri seorang pelacur seperti Lian. Entah kenapa Ghea saat itu teringat dengan insiden ciumannya dengan Arci. Tiba-tiba timbul sisi feminim di dalam dirinya. Jantungnya berdebar-debar lagi. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Arci. Dan dia pun akhirnya menempelkan bibirnya ke bibir pemuda ini. Walaupun bau alkohol tapi ia tak peduli.

Ghea tersentak dan menjauh, “Tidak, tidak, tidak. Apa yang aku lakukan?” Ia berdiri lalu berpaling. “Apa yang terjadi kepadaku?” Jantungnya makin keras berdetak. “Fuck! Apa yang terjadi? Oh God…” Ghea melihat Arci sekali lagi.

Ghea memukul-mukul dadanya sendiri, berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia lalu mengambil pistolnya dan membidik Arci. Air matanya jatuh keluar membasahi pipinya. Baru kali ini ia merasakan rasa seperti ini.

“What’s wrong with me?” katanya. “Kenapa aku tak bisa menembakmu?? Fuck!”

Ghea menyarungkan kembali pistolnya. Dia lalu menarik badan Arci, kemudian ia memapahnya. Ghea sukar mengungkapkan perasaannya saat itu. Dia tak pernah tahu yang namanya cinta. Jadi dia menganggap perasaan aneh di dalam dadanya sebagai penyakit. Penyakit yang sukar diungkapkan dengan kata-kata. Ia berencana akan pergi ke dokter untuk melihat kejiwaannya.

Arci pun sampai di rumahnya. Pintu diketuk. Yang menyambutnya adalah Safira.

“Arci??!” panggil Safira.

“Dia mabuk,” kata Ghea.

“Mabuk? Nggak mungkin, Arci tak pernah minum…. bau alkohol?!”

“Dia sedang galau, cintanya baru saja ditolak. Dia jujur kepada pacarnya tentang dirimu. Betapa gentlemen dirinya,” kata Ghea.

“Apa? Tak mungkin!” Safira menerima Arci yang sempoyongan.

“Baiklah, jaga dia. Dia sekarang udah jadi orang besar, bagian dari keluarga kami,” kata Ghea.

“Kamu?”

“Aku Ghea Zenedine, sepupunya. Sebaiknya, kamu selesaikan urusanmu dengan Andini, mungkin kalian bisa saling mengerti. Ah, kenapa aku harus peduli dengan urusan kalian? Aku pergi,” Ghea kemudian meninggalkan mereka.

Safira segera memapah Arci masuk. Lian yang terbangun pun melihat kondisi Arci yang mengenaskan membantu Safira. Mereka memapah Arci sampai ke kamarnya.

“Kenapa dia?” tanya Lian.

“Katanya sih soal cinta,” jawab Safira. Dia menghela nafas. Tak menyangka semuanya akan seperti ini. Safira merasa bersalah. “Apa aku pergi saja ya…?”

“Apa maksudmu?” tanya Lian.

“Gara-gara aku adek seperti ini,” jawab Safira. Mereka berdua duduk di tepi ranjang. Safira membantu melepas sepatu adiknya.

“Apa sebabnya?”

“Arci jujur kepada kekasihnya tentang diriku. Mungkin terjadi sesuatu kepada mereka. Itu semua gara-gara aku.”

“Tidak, Safira tidak. Bukan karenamu!”

Safira memeluk ibunya. Air matanya meleleh.

“Andini…aku mencintaimu….,” Arci mengigau. Safira menoleh ke arah adiknya. Ia makin bersedih.

“Malam ini temani adikmu!” kata Lian.

Safira mengangguk. Setelah itu Lian pergi meninggalkan Safira dan Arci. Malam kian larut. Safira pun kemudian merebahkan diri di samping adiknya. Seperti malam-malam sebelumnya. Tapi mungkin kali ini beda. Kali ini ia menemani Arci yang sedang galau. Akhirnya ia pun tertidur sambil memeluk adiknya.

* * *

Baru beberapa jam tertidur, Safira kaget ketika ada yang meraba-raba dirinya. Ia terbangun dan mendapati pakaiannya telah terlepas dan dia melihat Arci sudah telanjang dan menindih dirinya. Ia tak sadar ketika bajunya dilucuti. Bahkan sekarang Arci menciumi lehernya sambil meremas-remas buah dadanya.

“Dini…ohhh..,” desah Arci. Ia menyangka Safira adalah Andini.

Safira terasa sakit hatinya. Ia tak menyangka adiknya sangat mencintai wanita itu sampai menganggap dirinya adalah Andini. Dia pun hanya pasrah ketika Arci kemudian memasukkan penisnya yang keras ke liang senggamanya.

“Aahhhkk!” pekik Safira. Matanya mulai berair.

Arci menggenjotnya tanpa pemanasan membuat liang senggamanya serasa agak perih. Tapi lama kelamaan lendirnya mulai membasahi liang senggamanya membuat ia juga keenakan. Safira berusaha melayani Arci yang sedang kesetanan. Mungkin pengaruh minuman keras yang membuat Arci kini beringas. Ia tak puas menggarap Safira dengan gaya misionari. Kemudin ia membalikkan tubuhnya sehingga tengkurap. Diangkat sedikit pantat Safira, kemudian Arci memasukkan penisnya.

Blesss…

“Aaahhkk! Deek…pelan-pelan!” kata Safira.

“Andiniii…oohh…memekmu enak sekali,” rancau Arci sambil memejamkan mata.

“Anggap aku Andini dek, ayo! Lakukanlah! Obati rasa sakit hatimu!” kata Safira.

Arci menggenjot Safira lagi. Ia merasakan keenakan ketika pantat Safira yang seksi itu bertemu dengan selakangannya. Penisnya berusaha mengoyak vagina kakaknya, lendir Safir makin banjir, ia juga menikmati persenggamaan ini walaupun Arci menganggapnya sebagai Andini. Ya, Safira menikmatinya. Itu juga karena ia ingin berlaku seprofesional mungkin untuk melayani adiknya. Hatinya terkoyak, tapi dia terlalu cinta kepada adiknya. Seandainya dia adalah istri Arci, mungkin ia akan marah. Tapi dia terlalu cinta.

“Ohhh….Dini, aku keluar! Aaahhkk!” Arci menyudahi persenggamaannya ini dengan semburan sperma bertubi-tubi ke rahim Safira. Dia pun ambruk sambil memeluk Safira dari belakang. Penisnya masih tertanam di dalam rahim Safira, berkedut-kedut mengeluarkan sisa-sisa sperma.

Tak berapa lama kemudian Arci tertidur. Safira juga. Pelukan Arci sangat erat hingga membuatnya nyaman.

“Arci, aku bingung… aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sedang mengandung benihmu. Kamu mencintai Andini, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku cemburu, tapi… kau mencintai dia,” kata Safira.

* * *

Pagi menjelang. Arci terbangun. Ia kaget ketika bangun mendapati Safira dipeluknya. Dia kemudian memeluk kakaknya lagi. Menciumi punggung kakaknya. Ia sama sekali tak ingat kenapa dan bagaimana ia bisa berada di kamarnya, dengan memeluk kakaknya. Terakhir kali yang diingat ia berada di taman menghabiskan wisky.

“Sudah bangun?” tanya Safira.

“I-iya,” jawab Arci.

“Kamu sedang galau ya?” tanya Safira.

“Kenapa kak?”

“Kemarin kamu mabuk, kemudian kita bercinta dengan hebat. Tapi kamu menganggapku sebagai Andini.”

“Benarkah?”

“Iya. Diakah wanita yang kamu cintai?”

“Iya.”

“Kenapa kamu jujur tentang hubungan kita?”

“Jujur atau tidak, ia akan tahu.”

“Arci, kalau aku menghalangi hubungan kalian. Aku ingin pergi saja.”

“Jangan! Kenapa kakak punya pemikiran seperti itu?”

Safira kemudian membalikkan tubuhnya. Matanya tampak sembab. Arci mengetahuinya. “Karena, aku mencintaimu. Aku tak mau kamu tersiksa. Aku ingin melihatmu bahagia.”

“Itu hal bodoh yang aku ketahui. Justru biarkan dia tahu tentang kita. Dia harus menerima kita, lagi pula aku tak bisa hidup kalau kakak pergi.”

“Tapi kamu tak bisa hidup juga kalau dia pergi.”

“Aku tak bisa hidup tanpa kalian.”

Safira menatap ke mata Arci dalam-dalam. Ia tak sanggup. Arci mendaratkan ciuman ke bibir kakaknya. Safira menerimanya, bahkan saat lidah mereka berdua bertemu Safira bisa merasakan perasaan Arci yang terdalam. Penis Arci yang tegang, kini di arahkan ke belahan liang senggama Safira.

“Aku ingin menghamilimu,” kata Arci.

“Hah? Kenapa?”

“Agar kau tak pergi dariku.”

“Dek, kamu serius?”

Arci mengangguk. “Aku tak bisa hidup tanpa kalian. Andini tetap harus menerima kita semua. Biarkan aku jadi ayah dari anakmu kak.”

“Tapi…”

“Ssshh…kumohon!”

Safira ingin mengatakan kalau dia sudah hamil. Tapi melihat Arci ia jadi bingung. Arci menggulingkan tubuhnya, hingga Safira ada di bawahnya. Dia kemudian menghisap puting kakaknya. Safira mendesah. Dia selalu begini kalau Arci sudah memulai memainkan puting susunya. Mungkin baginya Arci adalah penyedot susu terbaik di dunia. Klien-kliennya pernah mengerjai dirinya, tapi tak seperti Arci yang penuh perasaan.

Mereka memulai bercinta lagi. Kini Arci tak menganggap Safira sebagai Andini. Arci memperlakukan Safira dengan lembut. Dikecupnya seluruh tubuh Safira. Bahkan sampai luka bekas operasinya pun dikecup. Safira terangsang. Setiap sentuhan adiknya sangat menggetarkan dirinya. Mungkin disaat semua orang bermimpi ingin bisa bersetubuh dengan kakak seseksi Safira, Arci sudah mendapatkan dirinya. Mendapatkan tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Safira masih ingat bagaimana pengalaman pertama adiknya bercinta dengan dirinya. Ia juga ingat bagaimana Arci mengerjai dia ketika tidur. Semua dilakukan atas perasaan cinta. Tapi ini cinta yang salah. Berkali-kali Arci merangsangnya, hingga telapak kakinya dijilati Arci, ia menggelinjang.

“Dek, udah. Kakak nggak kuat!” kata Safira.

Arci kemudian menarik tubuh kakaknya. Dipeluknya tubuh sang kakak. Mereka berdua lalu berpagutan, kedua lidah memutar-mutar, mencari celah birahi, dan ketika didapatkan Arci mengangkat sedikit paha Safira lalu memasukkan penisnya.

Tubuh Safira melengkung. Ia mendapatkan orgasme, padahal hanya disodok sekali oleh adiknya. Tentu saja Arci merasakan orgasme dahsyat Safira.

“Kak, kamu sangat menggairahkan. Siap yah, aku mau menghamili kamu,” kata Arci.

“Sudahlah dek, jangan yah!”

Arci tak peduli, kini ia menggenjot kakaknya tanpa ampun. Safira kewalahan dan kepalanya bergerak kiri kanan. Kenikmatan kembali menjalar. Dua kelamin kini saling bergesek, menimbulkan suara kecipak basah dan becek. Arci makin tegang, ia semakin memasukkan penisnya dalam-dalam. Safira antara keenakan dan terharu tak bisa diungkapkan. Ia menggigit bibir bawahnya. Arci lalu memeluknya dengan erat, menekan buah dadanya.

“Ohhh…kaaaakk….ini, udah mau keluar. Aku keluarrrr….! Oohhhkk!” Arci pun menembakkan semua spermanya ke dalam rahim kakaknya. Berbeda, tentu saja. Kalau biasanya ia hanya mengeluarkan setengah, kini ia benamkan seluruh penisnya ke dalam liang senggama kakaknya. Safira menggigit pundak Arci.

Arci tak mencopot penisnya. Membiarkan terbenam di sana hingga setiap tetes spermanya habis keluar. Perlahan-lahan ia cabut. Nafasnya terengah-engah, Safira juga. Agak lama mereka terdiam.

“Kamu nggak ke kantor?” tanya Safira.

“Nggak, hari ini aku akan menghamili kakak biar kakak nggak pergi,” jawab Arci.

“Dek, jangan kekanakan gitu ah, udah pergilah!” kata Safira.

Arci menggeleng.

“Sejujurnya….,”

“Aku tetap akan di rumah, kakak harus aku hamili!” Arci memotong kata-kata Safira.

Safira menghela nafas, “Kakak nggak bakal kemana-mana. Kamu hamili atau tidak, aku akan tetap di sini.”

“Benarkah?”

“Iya, sekarang…pergilah. Kalau kamu memang ingin jadi ayah dari anak-anakku, kamu harus pergi bekerja. Nggak indehoy melulu!”

Arci tersenyum. “Makasih kak, untuk semuanya.”

“Tak perlu berterima kasih, aku kakakmu,” kata Safira.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Rahma, ada waktu?” tanya Arci.

“Hmm? Errr…nggak tahu pak, eh Ci!” jawab Rahma.

“Aku ingin ngobrol sebentar, bisa? Nanti makan siang?” tanya Arci.

“B-bisa,” jawab Rahma.

Arci pun menunggu Rahma keluar dari ruangannya. Begitu Rahma keluar, Arci langsung menggandengnya.

“Eh, ada apa Ci?” tanya Rahma.

“Bantuin aku ya,” jawab Arci.

“Bantuin??”

“Aku akan cerita, kita di mobil aja. Makan yang jauh dari tempat ini.”

Arci membawa Rahma pergi. Mereka cukup jauh untuk mencari tempat makan, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tempat makan lesehan yang agaknya cukup nyaman untuk dibuat ngobrol. Dan akhirnya mereka pun mengobrol. Arci merapikan rambutnya yang sedikit kucel dan berantakan. Rasanya tidak enak sekali kepalanya, mungkin pengaruh alkohol kemarin masih terasa.

“Ada masalah apa?” tanya Rahma.

“Aku ingin melakukan satu hal, tapi kamu mau atau nggak. Sebenarnya ini persoalan pribadiku. Tapi kalau kamu bersedia, oke deh kita lanjut.”

“Apa sih?”

“Aku dan Andini sudah menjalin hubungan….”

“Haaaah??”

“Sssshh…jangan dipotong dulu!”

“OK, OK, jadi bener ya gosip itu?”

“Yeah whatever. Ketahuilah, sekarang ini situasinya sedikit kritis. Ia tak mau menerima aku karena satu kesalahan. Tapi jujur aku tak bisa untuk melepaskannya. Aku ingin dia kembali kepadaku. Aku ingin memancing emosinya agar ia mengakui kalau dia mencintaiku,” ujar Arci.

“Gimana caranya?”

“Kamu mau jadi pacarku?”

“Hah??”

“Pura-pura saja. Kita jalan bareng, bermesraan gitu, bahkan kalau perlu aku bisa menyiapkan pernikahan asal-asalan.”

“Ci, kamu gila!”

“Please, aku hanya ingin dia bilang kalau mencintaiku, setelah itu selesai.”

“Ini nggak masuk akal Ci! Aku nggak mau!”

“Rahma please, siapa lagi yang bisa aku mintai tolong?? Justru aku memilihmu karena kamu dekat dengan Andini. Biar dia benci kamu dan dia akan memperjuangkan cintanya. Aku ingin dia kembali. Aku tak bisa hidup tanpa dia.”

Rahma menghela nafas.

“Kamu bisa kan? Please, tolonglah. Kamu minta apa aja aku akan turuti. Termasuk mencari kekasihmu yang ada di London itu aku akan lakukan. Kumohon tolonglah aku!”

Rahma sedikit kaget. Ya, dengan kekayaan Arci sekarang, ia bisa saja menemukan Singgih. Rahma memang membutuhkan Singgih sekarang ini. Setelah hubungan yang tak jelas dengan Singgih ia bingung dengan statusnya. Singgle atau tidak. Rahma berpikir sejenak.

“Rahma, tolonglah!” kata Arci.

“Baiklah, aku mau. Tapi kamu bisa mencari Singgih untukku?”

“Bisa.”

“Ini pura-pura saja kan?”

“Iya, pura-pura. Sampai Andini kembali kepadaku.”

“Kalau dia tak kembali?”

“Dia pasti kembali.”

Rahma dalam hati berkata, “Iya, ini pura-pura, tapi kalau aku sampai jatuh hati beneran kepadamu bagaimana?”

“Baiklah, tapi aku hanya membantumu kali ini,” sambung Rahma.

“Terima kasih, terima kasih. Aku berterima kasih kepadamu.”

Kesepakatan Rahma dan Arci telah dimulai. Mereka melakukannya dengan berbagai cara. Pertama menyebarkan gosip di kantor, kedua unggah status di facebook, ketiga sering jalan berdua. Rahma sering dijemput dan di antar pulang oleh Arci. Tujuan mereka hanya satu yaitu agar Andini bisa kembali kepada Arci. Andini pun mendengar gosip itu. Hatinya seperti tercabik-cabik. Hingga pada suatu pagi, dia menyapa Rahma.

“Pagi!?” sapa Andini.

“Pagi bu,” jawab Rahma.

“Kudengar kamu jalan sama Arci?” tanya Andini.

“I-iya.”

“Selamat yah,” kata Andini. Setelah itu dia pergi meninggalkan Rahma yang bengong.

Di dalam ruangannya Andini menangis. Ia lemas dan tertunduk di lantai. “Kenapa? Kenapa jadi begini? Apakah kamu ingin menyakitiku?”

Hari itu kantor penuh berita heboh. Bahkan sampai-sampai orang seperti Nita dan Sonia yang suka bergosip tambah lebih heboh lagi. Mereka pun chatting.

Nita: Eh cuy, dirimu jadian ama big bos?

Rahma: He-eh.

Sonia: Waaaaaa… kita telaaattt. Beruntung banget kamu.

Nita: Iyo i.

Rahma; Hehehehe.

Nita: Piye si big boss? Wis diapakne wae karo uwonge?

Rahma: Ngomong apa sih? Nggak ngapa-ngapain. Baru juga jadian.

Sonia: Halaaah… diapa-apain juga nggak apa-apa koq Ma, aku juga senang temenku dapat cowok ganteng. Hihihihi.

Nita: Tapi kita butuh ditraktir nih.

Sonia: Iya, butuh ditraktir.

Rahma: Eh, koq malah nodong sih? Lagi bokek.

Nita: Halah, ayo ma’em oskab aja. Kuane Lop!

Sonia: Oyi, nakam oskab. Pentol gedhe.

Rahma: Yaelah, dibilang bokek.

Nita: Peliiiiiittt

Sonia: Oyi, peliiiit…

Rahma: Eh, beneran aku lagi bokek. Dibilangin koq.
“Ajak aja mereka, aku yang bayarin!” kata Arci.

Rahma terkejut dan buru-buru menutup desktopnya. “Eh,…pak Arci…?”

“Dibilang jangan panggil pak. Nggak di kantor nggak dimanapun aku melarangmu manggil pak,” kata Arci.

“Tapii…”

“Udah, ajak aja nanti makan siang Nita ama Sonia, makan bakso,” ujar Arci.

Rahma menghela nafas. Arci menoleh ke pintu ruangan Andini yang tertutup. Rahma melihat wajah Arci yang tampaknya merasa khawatir. Pemuda ini sangat mencintai Andini.

“Dia sudah tahu?” tanya Arci.

“Sudah,” jawab Rahma.

“Baiklah, aku ke sini mau memberikan ini,” kata Arci sambil memberikan beberapa tangkai bunga mawar merah, sekaligus vas bunganya.

“Ehhh?? Apaan ini? Nanti dilihat orang!”

“Bukankah semua orang harus tahu?”

“Hmm… i-iya juga sih, tapi aku malu.”

“Sudahlah, terima saja!”

Andini tiba-tiba keluar dari ruangannya. Dia terkejut melihat Arci berada di meja Rahma. Jantung Andini serasa copot melihat Arci memberikan bunga mawar kepada Rahma. Arci yang mengetahui Andini melihatnya kemudian membelai wajah Rahma, setelah itu mengangguk kepada Andini. Dia kemudian pergi. Rahma tak tahu kalau Andini keluar dari ruangannya dan hendak menuju ke mejanya.

Setelah Arci menghilangdari balik pintu barulah ia bernafas lega. Andini menghampirinya.

“Bunga ya? Romantis banget,” sindir Andini.

“Eh, ibu,” Rahma tampak gugup.

“Tolong laporan minggu kemarin berikan ke mejaku ya, aku ingin keluar sebentar,” kata Andini.

“B-baik bu,” Rahma agak gugup.

Andini berusaha mengejar Arci. Dia mempercepat langkahnya. Begitu dia melihat Arci masuk lift ia juga mengejar Arci sampai masuk ke dalam lift. Mereka berdua pun berada di dalam lift. Nafas Andini memburu. Ia seperti tak terima Arci sudah punya gebetan lagi.

“Kamu, …. cepat sekali berpindah ke lain hati,” kata Andini.

“Kenapa? Inikan hidupku, bukan hidupmu,” kata Arci. “Apa aku tak boleh mengencani Rahma.”

“Rahma itu anak buahku, sekretarisku. Kamu tak bisa seenaknya seperti itu!”

“Apakah ada peraturan kantor yang melarang atasannya mengencani bawahannya?”

“Ada, itu aturanku.”

“Kamu cemburu?”

“Tidak. Si-siapa bilang?”

“Berarti kamu masih mencintaiku?”

“Hah??” Andini agak gugup. “Tidak, katamu hubungan kita telah berakhir bukan? Sudahlah. Nggak usah dibahas. Terserah kamu mau menjalin hubungan dengan siapapun.”

“OK, lalu kenapa kamu sewot?”

“Kenapa terlalu cepat? Kenapa kamu terlalu cepat memutuskan?”

“Din, aku single, aku cukup ganteng, aku punya kekayaan, aku punya semuanya. Wajar kalau aku ingin punya pacar bukan? Kamu mau kembali kepadaku lagi?”

“Tidak! Kamu bodoh! Tidak sensitif!”

“Akuilah kalau kamu masih mencintaiku.”

Andini terdiam.

Untuk dua menit yang panjang mereka diam. Andini tak menjawab. Dia ingin berteriak saat itu. “Aku mencitaimu” tapi mulutnya seperti terkunci. Terlebih ketika mengingat Arci bersama Safira. Mata Andini berkaca-kaca.

“Aku akan menikahi Rahma seminggu lagi!” pancing Arci.

JDERR! Tentu saja kata-kata itu membuat Andini terkejut.

“Bohong!”

“Kamu akan menerima undangannya besok. Setidaknya masih ada waktu, apakah kamu masih mencintaiku ataukah tidak. Kalau kamu masih mencintaiku, aku akan batalkan pernikahan ini. Kalau tidak kamu akan mendapatiku berada di pelaminan.”

Lift terbuka. Arci pun keluar. Andini hanya melihat punggung Arci menjauh, kemudian disusul pintu lift yang menutup. Tangis Andini pecah. Ia menekan tombol STOP di lift agar lift tak bergerak. Entah antara penyesalan dan cinta, ia bingung.

“Kenapa kamu memaksaku? Aku mencintaimu, kamu harusnya tahu. Arci…please jangan pergi….,” Andini terisak.

DRRRRRTT! Ponsel Andini berdering. Dia tadi sengaja menggunakan nada getar. Sebuah nama terpampang di sana My Cici. Arci menelponnya. Ia galau antara menerima dan tidak. Dan akhirnya jemarinya pun menggerakkan slide untuk menerima teleponnya.

“Ya?!” sapa Andini singkat.

“Andini?” tanya sebuah suara wanita. Andini sedikit terkejut.

“Si…siapa?” tanya Andini.

“Ponselnya adikku ketinggalan. Kalau itu kamu, aku ingin bicara. Bisa kita ketemuan?”

Dada Andini berdebar-debar. Kenapa Safira ingin menelponnya? Ada perlu apa?

“Please, ini penting. Bisa kita ngobrol? Aku tunggu di Kopi Tiam di Jalan Bondowoso, nanti sore,” kata Safira.

“B-baiklah,” ujar Andini.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Kafe NIKI Kopi Tiam malam itu tak begitu ramai. Mungkin karena para mahasiswa sedang sibuk dengan ospek dan liburan semester, sehingga kafe yang biasaya tidak sepi pengunjung itu pun kini hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Safira mengenakan baju putih lengan panjang, dengan bawahan jeans dan sepatu boot. Dia membawa sebuah tas kecil yang ia taruh di sebelah tempat dia duduk. Sebuah cangkir kopi yang masih mengeluarkan uap panas berada di mejanya. Beberapa orang lelaki matanya tertuju kepada Safira. Mungkin karena dia satu-satunya wanita cantik yang ada di kafe itu. Parfumnya pun bisa tercium ke segala sudut ruangan membuat pesona Safira tak bisa ditolak.

Andini tak lama kemudian datang. Begitu melihatnya Safira sangat senang sekali. Dia menganggap Andini cantik, anggun, dengan balutan baju atasan hitam putih dan rok warna abu-abu. Rambut Andini diikat. Sepatu high heelsnya yang bermerk terkenal tampak makin serasi saja dia pakai. Begitu Andini masuk, ia langsung mengenali Safira. Para lelaki yang berada di kafe kini mendapatkan pemandangan indah yang lainnya. Dua bidadari ada di dalam ruangan.

Safira segera menyambut Andini, menyalaminya dan cipika-cipiki. Andini tak menyangka Safira bisa selembut ini dan seakrab ini.

“Apa kabar?” sapa Safira.

“Baik,” jawab Andini.

Mereka berdua duduk berhadapan. Andini sangat canggung, apalagi Safira tersenyum. Dia mengira Safira ini cantik. Pantas saja Arci menyukai kakaknya sendiri. Andini merasa kalah.

“Aku ingin bicara mengenai adikku. Kalau kamu tak keberatan,” kata Safira.

Andini menghela nafas. “Masalah apa?”

“Kamu tahu, apa yang dikatakan adikku bukan? Ketahuilah, dia sangat mencintaimu. Aku tak ingin merusak hubungan kalian, aku sangat berharap ia bisa bersama denganmu. Arci telah menganggap engkau adalah hidupnya.”

“Aku tak mengerti.”

“Andini,” Safira menggenggam tangan Andini. “Kamu mencintai Arci, bukan?”

Andini menarik nafas dalam-dalam. Entah kenapa, dia saat itu bisa berkata, “Iya”

“Aku akan pergi, kamu tak akan melihatku lagi. Aku tak ingin kebahagiaan kalian terganggu olehku. Aku sadari aku salah. Dari dulu aku adalah perempuan hina, sering diusir, sering diintimidasi, itulah aku. Tapi aku sangat menyayangi Arci, lebih daripada yang engkau ketahui. Aku tak ingin mengganggu cinta kalian. Aku hanyalah duri yang mengganggu kisah cinta kalian.”

Andini tiba-tiba menangis. “Jangan, engkau adalah orang yang dia cintai. Aku tak bisa. Aku sudah kalah sebelum bertarung. Aku tak bisa.”

“Dini, kenapa kamu menangis?”

“Aku tak tahu.”

“Kamu takut kehilangan dia bukan?”

“Iya,… aku takut…takut sekali. Tapi, dia hari ini katanya telah berhubungan dengan wanita lain. Katanya dia akan menikahinya seminggu lagi.”

“Tidak, Arci tidak akan berbuat seperti itu. Ia hanya ingin memancing amarahmu saja. Dia hanya ingin agar engkau mengakui bahwa engkau masih mencintai dia. Hanya itu. Katakan kepadaku, kamu mencintai dia bukan?”

Air mata Andini makin deras. “Aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya.”

Safira menggeser kursinya, kemudian dia memeluk Andini. Keduanya sama-sama menangis. Mencintai seorang yang sama, tapi dengan status berbeda.

“Kamu jangan pergi!” kata Andini. “Arci tak akan bisa hidup tanpa kamu.”

“Dia harus bisa,” kata Safira.

“Tidak, jangan!”

“Aku menyayangimu, sama seperti aku menyayangi adikku. Aku akan mengalah. Arci harus bisa hidup tanpa diriku.”

“Safira…..hiks…”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Besoknya Arci membawa surat undangan. Surat undangan berwarna coklat itu ada sebuah pita kecil yang berada di salah satu halaman undangannya. Di sana tertulis nama Arci dan Rahma. Semuanya dibagikan. Ini surat undangan pernikahan. Sepertinya Arci sangat serius. Arci sudah pergi ke rumah orang tua Rahma dan melamarnya. Dan Arci juga serius mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk pernikahan hingga Rahma tak tahu apakah ini bercanda atau serius. Dia berkali-kali bertanya kepada Arci.

“Ini seriusan?” tanya Rahma berkali-kali.

Arci menjawab, “Seriusan.”

Rahma terkejut. “Ci, bukannya katanya kita cuma main-main saja sampai Andini mengakui cintanya.”

Arci tersenyum. “Turuti saja apa kemauanku. Aku sekarang jadi calon suamimu, baik kamu suka maupun tidak.”

“Hei!? Tidak bisa begini. Bukan begini perjanjiannya!”

“Tenanglah, aku yakin dia akan berkata jujur bahwa dia mencintaiku.”

“ARCI!” suara Rahma meninggi.

Arci langsung mencium bibir Rahma. Rahma yang mendapatkan serangan mendadak itu pun kaget. Andini keluar dari ruangannya, ia kaget melihat Rahma dan Arci berciuman di depan mata mereka. Ini sama sekali tidak pernah dikira. Sama sekali tak pernah dikira. Rahma pun tak bisa melawan, hingga akhirnya ia pasrah dan menerima perlakuan Arci. Andini sangat sakit, sangat sakit hatinya. Ia kembali masuk ke ruangannya.

“Terserah apa yang ingin kamu lakukan. Aku tak peduli. Mau kamu pergi, mau kamu kawin ama Rahma terserah!” rutuk Andini. Dia kemudian mendorong seluruh barang yang ada di atas mejanya. Setelah itu ia menjerit. Hatinya sangat sakit. “Arci, aku mencintaimu….”

Saat Andini sudah masuk ke ruangannya Rahma mengetahui kalau Andini tadi melihat. Ia mendorong Arci kuat-kuat.

“Apaan sih?” gerutunya.

“Aku ingin dia cemburu,” kata Arci.

“Gila apa?! Ini bukan kesepakatan kita. Ngapain pake acara cium segala? Batalin nggak itu pernikahannya?”

“Tidak. Ini sudah keputusanku.”

“Tapi apa yang akan terjadi nanti? Kalau misalnya emang beneran Andini ingin kembali kepadamu, bukankah semua undangan sudah disebar?”

“Kamu tak akan menyesal, pada hari itu kamu tetap akan menikah. Aku tetap akan menikah.”

“Ci, ini gila!”

“Bukankah kita sudah bersepakat kalau kamu mau mengikuti caraku?”

Rahma menghela nafas. Ia masih ingat bagaimana dua hari yang lalu Arci datang ke rumahnya. Terang-terangan “melamar” Rahma. Antara pura-pura dan tidak, sepertinya tak bisa diketahui. Bahkan Arci menjadwalkan acaranya dua minggu lagi. Dia sudah mengatur tempat, sudah menyewa gedung. Semuanya sudah dia persiapkan. Orang tuanya Rahma, tentu saja setuju. Tapi Arci bilang itu keputusan Rahma, ingin setuju atau tidak. Dan Rahma setuju. Saat itu juga Arci berkata, “Sekalipun dengan menikah nanti kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku?”

Rahma tak mungkin bilang “tidak”. Dia hanya berkata, “Iya”

Ini adalah hal tergila dalam hidupnya.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Aku akan kembali,” kata seseorang. Dia memainkan cerutu yang ada di tangannya, sementara tangan satunya sedang memegang ponsel di telinganya.

“…”

“Tak perlu takut. Keluarga ini memang begitu. Tak akan memberikan toleransi kepada para pengkhianat. Itu memang bakalan terjadi. Hanya saja, kalau bisnisku diganggu. Aku juga tidak suka.”

“….”

“Aku tahu kematian Jatmiko, harusnya kamu tidak ceroboh!”

“….”

“Biarkan Alfred yang mengurus.”

“…”

“Anak Archer, biar aku urus. Bantuan sudah datang?”

“….”

“Tentu saja. Apa? Dia mau menikah? Kapan?”

“….”

“Perjanjian kita tak akan batal. Aku sudah berjanji bukan? Kita akan merger, kalian akan tetap dapat bagian. Sudah saatnya PT Evolus dipimpin oleh orang yang tepat.”

“….”

“Segera, kita akan lakukan pembersihan. Semuanya, tanpa ampun!”

“….”

“Ya, semuanya.”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Seseorang lelaki berusia 40-an masuk ke sebuah rumah sakit jiwa. Dia adalah Johan Sebastian. Dia mengunjungi istrinya Araline Zenedine. Sebenarnya ini kunjungan rutinnya, karena hampir pasti kalau tidak ada halangan dua minggu sekali ia menjenguk istrinya. Sang istri keadaannya mulai membaik. Mulai tenang. Walaupun tidak sepenuhnya dan bisa kambuh sewaktu-waktu.

“Araline?!” sapa Johan.

“Hmm??” jawab Araline. Dia memakai baju putih, rambutnya disisir rapi, tapi kantung matanya tampak menonjol. Araline punya kebiasaan kurang tidur. Bahkan lebih banyak mengigau. Semenjak narkoba mempengaruhi jalan pikirannya ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ini adalah cobaan bagi Johan.

“Kamu tahu, ini kesekian kalinya aku menjengukmu. Dokter bilang sudah ada kemajuan dari terapimu. Hanya saja masih perlu observasi,” kata Johan.

Araline masih membisu.

“Kamu masih mikirin kejadian masa lalu? Sudahlah, udah berapa tahun? Sebentar lagi kalau kamu tidak kambuh lagi, kita akan pulang.”

“Katakan bagaimana kabar Archer?” tanya Araline.

Johan capek sebenarnya dia menanyakan kabar Archer. Johan tak pernah tahu apa yang terjadi antara dia dengan Archer yang notabenenya adalah kakaknya sendiri. Araline selalu bertanya tentang kabar Archer.

“Dia …. sekarang sudah meninggal. Kamu harus tahu, dia sudah lama meninggal!” ujar Johan.

Araline tersenyum. “Kamu bohong. Archer menungguku, dia pasti menungguku.”

“Dia sudah meninggal, sekarang ada anaknya yang menggantikan dia,” kata Johan.

“Anaknya? Siapa?”

“Namanya Arczre, panggilannya Arci. Ia pewaris dari PT Evolus. Harusnya kamu relakan dia.”

“Semua keluarga ini memang sampah. Mereka tak pernah punya perasaan. Archer yang tidak bersalah saja bisa mereka siksa seperti itu. Siapa dia? Arci? Aku ingin bertemu dengan dia. Kamu bisa antarkan dia ke sini?”

“Kenapa?”

“Aku ingin berikan dia sebuah rahasia.”

“Apa?”

“Biar Arci yang tahu, aku sudah berjanji kepada Archer untuk menceritakan hal ini kepadanya. Tapi kalau kamu bilang ada anaknya maka boleh saja kan? Aku ingin ceritakan sesuatu kepada Arci. Dan juga tentang alasanku berada di sini.”

“Araline, kamu ini kenapa?”

“CEPAAAT!” Suara Araline meninggi.

“Iya, OK, OK. Aku akan ajak anak itu ke sini.”

Araline tersenyum. “Jangan sampai tidak.”

Johan mengerutkan dahinya. Ia tak habis pikir. Rahasia apa yang akan dibeberkan oleh Araline? Dia berdiri, kemudian meninggalkan Araline seorang diri. Tujuannya sekarang adalah mencari Arci.

Untuk mencari Arci tidak terlalu sulit. Johan langsung menemui Arci di ruang kerjanya. Sebagai salah satu keluarga Zenedine, akses untuk dia amatlah mudah. Arci saat itu sedang menandatangani beberapa berkas. Agaknya hari itu ia menyibukkan diri di dalam kantornya. Kantor seorang presiden direktur cukup luas, juga merupakan tempat yang paling atas di gedung. Di mejanya ada sebuah bingkai foto. Dan foto itu adalah foto Andini. Ketika Arci mengusap-usap bingkai foto itu, Johan mengetuk pintu.

Arci yang terkejut segera menutup bingkai foto itu. Dia lalu berkata, “Silakan masuk!”

Johan pun masuk.

“Johan?” Arci cukup terkejut.

“Apa kabar ponakan?” sapa Johan.

“Ada perlu apa?” tanya Arci.

“Aku ingin kamu ikut denganku.”

“Kemana?”

“Ke Rumah Sakit Jiwa, tempat istriku berada. Dia ingin memberitahukan sesuatu kepadamu. Percayalah kepadaku. Kamu akan mengerti apa yang terjadi sebenarnya di keluarga ini.”

Ooo bersambung ooO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*